Anda di halaman 1dari 2

c  

    
 

oleh Widya Dwi Aryati, 1006683923

Judul : ³Pengertian Manusia menurut Ajaran Islam´

Pengarang : DR. KH Zakky Mubarak, MA

Data Publikasi: Mubarak, DR. KH Zakky, MA. 2010.? ?  ?
 ?

?  ??

?. Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna.

Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap
dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain, karena pada manusia terdapat
daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, yang kadang-kadang disebut dengan jiwa, ruh, 
,
, dan sebagainya. Manusia adalah makhluk Allah s.w.t. yang memilki unsur dan
daya materi, tumbuh-tumbuhan, hewan, yang memiliki jiwa dengan ciri-ciri berfikir,
berakal, dan bertanggung jawab pada Allah s.w.t. yang diciptakan dengan memiliki
akhlak, yang meneladani akhlak Allah s.w.t. dalam kadar yang amat rendah
( 
??  ). Manusia diciptakan Allah s.w.t. dalam arti  bukan
hakekat.
Manusia merupakan makhluk yang sempurna dan mulia. Manusia merupakan
makhluk yang unik, sebagai makhluk yang paling sempurna, baik kejadian fisiknya
maupun rohaniahnya. Selain sebagai makhluk yang paling sempurna manusia juga
dijadikan Allah s.w.t. sebgai makhluk yang memiliki kemuliaan dan keluhuran.
Sebagai makhluk yang paling sempurna, manusia dimintai pertanggunjawaban
terhadap amanah yang diberikan padanya untuk mengelola alam semesta bagi
kesejahteraan semua makhluk.Setiap manusia menurut pandangan Islam adalah
pemimpin, sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Setiap pemimpin bertanggung
jawab terhadap apa yang dipimpinnya, baik lahir maupun batin, di dunia maupun di
akhirat.
Disebabkan manusia memiliki akal dan kalbu, maka ia dijadikan sebagai
khalifah dan sekaligus hamba Allah. Khalifah mengandung makna bahwa Allah
menjadikan manusia sebagai pemegang kekuasaan untuk melaksanakan syariat-Nya di
bumi. Sebagai hamba Allah, manusia dijadikan makhluk beribadah pada-Nya.
Akhlak merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk
lain. Kedudukan dan kemuliaan manusia ditentukan oleh akhlaknya. Tegak runtuhnya
suatu bangsa juga ditentukan oleh akhlaknya. Salah satu kunci sukses dari perjuangan
Nabi Muhammad s.a.w. adalah terletak pada kemuliaan dan keluhuran akhlaknya.
Demikian tingginya akhlak Rasulullah s.a.w. sehingga Allah s.w.t. memujinya dalam al-
Qur¶an. ³@? 

? 
? ?
?? ?
 (QS. al-
Qalam, 68:4). Nabi Muhammad s.a.w. diutus oleh Allah s.w.t. untuk melengkapi
kesempurnaan akhlak. Akhlak Nabi adalah pengejawantahan dari al-Qur¶an.
Status dan kedudukan manusia bersifat kontroversial, apabila ia menggunakan
akalnya dan dapat mengendalikan nafsunya serta beriman kepada Allah, manusia
menjadi makhluk yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, sehingga
mengungguli kedudukan para malaikat. Sebaliknya, apabila manusia tidak
mempergunakan akal dan diperbudak oleh hawa nafsunya, maka akan menjadi makhluk
yang paling hina dan paling rendah, bahkan lebih rendah dari hewan ternak sekalipun.
Hal ini terjadi karena apabila manusia melakukan kejahatan dan merusak di muka bumi
serta menumpahkan darah, maka kerusakan itu akan amat dahsyat.
Manusia yang memiliki akal, tetapi tidak mempergunakan akalnya dengan baik,
memiliki penglihatan, tetapi tidak digunakan dengan baik untuk melihat kebenaran,
mempunyai pendengaran, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan kebaikan,
kedudukannya lebih rendah dari hewan ternak dan kelak di akhirat termasuk orang yang
memperoleh adzab yang menyakitkan seperti dalam firman Allah, ?@? 

?
 ? ?

?  ? ? ! "? ? ? ? ? 
#? ?
 
? #??? 
?

?   ? ? $ "??
?  
? ? "? ? 
?

?  ? ?

 ?$ "#?? ?  
? ? "??
?

?
? ?$ "#? ?
? ??#?? ? ?
 ? #? ?
???   (QS. al-A¶raf, 7: 179)