Anda di halaman 1dari 61

http://www.yoyoke.web.ugm.ac.

id OBAT (BIOMEDIK FARMAKOLOGI)


By: Raden Sanjoyo – D3 Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada
Halaman
1. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan…………………. 2
a. Pengertian Obat………………………………………………… 2
b. Bahan Obat / Bahan Baku……………………………………… 2
c. Obat Tradisional……………………………………………….. 3
d. Penggolongan Obat……………………………………………. 3
e. Peran Obat……………………………………………………… 4
2. Parameter-parameter Farmakologi………………………………… 5
a. Farmakokinetika……………………………………………….. 5
b. Farmakodinamika……………………………………………… 8
3. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya………… 11
• Bentuk-bentuk Obat serta Tujuan Penggunaannya…………….. 11
• Cara Pemberian Obat serta Tujuan Penggunaannya…………… 14
• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan…………………………….. 16
4. Terapi Obat pada Pasien-pasien Khusus…………………………… 17
a. Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Hamil…………………… 17
b. Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Menyusui………………. 17
c. Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Anak…………………… 18
d. Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Lansia…………………... 19
e. Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Gangguan Ginjal dan Hati 20
5. Penggolongan Obat pada Saluran Cerna…………………………… 21
6. Penggolongan Obat pada Saluran Pernafasan……………………… 26
7. Penggolongan Obat pada Antibiotika……………………………… 20
8. Pengetahuan Farmakologi (obat) bagi Rekam Medis………………. 35

REFERENSI……………………………………………………………. 37
1 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
1. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan
a. Pengertian Obat
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-
paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi
rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup,
maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang
dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud
pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa
penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan
kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan
gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme
hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu
penyakit.
b. Bahan Obat / Bahan Baku
Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun
yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan

2 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan.
Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan
pengemasan untuk menjadi oabt jadi.
c. Obat Tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun
menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
d. Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1) Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan
tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan
mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat
golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2) Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru
dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam
golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan
penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin
dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat
golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3) Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang
didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang
berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan
resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat
jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes,
hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan ini hanya
dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.

3 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
4) Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika).
Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat
palang (+) berwarna merah.
Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga
obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak
dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca,
ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-
obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat
penghilang rasa sakit.
e. Peran Obat
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan
kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan
komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting
dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak
dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah
dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai
berikut:
1) Penetapan diagnosa
2) Untuk pencegahan penyakit
3) Menyembuhkan penyakit
4) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6) Peningkatan kesehatan
7) Mengurangi rasa sakit

4 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
2. Parameter-parameter Farmakologi
a. Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam
tubuh yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya (ADME).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya
mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan
menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari
dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan
serentak seperti yang terlihat pada gambar 1.1 dibawah ini.

Gambar 1.1. Berbagai proses farmakokinetika obat


1) Absorpsi dan Bioavailabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses
penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan
proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang
diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini
menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi

5 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak
semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik.
Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral
dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme
ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or
elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas
oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna.
Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi
sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas
pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral
(misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rektal, atau memberikannya
bersama makanan.
2) Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah.
Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat
fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di
dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke
organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak.
Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang
perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak.
Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke
ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu
melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut
dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan
obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga
distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh

6 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai
keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas
obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh
protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.
3) Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat
yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat
diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut
dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada
umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam
mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif,
atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan
oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih
lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan
letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum
endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-
mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati,
tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna,
dan plasma.
4) Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit
hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi
lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal
merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari
3

7 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi
pasif di tubuli proksimal dan distal.
Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis
perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat
dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi
dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek
obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat
tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya
arsen, pada kedokteran forensik.

b. Farmakodinamika
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ
tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk
meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan
peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai
hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.
1) Mekanisme Kerja Obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu
organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi
dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat
merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting.
Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa
obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang
sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih
berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan
sebagai

8 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor
yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai
senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai
aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat
ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.
2) Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubunga dengan afinitasnya terhadap reseptor dan
aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya
perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat
farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat
dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik,
atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. Dalam keadaan tertentu,
molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein seluler lain membentuk
sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.
3) Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi
ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler
fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor
yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasmaoleh transmitor. Kebanyakan
messenger ini bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di
membran sel ialah katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat
dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.
4) Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya
merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan
jarang berupa ikatan kovalen.

9 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
5) Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme
fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat
bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Antagonisme merupakan peristiwa
pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. Peristiwa ini termasuk
interaksi obat. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis, sedang
obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Secara umum obat yang
efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek, sedangkan obat yang
mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan.
6) Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor
Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat
ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil,
atau masuk ke komponen sel.
7) Efek Obat
Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme
hidup akibat kerja obat.

10 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
3. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya
• Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk
pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.
b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus
menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih
atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa 􀃆paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta
penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak 􀃆dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam
lubang cetakan.
3) Tablet Trikurat 􀃆tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah
jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik 􀃆dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna
dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan
secara oral.
5) Tablet Sublingual 􀃆dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan
meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal 􀃆digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen 􀃆tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup
rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.

11 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
8) Tablet Kunyah 􀃆cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di
rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan
dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur
tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan
pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian
dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.
f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut,
biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau
penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga
dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya
terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling
bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam
fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral

12 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
(juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes
telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase
cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya
distabilkan oleh zat pengemulsi.
i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan
yang disari.
j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati
atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir
semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.
k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air
pada suhu 900 C selama 15 menit.
l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum
hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat
kuman/virus/antigen.
m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam
dasar salep yang cocok.

13 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui
rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Tujuan pengobatan yaitu:
1) Penggunaan lokal 􀃆memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan
inflamasi karena hemoroid.
2) Penggunaan sistemik 􀃆aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti
muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.
o. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat
dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang
disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae
(obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales
(tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan
cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya
yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima
pengobatan melalui mulut.
• Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:
a. Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman,
praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang
sering muntah, diare, tidak

14 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya
terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin
G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.
Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah
yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa
obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien
muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral
tidak dapat dipakai.
b. Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih
cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus
pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna
dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)
c. Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma.
Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol,
terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya
yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel
paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat
melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.
d. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat
serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi
lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol,
indometasin, teofilin, barbiturat.
e. Pervaginam
Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke
pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.

15 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
f. Parentral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam
tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke
pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran.
Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang
sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung;
dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis
ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan –
infeksi).
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral,
termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak
stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah
aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.
g. Topikal/lokal
Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.
h. Suntikan
Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.

• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan


Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama
Oral Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup,
eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk,
erosol, latio, tempelan transdermal,
cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival Salep
Introakular/intraaural Larutan, suspensi
Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori Erosol
Rektal Larutan, salep, supositoria
Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi,
tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral Larutan, supositoria
http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
4. Terapi Obat Pada Pasien-pasien Khusus Farmakoterapi merupakan cabang ilmu
farmakologi yang mempelajari obat untuk mencegah, menegakkan diagnostik,
menyembuhkan penyakit, memulihkan (rehabilitasi) kesehatan, namun juga untuk mencegah
fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu (misal: penggunaan obat-obat KB, anastetika
umum (hilangnya kesadaran dan respon aktif (nyeri), fisiologi berubah, sehingga dioperasi
tidak sakit)). Tujuan terapi adalah untuk menyembuhkan, mengurangi rasa sakit, menghindari
komplikasi, serta memperpanjang masa hidup.
a. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Hamil.
Penggunaan obat dapat mengakibatkan kecacatan pada bayi atau mempengaruhi
janin, apabila obat yang dikonsumsi oleh ibu hamil tembus ke placenta.
Obat hanya diresepkan pada wanita hamil bila manfaat yang diperoleh ibu diharapkan
lebih besar dibanding resiko pada janin.
Sedapat mungkin dihindari penggunaan segala jenis obat pada trimester pertama
kehamilan
Bila menggunakan obat saat hamil, maka harus dipilih obat yang paling aman. Obat
harus diresepkan pada dosis efektif yang terendah dan untuk jangka waktu pemakaian
yang sesingkat mungkin.
b. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Menyusui
Obat yang diminum ibu menyusui dapat menembus air susu sehingga
diminum/terminum oleh bayi. Misal, wanita gondok 􀃆minum obat 􀃆menyusui tidak
dihentikan 􀃆anak kerdil
Sedapat mungkin menghindari penggunaan obat pada wanita yang menyusui atau
menghentikan pemberian air susu ibu (ASI) jika pemakaian obat harus dilanjutkan.
Jika penggunaan obat diperlukan, pakailah obat dengan efek samping teraman,
terutama obat-obatan yang memiliki ijin untuk digunakan pada bayi.

17 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
Apabila menggunakan obat selama menyusui, maka bayi harus dipantau secara
cermat terhadap efek samping yang mungkin terjadi. Mungkin dapat dianjurkan kepada
ibu untuk meminum obat segera setelah menyusui.
c. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Anak
Obat pada anak dapat berpengaruh karena organ-organ pada anak belum sempurna
pertumbuhannya, sehingga obat dapat menjadi racun dalam darah (mempengaruhi organ
hati dan ginjal). Pada hati, enzim-enzim belum terbentuk sempurna, sehingga obat tidak
termotabolisme dengan baik, mengakibatkan konsentrasi obat yang tinggi di tubuh anak.
Pada ginjal, bayi berumur 6 bulang, ginjal belum belum efisien mensekresikan obat
sehingga mengakibatkan konsentrasi yang tinggi di darah anak.
Dalam pengobatan, anak-anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa
berukuran kecil. Penggunaan obat pada anak merupakan hal yang bersifat khusus yang
berkaitan dengan perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh maupun
enzim yang bertanggungjawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat.
Farmakokinetika pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Dengan memahami
perbedaan tersebut akan membantu farmasis klinis dalam membuat keputusan yang
berkaitan dengan dosis, misalnya dalam pengusulan dosis (mg/kg) maupun frekuensi
pemberian obat yang berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa.
Dosis bagi anak-anak sering sulit untuk ditentukan. Pemanfaatan pengalaman klinis
merupakan acuan terbaik dalam menentukan dosis yang paling sesuai untuk bayi maupun
anak-anak.
Pemakaian obat yang belum mempunyai ijin untuk digunakan pada anak, walaupun
sering dijumpai, harus dipantau secara ketat untuk memastikan bahwa keamanan pasien
diutamakan. Penyuluhan kepada pasien anak-anak maupun pengasuhnya dalam bahasa
yang mudah

18 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
dimengerti akan membantu meningkatkan kepatuhan anak terhadap pengobatan.
d. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Lansia
Terdapat perubahan-perubahan fungsi, kemampuan organ menurun, dosis dalam
darah meningkat sehingga menjadi racun, serta laju darah dalam ginjal menurun.
Proses penuaan akan mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan fisiologi,
anatomi, psikologi, dan sosiologi. Perubahan fisiologi yang terkait usia dapat
menyebabkan perubahan yang bermakna dalam penatalaksanaan obat. Farmasis
sebaiknya perlu memiliki pengetahuan menyeluruh tentang perubahan-perubahan
farmakokinetik dan farmakodinamik yang muncul.
Peresepan yang tidak tepat dan polifarmasi merupakan problem utama dalam terapi
dengan obat pada pasien lanjut usia. Keahlian klinis farmasis, termasuk evaluasi terhadap
pengobatan, dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan dalam bidang ini.
Tujuan terapi obat pada pasien lanjut usia harus ditetapkan dalam rangka
mengoptimalkan hasil terapi. Perbaikan kualitas hidup, titrasi dosis, pemilihan obat, dan
bentuk sediaan obat yang tepat serta pengobatan penyebab penyakit bukan sekedar
gejalanya merupakan semua tindakan yang sangat diperlukan.
Efek samping obat lebih sering terjadi pada populasi lanjut usia. Pasien lanjut usia
tiga kali lebih beresiko masuk rumah sakit akibat efek samping obat. Hal ini berpengaruh
secara bermakna terhadap segi finansial seperti halnya implikasi teraupetik.
Kepatuhan penggunaan obat sering kali mengalami penurunan karena beberapa
gangguan pada lanjut usia. Kesulitan dalam hal membaca, bahasa, mendengar dan
ketangkasan, semuanya dapat berperan dalam masalah ini.

