Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Kepulauan Indonesia yang terletak antara benua Asia dan benua Australia
sering diumpamakan sebagai jembatan diantara dua benua tersebut. Perumpamaan tiu
dibenarkan oleh hasil penelitian masalampaunya. Hasil penelitian prasejarah
menunjukan bahwa di masa lampau bergagai macam suku bangsa telah memasuki
kepulauan ini dari daratan Asia Tenggara. Ada yang datang dari darata Indocina dan
menyebar di Indonesia bagian barat dan adapula yang melalui kepulauan Filipina
menyebar di Indonesia bagian timur. Sebagian dari bangsa-bangsa itu kemudian
menyebar di ulau-pulau di Pasifik dan Australia. Sebagian lagi bertolak dari Indonesia
bagian barat dan menyebrangi Samudera Hindia hingga mencapai kepulauan
Madagaskar.
Indonesia juga terletak didaerak katulistiwa dan dibawah hembusan angina
musim Indo-Australia. Cirri-cirinya adalah beriklim tropis dan curah hujan yang
tinggi. Serta tanah yang subur yang mengan dung SDA sangat tinggi. Sehingga pada
jaman Kung (awal M-1500 M) banyak orang-orang dari mancanegara datang ke
Indonesia karrena tertarik oleh SDA yang terdapat di Indonesia. Mereka yang
menetap dan mempunya potensi untujk menguasai Indonesia secara keselurhan
menikah dengan penduduk setempat dan membentuk suatu kumpulan masyarakat
yang kuat guna mendirikan sebuah kerajaan. Salah satunya adalah kerajaan
Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan terbesar kedua setelah Sriwijaya. Pada awalnya ada
seorang yang beernama Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dari kejaran
prajurit kediri dan bermaksud untuk merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya.
Dia keturunan Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Singha Murti. Jadi masih
keturunan Ken Arok dan Ken Dedes. Selain itu juga dia merupakan seorang
keponakan dari sekaligus menantu Kertanagara, karena Raden Wijaya dinikahkan
dengan putrinya.
Raden Wijaya yang berhasil melarikan diri, pergi mengarungi lautan menuju
ke Madura guna meminta bantuan dan perlindungan kepada Arya Wiraraja, seorang
bupati Sumenep. Sesampainya disana ia diterima dengan baik untuk tinggal disana.
Namun ternyata dia dinasihati oleh Arya Wiraraja agar menyerahkan diri kepada
Jayakatwang di Kediri. Nasihat itu diterima dengan baik dan dibantu oleh Arya
Wiraraja ia dapat diterima oleh Jayakatwang.
Tidak lama mengabdikan diri kepada Jayakatwang, ia mendapatkan
kepercayaan penuh darinya. Sampai suatu ketika Raden Wijaya meminta untuk
membuka hutanTarik menjadi desa. . Daerah yang dibuka berupa sawah yang
bertanamkan berbagai macam bunga, pinang, kelapa dan pisang. Raden Wijaya tidak
kembali ke Daha(Kediri), melainkan terus menetap di Majapahit guna mempersiapkan
pemberontakan terhadap Jayakatwang.
Sampai suatu ketika bertepatan dengan selesainya persiapan memberontak, tentara
Khubilai Khan (tentara Tartar) tiba di tanah jawa tahun 1293 yang sudah dikirim
sejak bulan kesembilan tahun 1292. Tentara Tartar berjumlahkan 2000 orang dengan
dipimpin tiga orang panglima, yaitu: Shih-pi, Iheh-mi-shih dan Kau shing dengan
tujuan untuk menghukumi Kertanagara.Hal ini disebabkan karena kertanagara telah
menganiaya utusannya Meng-Chi/Meng-Ki
Hal itu terdengar oleh Raden Wijaya dan merupakan suatu kesempatan
baginya untuk mewujudkan impiannya merebut kembali kekuasaan nenek
moyangnya. Maka ia mengutus seseorang untuk menghadap panglima dan

1
mengatakan bahwa ia menyerah dan tunduk kepada Kaisar Cina. Hal itu disambut dan
diterima dengan baik oleh pasukan Cina. Pada tanggal 7 bulan ketiga, pasukan Kediri
menyerang Majapahit, namun hal itu dihalau oleh pasukan Cina sehingga
penyerangan itu gagal. Pada tanggal 15 bulan ketiga tentara Tartar menyerang Kediri
dan berhasil sampai di depan gerbang Kediri pada tanggal 19 bulan ketiga.
Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya mengelabuhi tentara Tartar yang
sedang kelelahan sehingga dengan siasatnya dia dapat mengusir tentara Tartar dan
mendirikan kerajaan Majapahit. Setelah penobatan itu,Kertajasa menikahi empat
orang putri Kertanagara yang bernama Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari,
Sri MahadewiDyah Dewi Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Dewi
Prajanaparamita dan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari pernikahan itu
Kertajasa mendapat tiga keturunan, Yang pertama Jayanagara hasil pernikahannya
dengan Parameswari Tribhuwana yang mendapatkan Kediri sebagai luguhannya.
Sedangkan dua lagi seorang wanita, yaitu Tribhuanattunggadewi
Jayawisnuwarddhani yang menjadi raja di Jiwani (Bhre Kahuripan) dan yang bungsu
Rajadewi Maharajasa yang menjadi raja di Kediri. Kedua putri itu merupakan hasil
pernikahannya dengan Gayatri.
Pengikut-pengikut Kertajasa yang setia dan berjasa dalam perjuangan
mendirikan Majapahit, diangkat menjadi petinggi pejabat kerajaan. Pemberontakan
demi pemberontakan muncul, diantaranya adalah pemberontakan Rangga Lawe dan
Lembu Sora.
Sepeninggalan Kertajasa Jayawarddhana tahun 1309, Jayanagara naik tahta
menggantikan ayahnya menjadi raja kerajaan Majapahit.Pada waktu itu dia masih
berusia 15tahun. Sedangkan kedua adik perempuannya diangkat menjadi Bhattara di
Kahuripan dan di Kediri. Jayanagara mendapat gelar Sri. Pda jaman
kepemerintahanya juga banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting, diantaranya
pemberontakan Nambi, Peristiwa Bedander dan munculnya Gajah Mada, dan
peristiwa Tanca. Pada peristiwa Tanca inilah berakhirnya kekuasaan atau
kepemerintahan Jayanagara.
Kemudian setelah meniggalnya Jayanagara, Tribhuwanatunggadewi
menggantikannya menjadi raja, karena Jayanagara tidak memiliki putra. Nama
gelarnya Abhiseka Tribhuwanottungadewi Jayawisnuwardhani. Dia menikah dengan
Cakradhara atau Cakreswara, raja di Singasari dengan gelar Kertawarddhana. Adik
Tribhuwana,yang menjadi Bhre Kediri, Rajadewi Maharajasa menikah dengan
Kudamerta yang menjadi Bhe Wengker dengan nama Wijayarajasa. Pada masa
pemerintahannya dia sempat membalas budi kepada Gajah Mada dan juga
membangun candi Singasari. Pada tahun 1372 M Tribhuwanatungadewi meninggal
dan didharmakan di Panggih dengan nama pendharmaannya Pantrapurwa.
Selanjutnya kepemerintahan Mjapahit dilanjutkan oleh Hayam Wuruk.
Nagarakertagama I/4 menyatakan bahwa Hayam Wuruk lahir pada tahun Saka 1256
(1334 M). dia hanya mempunyai saudara yang bernama Bhre Pajang yang dinikahkan
dengan Raden Sumana, Bhattara di Paguhan yang mengambil nama abhiseka
Singawardhana. Pada masa kepemerintahannyalah Majapahit mencapai kejayaannya.
Sampai-sampai wilayah kekuasaan Mencapai sebagian besar Asia Tenggara.Pada
tahun 1389 Hayam Wuruk meninggal dunia dan tidak ada yang tahu dimana
didarmmakannya. Namun menurut suatu pendapat dia didarmmakan di
Paramasukhapuha di Tanjung, yang dijadikan tempat pendarmmaan cucunya Bhre
Tumapel (Bhre Hyang Wekasing Sukha).
Setelah masa kepemerintahan Hayam Wuruk, banyak timbul berbagai
permasalahan, diantaranya perebutan tahta kerajaan Majapahit. Sampai akhirnya

2
Majapahit runtuh pada tahun 1478 M. bahkan letak ibu kota majapahit pun tidak
diketahui secara pasti, hanya berdasarkan argument-argumen sejareawan dan arkeolog
melalui bukti-bukti sejarah yang ada.

