Anda di halaman 1dari 15

Pengembangan Inovasi Pertanian 3(3), 2010: 212-226

PERBAIKAN TEKNOLOGI PASCAPANEN


DALAM UPAYA MENEKAN KEHILANGAN HASIL PADI1)
Agus Setyono
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Jalan Raya No. 9 Sukamandi, Subang 41172
Telp. (0260) 520157, Faks. (0260) 520158
e-mail: bbpadi@litbang.deptan.go.id

PENDAHULUAN langan hasil. Pada tahun 1986, Presiden RI


mengeluarkan Keputusan Presiden No. 47/
Program intensifikasi padi di Indonesia 1986 tentang Peningkatan Penanganan
telah berhasil meningkatkan produksi Pascapanen Hasil Pertanian. Hal ini me-
gabah dari 19,32 juta ton pada tahun 1973 nunjukkan besarnya perhatian pemerintah
menjadi 21,48 juta ton GKG pada tahun terhadap upaya penyelamatan hasil panen.
1983, dan menjadi 39,03 juta ton dan 52,08 Mejio (2008) menjelaskan, pascapanen
juta ton GKG pada tahun 1993 dan 2003, adalah serangkaian kegiatan yang meliputi
meningkat rata-rata 41% selama tiga de- pemanenan, pengolahan, sampai dengan
kade produksi padi (Hafsah dan Sudar- hasil siap dikonsumsi. Penanganan pasca-
yanto 2004). Di sisi lain, upaya penyela- panen bertujuan untuk menekan kehilang-
matan hasil panen padi belum mendapat an hasil, meningkatkan kualitas, daya sim-
perhatian sebagaimana halnya program pan, daya guna komoditas pertanian, mem-
intensifikasi itu sendiri. Padahal tingkat perluas kesempatan kerja, dan mening-
kehilangan hasil padi pada saat panen dan katkan nilai tambah. Berkaitan dengan hal
sesudahnya cukup tinggi, mencapai 21,0% tersebut maka kegiatan pascapanen padi
pada tahun 1986/1987 (BPS 1988) dan meliputi (1) pemanenan, (2) perontokan, (3)
20,5% pada tahun 1995 (BPS 1996) perawatan atau pengeringan, (4) peng-
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) angkutan, (5) penggilingan, (6) penyim-
pada tahun 1975 minta kepada semua ne- panan, (7) standardisasi mutu, (8) peng-
gara dan badan internasional agar meng- olahan, dan (9) penanganan limbah.
ambil langkah konkret untuk menekan Penanganan pascapanen yang baik
kehilangan hasil pertanian pada kegiatan akan berdampak positif terhadap kualitas
panen dan pascapanen (Saragih 2002). gabah konsumsi, benih, dan beras. Oleh
Badan Litbang Pertanian sejak 1976 telah karena itu, penanganan pascapanen perlu
merintis penelitian pascapanen untuk me- mengikuti persyaratan Good Agricultural
ningkatkan mutu dan mengurangi kehi- Practices (GAP) dan Standard Operati-
onal Procedure (SOP) (Setyono et al.
2008a). Dengan demikian, beras yang
dihasilkan memiliki mutu fisik dan mutu gizi
1)
Naskah disarikan dari bahan Orasi Profesor yang baik sehingga mempunyai daya saing
Riset yang disampaikan pada tanggal 26 No-
vember 2009 di Bogor. yang tinggi (Setyono et al. 2006b).
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI Peningkatan produksi padi melalui
PASCAPANEN PADI introduksi varietas unggul berdaya hasil
tinggi menimbulkan masalah baru dalam
Teknologi pascapanen padi di Indonesia pascapanen, yaitu kehilangan hasil tinggi
terus berkembang walaupun pada awalnya dan beras yang dihasilkan bermutu ren-
berjalan sangat lambat. Perkembangan tek- dah karena tingginya persentase butir hi-
nologi pascapanen dapat dirinci sebagai jau dan butir mengapur lebih dari 10%, dan
berikut. butir beras pecah lebih dari 20% (Araullo
et al. 1976; Ditjentan 1982; Setjanata et al.
1982; Setyono 1990; Setyono et al. 1990b;
Periode Sebelum Tahun 1969 Baharsyah 1992; Hosokawa 1995; Setyono
(Pra-Revolusi Hijau) et al. 2008a).

Sebelum tahun 1969, hampir semua petani


menanam padi lokal dengan postur ta- Periode 1986-1999
naman tinggi dan gabah sukar rontok. (Pascaswasembada Beras)
Untuk itu, padi dipanen menggunakan ani-
ani dengan cara memotong malai dan padi Pada periode ini, penanganan pascapanen
dibendel dengan tali bambu. Gabah dijemur padi mendapat perhatian yang lebih besar
di halaman rumah dengan alas dari anyam- dari pemerintah, tercermin dari dikeluar-
an bambu. Hasil panen disimpan dalam kannya Keputusan Presiden No. 47/1986,
bentuk gabah kering dengan cara ditum- tentang Peningkatan Penanganan Pasca-
puk. Proses pemberasan gabah dilakukan panen Hasil Pertanian. Hal ini membuahkan
dengan cara ditumbuk dalam lesung meng- hasil sebagaimana terbukti dari pening-
gunakan alu. Pada saat itu belum diketahui katan jumlah mesin perontok (thresher)
istilah pascapanen. yang pada tahun 1973 hanya 1.347 unit
menjadi 15.149 unit pada tahun 1981. Pada
tahun 1988, jumlah thresher meningkat
Periode 1970-1985 tajam menjadi 103.019 unit dan pada tahun
(Revolusi Hijau) 1998 mencapai 367.250 unit (Ananto et al.
2004). Walaupun perkembangan mesin
Pada periode ini, International Rice Re- perontok cukup meyakinkan, total kehi-
search Institute (IRRI) mengintroduksi langan hasil gabah masih tinggi, yaitu
varietas unggul PB5 dan PB8 pertama kali 21,0% pada tahun 1986/1987 (BPS 1988)
di Indonesia. Selain berdaya hasil tinggi dan 20,5% pada tahun 1995 (BPS 1996).
dan reponsif terhadap pemupukan, va- Unit penggilingan padi juga berkembang
rietas unggul tersebut memiliki postur pen- pesat, yaitu dari 21.627 unit pada tahun
dek dan gabahnya mudah rontok, se- 1973 dan 26.936 unit pada tahun 1988
hingga terjadi perubahan cara panen dari menjadi 42.551 unit pada tahun 1998
menggunakan ani-ani menjadi sabit. Demi- dengan jumlah mesin penggilingan 37.071
kian pula perontokan gabah, dari cara diiles unit (Ananto et al. 2004).
menjadi dibanting atau digebot.
214 Agus Setyono

