Anda di halaman 1dari 18

TINDAK TUTUR DAN JENIS – JENISNYA1

0leh:
Nurhayati (S 840809023), Sutri (S 84080932), dan Umi Faizah (S 84080936)2

ABSTRAK
Tindak tutur merupakan hal penting dalam kajian pragmatik.
Mengujarkan sebuah tuturan tertentu dapat dipandang sebagai melakukan
tindakan (mempengaruhi, menyuruh), di samping memang mengucapkan
atau mengujarkan tuturan itu. Kegiatan melakukan tindakan mengujarkan
tuturan itulah yang merupakan tindak tutur atau tindak ujar. Atas dasar
sejumlah kriteria, ada beberapa jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
konstatif, performatif, lokusi, ilokusi, perlokusi, representatif, direktif,
ekspresif atau evaluatif, komisif, deklarasi atau establisif atau isbati,
langsung, tidak langsung, langsung harfiah, langsung tidak harfiah, tidak
langsung harfiah, dan tidak langsung tidak harfiah.

Pendahuluan
Kajian pragmatik merupakan kajian penggunaan bahasa untuk
berkomunikasi antara penutur dan mitra tutur sesuai konteks dan situasi
pemakaiannya.
Dalam kajian pragmatik dikenal adanya tindak tutur. Tindak
tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti
praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama,
prinsip kesantunan. Kajian pragmatik yang tidak mendasarkan
analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti
yang sebenarnya. Tanpa memperhitungkan tindak tutur, kajian
pragmatik masih berada di persimpangan, tindak tutur juga mempunyai
jenis-jenis dalam tuturannya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini meliputi (1)

1
Makalah ini disusun sebagai salah satu persyaratn akademik dalam menempuh perkuliahan
dan kelulusan mata kuliah Pragmatik dan Keterampilan Berbahasa yang diampu oleh dr. Budhi
Setiawan, M. Pd.
2
Penulis adalah mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indoinesia Reguler, Program
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret , Angkatan 1009.

1
apakah pengertian tindak tutur itu? (2) apa sajakah jenis-jenis tindak
tutur itu?
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah (1)
mendeskripsikan pengertian tindak tutur (2) mendeskripsikan jenis-
jenis tindak tutur.

Tindak Tutur dan Jenis-jenis Tindak Tutur


1. Pengertian Tindak Tutur
Atas dasar pengertian pragmatik yang diajukan Levinson
(1983 : 1-53), Leech (1983 : 5), Parker (1986 : 11), dan Mey (1994 : 5)
dapat dikemukakan bahwa satuan analisis pragmatik berbeda dari
satuan analisis sintaksis, dan berbeda pula dari satuan analisis
semantik. Perbedaan itu menjadikan analisis pada ketiga bidang itu
jelas dan tidak tumpang tindih. Satuan analisis sintaksis itu berupa
kalimat. Makna kata dan makna kalimat adalah satuan analisis
semantik. Sementara itu, satuan analisis pragmatik adalah tindak tutur.
Penyebutan satuan analisis ketiga bidang itu harus konsisten. Jika
berada di dalam kajian pragmatis, tindak tuturlah yang selalu disebut.
Di dalam kajian sintaksis kalimatlah yang selalu menjadi pusat
perhatian. Di pihak lain, makna menjadi sasaran analisis semantik.
Tindak tutur atau tindak ujar atau dalam bahasa Inggrisnya
speech act merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik.
Karena sifatnya yang sentral itulah, tindak tutur bersifat pokok dalam
pragmatik. Pentingnya dan sentralnya itu tampak dalam perannya bagi
analisis topik pragmatik lain. Tindak tutur merupakan dasar bagi
analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan,
implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan. Kajian
pragmatik yang tidak mendasarkan analisisnya pada tindak tutur
bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sebenarnya. Tanpa
memperhitungkan tindak tutur, kajian pragmatik masih berada di
persimpangan.

