Anda di halaman 1dari 126

ANALISIS HUKUM PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG PERSEROAN

TERBATAS DALAM LIKUIDASI

Oleh :
Agung Yuriandi
Medan
2011

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia usaha, suatu perusahaan tidak selalu berjalan dengan baik, dan

acapkali keadaan keuangannya sudah sedemikian rupa sehingga perusahaan tersebut

tidak lagi sanggup membayar utang-utangnya. Hal demikian dapat pula terjadi

terhadap perorangan yang melakukan suatu usaha.1 Kehidupan suatu perusahaan

dapat saja dalam kondisi untung atau keadaan rugi. Kalau keadaan untung,

perusahaan berkembang dan berkembang terus, sehingga menjadi perusahaan

raksasa. Sebaliknya, apabila kondisi perusahaan menderita kerugian, maka garis

hidupnya menurun. Jadi, garis hidup suatu perusahaan pada suatu saat naik dan pada

saat lain menurun, begitu seterusnya, sehingga garis hidup perusahaan itu merupakan

garis yang menaik dan menurun seperti grafik. Sebagian perusahaan dapat

mempertahankan hidupnya, tetapi sebagian tidak dapat mempertahankan lagi

hidupnya, akhirnya perusahaan tersebut terpaksa gulung tikar.

1
Victor M. Situmorang dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan di Indonesia,
(Jakarta : Rineka Cipta, 1994), hal. 1., sebagaimana dikutip Elvira Dewi Ginting, ”Analisis Hukum
Mengenai Pengaturan Reorganisasi Perusahaan Dalam Kaitannya Dengan Hukum Kepalitan”, (Tesis :
Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005), hal. 1.
2

Kegagalan perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, terutama dalam

memenuhi kewajibannya kepada pihak lain, dapat disebabkan oleh kondisi internal

dan eksternal. Kondisi internal biasanya diakibatkan mismanagement dan fraud yang

dilakukan oleh kalangan internal perusahaan, dimulai dari Pemegang Saham,

Komisaris, Direksi, karyawan maupun pihak terkait yang dapat mengendalikan

perusahaan secara tidak langsung.2 Kondisi eksternal adalah kondisi di luar jangkauan

pihak perusahaan yang berdampak kepada kinerja perusahaan, antara lain kebijakan

pemerintah atau publik dan kondisi makro ekonomi di suatu negara maupun global.

Dalam rangka pengembangan suatu perusahaan mungkin atau pasti

mempunyai hutang. Bagi suatu perusahaan, hutang bukanlah merupakan sesuatu yang

buruk, asal perusahaan itu masih dapat membayar kembali. Perusahaan yang seperti

ini disebut perusahaan yang solvable artinya perusahaan yang mampu membayar

hutang-hutangnya. Sebaliknya, jika suatu perusahaan yang sudah tidak mampu

membayar hutang-hutangnya lagi disebut insolvensi, artinya tidak mampu membayar.

Istilah hukumnya insolvensi menunjukkan pada suatu kumpulan dari aturan-aturan

yang mengatur hubungan debitor (yang berada dalam kesulitan pembayaran akibat

ketidakmampuan finansial) dengan para kreditornya.3

Dalam meningkatkan pendapatan perusahaan dibutuhkan cash flow yang baik.

Cash flow adalah arus kas yang masuk dan keluar dari rekening perusahaan. Apakah

pemasukan lebih sedikit dari pengeluaran ataukah pemasukan lebih besar dari

2
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media
Group 2007), hal 149.
3
J. B. Huizink, Insolventie, Alih Bahasa Linus Doludjawa, (Jakarta : Pusat Studi Hukum dan
Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hal. 21., sebagaimana dikutip Elvira Dewi
Ginting, Loc.cit., hal. 1-2.
3

pengeluaran. Pendapatan perusahaan adalah hal yang penting untuk ditingkatkan,

begitu juga dengan pengeluaran perusahaan yang harus ditekan (cut spending). Dalam

dunia perbankan harus memperhatikan cara menyimpan pendapatan, bukan hanya

meningkatkan pendapatan. Maka, sebelum mendirikan sebuah perusahaan sebaiknya

diperhatikan perusahaan tersebut bergerak dalam bidang usaha apa, bagaimana

kinerjanya, bagaimana manajemennya, dan lain sebagainya.

Krisis moneter yang melanda hampir seluruh belahan dunia di pertengahan

tahun 1997 telah memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian. Dunia usaha

merupakan dunia yang paling menderita dan merasakan dampak krisis yang tengah

melanda. Hal ini juga dirasakan oleh Indonesia, yang mengakibatkan Indonesia telah

mengalami krisis kepercayaan khususnya terhadap perbankan. Kondisi perbankan di

Indonesia telah mengalami masalah-masalah yang menuju suatu kehancuran akibat

krisis ekonomi yang diawali oleh krisis nilai tukar. Krisis tersebut telah menyebabkan

kinerja perekonomian Indonesia menurun tajam, dan kemudian berubah menjadi

krisis yang berkepanjangan di berbagai bidang usaha. Proses penyebaran krisis

berkembang cepat mengingat tingginya keterbukaan perekonomian Indonesia dan

ketergantungan pada sektor luar negeri yang sangat besar. 4

Dalam dunia bisnis, masalah di perusahaan sudah pasti berbagai macam

ragam. Setiap perusahaan pastinya menghadapi masalah, jika ada masalah berarti

perusahaan tersebut berkembang ke arah yang lebih baik. Keberhasilan sebuah

perusahaan bukan hanya diukur dengan besar kecil perusahaan melainkan seberapa

4
Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah : Suatu Gagasan Tentang Pendirian
Lembaga Penjamin Simpanan di Indonesia, (Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002),
hal. 2., sebagaimana dikutip Ibid., hal. 2.
4

baik perusahaan itu keluar dari masalah tersebut.5 Adapun masalah yang sering

dihadapi oleh perusahaan, antara lain : hutang-piutang; karyawan; investasi;

perpajakan; dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai hutang-piutang perseroan

terbatas dalam likuidasi. Pada umumnya dalam transaksi jual beli untuk penyerahan

dan pembayaran atas barang yang dibeli terjadi pada waktu yang sama. Hal ini berarti

modal kerja atau modal usaha si penjual cepat diperolehnya kembali dan langsung

dipakai untuk perputaran bisnis selanjutnya. Namun, dalam hal ini tidak jarang

pelaksanaan pembayaran dari pembeli itu baru dapat ditunaikan berdassakan

kesepakatan di antara mereka dalam tenggang waktu tertentu, misalnya sekitar dua

sampai empat bulan berikutnya. Kondisi sebelum dilaksanakan konsekuenssi

timbulnya hak tagih dari pihak penjual sehingga keadaan ini disebut masa penagihan

(collection period). Hak tagih atas piutang ini dalam dunia ekonomi dikenal sebagai

piutang dagang (account receivable). 6

Dalam hal perusahaan sudah tidak beroperasi lagi diakibatkan oleh

kemunduran pendapatan perusahaan, maka pemegang saham dapat mengadakan

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membubarkan perusahaan tersebut.

Namun, oleh karena perseroan merupakan badan hukum yang lahir dan diciptakan

berdasarkan proses hukum (created by a legal process), maka pembubaran perseroan

juga harus melalui proses hukum pula. Pembubaran perseroan tidak mempunyai arti

identik dengan ”berakhirnya” eksistensi perseroan. Perseroan adalah subjek hukum,

5
Bismar Nasution, “Catatan Perkuliahan : Hukum Perusahaan”, (Medan : Program Studi
Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009).
6
Rinus Pantouw, Hak Tagih Factor Atas Piutang Dagang, (Jakarta : Kencana, 2006), hal. 1.
5

memiliki aktiva dan passiva. Setelah pembubarannya diucapkan, eksistensinya tetap

ada dengan dengan catatan bahwa posisinya itu dalam stadium likuidasi

(pemberesan). Hak yang dimilikinya harus direalisasikan dan kewajiban yang dipikul

wajib dipenuhi. Perusahaan tidak boleh lagi melakukan hak dan kewajibannya itu.

Perusahaan itu ada sepanjang diperlukan untuk pemberesan.7

Pembubaran Perseroan menurut hukum sesuai dengan ketentuan Pasal 143

ayat (1) Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mempunyai

arti :

a. Penghentian kegiatan usaha Perseroan;

b. Namun penghentian kegiatan usaha itu, tidak mengakibatkan status hukumnya

hilang; dan

c. Perseroan yang dibubarkan baru kehilangan status badan hukumnya, sampai

selesainya likuidasi, dan pertanggung jawaban likuidator proses akhir

likuidasi diterima oleh RUPS, Pengadilan Negeri, atau Hakim Pengawas.

Berdasarkan Pasal 142 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas dinyatakan, pembubaran perseroan terjadi8 :

a. “Berdasarkan keputusan RUPS;


b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah
berakhir;
c. Berdasarkan penetapan pengadilan;

7
Mariam Darus Badrulzaman dalam Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di
Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 168.
8
Pasal 142 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4756.
6

d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang


telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup
untuk membayar biaya kepailitan;
e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan Pailit berada dalam
keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ; atau
f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan
melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Likuidasi (vereffening, winding-up) mengandung arti pemberesan

penyelesaian dan pengakhiran urusan Perseroan setelah adanya keputusan, apakah itu

berdasar keputusan RUPS, atau berdasar Penetapan Pengadilan yang menghentikan

atau membubarkan Perseroan. Selama penyelesaian pembubaran atau pemberesan

berjalan, Perseroan itu berstatus “Perseroan dalam Penyelesaian” yang oleh pasal 143

ayat (2) disebut Perseroan “Dalam Likuidasi”. Kata tersebut harus dicantumkan

dibelakang nama Perseroan pada setiap surat keluar Perseroan. 9

Pengertian likuidasi yang disebutkan di atas, tidak jauh berbeda dengan apa

yang dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang

Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank. 10 Disebutkan dalam Pasal

1 angka 4, bahwa yang dimaksud dengan likuidasi bank adalah tindakan penyelesaian

seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pencabutan izin usaha dan

pembubaran badan hukum bank. Ini berarti, likuidasi bank merupakan kelanjutan dari

tindakan pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, begitu juga

dengan Perseroan Terbatas. Pada akhirnya akan ditunjuk suatu tim yang bertugas

9
Pasal 143 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Ibid.
10
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan
Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3831.
7

melakukan pemberesan Perseroan Terbatas yang telah dicabut izin usahanya oleh

Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Apabila terjadi pembubaran Perseroan baik berdasarkan keputusan RUPS,

karena jangka waktu berdiri yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah berakhir

atau dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan Pengadilan Niaga yang

telah berkekuatan hukum tetap, maka pembubaran itu wajib diikuti dengan likuidasi.

Pihak yang melakukan likuidasi dalam pembubaran Perseroan adalah Likuidator.

Salah satu tugas terberat dari likuidator dalam proses likuidasi perusahaan ini adalah

penyelesaian utang dan penagihan piutang perusahaan pada pihak ketiga.

Sebagaimana diketahui Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas, dalam hal pengaturan tentang pembubaran dan likuidasi

perusahaan diatur dalam Bab X, dalam pasal-pasal tersebut sama sekali tidak

dijumpai adanya pengaturan tentang penyelesaian hutang piutang pada perusahaan

yang sedang dilikuidasi. Sehingga likuidator dalam melakukan penyelesaian hutang

piutang ini mengacu pada Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Dalam proses

pembayaran hutang dan penagihan piutang inilah sering timbul konflik, yang

terkadang harus diselesaikan melalui jalur hukum dengan proses gugat-menggugat di

Pengadilan. Dalam proses pembayaran utang dan penagihan piutang ini sering timbul

konflik, yang terkadang harus diselesaikan melalui jalur hukum di Pengadilan.

Ada perbedaan signifikan antara kondisi kesulitan keuangan, kebangkrutan

(pailit) dan likuidasi. Perusahaan dikatakan mengalami kesulitan keuangan jika

perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya sesuai dengan tenggang waktu

yang telah disepakati. Pada umumnya, kesulitan keuangan diawali dengan


8

tertundanya pembayaran utang pemasok, kemudian diikuti dengan terlambatnya

pembayaran bunga pinjaman dan diakhiri dengan katidakmampuan perusahaan

membayar pokok pinjaman pada bank atau kreditor lainnya. Restrukturisasi utang

dapat menjadi solusi untuk kondisi ini. Pihak perusahaan dapat melakukan negosiasi

dengan para kreditor untuk memberikan kemudahan dengan cara menurunkan suku

bunga kredit, memperpanjang jangka waktu pinjaman, atau bahkan sampai

disetujuinya tidak dibebankan bunga pinjaman selama periode tertentu. Pada

dasarnya, masa-masa kesulitan keuangan menyebabkan para kreditor menjadi

disibukkan untuk mencari cara agar pinjaman yang telah diberikan nantinya tetap

dapat dikembalikan oleh peminjam.11

Istilah kebangkrutan (kapailitan) sering dirancukan dengan istilah likuidasi.

Hati-hati dengan istilah bangkrut. Kondisi kebangkrutan bisa berarti bahwa

perusahaan sedang melakukan proses reorganisasi di bawah pengawasan pengadilan.

Dalam literatur dari Amerika Serikat terkenal dengan istilah Chapter 11.12 berbeda

dengan literatur dari Inggris, istilah bangkrut hanya diterapkan untuk individu, bukan

perusahaan. Untuk perusahaan, mereka mengenal istilah insolvensi. 13

11
Candra Dermawan, “Kesulitan Kuangan, Kebangkrutan, dan Likuidasi”,
http://candra.us/blog/?p=91., diakses pada 14 Maret 2011.
12
Chapter 11 adalah Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat atau populer dengan
sebutan Chapter 11 adalah satu peraturan tentang Reorganisasi sesuai dengan hukum kepailitan
Amerika Serikat. Bidang usaha berbentuk apapun bisa meminta perlindungan Chapter 11 Undang-
Undang Kepailitan termasuk perseroan, perusahaan perseorangan, atau perorangan yang memiliki
utang tanpa jaminan paling sedikit US$. 336.900,- atau utang beragun paling sedikit US$. 1.010.650,-.
Walaupun demikian, perlindungan Chapter 11 ini sebagian besar hanya diajukan oleh badan
perseroan. Dalam Wikipedia, ”Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat”,
http://id.wikipedia.org/wiki/Bab_11_Undang-Undang_Kepailitan_Amerika_Serikat., diakses pada 14
Maret 2011.
13
Candra Dermawan, Loc.cit.
9

Jadi apabila manajer mengatakan bahwa perusahaannya mengalami

kebangkrutan (Chapter 11), berarti perusahaan masih memiliki 2 pilihan. Pertama,

perusahaan akan membaik. Perusahaan dapat melewati krisis keuangan dan keluar

dari kebangkrutan sebagai perusahaan yang sehat. Istilahnya, perusahaan mengalami

turn around. Kedua, perusahaan harus dilikuidasi atau perusahaan mengalami kondisi

upside down. Istilah likuidasi (Chapter 7)14 berarti proses penjualan harta dibawah

pengawasan pengadilan. Teori keuangan mengatakan bahwa likuidasi terjadi karena 2

hal. Pertama, memang karena perusahaan dalam kesulitan keuangan. Kedua, likuidasi

dilakukan karena untuk memaksimumkan kekayaan pemilik. Meskipun perusahaan

dalam keadaan sehat, tetapi jika nilai jual harta sekarang melebihi going concern-nya,

maka pemilik bisa melikuidasi perusahaan.15

Pada tulisan ini, penulis mengambil contoh kasus pada proses likuidasi

PT.Schutter Indonesia.Likuidasi ditempuh oleh PT. Schutter Indonesia pada tahun

2006. Setelah Perusahaan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

untuk membubarkan Perusahan, dan dilanjutkan RUPS tersebut untuk menentukan

likuidator. Selanjutnya likuidator bekerja untuk melikuidasi perusahaan, dan dalam

melaksanakan likuidasi ini, likuidator masih berpedoman pada Undang-Undang No. 1

Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas16 dan dalam proses likuidasi PT. Schutter

14
Chapter 7 adalah suatu proses kebangkrutan dimana perusahaan memberhentikan semua
operasi dan keluar dari bisnis atau bidang usaha tersebut. Seorang likuidator ditunjuk untuk
melikuidasi (menjual) aset perusahaan, dan uang tersebut digunakan untuk melunasi utang perusahaan.
Dalam Investopedia, “Chapter 7”, http://www.investopedia.com/terms/c/chapter7.asp., diakses pada 14
Maret 2011.
15
Ibid.
16
Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3587.
10

Indonesia terdapat beberapa masalah dalam penyelesaian utang dan penagihan

piutang perusahaan, seperti adanya utang perusahaan kepada pemegang saham dan

adanya piutang perusahaan kepada pemegang saham.17

Proses likuidasi dapat diselesaikan dengan penyelesaian melalui pengadilan

(formal) atau penyelesaian melalui jalur di luar pengadilan (informal). Sebagian besar

perusahaan Indonesia memilih penyelesaian informal. Dalam resolusi informal,

perusahaan dapat merestrukturisasi harta atau kewajibannya tanpa harus mengikuti

hukum kepailitan. Sebagai contoh : perusahaan dapat menjual beberapa hartanya

untuk melunasi kewajiban-kewajibannya. Dalam restrukturisasi kewajiban,

perusahaan mencoba untuk mencari investor baru atau melakukan debt to equity

swap. Pilihan yang terakhir menyebabkan pemberi hutang berubah status menjadi

pemilik perusahaan.18

Masalah utama pada penjualan harta adalah pasar yang tidak likuid.

Perusahaan menghadapi kesulitan menjual harta pada harga yang layak. Pembeli

potensial yang ingin membeli dengan harga terbaik adalah perusahaan-perusahaan di

industri yang sama. Jika perusahaan pesaing juga terkena dampak penurunan industri

sehingga mereka juga dalam kesulitan likuiditas, maka harga jual harta bisa

tertekan. 19

Resolusi formal melibatkan pengadilan sebagai pengawas proses resolusi.

Pengadilan mencoba untuk membagi wewenang dan tanggung jawab setiap kreditor

17
Iskandar, Aziarni Hasibuan & Partners, “Laporan Pertanggungjawaban Likuidator PT.
Schutter Indonesia (Dalam Likuidasi)”, Medan, 18 Feburari 2008.
18
Candra Dermawan, Op.cit.
19
Ibid.
11

dengan tujuan tercapainya penyelesaian yang cepat dan terbaik. Negara-negara yang

mengadopsi hukum (common law) seperti, Amerika Serikat, Inggris dan negara-

negara bekas jajahannya lebih memilih menggunakan pendekatan formal. Pada

umumnya negara yang menganut common law lebih memberikan kepastian hukum

sehingga penyelesaian lewat hukum mampu memberi resolusi yang efisien. Alasan

yang sebaliknya terjadi mengapa negara-negara yang akar hukumnya berasal dari

civil law (hukum sipil), termasuk Indonesia, lebih memilih menggunakan

penyelesaian informal. 20

Pemilihan penyelesaian masalah keuangan ini didukung oleh penelitian yang

dilakukan oleh Bank Dunia (1999). Dibanding 5 negara di Asia (Indonesia, Korea,

Philipina, Malaysia, dan Thailand), perusahaan Indonesia memiliki persentase

terkecil dalam hal memanfaatkan resolusi formal. Dari 66 perusahaan kesulitan

keuangan yang menjadi subjek observasi yang dilakukan oleh Bank Dunia, hanya 2

(3.03%) perusahaan Indonesia yang melakukan reorganisasi formal. Sebagai

bandingan, perusahaan di Korea (22.41%), Malaysia (7.09%), Philipina (5%), dan

Thailand (22.6%) memiliki angka yang lebih tinggi. Sekali lagi, alasan utama yang

mendasari pemilihan itu adalah sistem hukum yang tidak berjalan dengan baik,

sehingga perusahaan ‘enggan’ memilih berurusan dengan pengadilan. Padahal,

penegakan hukum akan sangat membantu kreditor untuk menyelesaikan masalah

kebangkrutan perusahaan. Dengan penyelesaian yang efisien, nilai perusahaan

20
Ibid.
12

diharapkan tidak terdistorsi percuma. Untuk itu, pemerintah perlu terus memperbaiki

sistem dan penegakan hukum di Indonesia. 21

Likuidasi mungkin tampak seperti proses yang ideal bagi direksi perusahaan

yang ingin menutup atau mengakhiri perusahaan. Prosedur likuidasi dapat

mempengaruhi masa depan semua yang terlibat terutama jika perusahaan mengalami

masalah selama dalam masa likuidasi. Jika dapat ditemukan prosedur yang salah

selama masa likuidasi maka dapat memiliki efek negatif bagi masa depan untuk

semua pihak yang terkait. 22

Dalam Pasal 142 ayat (2) huruf a.,23 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Jo.

Pasal 114 ayat (4) Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas,

tidak ada ditentukan kapan likuidator tersebut harus ditunjuk sehingga yang terjadi

adalah Perseroan Terbatas sudah dibubarkan namun likuidator belum diangkat tapi

yang dilakukan adalah penunjukan Pelaksana Tugas Direktur. Sebenarnya menurut

ketentuan hukum ini harus ditunjuk likuidator untuk melakukan likuidasi. Inilah yang

sering terjadi di dunia usaha. Setelah ditunjuk Pelaksana Tugas Direktur maka

beberapa bulan kemudian barulah diangkat likuidator. Sementara itu, pada saat

kepengurusan oleh Pelaksana Tugas Direktur banyak sekali kebijakan-kebijakan yang

dibuat tidak menguntungkan perseroan. Kebijakan tersebut merugikan dalam bentuk

21
Ibid.
22
“Perusahaan – Company Profil – Setelah sebuah Perusahaan Likuidasi Sukarela”,
http://www.companyprofil.com/perusahaan-company-profil-setelah-sebuah-perusahaan-likuidasi-
sukarela.html., diakses pada 14 Maret 2011.
23
Pasal 142 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, Op.cit., menyatakan bahwa : ”Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) : a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau
kurator”.
13

penggelapan aset perusahaan. Penggelapan aset itu menjadi hambatan bagi likuidator

untuk melakukan pembayaran utang kepada pihak ketiga/kreditur.

Kesulitan selanjutnya adalah dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No.

40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas24 telah ditentukan menenai jangka waktu

pengajuan tagihan oleh kreditor, namun sering terjadi kreditor baru melakukan

penagihan setelah jangka waktu tersebut berlalu. Hal ini adalah problem dalam

melikuidasi perseroan terbatas oleh likuidator.

Beberapa perusahaan mungkin ingin memulai usaha baru setelah likuidasi

tetapi hal ini dapat sulit dicapai. Hal tersebut sulit dicapai karena likuidasi memiliki

dampak negatif terhadap reputasi perusahaan. Namun, beberapa perusahaan mungkin

dalam posisi yang nyaman untuk memulai bisnis lagi terutama jika sebelumnya

melewati Anggota Sukarela Likuidasi yang biasanya dilakukan oleh perusahaan.

Likuidasi kadang-kadang menjadi proses yang sulit. 25 Dalam rangka untuk

menghindari masalah di kemudian hari perusahaan PT. Schutter Indonesia mencari

bantuan dari praktisi insolvensi untuk melakukan likuidasi.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan

tesis yang mengangkat judul ”Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang

Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi”.

24
Pasal 147 ayat (3), Ibid., menyatakan bahwa : “Jangka waktu pengajuan tagihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d., adalah 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal
pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.
25
Ibid.
14

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pada tulisan ini didapat

3 (tiga) permasalahan, yaitu :

1. Bagaimana pengaturan mengenai penyelesaian hutang-piutang terhadap

perseroan terbatas yang dilikuidasi?

2. Bagaimana penentuan Likuidator pada Perusahaan yang sedang dalam tahap

Likuidasi menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas?

3. Hambatan-hambatan apa saja yang dijumpai Likuidator dalam penyelesaian

hutang piutang terhadap likuidasi Perusahaan Terbatas?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis hukum penyelesaian hutang

piutang perseoan terbatas dalam likuidasi. Dari rumusan masalah yang disebutkan di

atas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain :

1. Untuk mengetahui pengaturan penyelesaian hutang-piutang terhadap

perseroan terbatas yang dilikuidasi;

2. Untuk mengetahui penentuan Likuidator pada Perusahaan yang sedang dalam

tahap Likuidasi menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas; dan

3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang sering dijumpai Likuidator pada

penyelesaian hutang piutang terhadap likuidasi perseroan terbatas.


15

D. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini memberikan manfaat kepada Perseroan Terbatas,

Praktisi Hukum, akademisi, dan dapat memperkaya literatur di perpustakaan. Ada dua

manfaat yang tersirat, yaitu manfaat :

1. Secara Teoritis

a. Sebagai bahan masukan bagi para akademisi maupun sebagai bahan

pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.

b. Memperkaya literatur di perpustakaan.

2. Secara Praktis

a. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam

melakukan likuidasi terhadap perusahaan.

b. Sebagai bahan masukan bagi Praktisi Hukum yang menjadi likuidator,

dalam hal melakukan likuidasi suatu perusahaan agar sistem hukum dapat

berjalan dengan baik.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi yang didapat melalui penelusuran kepustakaan pada

repository.usu.ac.id., bahwa penelitian dengan judul : ”Analisis Hukum Penyelesaian

Hutang Piutang Perseroan Terbatas dalam Likuidasi” tidak pernah dilakukan. Namun,

apabila digunakan kata kunci ”hutang piutang + likuidasi perusahaan” sebagai

pencarian, maka hasil yang didapat antara lain :

1. Elvira Dewi Ginting, ”Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi

Perusahaan Dalam Kaitannya dengan Hukum Kepailitan”, (Tesis : Sekolah


16

Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005). Tesis ini membahas

mengenai manfaat reorganisasi perusahaan dan pengaturan reorganisasi

perusahaan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dibimbing

oleh Bismar Nasution, Keizerina Devi, dan Sunarmi; dan

2. Manahan M. P. Sitompul, ”Penyelesaian Sengketa Utang Piutang Perusahaan

Dengan Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi :

Mengenai Lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)”, (Disertasi :

Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). Disertasi ini

membahas mengenai kinerja lembaga mediasi, sebab-sebab kegagalan upaya

penyelesaian sengketa utang-piutang perusahaan dengan perdamaian melalui

Kepailitan dan PKPU, perbandingan pengaturan reorganisasi perusahaan di

Amerika. Dibimbing oleh Mariam Darus Badrulzaman, Amiruddin Abdul

Wahab, dan Bismar Nasution.

