Anda di halaman 1dari 202

EDISI LENGKAP

TAJDID GERAKAN DAKWAH


DAN PERADABAN
Merujuk Tahapan Turunnya Al-Quran

Departemen Dakwah
Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah
1426 H – 2005 M
DAFTAR ISI
Sambutan Ketua Dewan Syari’ah DPP Hidayatullah
Sambutan Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah
PAKET I
FIQH MUDAWALATIZ ZAMAN

Bab I
Prinsip Pergiliran Zaman
Arahan Allah –
Arahan Nabi SAW
Berita Gembira Kemenangan Islam
Sumberdaya Manusia
Sumberdaya Alam
Warisan Sejarah
Bab II
Arahan Pembaharu (Taujih Al-Mujaddid)
Akar Krisis Ummat Islam
Krisis Perasaan Terhadap Keagungan Islam
Krisis Kebanggan Beragama
Kehilangan Harapan Pertolongan Tuhan
Bab III
Solusi Atas Berbagai Krisis (Hillul Azamat)
Memahami Islam Secara Detail
Keimanan Yang Kuat
Membangun Jamaah
Bab IV
Tahapan Turunnya Wahyu Sebagai Jawaban (Ar-Ruju’ ila as-Suwar al-
Murattabah Hasban Nuzul)
Argumen Orisinalitas Tekstual
Argumen Kontektual

PAKET II
RISALATU AL-‘AQIDAH

Bab I
Prinsip Akidah (Risalatu al-‘Aqidah)
“Membaca” sebagai Pilar Pembangunan Peradaban
“Membaca” dalam Tinjauan Al-Qur’an
Ilmu Dalam Perspektif Islam
Membangun Tradisi Ilmiyah
Bacalah Dengan Asma Allah

Bab II
Ma’rifatur Rabb (Mengenal Rabb)
Fakta Sejarah
Fakta Fithrah
Fakta Indra
Fakta Logika
Fakta Tekstual

Bab III
Ma’rifatul Insan (Mengenal Manusia)
Definisi al-‘alaq Secara Bahasa
Definisi Al ‘Alaq Secara Keilmuan
Kesan Yang Dumunculkan

Bab IV
Ma’rifatul ‘Alam (Mengenal Alam Semesta)
Asal Kejadian Alam
Sunnatullah Pada Alam

Bab V
Proses Lahirnya Syahadat Pada Surat Al ‘Alaq (Asy Syahadat fii dhoui
surat Al ‘Alaq)
Fiqh Syahadat
Syarat Diterimanya Syahadat
Pembatal-pembatal Syahadat
Loyalitas Dan Pengingkaran

PAKET III
RISALATU ASY-SYARI’AH

Bab I
Prinsip Syariat
Surat al-Qalam 1-7
Definisi kebahasaan qalam
Mendalami qalamullah & karamullah

Bab II
Karakteristik Syariat Allah
Rabbani (berketuhanan)
Akhlaqiyah (membentuk moral)
Insaniyah (manusiawi)
Tanasuq (teratur)
Syumul (universal)

Bab III
Jaminan Allah bagi yang Ber-Qur’an
Tidak gila
Memperoleh pahala yang tidak terputus
Memiliki akhlaq yang agung

Bab IV
Akibat Mengabaikan Konsep Allah
Gila dunia, tahta dan wanita
Balasan yang tidak abadi (temporal)
Berperangai hina

Bab V
Profil Generasi Qurani

PAKET IV
RISALATU AL-AKHLAQ
Bab I
Risalah Al Akhlaq (Prinsip Akhlaq)
Surat Al Muzzammil 1-9
Menjaga Stamina Ruhiyah
- Shalat Malam
- Membaca Al Quran
- Mengingat Allah
- Berserah Diri Kepada Allah
- Tahan Uji
- Hijrah

Bab II
Lulusan Madrasah Al Muzzammil (Khirriiju Madrasati Al Muzzammil)

PAKET V
RISALATU AD-DA’WAH WAL HARAKAH

Bab I
Prinsip Dakwah dan Harakah
Tafsir Surat Al Muddatsir 1-7
Qum Fa Andzir
Tahapan Peringatan
Mengagungkan Rabb
Membangun Citra Diri
- Kebersihan Jiwa
- Kebersihan Moral
- Kebersihan Harta
- Kebersihan Kekuasaan
Ketulusan
Sabar Di Jalan Dakwah

Bab II
Tabiat Jalan Dakwah (Thabi’atuth Thariq)
Bab III
Metodologi Dakwah (Uslub Ad Dakwah)

Bab IV
Wawasan Seorang da’i (Tsaqofatud Da’i)

PAKET VI
RISALATU AL-JAMA’AH

Bab I
Risalah Jama’ah (Prinsip Jama’ah)
Makna Global Surat Al Fatihah

Bab II
Membangun Masyarakat Islam Dengan Spirit Al Fatihah
(Binaul Mujtama’ Al Islami Fii Dhou’i Surat Al Fatihah)

Bab III
Unsur-unsur Masyarakat Islam (Anashir Al Mujtama’ Al Islami)
- Kawasan (Al Quro, Al Bi-ah)
- Al Ummah (Penduduk, Ahl)
- Aturan (Asy Syariah, Al Qanun)
- Kepemimpinan (Al Imamah, Al Imarah)
- Tugas Kepemimpinan (Wazhifah Al Imamah)

Bab IV
Paket Al Fatihah (Qism Al Fatihah)
Tafsir Al Fatihah
Kultur Masyarakat Al Fatihah
Karakteristik Masyarakat Islam
Sinopsis Operasional Tahapan Turunnya Wahyu Dalam Gerakan

δφ
Π
SAMBUTAN
Sekretaris Dewan Syari’ah Hidayatullah
Segala puji hanya kepunyaan Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan salam
semoga selalu dilimpahkan kepada uswah (teladan) kita Rasulullah shalla-llahu
‘alaihi wa sallam, para sahabatnya serta para pengikut setianya sampai akhir
zaman.
Kelahiran Hidayatullah identik dengan gerakan dakwah. Program utamanya
berupaya mewujudkan agenda perubahan dalam skala kehidupan individu,
keluarga, masyarakat secara mendasar dan terarah. Menata ulang pemikiran,
karakter dan tindakan seseorang agar berfikir, merasa dan berperilaku sesuai
dengan keinginan Allah atau maraji’ (referensi) Islam. Cita-cita awal lembaga
dakwah yang berbasis di pesantren ini ingin menerapkan pola dakwah dan
tarbiyah secara gradual (tadrijiyan).
Metodologi pembinaan dengan mengacu kepada proses tarbiyah Allah kepada
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam di Gua Hira dengan materi tahapan
nuzul-nya wahyu. Berdasarkan pendapat pakar tafsir dari kalangan sahabat,
Ibnu Abbas, yaitu : al-‘Alaq, al-Qalam, al- Muzzammil, al-Muddatsir dan al-
Fatihah. Ditutup dengan surat al-Fatihah, karena ia induk al-Quran (Ummul
Qur’an). Mereka yang memiliki kesiapan memahami, menghayati dan
mengamalkan muatan al-Fatihah secara otomatis telah menjiwai seluruh isi al-
Quran.
Prinsip dasar gerakan dakwah ini merujuk kepada wahyu secara tekstual dan
kontekstual, didukung oleh sejarah perjalanan Rasulullah shalla-llahu 'alaihi
wa sallam dan realitas kebang-kitan kesadaran beragama ummat Islam hari ini.
Dalam metodo-logi urut-urutan wahyu, dipilih pendapat Ibnu Abbas, tanpa me-
ngurangi hormat kepada ahli tafsir yang lain, karena secara ilmiyah ia dikenal
faqih dalam tafsir melebihi generasi sahabat yang lebih tua, berkat doa Nabi
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam untuknya sejak ia di ayunan ibunya.

‫ الحديث‬- H‫ل‬J‫ي‬K‫و‬J‫تأ‬N ‫ ال‬P‫ه‬J‫م‬S‫ل‬H‫ع‬H‫ و‬K‫ين‬J S‫ الد‬K‫ في‬P‫ه‬J‫ه‬S‫ق‬H‫ ف‬N‫م‬P‫ه‬N‫الل‬


“Ya Allah, faqih-kanlah dia dalam urusan agama dan ajarilah dia ta’wil”.
Dari Ibnu Abbas radhiya-llahu ‘anhu: Umar mengajak aku ke sebuah diskusi
yang diikuti orang-orang yang pernah mengikuti perang Badar yang terdiri dari
orang tua, seakan-akan saya disejajarkan dengan mereka, kemudian ada
seseorang yang bertanya, “Kenapa pemuda ini dimasukkan dalam kelompok
kita, padahal kita juga mempunyai anak yang sebaya dengannya?” Umar
menjawab, “Itu pendapat kalian?” Pada suatu hari Umar memanggil saya dan
saya datang bersama-sama dengan para sahabat dan saya tahu bahwa Umar
memanggil saya pada hari itu, adalah untuk menunjukkan kelebihan saya
kepada mereka. Kemudian Umar berkata, “Apakah pendapat kalian terhadap
firman Allah yang berbunyi : idzaa jaa-a nashrullaahi wal fat-h?” Salah
seorang diantara mereka menjawab, “Kami diperintahkan untuk memuji dan
memohon ampunan kepada Allah apabila kita mendapat pertolongan dan
kemenangan”. Para sahabat yang lain terdiam, kemudian Umar bertanya kepada
saya, “Apakah pendapatmu juga seperti itu, wahai Ibnu Abbas?” Saya
menjawab, “Tidak.” Umar bertanya lagi, “Lalu bagaimana pendapatmu?”
Saya menjawab, “Allah memberitahu kepada Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi
wa sallam bahwa ayat itu merupakan isyarat dekatnya kematian beliau. Yaitu
Allah berfirman : idzaa jaa-a nashrullaahi wal fat-h. (apabila telah datang
pertolongan dari Allah), itu adalah tanda dekatnya ajalmu wahai Muhammad,
maka sucikanlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-
Nya karena Dialah Zat Yang Maha Penerima taubat.” Kemudian Umar
radhiya-llahu ‘anhu berkata, “Saya tidak mengetahui kandungan ayat itu
melebihi dari apa yang kamu katakan.” (HR al-Bukhari).
Bertolak dari mabda’ asasi (prinsip dasar) diatas, Hidayatullah menerapkan
strategi dan perencanaan (takhthith) dakwah yang sistematis, lebih-lebih
mencermati kondisi politik saat pesantren mengawali kiprahnya, yang kurang
menguntungkan aspirasi ummat Islam. Gerakan pemurnian ajaran Islam yang
diusung oleh para da’i dan tokoh Islam disalahpahami oleh penguasa. Kejadian
pengucilan dan fitnah yang dilancarkan oleh oknum tertentu kepada da’i adalah
pemandangan yang rutin. Termasuk menimpa (alm) Ustadz Abdullah Said
muda di kota minyak itu.
Dalam suhu kehidupan perpolitikan yang cenderung represif saat itu, Almarhum
menggagas berdirinya Hidayatullah dalam bentuk pesantren. Memilih model
pendidikan non-formal ini, karena pesantren telah menyatu dengan jiwa bangsa
Indonesia. Juga sebagai sarang laba-laba (bait al-‘ankabut) yang difungsikan
sebagai pagar pembibitan da’i yang ingin diorbitkan ke tengah-tengah
masyarakat.
Sebelum kelahirannya, program unggulan yang dipusatkan di Karang Bugis,
oleh pendiri lembaga Islam kelahiran kota Makassar itu, adalah aktifitas dakwah
yang bersifat spesifik, tabligh. Gelora (thumuhat) yang menyemangati seluruh
aktifis Hidayatullah ketika itu adalah terus berdakwah, pantang menyerah.
Firman Allah yang senantiasa diintrodusir secara rutin, dalam setiap momentum
dan kesempatan adalah, “kuntum khaira ummatin” (kamu adalah ummat yang
terbaik), merujuk surat Ali Imran:

‫ن‬J‫و‬P‫ن‬K‫م‬J‫تؤ‬P H‫ و‬K‫ر‬H‫ك‬J‫ن‬P‫م‬J‫ ال‬K‫ن‬H‫ ع‬H‫ن‬J‫و‬H‫ه‬J‫ن‬H‫وت‬H K‫ف‬J‫و‬P‫ر‬J‫ع‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫م‬J‫تأ‬H K‫اس‬N‫لن‬K‫ ل‬J‫ت‬H‫ج‬K‫ر‬J‫خ‬P‫ أ‬m‫ة‬N‫م‬P‫ أ‬H‫ر‬J‫ي‬H‫ خ‬J‫م‬P‫ت‬J‫ن‬P‫ك‬
(110 : ‫ )آل عمران‬K‫ال‬K‫ب‬
“Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah.” (QS. Ali Imran : 110).1
Di kampus Pesantren, setiap menjelang waktu shalat petugas ta’mir
memberikan warning untuk persiapan shalat, sebagai wujud dakwah di
kalangan internal warga. Karena santri didoktrin sebagai hamba Allah, maka
1
Lihat juga, surah Ali Imran : 104.
seluruh aspek kehidupan keseharian di Pesantren adalah membesarkan asma
Allah. Dan sebagai khalifah, kehidupan keseharian didominasi dengan jadwal
shalat. Kita akan gagal sebagai “wakil Tuhan”, jika diatur oleh jadwal pekerjaan
dan kesibukan kita. Kampus seluas 200 hektar di Balikpapan didesain
sedemikian rupa agar menggambarkan secara kongkrit suasana kehidupan
‘alamiyah, ‘ilmiyah dan Islamiyah. Semua sisi kehidupan di Pesantren
diupayakan menyemai kehendak-kehendak Allah.
Penugasan para santri yang dianggap memenuhi persyaratan sebagai muballigh,
untuk merintis berdirinya perwakilan Hidayatullah di seluruh Indonesia,
memperluas teritorial dan jaringan dakwah, melalui proses yang unik. Terbukti
Allah berkenan meneguhkan hati dan langkah para santri yang bertugas.
Langkah yang lebih pasti pun di tempat yang baru dirintis mulai dirasakan.
Berdirilah 150 cabang Hidayatullah di seluruh Nusantara.
Sejak usia muda keinginan pendiri untuk men-setting kader-kader dakwah
(rijalud da’wah), selalu memenuhi kecapi batinnya. Beliau menyadari
langkanya penerus perjuangan dakwah yang bisa menangani dakwah dalam arti
yang seluas-luasnya secara berkelanjutan dan bertanggungjawab. Keterlibat-an
Almarhum dalam berbagai organisasi kader pelajar, mahasiswa, dan dakwah
dimanfaatkan untuk melakukan pela-tihan-pelatihan (daurah) dakwah, kursus-
kursus, serta kuliah-kuliah calon muballigh.
Di Muhammadiyah, tempat beliau aktif merintis karir sebagai da’i sejak remaja,
Almarhum selalu memfokuskan aktifitas kesehariannya pada bidang dakwah
dan pengkaderan. Beliau mentransfer nilai-nilai perjuangan dan kepemimpinan
kepada para santri bahwa setiap seruan ke jalan yang diridhai oleh Allah pasti
ada yang memberikan respon yang li kulli da’watin mujiib (setiap seruan
kebaikan pasti ada yang menyambut).
Gerakan dakwah akan disambut oleh pendukung utama, yang memiliki karakter
seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali. Akan
didukung pula dari kalangan wanita seperti Khadijah, Asma binti Abu Bakar,
Sumayyah dan shahabiyat yang lain. Demikian pula akan didukung oleh
simpatisan dakwah seperti Abu Thalib & Waraqah bin Naufal.
Disamping di-backing oleh pengikut yang setia, harakah da’wah akan
berbenturan dengan kepentingan musuh dakwah dari internal barisan dakwah
yang terdiri dari kaum munafik seperti Abdullah bin Ubay dan anak cucunya,
dan musuh eksternal dakwah seperti Abu Lahab dan Abu Jahal serta para
pengikutnya. Jadi, sunnatullah dalam dakwah menawarkan peluang dan
tantangan yang sama berat dan besar.
Yang melatarbelakangi pemikiran dan bisikan batinnya untuk terus berupaya
mencetak kader-kader da’i yang memiliki kecerdasan otak dan batin, karena
melihat kenyataan di lapangan, sedikitnya muballigh yang memiliki kesiapan
lahir dan batin untuk terjun dalam totalitas kehidupannya di medan dakwah. Hal
itu tidak sepadan dengan tuntutan masyarakat untuk mendapatkan sentuhan
intelektual dan spiritual yang bisa membantu dalam memahami, mengamalkan
dan memperjuang-kan tegaknya dienul Islam. Umumnya, tenaga-tenaga lulusan
pendidikan agama tidak tertarik menggeluti proyek peradaban dakwah yang
memerlukan dedikasi yang tinggi itu.
Idealisme ini muncul sejak Almarhum remaja. Masa-masa penting yang penuh
dengan gelora pemuda dilalui dengan schedule kegiatan dakwah yang padat. Ia
juga aktif dalam perjuangan amar ma’ruf nahi munkar dengan keterlibatannya
dalam pengganyangan judi Lotto di Sulawesi Selatan. Pada umur 12 tahun ia
sudah membawakan khutbah di masjid ternama di Makasar. Ketika itu beliau
juga aktif berkeliling (jaulah) ke masjid-masjid untuk mengisi halaqah-
halaqoah ta’lim dan pengajian umum.
Apakah program dakwah berhenti dengan kematian penggagasnya? Sama sekali
tidak. Idealisme dakwah akan terus dinyalakan, dan tahapan-tahapan dakwah
yang akan dilalui terus digulirkan, hingga seluruh penduduk bumi ini merasakan
kenikmatan dan kasih sayang Islam. Idealisme santri di Kampus Pusat
Balikpapan tidak tertampung, akhirnya para da’i-nya disebar terus hingga kini.
Sampai suatu saat kelak Islam ini dikembalikan ke fungsi dan peranan
utamanya untuk kaffatan lin-naas dan rahmatan lil ‘alamin (universal).
Pada era reformasi saat ini dan pasca perubahan struktur organisasi
Hidayatullah dari Orsos menjadi Ormas, agenda-agenda penting dakwah
memiliki tantangan dan peluang yang sama besarnya. Momen-tum keterbukaan
ini menuntut aktifis Hidayatullah untuk meningkatan pemahaman yang utuh
(al-fahm asy-syamil) dan komitmen yang teguh (al-iltizam al-kamil) dalam
pengembang-an konsep dan program dakwah dalam berbagai dimensi
kehidupan; dengan harapan eksistensi gerakan pencerahan pemikiran dan
spiritual Hidayatullah – bersama lembaga ke-Islam-an yang lain – mengakar di
hati ummat bahkan berada di baris terdepan dalam menggulirkan tranformasi
kehidupan yang sejuk dan beradab sesuai dengan cita-cita awalnya.
Dari sinilah keberhasilan dakwah diuji pada dataran konsep dan realitas untuk
menjawab berbagai tantangan kekinian dan kedisinian umat Islam. Maka perlu
disusun materi dakwah yang sistematis, sebagai pewarisan nilai dan amal
kepada generasi yang akan datang. Buku ini disusun diantaranya untuk
memenuhi harapan diatas.
Tiadalah taufiq dianugerahkan kepadaku kecuali dari Allah, tiadalah keinginan
bagi saya kecuali perbaikan sesuai dengan kemampuanku.
“Kemudian Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri sendiri,
dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula)
yang berlomba-lomba berbuat kebajikan dengan izin Allah. Yang demikian itu
adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir : 32).
Jakarta, Rabi’ul Awwal 1426 H
Ust. Hamim Thohari, Msi
Π
SAMBUTAN
Ketua Departeman Dakwah DPP Hidayatullah
Segala puji hanya kepunyaan Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan salam
semoga selalu dilimpahkan kepada uswah (teladan) kita Rasulullah shalla-llahu
'alaihi wa sallam, para sahabatnya serta para pengikut setianya sampai akhir
zaman.
Materi-materi pembinaan (mawad tarbawiyah) dalam buku ini adalah wasilah
tarbiyah (media pendidikan), tazkiyah (penyucian) dan tarqiyah (peningkatan
kualitas) bagi aktifis Hidayatullah secara mikro dan masyarakat yang
memerlukannya secara umum. Materi merujuk referensi utama al-Quran dan al-
Hadits, di samping bersumber dari para muassis dan masyasikh (pendiri dan
pembina) Hidayatullah yang telah terbukti dengan ikhlas mentransfer ilmu dan
nilai kepada para mutarabbi (anak didik).
Penyunting memformat semua materi dalam bentuk rasmul bayan (mind
mapping, skema, peta pikiran) berbahasa Arab dan diterjemahkan secara singkat
disertai dalilul nash (argumentasi tekstual) dari al-Quran dan al-Hadits serta
Sirah Nabi pada masing-masing skema; dengan maksud agar pembaca lebih
mudah dan akseleratif dalam menangkap subtansi tema (maahiyatul maudhu’).
Buku ini berisi 6 paket materi (sittu mawad). Masing-masing paket merujuk
kepada al-mashdar al-wahid (referensi utama) al-Quran, al-Hadits dan
argumentasi kontekstual.
Paket Pertama, Fiqh Mudawalatiz Zaman (Memahami Prinsip Pergiliran
Zaman).
Paket Kedua, Risalah al-‘Aqidah (Prinsip Aqidah).
Paket Ketiga, Risalah asy-Syari’ah (Prinsip Syari’ah).
Pakat Keempat, Risalah al-Akhlaq (Prinsip Akhlaq).
Paket Kelima, Risalah ad-Da’wah wal Harakah (Prinsip Dakwah & Harakah).
Paket Keenam, Risalah al-Imamah wal Jama’ah (Prinsip Jama’ah).
Melalui wasilah bayan tafshili (media penjelasan secara detail) diharapkan
tema-tema yang dibahas dalam buku ini memiliki ma’nawiyah (spirit) yang
membangkitkan ghirah keIslaman aktifis Hidayatullah. Untuk menangkap ruh
tarbiyah dan da’wah ini, mutarabbi (obyek didik) bisa mempelajarinya secara
otodidak, atau diperoleh dengan manhaj at-talaqqi (metode penerimaan dengan
menghadap instruktur) dengan penjelasan secara ijmal (global) dan di-tashhih.
Metode menyimak secara langsung inilah yang diajarkan oleh Rasulullah
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam.
Sesuai dengan karakteristik ajaran Islam itu sendiri, materi tarbiyah disini
bersifat infitahiyah (inklusif). Di dalamnya bukanlah sesuatu yang bersifat
qath’i (pasti). Ia adalah hasil ijtihad (kesungguhan berfikir) para ulama dakwah
untuk mendekatkan diri kepada al-haqq (kebenaran). Semakin sering dikaji dan
diperdalam (ad-dirasah wa al isti’ab), akan melahirkan kader dakwah (rijalud
da’wah) yang memiliki wawasan, komitmen dan kesadaran baru. Sebagaimana
yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam dalam
salah satu haditsnya :

(‫ )رواه أبو الشيخ‬J‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬J‫م‬H‫ال‬H‫ م‬P‫ ال‬P‫ه‬H‫ث‬H‫ر‬J‫و‬H‫م أ‬H K‫ل‬H‫ا ع‬H‫م‬K‫ ب‬H‫ل‬K‫م‬H‫ ع‬J‫ن‬H‫م‬
“Barangsiapa yang mengamalkan yang diketahuinya maka Allah Swt akan
mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh).
Tiada pembelajaran yang lebih efektif melebihi mengamalkan-nya dan
mengajarkannya kepada orang lain. Kekayaan materi yang kita belanjakan akan
habis (mafqudah), sedangkan ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada yang
memerlukan akan berbuah. Dan buah itu akan mendatangi pemiliknya, tanpa
salah alamat.

