Anda di halaman 1dari 4

PROSES SULFITASI DI PABRIK GULA

Oleh; Anto Susanto


Disadur dari; Anonim, Blogger_arcive
Pada proses ini nira dialirkan ke Pemanas Pendahuluan I, defekator, sulfitator, Pemanas
Pendahuluan II, expandeuer, clarifier dan rotary vacuum filter. Sebelum menjalankan proses
pemurnian kita harus mengetahui komposisi dari nira mentah tersebut dan sifat-sifatnya. Selain itu
juga variabel proses yang dapat mempengaruhi pemurnian nira mentah. Nira mentah adalah nira
yang dihasilkan dari gilingan pertama sampai gilingan akhir ditambah dengan Nira Tapis. Dalam
nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al)yang
terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang
mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya. (Honig, 1953)
Beberapa hal yang perlu diketahui untuk proses pemurnian nira yaitu sifat-sifat dari sukrosa.
Sifat-sifat sukrosa antara lain :
a. Sukrosa pecah atau terurai :
ü Karena suasana sangat asam
ü Pengaruh dari microorganisme
ü Suhu yang tinggi.
b. Terhadap logam membentuk sakarat.
c. Memutar bidang polarisasi
d. Larut dalam air, dimana kelarutannya meningkat dengan peningkatan suhu
e. Dapat mengkristal, kristalnya berbentuk monoklin berwarna putih / jernih.
Pada pH dibawah 7 dengan suhu yang tinggi Sukrosa akan terinversi menjadi gula reduksi
(glukosa + fruktosa )
Reaksinya :
C12H22O11 + H2O ? C6H12O6 + C6H12O6

Sukrosa glukosa fruktosa


Pada pH yang tinggi gula reduksi akan pecah menjadi zat warna yang dapat merusak warna
gula dan membentuk asam organik. Oleh karena itu dalam melakukan proses pemurnian kita harus
memperhatikan hal-hal tersebut diatas sehingga dapat meminimalkan kerusakan dari gula.
Proses Defekasi
Nira dari gilingan di tampung di Peti Nira Mentah, sebelumnya ditimbang beratnya. Peti
Nira Mentah berfungsi untuk menampung Nira dan menjaga supaya debitdari reaksi stabil. Dari Peti
Nira Mentah Nira dipanaskan melalui pemanas pendahuluan I (PP I) sampai suhu 70 o C. Tujuan
dari pemanasan ini adalah
a. Untuk mempersiapkan proses selanjutnya yaitu defekasi, dimana susu kapur akan bereaksi
dengan bukan gula (dalam hal ini Phospat yang terkandung dalam tebu)
b. Membunuh bakteri yang terdapat dalam Nira.
c. Suhu tersebut merupakan suhu optimum dimana kehilangan gula karena inversi akibat
pemanasan nira mentah (pH = ± 5.5) dapat diminimalisir dengan waktu pemanasan sependek
mungkin.
Sistem kerja pemanas pendahuluan (juice heater) berdasarkan pada proses perpindahan
panas. (heat transfer). Untuk alat ini menggunakan tipe Shell and Tube Heat Exchanger. Dimana
Nira dialirkan di bagian dalam pipa sedangkan uap dialirkan di bagian luarnya. Agar proses
perpindahan panas dapat berjalan efektif maka nira disirkulasikan dengan menggunakan baffles atau
penyekat. Dari Pemanas Pendahuluan I nira dialirkan ke defekator. Reaksi Defekasi ini terjadi di
dalam reaktor yang disebut defekator. Reaktor ini dilengkapi dengan pengaduk untuk membuat
larutan menjadi homogen sehingga reaksi dapat berjalan dengan sempurna. Susu kapur (CaO) yang
dipakai sekitar 0.4 – 0.8 % tebu (Hugot, 1986) dengan kekentalan 60 Be. Pemakaian susu kapur
dengan ukuran tersebut didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
a. Dengan susu kapur yang encer endapan yang terbentuk akan lebih baik.
b. Volume nira kotor lebih sedikit sebab endapan yang terbentuk lebih besar.
c. Kecepatan penyaringan akan lebih baik.
d. Untuk mengurangi beban dari evaporator karena kapur dapat menyebabkan kerak di evaporator.
Reaksi defekasi berlangsung dalam 3 tahap atau defekasi bertingkat. Defekator I pH 6.5
dengan waktu tinggal 4 menit, Defekator II pH 7.5 dengan waktu tinggal 2 menit, dan Defekator III
pH 9 – 9.5 dengan waktu tinggal 0.58 menit. Tujuandari defekasi bertahap ini adalah untuk
menghindari kerusakan gula reduksi karena beroperasi pada pH diatas 7 dan suhu yang tinggi.
Selain itu juga beberapa koloid hanya dapat digumpalkan pada pH tertentu sehingga perlu
dilakukan defekasi bertahap. Pengontrolan pH dilakukan secara otomatis sehingga apabila terjadi
kekurangan atau kelebihan pH maka dapat segera dilakukan tindakan dengan cara mengurangi
debitdari susu kapur yang diberikan. Sebagian Pabrik Gula masih melakukan pengontrolan pH
dengan cara manual yaitu dengan memakai indikator PP (phenolphtalein), PAN (Phenol Alpha
Naphtol) dan BTB (Bromo Tymol Blue).
Didalam tangki defekator terjadi reaksi antara fosfat dengan suspensi kapur. Reaksi ini
dikenal dengan nama phosphoric acid lime Hasil reaksi berupa gumpalan-gumpalan (floc) kalsium
fosfat primer Ca3(PO4)2.

