Anda di halaman 1dari 41

USULAN PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN


TBC-PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOLANGITANG
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA
TAHUN 2010

AKBAR
2651076

PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS GORONTALO
2010
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ..................................................................................... i


HALAMAN SAMPUL DALAM ..................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. iv
LEMBAR PENGESAHAN USULAN PENELITIAN ................................... vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
C. Tujuan Penelitian.............................................................................
D. Manfaat Penelitian..........................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A......................................................................................................Kajian
Pustaka............................................................................................
1. Penyebab TBC Paru.............................................
2. Cara Penularan.....................................................
3. Riwayat terjadinya TBC Paru..............................
4. Penemuan Penderita.............................................
5. Penegakan Diagnosa............................................
6................................................................................................Pemeri
ksaan Radiologis (Foto Rontgen).............................................
B. Kerangka Konseptual Penelitian.....................................................
1................................................................................................Dasar
Pemikiran..................................................................................
2................................................................................................Bagan
Kerangka Konseptual Penelitian...............................................
C. Hipotesis Penelitian..........................................................................
BAB III METODE PENELITIAN
A......................................................................................................Jenis
Penelitian........................................................................................
B......................................................................................................Waktu
dan Lokasi Penelitian......................................................................
1................................................................................................Waktu
Penelitian..................................................................................
2................................................................................................Lokasi
Penelitian..................................................................................
C......................................................................................................Popula
si dan Sampel..................................................................................
1................................................................................................Popula
si ...............................................................................................
2................................................................................................Sampe
l.................................................................................................
D......................................................................................................Definis
i Operasional dan Kriteria Obyektif................................................
1................................................................................................Kejadi
an TBC Paru BTA (+)...............................................................
2. Kontak Serumah.......................................................................
3. Lama Kontak.............................................................................
4. Kepadatan Penghuni Rumah.....................................................
E......................................................................................................Teknik
Pengumpulan Data..........................................................................
F. Teknik Analisis Data .......................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

C. Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis paru masih merupakan masalah kesehatan

masyarakat dunia. Penyakit tuberkulosis paru banyak menyerang usia kerja

produktif, kebanyakan dari kelompok sosial ekonomi rendah dan berpendidikan

rendah. Meningkatnya kasus HIV/AIDS yang menurunkan daya tubuh juga

menyebabkan meningkatnya kembali penyakit TBC dinegara-negara yang sudah

berhasil mengendalikan penyakit. Banyak penderita yang tidak berhasil

disembuhkan, penderita dengan basil tahan asam (BTA) positif berisiko

menularkan penyakit pada orang lainnya. Tahun 1993, WHO mencanangkan

kedaruratan global penyakit TBC. Diperkirakan setiap tahun ada 9 juta penderita

TBC baru dengan kematian 3 juta orang. 95% penderita TBC berada di negara

berkembang dan beban terbesar terutama adalah di Asia Tenggara. Di negara-

negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang

sebenarnya dapat diadakan pencegahan (Depkes, 2000).

Indonesia merupakan negara terpadat nomor 4 di dunia dengan jumlah

penduduk 210 juta pada tahun 2004, penyakit TBC menduduki tempat ke 3

terbesar didunia setelah China dan India. Dari hasil survey kesehatan rumah

tangga , penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga terbesar setelah

penyakit Kardiovasculer dan penyakit saluran pernapasan atas (ISPA) pada semua
golongan umur dan penyebab penyakit nomor satu pada kelompok penyakit

infeksi.(Depkes 2004)

WHO memperkirakan bahwa di Indonesia setiap tahun terjadi 583.000

kasus untuk semua jenis TBC dan 282.000 kasus baru dengan BTA (+).

Prevalensi kasus TBCC-Paru BTA (+) diperkirakan 715.000 dengan kematian

sekitar 140.000 atau secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia

terdapat 130 penderita TBC-Paru baru dengan BTA (+) dan menyerang sebagian

besar usia produktif, kelompok ekonomi lemah dan berpendidikan rendah

(Depkes 2000).

Dalam upaya penanggulangan TBC di Indonesia telah ditetapkan tujuan

program pemberantasan yang meliputi tujuan jangka panjang yaitu menurunkan

angka kesakitan, kematian dan penularan TBC dengan cara memutuskan rantai

penularan sehingga penyakit TBC tidak lagi menjadi masalah kesehatan

masyarakat di Indonesia, dan tujuan jangka pendek yaitu menyembuhkan minimal

85% penderita baru BTA (+) yang ditemukan, tercapinya cakupan penemuan

penderita secara bertahap sampai dengan tahun 2007, 70% mencegah timbulnya

resistensi obat TBC di masyarakat (Depkes, 1999).

Sejak tahun 1995 pemerintah telah berusaha melakukan pemberantasan

penyakit tuberkulosis dengan melaksanakan strategi DOTS yang

direkomendasikan oleh WHO. Dengan strategi DOTS diharapkan dapat

memberikan angka penemuan dan kesembuhan yang tinggi untuk menurunkan

angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit tuberkulosis.


Strategi DOTS terdiri dari :

a) Komitmen politisi dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana.

b) Diagnosa TBC paru dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis terhadap

semua tersangka TBC diunit pelayanan kesehatan.

c) Pengobatan jangka pendek dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan

pengawasan langsung oleh PMO (Pengawas Makan Obat).

d) Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek untuk penderita.

e) Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan

evaluasi program.

