Anda di halaman 1dari 12

HOMICIDE – NEKROPHONE DAYZ LYRICS

BOOMBOX MONGER
jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/ dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov/
mencari poros molotov / yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros / senyawa dari nyawa kreator dan
sendawa para insureksionis berkosmos / ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos / dimana komrad
ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus / memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus / pada lahan
bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus / fasis bertitah 'harus', mengayunkan pedang pada
sayap setiap Ikarus / dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus / microphone bagi kami adalah pemisah kalam
dengan pembebasan yang mengkhianati / milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski / resureksi
boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan / membawa ribuan playlist dari Chiapas, Kosovo dan Jalur
Gaza / Seattle dan Praha, Checnya, Genoa, Yerusalem, Dili dan Tripoli / untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca
molotov terakhir terlempar di Semanggi / obituari dari lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi / jelaga resistansi
lulabi penghitam langit tanpa teritori / logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi / ketika senjata bermediasi,
ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani / jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi / prosa
beraliansi dengan / dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan / Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC
Klandestin / pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /

Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada / Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama
Fukuyama / dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO / tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini
membantai D'Annunzio / juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama / kooptasi kultur tandingan
yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina / yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap
seniman Keynesian / yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian® / instruksi harian dalam
mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia / lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® /
inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika / yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti
Gramsci / ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi / rima anti-otoritarian memandikan
bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi / membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan / sambil meludahi
modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon / ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme®
dan Agama® / maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak Valhalla / karena Ardan® dan kalian
hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan / dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi / bongkar
paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli / B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi /
setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi / menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak
menjadi partisan /

Saya teringat saat awal 80-an, entah tahun berapa tepatnya, didekat sebuah SD Inpres dekat rumah terdapat sebuah
lapangan volley dimana setiap sore diadakan acara breakdance yang selalu saya tonton sebelum saya pulang sekolah. Saya
tak pernah bisa breakdance dan memilih untuk duduk dipojok dekat sebuah tape besar yang memasok ritme bagi mereka
yang berpartisipasi di atas lembaran kertas kardus. Saya selalu ingin memiliki tape jenis itu, yang tak pernah saya
dapatkan hingga setahun kemudian, justru saat demam breakdance sudah mulai habis, ketika ayah saya pulang dari pasar
loak di Cihapit membelikan sebuah boombox sebesar jendela dan sebuah soundtrack film Tari Kejang sebagai hadiah ulang
tahun. Saya sangat bangga dengan boombox itu terlebih ketika melihat boombox yang hampir mirip dipakai LL.Cool.J
untuk sampul album pertamanya, 'Radio, hingga hampir setiap hari saya bawa kemanapun saya bermain, meski tanpa
baterai sekalipun. Dan memang demam breakdance melenyap, karena 'era'-nya sudah lewat dan 'Jack The Ripper', 'King of
Rock' dan 'Rebel Without A Pause' pun tidak cocok untuk breakdance dan boombox itu berubah fungsi menjadi sebuah
tanda tak langsung untuk mengatakan bahwa lagu yang diputar teman tetangga saya sucks. Wham sucks, Lionel Richie
sucks. Memasang musik hingga indikator volume memerah. Dua dasawarsa telah lewat, boombox itu telah rusak dihajar
umur. Namun kami besar bersama hiphop yang sama yang pernah diputar di tape itu. Hiphop yang notabene sebuah kultur
asing yang kami tak memiliki tradisinya, bukan wayang golek dan bukan kecapi suling. Hiphop yang sama yang
mengenalkan kami dengan sebuah semangat menghajar kebosanan dan cara-cara verbal dan fisik menampar status quo
dan sekaligus sebuah rasa cinta pada kehidupan. Hiphop yang bukan 'bling-bling' yang kami dengar di radio akhir-akhir
ini dan yang berotasi di MTV Non Stop Hits. Ini semua membuat kami berandai-andai membayangkan jika seorang B-boy
menenteng boombox, lagu apa yang akan mereka putar supaya dapat mewakili mereka merepresentasikan identitas mereka,
album apa yang layak diputar sebagai soundtrack keseharian mereka sehingga dapat berbagi semangat dan perasaan pada
setiap kawan yang mereka jumpai sekaligus seolah menampar setiap tikus-tikus konservatif yang mencoba menyuruh
mereka mematikan boombox tersebut. Kemudian bayangkan kata 'B-boy' digantikan dengan 'setiap orang', jika memang
benar konon 'setiap orang' memiliki hasrat. Hasrat yang sama yang kami rasakan hari ini ketika kami menginginkan
sesuatu. Sesuatu yang bukan bagian dari sebuah dunia lama yang usang, status quo yang menghalangi kami mendapatkan
hasrat. Hasrat untuk lepas dari tirani ekonomi, hasrat untuk lepas dari kontrol, lepas dari imbas kebijakan para segelintir
elit dan opresi otoritas, lepas dari kewajiban sok moralis, dari ketakutan terhadap bom yang setiap saat dapat meledak
didepan teman dan keluarga kami, lepas dari usaha-usaha penyeragaman dunia, dari kontrol dan imbas manusia-manusia
yang berlomba berkompetisi untuk mengejar hasrat-hasrat mereka, dari hegemoni negara dan korporasi, lepas dari
kooptasi para mencret-mencret dasamuka bisnis untuk kemudian membayangkan setiap orang bekerjasama, berko-operasi
untuk setiap kebutuhan dan hasrat mereka. Sebut itu utopia. Namun yang pasti hasrat itu kali ini harus kami capai bukan
dengan sekedar duduk dan menunggu karena saya yakin ia tak akan pernah datang dalam bentuk kado ulang tahun. Now I
got the brand new box and i'm about to pass it. Make sure everything remains raw then gimme ya playlist.
ALTAR RUINS
the medium cuddles ya with the imperial massage / mirror imaged a serious-head-concussioned god in the daily mirage / an
extra-large style on top of triple-barrage / red coated fat-ass fillin' chimneys with fudge / forget the grudge / got proletariat
ambushed by television and booze / remain seated with a pedestrian chant about enjoying the boat cruise / 9 to 5 lifestyle
accustomized no customers curfew / commercial laughter stashed behind the scheme of a murderous issue / Smithian legacy
addressed me as the 21st century's heresy / switchin' frequency at mono for maximum density air superiority / bullshitin' off
that Thatcherism, got institution evokin' pysician / to bought-up techno-capital technicians / them devious-hearted will beat
ya with a backward journey to the future / givin the reality a permanent neck-bite, providing a static legal adjustment /
bumrushin' Picassos for winter house improvement / like gasoline-cocktailin' cop station as a weekend entertainment / MC's
strive for precision, but still caught-up within / 24-7 latest version of billboards encirclement / a misleading paramount,
praise the fuckin' sermon / disciples of god re-write revelations with abundance of testosterone / even when McDonalds®
restaurant occupies the lines of your Holy Quran / muthafucka still lack of skill in readin' between the lines / I Downset my
tools to speak no dead language / skilled to pay no altar bill, I rock more party than communist Mao doin' damage /

