Anda di halaman 1dari 12

Pancasila dan Globalisasi

Agustus 9, 2010 in celoteh | Tags: media massa

Globalisasi dalam dunia komunikasi saat ini telah terasa begitu nyata. Pesatnya
perkembangan teknologi komunikasi membawa kita ke sebuah era di mana kita dapat
berkomunikasi dengan orang lain di belahan bumi mana pun, kapan pun, secara seketika
itu juga. Tak dapat disangkal, kita memang sedang berada pada masa global village
seperti yang diungkapkan oleh Marshall McLuhan, pakar media dari University of
Toronto.

McLuhan membagi sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode,1 yakni tribal
age, literate age, print age, dan electronic age. Periode-periode tersebut ia bagi
berdasarkan pada perkembangan teknologi komunikasi yang dimiliki manusia.

Dalam tribal age, manusia hanya mengandalkan indera pendengaran dalam


berkomunikasi. Pada masa itu, komunikasi dilakukan berdasarkan pada narasi, cerita,
dongeng tuturan dan sejenisnya. Manusia hanya mengandalkan kemampuan lisannya
untuk berkomunikasi. Hal tersebut dapat dipahami karena pada masa itu, manusia belum
mengenal gambar atau tulisan, sehingga kemampuan visual manusia belum banyak
diandalkan dalam komunikasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah ditemukannya huruf, cara manusia


berkomunikasi banyak berubah. Pada literate age, indera penglihatan menjadi dominan
pada masa ini. Manusia tidak lagi mengandalkan tuturan, tetapi tulisan dalam
berkomunikasi.

Penemuan mesin cetak kemudian memberi warna lain kepada cara manusia
berkomunikasi. Pada print age, komunikasi manusia menjadi lebih rumit dari
sebelumnya. Kemunculan komunikasi massa beserta efeknya terhadap khalayak begitu
menarik bagi para ilmuwan sosial sehingga akhirnya terlahir ilmu-ilmu yang mengaji
masalah tersebut. Dari sini, pada abad 19, muncul Science of the press di Inggris, Science
de la Presse di Perancis, Dagbladwetenchap di Belanda, dan Zeitungswissenschaft di
Jerman, yang semuanya berarti ilmu persurakabaran. Karl Bucher adalah orang pertama
yang mengajarkan ilmu mengenai persuratkabaran di tingkat universitas pada tahun 1884.
Dalam perkembangannya, Zeitungswissenschaft berubah menjadi publisistik. Ilmu-ilmu
itulah yang kelak menyusun ilmu komunikasi yang ada saat ini.2

Berbagai alat elektronik, seperti telegram, telepon, radio, televisi, VCR, faximile,
komputer, dan internet adalah tanda dimulainya sebuah era baru dalam komunikasi. Tak
hanya pola komunikasi pribadi yang berubah, komunikasi massa pun ikut dipengaruhi
oleh teknologi komunikasi tersebut. Di sinilah kita berada saat ini, pada masa di mana
ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah yang serius dalam komunikasi: electronic
age. Dalam era ini, kita pun selalu diterpa oleh derasnya arus informasi melalui media
massa sehingga timbul adanya rasa ketergantungan kita terhadap media massa.
Dari keempat era tersebut, McLuhan hendak menjelaskan adanya determinisme
teknologi. Menurutnya, penemuan atau perkembangan dalam teknologi komunikasi
memiliki kekuatan untuk mengubah kebudayaan manusia. Apabila Karl Marx memiliki
pandangan bahwa sejarah ditentukan oleh kekuatan produksi, maka menurut McLuhan
eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan mode komunikasi. 3

Media massa pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara kita berpikir,
bersikap, dan bertindak. Bahkan dalam tahap tertentu, kitalah yang dikendalikan oleh
media massa.

Ada beragam teori yang menjelaskan hal tersebut. Meski banyak pihak yang menepis
anggapan bahwa efek media massa dapat sedemikian dahsyatnya, teori-teori tersebut
tetap tidak kehilangan peminatnya. Setidaknya, ada tiga teori yang bisa menjelaskan
fenomena tersebut, antara lain teori norma budaya, teori belajar sosial, dan teori agenda
setting.

