Anda di halaman 1dari 16

Hand out

Mata kuliah : Askeb I

Topik : Perubahan Dan Adaptasi Psikologis Dalam Kehamilan

Sub Topik : Perubahan Dan Adaptasi Psikologis Dalam Masa


Kehamilan :
1. Pada Kehamilan Trimester I
2. Pada Kehamilan Trimester II
3. Pada Kehamilan Trimester III

Dosen : Yunita Lily, SST

Referensi

1. Pusdikanakes – who – jhpiego, asuhan antenatal, jakarta, 2003

2. Bobak, lowdernik, jensen, buku ajar keperawatan maternitas, jakarta : egc,


2004

3. Varney h, varney’s midwifery, london : jones & bartlett publishers,1997

4. Seller, p. Mc, midwifery, volume 2, 1993, juta & co ltd

1
Uraian Materi

A. Pendahuluan
Wanita dari remaja sampai usia sekitar empat puluh, menggunakan
masa kehamilan untuk beradaptasi terhadap peran sebagai ibu. Adaptasi ini
merupakan proses sosial dan kognitif kompleks yang didasarkan pada naluri
tetapi dipelajari (rubbin, affonso). Untuk menjadi seorang ibu, seorang
remaja harus beradaptasi dari perasaan dirawat ibu menjadi seorang ibu
yang melakukan perawatan. Sebaliknya seorang dewasa harus mengubah
kehidupan rutin yang dirasa mantap menjadi suatu kehidupan yang tidak
dapat diprediksi, yang diciptakan seorang bayi (mercer 1981). Nulipara atau
wanita tanpa anak menjadi wanita yang mempunyai anak dan multipara
wanita yang memiliki anak menjadi wanita yang memiliki anak – anak.
(lederman 1984). Seiring persiapannya untuk menghadapi peran baru,
wanita tersebut mengubah konsep dirinya supaya ia siap menjadi orang tua
begitu pula sama halnya dengan suami. Suami siap – siap untuk menjadi
seorang ayah.
Selama kehamilan kebanyakan wanita mengalami perubahan psikologis
dan emosional. Seringkali kita mendengar seorang wanita mengatakan
betapa bahagianya dia karena akan menjadi seorang ibu dan dan bahwa dia
sudah memilihkan sebuah nama untuk bayi yang akan dilahirkannya.
Namun tidak jarang ada wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah
dalam kehamilannya, khawatir kalau ada kemungkinan dia kehilangan
kecantikannya, atau bahwa ada kemungkinan bayinya tidak normal. Wanita
hamil secara ekstrim rentan. Dia takut mati baik dirinya maupun bayinya, ini
membuat banyak wanita lebih bergantung dan menuntut. Inilah waktu paling
tepat untuk memberikan nasehat, seperti mencari dukungan baru.
Sebagai seorang bidan kita harus menyadari adanya perubahan-
perubahan tersebut pada wanita hamil agar dapat memberi dukungan dan
memperhatikan keprihatinan, kekhawatiran, ketakutan dan pertanyaan-
pertanyaan.

2
B. Materi

Ada beberapa anggapan terhadap perubahan psikologi yang terjadi


selama kehamilan, hal ini berkaitan dengan beberapa perubahan biologik.
Kejadian dan proses psikologi ini diidentifikasi pada trimester kehamilan yang
akan dibahas dibawah ini.

1. Perubahan dan adaptasi psikologis pada kehamilan trimester I

Trimester pertama ini sering dirujuk kepada masa


penentuan. Penentuan membuat fakta wanita
bahwa ia hamil.Trimester pertama juga sering
merupakan masa kekhawatiran dari penantian

Segera setelah konsepsi kadar hormon progesteron dan estrogen dalam


tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada
pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan
seringkali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan,
penolakan, kecemasan dan kesedihan. Seringkali, biasanya pada awal
kehamilannya, ibu berharap untuk tidak hamil. Hampir 80 % kecewa, menolak,
gelisah, depresi dan murung.
Kejadian gangguan jiwa sebesar 15 % pada trimester I yang kebanyakan
pada kehamilan pertama. Menurut kumar dan robson (1978) 12% wanita yang
mendatangi klinik menderita depresi terutama pada mereka yang ingin
menggugurkan kandungannya.
Perubahan psikologis yang terjadi pada kehamilan trimester I didasari
pada teori Revarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran sebagai
ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses
belajar melalui serangkaian aktifitas.