Dengan strategi DOTS program sudah masuk keseluruh Puskesmas di

Indonesia, namun Rumah Sakit, Poliklinik dan praktek dokter masih sangat

sedikit menerapkan program DOTS ini. Dari hasil evaluasi diseluruh Indonesia

menunjukkan bahwa dengan strategi DOTS angka kesembuhan (Cure rate) telah

mencapai 87% dari target nasional 85%, namun cakupan penemuan (Case

detection rate) baru mencapai 10% dari target nasional 70% yang seharusnya

dicapai untuk mendapatkan dampak epidemiologis (Info Gerdunas, 2001).

Adapun program pemberantasan TBC paru berbasis masyarakat

(community based TBC control program) telah meningkatkan jumlah penderita

yang ditemukan dan diperiksa dan juga mendekatkan pelayanan pengobatan

kepada penderita yang ditemukan tetapi kenaikannya sangat sedikit dan sangat

kurang dari target yang diharapkan.


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Runggu tahun 2003 di Kota

Samarinda didapatkan bahwa pendidikan, kontak serumah, lama kontak,

kepadatan penghuni dan ventilasi rumah merupakan faktor risiko terhadap

kejadian TBC paru dengan nilai OR > 1. Kontak serumah dan lama kontak

merupakan faktor risiko tertinggi terhadap kejadian TBC paru. Faktor risiko

pendidikan, pekerjaan, kepadatan penghuni dan ventilasi rumah tidak ada

pengaruh terhadap kejadian TBC paru.

Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dengan penduduk 65.452

orang tahun 2007 dengan strategi DOTS perkirakan 531 suspek dan BTA (+) 33

kasus,(0,05%) dari 38 penderita yang diobati 38 sembuh. Tahun 2008 dari jumlah

penduduk 66.282 orang perkiraan suspek 796 dan terdapat kasus TBC paru BTA

(+) 78 kasus, (0,11%) dari 78 penderita yang diobati 39 orang sembuh.

Sedangkan pada Tahun 2009 dengan jumlah penduduk 68.874 orang dan dari

perkiraan suspek 977 ditemukan kasus TBC paru BTA (+) 111 kasus (0,16%) dari

94 penderita yang diobati tidak ada yang sembuh.

Di wilayah Puskesmas Bolangitang dengan jumlah penduduk 13.166

tahun 2007 dengan perkiraan suspek 113 di temukan kasus TBC paru BTA(+) 11

kasus, (0,08%) dari 9 penderita yang diobati 9 orang sembuh, Tahun 2008 jumlah

penduduk 13.521, orang perkiraan suspek 78 terdapat TBC paru BTA (+) 11

kasus, (0,08%) dari 11 penderita yang diobati 5 orang yang sembuh, Tahun 2009

jumlah penduduk 13.830 orang, dengan perkiraan suspek 272 terdapat kasus TBC

Paru BTA (+) 22 kasus, (0,15%) dari 22 penderita yang diobati tidak ada yang
sembuh, dan pada tahun 2010 dari januari hingga maret dengan perkiraan suspek

67 terdapat kasus TBC Paru BTA (+) 5 kasus, (0,4%) 5 penderita sementara

dalam masa pengobatan dari 13.861 jumlah penduduk, sehingga jika di rata-rata 5

kasus dalam tiap trimester maka akan akan terdapat 20 kasus dalam 1 tahun

(Register Puskesmas Bolangitang,2010.

Berdasarkan data tersebut, mendorong peneliti untuk mengetahui faktor-

faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC paru di wilayah kerja Puskesmas

Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2010.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC paru,

maka perumusan masalah sebagai berikut :

1. Apakah faktor kontak serumah berhubungan dengan kejadian TBC Paru di

Wilayah kerja Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

2010?

2. Apakah faktor lama kontak berhubungan dengan kejadian TBC Paru di

Wilayah kerja Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

tahun 2010?

3. Apakah faktor kepadatan penghuni rumah berhubungan dengan kejadian TBC

Paru di Wilayah kerja Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara tahun 2010?


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC paru

di Wilayah Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

tahun 2010.

2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui hubungan faktor kontak serumah dengan kejadian

TBC paru di Wilayah Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara tahun 2010.

2. Untuk mengetahui hubungan faktor lama kontak dengan kejadian TBC

paru di Wilayah Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara tahun 2010.

3. Untuk mengetahui hubungan faktor kepadatan penghuni rumah dengan

kejadian TBC paru di Wilayah Puskesmas Bolangitang Kabupaten

Bolaang Mongondow Utara tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :

1. Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian sebagai sumbangan ilmiah dan bahan bacaan bagi masyarakat

dan peneliti selanjutnya.


2. Manfaat Institusi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan

bagi pengambil keputusan untuk perbaikan program pemberantasan dan

penanggulangan TBC paru.

3. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini sebagai informasi bagi instansi terkait khususnya di

Bolaang Mongondow Utara dan Indonesia pada umumnya.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

B. Kajian Pustaka

6. Penyebab TBC Paru

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman TBC (Mycobacterium Tuberkulosis), pertama kali ditemukan oleh

Robert Koch pada tahun 1882.