Penulisan penelitian ini memiliki rumusan masalah dan tujuan penelitian yang

berbeda. Begitu juga dengan kajiannya berupa penyelesaian hutang-piutang perseroan

terbatas dalam hal perusahaan likuidasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara

ilmiah. Pertanggungjawaban tersebut dapat berupa isi dan contoh kasus yang

dipaparkan dalam tesis ini.


17

F. Kerangka Teoritis dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Kerangka teori atau teori yang digunakan adalah untuk menjawab

permasalahan yang disebutkan di atas, yaitu : mengenai pengaturan penyelesaian

hutang-piutang pada perseroan terbatas yang dilikuidasi; pelaksanaan penentuan

likuidator; hambatan-hambatan yang ditemukan oleh likuidator. Perkembangan ilmu

selalu dipengaruhi oleh penemuan baru dalam hal metodologi, kontinuitas penelitian

dan kesinambungan eksistensi ilmu itu sendiri. Untuk itu diperlukan adanya suatu

teori yang menjelaskan hubungan di antara data dan fakta walaupun tidak begitu

sempurna tetapi memberi pedoman tentang cara penelitian, tujuan penelitian serta

pengumpulan data.26

Teori akan berfungsi untuk memberikan petunjuk atas gejala-gejala yang

timbul dalam penelitian. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang

berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun

meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan

benar.27 Teori sebenarnya merupakan suatu generalisasi yang dicapai setelah

mengadakan pengujian dan hasilnya menyangkut ruang lingkup faktor yang sangat

luas. Kadang-kadang dikatakan orang, bahwa teori itu sebenarnya merupakan ”an

elaborate hypothesis”, suatu hukum akan terbentuk apabila suatu teori telah diuji dan

diterima oleh ilmuwan, sebagai suatu keadaan yang benar dalam keadaan-keadaan
26
Manahan M. P. Sitompul, “Penyelesaian Sengketa Utang-Piutang Perusahaan Dengan
Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi Mengenai Lembaga Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang)”, (Disertasi : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara,
2009), hal. 42.
27
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), hal. 27.,
sebagaimana dikutip Ibid.
18

tertentu.28 Seperti yang dikemukakan oleh James E. Mauch, Jack W. Birch, sebagai

berikut 29 :

”Theory explains the relations among facts, though not completely. In turn,
they guide research procedures, objectives and data collection. In (this)
general sense, every thesis or disertation proposal should be based on
theory”.

Kerangka teori dan kerangka konsep dalam penelitian ini akan dikemukakan

beberapa teori yang dapat memberikan pedoman dan arahan untuk tercapainya tujuan

penelitian ini yang berasal dari pendapat para ilmuwan dan selanjutnya disusun

beberapa konsep yang bersumber dari berbagai peraturan dan perundang-undangan

yang menunjang tercapainya tujuan penelitian ini. Teori hukum dimaksud adalah

teori kepastian hukum dan teori manfaat hukum.

Kepastian hukum (rule of law) secara normatif adalah ketika suatu peraturan

dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas

dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian

kepastian hukum menjadi sistem norma dengan norma lain sehingga tidak

berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan dari

ketidakpastian aturan dapat berbentuk konstelasi norma, reduksi norma atau distorsi

norma. Menurut David M. Trubek, rule of law merupakan30 :

”hal penting bagi pertumbuhan ekonomi dan membawa dampak yang luas
bagi reformasi sistem ekonomi di seluruh dunia yang berdasarkan pada teori

28
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press.,
1996), hal. 126-127.
29
James E. Maruch, Jack W. Birch, Guide To The Succesful Thesis and Disertation, Books in
Library and Information Science, (New York : Marcel Dekker Inc., 1993), hal. 102., sebagaimana
dikutip Ibid.
30
Bismar Nasution, “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”,
(Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 7.
19

apa yang dibutuhkan untuk pembangunan dan bagaimana peranan hukum


dalam perubahan ekonomi”.

Selanjutnya Adam Smith, sebagai bapak perekonomian modern telah

melahirkan ajaran mengenai keadilan (justice) mengatakan bahwa tujuan keadilan

adalah untuk melindungi dari kerugian (”the end of justice is to secure from

injury”).31 Setiap perusahaan yang akan dilikuidasi sudah pasti ingin menghindari

kerugian yang akan dialaminya di kemudian hari. Jadi, dengan begitu akan tercapai

keadilan bagi pengurus, pengawas, maupun pemegang saham perusahaan.

Penyelesaian hutang piutang juga tidak luput dari teori hukum ini, bahwa hutang yang

harus dibayar tercapai kesepakatan yang bersifat win-win solution. Piutang yang

ditagih juga harus berkeadilan bagi debitor dan kreditornya. Tata cara penagihan

piutang dan pembayaran hutang tersebut dilakukan agar terhindar dari kerugian

(potential losses).

Salah satu unsur rule of law yang dapat mendorong tingkat pertumbuhan

ekonomi adalah kepastian hukum yaitu kepastian berusaha. Lamanya prosedur dalam

berusaha mengakibatkan sulitnya pertumbuhan ekonomi. Banyak aturan yang

tumpang tindih mengakibatkan prosedur yang lama, berbelit-belit dan ekonomi biaya

tinggi. Data yang terkait dengan korupsi, belum berjalan, e-governement dan

transparansi. Aspek certainty dan predicttbiliy belum dilaksanakan secara

menyeluruh. Kepastian berusaha serta aturan-aturan yang akan ditetapkan harus

melalui proses keterbukaan dan terutama tidak berlaku surut tanpa alasan yang jelas

31
Ibid.
20

serta tidak diubah dari waktu ke waktu (predictable), sehingga pengusaha dapat

menyesuaikan kegiatan usahanya berdasarkan aturan dan kebijakan yang sudah ada.32

Dengan terselesaikannya hutang piutang dari perseroan terbatas yang

dilikuidasi, selanjutnya akan tercipta kemanfaatan hukum bagi pihak yang terkait di

dalamnya. Adapun teori manfaat hukum disebut juga dengan teori utilitarian yang

dikemukakan oleh Jeremy Bentham (”greatest amount of happiness for the greatest

number of people”). Baik buruknya hukum harus diukur dari baik buruknya akibat

yang dihasilkan oleh penerapan hukum itu. Suatu ketentuan hukum baru dapat dinilai

baik, jika akibat-akibat yang dihasilkan dari penerapannya adalah kebaikan. 33 Dalam

hal penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas yang dilikuidasi haruslah

memperoleh hasil yang baik. Maksudnya adalah menekan pihak-pihak yang

menderita kerugian, demi kelancaran proses likuidasi dan orang-orang yang terkait di

dalamnya.

Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan dari berbagai kegiatan

manusia, dimana hukum itu harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat

berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat juga terjadi berbagai pelanggaran

terhadap hukum. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan. Penegakan hukum atau yang

dikenal dengan law enforcement merupakan suatu keharusan untuk mewujudkan

32
Ibid.
33
Bryan Magee, The Story Of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius,
2008), hal. 182.
21

suatu perlindungan dan kepastian hukum. Melalui penegakan hukum itu menjadi

suatu kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. 34

Terkait dengan penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas dalam

likuidasi adalah untuk menegakkan hukum yaitu ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf

a., bahwa setiap terjadi pembubaran Perseroan harus diikuti dengan likuidasi yang

dilakukan oleh likuidator atau kurator. Walaupun sudah ditentukan hal tersebut oleh

ketentuan perundang-undangan namun perseroan terbatas yang ada tetap melakukan

penunjukan Pelaksana Tugas Direksi. Hal ini terjadi karena tidak adanya bagian

hukum, atau orang yang mengerti hukum yang bekerja di perusahaan tersebut. Jadi,

karena kebiasaan memberikan tugas kepada karyawan dengan cara membuat surat

kuasa maka sering disalahgunakan oleh Pelaksana Tugas Direktur tersebut.

Di dalam menegakkan hukum ada 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan, di

antaranya35 : kepastian hukum (rectssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigheit), dan

keadilan (gerechtigheit). Kepastian hukum merupakan suatu perlindungan yustiabel

terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat

memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat

mengharapkan adanya kepastian hukum, dimana dengan kepastian hukum masyarakat

akan lebih tertib. Sebaliknya juga masyarakat mengharapkan manfaat dalam

pelaksanaan atau penegakan hukum. Hukum adalah diciptakan untuk mengatur

manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat

34
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar, (Yogjakarta : Liberty, 1995),
hal. 14., sebagaimana dikutip Budi Satrio, “Penegakan Hukum Pidana di Bidang Pasar Modal”, (Tesis:
Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009).
35
Ibid.
22

atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai justru karena hukumnya dilaksanakan

atau ditegakkan timbul keresahan di dalam masyarakat.

Jika kepastian hukum sudah tercapai maka kemanfaatan hukum, dan keadilan

hukum juga akan tercapai. Kaitannya dengan penyelesaian hutang piutang perseroan

terbatas yang dilikuidasi adalah apabila ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a., sudah

ditegakkan dari awal pembubaran perseroan maka akan tidak ada masalah

kedepannya seperti penyalahgunaan wewenang Pelaksana Tugas Direksi dan

penggelapan aset perusahaan. Hal ini akan meminimalisir kerugian yang diderita oleh

Perseroan. Oleh karena perseroan tidak menegakkannya maka akibat hukum yang

dialami adalah adanya hambatan-hambatan likuidator pada saat melikuidasi perseroan

terbatas.

Pada akhirnya keadilan juga sangat berperan penting di dalam pelaksanaan

dan penegakan hukum di masyarakat. Jangan ada keberpihakan hukum terhadap salah

satu kepentingan selain kepentingan-kepentingan bersama yang hidup di dalam

masyarakat. Secara umum penegakan hukum dapat diartikan sebagai tindakan

menerapkan perangkat sarana hukum tertentu untuk memaksakan sanksi hukum guna

menjamin penataan terhadap ketentuan yang ditetapkan tersebut, sedangkan menurut

Satjipto Rahardjo penegakan hukum adalah ”suatu proses untuk mewujudkan

keinginan-keinginan hukum (yaitu pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang

yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum) menjadi kenyataan”.36 Secara

konsepsional, inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan

36
Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, (Bandung : Sinar Baru, 1988), hal. 24.,
sebagaimana dikutip Budi Satrio, Op.cit.
23

hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaedah-kaedah dari sikap tindak

sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara, dan

mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Lebih lanjut dikatakan keberhasilan

penegakan hukum mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempunyai arti

netral, sehingga dampak negatif atau positifnya terletak pada isi faktor-faktor

tersebut. Faktor-faktor saling berkaitan dengan eratnya, merupakan esensi serta tolok

ukur dari efektivitas penegakaan hukum. Faktor-faktor tersebut antara lain 37 :

1. ”Hukum (undang-undang);
2. Penegakan Hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
menerapkan hukum;
3. Semua atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum;
4. Masyarakat, yakni dimana hukum tersebut diterapkan;
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup”.

Setelah mengetahui pengaturan dan pelaksanaan penyelesaian hutang piutang

pada perseroan terbatas yang dilikuidasi selanjutnya apa yang tertulis (das sollen)38

akan dipelajari untuk dilakukan pendekatan dengan contoh kasus yang dibahas pada

penelitian ini (das sein).39

37
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 1983), hal. 5.
38
Das Sollen adalah sesuatu yang mengharuskan kita untuk berfikir dan bersikap. Contoh :
norma, kaidah, dan sebagainya. Dapat diartikan bahwa das sollen merupakan kaidah dan norma serta
kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya dilakukan.
39
Das Sein adalah sesuatu yang merupakan implementasi dari segala hal yang kejadiannya
diatur oleh das sollen dan mogen. Dapat dipahami bahwa das sein merupakan peristiwa konkrit yang
terjadi.
24

2. Kerangka Konsep

Selanjutnya, untuk menghindari kesalahan dalam memaknai konsep-konsep

yang digunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan diberikan definisi

operasional dari konsep-konsep yang digunakan, yaitu :

1. Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal,

didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal

dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang

ditetapkan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas serta peraturan

pelaksanaannya.40

2. Hutang adalah kewajiban-kewajiban yang dibuat oleh perusahaan atau

perseroan terbatas dalam hal perdagangannya ataupun perikatan kontrak yang

dilakukan.

3. Piutang adalah hak-hak dari perseroan terbatas yang dibuat oleh perusahaan

karena adanya wanprestasi atau melanggar ketentuan dari kontrak kerja yang

sudah diperbuat.

4. Kreditor adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah)

yang memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau

layanan jasa yang diberikan (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian)

dimana diperjanjikan bahwa pihak kedua tersebut akan mengembalikan

properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua ini disebut sebagai

40
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
25

peminjam atau yang berhutang. Secara singkat dapat dikatakan pihak yang

memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.41

5. Debitor adalah pihak yang berhutang ke pihak lain, biasanya dengan

menerima sesuatu dari kreditor yang dijanjikan debitor untuk dibayar kembali

pada masa yang akan datang. Pemberian pinjaman kadang memerlukan juga

jaminan atau agunan dari pihak debitor. Jika seorang debitor gagal membayar

pada tenggat waktu yang dijanjikan, suatu proses koleksi formal dapat

dilakukan yang kadang mengizinkan penyitaan harta milik debitor untuk

memaksa pembayaran.42

6. Aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomik yang dimiliki oleh suatu

kesatuan usaha atau perusahaan yang harga perolehannya atau nilai wajarnya

harus diukur secara objektif. 43

7. Passiva adalah pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan oleh suatu

perusahaan pada masa yang akan datang, pengorbanan untuk masa yang akan

datang ini terjadi akibat kegiatan usaha kewajiban ini dibedakan menjadi

utang lancar dan utang jangka panjang. 44

8. Likuidasi adalah pembubaran perusahaan sebagai badan hukum yang meliputi

pembayaran kewajiban kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa

41
Wikipedia, “Kreditor”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kreditur., diakses pada 22 Maret 2011.
42
Wikipedia, “Debitor”, http://id.wikipedia.org/wiki/Debitur., diakses pada 22 Maret 2011.
43
Jopie Jusuf, Analisis Kredit Untuk Account Officer, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,
1995).
44
“Definisi Aktiva & Pasiva”, http://rahasiaakuntansi.blogspot.com/2010/03/definisi-aktiva-
pasiva.html., diakses pada 22 Maret 2011.
26

kepada para pemegang saham. Likuidasi dilakukan dalam rangka pembubaran

badan hukum.45

9. Likuidator adalah orang atau badan yang berwenang untuk menyelesaikan

segala urusan yang berkaitan dengan pembubaran perusahaan. Likuidator

dapat ditunjuk oleh pengadilan atau Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS).46

10. Perusahaan Dalam Likuidasi adalah setelah suatu perusahaan dinyatakan

dalam dalam likuidasi oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau oleh

pihak-pihak lain maka selanjutnya perusahaan tersebut ditulis kata ”Dalam

Likuidasi” di belakang nama perusahaan tersebut.47

Kerangka konsep digunakan untuk mengabstraksikan gejala atau fenomena

yang akan diteliti. Penyelesaian hutang-piutang misalnya, adalah suatu konsep yang

dipakai untuk menggambarkan cidera janji atau ”wanprestasi”. Dengan kata lain,

konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat

dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Atau dapat pula

dikatakan bahwa konsep adalah suatu kata atau lambang yang menggambarkan

kesamaan-kesamaan dalam berbagai gejala walaupun berbeda. 48

45
Likuidasi, menurut Black’s Law Dictionary 6th Edition, yaitu : “with respect with winding
up of affairs of corporation, is process of reducing assets to cash, discharging liabilities and dividing
surplus or loss. Occurs when a corporation distributes its net assets to its shareholders and ceases its
legal existence”.
46
Pasal 152 ayat (1), Loc.cit.
47
Pasal 143 ayat (2), Ibid.
48
Rianto Adi, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, (Jakarta : Granit, 2004), hal. 27.
27

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan sarana ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian

dilakukan untuk mencari kegunaan atau mencari jawaban dari keingintahuan.

Pengetahuan dan teknologi diperoleh saat ini dipastikan melalui kegiatan penelitian

termasuk ilmu-ilmu sosial yang di dalamnya termasuk ilmu hukum.49

Penelitian mengandung metode atau cara yang harus dilalui sebagai syarat

dalam penelitian. Metode dilaksanakan pada setiap kegiatan penelitian didasarkan

pada cakupan ilmu pengetahuan yang mendasari kegiatan penelitian. Meskipun

masing-masing terdapat karakteristik metode yang digunakan pada setiap kegiatan

penelitian, akan tetapi terdapat prinsip-prinsip umum yang harus dipahami oleh

semua peneliti seperti pemahaman yang sama terhadap validitas dari hasil capaian

termasuk penerapan prinsip-prinsip kejujuran ilmiah. 50 Kejujuran ilmiah adalah kode

etik penulisan karya tulis ilmiah, yaitu :

1. ”Menjunjung tinggi posisi terhormat penulis sebagai orang terpelajar,


kebenaran hakiki informasi yang disebarluaskan dan tidak menyesatkan orang
lain;
2. Tidak menyulitkan pembaca dengan tulisan yang dibuat;
3. Memperhatikan kepentingan penerbit penyandang dana penerbitan dengan
cara mempadatkan tulisan agar biaya pencetakan bisa ditekan;
4. Memiliki kesadaran akan perlunya bantuan penyunting sebagai jembatan
penghubung dengan pembaca;
5. Teliti, cermat, mengikuti petunjuk penyunting mengenai format dan
sebagainya;
6. Tanggap dan mengikuti usul/saran penyunting;
7. Bersikap jujur mutlak diterapkan kepada diri sendiri dan umum dengan tidak
menutupi kelemahan diri;
8. Menjunjung tinggi hak, pendapat, temuan orang lain dengan cara tidak
mengambil ide orang lain diakui sebagai ide/gagasan sendiri;

49
Muhamad Muhdar, “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan
Penulisan Hukum”, (Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010), hal. 2.
50
Ibid.
28

9. Mengakui hak cipta/Hak Kekayaan Intelektual dengan cara tidak melakukan


plagiat atas tulisan sendiri dan orang lain”. 51

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan

pendekatan juridis normatif. 52 Objek penelitian adalah penyelesaian hutang piutang

perseroan terbatas dalam likuidasi, yang menjadi contoh untuk penelitian ini adalah

PT. Schutter Indonesia.

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Pada penelitian hukum, tidak semua masalah-masalah kemasyarakatan dapat

dijadikan masalah dalam penelitian. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini

haruslah mengandung issu hukum yaitu masalah likuidasi PT. Schutter Indonesia.

Jadi, jenis penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kasus (case

approach).53 Untuk selanjutnya akan dilakukan pendekatan peraturan perundang-

undangan (statute approach). Pendekatan ini adalah memisahkan dan

mengelompokkan mana yang merupakan kaidah hukum dan mana yang bukan kaidah

hukum.

Sedangkan sifat penelitian dari penulisan tesis ini adalah deskriptif yang

ditujukan untuk menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis mengenai gejala-

51
Etika Penulisan Ilmiah, (DITJEN DIKTI : Lokakarya Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah
yang diselenggarakan DP2M), hal. 2-6., seperti yang diringkas/disarikan oleh M. A. Rifai., dalam
Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id
/perpustakaan/.../Munandir%20(kode%20etik).ppt., 2007, diakses pada 25 Mei 2010.
52
Adapun tahap-tahap dalam analisis yuridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum
dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-pengertian hukum; pembentukan standar-
standar hukum; dan perumusan kaidah-kaidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode
Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167.
53
Pendekatan Kasus (case approach) adalah dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif
tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa.
29

gejala hukum terkait dengan peranan hukum dalam pembangunan ekonomi studi

terhadap penyelesaian hutang-piutang dalam perseroan terbatas yang dilikuidasi.

2. Sumber Bahan Hukum

Pada penelitian hukum dengan studi kasus yang dilakukan ini maka maka

sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok,

yaitu :

1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang

relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : Undang-

Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing; Undang-Undang

No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan; Undang-Undang No. 10

Tahun 1998 tentang Perbankan; Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang

Penanaman Modal; Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan

Terbatas; Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; Undang-Undang No. 40 Tahun

2007 tentang Perseroan Terbatas; Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999

tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank; Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata); dan peraturan perundang-

undangan yang berkaitan dengan penelitian ini.

2. Bahan hukum sekunder digunakan untuk membantu memahami berbagai

konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer

dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik

jurnal, buku-buku, makalah, serta karya ilmiah mengenai likuidasi, kepailitan,


30

reorganisasi perusahaan, dan restrukturisasi, berita, ulasan media, juga

sumber-sumber lain yang relevan dengan penyelesaian hutang-piutang

perseroan terbatas dalam likuidasi. Bahan hukum sekunder pada penelitian

hukum ini adalah Laporan Pertanggungjawaban Likuidator PT. Schutter

Indonesia (Dalam Likuidasi).

3. Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal

penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum

primer, khususnya kamus-kamus hukum dan ekonomi.

3. Teknik Pengumpulan Data

Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tekhnik studi

kepustakaan54 (library research) dan studi dokumen dari berbagai sumber yang

dipandang relevan, antara lain mengenai hutang piutang dalam hukum keperdataan

dan perseroan terbatas dalam likuidasi. Perpustakaan yang digunakan adalah

Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara. Kasus yang digunakan diambil dari likuidator langsung

PT. Schutter Indonesia sebagai contoh kasus pada tesis ini.

54
Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai
keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti; b) Mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan
pemecahan permasalahan yang digunakan; c) Sebagai sumber data sekunder; d) Mengetahui historis
dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau
analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti
lain di bidang yang sama dan siapa pemakai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukakan
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113.
31

4. Analisis Data

Bahan hukum primer yang terinventarisasi terlebih dahulu disistematisasikan

sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya

terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan

prediktabilitas hukum, mencari keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain. 55

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir

deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai

titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai

alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak

langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah

dalam penyelesaian hutang piutang dan proses likuidasi perseroan terbatas. Teorisasi

induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian,

bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan

teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka deduktif – induktif adalah

penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan

data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut. 56

55
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda, 2006), hal. 248,
dalam Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 144-145.
56
Ibid., hal. 26-29.
32

BAB II

PENGATURAN PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG TERHADAP


PERSEROAN TERBATAS YANG DILIKUIDASI

Sebelum menguraikan mengenai pengaturan penyelesaian hutang-piutang

terhadap perseroan terbatas yang dilikuidasi. Ada baiknya dilakukan pengelompokan

variabel terhadap bab ini, yang terdiri dari : Penyelesaian Hutang, Hak Tagih Factor

atas Piutang Dagang dan Perseroan Terbatas yang dilikuidasi. Pada penyelesaian

hutang-piutang perusahaan biasanya dimulai dari perjanjian bisnis yang tidak

dijalankan dengan baik. Jika perjalanan bisnis tidak baik dalam hal ini merugi dan

tidak bisa ditutupi dengan daya apapun lagi maka perusahaan tersebut dapat

dilikuidasi. Sebelum dilikuidasi perusahaan tersebut harus menyelesaikan hutang

piutangnya terhadap pihak lain. Untuk pertama sekali yang akan dibahas adalah

mengenai Likuidasi Perseroan Terbatas.

Pengaturan mengenai Likuidasi Perseroan Terbatas dipengaruhi oleh

masuknya Indonesia menjadi anggota World Trade Organization (WTO) melalui

Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The

World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasii Perdagangan

Dunia). 57 Sejak masuknya Indonesia ke WTO, pasar di Indonesia menjadi sangat

terbuka dan semakin mengurangi kebijakan-kebijakan yang restriktif. Peraturan

perundang-undangan di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat.

57
Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World
Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3564.
33

Banyak peraturan yang diselaraskan dengan prinsip perdagangan bebas (structural

adjutment). Hal ini dapat dilihat dari disesuaikannya peraturan-peraturan yang

berlaku di Indonesia seperti Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang, Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang hak

Cipta, Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentag Perbankan, dan lain sebagainya.58

A. Likuidasi Perseroan Terbatas di Amerika Serikat

Likuidasi Perseroan Terbatas di Amerika Serikat dapat dilihat pada Chapter 7,

Title 11 Bankruptcy Code. Pada peraturan tersebut mengatur mengenai proses

likuidasi berdasarkan hukum kepailitan Amerika Serikat. Sebaliknya, Chapter 11 dan

13 mengatur mengenai proses reorganisasi perseroan terbatas debitur dalam

kebangkrutan. Chapter 7 adalah bentuk paling umum dari kebangkrutan di Amerika

Serikat. 59 Pada bulan April 2005, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan sebuah

undang-undang baru yang efektif 17 Oktober 2005, yang berkaitan dengan

kebangkrutan pribadi. Peraturan-peraturan baru ini diharapkan mempersulit mereka

yang ingin menghapuskan atau merestrukturisasi hutang-hutang mereka, salah

satunya dengan cara membuat biaya-biayanya lebih tinggi. 60

Pada bulan Mei 2003, kurang dari 2 (dua) tahun setelah dikeluarkannya

undang-undang tersebut. Strouds, suatu rantai usaha toko seprai dan peralatan rumah
58
Mahmul Siregar, Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal Studi Kesiapan dalam
Perjanjian Investasi Multilateral, Cetakan Kedua : Revisi, (Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara, 2008), hal. 487.
59
Investopedia, “Chapter 7”, Op.cit.
60
Robert D. Hisrich, Michael P. Peters, dan Dean A. Shepherd, Enterpreneurship
Kewirausahaan, Edisi 7, (Jakarta : Salemba Empat, Tanpa Tahun), hal. 738.
34

tangga, melaporkan kebangkrutan likuidasi Chapter 7. Rantai usaha yang berpusat di

Los Angeles itu tidak mampu menghadapi kompetisi dari Bed, Bath, & Beyond dan

Linens ’n Things, dalam perekonomian yang lemah. Rantai usaha itu didirikan lebih

dari 70 toko dengan lebih dari 1.500 pekerja di seluruh Amerika Serikat. Keputusan

untuk menutup perusahaan dibuat setelah perusahaan itu mengalami kerugian sebesar

US$. 8,8 juta selama 10 bulan terakhir operasinya. 61

Pada tahun 1995, Edison Brothers Shoe Stores, dahulu salah satu rantai usaha

toko sepatu terbesar di Amerika Serikat, menyatakan kebangkrutannya. Sebagai

generasi ketiga dari dinasti Edison dengan gelar MBA dari Harvard University, pada

tahun 1999 Peter Edison mampu membeli produk terpenting yaitu rantai sepatu

Edison, Bakers Shoe, senilai US$. 8 juta. Dengan persediaan yang hanya cukup untuk

musim yang sedang berjalan dan sebuah citra label sepatu murah, ia memulai sebuah

strategi untuk merevitalisasi citra label tersebut. Ia menutup lusinan toko kurang

menguntungkan dan mengubah model toko-toko yang tersisa secara satu per satu agar

tampak seperti butik-butik kelas atas. Penjualan di toko-toko yang telah direnovasi

tersebut naik 50% dan bisnisnya secara perlahan memperoleh keuntungan.62

Kedua contoh kasus di atas membedakan antara likuidasi dan reorganisasi.