I mosh ideas to the most lethal pit, / godspeed Hamlets who rockin with the black acid / snake spit venom at god and snitch /
slit the throat of a king, i bleed my sickest blood / yer gutz rot and roll on white sheet / found guilty, passing guillotine /
massive damage on masses / split the classes of dumb, deaf and blind elephants / makes illogic relevant to tha last caveman
to hit the pavement / with eye-con, clandestine on basement / tounge-twistin the filthy, silly-slap tha poverty of your
philoshophy / necronometry, bodycount your fuckin purity / discordance axis of praxis holocaust / revolt without a pause /
lets make sure them fascist maggots pay the cost / the lost Necropolis projectiles, ruined altars, rotten carcass / the morbid
flow on the higher Maracas / with the abandoned trusts plus abundance of lust / I.M.F meeting crushed for fair-trading guts
for torches / smell the corpses, my graveyard discourses split wigs / like Moses split seas, burn the racists like the KKK
burnt the crosses / posses Death like fuckin Napalm / call me the Master E.N.T of Ceremony be droppin bombs like Nam /
consume amount of options and Pylox® toxins / they call me the Flow-letarian ambush ya Marxist doctrines / inverted
infects shaping too complex a movement like / off-the-top Bergman ripped the Bolshevik-type project endorsement / i be
god throwing bolts on the next phropecies coped / on the next national vote when the ballot taken with the chapped throats /
buy or sell, fuck it - i shoplift some Orwells® / lets uplift some cartel activisms / call me Hakim Bey of the microphone-
sufism / cuz your leftist-book selections only rock a pathetic insurrection / the plastic mass gone fascist, catacomb
blaspheme / i found the passion in dancin' over the tomb of Stalin /

Dunia ini adalah sebuah altar, secara nyata atau secara metafor, dan kita berada diatas sebuah reruntuhan yang masih tetap
mencoba membangun dirinya kembali dengan tumbal-tumbal sejarahnya. Reruntuhan semua ide-ide totalitarian yang
sekarang bergerak sibuk ber-resureksi atas nama tata dunia baru, demokrasi, moral, massa, rakyat, agama, surga,
perkembangan ekonomi, bunga bank dan pesona deodoran. Sebagian mendomplengi globalisasi dan sebagian bergerak
diatas tribalisasi. Perang lama dengan elit baru yang selalu membutuhkan serdadu, pahlawan, reproduksi mesin-mesin
perang mereka dan tentu saja, tumbal. History 'is history'!! Representasi dan identitas menjadi sebuah persembahan dalam
ritual mutlak bagi altar manusia modern. Kualitas tak dituju melalui kuantitas, tetapi kuantitas merefleksikan kualitas itu
sendiri.Tak heran mengapa imej begitu memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Resureksi atau
lebih tepatnya lagi revival dari ide-ide totalitarian tak lebih dari perwujudan romantisme seperti halnya sosok seorang
Megawati yang dirindukan oleh para pengikut Soekarno. Sebuah 'cover song' yang telah begitu menjijikan untuk dapat
menjadi sebuah 'hit' kembali!! Who needs ideology if the ideas are in everyone's mind? Terlalu lama manusia menjadi objek
dari ide-ide tanpa pernah memperlakukan dirinya sebagai subjek dari ide itu sendiri. Terlalu sentimentil dalam memilih
produk yang mampu merepresentasikan dirinya tanpa pernah menggali potensi kekuatan dibalik redefenisi atau bahkan
dekonstruksi, terlalu lama menjadi bagian dari sebuah entitas yang bernama 'massa' tanpa menyadari eksistensi dirinya
sebagai seorang individu. Jika 'in-versi' hanya akan melahirkan kooptasi lainnya seperti halnya Punk-Rock® dan upaya-
upaya in-versi lainnya, maka versi membutuhkan sebuah sub-versi. Karena takkan pernah cukup untuk hanya membalikkan
sesuatu tanpa pernah menyentuh maknanya. Sesuatu yang terbalik tidak selamanya memiliki kapasitas negatif. Tetapi,
seperti ucapan Ani DiFranco bahwa, 'every tool is a weapon if you hold it right'. Sebotol Coca Cola akan memiliki makna
yang berbeda jika terisi bensin dan secarik kain. Reruntuhan altar ini dapat menjadi sebuah 'mosh pit' bagi segala sesuatu
yang tak pernah dicap valid dalam kamus definisi jika manusia dapat menjadi 'Master of Ceremony' bagi dirinya sendiri.
Track yang kami buat pada suatu sore ketika seharian memutar KRS-One, Quasimoto, Morbid Angel dan Carcass, pada hari
yang sama ketika kami membaca sebuah artikel di sebuah harian tentang adanya rencana pemerintah membuat undang-
undang yang akan mempidanakan seseorang yang tidak ikut pemilu dan mempengaruhi orang lain untuk ikut tidak
mencoblos pada hari 'kiamat' itu. Hell yeah, seems like next year is madd interesting. Got ideas, anyone?

PURITAN (GODBLESSED FASCISTS)


adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : "tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya" /
pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta / supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma / persetan
dengan Surga® sejak parameter pahala / diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa / kini
leherku-lah yang membuat golokmu tertawa / target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala / karena aku
adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah / selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian
dari dakwah / melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola / penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak
sesuai selera / para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa / paranoia statistika agama, wacana-phobia ala
F.A.K / B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural / persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut
bubar / partai bisa ular, belukar liberal / Gengis Khan mana yang coba definisikan moral / persetankan argumentasi
membakar bara masalah / dengan kunci pembuka monopoli anti-argumen komprehensi satu bahasa / instruksi air raksa
mereduksi puisi hingga level yang paling fatal / kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi / wadal modernisasi, program
labelisasi Abu Jahal / distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai

aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar / dan setiap buku yang nampak lebih berguna
jika terbakar / jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral / sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat
dengan aspal / batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah / menipiskan batas antara kotbah dengan
gundukan sampah / jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah / lawan api dengan api dan biarkan
semua rata dengan tanah / lubang tai sejarah, memang dunia adalah / kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak
ludah / jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir / berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai
arang terakhir / sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita / seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda / untuk
semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian / tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan
/ mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi / propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi /
jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap / maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan
botol kecap/ yo, fasis yang baik adalah fasis yang mati / fasis yang baik adalah fasis yang mati / fasis yang baik adalah fasis
yang mati / tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami /

Lagu ini ditulis pada pertengahan tahun 2001 lalu. Ketika terjadi fenomena pemberangusan gerakan 'pro-dem' (whatever
the fuck that means), dan sweeping plus pembakaran buku-buku yang dicap 'kiri' oleh beberapa golongan yang berlindung
dibalik topeng moral agama dan nasionalisme. Tak hanya sekedar itu, dengan dukungan propaganda massif lewat media
massa (para elit mereka notabene merupakan pemilik beragam media massa lokal), mereka juga melakukan penganiayaan,
pemukulan, penculikan bahkan penyerangan dan pembongkaran markas-markas aktivisme di beberapa kota. Pada awalnya
hanya sebagian kecil saja yang memberanikan diri menentang mereka secara terang-terangan namun pada akhirnya
gelombang fasis baru ini direspon dengan perlawanan di basis akar rumput pada hampir setiap kota. Beberapa kawan
menyarankan untuk tidak merilis lagu ini karena alasan klise; masyarakat kita adalah masyarakat religius, namun kami
berargumen bahwa fasisme tak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah masyarakat. Kultur religius tak
harus dibarengi dengan tabiat Mussolini dan Stalin, dan kami pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama dan
fasisme, terutama mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan dan argumentasi. Kecuali memang jika kita
dikelilingi oleh para fasis atau dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan pasukan Ariel
Sharon dan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah. Lagu ini kami dedikasikan pada mereka yang pada hari-hari tersebut
berada digaris depan, mulai dari Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja hingga Surabaya. Keep ya head up, brothers.
Stay Strong.

SEMIOTIKA RAJATEGA
MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista / hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika /
bicara tentang skill dan kompetisi, mengobral sompral / jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar / MC butuh
federasi dan breakbeats berdasi / untuk sekantung wacana basi dan eksistensi / MC Tampon, mencoba membuat mall
menjadi Saigon / amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon / sarat kritik, kosong esensi seperti
kotbah kyai Golkar / bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar / gelora manuver rima Kahar Muzakar / tak akan
pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar / hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan
pernah habis / persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis / krisis identitas, menyebut teman nongkrongnya 'niggaz' /
sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas / berusaha setengah mati menjadi negasi /
berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, basa-basi / mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret / tak sabar
menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez /

ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi / dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi / melemparkan
invitasi MC pada setiap rima / dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga / MC adalah
negara yang membuat kontradiksi tak pernah benar / tanpa menifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal /
lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis / dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal /
dan masih jauh dibawah horizon minimal / memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional / hadirkan
konfrontasi maka MC lari mencari pengacara / dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta /
jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media / yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria /
representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana / membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang
sama / persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur / dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang
lebih dulu tersungkur /

memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan / tapi pasti kalian dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas
nama kebanggaan / bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur / pahlawan kesiangan yang
membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur / karena aku adalah seorang kapiten neraka / mematahkan pedang panjang
para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang / label adalah reduksi, komoditas residu industri / kultural hegemoni,
membidani oponen dalam posisi / Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer / Mengepal jemari meski dengan batas teritori
yang terkubur / arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah / kalian ancam kami dengan lulabi akidah / paku dalam
bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas / kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas / memenej
kalbu tanpa kotbah Aa Gymnastiar / menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar / MC menabur
bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek / membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek /

A respond to whom it may concern. The microphone business as usual. Kalian jual, kami beli.
FROM ASHES RISE
A mere appandage flesh on the machine of iron / we dont need no more blueprint to rock the so-called revolution / whoever
they vote for, we're ungovernable / since the rebels themselves are so predictable / we be like the Ruckus Society engages in
chains of alliance / or be like the Autonomedia cracking the fucking movement / or be like the affinity posse self-sustaining
our world / passing the torch, spreading the words / that this New World Boredom is sloppy / we used to slang rocks to
cops / we used to break down the Blocks / now we're dismayed and get fucked over burn-out topics / we left the boombox
disbanded / fuck the preaching-to-the-converted bullshit / now here's the massage: rock harder, party harder / organize more
allied fists and burn down them borders / kept my rhymes dissin and my cocktails swingin / keepin contradictions kickin
outta hype they all believin' / I be swimmin at the beach beneath the paving stone / rock my way out like Cypress Hill in
Skull N Bones / full scale battle, making my days of war and nights of love / cuz its not a party matter, givin this house of
pain a mad-hatter / in the twilight of Asia the spectre still hauntin / demanding the impossible with my steady rockin /
microphone that don't answer to no state nor institution / cuz if I cant dance to it then its not my revolution / kept my rhymes
dissin and my cocktails swingin / keepin the contradictions kickin outta hype they all believin' / track-bombin hiphop beyond
the good and evil / cuz market be makin feeble MCs, the casualties of capital / never have them faiths for them heavens to
come / insurrect total resistance like godless Taliban and Saddam / expect the blue collar then face your demise / spawned
from the ashes, we shall arise

my homeboy rocking Xeroxs …Rise !!! / fighting Black Bloc in Genoa …Rise !!! / my brothers battling I.S.A in Malaysia
…Rise !!! / all ya'll D.I.Y militias …Rise !!! / Madd media guerillaz …Rise !!! / Food Not Bombs worldwide yo …Rise !!! /
Every fighters all over Indonesia …Rise !!! / Rise !!!

With or without smashed windows, a building is a building, but a building can't take its form without a foundation. Apart
from that, in an attempt to bring a whole building down, smashed windows are better than the unsmashed ones. Priority is
out of the question when the question is out of priority. So who knows if smashed windows could give way to reach it's very
foundation? If the revolution is about bringing a building down and burn it to the crisp, then it's not about doing the right
thing but it's about doing the things right since bringing a building down had not always been the right thing to do. What
makes it right is how it's done. Keep in mind that boredom is always counter-revolutionary!! It worth another tries!! This
track is a simple battle cry, a shout out to my peeps who kept the struggle alive.

BARISAN NISAN
Matahari terlalu pagi mengkhianati. Pena terlalu cepat terbakar.

kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan sehingga setiap orang
yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin tanpa darah mereka
mengering sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi.

Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri dalam pasar dan semerbak deodoran.
Atau Mungkin dalam limbah dan kotoran atau mungkin dalam seragam sederetan nisan. Atau mungkin dalam pembebasan
ala monitor 14 inci yang menawarkan hasrat pembangkangan ala Levi's dan Nokia atau dalam 666 halaman hikayat para
bigot dan despot yang menari ketika jelaga Azaghtot berangsur menjadi kepulan pitam berselubung Michael Jordan
dipojokan pabrik-pabrik makloon para produsen kerak neraka berlapis statistik, pembenaran teatrikal supermall dan opera
sabun panitia penyusun UU pemilu yang mencoba membanyol tentang kekonyolan demokrasi, yang rapih berdasi
menopengi mutilasi pembebasan dengan sengkarut argumen basi tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri
dihadapan seonggok tinja para sosok pembaharu dunia bernama pasar bebas dan perdagangan yang adil, untuk kemudian
memperlakukan hidup seperti Akabri dan dikebiri matahari yang terlalu pagi mengkhianati.

Dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi. Menjenguk setiap pesakitan dengan upeti
bunga pusara dari makam pahlawan tetangga bernama Arjuna dan manusia laba-laba, dari Cobain hingga Vicious, dari
berhala hingga anonimus bernama burung garuda Pancasila yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi sepejal
bebatuan yang melayang pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Fir'aun ber-
khakhis yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi disetiap pojokan, bahkan di kakus umum dan selokan,
mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan.

Maka, setiap angka menjadi 'maka' dan 'makna', ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit
SSK untuk menjaga stabilitas, stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Pantone
sebagai panduan kebenaran sejak hitam dan putih hanya berlaku dihadapan mata sinar Xerox. Menolak terasuki setan dan
tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon tumpukan Big Mac dan es krim Cone yang berseru;

"Beli...beli...beli..., konsumsi..., konsumsi kami, sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang
berjibaku untuk naik haji !!!"

Oh, betapa menariknya dunia yang sudah pasti, menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi,
dengan dengan janji pahala bertubi, dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham, dan dengan semantik-semantik
kekuasaan yang hanya berarti dalam kala ketika periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-
menawar jatah kursi dan kekuatan hanya berlaku pasca konsumsi cairan suplemen tonik dan para bigot bertemu kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederetan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau, hitam, kuning dan biru,
merah, putih dan biru, merah dan putih.
Oh, betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA sehingga pion-pion negara yang berkubang dibelakang
pembenaran stabilisasi nasional menemukan pembenaran evolusi mereka dengan berpetangkan saluran-saluran pencerahan
para rockstar yang lelah berkeluh kesah kala peluh mengering kasat di hadapan pasanggiri lalat-lalat pasar dan kilauan
refleksi etalase dan display berhala-berhala, berskala lebih thagut dari ampas neraka diantara robekan surat rekomendasi para
negara donor perancang undang-undang dan fakta-fakta anti-terror, para arsitek bahasa penaklukan, para pengagung
kebebasan, kebebasan yang hanya berlaku dihadapan layar Flatron, kemajukan ponsel, demokrasi kotak suara dan pluralisme
gedung rubuh,

Oh, betapa agungnya dunia dihadapan barisan nisan yang dikebiri matahari dan terlalu pagi mengkhianati.

Maka, jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini, wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih. jangan izinkan aku
mendisiplinkan diri ke dalam barisan, wahai bentangan celuloid dan narasi. Dan demi perpanjangan tangan remah di
mulutmu, anakku, jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini. Demi setiap huruf
pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, zahraku, mentariku, jangan sedetikpun izinkan aku berhenti
menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus, lelap tertidur tanpa satu mata membuka, tanpa pagi berhenti
mensponsori keheningan berbisa, tanpa dilengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan, bintang dan sabit, palu dan
arit, dan bumi dan langit, lautan dan parit, dan sayap dan rakit hingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak
kemungkinan terbesar, memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan sehingga setiap orang yang kami
temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin tanpa darah mereka mengering sebelum
mata pena berkarat dan menolak kembali terisi.

Dan matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati.

SENJAKALA BERHALA
Merapat ke barikade terdepan berhadapan dengan ribuan batalyon anjing penjaga para tiran / saat senjakala berangkat pada
lanskap panoptikan / merancang kekuatan diluar jalur kepatuhan semodel Vatican / prototype target dunia pasca keruntuhan
gedung kembar / dari belukar akumulasi peluh pasar / penakar pelunturan hegemoni bacot konservatif / dan pelumuran racun
tikus pada sesajen didepan altar / bernazar keluar dari agenda berangkal / untuk hidup lebih hidup dari logika promosi Star
Mild / merebut boombox dari tangan b-boy berbacot dangkal / oponen pembenam katarsis yang tak memiliki penangkal /
membongkar dikotomi ilusi Kafka dan distopia Bolshevis / dan kesunyian berbau amis / aku adalah Israfil yang sama pada
album foto Intel / membuang terompet/ Daud yang sama yang muak dengan kerikil dan katapel / MC gabungan kesalahan
yang dilakukan tuhan dan setan / untuk ritme yang menjadi rutan/ hutan menjadi urban / laknat menjadi kutukan/ ambil
mikrofon katakan / Pemilu adalah candu dan valas bukanlah tuhan / dihadapan majikan lipan logika pesugihan / para imam
pasar yang membuatmu membutuhkan pahlawan / yang tak akan pernah datang pada medan pelemparan puputan
saat senjakala berangkat dan tamat pada lanskap tak bertuan
CHORUS
Kalam pemanggil arwah yang menziarahi pitam / dengan disiplin penggali kubur dan ketegaran penjaga makam / dengan ruh
asap bulan ke lima yang membakar langit / dan senjakala berhala yang datang bersama hangus dan hangit
oponen demokrasi yang berbicara dalam bahasa lintah / yang sesak muak dibebani titah, aksen pada lidah / tak berpatenkan
tameng dan argumen anti-dekaden / testamen pembenar invasi Bush Bin Laden yang mengabsen bahaya laten / oponen
demokrasi yang berbicara dalam dialek lipan / sejak tirani mayoritas adalah kaisar dari semua tiran / sejak pembangkangan
merajut logika lama yang sama menjijikan / se-firaun perpanjangan dajjal logika perwakilan / libido Victorian, kontol
Kantian, ahlak pajangan, moral ketengan / semerbak basah tanah pekuburan, peduli setan kalian fatwa sukmaku najis /
senjakala ini memakar kegelapan yang diklaim para iblis / petang kesabaran yang hampir habis / pada hari para tuhan dan
setan sibuk berperang melawan para teroris / mengantar ancaman fasis pada hari surga-neraka bersimbiosis / atas nama
pembangunan basis aliansi taktis antara Mc Donalds dan hadis / ludah para rasis yang membuat aspal sehanyir amis / baris
demi baris, ekonomi iman statis membai'at / "kepada pedang dan replika malaikat kami berpihak" / atau mengkafiri jemaat di
gerbang surga keajaiban kompetisi dengan suara bijak / maka plot berpinak / menyerupai kloningan kotbah gincu dari mulut
para pahlawan
yang tak akan pernah datang pada medan pelemparan puputan / saat senjakala berangkat dan tamat pada lanskap tak bertuan