19 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
e. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Gangguan Ginjal dan Hati
Terjadi karena karena terjadi penurunan fungsi hati dan ginjal. Uji fungsi ginjal hanya
menggambarkan penyakit secara kasar/garis besar, dan lebih dari setengah bagian ginjal
harus mengalami kerusakan sebelum terlihat nyata bukti kejadiannya gangguan ginjal.
Bentuk gangguan ginjal yang paling sering diakibatkan oleh obat adalah interstitial
nefritis dan glomerulonefritis. Penggunaan obat apa pun yang diketahui berpotensi
menimbulkan nephrotoksisitas sedapat mungkin harus dihindari pada semua penderita
gangguan ginjal.
Pada gagal ginjal, distribusi obat dapat berubah karena terjadi fluktuasi derajat hidrasi
atau oleh adanya perubahan pada ikatan protein. Akan tetapi perubahan ikatan protein
akan bermakna secara klinis apabila:
1) Lebih dari 90% jumlah obat dalam plasma merupakan bentuk terikat protein.
2) Obat terdistribusi ke jaringan harus dalam jumlah yang kecil.
Ekskresi adalah parameter farmakokinetika yang paling terpengaruh oleh gangguan
ginjal. Jika filtrasi glomeruler terganggu oleh penyakit ginjal , maka klirens obat yang
terutama tereliminasi melalui mekanisme ini akan menurun dan waktu paruh obat dalam
plasma menjadi lebih panjang.
Penderita dengan ginjal yang tidak berfungsi normal dapat menjadi lebih peka
terhadap beberapa obat, bahkan jika eliminasinya tidak terganggu. Anjuran dosis
didasarkan pada tingkat keparahan gangguan ginjal, yang biasanya dinyatakan dalam
istilah laju filtrasi glomeruler (LFG). Perubahan dosis yang paling sering dilakukan
adalah dengan menurunkan dosis atau memperpanjang interval pemberian obat, atau
kombinasi keduanya.

20 http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
5. Penggolongan Obat pada Saluran Pencernaan
a. Antitukak
Tukak lambung adalah suatu kondisi patologis pada lambung, deudenum, esofagus bagian
bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).
Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau menghilangkan gejala,
mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi,
obstruksi), dan mencegah kambuh.
Golongan dari Antitukak adalah sebagai berikut:
No Golongan Zat Aktif Kode Brand Name
(Nama ICOPIM
Generic)
Antasida Aluminuim 7-300
1. Hidroksida 7-309 • Dexanta
Antasida • Promag
DOEN • Waisan

Magnesium Karbonat 7-301


• Simeco
• Saclon
• Neoglumin

Magnesium Trisilikat 7-303


• Neomag
• Homag
• Sanmag

Magnesium Hidrotalsit 7-302


• Talsit
• Waisan Forte

Natrium Bikarbonat
• Antimaag

Antagonis Cimetidin 7-308


2. Reseptor H2 • Sanmetidin
• Tagamet
• Ulsikur

Fomatidin
• Facid
• Famocid
• Gaster

Nizatidin
• Axid

Ranitidin
• Graseric
• Radin
• Rantin
Antimuskarinik Pirenzepin
3. yang Selektif • Gastrozepin
• Pirenzepin

Khelator dan Trikalium


4. Senyawa Disitratobismutat • De-Nol
Kompleks
Sukralfat
• Inpepsa


Ulcron
• Ulcumaag

Analog Misoprostol
5. Prostaglandin Cytotec

Penghambat Omeprazole
6. Pompa Proton Lambuzol
• Loklor
• Losec

Lansoprazol
Betalans
• Laz
• Prosogan

Pantoprazol
Pantozol

b. Antispasmodik Antispasmodik merupakan dolongan obat yang memiliki sifat sebagai


relaksan otot polos. Termasuk dalam kelas ini adalah senyawa yang memiliki efek
antikolinergik (lebih tepatnya antimuskarinik) dan antagonis reseptor-dopamin tertentu.
Golongan dari Antipasmodik adalah sebagai berikut:
No Golongan Zat Aktif Kode Brand Name
(Nama ICOPIM
Generic)
Antimuskarinik Atropin Sulfat 7-110
1.

Ekstrak Beladona 7-110


Hiosin Butilbromida 7-111
• Buskopan
• Buskopan Plus
• Gitas

Propantelin Bromida 7-112


• ProBanthine
Antispasmodi Mebeverin 7-511
2. k lain Hidroklorida • Duspatalin

Stimulan Motilitas Cisaprid


3.

b. Antispasmodik Antispasmodik merupakan dolongan obat yang memiliki sifat sebagai


relaksan otot polos. Termasuk dalam kelas ini adalah senyawa yang memiliki efek
antikolinergik (lebih tepatnya antimuskarinik) dan antagonis reseptor-dopamin tertentu.
Golongan dari Antipasmodik adalah sebagai berikut:
No Golongan Zat Aktif Kode Brand Name
(Nama ICOPIM
Generic)
Antimuskarinik Atropin Sulfat 7-110
1.

Ekstrak Beladona 7-110


Hiosin Butilbromida 7-111
• Buskopan
• Buskopan Plus
• Gitas

Propantelin Bromida 7-112


• ProBanthine

Antispasmodi Mebeverin 7-511


2. k lain Hidroklorida • Duspatalin

Stimulan Motilitas Cisaprid


3.

http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id Asam Pipemidat


• Impresial
• Urinter
• Urixin

Ofloksasin
• Akilen
• Betaflox
• Danoflox

Norfloksasin
• Amanita
• Lexinor
• Nopratik

Ciprofloksasin
• Baquinor
• Bernoflox
• Bidiprox

Pefloksasin
• Peflacine

Fleroksasin
• Quinodis

Sparfloksasin
• Zagam

Levofloksasin
• Cravit
• Reskuin

7. Sulfonamide Trimetoprim 6-148


(6-109) • Tobyprim
dan • Trisoprim
Trimetropim
(6-148)
Cotrimoksazol 6-193
• Abatrim
• Bactoprim
• Bactricid

Sulfadiazin 6-102

Sulfadimidin 6-102

Sulfasalazin 6-105
• Sulcolon

8. Antibiotik Lain Kloramfenikol


• Camicetine
• Chloramex
• Colme

Tiamfenikol
• Biothicol
• Comthycol
• Corsafen

Klindamisin
• Albiotin
• Ancrocid
• Cindala

Linkomisin 6-039
• Biolincom
• Lincobiotic
• Lincocin

Vankomisin 6-081
• Ladervan

Spektinomisin 6-069
• Trobicin

Kolistin
• Colistine
Penyalahgunaan Obat dan Penggunaan Zat Terlarang Membe
 
DEFINISI Email       :
Password :
Penggunaan zat terlarang diantara para remaja terjadi pada kisaran dari coba-coba hingga Sign-Up
ketergantungan. Cakupan konskwensi dari tidak ada sampai mengancam nyawa, tergantung
kepada zat-zat terlarang tersebut, keadaan, dan frekwensi pada penggunaannya. Meskipun
begitu, bahkan penggunaan yang tidak rutin bisa menghasilkan bahaya yang berarti, seperti
kelebihan dosis, kecelakaan kendaraan bermotor, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Ingin menda
Meskipun percobaan dan pemakaian yang tidak rutin sering terjadi, ketergantungan obat Medicastore?
tetap mengancam.

Alkohol adalah zat terlarang yang paling sering digunakan oleh para remaja. Sekitar 80% Email:
anak sekolah menengah ke atas dilaporkan mencoba alkohol; beberapa terlibat dalam pesta Daftar
minuman keras, yang didefinisikan melakukan lebih dari lima kali minum tidak putus.
Terdapat faktor resiko untuk apakah seorang remaja akan mencoba alkohol. Keturunan bisa
menjadi sebuah faktor, remaja yang memiliki anggota keluarga yang alkoholik harus berhati-
hati terhadap resiko tersebut. Remaja yang teman dan saudara kandungnya minum
berlebihan dapat berfikir kebiasaannya bisa diterima. Meskipun pengaruh ini, orangtua bisa
membuat sebuah perbedaan dengan jelas menyampaikan harapan kepada remaja mereka
mengenai minuman keras, membuat batas secara konsisten, dan memantau remaja tersebut.

Sebagian besar orang dewasa yang merokok mulai merokok selama remaja. Hampir satu
sampai lima dari peringkat kesembilan melaporkan merokok secara teratur. Jika seorang
remaja mencapai usia 18 sampai 19 tahun tidak menjadi seorang perokok, hal ini sangat
mungkin bahwa dia tidak akan menjadi seorang perokok ketika dewasa.

Faktor yang meningkatkan kemungkinan seorang remaja merokok memiliki orangtua yang
merokok (faktor tunggal yang paling bisa diprediksi), teman sebaya yang merokok, dan
kurang harga diri. Menggunakan zat-zat terlarang lain yang dilarang juga sebuah faktor.
Orangtua bisa mencegah remaja mereka dari merokok dengan dirinya sendiri berhenti
merokok (atau pemberhentian), dengan diskusi bahaya tembakau secara terbuka, dan
meyakinkan remaja yang telah merokok untuk berhenti dan mencari bantuan medis dalam
berhenti jika diperlukan.

Penggunaan zat-zat kimia yang terlarang pada remaja, meskipun secara keseluruhan
menurun dalam beberapa tahun terakhir, tetap tinggi. Pada tahun 2000, sekitar 54 % pada
usia dua belas dilaporkan telah mabuk; 49% dilaporkan menggunakan mariyuana; 16%
amphetamine; 13% halusinogen; 9 % obat tidur; 9 % kokain; dan 20 % heroin. Penggunaan
methylenedioxymethamphetamine (ekstasi), tidak seperti di toko-toko obat yang disebutkan,
meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir, dengan 11% pada umur dua belas
melaporkan menggunakannya kadang-kadang. Data ini dari Amerika Serikat.