‫م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫ ال‬H‫ ك‬K‫ذل‬H H‫ ف‬K‫ ب‬J‫ل‬H‫ق‬J‫ ال‬K‫ مˆ ف ي‬J‫ل‬K‫ ع‬K‫ا ن‬H‫م‬J‫ل‬K‫ ع‬P‫ م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫ ال‬: H‫ال‬H‫ )ص( ق‬K‫ ا ل‬H‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬N‫ ن‬H‫ أ‬m‫ر‬K‫اب‬H‫ ج‬J‫ ن‬H‫ع‬
‫ الحديث‬- ‫م‬H H‫ آد‬K‫ن‬J‫ى اب‬H‫ل‬H‫̂ة ع‬N‫ج‬P‫ ح‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬H‫ ف‬K‫ان‬H‫س‬S‫ى الل‬H‫ل‬H‫̂م ع‬J‫ل‬K‫وع‬H P‫ع‬K‫اف‬N‫الن‬
“Ilmu itu ada dua macam, ilmu di dalam dada, itulah yang bermanfaat, dan
ilmu sekedar di ujung lidah, maka itu akan menjadi saksi yang memberatkan
(menggugat) manusia”.
Buku ini berhasil disusun atas ikhtiar dan kerjasama berbagai pihak. Untuk itu
kami ucapkan terima kasih kepada tiem penyusun yang telah bekerja maksimal
sehingga dapat merampungkan materi yang dibutuhkan. Terima kasih yang
sama juga kami sampaikan kepada Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau
yang dengan ikhlash memfasilitasi pertemuan tiem dalam penetapan dan
penyusunan materi buku ini.
Saran dan kritik yang konstruktif (at-taujih wal iqtirahat) dari para ahli, alim
‘ulama sangat diharapkan demi kesempurnaan buku ini pada masa-masa
mendatang. dan untuk itu diucapkan terima kasih. Semoga Allah subhanahu
wa ta’ala membalasnya dengan balasan yang terbaik.
Akhirnya semoga dengan materi tarbiyah ini memberikan manfaat yang
berkesinambungan (istimrar), dalam memberikan pemahaman yang utuh dan
komitmen yang kuat dalam berIslam kepada generasi yang akan datang. Besar
harapan kita konsep-konsep pengembangan materi akan terus bergulir sesuai
dengan kebutuhan zamannya, untuk menyongsong pergiliran dan pergantian
zaman; karena sesungguhnya masa depan itu milik ummat Islam (al-mustaqbal
lil muslimin).
Amin, ya rabbal ‘alamin.
Jakarta, Rabi’ul Awwal 1426 H
Drs. Tasyrif Amin
δφ

PAKET I .

‫فقه مداولة الزمن‬


Memahami Prinsip Pergiliran Zaman


‫فقه تبادل الزمن‬

‫القدوة‬ ‫عصر النبوة‬ ‫توجيه رباني‬


‫منهاج‬ ‫خير القرون‬
‫السلف الصالح‬ ‫توجيه نبوي‬
‫السلم‬
‫المنهاج‬ ‫عصر الخلفة‬
‫الرشيدة‬

‫عصر ملك‬ ‫فقه تبادل‬


‫ملكا تطبيقيا‬ ‫خلفة رسميا‬
‫الجاهلية فى‬ ‫عاض‬ ‫الزمن‬
‫القرن العشرين‬
‫البيت‬ ‫شرقية و‬ ‫عصر ملك جبار‬
‫البيض‬ ‫غربية‬
‫منهاج‬ ‫الحركة‬ ‫عصر الخلفة على‬
‫منهاج النبوة‬
‫السلم‬ ‫السلمية‬

‫خبرة من التاريخ‬ ‫ماد‪u‬ية و غير ماد‪u‬ية عند‬ ‫المبشرات بانتصار‬


‫المسلمين‬ ‫المسلمين‬
MEMAHAMI PERGILIRAN ZAMAN

ARAHAN ALLAH Dimensi


Fase Kenabian
ARAHAN NABI Keteladanan
Kurun Terbaik Sistem
Salafus Shalih Islam
Fase Khilafah Dimensi
yang Lurus Sistem yang
Diikuti

Fiqh Pergiliran Fase Raja yang Khilafah Kerajaan


Zaman Menggigit (Formalitas) (operasional)
Jahiliyah di
Abad XX
Fase Diktator Blok Timur &
Gedung Putih
Global Blok Barat

Fase Khilafah ala Sistem


Gerakan Islam
Manhaj Nubuwah Islam

Kabar Gembira Sarana Material & Imaterial (SDM Pengalaman Sejarah


Kemenangan Islam dan SDA) yang dimiliki umat Islam Tujuh Abad
BAB I
‫فقه مداولة الزمن‬
PRINSIP PERGILIRAN ZAMAN

Arahan Allah (taujih rabbani)

‫د‬H‫ق‬H‫ حˆ ف‬J‫ر‬H‫م ق‬J P‫ك‬J‫س‬H‫ س‬J‫م‬H‫ ي‬J‫ ن‬K‫ إ‬. H‫ي ن‬J K‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫ م‬J‫ م‬P‫ت‬J‫ن‬P‫ ك‬J‫ ن‬K‫ إ‬H‫و ن‬J H‫ل‬J‫ع‬H‫ل‬J‫ ا‬P‫ت م‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ا و‬J‫و‬P‫ن‬H‫ز‬J‫تح‬H ‫ل‬
H H‫ا و‬J‫نو‬P K‫ه‬H‫ ت‬H‫ل‬H‫و‬
(140-139 : ‫ )آل عمران‬P‫ه‬P‫ل‬J‫ث‬K‫حˆ م‬J‫ر‬H‫ ق‬H‫م‬J‫و‬H‫ق‬J‫ ال‬N‫س‬H‫م‬
“Janganlah kamu merasa hina, dan jangan (pula) bersedih hati, karena
kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang
beriman. Jika kamu ditimpa penderitaan maka kaum (kafir) juga merasakan
penderitaan yang sama.” (QS Ali Imran : 139-140. Lihat juga ayat 104).
Jika mencermati kondisi ummat Islam belakangan ini sungguh menjadikan hati
kita tersayat. Betapa penderitaan berkepanjangan yang menderanya tak kunjung
berakhir, musibah demi musibah datang silih berganti, cobaan demi cobaan
yang menyelimutinya tak kunjung lepas. Namun, yang perlu kita sadari bersama
bahwa kaum selain kita juga merasakan kesulitan yang sama. Hanya saja obyek
perasaan derita kita berbeda dengan yang mereka rasakan. Kesulitan kita adalah
betapa beratnya mempertahankan komitmen (iltizam), keteguhan (tsabat),
kesabaran, serta konsistensi (istiqamah) dalam menjalankan syariat Islam di
tengah-tengah gegap-gempitanya manusia yang berkonspirasi memarjinalkan
peran Allah dalam kehidupan ini.
Sedangkan kesulitan kaum kafir adalah mempertahankan status quo kebatilan di
tengah maraknya kebangkitan ummat Islam (nahdhatul ummah). Fenomena
kesadaran beragama para mahasiswa, intelektual, kaum perkotaan semakin
menggeliat. Mereka berusaha secara maksimal untuk membendung gejala
kesadaran kembali ke Islam. Nampaknya kebangkitan Islam itu tidak bisa
diredam dan diredupkan. Usaha mereka hanya sia-sia belaka.

(29 : ‫ )الفتح‬H‫ار‬N‫ف‬P‫ك‬J‫ ال‬P‫م‬K‫ه‬K‫ ب‬H‫ظ‬J‫ي‬K‫غ‬H‫ي‬K‫ل‬


“Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan
orang-orang beriman).” (QS al-Fath : 29).

‫ ه‬K‫ر‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ول‬H P‫ ه‬H‫ور‬J P‫ ن‬N‫ م‬K‫يت‬P J‫ ن‬H‫ أ‬N‫ل‬K‫ إ‬P‫ ا ل‬H‫بى‬J‫يأ‬H H‫ و‬J‫ م‬K‫ه‬K‫اه‬H‫و‬J‫ف‬H‫أ‬K‫ ب‬K‫ ا ل‬H‫ر‬J‫نو‬P ‫ؤا‬PK‫ف‬J‫ط‬P‫ ي‬J‫ ن‬H‫ أ‬H‫ ن‬J‫دو‬P J‫ي‬K‫ر‬P‫ي‬
‫ه‬S‫ل‬P‫ ك‬K‫ي ن‬J S‫ى الد‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ ه‬H‫ر‬K‫ه‬J‫ظ‬P‫ي‬K‫ ل‬S‫ ق‬H‫ح‬J‫ ال‬K‫ ن‬J‫ي‬K‫ود‬H ‫ى‬H‫د‬P‫له‬J‫با‬K P‫ه‬H‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬H‫ل‬H‫ س‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ال‬H‫هو‬P H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫اف‬H‫ك‬J‫ال‬
(33-32 : ‫ )التوبة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬K‫ر‬J‫ش‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ه‬K‫ر‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬H‫و‬
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahaya-Nya, walaupn orang-orang kafir tidak menyukai.
Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan
agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun
orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS At-Taubat : 32-33. Lihat juga : ash-
Shaff : 8-9; al-Fath : 28).

P‫بر‬H J‫ك‬H‫ أ‬J‫هم‬P P‫ر‬J‫و‬P‫د‬P‫ ص‬J‫ي‬K‫ف‬J‫خ‬P‫ا ت‬H‫م‬H‫ و‬J‫م‬K‫ه‬K‫اه‬H‫و‬J‫ف‬H‫ أ‬J‫ن‬K‫ م‬P‫آء‬H‫ض‬J‫غ‬H‫ب‬J‫ ال‬K‫ت‬H‫بد‬H J‫د‬H‫ق‬
“Telah nampak kebencian pada mulut-mulut mereka, dan apa yang disimpan di
dada mereka lebih besar.” (QS Ali Imran : 118).
Jadi tidak kita saja yang menderita kesulitan, mereka juga merasakan kesulitan
dalam menghadapi banyaknya kaum terpelajar, bangsa-bangsa di negara maju
yang ingin kembali kepada ajaran yang sesuai dengan fithrah mereka. Setelah
mereka lari dari agama (kristen) karena dianggap menghambat kemajuan
berfikir. Dan terjadilah kebebasan yang tak terkendali. Sains dan teknologi yang
menjanjikan sarana kehidupan (wasilatul hayat) pada kehidupan globalisasi
sebagai produk paham kebendaan (materialisme), terbukti gagal dalam
memandu manusia modern menemukan kebahagiaan hidup.2 Mereka kembali
kepada aliran eksistensialisme (hati nurani). Tetapi hati nurani seseorang
dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan, pergaulan, persepsi, kebiasaan yang
berbeda-beda.
Kita juga merasakan kesulitan dalam mendesain kehidupan ini hanya mencari
ridha Allah, saat dimana kebanyakan manusia ingin mencari keridhaan, restu
kepada selain Allah. Oleh karena itu pada bagian ayat berikutnya Allah
memberikan hiburan (tasliyah) kepada kita.

‫ال‬H‫ و‬H‫آء‬H‫د‬H‫ه‬P‫ ش‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ذ‬K‫تخ‬NH‫ي‬H‫ا و‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ ا ل‬H‫ م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬K‫ل‬H‫ و‬K‫ا س‬N‫ الن‬H‫ ن‬J‫بي‬H ‫ا‬€‫او‚ل• ه‬€‫ ن•د‬P‫ا م‬N‫ي‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫ ك‬J‫ل‬K‫ت‬H‫و‬
(140 : ‫ )آل عمران‬H‫ن‬J‫ي‬K‫م‬K‫ال‬N‫ب¯ الظ‬K‫ح‬P‫ ي‬H‫ل‬
“Demikianlah hari-hari itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar
memperoleh pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang
beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya
(gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang
zhalim.” (QS Ali Imran : 140).
Terkadang kaum beriman itu sedang naik di atas pada masa keemasannya.
Menempati posisi penting dan strategis. Adakalanya jatuh terpuruk, dan kaum
kafir berjaya di dunia ini. Tentu kejayaan yang diraih selain kita adalah
kejayaan yang palsu. Sementara kejayaan yang kita peroleh adalah kemenangan
sejati. Kemenangan yang mencerahkan, menampakkan cahaya kebenaran.
Sebab kejayaan orang kafir itu tidak mendapat arahan, bimbingan dan petunjuk
dari Allah, sedangkan kejayaan ummat Islam memperoleh restu dari Allah.
Kejayaan kaum muslimin terjadi ketika kita menyaksikan kembalinya
kekuasaan Allah di dunia ini, secara de jure dan de facto (secara syar’i dan
kauni).
Fiqh pergiliran dan pergantian zaman adalah sebuah kenyataan sejarah
kehidupan manusia yang patut kita jadikan renungan secara mendalam. Timbul

2
al-Islamu Hadharatul Ghaad (Islam Peradaban Masa Depan), karya Dr. Yusuf al-
Qardhawi.
tenggelamnya bangsa di muka bumi ini memiliki maksud spesifik di mata Allah
subhanahu wa ta’ala. Agar Dia mengetahui siapa diantara kita yang benar-
benar beriman dan Dia mengambil sebagian komunitas itu sebagai syuhada’.
Barangsiapa memperhatikan keadaan ummat-ummat sepanjang sejarah maka ia
akan mendapatkan pelajaran bahwa obor peradaban berpindah dari bangsa satu
ke bangsa lain, dari satu tangan ke tangan lain. Sesungguhnya perputaran (saat)
ini adalah milik kita, bukan melawan kita, kata Hasan al-Banna.
Dahulu kepemimpinan dunia di tangan negara-negara Timur, melalui peradaban
Fir’aun, Asyuriah, Babylonia, Chaldea, Phoenisia, Persia, India dan China;
kemudian ke Barat melalui peradaban Yunani dengan filsafatnya yang terkenal,
berpindah lagi ke Timur lewat peradaban Arab-Islam, peradaban yang
menyatukan iman dan ilmu, materi dan spiritual, lahir dan batin, lalu tenggelam
dan melupakan risalahnya.3
Barat memegang kendali kepemimpinan dunia. Akan tetapi ia tidak amanah.
Bahkan mengalami kebangkrutan norma, melampaui keadilan, memetingkan
kekuatan dari kebenaran, materi atas ruhani, benda atas manusia. Merupakan
kewajaran bila obor peradaban harus berpindah ke tangan lain.4
Kesadaran kita terhadap prinsip mendasar (mabda’ asasi) ini harus melekat
dalam totalitas kepribadian kita sebagai sosok muslim, sosok yang
memposisikan diri sebagai bagian dari elemen perubah (min ‘anashirit taghyir).
Supaya sedikit pun kita tidak melangkah ke jalan lain selain jalan Allah. Tidak
sedetik pun kita berfikir untuk memilih alternatif lain selain solusi dari Allah.
Kalaupun orang lain tidak tahan, tidak sabar, kurang teguh menapaki tabiat
perjalanan dakwah ini, tidak mengurangi stamina fisik dan ma’nawiyah (spirit)
kita.

Arahan Nabi (taujih nabawi)


Prinsip pergantian zaman ini juga selaras dengan prediksi Rasulullah shalla-
llahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh
Imam besar dalam bidang hadits Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu
Hudzaifah, intelijennya Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam (shahibus sirr) pada
14 abad yang silam.

‫ا‬H‫ه‬H‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ أ‬H‫آء‬H‫ا ش‬H‫ذ‬K‫ا إ‬H‫ه‬P‫ع‬H‫ف‬J‫ير‬H N‫ثم‬P H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫آء‬H‫ا ش‬H‫ م‬J‫م‬P‫ك‬J‫ي‬K‫ ف‬P‫وة‬N P‫ ال̄نب‬P‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ت‬
“Adalah (fase kepemimpinan) nubuwah ada pada kalian apa yang Allah
kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia menghendaki
mengang-katnya.”

3
al-Mubasysyirat bi Intisharil Islam (Berita-berita Gembira tentang Kemenangan
Islam), karya Dr. Yusuf al-Qardhawi.
4
Hal Satasquthu Amrika Kamaa Saqathath al-Ittihadu as-Sufyieti (Apakah Amerika
akan Runtuh Seperti Uni Soviet?), karya Mahmud az-Zuby.
Inilah periode awal perjalanan sejarah ummat Islam. Saat itu ummat Islam
dipimpin langsung oleh manusia paripurna (insan kamil), pemimpin orang-
orang yang bertaqwa (imamul muttaqin), panglima para mujahid (qa-idul
mujahidin), yaitu Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Mereka langsung
dipandu oleh figur teladan (uswatun hasanah) sejak masa kesulitan,
kegoncangan (fatrah al-idhthirab) di Mekah sampai jaya di Madinah. Sejak
sebelum berfikir tentang perang sampai berkali-kali terjun di medan laga. Sejak
sebelum berfikir tentang format kepemimpinan sampai menjadi pemimpin yang
disegani di Jazirah Arab. Manusia penunggang onta yang tertata ulang persepsi
(tashawwur) dan mata hati (bashirah) mereka tentang Tuhan, alam sekitar dan
diri mereka sendiri, terbukti dalam sejarah memiliki kapasitas dan kapabilitas
menjadi penghulu dunia (ustadziyatul ‘alam). Beralalulah masa keemasan itu
(‘ashrudz dzahab) selama 23 tahun. Ketika Allah menghendaki, Ia mencabut
masa kejayaan itu.

‫ا‬H‫ذ‬K‫ا إ‬H‫ ه‬P‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ ي‬N‫ م‬P‫ ث‬H‫ ن‬J‫و‬P‫تك‬H J‫ ن‬H‫ أ‬P‫ ا ل‬H‫آء‬H‫ا ش‬H‫ م‬P‫و ن‬J P‫ك‬H‫ت‬H‫ ف‬K‫ة‬N‫بو‬P ‫ ال̄ن‬K‫ا ج‬H‫ه‬J‫ن‬H‫ى م‬H‫ل‬H‫ ع‬³‫ة‬H‫ف‬H‫ل‬K‫ خ‬P‫ ن‬J‫و‬P‫تك‬H N‫ م‬P‫ث‬
‫ا‬H‫ه‬H‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫آء‬H‫ش‬
“Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj nubuwah itu, maka terjadilah
apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala
Dia menghendaki untuk mengangkatnya.”
Inilah fase kedua perjalanan sejarah ummat Islam. Para ulama dan ahli sejarah
sepakat bahwa periode ini adalah pada masa khulafaur rasyidin: Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali. Ada yang berpendapat sampai ke kurun khalifah
kelima, Umar bin Abdul Aziz. Masa ini fase khalifah yang lurus, jujur dan adil.
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam melegitimasi masa kedua ini masih
dalam koridor minhajin nubuwah (metode kenabian). Artinya periode pertama
dan kedua ini adalah masa teladan dan rujukan (referensi) ummat Islam.

‫ر‬€‫أب‬€ „‫فإ‚ن†ه• م‬€ H‫م‬N‫ل‬H‫ س‬H‫ و‬K‫ي ه‬J H‫ل‬H‫ ع‬H‫ ا ل‬N‫لى‬H‫ ص‬K‫ ا ل‬K‫ول‬J P‫ س‬H‫ ر‬K‫اب‬H‫ح‬J‫ ص‬H‫أ‬K‫ ب‬N‫ س‬H‫تأ‬H H‫ي‬J‫ل‬H‫ا ف‬³‫ي‬S‫ س‬H‫تأ‬H P‫ م‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫ ن‬H‫م‬
‫م‬J‫و‬H‫ ق‬³‫ال‬€‫ •نه•م„ ح‬€‫أح„س‬€€‫ا و‬Š‫د„ي‬€‫م•ه•م„ ه‬€‫أق„و‬€ ‫ا‬Š‫ف‬Œ‫ل‬€‫ك‬€‫ا ت‬€‫ه‬Œ‫ل‬€‫أق‬€€‫ا و‬Š‫ا ع‚ل„ م‬€‫ق• ه‬€‫أع„م‬€€‫ا و‬Š‫ذ‚ ه‚ ا„ل•م†ة‚ ق•ل• „وب‬€‫ه‬
‫ى‬€‫ل‬€‫ا •نو„ا ع‬€‫إ‚ن†ه•م„ ك‬€‫ ف‬J‫م‬P‫ه‬H‫ار‬H‫ا آث‬J‫و‬P‫بع‬K N‫ات‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬H‫ل‬J‫ض‬H‫ ف‬J‫م‬P‫ه‬H‫ا ل‬J‫و‬P‫ف‬K‫ر‬J‫ع‬H‫أ‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫ين‬J K‫ د‬K‫ة‬H‫ب‬J‫ح‬P‫ص‬K‫ ل‬P‫ ال‬P‫م‬P‫ه‬H‫ار‬H‫ت‬J‫اخ‬
(‫ق‚ي„م‚ )رواه أحمد عن ابن مسعود‬€‫ى ا„لم•س„ت‬€‫ا„له•د‬
“Barangsiapa hendak menjadikan teladan, teladanilah para sahabat
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, mereka itulah yang paling
baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya (sedikit
mengada-ada), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya.
Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan
menegakkan dien-Nya. Karena itu hendaklah kalian mengenal keutamaan jasa-
jasa mereka dan ikutilah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada di atas
jalan (Allah) yang lurus.” (HR. Ahmad dari Ibnu Masud).
Ketika belakangan ini usaha penegakan tatanan kehidupan Qur’ani pada level
eksekutif dan legislatif disalahartikan, bahkan dikhawatirkan terjadi disintegrasi
bangsa, itu adalah sesuatu yang wajar. Karena di belahan dunia manapun belum
terwujud prototipe negara yang menegakkan syariat secara formal dan
komperhensif.
Jika penerapan tatanan ilahi di kepingan-kepingan bumi yang sempit di era
globalisasi saat ini tanpa direstui oleh kekuatan internasional kuffar, maka akan
menjadi bulan-bulanan. Sebut saja Iran, Pakistan, Sudan yang berusaha
menerapkan syariat Islam, maka akan ditemukan catatan-catatan yang penuh
dengan kekurangan dan ketidakberdayaan. Ketika kaum kafir internasional
menghadapi kaum muslimin pada skala global, maka penyelesaian masalah
kaum muslimin tidak bisa diselesaikan secara lokal.
Tepat sekali sebagaimana yang disinyalir Syekh Hasan al-Banna, bahwa
tahapan perjuangan ummat setelah pembebasan negeri dari penjajahan asing
(tahrirul wathan) adalah memperbaiki pemerintahan yang ada agar kondusif
dalam penegakan tatanan ilahi (ishlahul hukumah). Adapun yang terkait dengan
format politik Islam, tatanan resmi yang Islami dalam kehidupan bernegara baru
terjadi pada tahapan penegakan Khilafah Islam internasional (iqomatul khilafah
al-Islamiyah al-‘alamiyah) nanti.
Mungkin ada yang bertanya dan meragukan statemen diatas. Itu ‘kan terjadi
pada 15 abad yang silam, tentu berbeda dengan kondisi kita sekarang ini.
Manusia pada masa jahiliyah dahulu dengan zaman jahiliyah sekarang
(jahiliyah fil qarnil ‘isyrin) adalah sama. Ketika merasa lapar membutuhkan
makan, ketika haus perlu minum dan ketika ingin memenuhi kebutuhan biologis
perlu nikah, dll. Zaman bisa berubah, tetapi manusianya pada prinsipnya tidak
berubah. Yang berbeda hanya produk materialnya saja.
Manusia sekarang berada di jurang kehancuran. Membutuhkan kehadiran sistem
kehidupan yang tidak sekedar menonjolkan daya cipta material, tetapi memiliki
daya kendali capaian teknologi. Karena inovasi teknologi sekarang hanyalah
pengembangan dari komponen teknologi yang ada. Kepemimpinan yang
dirindukan manusia modern adalah yang bisa menawarkan ‘aqidah (iman) dan
manhaj (pola kehidupan Islami), meminjam istilah Sayid Quthub dalam
muqaddimah karyanya, Ma’alim fith Thariq (Rambu-rambu di Sepanjang Jalan
Perjuangan).
Kekayaan mahal ummat inilah yang sekarang tidak diyakini oleh pemiliknya.
Maka kita dituntut meyakinkan diri kita dan orang lain akan kebenaran dan
orisinalitas ‘aqidah dan manhajul hayah ini. Kita memerlukan sebuah pola
kepemimpinan yang menghargai capaian teknologi dan mendayagunakan secara
maksimal untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah.