2
Alasan ditampilkannya istilah tindak tutur bahwa dalam
mengucapkan suatu ekspresi. pembicara tidak semata-mata
mengucapkan elkspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu ia juga
'menindakkan' sesuatu, (Purwo 1990 : 19). Dengan mengacu kepada
pendapat Austin (1962), Gunarwan (1994 : 43) menyatakan bahwa
mengujarkan sebuan tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan
(act), di samping memang mengucapkan (mengujarkan) tuturan itu.
Demikianlah, aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan
maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar (speech
act).
Tuturan, "Maaf, kami tidak jadi memesan barang itu"
merupakan hasil tindak tutur. Penutur tuturan itu tidak semata-mata
mengujarkan tuturan itu. Ketika mengucapkan tuturan itu penutur
menindakkan sesuatu. Tindakan yang dilakukannya itu adalah
memohon maaf. Tindakan memohon maaf paralel dengan tindakan
fisik lain seperti memukul atau menggelengkan kepala. Ketiga tindakan
itu, memohon maaf, memukul, dan menggelangkan kepala juga
diproduksi dengan menyerempakkan interaksi otak dan fisik. Interaksi
otak pada ketiga tindakan itu sama. Akan tetapi, berbeda interaksi fisik
pada ketiga tindakan itu. Alat ucap (part of speech) adalah organ tubuh
yang berinteraksi ketika melakukan tindakan memohon maaf itu.
Sementara organ fisik, yang berinteraksi ketika melakukan tindakan
memukul dan menggelengkan kepala adalah tangan dan kepala.
Suatu tindak tutur tidaklah semata-mata merupakan representasi
langsung elemen makna unsur-unsurnya (Sperber & Wilson 1989).
Berkenaan dengan bermacam-macam maksud yang mungkin
dikomunikasi, Leech (1983) berpendapat bahwa sebuah tindak tutur
hendaknya mempertimbangkan aspek situasi tutur yang mencakupi :
(1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4)
tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan (5) tuturan
sebagai produk tindak verbal.

3
2. Konstatif dan Performatif
Di dalam bukunya How to Do Things with Words Austin
(1962) membedakan tuturan yang bermodus deklaratif menjadi dua,
yaitu konstatif dan performatif. Tuturan konstatif adalah tuturan yang
menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah
dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia (Gunarwan 1994 :
43). Tuturan, "Kampus baru IKIP Semarang ada di Kelurahan Sekaran
Gunungpati Semarang" merupakan contoh tuturan itu yaitu apakah
benar bahwa kampus baru IKIP Semarang ada di Kelurahan Sekaran
Gunungpati Semarang dapat ditolak atau diterima berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki. Jika diterima hal itu, tuturan itu benar;
demikian sebaliknya. Tuturan-tuturan berikut ini juga merupakan
tuturan konstatif.
"Semarang ibu kota Jawa Tengah."
"Kualalumpur ibu kota Malaysia."
"Kota Sumedang ada di Jawa Barat."
Tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan
sesuatu yang dinamakan tuturan performatif (Wijana 1996 : 23). Lebih
tegas lagi Gunarwan (1994 : 43) mengemukakan bahwa tuturan
performatif itu adalah tuturan yang merupakan tindakan melakukan
sesuatu dengan membuat tuturan itu. Tuturan, "Saya mohon maaf atas
keterlambatan saya ini!" merupakan contoh tuturan performatif.
Berhadapan dengan tuturan performatif, tidak dapat dikatakan bahwa
tuturan itu salah satu benar. Terhadap tuturan performatif dapat
dinyatakan sahih atau tidak. Berikut ini juga merupakan contoh-contoh
tuturan performatif.
"Saya berjanji akan melaksanakan tugas dengan sebaik-
baiknya."
"Saya namai daerah ini Banyuwangi."
"Saya berani bertaruh bahwa Clinton akan terpilih kembali."
Kesahihan tuturan performatif bergantung kepada pemenuhan
persyaratan kesahihan atau felicity conditions. Austin (1962 : 26-36)

