Anda di halaman 1dari 13

Al wala’ dan Al bara’

Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’)

Sumber: www. dakwatuna.com

Bukti keimanan seseorang adalah adanya amal nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh karena iman

bukan sekadar pengakuan kosong dan “lip service” belaka, tanpa mampu memberikan pengaruh dalam

kehidupan seorang Mukmin. Selain merespon seluruh amal islami dan menyerapnya ke dalam ruang

kehidupannya. Seorang Mukmin juga harus selalu loyal dan memberikan wala’-nya kepada Allah dan

Rasul-Nya. Ia harus mencintai dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh

perbuatan yang dilarang. Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak

Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya,

yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang

kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah

karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya),

lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang

beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-

Maa`idah: 54-55)

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan

mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah

dan Rasul-Nya,’ jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali

‘Imran: 31-32)

Di sisi lain, seorang Mukmin tidak boleh loyal dan cinta terhadap musuh-musuh Islam. Oleh karenanya,

dalam beberapa firman-Nya, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang hal ini.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan

orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali

karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan

kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi

sama (dengan mereka). Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu),

hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di
mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi

pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (an-Nisaa`: 89)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi

pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di

antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan

mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maa`idah:

51)

Oleh karena itu, setiap Muslim harus memahami dengan baik tentang konsep al-wala’ dalam perspektif

Islam.

Definisi

Secara etimologi, al-wala’ memiliki beberapa makna, antara lain ‘mencintai’, ‘menolong’, ‘mengikuti’ dan

‘mendekat kepada sesuatu’. Ibnu al-A’rabi berkata, “Ada dua orang yang bertengkar, kemudian pihak

ketiga datang untuk meng-ishlah (memberbaiki hubungan). Kemungkinan ia memiliki kecenderungan

atau wala’ kepada salah satu di antara keduanya.”

Adapun maula memiliki banyak makna, sebagaimana berikut ini.

“Ar-Rabb, Pemilik, Sayyid (Tuan), Yang Memberikan kenikmatan, Yang Memerdekakan, Yang Menolong,

Yang Mencintai tetangga, anak paman, mitra, atau sekutu, Yang Menikahkan mertua, hamba sahaya,

dan yang diberi nikmat. Semua arti ini menunjukkan arti pertolongan dan percintaan.” (Lihat Lisanul-

Arab, Ibnu Mandzur, 3/985-986)

Selanjutnya, kata muwaalah adalah anonim dari kata mu’aadah ‘permusuhan’ dan kata al-waliadalah

anonim dari kata al-aduw ‘musuh’. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena

sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad: 11)

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha

Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran)

kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang

mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni

neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Dalam terminologi syariat, al-wala’ bermakna penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang

disukai dan diridhai Allah, berupa perkataan, perbuatan, keyakinan, dan orang (pelaku). Jadi, ciri utama
orang Mukmin yang ber-wala’ kepada Allah SWT adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci

apa yang dibenci Allah. Ia mengimplementasikan semua itu dengan penuh komitmen.

Kedudukan Aqidah Wala’

Akidah al-wala’ ini memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam keseluruhan muatan Islam.

Pertama, ia merupakan bagian penting dari makna syahadat. Maka, menetapkan “hanya Allah” dalam

syahadat tauhid berarti seorang Muslim harus berserah diri hanya kepada Allah, membenci dan

mencintai hanya karena Allah, lembut dan marah hanya kepada Allah, dan ia harus memberikan

dedikasi maupun loyalitasnya hanya kepada Allah.

“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan

semesta alam.” (al-An’aam: 162)

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’

Mereka menjawab, ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini

mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah

sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (an-Nahl: 30)

Kedua, ia merupakan bagian dari ikatan iman yang kuat. Rasulullah saw. bersabda,

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR Ahmad dalam

Musnadnya dari al-Bara’ bin ‘Azib)