BAB II
AWAL MULA BERDIRINYA KERAJAAN MAJAPAHIT

Setejah raja Kertanagara gugur , Singasari jatuh ke tangan Jayakatwang,


Kediri. Seorang dari keturunan raja Singasari,yaitu Raden Wijaya berhasil
menyelamatkan diri dari kejaran prajurit kediri dan bermaksud untuk merebut kembali
kekuasaan nenek moyangnya. Dia keturunan Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa
Campaka atau Singha Murti. Jadi masih keturunan Ken Arok dan Ken Dedes. Selain
itu juga dia merupakan seorang keponakan dari sekaligus menantu Kertanagara,
karena Raden Wijaya dinikahkan dengan putrinya. Dalam kitab Pararaton dan
beberapa Kidung menyebutkan bahwa ia menikah dengan dua putri raja. Sedangkan
sumber prasasti menyebutkan bahwa ia menikah dengan empat orang putri raja.1
Raden Wijaya yang berhasil melarikan diri, pergi mengarungi lautan menuju
ke Madura guna meminta bantuan dan perlindungan kepada Arya Wiraraja, seorang
bupati Sumenep. Sesampainya disana ia diterima dengan baik untuk tinggal disana.
Namun ternyata dia dinasihati oleh Arya Wiraraja agar menyerahkan diri kepada
Jayakatwang di Kediri. Nasihat itu diterima dengan baik dan dibantu oleh Arya
Wiraraja ia dapat diterima oleh Jayakatwang.
Tidak lama mengabdikan diri kepada Jayakatwang, ia mendapatkan
kepercayaan penuh darinya. Sampai suatu ketika Raden Wijaya meminta untuk
membuka hutanTarik menjadi desa. Dalam Kidung Panji Wijayakrma diceritakan
bahwa pembukaan hutan Tarik itu disebabkan karena sang Prabu sangat suka berburu.
Pada Mertamasa tahun Saka 1214 (1292 M), barulah Raden Wijaya menengok
perkembangan hutan Tarik. Daerah yang dibuka berupa sawah yang bertanamkan
berbagai macam bunga, pinang, kelapa dan pisang. Raden Wijaya tidak kembali ke
Daha(Kediri), melainkan terus menetap di Majapahit guna mempersiapkan
pemberontakan terhadap Jayakatwang. Sampai suatu ketika Jayakatwang
memerintahkan seorang menterinya yang bernama Sagara Winotan untuk melihat
perkembangan hutan Tarik, namun ia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk
mengetahui hal itu.2 Sedangkan dalam prasasti Sukamrta, dikatakan bahwa Raden
Wijaya membuka Hutan tarik dengan dalih akan dijadikan pertahanan terdepan dalam
menghadapai musuh yang melalui sungai Brantas. Dengan dibantu Arya Wiraraja hal
itu dikabulkan oleh Jayakatwang.3 Mengenai nama Majapahit diceritakan bahwa
ketika diawal pembukaan hutan Tarik ketika sedang bergotong royong, ada yang
kehabisan bekal makanannya. Menurut kisahnya, orang yang kehabisan bekal dan
merasa lapar itu adalah istri Raden Wijaya sendiri. Ketika melihat ke sekeliling, ia
melihat banyak pohon Maja dan kebetukan sudah berbuah. Setelah itu ia lekas
mengambil dan mencicipinya. Ternyata rasa buah itu pahit. Semenjak itulah nama

1
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.420.
2
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.117-118.
3
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.423-
424.

3
buah Maja dan rasa pahitnya dijadikan nama pengganti hutan Tarik yang baru dibuka,
yaitu Majapahit4.
Dilain cerita dikatakan bahwa disepanjang sungai Brantas banyak terdapat
tempat yang bernama Maja, misalnya: Majasari, Majawarna, Majakerta, Majajejer,
Majaagung,dan sebagainya. Demikian tidak aneh nama desa itu Majapahit, seperti
lambang kereta kuda Hayam Wuruk yang ketika itu sedang dalam perjalanan
berkeliling ke Lumajang pada tahun 1359 yang bergambarkan buah maja dengan
latar belakang batik Gringsing. Ini berarti memang nama Majapahit berunsurkan dari
buah maja yanga banyak terdapat di sekitar sungai Brantas.Unsur agung, jejer, warna
dan sari merupakan kombinasi dalam variasi. Hal itu diperuntukkan agar terdengar
gagah, lalu disanskertakan menjadi Wilwatika, Srihalatikta, Tiktawilwa dan
sebagainya. Namun nama aslinya tetap Majapahit.5
Sudah beberapa lama RadenWijaya menghimpun kekuatan dari orang-orang
Tumapel dan Madura sambil menunggu waktu dan keadaan yang tepat untuk
memberontak terhadap kekuasaan Jayakatwang. Sampai suatu ketika bertepatan
dengan selesainya persiapan memberontak, tentara Khubilai Khan (tentara Tartar)
tiba di tanah jawa tahun 1293 yang sudah dikirim sejak bulan kesembilan tahun 1292.
Tentara Tartar berjumlahkan 2000 orang dengan dipimpin tiga orang panglima, yaitu:
Shih-pi, Iheh-mi-shih dan Kau shing dengan tujuan untuk menghukumi
Kertanagara.Hal ini disebabkan karena kertanagara telah menganiaya utusannya
Meng-Chi/Meng-Ki. Bulan pertama tahun 1293 mereka telah sampai di pulau Belitung
disana mereka berunding siasat yang
akan dijalankan.lheh-Mi-Shih berangkat terlebih dahulu untuk menundukan raja-raja
kecil dengan jalan damai. Kedua orang panglima yang lain bertolak dengan induk
pasukan ke pulau karimunjawa,dan dari sana menuju ke Tuban (Tu-Ping-Tsu).Di
Tuban semua pasukan bertemu lagi, untuk mengatur siasat penyerbuan ke Kediri.
Shih-Pi dengan seperdua pasukan pergi ke kapal Sedayu (Sugalu), dari sana ke
Muarakali (Pa-Tsieh). Kau Hsing memimpin pasukan berkuda Ke pedalaman.
Hal itu terdengar oleh Raden Wijaya dan merupakan suatu kesempatan
baginya untuk mewujudkan impiannya merebut kembali kekuasaan nenek
moyangnya. Maka ia mengutus seseorang untuk menghadap panglima dan
mengatakan bahwa ia menyerah dan tunduk kepada Kaisar Cina. Hal itu disambut dan
diterima dengan baik oleh pasukan Cina. Pada tanggal 7 bulan ketiga, pasukan Kediri
menyerang Majapahit, namun hal itu dihalau oleh pasukan Cina sehingga
penyerangan itu gagal. Pada tanggal 15 bulan ketiga tentara Tartar menyerang Kediri
dan berhasil sampai di depan gerbang Kediri pada tanggal 19 bulan ketiga. Ternyata
di Kediri Jayakatwang tekah siap dengasn 100.000 orang pasukan siap tempur.
Tentara Tartar tidak bisa di kalahkan sehingga pasukan Kediri terdesak mundur ke
dalam kota dengan meninggalkan kurang lebih 5000 orang pasukannya. Dengan
cekatan dari segala penjuru, tentara Tartar mengepung dan pada sore harinya
Jayakatwang dan 100 anggota keluarganya beserta pejabat kerajaan ditangkap sebagai
tawanan. Seorang putra Jayakatwang, His-La-Pati His-Lan-Tan-Pu-Ho atau
Arddharaja melarikan diri ke pegunungan, tetapi dapat dikejar dan ditangkap oleh
Kau Hsing dan dibawa ke Kediri sebagai tawanan.
Setibanya di Kediri, Raden Wijaya sudah tidak ada karena telah diperbolehkan
kembali oleh Shih-PI dan Iheh-Mishih ke Majapahit dengan dalih untuk
mempersiapkan upeti yang akan dipersembahkan kepada kaisar. Ia pergi dengan
dikawal dua opsir dan 200 tentara Cina. Akan tetapi dengan tipu muslihatnya Raden
4
Sejarah SMA kelas XI Program IPS, Prof. Dr. M. Habib Mustopo dkk,2006, hal. 27.
5
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.118-119.

4
Wijaya dapat membunuh kedua opsir itu dan tentaranya ditengah perjalanan. Setelah
itu dia menyerang tentara Cina yang ada di Kediri. Pasukan Cina melakukan
perlawanan, namun lebih dari 3000 orang mati terbunuh oleh pasukan Raden Wijaya.
Sisa dari pasukan itu kembali ke Cina dengan membawa kekalahan. Demikianlah
akhirnya keimginan Raden Wijaya untuk merebut kembali kekuasaan nenek
moyangnya telah tercapai. Kemudian Raden Wijaya menobatkan diri menjadi raja
Majapahit. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatannya dilakukan pada tanggal 15
bulan Karttika (ri purneng karttikamasa pancadasi) tahun 1215 Saka (12 November
1293) dengan gelar Sri Kertajasa Jasawarrdhana.6

BAB III
PERKEMBANGAN KERAJAAN MAJAPAHIT

A. MASA KEPEMERINTAHAN KERTAJASA JAYAWARDDHANA

Setelah penobatan itu,Kertajasa menikahi empat orang putri Kertanagara yang


bernama Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari, Sri MahadewiDyah Dewi
Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajanaparamita dan Sri
Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari pernikahan itu Kertajasa mendapat tiga
keturunan, Yang pertama Jayanagara hasil pernikahannya dengan Parameswari
Tribhuwana yang mendapatkan Kediri sebagai luguhannya. Sedangkan dua lagi
seorang wanita, yaitu Tribhuanattunggadewi Jayawisnuwarddhani yang menjadi raja
di Jiwani (Bhre Kahuripan) dan yang bungsu Rajadewi Maharajasa yang menjadi raja
di Kediri. Kedua putri itu merupakan hasil pernikahannya dengan Gayatri.
Dalam kitab Pararaton dikatakan bahwa pada tahun 1275 setelah sepuluh hari
peristiwa pengusiran tentara Tartar, orang-orang yang diutus Kertanagara pulang
dengan membawa hasil yang gemilamg. Mereka pulang membawa upeti dari raja-raja
yang tunduk kepada Majapahit. Pada hari itu juga, Mahisa Anabrang, Panglima
ekspedisi
militer ke tanah Melayu, membawa pulang dua Putri yang bernama Dara Petak dan
Dara Jingga. Dalam prasasti Pananggungan dan Sukanerta dikatakan bahwa Dara
Petak melahirkan anak yang bernama Jayanagara. Nagarakretagama XLVII/2
menyatakan bahwa Jayanagara diangkat menjadi Yuwaraja di Kediri pada tahun 1217
(1295 M). Pada waktu itu Jayanagara baru menginjak usia dua tahun. Oleh karena
permaisuri Tribhuwana tidak mempunyai keturunan, maka Jayanagara dianggap
sebagai putranya.7 Namun dalam kitab Pararaton dikatakan bahwa Dara Petak
mempunyai keturunan yang bernama Kalagemet. Ssedangkan Dara Jingga
dikawinkan dengan seoreang pembesar yang bergelar dewa
(Mauliwarma/Marmadewa) dan kemudian menjadi raja Melayu dengan gelar
Abhiseka Aji Mantrolot. Dalam kidung Harsa Wijaya dikatakan bahwa sebelum
dinikahkan dengan dewa, Dara Jingga diperistri oleh Kertajasa, tetapi dia tidak betah
tinggal di Majapahit dan selalu rindu akan tanah airnya, maka dia di kembalikan ke
tanah Melayu.8

6
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.426.
7
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.129-131.
8
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.427-
428.