Ciri-ciri kuman tersebut adalah sebagai berikut :

a. Kuman ini berbentuk batang berwarna merah.

b. Ukuran panjang sekitar 4 mikron dan tebalnya 0,3 – 0,6 mikron.

c. Mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap penghilangan warna dengan

asam dan alkohol pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula dengan

Basil Tahan Asam (BTA). Kuman akan tumbuh optimal pada suhu 370 C,

dengan PH 6,4 – 7 (Aditama dkk, 2000).

d. Kuman ini cepat mati (sekitar 5 menit) dengan sinar matahari langsung

tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang lembab dan gelap.

e. Basil ini dilindungi oleh lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid.

f. Kuman dapat tertidur lama (dormant) selama beberapa tahun.


7. Cara Penularan

Sumber penularan penyakit TBC paru adalah penderita dengan TBC

paru BTA (+). Penderita menyebarkan kuman ke udara pada waktu batuk atau

bersin dalam bentuk percikan dahak (droplet), percikan yang mengandung

kuman tuberkulosis dapat bertahan diudara beberapa jam pada suhu kamar,

terhirup oleh orang sehat sewaktu bernapas, selanjutnya akan berkembang

biak dalam jaringan paru-paru, kemungkinan pula masuk kebagian tubuh

lainnya melalui pembuluh darah, saluran limfe, atau penyebaran langsung

ketubuh lainnya (Enarson, 1996).

Makin tinggi gradasi kuman BTA hasil pemeriksaan dahak makin

menular penderita tersebut, bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat

kuman dibawah mikroskop) maka penderita tersebut dianggap tidak menular.

Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet

dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Faktor lain yang

mempengaruhi seseorang terinfeksi TBC adalah daya tahan tubuh yang

rendah diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS (Depkes 2001).

Sekitar 80 – 90% orang telah terinfeksi kuman TBC tetapi belum tentu

penderita TBC, untuk sementara waktu kuman yang ada dalam tubuh bisa

berada dalam keadaan dormant (tidur), keberadaan kuman dormant dapat

diketahui hanya dengan test tuberculin. Apabila penyakit TBCC tidak diobati

maka setiap orang dengan penyakit TBC paru BTA (+) akan dapat

menularkan kepada sekitar 10 – 15 orang setiap tahunnya (WHO,1999).


Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyebaran kuman

tuberkulosis adalah kasus sebagai sumber, faktor lingkungan, kesempatan

mendapat pemaparan dan faktor individu.( Hilips C Hopewell)

8. Riwayat terjadinya TBC Paru

a. Infeksi Primer

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan

kuman TBC Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat

melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan

sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat

kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri

diparu yang mengakibatkan peradangan didalam paru. Saluran limfe akan

membawa kuman TBC ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, dan ini

disebut sebagai kompleks primer.

Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer

adalah sekitar 4 – 6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan

terjadinya perubahan reaksi tuberculin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang

masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada

umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan

perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian, ada beberapa kuman

akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-

kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan


kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi

penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai

terinfeksi sampai menjadi sakit diperkirakan sekitar 6 bulan.

b. Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TBC)

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau

setahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh

menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari

tuberculosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan

terjadinya kavitasi atau efusi pleura.

9. Penemuan Penderita

a. Penemuan Penderita Pada Orang

Dewasa

Penemuan kasus adalah komponen yang sangat penting dalam

pemberantasan penyakit tuberkulosis paru dan hampir semua penyakit

menular lainnya. Tujuan penemuan kasus adalah untuk menentukan

sumber infeksi dalam masyarakat yang berarti mencari orang yang

mengeluarkan basis tuberkulosis untuk diobati.

Pada program penanggulangan dan pemberantasan TB paru di

Indonesia dengan strategi DOTS, angka kesembuhan sudah cukup

meningkat namun angka penemuan masih sangat rendah (Info Gerdunas,

2002). Penemuan penderita tuberkulosis pada orang dewasa dilaksanakan

secara pasif, artinya penyaringan penderita tersangka TBC paru yang


dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan

kesehatan, ini sangat dipengaruhi oleh faktor individu penderita untuk

berkunjung ke pelayanan kesehatan. Karena tersangka yang mempunyai

gejala TBC dengan kemauan sendiri memeriksakan diri ke sarana

kesehatan (Depkes, 2002).

Kegiatan ini harus didukung dengan penyuluhan secara aktif baik oleh

petugas kesehatan maupun oleh masyarakat untuk meningkatkan cakupan

penemuan, cara ini disebut passive promotive case finding.

b. Penemuan Penderita Pada Anak

Penemuan penderita pada anak sebagian besar didasarkan pada

gambaran klinis, foto rontgen dan uji tuberculin.

10. Penegakan Diagnosa

Penegakan diagnosis penyakit TBC paru dapat dilakukan berdasarkan :

a. Gejala Klinis

Gejala klinis pada orang dewasa :

1) Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga minggu atau

lebih

2) Batuk berdahak campur darah merah segar, sesak napas dan

rasa nyeri dada

3) Badan lemah, nafsu makan menurun, rasa kurang enak badan

(malaise)
4) Berkeringat malam tanpa kegiatan, demam, meriang lebih dari

sebulan

Lebih menguatkan apabila gejala tersebut diperkuat dengan riwayat

kontak dengan seorang penderita TBC paru BTA (+).

b. Pemeriksaan Bakteriologi/Laboratorium

Penemuan basil tuberkulosis ditemukan pertama kali oleh Robert

Koch pada tahun 1882, dan untuk prinsip penemuan kuman tahan asam ini

tetap merupakan pilihan utama walaupun dengan berbagai keterbatasan

(Adiatma T.J).