Teori Norma Budaya yang digagas Melvin DeFleur menjelaskan bahwa media massa
melalui penyajiannya yang selektif dan penekanannya pada tema-tema tertentu,
menciptakan kesan-kesan pada khalayak di mana norma-norma budaya umum mengenai
topik yang diberi bobot itu dibentuk dengan cara tertentu. Oleh kerena itu, perilaku
individual biasanya dipandu oleh norma-norma budaya mengenai suatu hal tertentu maka
media komunikasi secara tidak langung akan memengaruhi perilaku.

Teori belajar sosial (social learning theory) yang ditampilkan Albert Bandura ini mengaji
proses belajar melalui media massa sebagai tandingan terhadap proses belajar secara
tradisional. Dalam hal ini, media massa dianggap sebagai agen sosialisasi yang utama di
samping keluarga, guru, dan sahabat karib.

Sementara itu, teori agenda setting yang pertama kali diungkapkan oleh M. E. Mc Combs
dan D. L. Shaw mengatakan bahwa jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa,
maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.

Dalam konteks kajian budaya, media seolah memainkan peran dalam membuat the One
menjadi semakin dianggap penting dan dapat dijadikan referensi nilai-nilai universal. The
One adalah sebuah konsep yang digunakan oleh penganut aliran postmodernisme untuk
menyatakan sistem-sistem besar yang bersifat tunggal. Istilah tersebut dibenturkan
terhadap the plurals yang berarti sistem-sistem kecil yang bersifat jamak. The one identik
dengan kebudayaan barat, Menurut pandangan para postmodernis, telah terjadi dominasi
atau kolonialisasi yang halus dan diam-diam dalam semua aspek kehidupan manusia
yang dilakukan oleh the one terhadap the plurals.4

Contohnya saja dalam bidang arsitektur, arsitektur bergaya Barat dianggap lebih
berkualitas dibandingkan dengan arsitektur tradisional seperti Jawa atau Batak. Di
Indonesia, nilai-nilai lokal atau adat seolah semakin terkikis oleh perkembangan zaman.
Lewat dekonstruksi, kaum postmodernis selalu berusaha untuk menunjukkan betapa
rapuhnya the One dan betapa berharganya the plurals.
Pendekatan yang dilakukan kaum postmodernis ini agaknya dapat dijadikan sebuah cara
untuk memandang globalisasi yang merupakan bagian dari modernisme. Modernisme
dalam perspektif kaum posmodernis, dapat dianggap sebuah semangat untuk maju.
Dalam sejarah filsafat, sejak zaman renaissance, modernisme menyertai perkembangan
humanisme.

Humanisme berpandangan bahwa rasion manusia merupakan kekuatan yang dimiliki oleh
manusia untuk memahami realitas, membangun pengetahuan, menentukan arah hidup
atau sejarah, memecahkan persoalan, dan mengendalikan sistem sosial, politik, dan
budaya. Rasio dipandang sebagai kekuatan tunggal yang menentukan segala-galanya.

Pengakuan atas rasio ini berimplikasi terhadap pengakuan harkat dan martabat manusia.
Manusia dengan rasionya adalah subjek yang memberi bentuk pada realitas dan menjadi
pusat kehidupan dari dunia ini.

Rasio, dalam perspektif kaum modernis, adalah sesuatu yang sangat vital, sentral,
dominan, paling utama dalam membentuk wajah peradaban umat manusia.5 Konsekuensi
logis yang muncul dari anggapan tersebut adalah bahwa manusia yang ‘tidak rasional’
berada di luar hitungan dan terpinggirkan dari kekuasaan. Akhirnya, tersusunlah sebuah
hierarki mengenai tata urutan narasi-narasi besar kaum modernisme. Salah satu puncak
narasi-narasi besar itu adalah kapitalisme.

Seperti diketahui, kapitalisme yang bermula dari liberalisme mengagungkan kebebasan


individu dalam memanfaatkan segenap kemampuannya untuk mencari laba sebesar-
besarnya. Logika yang dipakai adalah dengan menggunakan biaya serendah mungkin
menghasilkan keuntungan sebanyak mungkin. Dalam dunia industri, terutama yang
memanfaatkan sumber daya alam yang tak terbarukan, logika tersebut menimbulkan
kecenderungan untuk melupakan dampak lingkungan dari pemakaian sumber daya alam
yang tak terbarukan tersebut. Tak salah apabila ada anggapan yang menyatakan bahwa
kapitalisme ikut andil dalam menciptakan masalah-masalah global seperti efek rumah
kaca.