4
mengemukakan adanya empat syarat kesahihan, yaitu : (1) harus ada
prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional dan
prosedur itu harus mencakupi pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-
orang tertentu pada peristiwa tertentu, (2) orang-orang dan peristiwa
tertentu di dalam kasus tertentu harus yang berkelayakan atau yang
patut melaksanakan prosedur itu, (3) prosedur itu harus dilaksanakan
oleh para peserta secara benar, dan (4) prosedur itu harus dilaksanakan
oleh para peserta secara lengkap.
Selanjutnya, secara lebih operasional Searle (dalam Gunarwan
1994 : 47-48) merinci syarat kesahihan untuk tindak tutur 'berjanji'
menjadi lima, yaitu : (1) penutur mestilah bermaksud memenuhi apa
yang ia janjikan. (2) penutur harus berkeyakinan bahwa lawan tutur
percaya bahwa tindakan yang dijanjikan menguntungkan pendengar,
(3) penutur harus berkeyakinan bahwa ia mampu memenuhi janji itu,
(4) penutur mestilah memprediksi tindakan yang akan dilakukan pada
masa yang akan datang, dan (5) penutur harus mampu memprediksi
tindakan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Sebuah tuturan berjanji
sahih apabila syarat-syarat kesahihan yang berjumlah lima itu
terpenuhi. Apabila syarat-syarat kesahihan itu tidak terpenuhi secara
lengkap, kesahihan tuturan berjanji itu kurang.
3. Lokusi, llokusi, dan Perlokusi
Berkenaan dengan tuturan, ada tiga jenis tindakan yang
hendaknya mendapatkan perhatian, yaitu : (1 ) tindak lokusioner
(locutionary act), (2) tindak ilokusioner (ilocutionary act), dan (3)
tindak perlokusioner (perlocutionary act) (Austin 1962: 94, Searle 1969
: 23-24). Secara ringkas Gunarwan (1994: 45) menyebut ketiga jenis
tindakan itu dengan istilah lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
a. Lokusi
Lokusi atau lengkapnya tindak lokusi adalah tindak tutur
yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Lokasi semata -
mata merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak
mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai

5
dengan makna kata itu di dalam kamus dan makna kalimat itu
menurut kaidah sintaksisnya (Gunarwan 1994 : 45). Di dalam
tindak lokusi tidak dipermasalahkan maksud atau fungsi tuturan.
Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan lokusi ini adalah
apakah makna tuturan yang diucapkan itu. Tuturan, "Udara panas"
yang mengacu kepada makna udara 'hawa' dan panas 'hangat
sekali', lawan dingin (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa 1993 :
1095 dan 720) tanpa dimaksudkan untuk meminta kipas angin
dijalankan atau jendela dibuka merupakan tuturan lokusi. Dengan
kondisi tanpa mengaitkan maksud tertentu, tuturan-tuturan berikut
ini merupakan tuturan lokusi.
(4) "Saya lapar."
(5) "Mereka gembira sekali."
(6) "Kami kedinginan."
b. Ilokusi
llokusi atau tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu
(Austin 1962 : 99-100, Asim Gunarwan 1994 : 46). Berbeda dari
lokusi, tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung
maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan
berkenaan dengan tindak ilokusi adalah, "Untuk apakah tuturan itu
dilakukan?" dan bukan "Apakah makna tuturan yang diucapkan
itu?" Tuturan, "Udara panas" yang dimaksudkan untuk meminta
agar jendela atau pintu dibuka merupakan tuturan ilokusi.
Alasannya adalah tuturan itu mengandung-suatu maksud, yaitu
meminta jendela atau pintu dibuka. Adanya maksud yang dapat
diidentifikasi dengan bertanya untuk apakah tuturan itu diujarkan
merupakan indikator bahwa tuturan itu ilokusi.
Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi. Hal itu terjadi
karena tindak ilokusi itu berkaitan dengan siapa bertutur kepada
siapa, kapan dan di mana tindak tutur itu dilakukan. Tindak ilokusi,
"Udara panas' yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya sangat
mungkin dimaksudkan untuk meminta dibukakan bajunya. Akan