3
Beberapa tahapan aktifitas penting seseorang menjadi ibu :
1. Taking On
Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya
dengan meniru dan melakukan peran ibu.
2. Taking In
Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan

3. Letting Go
Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah
dilakukannya.

Kehamilan pada trimester I ini cenderung terjadi pada tahapan aktifitas


yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya yaitu pada tahap taking on.
Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda - tanda untuk
lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi
pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya
masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin
diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya.

Para wanita juga mungkin akan mengalami ketakutan dan fantasi selama
kehamilan, khususnya tentang perubahan pada tubuhnya. Mereka khawatir
terhadap perubahan fisik dan psikologisnya, jika mereka multigravida,
kecemasan berhubungan dengan pengalaman yang lalu. Banyak wanita hamil
yang mimpi seperti nyata, dimana hal ini sangat menggangu. Mimpinya
seringkali tentang bayinya yang bisa diartikan oleh ibu apalagi bila tidak
menyenangkan.

4
Bentuk Motivasi
Motivasi Suami

Reaksi pertama seorang pria ketika mengetahui bahwa dirinya


akan menjadi seorang ayah adalah timbulnya kebanggaan atas
kemampuannya mempunyai keturunan bercampur dengan keprihatinan akan
kesiapannya menjadi seorang ayah dan menjadi pencari nafkah untuk
keluarganya. Seorang calon ayah mungkin akan sangat memperhatikan
keadaan ibu yang mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut
akan mencederai bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksualnya terhadap
wanita hamil relatif lebih besar. Disamping respon yang diperlihatkannya,
seorang ayah dapat memahami keadaan ini dan menerimanya.
Zaman dahulu seorang suami ikut mendukung kehamilan istrinya
dengan ritual-ritual keagamaan. Berbeda dengan dukungan yang diberikan oleh
suami pada saat ini, bentuk dukungan yang diberikan oleh suami lebih pada :
a) Untuk saling berkomunikasi dari sejak awal
b) Menempatkan nilai-nilai penting dalam keluarga untuk mempersiapkan
menjadi orang tua.

Motivasi Keluarga
Wanita hamil sering kali merasakan ketergantungan terhadap orang lain.
Tapi mungkin bisa menjadi lebih kuat sesudah bayinya lahir hal ini bisa
dipahami karena pada waktu itu wanita memerlukan keamanan dan perhatian
dari seseorang yang sangat dominan baginya. Keluarga dalam hal ini harus
menjadi bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.

Stress yang Terjadi Pada Kehamilan Trimester I


Ada 2 tipe stress yaitu yang negatif dan positif, kedua stress ini dapat
mempengaruhi reaksi individu. Ada pula yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.

5
Stress intrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi dari individu, yang
mana individu berusaha untuk membuat sesempurna mungkin baik dalam
kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan sosialnya secara profesional.
Stress ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti rasa sakit,
kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi.
Menurut Burnard (1991) stress selama masa reproduksi dapat dihubungkan
dengan 3 aspek utama yaitu :
1. Stress di dalam individu
2. Stress yang disebakan oleh pihak lain
3. Stress yang disebabkan penyesuaian terhadap tekanan sosial
Stress dari dalam diri dapat terjadi berkenaan dengan kegelisahan terhadap
kemampuan beradaptasi dengan kejadian kehamilannya

Memperkuat Ikatan
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehamilan memberikan
kesempatan pada seorang ibu untuk saling memperkuat hubungan. Dan
hubungan yang kuat lebih penting dari yang lainnya. Masa-masa kehamilan,
persalinan dan bulan-bulan sesudahnya merupakan saat – saat yang sulit.
Semakin dekat pada awalnya, akan semakin baik akhirnya. Jadi, pada saat
hidup masih relatif normal, luangkan waktu untuk berdua, berbicara tentang
perasaan pasangannya.
Betapapun bahagianya atau sibuknya pasangan suami istri, kegelisahan
yang timbul karena kondisi baru merupakan suatu yang normal.