Dalam bidang gaya hidup, kapitalisme yang ditunjang oleh globalisasi pada akhirnya
menciptakan sebuah pola masyarakat materialis konsumtif yang tersusun atas kelas-kelas.

Herbert Marcuse mengembangkan deretan argumen tersebut untuk menunjukkan bahwa


ideologi konsumerisme mendorong kebutuhan palsu dan bahwa kebutuhan ini bekerja
sebagai satu bentuk kontrol sosial.

Menurutnya, orang-orang mengenali diri mereka di dalam komoditas mereka; mereka


menemukan jiwa mereka di dalam mobil, perangkat hi-fi, rumah bertingkat, perlengkapan
dapur. Mekanisme tradisional yang mengikatkan individu pada masyarakatnya, telah
berubah; dan kontrol sosial dilabuhkan pada kebutuhan-kebutuhan baru yang telah
dihasilkan.6
Menurut Marcuse, pengiklan mendorong kebutuhan palsu – misalnya untuk menjadi
orang tertentu, mengenakan tipe pakaian tertentu, memakan macam makanan tertentu,
meminum minuman khusus, menggunakan barang-barang khusus, dan seterusnya.

Bagi Jacques Lacan, ideologi konsumerisme ini bekerja layaknya ideologi roman di
zaman barok. Pada ideologi roman, manusia menganggap bahwa cinta adalah solusi bagi
semua problem, cinta membuat kita lengkap, cinta membuat kita penuh, cinta membuat
kita utuh.

Seperti pencarian akan cinta, konsumsi mengandaikan adanya ketidaklengkapan –


sesuatu yang hilang – dalam diri kita. Menurut Lacan, Ideologi konsumerisme bisa dilihat
sebagai salah satu strategi pengalihan, salah satu contoh mengenai pencarian yang tiada
akhir. 7 Konsumsi dianggap sebagai jawaban bagi semua problem kita, konsumsi bakal
membuat kita utuh lagi, konsumsi akan membuat kita penuh kembali, konsumsi akan
membuat kita lengkap kembali, konsumsi akan membuat kita diliputi kebahagiaan.

Sementara itu, Pierre Bourdieu memiliki pendapat mengenai konsumerisme dalam


konteks penggunaan konsumerisme untuk tujuan pembedaan sosial. Ia berpendapat
bahwa budaya hidup atau gaya hidup adalah suatu arena penting bagi pertarungan di
antara pelbagai kelompok dan kelas sosial. Konsumsi, cenderung secara sadar maupun
tidak, mengisi suatu fungsi sosial sebagai legitimasi perbedaan-perbedaan sosial.8

Dalam analisisnya, Bordieu tidak hanya ingin menunjukkan bahwa kelas-kelas yang
berbeda memiliki gaya hidup yang berbeda, selera-selera yang berbeda dalam budaya,
dan lain-lain. Ia pun menyatakan bahwa pembedaan-pembedaan kelas tersebut
menciptakan legitimasi bentuk-bentuk kekuasaan dan dominasi yang akhirnya berakar
pada ketidakadilan ekonomi. Dengan kata lain, ia berpendapat bahwa meskipun aturan
kelas itu pada akhirnya bersifat ekonomi, bentuk yang diambil bersifat kultural.

Nyatalah bahwa pola-pola konsumsi akhirnya memelihara dan menghadirkan rasa


individualitas. Secara kultural dan historis, hal ini bertentangan dengan nilai-nilai bangsa
Indonesia yang menitikberatkan pada rasa kekeluargaan. Toh, pada mulanya, Negara
Indonesia bangkit melalui rasa kesetiakawanan sosial.9

Kelas-kelas dalam masyarakat materialis konsumtif tersebut lambat laun menciptakan


kesenjangan kelas yang berbahaya bagi kesatuan bangsa Indonesia yang dibangun
berlandaskan rasa kesetiakawanan sosial.