BELATI KALAM PROFAN


ditulis malam pertama pemusnahan total para oponen / para despot yang menahun bermimpi tentang dunia yang homogen /
kami jawab tantangan gelap dengan hunusan kalam puputan / bagi para sponsor pembangunan altar detasemen dua angka
delapan / dengan prosa yang bernafas dalam kubangan bangunan / yang kalian rancang / dibawah nisan yang kalian
pancang / bagi para pagan yang mati menyusuri jalur ziarah / pada situs yang menampung gunungan pahala seamis darah /
segelap pitam para penghuni neraka yang kalian ciptakan / bersama mimpi buruk yang kalian kirim lewat tingkatan / kasta
dan jurang pemisah yang kalian sebut takdir / yang kami sumpah semua meruntuh lebih cepat dari hitungan jam pasir /
kalian citrakan kasir sebagai penanda datangnya surga di muka bumi / berlindung dibalik kosakata stabilitas dan konstitusi /
belati para profan, dibawah serapahmu kami bersumpah / lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang
orang karena menyerah //
hunusan belati penasbihan penghabisan
Rima ini lupa berduka terluka sedemikian rupa / sehingga bernazar untuk hidup tanpa hamba dan paduka / murka tanah tua
jawa yang membabi buta mencari ghurka / dari dupa kotak suara demokrasi dasamuka / karena rima ini adalah pusaka
perusak tameng / para pengecut yang bersuaka / dibalik rentetan angka dan pujian pada prasangka / aku adalah sumber
petaka / bagi semua tuhan dan iblis yang membangun dunia / diatas undang-undang dan fakta / bagi para arsitek dunia pasca
keruntuhan / para idiot seperti Aidit, berkas bank yang kau audit, / invasi kultural MTV dan Coca-cola / Sejak mulut Faisol
Reza sudah se-fasis pedang para GPK / yo, dihadapan ratusan barisan nisan, ribuan tumpukan Big Mac / dan kontrol
intelejen perpanjangan tangan / neo-imperealis yang bersenjatakan pasar dan hutang
aku berdiri tegak dengan hunusan belati penasbihan penghabisan / aku permanen bernubuwat layak ribuan riff Azaghtot /
bagi semua b-boy yang bersampah bacot / hingga hasratku berkarat, hingga hikayat kepalanku tamat / hingga kepala Siti
Jenar berpulang pada para jasad / Marley, Malaka, Morrison, Monroe dan Sabate diatas horizon / kanon yang meluluhlantak
semua antek panoptikon / rima ini bergerak lamat, belatung pengerat / keyakinan para Lenin yang dilanda kemiskinan
filsafat

RIMA ABABIL
karena khalayak tak pernah salah memuja thagut penampakan / maka kalian adalah terdakwa yang terlalu mendambakan /
domba tanpa gembala, wujud tanpa kepala, dunia tanpa pandawa / sumpah aral kuasa tanpa palapa / merakit dunia tanpa
manual tunggal / mengepal surga neraka yang manunggal / di ujung hari yang berlangit sepekat aspal / di petang para dajjal
neoliberal meminta tumbal / karena buku sejarah ditulis dengan darah / dengan anggur dan nanah, dengan kotbah dan
sampah / maka argumen terlahir dari kerongkongan korban / digorok dipagi buta di lapangan pedesaan / dikubur bernafas
dimalam semua kutukan / menaruh rima diatas hitungan ritme pukulan rotan Brimob / pengganti aroma Smirnoff, berakhir /
layak hasrat Deborg berepilog tanpa akhir / kombinasi mutakhir para gerilyawan Kashmir, / Tolstoy dan B-boy yang menari
diatas pasir / hingga para aparat Gomorrah tak berdiri tanpa dipapah / hingga berhala yang kau sembah merata dengan
tanah / dengan khasanah busur serapah tanpa panah / dengan ranah yang merubah kotbah yang menjadi limbah / dengan
lanskap penuh kesumat, despot melaknat / penuh bigot yang bersandar pada jaminan polis dan jimat / maka kupinang
kepalan pelumat / tirani valas yang tak pernah tamat memplagiat kiamat / hingga liang lahat, dengan eskalasi perang badar /
membakar akar penyeragaman bawah sadar / pasca kolonial pasca neraka horizontal / pasca bumi dan langit, aku dan kau
menjadi wadal / sejak para kaisar merapal mantra anti-makar / sejak para patriot tak pernah sadar menjadi barbar
CHORUS:
rima ini kurancang untuk menantang mitos / hegemoni rezim dewa logos / kurancang rima ababil yang bidani holokos / jika
kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos
antitesa dari semua petuah para tetua / penguasa gua, gabah dan semua kutukan tak bertuah / rima ini adalah hitam merah
tetesan darah / pemusnah lintah bendungan siklus hasrat dan amarah / ludah para penadah gejah yang menawar bid'ah / yang
lupa melawan titah, kerajaan risalah, / pemungut arwah peluluh lantah kaki tangan kepala berhala yang ku nujum punah /
serupa jalur ziarah satuan batalyon lakon / yang membantahkan konon gurita monitor panoptikon / dan jargon perluasan
koloni kanon / perpanjangan netra Mossad dan agenda titipan Pentagon / agen intelejen berbisik dalam dialek dekaden /
berdiskusi tentang ribuan ancaman bahaya laten: / lumpen yang membangkang, hedonis yang mencoba terbang / sufi yang
menjangkau terang dan anarkis yang meronta kekang / rima ini adalah kontra komando, menolak berkarat / di pengujung
tengat m'rancang beliung serupa tornado / untuk balans yang banal, balada dalam kanal dialog satu arah sejarah yang berkoar
bertemu final / hingga satu subuh para sayap terentang, menantang menara rutan dengan kesadaran para pecundang /
berembuk di pojokan selokan desa dan urban merakit plot armamen ababil sebelum mentari datang / sebelum cenayang
industri keluar mencari mangsa / menuai bara dari pusara kalam dan makam wacana / kesucian taklid yang menyuburkan
bencana / para penikam punggung dan para pengkhianat lantai dansa/ pasca kolonial pasca neraka horizontal / pasca bumi
dan langit, aku dan kau menjadi tumbal / sejak argumen hanya berkisar di pusaran selasar / surga dan neraka, kontol, isu
kelentit dan biji zakar, yo

