Anda di halaman 1dari 14

DISPERSI DAN DAYA PRISMA

Friska Novalita Anggraeni (140310080072)


Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
15 Maret 2010

ABSTRAK
Cahaya merupakan gerakan gelombang yang dipancarkan sumber cahaya ke
segala arah(menurut Huygens). Dan menurut Huygens, cahaya dapat dibelokan atau
dilenturkan pada saat melewati celah kecil(sempit). Suatu cahaya putih terdiri atas
beberapa spectrum warna yang terbagi berdasarkan panjang gelombang masing-
masing. Saat suatu sinar cahaya melewati suatu medium yang transparan maka akan
mengalami pembiasan akibat perbedaan indeks bias medium yang dilewatinya. .
Percobaan ini bertujuan untuk mencari indeks bias dari prisma yang digunakan untuk
dispersi. Penggunaan prisma ini digunakan untuk melakukan pembiasan terhadap
sinar yang masuk sehingga sinar yang masuk dapat terurai menjadi beberapa
spectrum yang memiliki panjang gelombang yang berbeda.

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Cahaya adalah gerakan gelombang yang dipancarkan sumber cahaya ke segala
arah.cahaya terdiri dari korpuskul (benda-benda kecil) dipancarkan oleh sumber
sumber cahaya menuru garis lurus. Kita telah mempelajari bahwa secara fundamental
cahaya adalah gelombang dan dalam beberapa situasi kita harus meninjau sifat-sifat
gelombang secara eksplisit. Jika dua atau lebih gelombang cahaya yang frekuensinya
sama tumpang tindih disebuah titik maka efek totalnya bergantung pada fasa
gelombang dan juga amplitudonya.
Bidang prisma adalah salah satu bidang yang dilalui cahaya. Sebuah prisma
jika dilalui cahaya akan menghasilkan spektrum warna cahaya.
1.2 Identifikasi Masalah
Bagaiman peristiwa pembiasan yang terjadi pada prisma segitiga sama kaki
dan prisma segitiga sama sisi. Pada keadaan bagaimana dapat menghasilkan sudut
deviasi minimum pada prisma, tentu saja hal ini berkaitan dengan posisi prisma
ketika di lewati cahaya.

Tujuan Percobaan

1. Menentukan refraktif indeks bias dari berbagai cairan dalam prisma berongga

2. Menentukan indeks bias berbagai prisma gelas

3. Menentukan garis spectrum air raksa (mercury)

4. Menunujukan hubungan antara indeks bias dengan panjang gelombang (kurva


dispersi)

TEORI DASAR
Cahaya sebagai gelombang tentu saja memiliki sifat-sifat gelombang, yaitu
pemantulan, pembiasan, interferensi, difraksi dan polarisasi. Sifat pemantulan dan
pembiasan kita pelajari dalam optika geometrik. Sifat-sifat interferensi, difraksi, dan
polarisasi cahaya termasuk dalam cakupan optika fisis.
Pembiasan terjadi karena sinar (penjalaran terus menerus) cahaya yang
melalui dua medium yang berbeda. Pada peristiwa pembiasan ini cahaya ini berlaku
hukum I dan II Snellius, yang berbunyi :
1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal berada pada suatu bidang datar.

2. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias menyatakan indeks bias
suatu medium. Indeks bias merupakan suatu ukuran kemampuan suatu medium
itu untuk membelokkan cahaya.
r i

mediu
m

Gambar 1. Pembiasan Hk. Snellius

Dimana : n = sin i / sin r

n = Indeks bias suatu medium

i = sudut datang

r = sudut bias

Pembiasan Cahaya Pada Prisma


Prisma adalah benda bening (transparan) terbuat dari bahan gelas yang dibatasi
oleh dua bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu. Bidang permukaan ini
disebut bidang pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua bidang pembias disebut
sudut pembias (sudut A pada gambar ).

i i’ D

P
S

Gb.3. Deviasi pada prisma

Keterangan gambar:

A : sudut pembias prisma

P : sinar datang dari udara ke prisma

R : sinar yang datang dari sisi kiri prisma ke sisi kanan prisma

S : sinar bias

t : perpotongan sinar P dan S

i : sudut antara sinar datang dengan garis normal pertama(N)

i’ : sudut antara sinar bias dengan garis normal kedua (N’)

D : sudut deviasi prisma

Dispersi merupakan peristiwa penghamburan cahaya ke dalam beberapa


panjang gelombang. Dimana dispersi menggunakan prisma untuk melakukan
penghamburannya. Dengan menggunakan prisma maka akan didapatkan sudut
deviasi minimumnya, dan akan didapatkan indeks bias dari prisma tersebut, secara
matematis