Mengenai hal tersebut, tak ada salahnya menyimak apa yang disampaikan Goenawan
Mohamad dalam salah satu Catatan Pinggirnya10:

Modernisasi pada akhirnya memang suatu permainan kekuatan. Ada yang akan tergusur,
ada yang akan menggusur. Ada yang menang, ada yang telantar lemah.
Tapi jangan salah kira: di zaman seperti ini, yang lemah tak akan tinggal jadi gurun.
“Yang lemah berbahaya bagi yang kuat, sebagaimana pasir hanyut berbahaya bagi si
gajah,” kata Tagore tentang dunia modern

Globalisasi – yang terjadi karena kemajuan teknologi dan kapitalisme – sebagai bagian
dari modernisasi ibarat pedang bermata dua. Ada dampak positif yang dapat kita petik
sementara di sisi lain ada dampak negatif yang mengancam kita. Lalu, bagaimana
seharusnya bangsa Indonesia menyiasati arus globalisasi ini? Dalam bab-bab selanjutnya,
penulis akan berusaha memaparkan bagaimana relevansi Pancasila dalam arus
globalisasi.

II. Globalisasi

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan globalisasi? Ada beragam definisi yang dapat
kita temukan berkaitan dengan pertanyaan tersebut. Dalam situs wikipedia, globalisasi
adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan
ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan,
investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga
batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi adalah suatu proses di
mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung,
terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.11 Dalam
pengertian tersebut, wikipedia menambahkan bahwa globalisasi mempunyai banyak
karakteritik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah tersebut sering
dipertukarkan. Namun, istilah globalisasi sering dikaitkan dengan berkurangnya peran
negara atau batas-batas negara.

Sementara itu, Riza Noer Arfani, akademisi Hubungan Internasional Universitas Gajah
Mada (UGM) menyatakan globalisasi adalah kecenderungan umum terintegrasinya
kehidupan masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang.12

Untuk memperjelas pengertiannya tersebut, Arfani menyatakan bahwa pertukaran barang


dan jasa, pertukaran dan perkembangan ide-ide mengenai demokratisasi, hak asasi
manusia dan lingkungan hidup, migrasi, dan berbagai fenomena human trafficking yang
melintas batas-batas lokalitas dan nasional kini merupakan fenomena umum yang
berlangsung hingga ke tingkat komunitas paling lokal sekalipun. Pendek kata, komunitas
domestik atau lokal kini adalah bagian dari rantai perdagangan, pertukaran ide dari
perusahaan transnasional.

Menurut Tabb seperti dikutip Harjoko Sangganagara, definisi globalisasi merupakan


sebuah kategori luas yang mencakup banyak aspek dan makna. Menurut Tabb, “istilah
tersebut berarti sebuah proses saling keterhubungan antar negara dan masyarakat. Ini
adalah gambaran bagaimana kejadian dan kegiatan di satu bagian dunia memiliki akibat
signifikan bagi masyarakat dan komunitas di bagian dunia lainnya. Ini bukan saja soal
ekonomi tapi bahkan meningkatnya saling ketergantungan sosial dan budaya dari desa
global yang minum Coke dan menonton Disney.” 13
Slamet Sutrisno memiliki pandangan yang sama dengan Tabb. Ia pun menggambarkan
secara umum dampak dari globalisasi terhadap sebuah kebudayaan. Menurutnya,

globalisasi mencakup mata kehidupan yang amat luas dengan berbagai dampaknya yang
mendalam. Globalisasi tidak hanya berkaitan dengan bidang ekonomi, ilmu dan
teknologi, tetapi sekaligus berkaitan dengan matra filsafat dan ideologi. Semua itu akan
bermuara pada matra sosial budaya sehingga sering kali dikatakan bahwa bangsa-bangsa
kini hidup dalam zaman globalisasi budaya atau kebudayaan. Bila dikatakan globalisasi
budaya maka hal itu akan melibatkan dimensi nilai-nilai kehidupan manusia. Pada proses
ini, berlangsung pula gerak saling memengaruhi di bidang nilai antara bangsa yang satu
dengan yang lainnya, yang selanjutnya berproses dalam akulturasi atau sinkretisme.
Dikatakan akulturasi apabila proses tersebut berlangsung dengan mulus sampai ke sisi
dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, apabila hanya mencapai lapis-lapis luarnya
maka hal itu disebut sinkretisme.14

Pengaruh-pengaruh globalisasi yang demikianlah yang kerap kali dianggap


mengkhawatirkan. Tabb mengatakan bahwa untuk menilai globalisasi, perlu
dipertimbangkan norma-norma kultural yang dihasilkan oleh proses globalisasi
kontemporer.