5
Pengikut-pengikut Kertajasa yang setia dan berjasa dalam perjuangan
mendirikan Majapahit, diangkat menjadi petinggi pejabat kerajaan. Diantaranya,
Wiraraja diamgkat menjadi Mantri Mahawiradhikara, Pu Tambi (Nambi) sebagai
Rakryan Mapatih dan Pu Sora sebagi Rakryan Apatih di kediri. Demikian Nambi
memperoleh jabatan yang tinggi di dalam hierarki kerajaan Majapahit, sedanngkan
Sora menempati tempat kedua. Sumber lain mengatakan bahwa Wenang atau Lawe
diangkat menjadi Amanca Nagara di Tuban dan Adipati di Datara. Pemimpin pasukan
ke Melayu dijadikan panglima perang dengan nama Kebo Anabrang.9

1. PEMBERONTAKAN RANGGA LAWE

Pararaton mengatakan bahwa Kertajasa dinobatkan pada tahun Saka 1257


(1335) dan dibuatkan candi di Antahpura. Setelah pengangkatan orang-orang yang
berjasa dalam mendirikan Majapahit, disitukah awal mula timbulnya pemberontakan
dalam dua dasawarsa pertama. Rangga Lawe menyatakan tidak puas terhap raja,
kenapa bukan dia atau Sora yang menjadi patih Majapahit tetapi malah Nambi.
Padahal dia merasa lebih berjasa dan berani dari pada Nambi. Dikatakan dalam kitab
Nawanatya, seorang patih Amangkubhumi tidak hanya harus gagah berani dalam
peperangan,tapi juga harus faham segala cabang ilmu pengetahuan, adil, bijaksana,,
pandai berdiplomasi, membina persahabatan, mementingkan kepentingan orang lain,
tidak tdak takut dikritik dan sebainya. Namun dalam sumber lain dikatakan bahwa
Ranga Lawe adalah seorang suka
naik darah dan buruk tabiatnya.10
Uraraian Pararaton mengatakan bahwa Kertajasa Jayawardana dinobatkan
menjadi raja bukan tahun Saka 1257, melainkan menurut Kertagama XLVII/3 tahun
Saka 1231 (1209). Jadi Rangga Lawe berlangsung pada masa Kertajasa bukan
Jayawardhana. Nama Rangga Lawe sangat popular dikalangan orang jawa, namun
tidak tercantum di prasasti mana pun. Tetapi namanya tercantum dalam Kidung
Rangga Lawe yitu sebagai putra Arya Wiraraja. Dalam Panji Wikayakrama dikatakan
bahwa nama Rangga Lawe bukan nama yang sebenarnya, namun gelar yang diberikan
kepada putra Arya Wiraraja, karena Kertajasa tertarik akan kepribadian dan tingkah
lakunya. Oleh karena itu dia diberi nama Lawe dan bergelar Rangga. Pemberontakan
Ranggga Lawe terjadi pada tahun 1295. Dalam pemberontakan itu Rangga Lawe
meniggal di tangan Mahisa Anabrang dan setelah itu namanya tidak lagi tercantum di
prasasti manapun.
Menurut cerita versi Kidung Rangga Lawe pada suatu pagi dia berangkat dari
Tuban menuju Majapahit. Sesampainya disana dia mengeluarkan unek-uneknya
kenapa bukan Sora atau dia yang menjadi pati Majapahit, melainkan malah Nambi.
Kedatangannya di Paseban membuat petinggi kerajaan kesal, seperti hendak akan
menghajar Rangga Lawe. Nambi hanya bisa menggigit bibir mendengar apa tang
dikatakan Rangga Lawe. Brahma memperingatkan agar berhati-hati dalam tingkah
lakunya, karena itu akan membuatnya mendapat hukuman dari Kertrajasa.
Mahisa Anabrang tidak sabar mendengar dan melihat apa yang dilakukan.
Dengan lantang dia mengatakan agar Rangga Lawe mengumpulkan pengikut dan
mengangkat senjata. Sementara itu Sora memberikan saran keepada Kertajasa agar
jangan menuruti keinginanya untuk menggantikan Nambi menjadi patih, karena itu
9
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.428.
10
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.428-
429.

6
akan membuatnya berpikir kalau orang-orang Majapahit takut mati. Lembu Sora
diperintahkan untuk melerainya namun itu sulit karena dia adalah paman Rangga
Lawe. Lembu sora hanya dapat menasihatinya agar pulang dan berbicara kepada
ayahnya. Hal itu dituruti olehnya, namun dia mengatakan kalau kembali mengabdi, itu
pasti akan membuat kekecewan itu datang kembali.
Setibanya di Tuban Rangga Lawe berbicara kepada ayahnya. Disana pun dia
diberi nasihati agar segera kembali ke Majapahit dan meminta maaf kepada
Kertajasa. Hal itu katakan karena Arya Wiraraja merupakan ayahnya dan dia pun
sudah berjanji kepada Kertajasa untuk mengabdi kepadanya seumur hidupnya.
Rangga Lawe menjawab perkataan ayahnya,”saya tidak lagi menginginkan
kemasyuran, tetapi yang saya inginkan hanya kematian sebagai pahlawan dengan
harapan akan dilahirkan kembali tujuh kali dengan setiap kali lahir setingkat lebih
tinggi dari kelahiran sebelumnya”. setelah itu dia pergi dan segera mengumpulkan
pengikutnya sambil membagi-bagikan senjata. Dia pergi memimpin sendiri
pertempuran itu dengan harapan dapat bertarung dengan Nambi dimedan
Pertempuran.
Sementara itu tentera Majapahit telah melewati sungai Tambak Beras dan
tibadi depan kota. Gagarangan dan Tambak Baya melaporkan hal itu. Mendengar
laporan yangtelah sampai ditelinganya, Ranga lawe memerintahkan agar tentaranya
menghalangi tentara Majapahit dan segera masuk istana untuk bertemu kedua istrinya,
Martaraga dan Tirtawati. Martaraga membujuk Rangga Lawe agar tidak jadi pergi ke
medan pertempuran, karena semalam dia bermimpi buruk. Setelah mendengar hal itu
maka yakinlah Rangga Lawe bahwa ajalnya sudah dekat. Kemudian dia lari masuk
kamar memeluk putranya Kuda Anjampiani untuk yang terakhir kalinya.
Merasa sudah waktunya Rangga Lawe pergi menyusul ke medan, dia pergi
dengan cepat. Ditengah perjalanan dia bertemu dengan Ki Ageng Palandongan yang
juga menasihati agar membatalkan rencananya itu. Hal itu di acuhkan begitu saja, dan
terus melaju hingga akhirnya bertempur melawan Nambi. Saat itu Majapahit hampir
kalah. Mendengar berita yang sampai ke Majapahit Kertajasa segera mengirim
bantuan dengan dipimpijn langsung oleh Mahisa Anabrang. Ketika Nambi hampir
kalah datanglah Mahisa Anabranr dan akhirnya Mahisa Anabrang berkelahi mati-
matian menghadapi Rangga Lawe. Mahisa menariknya kedalam air dan mencekik
leher Rangga Lawe hingga tewas. Tidak disangka Lembu Sora yang melihat akan hal
itu terjadi pada keponakannya, tiba diagelap mata dan menusuk Mahisa Anabrang dari
belakang hingga akhirnya keduanya tewas bersamaan di sungai Tanbak Beras.
Sepeniggalan putranya, Arya Wiraraja menagih janji agar Kertajasa membagi
kerajaanya. Kerajaan bagian timur dan ibu kota Lumajang diserahkan kepada Arya
Wiraraja, sedangkan bagian barat tetap Kertjasa yang memimpin. Setelah itu Arya
Wiraraja meninggalakan Majapahit dan berhenti mengabdi kepada Kertajasa.

2. PEMBERONTAKAN LEMBU SORA

Dalam pararaton dikatakan bahwa pemberontakan Rangga Lawe dan Lembu


Sora berselisih tiga tahun yaitu tahun Saka 1222 (1300 M). pendapat itu sangat kacau.
Mahisa Anabrang tewas tahun 1295 di Tambak Beras dan tidak mungkin dia
membunuh Lembu Sora tahun 1222 (1300 M). Pemberontakan Lembu Sora
berlangsung pada tahun 1301 jelas jatuh pada masa Kertajasa bukan Jayanagara.
Alasan Lembu Sora memberontak adalah karena pitnah Mahapatih mengatakan telah
menusuk Mahisa Anabrang dari belakang karena bersimpatik kepada keponakannya.