Ketiga, ia merupakan sebab utama yang menjadikan hati bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah

saw. bersabda,

‫ل ِمْنُه َكَما‬
ُّ ‫ن َأْنَقَذُه ا‬
ْ ‫ن َيُعوَد ِفي اْلُكْفِر َبعَْد َأ‬
ْ ‫ن َيْكَرَه َأ‬
ْ ‫ َوَأ‬،‫ل‬
ِّ ‫ل‬
ّ ‫حّبُه ِإ‬
ِ ‫ل ُي‬
َ ‫ب اْلَمْرَء‬
ّ ‫ح‬
ِ ‫ن ُي‬
ْ ‫ َوَأ‬،‫سَواُهَما‬
ِ ‫ب ِإَلْيِه ِمّما‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سوُلُه َأ‬
ُ ‫ل َوَر‬
ُّ ‫ن ا‬
َ ‫ن َكا‬
ْ ‫ َم‬:‫ن‬
ِ ‫لْيَما‬
ِ ‫لَوَة ا‬
َ‫ح‬َ ‫ن‬
ّ ‫جَد ِبِه‬
َ ‫ن ِفيِه َو‬
ّ ‫ن ُك‬
ْ ‫ث َم‬
ٌ ‫ل‬
َ ‫َث‬

‫ن ُيْقَذفَ ِفي الّناِر‬


ْ ‫َيكَْرُه َأ‬

“Ada tiga hal yang apabila seseorang mendapatkan dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan manisnya

iman: hendaklah Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri; hendaklah ia tidak mencintai

seseorang kecuali karena Allah; hendaklah ia benci kepada kekufuran seperti bencinya untuk

dilemparkan ke dalam neraka setelah Allah menyelamatkannya daripadanya.”(Muttafaqun ‘Alaih)

Keempat, ia merupakan tali hubungan di mana masyarakat Islam dibangun di atasnya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan)

antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat:

10)
Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.”(HR

Ahmad dalam Musnadnya)

Kelima, pahala yang sangat besar bagi orang yang mencintai karena Allah. Rasulullah saw. bersabda,

‫شَهَداُء‬
ّ ‫ن َوال‬
َ ‫طُهْم الّنِبّيو‬
ُ ‫ن ُنوٍر َيْغِب‬
ْ ‫لِلي َلُهْم َمَناِبُر ِم‬
َ‫ج‬َ ‫ن ِفي‬
َ ‫حاّبو‬
َ ‫اْلُمَت‬

“Orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku (Allah) akan berada di atas mimbar dari

cahaya pada hari kiamat di mana para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi)

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, di mana pada hari itu tiada naungan

kecuali naungan-Nya. (Di antara mereka) adalah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah,

mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.” (HR Muslim)

Keenam, perintah syariat untuk mendahulukan akidah al-wala’ ini daripada hubungan yang lain.

‫سِبيِلِه‬
َ ‫جَهاٍد ِفي‬
ِ ‫سوِلِه َو‬
ُ ‫ل َوَر‬
ِّ ‫ن ا‬
َ ‫ب ِإَلْيُكْم ِم‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ضْوَنَها َأ‬
َ ‫ن َتْر‬
ُ ‫ساِك‬
َ ‫ساَدَها َوَم‬
َ ‫ن َك‬
َ ‫شْو‬
َ‫خ‬
ْ ‫جاَرٌة َت‬
َ ‫ل اْقَتَرْفُتُموَها َوِت‬
ٌ ‫شيَرُتُكْم َوَأْمَوا‬
ِ‫ع‬
َ ‫جُكْم َو‬
ُ ‫خَواُنُكْم َوَأْزَوا‬
ْ ‫ن َآَباُؤُكْم َوَأْبَناُؤُكْم َوِإ‬
َ ‫ن َكا‬
ْ ‫ل ِإ‬
ْ ‫ُق‬

َ ‫سِقي‬
‫ن‬ ِ ‫ل َيْهِدي اْلَقْوَم اْلَفا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ل ِبَأْمِرِه َوا‬
ُّ ‫ي ا‬
َ ‫حّتى َيْأِت‬
َ ‫صوا‬
ُ ‫َفَتَرّب‬

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta

kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang

kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka

tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada

orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Ketujuh, mendapatkan walayatullah.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran)

kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang

mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Kedelapan, akidah ini merupakan tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat.

Allah berfirman,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan

mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” Al-

Baqarah:166.