6
tetapi, hal itu tidak mungkin dimaksudkan oleh seseorang kepada
temannya atau oleh seorang dosen kepada mahasiswanya.
Demikianlah, tindak ilokusi ini merupakan bagian yang penting
untuk memahami tindak tutur.
Guna memudahkan identifikasi, ada beberapa verba yang
menandai tindak tutur ilokusi. Beberapa verba itu antara lain
melaporkan, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat,
berjanji, mendesak, dsb. (Leech 1983).
Dengan maksud masing-masing memohon maaf, nasihat
supaya waspada, dan minta diambilkan garam; tuturan secara
berturut-turut berikut ini merupakan tindak ilokusi.
(10) "Jalan macet."
(11) "Di pasar ini banyak pencopet."
(12) "Sayur ini enak meskipun kurang asin."
c. Perlokusi
Tuturan yang diucapkan seorang penutur sering memiliki
efek atau daya pengaruh (perlocutionary force). Efek yang
dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin
(1962 : 101) dinamakan tindak perlokusi. Efek atau daya tuturan itu
dapat ditimbulkan oleh penutur secara sengaja, dapat pula secara
tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk
mempengaruhi mitra tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi.
Tuturan, "Sebentar lagi harga gabah turun." yang
disampaikan kepada petani yang masih menyimpan banyak gabah
merupakan tindak perlokusi. Hal itu terjadi karena tuturan itu
memiliki daya mempengaruhi petani itu, yaitu petani itu menjadi
ketakutan mengalami kerugian jika gabahnya tidak segera dijual.
Jika disampaikan kepada petani yang sudah kehabisan gabah,
tuturan itu juga merupakan tindak perlokusi. Hal itu terjadi karena
tuturan itu tetap memiliki efek atau daya pengaruh. Hanya saja daya
pengaruhnya tidak sama dengan daya pengaruh terhadap mitra tutur
yang kedua (petani yang kehabisan gabah) adalah bahwa petani itu

7
menjadi senang karena akan dapat membeli gabah dengan harga
yang murah.
Ada beberapa verba yang dapat menandai tindak perlokusi.
Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong,
membuatjengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan,
mempermalukan, menarik perhatian, dsb. (Leech 1983).
Dengan daya pengaruh yang masing-masing berupa
menakut-nakuti, mendorong, dan melegakan tiga tuturan berikut
merupakan tindak perlokusi.
(13) "Ada hantu!"
(14) "Sikat saja”
(15) "Dia selamat, Bu.”
4. Representatif, Direktif, Ekpresif, Komisif, dan Deklarasi
Tindak tutur yang tak terhitung jumlahnya itu oleh Searle
(1969) dikategorisasi menjadi lima jenis. Kelima jenis tindak tutur itu
adalah representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Istilah
deklarasi ("declaration") yang berkategori nomina tidak paralel dengan
keempat jenis tindak tutur lainnya, yaitu representatif, direktif,
ekspresif, dan komisif yang semuanya berkategori adjektiva. Alasan
yang dikemukakannya adalah bahwa istilah deklaratif (declarative)
telah digunakan sebagai istilah modus tuturan bersama dengan
interogatif dan imperatif. Jika jenis tindak tutur itu dinamai deklaratif,
terjadi penggunaan satu istilah untuk dua konsep yang dapat
membingungkan.
a. Tindak Tutur Representatif
Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat
penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkannya. Jenis tindak
tutur ini kadang-kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke
dalam jenis tindak tutur ini adalah tutu ran-tutu ran menyatakan,
menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan,
memberikan, kesaksian, dan berspekulasi. Tuturan, "Pemain itu tidak
berhasil melepaskan diri dari tekanan lawan" termasuk tuturan