Periode 2000 Sampai Sekarang saat malai berumur 30-35 hari (Rumiati dan
(Reformasi dan Desentralisasi) Soemardi 1982) atau (4) jika 90-95% gabah
pada malai telah menguning (Sudjastani
Pada periode ini, pemerintah melalui Badan 1980; Rumiati 1982; Nugraha et al. 1994).
Litbang Pertanian berupaya mengembang- Menurut Almera (1997), jika pemanenan
kan inovasi teknologi pascapanen padi padi dilakukan pada saat masak optimum
melalui pelatihan dan demonstrasi bagi pa- maka kehilangan hasil hanya 3,35%, se-
ra penyuluh. Upaya ini ternyata membuah- dangkan panen setelah lewat masak 1 dan
kan hasil di beberapa provinsi. Di Lam- 2 minggu menyebabkan kehilangan hasil
pung, misalnya, tingkat kehilangan hasil berturut-turut 5,63% dan 8,64%.
padi turun menjadi 13,2% (Dinas Pertanian
Provinsi Lampung 2006), di Jawa Tengah
10,6% (Dinas Pertanian Provinsi Jawa Te- Cara Panen
ngah 2006), di Bali 11,1% (Dinas Pertanian
Provinsi Bali 2006), dan di Kalimantan Se- Dengan diintroduksikannya varietas ung-
latan bahkan hanya 7,38% (Dinas Pertanian gul padi maka terjadi perubahan penggu-
Provinsi Kalimantan Selatan 2006). naan alat panen dari ani-ani ke sabit biasa
atau sabit bergerigi. Memanen padi dengan
sabit menyebabkan kehilangan hasil 3-8%
INOVASI TEKNOLOGI (Damardjati et al. 1988, 1989, Nugraha et
PASCAPANEN PADI al. 1990b).
Cara panen padi bergantung pada alat
Masalah utama dalam penanganan pasca- panen yang digunakan dan cara peron-
panen padi adalah tingginya kehilangan tokan gabah. Sabit umumnya digunakan
hasil (BPS 1988, 1996), serta gabah dan untuk memanen varietas unggul dengan
beras yang dihasilkan bermutu rendah cara memotong pada bagian atas tanaman,
(Setyono et al. 1990a; Baharsyah 1992; bagian tengah, atau pada bagian bawah,
Setyono et al. 2001). Hal ini terjadi pada bergantung pada cara perontokan gabah.
tahapan pemanenan, perontokan, dan Panen dengan cara potong bawah diterap-
pengeringan sehingga perbaikan teknologi kan jika gabah dirontok dengan dibanting
pascapanen padi dititikberatkan pada atau digebot atau menggunakan perontok
ketiga tahapan tersebut (Setyono 1990; pedal (Lubis et al. 1991; Nugraha et al.
Setyono et al. 1990b). 1995). Panen padi dengan cara potong atas
atau potong tengah dilakukan bila peron-
tokan gabah menggunakan mesin peron-
Pemanenan tok tipe throw in.
Dalam dekade terakhir telah berkem-
Penentuan Umur Panen bang penggunaan mesin pemanen. Hal ini
sejalan dengan upaya untuk mengatasi
Umur panen yang tepat dapat ditentukan keterbatasan tenaga kerja di pedesaan.
melalui beberapa cara, yaitu: (1) berdasar- Mesin panen yang diintroduksikan antara
kan umur varietas pada deskripsi, (2) kadar lain stripper, reaper, dan combine harvest-
air gabah berkisar antara 21-26% (Damar- er. Kapasitas kerja stripper dan reaper
djati 1979; Damardjati et al. 1981), (3) pada masing-masing 17 jam/ha, sedangkan
Perbaikan teknologi pascapanen ... 215

combine harvester 5,05 jam/ha (Purwadaria Penggunaan mesin perontok meng-


et al. 1994). Mesin pemanen tersebut belum hasilkan gabah rontok sebesar 99%. Ka-
diterima dan bahkan ditentang oleh para pasitas mesin perontok bervariasi antara
pemanen karena akan mengurangi kesem- 523-1.125 kg/jam, bergantung pada spesi-
patan kerja. Combine harvester berkem- fikasi atau pabrik pembuatnya. Penggu-
bang di Korea dan Jepang, sedangkan naan mesin perontok dapat menekan ting-
stripper type rotary inovasi IRRI dikem- kat kehilangan hasil, meningkatkan kapa-
bangkan di Sulawesi Selatan (Mejio 2008). sitas kerja, serta memperbaiki mutu gabah
Combine harvester berkembang di Viet- dan beras yang dihasilkan (Setyono et al.
nam dan Kamboja (Gummert 2007). Kehi- 1998). Di Klaten, Sukoharjo, dan Sragen
langan hasil oleh stripper lebih rendah di- berkembang perontok model TH-6-Mobil
banding panen secara manual atau meng- dengan kapasitas 900-1.200 kg/jam
gunakan reaper (Purwadaria et al. 1994). (Nugraha et al. 1999a). Penggunaan mesin
perontok di wilayah pasang surut sangat
membantu mengatasi kekurangan tenaga
Perontokan Gabah kerja (Nugraha et al. 1999b).

Perontokan bertujuan untuk melepaskan


gabah dari malainya, dengan cara membe- Integrasi Sistem Pemanenan
rikan tekanan atau pukulan terhadap malai dan Perontokan
(Setyono et al. 1998; Mejio 2008). Malai
dapat dirontok secara manual atau meng- Hasil survei pada tahun 1992 menunjukkan
gunakan alat dan mesin perontok. Proses adanya dua sistem pemanenan padi yang
perontokan gabah memberikan kontribusi berkembang di petani, yaitu (1) sistem
cukup besar terhadap kehilangan hasil pa- individu atau keroyokan, dan (2) sistem
di. Dalam pemanenan, tahapan pemotong- ceblokan (Setiawati et al. 1992; Setyono et
an padi dan perontokan gabah menjadi al. 1992). Pada kedua sistem panen ini
satu kesatuan dan upah kerja didasarkan selalu terjadi penundaan perontokan
pada hasil gabah yang diperoleh (Setyono gabah di sawah selama 1-3 hari tanpa alas.
et al. 1995). Hal ini menyebabkan kehilangan hasil 1-
Alat dan cara perontokan gabah dapat 3% karena gabah rontok (Nugraha et al.
dikelompokkan menjadi (1) iles/injak-injak, 1990a; Setyono dan Nugraha 1993).
(2) pukul/gedig, (3) banting/gebot, (4) Kedua sistem panen tersebut dikerja-
menggunakan pedal thresher, dan (5) kan oleh tenaga pemanen yang tidak ter-
menggunakan mesin perontok (BPS 1996). kendali sehingga mengakibatkan banyak
Kapasitas perontokan dengan cara di- gabah yang rontok, rata-rata 6,1% (Se-
gebot berkisar antara 58,8-89,8 kg/jam/ tyono et al. 1999). Sistem panen keroyokan
orang (Setyono et al. 1993; Mudjisihono berdampak terhadap tidak berfungsinya
et al. 1998; Setyono et al. 2001). Peron- mesin perontok. Dari 367.250 unit mesin
tokan gabah dengan cara digebot menyi- perontok yang ada pada tahun 1998 hanya
sakan gabah yang tidak terontok sebanyak sebagian kecil yang beroperasi (Setyono
6,4-8,9% (Rachmat et al. 1993; Setyono et et al. 1999). Oleh karena itu, dikembangkan
al. 2001). Angka tersebut dapat ditekan jika sistem pemanenan padi secara kelompok.
perontokan menggunakan mesin perontok. Hasil penelitian menunjukkan, pemanenan
216 Agus Setyono