Penemuan basil tahan asam merupakan suatu alat penentu yang amat

penting dalam diagnosis tuberkulosis paru. Untuk mendapat hasil yang

akurat diperlukan rangkaian kegiatan yang akurat mulai dari cara

pengumpulan dahak, pemilihan dahak, teknik pewarnaan dan pengolahan

sediaan dahak yang diperiksa serta kemampuan membaca hasil pada

mikroskopis. Untuk mengetahui adanya kuman TBC dalam dahak

diperlukan dahak yang minimal 5000 basi/ml dahak, sedangkan untuk

menentukan diagnosis pasti dengan melaksanakan pemeriksaan melalui

kultur yang membutuhkan 50 – 100 kuman/ml dahak.

Tujuan pemeriksaan dahak :

1) Menegakkan diagnosis dan klasifikasi

2) Menilai kemajuan pengobatan

3) Menentukan tingkat penularan (Depkes 2000).


Pada pemeriksaan dahak perlu diperhatikan :

1) Pelaksanaan pengumpulan dahak

Pemeriksaan dahak dengan mikroskopis yang digunakan oleh

program P2TBC paru saat ini sesuai dengan buku pedoman tahun 2002

adalah dengan memeriksa dahak secara mikroskopis pada 3 spesimen

yang dikenal dengan istilah SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu). Dahak yang

baik untuk diperiksa adalah dahak mukopurulent (nanah berwarna hijau

kekuning-kuningan) jumlahnya 3-5 ml tiap pengambilan.

Menurut WHO 2001 semua tersangka penderita yang datang

dengan kemauan sendiri ke pelayanan kesehatan dengan gejala klinis TBC

paru (suspek) pada orang dewasa harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam

waktu 2 hari berturut-turut.

a) Sewaktu : Dahak dikumpulkan pada saat suspek TBC datang

berkunjung pertama kali datang pelayanan kesehatan. Pada saat pulang

suspek membawa sebuah pot untuk mengumpulkan dahak hari kedua.

b) Pagi : Dahak dikumpulkan dirumah pada pagi hari kedua

segera setelah bangun tidur. Pot tersebut diantar sendiri ke

laboratorium pelayanan kesehatan. Volume dahak sebaiknya 3-5 ml.

c) Sewaktu : Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua saat

menyerahkan dahak pagi.

d) Hasil pemeriksaan dinyatakan (+) apabila sedikitnya 2 dari 3

spesimen SPS BTA hasil positip.


e) Bila hanya 1 dari pemeriksaan SPS positif maka pemeriksaan

lanjut dengan foto rontgen dada, apabila hasil rontgen mendukung

TBC maka penderita di diagnosis TBC paru BTA positip.

f) Hasil rontgen tidak mendukung maka di diagnosis bukan

penderita TBC.

Untuk mendapat kualitas dahak yang baik beberapa hal yang perlu

diperhatikan oleh petugas kesehatan yaitu :

a) Memberikan penjelasan kepada penderita mengenai pentingnya

pemeriksaan dahak, baik pemeriksaan dahak pertama maupun

pemeriksaan dahak ulang.

b) Memberi penjelasan kepada penderita tentang cara batuk yang

benar untuk mendapat dahak yang kental dan purulen.

c) Petugas memeriksa kekentalan, warna dan volume dahak, warna

dahak yang baik untuk pemeriksaan adalah warna kuning kehijau-

hijauan (mukopurulen), kental dengan warna 3-5 ml, bila volume

kurang, petugas harus meminta penderita batuk lagi sampai volume

dahak cukup.

d) Jika tidak ada dahak yang keluar, pot dahak dianggap sudah

terpakai dan harus dimusnahkan untuk menghindari kemungkinan

terjadinya kontaminasi kuman TBC.

Bila sulit mengeluarkan dahak dapat dilakukan dengan :


a) Malam hari sebelum tidur, minum satu gelas teh manis atau menelan

tablet gliseril guayacolat 200 mg.

b) Melakukan olah raga ringan (lari-lari kecil) kemudian menarik nafas

dalam beberapa kali. Bila terasa agak batuk, nafas ditahan selama

mungkin lalu penderita disuruh batuk.

Pengumpulan dahak dilakukan sebagai berikut :

a) Beri label pada dinding pot yang memuat nomor identitas sediaan

dahak.

b) Buka pot dahak pegang tutupnya dan berikan pot itu kepada suspek.

c) Berdiri dibelakang suspek, minta dia memegang pot dekat ke bibirnya

dan membatukkan dahak kedalam pot.

d) Tutup pot dengan erat.

2) Pembacaan hasil pemeriksaan

Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dilakukan dengan

menggunakan skala International Union Againt Tuberculosis and Lung

Diseases (IUATLD) dan diperiksa paling sedikit 100 lapang pandang atau

dalam waktu kurang lebih 10 menit sebagai berikut :

a) Tidak ditemukan BTA per 100 lapang pandang = negatif.

b) Ditemukan 1-9 BTA per 100 lapang pandang = ditulis jumlah

kuman yang ditemukan.

c) Ditemukan 10-99BTA per 100 lapang pandang = + atau 1+.

d) Ditemukan 1-10 BTA per 1 lapang pandang = ++ atau 2+


e) Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang = +++ atau 3+.