Lebih dari 6% anak laki-laki di sekolah tinggi, termasuk beberapa orang yang bukan atlit
menggunakan anabolic steroid setidaknya sekali. Masalah yang utama dengan penggunaan
anabolic steroid pada remaja adalah penutupan pertumbuhan lapisan pada ujung tulang lebih
cepat, mengakibatkan perawakan pendek yang tetap. Efek samping lainnya yang terjadi pada
remaja dan maupun orang dewasa.

Remaja yang berusia 12 sampai 14 tahun kemungkinan terlibat dalam penggunaan zat-zat
terlarang. Meskipun terdapat faktor resiko pada remaja yang menyebabkan penggunaan zat-
zat kimia, hal ini sulit untuk diprediksi remaja mana yang akan terlibat dalam bentuk yang
paling serius pada penyalahgunaan. Orangtua harus melihat tingkah laku yang tidak menentu
pada remaja mereka, mood yang berubah-ubah, perubahan teman, performa sekolah yang
merosot. Jika orangtua memperhatikan tingkah laku ini, mereka harus membicarakan
perhatian mereka dengan remaja tersebut dan dokternya.

Dokter bisa membantu menilai apakah seorang remaja memiliki masalah dengan
penggunaan zat-zat kimia. Beberapa orangtua hanya membawa remaja tersebut menuju
seorang dokter meminta dia melakukan pemeriksaan air kencing terhadap obat.

Terdapat beberapa poin untuk orangtua ingat : dokter tidak dapat memaksa remaja tersebut
untuk menggunakan tes obat jika dia menolak. Hasil dari tes urin kemungkinan negatif
palsu; faktor yang mempengaruhi adalah metabolisme pada obat tersebut dan waktu terakhir
kali menggunakan obat. Yang paling penting, dengan sebuah atmosfir tuduhan dan
konfrontasi, hal itu akan menjadi sulit untuk dokter untuk memperoleh sebuah riwayat
remaja tersebut, yang merupakan kunci untuk membuat diagnosa.

Jika dokter berpikir remaja tersebut tidak memiliki masalah, dia bisa merujuk kepada ahli
dengan pengalaman dalam penyalahgunaan zat-zat kimia; orang ini bisa membuat diagnosa
dan memastikan pengobatan yag diperlukan. Pengobatan untuk remaja adalah serupa kepada
orang dewasa tetapi biasanya dilakukan dibandingkan dengan remaja lain.
Artikel Terkait
Ketika Gambaran Tubuh Mempengaruhi Percaya Diri Remaja

 
Dokter Terkait
 
Obat Terkait

Zullies Ikawati's Weblog


We've shared together

 Beranda
 About me
 My Lecture notes
 My publications
 My books
 My research activities
 My beloved family

Tinjauan farmakoterapi terhadap penyalahgunaan obat


5 03 2009
Dear kawan,
Alhamdulillah, jam 00.51, jadi juga draft tulisanku. Sengaja aku postingkan di sini, dengan maksud
mengharap masukan untuk memperkaya tulisan ini. Silakan dicermati….. dan memberikan masukan,
kalau ada.
Dalam hal penggunaan obat sehari-hari, terdapat istilah penyalahgunaan obat (drug abuse) dan
penggunasalahan obat (drug misuse). Istilah penyalahgunaan obat merujuk pada keadaan di mana obat
digunakan secara berlebihan tanpa tujuan medis atau indikasi tertentu. Sedangkan, istilah pengguna-
salahan obat adalah merujuk pada penggunaan obat secara tidak tepat, yang biasanya disebabkan karena
pengguna memang tidak tahu bagaimana penggunaan obat yang benar. Pada tulisan ini hanya akan dikaji
mengenai  penyalahgunaan obat (drug abuse) saja.
Penyalahgunaan obat terjadi secara luas di berbagai belahan dunia. Obat yang disalahgunakan
bukan saja semacam cocain, atau heroin, namun juga obat-obat yang biasa diresepkan. Penyalahgunaan
obat ini terkait erat dengan masalah toleransi, adiksi atau ketagihan, yang selanjutnya bisa berkembang
menjadi ketergantungan obat (drug dependence). Pengguna umumnya sadar bahwa mereka melakukan
kesalahan, namun mereka sudah tidak dapat menghindarkan diri lagi.
Di Amerika, penyalahgunaan obat-obat yang diresepkan meningkat cukup tajam dalam dua
dekade terakhir, dan hanya sedikit di bawah mariyuana, suatu senyawa yang paling banyak
disalahgunakan di sana. Data dari sebuah lembaga farmasi di sana menyatakan bahwa sedikitnya 50 juta
orang Amerika pernah menggunakan sedikitnya satu jenis obat psikotropika, dan 7 juta orang yang
berusia di atas 12 tahun menggunakan obat-obat ini bukan untuk tujuan medis. Hal ini diduga tidak akan
berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana penyalahgunaan obat-obat psikotropika dan obat-obat
lainnya meningkat dengan tajam.
 Obat-obat yang sering disalahgunakan
Ada tiga golongan obat yang paling sering disalah-gunakan, yaitu :
- golongan analgesik opiat/narkotik, contohnya adalah codein, oxycodon, morfin
- golongan depressan sistem saraf pusat untuk mengatasi kecemasan dan gangguan tidur, contohnya
barbiturat (luminal) dan golongan benzodiazepin (diazepam/valium, klordiazepoksid,
klonazepam, alprazolam, dll)
- golongan stimulan sistem saraf pusat, contohnya dekstroamfetamin, amfetamin, dll.
Obat-obat ini bekerja pada sistem saraf, dan umumnya menyebabkan ketergantungan atau kecanduan.
Selain itu, ada pula golongan obat lain yang digunakan dengan memanfaatkan efek sampingnya, bukan
berdasarkan indikasi yang resmi dituliskan. Beberapa contoh diantaranya adalah :

 Penggunaan misoprostol, suatu analog prostaglandin untuk mencegah tukak peptik/gangguan


lambung, sering dipakai untuk menggugurkan kandungan karena bersifat memicu kontraksi
rahim.
 Penggunaan Profilas (ketotifen), suatu anti histamin yang diindikasikan untuk profilaksis asma,
sering diresepkan untuk meningkatkan nafsu makan anak-anak
 Penggunaan Somadryl untuk “obat kuat” bagi wanita pekerja seks komersial untuk mendukung
pekerjaannya. Obat ini berisi carisoprodol, suatu muscle relaxant, yang digunakan untuk
melemaskan ketegangan otot. Laporan menarik ini datang dari Denpasar dari seorang sejawat.
Menurut informasi, dokter kerap meresepkan Somadryl, dan yang menebusnya di apotek adalah
“germo”nya, dan ditujukan untuk para PSK agar lebih kuat “bekerja”
 Dll.

 Alasan penyalahgunaan obat


Ada tiga kemungkinan seorang memulai penyalahgunaan obat.
Yang pertama, seseorang awalnya memang sakit, misalnya nyeri kronis, kecemasan, insomnia,
dll, yang memang membutuhkan obat, dan mereka mendapatkan obat secara legal dengan resep dokter.
Namun selanjutnya, obat-obat tersebut menyebabkan toleransi, di mana pasien memerlukan dosis yang
semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Merekapun kemudian akan meningkatkan
penggunaannya, mungkin tanpa berkonsultasi dengan dokter. Selanjutnya, mereka akan mengalami
gejala putus obat jika pengobatan dihentikan, mereka akan menjadi kecanduan atau ketergantungan
terhadap obat tersebut, sehingga mereka berusaha untuk memperoleh obat-obat tersebut dengan segala
cara.
Kemungkinan kedua, seseorang memulai penyalahgunaan obat memang untuk tujuan rekreasional.
Artinya, sejak awal penggunaan obat memang tanpa tujuan medis yang jelas, hanya untuk memperoleh
efek-efek menyenangkan yang mungkin dapat diperoleh dari obat tersebut. Kejadian ini umumnya erat
kaitannya dengan penyalahgunaan substance yang lain, termasuk yang bukan obat diresepkan, seperti
kokain, heroin, ecstassy, alkohol, dll.
Yang ketiga, seseorang menyalahgunakan obat dengan memanfaatkan efek samping seperti yang telah
disebutkan di atas. Bisa jadi penggunanya sendiri tidak tahu, hanya mengikuti saja apa yang diresepkan
dokter. Obatnya bukan obat-obat yang dapat menyebabkan toleransi dan ketagihan. Penggunaannya
juga mungkin tidak dalam jangka waktu lama yang menyebabkan ketergantungan.
 Bagaimana terjadinya toleransi obat?
Pada orang-orang yang memulai penggunaan obat karena ada gangguan medis/psikis
sebelumnya, penyalahgunaan obat terutama untuk obat-obat psikotropika, dapat berangkat dari
terjadinya toleransi, dan akhirnya ketergantungan. Menurut konsep neurobiologi, istilah ketergantungan
(dependence) lebih mengacu kepada ketergantungan fisik, sedangkan untuk ketergantungan secara psikis
istilahnya adalah ketagihan (addiction). Pada bagian ini akan dipaparkan secara singkat tentang toleransi
obat.
Toleransi obat sendiri dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu : toleransi farmakokinetik, toleransi
farmakodinamik, dan toleransi yang dipelajari (learned tolerance).
Toleransi farmakokinetika adalah perubahan distribusi atau metabolisme suatu obat setelah
pemberian berulang, yang membuat dosis obat yang diberikan menghasilkan kadar dalam darah yang
semakin berkurang dibandingkan dengan dosis yang sama pada pemberian pertama kali. Mekanisme
yang paling umum adalah peningkatan kecepatan metabolisme obat tersebut. Contohnya adalah obat
golongan barbiturat. Ia menstimulasi produksi enzim sitokrom P450 yang memetabolisir obat, sehingga
metabolisme/degradasinya sendiri ditingkatkan. Karenanya, seseorang akan membutuhkan dosis obat
yang semakin meningkat untuk mendapatkan kadar obat yang sama dalam darah atau efek terapetik
yang sama. Sebagai tambahan infromasi, penggunaan barbiturate dengan obat lain juga akan
meningkatkan metabolisme obat lain yang digunakan bersama, sehingga membutuhkan dosis yang
meningkat pula.
Toleransi farmakodinamika merujuk pada perubahan adaptif yang terjadi di dalam system tubuh
yang dipengaruhi oleh obat, sehingga respons tubuh terhadap obat berkurang pada pemberian berulang.
Hal ini misalnya terjadi pada penggunaan obat golongan benzodiazepine, di mana reseptor obat dalam
tubuh mengalami desensitisasi, sehingga memerlukan dosis yang makin meningkat pada pemberian
berulang untuk mencapai efek terapetik yang sama.
Toleransi yang dipelajari (learned tolerance) artinya pengurangan efek obat dengan mekanisme
yang diperoleh karena adanya pengalaman terakhir.
Kebutuhan dosis obat yang makin meningkat dapat menyebabkan ketergantungan fisik, di mana
tubuh telah beradaptasi dengan adanya obat, dan akan menunjukkan gejala putus obat (withdrawal
symptom) jika penggunaan obat dihentikan. Ketergantungan obat tidak selalu berkaitan dengan obat-
obat psikotropika, namun dapat juga terjadi pada obat-obat non-psikotropika, seperti obat-obat
simpatomimetik dan golongan vasodilator nitrat.
Di sisi lain, adiksi atau ketagihan obat ditandai dengan adanya dorongan, keinginan untuk
menggunakan obat walaupun tahu konsekuensi negatifnya. Obat-obat yang bersifat adiktif umumnya
menghasilkan perasaan euphoria yang kuat dan reward, yang membuat orang ingin menggunakan dan
menggunakan obat lagi. Adiksi obat lama kelamaan akan membawa orang pada ketergantungan fisik
juga.
 Bagaimana mekanisme terjadinya adiksi ?
 Untuk menjelaskan tentang adiksi, perlu dipahami dulu istilah system reward pada manusia. Manusia,
umumnya akan suka mengulangi perilaku yang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang
menyebabkan rasa menyenangkan tadi dikatakan memiliki efek reinforcement positif. Reward bisa
berasal secara alami, seperti makanan, air, sex, kasih sayang, yang membuat orang merasakan senang
ketika makan, minum, disayang, dll. Bisa juga berasal dari obat-obatan. Pengaturan perasaan dan perilaku
ini ada pada jalur tertentu di otak, yang disebut reward pathway. Perilaku-perilaku yang didorong oleh
reward alami ini dibutuhkan oleh mahluk hidup untuk survived (mempertahankan kehidupan).