Likuidasi mengisyaratkan bahwa perusahaan tidak ingin untuk membuka perusahaan

lagi, sedangkan reorganisasi adalah bahwa perusahaan memperoleh pinjaman modal

kembali untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, yang akan dibahas dalam riset

penelitian ini adalah mengenai likuidasi perseroan terbatas.

61
Ibid.
62
Ibid.
35

1. Alternatives to Chapter 7

Debitur harus menyadari bahwa ada beberapa alternatif untuk Chapter 7.

Sebagai contoh, debitur yang terlibat dalam bisnis, termasuk perusahaan, kemitraan,

dan perseorangan, mungkin lebih suka untuk tetap dalam bisnis dan menghindari

likuidasi. Debitur tersebut harus mempertimbangkan pengajuan permohonan pada

Chapter 11 dari Bankcruptcy Code. Dalam Chapter 11, debitur dapat meminta

penyesuaian hutang, baik dengan mengurangi hutang maupun dengan

memperpanjang waktu untuk pembayaran (dalam hal ini disebut Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang – PKPU), atau mungkin mencari reorganisasi yang

lebih komprehensif. Perusahaan perorangan juga mungkin memenuhi persyaratan

untuk bantuan di bawah Chapter 13 Bankcruptcy Code.63

Selain itu, debitur individu yang memiliki penghasilan tetap dapat meminta

penyesuaian hutang di bawah Chapter 13 dari Bankcruptcy Code. Sebuah keuntungan

tertentu dari Chapter 13 adalah bahwa pada peraturan tersebut menyediakan

kesempatan bagi debitur individu untuk menyelamatkan rumah debitur dari penyitaan

dengan mengizinkan debitur untuk “mengejar” pembayaran yang tertunggak melalui

rencana pembayaran. Selain itu, pengadilan dapat memberhentikan Chapter 7, kasus

yang diajukan oleh individu yang memiliki hutang terutama konsumen daripada

hutang bisnis jika pengadilan menemukan bahwa pemberian bantuan akan menjadi

penyalahgunaan Chapter 7, Title 11, United State Code § 707 (b). 64

63
United States Courts, “Chapter 7 : Liquidation Under the Bankruptcy Code”,
http://www.uscourts.gov/FederalCourts/Bankruptcy/BankruptcyBasics/Chapter7.aspx., diakses pada
08 Mei 2011.
64
Ibid.
36

Jika “penghasilan debitur pada bulan pengajuan likuidasi” debitur65 :

1. Lebih dari pendapatan rata-rata per kapita, Bankcruptcy Code mensyaratkan

penerapan “means test” untuk menentukan apakah Chapter 7 disalahgunakan

atau tidak. Penyalahgunaan dianggap jika pendapatan pemohon bulanan

debitur saat ini selama 5 (lima) tahun, setelah dikurangi biaya statutorily

tertentu diperbolehkan, adalah lebih dari : (i) US$. 11.725,- atau (ii) 25% dari

hutang non-priority tanpa jaminan debitur, selama jumlah yang setidaknya

US$. 7.025,-;

2. Debitur mungkin membantah dugaan penyalahgunaan ketentuan Likuidasi

tersebut hanya dengan menunjukkan keadaan khusus yang membenarkan

biaya tambahan atau penyesuaian penghasilan bulanan saaat ini. Kecuali

debitur mengatasi dugaan penyalahgunaan, kasus ini umumnya akan

dikonversi ke Chapter 13 (dengan persetujuan debitur) atau akan

diberhentikan menurut Title 11, United State Code § 707 (b) (1);

Debitur juga harus menyadari bahwa perjanjian di luar pengadilan dengan

kreditur atau debt counseling dapat memberikan alternatif untuk pengajuan

kebangkrutan selanjutnya.66

2. Latar Belakang Likuidasi

Sebuah perkara Likuidasi yang diatur dalam Chapter 7 tidak melibatkan

rencana pembayaran seperti yang termaksud dalam Chapter 13. Sebaliknya,

65
Ibid.
66
Ibid.
37

likuidator mengumpulkan dan menjual aset-aset debitur dan menggunakan hasil

penjualan tersebut untuk membayar hutang atas klaim kreditur sesuai dengan

ketentuan Bankruptcy Code. Bagian aset debitur dapat mengganggu hak gadai dan

hipotek yang diperjanjikan kepada kreditur lainnya. Selain itu, Bankruptcy Code akan

memungkinkan debitur untuk menjaga sisa aset tertentu, tetapi likuidator akan

melikuidasi aset debitur yang tersisa. Dengan demikian calon debitur harus

menyadari bahwapengajuan permohonan melalui Chapter 7 – Likuidasi dapat

mengakibatkan kerugian harta benda.67

Di dalam Bankcruptcy Code jika dianalogikan dengan peraturan perundangan

di Indonesia, maka Chapter 7 adalah Likuidasi dan Tata Caranya, Chapter 13 adalah

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), dan Chapter 11 adalah

Reorganisasi Perusahaan. Melalui proses likuidasi di Amerika Serikat sudah pasti

menyebabkan kerugian harta benda karena pembayaran-pembayaran hutang kepada

pihak lain yang melakukan hubungan dagang dengan pemohon likuidasi.

3. Chapter 7 Eligibility

Untuk memenuhi persyaratan pada bantuan Likuidasi – Chapter 7,

Bankruptcy Code, debitur mungkin seorang individu, kemitraan, atau korporasi atau

badan usaha lain sesuai dengan 11 United State Code § § 101 (41), 109 b. Tunduk

pada tes-tes yang diajukan berarti yang dijelaskan di atas untuk debitur perorangan,

bantuan tersedia untuk Chapter 7 terlepas dari jumlah hutang debitur atau apakah

debitur adalah bangkrut. Seorang individu tidak dapat mengajukan permohonan

67
Ibid.
38

Chapter 7 atau Chapter lainnya, namun, jika selama 180 hari sebelum permohonan

pailit sebelum diberhentikan karena kegagalan disengaja debitur untuk tampil di

depan pengadilan atau mematuhi perintah pengadilan, atau debitur secara sukarela

diberhentikan kasus sebelumnya setelah kreditur mencari bantuan dari pengadilan

kepailitan untuk memulihkan properti dimana debitur memegang hak gadai

(11 United State Code § § 109 g., 362 d., dan e.). Selain itu, individu tidak mungkin

menjadi debitur pada Chapter 7 atau Chapter pada Bankruptcy Code kecuali atas

permohonannya sendiri dan dalam waktu 180 hari sebelum pengajuan likuidasi,

menerima konseling kredit dari lembaga kredit yang disetujui konseling baik dalam

individual ataupun grup konseling (11 United State Code. § § 109, 111). Ada

pengecualian dalam situasi darurat atau dimana U.S. Trustee (atau administrator

kepailitan) telah menetapkan bahwa ada lembaga yang cukup menyediakan konseling

yang dibutuhkan. Jika suatu manajemen utang (PKPU) dikembangkan selama

konseling kredit diperlukan, maka harus diajukan kepada Pengadilan. 68

Salah satu tujuan utama dari kebangkrutan adalah untuk kejujuran terhadap

hutang debitur tertentu adalah sebuah “fresh start”. Debitur tidak memiliki kewajiban

pembayaran hutang. Dalam hal Chapter 7, bagaimanapun, discharge hanya tersedia

untuk debitur individual, bukan untuk kemitraan atau perusahaan (11 United State

Code § 727 a., 1). Meskipun Chapter 7 individu biasanya menghasilkan debit hutang,

hak untuk melepaskan adalah tidak mutlak, dan beberapa jenis hutang yang tidak

68
Ibid.
39

habis dibayarkan. Selain itu, debit kepailitan tidak memadamkan hak pada properti

yang dimiliki debitur. 69

Chapter 7 Eligibility adalah studi kelayakan terhadap subjek hukum yang

akan dilikuidasi. Studi kelayakan tersebut berupa penghitungan hutang-piutang

pemohon (debitur) terhadap aset yang dimiliki. Biasanya aset yang dimiliki lebih

sedikit dari pada hutang yang ada. Dengan demikian studi kelayakan dipandang perlu

untuk melakukan penghitungan tersebut. Jadi, mengecilkan kemungkinan subjek

hukum yang sanggup membayar namun menyalahgunakan peraturan Likuidasi ini. Di

Amerika Serikat, pemerintah bertanggung jawab penuh kepada setiap subjek hukum

yang melakukan suatu usaha perdagangan, salah satu contohnya dapat dilihat pada

peraturan-peraturan mengenai likuidasinya bahwa pemerintah tidak lepas tangan

terhadap pemohon (debitur) yang akan melakukan likuidasi.

Campur tangan pemerintah kental sekali jika dilihat dalam peraturan likuidasi

yang diatur dalam Chapter 7 tersebut. Hal ini diupayakan agar tercipta kepastian

hukum yang baik. Terkait dengan teori yang digunakan dalam penulisan riset ini,

David M. Trubek, rule of law yang dapat mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi

adalah kepastian hukum yaitu kepastian berusaha.

4. How Chapter 7 Works (Cara Kerja Chapter 7)

Kasus likuidasi pada Chapter 7 dimulai dengan debitur mengajukan

permohonan untuk likuidasi pada Bankcruptcy Court (Pengadilan Kepailitan di

Amerika Serikat, sedangkan di Indonesia disebut Pengadilan Niaga). Pengadilan

69
Ibid.
40

tersebut terletak di wilayah tempat tinggal debitur ataupun usaha dan aset yang paling

besar dimiliki. Ada 3 (tiga) persyaratan permohonan debitur yang harus diajukan,

antara lain 70 :

1. Schedule of Assets and Liabilites (Laporan Keuangan);

2. Schedule of Current Income and Expenditures (Laporan Laba Rugi); dan

3. A Statement of Financial Affairs (Pernyataan dari Lembaga Keuangan).

4. A Schedule of Executory Contracts and Unexpired Leases (Kontrak-Kontrak

Perjanjian yang dibuat dan belum berakhir). Poin ini adalah tambahan.

Debitur juga harus menyediakan trustee (kurator) yang ditugaskan melalui

salinan pengembalian pajak atau transkrip untuk tahun pajak yang terbaru serta pajak

pada saat pengajuan likuidasi (termasuk pengembalian pajak untuk tahun sebelumnya

yang belum mengajukan saat permohonan diajukan) (11 United State Code § 521).

Debitur dengan hutang yang dimiliki konsumen, konsumen harus mengajukan

dokumen-dokumen sebagai bukti yang diajukan sebagai persyaratan pengajuan

tambahan. Debitur dan konsumen yang memiliki hutang harus memeriksa kebenaran

dokumen yang diajukan berdasarkan konseling kredit, bukti pembayaran dari debitor

jika ada, diterima 60 hari sebelum pengajuan. Sebuah laporan laba bersih per bulan

dan setiap peningkatan dalam pendapatan atau biaya yang timbul akibat pengajuan,

dan catatan kepentingan debitur memiliki kualifikasi pendidikan formal atau

pendidikan negara bagian. Contoh : seorang suami dan istri dapat mengajukan

permohonan petisi bersama atau perorangan (11 United State Code § 302 a.). bahkan

70
Ibid.
41

jika pengajuan bersama, suami dan istri tunduk pada semua persyaratan dokumen

pengajuan debitur individu (formulir pengajuan dapat dibeli di toko buku, atau di

download melalui internet. 71

Pengadilan harus mengenakan biaya untuk pengajuan permohonan tersebut

yaitu US$. 245,- biaya US$. 39,- administrasi lainnya, dan biaya tambahan trustee

US$. 15,-. Biasanya, biaya yang harus dibayarkan kepada panitera pengadilan atas

pengajuan pemrohonan tersebut. Dengan izin pengadilan, bagaimanapun, debitur

dapat membayar biaya tersebut secara mengangsur (28 United State Code § 1930 a.).

Angsuran tersebut dapat dilakukan sebanyak 4 (empat) kali selama 120 hari setelah

formulir permohonan diajukan. Pengadilan juga dapat memperpanjang masa angsuran

atas biaya tersebut selama 180 hari setelah pengajuan permohonan. Debitur juga

dapat membayar biaya administrasi US$. 39,- dan surcharge trustee US$. 15,-

dengan angsuran. Jika permohonan bersama yang diajukan maka hanya 1 (satu) biaya

yang akan dibayarkan. Debitur harus menyadari bahwa kegagalan untuk membayar

biaya perkara tersebut dapat mengakibatkan pemberhentian kasus tersebut (11 United

Stated Code § 707 a.). 72

Jika penghasilan debitur kurang dari 150% dari tingkat kemiskinan

(sebagaimana didefinisikan dalam Bankruptcy Code), dan debitur tidak dapat

membayar biaya Chapter 7 bahkan dengan angsuran, maka pengadilan dapat

71
Ibid.
72
Ibid.
42

mengenyampingkan persyaratan biaya harus dibayar (28 United Stated Code

§ 1930 f.). 73

Untuk melengkapi Official Bankruptcy Forms yang terdiri dari laporan

keuangan, jadwal pembayaran hutang, debitur harus memberikan informasi tambahan

sebagai berikut74 :

1. Daftar semua kreditur dan jumlah dan sifat klaim kreditur;

2. Sumber, jumlah, dan frekuensi pendapatan debitur;

3. Daftar semua harta debitur, dan

4. Sebuah daftar rinci dari biaya bulanan debitur, seperti : biaya pengeluaran

sewa bangunan tempat usaha; rekening air, listrik, dan telepon; pajak-pajak;

transportasi, jaminan sosial, dan lain sebagainya.

Pengajuan permohonan secara bersama-sama, pemohon harus mengumpulkan

informasi apakah mengajukan petisi bersama, petisi individu yang terpisah, atau

bahkan jika hanya satu yang mengajukan. Dalam situasi dimana berkas-berkas

debitur hanya satu, pendapatan dan beban dari debitur lain yang dibutuhkan agar

pengadilan, trustee dan kreditur dapat mengevaluasi posisi keuangan usaha tersebut.75

Di antara jadwal bahwa debitur yang mengajukan permohonan jadwal properti

“exemt” atau dikecualikan. Bankruptcy Code memungkinkan seorang debitur

perorangan untuk melindungi beberapa kekayaan dari klaim kreditor yang bebas

pajak menurut Federal Bankruptcy Law atau berdasarkan Laws of the Debtor’s Home

73
Ibid.
74
Ibid.
75
Ibid.
43

State (11 United State Code § 522 b.). Banyak negara bagian telah mengambil

keuntungan dari ketentuan dalam Bankruptcy Code yang memungkinkan masing-

masing negara bagian untuk mengadopsi hukum pembebasan sendiri di tempat

pengecualian federal. Dalam yurisdiksi lain, debitur individual memiliki pilihan untuk

memilih antara paket Pengecualian Federal atau Pengecualian Tersedia di bawah

hukum negara. Jadi, apakah properti tertentu yang dikecualikan dan dapat disimpan

oleh debitur sering merupakan masalah hukum negara. Debitur harus berkonsultasi

dengan seorang pengacara untuk menentukan pengecualian yang tersedia di negara

tempat tinggal debitur. 76

Pengajuan permohonan berdasarkan Chapter 7 secara otomatis berhenti

berdasarkan tindakan pengumpulan data-data aset yang tidak termasuk dalam aset

likuidasi (11 United State Code § 362). Pengajuan permohonan aset yang tidak

termasuk dalam aset likuidasi tersebut adalah tindakan yang terdaftar berdasarkan (11

United State Code § 362 b.) dan tinggal menunggu waktu efektif terhadap putusan

hanya untuk waktu yang singkat dalam beberapa situasi. Tinggal menunggu putusan

penetapan dan tidak memerlukan tindakan hukum lain. Selama tetap berlaku, kreditur

umumnya tidak dapat memulai atau melanjutkan tuntutan hukum, wage

garnishments, atau bahkan panggilan telepon untuk menuntut pembayaran. Petugas

Kebangkrutan memberikan pemberitahuan dari kasus kebangkrutan itu untuk semua

kreditur yang nama dan alamatnya diberitahukan oleh debitur. 77

76
Ibid.
77
Ibid.
44

Antara 20 sampai dengan 40 hari setelah permohonan diajukan, trustee akan

mengadakan pertemuan kreditur. Jika trustee Amerika Serikat atau administrator

kebangkrutan menetapkan jadwal pertemuan di tempat yang tidak memiliki trustee

Amerika Serikat atau staf administratof kebangkrutan (Staf Pengadilan Niaga),

pertemuan dapat diadakan tidak lebihd ari 60 hari setelah perintah untuk itu. Selama

pertemuan ini, trustee menempatkan debitur di bawah sumpah, dan keduanya trustee

dan kreditur dapat mengajukan pertanyaan. Debitur harus menghadiri pertemuan

tersebut dan menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan tentang urusan keuangan

debitur dan properti (11 United State Code § 343). Jika pemohon telah mengajukan

petisi bersama, maka keduanya harus menghadiri pertemuan kreditur dalam

menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam waktu 10 hari rapat kreditur,

trustee Amerika Serikat akan melaporkan ke pengadilan apakah kasus tersebut harus

dianggap merupakan penyalahgunaan dalam studi kelayakan Likuidasi (11 United

State Code § 704 b). 78

Hal ini penting bagi debitur untuk bekerja sama dengan trustee dan untuk

menyediakan laporan keuangan atau dokumen-dokumen yang diminta oleh trustee.

Bankruptcy Code mengharuskan trutee untuk mengajukan pertanyaan debitur pada

pertemuan kreditur untuk memastikan bahwa debitur menyadari adanya potensi

konsekuensi mencari aset pada kebangkrutan seperti efek pada sejarah kredit,

kemampuan untuk mengajukan permohonan di bawah peraturan yang berbeda, efek

menerima debit, dan efek untuk menegaskan kembali utang. Beberapa trustee

memberikan informasi tertulis tentang topik ini pada atau sebelum pertemuan untuk

78
Ibid.
45

memastikan bahwa debitur mengetahui informasi ini. Untuk menjaga penilaian

independen, hakim pengadilan dilarang menghadiri pertemuan kreditur (11 United

State Code § 341 c).79

Dalam rangka kesepakatan debitur memperoleh bantuan (pinjaman),

Bankruptcy Code memungkinkan debitur untuk mengkonversi Chapter 7 kepada

Chapter 11, 12, atau 13 sepanjang debitur yang memenuhi syarat untuk menjadi

debitur di bawah Chapter yang baru. Namun, kondisi konversi sukarela debitur

adalah bahwa kasus tersebut belum pernah dikonversi ke Chapter 7 dari Chapter lain

(11 United State Code § 706 a). Dengan demikian, debitur tidak akan diizinkan

untuk mengkonversi kasus tersebut berulang kali dari satu Chapter ke Chapter yang

lain. 80

Kelihatan disini bahwa pemerintah tidak lepas tangan dari perannya terhadap

penegakan hukum. Pemohon sudah membayar biaya administrasi, maka saat likuidasi

diajukan inilah Pemerintah bekerja untuk memprosesnya. Tidak lepas tangan begitu

saja seperti yang terjadi di Indonesia. Pemerintah hanya mengenakan biaya

administrasi tetapi tidak ada pelayanan yang diberikan kepada pemohon likuidasi.

Ketidakjelasan peran pemerintah (dalam hal Indonesia) menyebabkan perseroan

terbatas kebingungan dalam mengambil sikap apakah akan melikuidasi perusahaan,

mempailitkan, dan/atau mereorganisasi perseroan terbatas. Berbeda dengan Amerika

Serikat, pihak pengadilan menunjuk trustee terpercaya untuk menetapkan apakah

79
Ibid.
80
Ibid.
46

suatu perseroan terbatas itu layak atau tidak untuk dilikuidasi. Dengan demikian

berjalanlah sistem hukum dengan baik.

5. Role of The Case Trustee

Ketika persyaratan untuk pengajuan likuidasi pada Chapter 7 diajukan, trustee

Amerika Serikat (atau Pengadilan Kebangkrutan di Alabama dan North Carolina)

menunjuk trustee pada kasus yang diterima untuk mengelola kasus tersebut dan

melikuidasi aset pemohon/debitur (11 United State Code § § 701, 704). Jika semua

aset debitur dibebaskan atau tunduk pada hak gadai yang berlaku, maka trustee

biasanya akan menetapkan “tidak ada aset” di dalam laporan kepada pengadilan, dan

tidak akan ada distribusi kepada kreditur tanpa jaminan. Kebanyakan kasus Chapter 7

melibatkan debitur individu yang tidak memiliki aset dalam pembayaran hutang.

Tetapi jika kasus tersebut tampaknya memiliki aset, pada awal kasus, kreditur tanpa

jaminan harus mengajukan gugatan mereka kepada pengadilan dalam jangka waktu

90 hari setelah tanggal pertama ditetapkan untuk pertemuan kreditur tersebut.

Bagaimanapun setelah 180 hari terlewati sejak tanggal perkara ini diajukan untuk

mengajukan klaim (11United State Code § 502 b). Dalam kasus Chapter 7 ada aset

yang khas, tidak perlu bagi kreditur untuk mengajukan bukti klaim karena tidak akan

ada distribusi. Jika trustee kemudian memiliki aset yang akan dibagikan kepada

kreditur tanpa jaminan, Pengadilan Kepailitan (Pengadilan Niaga) akan memberikan

pemberitahuan kepada kreditur dan akan memberikan waktu tambahan untuk

mengajukan bukti klaim. Meskipun kreditur dijamin tidak perlu mengajukan bukti

klaim dalam kasus Chapter 7 untuk menjaga kepentingan keamanan atau gadai,
47

mungkin ada alasan lain untuk mengajukan klaim. Seorang kreditur dalam kasus

Chapter 7 yang memiliki hak gadai atas properti, debitur harus berkonsultasi dengan

seorang pengacara untuk meminta nasihat.81

Dimulai dari kasus kepailitan yang menciptakan properti. Properti tersebut

menjadi milik sah dari semua harta debitur. Ini terdiri dari semua kepentingan hukum

atau adil dari debitur dalam properti pada saat dimulainya kasus ini, termasuk properti

yang dimiliki atau dipegang oleh orang lain jika debitur memiliki kepentingan

properti. secara umum, kreditur debitur dibayar dari properti yang dikecualikan dari

warisan yang didapat dari debitur. 82

Peran utama dari trustee dalam kasus Chapter 7 pada kasus aset adalah untuk

melikuidasi aset pengecualian debitur dengan cara memaksimalkan kembali kepada

kreditur konkuren debitur. Trustee yang menyelesaikan hal ini adalah dengan cara

menjual properti debitur jika bersih dari hak gadai (selama properti tidak dibebaskan).

Trustee juga mungkin mencoba untuk memulihkan keuangan atau properti di bawah

kewenangan trustee “avoiding powers”. Kekuatan trustee yang menhindari termasuk

kuasa untuk menyisihkan transfer khusus dibuat untuk kreditur dalam waktu 90 hari

sebelum permohonan, membatalkan kepentingan keamanan dan transfer prepetition

lain dari kekayaan yang tidak benar disempurnakan berdasarkan hukum Non-

Bankruptcy Law pada saat permohonan; dan mengejar klaim untuk tidak dinyatakan

pailit. Selain itu, jika debitur adalah sebuah bisnis, Pengadilan Kebangkrutan

(Pengadilan Niaga) dapat memberikan wewenang kepada trustee untuk menjalankan

81
Ibid.
82
Ibid.
48

bisniss tersebut untuk jangka waktu yang terbatas, jika operasi tersebut akan

menguntungkan kreditur dan meningkatkan nilai likuidasi debitur (11 United State

Code § 721). 83

Pada §. 726 dari Bankruptcy Code mengatur tentang pembagian harta warisan.

Pasal ini mengatur ada enam kelas klaim dan masing-masing kelas harus dibayar

secara penuh sebelum kelas yang lebih rendah berikutnya dibayar. Debitur hanya

dibayarkan jika semua kelas lain klaim telah dibayar lunas. Oleh karena itu, debitur

tidak tertarik disposisikan hal ini kepda trustee tentang aktiva sebenarnya, kecuali

sehubungan dengan pembayaran hutang-hutang yang untuk beberapa alasan tidak

dischargeable dalam perkara kepailitan. Perhatian utama debitur individu dalam

kasus Chapter 7 adalah untuk mempertahankan properti dengan membebaskan dan

menerima penjualan aset yang mencakup sebagai hutang sebanyak mungkin. 84

Ternyata di dalam Bankruptcy Code Amerika Serikat yang diatur di dalamnya

mengenai Likuidasi. Fungsi likuidator juga dapat menjalankan perusahaan apabila

ada suatu perjanjian-perjanjian kerja sama yang belum diselesaikan. Apabila

memperoleh keuntungan hal tersebut dapat menjadi nilai tambah pada aset debitur.