dengan sistem kelompok menurunkan ting- tok saat pemotongan padi, 0,9% dari ga-
kat kehilangan hasil padi menjadi 5,9%, bah pada malai yang tercecer, dan 1,3%
jauh lebih rendah dibandingkan dengan dari gabah yang ikut terbuang bersama
cara keroyokan 18,9% (Setyono et al. 1993). jerami pada saat perontokan dengan me-
Jika pemanenan dilakukan secara ke- sin. Sebaliknya, kehilangan hasil pada
lompok dengan menggunakan mesin pe- panen sistem keroyokan mencapai 18,8%,
rontok, kehilangan hasil panen hanya yang terdiri atas 3,3% dari gabah yang
berkisar antara 4,3-4,9%, dan gabah tidak rontok pada saat pemotongan padi, 1,9%
terontok 0,31-0,97%. Pada panen dengan dari gabah pada malai yang tercecer, 5,0%
cara keroyokan, kehilangan hasil panen dari gabah yang tercecer pada saat peron-
mencapai 15,2-16,2% (Rachmat et al. 1993; tokan, dan 8,6% dari gabah yang tidak
Setyono et al. 1998; Setyono et al. 2001). terontok atau terbuang bersama jerami
Jumlah tenaga pemanen yang efisien untuk (Setyono et al. 2007a).
setiap kelompok adalah 20-30 orang/ha Pemanenan padi sistem kelompok
(Nugraha et al. 1990b) dan perlu terus di- dapat menekan kehilangan hasil dari 18,8%
kembangkan (Setyono et al. 1996a, 1996b). pada cara keroyokan menjadi 3,8%. Jika
Pemanenan padi sistem berkelompok sistem pemanenan kelompok diterapkan
menghasilkan gabah lebih bersih dengan secara nasional pada 50% luas panen maka
kadar kotoran dan gabah hampa 2-4% dan produksi padi yang dapat diselamatkan
harga jualnya lebih tinggi dibandingkan sekitar 3,1 juta ton gabah kering panen
cara gebot yang mengandung gabah ham- (GKP) dengan nilai Rp7,75 triliun. Keun-
pa dan kotoran 16-18% (Setyono et al. 1998, tungan lainnya adalah: (1) mendorong
2006a, 2006b). Hasil pengkajian pema- berkembangnya kelompok jasa perontok
nenan padi sistem kelompok di Yogyakar- (UPJA), industri skala kecil, dan bengkel
ta pada tahun 2002 dan 2003 menunjuk- alsintan sehingga akan membuka lapang-
kan kehilangan hasil padi hanya 3,3-4,2% an kerja baru di pedesaan dan tumbuhnya
dengan kadar kotoran dan butir hampa 1,5- kelompok kerja pertanian yang profesional,
3,0% (Mudjisihono et al. 2002, 2003; Mu- dan (2) mempermudah komunikasi dan
djisihono dan Setyono 2003). koordinasi antarkelembagaan, termasuk
Hasil uji coba pemanenan padi sistem kelembagaan petani, sehingga memper-
kelompok menunjukkan tingkat kehilangan cepat penyebaran teknologi kepada petani
hasil yang konsisten kurang dari 4% de- dan pemanen (Mulya et al. 2008).
ngan gabah dan beras yang bermutu baik
(Setyono et al. 2003, 2005, 2006c; Mulsanti
et al. 2008). Titik kritis penyebab kehi- Pengangkutan
langan hasil adalah pada saat pemanenan,
terutama pada kegiatan pemotongan padi, Pengangkutan adalah kegiatan memin-
pengumpulan hasil panen, dan perontokan dahkan gabah setelah panen dari sawah
gabah. Kehilangan hasil tersebut umum- ke rumah atau ke unit penggilingan padi
nya disebabkan oleh perilaku para pema- untuk dikeringkan atau memindahkan
nen atau penderep, baik disengaja maupun beras dari penggilingan ke gudang atau
tidak disengaja. Kehilangan hasil pada ke pasar. Tingkat kehilangan hasil dalam
panen sistem kelompok rata-rata 3,8%, tahapan pengangkutan cukup rendah,
yang terdiri atas 1,6% dari gabah yang ron- berkisar antara 0,5-1,5%. Artinya, pemilik
Perbaikan teknologi pascapanen ... 217

gabah sangat berhati-hati dalam pengang- et al. 2006). Kehilangan hasil pada tahapan
kutan gabah (Dinas Pertanian Provinsi Bali penjemuran relatif tinggi, yaitu 1,5-2,2% ka-
2006; Dinas Pertanian Provinsi Jawa Te- rena sebagian gabah tercecer, dimakan ayam
ngah 2006; Dinas Pertanian Provinsi Kali- atau burung. Dengan mesin pengering, ke-
mantan Selatan 2006; Dinas Pertanian Pro- hilangan hasil kurang dari 1% (Dinas Per-
vinsi Lampung 2006). tanian Provinsi Bali 2006; Dinas Pertanian
Provinsi Jawa Tengah 2006; Dinas Pertani-
an Provinsi Kalimantan Selatan 2006;
Pengeringan Dinas Pertanian Provinsi Lampung 2006).