Bagian penting dari reward pathway adalah bagian otak yang disebut : ventral tegmental area (VTA),
nucleus accumbens, dan prefrontal cortex. VTA terhubung dengan nucleus accumbens dan prefrontal
cortex melalui jalur reward ini yang akan mengirim informasi melalui saraf. Saraf di VTA mengandung
neurotransmitter dopamin, yang akan dilepaskan menuju nucleus accumbens dan prefrontal cortex. Jalur
reward ini akan teraktivasi jika ada stimulus yang memicu pelepasan dopamin, yang kemudian akan
bekerja pada system reward.
Obat-obat yang dikenal menyebabkan adiksi/ketagihan seperti kokain, misalnya, bekerja menghambat
re-uptake dopamin, sedangkan amfetamin, bekerja meningkatkan pelepasan dopamin dari saraf dan
menghambat re-uptake-nya, sehingga menyebabkan kadar dopamin meningkat.  
Bagaimana mekanisme adiksi obat-obat golongan opiat?
Reseptor opiat terdapat sekitar reward pathway (VTA, nucleus accumbens dan cortex), dan juga pada
pain pathway (jalur nyeri) yang meliputi thalamus, brainstem, dan spinal cord. Ketika seseorang
menggunakan obat-obat golongan opiat seperti morfin, heroin, kodein, dll, maka obat akan mengikat
reseptornya di jalur reward, dan juga jalur nyeri. Pada jalur nyeri, obat-obat opiat akan memberikan efek
analgesia, sedangkan pada jalur reward akan memberikan reinforcement positif (rasa senang, euphoria),
yang menyebabkan orang ingin menggunakan lagi. Hal ini karena ikatan obat opiat dengan reseptornya di
nucleus accumbens akan menyebabkan pelepasan dopamin yang terlibat dalam system reward.

Sebagai tambahan informasi, di bawah ini disajikan beberapa jenis obat golongan
benzodiazepin/barbiturat beserta dosis dan dosis ketergantungannya.

 Obat-obat psikotropika beserta dosis sedative dan dosis yang menyebabkan ketergantungan.
Nama Dosis sedatif (mg) Dosis ketergantungan dan waktu
untuk menimbulkan ketergantungan
Diazepam 5 – 10 40 – 100 mg x 42 – 120 hari
Klordiazepoksid 10 – 25 75 – 600 mg x 42 – 120 hari
   Alprazolam 0,25 – 8 8 – 16 mg x 42 hari
  Flunitrazepam 1–2 8 – 10 mg x 42 hari
  Pentobarbital 100 800 – 2200 mg x 35 – 37 hari
  Amobarbital 65 – 100 800 – 2200 mg x 35 – 37 hari
  Meprobamat 400 1,6 – 3,2 g x 270 hari
 
 
 
 
Bagaimana farmakoterapinya?
Pengatasan penyalah-gunaan obat memerlukan upaya-upaya yang terintegrasi, yang melibatkan
pendekatan psikologis, sosial, hukum, dan medis. Pada tulisan kali ini hanya akan dibahas mengenai
farmakoterapi (terapi menggunakan obat) bagi keadaan yang terkait dengan ketergantungan obat.
Kondisi yang perlu diatasi secara farmakoterapi pada keadaan ketergantungan obat ada dua, yaitu
kondisi intoksikasi dan kejadian munculnya gejala putus obat (“sakaw”). Dengan demikian, sasaran
terapinya bervariasi tergantung tujuannya:

1. Terapi pada intoksikasi/over dosis  tujuannya untuk mengeliminasi obat dari tubuh, menjaga
fungsi vital tubuh
2. Terapi pada gejala putus obat  tujuannya untuk mencegah perkembangan gejala supaya tidak
semakin parah, sehingga pasien tetap nyaman dalam menjalani program penghentian obat

Tentunya masing-masing golongan obat memiliki cara penanganan yang berbeda, sesuai dengan gejala
klinis yang terjadi. Di bawah ini disajikan tabel ringkasan terapi intoksikasi pada berbagai jenis obat yang
sering disalahgunakan.
Tabel 1. Ringkasan tentang terapi intoksikasi
Klas obat Terapi obat Terapi non- Komentar
obat
Benzodiazepin Flumazenil 0,2 mg/min Support fungsi Kontraindikasi jika ada
IV, ulangi sampai max 3 vital penggunaan TCA  resiko
mg kejang
Alkohol, barbiturat, Tidak ada Support fungsi  
sedatif hipnotik non- vital
benzodiazepin
Opiat Naloxone 0,4-2,0 mg IV Support fungsi Jika pasien tidak responsif
setiap 3 min vital sampai dosis 10 mg 
mungkin ada OD selain
opiat
Kokain dan stimulan  Lorazepam 2-4 mg IM -Support fungsi - digunakan jika pasien
CNS lain setiap 30 min sampai vital agitasi
6 jam jika perlu - Monitor fungsi - digunakan jika pasien
 Haloperidol 2-5 mg jantung psikotik
(atau antipsikotik - komplikasi kardiovaskuler
lain) setiap 30 min diatasi scr simptomatis
sampai 6 jam
Halusinogen, Sama dgn di atas Support fungsi  
marijuana vital,
„talk-down
therapy“
Selanjutnya, di bawah ini adalah ringkasan untuk terapi mengatasi gejala putus obat.
Tabel 2. Ringkasan tentang terapi untuk mengatasi withdrawal syndrome (DiPiro, 2008)
Obat Terapi obat Komentar
Benzodiazepin Klordiazepoksid 50 mg 3 x sehari atau  
(short acting) lorazepam 2 mg 3 x sehari, jaga dosis utk 5
hari, kmd tappering
Long acting BZD Sama, tapi tambah 5-7 hari utk tappering Alprazolam paling sulit dan
butuh wkt lebih lama
Opiat Methadon 20-80 mg p.o, taper dengan 5-10 - jika metadon gagal 
mg sehari, atau klonidin 2 g/kg tid x 7 hari, metadon maintanance
taper untuk 3 hari berikutnya program
- Klonidin menyebabkan
hipotensi  pantau BP
Barbiturat Test toleransi pentobarbital, gunakan dosis  
pada batas atas test, turunkan dosis 100
mg setiap 2-3 hari
Mixed-substance Lakukan spt pada long acting BZD  
Stimulan CNS Terapi supportif saja, bisa gunakan  
bromokriptin 2,5 mg jika pasien benar-
benar kecanduan, terutama pada kokain
Dari mana seseorang mendapatkan obat-obat untuk disalah gunakan?
Obat-obat tadi harus diperoleh dengan resep dokter. Namun untuk penyalahgunaan ini, banyak cara
yang bisa dilakukan orang untuk memperoleh obat. Antara lain adalah :

 multiple doctor shopping  maksudnya, ia pergi ke banyak dokter, sehingga mendapatkan


banyak resep untuk mendapatkan obat yang dimaksud
 memalsukan resep, memalsukan angka untuk iterasi
 mencuri atau meminta paksa
 over prescribing by physicians  dokter sendiri yang meresepkan dalam jumlah berlebihan
 pembelian melalui internet  sekarang banyak online pharmacies, terutama di luar negeri
 penjualan langsung oleh dokter atau apoteker yang memang tidak mengindahkan moral dan
etika profesi

Apa peran farmasis dalam mencegah penyalahgunaan obat?

Sebagai bagian dari tenaga kesehatan dan garda terdepan bagi akses masyarakat terhadap obat, maka
farmasis dapat berkontribusi secara signifikan dalam mengidentifikasi dan mencegah penyalahgunaan
obat. Melihat berbagai kemungkinan akses masyarakat terhadap obat yang bisa disalah-gunakan, ada
beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahayanya penyalahgunaan obat, lebih baik
dengan cara yang sistematik dan terstruktur.
2. Mewaspadai adanya kemungkinan resep-resep yang palsu dan ganjil, terutama resep-resep yang
mengandung obat psikotropika/narkotika. Hal ini memerlukan pengalaman yang cukup dan
pengamatan yang kuat. Jika terdapat hal-hal mencurigakan, dapat berkomunikasi dengan
dokter penulis resep yang tertera dalam resep tersebut untuk konfirmasi.
3. Mengedepankan etika profesi dan mengutamakan keselamatan pasien dengan tidak memberikan
kemudahan akses terhadap obat-obat yang mudah disalah gunakan.
Semua ini dapat dilakukan jika farmasis berpegang teguh untuk menjalankan pelayanan kefarmasian
(pharmaceutical care) kepada masyarakat.
Penutup
Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

« Demam Face Book Menguak khasiat cokelat… »


Tindakan

  Komentar RSS
  Lacak balik

Information

 Tanggal : 5 Maret 2009


 Kaitkata: dopamin, farmakoterapi, farmasis, penyalahgunaan obat, reward pathway
 Kategori : kesehatan

Suka
Be the first to like this post.

6 tanggapan
8 06 2010

moena_zirah (14:28:17) :

makasih tas info nya….. moena ambil banyk yach bt tugas…

30 04 2010

dena.a.midwife (10:17:24) :

sipp ,. lumayan buat tugas kesehatan reproduksi ,. hhuuyy, thanks yaa ^^

18 03 2010
Makalah Sosiologi (Kasus Penyalahgunaan Obat) : Warta Warga (15:30:40) :

[...] http://zulliesikawati.wordpress.com/2009/03/05/tinjauan-farmakoterapi-terhadap-
penyalahgunaan-obat/ [...]