‫ن‬H‫ أ‬H‫آء‬H‫ا ش‬H‫ذ‬K‫ا إ‬H‫ ه‬P‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ ي‬N‫ م‬P‫ ث‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬J‫ ن‬H‫ أ‬P‫ ا ل‬H‫آء‬H‫ا ش‬H‫ م‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ي‬H‫ا ض·ا ف‬H‫ا ع‬³‫ ك‬J‫ل‬P‫ م‬P‫ ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬N‫ م‬P‫ث‬
‫ا‬H‫ه‬H‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ي‬
“Kemudian akan ada raja yang menggigit, maka terjadilah apa yang Allah
kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia menghendaki
untuk mengangkatnya.”
Fase kehidupan ummat Islam yang ketiga ini dikuasai oleh raja yang menggigit.
Ia datang silih berganti dengan sebutan yang berbeda-beda. Yang paling awal
adalah Dinasti Umaiyah, kedua Dinasti Abasiyah dan ketiga Dinasti
Utsmaniyah yang berakhir pada tahun 1924. Sekitar 13 abad ummat Islam di
bawah kekuasaan raja-raja yang menggigit ini (mulkan ‘adhdhan).
Pada masa ini para khalifah disebut raja, karena secara formal menjabat
khalifah tetapi pada dataran operasional pola pemerintahannya menerapkan
sistem kerajaan.5 Kepemimpinan bukan dilahirkan oleh syura tetapi diwariskan
kepada keluarga dekat kerajaan, anak keturunannya.
Disebut “raja yang menggigit” karena masih menggigit Kitabullah dan Sunnah
Rasul, tetapi hampir-hampir lepas. Dan pada akhirnya lepas juga pada tahun
1924 dengan munculnya Dewan Nasional Turki oleh Mustafa Kamal Attaturk
(Bapak Bangsa Turki). Namun, para ulama’ yang istiqamah menggelarinya
dengan Mustafa Kamal A’da’ut Turk (Musuh Bangsa Turki). Inilah masa
keruntuhan dan keterpurukan ummat Islam. Dunia Islam laksana kebun yang
penuh tanaman subur dan bunga-bunga yang indah, tetapi tanpa pagar
pelindung dan penjaga kebun yang bertanggung jawab.
Kondisi ini sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa
sallam, “Kamu sekalian akan dijarah beramai-ramai oleh ummat-ummat
manusia seperti halnya santapan yang dikerumuni orang-orang lapar. Karena
kamu semuanya ibarat buih, jumlahnya banyak tetapi tidak berkualitas”.
Sebelum tahun 1924, sekalipun kendali kekuasaan dipegang oleh “raja yang
menggigit”, tetapi ummat Islam masih memiliki payung dan pusat komando
(al-imamah al-‘uzhma) di Turki. Dalam dokumen sejarah dicatat, para penguasa
negeri-negeri muslim di seluruh dunia selalu mengadakan korespondensi
dengan pusat kekuasaan di Turki. Pada akhir abad ke-20, panglima Fatahilah
sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, beliau singgah untuk belajar di
Akademi Militer di Turki. Sekembalinya ke Nusantara beliau bisa memukul
mundur pasukan penjajah Portugis.
Lalu, Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam meneruskan sabdanya :

‫ا‬H‫ه‬H‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ أ‬H‫اء‬H‫ا ش‬H‫ذ‬K‫ا إ‬H‫ه‬P‫ع‬H‫ف‬J‫ير‬H N‫ثم‬P ‫ن‬


H J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫اء‬H‫ا ش‬H‫ م‬P‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ت‬H‫ي·ا ف‬K‫ر‬H‫ب‬H‫ا ج‬³‫ك‬J‫ل‬P‫ن م‬
P J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬N‫م‬P‫ث‬
“Kemudian akan ada (pemegang) kekuasaan yang diktator, maka terjadilah
apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala
Allah menghendaki untuk mengangkatnya.”
Masa keempat perjalanan sejarah ummat Islam ini mengalami krisis
kepemimpinan. Ummat Islam dari segi kuantitas tergolong besar, tetapi mereka
laksana sampah, makna lain dari gutsaa’ (buih), menurut pakar hadits Dr. Daud
Rasyid. Mereka bukan berkumpul tetapi berkerumun. Mereka mayoritas, tetapi
hati-hati individu mereka tercabik-cabik oleh paham kedaerahan (nasionalisme)
yang sempit, madzhab, aliran keagamaan dan kepentingan. Kehadirannya tidak

5
Al-Khilafah wal Muluk (Kekhilafahan dan Kerajaan), karya Abul A’la al-Maududi.
menggenapkan dan kepergian-nya tidak mengganjilkan. Mereka diperebutkan
untuk dijadikan mangsa binatang buas.
Pada periode ini, jangankan sepakat untuk mengangkat isu-isu besar penegakan
Daulah Islamiyah, penentuan awal Ramadhan dan Idul Fithri saja tidak
menemukan kata sepakat. Di tengah-tengah mereka tidak ada wasit (penengah)
yang dipercaya untuk mengambil keputusan yang disepakati oleh semua
komponen umat ini. Tubuh ummat Islam tercabik-cabik oleh perpecahan
internal. Energi mereka habis untuk ghibah, namimah, hasud, dendam, terhadap
kawannya sendiri. Sehingga terlambat dalam merespon perubahan-perubahan
yang terjadi di sekelilingnya (dhu’ful istijabah lil mutaghayyirat).
Setelah tahun 1924, dunia memasuki perang dunia I, II dan Perang Dingin
antara Blok Timur versus Blok Barat (syarqiyyah wa gharbiyyah). Tetapi,
rentetan peristiwa diatas hanyalah muqaddimah tampilnya mulkan jabariyyan
(raja diktator) berskala global. Setelah tahun 1990, tidak ada lagi dua kubu di
pentas kehidupan global. Yaitu pasca runtuhnya Tembok Berlin di Jerman.
Hegemoni raja diktator internasional mulai menampakkan eksistensinya,
bermarkas di Gedung Putih (al-bait al-abyadh), dan didukung oleh kroni-
kroninya yang tergabung dalam negara G7 : Inggris, Perancis, Jerman, Jepang,
Italia, Kanada dan Rusia.
Tidak ada pemimpin yang mangkat (baca: naik ke tampuk kekuasaan) di
belahan dunia ini selain dalam hegemoni raja diktator dunia, kecuali yang
dirahmati oleh Allah. Mereka yang bersebarangan dengan kemauan penguasa
diktator dunia akan berjalan tertatih-tatih. Mereka memiliki tangan-tangan dan
kaki-kaki di semua kepingan bumi ini. Bahkan belakangan ini ada upaya
sistematis untuk memecah keutuhan bangsa, dengan fenomena Papua dan Aceh.
Pihak-pihak yang masih getol mempertahankan keutuhan NKRI disingkirkan
oleh orang nomer satu di negeri ini dari panggung kekuasaan.
Prinsip pergantian zaman ini penting diketahui agar kita menyadari di kurun
mana kita ini sedang berada. Ternyata kita berada pada titik nadir kelemahan
ummat ini. Kita tidak terlalu berharap kemana pun dan kepada siapa pun. Siapa
pun yang tampil memegang tampuk kepemimpinan di dunia pasti mendapat
SIM (Surat Izin Mangkat) dari hegemoni malikun jabbar. Marilah kita bangun,
bangkit, memperbaharui komitmen kita karena kita mengalami masa yang tidak
sederhana. Kita bergerak pada kurun yang tidak mudah.
Saatnya kita bangun untuk menyongsong masa terakhir dari perjalanan sejarah
ummat Islam yaitu masa khilafah ‘ala manhajin nubuwwah. Karena kita yakin
bahwa kepemimpinan raja diktator ada masa akhirnya. Kebatilan, sekalipun
dipagari oleh kekuasaan yang kokoh akan segera hilang. Lebih-lebih saat ini
mereka mengadakan konspirasi global untuk menghancur-kan pusat syiar-syiar
Islam. Sesungguhnya mercusuar Islam (baca: Tanah Suci Makkah) itu adalah
milik-Nya. Dia sendiri yang akan menjaganya dari tangan-tangan jahil.

(‫ )رواه احمد ابوداود و الترمذي‬K‫وة‬N P‫ ال̄نب‬K‫اج‬H‫ه‬J‫ن‬K‫ى م‬H‫ل‬H‫ ع‬³‫ة‬H‫ف‬H‫ل‬K‫ن خ‬


P J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬N‫م‬P‫ث‬
“Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj nubuwah (metode kenabian).”
(HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmudzi).
Persoalan yang esensial bagi kita bukan terletak pada kapan terjadinya khilafah
atas metode kenabian itu. Sebab, masa itu akan terjadi pada masa kita atau
kemungkinan pada zaman keturunan kita. Hadits ini adalah prediksi nubuwwah,
bukan ramalan ahli nujum dan para normal. Kita tidak bangkit pun prediksi
Nabi itu pun akan terjadi. Kita sekarang perlu mempersiapkan diri sebagai
elemen perubah dan pencabut sang diktator dunia. Dengan cara konsisten;
istiqamah, mudawamah wal istimrar (berkesinambungan) melaksanakan
tahapan amal Islami (maratibul ‘amal Islami) merujuk tahapan turunnya wahyu
Al Quran.
Yaitu, memperbaiki akidah (ishlahul ‘aqidah), melaksanaan syariat (tathbiqusy
syari’ah), memperbaiki akhlak (ishlahul akhlaq), melaksanakan dakwah dan
harakah (‘amalu ad-da’wah wal harakah) serta memperbaiki kualitas jama’ah
(binaul jama’ah).
Pada akhirnya kita perlu bangkit untuk mewujudkan agenda-agenda penting
dakwah diatas. Agar kita aman dan lulus dari Mahkamah Ilahi kelak. Kita
berupaya menyadarkan sebanyak mungkin manusia agar menjadi batu bata
dakwah (asy-sya’bu qawaa-idud da’wah). Sekalipun kita tidak sadar, tidak
bangun, tidak bergerak, fenomena kebangkitan ummat Islam itu pasti terwujud,
dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Berita gembira kemenangan Islam


1) Janji Allah kepada orang beriman

‫ا‬H‫ م‬H‫ ك‬K‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ ف ي‬J‫م‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ف‬K‫ل‬J‫خ‬H‫ت‬J‫ س‬H‫ي‬H‫ ل‬K‫ات‬H‫ح‬K‫ال‬H‫وا ال ص‬P‫ل‬K‫م‬H‫ع‬H‫ و‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ ن‬J‫ذي‬K N‫ ال‬P‫ ا ل‬H‫د‬H‫ع‬H‫و‬
‫د‬J‫بع‬H J‫ن‬K‫ م‬J‫م‬P‫ه‬N‫ن‬H‫دل‬S H‫يب‬P H‫ل‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬H‫ى ل‬H‫ض‬H‫ت‬J‫ي ار‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫م‬P‫ه‬H‫ين‬J K‫ د‬J‫م‬P‫ه‬K‫ ل‬N‫نن‬H S‫ك‬H‫م‬P‫ي‬H‫ل‬H‫ و‬J‫م‬K‫ه‬K‫بل‬J H‫ ق‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ف‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ت‬J‫اس‬
‫ه م‬P H‫ ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫أ‬H‫ ف‬H‫ ك‬K‫ذل‬H H‫د‬J‫بع‬H H‫ر‬H‫ف‬H‫ ك‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ا و‬³‫ئ‬J‫شي‬
H J‫ ي‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ك‬K‫ر‬J‫ش‬P‫ ي‬H‫ ل‬J‫ ي‬K‫ن‬H‫ون‬J P‫د‬P‫ب‬J‫يع‬H ‫ا‬³‫ ن‬J‫م‬H‫ أ‬J‫ م‬K‫ه‬K‫ف‬J‫و‬H‫خ‬
(55 : ‫ )النور‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬K‫س‬H‫ف‬J‫ال‬
“Dan Allah telah berjanji kepada orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka
agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS an-
Nuur : 55).
Menurut Ibnu Katsir, ini adalah janji Allah pada Rasul-Nya shalla-llahu 'alaihi
wa sallam, bahwa Allah akan menjadikan ummatnya para pemimpin bumi, atau
pemimpin dan penguasa mereka. Dengan mereka negara akan menjadi aman,
dan manusia tunduk kepada mereka. Dan Allah akan menggantikan ketakutan
mereka menjadi perasaan damai. Terbukti ketika Rasulullah shalla-llahu 'alaihi
wa sallam masih hidup, Allah telah membebaskan Makkah, Khaibar, Bahrain,
seluruh Jazirah Arab, seluruh Yaman, memungut upeti dari Majusi Hajara, dan
dari beberapa daerah Syam, Heraclius raja Romawi memberikan hadiah,
demikian juga Muqauqis penguasa Mesir dan Iskandariah, raja-raja Oman, dan
Najasyi (Negus) raja Abbyssinia (yang nantinya dikuasai oleh sahabat-sahabat
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam).
Kemudian usaha mulia itu diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq
radhiyallahu ‘anhu. Ia menjadikan jazirah Arab sebagai pusat kekuatan Islam.
Kemudian mengirim tentaranya ke Parsi di bawah kepemimpinan Khalid bin
Walid radhiyallahu ‘anhu, dan mampu membebaskan daerah itu. Kemudian
mengirim tentara kedua, di bawah komando Abu Ubaidah bin al-Jarrah
radhiyallahu ‘anhu menuju Syam, dan ketiga dibawah komando ‘Amru bin
‘Ash radhiyallhu ‘anhu menuju Mesir. Pada masa itu, Syam, Bashrah, dan lain-
lain dibebaskan.
Kemudian disempurnakan oleh khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Tiada dalam sejarah setelah Nabi-nabi, orang yang sepadan dalam kekuatan
sirahnya dan keadilannya dengan al-Faruq ini. Pada zaman ini seluruh Syam,
Mesir, sebagian Parsi dibebaskan. Kishra dihinakan, kekuasaan Caesar di negeri
Syam direbut. Kemudian ia menginfakkan harta Kishra dan Caesar untuk
sabilillah. Hal ini sesuai dengan janji Allah kepada Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa
sallam.
Pada zaman Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu kekuasaan Islam telah
sampai ke penjuru timur dan barat dunia. Negeri-negeri Maghrib dapat
dibebaskan hingga Cina. Kishra terbunuh dan kerajaannya habis riwayatnya.
Kota-kota Irak, Khurasan dan Ahwaz dapat ditundukkan, sehingga kharaj
(pajak tanah) dari penjuru timur dan barat dikumpulkan ke hadapan khalifah
Utsman. Berkat bacaannya, kajian dan menyatukan ummat untuk memelihara
al-Quran. Dalam hadits shahih, Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :

‫ى‬H‫و‬H‫ا ز‬H‫ م‬J‫ي‬K‫ت‬N‫م‬P‫ أ‬H‫ك‬J‫ل‬P‫ م‬P‫غ‬P‫بل‬J H‫ي‬H‫س‬H‫ا و‬H‫ه‬H‫ب‬H‫ار‬H‫غ‬H‫وم‬H ‫ا‬H‫ه‬H‫ق‬K‫ار‬H‫ش‬H‫ م‬P‫ت‬J‫ي‬H‫أ‬H‫ر‬H‫ ف‬H‫ض‬J‫لر‬
H J‫ ا‬J‫ي‬K‫ى ل‬H‫و‬H‫ ز‬H‫ ال‬N‫ن‬K‫إ‬
‫ا‬H‫ه‬J‫ن‬K‫ م‬J‫ي‬K‫ل‬
“Allah telah memperlihatkan kepadaku bagian timur dan barat bumi, dan
kekuasaan umatku akan mencakup seluruh wilayah yang aku lihat ini.”
2) Allah akan mendatangkan kaum yang Dia cintai
Berita gembira disebutkan dalam surat al-Maidah, mengancam orang-orang
murtad yang keluar dari agama. Mereka tidak akan mengganggu agama Allah,
dan agama Allah tidak akan runtuh dengan kemurtadan mereka. Allah akan
mendatangkan generasi mukmin yang kuat, yang membasmi kekafiran. Mereka
menegakkan agama dalam jiwa mereka sebagai ikatan yang kuat – bahkan
ikatan cinta – antara mereka dengan Tuhan mereka, ikatan kasih sayang sesama
saudara seiman, ikatan kemuliaan dan kekuatan terhadap orang-orang kafir, dan
ikatan perjuangan dan jihad terhadap orang yang berbuat munkar. Semua ini
adalah sifat-sifat pokok yang dijelaskan dalam al-Quran untuk memberikan
kabar gembira kepada orang-orang beriman, dan mengancam orang-orang
murtad.

‫ه‬H‫ن‬J‫̄بو‬K‫ح‬P‫ي‬H‫ و‬J‫م‬P‫̄به‬K‫ح‬P‫ ي‬m‫م‬J‫و‬H‫ق‬K‫ ب‬P‫ ال‬K‫تي‬J‫أ‬H‫ ي‬H‫ف‬J‫و‬H‫س‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫ين‬J K‫ د‬J‫ن‬H‫ ع‬J‫م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫د م‬N H‫ت‬J‫ر‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ا م‬J‫نو‬P H‫ آم‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ا ال‬H‫آ̄يه‬H‫ي‬
‫ن‬J‫و‬P‫اف‬H‫خ‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬K‫ ا ل‬K‫ل‬J‫بي‬K H‫ س‬K‫ ف ي‬H‫ ن‬J‫و‬P‫د‬K‫اه‬H‫ج‬P‫ ي‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اف‬H‫ك‬J‫ى ال‬H‫ل‬H‫ ع‬m‫ة‬N‫ز‬K‫ع‬H‫ أ‬H‫ ن‬J‫ني‬K K‫م‬J‫ؤ‬P‫لم‬J‫ى ا‬H‫ل‬H‫ ع‬m‫ة‬N‫ل‬K‫ذ‬H‫أ‬
(54 : ‫ )المائدة‬m‫ئم‬K H‫ ل‬H‫ة‬H‫م‬J‫و‬H‫ل‬
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut
terhadap orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang
suka mencela” (QS Al Maidah : 54).
Ibnu Katsir berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan akan tibanya
kekuasaan yang besar. Barangsiapa yang tidak mau menolong agama Allah dan
menjalankan syariat-Nya, maka Dia akan menggantikan mereka dengan orang-
orang yang lebih baik dari mereka, lebih kuat, lebih lurus, teguh pendirian”.

(38 : ‫ )محمد‬J‫م‬P‫ك‬P‫ال‬H‫ث‬J‫م‬H‫ا أ‬J‫نو‬P J‫و‬P‫ك‬H‫ ي‬H‫ ل‬N‫ثم‬P J‫م‬P‫ك‬H‫ر‬J‫ي‬H‫ا غ‬³‫م‬J‫و‬H‫ ق‬J‫ل‬K‫بد‬J H‫ت‬J‫يس‬H ‫ا‬J‫و‬N‫ل‬H‫و‬H‫تت‬H J‫ن‬K‫إ‬H‫و‬
“Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum
yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS Muhammad : 38).

(133 : ‫ )النساء‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬H‫خ‬H‫أ‬K‫ ب‬K‫ت‬J‫يأ‬H H‫ و‬P‫اس‬N‫ا الن‬H‫̄يه‬H‫ أ‬J‫م‬P‫بك‬J K‫ه‬J‫يذ‬P J‫أ‬H‫يش‬H J‫ن‬K‫إ‬


“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu wahai manusia,
dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu).” (QS an-Nisa’ :
133).

‫د‬J‫ي‬K‫د‬H‫ ج‬m‫ق‬J‫ل‬H‫خ‬K‫ ب‬K‫ت‬J‫يأ‬H H‫ و‬J‫م‬P‫ك‬J‫ب‬K‫ذه‬J ‫ي‬P J‫أ‬H‫ش‬H‫ ي‬J‫ن‬K‫ إ‬S‫ق‬H‫ح‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫وا‬H K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ الس‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬H‫ ال‬N‫ن‬H‫ أ‬H‫تر‬H J‫م‬H‫ل‬H‫أ‬
(20-19 : ‫)إبراهيم‬
“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan
menggantikanmu dengan makhluq yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali
tidak sukar bagi Allah.” (QS Ibrahim : 19-20).
Ketika menafsirkan ayat,

m‫م‬K‫لئ‬
H H‫ة‬H‫وم‬J H‫ ل‬H‫ن‬J‫و‬P‫اف‬H‫خ‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬K‫ ال‬K‫ل‬J‫بي‬K H‫ س‬K‫ في‬H‫ن‬J‫و‬P‫د‬K‫اه‬H‫ج‬P‫ي‬
“Mereka berjihad di jalan Allah dan mereka tidak takut celaan orang yang
suka mencela.”
Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya ketaatan kepada Allah, pelaksanaan hudud,
memerangi musuh Allah, dan amar ma’ruf nahi munkar, tidak terpengaruh dan
terhalangi oleh siapapun. Mereka tidak gulana atas kecaman yang mereka
dapatkan dari orang-orang yang bodoh.”
Ibnu Katsir menyebutkan hadits dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, yang
diriwayatkan Imam Ahmad, “Kekasihku – Rasulullah – menyuruhku untuk
menjalankan tujuh hal.” Kemudian beliau menyebutkan antara lain,
“Rasulullah menyuruhku mengatakan kebenaran meskipun itu pahit, dan
menyuruhku agar tidak takut terhadap cercaan orang yang mencerca.”6
3) Kabar gembira dari Sunnah Nabi

‫ه‬H‫ل‬H‫خ‬J‫د‬H‫ل أ‬
N K‫بر’ إ‬€ ‫و‬€ €‫ول‬€ ’‫د„ر‬€‫ م‬€‫ „يت‬€‫ ب‬P‫ ا ل‬P‫ ك‬P‫ر‬J‫يت‬H ‫ل‬
H P‫ار‬H‫نه‬N ‫ال‬H‫ و‬P‫يل‬J N‫ الل‬H‫ غ‬H‫ل‬H‫ا ب‬H‫ م‬H‫ر‬J‫م‬H‫ل‬J‫ا ا‬H‫هذ‬H N‫ ن‬H‫غ‬P‫ل‬J‫ب‬H‫ي‬H‫ل‬
‫ب ه‬K P‫̄ل ا ل‬K‫ذ‬P‫ل ي‬ · ‫ذ‬P H‫ و‬H‫م‬H‫ل‬J‫ س‬K‫ل‬J‫ ا‬K‫ب ه‬K P‫̄ز ا ل‬K‫ع‬P‫عز·ا ي‬
K m‫ل‬J‫ي‬K‫ذل‬H S‫ذل‬P K‫ ب‬J‫و‬H‫ أ‬m‫ز‬J‫ي‬K‫ز‬H‫ ع‬S‫ز‬K‫بع‬K H‫ي ن‬J S‫ا الد‬H‫ذ‬H‫ه‬
(‫ )رواه أحمد فى مسنده‬H‫ر‬J‫ف‬P‫ك‬J‫ال‬
“Islam akan mencapai wilayah yang dicapai siang dan malam. Allah tidak
akan membiarkan rumah yang mewah maupun yang sederhana kecuali akan
memasukkan agama ini ke dalamnya. Dengan memuliakan oarng yang mulia
atau menghinakan orang yang hina. Mulia karena dimuliakan Allah
disebabkan keIslamannya dan hina karena dihinakan Allah disebabkan
kekafirannya.” (HR. Ahmad dalam Musnad).
Maksud sampainya Islam ke daerah yang disentuh siang dan malam, yaitu
tersebarnya Islam ke seluruh permukaan bumi, sebagaimana siang dan malam
menutupinya, dan masuknya agama ini ke daerah perkotaan maupun
pedesaan.