8
representatif. Alasannya adalah tuturan itu mengikat penuturnya akan
kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggung jawab bahwa memang
benar pemain itu tidak dapat melepaskan diri dari tekanan lawan.
Kebenaran tuturan itu dapat diperoleh dari kenyataan di lapangan
bahwa memang pemain itu tidak berhasil di dalam meraih angka,
bahkan sering melakukan kesalahan sendiri.
Tuturan-tuturan berikut ini juga merupakan tindak tutur
representatif.
(16) "Sebentar lagi hujan."
(17) "Yang telah melunasi PBB baru 345 orang."
(18) "Di desa inilah pahlawan itu dilahirkan."
b. Tindak Tutur Direktif
Tindak tutur direktif, kadang-kadang disebut juga tindak tutur
impisiotif, adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar
rnitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan didalam tuturan itu.
Tuturan-tuturan memaksa mengajak, meminta, menyuruh, menagih.
mendesak, memohon, menyarankan, memerintah. memberikan aba-
aba, menantang. termasuk ke dalam jenis tindak tutur direktif ini.
Tuturan, "Ambilkan buku itu!" adalah tuturan direktif. Hal itu terjadi
karena memang tuturan itu dimaksudkan penuturnya agar rnitra tutur
melakukan tindakan mengambilkan buku baginya. Indikator bahwa
tuturan itu direktif adalah adanya suatu tindakan yang harus dilakukan
oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan itu. Berikut ini merupakan
contoh tindak tutur yang berjenis direktif lain.
(19) "Tolong belikan rokok di warung itu!"
(20) "Anda lebih baik pulang sekarang."
(21) "Tunjukkan bahwa Anda bukan generasi pengecut!"
c. Tindak Tutur Ekspresif atau Evaluatif
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan
penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang
disebutkan di dalam tuturan itu. Fraser (1978) menyebut tindak tutur
eksriresif dengan istilah evaluatif. Tuturan-tuturan memuji,

9
mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan,
mengucapkan selamat, mengkritik, mengeluh, menyalahkan,
mengucapkan selamat, menyanjung termasuk dalam jenis tindak tutur
ekspresif ini. Tuturan, "Sudan belajar keras, hasilnya tetap jelek ya,
Bu" termasuk tindak tutur ekspresif mengeluh. Termasuk tindak tutur
ekspresif tuturan itu karena tuturan itu dapat diartikan sebagai evaluasi
tentang hal yang disebutkannya yaitu usaha belajar keras yang tetap
tidak mengubah hasil. Isi tuturan itu berupa keluhan karena itu tindakan
yang memproduksinya termasuk tindak tutur ekspresif mengeluh.
Tuturan-tuturan berikut ini merupakan contoh lain tindak tutur
ekspresif.
(22) "Jawabanmu bagus sekali."
(23) "Terima kasih atas kebaikan Bapak."
(24) "Gagasanmu itu baik jika disampaikan dalam yang
mudah dimengerti."
d. Tindak Tutur Komisif
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat
penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam
tuturannya. Berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan
kesanggupan, berkaul, menawarkan merupakan tuturan yang termasuk
ke dalam jenis tindak tutur komisif ini. Tuturan, "Saya berjanji akan
melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya", adalah tindak tutur
komisif berjanji. Alasannya adalah tuturan itu mengikat penuturnya
untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dinyatakan
penuturnya yang membawa konsekuensi bagi dirinya untuk
memnuhinya. Karena berisi janji yang secara eksplisit dinyatakan
tindak tutur itu termasuk tindak tutur komisif berjanji. Tuturan-tuturan
berikut juga merupakan tindak tutur komisif berjanji, bersumpah, dan
mengancam.
(25) "Besok saya akan datang ke rumah Bapak."
(26) "Saya bersumpah bahwa saya akan melaksanakan tugas
ini dengan sebaik-baiknya.