7
Mahapatih adalah seorang pengikut Kertajasa yang berwatak ambisius. Dia
sangat ingin menggantikan Nambi menjadi Patih Majapahit. Dengan pitnahnya,
Mahapatih berusaha menjatuhkan Lembu Sora. Meskipun berkhianat Lembu Sora
tetap bersahabat baik dengan Kertajasa. Lembu Sora memang menyadari dengan
tindakannya yang telah lalu dan pantas menerima hukuman.
Pada suatu keika Mahapati mendekati Lembu Sora dan berkata bahwa Mahisa
Taruna sangat dendam kepadanya telah membunuh ayahnya dan telah mendekati
Patih Nambi untuk membantunya. Mahapatih berjanji akan selau membantu Lembu
Sora. Nambi pun sama telah di hasud oleh Mahapatih dan dia percaya atas semua
yang dikatakan kepadanya.
Lembu Sora termenung memikirkan apa yang akan terjadi. Kemudian dia
memanggil Juru Demung dan Gajah Biru untuk dimintai saran. Dalam perundingan
itu, mereka bersepakat untuk menyerahan diri dan menerima apa pun hukmannya.
Mahapatih dimintai untuk menyampaikan hal itu kepada Kertajasa, namun dia merasa
tidak puas atas keputusan mereka untuk menyerahkan diri, sehingga dia mengatakan
kepada Kerajasa bahwa Lembu Sora akan memberontak. Ketika lembu sora dan para
pengiktunya sampai di gerbang istana, penjaga mengatakan bahwa Kertajasa tidak
menerima. Mereka memaksa untuk masuk karena ada hal yang ingin dibicarakan.
Namun itu tidak membuat pasukan Majapahit membiarkannya masuk, melainkan
malah menyerbu dan dengan seketika Lembu Sora dan pengikutnya berguguran. Saat
itu terjadi pada tahun1222 (1300 M).
Kemudian pada tahun 1309 Kertajasa meninggal. Dia di buatkan candi di
Antahpura dengan arca Jina dan di Simping dengan aca Siwa.Lokasi Simping terletak
di Sumberjati dekat Blitar. Disana terdapat perwujudan laksana campuran Siwa dan
Wisnu, yang diperkirakan merupakan perwujudan Kertajasa.

B. MASA KEPEMERINTAHAN JAYANAGARA

Sepeninggalan Kertajasa Jayawarddhana tahun 1309, Jayanagara naik tahta


menggantikan ayahnya menjadi raja kerajaan Majapahit.Pada waktu itu dia masih
berusia 15tahun. Sedangkan kedua adik perempuannya diangkat menjadi Bhattara di
Kahuripan dan di Kediri. Jayanagara mendapat gelar Sri
Sunddarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikrramottunggadewa.
Narakertagama pupuh XLVII/2 menyatakan bahwa terjadi pemberontakan Nambi.
Nambi dapat ditumpas tahun Saka 1238 (1316 M) dengan Candrangkala mukti-guna-
paksa-rupa..Tarikh ini sangat cocok dengan Pararaton bahwa telah menumpas
pemberontakan Mandana pada tahun Saka 1236 (1314 M).11

1. PEMBERONTAKAN NAMBI

Pada tahun 1316 Mahapatih mengincar kedudukan Patih, mendekati Nambi


dengan mengatakan bahwa Jayanagara tidak suka kepada Nambi. Demi menghindari
sengketa dengan Jayanagara, dia minta izin untuk pulang dengan dalih ayahnya sang
Pranaja sedang sakit. Jayanagara pun memberi izin dan tidak lama Jayanagara
mengutus beberapa pengawalnya untuk berbela sungkawa karena Pranaraja telah
meninggal. Mahapatih menyarankan kepada Nambi agar memperpanjang cutinya.

11
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.152

8
Mahapatih pulang ke Majapahit dan melaporkan bahwa Nambi telah mempersiapkan
pemberontakan..
Tidak lama setelah Nambi mendapat serangan dari tentara Majapahit dan
akhirnya Lumajang kalah. Kidung Sorandaka menyatakan bahwa setelah perang
Mahapatih diangkat sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan Mpu Nambi.
Berbeda dengan Pararaton yang mengatakan bahwa Mahapatih diketahui sebagai
tukang fitnah, kemudian ditangkap dan dibunuh. Bahkan mayatnya di mutilasi.12
Setelah Lumajang kalah pada tahun 1316, Lumajang kembali bersatu dengan
Majapahit. Jika kita percaya maka Mahapatih dapat diidentifikasikan sebagai Dyah
Halayudha dalam prasasti Tuharanyu yang bertarikh 1323. Dalam prasasti di katakan
bahwa Dyah Halayudha adalah Patih Majapahit.

2. PERISTIWA BEDANDER DAN MUNCULNYA GAJAH MADA

Setelah perang Lumajang,maka menyusullah peristiwa Bedander. Disebut


peristiwa Bedander, karena Jayanagara pergi ke desa Bedander akibat pemberontakan
Kuti. Pararaton mengatakan bahwa ketika Kuti memberontak berselisih tiga tahun
setelah perang Lunajang, yaitu pada tahun 1319 M. Nagarakertagama mengatakan
tentang pemberontakan Kuti, namun tidak dicantumkan kapan terjadinya. Hanya
dikatakan bahwa setelah perang Lumajang terjadi pemberontakan Kuti. Dalam
Pararaton disebutkan bahwa Kuti adalah salah satu Darmmaputra, yaitu pembesar
yang dimanjakan. Mereka ada tujuh orang, yaitu ra Kuti, ra Pangsa, ra Wedeng, ra
Yuyu, ra Tanca, ra Banyak dan ra Semi. Pada hakikatnya para Darmmawangsa tidak
menyukai Jayanagara.
Pemberontakan Semi dan Lasem terjadi pada tahun Saka nora-weda-paksa-
wong 1240 (1318 M) berhasil ditumpas. Ra Semi dibunuh dibawah pohon randu
(kapuk). Pararaton menjelaskan bahwa Jayanagara mengungsi ke Bedander Pada
malam hari dengan diiringi 15 orang Bhayangkara termasuk Gajah Mada. Pada suatu
malam ketika Gajah Mada sedang mendapat giliran untuk berjaga, ada seseorang yang
minta ijin untuk pulamg. Namun tidak diberi ijin karena Gajah Mada takut dia
memberitahukan persembunyiannya Jayanagara. Lalu Gajah Mada menusuknya
dengan keris, sehingga dia tewas.
Lima hari kemudian Gajah Mada minta ijin untuk kembali ke Majapahit.
Disana dia ditanya-tanya mengenai keberadaan Jayanagara dan menjawab bahwa
Jayanagara telah tewas dibunuh pasukan ra Kuti. Dan Gajah Mada
bertanya”bukankah kalian ingin kan hal itu dan ra Kuti menjadi raja?”. Mereka
menjawab bahwa mereka tidak menginginkan hal itu terjadi.Akhirnya Gajah Mada
mengatakan dimana Jayanagara berada dan menyuruh mereka untuk membunuh Ra
Kuti. Akhirnya dengan kekompakan dan siasat mereka, Ra Kuti mati dibunuh dan
Jayanagara kembali. Tidak lama Gajah Mada minta cuti selama dua bulan.13
Ungkapan cuti itu dikenal dengan nama amukti palapa. Sedangkan lawannya
adalah amukti wibhawa yang artinya menikmati kekuasaan. Berdasarkan Pararaton
setelah mengambil cuti selama dua bulan, Gajah Mada menjadi patih di Kediri
menggantikan Arya Tilam yang meninggal dunia atas anjuran Patih Amangkubhumi
Arya Tadah. Nama Gajah Mada sebagai Patih tercantum dalam Prasasti Sideka atau

12
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.153 dan Sejarah
Nasional
lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.430
13
pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.155.

9
Tahanyaru bertarikh 1323 M. jadi pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Kediri
bukan pada masa kepemerintahan Tribhuwanatunggadewi.

3. PERISTIWA TANCA

Pada tahun 1328 Jayanagara meninggal dibunuh Tanca, salah seorang


Darmmaputra yang bertindak sebagai tabib. Peristiwa itu disebut patanca. Raja
Jayanagara dicandikan di dalam Pura, di Sila Petak dan di Bubat, ketiganya
digambarkan dengan arca Wisnu sebagai perwujudannya dan di Sukhalila dengan
Amaghosiddhi14 peristiwa Tanca dikisahkan dalam Pararaton yang berceritakan
bahwa kedua saudaranya akan diperistri olehnya. Karena itu para Ksatria tidak ada
yang datang ke Majapahit, yang datang kesana segera dibunuh, karena takut akan
memikat adiknya. Istri Tanca membeberkan Jayanagara telah mengodanya. Ketika itu
Jayanagara sedang sakit bisul. Dia meminta Tanca agar mengoperasinya, namun
ketika di operasi tidak mempan dan meminta agar melepaskan azimatnya. Setelah
melepasnya, barulah mempan dan hal itu di manfaatkan untuk menikam Jayanagara
dari belakang. Jayanagara meninggal di tempat tidurnya. Gajah Mada yang mengintip
dari belakang, langsung membunuh Tanca dengan cepat.15Namun menurut pendapat
lain, penyakit yang diderita saat itu bukanlah bisul melainkan bengkak. Dan yang
dilepas pada saat akan dioperasi bukanlah azimat, tetapi zirahnya.16
Dengan jelas Pararaton menyatakan bahwa peristiwa Kuti berselisih sembilan
tahun dengan peristiwa Tanca. Peristiwa Tanca berlangsung pada tahun Saka bhasmi-
bhuta-nampani-ratu, 1250 (1328 M).