‫ه‬K‫ر‬H‫ك‬J‫و‬H‫ول‬H K‫ ه‬S‫ل‬P‫ ك‬K‫ي ن‬J S‫ى الد‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ ه‬H‫ر‬K‫ه‬J‫ظ‬P‫ي‬K‫ ل‬S‫ ق‬H‫ح‬J‫ ال‬K‫ي ن‬J K‫د‬H‫ى و‬H‫د‬P‫ه‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫ه‬H‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬H‫ل‬H‫ س‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫و‬P‫ه‬
(33 : ‫ )التوبة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬K‫ر‬J‫ش‬P‫م‬J‫ال‬
“Dia lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk (al-
Quran) dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya diatas segala agama.”
(QS at-Taubah : 33).7
Pengertian lafazh “liyuzh-hirahu ‘alad-diini kullihi” ialah dominasinya atas
semua agama. Pada abad-abad pertama, Islam mengungguli Yahudi, Nasrani,
paganisme Arab, Majusi Persia, dan sebagian agama-agama Asia-Afrika. Akan
tetapi, Islam belum menang atas semua agama. Kita masih menunggu berita
gembira ini, dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Dan masih banyak lagi berita gembira meluasnya kemakmuran, kembalinya
khilafah atas manhaj nubuwwah, bertahannya kelompok kebenaran, datangnya
pembaharu setiap abad, turunnya al-Masih, datangnya al-Mahdi, kemudian
fenomena kebangkitan kesadaran beragama di kawasan-kawasan yang selama
ini menjadi pusat kekufuran, dan populasi ummat Islam yang semakin
bertambah. Hal ini dapat dilihat pada jumlah jamaah haji dari tahun ke tahun
yang terus bertambah, berasal dari daerah yang selama ini tidak mengenal
Islam, dsb.

6
Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 67-68.
7
Lihat juga: al-Fath : 28; ash-Shaff : 9
Sumber daya manusia (al-wasa’il ghairul maddiyah ‘indal muslimin)
Saat ini jumlah ummat Islam di dunia berkisar 1/4 milyar penduduk. Tersebar di
lima benua. Benar, pandangan orang yang mengatakan, yang lebih penting
adalah kualitas. Tetapi kuantitas memiliki kepentingannya sendiri, sampai
mencapai jumlah dimana musuh kesulitan menghancurkannya.
Sesungguhnya jumlah yang besar adalah nikmat. Ia adalah syarat mutlak
terhadap semua prestasi ekonomi atau peradaban. Apabila jumlah jamaah shalat
fardhu sepadan dengan jumlah shalat Jum’ah adalah diantara tanda-tanda
kebangkitan ummat. Meskipun gelombang politik Islam bersifat fluktuatif,
tetapi jumlah penduduknya – secara global – tidak pernah berkurang. Islam
ibarat air, senantiasa mencari tempat yang rendah untuk mengalir.
Bangsa-bangsa di dunia berusaha keras mengurangi populasi kaum muslimin.
Mereka membuat blok-blok (persekutuan) di antara mereka, walaupun terdapat
perbedaan yang tajam dalam ras, bahasa, agama dan sejarah. Jumlah yang besar
adalah anugerah yang patut disyukuri.

(86 : ‫ )العراف‬J‫م‬P‫ك‬H‫ثر‬N H‫ك‬H‫ ف‬³‫ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ ق‬J‫م‬P‫نت‬J P‫ذ ك‬J K‫ا إ‬J‫و‬P‫ر‬P‫ك‬J‫اذ‬H‫و‬


“Dan ingatlah ketika kalian sedikit lalu Allah membanyakkan (jumlah) kalian.”
(QS al-A’raf : 86).

Sumber daya alam (al-wasa’il al-maddiyah ‘indal muslimin)


Kita memiliki barang tambang dan kekayaan sumber daya alam yang terpendam
di perut bumi dan di dasar lautan. Ini adalah kekuatan ekonomi. Sesuatu yang
tidak dimiliki ummat lain. Tanah kita subur dengan daratan rendah dan oase-
oase. Kita memiliki bukit-bukit, gunung-gunung, lautan, teluk, sungai-sungai
besar, sumber-sumber mata air, sumur-sumur, cadangan penyimpanan air tanah
dan tambang-tambang yang penting yang dibutuhkan oleh dunia. Kita memiliki
cadangan minyak terbesar di dunia. Sumber-sumber kekayaan alam itu berada
di kawasan Teluk, Aljazair, Brunei Darussalam, Indonesia, bahkan di wilayah-
wilayah muslim bekas Uni Soviet dan yang masuk ke dalam RRC, ditemukan
sumber-sumber minyak.
Letak geografis kita memiliki nilai penting. Tempat pertemuan benua-benua,
sumber-sumber peradaban dan tempat lahirnya risalah-risalah langit; Yahudi,
Nasrani dan Islam. Memang Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan
energi material dan immaterial untuk membantu kaum muslimin, membangun
dan memanfaatkan untuk menegakkan agama-Nya, sekaligus memadamkan
berbagai pemberontakan terhadap Islam di berbagai penjuru dunia.

Warisan sejarah (khubratun min at-tarikh)


Islam pada masa lampau telah berjaya memegang kendali peradaban lebih dari
tujuh abad. Belum pernah ada satu agama maupun ideologi yang mampu
mengembangkan peradabannya melebihi Islam. Peradaban Barat pun hari ini
baru berumur kurang lebih 450 tahun. Itupun telah terjadi krisis akhlak dan
material. Jika kaum muslimin pada masa lampau mampu menguasai peradaban,
tentu bisa juga untuk mengendalikan masa depan, bi-idznillah.
δφ
‫توجيه المجدد‬

‫معرفة الدقيق‬ ‫أزمة المشاعر عن عظمة‬


Memahami ‫الدين‬
Islam scr detil Krisis perasaan akan
keagungan Islam

‫السباب‬
‫اليمان العميق‬ ‫أزمة العتزاز بالسلم‬ ‫الرئيسي‬
‫حل‬ ‫لزمات‬
Membangun Krisis kebanggaan
iman mendalam ‫الزمات‬ beragama ‫المسلمين‬
AKAR KRISIS
UMAT ISLAM

‫التصال‬ ‫عدم المل بتأييد ال‬


‫الوثيق‬ Kehilangan harapan thd
Mewujudkan pertolongan Allah
solidaritas kokoh
BAB II
‫د‬u‫توجيه المجد‬
ARAHAN PEMBAHARU

Akar krisis ummat Islam (al-asbab ar-ra’isi li azmaat al-muslimin)


Berbagai krisis yang menimpa kaum muslim sekarang ini merupakan akumulasi
dari berbagai krisis sebelumnya, yang dimulai sejak format ketatanegaraan
berbentuk khilafah (Islami) berubah menjadi format muluk (kerajaan, jahili).
Al-Quran menjelaskan secara global bahwa krisis multidimensi itu terjadi
karena berpaling dari ketentuan Allah.8 Makna ayat ini, barangsiapa yang
berpaling dari syariat dan hukum-hukum Allah maka akan menemui kehidupan
yang serba-sulit (ma’isyatan dhonkaa) di dunia, sangat menderita, sekalipun
secara lahiriyah sejahtera.9
Berkata Ibnu Katsir, “Barangsiapa berpaling dari ketetapan Allah dan
melupakannya, maka baginya kehidupan yang sempit di dunia (ma’isyatan
dhonkaa), tiada ketenangan maupun kelapangan dada, bahkan merasakan
kesempitan hidup disebabkan kesesatannya sekalipun secara lahiriyah makmur,
bisa berpakaian, makan, bertempat tinggal sesuka hatinya. Tetapi jiwanya
goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.10 Ada yang berpendapat
disempitkan liang lahatnya nanti sehingga tulang rusuknya berselisih.
Dalam hadits riwayat Imam ath-Thabrani dari Ibnu Abbas dijelaskan bahwa
penyebab terjadinya berbagai krisis, adalah diawali oleh krisis kepribadian
(basic of knowing) dengan mudah mengobral janji, krisis keimanan dengan
menolak ber-tahkim dengan hukum Allah, krisis moral ditandai dengan
merajalelanya praktek perzinaan, perkosaan, pergaulan bebas, pornografi,
praktek aborsi, dan gaya hidup materialistik yang berindikasi dengan mental
hedonistik, meghalalkan segala cara ketika memperoleh kekayaan serta
keengganan untuk berzakat. Kemudian Allah menurunkan musibah penguasa
yang zhalim, harga-harga kebutuhan pokok membumbung tinggi, musibah
kemiskinan struktural, penyakit AIDS mewabah, manusia menjadi individualis,
terjadi bencana alam di mana-mana.
Para pembaharu mengidentifikasi penyebab krisis integritas ummat tersebut,
diawali dari kesempitan batin (azmat al-masya’ir), kemudian melahirkan
kesempitan dalam berbagai bidang kehidupan; kemudian menawarkan
alternatif-alternatif pemecahannya secara fundamental dan menyeluruh.
Pertama, krisis perasaan terhadap keagungan Islam (azmat al-masya’ir ‘an
‘azhamatil Islam).
Ummat Islam sekarang tidak meyakini secara bulat (100%) bahwa Islam adalah
solusi mendasar dalam mengantisipasi persoalan individu, keluarga dan
8
QS Thaha : 124.
9
Shafwatut Tafasir II, hal. 250.
10
Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 497.
masyarakat. Berbagai bentuk penyelesaian yang ditawarkan oleh syariat
sekalipun baru pada tataran wacana cenderung disalahpahami. Mereka masih
ragu bahwa Islam adalah ketetapan dari Allah Yang Maha ‘Alim yang bisa
mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Yakni yang memberi
gairah dan arti hidup,11 yakni seruan kepada iman yang bisa menghidupkan
jiwa.12 Imam Qatadah mengatakan, yaitu ajakan kepada al-Quran yang
mengadung kehidupan, kejujuran, keselamatan, kesucian di dunia dan akhirat13
dan menjamin kebahagiaan hidup di akhirat.14
Dalam berinteraksi dengan Islam, ummat Islam lebih mendahulukan akal
daripada hati. Karena merasa memiliki keunggulan lebih daripada Allah. Persis
sikap Iblis ketika memperoleh perintah dari Allah untuk memberi hormat
kepada Adam, ia berargumen bahwa perintah Allah tersebut tidak logis, tekstual
(literal) dan normatif. Dia enggan mentaati-Nya, seraya menyombongkan diri
dengan cara membanggakan asal-usul.15 Pasca suksesi di surga, syetan
memohon izin kepada Allah untuk menggoda anak cucu Adam dari arah
belakang, muka, kanan dan kiri, sehingga manusia menjadi makhluk yang tidak
pandai bersyukur.16
Imam ath-Thabari17 ketika menafsirkan ayat ini menerangkan bahwa godaan
“dari muka” adalah godaan tentang persepsi dunia, agar manusia menjadi
serakah, mencari dunia dengan menghalalkan segala cara, akhirnya menjadi
hamba materi bukan hamba Allah. Godaan “dari belakang” adalah godaan
tentang kehidupan akhirat, agar melupakannya. Godaan “dari sebelah kanan”
adalah godaan terhadap kebenaran, agar manusia ragu-ragu kepadanya. Godaan
“dari arah kiri” berupa godaan kebatilan agar manusia cenderung kepadanya;
kecuali hamba-Nya yang masih ikhlas, hanya berorientasi ke bawah (sujud) dan
atas (Allah). Arah “bawah” dan “atas” ini tidak bisa dimasuki oleh syetan.18
Kemudian Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa untuk
menghadapi dua godaan terakhir.

P‫ه‬H‫اب‬H‫ن‬K‫ت‬J‫ا اج‬H‫ن‬J‫ق‬P‫ز‬J‫ار‬H‫ و‬³‫ل‬K‫اط‬H‫ ب‬H‫ل‬K‫اط‬H‫ب‬J‫ا ال‬H‫ن‬K‫ر‬H‫وأ‬H P‫ه‬H‫اع‬H‫ب‬S‫ا ات‬H‫ن‬J‫ق‬P‫ز‬J‫ار‬H‫ق·ا و‬H‫ ح‬N‫ق‬H‫ح‬J‫ا ال‬H‫ن‬K‫ر‬H‫ أ‬N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ا‬
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami al haq itu yang benar dan karuniakanlah
kepada kami (kekuatan) untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami
kebatilan itu kebatilan, dan berilah (kekuatan) kepada kami untuk
menjauhinya”
Persepsi ummat Islam terhadap Islam telah terkontaminasi oleh paham
feodalisme pada abad pertengahan dengan menampilkan kesombongan;

11
QS al-Anfal : 24.
12
Shafwatut Tafasir I, hal. 500.
13
Tafsir ath-Thabari, juz 13, hal. 468.
14
QS Yunus : 64.
15
QS al-A’raf : 11, Shaad : 76.
16
QS al-A’raf : 17.
17
Tafsir ath-Thabari, juz 5, hal. 446.
18
QS al-Hijr : 40. Lihat: Shafwatut Tafasir II, hal. 110.
kapitalisme yang melahirkan keserakahan; dan sosialisme yang membuahkan
kedengkian.

‫م‬H‫ آد‬N‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬H‫ ص‬J‫ر‬K‫ح‬J‫ال‬H‫ و‬J‫ م‬P‫اك‬N‫ي‬K‫إ‬H‫ و‬H‫ م‬H‫لد‬K H‫د‬P‫ج‬J‫ س‬H‫ ي‬N‫ل‬H‫ أ‬P‫بر‬J K‫ك‬J‫ ال‬P‫ ه‬H‫ل‬H‫م‬H‫ ح‬H‫ي س‬J K‫ل‬J‫ب‬K‫ إ‬N‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬H‫ر‬J‫ب‬K‫ك‬J‫ال‬H‫ و‬J‫ م‬P‫اك‬N‫ي‬K‫إ‬
‫ا‬H‫ م‬P‫ده‬P H‫ح‬H‫ أ‬H‫ل‬H‫ت‬H‫ ق‬H‫د م‬H ‫ آ‬H‫ ي‬H‫بن‬J ‫ ا‬N‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬H‫د‬H‫ س‬H‫ح‬J‫ال‬H‫ و‬J‫ م‬P‫اك‬N‫ي‬K‫إ‬H‫ و‬H‫ة‬H‫ر‬H‫ج‬H‫ الش‬H‫ل‬H‫ آك‬J‫ ن‬H‫ى أ‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ ص‬J‫ر‬K‫ح‬J‫ ال‬P‫ ه‬H‫ل‬H‫م‬H‫ح‬
‫ )رواه ا بن ع ساكر عن ا بن م سعود ر ضي‬m‫ة‬H‫ئ‬J‫ي‬K‫ط‬H‫ خ‬S‫ل‬P‫ ك‬P‫ل‬J‫ ص‬H‫ أ‬N‫ه ن‬P ‫ا‬³‫د‬H‫ س‬H‫ ح‬H‫ر‬H‫لخ‬J‫ا‬
(‫ال عنه‬
“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa
sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar
bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-
hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-
hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa
ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua
putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh
saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala
kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru
al-Ahadits).
Sangat kontradiktif dengan sikap para salafus shalih, ketika berinteraksi dengan
firman Allah maka sikap yang menonjol adalah tashdiq (membenarkan) dan
taslim (berserah diri), kepatuhan (submission), ketaatan (obedience).19
Mereka memahami bahwa Islam adalah manhaj al-hayat, acuan dan kerangka
tata kehidupan. Mencakup kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara
dan hubungan intenasional. Islam tidak sekedar landasan etis, tetapi ajaran yang
aplikatif dalam berbagai aspek kehidupan. Islam bukan ajaran yang teoritis yang
memadati pikiran, tidak mengajarkan hal-hal yang tak bisa dicapai manusia,
tapi menerima manusia sebagaimana adanya dan mendorongnya untuk
mencapai sesuatu yang bisa digapai.20
Mereka laksana prajurit yang menerima perintah dan tugas harian dari
panglimanya. Tidak ada sikap yang didahulukan kecuali sami’na wa atha’na
(kami mendengar dan kami siap mematuhinya).21
Dalam menyikapi ayat-ayat yang mutasyabihat (belum jelas maknanya) saja
mereka menyerahkan penafsirannya kepada Allah, apalagi berinteraksi dengan
ayat-ayat yang muhkamat (jelas maknanya).22 Hal ini sangat bertolak belakang
dengan paradigma berfikir yang dikembangkan oleh kalangan tertentu, dimana
ayat yang muhkamat saja perlu ditafsirkan supaya lebih kontekstual, lebih-lebih
yang mutasyabihat.
Kedua, krisis kebanggaan dalam ber-Islam (‘azmatu al-i'tizaz bid-diin).

19
QS al-Hujurat : 14-15; al-Anfal : 2. Lihat: Hamudah Abdalati, Islam in Focus,
diterbitkan oleh WAMY.
20
Abul A’la al-Maududi, Prinsip-prinsip Islam.
21
QS al-Baqarah : 285; an-Nuur : 51. Lihat : Sayid Quthb, Ma’alim fith-Thariq.
22
QS Ali Imran : 7. Lihat: al-‘Aqaid, Hasan al-Banna.
Di tengah keberagaman simbol, aliran pemikiran dan isme di era globalisasi
saat ini, ditambah dengan semakin gencarnya peperangan pemikiran (al-ghazwu
al-fikri), telah terjadi tasykik (proses peraguan), taghrib (pembaratan), tajhil
(pembodohan) pada diri muslim terhadap dien-nya sendiri. Pemakaian kalimat
‘ghazw’ disini menunjukkan salah satu pihak yang aktif, lainnya pasif. Al-
ghazw al-fikri, peperangan pemikiran, ditandai dengan gencarnya serangan dari
luar tanpa perimbangan perlawanan dari dalam kaum muslimin. Sedang kalimat
‘harb’ bermakna kedua belah pihak yang bertikai sama-sama aktif bergerak.
Jatidiri Islami yang telah mengakar dalam jiwa kaum muslimin mengalami
degradasi. Misalnya di Indonesia saja kosa kata sirri (Makassar) dari kata
sarirah (jati diri), carok (Madura) dari kata ghirah (cemburu), yang semula
inhern dengan simbol ke-Islaman berangsur-angsur hilang, bahkan kemudian
cenderung mengalami pembelokan makna.23
Dahulu, kaum muslimin Indonesia rela kehilangan nyawa, dan merasa bangga
karena membela kehormatan diri (‘iffah) sekali pun beresiko, sekarang
dihinggapi penyakit dayatsah, banci – meminjam sabda Rasulullah shalla-llahu
'alaihi wa sallam – yaitu, seseorang yang mendiamkan kemunkaran yang
dilakukan oleh keluarganya dengan orang lain. Kaum muslimin sedang
dijangkiti virus wahn (cinta dunia dan takut menghadapi kematian).
Mereka kurang percaya diri, malu menunjukkan bahwa kemuliaan adalah milik
Allah, Nabi-Nya dan orang beriman.24 Mereka tenggelam, terpesona dengan
kebesaran negeri-negeri Eropa dengan paham materialismenya. Mereka lupa
bahwa kaum muslimin lebih unggul dalam persepsi, budaya, adat istiadat, nilai-
nilai di hadapan Allah dari bangsa lain.25
Sejarah mencatat bahwa dunia ini didominasi oleh mereka yang memiliki
keyakinan. Paham materialisme begitu cepat berkembang, karena pembawa
ideologi itu yakin akan keistimewaannya, dan harapan akan jaminan masa
depan. Kini, baru terbukti perkembangan sains dan teknologi yang merupakan
produk paham kebendaan gagal dalam membawa manusia modern menuju
hidup bahagia.26 Tanpa keyakinan dan kebanggaan, muslim modern (al-muslim
al-mu’ashir) akan lemah dalam mempengaruhi dirinya apalagi merespon
tantangan eksternal.
Ketiga, kehilangan harapan akan datangnya pertolongan Allah (‘adamu al-
amal bi-ta’yidillah).
Seringkali kaum muslimin dalam memecahkan persoalan lebih mengedepankan
pendekatan pada aspek organisasi, planning, management, efficiency, dan
teknologi modern. Semua itu baik, tetapi lupa bahwa di balik rekayasa manusia
ada kekuatan transenden yang mendominasi kehidupan ini, yaitu intervensi
Tuhan (tadakhul rabbani), manajemen Ilahi.
23
Prof. Dr. Hamka, Ghirah dan Tantangan Islam.
24
QS al-Munafiqun : 28.
25
QS Ali Imran :139. Lihat: Ru’yatun Islamiyah li Ahwaali al-‘Alami al-Mu’ashir,
karya Muhammad Quthb.
26
Al-Islam Hadharatul Ghaad, karya Dr. Yusuf al-Qardhawi.
Ketika terjadi Perang Badar antara muslim dan kafir, kekuatan material dua
pasukan yang saling berkonfrontasi itu tidak sepadan. Kaum muslimin dalam
posisi lemah, terdiri dari kalangan masyarakat akar rumput, lapar (berpuasa
Ramadhan), peralatan perang seadanya. Semula kaum muslimin hanya ingin
mengambil kembali hak-haknya yang dirampas oleh orang kafir, setelah pulang
dari kafilah dagang. Tetapi Abu Sufyan memilih jalan lain menuju ke Makkah
dan memprovokasi kabilah Quraisy untuk berperang melawan kaum muslimin.
Dengan kelebihan yang melekat pada dari tokoh kafir Makah itu, yakni orator
(pandai berceramah tanpa teks, khuthbah murtajalah), semua elemen
masyarakat Quraisy, tersulut amarahnya kepada komunitas Islam yang sedang
dirintis oleh Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Dalam waktu singkat
bisa terkumpul pasukan 4 kali lipat dari jumlah pasukan Islam.27
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam sendiri sempat mengkhawatirkan
keberlangsungan eksistensi mereka, umat beliau, seperti terlukis dalam doa
yang beliau panjatkan:

‫د‬J‫بع‬H K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ في‬J‫بد‬H J‫ع‬P‫ ت‬J‫ن‬H‫ل‬H‫ ف‬P‫ة‬H‫اب‬H‫ص‬K‫ع‬J‫ ال‬K‫ذه‬K H‫ ه‬J‫ك‬K‫ل‬J‫ه‬H‫ ت‬J‫ن‬K‫ إ‬N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ ا‬P‫ه‬P‫وت‬J H‫ع‬H‫ا د‬H‫ م‬J‫ي‬K‫ ل‬J‫ز‬P‫ج‬J‫ ان‬N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ا‬
‫م‬J‫و‬H‫ي‬J‫ال‬
“Ya Allah, kabulkanlah doaku. Ya Allah sekiranya pasukan ini hancur
terkalahkan, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi setelah
hari ini”.
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam terus berdoa hingga selendangnya
terjatuh dari pundaknya, hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada
beliau, “Demi Allah, wahai Rasulullah, Allah pasti akan menolong dan
mengabulkan doa Anda”. Allah subhanahu wa ta’ala pun berkenan menolong
kaum muslimin dengan kemenangan yang sangat gemilang.28
Berbeda jauh saat kaum muslimin berperang pada Perang Hunain. Ketika itu
mereka membanggakan SDM unggul dan peralatan perang. Karena peperangan
dikomando langsung oleh Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam diikuti oleh
para Sahabat senior. Begitu kepercayaan diri tertanam secara berlebihan, hampir
saja kaum muslimin mengalami kekalahan telak. Kebanggaan material terbukti
tidak berhasil menolong dari kepungan musuh dan merapatkan barisan kaum
muslim.29
Thalut dan ummatnya yang hanya minum seteguk air, sekedar untuk melepas
dahaga, terbukti memiliki kekuatan mental untuk melanjutkan peperangan, dan
dengan izin-Nya, Jalut dan pasukannya berhasil dipukul mundur. Sedangkan
prajuritnya yang minum air sungai secara berlebihan hingga kekenyangan,
ternyata tidak memiliki kesanggupan untuk berperang.30

27
Fiqh as-Sirah, Syekh Muhammad al-Ghazali.
28
QS Ali Imran : 123.
29
QS at-Taubah : 25.
30
QS al-Baqarah : 249.
Demikian pula kekalahan yang sama dialami ummat Islam pada Perang Uhud,
ketika pasukan pemanah tidak disiplin karena terpesona dengan kekayaan
dunia.