Bila ditemukan 1-3 BTA dalam 100 lapang pandang, pemeriksaan

harus diulang dengan spesimen dahak yang baru, bila hasilnya tetap 1-

3 BTA maka hasilnya dilaporkan negatif, bila hasilnya 4-9 BTA

dilaporkan positif.

7. Pemeriksaan Radiologis (Foto Rontgen)

Pemeriksaan rontgen ini membantu penegakan diagnosis TBC bila

dari 3 kali pemeriksaan dahak BTA hanya 1 negatif atau semuanya negatif

sedangkan secara klinis mendukung sebagai TBCC, maka perlu pemeriksaan

rontgen.

a. Klasifikasi Penyakit TBC

Menurut Depkes pada Pedoman Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis tahun 2000 bahwa klasifikasi penyakit tuberkulosis perlu

ditentukan sebelum pengobatan dengan tujuan untuk menetapkan panduan

Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

Klasifikasi penyakit TBC sebagai berikut :

1) Tuberkulosis paru adalah bentuk yang sering dijumpai yaitu sekitar 80

% dari semua penderita tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,

tidak termasuk pleura (selaput paru) merupakan bentuk dari TBC yang

dapat menular.
Berdasarkan pemeriksaan dahak TBC paru dibagi dalam :

a) Tuberkulosis paru BTA (+) yaitu :

(1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak

SPS hasilnya BTA positif.

(2) Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif

dan rontgen menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

b) Tuberkulosis paru BTA (-) yaitu dari

pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto

rontgen menunjukkan gambaran tuberkulosis.

TBC paru BTA negatif, rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat

keparahan penyakitnya yaitu berat dan ringan. Berat bila gambaran

foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang

luas dan keadaan umum penderita buruk.

2) Tuberkulosis extra paru

Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru seperti pleura,

selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang

belakang, persendian, kulit, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-

lain.

b. Tipe Penderita

Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan

sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu :


1) Kasus baru adalah penderita tuberkulosis yang belum pernah

dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.

2) Kambuh (relaps) adalah penderita tuberkulosis yang

sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah

dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi

berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

3) Pindahan (transfer in) adalah penderita yang sedang

mendapat pengobatan di suatu Kabupaten lain dan kemudian pindah

berobat ke Kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut harus membawa

surat rujukan/pindahan (Form TBC 09).

4) Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop-

out) adalah penderita yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan

dahak BTA positif setelah putus berobat (drop-out) 2 bulan atau lebih.

5) Gagal adalah :

(a) Penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali

menjadi positif pada akhir bulan ke 5 atau lebih.

(b) Penderita BTA negatif, rontgen positif yang menjadi BTA positif

pada akhir bulan ke 2 pengobatan.

6) Lain-lain

Semua penderita lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut di

atas, termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik yaitu penderita
yang masih BTA positif setelah menyelesaikan pengobatan ulang

dengan kategori 2.

c. Pengobatan TBC Paru

Pengobatan tuberkulosis sudah dimulai sejak tahun 1882, sejak

Robert Koch menemukan basil tuberkulosis. Di Indonesia menurut Maidin

program penanggulangan TBC paru secara nasional telah dilaksanakan

pengobatan TBC paru 3 tahap yaitu :

1) Obat jangka panjang (1969-

1978)

2) Obat jangka menengah (1978-

1995)

3) Obat jangka pendek 3 kategori

dengan strategi DOTS (1995-sekarang).

Tujuan pengobatan TBC paru adalah untuk menyembuhkan

penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan

risiko penularan (Depkes 2001).

Pengobatan yang dianjurkan oleh WHO dan IULTLD tahun 1996

dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) standar yang terdiri dari :

Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Streptomycin dan Ethambutol dengan

standar yang dinyatakan dalam kategori 1, kategori 2, kategori 3 dan

sisipan.
Berdasarkan paduan obat tersebut diatas maka program TBC paru

di Indonesia menggunakan paduan OAT yang disediakan dalam bentuk

paket dengan tujuan memudahkan pemberian obat kepada penderita dan

menjamin kelangsungan pengobatan sampai selesai satu paket untuk

setiap penderita dalam satu masa pengobatan.

Pada pengobatan dengan strategi DOTS OAT dibagi dalam 3

kategori yaitu :

1) Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)

Pada tahap intensif obat ini terdiri dari Isoniasid, Rifampisin,

Pirasinamid dan Etambuto. Obat ini diberikan setiap hari selama 2

bulan (2 HRZE). Kemudian dilanjutkan dengan tahap lanjutan yang

terdiri dari Isoniazid dan Rifampisisn diberikan 3 kali dalam seminggu

selama 4 bulan.

Obat ini diberikan untuk penderita :

(a) Penderita baru TBC paru BTA positif.

(b) Penderita baru TBC paru BTA negatif, rontgen positif yang sakit

berat.

(c) Penderita TBC extra paru berat.

Untuk seorang penderita baru BTA positif diberikan satu paket

kombipak kategori 1 berisi 114 blister harian yang terdiri 60 blister

HRZE untuk tahap awal (intensif) dan 54 blister HR untuk tahap


lanjutan masing-masing dikemas dalam dos kecil dan disatukan

dalam 1 dos besar.

Fase pengobatan pada kategori 1 :

(a) Pengobatan fase intensif yaitu pemberian OAT setiap hari selama 2

bulan (2 HRZE). Bila hasil pemeriksaan dahak ulang BTA positif

pada akhir bulan ke 2 maka pengobatan diteruskan dengan obat

sisipan (HRZE) selama 1 bulan. Setelah pengobatan sisipan maka

dilakukan pemeriksaan dahak ulang, kemudian diteruskan dengan

fase lanjutan tanpa melihat hasil pemeriksaan BTA.