10
(27) "Jika tidak kamu kembalikan besok, aku tidak akan
memberikan pinjaman buku lagi kepadamu."
e. Tindak Tutur Deklarasi atau Isbati
Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang dimaksudkan
penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan) yang baru. Untuk
memperoleh istilah yang paralel, Fraser (1978) menyebut jenis tindak
tutur ini dengan istilah estabilishive atau isbati. Tuturan-tuturan dengan
maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang,
mengizinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan,
mengampuni, memaalkan termasuk ke dalam tindak tutur deklarasi.
Tuturan-tuturan berikut masing-masing merupakan contoh tindak tutur
deklarasi membatalkan, melarang, dan mengizinkan.
(28) "Saya tidak jadi datang ke rumahmu besok."
(29) "Jangan datang lagi ke kantornya!"
(30) "Ayah mengizinkan kamu kuliah di Ul."
5. Langsung, Tidak Langsung, Harfiah, dan Tidak Harfiah
Sebuah tuturan yang bermodus deklaratif dapat mengandung
arti yang sebenarnya dan berfungsi untuk menyampaikan informasi
secara langsung. Misalnya :
(31) "Lantai teras kotor."
Jika diujarkan oleh seorang ibu kepada anaknya, atau oleh
seorang majikan kepada pembantunya, tuturan itu dapat merupakan
pengungkapan secara tidak langsung. Hal itu terjadi karena maksud
yang diekspresi dengan tuturan deklaratif itu berupa maksud perintah.
Demikianlah, dapat dibedakan dua jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
langsung dan tindak tutur tidak langsung.
Penggunaan tuturan secara konvensional menandai
kelangsungan suatu tindak tutur. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif,
dan tuturan imperatif secara konvensional masing-masing diujarkan
untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan
memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kesesuaian antara
modus tuturan dan fungsinya secara-konvensional inilah yang

11
merupakan tindak tutur langsung. Sebaliknya, jika tuturan deklaratif
digunakan untuk bertanya atau memerintah atau tuturan yang bermodus
lain yang digunakan secara tidak konvensional tuturan itu merupakan
tindak tutur tidak langsung.
Ketiga tuturan berikut merupakan tindak tutur langsung karena
memang digunakan secara konvensional. Tuturan dimaksudkan sebagai
perintah supaya pintu dibuka, menanyakan isi bungkusan, dan (34)
menginformasi saat itu.
(32) "Tolong, buka pintu!"
(33) "Itu bungkusan apa, Bu?"
(34) "Sekarang pukul 12.00."
Penggunaan kedua tuturan beriktu yang secara tidak
konvensional merupakan tindak tutur tidak langsung.
(35) "Sudah jam sembilan."
(36) "Tempatnya jauh sekali."
Tuturan-tuturan (35) dan (36) merupakan tuturan deklaratif
yang masing-masing dimaksudkan untuk meminta tamu mengakhiri
kunjungannya di pondokan putri dan untuk melarang seorang anak ikut
dengan pembicara.
Derajat kelangsungan tindak tutur itu diukur berdasarkan jarak
tempuh dan kejelasan pragmatisnya (Gunarwan 1994: 50). Jarak
tempuh tindak tutur merupakan rentangan sebuah tuturan dari titik
ilokusi (di benak penutur) ke titik tujuan ilokusi (di benak mitra tutur).
Jarak tempuh paling pendek berupa garis lurus yang menghubungkan
kedua titik itu seperti pada tuturan yang bermodus imperatif dan itu
terjadi pada tindak tutur langsung. Jika garis yang menghubungkan
kedua titik itu tidak lurus, melengkung bahkan melengkung sekali yang
menyebabkan jarak tempuhnya sangat panjang, tuturan itu merupakan
tindak tutur tidak langsung. Kriteria kejelasan pragmatis berupa
ketransparan maksud atau daya ilokusi. Makin transparan maksud
sebuah tuturan, makin langsunglah tuturan itu; demikian sebaliknya.