‫ )آل‬J‫م‬P‫ك‬K‫س‬P‫نف‬J H‫ أ‬K‫ند‬J K‫ ع‬J‫ن‬K‫ م‬H‫هو‬P J‫ل‬P‫ا ق‬H‫ذ‬H‫ى ه‬N‫ن‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ت‬J‫ل‬P‫ا ق‬H‫ه‬J‫ي‬H‫ثل‬J K‫ م‬J‫تم‬P J‫ب‬H‫ص‬H‫ أ‬J‫د‬H‫̂ة ق‬H‫ب‬J‫ي‬K‫ص‬P‫ م‬J‫م‬P‫ك‬J‫ت‬H‫اب‬H‫ص‬H‫ا أ‬N‫م‬H‫ل‬H‫و‬H‫أ‬
(165 : ‫عمران‬
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa (pada peperangan Uhud), padahal kamu
telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada
peperangan Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’
Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” (QS Ali Imran : 165).

δφ
BAB III
‫ الزمات‬u‫حل‬
SOLUSI ATAS BERBAGAI KRISIS

Mengantisipasi krisis psikologis ummat sebagaimana yang telah dipaparkan


pada awal maudhu’ (tema) ini, perlu diambil langkah-langkah diagnosis
berikut.
Pertama, memahami syariat Islam secara terperinci (al-ma’rifah ad-daqiq ‘an
syari’atil Islam)
Dengan mengilmui syariat Islam, Allah akan memberikan ‘ilmu kasbi (ilmu
yang diperoleh melalui usaha yang tekun) dan ‘ilmu ladunni (ilmu baru yang
didapatkan atas kemurahan Allah). Dengan ilmu yang luas akan mengantarkan
seseorang mampu mengidentifikasi permasalahan kehidupan ummat dan
mencari solusi alternatif. Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman
dan berilmu.31 Posisi manusia lebih tinggi dari makhluk lain, termasuk malaikat,
karena interaksinya dengan ilmu.32
Allah mencela orang yang menuruti hawa nafsu dan tidak mau menggali
potensi-potensi sama’, bashar dan fuad-nya secara maksimal.33 Ibnu Taimiyah
mengatakan kebodohan adalah musibah kematian sebelum meninggal. Allah
akan meminta pertanggungjawaban manusia atas penggunaan sama’, bashar
dan fuad-nya.34
Doa yang seringkali dipanjatkan oleh Rasulullah pada awal-awal perlangkahan
Islam adalah doa agar dianugerahi SDM unggul, “Ya Allah, jayakanlah Islam
ini dengan masuk Islamnya salah satu dari dua Umar.” Dengan ilmu syariat
akan menambah pemiliknya takut kepada Allah,35 dan akan menyimpulkan
bahwa semua ciptaan-Nya tidaklah sia-sia.36
Bangsa-bangsa yang memiliki komitmen peningkatan SDM, maka akan
memiliki keunggulan dalam berbagai aspek kehidupan, sosial, politik, ideologi,
ekonomi, keamanan, dll. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa perintah
mencari ilmu menggunakan kalimat faridhatun, dimana “ta’ marbuthah” dalam
kata ini mempunyai arti superlatif (mubalaghah), alias sangat diwajibkan.
Kedua, membangun iman secara mendalam (al-iman al-‘amiiq)

31
QS al-Mujadilah : 11.
32
QS al-Baqarah : 31; al-‘Alaq : 5.
33
QS al-A’raf : 178.
34
QS al-Isra’ : 36.
35
QS Fathir : 28.
36
QS Ali Imran : 191.
Iman akan melahirkan kesadaran untuk hidup Islami secara total dan
menyeluruh,37 menerima Islam sebagai minhajul hayat (sistem hidup), tak
terjebak pada parsialisasi Islam (juz’iyyatul Islam), atau ber-Islam karena
dorongan intres pribadi.38
Iman yang benar akan melahirkan sikap sami’na wa atha’na (kami mendengar
dan kami tunduk) pada ketentuan Allah.39 Mukmin sejati memiliki kesiapan
lahir dan batin untuk diatur oleh Allah dengan suka rela.40
Dengan iman akan melahirkan loyalitas pada kebenaran mutlak, keadilan,
kejujuran, kedamaian, kedisiplinan, keindahan dan sifat-sifat utama yang lain.
Kemenangan iman bukan hadiah ummat Islam semata, tetapi kemenangan
kemanusiaan atas kezaliman, ketidakadilan hukum dan ekonomi dan sikap
represif lainnya. Karena Islam adalah untuk semua manusia (kaffatan lin-naas)
dan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil-‘alamin).41
Iman yang tidak melahirkan gerakan penegakan syariat dalam kehidupan sama
jeleknya dengan amal yang tidak berlandaskan iman. Setelah mengikrarkan
syahadat, konsekuensinya adalah menegakkan syariat shalat.42 Syariat shalat
merupakan penye-garan ulang tentang kesiapan muslim dalam mengatur segala
aspek kehidupan dengan syariat, demikian kata Al-Maududi.
Ketiga, membangun solidaritas dan soliditas sesama ummat (al-ittishal al-
watsiiq)
Terapi yang ketiga adalah terampil dalam menjalin hubungan interpersonal dan
intrapersonal (shidqun fil mu’amalah). Ada dua komponen penting sebagai pilar
dalam bergaul (rukn al-mukhalathah). Pertama, minimal kita tidak memiliki
sikap berburuk sangka, dengki, benci kepada sudara muslim. Kedua, maksimal
kita mampu menunjukkan sikap itsar (mengutamakan orang lain melebihi
dirinya sendiri).
Berbeda dengan paham barat yang mengatakan, “Kalian bebas berbuat apa saja
asal tidak melanggar batas-batas kebebasan kami.” Islam mengajarkan sejauh
mana Anda mengorbankan kebebasan Anda untuk kepentingan orang lain.43
Bertolak dari shidqun fil mu’amalah akan melahirkan ukhuwah Islamiyah.
Sejarah menunjukkan bahwa dengan jalinan ukhuwah yang solid maka berbagai
kesulitan maupun tantangan yang dihadapi ummat akan mudah diselesaikan.
Jika ketiga diagnosa krisis yang dipaparkan pada awal tema ini, diuji secara
shahih pada realitas kehidupan ummat, insya-Allah berbagai krisis yang bersifat
konsepsional dan teknis akan segera berakhir.

37
QS al-Baqarah : 208.
38
QS al-Baqarah : 85; al-Hajj : 11.
39
QS an-Nuur : 51.
40
QS an-Nisa’ : 65.
41
QS al-Anbiya’ : 107.
42
QS Thaha : 12, 14.
43
QS al-Hasyr : 9.
Dengan sumber daya manusia yang beriman, berilmu dan dirakit dalam
bangunan organisasi yang kokoh maka akan men-zhahir-kan Islam diatas
agama-agama yang lain, semuanya.44
Ketiga solusi mendasar diatas – menurut kajian Sistematika Nuzulnya Wahyu –
dinamakan Prinsip Dasar Aqidah, Syari’ah dan Imamah-Jamaah.

δφ

44
QS ash-Shaff : 9. Lihat: Nahnu wal Hadharah al-Gharbiyyah, Abul A’la al-Maududi.
BAB IV
‫بة حسب النرول‬u‫الرجوع إلى السور المرت‬
TAHAPAN TURUNNYA WAHYU SEBAGAI JAWABAN

Argumentasi orisinalitas tekstual (hujjatu ashaalati an-nash)


Sesungguhnya program dasar Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia
adalah, pertama, sebagai hamba-Nya. Maka, langkah pertama dan utama
seorang hamba Allah adalah berusaha mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub
ilallah).

(56 : ‫ )الذاريات‬K‫ون‬J P‫د‬P‫ب‬J‫يع‬H K‫ ل‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫س‬J‫لن‬


K J‫ا‬H‫ و‬N‫ن‬K‫ج‬J‫ ال‬P‫ت‬J‫ق‬H‫ل‬H‫ا خ‬H‫م‬H‫و‬
“Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali supaya mereka (ujung-
ujungnya) beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat : 56).
Kesan (atsar) yang diperoleh lewat media pendekatan (‘ibadah mahdhah) ini
akan mendapat curahan 1% dari 100% salah satu sifat-Nya yang baik (al-asma’
al-husna), diantaranya sifat ar-Rahman ar-Rahim. Satu rahmat saja bumi dan
seisinya berjalan dengan harmonis, seluruh makhluk hidup dengan damai, ibu
bisa mengasihi anaknya, binatang-binatang buas tak berebutan dalam satu
lokasi minuman.

‫ الحديث‬- H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ د‬P‫نه‬J K‫ا م‬³‫د‬K‫اح‬H‫ و‬H‫ق‬N‫ل‬H‫خ‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫ م‬K‫ ال‬K‫ق‬H‫ل‬J‫خ‬H‫أ‬K‫ا ب‬J‫و‬P‫ق‬N‫ل‬H‫خ‬H‫ت‬
“Berakhlaklah dengan akhlak Allah subhanahu wa ta’ala barangsiapa yang
berakhlak dengan salah satu akhlak-Nya, niscaya ia masuk surga.” (al-hadits)

‫ن‬J‫ي‬K‫ ح‬P‫ه‬H‫ع‬H‫ا م‬H‫ن‬H‫ أ‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ ب‬J‫ي‬K‫د‬J‫ب‬H‫ ع‬S‫ن‬H‫ ظ‬H‫ند‬J K‫ا ع‬H‫ن‬H‫ أ‬: N‫ل‬H‫ج‬H‫ و‬N‫ز‬H‫ ع‬P‫ ال‬P‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫ ي‬:  ¯‫ي‬K‫ب‬N‫ الن‬H‫ال‬H‫ق‬
‫ فى‬P‫ ه‬P‫ت‬J‫ر‬H‫ذك‬H mH‫ل‬H‫ م‬K‫ فى‬J‫ ي‬K‫ن‬H‫ر‬H‫ك‬H‫ ذ‬H‫ ن‬K‫وإ‬H J‫ي‬K‫ س‬J‫نف‬H K‫ فى‬P‫ ه‬P‫ت‬J‫ر‬H‫ك‬H‫ ذ‬K‫ه‬K‫ س‬J‫ف‬H‫ ن‬K‫ فى‬J‫ ي‬K‫ن‬H‫ر‬H‫ك‬H‫ا ذ‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫ ف‬J‫ ي‬K‫ن‬P‫ر‬P‫ذك‬J H‫ي‬
‫ا‬³‫ا ع‬H‫ر‬K‫ ذ‬N‫ ي‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ب‬H‫ر‬H‫ت‬J‫ اق‬K‫ ن‬K‫وإ‬H ‫ا‬³‫ا ع‬H‫ذر‬K K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬K‫ إ‬P‫ ت‬J‫ب‬H‫ر‬H‫ت‬J‫ق‬K‫ا ا‬³‫ر‬J‫شب‬
K N‫ ي‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ب‬H‫ر‬H‫ت‬J‫ اق‬K‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬P‫ ه‬J‫ن‬K‫̂ر م‬J‫ي‬H‫ خ‬mH‫ل‬H‫م‬
(‫ )رواه الشيخان‬³‫ة‬H‫ل‬H‫و‬J‫ر‬H‫ ه‬P‫ه‬P‫ت‬J‫تي‬H ‫ا آ‬³‫ي‬J‫مش‬H J‫ي‬K‫ان‬H‫ آت‬J‫ن‬K‫إ‬H‫ا و‬³‫اع‬H‫ ب‬P‫نه‬J K‫ م‬P‫ت‬J‫ب‬H‫ر‬H‫ت‬J‫ق‬K‫ا‬
Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman
(dalam hadits qudsi) : ‘Aku dalam sangkaan hamba-Ku, dan Aku akan selalu
bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kemudian apabila ia ingat Aku dalam
dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia ingat kepada-Ku
dalam satu kaum, maka Aku akan mengingatnya dalam kaum yang lebih
banyak dari pada kaum itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan
mendekatinya sehasta. Jika ia mendekat-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya
sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, aku akan datang
kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Ketika seorang hamba mendekat Allah subhanahu wa ta’ala dan telah
terbangun cinta secara timbal balik antara dia dengan Allah, maka Allah akan
menjadikannya sebagai kekasih-Nya (waliyyuhu), hamba-Nya (‘abduhu) atau
Rasul-Nya (rasuluhu), untuk membantu 1% dari tugas-tugas-Nya dalam
mengatur alam semesta (rabbul ‘alamin), sehingga semua aktifitas
kehidupannya adalah implementasi dari kehendak-Nya.

‫ ه‬P‫نت‬J H‫ آذ‬J‫د‬H‫ق‬H‫ ي·ا ف‬K‫ل‬H‫ و‬J‫ ي‬K‫ى ل‬H‫اد‬H‫ ع‬J‫ ن‬H‫ م‬:  K‫ ا ل‬P‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬H‫ال‬H‫ ق‬: H‫ال‬H‫ ق‬ H‫ة‬H‫ر‬J‫ي‬H‫هر‬P K‫بى‬H‫ أ‬J‫ ن‬H‫ع‬
‫ال‬H‫ز‬H‫ا ي‬H‫ م‬H‫ و‬K‫ ه‬J‫لي‬HH‫ ع‬P‫ ت‬J‫ض‬H‫تر‬H J‫ا اف‬N‫ م‬K‫ م‬N‫ ي‬H‫ل‬K‫ إ‬N‫ ب‬H‫ح‬H‫ أ‬m‫ء‬J‫ي‬H‫بش‬K J‫دي‬K J‫ب‬H‫ ع‬N‫ ي‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ب‬N‫ر‬H‫تق‬H ‫ا‬H‫ م‬H‫ و‬K‫ ب‬J‫ر‬H‫ح‬J‫ال‬K‫ب‬
‫ه‬K‫ ب‬P‫ع‬H‫م‬J‫ س‬H‫ ي‬J‫ذ ي‬K N‫ ال‬P‫ه‬H‫ع‬J‫م‬H‫ س‬P‫ ت‬J‫ن‬P‫ ك‬P‫ ه‬P‫بت‬J H‫ب‬J‫ح‬H‫ا أ‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫ ف‬P‫ ه‬N‫ب‬H‫ح‬H‫ أ‬N‫تى‬H‫ ح‬K‫ل‬K‫اف‬H‫و‬N‫الن‬K‫ ب‬N‫ ي‬H‫ل‬K‫ إ‬P‫ ب‬N‫ر‬H‫تق‬H H‫ ي‬J‫د ي‬K J‫ب‬H‫ع‬
‫ن‬K‫إ‬H‫ا و‬H‫ ه‬K‫ ب‬J‫ ي‬K‫ش‬J‫يم‬H ‫ى‬K‫ ت‬N‫ ال‬P‫ ه‬H‫ل‬J‫ج‬K‫ور‬H ‫ا‬H‫ ه‬K‫ ب‬P‫ ش‬K‫ط‬J‫يب‬H J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ ه‬H‫يد‬H H‫ و‬K‫ ه‬K‫ ب‬P‫ر‬K‫ ص‬J‫يب‬P J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ه‬H‫ر‬H‫ ص‬H‫ب‬H‫و‬
(‫ )رواه البخاري‬P‫نه‬N H‫ذ‬J‫عي‬ K P‫ل‬H J‫ني‬K H‫اذ‬H‫ع‬H‫ت‬H‫ اس‬K‫ن‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫ و‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ي‬K‫ط‬J‫ع‬P‫ل‬
H H J‫ي‬K‫ن‬H‫ل‬H‫أ‬H‫س‬
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalla-llahu 'alaihi
wa sallam bersabda : Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Kuizinkan ia (yang memusuhi itu)
diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu
amal lebih Kusukai daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan
kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-
amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku
menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan
yang ia melihat dengannya, sebagai tangan yang ia memukul dengannya,
sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku pasti
Kuberi dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku pasti Kulindungi.” (HR al-
Bukhari).
Maka tugas yang kedua, manusia adalah sebagai wakil Allah (khalifah-Nya),
untuk mengatur alam semesta (rabbul ‘alamin). Dalam usaha memakmurkan
alam ini (i’mara), ada makhluk yang memiliki potensi untuk mengurus dirinya
dan mengelola alam, ada makhluk yang bisa mengurus dirinya sendiri dan ada
makhluk yang menjadi urusan orang lain. Orang yang memiliki kapasitas
mengurus sesama dan sekelilingnya itulah yang dikategorikan oleh hadits
sebagai penggembala (ra’in), yang kepadanya Allah menyerahkan mandat
khilafah-Nya di muka bumi ini.

(61 : ‫ا )هود‬H‫يه‬J K‫ ف‬J‫م‬P‫ك‬H‫ر‬H‫م‬J‫ع‬H‫ت‬J‫اس‬H‫ و‬K‫ض‬J‫لر‬


H J‫ ا‬H‫ن‬K‫ م‬J‫م‬P‫ك‬H‫شأ‬
H J‫ن‬H‫ أ‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫و‬P‫ه‬
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya.” (QS Huud : 61).

(30 : ‫ )البقرة‬³‫ة‬H‫ف‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ خ‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫̂ل فى‬K‫اع‬H‫ ج‬J‫ي‬S‫ن‬K‫إ‬


“Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS
al-Baqarah : 30).
Tugas kehambaan dan kekhalifahan ini harus berjalan secara seimbang. Apabila
kedua tugas itu tidak berjalan secara sinergis, maka dalam diri manusia akan
terjadi perkembangan yang tidak utuh (split personality). Di satu aspek kuat
dalam potensialisasi diri, tetapi pada aspek yang lain lemah dalam aktualisasi
diri. Keimanan yang tidak melahirkan kepekaan dan tanggung jawab sosial,
sama jeleknya dengan amal yang tidak dilandasi oleh iman. Dan manusia model
ini termasuk pendusta agama. Shalih secara ritual tetapi tidak shalih sosial.
Sosok yang baik untuk dirinya sendiri (shalih li nafsihi), tidak shalih bagi orang
lain.
Dalam memakmurkan alam sebagai tugas kekhalifahan, Allah subhanahu wa
ta’ala telah membuat paket aturan yang mengandung kebenaran mutlak, maka
dijamin sukses dalam menjalankan fungsi sebagai wakil-Nya. Aturan itu disebut
diinul haq (dien yang benar). Tujuan (al-hadaf) penegakan aturan ini agar
diunggulkan-Nya atas agama yang lain.

‫ه‬K‫ر‬H‫و ك‬J H‫ل‬H‫ و‬K‫ ه‬S‫ل‬P‫ ك‬K‫ي ن‬J S‫ى الد‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ه‬€‫ ل‚ي•ظ„ ‚هر‬S‫ ق‬H‫ح‬J‫ ال‬K‫ي ن‬J K‫د‬H‫ى و‬H‫د‬P‫ه‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫ه‬H‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬H‫ل‬H‫ س‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫و‬P‫ه‬
.(33-32 : ‫ )التوبة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬K‫ر‬J‫ش‬P‫م‬J‫ال‬
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an)
dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun
orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah : 32-33).
Proses pemenangan agama Islam ini adalah dengan pencerahan. Menampakkan
cahaya (nuur), sehingga kegelapan-kegelapan (zhulumat) sirna dengan
sendirinya. Menang tanpa ngasorake lan nglurug tanpa bala (menang tidak
menghinakan pihak yang kalah, dan mendatangi tanpa membawa bala tentara).
Seperti sastra berikut yang melukiskan kehadiran Rasulullah shalla-llahu
‘alaihi wa sallam.

‫ر‬K J‫و‬P‫ الص¯د‬P‫اح‬H‫ب‬J‫ص‬K‫ م‬H‫ت‬J‫ن‬H‫ * أ‬K‫ر‬J‫نو‬P H‫ق‬J‫و‬H‫̂ر ف‬J‫نو‬P H‫ت‬J‫ن‬H‫̂ر * أ‬J‫د‬H‫ ب‬H‫نت‬J H‫شˆ أ‬J‫م‬H‫ ش‬H‫ت‬J‫ن‬H‫أ‬
“Engkau adalah matahari. Engkau adalah bulan purnama. Engkau adalah
cahaya di atas cahaya. Engkau adalah lampu (penerang) hati.”
Penegakan aturan (iqamtud dien) adalah dharurah basyariah (kebutuhan
primer) dan hajah syar’iah (tuntutan keagamaan). Karena Allah adalah pencipta
(al-Khaliq), bumi adalah ciptaan-Nya dan manusia adalah makhluk-Nya. Jika
Allah sebagai Pencipta sementara makhluk-Nya tak memberlakukan tegaknya
syariat di bumi-Nya, pastilah akan terjadi chaos (fitnah).

(22 : ‫ا )النبياء‬H‫دت‬H H‫س‬H‫ف‬H‫ ال ل‬N‫ل‬K‫̂ة إ‬H‫ه‬K‫ا آل‬H‫م‬K‫يه‬J K‫ ف‬H‫ان‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬


“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua Tuhan, maka pastilah
keduanya binasa.” (QS al-Anbiya : 22).
Untuk menghindari kekacauan ini, terkadang harus memilih alternatif perang.
Perang bukan berarti merusak, tetapi menghilangkan berbagai hambatan
(‘awa’iq) yang menghalangi sampainya rahmat Islam ini kepada yang berhak
menerimanya. Ibarat tubuh yang tertimpa penyakit akut, untuk mencegah
penularannya ke seluruh tubuh, maka bagian tubuh yang terluka terpaksa
diamputasi. Demi kesembuhan tubuh, minum obat yang pahit alternatif yang
harus dipilih. Demikianlah sebagian filosofi perang dalam Islam.
K‫ل‬K P‫̄له‬P‫ ك‬P‫ين‬J ‫د‬S ‫ ال‬H‫ن‬J‫و‬P‫يك‬H H‫̂ة و‬K‫ن‬J‫ت‬K‫ ف‬H‫ون‬J P‫ك‬H‫ل ت‬
H N‫تى‬H‫ ح‬J‫م‬P‫ه‬J‫و‬P‫ل‬K‫ات‬H‫ق‬
“Perangilah mereka sehingga tidak terjadi fitnah dan jadilah ketaatan
semuanya (dikembalikan) milik Allah.”
Jika aturan dari Allah (dienul haq) dilaksanakan secara kaffah, insya-Allah alam
semesta akan kecipratan rahmat (rahmatan lil ‘alamin). Namun yang perlu
digarisbawahi disini bahwa al-Qur’an ini bukan untuk manusia saja, tetapi
diperkuat dengan kawasan yang didesain khusus agar kondusif tegaknya nilai-
nilai kebenaran dalam segala aspek kehidupan.
Di Madinah, semua etnis, suku, agama, kaum munafik dan kafir diberi
kebebasan untuk melaksanakan kepercayaannya, asalkan berpegang teguh
dengan kesepakatan bersama, dan sebagai wasitnya (wasathan) adalah
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam.

‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ا‬H‫ و‬K‫آء‬H‫م‬N‫ ال س‬H‫ ن‬K‫ م‬m‫ا ت‬H‫ك‬H‫ر‬H‫ ب‬J‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬H‫ ن‬J‫ح‬H‫ت‬H‫ف‬H‫ا ل‬J‫و‬H‫تق‬N ‫ا‬H‫ا و‬J‫و‬P‫ن‬H‫ى آم‬€‫ ال„ق•ر‬€‫ه„ل‬€‫ أ‬N‫ ن‬H‫ أ‬J‫و‬H‫ل‬H‫و‬
(96 : ‫ )العراف‬H‫ن‬J‫بو‬P K‫س‬J‫ك‬H‫ا ي‬J‫و‬P‫ان‬H‫ا ك‬H‫م‬K‫ ب‬J‫م‬P‫اه‬H‫ ن‬J‫ذ‬H‫خ‬H‫أ‬H‫ا ف‬J‫و‬P‫ذب‬N H‫ ك‬J‫ن‬K‫ك‬H‫ل‬H‫و‬
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raf : 96).
Yang menjadi stressing ayat ini bukan saja penduduknya (ahl), tetapi sekaligus
kawasannya (al-qura). Seorang muslim yang tenang dengan kawasan yang
tidak Islami, sementara dia tidak mengupayakan penerapannya, maka ia
meninggal dalam keadaan menganiaya diri sendiri, dan akan masuk neraka.
Na’udzu billah min dzalik.