6. The Chapter 7 Discharge

Pada The Chapter 7 Discharge diharapkan kepada pemohon untuk

berkonsultasi dengan penasehat hukum yang berkompeten sebelum mengajukan

untuk membahas ruang lingkup debitur tersebut. Secara umum, termasuk kasus-kasus

83
Ibid.
84
Ibid.
49

yang diberhentikan atau dikonversi, debitur individu menerima debit lebih dari 99%

dari kasus Chapter 7. Dalam kebanyakan kasus, kecuali sebuah pihak yang

berkeinginan untuk mengklaim objek, Pengadilan Kebangkrutan (Pengadilan Niaga)

akan mengeluarkan perintah debit yang relatif awal dalam kasus umumnya. Waktu 60

sampai dengan 90 hari setelah tanggal pertama ditetapkan untuk pertemuan kreditur.85

Dasar-dasar untuk menolak suatu debitur individual debit pada kasus Chapter

7 adalah pihak-pihak yang berpindah-pindah. Di antara alasan lain, pengadilan dapat

menolak debitur yang tidak menyertakan laporan keuangan, tidak menjelaskan laba

rugi terhadap aset yang dimiliki, melakukan kejahatan pailit seperti sumpah palsu,

gagal mematuhi perintah yang sah dari Pengadilan Kebangkrutan (Pengadilan Niaga),

atau menghancurkan properti yang akan menjadi milik warisan, atau gagal untuk

menyelesaikan kursus instruksional yang disetujui oleh manajemen keuangan. (11

United State Code § 727). 86

Kreditur akan mempertahankan beberapa hak-haknya untuk memperoleh

properti yang dimiliki debitur walaupun sebuah penetapan discharged ini telah

dikeluarkan pengadilan. Tergantung pada keadaan pemohon, jika debitur memohon

untuk menjaga properti yang dijamin (seperti mobil), debitur mungkin memutuskan

untuk “reaffirm” hutang. Penegasan kembali adalah suatu perjanjian antara debitur

dan kreditur bahwa debitur akan tetap bertangung jawab dan akan membayar seluruh

atau sebagian dari uang yang terutang, meskipun hutang sebaliknya akan habis dalam

85
Ibid.
86
Ibid.
50

proses kepailitan. Sebagai gantinya, kreditur tidak akan mengambil mobil tersebut

selama debitur menunjukkan pembayaran kepada kreditur. 87

Jika debtiru memutuskan untuk menegaskan kembali hutangnya, maka debitur

harus melakukan sebelum debit dimasukkan. Debitur harus menandatangani

perjanjian tertulis dan penegasan kembali melalui pengadilan (11 United State Code

§ 524 c). Bankruptcy Code mensyaratkan bahwa perjanjian penegasan kembali harus

berisi serangkaian luas pengungkapan yang dijelaskan dalam (11 United State Code §

524 k). Antara lain, pengungkapan yang harus diberitahu kepada debitur dari jumlah

hutang yang akan ditegaskan kembali dan bagaimana hal tersebut dihitung dan

ditegaskan kembali itu berarti bahwa kewajiban pribadi debitur untuk hutang yang

tidak akan habis dalam kepailitan. Pengungkapan juga mengharuskan debitur untuk

menandatangani dan melampirkan laporan laba rugi tahun berjalan dan biaya yang

menunjukkan bahwa saldo pembdapatan membayar biaya yang cukup untuk

membayar penegasan kembali hutang tersebut. Jika saldo tidak cukup untuk

membayar hutang yang akan ditegaskan kembali tersebut, ada dugaan dari kesulitan

yang tidak semestinya, dan pengadilan dapat memutuskan untuk tidak menyetujui

perjanjian penegasan kembali. Kecuali debitur diwakili oleh pengacara, hakim

kepailitan harus menyetujui perjanjian penegasan kembali. 88

Jika debitur diwakili oleh pengacara sehubungan dengan perjanjian penegasan

kembali, pengacara harus menyatakan secara tertulis bahwa pengacara tersebut

menyarankan debitur dari efek hukum dan konsekuensi dari perjanjian yang akan

87
Ibid.
88
Ibid.
51

dibuat, termasuk hal-hal yang sudah ada dalam perjanjian itu. Pengacara itu juga

harus menyatakan bahwa debitur sepenuhnya menginformasikan dan secara sukarela

membuat kesepakatan dan penegasan kembali hutang tidak akan menciptakan

kesulitan yang tidak semestinya untuk debitur atau keluarga debitur (11 United State

Code § 524 k). Bankruptcy Code membutuhkan pendengaran penegasan kembali jika

debitur belum diwakili oleh pengacara selama negosiasi perjanjian, atau jika

pengadilan menyetujui perjanjian penegasan kembali (11 United State Code

§ 524 d dan m). Debitur dapat membayar seluruh hutang secara sukarela,

bagaimanapun caranya, walaupun tidak ada kesepakatan penegasan kembali (11

United State Code § 524 f). 89

Dalam hal likuidasi diterima oleh Pengadilan Kepailitan/Kebangkrutan

(Penagdilan Niaga) atau dengan kata lain Chapter 7 terpenuhi maka kreditur tidak

dimungkinkan lagi untuk melanjutkan tindakan hukum lainnya terhadap debitur. Tapi

tidak semua hutang dari Pemohon/Debitur dihapus dengan Chapter 7. Hutang tidak

habis termasuk hutang untuk tunjangan dan tunjangan anak, pajak tertentu, hutang

dengan pasti kelebihan pembayaran manfaat pendidikan atau pinjaman dibuat atau

dijamin oleh unit Pemerintah, hutang asuransi kematian, hutang asuransi jaminan

dana kecelakaan, dan hutang untuk perintah restitusi kriminal (11 United State Code

§ 523 a). Debitur akan terus bertanggung jawab untuk jenis hutang sejauh mereka

tidak dibayar dalam hal Chapter 7. Hutang untuk uang atau harta yang diperoleh

palsu, hutang untuk penipuan atau penyalahgunaan kepercayaan sementara bertindak

dalam kapasitas fidusia, dan hutang untuk asuransi kesehatan disengaja atau

89
Ibid.
52

berbahaya oleh debitur untuk entitas lain atau milik entitas lain akan dibuang kecuali

kreditur tepat waktu melampirkan bukti hutang dan berlaku dalam sebuah tindakan

untuk memiliki hutang tersebut dinyatakan non-dischargeable (11 United State Code

§ 523 c).90

Pengadilan dapat membatalkan sebuah permohonan likuidasi atas permintaan

trustee, kreditur, jika aset tersebut berasal dari penipuan oleh debitur. Jika debitur

membeli properti yang dengan sengaja dan curang dalam laporan pembeliannya maka

properti tersebut diserahkan kepada trustee, atau jika debitur (tanpa penjelasan

memuaskan) membuat kesalahan terhadap materi-materi yang disajikan atau gagal

untuk menyediakan dokumen atau informasi lainnya sehubungan dengan audit kasus

debitur (11 United State Code § 727 d). 91

Permohonan likuidasi di Amerika Serikat juga harus berdasarkan saran dari

pengacara atau konsultan hukum. Bagi debitur yang ingin melikuidasi perusahaannya

maka pemohon harus mengikuti segala tata cara yang berlaku. Tata cara tersebut juga

harus dibarengi dengan kejujuran dari debitur mengenai asal-muasal aset yang

dimilikinya sehingga dapat memudahkan trustee untuk melakukan penjualan aset-aset

agar dapat dibayarkan kepada kreditur. Dalam peraturan kepailitan Amerika Serikat

kelihatan adanya perlindungan kepada debitur. Namun, apabila debitur tersebut tidak

benar dalam mengajukan lampiran-lampiran dalam permohonannya maka

perlindungan tersebut akan berkurang dan lebih mengutamakan kreditur. Jadi, ada

90
Ibid.
91
Ibid.
53

keseimbangan hukum disini antara kreditur dan debitur mengenai penyelesaian

hutang-piutang.

Setelah mengetahui peraturan mengenai likuidasi yang berlaku di Amerika

Serikat, selanjutnya akan dibahas mengenai likuidasi Perseroan Terbatas yang ada di

Indonesia. Likuidasi di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas, dan untuk masalah penyelesaian hutang-piutangnya

diatur dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang.

B. Pengaturan Mengenai Likuidasi dalam Undang-Undang No. 40 Tahun


2007 tentang Perseroan Terbatas

1. Pengertian Likuidasi

Tidak ditemukan satu pasalpun di dalam KUHD ataupun KUH Perdata yang

menggunakan istilah likuidasi. Dari beberapa kepustakaan yang ada, banyak yang

membahas dalam bab yang diberi judul berakhirnya perseroan terbatas. Pemecahan

atau bubarnya perseroan terbatas untuk menjelaskan tentang likuidasi. Secara umum,

penyebutan likuidasi sudah menjadi suatu istilah yang dapat dimengerti di dalam

masyarakat.92

Jika ditinjau dari asal katanya, yang dimaksud dengan bubarnya atau

berakhirnya sebenarnya adalah ”ontbinding”, dimana arti yang lebih mendekati

ketepatan adalah ”pemecahan”. Pemecahan disini dimaksudkan adalah pecahnya para

92
Murni, “Analisis Terhadap Likuidasi Persekutuan Komanditer (CV), Untuk Menjadi
Perseroan Terbatas (PT) dalam Perspektif Hukum Ekonomi”, (Tesis : Universitas Diponegoro
Semarang, 1998), hal. 79.
54

pemegang saham dengan tujuan untuk menghakhiri berdirinya persekutuan. Setelah

pecahnya para Pemegang Saham bukan berarti langsung perseroan terbatas menjadi

bubar, akan tetapi para Pemegang Saham masih harus melakukan beberapa urusan

yang sifatnya pemberesan terhadap perseroan terbatas yang masih berjalan beberapa

waktu lagi (loopende zaken), seperti pembayaran hutang-hutang dan tagihan-tagihan

perseroan terbatas kepada pihak ketiga, pembagian keuntungan atau saldo kepada

para Pemegang Saham jika masih ada, dan sebagainya. Setelah urusan pemberesan

selesai barulah Perseroan Terbatas tersebut dinyatakan bubar (einde). Segala proses

yang terjadi dari mulai pemecahan sampai urusan pemberesan itu disebut dalam

banyak literatur hukum sebagai likuidasi. 93

Meskipun KUHD tidak menggunakan istilah likuidasi, namun kepustakaan

hukum banyak yang menggunakan istilah likuidasi, dan peraturan yang dikeluarkan

sekarang ini telah memasukkan likuidasi dalam pasal-pasal khusus, bahkan

digunakan pula sebagai judul peraturan, yaitu peraturan yang berkaitan dengan

lembaga keuangan perbankan. Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang

Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pada Pasal 37

ayat (3), yang menyebutkan bahwa94 :

”Dalam hal direksi bank tidak menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang


Saham sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pimpinan Bank Indonesia
meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisi
pembubaran badan hukum bank, penunjukan tim likuidasi, dan perintah
pelaksanaan likuidasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku”.

93
Ibid., hal. 79-80.
94
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun
1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790.
55

Meskipun ketentuan tersebut tidak memberikan definisi, ciri-ciri, dan struktur

hukum terhadap makna lembaga likuidasi, namun terminologi likuidasi telah

dimasukkan di dalam perundang-undangan. Tampaknya undang-undang perbankan

melihat likuidasi dalam pengertian luas, yaitu sebagai suatu proses, yang diawali

dengan pembubaran dan diikuti dengan pemberesan. Jadi istilah likuidasi ini mecakup

lembaga pembubaran dan pemberesan,95 meskipun tidak disebutkan dalam pasal-

pasalnya.

Agar lebih jelas, kiranya perlu diketahui pula pengertian likuidasi dari

berbagai literatur, antara lain :

Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyebutkan bahwa96 :

”Likuidasi adalah proses membubarkan perusahaan sebagai badan hukum


yang meliputi pembayaran kewajiban kepada para kreditur dan pembagian
harta yang tersisa kepada pemegang saham (persero)”.

Kamus Hukum Ekonomi Elips, menyebutkan bahwa97 :

”Liquidation adalah pembubaran perusahaan diikuti dengan proses penjualan


harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan hutang, serta penyelesaian
sisa harta atau hutang antara para pemegang saham”.

Kamus Perbankan, menyebutkan bahwa98 :

”Likuidasi adalah suatu tindakan untuk membubarkan suatu perusahaan atau


badan hukum”.

Black’s Law Dictionary, menyebutkan bahwa99 :

95
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung : Alumni, 1994), hal. 124,
sebagaimana dikutip Murni, Op.cit.
96
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, ”Likuidasi”,
http://kamusbahasaindonesia.org/likuidasi., diakses pada 08 Mei 2011.
97
ELIPS, Kamus Hukum Ekonomi Elips, (Jakarta : Proyek Elips, 1997).
98
Institut Bankir Indonesia, Kamus Perbankan Indonesia, (Jakarta : Institut Bankir Indonesia,
1980).
56

”Liquidation is the act or process of setting or making clear, fixed and


determinate that which before was uncertain or unascertained”.

Dalam pandangan ahli hukum Andi Hakim, likuidasi diartikan sebagai

penyelesaian, khususnya untuk badan hukum/organisasi lain mengenai pengakhiran,

setelah keputusan untuk membubarkannya, suatu badan hukum setelah

pembubarannya masih bekerja untuk menyelesaikan urusannya.100

Sementara itu Van Schilfgaarde dan Doorhout Mees dalam Van de BV en de

NV dan Nederlands Handels en Faillissementrecht mengemukakan101 :

“Likuidasi (pembubaran) adalah penghentian kegiatan Perseroan Terbatas


sebagai akibat dari berakhirnya tujuan perseroan. Pembubaran tidak
mempunyai arti identik dengan “berakhirnya” eksistensi perseroan. Perseroan
adalah subjek hukum, memiliki aktiva dan pasiva. Setelah pembubarannya
diucapkan, eksistensinya tetap ada dengan catatan bahwa posisinya itu dalam
stadium likuidasi (pembubaran). Hak yang dimilikinya harus direalisasikan
dan kewajiban yang dipikulnya wajib dipenuhi. Perseroan Terbatas tidak
boleh lagi melakukan hak dan kewajibannya itu. Perseroan Terbatas itu ada
sepanjang diperlukan untuk pemberesan”.

Pemerintah banyak mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang

menggunakan istilah-istilah yang berkembang di dalam dunia usaha akibat dari

masuknya Indonesia ke World Trade Organization (WTO). Undang-Undang No. 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas merupakan salah satu produk hukum yang

dikeluarkan untuk tujuan mengurangi resktriktif yang ada pada peraturan

sebelumnya. Peraturan ini mengalami banyak penyempurnaan mengenai masalah

likuidasi.

99
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, Fifth Edition, h. 639, sebagaimana dikutip
Murni, Op.cit.
100
Andi Hakim, Kamus Hukum, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986), hal. 354, sebagaimana
dikutip Murni, Op.cit., hal. 82.
101
Sebagaimana dikutip Mariam Darus Badrulzaman dalam Rachmadi Usman, Op.cit., hal.
168.
57

Di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

pengertian likuidasi dibedakan dengan pembubaran, dikatakan dalam Pasal 142 ayat

(1), bahwa pembubaran merupakan proses menuju ke arah likuidasi yang selanjutnya

akan diikuti dengan likuidasi oleh likuidator. Walaupun ketentuan ini tidak dijelaskan

mengenai likuidasi, namun mengenai sebab-sebab terjadinya likuidasi, proses

pembubaran dan pemberesannya diatur cukup rinci mulai dari Pasal 142 sampai

dengan Pasal 152. 102

Sebenarnya ada suatu keadaan yang sangat mirip dengan likuidasi yaitu yang

disebut “Kepailitan” (Faillisement, Bankruptcy). Pailit adalah suatu keadaan dimana

debitur berada dalam keadaan tidak mampu membayar hutang-hutang kemudian

kreditur memohon kepada hakim agar dinyatakan pailit. 103 Kadang kala kepailitan

dapat menjadikan suatu badan usaha dapat dilikuidasi, namun likuidasi tidak selalu

disebabkan oleh kepailitan. 104

Kerangka pengertian likuidasi, memberikan kemungkinan yang lebih luas

mengenai sebab-sebab terjadinya likuidasi, misalnya karena ingin bergabung dengan

perusahaan lain (merger) atau ingin merubah bentuk badan usaha. Demikian juga

mengenai akibat hukum dari likuidasi adalah berbeda dengan akibat hukum dari

terjadinya kepailitan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pada terminologi

likuidasi dan kepailitan terdapat perbedaan yang cukup prinsipil. Yang pertama,

terjadinya likuidasi tidak selalu disebabkan karena ketidakmampuan membayar

hutang-piutang. Sebab pada saat terjadinya likuidasi kadang kala aset/harta kekayaan

102
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
103
Sunarmi, Hukum Kepailitan, Terbitan Pertana, (Medan : USU Press, 2009), hal. 20.
104
Murni, Op.cit., hal. 83.
58

perseroan masih ada (tidak habis). Namun kepailitan terjadi oleh karena

ketidakmampuan membayar hutang-piutang, memang sudah tidak tersisa lagi harta

kekayaan perseroan.105

Kedua, dalam likuidasi selalu akan mengakibatkan eksistensi suatu badan

menjadi bubar/berakhir, sedangkan dalam kepailitan tidak selalu mengakibatkan

bubarnya perseroan, oleh karena dapat diambil alih oleh pemilik yang baru, seorang

kreditur atau pihak ketiga lainnya. Ketiga, likuidasi dapat terjadi tanpa putusan

pengadilan atau dengan putusan dari pengadilan, sedangkan terjadinya kepailitan

dengan melalui putusan pengadilan, dimana sebelumnya harus ada permohonan

kepada hakim komisaris. 106

Vollmar menekankan bahwa orang harus dapat membedakan antara

pembubaran kebersamaan perkawinan dengan pembubaran pada kebersamaan dalam

perseroan. Pembubaran perkawinan menyangkut lenyapnya atau putusnya suatu

hubungan hukum, sedangkan pada pembubaran perseroan, usaha yang dijalankan

bersama berakhir dalam arti bahwa lantas tidak dapat diterimanya pekerjaan-

pekerjaan baru, dan disitu masih ada sesuatu yang harus diselesaikan, hutang-piutang

yang ada masih harus dilunasi, harus ada perhitungan keuntungan dan kerugian. 107

Menelusuri beberapa pengertian dari para ahli dan sumber kepustakaan yang

ada, maka dapat membantu penegasan bahwa likuidasi merupakan suatu proses

berangkai yang diawali dari tahap pemberesan, keseluruhan proses tersebut yang

105
Ibid., hal. 83-84.
106
Ibid., hal. 84-85.
107
F.H.F.A. Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, Jilid II, Cetakan I, Terjemahan I.S.
Adiwimarto, (Jakarta : Rajawali Press, 1984), hal. 372-372, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit., hal.
85.
59

disebut dengan likuidasi. Proses likuidasi itu selesai barulah suatu badan hukum itu

dapat dikatakan bubar/berakhir. 108

Seiring dengan semakin pesatnya dunia usaha, kemajuan dan kehancuran

usaha dapat terjadi dengan berbagai sebab. Kompleksitas persoalan bubarnya suatu

usaha juga tidak dibatasi hanya dengan apa yang dikatakan peraturan saja melainkan

masih bisa disebabkan oleh berbagai macam keadaan-keadaan diluar ketentuan

perundang-undangan. Oleh sebab itu, banyak kalangan yang berpendapat bahwa

ketentuan mengenai bubarnya perseroan bukanlah suatu ketetapan yang bersifat harga

mati. 109

2. Pembubaran dan Likuidasi Perseroan Terbatas

Pembubaran dan likuidasi perseroan terbatas berpedoman pada Pasal 142 ayat

(1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dapat terjadi

karena 110 :

a. “Berdasarkan keputusan RUPS;


b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah
berakhir;
c. Berdasarkan penetapan pengadilan;
d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup
untuk membayar biaya kepailitan;
e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam
keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tenang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; atau
f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan
melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

108
Murni, Op.cit., hal. 85.
109
Ibid., hal. 90.
110
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
60

Dengan demikian, jika perseroan telah bubar maka perseroan tidak dapat

melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayaan dalam proses

likuidasi. Sementara itu, dalam proses pemberesan (likuidasi) yang dilakukan oleh

likuidator maka mengenai nama-nama anggota ditentukan oleh Rapat Umum

Pemegang Saham (RUPS) jika perseroan tersebut dibubarkan berdasarkan keputusan

RUPS. Namun, jika keanggotaan likuidator dapat diangkat oleh pengadilan, sehingga

pembubaran perseroan tersebut berdasarkan penetapan pengadilan. Selain itu, jika

pembubaran perseroan telah diputuskan dua lembaga, dalam hal ini tidak disertai

penunjukan likuidator maka direksi secara ex officio bertindak sebagai likuidator. 111

Selain itu, pengangkatan dan pemberhentian likuidator perseroan terbatas atas

permohonan satu orang atau lebih yang berkepentingan atau atas permohonan

kejaksaan. Ketua Pengadilan Negeri dapat mengangkat likuidator baru dan

memberhentikan likuidator lama, karena yang bersangkutan tidak melaksanakan

tugas sebagaimana mestinya atau dalam hal hutang perseroan melebihi kekayaan

perseroan.112

Dalam pada itu, kewajiban likuidator dari perseroan terbatas menurut Pasal

147 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang

menyatakan bahwa113 :

“Dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak
tanggal pembubaran Perseroan, likuidator wajib memberitahukan :

111
Elsi Kartika Sari dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, (Jakarta :
Grasindo, Tanpa Tahun), hal. 65-66.
112
Ibid., hal. 66.
113
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
61

a. Kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dengan cara


mengumumkan pembubaran Perseroan dalam surat kabar dan Berita
Negara Republik Indonesia; dan
b. Pembubaran Perseroan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar
Perseroan bahwa perseroan dalam likuidasi”.

Dengan kata lain, berdasarkan ketentuan di atas dapat diartikan bahwa

likuidator dari perseroan yang telah bubar wajib memberitahukan kepada semua

kreditornya dengan surat tercatat mengenai bubarnya perseroan. Pemberitahuan

tersebut memuat nama dan alamat likuidator, tata cara pengajuan tagihan, dan jangka

waktu mengajukan tagihan yang tidak boleh lebih dari 60 hari terhitung sejak surat

pemberitahuan diterima. 114 Kreditor yang mengajukan tagihan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku tetapi ditolak, dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan

Negeri, paling lambat 60 hari terhitung sejak tanggal penolakan.115 Likuidator wajib

mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi sesuai ketentuan yang

berlaku. 116

Perseroan yang sedang dalam proses likuidasi harus selalu mencantumkan

kata “Dalam Likuidasi” di belakang nama perseroan di setiap surat keluar. Likuidator

wajib memberitahukan mengenai bubarnya perseroan kepada semua kreditor

perseroan dengan surat tercatat.117 Likuidator bertanggung jawab kepada RUPS untuk

melakukan likuidasi yang dilakukannya atas kekayaan perseroan. Sisa kekayaan hasil

114
Pasal 147 ayat (2) dan (3), Ibid.
115
Pasal 150 ayat (1), Ibid.
116
Pengumuman tersebut seperti yang tercantum dalam Pasal 149 ayat (1) huruf b., yang
menyatakan bahwa “Kewajiban likuidator dalam melakukan pemberesan harta kekayaan Perseroan
dalam proses likuidasi meliputi pelaksanaan : b. Pengumuman dalam surat kabar dan Berita Negara
Republik Indonesia mengenai rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi”, Ibid.
117
Pasal 143 ayat (2), Ibid.
62

likuidasi dibagikan kepada pemegang saham secara proporsional.118 Likuidator wajib

mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi tersebut dan

mengumumkannya dalam dua surat kabar harian. 119

Pembubaran sebagaimana tersebut di atas wajib untuk dilakukan pendaftaran

dan pengumuman tentang telah dibubarkannya perseroan. Dalam pendaftaran dan

pengumuman wajib disebutkan nama dan alamat likuidator. Jika hal itu tidak

dilakukan, akibat bubarnya perseroan tidak berlaku bagi pihak ketiga. Jika likuidator

lalai melakukan pendaftaran dan pengumuman, likuidator secara tanggung renteng

bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pihak ketiga. 120

Jika perseroan bubar, perseroan tidak dapat melakukan perbuatan hukum,

kecuali diperlukan untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi.

Tindakan pemberesan dari likuidator meliputi121 :

1. Pencatatan dan pengumpulan kekayaan perseroan;

2. Penentuan tata cara pembagian kekayaan;

3. Pembayaran kepada para kreditur;

4. Pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham; dan

5. Tindakan-tindakan lain yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan pemberesan

kekayaan.

118
Pasal 149 ayat (1) huruf d., Ibid.
119
Pasal 147 ayat (4) huruf b., Ibid.
120
Frans Satrio Wicaksono, Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris
Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, (Jakarta : Visimedia, Oktober 2009), hal. 38. Lihat Pasal 149
ayat (1) huruf b., Ibid.
121
Ibid., hal. 38-39. Lihat Pasal 149 ayat (1). Ibid.
63

Setelah mengetahui kewajiban likuidator, selanjutnya dapat ditarik

kesimpulan mengenai tanggung jawab likuidator. Mengenai tanggung jawab ini dapat

dilihat melalui hak dan tanggung jawab Pemegang Saham maupun Likuidator. Jika

ada hak pemegang saham maka disitu ada kewajiban likuidator. Begitu juga

sebaliknya, jika ada hak Likuidator maka ada tanggung jawab Pemegang Saham.

3. Tanggung Jawab Likuidator

Tanggung jawab likuidator adalah kepada Pemegang Saham karena

Likuidator ditunjuk berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), atau

dengan kata lain atas kehendak dari RUPS. Seluruh tanggung jawab likuidator dapat

dilihat berdasarkan Pasal 149 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas. Jika dibandingkan dengan Likuidasi di Amerika Serikat

mengenai tanggung jawab Likuidatornya atas penyelesaian hubungan perjanjian kerja

sama, apabila di Amerika Serikat, Likuidatornya berhak untuk menjalankan atau

menyelesaikan perjanjian kerja sama ataupun perjanjian bisnis yang masih berjalan

tetapi dengan persyaratan seluruh hasil kekayaan hasil hubungan kerja tersebut harus

dimasukkan ke dalam harta likuidasi sebagai aset yang akan dibagikan nantinya

kepada Kreditur ataupun Pemegang Saham. Begitu juga dengan di Indonesia, bahwa

Likuidator juga berperan sampai pada tahap seperti di Amerika Serikat. Dapat

dikatakan peran Likuidator Perseroan Terbatas adalah sebagai fasilitator dalam hal

pemberesan harta kekayaan dan pembubaran Perseroan Terbatas.