12
Selain itu, tindak tutur juga dapat dibedakan menjadi tindak
tutur harfiah (literalspeech act) dan tindak tutur tidak harfiah
(nonliteral speech act). Tindak tutur harfiah adalah tindak tutur yang
maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Tuturan
imperatif, "Makan hati!", yang diujarkan seorang ibu kepada anaknya
yang sedang makan dan di atas meja tersedia rendah hati, merupakan
tindak ujar harfiah. Tindak tutur tidak harfiah adalah tindak tutur yang
maksudnya tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya.
Tuturan, "Orang itu tinggi hati.", yang diucapkan penutur kepada
seseorang yang tidak mudah mau bergaul, merupakan tindak tutur tidak
harfiah.
Jika dua tindak tutur yang pertama langsung dan tidak langsung
digabungkan dengan dua jenis tindak tutur yang kedua harfiah dan
tindak tutur harfiah, diperolehlah empat macam tindak tutur interseksi.
Keempat macam tindak tutur interseksi itu adalah : (1) tindak tutur
langsung harfiah, (2) tindak tutur langsung tidak harfiah, (3) tindak
tutur tidak langsung harfiah, dan (4) tindak tutur tidak langsung tidak
harfiah.
Tuturan (37) berikut ini, yang diucapkan oleh seorang petugas
pemeriksa keamanan kepada seseorang yang menjalani pemeriksaan,
merupakan tindak tutur langsung harfiah.
(37) "angkat tangan!"
Sebaliknya, tuturan (38) berikut, yang diucapkan oleh '
seseorang kepada temannya yang tidak mau menyerah di dalam
mengerjakan teka-teki, merupakan tindak tutur langsung tidak harfiah.
(38) "sudahlah, angkat tangan saja!"
Tuturan (39) dan (40) berikut, yang masing-masing diujarkan
oleh seorang dokter yang hendak memeriksa kelenjar di ketiak
pasiennya dan oleh penutur yang mengajak temannya menyerah dalam
menyelesaikan pekerjaan yang sulit, masing-masing merupakan tindak
tutur tidak langsung harfiah dan tindak tutur tidak langsung tidak
harfiah.

13
(39) "Bagaimana kalau Bapak angkat tangan sebentar?"
(40) "Untuk menghemat waktu kita lebih baik angkat tangan
saja."
Asim Gunarwan (1994 : 51) memberikan contoh yang amat
bagus untuk keemp'at macam tindak tutur interseksi tersebut. Secara
berurutan keempat contoh itu adalah seperti berikut ini.
(41) "Buka mulut!"
(42) "Tutup mulut!"
(43) "Bagaimana kalau mulutnya dibuka?"
(44) "Untuk menjaga rahasia, lebih baik kita semua menutup
mulut kita masing-masing
Catatan kondisi tuturan itu adalah bahwa tuturan (41) diucapkan
seorang dokter gigi kepada pasiennya, tuturan (42) diucapkan
seseorang yang jengkel kepada kawan bicaranya yang berbicara terus-
menerus, tuturan (43) diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien anak-
anak agar anak itu tidak takut, dan tuturan (44) diucapkan oleh penutur
kepada orang yang diseganinya agar ia tidak membuka rahasia.
6. Vernakuler dan Seremonial
Atas dasar sudut pandang kelayakan pelakunya, Fraser (1974)
mengemukakan dua jenis tindak tutur lagi, yaitu vernakuler dan
seremonial. Tindak tutur vernakuler adalah tindak tutur yang dapat
dilakukan oleh setiap_anggota masyarakat tutur. Verba meminta,
mengucapkan terima kasih, memuji menandai tindak tutur vernakuler.
Tuturan (45) dan (46) berikut ini, yang masing-masing dituturkan oleh
seorang petani dan oleh seorang mahasiswa, merupakan tindak tutur
vernakuler.
(45) "Saya berterima kasih atas kesempatan ini."'
(46) "Bagaimana kalau saya tidak ikut berdjskusi?"
Sementara itu, tindak tutur seremonial adalah tindak tutur yang
dilakukan oleh seorang yang berkelayakan untuk hal yang
dituturkannya. Tindak menikahkan orang, memutuskan perkara,
membuka sidang DPR/MPR, memulai upacara ritual adalah tindak