‫ن‬J‫ي‬K‫ف‬H‫ع‬J‫ض‬H‫ت‬J‫ س‬P‫ا م‬N‫ ن‬P‫ا ك‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬J‫ م‬P‫ت‬J‫ن‬P‫ ك‬H‫ م‬J‫ي‬K‫ا ف‬J‫و‬P‫ال‬H‫‚م ق‬
J ‫ن„ •ف س‚ه‬€‫ال‚م‚ ي„ أ‬€‫ة• ظ‬€‫ئ‚ك‬€‫ل‬€‫ف†اه• م• ال„م‬€‫و‬€‫ ت‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ ن‬K‫إ‬
‫م‬N‫ن‬H‫ه‬H‫ ج‬J‫م‬P‫اه‬H‫و‬J‫أ‬H‫ م‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫أ‬H‫ا ف‬H‫ه‬J‫ي‬K‫ا ف‬J‫و‬P‫ر‬K‫اج‬H‫ه‬P‫ت‬H‫ ف‬³‫ة‬H‫ع‬K‫اس‬H‫ و‬K‫ ال‬P‫ض‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫ن‬P‫تك‬H J‫م‬H‫ل‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫في‬
‫ا‬³‫ير‬J K‫ص‬H‫ م‬J‫ت‬H‫آء‬H‫س‬H‫و‬
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan
bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang
tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya
neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali.” (QS
an-Nisa’ : 97).
Yang dimaksud ayat ini ialah orang-orang muslim Mekah yang tidak mau
berhijrah bersama Nabi sedangkan mereka mampu. Mereka ditindas dan
dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar,
akhirnya diantara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.45

45
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, hal. 137.
Kita wajib mengupayakan terwujudnya kawasan yang Islami (al-bi’ah al-
Islamiyah). Sekalipun secara geografis mempriha-tinkan, membuat orang
menangis (bakkah), karena tandus dan gersang. Jika di tempat pertama kurang
menguntungkan, carilah ke tempat lain. Insya-Allah di tempat baru itu dipenuhi
barakah dari segala penjuru. Sebagaimana yang diperagakan oleh Ibrahim dan
istrinya Hajar serta anaknya Ismail. Demikian pula yang dilakukan Nabi Nuh,
Luth, Musa dan Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Huzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang banyak
biasanya menanyakan kepada Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam tentang
kebaikan, tetapi saya menanyakan kepada beliau tentang keburukan (bahaya),
karena takut menimpa saya. Saya bertanya, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya
kami dahulu dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu didatangkan Allah
kepada kami kebaikan. Adakah sesudah kebaikan itu akan terjadi keburukan?’
Jawab Nabi, ‘Ya’. Saya bertanya, ‘Adakah sesudah keburukan ada kebaikan?’
Jawab Nabi, ‘Ya, tapi ada yang merusaknya.’ Saya bertanya, ‘Apakah perusak
itu?’ Jawab Nabi, ‘Sekumpulan orang yang memimpin bukan menurut jalan
yang benar. Sebagian tindakan mereka ada yang engkau pandang baik dan ada
yang tidak.’ Saya bertanya, ‘Apakah sesudah kebaikan itu terjadi lagi
keburukan?’ Jawab Nabi, ‘Ya. Orang-orang yang memanggil di pintu neraka.
Siapa yang memperkenankan panggilannya, mereka dilemparkannya ke dalam
neraka.’ Saya bertanya, ‘Ya Rasulullah, terangkanlah kepada kami keadaan
mereka!’ Jawab Nabi, ‘Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka
berbicara dengan bahasa kita’. Saya bertanya, ‘Apakah yang engkau
perintahkan kepada saya, kalau seandainya saya mendapati hal yang demikian?’
Jawab Nabi, ‘Hendaklah engkau tetap dalam jama’ah kaum muslimin dan
mengikuti imam mereka.’ Saya bertanya, ‘Bagaimana kalau tidak mempunyai
jamaah dan imam?’ Jawab Nabi, ‘Jauhilah semua kelompok sekalipun
karena itu engkau sampai menggigit (mengunyah) urat-urat kayu, sehingga
engkau meninggal dalam keadaan demikian.’ (Muttafaq ‘alaih).
Jika kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala tak dilaksanakan,
pasti timbul malapetaka. Aturan dari selain Allah hanya berdasar hawa nafsu
dan persangkaan jahiliyah. Selain dinul haq adalah menyesatkan.

(32 : ‫ )يونس‬H‫ن‬J‫و‬P‫ف‬H‫ر‬J‫تص‬P N‫نى‬H‫أ‬H‫ ف‬P‫ل‬H‫ل‬N‫ الض‬N‫ل‬K‫ إ‬S‫ق‬H‫ح‬J‫ ال‬H‫د‬J‫بع‬H ‫ا‬H‫اذ‬H‫م‬H‫ق¯ ف‬H‫ح‬J‫ ال‬P‫م‬P‫̄بك‬H‫ ر‬P‫ ال‬P‫م‬P‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬H‫ف‬
“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang haq (sebenarnya),
maka tiada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah
kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS Yunus : 32).

(122 : ‫ )النساء‬³‫ل‬J‫ي‬K‫ ق‬K‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬P‫دق‬H J‫ص‬H‫ أ‬J‫ن‬H‫م‬H‫و‬


“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah.” (QS an-Nisa’ : 122).

(87 : ‫ا )النساء‬³‫ث‬J‫ي‬K‫د‬H‫ ح‬K‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬P‫دق‬H J‫ص‬H‫ أ‬J‫ن‬H‫م‬H‫و‬


“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah.” (QS an-Nisa’ :87).
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia lah yang haqq.” (QS al-
Hajj : 6; 62).

(30 : ‫ )لقمان‬P‫ل‬K‫اط‬H‫ب‬J‫ ال‬K‫نه‬K J‫و‬P‫ د‬J‫ن‬K‫ن م‬


H J‫و‬P‫ع‬J‫يد‬H ‫ا‬H‫ م‬N‫ن‬H‫أ‬H‫ق¯ و‬H‫ح‬J‫و ال‬H P‫ ه‬H‫ ال‬N‫ن‬H‫بأ‬K H‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil.” (QS
Luqman : 30).

(147 : ‫ )البقرة‬H‫ن‬J‫ي‬K‫تر‬H J‫م‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬N‫ن‬H‫ن‬J‫و‬P‫تك‬H H‫ل‬H‫ ف‬H‫ك‬S‫ب‬H‫ ر‬J‫ن‬K‫ق¯ م‬H‫ح‬J‫ال‬


“Kebenaran itu berasal dari Rabbmu maka jangan sekali-kali kamu menjadi
orang yang ragu-ragu.” (QS al-Baqarah : 147).
Kebenaran dari Allah itu mencakup ayat-ayat tanziliyah (ayat quliyah).

(3 : ‫ )السجدة‬H‫بك‬S H‫ ر‬J‫ن‬K‫ق¯ م‬H‫ح‬J‫ ال‬H‫هو‬P J‫بل‬H P‫اه‬H‫ر‬H‫ت‬J‫ اف‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬J‫و‬P‫يق‬H J‫م‬H‫أ‬


“Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, ‘Dia (Muhammad)
mengada-adakannya’. Sebenarnya al-Qur’an itu adalah kebenaran (yang
datang) dari Tuhanmu.” (QS as-Sajdah : 3).
Demikian pula kebenaran itu mencakup ayat-ayat kauniyah (alam semesta).

(191 : ‫ )آل عمران‬³‫ل‬K‫اط‬H‫ا ب‬H‫ذ‬H‫ ه‬H‫ت‬J‫ق‬H‫ل‬H‫ا خ‬H‫ا م‬H‫ن‬N‫ب‬H‫ر‬


“Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.” (QS Ali
Imran : 191).
Secara fisik, manusia baik dalam keadaan suka atau terpaksa tunduk pada
aturan hukum alam (sunnatullah). Proses kejadian manusia dari janin (embrio),
shabiy (bayi), thifl (anak-anak), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa) dan
syaikh (lanjut usia), adalah fenomena penciptaan yang direncanakan Tuhan
pasti terjadi. Tiada yang bisa menghalangi proses itu sedikitpun, Sekalipun
secara verbal bisa menolak. Tiada sikap lain terhadap kebenaran mutlak itu
kecuali mempelajari dan mengikutinya.

‫ الحديث‬- ‫ه‬€
P ‫اع‬€‫ب‬Ÿ‫ا ات‬H‫ن‬J‫ق‬P‫ز‬J‫ار‬H‫ق·ا و‬H‫ ح‬N‫ق‬H‫ح‬J‫ا ال‬€‫أر‚ن‬€ N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ا‬
“Ya Allah perlihatkan kepada kami kebenaran itu kebenaran dan
karuniakanlah kepada kami (agar) mengikutinya.”
Ketika mempelajari kalimat Allah (ayat qauliyah) dan mengkaji khalqillah
(ciptaan Allah, ayat kauniyah), di dalamnya pasti ada aturan yang mengikat.
Aturan firman Allah dikenal dengan qadha’ tasyri’i dan aturan ciptaan Allah
disebut qadha’ takwini.

(64 : ‫ )يونس‬K‫ ال‬K‫ات‬H‫م‬K‫ل‬H‫ك‬K‫ ل‬H‫ل‬J‫دي‬K J‫ب‬H‫ ت‬H‫ل‬


“Tiada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah.” (QS Yunus : 64).

(30 : ‫ )الروم‬K‫ ال‬K‫ق‬J‫ل‬H‫خ‬K‫ ل‬H‫ل‬J‫دي‬K J‫ب‬H‫ ت‬H‫ل‬


“Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah.” (QS ar-Ruum : 30).
Ketaataan kepada ketentuan syariat akan mempengaruhi keteraturan aturan
alam. Contoh perbuatan zina memperpendek umur, sedekah bisa menolak
bencana, silaturrahim bisa memperpanjang umur, menghormati tamu
mendatangkan rizki dan mengurangi dosa, dll.
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak berani mengubah hukum
Allah subhanahu wa ta’ala. Dahulu ada seorang wanita Makhzumiyah yang
meminjam perhiasan, namun dia mengingkarinya. Lalu Rasulullah shalla-llahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong tangan wanita itu. Seketika
itu keluarganya pun datang kepada Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma,
dan mereka mendiskusikan kasus tersebut dan minta keringanan hukum. Lalu
Usamah membicarakannya kepada Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam.
Selanjutnya Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Usamah,
“Hai Usamah, aku tidak memberi dispensasi kepadamu, berkaitan dengan
sanksi had dari beberapa hukum Allah swt.” Kemudian Nabi shalla-llahu
‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah, beliau bersabda sebagaimana yang
diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha :

‫م‬K‫ه‬J‫ي‬K‫ ف‬H‫ق‬H‫ر‬H‫ا س‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫ و‬P‫ ه‬J‫و‬P‫ك‬H‫تر‬H P‫ ف‬J‫ي‬K‫ر‬N‫ الش‬P‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬K‫ ف‬H‫ق‬H‫ر‬H‫ا س‬H‫ذ‬K‫ إ‬P‫ ه‬N‫ن‬H‫أ‬K‫ ب‬J‫ م‬P‫ك‬H‫بل‬J H‫ ق‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫ ن‬H‫ م‬H‫ ك‬H‫ل‬H‫ا ه‬H‫ م‬N‫ن‬K‫إ‬
‫ت‬J‫ع‬H‫ط‬H‫ق‬H‫ ل‬J‫ت‬H‫ق‬H‫ر‬H‫ س‬m‫د‬N‫م‬H‫ح‬P‫ م‬P‫ت‬J‫ن‬K‫ ب‬P‫ة‬H‫م‬K‫اط‬H‫ ف‬J‫ت‬H‫ان‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ ل‬K‫ ه‬K‫يد‬H K‫ ب‬J‫ي‬K‫س‬J‫ف‬H‫ ن‬J‫ذي‬K N‫ال‬H‫ و‬P‫ ه‬J‫و‬P‫ع‬H‫ط‬H‫ ق‬P‫ ف‬J‫ي‬K‫ع‬N‫الض‬
(‫ )رواه أحمد ومسلم والنسائى‬K‫ة‬N‫ي‬K‫م‬J‫و‬P‫ز‬J‫خ‬H‫م‬J‫ ال‬P‫يد‬H H‫ع‬K‫ط‬P‫ق‬H‫ا ف‬H‫ده‬H H‫ي‬
“Sesungguhnya hancurnya generasi sebelum kalian adalah manakala orang
terhormat mencuri, mereka membiarkannya. Dan apabila yang mencuri pada
mereka adalah orang-orang yang lemah, mereka memotong tangannya. Demi
Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, andaikata Fathimah putri
Muhammad mencuri, maka akan kupotong tangannya. Maka dipotonglah
tangan wanita Makhzumiyah itu.” (HR Ahmad, Muslim dan Nasa’i).
Dalam aturan ini, tugas manusia hanya sebatas menampakkan-nya dalam
kehidupan (muzh-hirul hukm), bukan menetapkan aturan (mutsbitul hukm).
Karena yang berhak membuat dan menetapkan aturan, mengharamkan dan
menghalalkan hanya Allah. Aturan yang diberlakukan tanpa merujuk firman
Allah dinamakan hukum jahiliyah (bodoh, tidak tahu diri).
Kebenaran firman Allah ini didukung oleh argumentasi tekstual (nash). Huruf-
hurufnya, kata-katanya, uslub (susunan kalimat), adalah pilihan Tuhan sendiri.
Jika ingin menyentuh hati manusia, Dia menggunakan kata-kata yang halus, dan
jika ingin mengajak melakukan pekerjaan berat, Dia menggunakan kata-kata
yang secara makhraj berat diucapkan.

(17 : ‫ )الشورى‬K‫ان‬H‫يز‬J K‫م‬J‫ال‬H‫ و‬S‫ق‬H‫ح‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ ال‬H‫ل‬H‫ز‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ال‬


“Allah menurunkan kitab al-Qur’an dengan penuh kebenaran dan
keseimbangan.” (QS asy-Syura : 17).
Seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, lawan
katanya dan dampaknya. Hayat terulang sebanyak lawan katanya maut,
masing-masing 145 kali. Akhirat terulang 115 kali sebanyak dunia. Malaikat
terulang sebanyak 88 kali sebanyak kata syetan. Thumaninah (ketenangan)
terulang 13 kali sebanyak kata dhiq (kecemasan). Panas terulang 4 kali
sebanyak kata dingin.
Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjukkan dampaknya yaitu ridha
(kepuasan) masing-masing 73 kali. Kikir sama dengan akibatnya yaitu
penyesalan masing-masing 12 kali. Zakat sama dengan berkat yakni kebajikan
melimpah, masing-masing 32 kali. Kata yaum (hari) terulang sebanyak 365,
sejumlah hari dalam setahun. Kata syahr (bulan) terulang 12 kali, juga sejumlah
bulan-bulan dalam setahun.
Argumentasi kebenarannya bisa dibuktikan secara kontekstual (pola
penerapannya, manhaj). Pola penerapan ini dikenal dengan metode tadriji
(gradual, bertahap). Rahasia tahapan pelaksanaan wahyu ini memiliki hikmah
khusus.

(105 : ‫ل )السراء‬€
H ‫ز‬€‫ ن‬Ÿ‫ق‬€‫وب‚ال„ح‬€ P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫نز‬J H‫ق أ‬
Ÿ €‫ب‚ال„ح‬€‫و‬
“Dan Kami turunkan (al-Qur’an itu) dengan sebenar-benarnya dan al-Qur’an
itu telah turun dengan (membawa) kebenaran.” (QS al-Isra’ : 105).
Ungkapan “menurunkan” dalam ayat diatas menggunakan kata tanzil, yang
berasal dari akar kata nazzala-yunazzilu-tanzilan, bukannya anzala-yunzilu-
inzaalan. Ini menunjukkan bahwa turunnya itu secara bertahap dan berangsur-
angsur. Ulama bahasa membedakan dua kalimat tersebut. Tanzil berarti turun
secara bertahap, sedang inzal hanya turun dalam arti umum.

(106 : ‫ )السراء‬³‫ل‬J‫ي‬K‫ز‬J‫ن‬H‫ ت‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬N‫نز‬H H‫„ث و‬


m ‫ى م•ك‬€‫ل‬€‫ى الن†اس‚ ع‬€‫ل‬€‫أه• ع‬€€‫ق„ر‬€‫اه• ل‚ت‬€‫ق„ن‬€‫ر‬€‫ا ف‬³‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬H‫و‬
“Dan al-Qur’an itu Kami bagi-bagi, agar kamu dapat membacakannya
kepada manusia secara berangsur-angsur, dan Kami turunkan ia dengan
turun yang sempurna.” (QS al-Isra’ : 106).

‫ك‬€‫اد‬€‫ ب‚ ه‚ •فؤ‬€‫ ت‬Ÿ‫ب‬€‫ ل‚ن•ث‬€‫ل‚ ك‬€‫ذ‬€‫ ك‬³‫ة‬H‫د‬K‫اح‬H‫ و‬³‫ة‬H‫ل‬J‫م‬P‫ ج‬P‫آ ن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ ال‬K‫ ه‬J‫ي‬H‫عل‬
H H‫ل‬K‫ز‬J‫ن‬P‫ أ‬H‫ل‬J‫و‬H‫ا ل‬J‫و‬P‫ر‬H‫ف‬H‫ ك‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ال‬H‫ق‬H‫و‬
(32 : ‫„ل )الفرقان‬ ³ ‫تر„ت‚ي‬€ •‫اه‬€‫ت†ل„ن‬€‫ر‬€‫و‬
“Berkatalah orang-orang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan
kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu
dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok.” (QS al-
Furqan : 32).
Jadi melaksanakan wahyu secara bertahap adalah intruksi dan acuan langsung
dari Allah. Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam hanya mengikutinya
(ittiba’) tanpa merevisi sedikitpun, sama sekali tidak membuat-buat sesuatu
yang baru tanpa contoh sebelumnya.

‫ا‬H‫ م‬N‫ل‬K‫ إ‬P‫ ع‬K‫تب‬N H‫ أ‬J‫ ن‬K‫ إ‬J‫ م‬P‫ك‬K‫ ب‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ب ي‬K P‫ل‬H‫ع‬J‫ف‬P‫ا ي‬H‫ م‬J‫ ي‬K‫ر‬J‫د‬H‫ا أ‬H‫و م‬H K‫ل‬P‫ ال̄ر س‬H‫ ن‬K‫ا م‬³‫د ع‬J K‫ ب‬P‫ ت‬J‫ن‬P‫ا ك‬H‫ م‬J‫ل‬P‫ق‬
(9 : ‫ )الحقاف‬N‫ي‬H‫ل‬K‫ى إ‬H‫ح‬J‫و‬P‫ي‬
“Katakanlah : Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul dan aku
tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula)
terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan
kepadaku.” (QS al-Ahqaf : 9).
Jika kita tidak menerapkan kebenaran dari Allah berarti kita manusia yang sok
tahu (jahiliyah).

P‫ ال‬K‫م‬H‫ أ‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫م أ‬J P‫ت‬J‫ن‬H‫أ‬H‫أ‬


“Kamukah yang lebih tahu ataukah Allah?”

(216 : ‫ )البقرة‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ت‬H‫ ل‬J‫تم‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬P‫ال‬H‫و‬


“Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah : 216).
Tahapan turunnya wahyu disini menurut pakar tafsir dari kalangan sahabat,
Ibnu Abbas, yaitu : QS al-‘Alaq 1-5, al-Qalam 1-7, al-Muzzammil 1-10, al-
Muddatstsir 1-7, dan ditutup dengan al-Fatihah 1-7. Diakhiri dengan surat al-
Fatihah karena ia induk al-Qur’an. Yang memahami dan melaksanakan al-
Fatihah otomatis menjiwai seluruh al-Qur’an.

Argumentasi kontekstual (hujjah al-kayfiyyah aw al-manhaj)


Standar kebenaran konsep di samping orisinil, steril dari campur tangan
manusia, diukur pula tingkat kemampuannya dalam melahirkan pelakunya (al-
Qur’anu yahtaaju ila rajulin Qur’ani). Nilai-nilai al-Qur’an yang ideal harus
membumi, dibuktikan dengan perilaku pemeluknya.
Jika kita mengkaji perjalanan Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam dalam
membumikan al-Qur’an, dalam jangka waktu 23 tahun, gurun Jazirah Arab
terbukti dipadati manusia-manusia besar yang siap memimpin dunia. Manusia
yang telah tertata ulang persepsi (tashawwur) dan bashirah-nya (mata hati)
tentang dirinya, pandangan terhadap alam sekitarnya, wawasan tentang
Tuhannya dan misi kehadirannya di dunia. Dari sinilah awal perubahan besar
itu terjadi.
Dari masyarakat yang nomaden (badawah), lahirlah pemikir dan ilmuwan
besar seperti Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu
Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab. Bahkan, menurut catatan
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, jumlah sahabat yang ditinggalkan Rasulullah
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam saat beliau wafat berjumlah 16.000 orang,
dimana sekitar 100 sampai 110 orang diantara mereka adalah ulama.
Dari masyarakat yang buta aksara itu lahirlah pemimpin-pemimpin besar.
Pemimpin negara seperti Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib. Pemimpin militer seperti Khalid bin Walid, Abu
Ubaidah al-Jarrah, al-Mutsanna bin al-Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqqash, ‘Amr
bin al-‘Ash, dll.
Dari masyarakat yang tidak terstruktur itu muncul puluhan entrepreneur ulung
seperti Abu Bakar, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf. Bahkan 9 dari 10
sahabat yang dijanjikan masuk surga adalah pebisnis. Dan lebih banyak lagi
keahlian yang dimiliki dari kalangan shahabiyat Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi
wa sallam.
Dari masyarakat yang buta budaya itu muncul kelompok profesional dalam
berbagai bidang. Bidang hukum (Ali bin Abi Thalib, Syuraih al-Qadhi),
administrasi (Abu Ubaidah), intelijen (shahibus sirr) seperti Hudzaifah bin al-
Yaman dan al-Abbas, atau aspek bahasa seperti Zaid bin Tsabit.
Dari masyarakat yang tidak diperhitungkan dalam percaturan peradaban dunia
saat itu, lahir dari kalangan grass root yang memiliki komitmen keagamaan
yang kuat seperti Bilal bin Rabah, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, atau keluarga
‘Ammar bin Yasir. Akidah bagi mereka lebih berharga dari nyawanya,
sekalipun secara ekonomi mereka kekurangan. Dari mereka lahir pula pemuda
dari keturunan budak yang menjadi panglima perang, misalnya Usamah bin
Zaid.
Kualitas ilmu dan iman para sahabat melebihi dari manusia pada masanya.
Kualitas seorang dari mereka melebihi 1000 orang biasa. Rajulun ka-alfin.
Sungguh, suara Abu Thalhah al-Anshari lebih baik daripada sekelompok orang
(lashawtu Abi Thalhata khairun min fi-atin). Ketika sebagian sahabat ada yang
mentertawakan fisik Ibnu Mas’ud yang kurus, Rasulullah membela dengan
ungkapannya yang terkenal, “Sungguh kaki Ibnu Mas’ud lebih berat dari
gunung Uhud di surga kelak, karena komitmen perjuangannya”.
Demikianlah profil generasi pertama kaum muslimin. Sejarah menceritakan
kepada kita tentang kemampuan al-Qur’an untuk melahirkan orang-orang besar.
Tinta emas sejarah tidak pernah kering dari sosok manusia yang kematangan
pemikirannya melebihi usianya, kedewasaannya melampaui masanya,
kehadirannya menggoncangkan dunia dan mengagumkan bagi yang
mengenalnya dengan jujur.
Kini kaum muslimin berada pada titik nadir kelemahannya, memerlukan
kehadiran model manusia seperti mereka untuk memandu mereka keluar dari
keterpurukannya. Bagaimanakah langkah metodologis supaya menjadi manusia
muslim ideal? Hanya konsep orisinil dan diterapkan secara sistematis dari al-
Qur’an yang bisa menjawabnya.