(b) Pengobatan fase lanjutan bila pemeriksaan dahak ulang BTA (-)

pada akhir bulan ke 2 maka diteruskan dengan pengobatan (4

H3R3) fase lanjutan selama 4 bulan diberikan 3 kali dalam

seminggu, demikian pula fase lain untuk diberikan pada yang telah

selesai OAT.

2) Kategori 2 (2HRZES/HRSE/5H3R3E3)

OAT ketegori 2 ini diberikan untuk penderita BTA positif yang sudah

pernah makan OAT selama lebih sebulan yaitu :

a) Penderita kambuh (relaps)

b) Penderita gagal (failure)

c) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)

Fase pengobatan ketegori 2 yaitu :


a) Pengobatan fase intensif yaitu pemberian OAT setiap hari

selama 3 bulan terdiri dari 2 bulan diberikan HRZE dan suntikan

Streptomycin setiap hari, suntikan diberikan setelah menelan obat

di UPK. Kemudian dilanjutkan setiap hari HRZE selama satu

bulan. Bila hasil pemeriksaan dahak ulang BTA positif pada akhir

bulan ke 3, pengobatan diteruskan dengan OAT sisipan selama

satu bulan. Setelah pengobatan sisipan dilanjutkan pemeriksaan

dahak ulang, kemudian diteruskan dengan fase lanjutan tanpa

melihat hasil pemeriksaan BTA.

b) Pengobatan fase lanjutan bila : pemeriksaan dahak ulang BTA

negatif pada akhir bulan ke 3 maka diteruskan dengan pengobatan

(5H3R3E3), fase lanjutan selama 5 bulan diberikan 3 kali dalam

seminggu, demikian pula fase lanjutan diberikan pada penderita

yang telah selesai OAT sisipan.

3) Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)

Kategori 3 ini diberikan untuk :

a) Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan.

b) Penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe, pleuritis

eksudativa, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang),

sendi dan kelenjar adrenal.

Fase pengobatan pada kategori 3 yaitu :


a) Pengobatan fase intensif yaitu pemberian OAT setiap hari

selama 2 bulan (2HRZ). Setelah fase intensif perlu dilakukan

pemeriksaan dahak ulang pada bulan ke 2.

b) Pengobatan fase lanjutan bila pemeriksaan dahak ulang BTA

negatif, selama 4 bulan diberikan 3 kali dalam seminggu.

4) OAT sisipan (HRZE)

Pada akhir bulan ke 2 maka diteruskan dengan pengobatan (4H3R3)

fase lanjutan. Apabila pada pemberian pengobatan kategori 1 atau

kategori 2 pemeriksaan dahak setelah fase intensif hasil BTA masih

(+) maka diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.

8. Tinjauan Umum Tentang Faktor Risiko Yang Berhubungan Terhadap

Kejadian TBC Paru

a. Kontak Serumah dengan Sumber Penular

Kontak serumah dengan penderita TBC merupakan salah satu faktor

risiko terjadinya TBC. Semua kontak penderita TBC positif harus

diperiksa dahak. Kontak erat seperti dalam keluarga dan pemaparan besar-

besaran seperti pada petugas kesehatan memungkinkan penularan lewat

percikan dahak.

Faktor risiko tersebut semakin besar bila kondisi lingkungan

perumahan jelek seperti kepadatan penghuni, ventilasi yang tidak

memenuhi syarat dan kelembaban dalam rumah merupakan media transisi

kuman TBC untuk dapat hidup dan menyebar. Untuk itu penderita TBC
dapat menularkan secara langsung terutama pada lingkungan rumah,

masyarakat di sekitarnya dan lingkungan tempat bekerja, makin

meningkatnya waktu berhubungan dengan penderita memberi

kemungkinan infeksi lebih besar pada kontak.

Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pemaparan kuman TBC

dapat dipengaruhi oleh faktor individu, keeratan kontak dan faktor

lingkungan rumah seseorang.


b. Lama Kontak

Lama kontak adalah kurun waktu kontak tinggal bersama dengan

penderita secara terus-menerus sehingga pada proses ini melalui batuk

atau bersin, penderita TBC paru BTA (+) menyebarkan kuman ke udara

dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).Sekali batuk dapat

menghasilkan sekitar 3000 percikan, Selain itu faktor yang

memungkinkan seseorang terpajan kuman TBC paru ditentukan oleh

konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut

karena risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan

dahak dimana pasien TBC paru dengan BTA (+) memberikan

kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TBC paru BTA (-)

(Depkes 2008).

Masa inkubasi kuman TBC mulai dari masuknya kuman sampai

terjadi infeksi diperkirakan 6 bulan sampai dengan 2 tahun (Depkes,2002).

c. Kepadatan penghuni rumah

Menurut Proyono Tjiptoheryanto 1983, beberapa faktor sosial

ekonomi diperkirakan mempengaruhi tingkat kesakitan maupun kematian

akibat penyakit tuberkulosis termasuk faktor kepadatan penduduk.