Masalah globalisasi yang saat ini kita hadapi bukan hanya eksploitasi kaum buruh pada
negara dunia ketiga ataupunb kerusakan lingkungan, tetapi juga proses dehumanisasi.
Globalisasi pada bidang ekonomi melahirkan negara-negara industri raksasan dan
korporasi perdagangan raksasa yang di sisi lain memarjinalkan negara-negara miskin.
Globalisasi dalam bidang polirik mengakibatkan semakin berkurangnya kekuasaan
negara karena perkembangan ekonomi dan budaya global. Globalisasi budaya
menyebabkan dunia dewasa ini dalam keadaan kacau.15

Dalam globalisasi budaya, Naisbitt seperti dikutip Sangganagara menyatakan adanya


suatu paradoks yang menimbulkan efek diferensiasi dan sekaligus homogenisasi.16 Untuk
memperlihatkan terjadinya efek diferensiasi, Naisbitt mencontohkan runtuhnya negara
Uni Soviet akibat munculnya sub budaya etnis. Soviet yang semula terdiri dari beragam
etnis terpecah menjadi negara-negara baru yang dibangun atas dasar nilai-nilai budaya
etnis.

Sementara itu, efek homogenisasi terjadi berkaitan dengan pengaruh komunikasi yang
semakin intens. Dalam hal ini, televisi telah menjadikan dunia terasa sempit sekaligus
selera manusia semakin terseragamkan.

Dalam tahapan yang lain, paradoks lain yang dimunculkan oleh globalisasi adalah
munculnya kesenjangan yang semakin besar antara negara-negara maju dan negara-
negara berkembang. Hal yang menarik lainnya adalah bahwa kesenjangan serupa terjadi
pula di dalam negara-negara tersebut yang melibatkan kelas-kelas sosial dalam
masyarakat.
Dampaknya, kemiskinan menjadi masalah pokok yang harus diatasi oleh dunia. G-7
dalam pertemuan mereka di Lyon pada akhir Juni 1996 menyatakan bahwa, “globalisasi
adalah sumber dari peningkatan mutu hidup yang merupakan buah dari perdagangan,
investasi internasional, dan kemajuan teknologi. Untuk itu, negara-negara berkembang
sudah seharusnya melakukan penyesuaian untuk meningkatkan kompetisi dan usaha
khusus untuk menghapus ketidaksetaraan.”17

Jalan keluar yang ditawarkan oleh G-7 tersebut seolah menandaskan bahwa rasionalisme
Barat adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah yang menimpa negara-
negara berkembang. Globalisasi tak lagi dapat dipisahkan dari nafas kapitalisme. Dalam
hal ini, Hirst dan Thompson, seperti dikutip Imam menyatakan bahwa globalisasi tidak
lain adalah suatu mitos yang memang diperlukan (a necessary myth) untuk ekspansi
kapitalisme secara internasional.18 Konsep-konsep Barat, seperti kapitalisme dan
demokrasi Barat, kemudian menjelma menjadi suatu hal yang taken for granted.

Wibowo mengiaskan demokrasi dan kapitalisme sebagai dua obat mujarab yang
dipaksakan untuk sekali tenggak. Menurutnya, demokrasi tidak dapat dilepaskan dari
kapitalisme, begitu pula sebaliknya.19 Untuk menjelaskan argumennya tersebut, Wibowo
mengutip Thomas Friedman yang menyatakan bahwa manusia sekarang menuntut pasar
bebas yang sebebas-bebasnya agar mereka dapat berbisnis dengan siapa pun di seluruh
dunia. Hal tersebut muncul dari dunia saat ini yang tengah dilanda demokrasi yang pada
ujungnya menuntut pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Dalam perkembangan sejarah
umat manusia, ada anggapan bahwa kapitalisme muncul terlebih dahulu dibanding
demokrasi. Ketika kaum borjuis semakin kaya dan semakin terancam oleh pajak yang
ditarik oleh raja yang gila perang, mereka bergerak dan melawan kecenderungan ini.
Sebagai kompromi dilahirkan sistem monarki konstitusional dengan memberi kekuasaan
yang sebanding dengan parlemen untuk melindungi kepentingan kaum borjuis.