Tujuan pemberesan harta kekayaan ini adalah agar tercapailah makna dari

hukum itu, yaitu keadilan. Pemegang Saham sudah pasti tidak terdiri dari satu orang
64

saja (individu) ataupun satu perusahaan (badan hukum) walaupun undang-undang

mengizinkan untuk itu. Jadi, oleh karena itu pembagian sisa hasil kekayaan setelah

pembayaran hutang dan penagihan piutang yang ada barulah dibagikan kepada

Pemegang Saham. Disinilah peran dari Likuidator dalam memfasilitasi hal tersebut

secara adil dan merata. Likuidator harus berlaku adil terhadap besaran saham yang

dimiliki setiap subjek hukum sebagai Pemegang Sahamnya..

Likuidator juga bertanggung jawab kepada Pengadilan yang mengangkatnya

atas likuidasi Perseroan Terbatas yang dilakukan. 122 Likuidator wajib

memberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia

(Menkumham)123 dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam surat kabar

setelah RUPS memberikan pelunasan dan pembebasan kepada likuidator atau setelah

Pengadilan menerima pertanggung jawaban likuidator yang ditunjuknya.124

Likuidator dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang. Likuidator dapat

dipilih dari para karyawan ataupun pengurus perusahaan bertindak langsung secara

mandiri, ataupun juga orang di luar persekutuan (dalam hal ini Konsultan Hukum

atau Pengacara). Bila tidak terdapat kesepakatan, maka dapat dimintakan kepada

Pengadilan Negeri setempat untuk menunjuk likuidatornya. Untuk itu sebaiknya sejak

saat perseroan didirikan telah diadakan pengaturan dalam anggaran dasar perseroan

mengenai pihak yang bertindak sebagai likuidator. 125

122
Pasal 146 ayat (2) jo. Pasal 152 ayat (1), Ibid.
123
Pasal 152 ayat (8), Ibid.
124
Memberikan “pelunasan dan pembebasan kepada Likuidator” artinya adalah bahwa
Pemegang Saham perseroan terbatas tersebut melaksanakan kewajibannya dalam hal pembayaran
berupa uang tunai sesuai dengan yang diperjanjikan pada saat RUPS penunjukan likuidator.
125
Murni, Op.cit., hal. 97.
65

Dalam hal penunjukan likuidator, Vollmar mengatakan bahwa126 :

“Jika tidak ditentukan dalam anggaran dasar mengenai siapa yang dapat
bertindak sebagai likuidator dan berapa jumlah yang dikehendaki, maka
disinilah mereka secara bersama-sama dapat bertindak sebagai likuidator”.

Tugas likuidator ini selain melakukan urusan penghitungan juga harus

mendaftarkan akte pembubaran perseroan ke Pengadilan Negeri setempat barulah

setelah itu mendaftarkannya ke Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia

(Depkumham) untuk diumumkan di Berita Negara Republik Indonesia. Pengumuman

pada surat kabar sesungguhnya untuk menunjukkan iktikad baik dari pembubaran

perseroan terbatas tersebut agar diketahui oleh pihak ketiga (kreditur). 127

a. Internal

Proses pemberesan dikatakan selesai apabila penagihan dari pihak ketiga

sudah dilunasi semuanya (seluruh kreditur). Setelah itu barulah honorarium para

likuidator, dan bila masih ada sisa, maka dapat diadakan pembagian antara para

sekutu, sedangkan jika tidak terdapat sisa, maka pembagian beban kerugian

ditetapkan sesuai dengan aturan dalam perjanjian pendirian perseroan (anggaran

dasar) dan bilamana tidak diperjanjikan maka akan dibagi sesuai dengan imbangan

nilai pemasukannya. Akan tetapi, apabila beberapa waktu kemudian masuh muncul

kreditur baru yang mendalilkan bahwa dirinya mempunyai beberapa tagihan yang

masih belum terbayar, maka perkara tersebut harus diserahkan kepada hakim. Hakim

dapat membuka kembali arsip pemberesannya, sepanjang ada bukti yang menguatkan

126
F.H.F.A. Vollmar, Op.cit., hal. 376, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit., hal. 98.
127
Ibid.
66

untuk itu, bahkan dimungkinkan hakim mengangkat seorang likuidator baru bila

diperlukan. 128

Setelah likuidator betul-betul telah selesai melaksanakan tugas pemberesan,

maka likuidator harus memberikan laporan hasil penghitungannya itu secara internal

kepada struktur Perseroan Terbatas yaitu Pemegang Saham. Penyampaian laporan

tersebut pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Laporan disampaikan

secara tertulis dengan disertai segala dokumen-dokumen yang menunjang. Setelah

para perseroan meneliti semua laporan, apakah semua kreditur sudah dilunasi

termasuk honorarium likuidator, maka likuidator dapat dibebaskan dari tanggung

jawab atas tugas-tugasnya.129

b. Eksternal

Dalam menjalankan tugas pemberesan, likuidator tidak hanya

bertanggungjawab menyampaikan laporannya saja kepada para Pemegang Saham

ataupun Pengadilan tapi juga likuidator harus bertanggung jawab secara eksternal

yang berkaitan dengan pihak luar. Pada azasnya, dalam setiap bentuk badan usaha,

baik yang berbentuk Perseroan maupun Persekutuan, tanggung jawab eksternal

adalah berkaitan dengan pihak luar. Pihak luar disini maksudnya adalah para kreditur

atau masyarakat luas, namun pada beberapa bentuk badan usaha tertentu. Tanggung

128
Ibid., hal. 98-99.
129
Ibid., hal. 99.
67

jawab eksternal itu tidak hanya berkaitan dengan para kreditur perseroan saja tetapi

juga menyangkut tanggung jawab kepada lembaga pemerintah.130

Misalnya, dalam struktur Perseroan yang bergerak di lingkungan lembaga

keuangan atau perbankan, likuidator bertanggung jawab kepada pejabat pemerintah

yang berwenang, dalam hal ini adalah Menteri Keuangan. Jika perseroan tersebut

bergerak di luar bidang keuangan, likuidator harus memberikan laporan pertanggung

jawaban tugasnya kepada menteri tekhnis yang membawahi bidang usaha perseroan

tersebut, dalam kapasitasnya sebagai forum RUPS.131

Dalam struktur Perusahaan Daerah, laporan pertanggung jawaban juga harus

diberikan kepada Pemerintah Daerah yang mendirikan perusahaan yang

bersangkutan.132 Dalam hal seorang likuidator yang pengangkatannya ditunjuk oleh

hakim juga harus memberikan laporan pertanggung jawaban itu kepada hakim.

Sedangkan bagi perseroan terbatas, tanggung jawab likuidator secara eksternal adalah

berkaitan dengan pelunasan kepada para kreditur perseroan.133

Setelah mengetahui ruang lingkup likuidasi dan tugas-tugas likuidator tersebut

di atas, maka selanjutnya akan dibahas mengenai perkembangan Likuidasi dalam

kegiatan bisnis. Likuidasi dalam kegiatan berusaha.

130
Ibid., hal. 101.
131
Ibid.
132
Sebagai contoh Perusahaan Daerah adalah dapat dilihat pada PT.Bank Sumut dan
PT.Pembangunan Prasarana Sumatera Utara, disini Pemegang Sahamnya adalah Pemerintah Daerah
yaitu Kepala Daerah.
133
Murni, Loc.cit.
68

4. Perkembangan Likuidasi dalam Kegiatan Bisnis

Pada dasarnya likuidasi dapat dipahami sebagai arti dari pembubaran, dan

prosedur likuidasi dalam arti luas mengandung suatu proses, dimana tahap awal dari

proses tersebut adalah pecah/bubarnya para perseroan dan diikuti dengan tahap

pemberesan.134 Akibat hukum dari terjadinya likuidasi adalah bubarnya eksistensi

suatu badan hukum. Dengan pesatnya perkembangan kegiatan bisnis, menjadikan

semakin ketatnya persaingan di dalam dunia usaha. Tampaknya masalah umum yang

sering menjadi persoalan dunia usaha adalah kesedian sumber dana atau modal yang

tidak cukup bagi perseroan agar tetap eksis di dalam menjalankan kegiatan usaha.135

Untuk itulah berbagai strategi bersaing telah banyak dikembangkan dalam

prakteknya, seperti melalui strategi merger, akuisisi, konsolidasi, dan likuidasi.

Likuidasi untuk merger ataupun likuidasi untuk menutup badan hukum atau

menyudahi badan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa dunia usaha itu menuntut

adanya perubahan-perubahan (inovasi) baik dari aspek hukum maupun aspek

manajerial, seperti perubahan kinerja, perubahan organisasi kepemilikan, ataupun

penyempurnaan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam

beberapa tahun terakhir, upaya merger dan likuidasi juga telah dilakukan oleh

pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan negara (BUMN) yang dinilai mengalami

kesulitan keuangan serta tidak dapat mengembangkan usaha atau yang sering kali

dikatakan sebagai perusahaan yang tidak sehat.136 Berdasarkan Surat Keputusan

134
Gunawan Widjaja, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas : 150 Tanya Jawab Tentang
Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, (Jakarta : Forum Sahabat, Agustus 2008), hal. 122.
135
Murni, Loc.cit., hal. 102.
136
Ibid.
69

Menteri Keuangan No. 749/1989 yang menyebutkan bahwa kriteria penilaian BUMN,

yaitu : rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Sebagai contoh : pada tahun 1990, PT.

Pusat Perkayuan Marunda dilikuidasi dan hasil aset likuidasinya disertakan ke PT.

Kawasan Berikat Nusantara,137 PT. Tirta Raya, dan PT. Batu Bara dilikuidasi

kemudian merger dengan PT. Tambang Batu Bara Bukit Asam.

Sebagaimana dalam uraian sebelumnya, dalam arti luas likuidasi dipahami

sebagai suatu proses yang diawali dengan pembubaran dan diikuti dengan

pemberesan, dimana akibat dari likuidasi itu menjadikan bubarnya eksistensi badan

usaha. Terlepas dari apa yang menjadi sebab dan tujuan diadakan likuidasi, kedua

tahap pembubaran dan pemberesan itu perlu dilalui dalam setiap proses likuidasi.

Dalam struktur hukum merger, pengertian merger dipahami sebagai bentuk kerja

sama yang ada di antara perusahaan, yakni adanya sebuah perusahaan yang

mengambil alih satu atau lebih perusahaan yang lain. Setelah terjadi pengambilalihan,

perusahaan yang diambil alih tersebut dibubarkan sehingga eksistensinya sebagai

badan hukum lenyap dan kegiatan usahanya dilanjutkan oleh perusahaan yang

mengambil alih.138 Pada waktu terjadinya pengambilalihan, tentunya perusahaan

137
Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1990 tentang Pembubaran Perusahaan Perseroan
(Persero) PT. Pusat Perkayuan Marunda dan Penambahan Penyertaan Modal Negara yang Berasal dari
Kekayaan Negara Hasil Likuidasi Perusahaan Perseroan (Persero) Tersebut ke Dalam Modal Saham
Perseroan (Persero) PT.Kawasan Berikat Nusantara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1990 Nomor 39.
138
Pasal 1 angka 9, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.,
menyatakan bahwa : “Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau
lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan
pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang
menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri
berakhir karena hukum”.
70

harus berada dalam stadium likuidasi, dimana pada umumnya perusahaan dalam

stadium ini diberi tanda “Dalam Likuidasi”. 139

Dengan demikian, likuidasi untuk merger dapat dipahami bahwa proses

pemberesan itu tidak dilakukan sesuai dengan maksud pemberesan. Jika terdapat

perhitungan dalam pemberesan, hal itu dimaksudkan dalam rangka untuk mengetahui

posisi akhir (sebelum diadakan likuidasi) dari aktiva dan pasiva perusahaan yang

akan di-merger. Biasanya perusahaan-perusahaan yang akan di-merger dapat menjadi

perusahaan cabang dan pemilik perusahaan yang di-merger dapat bergabung dengan

perusahaan hasil merger. 140

Di dalam perkembangan kegiatan bisnis, penggunaan likuidasi tidak hanya

sebagai upaya pembubaran suatu institusi/badan hukum saja namun juga dapat

digunakan sebagai cara pengembangan perusahaan.141 Oleh sebab itu selain likuidasi

itu untuk tujuan merger, diketahui pula adanya likuidasi yang bertujuan untuk

merubah bentuk badan usaha. Hal ini biasanya dilakukan terhadap badan-badan usaha

yang masih berbentuk persekutuan Comanditaire Venootschap (CV) atau Firma

untuk menjadi suatu Perseroan Terbatas (PT).

Dengan begitu banyak perkembangan yang ada mengenai likuidasi perseroan

terbatas hal yang paling mendasar alasan dilikuidasinya perseroan terbatas adalah

ketidaksanggupan untuk tetap bertahan dalam dunia bisnis. Pemerintah sendiri juga

139
Pasal 143 ayat (2), Ibid.
140
Murni, Op.cit., hal. 106.
141
Dalam likuidasi dilakukan untuk pengembangan usaha adalah apabila perusahaan awalnya
berbentuk Comanditaire Venootschap kemudian dilikuidasi untuk didirikan kembali menjadi
Perseroan Terbatas. Lihat : Robert D. Hisrich, Op.cit., Lihat juga Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam
Teori dan Praktik, Buku Kesatu, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 28., sebagaimana dikutip
Ibid., hal. 107.
71

merasakan hal itu dengan melikuidasinya BUMN yang tidak bisa memberikan

keuntungan kepada Negara. Notabene memberikan profit sharing pada saat

pembagian dividen, yang terjadi adalah BUMN tersebut terus-menerus melakukan

permohonan penyertaan modal.

C. Pertimbangan Likuidasi Perseroan Terbatas

Bila ditinjau dari sudut penyebutannya saja, yaitu Perseroan Terbatas (PT),

maka yang terbayang adalah suatu perusahaan besar dengan modal yang cukup kuat.

Secara sederhana penyebutan ini telah dapat menyatakan karakteristik Perseroan

Terbatas, yang tersimpul dari kata “Perseroan” dan “Terbatas”. Dari kedua kata

perseroan dan terbatas itu dapat diartikan bahwa Perseroan Terbatas, seluruh modal

yang dimiliki terbagi dalam sero-sero (saham-saham) sedangkan terbatas memberi

makna pada tanggung jawab para pemegang saham adalah terbatas pada nilai jumlah

saham yang dimilikinya. Sekalipun dalam beberapa kepustakaan belum ditemukan

penjelasan asal-muasal terjadinya penyebutan itu, namun penggunaan istilah itu telah

lazim digunakan dan bahkan kini telah menjadi judul resmi undang-undang, yaitu

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 142

Likuidasi dilakukan berdasarkan keputusan RUPS sesuai dengan yang

tersebut di dalam Pasal 142, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas sudah pasti setiap perseroan terbatas memiliki alasan-alasan dalam hal

pembubaran perseroan. Latar belakang tersebut dapat dilihat pada Akte Risalah Rapat

Umum Pemegang Saham (RUPS) pada saat pembubaran perseroan. Latar belakang

142
Murni, Op.cit., hal. 110-111.
72

sebuah Perseroan Terbatas dilikuidasi dapat disamakan dengan pertimbangan

likuidasi perseroan terbatas. Namun, subjek yang mempertimbangkan hal tersebut

adalah Pemegang Saham sebagai pemilik perseroan. Perkembangan bisnis persreoan

juga menjadi suatu pertimbangan dalam pengambilan keputusan melikuidasi

perseroan.143

Seluruh tindakan direksi dalam Perseroan Terbatas juga harus dicatat melalui

Anggaran Dasar yang perubahannya juga disesuaikan melalui Surat Keputusan

Menteri Hukum dan HAM (SK MENKUMHAM). 144 Hal ini ditempuh agar dapat

diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan memberitahukan

masyarakat luas. Dalam hal likuidasi juga harus diumumkan di Berita Negara

Republik Indonesia.145

Namun, pertimbangan dari dilikuidasi perseroan terbatas tidak dicantumkan

dalam Berita Negara Republik Indonesia. Dalam membahas mengenai “Analisis

Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi” ini tidak

dibahas mengenai aspek-aspek lain mengenai pertimbangan likuidasinya melainkan

143
RUPS adalah organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada
Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas, dan RUPS mengangkat Direksi dan Komisaris. Kemudian
keputusan-keputusan yang menyangkut struktur organisasi Perseroan, yaitu perubahan anggaran dasar,
penggabungan, peleburan, pemisahan, pembubaran dan likuidasi Perseroan, hak dan kewajiban para
pemegangg saham, pengeluaran saham baru dan pembagian/penggunaan keuntungan yang dibuat
Perseroan sepenuhnya menjadi wewenang RUPS. Lihat : Laura Ginting, “Analisis Hukum Kedudukan
Rapat Umum Pemegang Saham pada Perseroan Terbatas Dilihat Dari Anggaran Dasar”, (Tesis :
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008), hal. 107.
144
Veronica Tampubolon, “Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan yang Dimuat
Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)”, (Tesis : Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010).
145
Pasal 149 ayat (1) huruf b., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, Op.cit.
73

hanya pertimbangan bisnis karena perseroan terbatas tidak mencukupi antara

pendapatan dengan pengeluaran.

Oleh sebab itu, para pemegang saham harus turut bertanggung jawab secara

penuh sampai harta kekayaan pribadi atas perbuatan yang dilakukan oleh salah satu

persero, maka akan banyak kendala dalam melacak harta kekayaan pribadi dari tiap-

tiap pemegang saham dan karenanya sulit untuk dapat dilaksanakan. Atas dasar inilah

karakteristik pertanggungjawaban yang terbatas sangat mutlak dilekatkan pada

bentuk Perseroan Terbatas. 146 Dengan melekatnya tanggung jawab terbatas pada

Perseroan Terbatas, hal ini dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi seseorang

yang akan melakukan investasi modalnya ke dalam suatu Perseroan Terbatas, bahwa

harta kekayaan pribadi akan terhindar dari tuntutan para kreditur Perseroan Terbatas,

sementara harapan keuntungan dari Perseroan Terbatas masih dapat diperoleh.147

Adapun yang menjadi pertimbangan dilikuidasinya sebuah perseroan terbatas

dalam riset ini adalah Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Laba Rugi

perseroan terbatas dan Neraca Keuangan didapat bahwa tidak seimbangnya antara

pendapatan dengan pengeluaran. Berbagai cara sudah dilakukan namun tidak

menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini terkait juga dengan hukum persaingan

146
Murni, Op.cit., hal. 112.
147
Dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
maka prinsip pertanggungjawaban kini dapat diterobos dalam hal jika terjadi keadaan-keadaan khusus,
sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 3 ayat (2) yang menyatakan bahwa : “ketentuan-ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila : a. Persyaratan Perseroan sebagai badan
hukum belum atau tidak terpenuhi; b. Pemegang Saham yang bersangutan baik langsung maupun tidak
langsung dengan iktikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi; c. Pemegang
Saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Perseroan;
atau d. Pemegang Saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan
hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak
cukup untuk melunasi utang Perseroan”, Loc.cit.
74

yang semakin ketat. Studi kelayakan (feasibility study) juga dilakukan dalam hal

memperoleh keadaan pasar saat ini, namun didapat bahwa perseroan terbatas (yang

menjadi subjek penelitian ini PT. Schutter Indonesia). Ada juga mengenai

pertimbangan-pertimbangan lain dalam melikuidasi perseroan terbatas yakni :

mengenai infrastruktur yang tidak mendukung, hambatan-hambatan yang terjadi

dalam pengurusan perusahaan baik internal maupun eksternal, dan lain sebagainya.

Jadi, berdasarkan itu pula Pemegang Saham dapat mengambil keputusan untuk

menyudahi atau menutup atau membubarkan perseroan.

D. Pengaturan Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam


Likuidasi

Pengaturan penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas pada saat likuidasi

dilakukan oleh Likuidator. 148 Jika aset cukup maka tidak perlu ditempuh jalur

kepailitan namun sebaliknya apabila aset tidak cukup maka akan ditempuh jalur

tersebut. Dalam hal tidak perseroan memiliki aset yang cukup, maka tidak ada

masalah dalam proses likuidasinya. Sebaliknya jika aset tidak cukup likuidasi akan

terganggu karena proses yang pertama ditempuh adalah melakukan permohonan pailit

ke Pengadilan Niaga dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).149

Permohonan pailit dilakukan berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 37 Tahun

2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Hal pertama sekali yang dilakukan oleh likuidator adalah mengumumkan

selanjutnya diikuti dengan pencatatan dan pengumpulan kekayaan dan utang

148
Pasal 149 ayat (1) huruf c., Ibid.
149
Pasal 104 ayat (1), Ibid.
75

perseroan.150 Pencatatan tersebut bertujuan untuk menghitung seluruh kekayaan

apakah cukup atau tidak dalam hal pembayaran hutang. Selain hutang ada juga

piutang usaha yang harus ditagih oleh likuidator. Hal ini juga bermanfaat agar aset

perseroan terbatas cukup untuk membayar seluruh hutang dan kewajiban perseroan

terbatas.

Sudah dibahas pada bab sebelumnya mengenai asal-muasal hutang piutang

dari perseroan terbatas adalah berasal dari hubungan-hubungan bisnis dengan pihak

lain. Namun, dalam hal ini banyak sekali perjanjian kerja sama yang tidak diberikan

haknya kepada perseroan. Perseroan dilikuidasi bergerak atas nama Perseroan

Terbatas Dalam Likuidasi dilakukan oleh Likuidator. Penyelesaian hutang-piutang

bisa melalui jalur pengadilan (in-court) maupun luar pengadilan (out-court).

Penyelesaian sengketa utang piutang melalui jalur pengadilan, antara lain : a. Gugatan

perdata biasa; b. Arbitrase; c. Proses kepailitan dan atau PKPU. Sedangkan

penyelesaian utang piutang melalui luar pengadilan antara lain dapat menggunakan :

a. Alternative Dispute Resolution (ADR); b. Jasa Mediator “Prakarsa Jakarta”; dan

lain sebagainya. Hal tersebut di atas demi melakukan penegakan hukum.151

Ketegasan masalah sengketa hutang piutang merupakan sengketa perdata

dipertegas dalam beberapa yuridsprudensi, antara lain berdasarkan Putusan

Mahkamah Agung tanggal 11 Maret 1970 No. 93 K/Kr/1969 yang secara jelas dan

tegas menyatakan ”Sengketa tentang hutang-piutang merupakan sengketa perdata”.

Jadi, penjelasan penyelesaian sengketa hutang piutang harus menempuh jalur perdata.

150
Pasal 149 ayat (1) huruf a., Ibid.
151
Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
76

Dalam perusahaan terbatas yang sedang dalam tahap likuidasi, jika ingin menuntut

haknya berupa pembayaran hutang dapat ditempuh jalur pengadilan. Dasar hukumnya

adalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dengan dalil

wanprestasi.152

1. Jalur Pengadilan (Gugatan Perdata Biasa)

Wanprestasi timbul dari persetujuan (agreement). Artinya untuk mendalilkan

suatu subjek hukum telah wanprestasi, harus ada lebih dahulu perjanjian antara kedua

belah pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata 153 :

“Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:


kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; kecakapan untuk membuat
suatu perikatan; suatu pokok persoalan tertentu; suatu sebab yang tidak
terlarang”.

Wanprestasi terjadi karena debitur (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi

isi perjanjian yang disepakati, seperti :

a. Tidak dipenuhinya prestasi sama sekali,

b. Tidak tepat waktu dipenuhinya prestasi,

c. Tidak layak memenuhi prestasi yang dijanjikan,

Pada wanprestasi diperlukan lebih dahulu suatu proses, seperti Pernyataan

lalai (inmorastelling, negligent of expression, inter pellatio, ingeberkestelling). Hal

ini sebagaimana dimaksud Pasal 1243 KUH Perdata yang menyatakan “Perikatan

ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat

152
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23.
153
Ibid.
77

sesuatu” atau jika ternyata dalam perjanjian tersebut terdapat klausul yang

mengatakan debitur langsung dianggap lalai tanpa memerlukan somasi (summon)

atau peringatan. Hal ini diperkuat yurisprudensi Mahkamah Agung No. 186

K/Sip/1959 tanggal 1 Juli 1959 yang menyatakan :

“apabila perjanjian secara tegas menentukan kapan pemenuhan perjanjian,


menurut hukum, debitur belum dapat dikatakan alpa memenuhi kewajiban
sebelum hal itu dinyatakan kepadanya secara tertulis oleh pihak kreditur”.

Pada wanprestasi, perhitungan ganti rugi dihitung sejak saat terjadi kelalaian.

Hal ini sebagaimana diatur Pasal 1237 KUH Perdata yang menyatakan bahwa154 :

“Pada suatu perikatan untuk memberikan barang tertentu, barang itu menjadi
tanggungan kreditur sejak perikatan lahir. Jika debitur lalai untuk
menyerahkan barang yang bersangkutan, maka barang itu, semenjak perikatan
dilakukan, menjadi tanggungannya”.

Pasal 1246 KUH Perdata menyatakan bahwa : “biaya, ganti rugi dan bunga,

yang boleh dituntut kreditur, terdiri atas kerugian yang telah dideritanya dan

keuntungan yang sedianya dapat diperolehnya”.155 Berdasarkan pasal 1246 KUH

Perdata tersebut, dalam wanprestasi, penghitungan ganti rugi harus dapat diatur

berdasarkan jenis dan jumlahnya secara rinci seperti kerugian kreditur, keuntungan

yang akan diperoleh sekiranya perjanjian tersebut dipenuhi dan ganti rugi bunga

(interest).