Kehamilan dan Libido

Hasrat untuk melakukan hubungan seks, pada wanita pada trimester


pertama ini berbeda- beda. Walaupun pada beberapa wanita mengalami gairah
seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka mengalami penurunan libido
selama periode ini. Keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk berkomunikasi
secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak wanita merasa butuh untuk
dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai namun tanpa hubungan seks.
Libido sangat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara,

6
keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian normal dari
proses kehamilan pada trimester pertama.

Kehamilan dan Olahraga


Setelah hamil, mayoritas wanita dapat melanjutkan aktivitas biasa
mereka. Tidak ada bukti bahwa aktivitas yang teratur, seperti jogging, bermain
tennis, berenang, atau melakukan hubungan seks, dapat menimbulkan
masalah seperti keguguran atau fetal malformation (janin yang cacat) pada
kebanyakan wanita normal dan sehat. Kebanyakan dokter melarang program
olahraga baru yang dimulai pada saat hamil, kecuali latihan-latihan prenatal
yang dirancang khusus untuk wanita hamil.
Latihan-latihan yang paling menguntungkan bagi wanita hamil adalah
latihan dengan gerakan yang menguatkan dinding perut untuk membantu
menopang uterus dan otot pinggul yang akan anda butuhkan untuk mendorong.
Latihan kaki juga penting untuk meningkatkan sirkulasi dan menghindari kram
otot yang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehamilan.

7
2. Perubahan dan adaptasi psikologis pada kehamilan trimester II

Trimester kedua sering dikatakan periode


pancaran kesehatan. Ini disebabkan selama
trimester ini wanita umumnya merasa baik dan
terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan.

1. Pembagian perubahan psikologis pada trimester II


Trimester kedua dapat dibagi menjadi dua fase; prequickeckening
(sebelum adanya pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan
postquickening (setelah adanya pergerakan janin yang dirasakan oleh
ibu), yang dapat dilihat pada penjelasan berikut :

A. Fase prequickening
Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening pada
trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan
segala aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama
ini. Ibu menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan
interpersonal yang telah terjadi dan akan menjadi dasar bagaimana ia
mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkannya. Ia
akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah diberikan
ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka
ia akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya
akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil
menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang
mengembangkan identitas keibuannya.
Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini
adalah perubahan identitas dari penerima kasih sayang (dari ibunya)
menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu).
Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk
mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih sayang
kepada anak yang akan dilahirkannya.

8
B. Fase postquickening
Setelah ibu hamil merasakan quickening, identitas keibuan yang
jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada kehamilannya dan
persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan
ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya
sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil
pertama kali dan wanita karir. Ibu harus diberikan pengertian bahwa ia
tidak harus membuang segala peran yang ia terima sebelum
kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya
bagaimana ia menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan
bagaimana bila nanti ia harus meninggalkan rumahnya untuk
sementara pada proses persalinan.
Pergerakan bayi yang dirasakan membantu ibu membangun
konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya. Hal
ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya. Pada saat ini, jenis
kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama adalah
kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut sistem
patrilineal/matrilineal).

2. Menjaga agar ikatan tetap kuat


Ketika kehamilan telah terlihat, ibu dan pasangannya harus lebih
sensitif terhadap pengaruh kondisi ini pada mereka berdua. Ibu hamil
sering merasa takut jika pasangannya mendapati dirinya tidak menarik
atau gendut, tapi masalah yang muncul lebih rumit lagi. Komunikasi
adalah kunci untuk menghadapi masalah ini. Tetap cara ini dapat
digunakan bila ibu dan pasangannya tetap terbuka dan memulainya
sedini dan sesering mungkin. Bila salah satu tidak membicarakan latar
belakang masalah yang dirasakan, atau setelah berdiskusi justru merasa
depresi, saat itulah diperlukan penasihat kehamilan dan orang sekitarnya
yang dapat menolong ibu dan pasangannya.