30 10 2009

febriana (13:20:47) :

ternyata mw jd farmasis berat jg….


tp ttp SKA…

10 10 2009

Utami Ekawati (10:34:40) :

terima kasih atas ilmunya…

6 03 2009

Ridho (09:17:37) :
byuh… postingan berat neh… bacanya kudu offline hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Nama *

Email *

Situs web

Komentar

Anda dapat menambahkan HTML serta atribut-atribut berikut: <a href="" title="">
<abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code>
<pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar tulisan 917 0

1300012751

Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel.

Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.

f7533e7ec9

Cari
halaman
 About me
 My Lecture notes
 My publications
 My books
 My research activities
 My beloved family

kategori
 Aktivitas (40)
 Artikel (99)
o kesehatan (65)
o Obat (38)
 Catatan perjalanan (25)
 Life is beautiful (32)
 Ngalor ngidul (10)

arsip
 Maret 2011 (2)
 Januari 2011 (2)
 Desember 2010 (2)
 November 2010 (2)
 Oktober 2010 (2)
 September 2010 (4)
 Agustus 2010 (5)
 Juli 2010 (6)
 Juni 2010 (4)
 Mei 2010 (6)
 April 2010 (6)
 Maret 2010 (4)
 Februari 2010 (1)
 Januari 2010 (3)
 Desember 2009 (4)
 November 2009 (7)
 Oktober 2009 (7)
 September 2009 (4)
 Agustus 2009 (4)
 Juli 2009 (4)
 Juni 2009 (5)
 Mei 2009 (12)
 April 2009 (6)
 Maret 2009 (14)
 Februari 2009 (11)
 Januari 2009 (10)
 Desember 2008 (16)
 November 2008 (25)
 Oktober 2008 (19)

Situs khusus apoteker


 Apotek Puter
 Info Apoteker
 PIOGAMA Farmasi UGM
 Portal apoteker
 seputar obat

situs obat
 Internet Drug Index

Web lain
 Indonesia matters
 Magister Farmasi Klinik UGM
 Zullies Ikawati’s Blog in UGM site

komentar

Anisa on Vaksin MMR dan autisme : kisah…

cantiq on Mozaik hidup di Jepang (5): Ra…

rusdi on New life begins at 42 …

M.Taufiq on Maag (baca: mah), saat lambung…

mega silviana on My research activities

Ridho on New life begins at 42 …

kadek learstone on Maag (baca: mah), saat lambung…

Maulidina on New life begins at 42 …


aik on Penggunaan obat off-label : ap…

Devi on About me

media sharing tentang apa saja


 New life begins at 42 ………
 Mengenal Kojic Acid: Sang Pencerah (kulit)…
 Vaksin MMR dan autisme : kisah penipuan ilmiah?
 Mari melangkah dengan pasti di tahun 2011…(tanpa osteoporosis)..
 My notes in sweet December
 Rhinitis alergi dan pengembangan obat herbal untuk alergi
 Dioksin dan pembalut wanita?
 Deru campur abu
 My days in October…
 Maap….

Blog Stats
 208,097 hits

Blog pada WordPress.com. Theme: Freshy by Jide.

Sepertinya anda belum terdaftar di forum komunitas DhammaCitta. Untuk mendaftar


silahkan klik disini ...

Please login or register.

Forever Login

Login with username, password and session length


Search... 0 6545

News: Semua hal bukan diri

 Home
 Help
 Search
 Calendar
 Login
 Register

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia  »


 Buddhisme dan Kehidupan »
 Kesehatan »
 [ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?

URL pendek: http://dhct.ws/f6545.0 | Berbagi di Twitter

« previous next »

 Print

Pages: [1]   Go Down

Author Topic: [ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?  (Read 4244
times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

markosprawira

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 7
 -Receive: 144
 Posts: 6.451
 Reputasi: 154

[ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« on: 26 November 2008, 12:20:13 PM »

Oleh Silvia Iskandar


Kita sering mendengar bahwa obat tidak boleh diminum dengan susu. Ini disebabkan karena kalsium
yang dikandung dalam susu bisa membentuk ikatan dengan zat-zat dalam beberapa obat dan
meghalangi penyerapan oleh lambung. Contohnya adalah tetrasiklin, zat yang biasa ada dalam
antibiotik untuk obat flu.

Namun, ada beberapa obat yang justru lebih baik diminum bersama susu.
Misalnya NSAID, Non Steroidal Anti Inflammatory Drug
Namun, . Yang terkenal adalah aspirin dan ibuprofen. Obat-obatan yang tergolong dalam NSAID
bersifat lypophylic, mudah larut dalam lemak sehingga biasanya obat-obat seperti ini dianjurkan
untuk diminum dalam waktu 30 menit sesudah makan.

Alasan lainnya ialah karena NSAID menyebabkan iritasi lambung. NSAID merupakan obat pembunuh
rasa sakit atau painkiller yang bekerja dengan cara menghambat terbentuknya prostaglandin.
Prostaglandin sendiri adalah zat yang selalu ada dalam sel tubuh dan bekerja sebagai zat yang
menyebabkan peradangan dan rasa sakit, namun juga punya tugas lain, yaitu membantu
terbentuknya selaput mukosa lambung. Dengan terhambatnya prostaglandin oleh aspirin, rasa sakit
dan infeksi pun hilang, namun pada saat yang bersamaan, lambung menjadi rentan terhadap iritasi
karena selaput mukosanya berkurang. Oleh karena itu, obat-obat NSAID biasa diresepkan untuk
diminum sesudah makan, supaya makanan yang masuk terlebih dahulu bisa melindungi dinding
lambung. Bila kita tidak sempat makan, susu boleh diminum sebagai penggantinya. Di Jepang,
bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa obat sakit kepala boleh diminum dengan obat
sakit maag. Namun ini tidak selalu benar, karena obat sakit kepala yang kita minum belum tentu
termasuk dalam golongan NSAID dan belum tentu semua obat sakit maag membantu pembentukan
selaput dinding lambung.

Bagaimana dengan jus, kopi atau teh?

Sama dengan susu, jus, kopi dan teh masing-masing mengandung zat-zat seperti vitamin C, kafein
dan tannin yang mungkin saja bereaksi dengan obat yang kita minum. Sementara itu, air putih
netral, tidak mengandung apa-apa yang bisa bereaksi dengan obat.

Air putih akan melarutkan obat dalam lambung sehingga lebih mudah diserap. Lebih baik lagi kalau
airnya hangat, proses pelarutan akan lebih cepat. Obat yang ditelan begitu saja tanpa air putih bisa
menempel di suatu tempat tertentu di lambung dan menyebabkan iritasi lambung juga. Oleh karena
itu, lebih baik obat diminum bersama air putih. Minuman lain seperti kopi, sebaiknya diminum satu
jam setelahnya, ketika sudah tidak ada lagi sisa obat di lambung.

Sumber:
http://www.chem-is-try.org/?sect=tanyapakar&ext=33

« Last Edit: 29 November 2008, 03:32:13 AM by Forte »


Logged
 

markosprawira

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 7
 -Receive: 144
 Posts: 6.451
 Reputasi: 154

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #1 on: 26 November 2008, 12:24:05 PM »

Situs Resmi Pemerintah Kota Banjar - Jawa Barat


Rubrik : Kesehatan
Menepis Mitos Minum Susu
Selasa, 02 Oktober 07 - by : via

- Jawaban.com - Begitu beragam produk susu yang ditawarkan, tapi konsumsi susu masyarakat
Indonesia masih tergolong rendah. Selain karena daya beli lemah, minum susupun belum
membudaya, antara lain karena ada mitos yang menyesatkan. Kenali mitos-mitos seputar susu, agar
anda tak kehilangan manfaatnya!

Rupa-rupa produk susu kita jumpai di pasaran saat ini. Ada susu dengan fortifikasi vitamin A, B, D,
ARA, DHA, Omega 3, Omega 6, antioksidan, bahkan kalsium. Juga susu untuk anak-anak, orang
dewasa, khusus pria, ibu hamil atau menyusui, hingga orang tua. Namun, masih ada saja hal-hal
berkaitan dengan susu yang tampak belum jelas benar. Ketidakjelasan itu kemudian tersebar sebagai
mitos, dan celakanya banyak pula yang percaya. Apa sajakah hal-hal tidak jelas yang terlanjur
diyakini? Dr. Cindiawaty Pudjiadi, MARS, MS., spesialis gizi medik dari RS Medistra Jakarta
memberikan koreksinya.

Benarkah susu membuat gemuk?

Benar, karena ada susu yang mengandung lemak dalam kadar yang cukup tinggi. Namun, kini
tersedia banyak susu denga kadar lemak berbeda-beda, ada yang full cream, low fat, bahkan non fat.
Kalau kebanyakan minum susu tinggi lemak, jelas bisa menyebabkan kegemukan. Sebaliknya, sering
minum susu rendah lemak, belum tentu tidak gemuk, tergantung asupan makanan lain yang
menyertai. Kalau terbiasa megkonsumsi makanan berkalori tinggi, bisa mengakibatkan kegemukan.
Yang jelas, bila total kalori yang masuk (dari susu dan makanan lain) masih sesuai dengan kebutuhan,
tidak akan menyebabkan kegemukan.

Apakah susu menyebabkan diare?


Pada orang-orang tertentu dengan intoleransi terhadap laktosa, susu yang mengandung laktosa
dapat menyebabkan diare. Oleh karena itu, mereka perlu mengkonsumsi susu yang tidak
mengandung laktosa, misalnya susu kedelai.

Benarkah minum susu sebaiknya saat perut kosong?

Belum pernah ada literatur yang menyebutkan bahwa minum susu harus dalam keadaan perut
kosong.

Akankah kebutuhan kalsium terpenuhi hanya dari susu?

Kalsium bisa didapat dari aneka makanan seperti sayuran hijau, tahu, ikan, udang, teri, dan beberapa
jenis kacang-kacangan. Susu hanyalah salah satu sumber kalsium. Kalau konsumsi susu sudah dapat
memenuhi kebutuhan kalsium, mungkin tidak perlu tambahan asupan sumber lain. Namun, lebih
baik mendapatkannya dari sumber yang beragam.

Apakah orang sakit maag tidak boleh minum susu?

Pernyataan ini masih kontroversial. Memang ada literatur yang menyatakan bahwa kalsium susu
dapat merangsang pengeluaran asam lambung dan menghambat penyembuhan luka pada lambung.
Ada penderita sakit maag yang tidak merasakan apa-apa bila minum susu, sementara pada pasien
lain susu menyebabkan rasa sakitnya bertambah.

Apakah minum susu berlebihan bisa membuat ginjal rusak?