Dengan demikian kiranya dapat dipahami bahwa ganti rugi dalam wanprestasi

(injury damage) yang dapat dituntut haruslah terinci dan jelas. Meskipun tuntutan

ganti rugi tidak diperlukan secara terinci, beberapa yurisprudensi Mahkamah Agung

membatasi tuntutan besaran nilai dan jumlah ganti rugi, seperti :

154
Ibid.
155
Ibid.
78

a. Putusan Mahkamah Agung No. 196 K/ Sip/ 1974 tanggal 7 Oktober 1976

menyatakan “besarnya jumlah ganti rugi perbuatan melawan hukum,

dipegangi prinsip Pasal 1372 KUH Perdata yakni didasarkan pada penilaian

kedudukan sosial ekonomi kedua belah pihak”.

b. Putusan Mahkamah Agung No. 1226 K/Sip/ 1977 tanggal 13 April 1978,

menyatakan, “soal besarnya ganti rugi pada hakekatnya lebih merupakan soal

kelayakan dan kepatutan yang tidak dapat didekati dengan suatu ukuran”.

Namun, ada kelemahan dalam berperkara pada jalur pengadilan, dimana

pihak-pihak yang ada yang dengan sengaja memperlambat proses ini untuk maksud-

maksud tertentu sehingga penyelesaian perkara terkesan lambat dan makan biaya

yang banyak. Terhadap proses litigasi melalui pengadilan ini muncul berbagai kritik

yang dilontarkan oleh masyarakat pencari keadilan terutama dari pelaku usaha, wujud

kritik tersebut menurut Suyud Margono dapat diuraikan sebagai berikut 156 :

a. “Penyelesaian sengketa ‘lambat’ (waste of time), kelambatan tersebut


diakibatkan oleh pemeriksaan yang sangat formal dan sangat teknis
menjadikan arus perkara semakin deras, beban terlalu banyak (over loaded);
b. Biaya perkara ‘mahal’, apabila dikaitkan dengan lama penyelesaian perkara.
Biaya perkara mahal membuat orang berperkara menjadi lumpuh dan terkuras
waktu dan pikiran (litigation paralyze people);
c. Perkara tidak tanggap (unresponsive), karena dianggap sering mengabaikan
perlindungan hukum dan kebutuhan masyarakat, dan sering berlaku tidak adil
atau unfair;
d. Putusan pengadilan tidak menyelesaikan sengketa, tidak mampu memberikan
penyelesaian yang memuaskan yang memberikan kedamaian dan ketentraman
kepada pihak-pihak disebabkan oleh :
1. Salah satu pihak pasti menang, dan pihak lain pasti kalah (win-lose);
2. Keadaan win-lose akan menumbuhkan bibit dendam, permusuhan serta
kebencian;

156
Suyud Margono, ADR dan Arbitrase, Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, (Jakarta :
Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 65-66., sebagaimana dikutip Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
79

3. Putusan pengadilan membingungkan;


4. Putusan pengadilan sering tidak memberi kepastian hukum (uncertainty)
dan tidak bisa diprediksi (unpredictable).
e. Kemampuan para hakim bersifat ‘generalis’, memiliki pengetahuan yang
terbatas hanya di bidang hukum saja”.

Selain kritik di atas yang paling menonjol adalah kritik terhadap sistem

perkara yang tidak sistematis dan tidak didisain untuk menyelesaikan sengketa secara

efisien karena hanya memberi putusan yang abstrak melalui proses banding, kasasi,

dan peninjauan kembali yang kemudian sulit dieksekusi. Kaitannya dengan likuidator

yang menyelesaikan pembayaran hutang-piutang ini adalah bahwa likuidator akan

memakan waktu yang lama dalam hal likuidasi. Waktu yang lama akan

membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dengan begitu perseroan terbatas yang sedang

dalam likuidasi akan sulit untuk menghemat pengeluaran (cut spending) perseroan.

Untuk menyelesaikan sengketa agar lebih efektif dan efisien perlu dilakukan

inovasi terhadap peraturan dan lembaga-lembaga yang menyangkut peradilan.

Lembaga dading yang diatur dalam Pasal 130 HIR/154 RBG mewajibkan hakim

untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa sebelum memeriksa pokok

perkara. Mekanisme dading (damai) ini mempunyai beberapa keuntungan yang

dibuat dan disetujui kedua belah pihak yang bersengketa dan selanjutnya diajukan

kepada hakim yang memeriksa lalu hakim membuat suatu keputusan perdamaian

yang memuat akta perdamaian itu sendiri ditambah perintah untuk melaksanakan isi

perdamaian. Putusan perdamaian ini bersifat final and binding artinya terhadap
80

putusan itu tidak dapat dilakukan upaya hukum lagi dan hal ini mengikat kedua belah

pihak yang berperkara. 157

Dari uraian mengenai penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan ini

untuk menuntut hak/hutang dari kreditor maka Likuidator membutuhkan waktu yang

lama dalam pemberesan harta kekayaan perseroan terbatas. Terkait dengan

pembatasan masalah pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang perseroan

terbatas dalam likuidasi maka pembahasan mengenai jalur pengadilan (in-court)

dengan gugatan biasa saja yang akan dibahas. Untuk pembahasan jalur pengadilan

lainnya tidak termasuk dalam substansi penulisan penelitian ini. Pada jalur luar

pengadilan (out-court) selanjutnya akan dibahas mengenai penyelesaian hutang

piutang melalui Alternative Dispute Resolution (ADR).

2. Jalur Luar Pengadilan (Alternative Dispute Resolution – ADR)

Alternative Dispute Resolution (ADR) dalam bahasa Indonesia dikenal

dengan beberapa istilah seperti : Pilihan Penyelesaian Sengketa (PPS), Mekanisme

Alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) dan Penyelesaian Sengketa Alternatif

(PSA).158

Penggunaan istilah ADR adalah untuk mengelompokkan proses negosiasi,

mediasi, konsiliasi dan arbitrase. ADR dapat diartikan dalam 2 (dua) hal, yaitu :

a. Alternative to Litigation : Seluruh mekanisme penyelesaian sengketa di luar

pengadilan termasuk arbitrase merupakan bagian ADR.

157
Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
158
Ibid.
81

b. Alternative to Adjudication : yang termasuk ADR hanyalah negosiasi, mediasi

dan konsiliasi yakni mekanisme penyelesaian sengketa yang bersifat

konsensus atau kooperatif.

Di Indonesia penggunaan ADR tersebut adalah termasuk dalam pengertian

Alternative to Adjudication, hal ini dapat dilihat dari judul Undang-Undang No. 30

Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 159 Jadi jelas,

yang dimaksud dengan ADR itu dalam ketentuan tersebut adalah penyelesaian di luar

Adjudication (out of court), sedangkan Arbitrase termasuk ke dalam kelompok

adjudikasi bersama-sama dengan litigasi. Dalam penjelasan ketentuan ADR ini

disebutkan bahwa Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR) adalah lembaga

penyelesaian sengketa atau bedan pendapat melalui prosedur yang disepakati para

pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi,

mediasi, konsoliasi atau penilaian ahli. 160

Dalam perkembangan selanjutnya istilah ADR memberi kesan bahwa

pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa secara konsensus hanya dapat

dilakukan di luar penagdilan (out of court), sedang saat ini sudah diterapkan mediasi

di pengadilan sebagai annexed court berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 2

Tahun 2003. Hadimulyo memperkenalkan Strategi Penyelesaian Sengketa, yaitu :

konsiliasi; fasilitasi; negosiasi; ditambah dengan pengalaman di bidang birokrasi

159
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3872.
160
Manahan M. P. Sitompul, Loc.cit.
82

yakni konsultasi dan koordinasi, sedang fasilitasi adalah bantuan pihak ketiga untuk

menghasilkan suatu pertemuan atau perundingan yang produktif. 161

a. Negosiasi

Negosiasi merupakan salah satu bentuk Penyelesaian Sengketa Alternatif

dimana par apihak yang bersengketa melakukan perundingan secara langsung (ada

kalanya didampingi pengacara masing-masing) untuk mencari penyelesaian sengketa

yang sedang mereka hadapi ke arah kesepakatan bersama (konsensus) atas dasar win-

win solution. Negosiasi dapat diwujudkan dalam bentuk komunikasi dua arah yang

dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki

berbagai kepentingan yang sama maupun yang berbeda.162

Secara umum negosiasi dapat diartikan sebagai suatu upaya penyelesaian

sengketa para pihak tanpa melalui proses peradilan dengan tujuan tercapai

kesepakatan bersama atas dasar kerja sama yang lebih harmonis dan kreatif.163

Pengertian sehari-hari dari negosiasi adalah berunding atau bermusyawaran, asal

katanya adalah negotiation yang berarti perundingan, sedang yang mengadakan

perundingan disebut negotiator. Manusia selalu melakukan negosiasi dalam

kehidupannya sehari-hari baik dalam kehidupan bisnis, pribadi, keluarga, pergaulan,

mitra kerja, majikan, karyawan, teman bahkan dengan lawan sengketa. Bila seorang

pelaku usaha, pengacara hendak melakukan negosiasi akan diperhadapkan dengan


161
Hadimulyo, Mempertimbangkan ADR : Kajian Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar
Pengadilan, (Jakarta : ELSAM, 1997), hal. 31-32., sebagaimana dikutip oleh Ibid.
162
Sayud Margono, Op.cit., sebagaimana dikuttip Ibid.
163
Jony Emirson, Hukum Bisnis Indonesia, (Jakarta : Proyek Peningkatan Penelitian
Pendidikan Tinggi, Dirjendikti DepPenNas, PT. Prehalindo, 2002), hal. 494., sebagaimana dikutip
Ibid.
83

kegiatan besar, sehingga perlu mempersiapkan diri tentang apa yang harus

dilakukannya sewaktu menggunakan strategi agar dapat dijalankan sebaik mungkin

untuk mencapai hasil yang saling menguntungkan.164

Ada 7 (tujuh) prinsip umum negosiasi yang harus dilaksanakan, yaitu 165 :

1. Negosiasi melibatkan dua pihak atau lebih;

2. Pihak-pihak yang bersengketa harus menjunjung tinggi ketertiban satu sama lain

dalam mencapai hasil yang diinginkan bersama;

3. Pihak-pihak yang bersangkutan setidak-tidaknya pada awalnya menganggap

negosiasi sebagai cara yang lebih memuaskan untuk menyelesaikan sengketa

dibandingkan dengan metode-metode yang lain;

4. Masing-masing pihak harus beranggapan bahwa ada kemungkinan untuk

membujuk pihak lain untuk memodifikasi posisi awal mereka;

5. Setiap pihak harus mempunyai harapan akan sebuah hasil akhir yang mereka

terima dan suatu konsep tentang seperti apa hasil akhir itu;

6. Masing-masing pihak harus mempunyai suatu tingkat kuasa atas kemampuan

pihak lain untuk bertindak;

7. Proses negosiasi itu sendiri pada dasarnya merupakan salah satu interaksi di

antara orang-orang, terutama antara komunikasi lisan yang langsung walaupun

kadang-kadang dengan elemen tertulis.

164
Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
165
Alan Fowler dalam Runtung Sitepu, Modul Penyelesaian Sengketa Alternatif, (Medan :
Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2003), hal. 5., sebagaimana dikutip oleh Ibid.
84

b. Mediasi

Mediasi adalah proses untuk menyelesaikan sengketa dengan bantuan pihak

ketiga yang netral. Peranan pihak netral tersebut adalah untuk membantu para pihak

untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dipersengketakan dengan membangun

suatu proposal yang diharapkan dapat menyelesaikan sengketa tersebut. Mediator

tidak berwenang untuk memutus sengketa yang ditanganinya, hanya dapat mengikuti

pertemuan-pertemuan rahasia bersama pihak-pihak yang bersengketa. 166

Dari rumusan atau definisi yang dikemukakan oleh beberapa sarjana, dapat

ditarik kesimpulan bahwa pengertian mediasi mengandung unsur-unsur sebagai

berikut 167 :

1. “Mediasi adalah sebuah proses penyelesaian sengketa berdasarkan


perundingan;
2. Mediator terlibat dan diterima oleh para pihak yang bersengketa di dalam
perundingan;
3. Mediator bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari
penyelesaian;
4. Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan selama
perundingan berlangsung;
5. Tujuan mediasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang
dapat diterima pihak-pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa”.

Peran mediator ini sangat tergantung kepada kebutuhan para pihak untuk

menyelesaikan sengketa, peran itu bisa dari yang paling ringan hingga yang paling

berat sesuai kebutuhan dari sengketa itu dengan kemauan para pihak. Peran dan

kegiatan mediator dapat dilihat sebagai jenis terapis negosiasi. Terapis artinya

menganalisis dan mendiagnosis suatu sengketa dan kemudian menyusun acara yang

166
Manahan M. P. Sitompul, Loc.cit.
167
Suyud Margono, Op.cit., hal. 253., sebagaimana dikutip Ibid.
85

memungkinkan intervensi lain dengan tujuan mencapai suatu kesepakatan yang

memuaskan kedua belah pihak. 168

Peran penting mediator adalah melakukan diagnosa konflik, identifikasi

masalah serta kepentingan-kepentingan kritis, menyusun agenda, memperlancar dan

mengendalikan komunikasi, mengajar para pihak dalam proses dan keterampilan

tawar menawar, membantu para pihak mengumpulkan informasi penting,

penyelesaian masalah untuk menciptakan pilihan-pilihan, dan diagnosa sengketa

untuk memudahkan penyelesaian problem.169

Bilamana menurut mediator diperlukan bertemunya salah satu pihak untuk

membicarakan sesuatu tanpa disertai pihak lainnya, maka mediator membuat

pertemuan dalam bilik kecil (caucusing). Caucusing adalah melakukan pertemuan

antara mediator dengan salah satu pihak, dimana mediator memanggil para pihak satu

per satu di dalam kamar tersendiri (dimungkinkan memanipulasi situasi dalam

pembicaraan) demi untuk tercapainya tujuan perdamaian.170 Hal memanipulasi situasi

ini juga perlu dimaklumi oleh mediator agar dalam melakukan caucusing bila

menemukan situasi yang tidak menguntungkan bagi salah satu pihak dapat

dieliminasi oleh mediator demi tercapainya perdamaian antara pihak-pihak yang

bersengketa. 171

168
Loc.cit.
169
Gary Goodpaster dalam Ibid.
170
Runtung Sitepu, Bahan Kuliah ADR, (Medan : PPS S3 Universitas Sumatera Utara,
Tanggal 12 September 2003), sebagaimana dikutip Ibid.
171
Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
86

b. Konsiliasi

Konsiliasi juga merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa bisnis.

Konsiliasi dapat diartikan sebagai upaya membawa pihak-pihak yang bersengketa

untuk menyelesaikan permasalahan antara kedua belah pihak secara negosiasi. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsiliasi diartikan sebagai usaha mempertemukan

keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan

perselisihan itu. Menurut Oppenheim, konsiliasi adalah proses penyelesaian sengketa

dengan menyerahkan kepada komisi orang-orang yang bertugas untuk menguraikan

atau mejelaskan fakta-fakta dan setelah mendengar para pihak dan mengupayakan

agar mereka mencapai suatu kesepakatan, membuat usulan-usulan untuk suatu

penyelesaian, namun keputusan tersebut tidak mengikat. 172

Pada mulanya konsiliasi timbul dalam penyelesaian sengketa internasional

diatur dalam perjanjian antara Swedia dan Chili pada tahun 1920. kemudian pada

tahun 1922, konsiliasi dan arbitrase ditetapkan sebagai alternatif penyelesaian

sengketa dalam suatu perjanjian yang dibuat antara Jerman dan Swiss. Konsiliasi di

Amerika Serikat merupakan tahap awal dari proses mediasi, dengan acuan penerapan

apabila terhadap seseorang diajukan proses mediasi, dan tuntutan yang diajukan

climant dapat diterimanya dalam kedudukannya sebagai respondent. Dalam tahap

yang demikian telah diperoleh penyelesaian tanpa melanjutkan sengketa, karena

pihak responden dengan kemauan baik (goodwill) bersedia menerima apa yang

172
Oppenheim, dalam Huala Adolf, et.al., Masalah-Masalah Hukum dan Perdagangan
Internasional, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 186., sebagaimana dikutip Ibid.
87

dikemukakan oleh climant. Cara penyelesaian dengan goodwill demikian ini disebut

konsiliasi winning over by goodwill. 173

Biasanya alasan responden memenuhi tuntutan secara iktikad baik (goodwill)

adalah karena : a. responden sendiri mengerti dan menyadari sejauh mana seriusnya

persoalan yang dipersengketakan, sehingga dianggap layak untuk memenuhi

permintaan; dan b. tidak ingin permasalahan ini dicampuri pihak ketiga, dengan

pengharapan penyelesaian akan lebih baik tercapai antara kedua belah pihak. 174

Jadi, dalam hal pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang pada

perseroan terbatas dalam likuidasi tidak ada pengaturan pasti untuk itu. Tugas

likuidatorlah yang menerapkan bagaimana cara menyelesaikan hutang piutang

perseroan terbatas dalam likuidasi. Semua pilihan yang tersedia adalah sepenuhnya

hak likuidator. Pengaturannya dapat dikejar dengan menggunakan KUH Perdata

khususnya mengenai wanprestasi (cidera janji). Cidera janji tersebut terkait dengan

tidak dipenuhinya perjanjian-perjanjian dalam hubungan bisnis antar badan hukum

(dengan tujuan kepastian hukum).

Sebuah hubungan bisnis pada dasarnya adalah hubungan yang berlandaskan

kepercayaan. Sebuah perseroan terbatas merasa sudah menjalankan kewajibannya,

tetapi perseroan terbatas lain tersebut belum membayar ongkos atas pekerjaan yang

sudah dilakukan. Kejadian seperti ini sering terjadi di Indonesia dan sering

menimbulkan kerugian yang besar bagi pihak yang dikhianati. Untuk mengatasi

173
Joni Emirzon, Hukum Bisnis Indonesia, (Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan
Tinggi, Dirjendikti, Depennas, 2002)., sebagaimana dikutip Ibid.
174
M. Yahya Harahap, et.al., Laporan Akhir Penelitian Hukum Tentang ADR, (BPHN :
Depkeh RI, 1995/1996), hal. 52., sebagaimana dikutip Ibid.
88

masalah seperti ni maka harus dicermati surat perjanjian kerja sama yang dibuat. Di

dalam surat perjanjian kerja sama biasanya memuat objek yang harus dikerjakan oleh

kedua belah pihak. 175

Seandainya perseroan terbatas dalam likuidasi sudah melakukan kewajiban

sesuai dengan isi perjanjian kerja sama tersebut dan hingga batas waktu pembayaran,

mitra kerja belum juga memenuhi kewajibannya (wanprestasi) maka dapat

dilayangkan surat tagihan dengan cara persuasif. Bila melakukan somasi terhadap

kreditur tersebut maka isi somasi itu antara lain peringatan terhadap kelalain kreditur

dan tuntutan sanksi yang diinginkan. Jika somasi tidak juga digubris, maka dapat

diselesaikan melalui jalur pengadilan. 176

Terkait dengan teori hukum yang digunakan untuk membedah permasalahan

yang timbul dalam penelitian ini yaitu teori keadilan (Adam Smith) yang mengatakan

bahwa tujuan keadilan adalah untuk melindungi dari kerugian. Untuk menyelesaikan

hutang piutang oleh likuidator dibutuhkan likuidator yang dapat melihat keadilan itu

sendiri. Kerugian harus bisa diminimalisir, apalagi masalah biaya berperkara di

pengadilan. Maka dari itu, peran likuidator adalah penting guna terciptanya keadilan

bagi kreditur maupun debitur. Jika keadilan tercipta dalam mengambil jalan tengah

yaitu perdamaian penyelesaian hutang piutang maka akan terhindar dari kerugian

yang besar.

175
Eka An Aqimuddin dan Marya Agung Kusmagi, Solusi Bila Terjerat Kasus Bisnis,
Cetakan Pertama, (Jakarta : Raih Asa Sukses, 2010), hal. 198.
176
Ibid.
89

BAB III

PENENTUAN LIKUIDATOR TERHADAP LIKUIDASI PERSEROAN


TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 40 TAHUN 2007
TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Penentuan Likuidator menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas adalah berdasarkan Pasal 142 ayat (2) huruf a., yang menyatakan

bahwa “Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) : a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator”.

Pada ketentuan ini jelas bahwa penunjukan likuidator dilakukan setelah adanya

pernyataan melalui RUPS, karena jangka waktu berdirinya telah habis, berdasarkan

penetapan pengadilan, dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga

yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup

membayar biaya kepailitan karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit

berada dalam keadaan insolvensi, karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga

mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi. 177 Tidak ada diatur di dalam ketentuan

hukum perusahaan mengenai jangka waktu perseroan terbatas untuk menentukan

likuidatornya.

A. Direktur Bertindak Sebagai Likuidator

Adanya celah hukum dalam ketentuan hukum perusahaan mengenai

penentuan siapa yang menjadi likuidator terhadap perseroan terbatas yang dilikuidasi

177
Pasal 142 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Op.cit.
90

adalah dapat dilihat dalam Pasal 142 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan bahwa :

“Dalam hal pembubaran terjadi berdasarkan keputusan RUPS, jangka waktu


berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir atau dengan
dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan RUPS
tidak menunjuk likuidator, Direksi bertindak selaku likuidator”.

Berdasarkan Pasal inilah Direksi dapat bertindak sebagai Likuidator. Maka

seluruh kewajiban likuidator dibebankan kepada Direksi karena bertindak sebagai

Likuidator. Sudah pasti penegakan hukum dalam ketentuan likuidasi ini tidak berjalan

dengan maksimal dikarenakan Direksi yang bertindak sebagai Likuidator tidak

mengetahui tugas-tugasnya karena tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang

dimiliki. Disinilah peran dari bagian hukum perusahaan untuk membantu Direksi

dalam melikuidasi perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia pada

umumnya memiliki karyawan untuk mengurusi persoalan hukum yang dihadapi oleh

perusahaan.

Namun, dikarenakan kebiasaan atau faktor budaya Direksi dalam menjalankan

tugas sehari-hari dengan cara memerintahkan para karyawannya. Maka secara

langsung Direksi melakukan penunjukan Pelaksana Tugas Direksi untuk melakukan

Likuidasi tersebut. Dikarenakan tidak adanya kesadaran hukum Pelaksana Tugas

Direksi maka seluruh tindakan hukumnya dibebankan oleh pemberi kewenangan

yaitu Direksi. Pelaksana Tugas Direksi tersebut berbuat sewenang-wenang karena

diberikan kewenangan yang besar, yaitu : dapat melakukan penggelapan aset-aset

perusahaan. Hal ini menyulitkan untuk membayar hutang-hutang perseroan.


91

Seharusnya Direksi dalam hal melakukan likuidasi menggunakan atan

meminta advice (nasihat) hukum dari Konsultan Hukum atau Pengacara. Tujuannya

agar Direksi dapat bertindak dengan baik tidak lari dari code of conduct yang sudah

ditentukan dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas.178 Sebenarnya permasalahan

mencuat setelah Direksi bertindak sebagai Likuidator. Dengan penunjukan tersebut

maka penegakan hukum akan sulit dilakukan (dalam hal Direksi tidak memiliki

pendidikan hukum yang cukup). Penegakan hukum tidak tercapai maka tujuannya

juga tidak tercapai yaitu kepastian hukum, kemanfaatan hukum, dan keadilan hukum.

Kepastian hukum terkait dengan penentuan Likuidator terhadap likuidasi

Perseroan Terbatas adalah berhubungan dengan Pasal 142 ayat (2) a., Undang-

Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Jadi disini ditentukan bahwa

yang melakukan likuidasi adalah likuidator atau kurator. Namun, karena undang-

undang juga menentukan likuidator juga dapat dilaksanakan oleh Direksi maka

dengan tujuan menghemat pengeluaran perseroan (cut spending) Direksilah yang

melakukan likuidator. Budaya hukum Direksi adalah menyuruh bawahan untuk

melakukan pekerjaannya, bisa dikatakan pendelagasian tugas. Tetapi yang terjadi

adalah penyalahgunaan wewenang oleh pelaksana tugas tadi. Jadi, sebaiknya apabila

Perseroan Terbatas memutuskan untuk melikuidasi perusahaannya maka RUPS harus

menunjuk likuidator (orang yang mempunyai keahlian hukum) untuk melaksanakan

tugas likuidasi tersebut.


178
Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dibuat oleh Notaris namun pengumumannya
dilakukan oleh Menteri pada Berita Negara Republik Indonesia. Seluruh perubahan anggaran dasar ini
harus ada penyesuaian dengan ketentuan hukum perusahaan berdasarkan Pasal 30 ayat (1), Ibid., Lihat
juga Hiasinta Yanti Susanti Tan, “Konsekuensi Perubahan Undang-Undang Perseroan Terbatas
Terhadap Eksistensi Perseroan Terbatas”, (Tesis : Program Magister Ilmu Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang, 2008).
92

B. Penentuan Likuidator Terhadap Likuidasi Perseroan Terbatas

Menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,

tepatnya Pasal 142 ayat (2) huruf a., maka likuidator harus ditunjuk setelah RUPS

memutuskan pembubaran perseroan terbatas.179 Jika penunjukan likuidator dilakukan

maka diharapkan akan tercapai penegakan hukum. Tergantung dari kompeten atau

tidak likuidator dalam melakukan tugasnya. Sudah pasti terkait mengenai pendidikan

dan spesialisasi hukum dari likuidator itu sendiri.

Berangkat dari teori penegakan hukum (Soerjono Soekanto) yang mengatakan

faktor-faktor penegakan hukum, antara lain 180 :

1. “Undang-Undang;
2. Penegakan hukum, orang-orang yang melakukan itu;
3. Fasilitas yang mendukung penegakan hukum;
4. Masyarakat, tempat hukum itu ditegakkan;
5. Faktor kebudayaan, kebiasaan hukum”.

Maka penegakan hukum dapat dilakukan jika undang-undang tersebut tidak

memberikan pengartian yang berbeda-beda, atau dapat dikatakan substansinya baik.