NEKROPOLIS
Memanggil arwah dengan hangit dan bensin / Lanskap yang sesunyi makam dan sebusuk aroma balsam Lenin / padat
khalayak serudin lalat, sefatal toxin, se-rutin angin / dan suci sepalsu putihnya secarik kain kafan / menara rutan, filsafat
mutan, statistik selokan, komando tuhan, / perintah setan, fatwa dan kutukan pembusukan / pakan pahlawan dengan rotan
PHH dan kacamata intel Kodam / sejarah yang mengkusam merancang godam / dari kalam prosa terkelam pada festival
langit yang menghitam dan pitam yang membuat perhitungan dengan kemiskinan / koloni pasar bebas dan jaringan telepon
genggam / dan kota ini kan menuai banyak bara dan samsara / lebih banyak dari dana anggaran tahunan bagi para tentara /
merakit angkara bagi semua badan dunia yang merancang bencana / dan silahkan cium lubang anus kami yang memberaki
setiap lencana
Kota yang menghirup senyap dan hidup bernyawa dalam gelap / dalam ruang arsitek pemiskinan yang menolak melenyap /
bernafas dalam senyawa gejah, limbah dan serapah / yang dinyanyikan angkasa yang bersulang untuk mimpi para penjarah /
sepah amor, amok yang murka mengusung anok / ditepi ngarai paradoks dengan belati pada tembolok / fasih berkawih tenor
dalam nada minor wajib lapor dan horor / bagi semua anggota parlemen yang mengesahkan testamen anti-teror / se-hangit
aroma penjarahan bulan ke-lima / se-agung penyatuan ruh dinding sel dan kausa-prima / kota ini sudah sesak keringat yang
harus dikonsumsi / sebagai ganti energi yang surut melihat kontes pahlawan palsu seperti Genbi / Penebusan hasrat
menangkis dengan leher kacung Anubis / ketika katarsis diperoleh dalam bentuk logo dan karcis / praksis hasrat dan nalar
yang tak bisa dijamin dengan polis / rutan rigor mortis dan dominasi hirarki Nekropolis

*semua kota dibawah sistem ekonomi yang menghalalkan segelintir elit menguasai hidup banyak orang adalah kota mayat.

MEMBACA GEJALA DARI JELAGA


Dear Sarkasz,
Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan / berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan / kita menggalang
pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman / dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman /
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah / menyisakan potongan kalimat profan berceceran /
bernazar membuat tiran berjatuhan / dengan luka sayat dari medan perang puputan / kita tantang kutukan, kita kutuk
pantangan / sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan / serupa komando yang meluncur dari
Mabes hingga Koramil / serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir / menyisir petaka yang
membiarkan mereka menggadaikan pasir / pada pantai, pada bumi yang penuhi oleh barcode dan kasir / yang menghibahkan
filsafat pada para vampir / pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir / pada mereka yang datang pada
malam terkelam / saat cahaya hanya datang dari belukar ditengah makam / kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor
menjadi belati / pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari / bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari /
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api / bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas / sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas /
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra / namun dalam bentuk donasi mie instan ditengah bencana / sejak
tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata / sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa /
sejak kebebasan hanya berarti dihadapan kotak suara / sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan
cuaca / telah khatam kita baca semua analisa semua neraca / semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
/ kita belajar membaca gejala dari jelaga / pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga / memaksa tidur dengan satu
kelopak mata terbuka / menahan pitam tanpa riak serupa telaga / serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap
menyala / pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara / serupa udara / membutuhkan amis darah agar sirine tetap
mengalun / agar waras diingatkan tentang wabah yang akut menahun / tentang pagut yang santun, yang memusuhi pantun /
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung / mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun /
waktu singkat berubah menjadi rahmat / merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat / sekarang merubahmu
kasat didepan deretan kalimat / bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat /

serupa kepastian, serupa asuransi / serupa janji yang meprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti / sehingga semua
pertanyaan kau tinggal mati / sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi

* simply, a letter to a lost friend.


HOMICIDE – ILLSURREKSHUN
MEGATUKAD
Homicide kembali pada kalam serupa bara
menjaga nyala api hasrat ditengah rawa
mengasah mata belati penasbihan petaka
bagi mata medusa yang tak berujung menagih nyawa
bagi kuasa yang mengendalikan parlemen dan penjara
menyambut petang berhala, kutunjukkan kau gejala
didepan pintu McDonalds dan gerbang Kodam berkepala
macan Siliwangi yang dipenggal ribuan terdakwa
air sumur berbusa, langit sehitam jelaga
udara bertaring memaksa rima ini berbisa
dan kau iman yang menghamba pada keabadian pusara
kubacakan serat korporat yang mengglobalkan angkara
rahim samsara yang terjaga pasca bencana
pasca iman disilaukan kilatan C-4 dan surga
dan pasca jaring warasku yang mulai menyaingi utopia
semustahil berharap dunia pasca 9-11 tanpa tentara
tanpa Antara kukabarkan perihal neraka
perihal sodom-gommorah, gurah dan semua barisan berhala
yang kau pijak kau jadikan jalur sumber pahala
dan kau tebus semua surga dengan bangkai para pendosa
rima serupa sangkala prosa penolak bala
hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam bendera
bukan lagi perkara bukan lagi masalah jika
ribuan mimpi, satu barisan rubuhkan menara

bentangan kalam serupa bara, satuan rima penolak bala


kepalan langitan gantang bencana, seharam jadah penagih nyawa

Homicide kembali pada bentangan kalam serupa martil


rima ababil, ziarah kesumat demolisi kastil
Serupa menarik tentara dari Freeport, prosa ini mustahil
kalian kubur bersama sejarah di pemakaman terusir
negasi yang berdiri kala Valhala tak berpinggir
demokrasi dagelan boneka tirani mesin kasir
koalisi kobil, yang meminta setoran parkir
serupa darah dan satir, dan pengabdian tanpa akhir
kontra takdir, cetakbiru korporat vampir,
tata dunia baru memaksa rima ini bertitik nadir
konspirasi tanpa akhir dan eskalasi pembangkangan sipil
antidote keterasingan dalam kepakan sayap martir
serupa lobi parlemen menggiring para musafir
ke padang kepatuhan ujung laras para marinir
nazarkan hidup tanpa sipir dan ujung harap yang lahir
demi surga dan janji para pahlawan yang tak pernah hadir
armamen imaji dalam magasin barisan sabil
hunusan trakhir, pelumatan manual para kusir
harapan yang menolak saji hamba dimuka takdir
bersama para sodagar menyusun jutaan dominasi tafsir
rima serupa sangkala prosa penolak bala
hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam bendera
bukan lagi perkara bukan lagi masalah jika
ribuan mimpi, satu barisan rubuhkan menara