9
3. Menjaga kehamilan yang sehat
Ibu hamil mungkin merasa lebih baik pada trimester kedua, tapi
bukan berarti bagian luar yang berubah, bagian dalam tubuh pun
mengalami perubahan sebagai respon terhadap kehamilan yang terus
berkembang. Beberapa perubahan dapat saja terasa mengganggu,
namun ada juga perubahan yang terasa menyenangkan bagi ibu hamil.
Perubahan yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah keadaan yang
normal bagi ibu hamil dan ibu harus diberikan pengertian terhadap
kondisi tersebut sehingga ia lebih merasa nyaman lagi. Beberapa
perubahan yang menyenangkan seperti rasa mual berkurang
dibandingkan yang dialami selama trimester pertama, energi bertambah
dan peningkatan libido.

4. Reaksi orang-orang di sekitar ibu hamil


Tampaknya sang suami juga mengalami perubahan psikologis
seiring perubahan yang dialami istrinya yang hamil. Pada suatu studi
dilaporkan sang suami juga merasakan perubahan nafsu makan,
perubahan berat badan, rasa sakit kepala hingga kecemasan dan
ketakutan dirasakan oleh suami yang istrinya sedang hamil. Saat ini
suami lebih aktif ikut menangani dalam kehamilan istrinya dan turut
merasakan tanggung jawab akan kelahiran bayinya.
Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan
merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak perlu
diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan yang terjadi
dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan kehamilan. Ibu dari
wanita hamil tampaknya adalah orang yang sering mengambil peran
yang cukup besar selama kehamilan. Ibu hamil tampaknya merasa
tergantung akan bantuan dari ibunya dalam menghadapi kehamilan dan
persiapan penerimaan bayi yang akan dilahirkan.

10
5. Berhubungan seks
Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimester kedua yang
harus diimbangi untuk mengatasi ketidaknyamanan yaitu suatu
peningkatan libido yang pada trimester pertama dihilangkan oleh rasa
mual dan lelah. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika hubungan seks
dapat mempengaruhi kehamilan. Kekhawatiran yang paling sering
diajukan adalah kemungkinan bayi diciderai oleh penis, orgasme ibunya,
atau ejakulasi.
Ibu hamil dan pasangannya perlu dijelaskan bahwa tidak ada yang
perlu dikhawatirkan dalam hubungan seks. Janin tidak akan terpengaruh
karena berada di belakang serviks dan dilindungi cairan amniotik dalam
uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seks selama trimester
kedua tidak diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan
riwayat persalinan prematur.
Selain itu meknisme fisik untuk saling merapat dalam hubungan
seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman, misalnya berbaring
terlentang dan menahan berat badan suami. Namun dengan mengkreasi
posisi yang menyenangkan maka masalah ini dapat diatasi.
Walaupun sebagian ibu hamil merasakan seks selama hamil
terasa meningkat, tidak semua libido wanita meroket tinggi pada trimester
kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi perubahan hormon
selama hamil. Karena respon terhadap hormon berbeda, reaksi masing-
masing ibu hamil pun berbeda.

11
3. Perubahan dan adaptasi psikologi pada kehamilan trimester III
Trimester ketiga sering kali disebut periode
menunggu / penantian dan waspada sebab
pada saat itu ibu merasa tidak sabar
menunggu kelahiran bayinya. Trimester III
adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran
dan kedudukan sebagai orangtua seperti
terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi.

Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang


mengingatkan ibu akan bayinya.

Kadang - kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya


akan lahir sewaktu - waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan
kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya
persalinan. Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau - kalau bayi
yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan
bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda
apa saja yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu
mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan
timbul pada waktu melahirkan.

Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada


trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek.
Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya
dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil. Pada
trimester inilah ibu memerlukan keterangan dan dukungan dari suami,
keluarga dan bidan.

12
Trimester ketiga merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran
bayi yang akan dilahirkan dan bagaimana rupanya. Mungkin juga nama
bayi yang akan dilahirkan juga sudah dipilih.
Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi
dan menjadi orang tua. Keluarga mulai menduga - duga tentang jenis
kelamin bayinya ( apakah laki- laki atau perempuan ) dan akan mirip
siapa.