: ‫ )الحشر‬K‫ ال‬K‫ة‬H‫ي‬J‫ش‬H‫ خ‬J‫ن‬K‫ا م‬³‫ع‬S‫د‬H‫تص‬H P‫ا م‬³‫ع‬K‫اش‬H‫ خ‬P‫ته‬H J‫ي‬H‫أ‬H‫ر‬H‫ ل‬m‫ل‬H‫ب‬H‫ى ج‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ا ال‬H‫هذ‬H ‫ا‬H‫ن‬J‫ل‬H‫نز‬J H‫ أ‬J‫و‬H‫ل‬
(21
“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada
Allah.” (QS al-Hasyr : 21).
Wallahu a’lam bish-shawab.
δφ

PAKET II .

‫رسالة العقيدة‬
Prinsip Akidah


‫الحضارة‬ ‫إنفتاحيه – قوة الستجابة‬ ‫الخبرة‬ ‫المعلومات‬ ‫اقرأ‬
PERADABAN ‫للمتغيرات‬ PENGALAMAN PENGETAHUAN BACALAH
INKLUSIF – RESPONSIF THD PERUBAHAN

‫القراءة والكتابة‬ ‫أمي‬


TAHU TULISAN &
BACAAN
‫الحضارة‬
PERADABAN X BUTA BUDAYA &
AKSARA
‫البداوة‬
NOMADEN

‫قياما‬ ‫ربانية المصدر‬ ‫من ال‬ ‫التربية‬


Berdiri Bersumber dari Allah Dari Allah Pendidikan

‫الحركة والسكوت ل‬ ‫بال‬


Gerak dan diam karena Allah ‫قعودا‬ ‫بطريقة ال‬ ‫الترقية‬ ‫اقرأ باسم ربك‬
Dengan cara Bacalah dgn Nama
Duduk Dengan jalan Allah Peningkatan
Allah Tuhanmu

‫التأسي بربوبية ال‬ ‫على‬ ‫ربانية الغاية‬ ‫إلى ال‬ ‫التربية‬


Meneladani sifat rububiyah Allah ‫الجنب‬ Menuju Allah Menuju Allah Pendidikan
Berbaring

‫ أنا عبد لمن علمني حرفا إن‬: ‫ قال على كرم ال وجهه‬. ‫ طاعة ال والرسول وأولى المر‬. ‫اخلص في الربوبية والملكية والعبادة‬
‫شاء باع وإن شاء استرق‬
Iqra’ bismi rabbik : ikhlas karena Allah (bukan mengatasnamakan Allah), baik dalam rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah (ibadah). Taat kepada Allah, Rasul dan Ulil
Amri sekaligus. Ali bin Abi Thalib krw.berkata : Saya adalah budak terhadap orang yang mengajari saya satu huruf, jika mau ia (bebas ) menjual saya atau
memerdekakan saya.
‫القراءة في ضوء القرآن‬
Membacan dalam Perspektif al-Qur’an

‫اقرأ‬
BACALAH

‫الفئدة‬ ‫البصر‬ ‫السمع‬


Hati Penglihatan Pendengaran

‫كرم ال‬ ‫بالقلم‬


Kemurahan Allah Alat pena

‫علم لدني‬ ‫علم كسبي‬


Ilmu ladunni Ilmu kasbi

‫كلمة ال‬ ‫خلق ال‬


Firman Allah Ciptaan Allah

‫قضاء كوني – سنة‬


‫قضاء تشريعي‬
Hukum syariat ‫ال‬
Hukum Allah di alam

‫منهاج الحياة‬ ‫وسيلة الحياة‬


Pedoman hidup Sarana kehidupan

‫العمل الصالح‬
Amal shalih/taat hukum
‫ فاتبعه‬- ‫عالم‬
ORANG ALIM – IKUTILAH DIA

‫ فاتركه‬- ‫غافل‬
ORANG LALAI – TINGGALKAN DIA

‫مراتب القراءة‬
LEVEL MUTU BACAAN

‫ فارشده‬- ‫جاهل‬
ORANG BODOH – BIMBINGLAH DIA

‫ فارفضه‬- ‫جاهل مركب‬


ORANG BODOH KUADRAT – TOLAK DIA

‫فأردت أن أعيبها‬
“Maka aku ingin merusakkannya”

‫فأردنا أن يبدلهما ربهما‬ ‫قصة موسى وحيضر‬


“Maka kami ingin agar Tuhan mereka KISAH NABI MUSA DAN
menggantinya” HAIDHIR

‫فأراد ربك أن يبلغ أشدهما‬


“Maka Tuhanmu ingin kelak jika mereka
berdua sudah dewasa”
BAB I
‫رسالة العقيدة‬
PRINSIP AKIDAH

‫حيم‬Ò‫حمن الر‬Ò‫بسم ال الر‬


‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬. P‫م‬H‫ر‬J‫ك‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫̄بك‬H‫ر‬H‫ و‬J‫أ‬H‫ر‬J‫ اق‬. m‫ق‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ان‬H‫نس‬J K‫ل‬J‫ ا‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬. H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ك ال‬S‫ب‬H‫م ر‬K J‫اس‬K‫ ب‬J‫أ‬H‫ر‬J‫ق‬K‫ا‬
J‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬J‫م‬H‫ال‬H‫ م‬H‫ان‬H‫نس‬J K‫ل‬J‫م ا‬H N‫ل‬H‫ ع‬. K‫م‬H‫ل‬H‫ق‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫م‬N‫ل‬H‫ع‬
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Paling Pemurah. Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.”
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, “Yang pertama sekali mendahului
kedatangan wahyu kepada Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam adalah
mimpi-mimpi yang benar. Setiap mimpi beliau selalu terbukti (kebenarannya)
secara nyata, seterang cahaya di pagi hari. Setelah itu beliau terdorong untuk
ber-khalwat di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam dan kembali lagi
kepada keluarganya untuk mengambil bekal menyendiri berikutnya. Hingga
suatu ketika datang kepada beliau ‘al-Haqq’, Kebenaran Mutlak, yaitu dengan
datangnya malaikat yang menyampaikan Iqra’ dan seterusnya.” (HR al-
Bukhari).
Mimpi yang benar, menurut Nabi Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari, adalah 1/46 bagian wahyu
kenabian. “Secara kebetulan”, waktu enam bulan yang beliau alami sebelum
turunnya Iqra’ merupakan 1/46 dari masa kenabian Rasulullah shalla-llahu
'alaihi wa sallam yang berlangsung selama 23 tahun itu.
Beberapa waktu menjelang turunnya wahyu pertama, Muham-mad shalla-llahu
‘alaihi wa sallam seringkali mendengar suara yang berkata, “Wahai
Muhammad, sesungguhnya engkau ada-lah utusan Allah yang benar”. Dan
ketika beliau mengarahkan pandangan mencari sumber suara itu, beliau
mendapati seluruh penjuru telah dipenuhi oleh cahaya yang gemerlapan dan hal
ini mencemaskan beliau sehingga dengan tergesa-gesa beliau kembali menemui
istri tercintanya. Khadijah lalu menyarankan menemui Waraqah bin Naufal,
seorang tua yang mempunyai pengetahuan tentang agama-agama terdahulu.
Dalam pertemuan tersebut terjadilah dialog.
“Dari mana engkau mendengar suara tersebut?” tanya Waraqah. “Dari atas,”
jawab Nabi. Waraqah kemudian berkata, “Yakinlah bahwa suara itu bukan
bisikan setan, karena setan tidak akan mampu datang dari arah atas (simbol
ketinggian Tuhan), tidak pula dari arah bawah (tempat menundukkan kening
untuk bersujud). Suara itu adalah suara dari malaikat.” Hal ini sejalan dengan
al-Quran, surat al-A’raf : 17.
Membaca : pilar pembangunan peradaban (al-qira’ah ruknu bina-il
hadharah)
Kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang pada mulanya berarti
menghimpun. Apabila Anda merangkai huruf-huruf dan kata lalu
mengucapkannya, berarti menghimpun. Bisa juga berarti menghimpun
informasi sebanyak mungkin, dari mana saja sumbernya.
Makna ini menunjukkan bahwa iqra’ (bacalah) tidak mengharuskan adanya teks
tertulis (malfuzh) yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar
orang lain. Jadi iqra’ bisa bermakna membaca teks dan sesuatu yang tidak
tertulis (malhuzh).
Dalam kamus-kamus bahasa, ditemukan aneka ragam arti dari kata iqra’, antara
lain menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui
ciri-cirinya. Kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat menghimpun
(informasi).
Perintah membaca disini tidak disebutkan obyeknya. Kaidah bahasa Arab
mengatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan
obyeknya (maf’ul), maka obyek yang dimaksud bersifat umum. Mencakup
segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut.
Oleh karenanya obyek dari perintah membaca (iqra’) disini menjangkau bacaan
suci yang bersumber dari Tuhan (ayat tanziliyah) maupun ayat kauniyah. Baik
yang tertulis, bisa dilafalkan (malfuzh) maupun yang tidak tertulis (malhuzh).
Membaca alam raya, masyarakat, sejarah, diri sendiri, firman Tuhan, majalah,
koran, dll.
Muhammad Abduh mengatakan bahwa iqra’ bukan perintah yang membebani
(amr taklifi) yang membutuhkan obyek, tetapi perintah disini merupakan
suruhan untuk aktif (amr takwini). Kun fa yakun (jadilah engkau wahai
Muhammad orang yang dapat membaca, maka jadilah ia).
Sejalan dengan pendapat terakhir diatas, Buya Malik Ahmad mengatakan
bahwa membaca menghendaki adanya gerakan yang dinamis, produktif dan
kreatif. Bukan sebatas mengeja. Agaknya pendapat inilah yang selaras dengan
perintah Tuhan pada surat al-‘Alaq.
Membaca dengan beragam artinya adalah syarat pertama dan utama
pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban.
Ilmu, baik yang diperoleh dengan usaha manusia, ‘ilmu kasbi (acquired
knowledge) sesuai dengan perintah membaca pada ayat pertama, maupun ‘ilmu
ladunni (abad, perennial), suatu ilmu yang diberikan atas kemurahan Allah
ketika hati yang membaca dalam keadaan suci. Tetapi kedua ilmu itu
hakikatnya milik Allah.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab
(bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9
sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya kitab Perjanjian Baru (New
Testament). Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan
berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Sementara peradaban Islam yang
gemilang dipicu oleh daya kekuatan yang tumbuh dari al-Qur’an, yang berarti
bacaan yang sempurna.
Kegiatan membaca ayat al-Qur’an melahirkan penafsiran-penafsiran baru atau
pengembangan dari pendapat-pendapat yang telah ada. Demikian juga, kegiatan
“membaca” alam raya ini menimbulkan penemuan-penemuan baru yang
membuka rahasia-rahasia alam, walaupun obyek bacaannya sama. Ayat al-
Qur’an yang dibaca oleh generasi terdahulu, dan alam raya yang mereka huni
adalah sama, namun pemahaman mereka serta penemuan rahasianya terus
berkembang.
Sungguh, perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang
pernah dan yang dapat diberikan kepada umat manusia, karena ia adalah jalan
yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna
(yarf’ul insana ila arqaa madarijiha).
Beralasan, bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama membangun
peradaban. Semakin luas pembacaan, makin tinggi peradaban dan sebaliknya.
Tidak berlebihan pada suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai
‘makhluk membaca’, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari
definisi yang telah ada seperti ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.

Membaca dalam tinjauan al-Qur’an (al-qira’ah fi dhaw’il Qur’an)


Membaca pada hakikatnya langkah esensial untuk penyaluran fitrah manusia.
Sekalipun manusia tidak diperintah untuk membaca, dengan sendirinya
memiliki bawaan bisa membaca. Karena sesuatu yang melekat pada diri
manusia adalah selalu ingin tahu. Anak kecil saja sering mengajukakan berbagai
pertanyaan yang membuat kita terpojok. Pertanyaan itu muncul sebagai wujud
respon dari apa yang dilihat, diraba, diamati, dibaca dan yang disaksikan.
Sebelum Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan sesuatu, terlebih dahulu
telah disiapkan sarana-sarana yang mendukung terlaksananya sebuah perintah
(amr). Bahkan kaidah ushul fiqh mengatakan :

K‫د‬K‫اص‬H‫ق‬H‫م‬J‫ ال‬K‫م‬J‫ك‬P‫ح‬K‫ ب‬P‫ة‬H‫يل‬J K‫س‬H‫و‬J‫ال‬


“Pada kasus-kasus tertentu, sarana-prasarana itu sama pentingnya dengan
tujuan”.

ˆ‫ب‬K‫اج‬H‫ و‬H‫و‬P‫ه‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫ل ب‬


N K‫ إ‬P‫ب‬K‫اج‬H‫و‬J‫̄م ال‬K‫ت‬H‫ ي‬H‫ا ل‬H‫م‬
“Sesuatu yang menjadikan kewajiban tidak dapat terlaksana, maka adanya
sesuatu itu adalah wajib.”
Untuk suksesnya tugas kehambaan dan kekhalifahan, Allah telah menyediakan
alam semesta untuk manusia sebagai media terlaksananya tugas tersebut.
Demikian pula sebelum menyuruh membaca, Allah telah memperlengkapi
manusia dengan pendengaran, penglihatan dan hati. Perintah membaca adalah
usaha mengaktifkan instrumen pendengaran, penglihatan dan hati, agar
berfungsi secara proporsional dan maksimal.

: ‫ )السجدة‬€‫دة‬€ ‚‫لف„ئ‬€ „‫ا‬€‫ و‬€‫ار‬€‫ب„ ص‬€‫ „ال‬€‫ و‬€‫ ال س†م„ع‬P‫ م‬P‫ك‬H‫ ل‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ و‬K‫ ه‬K‫ح‬J‫و‬P‫ ر‬J‫ ن‬K‫ م‬K‫ي ه‬J K‫ ف‬H‫ خ‬H‫ف‬H‫ن‬H‫ و‬P‫اه‬N‫و‬H‫ س‬N‫ م‬P‫ث‬
(9
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh
(ciptaan-Nya) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati.” (QS as-Sajdah : 9).
Jadi ayat diatas dapat dipahami bahwa aktifitas mendengar, melihat dan hati
adalah kegiatan ruhani. Jika manusia secara fisik berwujud, tetapi ketiga potensi
tersebut tidak diaktifkan maka ia bagaikan bangkai yang berjalan. Perhatikanlah
seruan ahli sastra Arab berikut ini.

P‫ان‬H‫ر‬J‫س‬P‫ خ‬K‫ه‬J‫ي‬K‫ا ف‬N‫م‬K‫ م‬H‫ح‬J‫ب‬S‫ الر‬P‫ب‬P‫ل‬J‫ط‬H‫ت‬H‫ * أ‬K‫ه‬K‫ت‬H‫م‬J‫د‬K‫خ‬K‫ى ل‬H‫ع‬J‫تس‬H J‫م‬H‫ ك‬K‫م‬J‫س‬K‫ج‬J‫ ال‬H‫م‬K‫اد‬H‫ا خ‬H‫ي‬
P‫ان‬H‫نس‬J K‫ إ‬K‫م‬J‫س‬K‫ج‬J‫ال‬K‫ل ب‬
H K‫س‬J‫ف‬N‫الن‬K‫ ب‬H‫ت‬J‫ن‬H‫أ‬H‫ا * ف‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ائ‬H‫ض‬H‫ ف‬J‫ل‬K‫م‬J‫ك‬H‫ت‬J‫اس‬H‫ ف‬K‫س‬J‫ف‬N‫ى الن‬H‫عل‬
H J‫ل‬K‫ب‬J‫ق‬H‫أ‬
Wahai kamu yang selalu mengurusi badanmu. Betapa banyak usaha yang telah
kamu lakukan. Apakah kamu mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas rugi.
Perhatikan jiwamu, sebab kamu disebut manusia dengan jiwa, bukan karena
tubuh jasmanimu.
Berikut dipaparkan seruan Allah agar manusia selalu membaca dengan redaksi
ra-aa.

(59-58 : ‫ )الواقعة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬K‫ال‬H‫خ‬J‫ ال‬P‫هم‬P J‫م‬H‫ أ‬P‫ه‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬P‫ل‬J‫تخ‬H J‫تم‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ ء‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ن‬J‫تم‬P ‫ا‬H‫ي„ •تم„ م‬€‫أ‬€‫فر‬€ €‫أ‬
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah
yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” (QS al-Waqi’ah :
58-59).

‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ ل‬P‫آء‬H‫نش‬H ‫و‬J H‫ ل‬. H‫ ن‬J‫و‬P‫ع‬K‫ار‬N‫ الز‬P‫ ن‬J‫ح‬H‫ ن‬J‫ م‬H‫ أ‬P‫ ه‬H‫ن‬J‫و‬P‫ع‬H‫ر‬J‫ز‬H‫ ت‬J‫ت م‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ ء‬. H‫ ن‬J‫و‬P‫ث‬P‫ر‬J‫تح‬H ‫ا‬H‫ي„ •ت م„ م‬€‫أ‬€‫فر‬€ €‫أ‬
(65-63 : ‫ )الواقعة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ه‬N‫ك‬H‫تف‬H J‫م‬P‫ت‬J‫ل‬H‫ظ‬H‫ا ف‬³‫ام‬H‫ط‬P‫ح‬
“Maka terangkanlah kepadaku apa yang kamu tanam? Kamukah yang
menumbuhkannya, ataukah Kami yang menumbuhkannya? Kalau Kami
Kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah
kamu heran tercengang.” (QS al-Waqi’ah : 63-65).

H‫ن‬J‫و‬P‫ع‬K‫ار‬N‫ الز‬P‫ن‬J‫نح‬H J‫م‬H‫ أ‬K‫ن‬J‫ز‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬P‫ه‬J‫و‬P‫م‬P‫ت‬J‫ل‬H‫نز‬J H‫ أ‬J‫تم‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ ء‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ب‬H‫ر‬J‫تش‬H J‫ذي‬K N‫ ال‬H‫اء‬H‫م‬J‫ي„ •تم• ال‬€‫أ‬€‫فر‬€ €‫أ‬
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?”
‫ة‬H‫ر‬K‫ك‬J‫ذ‬H‫ا ت‬H‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬P‫ن‬J‫ح‬H‫ ن‬. J‫ ن‬P‫ؤ‬K‫ش‬J‫ن‬P‫م‬J‫ ال‬P‫ ن‬J‫ح‬H‫ ن‬J‫م‬H‫ا أ‬H‫ه‬H‫ت‬H‫ر‬H‫ج‬H‫ ش‬J‫م‬P‫ت‬J‫أ‬H‫ش‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ت‬J‫ن‬H‫أ‬H‫ ء‬. H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬J‫و‬P‫ ت‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ي„ت•م• ال‬€‫أ‬€‫ر‬€‫ف‬€‫أ‬
(73-71 : ‫ )الواقعة‬H‫ن‬J‫ي‬K‫و‬J‫ق‬P‫م‬J‫ل‬K‫ا ل‬³‫اع‬H‫ت‬H‫م‬H‫و‬
“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-
gosokan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang
menjadikannya. Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang
berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS al-Waqi’ah : 71-73).

‫ى‬€‫ر‬€‫ا ت‬€‫اذ‬€‫ان„ظ•ر„ م‬€‫ ف‬H‫ك‬P‫ح‬H‫ذب‬J H‫ أ‬J‫ني‬SH‫ أ‬K‫ام‬H‫ن‬H‫م‬J‫ ال‬K‫ى في‬H‫ر‬H‫ أ‬J‫ني‬S K‫ إ‬N‫ني‬H P‫يب‬H H‫ال‬H‫ ق‬H‫ي‬J‫ع‬N‫ الس‬P‫ه‬H‫ع‬H‫ م‬H‫لغ‬HH‫ا ب‬N‫م‬H‫ل‬H‫ف‬
(102 : ‫ )الصافات‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اب‬N‫ الص‬H‫ن‬K‫ م‬P‫ ال‬H‫آء‬H‫ ش‬J‫ن‬K‫ إ‬J‫ني‬K P‫د‬K‫ج‬H‫ت‬H‫ س‬P‫ر‬H‫م‬J‫ؤ‬P‫ا ت‬H‫ م‬J‫ل‬H‫ع‬J‫ اف‬K‫ت‬H‫ب‬H‫أ‬H‫ ي‬H‫ال‬H‫ق‬
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya-Allah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS ash-Shaffat :102).
Berkali-kali manusia diperintahkan untuk melakukan nazhar, fikr, dabbara,
serta berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak
mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya.

‫ال‬H‫ب‬K‫ج‬J‫ ال‬H‫لى‬K‫وإ‬H . J‫ ت‬H‫ع‬K‫ف‬P‫ ر‬H‫ ف‬J‫ي‬H‫ ك‬K‫آء‬H‫م‬N‫ ال س‬H‫لى‬K‫وإ‬H . J‫ ت‬H‫ق‬K‫ل‬P‫ خ‬H‫ي ف‬J H‫ ك‬H‫بل‬K K‫ل‬J‫ ا‬H‫لى‬K‫ إ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫نظ‬J H‫ ي‬H‫ل‬H‫ف‬H‫أ‬
(20-17 : ‫ )الغاشية‬J‫ت‬H‫ح‬K‫سط‬ P H‫ف‬J‫ي‬H‫ ك‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫لى‬K‫إ‬H‫ و‬. J‫ت‬H‫ب‬K‫نص‬P H‫ف‬J‫ي‬H‫ك‬
“Tidakkah mereka melihat kepada onta bagaimana diciptakan, dan ke langit
bagaimana ia ditinggikan, ke gunung bagaimana ia ditancapkan, serta ke bumi
bagaimana ia dihamparkan.” (QS al-Ghasyiyah : 17-20).
Perintah membaca ini mencakup dengan akal, emosi dan hati nurani. Perintah
yang diawali dengan komunikasi dua arah yang efektif melahirkan sikap
ketaatan yang tinggi. Ajakan yang dimulai dengan pendekatan, akan
memunculkan militansi. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang bisa
memuaskan otak pemikir, mempertajam perasaan para sufi, memperbaiki
akhlak yang keras hati, menghidupkan rasa keindahan bagi pecinta seni.
Manusia yang enggan mengaktifkan institusi pendengaran, penglihatan dan hati
maka ia laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat. Ibnu Taimiyah mengatakan
manusia yang pasif laksana telah mati sebelum meninggal. Karena hatinya
tertutup dari hidayah.

(24 : ‫ا )محمد‬H‫ه‬P‫ال‬H‫ف‬J‫ق‬H‫ أ‬m‫ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ى ق‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫م‬H‫ أ‬H‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ ال‬H‫ن‬J‫و‬P‫بر‬N H‫تد‬H H‫ ي‬H‫ل‬H‫ف‬H‫أ‬


“Maka apakah mereka tidak men-tadabburi al-Qur’an ataukah hati mereka
terkunci.” (QS Muhammad :24).