Sudut Deviasi Minimum Prisma


Untuk berbagai nilai sudut datang pertama i1, kita akan mendapatkan berbagai
nilai sudut deviasi, D. Salah satu dari nilai sudut deviasi itu ada yang paling kecil
(minimum) yang disebut deviasi minimum. Pada persamaan (6) telah kita ketahui D =
i1 + r2 - A. Oleh karena nilai A tetap, maka D hanya tergantung pada (i1 + r2), yang
mempunyai nilai minimum jika i1 = r2, ini menyebabkan r1 = i2. Jika nilai diatas kita
masukan ke dalam persamaan (6) diperoleh :

Dm = i 1 + r2 - A

Dm = 2 i1 - A

i1 = (Dm + A) / 2 (7)

Telah kita ketahui bahwa :

A = r1 + i2 = 2 r1 sebab i2 = r1

r1 = A / 2 (8)

Dari persamaan Snellius diperoleh :

n = sin i1 / sin r1

Jika persamaan (7) dan (8) dimasukkan ke dalam persamaan diatas maka akan
diperoleh :

n = sin ½ (A + Dm)

sin ½ A

dimana : n = indeks bias prisma

A = sudut bias prisma

Dm = deviasi minimum.

Untuk sudut pembias yang kecil (A < 150), nilai sinus mendekati nilai sudutnya
(dalam radian ) sehingga :

sin ½ (A + Dm) = n sin ½ A

½ (A + Dm) = n ½ A
A + Dm = n A

Dm = (n - 1) A

III.Percobaan
Alat dan bahan
-Spektrometer/Goniom. W. Vernier
-Pemegang lampu
-lampu Hg spectral 100
-Power supply
-Prisma , 600
-Prisma Berongga
-Glycerol 250ml
-Methanol 500ml
Gb. Susunan Alat Spektrometer dan Goniometer
Metode Eksperimen
1. Menyusun alat percobaan sesuai pada gambar.
2. Mengatur spektrometer-goniometer dan grating sesuai dengan instruksi operasi, berkas
sinar sejajar akan melewati prisma bila pengaturan alat-alat tersebut benar.
3. Memproyeksikan apertur atau celah kedalam bidang dari kawat menyilang dengan
pergeseran teleskop tak hingga dan mengamatinya dengan lensa mata yang digunakan
sebagai pembesar.
4. Mengatur prisma agar menghasilkan deviasi minimum dengan posisi anguler f1 dari
teleskop dan membaca off pada vernier untuk masing-masing garis spektrum.
5. Memutar prisma sehingga cahaya jatuh pada permukaan terdekat dan cahaya dideviasikan
kearah sebaliknya, sudut f2 tidak membaca off pada masing-masing garis spektral pada
deviasi minimum.
6. Memberikan sebuah grating ruled yang diamankan didalam sebuah holder sejajar terhadap
sumbu kolimator.
7. Mengukur sudut dari garis yang terdifraksi orde pertama terhadap bagian kanan dan kiri
gambar dari celah yang tidak terdeviasi .
8. Memastikan bahwa udara dapat bersikulasi melalui celah ventilasi pada housing lampu
tanpa hambatan saat menseting lampu.

Data dan analisa


Data

Prisma biasa

warna Sudut awal Sudut akhir


biru 23o,25’ 25o,60’
kuning 25o,60’ 24o,45’
hijau 25o,75’ 24o,40’
ungu 24o,35’ 23o,60’

Prisma gliserin
warna Sudut awal Sudut akhir
Kuning 22o,25’ 21o,55’
Hijau 21o,50’ 20o,55’
Biru 20o,35’ 20o,25’
ungu 20o,45’ 20o,25’

Prisma methanol

warna Sudut awal Sudut akhir


Merah 20o,24’ 21o,8’
Kuning 21o,60’ 22o,25’
Hijau 22o,35’ 23o,35’
Ungu 17o,30’ 16o,60’

SETELAH DI KONVERSI

dimana 1’ = 10/60

Prisma biasa

warna Sudut awal Sudut akhir Sudut


minimum
biru 23,42o 26,00o 24,71o
kuning 26,00o 24,75o 25,38o
o o
hijau 26,25 24,67 25,46o
ungu 24,58o 24,00o 24,29o
Untuk menghitung indeks bias menggunakan persamaan
θ + δm
sin
n= 2 ; dimana θ = 60
θ
sin
2
sudut Indeks bias
Warna minimum (n)
Biru 24,71 1,010498276
Kuning 25,38 0,973115732
Hijau 25,46 0,961210587
Ungu 24,29 0,976384066
Nilai terbaik indeks bias