C. MASA KEPEMERINTAHAN TRIBHUWANATUNGGADEWI


JAYAWISNUWARDDHANI

Setelah meniggalnya Jayanagara, Tribhuwanatunggadewi menggantikannya


menjadi raja, karena Jayanagara tidak memiliki putra. Nama gelarnya Abhiseka
Tribhuwanottungadewi Jayawisnuwarddhani. Dia menikah dengan Cakradhara atau
Cakreswara, raja di Singasari dengan gelar Kertawarddhana. Adik Tribhuwana,yang
menjadi Bhre Kediri, Rajadewi Maharajasa menikah dengan Kudamerta yang menjadi
Bhe Wengker dengan nama Wijayarajasa.
Prasasti Trowulan yang bertarikh 1358 M, mengatakan bahwa
Kertawarddhana adalah keturunan Jayawisnuwarddhana di Singasari.bernama Cakra-
Iswara dengan gelar Panji Seminingrat. Jadi mereka masih satu keturunan.17
Sepeninggalnya Jayanagara, Tribhuwanatunggadwi menduduki tahta di Majapahit.
Tribhuwanatunggadewi merasa berhutang budi pada Gajah Mada, karena ternyata
dalam pembunuhan Tanca, Gajah Mada-lah yang telah mengaturnya.
Tribhuwanatunggadewi menunggu saat yang tepat untuk membalas jasa-jasa Gajah
14
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.433.
yang mengatakan dalam Nagarakertagama XLVIII/3 dikatakan Jayanagara dicandikan di
Kapopongn di
Singgapura dan diarcakan di Antawulan.
15
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.433.
16
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.157.
17
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.160.

10
Mada. Pada akhirnya Gajah Mada menjadi patih di Majapahit pada tahun 1330 M
menggantikan Arya Tilam.
Dikatakan dalam Pararaton, bahwa pada awal pemerintahan
Tribhuwanatunggadewi, yang menjadi patih amangkubhumi adalah Arya Tadah. Pada
tahun 1251 (1329 M) Arya Tadah sakit, sehingga dia memohon untuk mengundurkan
diri dari jabatannya, karena merasa tidak pantas untuk menjadi patih. Namun
permintaanya ditolak ketika Arya Tadah mendekati Gajah Mada agar Mmau menjadi
Patih amangkubhumi menggantikannya. Kemudian Gajah Mada menjawab, “saya
tidak mau menjjadi patih sebelum kembali dari Sadeng”.
Alangkah kecewanya Gajah Mada, ketika mendengar bahwa pengepungan
Sadeng telah terjadi sebelum dari datang karena Kembar telah mendahulunya. Arya
Tadah yang mengetahui hal itu, memerintahkan amancanagara dan lima orang bekel
untuk menghukum kembar. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Kembar dan
si Kembar menyerang amanca itu, sehinga mereka pulang dengan membawa berita
buruk.

1. GAJAH MADA SEBAGAI PATIH AMANGKUBHUMI

Setelah perang Sadeng, Arya Tadah merasa dirinya sering sakit dan meminta
agar dia digantikan dari jabatanya. Permohonananya baru dikabulkan pada tahun 1334
M dengan penggantinya Gajah Mada. Pararaton mengatakan pada tahun Saka 1256
(1334 M) setelah perang Sadeng terjadi gempa bumi di Banyupindah yang mempuyai
tanda bahaya akan terjadi perubahan besar pada Majapahit. Perubahan itu adalah
pengangkatan Gajah Mada menjadi Pati amangkubhumi menggantikan Arya Tadah
dan diresmikan di Balairung. Gajah Mada mengatakan program politiknya yaitu
proram politik yang isinya penundukan kerajaan-kerajaan diluar Jawa dan
digabungkan dengan Majapahit, serta tidak akan amukti palapa sebelum menundukan
nusantara, yaitu: gurun, tanjungpura, Sera, Pahang, Dompo,Bali, Sunda, Palembang
dan Tumasik. Cara berpikir demikian disebut Jawa sentris.18
Persiapan politik nusantara makan waktu sepuluh tahun. Nagarakertagama
Pupuh XLIX/4 menyatakan bahwa Bali sudah dikuasai tahun Saka 1265 (1343 M).
diterangkan bahwa raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi dan gugur bersama
tentaranya. Barulah dimengerti maksud politik nusantara, dengan dikuasainya Bali
sebagai kerajaan diluar jawa. Konon topeng Gajah Mada yang dipakai dalam
ekspedisi di Bali, masih tersimpan di candi Blabatuh. Topeng itu dianggap sebagai
pusaka, tidak sembarang orang dapat melihatnya. Untuk dapat melihat topeng itu,
dibutuhkan upacara keagamaan yang sangat mahal. Topeng itu juga pernah berada di
Jakarta pada masa pemerintahan orde lama.
Ada lagi prasasti Arya Bebed di Pengastulan dekat Singaraja yang terkenal
sebagai prasasti Gajah Mada dan babad Gajah Mada di perpustakaan Lontar
Universitas Udayana di Bali yang ditulis dalam bulan Jyestha tahun Saka 1881 (Mei-
Juni 1959). Dikatakan dalam prasasti itu bahwa Gajah Mada datang ke Bali sebagai
utusan sang raja pada tahun Saka 1292 (1370 M). tarikh itu kurang tepat, karena
dalam Nagarakertagama XILX/4, Bali ditundukanpada tahun Saka 1265 (1341 M) dan
menurut Nagarakretagama pupuh LXXI/1 Gajah mada diangkat pada tahun Ska 1286
(1364 M). jadi tidak mungkin Gajah Mada datang ke Bali pada tahun 1370. isi dalam
prasasti itu tidak lain menerangkan bahwa Arya Bebed putra Gajah Mada dari
18
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.
434.

11
pernikahannya dengan Ni Luh Ayu Sekarini, anak petapa di Dukuh Kedangan. Arya
Bebed mencari ayahnya yang bernama Hasti Mada ke Majapahit. Disana dia bertemu
Gajah Mada ketika sedang menangis karena disoraki orang-orang Majapahit. Gajah
Mada yang merasa simpatik menghampirinya dan menanyakan berbagai hal. Sejak
itulah Gajah Mada mengetahui bahwa itu adalah anaknya. Ketika pulang ke rumah,
Gajah Mada mengenalkan anaknya pada istrinya Ken Bebed. Ken Bebed senang dan
mengangkatnya sebagai putranya, karena dia tidak memiliki putra. Anak itu diberi
nama Arya Bebed.19
Setelah lama tinggal Majapahit Arya Bebed meminta pulang ke Bali. Gajah
Mada dan Ken Bebed memberikan abu pangestulan suci agar ditaburkan disepanjang
perjalannya, karena dimana tempat abu terakhir itu diletakan, disitulah dia akan
menjadi pemimpin tertinggi. Hal itu dilakukannya, sehingga abu terakhir
ditaburkannya ditepi laut karena itulah muncul Lemah lot yang berbentuk pulau kecil
di pantai Selatan pulau Bali. Dia menetap di desa Bwahan dan menikah dengan Ni
Luh Ayu Rangga, putri pangeran Pasek Wanagiri. Dari pernikahannya dia mempunyai
putra yang bernama Arya Twas dan putri yang bernama Ni Gusti Ayu Wanagiri.
Sepeninggal ayahnnya, Arya Twas menggantikan kedudukannya. Dia menikah
dengan Ni Luh Ayu Puspa dan mempunyai dua orang anak. Yang pertama seorang
putri yang bernama Ni Gusti Ayu Wandira yang kemudian menikah dengan Arya
Rangong dan menetap di Bwahan. Kemudian yang kedua seorang putra yang bernama
Anglurah Bebed. Karena Arya Rangong lebih unggul dari pada Anglurah Bebed.
Anglurah Bebed yang merasa malu meninggalkan Bwahan dan menetap di
Pangestulan. Disana dia menikah dengan Ni Luluh Kekeran, anak perempuan I
Bandesa Kekeran. Pada suatu ketika pangestulan diserbu oleh I Dewa Gendis. Pada
pertempuran itu Anglurah Bebed kalah dan pergi mengembara dari desa satu ke desa
yang lain. Baik pararaton maupun Nagarakertagama tidak menemukan asal uasul
Gajah Mada. Dalam sebuah Babad Gajah Mada yang ditemukan di Bali, dikatakan
bahwa putra Dewa Brahmana yang memiliki bakat istimewa menurut pemikiran alam
orang Bali. Dia lahir dari seorang wanita yang sedang bertapa.Namun cerita itu masih
diragukan kebenarannya.20

2. PEMBANGUNAN CANDI SINGASARI

Candi singasari dibangun atas perintah Sri Tribhuwanatunggadewi


Jayawisnuwardhani atas persetujuan Sapta Prabu.Perintah itu di tujukan kepada pati
seluruh Negara, yaitu Mpu Mada kemudian dilanjutkan patih Negara bawahan
Singasari, yaitu Mpu Jirnodhara. Candi Singasari dibangun di wilayah Negara
bawahan Singasari. Demikian pula pelaksana pembangunan Caitya itu adalah patih
Negara bawahan Singasari.
Candi Singasari terletak disebelah Utara kota Malang, di jalan raya Simpang-
Singasari, dibangun diatas denah persegi. Ruang-ruangnya dibuat dikaki candi, tidak
ada satu ruang pun dibadan candi. Diruang utama candi terdapat lingga alih-alih arca
Siwa Mahaguru, karena isi dalam prasasti itu dimaksudkan untuk untuk memperingati
Mahabrahma Siwa-Sogata yang gugur bersama Sri Kertanagara pada tahun 1292.
Arca Siwa Guru terdapat di halaman candi bersamaan dengan arca-arca lain. Semua
arca itu sudah diangkut ke Nederland dan disimpan di museum Leiden kecuali arca
Siwa Guru. Candi Singasari adalah candi Siwa, jadi sudah semestinya pemujaan
19
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.170-171.
20
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.172.