Secara biologis, gabah yang baru dipanen


masih hidup sehingga masih berlangsung Penggilingan
proses respirasi yang menghasilkan CO2,
uap air, dan panas sehingga proses bio- Kehilangan hasil dalam proses penggiling-
kimiawi berjalan cepat. Jika proses tersebut an disebabkan oleh gabah ikut terbuang
tidak segera dikendalikan maka gabah bersama sekam, gabah dan beras tercecer,
menjadi rusak dan beras bermutu rendah. dimakan burung, ayam atau tersangkut
Salah satu cara perawatan gabah adalah pada mesin penggilingan (Nugraha et al.
melalui proses pengeringan dengan cara 2000). Untuk menghasilkan beras bermutu
dijemur atau menggunakan mesin penge- baik dengan tingkat kehilangan hasil ren-
ring. Di tingkat petani, gabah umumnya dah, unit penggilingan padi harus mene-
dijemur di atas anyaman bambu atau terpal rapkan sistem jaminan mutu (Setyono et
plastik, sedangkan di unit penggilingan al. 2006b).
padi pada lantai semen atau menggunakan Unit penggilingan padi umumnya belum
mesin pengering. menerapkan sistem jaminan mutu, bahkan
Pada tahun 1990 telah dicoba perawatan sebagian besar belum mengetahui standar
gabah hasil panen menggunakan mesin mutu beras, sehingga beras yang dihasil-
pengering vortek. Cara ini menghasilkan kan bermutu rendah. Hasil penelitian di
gabah berkualitas baik, tetapi waktu pe- lima provinsi sentra produksi padi me-
ngeringan relatif lama, lebih dari 10 hari nunjukkan sekitar 90% unit penggilingan
(Rachmat et al. 1990). Pengeringan gabah padi menghasilkan beras bermutu rendah
secara sederhana menggunakan silo sir- karena kadar beras pecah lebih dari 25%.
kuler dengan sumber pemanas dari kompor Hal ini disebabkan oleh kesalahan pen-
mawar menghasilkan beras bermutu baik jemuran dengan ketebalan gabah sekitar 3
dengan biaya yang lebih rendah (Soehar- cm atau terlalu tipis (Setyono et al. 2008b).
madi et al. 1993). Perbaikan pengeringan Kehilangan hasil dipengaruhi oleh umur,
gabah juga dapat diupayakan dengan cara tipe, dan tata letak mesin penggilingan
mengatur ketebalan gabah pada saat pen- (Setyono et al. 2006b). Kehilangan hasil
jemuran (Thahir et al. 1995). padi selama proses penggilingan berkisar
Pengeringan gabah dengan box dryer antara 1,2-2,6% (Dinas Pertanian Provinsi
dapat menghasilkan beras giling bermutu Bali 2006; Dinas Pertanian Provinsi Jawa
baik dan kehilangan hasil kurang dari 1%, Tengah 2006; Dinas Pertanian Provinsi Ka-
lebih rendah dibandingkan dengan penje- limantan Selatan 2006; Dinas Pertanian
muran (Setyono dan Sutrisno 2003; Sutrisno Provinsi Lampung 2006).
218 Agus Setyono

Penyimpanan panen, alat dan cara perontokan, teknik


penanganan gabah basah, penjemuran,
Sebelum dikonsumsi atau dijual, beras pengeringan, dan penggilingan termasuk
disimpan dalam jangka waktu tertentu. Pe- survei. Survei dilakukan untuk menda-
nyimpanan dengan teknik yang baik dapat patkan informasi penanganan pascapanen
memperpanjang daya simpan dan men- di tingkat petani serta penyebab tingginya
cegah kerusakan beras. Penyimpanan be- kehilangan hasil dan rendahnya mutu ga-
ras umumnya menggunakan pengemas, bah dan beras. Dari komponen teknologi
yang berfungsi sebagai wadah, melindungi yang diperoleh kemudian dirakit teknologi
beras dari kontaminasi, dan mempermudah pemanenan padi sistem kelompok dan
pengangkutan. Penyimpanan dalam pe- penanganan pascapanen. Tahap terakhir
ngemas yang terbuat dari polipropilen dan adalah sosialisasi dan penerapan sistem
polietilen densitas tinggi memperpanjang pemanenan padi secara berkelompok dan
daya simpan beras dan lebih baik diban- penerapan teknologi pascapanen, dalam
dingkan dengan karung dan kantong plas- hal ini pemerintah daerah sebagai pembina.
tik (Setyono et al. 2007b). Kehilangan hasil padi dibedakan men-
jadi dua, yaitu kehilangan absolut (ab-
solute losses) dan kehilangan relatif
PETA JALAN PENGEMBANGAN
(relative losses). Kehilangan absolut ada-
TEKNOLOGI PASCAPANEN
lah gabah yang hilang tidak dapat atau
Teknologi pascapanen berperan penting sulit diselamatkan. Kehilangan relatif ada-
dalam meningkatkan nilai tambah produksi lah gabah yang hilang masih berpeluang
dan keberlanjutan swasembada beras. diselamatkan (Hosokawa 1995). Kehilang-
Untuk itu, diperlukan peta jalan pengem- an relatif inilah yang perlu diselamatkan.
bangan teknologi pascapanen padi untuk
menekan tingkat kehilangan hasil serendah
mungkin dan meningkatkan mutu gabah Perakitan dan Sosialisasi
dan beras. Keluaran yang diharapkan dari Teknologi
pengembangan teknologi penanganan
pascapanen padi adalah terbentuknya Teknologi yang telah dirakit perlu diuji
kelompok jasa pemanen dan kelompok jasa coba untuk disempurnakan, kemudian
perontok, terlaksananya pemanenan padi disosialisasikan kepada pengguna atau
terintegrasi, dan penanganan pascapanen petani antara lain melalui demonstrasi,
yang baik. Peta jalan pengembangan tek- penyuluhan, dan bantuan peralatan yang
nologi pascapanen padi meliputi penelitian relatif modern. Namun, petani atau pe-
dan pengembangan, perakitan teknologi, manen lambat menerima perubahan karena
produk dan proses sosialisasi, serta peng- hasilnya tidak dapat segera mereka rasakan
guna dan adopsi teknologi. (Setyono et al. 1992, 1999).

Penelitian dan Pengembangan Produk dan Proses Sosialisasi

Penelitian mencakup umur panen, karak- Sosialisasi bertujuan untuk mempercepat


teristik gabah dan beras, alat dan cara proses alih teknologi. Pengembangan
Perbaikan teknologi pascapanen ... 219

teknologi pascapanen dapat ditempuh me- dukungan kelembagaan pemerintah be-


lalui: (1) peningkatan peran aktif pemerin- rupa penyebaran informasi teknologi, pe-
tah daerah sebagai pembina wilayah dan nyuluhan, informasi pasar, dan pembina-
masyarakat tani serta sebagai fasilitator; an. Selain itu diperlukan pula kebijakan
(2) pembentukan kelompok jasa pemanen; yang dapat memberikan kepastian usaha
(3) pembentukan kelompok jasa perontok melalui penetapan Surat Keputusan Bupa-
dan pengembangan usaha pelayanan jasa ti atau Kepala Daerah tentang kelompok
alsintan (UPJA), terutama mesin perontok; jasa pemanen, UPJA, pemanenan padi sis-
dan (4) sosialisasi kepada petani, kelompok tem kelompok, perontokan, pengeringan,
tani, kelompok jasa pemanen, dan UPJA. penggilingan, pembinaan, dan sebagai-
nya.

Pengguna dan Adopsi Teknologi


Introduksi dan Sosialisasi
Pengguna teknologi pascapanen adalah
Pemanenan Padi Sistem
petani, kelompok pemanen, UPJA, swasta,
Kelompok dan Pascapanen
bengkel, dan juga pemerintah. Teknologi
pascapanen sudah berkembang di Jawa
Pelaku utama pemanenan padi adalah
Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Subang
buruh panen dan jasa perontok. Karena
dan Indramayu, Jawa Barat, sudah mulai
itu, introduksi dan sosialisasi pemanenan
berkembang pemanenan padi sistem ke-
padi sistem kelompok dan pascapanen
lompok dengan jumlah mesin perontok
tidak hanya ditujukan kepada kelompok
sekitar 460 unit. Pengembangan sistem
tani, tetapi juga kelompok pemanen dan
pemanenan padi secara kelompok ternyata
jasa perontok. Selanjutnya dilakukan pe-
mampu meniadakan pengasak dan peng-
netapan sistem upah kerja yang disetujui
awasan dapat dilakukan oleh petani sendiri
bersama oleh ketiga pihak, yaitu petani
karena jumlah pemanen terbatas dan pe-
pemilik, kelompok pemanen, dan UPJA.
kerjaan perontokan dilaksanakan oleh
UPJA. Mesin perontok dapat dibuat oleh
bengkel-bengkel lokal sehingga mening-
Pengembangan Mesin Perontok
katkan pendapatan masyarakat setempat.