Lalu orang-orang yang melakukan likuidasi tersebut apakah mengerti atau tidak

mengenai tahapan likuidasi perseroan terbatas. Fasilitas yang mendukung adalah

lembaga peradilannya untuk menyelesaikan hutang piutang perseroan terbatas.

Masyarakat tempat hukum itu ditegakkan adalah ketentuan hukum perusahaan yang

berlaku bagi dunia usaha/pelaku usaha. Faktor kebudayaan atau kebiasaan hukum

adalah mengenai kebudayaan hukum pelaku usaha tersebut apakah patuh dan taat

terhadap undang-undang atau tidak.

179
Loc.cit.
180
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Op.cit.
93

Setelah mengetahui seluruh aspek-aspek hukum yang terdapat dari penegakan

hukum. Selanjutnya likuidator dapat bertindak sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku yaitu tahapan likuidasi.

C. Praktek Pelaksanaan Pembubaran Perseroan Terbatas

Dalam praktek pembubaran Perseroan menurut Undang-Undang No. 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas akibat keputusan RUPS ternyata terdapat

inkonsistensi pelaksanaan Pasal 152 ayat 5 yang mengatur tentang pencatatan

berakhirnya status badan hukum Perseroan dan menghapus nama Perseroan dalam

Daftar Perseroan. Pembubaran perseroan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

diatur dalam Pasal 142 sampai dengan Pasal 152, dimana yang berbeda dengan

pengaturan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas

(Pasal 114 sampai dengan 124) adalah mengenai berakhirnya status badan hukum

Persroan.181

Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

ditegaskan bahwa Menteri akan mencatat berakhirnya status badan hukum Perseroan

yaitu setelah mendapatkan pemberitahuan dari Likuidator tentang hasil akhir proses

likuidasi yang dicantumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

”terakhir”. Untuk lebih jelasnya berikut akan diuraikan langkah-langkah pembubaran

Perseroan Terbatas berdasarkan RUPS, yaitu :

181
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Praktek Pelaksanaan Pembubaran PT”,
http://notarissby.blogspot.com/2008/07/praktek-pelaksanaan-pembubaran-pt.html., diakses pada 11
Mei 2011.
94

1. Pelaksanaan RUPS dengan materi acara pembubaran Perseroan Terbatas

diikuti dengan penunjukan likuidator untuk melakukan proses likuidasi; 182

2. Dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan,

Likuidator harus mengumumkan dalam Surat Kabar dan Berita Negara

Republik Indonesia serta memberitahukan kepada Menteri; 183 (dalam tahap ini

Menteri hanya mencatat bahwa Perseroan dalam Likuidasi).

3. Dalam tahap pemberesan harta kekayaan Perseroan, Likuidator wajib

mengumumkan dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia

mengenai Rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi; 184

4. Diadakan RUPS tentang pertanggungjawaban Likuidator dalam melaksanakan

proses likuidasi, sekaligus memberikan pelunasan dan pembebasan kepada

Likuidator, yang diikuti pengumuman dalam Surat Kabar mengenai hasil

akhir proses likuidasi dan pemberitahuan kepada Menteri; 185

5. Menteri mencatat berakhirnya status badan hukum Perseroan dan menghapus

nama Perseroan dari Daftar Perseroan diikuti dengan pengumuman dalam

Berita Negara Republik Indonesia.186

Singkatnya Likuidator harus mengumumkan 3 (tiga) kali dalam Surat Kabar

(mengenai pembubaran, rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi, dan hasil akhir

proses likuidasi) dan 1 (satu) kali dalam Berita Negara Republik Indonesia (mengenai

182
Pasal 142 ayat (1) dan (2), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, Op.cit.
183
Pasal 147 ayat (1), Ibid.
184
Pasal 149, Ibid.
185
Pasal 152 ayat (3), Ibid.
186
Pasal 152 ayat (5) jo., ayat (8), Ibid.
95

pembubaran), serta memberitahukan kepada Menteri 2 (dua) kali (mengenai

pembubaran dan hasil akhir likuidasi). 187

Dalam praktek ketika memasukkan data untuk memenuhi ketentuan Pasal 152

ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (proses

pemberitahuan hasil akhir likuidasi) ternyata data di database Sistem Administrasi

Badan Hukum (Sisminbakum) telah dihapus. Rupanya pada waktu pertama kali

melaporkan/memberitahukan pembubaran Perseroan, seketika itu pula Menteri

(melalui Sisminbakum) melakukan pencatatan berakhirnya status badan hukum

Perseroan (seharusnya Menteri hanya melakukan pencatatan bahwa Perseroan dalam

proses likuidasi). 188

Jadi dalam praktek Berita Acara RUPS ”terakhir” yang berisi hasil akhir

proses likuidasi dan pelunasan serta pembebasan likuidator tidak dapat diberitahukan

kepada Menteri melalui Sisminbakum, oleh karena data Perseroan telah dihapus. Hal

ini menimbulkan pertanyaan apakah implikasinya bagi likuidator bila prosedur Pasal

152 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak

dilaksanakan. Diperlukan kajian tambahan atau penelitian lanjutan mengenai hal

ini. 189

Dari uraian di atas dapat disimpulkan status badan hukum suatu Perseroan

berakhir yaitu bukan oleh karena pencatatan yang dilakukan oleh Menteri namun

pada saat dilakukan pemberesan dan pertanggungjawaban likuidator telah diterima

oleh RUPS demikian sesuai dengan Pasal 143 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun

187
Jusuf Patrianto Tjahjono, Op.cit.
188
Ibid.
189
Ibid.
96

2007 tentang Perseroan Terbatas. Seharusnya perlu diadakan koreksi terhadap

ketentuan dalam Pasal 152 ayat (5) dan (6) yang mengesankan bahwa

hapusnya/berakhirnya status badan hukum Perseroan dengan adanya tindakan

pencatatan oleh Menteri. Tindakan pencatatan oleh Menteri adalah suatu tindakan

administratif yang tidak mempunyai implikasi hukum apapun terhadap

hapusnya/berakhirnya suatu Perseroan.190

190
Ibid.
97

BAB IV

HAMBATAN-HAMBATAN PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG


TERHADAP LIKUIDASI PERSEROAN TERBATAS

Hambatan penyelesaian hutang piutang dihadapi oleh likuidator karena

likuidator bertanggung jawab kepada Pemegang Saham atas pemberesan yang

dilakukan terhadap Perseroan Terbatas. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh

likuidator, antara lain : a. Tidak ada ditentukan kapan seharusnya likuidator tersebut

harus ditunjuk oleh ketentuan peraturan perundang-undangan; b. Pembagian sisa hasil

likuidasi perseroan; c. Pungutan liar dalam laporan pencabutan izin usaha pada

instansi pemerintah; d. Penggelapan aset oleh pengurus perusahaan; e. Pada saat

menagih hutang, ternyata kreditor sudah tidak beroperasi lagi; dan lain sebagainya.

Pembahasan pertama akan dibahas mengenai sisa hasil likuidasi perseroan.

A. Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan

Dalam praktek likuidasi perseroan terbatas, salah satu tahap yang harus

dilakukan adalah tahap pemberesan oleh likuidator. Dalam tahap pemberesan ini ada

satu masalah yang cukup krusial untuk dibahas secara mendalam, karena dalam

masalah ini menyangkut beberapa bidang hukum yaitu hukum perusahaan, hukum

pertanahan, dan hukum perpajakan. Masalah yang terjadi adalah dalam tahap

pemberesan ternyata terdapat sisa aset perseroan berupa hak atas tanah (Hak Guna
98

Bangunan) atas nama perseroan. Bagaimana cara membagikan aset tersebut kepada

pemegang saham.191

Pembubaran dan likuidasi adalah dua perbuatan hukum yang tidak

terpisahkan, karenaa setiap pembubaran wajib diikuti oleh tindakan likuidasi. 192 Jika

Sisminbakum konsekuen terhadap bunyi peraturan yang ada, maka sebelum

dilakukan tindakan likuidasi, status badan hukum dari Perseroan Terbatas tetap ada.

Oleh karena itu, pasti ada implikasinya apabila tindakan pembubaran tidak diikuti

oleh tindakan likuidasi. Salah satu kewajiban likuidator adalah melakukan

pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham yang dilakukan

setelah dilaksanakannya pembayaran kepada seluruh kreditor.193

Masalahnya adalah jangka waktu setelah keputusan pembubaran perseroan,

likuidator melaksanakan pembagian sisa hasil likuidasi. Dalam ketentuan Undang-

Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyebutkan “tenggang

waktu” waktu yang berbeda dalam Pasal 147 ayat (3) dan Pasal 149 ayat (3). Jika

diamati seolah-olah ketentuan mengenai tenggang waktu tersebut mengatur hal yang

berbeda, dalam Pasal 147 ayat (3) mengatur jangka waktu pengajuan tagihan,

sedangkan dalam Pasal 149 ayat (3) adalah mengenai jangka waktu untuk

mengajukan keberatan terhadap rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi. Namun

yang menjadi masalah adalah acuan penghitungan jangka waktu 60 hari dimulai dari

mana.
191
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”,
http://notarissby.blogspot.com/2008/08/pembagian-sisa-hasil-likuidasi.html., diakses pada 12 Mei
2011.
192
Pasal 142 ayat (2), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Op.cit.
193
Pasal 149 ayat (1), huruf d., Ibid.
99

Dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas dan penjelasannya diketahui 60 hari sejak tanggal pengumuman

paling akhir yaitu tanggal pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia

(bukan tanggal pengumuman di Surat Kabar); sedangkan dalam Pasal 149 ayat (3)

jangka waktu 60 hari dihitung dari pengumuman tentang rencana pembagian

kekayaan hasil likuidasi jadi bukan dari pengumuman pembubaran seperti yang

tercantum dalam Pasal 147 ayat (1). 194

Dalam praktek para Notaris sering hanya berpatokan pada tanggal

Pengumuman pembubaran sesuai dengan Pasal 147 ayat (1) Undang-Undang No. 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, bahkan jarang sekali menyarankan kepada

kliennya untuk melakukan Pengumuman tentang rencana pembagian kekayaan hasil

likuidasi. Padahal akibat tidak dilaksanakannya tindakan ini adalah fatal. Karena

dengan tidak dilakukannya tindakan tersebut hak kreditor untuk mengajukan

keberatan telah ditiadakan, oleh karena itu setiap tindakan hukum berikutnya yang

dilakukan oleh likuidator terhadap sisa hasil kekayaan perseroan dapat dinyatakan

“batal demi hukum”. Ketentuan Pasal 150 tidak dapat dipakai sebagai alasan untuk

membela diri. 195

Jadi, solusi mengenai kapan dapat dibagikan sisa kekayaan hasil likuidasi

kepada pemegang saham adalah sebagai berikut 196 :

194
Dalam hal ini harus juga ditafsirkan tanggal pengumuman yang paling akhir yaitu tanggal
pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia, walaupun dalam penjelasan resmi Pasal 149
ayat (3) cukup jelas, Ibid.
195
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Op.cit.
196
Ibid.
100

1. Apabila terdapat kreditor yang mengajukan tagihan, maka paling tidak

pembayarannya harus menunggu setelah lewatnya waktu 60 hari setelah

pengumuman rencana pembagian (atau setidak-tidaknya 120 hari setelah

pengumuman pembubaran perseroan);

2. Apaila terdapat kreditor yang mengajukan tagihan dan keberatannya terhadap

rencana pembagian ditolak oleh Likuidator, maka pembagiannya harus

menunggu sampai dengan adanya putusan Pengadilan terhadap pokok gugatan

tersebut;197

3. Apabila tidak terdapat kreditor yang mengajukan tagihan, maka setelah

lewatnya jangka waktu 60 hari setelah tanggal pengumuman pembubaran

(yang digunakan adalah tanggal pengumuman di Berita Negara Republik

Indonesia, bukan tanggal Pengumuman di Surat Kabar), dapat dilakukan

pembagian.

Khusus mengenai point ketiga di atas, karena tidak ada aturannya dalam

undang-undang, maka demi keamanan terhadap sahnya tindakan likuidator perlu

diadakan penegasan dalam suatu RUPS bahwa setelah jangka waktu yang ditetapkan

dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas, benar-benar tidak terdapat tagihan dari kreditor manapun dan oleh karena

itu RUPS memutuskan memberikan kewenangan kepada likuidator untuk

membagikan sisa kekayaan perseroan kepada pemegang saham sesuai dengan

proporsi kepemilikan sahamnya di dalam perseroan, semuanya dengan mengingat

197
Pasal 149 ayat 4, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
101

ketentuan dalam Pasal 150 ayat (2) bahwa “kreditor dapat mengajukan tagihan

melalui Pengadilan dalam jangka waktu 2 tahun sejak pengumuman pembubaran

Perseroan”.198

Dalam melakukan pembagian sisa kekayaan perseroan hasill likuidasi kepada

pemegang sahamnya harus benar-benar diperhatikan waktu pelaksanaannya sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dengan akibat hukum bahwa jika

tidak dilakukan sesuai prosedur maka perbuatan hukum tersebut dapat dinyatakan

batal demi hukum. Peringatan kepada para calon pembeli aset yang berasal dari sisa

hasil likuidasi perseroan yang dibubarkan agar lebih berhati-hati, lebih aman jika

membeli aset tersebut selewatnya 2 tahun setelah pengumuman pembubaran

perseroan.199

B. Aset Perseroan Adalah Aset Bersama dari Pemegang Saham Sesuai


Dengan Proporsi Kepemilikan Saham Masing-Masing Pemegang Saham
Dalam Perseoan

Permasalahan berikutnya adalah subjek hukum dalam tindakan pembagian

aset perseroan jika masih ada sebidang tanah dengan Hak Guna Bangunan atas nama

perseroan. Persoalan ini dapat diselesaikan dengan mudah apabila para pemegang

saham sepakat untuk menjual aset tersebut, namun jka pemegang saham tidak sepakat

maka masalah yang akan timbul. Pertanyaan yang mendasar adalah mengenai

pemegang saham adalah pemilik perseroan yang merupakan satu kesatuan dengan

keberadaan Perseroan atau Perseroan sebagai Person/Orang (legal entity) yang

198
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Loc.cit.
199
Ibid.
102

mandiri terdiri dari para pemegang saham (karena Perseroan didirikan berdasarkan

perjanjian dan setelah didirikan maka Perseroan seolah-olah mempunyai “jiwa”

tersendiri dari para pendirinya (Pemegang Saham). 200

Pilihan tersebut membawa implikasi hukum yang berbeda, dapat dilihat

terlebih dahulu mengenai Teori Karakteristik Perseroan, yaitu 201 :

“Dalam Teori Karakteristik Perseroan mendalilkan bahwa dalam perseroan


terbatas dengan karakteristik tertutup, tanggung jawab pemegang saham lebih
besar dibandingkan tanggung jawabnya dalam perseroan dengan karakteristik
terbuka, dengan demikian pula kekuasaan RUPS lebih utama daripada
kekuasaan Pengurus, perseroan terbatas dengan karakteristik tertutup lebih
berkarakter sebagai person yang mandiri, dibandingkan perseroan terbatas
dengan karakteristik terbuka lebih sebagai alat (fungsi) daripada berkarakter
sebagai person.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas lebih


menganut paham perseroan dengan karakteristik terbuka, beda dengan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 lebih menganut paham perseroan dengan
karakteristik tertutup karena kekuasaan RUPS dalam Undang-Undang No. 1
Tahun 1995 diakui sebagai pemegang kekuasaan tertinggi”.

Relevansi pembahasan mengenai karakteristik perseroan ini erat kaitannya

dengan penentuan apakah aset perseroan tersebut merupakan barang milik bersama

secara bebas atau milik bersama secara terikat. Penentuan ini berdampak pada

pengenaan pajak bagi para pemegang saham yang memperoleh aset/kekayaan hasil

likuidasi perseroan. 202

Menurut Herlien Budiono mengenai Pemilikan Bersama menurut teori dan

praktek, penentuan kepemilikan bersama bersifat terikat atau bebas bergantung pada

200
Ibid.
201
Ibid.
202
Ibid.
103

sebab (oorzaak) yang mengakibatkan para pemilik memiliki suatu kebendaan

bersama-sama, antara lain203 :

1. Pemilikan bersama yang bebas (vrje medeeigendom) – pemilikan bersama

merupakan tujuan dari para pemiliknya;

2. Pemilikan bersama yang terikat (gebonden medeeigendom) – pemilikan

bersama merupakan akibat dari suatu peristiwa hukum yang lain.

Persamaan dari pemilikan bebas dan terikat di atas adalah bahwa pemiliknya

memiliki bagian yang tidak terbagi atas keseluruhan benda yang dimiliki bersam.

Contoh : pemilikan bersama yang terikat : karena bubarnya perkawinan, ex suami-

isteri bersama memiliki harta benda perkawinan; karena bubarnya persekutuan

perdata (maatschap) atau perkumpulan yang tidak berbadan hukum, para persero

bersama memiliki harta perseroan; karena meninggalnya pewaris, para ahli waris

bersama memiliki harta peninggalan. 204

Kewenangan bertindak dari kepemilikan bersama adalah terwujud pada bebas

atau tidaknya para pemilik untuk setiap saat mengalihkan bagian yang tidak terbagi

yang dimiliki atas harta bersama. Pada pemilikan bersama yang terikat, para

pemiliknya tidak bebas untuk mengalihkan bagian tidak terbaginya semua tindakan

hukum harus dilakukan bersama-sama. Sedangkan pada pemilikan bersama yang

bebas, para pemilik bebas untuk mengalihkan bagian tidak terbagi aset tersebut.205

203
Herlien Budiono, “Pemilikan Bersama Menurut Teori dan Praktek”, Seminar di Surabaya,
08 Februari 2008., sebagaimana dikutip Ibid.
204
Pasal 833 ayat (1) jo. Pasal 955, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit.
205
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Op.cit.
104

Pemisahan dan pembagian pemilikan bersama yang bebas diatur dalam Pasal

573 KUH Perdata yang menyatakan bahwa : “membagi sesuatu kebandaan yang

menjadi milik lebih dari satu orang harus dilakukan menurut aturan-aturan yang

ditentukan tentang pemisahan dan pembagian harta pembagian”. Pada pemisahan dan

pembagian persekutuan perdata (maatschap) diatur dalam Pasal 1652 KUH Perdata

yang menyatakan bahwa : “aturan-aturan tentang pembagian warisan-warisan, cara-

cara pembagian itu dilakukan, serta kewajiban-kewajiban yang terbit karenanya

antara orang-orang yang turut mewaris, berlaku juga untuk pembagian di antara para

persero”.206

Pemisahan dan pembagian bersifat pengalihan hak, pada Pasal 1083 KUH

Perdata menyebutkan bahwa207 :

“Tiap waris dianggap seketika menggantikan si meninggal dalam hak


miliknya atas benda-benda yang dibagikan kepadanya atau yang secara
pembelian diperolehnya berdasarkan Pasal 1076. Dengan demikian, maka
tiada seorang pun dari para waris dianggap pernah memperoleh hak milik atas
benda-benda yang lainnya dari harta peninggalan”

Jika kepada ahli waris A dibagikan sebuah rumah, maka ahli waris B sebuah

pabrik, yang terjadi adalah : A tidak pernah memiliki pabrik dan B tidak pernah

memiliki rumah; A dan B masing-masing memperoleh rumah dan pabrik bukan

karena pemisahan dan pembagian tetapi karena warisan. Bukan peralihan/perolehan

hak, tetapi mengkonstatir peristiwa hukum.208

Pemisahan dan pembagian untuk pemilikan bersama yang terikat bersifat

deklaratif, berlaku surut sejak terjadinya pemilikan bersama yaitu sejak bubarnya

206
Ibid.
207
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit.
208
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Loc.cit.
105

perkawinan dan bubarnya persekutuan perdata (maataschap)/perkumpulan tidak

berbadan hukum, meninggalnya pewaris. Pemisahan dan pembagian untuk

kepemilikan bersama yang bersifat pengalihan hak “translatif” berlaku sejak

terjadinya pemisahan dan pembagian. Tujuan pemisahan dan pembagian tersebut

adalah mengakhiri pemilikan bersama dan kepada pihak yang dipisahkan dan

dibagikan suatu benda mempunyai hak pengurusan dan pemilikan atas bendanya.209

Aset sisa hasil likuidasi perseroan merupakan harta pemilikan bersama bebas

atau terikat dari pemegang saham, patokannya bergantung pada sebab (oorzaak) yang

mengakibatkan para pemilik memiliki suatu benda. Dalam hal inilah penting sekali

untuk menganalisa dari segi karakteristik Perseroan. Jika karakteristik Perseroan

terbuka, maka keberadaan Perseroan Terbatas sebagai alat (fungsi) membawa akibat

pemilikan suatu benda adalah untuk memenuhi suatu tujuan yang hendak dicapai

Perseroan melalui Pengurusnya untuk kepentingan para pemegang saham, sehingga

dalam hal ini dapat dikatakan hakekat pemilikan benda oleh Perseroan merupakan

pemilikan bersama yang bebas. Konsekuensinya pembagian aset tersebut kepada para

pemegang saham merupakan peralihan hak yang translatif. Contoh : Perseroan yang

berusaha di bidang developer/real estate, bubar dan dilikuidasi, maka sisa asetnya

berupa kaplingan dan/atau rumah di perumahan yang dikembangkan oleh Perseroan

(contoh Perseroan Terbatas karakteristik terbuka di bidang kepemilikan bersama,

perseroan terbatas sebagai alat, aset yang dimiliki untuk mencapai tujuan bersama).

209
Ibid.
106

Terhadap perbuatan hukum ini pemegang saham dikenai pajak khususnya Bea

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). 210

Jika Perseroan dengan karakteristik tertutup, maka aset yang diperoleh

Perseroan adalah merupakan aset yang digunakan untuk menunjang keberadaan

perseroan. Dalam hal ini kepemilikan aset merupakan kepemilikan bersama yang

terikat. Konsekuensinya pembagian aset hasil likuidasi kepada para pemegang saham

merupakan tindakan yang bersifat deklaratif (hanya untuk mengkonstatir suatu

peristiwa hukum dalam hal ini likuidasi) dan oleh karena itu terhadap tindakan

tersebut tidak dapat dikenai pajak, karena tidak terjadi peralihan hak secara translatif.

Contoh : Perseroan yang berusaha di bidang industri, memiliki aset pabrik berikut

hak atas tanahnya, bubar dan dilikuiasi, sisa asetnya berupa bangunan dan tanah

dimana pabrik tersebut didirikan (contoh Perseroan Terbatas karakteristik tertutup di

bidang kepemilikan bersama, pembelian dan kepemilikan atas aset untuk menunjang

keberadaan Perseroan dan bukan untuk tujuan Perseroan).211

Sisa hasil likuidasi harta Perseroan yang dibubarkan tidak harus dalam bentuk

uang tunai, namun dapat saja berupa aset. Barang tidak bergerak (khususnya hak atas

tanah dan/atau bangunan) dan/atau barang bergerak baik berwujud maupun tidak

berwujud. Khusus mengenai sisa hasil likuidasi yang berupa aset dalam bentuk

barang tidak bergerak khususnya hak atas tanah dan/atau bangunan, apabila aset

tersebut diperoleh dan dipergunakan untuk menunjang keberadaan Perseroan, maka

dapat dikategorikan sebagai barang milik bersama secara terikat dari para pemegang

210
Ibid.
211
Ibid.
107

saham, sedangkan jika aset tersebut diperoleh dan dipergunakan untuk memenuhi

tujuan Perseroan maka sisa hasil likuidasi tersebut adalah merupakan barang milik

bersama secara bebas.212

C. Jangka Waktu Pengangkatan Likuidator

Dalam Pasal 142 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas tidak ada ditentukan kapan saat yang tepat likuidator

tersebut harus ditunjuk. Hal ini menyebabkan Perseroan Terbatas sudah dibubarkan

tetapi likuidator belum diangkat. Perseroan Terbatas hanya menunjuk Pelaksana

Tugas Direktur, padahal jika Perseroan Terbatas sudah dibubarkan tidaklah mungkin

adalagi Pelaksana Tugas Direktur. Inilah yang sering terjadi sehingga menyebabkan

banyak kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Pelaksana Tugas Direktur tersebut.

Barulah setelah beberapa bulan diangkat likuidator untuk menyelesaikan likuidasi

Perseroan Terbatas.

Dengan kata lain, substansi Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas belum lengkap mengatur mengenai likuidasi Perseroan Terbatas.

Hal ini mengakibatkan tidak adanya dasar hukum mengenai kapan saatnya likuidator

tersebut diangkat. Terkait dengan teori penegakan hukum bahwa setiap proses

pembubaran perseroan terbatas harus diikuti dengan likuidasi. Jadi, likuidator

diangkat pada saat RUPS tentang pembubaran perseroan, disinilah langsung diangkat

likuidator tersebut. Jika melihat undang-undang itu dari satu sisi saja maka, akan sulit

untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk mengangkat likuidator.

212
Ibid.
108

Kegunaan mengangkat likuidator tersebut bertujuan untuk menegakkan

hukum yaitu Pasal 149 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas. Jika hukum sudah tegak maka akan diperoleh kepastian hukum,

dalam hal likuidasi, kepastian hukum tersebut adalah Perseroan Terbatas akan segera

melakukan pemberesan harta kekayaan dan mengumumkan atas likuidasi perseroan

terbatas tersebut pada Berita Negara Republik Indonesia. Jika kepastian hukum

tercapai, kemanfaatan hukum juga ikut tercapai dalam hal likuidasi perseroan terbatas

ini manfaat hukumnya adalah bahwa likuidator tidak dihadapkan dengan kasus-kasus

penggelapan aset perusahaan. Kemanfaatan hukum tidak terlepas dari keadilan

hukum, likuidasi perseroan terbatas mengakibatkan keadilan bagi seluruh karyawan

dan pemegang saham dalam hal pembagian sisa hasil likuidasi perseroan terbatas.

Maka untuk kedepannya terkait dengan teori rule of law (David M. Trubek)

diharapkan kepada pembuat undang-undang agar lebih memperhatikan predictability,

stability, dan fairness.213 Dalam hal ini, di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas harus memuat mengenai jangka waktu penunjukan

likuidator. Penetapan jangka waktu tersebut akan membuat ketentuan ini bisa

diprediksi. Jika tidak ditentukan kapan jangka waktu penunjukan likuidator tersebut,

maka yang terjadi adalah mis-interpretation (kesalahan dalam menafsirkan).