Besarnya prosentase penduduk yang berdiam di kota akan mempengaruhi

bukan saja kepadatan namun juga hubungan antara seseorang dengan

orang lainnya. Keadaan perumahan memberikan dampak langsung kepada

kesehatan lingkungan dan termasuk didalamnya jumlah orang dalam satu


rumah. Lingkungan tempat tinggal diyakini beberapa peneliti sebagai

faktor risiko. Dalam program penyehatan lingkungan pemukiman, telah

ditetapkan syarat-syarat kesehatan untuk rumah tinggal antara lain :

1) Luas ruangan rumah dibanding penghuni tidak kurang dari 9

m2/jiwa.

2) Lantai dan dinding kamar tidur kering (tidak lembab)

3) Pencahayaan memanfaatkan sinar matahari sebanyak

mungkin untuk penerangan dalam rumah pada siang hari.

B. Kerangka Konseptual Penelitian

3. Dasar Pemikiran

Penyakit TBC paru disebabkan oleh microbacterium tuberkulosis

sebagai faktor agent (virulensi kuman) yang menular dari orang sakit TBC

aktif ke orang sehat yang sangat dipengaruhi oleh kondisi penjamu yaitu daya

tahan tubuh sebagai faktor host, keeratan kontak terutama kontak serumah dan

lama kontak diperburuk oleh kondisi lingkungan perumahan antara lain

kepadatan penghuni dan ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Faktor risiko adalah semua faktor yang dapat memberikan risiko

terjadinya penyakit. Variabel yang diteliti adalah :

a. Variabel independen (faktor risiko) yaitu kontak serumah, lama

kontak, dan kepadatan penghuni.

b. Variabel dependen (akibat/efek) adalah penderita TBCC paru.


4. Bagan Kerangka Konseptual Penelitian

FAKTOR KONTAK :
KONTAK SERUMAH
LAMA KONTAK

KEJADIAN
TBC PARU
BTA (+)

FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH :


KEPADATAN PENGHUNI

Gambar 2 : Kerangka konsep penelitian

C. Hipotesis Penelitian

a. Ada hubungan kontak serumah dengan kejadian TBC paru.

b. Ada hubungan lama kontak dengan kejadian TBC paru.

c. Ada hubungan kepadatan penghuni dengan kejadian TBC paru.


BAB III

METODE PENELITIAN

F. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian observasional dengan

rancangan Potong lintang (cross sectional study).

G. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama 1 bulan yaitu dari

15 April 2010 sampai dengan 15 Mei 2010.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas

Bolangitang Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow

Utara.

Wilayah Puskesmas Bolangitang terdiri dari 16 Desa yaitu desa

Bolangitang 1, Desa Bolangitang 2, Desa Bolangitng Induk, Desa Jambu

sarang, Desa Telaga, Desa Telaga tomoagu, Desa Sunuo, Desa Olot 1, Desa

Olot 2, Desa Olot Induk, Desa Langi, Desa Iyok, Desa Tote, Desa Paku

utara, Desa Paku selatan, Desa wakat.


H. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah semua penduduk suspek TBC paru dan penderita TBC

paru BTA (+) yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bolangitang tahun

2010 berjumlah 501 jiwa

2. Sampel

Sampel ádalah penduduk suspek TBC paru dan penderita TBC paru

BTA (+) di wilayah kerja puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara selang Februari - Maret 2010, beralamat yang jelas dan

bersedia diwawancarai.

a. Cara pemilihan sampel

Sampel diambil secara Simple Random Sampling, yaitu pengambilan

sampel secara acak sederhana.

b. Besar sampel

Untuk menghitung besar sampel berdasarkan rumus :

N. Z². p. q
n=
d². (N-1) + Z². p. Q

I. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

1. Kejadian TBC Paru BTA (+)


Kejadian TBC Paru (+) adalah infeksi kuman mycobacterium tuberkulosis

baik secara langsung atau tidak langsung berdasarkan diagnosis petugas

kesehatan Puskesmas Bolangitang.

Kriteria objektif :

Menderita TBC Paru BTA (+) : Bila hasil pemeriksaan mikroskopis

minimal 2 kali dari 3 kali pemeriksaan

mikroskopis sewaktu, pagi, sewaktu (SPS)

hasilnya positif, 1 spesimen dahak SPS

hasilnya (+) dan foto rontgen dada

menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

Tidak Menderita TBC BTA (-) : Bila tidak sesuai kriteria pemeriksaan

mikroskopis minimal 2 kali dari 3 kali

pemeriksaan mikroskopis sewaktu, pagi,

sewaktu (SPS) hasilnya positif, 1 spesimen

dahak SPS hasilnya (+) dan foto rontgen

dada menunjukkan gambaran tuberkulosis

aktif.

2. Kontak Serumah

Adalah responden tinggal serumah dengan penderita TBC paru BTA

(+) sebelum responden sakit.

Kriteria objektif :
Risiko tinggi : Bila responden tinggal satu rumah dengan penderita TBC

paru BTA (+) sebelum responden sakit.

Risiko rendah : Bila responden tidak tinggal serumah dengan penderita TBC

paru BTA (+).

3. Lama Kontak

Adalah lama kontak atau lama tinggal serumah/bergaul responden

dengan penderita TBC paru BTA (+) sebelum responden sakit.

Kriteria objektif ( Depkes RI.Tahun 2000 ) :

Lama : bila lama kontak ≥ 6 bulan

Belum lama : bila lama kontak < 6 bulan

4. Kepadatan Penghuni Rumah

Pengukuran kepadatan penghuni rumah dilakukan dengan menghitung

luas lantai bangunan dengan menggunakan alat ukur meteran standar)

kemudian dibagi dengan jumlah penghuninya yaitu 9 M2 perorang (Depkes,

2006).