Inventarisasi wilayah pengembangan dan


STRATEGI PENGEMBANGAN analisis kebutuhan mesin perontok diper-
TEKNOLOGI PASCAPANEN lukan untuk mencegah timbulnya per-
saingan antarpengusaha jasa perontok.
Strategi pengembangan teknologi pena- Pengadaan mesin perontok dapat diupa-
nganan pascapanen padi mencakup be- yakan melalui penggunaan skim kredit
berapa hal seperti berikut ini. yang disediakan pemerintah atau dana
bergulir (revolving fund) sehingga dapat
Pembentukan Kelembagaan diakses oleh petani/kelompok tani dan ko-
Jasa Pemanenan dan Perontokan perasi untuk modal pengadaan mesin pe-
rontok. Untuk memberikan kepastian pe-
Pengembangan pemanenan padi sistem kerjaan bagi kelompok jasa pemanen dan
kelompok dan pascapanen memerlukan kelompok jasa perontok (UPJA), pesanan
220 Agus Setyono

pekerjaan bagi petani sebaiknya diin- KESIMPULAN DAN


tegrasikan ke dalam penyusunan RDKK. IMPLIKASI KEBIJAKAN
Penetapan sistem upah kerja pema-
nenan dan perontokan perlu disepakati Kesimpulan
bersama, yang meliputi (1) upah kerja pe-
motongan padi, (2) upah kerja perontokan 1. Pemanenan padi sistem kelompok
gabah, (3) sewa mesin perontok, dan (4) selain dapat mengurangi gabah rontok
biaya operasional mesin perontok. Upah saat pemotongan juga meningkatkan
kerja dapat berupa uang tunai, natura atau mutu beras. Penggunaan mesin pe-
upah bawon. Pembinaan bengkel-bengkel rontok dapat meningkatkan efisiensi
lokal diperlukan untuk mendukung pe- kerja, menghindarkan penundaan pe-
ngembangan alsintan. rontokan, memperbaiki mutu gabah,
beras, dan rendemen beras giling, me-
nekan kehilangan hasil karena gabah
Revitalisasi Kelompok Tani tidak terontok kurang dari 1%, dan
dan Pelatihan menekan kehilangan hasil 10% (3,1 juta
ton GKP per tahun) yang senilai de-
Petani, kelompok tani, kelompok jasa pe- ngan Rp7,75 triliun.
manen, dan kelompok jasa perontok adalah 2. Pengembangan kelompok jasa pema-
pengguna inovasi teknologi. Kelompok nen dan kelompok UPJA akan mem-
tani sudah lama terbentuk, namun sebagian buka lapangan kerja baru melalui
besar kurang aktif sehingga perlu dire- tumbuhnya bengkel alsintan di pede-
vitalisasi dalam bentuk gabungan kelom- saan.
pok tani (gapoktan). Untuk menunjang 3. Penggunaan mesin pengering meng-
perbaikan penanganan pascapanen, ter- hindari terjadinya kontaminasi pasir
utama yang berkaitan dengan pengope- atau kerikil dan mutu beras yang di-
rasian alsintan dan pengelolaan keuangan, hasilkan lebih baik dibandingkan de-
perlu adanya pelatihan dan pembinaan ngan cara penjemuran. Selain itu, ke-
bagi gapoktan, kelompok pemanen, dan hilangan hasilnya juga rendah, kurang
kelompok UPJA. dari 1%, lebih rendah dibandingkan
dengan cara penjemuran sebesar 1,5-
2,0%.
Revitalisasi Penggilingan Padi

Menuju ekspor beras, unit-unit penggi- Implikasi Kebijakan


lingan padi perlu direvitalisasi melalui
pembinaan dan pelatihan. Konfigurasi me- 1. Pengembangan sistem pemanenan dan
sin penggilingan dan sosialisasi standar teknologi pascapanen padi. Pengem-
mutu beras harus segera dilakukan karena bangan sistem pemanenan padi dan
mutu sangat menentukan keberhasilan teknologi pascapanen mencakup as-
ekspor beras. Tenaga kerja dan sumber pek teknis, sosial-ekonomi, budaya,
daya manusia di penggilingan padi harus dan kelembagaan. Perbaikan harus
terus dibina. menguntungkan semua pihak yang ter-
Perbaikan teknologi pascapanen ... 221

libat, baik petani pemilik, buruh panen pascapanen diperlukan perangkat hu-
maupun pengusaha UPJA. Karena itu, kum, berupa Surat Keputusan atau Per-
pengembangan teknologi pascapanen aturan Pemerintah Daerah yang dike-
harus ditempatkan sebagai bagian in- luarkan oleh Bupati setempat tentang
tegral dalam program pengembangan pelaksanaan pemanenan padi sistem
sistem usaha tani padi. kelompok dan penanganan pasca-
panen.
2. Intensifikasi penanganan pascapanen.
Penanganan pascapanen secara ter-
integrasi harus mempertimbangkan PENUTUP
iklim atau curah hujan, pola tanam,
topografi, sosial-ekonomi, budaya, ke- Penerapan pemanenan sistem terintegrasi
lembagaan, dan kebijakan karena terkait dan teknologi pascapanen selain dapat
dengan dana dan peralatan yang sesuai mengurangi kehilangan hasil padi, me-
dengan wilayah setempat. Dengan de- ningkatkan mutu gabah dan beras, mening-
mikian diperlukan informasi lengkap katkan pendapatan petani dan pemanen,
mengenai wilayah pengembangan. juga menunjang peningkatan stok pangan
nasional. Usaha pelayanan jasa alsintan
3. Program perbaikan penanganan pasca-
dalam mengembangkan kelompok jasa
panen secara terintegrasi. Program
perontok diharapkan dapat mendorong
perbaikan penanganan pascapanen
tumbuhnya bengkel-bengkel alsintan
dapat diimplementasikan melalui pen-
sehingga membuka lapangan kerja baru di
dekatan wilayah dan pendekatan tek-
pedesaan. Oleh karena itu, pemanenan
nologi. Pendekatan wilayah didasarkan
padi sistem terintegrasi dan teknologi
atas persepsi petani, sosial-ekonomi,
pascapanen harus terus dikembangkan di
budaya, kelembagaan, dan kondisi wi-
pedesaan. Pemerintan Daerah, Badan
layah. Pendekatan teknologi didasar-
Litbang Pertanian, bank, dan dunia usaha
kan pada aspek teknis, seperti upaya
perlu berkoordinasi dalam menekan ke-
peningkatan kapasitas, efisiensi kerja,
hilangan hasil padi melalui pengembangan
perbaikan spesifikasi alat dan proses
pemanenan padi sistem terintegrasi dan
untuk meningkatkan rendemen dan
perbaikan teknologi pascapanen.
mutu beras serta menekan kehilangan
hasil.