ILLSURREKSHUN
[Sarkasz]
Melepas kekang kendali pada hitungan detik kematian
Satuan laskar aksara penghancuran dinding keterasingan
Rima ini melintang ditengah ribuan riba yang menagih hutang
Rintangi bantuan luar negeri yang bernegosiasi dalam bahasa musang
Menghuhunus belati kalam profan pada altar persetubuhan
Yang berbagi tuhan bersama kuasa modal dalam wujud siluman berturban
Mutan susupan McD layaknya iblis marduk yang membuang pelanduk
Merangsek setiap pintu masuk yang tak fitrah tanpa sarung cap Gajah Duduk
Tak sudi membusuk menanti panggilan di parkiran Imam Mahdi
Dalam simulasi hidup yang meraga dalam masturbasi Raam Punjabi
Kami tandingi setiap eksistensi dari sekedar menjual dan membeli,
Menyembah dan mematuhi, segala konon yang tak lama lagi kami akhiri
Kami kembali mengangkat setiap kepala yang tertunduk untuk berhenti
meratapi Tuhan yang telah mati dikhianati profit, dominasi dan ekspansi
Satu barisan, ribuan mimpi, kami hidupkan kuasa amorfati
yang berdiri tegak mandiri tanpa Bank Mandiri
Hiphop harakiri, negasi hidup dari lanskap yang terkooptasi
Di saat setiap bongkahan emas di Freeport telah lelah menjadi saksi
Korporat Rambo dan kacung W.T.O yang tengah bermimpi
Berkomposisi bak Guantanamo sekolosal mega-orkestra Steve Albini
Kalian amini manipulasi informasi yang beramunisi ritual dekadensi
Berplot genosida berkoneksi kabel TV
Maka surga neraka yang kami hadirkan dalam kombinasi terkini
Biner termutilasi pada setiap lanskap insureksi yang mereka kafiri

[Morgue Vanguard]
Ribuan kepalan yang mengakar pada reruntuhan atlas
Meranggas pada batas hirarki antara mikropon dan karkas
Hari ini mulailah berhenti mempertanyakan kualitas gundukan rima
Dengan populasi MC yang lebih padat dari Cicadas
Sepanas lubang anus kalian disodomi korporasi tanpa pelumas
Kami bayar lunas semua tagihan pay dues sejak zaman Itang Yunas
Kami pangkas semua manuver Ken Arok di tengah belukar riba pasar
Agen makar membuang hajat pada pelataran dan tangga altar
Kami hajar semua kebangkitan berhala, ideologi gembala
Hidup yang menolak bergantung pada para saudagar serupa Yusuf Kalla
Para imam korporasi yang khusuk di kala merancang sangkala tiruan
Yang ditunggangi zionis imperealis yang mencoba menabur bala
Rima ini adalah Kayutsha, Sahin, Fajr dan Zetzal
Penghantam barisan produk korporasi pemasok Israel di toserba yang berjejal
Pelumatan kollateral / kombatan prosa hypereal
Plot pencahar agenda laskar laba yang lebih Tsar dari semua tiran dan kaisar
Satuan lingkar risalah yang hidup dari kepulan asap
Yang kami hisap dari manual hisab lapangan mu yang terbakar
Rima ini lebih sakti dari Pancasila, yang siap menantang invasi
Dari jadah global Sony hingga korporat domestik serupa Bakrie
Kontra-takdir serupa satuan sayap ababil yang menabur kerikil
Pada jalur komando dari Pentagon hingga Kodam, Kodim dan Koramil
Pada kontrak para merkantil yang menggadai Cepu pada Exxon Mobil
Kami rakit ribuan prosa martil
Bagi mesin lobi Rupert Murdoch yang menagih martir

KLANDESTIN
[Morgue Vanguard]
ditengah hidup yang menyerupai rutan yang kehilangan sipir
mengepal jemari hari ini sesulit membongkar jaringan pembunuh Munir
dengan pilihan diantara menjadi tumbal atau martir
kami kembali dengan eskalasi penghakiman hari akhir
dengan syair penantang satir korporat vampir
sejak tafsir NAFTA dan Bush mempeluas petak takdir kutukan
membangun gerakan yang tak semudah merakit molotov oplosan
oposisi kiri-kanan yang terlalu basi menjadi oposan
hitung kembali kawan yang melangitkan kepalan
bangunkan kawan yang tersisa dan terlelap menenggak lipan
kabarkan setiap lini kehidupan adalah front terdepan,
kembali isi amunisi hasrat dan mimpi ke dalam barisan
warisan kesumat yang membutuhkan lebih banyak lagi kanon
lebih banyak lagi pembangkangan sipil serupa Porsea Indorayon
serupa Bojong, serupa ribuan titisan
bagi setiap kota yang menolak didominasi mall, penjara, monumen dan nisan
Klandestin, manuver hantu serupa Vietkong
sejak tanah, udara dan air hanya sesajen bagi para cukong
begundal pasar bebas yang mengantri di jalur by-pass
yang bebas merangkai plot dominasi dalam satu pentas
dan laknat ini yang kembali menyeruak sejak Nipah dan Haur Koneng
merubah setiap rima dan ritme menjadi awal lonceng
kematian bagi IMF, WTO dan World Bank
Dan setiap poin agenda penaklukan koloni yang mereka bonceng

Rima pemanggil arwah yang menziarahi pitam


Dengan pekat hitamnya langit saat memudarnya harapan
Nazar luka puputan, kalam penghabisan
Satu bangsa di bawah kontrol korporat, kami langitkan kepalan