Kriteria objektif :

Padat : bila luas bangunan < 9 M2 perorang

Tidak padat : bila luas bangunan ≥ 9 M2 perorang

J. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer
Data primer diperoleh berdasarkan wawancara langsung dengan responden

yang terpilih dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung ke

rumah responden.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui buku register penderita TBCC paru

Puskesmas Bolangitang tahun 2010.

F. Teknik Analisis Data

1. Pengolahan dan Penyajian Data

Data akan diolah dengan software program SPSS, kemudian Data hasil

penelitian disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan narasi.

2. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square dengan

rumus :

n ([ad-bc] – ½ n)2
x2 =
(a+b)(c+d)(a+c)(b+d)

Interpretasi :

x2 Hitung > x2 tabel tolak Ho

x2 Hitung < x2 tabel tolak Ho


DAFTAR PUSTAKA

Adiatama, T. Y 2000, Tuberkulosis Diagnosis, Terapi dan Masalahnya, Lab.


Mikrobiologi RSUP Persahabatan Yakarta.

Bhisma Murti, 1995, Prinsip dan Metode Reset Epidemiologi, Fakultas Kedokteran
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Buku Pegangan untuk Workshop, 2003, Pengembangan Comunitas Laboratorium


TBC. Indonesia Australia Spesialised Training Project Phase II, Yakarta.

Bustam M. N, Analisis Tabel Lipat Empat, 1998, Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Hasanudin, Ujung Pandang.

Depkes RI, 2002, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Cetakan ke 8,


Yakarta

Depkes RI, 2002, Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis 2002-


2006, Jakarta.

Depkes RI, Press Relise, Jakarta, April 2002, Rumah Sakit Merupakan Mata Rantai
Penting Dalam Penanggulangan TBCC.

Depkes RI, 1989, Buku Petunjuk Survei Dasar Tentang Perumahan dan
Lingkungannya Serta Penanggulangan Kartu Rumah Bagi Kader Kesehatan
Lingkungan.

Dinas Kesehatan Provinsi Boalemo, 2007, Profil Kesehatan Provinsi Boalemo.

Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo, 2008, Profil Kesehatan Kabupaten Boalemo,


Boalemo.

Hamzah Asiah, Burhanuddin, Rostiinah, 2002, Faktor yang Mempengaruhi


Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Strategi DOTS di Puskesmas
Alliritengae Kabupaten Maros.

Info Gerdunas 2002, Sekilas sejarah Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia


Bulan April, Jakarta.

John Croffin dkk, Tuberkulosis Klinis, Edisi ke 2


Toman K, 1979, Tuberculosis Case-Finding And Chemotherapy, WHO Geneva.

Retno dkk, Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002, Studi Kasus Hasil Pengobatan
Tuberkulosis Paru di 10 Puskesmas di DKI Jakarta.

Stanley Lemeshow dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan,


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rungngu Lucia, 2003, Analisis Beberapa Faktor Risiko Kejadian TBCC paru di
wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Samarinda, Tesis tidak diterbitkan,
Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.

Soekidjo N, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi

Sudirman, 2003, Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan


Program Pengobatan TBCC Paru Melalui Strategi DOTS di Kabupaten
Jeneponto

Wayan A, 2001, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian TBC Paru Di


Kab. Donggala, Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat
UI, 2001.

Salahuddin, 2002, Analisis Beberapa Faktor Risiko Tuberkulosis Paru Di Puskesmas


Bantimurung Kabupaten Maros, Tesis Program Pasca Sarjana Universitas
Hasanudin, 2002.
INSTRUMEN PENELITIAN

Judul Penelitian :

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TBC-

PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOLANGITANG KABUPATEN

BOLAANG MONGONDOW UTARA

TAHUN 2010

A. Data responden

1. Nama Responden...............................................:

2. Umur Responden...............................................:

3. Jenis Kelamin.....................................................:

4. Alamat Responden.............................................:

5. Pekerjaan Responden.........................................:

B. Pertanyaan untuk Variabel kontak serumah dengan sumber penular

1. Apakah anda pernah tinggal serumah dengan penderita TBC paru BTA

(+) sebelum sakit ?

a. YA b. TIDAK

2. Apakah anda ada Hubungan Keluarga dengan penderita tersebut ?

a. YA b. TIDAK
3. Apakah anda sering bercakap dengan jarak yang dekat dengan

penderita tersebut?

a. YA b. TIDAK

4. Apakah anda pernah menghirup udara langsung ketika penderita batuk

atau bersin ?

a. YA b. TIDAK

C. Pertanyaan untuk variabel lama kontak

1. Berapa lama anda tinggal serumah dengan penderita TBC paru BTA

(+) ?

a.< 6 bulan b. ≥ 6 bulan

2. Apakah anda sering brinteraksi dengan penderita TBC paru BTA (+) ?

a. Sering b. Jarang

D. Pertanyaan untuk variabel kepadatan penghuni rumah

1. Berapa luas rumah anda ?

a. < 9M2/orangb. ≥ 9M2/orang

2. Berapa jumlah orang yang tinggal dirumah anda ?

a. < 4 orang b. ≥ 4 orang

3. Berapa luas rumah anda ?

a. < 32M2 b. ≥ 32M2