———oOo———–

Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 2)


Sumber: www.dakwatuna.com

Berdasarkan beberapa ayat dan hadits, aqidah al-wala’ dan al-bara’ merupakan suatu kewajiban yang

harus ditegakkan dalam syariat Islam. Ia merupakan salah satu konsekuensi dan syarat sahnya

syahadat. Seorang Muslim tidak mungkin lepas dari akidah ini dalam setiap dimensi kehidupannya. Ia

harus mencintai Allah SWT, Rasul, dan hamba-hamba yang beriman, dengan segala pengorbanannya.

Pada saat yang sama, ia harus menegakkan permusuhan terhadap kekufuran dan manusia-manusia

yang mendukung kekufuran tersebut. Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini.

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta

kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang

kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka

tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada

orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

ž“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan

orang-orang mukmin. Bara’ngsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali

karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan

kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

ž“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang

dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,

atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang

telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang

datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-

sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap

(limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu

adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)

‫ن َواِلِدِه َوَوَلِدِه‬
ْ ‫حبّ ِإَلْيِه ِم‬
َ ‫ن َأ‬
َ ‫حّتى َأُكو‬
َ ‫حُدُكْم‬
َ ‫ن َأ‬
ُ ‫ل ُيْؤِم‬
َ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya,

dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘Alaih)

‫ن َمَعُه َفِإّنُه ِمْثُلُه‬


َ ‫سَك‬
َ ‫ك َو‬
َ ‫شِر‬
ْ ‫جاَمَع اْلُم‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َم‬

“Barangsiapa yang berkumpul dengan orang musyrik dan tinggal (merasa tenang) dengannya, maka ia

sama dengannya.” (HR Abu Daud dari Samurah bin Jundub)

Hak-Hak Loyalitas
Ada beberapa hak yang berkaitan dengan akidah al-wala’ dalam syariat Islam, sebagaimana penjelasan

berikut.

Pertama, hijrah, yaitu hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, kecuali bagi orang yang lemah atau

tidak dapat berhijrah karena kondisi geografis dan politik kontemporer yang tidak memungkinkan. Allah

berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada

mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami

orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas,

sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan

Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau

perempuan, ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk

hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha

Pengampun.” (An-Nisa: 97-99)

Kedua, membantu dan menolong kaum muslimin dengan lisan, harta, dan jiwa di manapun ia berada

dan dalam semua kebutuhan, baik dunia maupun agama. Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada

jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang

Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman,

tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum

mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan

pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada

perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfal:

72)

‫صاِبِعِه‬
َ ‫ن َأ‬
َ ‫ك َبْي‬
َ ‫شّب‬
َ ‫ضا َو‬
ً ‫ضُه َبْع‬
ُ ‫شّد َبْع‬
ُ ‫ن َي‬
ِ ‫ن َكاْلُبْنَيا‬
ِ ‫ن ِلْلُمْؤِم‬
ُ ‫اْلُمْؤِم‬

“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menyangga

sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

‫ظُلوًما‬
ْ ‫ظاِلًما َأْو َم‬
َ ‫ك‬
َ ‫خا‬
َ ‫صْر َأ‬
ُ ‫اْن‬

“Tolonglah saudara kamu baik yang melakukan kezhaliman atau yang dizhalimi.” (HR Bukhari)

‫سِلُمُه‬
ْ ‫ل ُي‬
َ ‫ظِلُمُه َو‬
ْ ‫ل َي‬
َ ‫سلِِم‬
ْ ‫خو اْلُم‬
ُ ‫سِلُم َأ‬
ْ ‫اْلُم‬

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak

menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)


Ketiga, terlibat dalam harapan-harapan dan kesedihan-kesedihan kaum Muslimin. Rasulullah saw.

bersabda,

‫حّمى‬
ُ ‫سَهِر َواْل‬
ّ ‫سِد ِبال‬
َ‫ج‬
َ ‫ساِئُر اْل‬
َ ‫عى َلُه‬
َ ‫ضٌو َتَدا‬
ْ ‫ع‬
ُ ‫شَتَكى ِمْنُه‬
ْ ‫سِد ِإَذا ا‬
َ‫ج‬
َ ‫ل اْل‬
ُ ‫طِفِهْم َمَث‬
ُ ‫حِمِهْم َوَتَعا‬
ُ ‫ن ِفي َتَواّدِهْم َوَتَرا‬
َ ‫ل اْلُمْؤِمِني‬
ُ ‫َمَث‬

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika

salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan

berjaga.” (HR Bukhari)

Keempat, hendaklah ia mencintai saudara Muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, baik berupa

kebaikan maupun menolak keburukan. Ia wajib menasihati mereka, tidak menyombongkan diri dan atau

mendendam terhadap mereka.