Lubang hitam kepastian memaksaku mewadal


Bernafas dalam kanal, meradang di dalam banal
Kapal yang karam diperosok khayal dan domestifikasi hidup berkawal
Bayangan ku yang berubah menjadi selakangan jadah tersamar
Memugar setiap hasrat yang memudar, nafas terakhir di belukar
Ritual dengan ambisi di penghujung bulan kalkulasi bumikan nazar
Fajar kematian berhala, altar bangunan moral dan biji zakar
Hari ini konsumsi hanyalah masturbasi hidup di hapadan pasar
Maka ku rapal rima negasi kosong sehitam aspal
Sekilat anval, berbekal anggur dyonisian berdosis fatal
Di antara tumpukan berangkal artefak lama B-boy berkepal
Kontra-armamen tapal pelontar mortal pembantai portal
Sakramen hidup yang lagi memerlukan afirmasi terdaftar
Simbiosa mutual agenda neoliberal berpagar
Serifikasi halal yang sedangkal menakar semua ikhtiar
Para pembangkang yang terlalu mudah untuk ditangkal
Rima ini bertiwikrama dalam badai horizontal
Tak pernah tertulis pada lontar,
terror imaji korporasi pembunuh berantai
kami jajarkan nama terbantai, kami hitung semua bangkai
dari jejak kemenangan ribuan perang yang tak pernah kami capai
Untuk memaksa neraka keluar barak dan kawanan anjing
Yang bermufakat dengan pangkat, patriotisme dan arak
Disaat dinding keterasingan hasrat menjadi kota terlarang
Kami tak meminta Valhala, kami jadikan surga kalian rampasan perang

PANOPTIKANUBIS
[Morgue Vanguard]
Satu bangsa dibawah kontrol korporat,
satu bangsa dibawah kendali kuasa yang meminta taat
satu kumpulan anubis pengawas siap menebar pukat
dan semua kesadaran harus tunduk pada mesin laba tanpa sarat
mereka sangat awas dengan monitor menggurita
menguasai dunia lawas hingga arah masa depan kita
menguasai dunia mimpi bawah sadar dan mengendalikan cerita
menguasai jaringan seluler, radio dan kanal-kanal berita
mereka di belakang layar semua plot laknat didunia
mereka berwujud apapun bahkan yang tak pernah kan kau kira
mereka buntuti kemanapun, apapun yang kalian lakukan
karena mereka selalu berhak mencap semua aktivitas mencurigakan
tak cukup dengan satu dua badan intelejen, jutaan agen
tak cukup mematikan pembebasan dengan isu bahaya laten
garda depan tirani berarmamen
hari ini gulag berwujud kontrol anti-teror dalam bentuk detasemen
dan bumi yang kita pijak adalah neraka kala
eskalasi operasi mencapai titik menabur bala
jangan pernah katakan motif Mossad dan BAIS sama sekali berbeda
hingga satu hari semua orang terpasang chip pelacak di tengkuk mereka,

[Gaia]

PURGATORI MARTIR
dimana sekam terbakar, kemiskinan melekat,
ditanah ini dengan malikat makar kami tumbuh bersahabat
sejak awal, pemilihan umum adalah akumulasi lawak sarat
dimana birokrat, tengkulak, cukong dan militer bersejawat
ibarat bilangan kami mulai menipis habis diperlumat
kompromi dan dilindas kematian yang datang terlalu cepat
di tanah ini pembangkangan menjadi hikayat basi
serupa penyeragaman bawah sadar dan otomatisasi
dan mereka yang fasih bicara tentang harkat dan martabat
nasib dan derajat, etos kerja, patuh dan meminta taat
kukutuk semua pemadat kebenaran yang meracau seribu babad
hari ini diam seribu kata dan kalimat di hadapan barisan mayat
bersimulasi jagat, berkombinasi laknat
demokrasi parlementariat, mafia hukum dan kebenaran ritel ala Alfa Mart
tunggu suatu hari hingga semua orang mencari sesuap nasi
hanya untuk menyadari mereka akan diantisipasi dengan pendekatan ala Nazi
demi semua keyakinan yang tertunda disaingi kiamat
bagi semua jejak pembantaian disetiap jengkal sejarah yang tertutup rapat
dari jejak genangan darah Alas Tlogo yang mengering kasat/menebar isyarat
tak ada yang lebih totaliter dari gabungan saudagar, preman dan aparat
waktunya merapat

TANTANG TIRANI
Titipan angkara mereka yang tak bisa lagi bersuara
ini muara semua murka lawas yang kehilangan nyawa
dalam hitungan langkah kami kan isi angkasa
dengan ribuan pekik yang sama saat kalian terbakar bersama bara
terlalu kentara, manuver mereka memplot penjara
hukum, moral, kebebasan, dan batas surga dan neraka
merancang kontrol bawah sadar serupa bius pariwara
menjagai setiap inci palang pintu modal dengan tentara
sebelum waktu yang banal, jumud berkanal
demi semua momen heroik yang tak pernah tercatat dalam tanggal
biarkan mereka lafal semua peringatan yang mereka hafal
setiap ayat pasal karet pertahanan para tiran berpangkal
kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
saat tak ada opsi tersisa selain berdiri menantang para tiran,
saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan ditengah medan
kawan, mana kepalan kalian!

serupa biksu Burma dihadapan moncong senapan


serupa malam Januari yang menandai Chiapas
serupa seruan Chavez didepan muka Amerika
serupa tangan intifada yang melempar batu di Palestina
serupa siklus ronta setiap kota pasca amok Seattle
serupa rudal Hizbullah di daerah pendudukan
serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan
yang menantang setiap tiran dititik nadir perhitungan

kami menolak menjadi bidak, sekedar sekrup dan tumbal


target pemasaran sampah industri kapital global
sekedar hidup lurus dalam dikte penguasa arus
sekedar kalian tahu kami akan bertahan sampai mampus
kalian awetkan hegemoni dengan balsam mumi anti-terror
kombinasi intel dan preman menebar horor
kalian kerangkeng kami dengan pembenaran semantik
kami rancang kalam puitik yang lebih bersenjata dari ribuan manifesto politik
kaya semakin kaya, miskin semakin papa
dan kalian dapat tetap berlindung dibalik retorika nasib dan samsara
lakukan apapun termasuk menjadi tuhan
kami akan berdiri disini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan
kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
saat tak ada opsi tersisa selain berdiri menantang para tiran,
saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan ditengah medan
kawan, mana kepalan kalian!

serupa kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik


serupa panen terakhir para petani penggarap
serupa tengat miskin kota di ujung penggusuran
serupa pilihan terakhir para pasifis dihadapan kekerasan negara
serupa harapan mereka yang tak bisa lagi berharap
serupa pilihan terakhir keluarga korban kekerasan negara
serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan
yang menantang setiap tiran dititik nadir perhitungan