Pengurus perusahaan dalam hal ini Direksi akan mengacu pada Pasal 142 ayat (3),

yang menyatakan bahwa214 :

213
Bismar Nasution, “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”,
Op.cit., hal. 7.
214
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.
109

“Dalam hal pembubaran terjadi berdasarkan keputusan RUPS, jangka waktu


berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir atau dengan
dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan RUPS
tidak menunjuk likuidator, Direksi bertindak selaku likuidator”.

Jika hal itu terjadi maka Direksi akan kebingungan dalam melakukan tindakan

dalam hal likuidasi perseroan terbatas. Hal ini dikarenakan bidang keilmuan yang

berbeda dalam mengurusi masalah likuidasi. Untuk melikuidasi perusahaan

dibutuhkan seseorang yang mengerti mengenai hukum perusahaan, bisa dikatakan

seorang Konsultan Hukum, Pengacara, ataupun Notaris.

D. Pungutan Liar Dalam Laporan Pencabutan Izin Usaha

Laporan pencabutan izin usaha dilakukan berdasarkan pada Undang-Undang

No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan pada Pasal 25 ayat (3),

menyatakan bahwa215 :

”Apabila terjadi pembubaran perusahaan atau kantor cabang, kantor pembantu


atau perwakilannya, pemilik atau pengurus maupun likwidatur berkewajiban
untuk melaporkannya”.

Pasal ini mengisyaratakan agar laporan pembubaran perseroan terbatas juga

dilaporkan pada lembaga terkait yaitu Dinas Pendatan Daerah (dahulu Departemen

Perindustrian dan Perdagangan) yang menggunakan azas satu pintu. Namun,

kenyataannya tetap saja harus menghadapi dari meja satu ke meja lainnya. Hal ini

membutuhkan biaya yang banyak. Pada saat pendaftaran pertama sudah dilakukan,

begitu juga pada perpanjangan, dan selanjutnya pada saat pembubaran juga harus

215
Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3214.
110

melaporkan. Padahal tidak ada suatu apapun yang dilakukan oleh instansi pemerintah

yang berwenang untuk itu dalam hal pengawasan perusahaan. Seharusnya instansi

pemerintah tersebut bertugas untuk menyediakan data-data perusahaan yang ada di

wilayah kerjanya. Pada bagian Menimbang huruf b., disebutkan bahwa :

”adanya Daftar Perusahaan itu penting untuk Pemerintah guna melakukan


pembinaan, pengarahan, pengawasan dan menciptakan iklim dunia usaha
yang sehat karena Daftar Perusahaan mencatat bahan-bahan keterangan yang
dibuat secara benar dari setiap kegiatan usaha sehingga dapat lebih menjamin
perkembangan dan kepastian berusaha bagi dunia usaha”.

Pada tujuan ini berarti Dinas Pendapatan Daerah mempunyai kewenangan

untuk membina, mengarahkan, mengawasi, dan menciptakan iklim dunia usaha yang

sehat. Tetapi cara-caranya tidak dicantumkan dalam peraturan tersebut. Undang-

undang ini hanya melegalisasikan kutipan-kutipan liar (pungli) bagi Pemerintah untuk

meningkatkan pendapatannya. Akibatnya akan timbul transaction cost yang tinggi

bagi perusahaan untuk mendaftarkan, merubah, atau membubarkan perseroan.216 Jika

tidak didaftarkan atau diberitahukan bahwa perseroan sudah dibubarkan maka akan

terjerat ketentuan pidana pada Pasal 32 yang menyatakan bahwa217 :

(1) ”Barang siapa yang menurut Undang-undang ini dan atau peraturan
pelaksanaannya diwajibkan mendaftarkan perusahaannya dalam Daftar
Perusahaan yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya tidak memenuhi
kewajibannya diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) bulan
atau pidana denda setinggi-tingginya Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini merupakan
kejahatan”.

216
Transaction Cost timbul akibat dari keperluan untuk mengurusi Tanda Daftar Perusahaan.
Pada saat pembubaran juga, likuidator wajib untuk melaporkannya. Hal ini dikutip biaya administrasi
yang besarannya ditetapkan oleh Menteri (Pasal 30, Ibid.).
217
Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Loc.cit.
111

Apabila peraturan ini dijalankan dengan baik maka pelaku usaha tidak

keberatan untuk menjalankannya apalagi hanya membayar biaya administrasi yang

masih terjangkau pelaku usaha. Kenyataannya selain membayar administrasi tersebut

ada juga pembayaran yang dilakukan kepada oknum-oknum tertentu. Hal ini dapat

dilihat pada korupsi yang dilakukan sebagai berikut 218 :

”Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar) melakukan aksi unjukrasa di


Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Jalan Abdul Haris
Nasution, Medan, Selasa (08/03/2011). Dalam aksi ini salah satu tuntutan dari
Lempar adalah meminta Kejatisu untuk mengusut dugaan korupsi
pembangunan Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pendapatan Sumut
sebesar Rp. 8,2 miliar di sepuluh Kabupaten/Kota se-Sumut. Di antaranya
UPT Pematang Siantar, Kisaran, Padang, Sidempuan, Lubuk Pakam, Tebing
Tinggi, Balige, Samosir, Sidikalang, Tarutung, dan Rantau Parapat”.

Berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa Dinas Pendapatan Daerah

terindikasi korupsi dana-dana taktis pembangunan UPT. Korupsi juga dilakukan

melalui pungutan liar di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Medan

yang mengeluarkan perizinan usaha perdagangan, seperti yang dikatakan Sugisno,

salah seorang pelaku usaha di Kota Medan bahwa219 :

”Praktik pungutan liar (pungli) ini terbilang sangat halus dan rapi sehingga
sangat sulit untuk pembuktiannya. Biasanya, praktik pungli ini dilakukan saat
masyarakat, pelaku usaha dan Usaha Kecil Menengah (UKM) akan
mengambil izin kepada petugas juru bayar di loket depan seperti Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Usaha
Jasa Konstruksi (SIUJK) dan beberapa izin lainnya.

Saat mengambil izin itu, petugas loket tanpa malu-malu meminta kepada
masyarakat uang terima kasih yang jumlahnya bervariasi. Sementara tanda
bukti setoran tertulis tarif sesuai retribusi yang tertuang di Perda No. 22 Tahun
218
Mandailing Online, “Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp. 9,3 M”,
http://www.mandailingonline.com/2011/03/usut-kasus-dugaan-korupsi-di-dispenda-sumut-rp93-m/.,
diakses pada 11 Mei 2011.
219
Jurnal Medan, “Pungli Menggurita di BPPT Medan”,
http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=57953&Itemid=53., diakses
pada 11 Mei 2011.
112

2002. Seperti Tarif SIUP golongan kecil retribusi Rp.150.000,- menjadi


Rp.250.000,- golongan menengah berbentuk CV Rp.300.000,- menjadi
Rp.450.000,- dan SIUP besar bentuk usaha PT retribusi Rp.450.000,-
membengkak menjadi Rp.600.000,-.

Demikian juga untuk tarif TDP untuk golongan perorangan atau CV kecil
Rp.150.000,- menjadi Rp.250.000,-, usaha besar berbentuk PT dari
Rp.300.000,- menjadi Rp.400.000,-. Demikian juga tarif izin gangguan
industri (HO) dari Rp.680.400,- menjadi Rp.900.000,-. Sedangkan tarif SIUJK
dari Rp.150.000,- menjadi Rp.250.000,-.

Ironisnya lagi, tarif izin daftar ulang HO industri membengkak naik sampai
100% dengan alasan uang perubahan dan ditambah dengan uang badan
hukum. Contohnya : seperti izin CV. Aur Indah kalau dihitung-hitung
retribusinya hanya sekitar Rp.900.000,- saja. Tetapi di BPPT tarif
membengkak menjadi Rp.2.250.144,- dengan perincian retribusi
Rp.1.102.571,-, uang perubahan tambah 100% dan ditambah uang usaha
berbadan hukum Rp.25.000,- jadi total yang dibayar adalah Rp.2.230.144,-”.

Pengalaman Sugino di atas membuktikan bahwa pelayanan masyarakat masih

belum mudah, transparan, tepat waktu, dan prima. Para pejabat tersebut kebanyakan

menginginkan untuk dilayani, dengan begitu, sebaik apapun dibuat peraturan

perundang-undangan maka akan dimentahkan oleh sikap perilaku aparaturnya sendiri.

Inilah salah satu faktor dari tidak tegaknya hukum dengan baik yaitu budaya suap.

Seperti yang dikatakan oleh Soerjono Soekanto mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi penegakan hukum yaitu salah satunya adalah faktor budaya atau

kebiasaan hukum.

3. Penggelapan Aset oleh Pengurus Perusahaan

Penggelapan aset masa likuidasi oleh pengurus perusahaan terjadi

dikarenakan tidak adanya ditentukan waktu dalam hal penunjukan likuidator. Dengan
113

begitu maka Direksi bertindak sebagai likuidator. 220 Bertindaknya Direksi sebagai

likuidator dikarenakan tidak adanya perintah dari RUPS untuk menunjuk likuidator.

Sehingga Direksi menunjuk lagi Pelaksana Tugas Direksi dalam hal melikuidasi

perusahaan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya Pelaksana Tugas Direksi dengan

seenaknya menjual aset-aset perusahaan tanpa memasukkan hasil penjualan kedalam

rekening perusahaan.

Dengan penggelapan yang dilakukan oleh Pelaksana Tugas Direksi ini maka

perusahaan dapat mengambil langkah untuk memberhentikan secara langsung

Pelaksana Tugas Direksi tersebut dan menunjuk likuidator yang berkompeten dalam

melaksanakan likuidasi perseroan terbatas. Kasus penggelapan ini dapat diadukan ke

Kepolisian dengan membuat pengaduan sesuai prosedur yang berlaku. Dengan

begitu, pelaku penggelapan akan menjalani proses hukum. Proses hukum tersebut

adalah proses hukum pidana dimana pelaku akan diganjar dengan hukuman penjara

selama-lamanya 4 (empat) tahun.221

Penggelapan (verduistering) diatur dalam Bab XXIV (Buku II) KUHP Pasal

372-377. Pengertian yuridis mengenai penggelapan itu sendiri diatur dalam ketentuan

Pasal 372 KUHP. Pengertian dari penggelapan itu sendiri tidak dirumuskan secara

khusus dalam KUHP. Penggelapan bukan berarti membuat sesuatu menjadi gelap

atau tidak terang, namun memiliki pengertian yang lebih luas. Ada beberapa bentuk

220
Pasal 142 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Op.cit.
221
Pasal 372, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, menyebutkan bahwa : ”Barangsiapa
dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah
kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena
penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak sembilan ratus
rupiah”.
114

tindak pidana penggelapan, baik dalam penggelapan dalam bentuk pokok yang diatur

dalam Pasal 372 KUHP yang merupakan ketentuan yuridis dari tindak pidana

penggelapan itu sendiri, penggelapan ringan yang diatur dalam Pasal 372 KUHP,

penggelapan dalam bentuk pemberatan dimana ada ketentuan khusus yang

menyebabkan tindak pidananya dijadikan alasan pemberatan yang diatur dalam Pasal

374 dan 375 KUHP dan tindak pidana penggelapan dalam keluarga yang diatur dalam

Pasal 376 KUHP.

Tindak pidana penggelapan dalam jabatan likuidator itu sendiri terdiri dari

unsur-unsur objektif berupa perbuatan memiliki, objek kejahatan sebuah benda,

sebagian atau seluruhnya milik orang lain dan dimana benda berada dalam

kekuasaannya bukan karena kejahatan dan unsur-unsur subjektif berupa kesengajaan

dan melawan hukum. Selain itu ada beberapa unsur khusus yang digunakan terhadap

tindak pidana penggelapan dalam jabatan yaitu karena adanya hubungan kerja,

jabatan, dan mendapat upah khusus. Dalam kasus ini, penjatuhan sanksi pidana yang

harus dilakukan hakim terhadap Pelaksana Tugas Direksi yang melakukan tindak

kejahatan tersebut adalah Pasal 374 yaitu penggelapan dengan pemberatan. Unsur-

unsur yang terdapat dalam Pasal 372 KUHP sudah terpenuhi, baik unsur objektif

maupun subjektifnya. Selain itu ketentuan khusus yang memberatkan dalam hal ini

terdakwa menggunakan jabatan yang dimilikinya untuk melakukan penggelapan juga

sudah terpenuhi.

Setelah urusan pengaduan dan proses berperkara di pengadilan terkait dengan

penggelapan aset likuidasi oleh Pelaksana Tugas Direksi selesai maka selanjutnya

Likuidator yang sudah ditunjuk oleh RUPS dapat melanjutkan pekerjaannya untuk
115

melikuidasi perseroan terbatas tersebut. Adapun pihak yang melaporkan adalah

Organ Perusahaan, bisa itu Direksi, Komisaris, ataupun Pemegang Saham.

Namun, proses berperkara di pengadilan ini lama dan memakan waktu yang

panjang. Dengan begitu sebaiknya likuidator yang baru ditunjuk langsung

mengadakan perdamaian bisa melalui Negosiasi, Mediasi, ataupun Konsiliasi. Hal ini

untuk mewujudkan penyelesaian perkara melalui Luar Pengadilan dengan

menggunakan Alternative Dispute Resolution (ADR).


116

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian mengenai “Analisis Hukum Penyelesaian

Sengketa Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi”, maka kesimpulan

yang didapat, sebagai berikut :

1. Mengenai pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang perseroan

terbatas dalam likuidasi dilakukan oleh likuidator melalui 2 (dua) cara yaitu :

a. Jalur Pengadilan dengan cara gugat-menggugat dengan mendalilkan suatu

subjek hukum telah melakukan wanprestasi. Wanprestasi terjadi karena

debitur (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi isi perjanjian yang

disepakati, seperti : tidak dipenuhinya prestasi sama sekali; tidak tepat

waktu dipenuhinya prestasi; dan tidak layak memenuhi prestasi yang

dijanjikan. Hal ini diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b. Jalur Luar Pengadilan dengan menempuh Alternative Dispute Resolution

(ADR) diatur dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Adapun caranya, antara

lain : negosiasi; mediasi; dan konsiliasi.

Dalam hal likuidator menyelesaikan likuidasi perseroan terbatas yang diatur

dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka

likuidator untuk menyelesaikan seluruh persoalan dalam hal pemberesan


117

perseroan terbats. Pemberesan perseroan terbatas tersebut, termasuk di

dalamnya adalah penyelesaian sengketa hutang piutang.

2. Penentuan waktu likuidator terhadap likuidasi perseroan terbatas, menurut

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas tidak ada

diatur. Maka hal ini dapat diinterpretasikan dengan melihat ketentuan Pasal

142 ayat (2) huruf a., penunjukan likuidator dilakukan setelah RUPS

mengadakan rapat dalam acara pembubaran perseroan. Maka penunjukan

likuidator dilakukan pada saat itu juga. Hal ini dilakukan demi menegakkan

hukum agar tercapai kepastian, kemanfaatan, dan keadilan hukum.

3. Hambatan-hambatan penyelesaian hutang piutang yang dihadapi oleh

likuidator dikarenakan likuidator bertanggung jawab kepada Pemegang

Saham atas pemberesan yang dilakukan terhadap Perseroan Terbatas. Adapun

permasalahan yang dihadapi oleh likuidator, antara lain :

a. Tidak ada ditentukan oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas mengenai kapan seharusnya likuidator

tersebut ditunjuk untuk melikuidasi Perseroan Terbatas;

b. Pembagian sisa hasil likuidasi perseroan apabila salah satu Pemegang

Saham tidak setuju untuk menjualnya;

c. Pungutan liar dalam laporan pencabutan izin usaha;

d. Penggelapan aset oleh pengurus perusahaan.


118

B. Saran

Berdasarkan analisis dari kesimpulan di atas, selanjutnya akan disarankan

beberapa sebagai pemecahan masalah, antara lain :

1. Kesimpulan pertama mengutarakan bahwa penyelesaian hutang piutang

perseroan terbatas dalam likuidasi diatur diselesaikan dengan jalur pengadilan

(in-court) maupun luar pengadilan (out-court). Maka saran yang diajukan

sebaiknya likuidator berupaya untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan

cara luar pengadilan karena cara ini tidak memakan waktu yang lama dan

biasanya tidak berbiaya mahal. Penumpukan perkara di pengadilan membuat

penyelesaian memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit.

2. Pada kesimpulan kedua didapat bahwa tidak ada penetapan jangka waktu

penentuan likuidator dalam melikuidasi perseroan terbatas di dalam Undang-

Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka sebaiknya hal

ini dijadikan masukan bagi legislator dalam merevisi ketentuan hukum

perusahaan ini. Hal ini dilakukan demi menegakkan hukum agar pelaku usaha

atau badan hukum tidak kebingungan dalam menginterpretasikan ketentuan

likuidasi tersebut. Ketentuan mengenai jangka waktu yang tidak diatur

tersebut membuat mis-interpretation yang dilakukan oleh Perseroan Terbatas.

Terkait dengan teori penegakan hukum, sebaiknya Likuidasi dapat langsung

dilakukan oleh Likuidator berdasarkan keputusan RUPS. Dengan begitu hal-

hal yang tidak diinginkan akan terhindari. Jika, revisi tidak memungkinkan

sebaiknya para penegak hukum khususnya para Konsultan Hukum baik itu
119

Notaris ataupun Pengacara sudah bisa menginterpretasi kemauan undang-

undang, bahwa setelah melakukan RUPS untuk membubarkan perusahaan

langsung ditunjuk Likuidator dalam putusan RUPS tersebut.

3. Mengenai hambatan-hambatan yang muncul pada saat penyelesaian sengketa

hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi sebenarnya bisa dianulir

melalui penegakan hukum yang baik berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang ada. Mengenai penagihan hutang sementara perusahaan sudah

tutup atau tidak beroperasi lagi (sudah likuidasi duluan), dapat dilakukan

berdasarkan Pasal 150 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas bahwa : “kreditor dapat mengajukan tagihan melalui

Pengadilan dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pengumuman

pembubaran Perseroan.

Demikianlah saran yang diajukan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan di

kemudian hari, baik untuk memperkaya khasanah kepustakaan maupun untuk

penelitian selanjutnya mengenai sengketa hutang piutang perseroan terbatas dalam

likuidasi.
120

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Adi, Rianto., Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta : Granit, 2004.

Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali
Press, 2010.

Asshiddiqie, Jimly., Konstitusi Ekonomi, Jakarta : Kompas, 2010.

Aqimuddin, Eka An., dan Marya Agung Kusmagi, Solusi Bila Terjerat Kasus Bisnis,
Cetakan Pertama, Jakarta : Raih Asa Sukses, 2010.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan


Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, Jakarta : Kencana, 2009.

Darmodiharjo, Darji., dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum : Apa dan


Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,
1995.

ELIPS, Kamus Hukum Ekonomi Elips, Jakarta : Proyek Elips, 1997.

Ginting, Elvira Dewi., ”Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi


Perusahaan Dalam Kaitannya Dengan Hukum Kepalitan”, Tesis : Program
Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera
Utara, 2005.

Ginting, Laura., “Analisis Hukum Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham pada
Perseroan Terbatas Dilihat Dari Anggaran Dasar”, Tesis : Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Jakarta : Kencana Prenada


Media Group 2007.
121

Hisrich, Robert D., Michael P. Peters, dan Dean A. Shepherd, Enterpreneurship


Kewirausahaan, Edisi 7, Jakarta : Salemba Empat, Tanpa Tahun.

Institut Bankir Indonesia, Kamus Perbankan Indonesia, Jakarta : Institut Bankir


Indonesia, 1980.

Iskandar, Aziarni Hasibuan & Partners, “Laporan Pertanggungjawaban Likuidator


PT. Schutter Indonesia (Dalam Likuidasi)”, Medan, 18 Feburari 2008.

Jusuf, Jopie., Analisis Kredit Untuk Account Officer, Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama, 1995.

Magee, Bryan., The Story Of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, Yogyakarta :


Kanisius, 2008.

Muhdar, Muhamad., “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan
Penulisan Hukum”, Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010.

Murni, “Analisis Terhadap Likuidasi Persekutuan Komanditer (CV), Untuk Menjadi


Perseroan Terbatas (PT) dalam Perspektif Hukum Ekonomi”, Tesis :
Universitas Diponegoro Semarang, 1998.

Nasution, Bismar., “Catatan Perkuliahan : Hukum Perusahaan”, Medan : Program


Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,
2009.

--------------------------., “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan


Ekonomi”, Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009.

Pantouw, Rinus., Hak Tagih Factor Atas Piutang Dagang, Jakarta : Kencana, 2006.

Sari, Elsi Kartika., dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Jakarta :
Grasindo, Tanpa Tahun.
122

Satrio, Budi., “Penegakan Hukum Pidana di Bidang Pasar Modal”, Tesis: Sekolah
Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Siregar, Mahmul., Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal Studi


Kesiapan dalam Perjanjian Investasi Multilateral, Cetakan Kedua : Revisi,
Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

Sitompul, Manahan M. P., “Penyelesaian Sengketa Utang-Piutang Perusahaan


Dengan Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi
Mengenai Lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)”, Disertasi :
Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia


Press., 1996.

------------------------., Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta


: Raja Grafindo Persada, 1983.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Sunarmi, Hukum Kepailitan, Terbitan Pertana, Medan : USU Press, 2009.

Tampubolon, Veronica., “Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan yang


Dimuat Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas dan Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata)”, Tesis : Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, 2010.

Tan, Hiasinta Yanti Susanti., “Konsekuensi Perubahan Undang-Undang Perseroan


Terbatas Terhadap Eksistensi Perseroan Terbatas”, Tesis : Program Magister
Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2008.

Usman, Rachmadi., Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta : Gramedia


Pustaka Utama, 2001.
123

Wicaksono, Frans Satrio., Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris Perseroan
Terbatas, Cetakan Pertama, Jakarta : Visimedia, Oktober 2009.

Widjaja, Gunawan., Seri Pemahaman Perseroan Terbatas : 150 Tanya Jawab


Tentang Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, Jakarta : Forum Sahabat,
Agustus 2008.

ARTIKEL INTERNET

Arsyad, Amirullah., “Globalisasi dan Hukum Perbandingan”,


http://amrulgunper82.blogspot.com/2011/01/globalisasi-dan-hukum-
perbandingan.html., diakses pada 18 Maret 2011.

Dermawan, Candra., “Kesulitan Kuangan, Kebangkrutan, dan Likuidasi”,


http://candra.us/blog/?p=91., diakses pada 14 Maret 2011.

“Definisi Aktiva & Pasiva”, http://rahasiaakuntansi.blogspot.com/2010/03/definisi-


aktiva-pasiva.html., diakses pada 22 Maret 2011.

Investopedia, “Chapter 7”, http://www.investopedia.com/terms/c/chapter7.asp.,


diakses pada 14 Maret 2011.

Jurnal Medan, “Pungli Menggurita di BPPT Medan”,


http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=579
53&Itemid=53., diakses pada 11 Mei 2011.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, ”Likuidasi”,


http://kamusbahasaindonesia.org/likuidasi., diakses pada 08 Mei 2011.

Mandailing Online, “Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp. 9,3 M”,
http://www.mandailingonline.com/2011/03/usut-kasus-dugaan-korupsi-di-
dispenda-sumut-rp93-m/., diakses pada 11 Mei 2011.

Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id


/perpustakaan/.../Munandir%20(kode%20etik).ppt., 2007, diakses pada 25
Mei 2010.
124

Nasution, Bismar., “Pertanggungjawaban Direksi Dalam Pengelolaan Perseroan”,


http://bismar.wordpress.com/., diakses pada 16 Maret 2011.

“Perusahaan – Company Profil – Setelah sebuah Perusahaan Likuidasi Sukarela”,


http://www.companyprofil.com/perusahaan-company-profil-setelah-sebuah-
perusahaan-likuidasi-sukarela.html., diakses pada 14 Maret 2011.

Sunarmi, “Perbandingan Sistem Hukum Kepailitan Antara Inodnesia (Civil Law


System) dengan Amerika Serikat (Common Law System)”,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1597/1/perdata-sunarmi5.pdf.,
diakses pada 19 Maret 2011.

Tjahjono, Jusuf Patrianto., “Praktek Pelaksanaan Pembubaran PT”,


http://notarissby.blogspot.com/2008/07/praktek-pelaksanaan-pembubaran-
pt.html., diakses pada 11 Mei 2011.

--------------------------------------., “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”,


http://notarissby.blogspot.com/2008/08/pembagian-sisa-hasil-likuidasi.html.,
diakses pada 12 Mei 2011.

United States Courts, “Chapter 7 : Liquidation Under the Bankruptcy Code”,


http://www.uscourts.gov/FederalCourts/Bankruptcy/BankruptcyBasics/Chapte
r7.aspx., diakses pada 08 Mei 2011.

Wikipedia, ”Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat”,


http://id.wikipedia.org/wiki/Bab_11_Undang-
Undang_Kepailitan_Amerika_Serikat., diakses pada 14 Maret 2011.

Wikipedia, “Kreditur”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kreditur., diakses pada 22 Maret


2011.

Wikipedia, “Debitur”, http://id.wikipedia.org/wiki/Debitur., diakses pada 22 Maret


2011.
125

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Staatsblad Tahun 1915 Nomor 732.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23.

Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1990 tentang Pembubaran Perusahaan Perseroan


(Persero) PT. Pusat Perkayuan Marunda dan Penambahan Penyertaan Modal
Negara yang Berasal dari Kekayaan Negara Hasil Likuidasi Perusahaan
Perseroan (Persero) Tersebut ke Dalam Modal Saham Perseroan (Persero)
PT.Kawasan Berikat Nusantara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1990 Nomor 39.

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha,


Pembubaran, dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3831.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2818.

Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3214.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The


World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994
Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3587.
126

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3790.

Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian


Sengketa, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3872.

Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4724.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4756.

Anda mungkin juga menyukai