Kelima, tidak mengejek, melecehkan, mencari aib, dan ber-ghibah serta

menyebarkan namimahterhadap sesama kaum Muslimin.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang

lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan

merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka

mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-

buruk panggilan adalah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan bara’ngsiapa yang tidak bertobat,

maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11-12)

Yang dimaksud dengan ‘jangan mencela dirimu sendiri’ ialah mencela antara sesama mukmin karena

orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Dan ‘panggilan yang buruk’ ialah gelar yang tidak disukai oleh

orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti

“Hai, Fasik”, “Hai, Kafir,” dan sebagainya.

Keenam, mencintai kaum Muslimin dan berusaha untuk berkumpul bersama mereka. Rasulullah saw.

bersabda, “Adalah wajib bagiku mencintai orang-orang yang saling menziarahi.” (HR Ahmad)

“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR At-

Thabrani)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja

hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)

mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami

lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati

batas.” (Al-Kahfi: 28)


Ketujuh, melakukan apa saja yang menjadi hak kaum Muslimin, seperti menjenguk yang sakit atau

mengantar jenazah, tidak curang dalam bergaul dengan mereka, tidak memakan harta mereka dengan

cara yang batil, dan lainnya. Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR Muslim)

َ ‫ض َفُعْدُه َوِإَذا َما‬


‫ت‬ َ ‫سّمْتُه َوِإَذا َمِر‬
َ ‫ل َف‬
َّ ‫حِمَد ا‬
َ ‫س َف‬
َ ‫ط‬
َ‫ع‬
َ ‫ح َلُه َوِإَذا‬
ْ‫ص‬
َ ‫ك َفاْن‬
َ‫ح‬
َ‫ص‬َ ‫سَتْن‬
ْ ‫جْبُه َوِإَذا ا‬
ِ ‫ك َفَأ‬
َ ‫عا‬
َ ‫عَلْيِه َوِإَذا َد‬
َ ‫سّلْم‬
َ ‫ل ِإَذا َلِقيَتُه َف‬
َ ‫ل َقا‬
ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬
ُ ‫ن َيا َر‬
ّ ‫ل َما ُه‬
َ ‫ت ِقي‬
ّ ‫س‬
ِ ‫سِلِم‬
ْ ‫عَلى اْلُم‬
َ ‫سِلِم‬
ْ ‫ق اْلُم‬
ّ‫ح‬
َ

‫َفاّتِبْعُه‬

“Hak seorang Muslim atas seorang Muslim yang lain ada enam.” Ada yang bertanya, ‘Apa saja ya

Rasululllah?’ Beliau menjawab, bila kamu berjumpa dengannya ucapkan salam, jika ia mengundangmu

penuhilah, jika ia meminta nasihat kepadamu nasihatilah, jika ia bersin dan memuji Allah hendaknya

kamu mendoakannya, dan jika ia sakit jenguklah, dan jika ia mati antarkanlah jenazahnya….” (HR

Muslim)

Kedelapan, bersikap lembut terhadap Muslimin, mendoakan dan memohonkan ampun bagi mereka.

Allah berfirman,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah

ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah

mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19)

‫حْم‬
َ ‫ل ُيْر‬
َ ‫حْم‬
َ ‫ل َيْر‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َم‬

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi.” (HR Bukhari

dan Muslim)

Kesembilan, menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta

menasihati mereka.