Proses Sulfitasi
Nira dari defekator 3 masuk ke tangki Sulfitator yaitu penambahan gas SO 2. Tujuannya
adalah untuk menetralkan pH sampai 7.0 – 7.2. Gas SO2 akan bereaksi dengan ion Ca2+

membentuk endapan CaSO3 sehingga endapan menjadi incompressible (tidak mudah pecah). Selain

itu fungsi gas SO2 adalah untuk mengikat unsur-unsur yang belum bereaksi di defekator,
mengurangi viskositas larutan, mereduksi ion-ion Ferri menjadi Ferro sehingga warnanya menjadi
lebih pucat. (Mathur, 1975).
Peti Pengendapan (Clarifier)
Sebelum dilakukan pemisahan endapan nira dipanaskan dahulu di Pemanas Pendahuluan II
sampai suhu 1050 C. Tujuan dari pemanas pendahuluan II adalah :
a. Untuk menyempurnakan reaksi sebelumnya yaitu antara Ca2+ dengan Phosphat.
b. Menurunkan viskositas nira sehingga pengendapannya lebih cepat.
c. Mengeluarkan gas-gas yang terlarut dalam nira agar tidak mengganggu jalannya proses
pengendapan dari partikel-partikel endapan yang terbentuk.
Nira dari Pemanas Pendahuluan II dialirkan ke expandeur (flash tank). Fungsi dari bejana
ini adalah untuk mengeluarkan gelembung gas dan udara yang terdapat dalam nira supaya tidak
menghalangi pengendapan pada clarifier. Gelembung-gelembung ini bila tidak dikeluarkan akan
menekan keatas partikel-partikel kotoran yang seharusnya mengendap. Nira masuk dengan jalan
dipancarkan melalui sisi tangki sehingga nira akan bergerak secara tangensial. Nira akan
berbenturan dengan dinding expandeur sehingga gas dan gelembung terlepas dari larutan dan keluar
melalui cerobong.
Sebelum dialirkan kedalam clarifier nira dicampur dengan flokulan. Penambahan flokulan
sekitar 2 – 3 ppm. Flokulan adalah suatu persenyawaan elektrolit yang bermuatan anion (anion
polyelectrolyte) dengan berat molekul 5 – 10 juta. Flokulan ini berfungsi membentuk gumpalan-
gumpalan kalsium fosfat sekunder. Kemudian dengan bantuan udara mikro gumpalan tersebut
diapungkan ke permukaan clarifier. Gumpalan kalsium fosfat ini bersifat mengadsorbsi kotoran non
sukrosa (Sumarno, 1996).
Larutan nira yang telah dicampur flokulan dialirkan ke single tray clarifier. Penggunaan
single tray clarifier dapat memperpendek waktu tinggal sehingga kehilangan sukrosa karena
hidrolisa dapat dikurangi. Aliran kedalam clarifier dibuat laminair sehingga tidak mengganggu
jalannya pengendapan. Didalam clarifier terdapat scrapper yang berputar dengan lambat yang
dijalankan oleh motor penggerak dengan as vertikal. Scrapper tersebut menggaruk-garuk lantai
kompartemen dan mengarahkan endapan ke tengah untuk dialirkan melewati pipa nira kotor dan
dikeluarkan untuk ditampung di mud mixer. Sedangkan nira jernih keluar melalui clarifier dengan
cara overflow. Nira jernih disaring di DSM screen dan ditampung ke peti nira jernih kemudian
dialirkan ke Pemanas Pendahuluan III tujuannya adalah untuk meringankan beban evaporator.
Rotary Vacuum Filter
Fungsi dari alat ini adalah untuk memisahkan blotong dan nira tapis. Nira tapis akan
dikembalikan lagi ke tangki nira mentah untuk diproses kembali.Peralatan ini terdiri dari silinder
yang berputar pada sumbunya dan sebagian silinder ini terendam dalam bak nira kotor yang akan
disaring. Bagian luar dari silinder yang berfungsi sebagai penyaring terdiri dari segmen-segmen.
Masing-masing segmen dihubungkan secara individual ke suatu jaringan pipa yang disebut thrill
pipe yang berakhir pada suatu terminal yang disebut distributing valve atau timing block.