Pendek kata, menurut Friedman, “Globalisasi mendorong perniagaan, perdagangan, dan


pembangunan ekonomi. Jika pembangunan ekonomi meningkat, maka kemakmuran akan
mendorong pluralisme dan liberalisme politik. Semakin luas liberalisasi politik akan
mempercepat demokratisasi.” Friedman menggandengkan jalan kapitalisme dan jalan
demokrasi sebagai strategi terbaik untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan.

Namun, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa bagi sebuah negara berkembang,
menggabungkan kapitalisme dan demokrasi adalah sebuah bahaya besar sehingga mereka
harus memilih salah satu.

Menurut Amy Chua, dalam sebuah negara yang terdiri antara kelompok minoritas dan
kelompok mayoritas, kapitalisme dipakai dengan baik oleh kelompok minoritas
sementara demokrasi akan dipakai sebagai alat oleh kelompok mayoritas. Kelompok
minoritas ini adalah kelompok kaya raya yang muncul berkat sistem ekonomi pasar. Rasa
iri hati dari pihak kelompok mayoritas menyebabkan kemarahan yang kemudian
disalurkan melalui mekanisme seperti pemilihan umum. Dalam sistem demokrasi,
kemenangan kelompok mayoritas dijamin. Chua menyatakan bahwa kekacauan global
saat ini berakar dari pertemuan dan kapitalisme itu.20
Dalam masa inilah kita berada. Globalisasi dalam bentuk liberalisasi perdagangan,
deregulasi, privatisasi sektor-sektor publik dan merajanya keuangan global di atas sektor-
sektor ekonomi lainnya, telah mengakibatkan dampak-dampak negatif yang dahsyat:
hancurnya industri-industri domestik yang masih lemah di banyak negara berkembang,
peningkatan kesenjangan antara kaya dan miskin yang pada gilirannya meningkatkan
ketegangan sosial dalam suatu masyarakat, masuknya modal asing kuat ke dalam sektor-
sektor publik negara-negara berkembang, dan hancurnya kehidupan buruh dan
keluarganya karena migrasi industri dan kapital tanpa batas ke wilayah dan negara yang
menawarkan banyak kemudahan dan keringan bagi kapital transnasional.21

Secara langsung, bagi Indonesia, hal tersebut dapat menggusur apa yang sebelumnya
menjadi tujuan utama negara, yakni melindungi masyarakat Indonesia sekaligus
meningkatkan kesejahteraan umum.

III. Negara Indonesia dan Pancasila

Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dari
kekuasaan politik. Negara adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk
mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala
kekuasaan dalam masyarakat.22

Manusia hidup dalam suasana kerjasama, sekaligus suasana antagonistis dan penuh
pertentangan. Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan
kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dari kehidupan
bersama itu.

Negara menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu. Negara menetapkan cara-
cara dan batas-batas sampai di mana kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan
bersama itu, baik oleh individu dan golongan atau asosiasi, maupun oleh negara sendiri.

Dengan demikian ia dapat mengintegrasikan dan membimbing kegiatan-kegiatan sosial


dari penduduknya ke arah tujuan bersama. Dalam rangka ini boleh dikatakan bahwa
negara mempunyai dua tugas:

(a) mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang asosial, yakni yang
bertentangan satu sama lain, supaya tidak menjadi antagonisme yang membahayakan,

(b) mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan-golongan ke


arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat seluruhnya. Negara menentukan
bagaimana kegiatan asosiasi asosiasi kemasyarakatan disesuaikan satu sama lain dan
diarahkan kepada tujuan nasional.

Tujuan negara Indonesia sebagai tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945 ialah
untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dengan
berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Mahaesa, kemanusiaan yang adil dan beradab,
persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.23

Dapat disimpulkan bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh Negara Indonesia akan
diusahakan dengan berpedoman terhadap Pancasila. Dalam hal ini, Pancasila berfungsi
sebagai suatu ideologi yang mendasari cara hidup masyarakat Indonesia dalam segala
aspek kehidupan. Oleh karena itu, untuk menerapkannya dalam kehidupan kita, perlu
terlebih dahulu dipahami makna historis dan filosofis dari Pancasila.

Secara historis, Pancasila pertama kali muncul sebagai konsep dasar negara Soekarno
pada sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI). Elson memaparkan bagaimana kelahiran Pancasila.24 Pada mulanya, sila
utama Soekarno adalah persatuan Indonesia. Indonesia didasarkan pada geopolitik takdir
Tuhan yang Mahakuasa dan abadi. Menurutnya, Indonesia telah sealu ada secara alami,
walau bagaian-bagiannya merasa punya komunitas sendiri, mereka hanyalah sebagian
kecil dalam kesatuan.