= = 0,98
Menghitung KSR

nliterature − nhitung
KSR = x 100% ; dimana n literatur kaca = 1,52 [2]
nliterature

KSR = 35,53 %

Prisma gliserin

warna Sudut awal Sudut akhir Sudut


minimum
Kuning 22,42o 21,92o 22,17o
Hijau 21,83o 20,92o 21,38o
Biru 20,58o 20,42o 20,50o
ungu 20,75o 20,42o 20,59o

Untuk menghitung indeks bias menggunakan persamaan


θ + δm
sin
n= 2 ; dimana θ = 60
θ
sin
2

indeks
Warna δ minimum bias(n)
Kuning 22,17 0,244802697
Hijau 21,38 0,151953316
Biru 20,5 0,563692767
Ungu 20,59 0,525307473
Nilai terbaik indeks bias

= = 0,37

Menghitung KSR

nliterature − nhitung
KSR = x 100% ; dimana n literatur kaca = 1,52 [2]
nliterature
KSR = 75,65%

Prisma methanol

warna Sudut awal Sudut akhir Sudut


minimum
o o
Merah 20,40 21,13 20,77o
Kuning 22,00o 22,42o 22,21o
Hijau 22,58o 23,58o 23,08o
Ungu 17,50o 17,00o 17,25o

Untuk menghitung indeks bias menggunakan persamaan


θ +δm
sin
n= 2 ; dimana θ = 60
θ
sin
2

indeks
Warna δ minimum bias(n)
Merah 20,77 0,445426053
Kuning 22,21 0,264393661
Hijau 23,08 0,651475806
Ungu 17,25 0,808835418
Nilai terbaik indeks bias

= = 0,54

Menghitung KSR

nliterature − nhitung
KSR = x 100% ; dimana n literatur kaca = 1,52 [2]
nliterature

KSR = 64,47%
ANALISA

Dari percobaan yang telah kita lakukan, dapat kita lihat bahwa pada saat cahaya melewati
sebuah prisma, kecepatan dari gelombang cahaya tersebut mengalami perlambatan akibat
panjang gelombangnya yang semakin memendek. Dimana frekuensi dari cahaya tersebut tidak
mengalami perubahan. Sama seperti yang kita tahu bahwa kecepatan cahaya pada saat melewati
sebuah medium itu berbeda – beda. Setelah kita menganbil data terlihat bahwa setelah
melakukan percobaan untuk mencari cahaya monokromatik dari cahaya polikromatik, yaitu
dengan prisma biasa, prisma dengan cairan gliserin dan prisma dengan cairan methanol kita
mendapatkan sudut deviasi minimum yang kemudidn kita hitung hingga mendapatkan ndeks
biasnya, dari situ kita dapat menghitung nilai KSR nya. Untuk prisma biasa nilai KSR nya yaitu
35,53%, ntuk prisma dengan larutan gliserin yaitu 75,65%, dan ntuk prisma dengan larutan
methanol yaitu 64,47%. Dari sini kita dapat melihat bahwa nilai KSR yang kita dapatkan relatif
besar, hal ini di karenakan pada saat percobaan kita keslitan untuk mencari warna pelanginya,
apalagi untuk prisma yang berisi cairan, di samping itu juga kesalahan praktikan dalam
melakukan percobaan. Dalam percobaan ini kita tidak mendapatkan semua warna pelangi namun
hanya sekita 4 warna pelangi yang kita dapatkan.
KESIMPULAN

Pada percobaan ini, bahwa sebuah prisma digunakan untuk mendispersi cahaya yang
masuk untuk dihamburkan ke berbagai spectrum warna dengan panjang gelombang yang
berbeda. Dengan panjang gelombang yang berbeda ini, diketahui bahwa hubungan antara indeks
bias prisma dengan panjang gelombang yang melewatinya akan berbanding terbalik, sehingga
semakin rendah indeks biasnya maka akan semakin panjang panjang gelombangnya dan
mempengaruhi kecepatan cahaya yang melewai prisma itu.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Dispersi. http://www.phywe.de/download/lexlong/P2210300.pdf

Anonim. 2009. Indeks bias. http://books.google.co.id/books


LAPORAN AKHIR

Fisika Eksperimen I

Nama : Friska Novalita Anggraeni

NPM : 140310080072

Partner : Nadya Larasati k

NPM : 140310080068

Tanggal Praktikum : 8 Maret 2010

Instruktur : Faisal
Laboratorium Fisika Menengah

Jurusan Fisika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Padjadjaran

2009 – 2010