12
utama dilakukan kepada pemujaan Dewa Siwa. Arca Ganesa, Bhattari dan permaisuri
Dewa Siwa ditempatkan di halaman luar candi. Arca Prajnyaparamita yang
diibaratkan dengan kecantikan Ken Dedes sudah bertahun-tahun disimpan di
Nederland, namun sekarang ada di Museum Nasional yang ada di Jakarta.
Didalam prasasti Singasari dikatakan bahwa pada tanggal 27 April 1351 Sri
Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani masih memegang kekuasan tertinggi. Itu
berarti pada sesudah bulan April 1351 barulah Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara
menggantikan kekuasaan Sri Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani.
Kesimpulanya jadi serah terima kepemerintahan itu terjadi pada pertengahan tahun
1351M, bukan pada tahun 1350 M seperti yang kita kenal sampai sekarang.21 Namun
menurut pendapat lain tetap tahun 1350.22 Dari kitab Pararaton dan Kakawin
Nagarakretagama dikatakan bahwa pada tahun 1362 M Tribhuwanatunggadewi
memerintahkan upacara Sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya
Rajapatni, Dyah Dewi Tribhuwaneswari.
Pada tahun 1372 M Tribhuwanatungadewi meninggal dan didharmakan di
Panggih dengan nama pendharmaannya Pantrapurwa.

D. MASA KEPEMERINTAHAN HAYAM WURUK SRI RAJASANAGARA

Nagarakertagama I/4 menyatakan bahwa Hayam Wuruk lahir pada tahun Saka
1256 (1334 M). dia hanya mempunyai saudara yang bernama Bhre Pajang yang
dinikahkan dengan Raden Sumana, Bhattara di Paguhan yang mengambil nama
abhiseka Singawardhana.
Prasasti Prapancasaraputra menyatakan bahwa nama Garbhopati putra
Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani dalam pernikahannya dengan
Kertawadhana Bhatara di Singasari adalah Hayam Wuruk. Pararaton juga menyatakan
bahwa hayam Wuruk juga bernama Raden Tetep. Gelarnya menjadi dalang adalah
Tirtaraju. Ketika menari dan memerankan karakter-karakter lain bernama Gagak
Katawang. Sebagai pemeluk agama Siwa bernama Janeswara. Ketika menjadi raja
bergelar Sri Rajasanagara. Namun nama itu tidak terdapat dalam prasasti, Cuma
gelarnya yang bernama Hyang Wekasing Suka.23 Pada tahun 1350 M Hayam Wuruk
dinobatkan menjadi raja raja Majapahit. Namun dengan beberapa bukti bahwa pada
tanggal 27 April 1351 Tribhuwanatunggadewi masih memegang kekuasan Majapahit.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Hayam Wuruk dinobatkan menjadi Raja
Majapahit pada pertengahan tahun 1351 M, bukan seperti yang sampi sekarang
dikenal yaitu tahun 1350 M. Ketika ibunya masih hidup dia juga pernah dinobatkan
menjadi raja muda (raja kumara) dan mendapat daerah kekuasaan di Jiwana. Hal itu
tercantum dalam batu candi yang berangkakan tahun 1372 M yang telah ditemukan di
reruntuhan candi Panggih.24 Atau menurut pendapat lain adalah di Kahuripan.
Dalam menjalankan pemerintahannya Hayam Wuruk dibantu oleh Gajah
Mada. Sebagai Patih Amangkubhumi yang sudah diperoleh ketika mengabdi kepada
Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani. Dengan bantuan Gajah Mada,
kepemerintahan Hayam Wuruk menjadi masa puncak kejayaan Majapahit. Seperti
21
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.183-187.
22
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.435.
23
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal.190.
24
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.435.

13
halnya raja Kertanagara yang melancarkan politik perluasan cakrawala mandala yang
meliputi seluru dwipantara, Gajah Mada ingin pula melaksakan politik nusantara yang
dikenal dengan sumpah palapa.
Catatan Pararaton bahwa Gajah Mada menjadi Patih Amangkubhumi selama
sebelas tahun, namun dia sudah menduduki jabatan itu dari tahun 1334 M dan baru
berakhir pada tahun 1357 M dengan terjadinya perang Bubat. Sehingga Sunda bukan
termasuk Negara bawahan Majapahit. Jadi Gajah Mada menduduki jabatannya selama
dua puluh tiga tahun. Luas kerajaan Majapahit menurut Nagarakertagama pupuh XIII
dan XIV adalah:

1. Di Sumatra: Jambi, Palembang, Darmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan,


Mandailing, Pnai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak Samudra, Lamuri, Barus,
Batan dan Lampung.
2. Di Kalimantan (Tanjungpura): Kapuas, Katingan, Kota Lingga, Kota
Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan , Singkawang, Tirem, Landa, Sebu,
Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung
Kutei dan Malano.
3. Di Semenanjung Tanah Melayu (Hujung Medini): Pahang, Langkusaka,
Kelantan, Saimang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah
dan Jerai.
4. Sebelah timur Pulau Jawa Bali: Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung,
Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kandali, Sasak, Bantayan, Luwuk,
Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua),
Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon (Maluku), Wanin, Seram dan Timor.

Pada waktu itu Hayam Wuruk menginginkan putri Sunda, Dyah Pitaloka
sebagai permaisurinya. Setelah putri Sunda dan raja mengiringi ke Majapahit,
ditengah perjalanan terjadi persedlisihan. Gajah Maada tidak ingin pernikahan itu
terjadi dengan biasa saja. Dia ingin raja Sunda menyerahkan putri Sunda sebagai
persembahan, sebagai bukti pengakuan telah tunduk kepada Majapahit. Namun para
pembesar Sunda tidak setuju atas tindakan Gajah Mada, padahal raja Sunda sudah
bersedia menuruti keinginginan Gajah Mada. Setelah itu terjadilah peperangan yang
dilakukan dilapangan Bubat. Semua orang Sunda tewas tak tersisa.
Cerita itu di kisahkan panjang lebar dalam kitab Pararaton dan Kidung
Sundayana. Perbuatan itu seperti disengaja oleh para Prapanca, sehingga peristiwa itu
dianggap kegagalan politik Gajah Mada. Didalam Kakawi Nagaraktretagama
dikatakan bahwa Gajah Mada pernah dianugerahi Sima yang kemudian diberinama
Darmma Kasogatan Madakaripura. Ditempat inilah Gajah Mada menetap sebagai
amukti palapa.
Karena putri Sunda tewas, maka Hayam Wuruk menikah dengan Paduka Sori
anak Bhre Wengker Wijayarajasa dan bibi HayamWuruk, Bhre Majapahit Rajadewi
Maharajasa. Pernikahan Hayam wuruk menghasilkan anak yang bernama Bhre
Lasem Sang Ahayu. Ada dua mengenai siapa Bhre Lasem Sang Ahayu ini. Yang
pertama adalah sebagai putri Hyam Wuruk yang bernama Kusumawardhani dan yang
kedua adalah sebagai Nagarawardhani, putri bungsu Bhre Pajang.
Masa kepemerintahan Hayam Wuruk terus mencapai kejayaan, walaupun
tanpa Gajah Mada yang meninggalkan Majapahit untuk Amukti Palapa. Hayam
Wuruk melakukan pemerintahannya dengan teliti dan bijaksana. Semua Negara
bawahan Majapahit dikontrol olehnya. Nagarakertagama menyebutkan bahwa pada
tahun 1351 M dia berkunjung ke Pajang. Tahun 1354 ke Lasem. Tahun 1357 ke

14
pantai selatan (Lodaya). Kemudian pada tahun 1359 M ke Lumajang. Tahun 1360 ke
Tirib dan Sempur. Tahun 1361 M ke Balitar. Tahun 1363 M berkunjung ke Simping
sambil meresmikan sebuah candi yang baru selesai.
Sekembalinya dari Simping Hayam Wuruk mendengar berita bahwa Gajah
Mada sakit dan akhirnya meninggal tahun Saka 1286 (1364 M). Hayam Wuruk
langsung mengadakan rapat bersama keluarga raja-raja yang terdiri dari sembilan
orang (Pahom Narendra).Menurut Nagarakrtagama pupuh LXXI-LXXII itu, pada
hakikatnya mereka mengakui jasa-jasa Gajah Mada yang tiada bandingannya,
sehingga jabatan Patih Amangkubhumi dibiarkan kosong selama 3 tahun karena
merasa tidak ada yang pantas menggantikannya. Barulah setelah itu digantikan oleh
Gajah Enggon. Menurut Kitab Pararaton Gajah Enggon menjadi Patih
Amangkubhumi pada tahun 1371 M dan meninggal tahun 1398 M.25
Pada tahun 1389 Hayam Wuruk meninggal dunia dan tidak ada yang tahu
dimana didarmmakannya. Namun menurut suatu pendapat dia didarmmakan di
Paramasukhapuha di Tanjung, yang dijadikan tempat pendarmmaan cucunya Bhre
Tumapel (Bhre Hyang Wekasing Sukha).