Sila kedua dibuat Soekarno untuk merangkum nasionalisme versi Indonesia,


nasionalisme yang tidak didasarkan kepada chauvinisme sempit, tetapi kepada
internasionalisme atau kemanusiaan yang lapang.

Yang ketiga, negara harus dijalankan dengan prinsip perwakilan, musyawarah, dan
mufakat. Hal ini menandakan bahwa bangsa Indonesia menjunjung keterbukaan.
Keempat, Soekarno mengusulkan sila keadilan sosial. Hal ini menerangkan tujuan negara
untuk tidak hanya memerhatikan kesejajaran politik masyarakatnya, namun juga
kesejajaran dalam bidang ekonomi.

Terakhir, Soekarno mengajukan gagasan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Hal ini melambangkan dunia spiritual yang kuat serta kolektivitas bangsa Indonesia
sebagai umat manusia yang diciptakan Tuhan. Pada akhirnya, naskah Pancasila
diselesaikan pada 22 Juni 1945 dalam Piagam Jakarta dengan pengubahan urutan sila-
silanya.

Menurut Soediman Kartohadiprodjo seperti diungkapkan Sutrisno, intisari filsafat


Pancasila adalah kekeluargaan. Dalam Pancasila terdapat suatu kesatuan dalam
perbedaan dan perbedaan dalam kesatuan.25 Hal tersebut muncul dalam Pancasila sebagai
representasi dari nilai-nilai adat di antara suku-suku yang ada di Indonesia. Setiap suku
rupanya memang selalu menerapkan asas kekeluargaan yang tercermin dalam bagaimana
anggota suku menjalani kesehariannya.

Hal tersebut tentu sangat berseberangan dengan pandangan kapitalis. Tengoklah


bagaimana sistem pasar bebas bekerja sebagai produk dari kapitalisme. Cogswell
memaparkan pendapat Chomsky mengenai sistem pasar bebas di Amerika.26
Di Amerika, sistem pasar bebas diperlakukan sebagai prinsip yang sakral. Semua
masalah ekonomi dikatakan akan sembuh dengan memfungsikan pasar bebas yang
melalui persaingan alamiah, akan menyebabkan produk terbaik dan harga terbaik
mengemuka untuk kebaikan semua orang. Pasar bebas selalu membuat pilihan terbaik
dan akan membentuk masyarakat yang paling sempurna. Menurut Chomsky, dengan
melihat lebih dekat pada bagaimana sistem ekonomi berfungsi, siapa yang membayar
pajak, dan bagaimana uang pajak dibelanjakan, siapa yang mendapat subsidi dan siapa
yang tidak, tersingkaplah kenyataan bahwa sistem pasar bebas hanyalah teori yang tak
ada dalam realitas dalam konteks mensejahterakan masyarakat. Pada akhirnya sistem
pasar bebas hanya menguntungkan individu-individu tertentu.

Berkaitan dengan hal tersebut, Hatta pernah berpendapat tentang demokrasi Barat yang
merupakan kondisi yang memengaruhi sistem pasar bebas. Menurutnya, demokrasi Barat
hanya memberikan kedaulatan rakyat di bidang politik saja, sedangkan di bidang
ekonomi berlaku kedaulatan kaum pemodal.27 Menurut Hatta, penyebab terjadinya hal ini
adalah dibangunnya demokrasi berdasarkan kepada individualisme. Sifat individualisme
inilah yang menjadi asas demokrasi barat dan membangunkan kapitalisme modern dan
imperialisme perekonomian dan politik.

Pendapat Hatta yang dimuat di koran Daulat Ra’jat pada 20 September 1931 itu rupanya
masih relevan hingga saat ini mengingat bagaimana efek dari apa yang Hatta sebut
‘kepincangan’ demokrasi Barat. Untuk itu, Hatta menawarkan pilihan untuk membangun
demokrasi berdasarkan paham kebersamaan dan kekeluargaan, khususnya
musyawarah/mufakat dalam kehidupan politik dan tolong-menolong melalui koperasi
dalam kehidupan ekonomi.