4. Peningkatan peran bank. Dukungan DAFTAR PUSTAKA


yang diharapkan dari pihak bank selain
kredit sarana produksi adalah kredit Almera. 1997. Grain losses at different
untuk UPJA dan bengkel alsintan de- harvesting times based on crop ma-
ngan bunga lunak dan persyaratan turity. In L. Lantin. Rice Postharvest
yang mudah. Operation. www.org/inpho/index.htm.
Ananto, E.E., Handaka, dan A. Setyono,
5. Peraturan Pemerintah Daerah. Dalam 2004. Mekanisasi dalam perspektif
pelaksanaan sistem pemanenan padi modernisasi pertanian. hlm. 443-466.
secara terintegrasi dan penanganan Dalam F. Kasryno, E. Pasandaran, dan
M. Fagi (Ed.). Ekonomi Padi dan Beras
Indonesia. Badan Penelitian dan Pe- Sukamandi Research Institute for Food
ngembangan Pertanian, Jakarta. Crops.
Araullo, E.V., B.D. de Padua, and Graham. Damardjati, D.S., E.E. Ananto, R. Thahir,
1976. Rice Postharvest Technology. and A. Setyono. 1989. Postharvest
IDRC-053e. International Development losses assessment of paddy in Indo-
Research Centre, Singapore. 394 pp. nesia: Case study in West Java. Paper
Baharsyah, S. 1992. Pidato Pengarahan presented at Workshop on Appropriate
Menteri Pertanian pada Pembukaan Technologies on Farm and Village
Simposium Penelitian Tanaman Pangan Level, Postharvest Grain Handling,
III. Dalam M. Syam, Hermanto, M. Yogyakarta, 31 July-4 August 1989.
Karim, dan Sunihardi (Ed.). Kinerja Asean Australian Economic Coope-
Penelitian Tanaman Pangan, Buku 1. ration Program. 35 pp.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Dinas Pertanian Provinsi Bali. 2006. La-
Tanaman Pangan, Bogor. poran Tahunan 2006. Dinas Pertanian
BPS (Biro Pusat Statistik). 1988. Survei Provinsi Bali.
Susut Pascapanen Padi Musim Tanam Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah.
1986/1987. Kerja sama Biro Pusat 2006. Laporan Tahunan 2006. Dinas
Statistik, Ditjen Pertanian Tanaman Pertanian Provinsi Jawa Tengah,
Pangan, Badan Pengendali Bimas, Semarang.
Badan Urusan Logistik, Badan Peren- Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Se-
canaan Pembangunan Nasional, Ins- latan. 2006. Laporan Tahunan 2006.
titut Pertanian Bogor, dan Badan Pene- Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan
litian dan Pengembangan Pertanian. Selatan, Banjarmasin.
BPS (Biro Pusat Statistik). 1996. Survei Su- Dinas Pertanian Provinsi Lampung. 2006.
sut Pascapanen MT. 1994/1995. Kerja Laporan Tahunan 2006. Dinas Perta-
sama Biro Pusat Statistik, Ditjen Perta- nian Provinsi Lampung, Bandar Lam-
nian Tanaman Pangan, Badan Pengen- pung.
dali Bimas, Badan Urusan Logistik, Ba- Ditjentan (Direktorat Jenderal Pertanian
dan Perencanaan Pembangunan Na- Tanaman Pangan). 1982. Usaha penye-
sional, Institut Pertanian Bogor, dan lamatan produksi pangan. Disajikan
Badan Penelitian dan Pengembangan pada Diskusi Masalah Pascapanen
Pertanian. dalam rangka Peringatan Hari Pangan
Damardjati, D.S. 1979. Pengaruh Tingkat Sedunia Kedua, Jakarta, 16 Oktober
Kematangan Padi (Oryza sativa L.) 1982.
terhadap Sifat dan Mutu Beras. Tesis, Gummert, M. 2007. Cleverly cutting costs
Institut Pertanian Bogor. in Cambodia. Research Strategy.
Damardjati, D.S., H. Suseno, dan S. Wijandi. Rapple Irrigated Rice Research Con-
1981. Panentuan umur panen optimum sortium. gummert@cgiar.org.
padi sawah (Oryza sativa L.). Penelitian Hafsah, J. dan T. Sudaryanto. 2004. Sejarah
Pertanian 1: 19-26. intensifikasi padi dan prospek pengem-
Damardjati, D.S., Suismono, Sutrisno, and bangannya. hlm. 17-29. Dalam F.
U.S. Nugraha. 1988. Study on harvest- Kasryno, E. Pasandaran, dan M. Fagi
ing losses in different harvest tools. (Ed.). Ekonomi Padi dan Beras Indone-
sia. Badan Penelitian dan Pengembang- Mudjisihono, R. dan A. Setyono. 2003.
an Pertanian, Jakarta. Pengkajian cara dan alat perontok untuk
Hosokawa, A. 1995. Rice Postharvest menekan kehilangan hasil panen padi.
Technology. The Food Agency, Mi- Laporan Akhir. Balai Pengkajian Tek-
nistry of Agriculture, Forestry and nologi Pertanian Yogyakarta.
Fisheries, Japan Yoshihito Makao, ACE Mulsanti, I.W., S. Wahyuni, dan A. Setyo-
Corporation, Tokyo. 566 pp. no. 2008. Pengaruh kecepatan putar
Lubis, S., Soeharmadi, S. Nugraha, dan A. silinder mesin perontok terhadap mutu
Setyono. 1991. Sistem pemanenan, alat benih padi. hlm. 947-958. Prosiding
pemanen dan perontok padi di Kara- Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi
wang serta pengaruhnya terhadap ke- Menunjang P2BN, Buku 2. Balai Besar
hilangan. hlm. 43-55. Prosiding Hasil Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Penelitian Pascapanen. Laboratorium Mulya, S.H., A. Setyono, A. Ruskandar,
Pascapanen Karawang, 10 Februari Jumali, dan P. Wardana. 2008. Studi pe-
1990. ranan kelembagaan pascapanen dalam
Mejio, D.J. 2008. An overview of rice upaya menekan kehilangan hasil pro-
postharvest technology: Use of small duksi di Majalengka. hlm. 901-918. Pro-
metallic for minimizing losses. Agri- siding Seminar Apresiasi Hasil Pene-
cultural Industries Officer, Agricultural litian Menunjang P2BN, Buku 2. Balai
and Food Engineering Technologies Besar Penelitian Tanaman Padi, Suka-
Service, FAO, Rome. FAO Corporate mandi.
Document Repository. p. 1-16. Nugraha, S., A. Setyono, dan D.S. Da-
Mudjisihono, R., Sutrisno, dan A. Setyono, mardjati. 1990a. Pengaruh keterlam-
1998. Evaluasi pemanenan padi tabela batan perontokan padi terhadap ke-
menunjang SUTPA di Provinsi Daerah hilangan dan mutu. Kompilasi Hasil
Istimewa Yogyakarta. hlm. 42-55. Pro- Penelitian 1988/1989. Pascapanen. Ba-
siding Seminar Ilmiah dan Lokakarya lai Penelitian Tanaman Pangan Suka-
Teknologi Spesifik Lokasi dalam Pe- mandi. hlm. 1-7.
ngembangan Pertanian dengan Orien- Nugraha, S., A. Setyono, dan D.S. Da-
tasi Agribisnis. Balai Pengkajian Tek- mardjati. 1990b. Penerapan teknologi
nologi Pertanian Ungaran. pemanenan dengan sabit. Kompilasi
Mudjisihono, R., A. Guswara, dan A. Hasil Penelitian 1988/1989, Pascapa-
Setyono. 2002. Pengkajian pemanenan nen. Balai Penelitian Tanaman Pangan
padi sistem kelompok dan alat perontok Sukamandi. hlm.13-16.
pada tanaman padi yang dikelola secara Nugraha, S., A. Setyono, dan R. Thahir.
terpadu. Laporan Akhir. Balai Pengka- 1994. Studi optimasi sistem pemanenan
jian Teknologi Pertanian Yogyakarta. padi untuk menekan kehilangan hasil.
Mudjisihono, R., A. Setyono, dan A. Gus- Reflektor 7(1-2): 4-10.
wara. 2003. Kajian cara perontokan pa- Nugraha, S., A. Setyono, dan R. Thahir.
di pada pemanenan padi sistem kelom- 1995. Perbaikan sistem panen dalam
pok dan tingkat kerontokan padi tipe usaha menekan kehilangan hasil padi.
baru PTB 0202. Laporan Akhir. Balai hlm. 863-874. Prosiding Simposium
Pengkajian Teknologi Pertanian Yogya- Penelitian Tanaman Pangan III. Kinerja
karta. Penelitian Tanaman Pangan. Buku III.
224 Agus Setyono