BAB IV
PEREBUTAN KEKUASAAN KERAJAAN MAJAPAHITSETELAH
PEMERINTAHAN HAYAM WURUK

A. MASA PEMERINTAHAN DEWI SUHITA

Setelah meninggalnya Hayam Wuruk, tahta kerajaan di serahkan kepada


Wikramawardhana (Bhre Hyang Wisesa). Dia adalah seorang menantu sekaligus
keponakan Hayam Wuruk yang dinikahkan dengan putrinya Kusumawardhani.
Wikramawardhana memerintah pada tahun 1389. Dia memerintah dua belas tahun
lamanya. Pada tahun 1400 M, dia mengundurkan diri dari jabatanya dan menjadi
pendeta (bhagawan). Setelah itu yang mengantikan memerintah Majapahit adalah
anaknya Suhita. Menurut Pararaton, Suhita adalah anak kedua dari
Wikramawarddhana. Sedangkan anak pertama yang bernama Bhre Tumapel yang
dikenal dengan Bhre Hyang Wekasing Sukha II. Dia meninggal tahun 1399 M
sebelum dinobatkan menjadi raja Majapahit. Karena itulah Suhita sebagai adiknya
menggantikan sebagai penerus pemerintahan setelah Hayam Wuruk. Suhita menikah
dengan Bhattara di Kahuripan, yang bernama Hyang Parameswara dengan gelar Aji
Ratnapangkaja, putra sulung Bhre Pandan Salas yang bernama Raden Sumirat.26
Duduknya Suhita banyak menimbulkan pertentangan anatara
Wikramawarddhana dengan Bhre Wirabhumi. Sebagaimana telah kita ketahui Bhre
Wirabhumi adalah anak Hayam Wuruk yang lahir dari seorang selirnya. Bhre
Wirabhumi tidak setuju dengan pengangkatan Suhita. Pertentangan itu dimulai pada
tahun 1401 M. Pertentangan itu memuncak dengan terjadinya perang Paregreg.
Masa pemerintahan Suhita berakhir tahun Saka 1369 (1447 M) tanpa
meninggalkan keturunan. Dia didarmmakan di Singhajaya bersama suaminya yang
meninggal tahun 1446.

25
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.439.
26
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal. 236.

15
B. MASA KEPEMERINTAHAN SRI KERTAWIJAYA

Sepeninggalnya Suhita, Kertawijaya menggantikan memerintah Majapahit.


Pada awal pemerintahanya pada tahun 22 november 1477, ia mengeluarkan Prasasti
Waringin Pitu. Prasasti Waringin Pitu membuktikan kebenaran bahwa pernyataan
Pararaton benar mengenai meninggalnya Suhita tahun 1447 M. Dari prasasti itu juga
membuktikan bahwa Kertawijaya bukan putra permaisuri Kusumawarddhani, tetapi
putra Dyah Nartaja. Hal itu juga memperkuat pernyataan Pararaton mengenai Bhre
Tumapel Kusumawarddhani dengan Bhre Kediri Tidak tercantum namanya.
Pada tahun Saka 1373 (1451 M) dia meninggal dunia dan di darmmakan di
Kertawijayapura.

C. MASA KEPEMERINTAHAN SANG SINAGARA

Bhre Pamotan yang bergelar Sri Rajasawarddhana (Sang Sinagara) tidak


diketahui secara pasti asal-usulnya. Dari Prasasti Waringin Pitu dapat diketahui bahwa
Rajasawarddhana diurutan ketiga sesudah raja. Dari pernyataan ini dapat dipastikan
ketika pada Masa pemerintahan Kerrtawijaya dia sudah memiliki kedudukan yang
tinggi.
Didalam Pararaton dikatakan bahwa pada waktu menjadi raja
Rajasawarddhana berkedudukan di Keling-Kahuripan. Berdasarkan pernyataan itu
dapat diketahui bahwa pusat pemerintahan Majapahit dipindahkan ke Keling-
Kahuripan. Pada tahhun 1453 M dia meninggal dan didarmmakan di Sepang.
Menurut Pararaton, Rajasawarddhana selama tiga tahun (1453-14456)
Majapahit mengalami masa kekosongan tanpa raja (interregnum). Sebab-sebab
terjadinya interregnum ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Diduga hal ini
merupakan pula akibat adanya pertentangan memperebutkan kekuasaan diantara
keluarga raja-raja Maajapahit. Pertentangan keluarga yang berlangsung berlarut-larut
itu rupa-rupanya telah melemahkan kedudukan raja-raja Majapahit baik dipusat
kerajaan maupun diderah. Sehingga sepeninggal Rajasawarddhawana tidak ada
seorang pun diantara keluarga raja-raja Majapahit yang sanggup tampil untuk segera
memegang tampuk-tampuk pemerintahan di Majapahit.27

D. GIRINDRAWARDDHANA: RAJA-RAJA MAJAPAHIT AKHIR

Setelah interregnum selama tiga tahun, pada tahun 1456 M tampil ke muka
yaitu Dyah Suryawikrama Girisawarddhana menaiki Tahta kerajaan Majapahit. Dyah
Kertawijaya semasa pemerintahan ayahnya menjadi raja daerah Wengker (Bhatara ing
Wengker). Didalam Pararaton dikatakan gelarnya adalah Bhre Hyang Purwwiwesa.
Dia memerintah selama sepuluh tahun. Pada tahun 1466 M dia meninggal dan
didarmmmakan di Puri.
Sebagai gantinya Bhre Pandan Salas menjadi raja di Majapahit. Namun
dengan berbagai bukti yang ada dan pernyataan dalam Pararaton dapat dipastikan dia
27
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.
442.

16
menjadi raja di Majapahit hanya selama dua tahun. Penderitaan mengenai pengusiran
Bhre Pandan Salas dari keratonnnya dapat dibenarkan pula. Hal itu disebabkan karena
adanya serangan dari Bhre Kertabhumi. Dia katakan dalam pararaton dia adalah putra
bungsu Sang Sinagara. 28
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawarddhana Dyah
Ranawijaya pada tahun 1486 M, dapat diketahui adanya penyelenggaraan upacara
Sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhatara ring
Dahanapura. Dia didentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa
Sri Singahawikramawarddhana. Dapat di pastikan pila melalui Pararaton bahwa Bhre
Pandan Salas ketika diserang oleh Bhre Kerrtabhumi dia pindah ke Kediri dan
meneruskan pemerintahannya. Dia meninggal pada tahun 1474 M.
Sepeninggalan Dyah Suprabhawa, kedudukannya digantikan oleh anaknuya
Girindrawarddhana Dyah Ranawijya. Sebelumnya dia berkedudukan di I Kling. Pada
awal mula pemerintahannay dia tidak berada di Majapahit melainkan tetap Kling.
Ranawijaya berusaha untuk mempersatukan kembali wilayah Majapahit yang tercerai-
berai karena perebutan kekuasaan oleh keluarga raja-raja Majapahit. Pada tahun 1478
M dia melancarkan serangan kepada Bhre Kertabhumi yang pada waktu itu
berkedudukan di Majapahit.
Penyerangan ini dapat dikatakan sebagai revanche atas penyerangan Bhre
Kertabhumi terhadap Bhre Pandan Salas ayahnya Ranawijya. Perang tersebut tercatat
dalam prasasti I Jiwu yang dikeluarkan olehnya pada tahun 1468 M. prasasti tersebut
dikeluarkan sehubungan dengan pengukuhan tanah-tanah di Traylokyapuri kepada Sri
Brahma Ganggadhara yang telah berjasa dalam penyerangan terhadap Majapahit.
Dalam perang itu Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit. Hal itu
juga tercatat dalam Pararaton.
Pada masa awal pemerintahannya dia didampingi oleh seorang Rakryan
Apatih yang bernama Mpu Wahan. Sedangkan pada akhir kepemerintahannya dia
didampingi oleh seorang Patih berenama Udara. Dalam Prasasti lain yang
dikeluarkan Ranawijaya dikatakan masih ada Giridrawarddhana lain, yang bernama
Girindrawarddhana Sri Singhawarddhana Dyah Wijayakusuma. Yang disebut juga
sebagai Paduka Sri Maharaja Bhatare Kling.
Dari sejarah yang ada dapat disimpulkan mungkin kedua Girindrawardhana ini
punya hubungan keluarga. Selain itu juga terdapat Girindrawarddhana pada jaman
pemerintahan raja Wijayaparakrama (Dyah Kertawijaya), yaitu Giridrawarddhana
yang punya nama kecil Wijayakarana. Didalam prasasti Waringin Pitu dkatakan
bahwa Dyah Wijayakrana adalah Bhattara I Kling dan disebutkan urutan ketiga belas
sesudah raja.
Adanya tiga orang Girindrawarddhana ini para sarjana menyimpulkan bahwa
pada masa Majapahit akhir telah muncul suatu dinasty yang berkuasa di Majapahit
yaitu Dinasty Girindrawardhana. Dengan berbagai bukti dan penafsiran.
Disamping tiga Girindrawarddhana itu, ternyata dari sumber-sumber sejarah
Majapahit lain, dapat kita ketahui adanya beberapa orang yang mempunyai gelar yang
sama artinya dengan Gindrawarddhana, yaitu dari Prasasti Waringin Pintu tahun 1447
disebutkan seorang Bhattara I Wrngker. Berdasarkan kesamaan arti girisa dan
girindra. Dari prasasti Pamintihan tahun1473 M bahwa raja mengeluarkan prasasti
Dyah Suraprabawa Sri Singhawikramawarddhana. Didalam prasasti itu dikatakan
bahwa ia diberi sebutan Srigiripatiprasutabhupatiketubhuta yang artinya yang menjadi
pemimpin (yang termasuk paling utama) dari raja-raja keturunan Tuan Gunung.29

28
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.443.