Jelaslah bahwa kapitalisme yang menitikberatkan pada persaingan dan individualisme


tidaklah sejalan dengan Pancasila yang berintikan kekeluargaan dan kolektivitas. Dalam
kehidupan sehari-hari, kiita mengenal istilah gotong royong yang mana berarti ‘aku’
dinilai eksistensinya berdasarkan perannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut membuat Drijarkara mengatakan bahwa filsafat Pancasila berbasis pada
cinta kasih terhadap sesama. Eksistensi manusia tidak lain adalah koeksistensi, saling
membutuhkan sebagai mitra dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Posisi partner
tidak menomorsatukan persaingan atau konflik melainkan kemitraan dan kerjasama.

Lalu, bagaimana Pancasila menanggapi tekanan arus globalisasi? A.M.W Pranarka


melihat adanya tiga kapasitas Pancasila yang pokok.28 Pertama, Pancasila sebagai
pandangan hidup bangsa yang berisi sistem nilai keindonesiaan yang telah berkembang
secara akulturatif selama ribuan tahun. Ini berarti bahwa Pancasila adalah suatu sistem
budaya yang merupakan sari dari sistem-sistem budaya yang diwarisi secara turun-
temurun oleh setiap masyarakat Indonesia.

Kedua, Pancasila sebagai dasar negara atau asas kerohanian negara di mana kapasitas ini
menjadi acuan disusunnya Undang-Undang Dasar negara dan dijabarkan ke dalam
berbagai konstitusi lainnya.
Ketiga, Pancasila sebagai ideologi nasional berarti segenap warga negara memiliki
keniscayaan untuk menghayati nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebagai sebuah ideologi, Pancasila bukanlah ideologi tertutup melainkan dikembangkan


sebagai ideologi terbuka sejalan dengan keterbukaan budaya. Dengan demikian,
Pancasila berciri dinamis, mau menerima berbagai unsur lokal dan modern sejauh tidak
bertentangan dengan sila-silanya.

Dalam pengertian tersebut, Pancasila menjadi sebuah gerbang penyaring dalam


menghadapi arus globalisasi. Apabila memahami globalisasi dari sudut pandang
determinisme teknologi, dalam era globalisasi sebagai proses pembentukan global
village, bangsa Indonesia yang berperspektif Pancasila turut menjadi global villager
dengan membawa semangat kesetiakawanan sosial.

IV.Penutup

Dalam sudut pandang determinisme teknologi, globalisasi berdiri atas dasar kemajuan
teknologi sebagai bagian modernisme. Hal tersebut berimplikasi pada bagaimana
kehidupan manusia terbentuk. Dalam hal ini, teknologi komunikasi membentuk
fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini karena komunikasi adalah sebuah
proses primer di mana terjadi transaksi informasi yang memiliki efek tertentu di dalam
segala aspek kehidupan manusia.

Ada hal-hal yang perlu disaring secara ketat dari arus globalisasi yang berlangsung saat
ini. Budaya globalisasi adalah budaya beresiko besar yang menghilangkan pribadi
manusia dengan segala jati diri dan keunikannya selaku insan yang berarti terseret ke
dalam materialisme.

Namun, hal ini bukan berarti dengan serta merta kita menolak globalisasi. Toh, pada
dasarnya globalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung. Meskipun demikian, kita
diberkati kemampuan nalar yang dapat digunakan secara bijak untuk menghadapi
globalisasi sambil mempertahankan nilai-nilai yang kita anggap baik dan benar.Melalui
kacamata Pancasila, sudah seharusnya kita mampu secara bijaksana mengambil hal-hal
positif dari globalisasi sekaligus berusaha untuk meminimalisasi pengaruh buruk dari
globalisasi tersebut.

Pancasila merupakan suatu cara pandang yang disusun dari nilai-nilai luhur budaya
Timur. Di situ tersimpan pertimbangan-pertimbangan nurani yang menjadi pedoman bagi
manusia Indonesia untuk menjalani kehidupannya. Pancasila dapat digunakan untuk
meraih kebahagian sebagai tujuan manusia dalam kehidupannya seperti diungkapkan
oleh Aristoteles.

Tentu saja, standar kebahagiaan setiap manusia berbeda. Kebahagiaan yang berusaha
diraih Pancasila adalah kebahagiaan kolektif di mana kebahagiaan spiritualis tertinggi
akan kita dapat ketika kita merasakannya bersama-sama dengan orang lain di sekitar kita.