Tidak. Hal ini tergantung kondisi orang tersebut. Kalau terdapat batu ginjal, konsumsi makanan yang
dapat meningkatkan produksi batu ginjal harus dibatasi. Kalau penyebabnya batu kalsium, konsumsi
susu sebaiknya dibatasi. Jadi, konsumsi kalsiumnya sesuai kebutuhan saja. Jangan berlebihan. Orang
dengan batu ginjal sebaiknya tidak minum susu berlebihan, tapi kebutuhan akan kalsium sebaiknya
tetap dipenuhi. Pada pasien sakit ginjal yang tidak berhubungan dengan batu, masih dapat
mengkonsumsi susu, tapi harus memperhatikan banyaknya protein yang boleh dikonsumsi. Biasanya
akan diberi susu khusus.

Benarkan susu tidak baik untuk penderita asam urat?

Tidak. Yang sebaiknya tidak dikonsumsi atau dibatasi konsumsinya oleh penderita asam urat adalah
makanan yang mengandung purin tinggi sampai sedang. Susu mengandung sedikit sekali purin, jadi
aman dikonsumsi penderita asam urat.

Apakah minum susu harus disertai rutin berjemur di bawah sinar matahari?

Sinar matahari diperlukan untukpembentukan vitamin D. Vitamin D membantu meningkatkan


penyerapan kalsium di dalam usus. Namun, tidak berarti minum susu setiap hari harus sambil
berjemur. Di Indonesia mudah mendapatkan sinar matahari. Setiap hari kita terpapar sinar matahari,
jadi tidak perlu takut kekurangan vitamin D. Vitamin D terdapat juga pada ikan salmon, susu, sarden,
hati ayam, udang, kuning telur, keju, tiram, mentega.

Apakah minum susu sebaiknya saat malam hari menjelang tidur?

Kerja kalsium terutama malam hari. Jadi, mengkonsumsi susu pada malam hari tujuannya memang
untuk meningkatkan penyerapan kalsium.

Apakah bila tidak pernah minum susu bisa terkena osteoporosis?

Belum tentu. Kalau orang sudah mendapatkan cukup kalsium dari makanan lain, kebutuhan akan
kalsium sudah bisa dipenuhi. kecukupan itu membantu mencegah osteoporosis. Meski demikian,
sebaiknya tetap mengonsumsi susu karena penyerapan kalsium susu akan lebih baik.

Bila minum susu dimulai saat dewasa, apakah itu terlambat?

Sebenarnya orang dewasa pun perlu kalsium, tapi masa tulang puncak dicapai sebelum usia 35
tahun. Jadi, yang terlambat adalah memaksimalkan masa tulangnya. Orang dewasa tetap perlu
kalsium kalau konsumsinya lebih kecil dari kebutuhan. Sebab, kekurangan kalsium akan diambil dari
tulang.

Betulkah susu tidak baik bila diminum bersama obat?

Ada obat-obat tertentu yang efeknys berkurang kalau diminum bersama susu, misalnya tetrasiklin
(golongan antibiotika), obat anti jamur, dan lain-lain.

Apakah kalsium yang terserap tubuh akan lebih banyak bila kita minum sekaligus 2 gelas susu?

Belum tentu dengan mengkonsumsi 2 gelas susu, kalsium yang diserap menjadi 2 kali lipat
banyaknya. Itu karena penyerapan kalsium dipengaruhi banyak hal, dan usus mempunyai
kemampuan tertentu untuk menyerap kalsium. Jadi, sebaiknya diminum secara terbagi, tidak
sekaligus.

Betulkah penyerapan kalsium akan efektif bila konsumsi susu dibarengi makanan lain?

Yang meningkatkan penyerapan kalsium adalah vitamin D. Di dalam susu juga terdapat vitamin D.
Sebab itu, minum susu saja tidak masalah. Bila ingin meningkatkan penyerapan bisa mengasup
makanan lain sumber vitamin D, seperti ikan salmon atau telur.

Apakah minum susu harus diimbangi olahraga supaya efektif?

Masa tulang puncak berhubungan dengan asupan kalsium dan aktivitas fisik, serta interaksi
keduanya. Semuanya mempangaruhi densitas (kepadatan) tulang. Aktivitas fisik dan asupan kalsium
berperan penting dalam pemadatan tulang.

Apakah susu cocok dikonsumsi dengan segala jenis makanan?


Ada beberapa makanan yang dapat menurunkan tingkat penyerapan kalsium, seperti makanan
berserat, asam oksalat yang terdapat pada bayam dan ubi, tanin yang terdapat pada teh, asam fitat
yang terdapat pada gandum, minuman beralkohol, dan kafein (kopi).

Benarkah hanya air susu ibu yang terbaik untuk balita?

Benar, karena ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi. Selain itu, ASI mengandung
berbagai zat antiinfeksi, tersedia pada suhu ideal, tidak perlu dipanaskan lebih dahulu, selalu segar
dan bebas pencemaran kuman, juga memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayinya.

Betulkah yang terbaik untuk orang dewasa adalah susu sapi?

Sumber kalsium yang terbaik adalah susu. Penyerapan kalsium susu juga paling baik. Belum ada
penelitian rinci yang membandingkan susu sapi dengan susu lainnya. Jadi, tidak bisa dikatakan
bahwa susu sapi itu yang terbaik.

Betulkah kita tidak perlu minum susu jika kadar kalsium tubuh sudah tinggi?

Tidak. Seseorang tetap memerlukan asaupan kalsium setiap hari, baik dari susu maupun makanan
lainnya. Pada saat ini mungkin kadar kalsiumnya sudah cukup, tapi bila tidak mengonsumsi kalsium,
kadarnya akan berkurang, sedangkan tubuh tetap perlu kalsium. Jadi, jangan tunggu sampai kurang
baru mengonsumsi makanan sumber kalsium.

Ada susu yang berkalsium tinggi, sampai 1.200 mg. Bukankah susu sendiri sudah mengandung
kalsium?

Semua susu mengandung kalsium, hanya berbeda kadarnya antara jenis yang satu dengan yang lain.
Misalnya dalam setiap 100 gr susu sapi terdapat 143 mg kalsium. Sementara susu kedelai hanya 2,9
mg. Memang bisa ditambahkan (fortifikasi) kalsium dilakukan pada susu, sehingga kadarnya sangat
tinggi, bisa sampai 1.200 mg.

Mengapa susu juga perlu difortifikasi misalnya dengan vitamin A, DHA, juga antioksidan?

Susu dapat difortifikasi dengan antioksidan, vitamin dan sebagainya. Hal itu untuk memenuhi
kebutuhan orang per orang yang masing-masing berbeda. Seorang perokok misalnya, bisa memilih
susu yang difortifikasi dengan antioksidan, untuk menangkal radikal bebas dari rokok yang diisapnya.

Betulkah susu kuda liar bisa mengobati banyak penyakit?

Penelitian mengenai susu kuda liar untuk mengobati penyakit, belum ada. Yang jelas, semua susu
mengandung berbagai vitamin dan mineral. Dan semuanya bisa membantu meningkatkan
kesehatan.
Sumber:
http://www.banjar-jabar.go.id/redesign/cetak.php?id=411

Logged

markosprawira

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 7
 -Receive: 144
 Posts: 6.451
 Reputasi: 154

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #2 on: 26 November 2008, 12:27:05 PM »

Antibiotik

Antibiotik berasal dari kata yunani tua, yang merupakan gabungan dari kata anti (lawan) dan bios
(hidup). Kalau diterjemahkan bebas menjadi "melawan sesuatu yang hidup".

Antibiotika di dunia kedokteran digunakan sebagai obat untuk memerangi infeksi yang disebabkan
oleh BAKTERI atau oleh PROTOZOA.

Cara kerja obat antibiotik ini dapat dibedakan menjadi tiga:

- bakteri akan dicegah tingkat pertumbuhannya


- bakteri dimusnahkan, tetapi secara secara materi(physical) masih ada
- bakteri dimusnahkan dan selnya dihancurkan

Sejarah

Antibotik pertama ditemukan tahun 1910 dan dinamakan Arsphenamin.

 
Paul Ehrlich, penemu Arsphenamin yang diabadikan dalam mata uang Jerman

Dahulu obat ini digunakan untuk memerangi penyakit syphilis.


Spoiler for Infeksi syphilis di p*n*s (AWAS gambar agak DP!!!):
Kemudian tahun 1935 ditemukan Sulfonamid.
Digunakan negara Jerman semasa PD II.

Sebelumnya ditemukan antibiotik yang paling dikenal, yaitu Penicillin tahun 1928 oleh Alexander
Fleming, ilmuan dari Skotlandia.

Penicillin ini berbeda dengan pendahulunya, yang tidak terdapat di alam, sehingga dalam
produksinya di sintesis secara laboratorium.

Penicillin hanya dapat dihasilkan dari mikroorganisme (jamur) tertentu, tepatnya dari molekul hasil
respirasi (pertukaran gas) jamur atau bakteri. Sehingga hanya dapat dihasilkan dalam jumlah (dosis)
yang sedikit.

Ini menyebabkan sulitnya menghasilkan penicillin dalam jumlah yang memadai, sehingga baru tahun
1942 pertama kali digunakan pada pasien, setelah penicillin berhasil diproduksi banyak melalui
proses fementasi!!

Penicillin menjadi obat yang teramat penting dimasa perang PD II.


Spoiler for :

Spoiler for :

Spoiler for :

 
Penicillin kapsul

Penemuan penicillin kemudian disusul oleh penemuan antibiotik lainnya, seperti Streptomycin,
Chloramphenicol, Aureomycin, Tetracyclin, dll.

Kebanyakan antibiotik yang terdapat sekarang berasal dari alam dan diperoleh dari hasil sintesis
(laboratory).

Sekarang penicillin diproduksi secara bioteknologi.

Resisten

Dalam pengobatannya antibiotik memerlukan waktu hari hingga minggu lamanya, agar bakteri dapat
dimusnahkan sepenuhnya.
Dalam masa pengobatan ini antibiotik harus diminum secara teratur,
sesuai dengan resep yang diberikan dokter.
Penghentian pengobatan antibiotik yang terlalu cepat akan menyebakan bakteri menjadi resisten!

Bakteri yang resisten ini akan menular dan menyebabkan antibiotik yang ada di pasaran menjadi
tidak berguna!!

Larangan minum obat Antibiotik campur Susu


Benarkah???

Larangan ini tidak sepenuhnya benar!!

Hanya sebanyak 15% dari antibiotik oral (pil) yang akan bermasalah jika di minum bersama dengan
susu.
Termasuk di antaranya ialah Tetrazykline (seperti Doxycyclin dan Minocyclin) dan beberapa
Fluorchinolone (terutama Ciprofloxacin dan Norfloxacin).

Antibiotik jenis ini akan membentuk semacam gumpalan bundar apabila bercampur dengan kalsium
ion yang terdapat dalam susu. Ukuran gumpalan ini akan telalu besar untuk melewati dinding usus.

 
Dinding usus

Akibatnya antibiotik bukannya masuk ke dalam peredaran darah, tetapi akan dicerna oleh usus,
sehingga efek pengobatannya menjadi tidak ada!!!

Untuk menghindari efek tersebut, mengkonsumsi susu dapat dilakukan sekurangnya 2 jam sesudah
meminum obat.