‫عاّمِتِهْم‬
َ ‫ن َو‬
َ ‫سِلِمي‬
ْ ‫لِئّمِة اْلُم‬
َِ ‫سوِلِه َو‬
ُ ‫ل َوِلِكَتاِبِه َوِلَر‬
ِّ ‫ل‬
َ ‫ن َقا‬
ْ ‫حُة ُقْلَنا ِلَم‬
َ ‫صي‬
ِ ‫ن الّن‬
ُ ‫الّدي‬

“Agama adalah nasihat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapakah, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk

Allah, Rasul, kitab-kitab, pemimpin kaum Muslimin, dan untuk mereka semua.’” (HR Muslim)

ِ ‫ليَما‬
‫ن‬ ِْ ‫ف ا‬
ُ ‫ضَع‬
ْ ‫ك َأ‬
َ ‫طْع َفِبَقْلِبِه َوَذِل‬
ِ ‫سَت‬
ْ ‫ن َلْم َي‬
ْ ‫ساِنِه َفِإ‬
َ ‫طْع َفِبِل‬
ِ ‫سَت‬
ْ ‫ن َلْم َي‬
ْ ‫ن َرَأى ِمْنُكْم ُمْنَكًرا َفْلُيَغّيْرُه ِبَيِدِه َفِإ‬
ْ ‫َم‬

“Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan;

maka apabila tidak mampu hendaklah (ia lakukan) dengan lisannya; dan apabila tidak mampu,

hendaklah (ia lakukan) dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Kesepuluh, tidak mencari-cari aib dan kesalahan kaum Muslimin serta membeberkan rahasia mereka

kepada musuh-musuh Islam.


“…dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan mereka…” (Al-Hujurat: 12)

Kesebelas, bergabung ke dalam jamaah kaum Muslimin dan tidak berpisah dengan mereka.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan

ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka

Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;

dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah

Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang

bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu

dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-

Nisa: 115)

Keduabelas, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-

menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya

Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2) Allahu A’lam

——-0)(0 ——-

Loyalitas Dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 3)

Sumber: www.dakwatuna.com

Konsep al-wala’ -loyalitas- dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap muslim apabila ingin benar-

benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan

memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang al-wala’ yang tidak jelas, bahkan ia

akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya.

Kalimat syahadat terdiri nafi (la) manfi (ilaha), itsbat (illa) dan mutsbit (Allah)

1. Laa Ilaha Illa Allah.

a. Laa (tidak ada – penolakan)

Kata penolakan yang mengandung pengertian menolak semua unsur yang ada di belakang kata

tersebut.

b. Ilaha (sembahan – yang ditolak)


Sembahan yaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, yaitu segala bentuk sembahan yang bathil (lihat A3).

Dua kata ini mengandung pengertian bara’ (berlepas diri).

c. Illa (kecuali – peneguhan)

Kata pengecualian yang berarti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya

yang tidak ditolak.

d. Allah (yang diteguhkan atau yang dikecualikan)

Kata yang dikecualikan oleh illa. Lafzul Jalalah (Allah) sebagai yang dikecualikan.

Dalil:

• Q.16: 36, inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah dan hanya
menerima Allah saja sebagai satu-satunya sembahan.
• Q.4: 48, 4: 116, bahaya menyimpang dari Tauhid. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni.
• Q.47: 19, dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid.
• Q.7: 59,65,73, beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan pengabdian kepada
Allah dan menolak ilah-ilah yang lain.
• Hadits. Ikatan yang paling kuat dari pada iman adalah mencintai karena Allah dan membenci
karena Allah.
• Hadits. Bara’ng-siapa yang mencintai karena Allah,membenci karena Allah, memberi karena
Allah dan melarang karena Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman.

2. Bara’ (pembebasan).

Merupakan hasil kalimat Laa ilaha illa yang artinya membebaskan diri daripada segala bentuk

sembahan. Pembebasan ini berarti: mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan

memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah samada berupa sistem,

konsep maupun pelaksana.

Dalil:

• Q.60: 4, contoh sikap bara’ yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap
kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi.
• Q.9: 1, sikap bara’ berarti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-
orang kafir dan musyrik.
• Q.47: 7, sikap bara’ adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.
• Q.58: 22, sikap bara’ dapat diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap
familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab membunuh bapa
saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini
berlangsung di medan perang.
• Q.26: 77, Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan
kaumnya.