14
tutur seremonial. Tuturan (47) dan (48) berikut, yang masing-masing
merupakan tindak menikahkan orang dan membuka sidang DPR/MPR,
adalah tindak tutur seremonial.
(47) "Dengan ini, Saudara saya nikahkan dengan Saudara Rohana,
putri Bapak Supomo."
(48) "Masa persidangan kedua tahun 1997 dengan ini saya
nyatakan dibuka."
Tindak tutur seremonial ini oleh Bach dan Harnish (1979)
disebut tindak tutur conventional (konvensional) yang merupakan
lawan dari tindak tutur nonkonvensional.

SIMPULAN
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang
bersifat sentral dalam pragmatik. Karena sifatnya yang sentral itulah,
tindak tutur bersifat pokok dalam pragmatik. Pentingnya dan sentralnya itu
tampak dalam perannya bagi analisis topik pragmatik lain. Tindak tutur
merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti
praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip
kesantunan. Kajian pragmatik yang tidak mendasarkan analisisnya pada
tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sebenarnya. Tanpa
memperhitungkan tindak tutur, kajian pragmatik masih berada di
persimpangan.
Tindak tutur merupakan hal penting dalam kajian pragmatik.
Mengujarkan sebuah tuturan tertentu dapat dipandang sebagai melakukan
tindakan (mempengaruhi, menyuruh), di samping memang mengucapkan
atau mengujarkan tuturan itu. Kegiatan melakukan tindakan mengujarkan
tuturan itulah yang merupakan tindak tutur atau tindak ujar. Atas dasar
sejumlah kriteria, ada beberapa jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
konstatif, performatif, lokusi, ilokusi, perlokusi, representatif, direktif,
ekspresif atau evaluatif, komisif, deklarasi atau establisif atau isbati,
langsung, tidak langsung, langsung harfiah, langsung tidak harfiah, tidak
langsung harfiah, dan tidak langsung tidak harfiah.

15
DAFTAR PUSTAKA
Austin, J.I. 1962. How to Do Things with Words. New york: Oxford
University Press.

Mey, Jakop. 1984. Pragmatics: An Introduction. Oxfords and Cambridge


USA.

Fraser, Bruce. 1978. “Acquiring Social Competence in a Second


Language” dalam REALC Journal Volume No. 2 Desember 1978.

Gunarwan, Asim. 1994. “Pragmatik: Pandangan Mata Burung” dalam


Soenjono Dardjowidjojo (ed). Mengiring Rekan Sejati: Festschnft
Buat Pak Ton. Jakarta: Unika Atma Jaya. Hal 37-60.

Harnish, R. M. 1991. “Logical from and Implicature” dalam David (ed.)


Pragmatics A Reader. New York. Oxford university Press. Hal 316-
364.

Leech, Geoffrey. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman.

Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. London: longman.

Parker, Frank. 1986. Linguistics. London. Taylor dan Francis Ltd.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia.


Jakarta: balai Pustaka.

Searle, John R. 1969. Speech Acts: An Essay in the Philosophy of


Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Sperber and Daire Wilson. 1989. Relevence: Comunication and Cognition.


Oxfords Basil Blackwell.

Wijayana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.

16
TINDAK TUTUR DAN JENIS – JENISNYA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pragmatik


Dosen Pengampu: Dr. Budhi Setiawan, M.Pd.

Oleh:
NURHAYATI S 840809023
SUTRI S 84080932
UMI FAIZAH S 84080936

PENDIIKAN BAHASA INDONESIA ( KELAS REGULER)


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

17
2010

18