Pusat Penelitian dan Pengembangan 1989. Pascapanen. Balai Penelitian Ta-


Tanaman Pangan, Bogor. naman Pangan Sukamandi. hlm. 17-21.
Nugraha, S., Sudaryono, S. Lubis, dan A. Rachmat, R., A. Setyono, dan R. Thahir.
Setyono. 1999a. Uji kelayakan jasa 1993. Evaluasi sistem pemanenan be-
perontok padi dengan mesin perontok regu menggunakan beberapa mesin
model TH6-Mobil. hlm. 229-235. perontok. Agrimex 4 dan 5 (1): 1-7.
Prosiding Seminar Teknologi Pertanian Rumiati. 1982. Cara panen dan perontokan
Spesifik Lokasi dalam Upaya Pening- padi VUTW untuk menentukan jumlah
katan Kesejahteraan Petani dan Peles- kehilangan. Laporan Kemajuan Pene-
tarian Lingkungan. Paket dan Kom- litian Seri Teknologi Lepas Panen No.
ponen Teknologi Produksi Padi, Bogor, 13. Subbalittan Karawang.
22-24 November 1999. Rumiati dan Soemardi. 1982. Evaluasi hasil
Nugraha, S., A. Setyono, dan Sutrisno. penelitian peningkatan mutu padi dan
1999b. Perbaikan penanganan pas- palawija. Risalah Tanaman Pangan.
capanen di lahan pasang surut. hlm. Pusat Penelitian dan Pengembangan
229-235. Prosiding Simposium Pene- Tanaman Pangan, Bogor.
litian Tanaman Pangan IV, Bogor, 22- Saragih, B. 2002. Sambutan Menteri Per-
24 November 1999. Tonggak Kemajuan tanian Republik Indonesia pada Pem-
Teknologi Produksi Tanaman Pangan. bukaan Workshop Kehilangan Hasil
Paket dan Komponen Teknologi Pro- Pascapanen Padi, Jakarta, 5 Juni 2002.
duksi Padi. Pusat Penelitian dan Pe- Setiawati, J., R. Thahir, dan A. Setyono.
ngembangan Tanaman Pangan, Bogor. 1992. Evaluasi ekonomi pada panen dan
Nugraha, S., Sudaryono, S. Lubis, dan A. perontokan. Media Penelitian Suka-
Setyono. 2000. Perbaikan sistem pro- mandi 11: 24-29.
sesing pada penggilingan beras. Pro- Setjanata, S., Ekowarso, dan Ruswandi,
siding Seminar Nasional Teknik Perta- 1982. Dukungan teknologi pascapanen
nian: Modernisasi Pertanian untuk Pe- di tingkat petani untuk pengamanan
ningkatan Efisiensi dan Produktivitas produksi beras. Dalam Risalah Loka-
Menuju Pertanian Berkelanjutan. Vol 2. karya Pascapanen Tanaman Pangan.
PERTETA CREATA dan FATETA IPB. Pusat Penelitian dan Pengembangan
2=260-265 (POI). Tanaman Pangan, Bogor.
Purwadaria, H.K., E.E. Ananto, K. Sulis- Setyono, A. 1990. Untuk menekan tingkat
tiadji, Sutrisno, and R. Thahir. 1994. kehilangan hasil panen sistem pema-
Development of stripping and thresh- nenan di jalur pantura perlu diperbaiki.
ing type harvester. Postharvest Tech- Pikiran Rakyat, 11 Juni 1990.
nologies for Rice in the Humid Tropics, Setyono, A., R. Thahir, Soeharmadi, dan S.
Indonesia. Technical Report Submitted Nugraha. 1990a. Evaluasi Sistem Pe-
to GTZ-IRRI Project. IRRI, Philippines. manenan Padi. Laporan Hasil Pene-
38 pp. litian. Balai Penelitian Tanaman Pangan
Rachmat, R., R. Thahir, A. Setyono, dan Sukamandi.
D.S. Damardjati. 1990. Penanganan ga- Setyono, A., Soeharmadi, J. Setiawati, dan
bah hasil panen di musim hujan dengan Sudaryono. 1990b. Perkembangan pe-
vortex. Kompilasi Hasil Penelitian 1988/ nelitian penanganan pascapanen. hlm.
Perbaikan teknologi pascapanen ... 225