Kebanyakan antibiotika yang umumnya digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran pernafaan
dan pada saluran air seni tidak bermasalah jika diminum dengan susu.

Karena sulitnya bagi orang biasa ( bukan dokter) untuk membedakan antibiotik mana yang
bermasalah mana yang tidak bila diminum dengan susu, untuk menghindari efek tersebut maka
keluarlah "larangan" semacam ini !

Logged
Lily W

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 75
 -Receive: 86
 Posts: 5.124
 Reputasi: 241
 Gender:

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #3 on: 26 November 2008, 12:34:12 PM »

 [at]  Bro Markos...

Anumodana atas postingannya...

Artikel yang bagus dan bermanfaat sekali...

Kemarin anak saya sakit dan tidak mau makan serta harus makan obat, saya tanya orang apotik :
katanya makan obat tidak boleh di campur dengan susu... saya jadi bingung...gimana donk? akhirnye
terjawab di artikel yang di posting oleh Bro Markos.

Quote

Bila kita tidak sempat makan, susu boleh diminum sebagai penggantinya

 [at]  Forte & Bond...

Menurutmu gimana?

Logged

~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is
the way things are
mushroom_kick

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 0
 -Receive: 4


 Posts: 2.304
 Reputasi: 92

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #4 on: 26 November 2008, 12:37:06 PM »

dr dl seh, kl sakit gk napsu makan, pasti dijejali susu dl, br minum obat 

i hate susu

Logged

Segala fenomena bentuk & batin tidaklah kekal ada na.....


Semua hanyalah sementara.....

Forte

 Sebelumnya FoxRockman
 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 326
 -Receive: 640


 Posts: 13.282
 Reputasi: 305
 Gender:
 try to keep mindfullness
Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?
« Reply #5 on: 26 November 2008, 01:21:17 PM »

Kalau saya pribadi berpendapat, jika mengkonsumsi obat baiknya meminum air biasa saja, tidak
menggunakan susu. Karena susu itu sendiri terdiri dari protein yang mana tersusun oleh asam-asam
amino. Seperti yang pernah saya jelaskan asam amino ini sifatnya amfoter, memiliki zwitter ion di
mana terdapat gugus karboksilat (COOH) yang bersifat asam, dan gugus amine (NHx) yang bersifat
basa. Dan kebanyakan orang awam tidak mengerti mengenai kimia medisinal, jadi bagaimana bisa
membedakan antara zat X ini boleh dikonsumsi bersama susu, dan zat Y berbahaya dikonsumsi
bersama susu. Jadi untuk safetynya, mengkonsumsi obat idealnya dengan air biasa saja.

Seperti yang dicontohkan Aspirin(r), dengan nama generik : Acetosal (Asetil Salisilat), di mana obat
ini awalnya memiliki sifat asam, terbukti adanya gugus karboksilat di salisilat. Sehingga jika
dikonsumsi bersama susu, maka gugus amina yang ada pada susu akan bereaksi dengan gugus
karboksilat yang ada pada salisilat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi penetralan asam basa. Sehingga
mengakibatkan acetosal yang diberikan menjadi berkurang kadarnya.

Di lain pihak, asetosal memang sebaiknya tidak diberikan dalam keadaan lambung kosong,
mengingat sifat asamnya yang dapat menyebabkan pengikisan mukosa lambung. Namun bukan
berarti asetosal baik diberikan bersama zat yang bersifat basa. Saya secara pribadi lebih memilih
pemberian obat setelah makan daripada diberikan bersama dengan susu. Karena setelah makan,
biasa suasana pH lambung akan menjadi basa dan bila diberikan acetosal pada saat itu, akan terjadi
penundaan penyerapan namun tidak merusak acetosal itu sendiri secara berlebihan.

Selain itu juga pada susu, ada juga terkandung mineral-mineral, contoh kalsium. Kalsium ini bisa
membentuk ikatan-ikatan kompleks yang sangat kuat, contohnya ikatan Ca-Tetrasiklin yang akan
membentuk endapan warna kuning, sehingga mengurangi bioavailabilitas Tetrasiklin sehingga
akibatnya ketika efek terapetik Tetrasiklin tidak tercapai dapat mengakibatkan kuman tidak mati
sehingga menyebabkan resistensi kuman. Penggunaan antibiotik yang ideal adalah sekitar 4-5 hari.

Tetrasiklin biasanya saya larang penggunaannya pada anak-anak, berhubung anak2 masih dalam
masa pertumbuhan dan membutuhkan Kalsium. Efek penggunaan Tetrasiklin pada anak2 adalah gigi
anak2 akan berwarna kuning permanen dan bisa terjadi keropos tulang dalam usia muda.

Mengenai susu sebagai pengganti makan, saya sepenuhnya juga tidak setuju. Karena dalam keadaan
perut kosong, memang susu memiliki protein yang bisa meninggikan pH lambung, namun susu juga
mengandung kalsium yang di mana akan memperparah maag lambung. Jadi saran saya jika anak
tidak mau makan nasi, ada baiknya diberi roti / pengganti nasi yang sifatnya karbohidrat. Dan jika
nafsu makan sudah membaik, bisa diberi nasi kembali seperti biasa.

Semoga bermanfaat

Logged
bond

 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 177
 -Receive: 221
 Posts: 3.434
 Reputasi: 162
 Buddhang Saranam Gacchami...

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #6 on: 26 November 2008, 06:04:05 PM »

Quote from: Lily W on 26 November 2008, 12:34:12 PM

[at]  Bro Markos...

Anumodana atas postingannya...

Artikel yang bagus dan bermanfaat sekali...

Kemarin anak saya sakit dan tidak mau makan serta harus makan obat, saya tanya orang apotik :
katanya makan obat tidak boleh di campur dengan susu... saya jadi bingung...gimana donk? akhirnye
terjawab di artikel yang di posting oleh Bro Markos.

Quote

Bila kita tidak sempat makan, susu boleh diminum sebagai penggantinya

 [at]  Forte & Bond...

Menurutmu gimana?

Demikianlah yg telah ku dengar dan telah dibabarkan kembali oleh suhu2 pengobatan. Lirik neozep
forte dan om markos 

Logged

Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada
Forte

 Sebelumnya FoxRockman
 KalyanaMitta

 Thank You
 -Given: 326
 -Receive: 640


 Posts: 13.282
 Reputasi: 305
 Gender:
 try to keep mindfullness

Re: Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #7 on: 26 November 2008, 09:16:11 PM »

Quote from: markosprawira on 26 November 2008, 12:20:13 PM

Oleh Silvia Iskandar

Kita sering mendengar bahwa obat tidak boleh diminum dengan susu. Ini disebabkan karena kalsium
yang dikandung dalam susu bisa membentuk ikatan dengan zat-zat dalam beberapa obat dan
meghalangi penyerapan oleh lambung. Contohnya adalah tetrasiklin, zat yang biasa ada dalam
antibiotik untuk obat flu.

Namun, ada beberapa obat yang justru lebih baik diminum bersama susu.
Misalnya NSAID, Non Steroidal Anti Inflammatory Drug
Namun, . Yang terkenal adalah aspirin dan ibuprofen. Obat-obatan yang tergolong dalam NSAID
bersifat lypophylic, mudah larut dalam lemak sehingga biasanya obat-obat seperti ini dianjurkan
untuk diminum dalam waktu 30 menit sesudah makan.

Alasan lainnya ialah karena NSAID menyebabkan iritasi lambung. NSAID merupakan obat pembunuh
rasa sakit atau painkiller yang bekerja dengan cara menghambat terbentuknya prostaglandin.
Prostaglandin sendiri adalah zat yang selalu ada dalam sel tubuh dan bekerja sebagai zat yang
menyebabkan peradangan dan rasa sakit, namun juga punya tugas lain, yaitu membantu
terbentuknya selaput mukosa lambung. Dengan terhambatnya prostaglandin oleh aspirin, rasa sakit
dan infeksi pun hilang, namun pada saat yang bersamaan, lambung menjadi rentan terhadap iritasi
karena selaput mukosanya berkurang. Oleh karena itu, obat-obat NSAID biasa diresepkan untuk
diminum sesudah makan, supaya makanan yang masuk terlebih dahulu bisa melindungi dinding
lambung. Bila kita tidak sempat makan, susu boleh diminum sebagai penggantinya. Di Jepang,
bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa obat sakit kepala boleh diminum dengan obat
sakit maag. Namun ini tidak selalu benar, karena obat sakit kepala yang kita minum belum tentu
termasuk dalam golongan NSAID dan belum tentu semua obat sakit maag membantu pembentukan
selaput dinding lambung.

Bagaimana dengan jus, kopi atau teh?

Sama dengan susu, jus, kopi dan teh masing-masing mengandung zat-zat seperti vitamin C, kafein
dan tannin yang mungkin saja bereaksi dengan obat yang kita minum. Sementara itu, air putih
netral, tidak mengandung apa-apa yang bisa bereaksi dengan obat.

Air putih akan melarutkan obat dalam lambung sehingga lebih mudah diserap. Lebih baik lagi kalau
airnya hangat, proses pelarutan akan lebih cepat. Obat yang ditelan begitu saja tanpa air putih bisa
menempel di suatu tempat tertentu di lambung dan menyebabkan iritasi lambung juga. Oleh karena
itu, lebih baik obat diminum bersama air putih. Minuman lain seperti kopi, sebaiknya diminum satu
jam setelahnya, ketika sudah tidak ada lagi sisa obat di lambung.

Sumber:
http://www.chem-is-try.org/?sect=tanyapakar&ext=33

Berhubung ini sangat menarik buat dibahas, saya akan mencoba membahas dari segi
farmakokinetika (mata kuliah favorit aye) yang dikaitkan dengan biofarmasetika.

Pada prinsipnya, zat aktif diberikan dalam bentuk sediaan farmasi yang beragam. Ada yang berupa
sediaan cair, ada yang berupa sediaan solid seperti tablet. Masing-masing ada keunggulan dan
kelemahan. Dalam hal ini, akan disinggung mengenai sediaan tablet. Agar zat aktif dalam
berpenetrasi ke dalam tubuh, maka terlebih dahulu, zat aktif ini harus terlepas dari bahan pembantu
tablet seperti bahan pengikat, bahan pelincir, dll. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pelarut yang
sifatnya "inert" yang mana dapat melarutkan tanpa mengakibatkan ionisasi pada zat aktif.

Mengapa harus demikian ? Karena tubuh kita ini terdiri dari kumpulan jaringan dan sel, yang mana
terdapat selaput semipermiabel. Agar dapat menembus selaput ini, maka zat aktif harus terlarut
dalam bentuk molekul dan tidak dalam bentuk ion. Fenomena ini dikenal dengan istilah fase absorbsi
di dalam farmakokinetika. Fase absorbsi adalah fase penting yang perlu diperhatikan dalam sediaan
farmasi yang dalam bentuk oral karena besar pengaruhnya terhadap bioavailabilitas suatu obat dan
mempengaruhi fase-fase berikutnya seperti fase distribusi dan fase eliminasi.
Logged

ajan

 Teman

 Thank You
 -Given: 0
 -Receive: 0
 Posts: 71
 Reputasi: 4
 Gender:

Re: [ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #8 on: 03 December 2008, 11:33:56 AM »

Kamsia Markos atas info yang bermanfaat ini. 