Peran bidan dalam persiapan psikologis ibu hamil trimester I, II, III
a. Mempelajari keadaan lingkungan penderita
Ibu hamil yang selalu memikirkan mengenai keluarga, keuangan,
perumahan dan pekerjaan dapat juga menimbulkan depresi dan perlu
penanggulangan. Untuk itu bidan harus melakukan pengkajian termasuk
keadaan lingkungan (latar belakang) sehingga mempermudah dalam
melakukan asuhan kebidanan.
b. Informasi dan pendidikan kesehatan
• Mengurangi pengaruh yang negatif
Kecemasan dan ketakutan sering dipengaruhi oleh cerita – cerita yang
menakutkan mengenai kehamilan dan persalinan, pengalaman
persalinan yang lampau atau karena kurangnya pengetahuan mengenai
proses kehamilan dan persalinan. Keadaan tersebut perlu diimbangi
dengan pendidikan mengenai anatomi dan fisiologi kehamilan dan
persalinan kepada penderita.
• Memperkuat pengaruh yang positif
Misalnya dengan memberikan dukungan mental dan penjelasan tentang
kebahagiaan akan mempunyai anak yang diinginkan dan dinantikan.

13
• Meganjurkan latihan – latihan fisik seperti senam hamil untuk
memperkuat otot – otot dasar panggul, melatih pernafasan, teknik
mengedan yang baik dan latihan – latihan relaksasi.
c. Adaptasi pada lingkungan tempat bersalin
d. Dilaksanakan dengan mengadakan orientasi : memperkenalkan ruang
bersalin, alat – alat kebidanan dan tenaga kesehatan.

Kesimpulan
Perubahan dan adaptasi psikologis pada kehamilan trimester I, pada
kehamilan trimester II, pada kehamilan trimester III dapat disimpulkan
sebagai berikut :

Trimester I
Ibu :
¾ Terbuka atau diam-diam
¾ Perasaan ambivalent terhadap kehamilannya
¾ Berkembang perasaan khusus, mulai tertarik karena akan menjadi ibu
¾ Antipati karena ada perasaan tidak nyaman terutama pada ibu yang tidak
menginginkan kehamilan
¾ Perasaan gembira
¾ Ada perasaan cemas karena akan punya tanggung jawab sebagai ibu
¾ Menerima atau menolak perubahan fisik

Ayah :
¾ Berbeda tergantung dari : usia, jumlah anak, interest terhadap anak,
stabilitas ekonomi
¾ Menerima atau menolak keadaan istrinya yang bisa disebabkan karena
adanya gangguan komunikasi
¾ Toleransi terhadap kebutuhan seksual. Dorongan seksual dapat meningkat
atau menurun
¾ Ayah dapat menjadi stress, untuk mengatasinya membuat kegiatan baru
diluar rumah.

14
Trimester II
Ibu :
¾ Mengalami perubahan fisik yang lebih nyata
¾ Ibu merasakan adanya pergerakan janin karenanya ia menerima dan
menganggap sebagai bagian dari dirinya
¾ Dorongan seksual dapat meningkat atau menurun
¾ Mencari perhatian suami
¾ Berkonsentrasi pada kebutuhan diri dan bayinya
¾ Perasaan lebih berkembang sehingga ibu mulai mempersiapkan
perlengkapan bayinya
¾ Perasaan cenderung lebih stabil

Ayah :
¾ Merasa senang dengan pergerakkan janin
¾ Melibatkan diri dengan masalah kehamilan istrinya
¾ Memberikan perhatian yang dibutuhkan oleh istrinya.
¾ Bila merasa gagal dalam memberikan perhatian ini ayah menghabiskan
waktu diluar rumah
¾ Bila berhasil, perhatian yang diberikan lebih besar lagi

Trimester III
Ibu :
¾ Kecemasan dan ketegangan semakin meningkat oleh karena perubahan
postur tubuh atau terjadi gangguan body image
¾ Merasa tidak feminim menyebabkan perasaan takut perhatian suami
berpaling atau tidak menyenangi kondisinya
¾ 6-8 minggu menjelang persalinan perasaan takut semakin meningkat,
merasa cemas terhadap kondisi bayi dan dirinya
¾ Adanya perasaan tidak nyaman
¾ Sukar tidur oleh karena kondisi fisik atau frustasi terhadap persalinan
¾ Menyibukan diri dalam persiapan menghadapi persalinan

15
Ayah :
¾ Meningkatnya perhatian pada kehamilan istrinya
¾ Meningkatnya tanggung jawab finansial
¾ Perasaan takut kehilangan istri dan bayinya
¾ Adaptasi terhadap pilihan senggama karena ingin membahagiakan istrinya

16