17
BAB V
RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT

Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit runtuh pada tahun Saka
1400 (1478 M). Saat keruntuhannya itu disimpulkan dalam cansengkala sirna-ilang-
kertining-bumi dan disebutkan pula keruntuhannnya itu disebabkan karena serangan
dari kerajaan islam Demak. Berdasarkan bukti-bukti Majapahit saat itu belum runtuh
dalam waktu yang lama. Prasasti-prasasti dari tahun 1468 M menyebutkan bahwa
masih ada kekuaaan kerajaan Majapahit. Pada saat itu yang berkuasa adalah Dyah
Ranawijaya yang bergelar Girindrawaddhana dan juga disebut sebagai seorang Sri
Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha. Sedangkan dari
berita Cina jaman Dinasty Ming (1368-1643) dikatakan bahwa adanya hubungan
diplomatik antara Cina dengan Jawa (Majapahit) yaitu pada tahun 1499.
Rui De Brito, Gubernur Portugis di Malaka dalam menyatakan laporannya
kepada raja Manoel pada tahun 1514 M, yang berisi bahwa di Jawa dan Sunda
terdapat dua raja kafir. Penulis dari Italia, Duarte Barbosa pada tahun 1518 M
memberitakan bahwa didalam pedalaman Jawa masih terdapat raja kafir yang sangat
berkuasa. Dari dua berita itu dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit masih ada.
Namun masih ada pendapat yang bebeda, yaitu pendapat dari berita Italia dari penulis
Antonio Pigafetta yang berasal dari tahun 1522 M mengatakan bahwa pada saat itu
Majapahit sudah tidak ada. Dia menyebutkan pula bahwa Pati Unus sebagai raja
Majapahit yang masih hidup dan yang paling berkuasa. Dari sumber-sumber lain
dapat diketahui bahwa Pati Unus adalah penguasa Demak yang berkuasa pada tahun
1518-1521 M yang dikenal juga dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor yang
meninggal tahun 1521 M.
Jika dihubungkan pendapat Duarte Barbosa yang menyebutkan bahwa masih
ada raja kafir yang berkuasa yaitu Pate Udra, dapat disimpulkan bahwa antara tahun
1518 M dan 1521 M telah terjadi pergeseran politik dari penguasa Hindu ke tangan
adipati Unus yang telah menaklukkan Majapahit.
Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, menyebutkan bahwa raja-raja
Demak adalah keturunan Prabhu Brawijaya raja Majapahit. Bahkan dalam Purwa
Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah pendiri dan raja pertama
kerajaaan Demak, adalah anak Prabhu Brawijaya Kertabhumi. Telah dikemukakan
bahwa raja Kertabhumi telah merebut kekuasaaan Majapahit dari tangan Bhre Pandan
Salas dengan menyingkirkannya dari Kadaton pada tahun 1468 M. akan tetapi pada
tahun 1478 M kekuasaan atas tahta kerajaan Majapahit ini dapat direbut kembali dari
tangan Bhre Kertabhumi oleh Dyah Ranawijays, anak Bhre Pandan Salas, dengan
mengadakan penyerangan ke Majapahit. Dalam penyerangan ke Majapahit yang
dilancarkan oleh Dyah Ranawijaya itu Bhre Kertabhumi gugur di Kadaton. Dengan
gugurnya Bre Kertabhumi ini maka lenyaplah kekuasaan Bhre Kertabhumi. Peristiwa
gugurnya Bhre Kertabhumi di Kadaton inilah yang tersimpul didalam Candra
Sengkala” sinar-ilang-kerti-ning-bhumi (1400 Saka). Akan tetapi para peulis tradisi
telah mengaburkan kenyataan-kenyataan sejarah tersebut dengan mengatakan bahwa
kerajaan Majapahit telah runtuh pada tashun Saka 1400 (1478 M). karena serangan
tentara Demak, yang dipimpin ileh Raden Patah.

29
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985, hal.
447-
448

18
Dengan demikian penaklukan Majapahit oleh Demak itu tidaklah terajadi pada
tahun Saka 1400 (1478 M), dan bukan pula dilakukan oleh Raden Patah terhadap
Prabhu Brawijaya Kertabhumi. Penguasaan Majapahit oleh Demak itu dilakukan oleh
adipati Unus, anak Raden Patah, sebagai tindakan balasan terhadap
Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya yang telah mengalahkan neneknya,
Kertabhumi.30

A. Letak ibu kota Majapahit

Disepanjang jalan sungai Brantas banyak terdapat toponim dengan unsur maja
seperti Majaagung, Majawarna, Majajejer, Majakerta dan Majasari. Tetapi toponim
Majapahit tidak ditemukan dimanapun, sehingga ibu kota Majapahit tidak diketahui.
Padahal Majapahit merupakan yang paling menonjol dari pada yang lain. Namun
dalam Serat Pararaton menyatakan bahwa tahun 1293 M Raden wijaya membuka
hutan Tarik. Toponim Tarik terletak ditepi sungai Porong di sebelah timur Majakerta.
Tapi disitu tidak terdapat peninggalan-peninggalan arkeologi yang menyatakan bahwa
Majapahit terletak disekitarnya. Namun tetap dipercayai disekitar hutan Tarik terdapat
ibu kota Majapahit.
Dari sumber lain, yaitu sejarah Dinasty Yuan dapat diketahui ibu kota
Majapahit terletak di sekitar Canggu. Toponim Canggu sudah terkenal dari tahun
1193 M bertepatan dengan tahun Masehi 1271 berkaitan dengan pembangunan
perbentengan oleh raja Wisnuwardhana. Tempat itu masih ada. Letaknya disebelah
selatan Majakerta. Pada tahun 1416 M seorang ulama Cina bernama Ma Huan ikut
serta dalam rombomgan laksamana Ceng Ho yang berkunjung ke Majapahit. Dalam
karyanya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan Ma Huan menyajikan uraian geografi
tentang empat kota utama, Tuban, Gresik, Surabaya dan Majapahit. Dari uraian itu
jelas bahwa orang-orang dapat mencapai Majapahit melalui Surabaya. Demikian
uraian itu dijadikan sebagai pegangan untuk menetapkan letak ibu kota Majapahit. Ibu
kota dan istana Majapahit yang megah itu telah lama musnah. Tidak ada tanda-tanda
bahwa kemusnahannya disebabkan oleh musibah alam berupa air bah atau letusan
gunung berapi. Gunung Kelud yang sering meletus terletak jauh disebelah selatan
Majapahit, sedangkan sungai Brantas yang mengalir kearah utara dari Kediri ke
Majakerta, terletak jauh disebelah barat ibu kota Majapahit. Ibu kota Majapahit
terletak kira-kira 15 KM disebelah selatan Majakerta, meliputi daerah Trawulan dan
Tralaya.
Didaerah Trawulan dan Tralaya terdapat beberapa makam muslim dari abad
keempat belas sampai abad keenam belas. Pada maesan batu misan muslim itu dipahat
tarikh Saka dengan hurup jawa dan disisinya tulisan arab kebanyakan berupa kutipan
Qur’an. Di desa Kedaton ditemukan batu misan muslim bertarikh Saka 1372 (1450
M). sampai sekarang batu misan itu masih ada disitu; di Trawulan ada dua batu misan
muslim dengan tarikh 1368 dan 1448 M; di Tralaya batu misan muslim yang masih
ada diempat aslinya bertarikh 1376, 1380, 1407, 1418, 1420, 1427, 1467, 1469, 1475
dan 1611 M. Seandanya kemusnahan ibu kota Majapahit itu akibat bencana alam,
batu-batu nisan itu pasti telah terpendam dibawah lahar, dibawah tanah atau hanyut
terkena aliran air bah.31

30
Sejarah Nasional lndonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro-Nugroho Notosusanto, 1985,
hal.448-
451.
31
Pemugaran persada Sejarah Leluhur Majapahit, Prof. Slamet Muljana,1983, hal. 209-216.

19
BAB VI KESIMPULAN

A. Dari semua kerajaan di Indonesia, Majapahit merupakan kerajaan yang sangat


menarik untuk di teliti, karena Majapahit menaruh berbagai misteri yang
sampai kini masih belum banyak terungkap dan masih terdapat perbedaan
penafsiran terhadap bukti-bukti sejarah yang sudah ada.
B. Majapahit merupakan kerajaan Hindu yang sanggup memperluas wilyahnya
dan melakukan hubungan baik dengan negara atau kerjaan luar terutama Cina.
C. Bukti-bukti sejarah kerajaan Majapahit banyak yang hilang, termasuk tidak
diketahuinya secara pasti letak ibu kota Majapahit.
D. Kerajaan Majapahit dibangun dan berdiri pada tahun Saka 1214 (1292 M) oleh
Raden Wijaya (Kertajasa Jayawarddhana).

20
E. Gajah mada adalah tokah seorang Patih Amangkubhumi yang sangat terkenal
dalam sejarah kerajaan Majapahit dengan sumpahnya, yaitu sumpah Palapa.
F. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa kepemerintahan Hayam
Wuruk. Keberhasilannya dalam mengembangkan Kerajaan Majapahit sampai
meluas hampir sepertiga Asia Tenggara.
G. Awal mula kehancuran Majapahit adalah karena terjadi perebutan tahta
kerajaan Majapahit oleh keluarga raja-raja Majapahit.

DAFTAR PUSTAKA

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional


Indonesia
Jilid II. Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.

Muljana, Prof. Dr. Slamet. Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit. Jakarta:
Inti
Idayu Press, 1983.

Odih, Enjang, B.A. dan Sukadi, Drs. IPS Sejarah 1 (Nasional dan Umum). Bandung:

21
Ganeca, 2000.

Mustopo, Prof. Dr. M. Habib, dkk. Sejarah SMA Kelas XI Program IPS 2. Jakarta:
Yudistira, 2006.

FOTO

22
Gayatri

Kertajasa Jayawarddhana

23
Ukiran pada jaman Majapahit

Sisa-sisa bangunan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit

24
Bangunan Majapahit jaman dulu

Mata uang Majapahit

Alat yang digunakan di jaman Majapahit

25
Lembu Sora

Peninggalan bangunan Majapahit sekarang

26