Logged

chia0124

 Tamu

 Thank You
 -Given: 0
 -Receive: 0
 Posts: 6
 Reputasi: 1

Re: [ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?


« Reply #9 on: 23 February 2009, 09:14:52 AM »

thank you, atas infonya semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, sadhu... sadhu 

Logged

 Print
Pages: [1]   Go Up
« previous next »

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia  »


 Buddhisme dan Kehidupan »
 Kesehatan »
 [ASK] Bolehkah Minum Obat dengan Susu?

Jump to:  

Related Topics

  Subject / Started by Replies Last post

24 January 2008,
Minum obat cacing, Melanggar sila ? 33 Replies
10:41:39 PM
3505 Views
Started by Ocean Heart « 1 2 3  All » Diskusi Umum by mushroom_kick

20 March 2009,
[INFO] Minum Susu Mampu Cegah Pikun 11 Replies
06:54:27 PM
937 Views
Started by markosprawira Kesehatan by lophenk

10 May 2009,
Obat-obat ajaib yang akan dipasarkan 4 Replies
04:03:21 PM
1242 Views
Started by Sumedho Humor by Sumedho

22 January 2010,
ASK : Atthasila dan minum susu mentah.. 77 Replies
05:32:05 PM
2750 Views
Started by Riky_dave « 1 2 ... 5 6  All » Theravada by Juice_alpukat

16 May 2010,
Susu Kedelai vs Susu Sapi, Manakah yang lebih baik ?! 4 Replies
05:45:08 PM
562 Views
Started by Ocean Heart Kesehatan by andry

16 July 2010,
Alasan Jangan Minum Obat dengan Sendok Biasa 3 Replies
10:27:45 PM
294 Views
Started by dewi_go Kesehatan by raynoism

28 January 2011,
Kesalahan Minum Obat yang Harus Dihindari 0 Replies
04:45:08 PM
117 Views
Started by dewi_go Kesehatan by dewi_go

 Powered by SMF 2.0 RC3 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC


 XHTML
 RSS
 WAP2

Tools

Maximize Toolbar

   Wiwi Title

Powered by
Close window

Minimize Toolbar

Search...


Click here to change the search provider

Translate

Terjemahkan Halaman Ini

Translat
e

 Chinese
 Dutch
 English
 English
 French
 German
 Indonesian
 Italian
 Japanese
 Korean
 Portuguese
 Russian
 Spanish

Rekomendasi

Rekomendasi DC di Facebook
Jaringan DC

Modul DhammaCitta

Jaringan
DC

 Perpustakaan
 Artikel
 DCPedia
 Forum Diskusi
 DCPress

Click here to scroll to the top of this page

Informasi Terakhir

Dasbor Twitter

Halaman Facebook DhammaCitta

Share

Share this

Share

 Email This
 Facebook
 Twitter
 Delicious
 Stumbleupon
 Digg
 Buzz up!
 MySpace
 FriendFeed
 Technorati
 G Bookmarks
 Live

Join today to get your own Multiply site


 Home
 Blog
 Photos
 Video
 Calendar
 Reviews
 Recipes
 Links

Oct 5, '07 2:58 AM


Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat
for everyone

Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat

rumahkusorgaku
Hasil kerja obat di dalam tubuh kita memang sangat mungkin dipengaruhi
oleh makanan atau minuman yang kita konsumsi. Ini dikenal sebagai Online Seller
peristiwa interaksi obat-makanan. Selain dengan makanan, berbagai obat
yang kita konsumsi pada saat bersamaan juga dapat saling berinteraksi satu  Photos of
sama lain. Interaksi obat-makanan (food-drug interaction) atau interaksi ummu
antarobat (drug interaction) ini dapat mengurangi khasiat atau kemanjuran  Personal
obat, bahkan dapat menimbulkan efek yang membahayakan pasien. Message
 RSS Feed [?]
 Report Abuse
Lalu, apakah ada makanan yang mengurangi
efektivitas obat?
Teh, kopi, susu, tape, atau makanan apa saja yang kita makan berpotensi
untuk mengadakan interaksi dengan obat yang kita konsumsi. Sebab itu,
minum obat sebaiknya dengan air putih saja, kecuali untuk obat-obat
tertentu.

Teh mengandung senyawa tannin yang dapat mengikat berbagai senyawa


aktif obat sehingga sukar diabsorpsi atau diserap dari saluran pencernaan.
Demikian pula susu. Susu mempunyai sifat dapat menghambat absorpsi zat-
zat aktif tertentu terutama antibiotika. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti
daya khasiat atau kemanjurannya juga akan berkurang. Sehingga
penyembuhan mungkin tidak akan tercapai.

Karena itu, jika Anda sedang mengonsumsi antibiotika, misalnya ampisilin,


amoksilin, kloramfenikol dan lain-lain, sebaiknya Anda jangan minum susu,
apalagi minum obat antibiotika tersebut bersama dengan susu. Jika Anda
ingin minum susu juga, sebaiknya tunggu sekitar dua jam setelah atau
sebelum minum antibiotika, agar penyerapan obat antibiotika tersebut di
saluran pencernaan tidak terganggu.

Tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama-sama dengan susu.
Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru
dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada waktu makan. Gunanya
agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek iritasi lambung
dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan dapat sedikit
mengurangi daya kerja obat-obat tersebut, namun efek perlindungannya
terhadap iritasi lambung lebih bermanfaat dibandingkan dengan efek
penurunan daya kerja obat yang sangat sedikit.

Obat-obat seperti ini, contohnya obat-obat antiinflamasi nonsteroid seperti


asetosal dan ibuprofen, yang biasa diberikan untuk meredakan atau
mengurangi rasa sakit, nyeri, atau demam. Begitu juga obat-obat
kortikosteroid yang biasanya digunakan untuk meredakan inflamasi
(misalnya bengkak atau gatal-gatal) seperti prednison, prednisolon,
metilprednisolon, dan lain-lain.

Bagaimana dengan kopi? Kopi, sebagaimana kita ketahui, mengandung


kafein. Kafein bekerja merangsang susunan syaraf pusat. Jadi, agar efek
stimulan terhadap susunan syaraf pusat tidak berlebihan, hindari
mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein seperti kopi, teh,
coklat, minuman kola, dan beberapa merek minuman berenergi (energy
drink) ketika Anda sedang dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang
juga dapat merangsang susunan syaraf pusat seperti obat-obat asma yang
mengandung teofilin atau epinefrin.

Walaupun sebagian besar rakyat Indonesia bukan peminum alkohol, patut


juga disampaikan disini bahwa ketika Anda minum obat sebaiknya sama
sekali berhenti minum alkohol. Alkohol mempunyai pengaruh yang sangat
kuat terhadap fisiologis tubuh sehingga dapat mengganggu atau bahkan
mengubah respons tubuh terhadap obat yang diberikan. Contohnya, obat-
obat antihistamin atau antialergi (biasanya diberikan untuk meringankan
gejala alergi, flu atau batuk) umumnya menyebabkan mengantuk. Konsumsi
antihistamin bersama dengan alkohol akan menambah rasa kantuk dan
memperlambat performa mental dan motorik.
Alkohol juga akan meningkatkan risiko perdarahan lambung dan kerusakan
hati jika dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit seperti
parasetamol atau asetaminofen. Alkohol juga dilarang diminum bersama
dengan obat-obat penurun tekanan darah tinggi golongan beta-blocker
seperti misalnya propranolol. Kombinasi alkohol-propranolol dapat
menurunkan tekanan darah secara drastis dan membahayakan keselamatan
jiwa pasien. Tape, walaupun sedikit, sudah kita ketahui mengandung
alkohol, terutama tape ketan atau tape beras. Oleh sebab itu sebaiknya
kurangi atau hindari makan tape ketika Anda mengkonsumsi obat-obat yang
dapat berinteraksi dengan alkohol seperti yang diuraikan di atas.

Sebelum, saat atau setelah makan?


hal lain yang perlu diperhatikan adalah kapan anda boleh meminum obat;
setelah makan, sebelum makan atau pada saat makan?

Beberapa obat yang mempunyai efek iritasi pada saluran cerna hendaknya
digunakan setelah makan atau pada saat makan. Pada umumnya, obat-obat
yang berkhasiat sebagai penghilang rasa sakit, atau disebut analgesik,
mempunyai efek iritasi tersebut.
Obat-obat lain justru diberikan untuk mencegah iritasi akibat adanya
makanan, contohnya ialah antasida. Untuk obat jenis ini akan lebih
diutamakan jika diminum sebelum makan. Ada pula obat yang dapat
berinteraksi dengan komponen-komponen dalam makanan yang beraneka
ragam. Dan perlu anda ketahui, bahwa respon setiap individu terhadap obat
dapat sangat bervariasi. Kebiasaan hidup, pola makan, aktivitas sehari-hari
adalah hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap kerja obat dalam tubuh.

Pengaruh makanan atau minuman terhadap obat dapat sangat signifikan


atau hampir tidak berarti, bergantung pada jenis obat dan
makanan/minuman yang kita konsumsi. Selain itu harus pula difahami
bahwa sangat banyak faktor lain yang mempengaruhi interaksi ini, antara
lain dosis obat yang diberikan, cara pemberian, umur, jenis kelamin, dan
tingkat kesehatan pasien. Apa yang diuraikan dalam ruangan ini baru
sebagian kecil saja dari pengaruh interaksi obat-makanan terhadap
pengobatan yang kita jalani. Untuk penjelasan lebih rinci, jangan ragu-ragu
untuk bertanya langsung kepada dokter atau apoteker di apotek.
dr ernawati sinaga ms apt
http://republika.co.id/kirim_berita.asp?id=167066&kat_id=105&edisi=Cetak

http://food-drugs-info.blogspot.com/2004/11/kapan-minum-obat-jika-
sedang-puasa_22.html

Tags: kesehatan

Prev: Tanda-Tanda Kehamilan


Next: Siapa saja yang Tidak Boleh Minum Teh

reply share

Sponsored Links

Grosir & Eceran Baju Hi-Def Video - Upgrade


Terlengkap to Multiply Premium
Bursa Tanah Abang Grosir * Your photos & videos as
& Eceran Baju Fashion, large as possible for all
Busana Muslim, Celana your friends and family *
Harem, Kardigan, dll. Mau Your video in HD (up to
Grosir atau Eceran Tetap 1080p) * Automated
Murah.... Kita Up Date backup and permanent
Model Baru Setiap Hari. storage * Ad-free
browsing..

audio reply video reply

Add a Comment

U2FsdGVkX1.mD reply 1

reply

800:U2FsdGVkX1

Add a comment to this blog entry, for everyone

Send rumahkusorgaku a personal message

Re: Pengaruh
Quote original message

Preview
Submit & Spell Check
   

submitted

© 2011 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API ·
Contact · Help

Anda mungkin juga menyukai