465-486. Risalah Simposium II Peneli- logi Spesifik Lokasi dalam Pengem-


tian Tanaman Pangan, Ciloto, 21-23 bangan Pertanian dengan Orientasi
Maret 1988. Buku 2. Pusat Penelitian Agribisnis. Balai Pengkajian Teknologi
Tanaman Pangan, Bogor. Pertanian Ungaran.
Setyono, A., Sudaryono, S. Nugraha, dan Setyono, A., Suismono, T. Ilyas, dan S.
J. Setiawati. 1992. Studi sistem pema- Nugraha. 1999. Pengamatan kehi-
nenan padi di Kabupaten Karawang, langan hasil panen dan perontokan
Purbalingga dan Klaten. Seminar, 19 Ju- padi. Seminar Apresiasi Alsintan dalam
ni 1992. Balai Penelitian Tanaman Pa- Menekan Kehilangan dan Peningkatan
ngan Sukamandi. Mutu Hasil Tanaman Pangan, Jakarta,
Setyono, A. dan S. Nugraha. 1993. Pe- 21 Desember 1999. Direktorat Bina Usa-
ngaruh penundaan perontokan padi di ha dan Pengolahan Hasil, Jakarta.
sawah terhadap kehilangan hasil dan Setyono, A., Sutrisno, dan S. Nugraha.
kerusakan. Reflektor 6(1-2): 41-43. 2001. Pengujian pemanenan padi sistem
Setyono, A., R. Thahir, Soeharmadi, dan S. kelompok dengan memanfaatkan ke-
Nugraha. 1993. Perbaikan sistem pema- lompok jasa pemanen dan jasa peron-
nenan padi untuk meningkatkan mutu tok. Penelitian Pertanian Tanaman Pa-
dan mengurangi kehilangan hasil. Media ngan 2(2): 51-57.
Penelitian Sukamandi 13: 1-4. Setyono, A., Jumali, Sutrisno, A. Guswara,
Setyono, A., S. Nugraha, Sutrisno, dan R. E. Suwangsa, dan E.S. Noor. 2003.
Thahir. 1995. Peningkatan Pendapatan Penelitian penekanan kehilangan hasil
Petani dan Penderep dengan Pema- padi. Laporan Akhir Tahun 2003. Balai
nenan Padi Sistem Beregu. Balai Pene- Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
litian Tanaman Padi, Sukamandi. Setyono, A. dan Sutrisno. 2003. Perawatan
Setyono, A., S. Nugraha, R. Thahir, dan A. gabah pada musim hujan. Berita Pusat
Hasanuddin. 1996a. Hasil penelitian Penelitian dan Pengembangan Tanam-
teknologi pascapanen. hlm. 99-114. an Pangan No. 26: 8-9.
Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Pe- Setyono, A., Jumali, Astanto, S. Wahyuni,
nelitian, Sukamandi, 23-25 Agustus E. Suwangsa, A. Guswara, dan E.S.
1995. Buku I. Balai Penelitian Tanaman Noor. 2005. Studi pemanenan dan
Padi, Sukamandi. tingkat kerontokan beberapa galur ha-
Setyono, A., S. Nugraha, dan A. Hasa- rapan dan varietas unggul baru. La-
nuddin. 1996b. Usaha pengembangan poran Akhir Tahun 2005. Balai Besar
pemanenan padi dengan sistem be- Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
regu. hlm. 141-154. Prosiding Seminar Setyono, A., A. Guswara, E. Suwangsa, dan
Apresiasi Hasil Penelitian, Sukamandi, E.S. Noor. 2006a. Penekanan kehilangan
23-25 Agustus 1995. Buku II. Balai hasil panen padi dengan penggunaan
Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. mesin perontok pada pemanenan padi
Setyono, A., Sutrisno, dan S. Nugraha. sistem kelompok. hlm. 615-632. Dalam
1998. Uji coba regu pemanen dan mesin Inovasi Teknologi Padi Menuju Swa-
perontok padi dalam pemanenan padi sembada Beras Berkelanjutan. Buku 2.
sistem beregu. hlm. 56-69. Prosiding Pusat Penelitian dan Pengembangan
Seminar Ilmiah dan Lokakarya Tekno- Tanaman Pangan, Bogor.
226 Agus Setyono

Setyono, A., Suismono, Jumali, dan Su- mutu beras di beberapa wilayah sentral
trisno. 2006b. Studi penerapan teknik produksi padi. hlm 1429-1449. Prosi-
penggilingan unggul mutu untuk pro- ding Seminar Nasional Inovasi Tekno-
duksi beras bersertifikat. hlm. 633-646. logi Padi Mengantisipasi Perubahan
Dalam Inovasi Teknologi Padi Menuju Iklim Global Mendukung Ketahanan
Swasembada Beras Berkelanjutan, Pangan, Buku 4. Balai Besar Penelitian
Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengem- Tanaman Padi, Sukamandi.
bangan Tanaman Pangan, Bogor. Soeharmadi, A. Setyono, dan R. Thahir.
Setyono, A., Sutrisno, A. Guswara, dan 1993. Pengeringan gabah basah de-
Jumali. 2006c. Pengaruh kecepatan per- ngan silo pengering sirkuler. Agrimek
putaran silinder perontok terhadap mu- 4 dan 5 (1): 24-29.
tu benih dan beras. hlm. 287-300. Pro- Sudjastani, R. 1980. Pengaruh derajat ma-
siding Seminar Nasional Mekanisasi sak terhadap produksi dan mutu gabah/
Pertanian. Balai Besar Pengembangan beras. Laporan Kemajuan Penelitian
Mekanisasi Pertanian, Institut Pertani- Seri Teknologi Lepas Panen No. 6 (Padi)
an Bogor, Asosiasi Perusahaan Alat 1977-1980. Bagian Teknologi Karawang,
dan Mesin Pertanian Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Pangan Suka-
Setyono, A., Sutrisno, S. Nugraha, and mandi.
Jumali. 2007a. Application of group Sutrisno, D.R. Achmad, Jumali, dan A.
harvesting technique for rice farming. Setyono. 2006. Pengaruh kapasitas
p. 637-642. Proc. Rice Industry, Culture kerja terhadap efisiensi pengeringan
and Environment. Book 2. Indonesian gabah menggunakan box dryer bahan
Center for Rice Research, Sukamandi. bakar sekam. hlm. 331-341. Prosiding
Setyono, A., Jumali, D.D. Handoko, I P. Seminar Nasional Mekanisasi Pertani-
Wardana, P. Wibowo, dan A.W. Ang- an. Balai Besar Pengembangan Meka-
gara. 2007b. Studi bahan dan cara nisasi Pertanian, Institut Pertanian Bo-
pengemasan terhadap daya simpan dan gor, Asosiasi Perusahaan Alat dan Me-
mutu beras. Laporan Akhir Tahun. Balai sin Pertanian Indonesia.
Besar Penelitian Tanaman Padi, Suka- Thahir, R., Soeharmadi, dan A. Setyono.
mandi. 1995. Usaha perbaikan pengeringan
Setyono A., S. Nugraha, dan Sutrisno. padi di tingkat petani. hlm. 873-882. Pro-
2008a. Prinsip penanganan pascapa- siding Simposium Penelitian Tanaman
nen padi. hlm. 439-461. Dalam Inovasi Pangan III, Jakarta/Bogor, 23-25 Agus-
Teknologi dan Ketahanan Pangan. tus 1995. Kinerja Penelitian Tanaman
Buku I. Balai Besar Penelitian Tanaman Pangan, Buku 3. Pusat Penelitian dan
Padi, Sukamandi. Pengembangan Tanaman Pangan, Bo-
Setyono, A., B. Kusbiantoro, Jumali, P. Wi- gor.
bowo, dan A. Guswara. 2008b. Evaluasi