3. Hadam (penghancuran).
Sikap bara’ dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk pengabdian

terhadap tandingan-tandingan maupun sekutu-sekutu selain Allah, apakah terhadap diri, keluarga

maupun masyarakat.

Dalil:

Q.21: 57-58, Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang membodohi masyarakatnya

pada masa itu. Cara ini sesuai pada masa itu tetapi pada masa Rasulullah, Rasul Saw menghancurkan

akidah berhala dan fikrah yang menyimpang terlebih dahulu. Setelah fathu Mekkah, kemudian 360

berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan oleh Rasul.

4. Al Wala’ (loyalitas).

Kalimat Illa Allah berarti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah). Artinya: selalu

mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela, mendukung dan menolong.

Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan Allah seperti Rasul dan orang yang beriman.

Dalil:

• Q.5: 7, 2: 285, Iman terhadap kalimat suci ini berarti bersedia mendengar dan taat.
• Q.10: 61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah karena selalu dekat
kepada Nya.
• Q.2: 165, wala’ kepada Allah menjadikan Allah sangat dicintai, lihat 9: 24.
• Q.61: 14, sebagai bukti dari wala’ adalah selalu siap mendukung atau menolong dien Allah.

5. Al Bina (membangun).

Sikap wala’ beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan yang kuat

dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun sistem dan aktivitas Islam yang

menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat.

Dalil:

• Q.22: 41, ciri mukmin adalah senantiasa menegakkan agama Allah.


• Q.24: 55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun dienullah.
• Q.22: 78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat membangun
dienullah.

6. Ikhlas.

Keikhlasan yaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap bara’ terhadap selain Allah

dan memberikan wala’ sepenuhnya kepada Allah.

Dalil:

• Q.98: 5, mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah.


• Q.39: 11,14, sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari Laa ilaha illa Allah.

7. Muhammad Rasulullah.

Konsep Wala’ dan Bara’ ditentukan dalam bentuk:

Allah sebagai sumber. Allah sebagai sumber wala’, dimana loyalitas mutlak hanya milik Allah dan

loyalitas lainnya mesti dengan izin Allah.

Rasul sebagai cara (kayfiyat). Pelaksanaan Wala’ terhadap Allah dan Bara’ kepada selain Allah mengikuti

cara Rasul.

Mukmin sebagai pelaksana. Pelaksana Wala’ dan Bara’ adalah orang mukmin yang telah diperintahkan

Allah dan dicontohkan Rasulullah.

Dalam pelasaksanaan Bara’, Rasulullah memisahkan manusia atas muslim dan kafir. Hizbullah dengan

Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang mengimani Laa ilaha illa Allah dan

Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari dua

kalimah syahadat atau kedua-duanya.

Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara hikmah

dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka

boleh diperangi sampai mereka mengakui ketinggian kalimah Allah.

Hubungan kekeluargaan seperti ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam kemusyrikan atau

maksiat terhadap Allah.

Dengan demikian pelaksanaan Wala’ dan Bara’ telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang

telah dicontohkan Rasulullah Saw.

Dalil:

• Q.5: 55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang beriman.
• Q.4: 59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari kalangan mukmin.
• Q.5: 56, orang-orang yang memberikan wala’ kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin
adalah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58: 22. Selain golongan ini adalah Hizbus Syaithan.
• Q.60: 7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu. Asbabun Nuzul
ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk
rumahnya sebelum mendapat izin dari Rasulullah, lihat pula 31: 15

Penutup

Oleh karena itu, konsep al-wala’ dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap Muslim apabila ingin

benar-benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan

memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang samudera al-wala’ yang tidak jelas,

dan ia akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya. Akhirnya, ia cenderung


mendukung apa saja yang dilakukan musuh-musuh Islam dan membenci bahkan menyalahkan kaum

Muslimin, seperti kasus Ambon, Poso, Palestina, dan yang lainnya. Maka, dengan memahami konsep al-

wala’ semakin jelaslah posisi yang hak dan batil: mana yang menjadi musuh dan mana yang menjadi

sahabat; mana yang menjadi lawan dan mana yang menjadi kawan. Wallahu a’lam bish-shawwab.