‫ع„ي•ن‬€‫ أ‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ل‬H‫ا و‬H‫به‬K H‫ن‬J‫و‬P‫ه‬H‫ق‬J‫ف‬H‫ ي‬H‫„ب ل‬


ˆ ‫ ق•ل•و‬J‫م‬P‫ه‬H‫ ل‬K‫نس‬J K‫ل‬J‫ا‬H‫ و‬S‫ن‬K‫ج‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ا م‬³‫ر‬J‫ثي‬K H‫ ك‬H‫م‬N‫ن‬H‫ه‬H‫ج‬K‫ا ل‬H‫ن‬J‫أ‬H‫ذر‬H J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬
‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫̄ل أ‬H‫ض‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ ه‬J‫ل‬H‫ ب‬K‫ا م‬H‫نع‬J H‫ل‬J‫ا‬H‫ ك‬H‫ ك‬K‫ئ‬H‫ول‬J P‫ا أ‬H‫ ه‬K‫ن ب‬
H ‫و‬J P‫ع‬H‫م‬J‫ س‬H‫ ي‬H‫انˆ ل‬€‫ آذ‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ول‬H ‫ا‬H‫ ه‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫ص‬J‫ب‬P‫ ي‬H‫ل‬
(179 : ‫ )العراف‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬K‫اف‬H‫غ‬J‫م ال‬P P‫ه‬
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raf : 179).
Membaca tidak sekedar untuk memadati otak sehingga hanya menjadi
pengetahuan (daya tahu) yang bersifat teoritis. Membaca menuntut adanya aksi,
iradah (daya mau). Keluasan ilmu pengetahuan tanpa disertai kemauan
mengamalkan maka ilmu itu akan menjadi saksi yang memberatkan pemiliknya
(hujjatun ‘alaihi) kelak di depan Mahkamah Ilahi..
Kualitas bacaan berbanding lurus dengan mutu amal. Kebenaran membaca
sangat mempengaruhi keabsahan amal. Perbedaan kesimpulan bacaan
mempengaruhi perbedaan kesempurnaan amal. Amal yang tak berdasarkan
bacaan (taqlid) adalah salah, atau dikatagorikan dengan bid’ah (membuat amal
ibadah tanpa contoh sebelumnya). Amal yang benar merujuk pada kelengkapan
referensi yang utuh (ittiba’). Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bacalah dan
beramallah”.
Dalam ilmu hukum seseorang yang melihat bahaya, kemudian dia tidak
bergerak untuk menanggulangi bahaya itu (diam), sekedar sebagai penonton
dan tidak segera beraksi maka ia akan menjadi tertuduh. Disini korelasi yang
menunjukkan makna iqra’ yang menuntut adanya gerakan (aksi).
“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah
dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, dan jika tidak
sanggup juga maka dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman.” (HR
Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu).
Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam memberikan gelar orang Islam yang enjoy
dengan melihat kemaksiatan yang tersebar di sekitarnya tanpa upaya
merubahnya dengan ‘ayaithanun akhrash’ (syetan yang bisu).
Dalam memberikan standar membaca ini, Imam al-Ghazali membagi manusia
menjadi empat kelompok.

P‫ه‬J‫ع‬K‫ب‬N‫ات‬H‫ ف‬P‫م‬K‫ال‬H‫ ع‬H‫و‬P‫ه‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ ي‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ أ‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ي‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ر‬J‫يد‬H ‫̂ل‬P‫ج‬H‫ر‬


Pertama, seorang yang tahu dan ia menyadari bahwa dirinya tahu maka ia
adalah orang yang ‘alim, ikutilah dia.

P‫ه‬J‫ك‬P‫ر‬J‫ات‬H‫̂ل ف‬K‫اف‬H‫ غ‬H‫و‬P‫ه‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ ي‬P‫نه‬N H‫ أ‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ر‬J‫د‬H‫̂ل ي‬P‫ج‬H‫ر‬H‫و‬


Kedua, seorang yang tahu tetapi ia tidak menyadari bahwa dirinya tahu, maka ia
termasuk orang yang lalai, tinggalkan dia.

P‫ه‬J‫د‬K‫ش‬J‫ر‬H‫أ‬H‫̂ل ف‬K‫اه‬H‫ ج‬H‫و‬P‫ه‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ ي‬H‫ ل‬P‫نه‬N H‫ أ‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ي‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ر‬J‫د‬H‫ ي‬H‫̂ل ل‬P‫ج‬H‫ر‬H‫و‬
Ketiga, seorang yang tidak tahu dan menyadari bahwa dirinya tidak tahu maka
ia adalah orang yang bodoh, bimbinglah dia.

P‫ه‬J‫ض‬P‫ف‬J‫ار‬H‫بˆ ف‬N‫ك‬H‫ر‬P‫̂ل م‬K‫اه‬H‫ ج‬H‫و‬P‫ه‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫ر‬J‫د‬H‫ ي‬H‫ ل‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ أ‬J‫ي‬K‫در‬J H‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ر‬J‫د‬H‫ ي‬H‫̂ل ل‬P‫ج‬H‫ر‬H‫و‬
Keempat, seorang yang tidak tahu tetapi tidak menyadari bahwa dirinya tidak
tahu maka ia bodoh kwadrat, tolaklah dia.
Dalam kacamata al-Qur’an, jika membaca sesuatu hanya dari kacamata
lahiriyah saja, maka seseorang mudah berburuk sangka terhadap Tuhan. Karena
pendalamannya terhadap obyek bacaan dangkal. Bukankah kita seringkali
tertipu oleh panca indra kita sendiri. Dari kejauhan kita melihat air, setelah
didatangi ternyata fatamorgana. Kita mengira bayangan kita tetap, padahal
bergerak. Padahal betapa sering kita memperoleh nikmat dengan dibungkus
kulit yang pahit. Blessing in disguis (disana ada berkah terselubung).

‫ال‬H‫ و‬J‫م‬P‫ك‬H‫ ل‬Ó‫ر‬H‫ ش‬H‫و‬P‫وه‬H ‫ا‬³‫يئ‬J H‫ا ش‬J‫̄بو‬K‫ح‬P‫ ت‬J‫ن‬H‫ى أ‬H‫س‬H‫ع‬H‫ و‬J‫م‬P‫ك‬H‫̂ر ل‬J‫ي‬H‫ خ‬H‫و‬P‫ه‬H‫ا و‬³‫ئ‬J‫شي‬
H ‫ا‬J‫و‬P‫ه‬H‫ر‬J‫تك‬H J‫ن‬H‫ى أ‬H‫س‬H‫ع‬H‫و‬
(216 : ‫ )البقرة‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫تع‬H H‫ ل‬J‫تم‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyenangi sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah : 216).
Fenomena ini terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Haidhir. Dari rentetan
peristiwa kedua Nabi Allah itu terlihat perbedaan yang sangat tajam kualitas
bacaan masing-masing. Sehingga melahirkan kualitas amal (sikap) yang
bertolak belakang pula.
Marilah kita ceritakan peristiwa yang menurut penglihatan Nabi Musa tampak
ketidakadilan semata-mata. Coba anda bayangkan, Nabi Musa dan gurunya naik
sebuah perahu kepunyaan orang-orang miskin yang konon keduanya tidak
dikenakan bayaran karena para pemilik perahu disitu telah mengenal baik guru
Nabi Musa (Haidhir). Tapi apa balas budi atas kebaikan para pemilik perahu
itu? Bukan balas budi, tetapi dilobanginya perahu itu sampai karam.
Keduanya berjumpa dengan seorang anak laki-laki yang masih dibawah umur,
belum patut mendapat hukuman, apalagi hukuman mati. Tetapi anak laki-laki
itu dibunuh oleh guru nabi Musa. Tidakkah wajar protes Nabi Musa seperti
yang disebutkan dalam cerita itu?
Kejadian yang ketiga tidak kurang ganjilnya. Nabi Musa bersama gurunya itu
telah kehabisan bekal, mereka memasuki sebuah negeri lalu mereka
mengharapkan mereka bersedia memberikan makan barang sedikit, tapi
penduduk negeri itu begitu teganya menolak memberikan jamuan. Lalu kedua
orang yang lapar itu kemudian menemukan dinding yang hampir roboh, lalu
dinding itu diperbaiki oleh guru Nabi Musa dan ditegakkannya kembali. Lalu
apakah aneh kalau timbul gagasan Nabi Musa untuk meminta upahnya dari
pemilik dinding itu untuk membeli makanan sekedar penahan lapar ?
Karena peristiwa-peristiwa tadi dibaca Musa hanya dari segi lahiriyah saja,
tampak oleh beliau ketidakadilan, jiwa beliau memberontak sehingga tidak bisa
lagi menahan kesabarannya, beliau lupa akan perjanjian dengan gurunya itu
sebelumnya lalu beliau mengajukan protes keras.
‫م‬P‫ه‬H‫آء‬H‫ر‬H‫ و‬H‫ان‬H‫ك‬H‫ا و‬H‫به‬H J‫ي‬K‫ع‬H‫ أ‬J‫ن‬H‫د„ت• أ‬€‫ر‬€‫فأ‬€ ‚‫ر‬J‫ح‬H‫ب‬J‫ى ال‬K‫ ف‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬H‫م‬J‫ع‬H‫ ي‬H‫ن‬J‫ي‬K‫اك‬H‫س‬H‫م‬K‫ ل‬J‫ت‬H‫ان‬H‫ك‬H‫ ف‬P‫ة‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ف‬N‫ا الس‬N‫م‬H‫أ‬
(79 : ‫ا )الكهف‬³‫ب‬J‫ص‬H‫ غ‬m‫نة‬H J‫ي‬K‫ف‬H‫ س‬N‫ل‬P‫ ك‬P‫ذ‬P‫خ‬J‫أ‬H‫كˆ ي‬K‫ل‬H‫م‬
“Adapun perahu itu, maka ia adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di
lautan itu. Dan aku hendak merusaknya karena di belakang mereka ada
seorang raja yang mengambil tiap-tiap perahu tanpa ganti rugi.” (QS al-
Kahfi : 79)
Pada ayat ini Nabi Haidhir lebih menonjol kecerdasan rasionalnya. Merusak
perahu lebih banyak ia perankan sendiri – dengan redaksi ayat – fa-aradtu an
a’iibaha. Kecerdasan intlektual menghasilkan ‘ilmu kasbi (ilmu yang diperoleh
karena usaha manusia, penelitian eksperimen, menggunakan teori ilmiah, dll).
Ini sejalan dengan perintah iqra’ (bacalah) pada ayat pertama surat al-‘Alaq.

‫ن‬H‫ا أ‬€‫د„ ن‬€‫ر‬€‫فأ‬€ . ‫ا‬³‫ر‬J‫ف‬P‫ك‬H‫ا و‬³‫ا ن‬H‫ي‬J‫غ‬P‫ا ط‬H‫ م‬P‫ه‬H‫ق‬K‫ه‬J‫ير‬P J‫ ن‬H‫آ أ‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ش‬H‫خ‬H‫ ف‬K‫ين‬J H‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫ م‬P‫ا ه‬H‫بو‬H H‫ أ‬H‫ا ن‬H‫ك‬H‫ ف‬P‫ م‬H‫ل‬P‫غ‬J‫ا ال‬N‫ م‬H‫أ‬H‫و‬
(80 : ‫ا )الكهف‬³‫م‬J‫ح‬P‫ ر‬H‫ب‬H‫ر‬J‫ق‬H‫أ‬H‫ و‬³‫ة‬H‫كا‬H‫ ز‬P‫ه‬J‫ن‬K‫ا م‬³‫ر‬J‫ي‬H‫ا خ‬H‫م‬P‫̄به‬H‫ا ر‬P‫م‬P‫ه‬H‫ل‬K‫بد‬J P‫ي‬
“Adapun anak laki-laki itu, maka kedua orang tuanya adalah orang yang
beriman, maka kami khawatir bahwa anak itu akan mendorong kedua orang
tuanya itu pada kesesatan dan kekufuran. Maka kami ingin agar Tuhan mereka
menggantikan anak itu dengan yang lebih baik kesuciannya dan lebih
berbakti.” (QS al-Kahfi : 80).
Pada ayat ini Allah dan Haidhir sama-sama terlibat dalam aktifitas. Dengan
menggunakan redaksi ayat fa aradnaa (kami ingin), seolah-olah Haidhir bisa
membaca atas kemurahan Allah (al-Akram) berupa ilham, intuisi (feeling).

‫ا ن‬H‫ك‬H‫ا و‬H‫ م‬P‫ه‬H‫̂ز ل‬J‫ن‬H‫ ك‬P‫ ه‬H‫ت‬J‫ح‬H‫ ت‬H‫ا ن‬H‫ك‬H‫ و‬K‫ة‬H‫ن‬J‫دي‬K H‫م‬J‫ ال‬K‫ فى‬K‫ي ن‬J H‫م‬J‫ي‬K‫يت‬H K‫ ن‬J‫ي‬H‫م‬H‫ل‬P‫غ‬K‫ ل‬H‫ا ن‬H‫ك‬H‫ ف‬P‫ار‬H‫د‬K‫ج‬J‫ا ال‬N‫ م‬H‫أ‬H‫و‬
‫ك‬S‫ب‬H‫ ر‬J‫ن‬K‫ م‬³‫ة‬H‫م‬J‫ح‬H‫ا ر‬H‫م‬P‫ه‬H‫نز‬J H‫ا ك‬H‫ج‬K‫ر‬J‫تخ‬H J‫يس‬H H‫ا و‬H‫م‬P‫ده‬N P‫ش‬H‫ا أ‬H‫غ‬P‫ل‬J‫يب‬H J‫ن‬H‫ أ‬€‫ك‬Œ‫ب‬€‫ ر‬€‫اد‬€‫ر‬€‫فأ‬€ ‫ا‬³‫ح‬K‫ال‬H‫ا ص‬H‫هم‬P J‫و‬P‫ب‬H‫أ‬
(82 : ‫ا )الكهف‬³‫ر‬J‫صب‬ H K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ع‬K‫ط‬H‫ست‬ J H‫ ت‬J‫م‬H‫ا ل‬H‫ م‬P‫يل‬J K‫و‬J‫أ‬H‫ ت‬H‫ك‬K‫ذل‬H ‫ي‬
„ ‚‫م„ر‬€‫ن„ أ‬€‫ل„ت•ه• ع‬€‫ع‬€‫ا ف‬€‫م‬€‫و‬
“Adapun dinding itu, maka itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu,
dan dibawahnya ada harta simpanan bagi keduanya, sedang bapaknya dahulu
adalah orang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai
kepada kedewasaan mereka dan mengeluarkan harta simpanan mereka itu
sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan tidaklah aku melakukannya menurut
kehendakku sendiri. Demikianlah arti perbuatan-perbuatan yang anda tidak
mampu bersabar terhadapnya.” (QS al-Kahfi : 82).
Pada ayat ini Haidhir memiliki kecerdasan yang paling tinggi (kecerdasan
supra-rasional), dengan redaksi ayat fa araada rabbuka (maka Tuhanmu
berkehendak), seakan-akan Haidhir bisa membaca keinginan Tuhan.
Setelah Nabi Musa dijelaskan rahasia di balik kejadian-kejadian yang semula
dirasakan tidak adil, bahwa perahu yang dilobangi itu sekedar supaya terlihat
rusak sehingga tidak dirampas oleh raja yang lalim, bahwa anak laki-laki yang
dibunuh itu seandainya terus hidup sampai dewasa akan menjadi anak yang
durhaka yang akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang shalih ke dalam
kesesatan dan kekufuran, lalu sesudah itu Allah menggantinya dengan anak
yang lebih suci dan berbakti, bahwa dinding itu bukanlah milik orang-orang
yang tidak bersedia menjamu mereka, tetapi kepunyaan dua anak yatim yang
belum dewasa, tidak tahu menahu tentang sikap yang tidak patut dari penduduk
negeri itu.
Ya. Setelah dijelaskan semua peristiwa-peristiwa itu bagi Nabi Musa, maka
keadaan berbalik menjadi 180 derajat. Kini bukan saja Nabi Musa menganggap
kejadian itu seadil-adilnya, tetapi didalamnya mengandung kebijaksanaan
Tuhan Yang Maha Bijaksana.
Dari rentetan kejadian diatas kita memahami bahwa kualitas pengamatan yang
dimiliki Nabi Haidhir berbeda jauh dengan mutu penglihatan Nabi Musa,
sehingga melahirkan tindakan yang semula sulit dikompromikan.
Islam mengecam seseorang yang berbuat tanpa kelengkapan informasi (ilmu).
Mengatakan tahu padahal tidak tahu; mengatakan melihat, tapi tidak melihat;
mengatakan mendengar tetapi tidak mendengar; mengatakan faham tetapi tidak
faham; sehingga ia beramal hanya mengikuti dorongan hawa nafsunya. Karena
aktifitas sama’, bashar, dan af-idah akan dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Tuhan.

‫ه‬J‫ن‬H‫ ع‬H‫ا ن‬H‫ ك‬H‫ ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫̄ل أ‬P‫ ك‬H‫اد‬H‫ؤ‬P‫ف‬J‫ال‬H‫ و‬H‫ر‬H‫ب ص‬H J‫ال‬H‫ع و‬H J‫م‬N‫ ال س‬N‫ ن‬K‫ مˆ إ‬J‫ل‬K‫ ع‬K‫ ه‬K‫ ب‬H‫ ك‬H‫ ل‬H‫ س‬J‫ي‬H‫ا ل‬H‫ م‬P‫ ف‬J‫ق‬Ò‫ ت‬H‫ل‬H‫و‬
(36 : ‫ل )السراء‬ ³ J‫و‬P‫ؤ‬J‫س‬H‫م‬
“Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra’ : 36).

Ilmu dalam perspektif Islam (al-‘ilmu fi miizanil Islam)


Ilmu menurut bahasa artinya kejelasan atas sesuatu atau pengetahuan. Para
ulama mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan akan kebenaran berdasarkan
dalil (hujjah), atau penemuan terhadap sesuatu secara hakiki.
Dengan definisi ini jelaslah perbedaan ilmu dengan tsaqafah. Tsaqafah adalah
pemahaman terhadap berbagai disiplin ilmu secara global (ijmal), sedangkan
ilmu adalah pemahaman khusus lagi mendalam terhadap salah satu cabang ilmu
dari berbagai jenis ilmu lainnya. Karena itu ilmu merupakan kebutuhan primer
bagi manusia seperti kebutuhan makan dan minum, maka Islam memberi
perhatian yang sangat besar terhadapnya; tingkat perhatian yang tidak dijumpai
dalam agama sebelumnya maupun dalam sistem buatan manusia manapun, baik
yang terdahulu maupun yang akan datang. Dengan melihat Kitabullah dan
Sunah Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam kita akan menemukan contoh
dalam teksnya dengan jelas.
Al-Qur’an mensejajarkan antara ikrar dan persaksian orang-orang yang berilmu
dengan persaksian Allah dan malaikat.
: ‫ )آل عمران‬K‫ط‬J‫ س‬K‫ق‬J‫ال‬K‫ا ب‬³‫م‬K‫ائ‬H‫ ق‬K‫ م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫وا ال‬P‫ل‬J‫و‬P‫وأ‬H P‫ة‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫م‬J‫ال‬H‫و و‬H P‫ ه‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫د‬K‫ه‬H‫ش‬
(18
“Allah menyatakan bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian).” (QS Ali Imran : 18).
Orang-orang mukmin yang berpengetahuan lebih utama dan lebih tinggi
kedudukannya pada hari kiamat daripada orang-orang mukmin yang tidak
berpengetahuan.

(11 : ‫ )المجادلة‬m‫ات‬H‫ج‬H‫ر‬H‫ د‬H‫م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫وا ال‬P‫ت‬J‫و‬P‫ أ‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫ و‬J‫م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ ال‬K‫ع‬H‫ف‬J‫ر‬H‫ي‬
“(Niscaya) Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-
Mujadalah : 11).
Orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berpengetahuan.

(9 : ‫ )الزمر‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬H‫ ل‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ال‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬H‫ن‬J‫ذي‬K N‫ي ال‬K‫و‬H‫ت‬J‫يس‬H J‫هل‬H J‫ل‬P‫ق‬


“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” (QS az-Zumar : 9).
Ketakwaan dan rasa takut kepada Allah yang sebenarnya hanya akan dicapai
oleh para ulama’.

(28 : ‫ )فاطر‬P‫اء‬H‫م‬H‫ل‬P‫ع‬J‫ ال‬K‫ه‬K‫اد‬H‫ب‬K‫ ع‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ى ال‬H‫ش‬J‫خ‬H‫ا ي‬H‫م‬N‫ن‬K‫إ‬


“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya
hanyalah para ulama.” (QS Fathir : 28).
Ahli ilmu adalah orang yang menjadi saksi atas orang-orang yang berbuat
durhaka.

(43 : ‫ )الرعد‬K‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ ال‬P‫م‬J‫ل‬K‫ ع‬P‫ده‬H J‫ن‬K‫ ع‬J‫ن‬H‫م‬H‫م و‬J P‫ك‬H‫ن‬J‫بي‬H H‫ و‬J‫ني‬K J‫ي‬H‫ا ب‬³‫يد‬J K‫ه‬H‫ ش‬K‫ال‬K‫ى ب‬H‫ف‬H‫ ك‬J‫ل‬P‫ق‬
“Katakanlah : Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku (dan kamu dan antara
orang) yang mempunyai ilmu al-Kitab.” (QS ar-Ra’du : 43).
Penguasaan terhadap ilmu adalah sumber kekuatan.

(40 : ‫ )النمل‬H‫ك‬P‫ف‬J‫ر‬H‫ ط‬N‫د‬H‫ت‬J‫ير‬H J‫ن‬H‫ أ‬H‫ل‬J‫ب‬H‫ ق‬H‫يك‬J K‫آت‬H‫ا ء‬H‫ن‬H‫ أ‬K‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫̂م م‬J‫ل‬K‫ ع‬P‫ده‬H J‫ن‬K‫ ع‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ال‬H‫ق‬
“Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Kitab Allah, Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS an-
Naml : 40).
Hakikat dan keagungan akhirat hanya diketahui oleh para ulama’.

‫ا‬H‫ا ه‬N‫ق‬H‫ل‬P‫ ي‬H‫ل‬H‫ا و‬³‫ح‬K‫ال‬H‫ ص‬H‫ل‬K‫م‬H‫ع‬H‫ و‬H‫ن‬H‫ آم‬J‫ن‬H‫م‬K‫̂ر ل‬J‫ي‬H‫ خ‬K‫ ال‬P‫اب‬H‫و‬H‫ ث‬J‫م‬P‫ك‬H‫ل‬J‫ي‬H‫ و‬H‫م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫وا ال‬P‫ت‬J‫و‬P‫ أ‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ال‬H‫ق‬H‫و‬
(80 : ‫ )القصص‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫اب‬N‫ الص‬N‫ل‬K‫إ‬
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, Kecelakaan besarlah
bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan
beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali orang-orang yang
sabar.” (QS al-Qashash : 80).
Tiada yang mengetahui hakikat segala sesuatu kecuali para ‘ulama.

(43 : ‫ )العنكبوت‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ال‬H‫ع‬J‫ ال‬N‫ل‬K‫ا إ‬H‫ه‬P‫ل‬K‫ق‬J‫يع‬H ‫ا‬H‫م‬H‫ و‬K‫اس‬N‫لن‬K‫ا ل‬H‫ه‬P‫ب‬K‫ر‬J‫نض‬H P‫ال‬H‫ث‬J‫م‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫ك‬J‫ل‬K‫ت‬H‫و‬


“Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tiada
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS al-Ankabut : 43).
Allah menyifati kitab suci-Nya, bahwa Dia menjelaskannya berdasarkan kepada
ilmu.

(52 : ‫ )العراف‬m‫م‬J‫ل‬K‫ى ع‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬N‫ص‬H‫ ف‬m‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬K‫ ب‬J‫م‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ئ‬K‫ ج‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬


“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab suci (al-Qur’an)
kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan
Kami.” (QS al-A’raf : 52).
Kisah-kisah yang dipaparkan dalam ayat-ayat al-Qur’an juga bersumber kepada
ilmu.

(7 : ‫ )العراف‬H‫ين‬J K‫ب‬K‫ائ‬H‫ا غ‬N‫ن‬P‫ا ك‬H‫وم‬H m‫م‬J‫ل‬K‫بع‬K J‫م‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬N‫ن‬N‫ص‬P‫ق‬H‫ن‬H‫ل‬H‫ف‬


“Maka sesungguhnya akan Kami habarkan kepada mereka (apa-apa yang
telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan
Kami sekali-kali jauh (dari mereka).” (QS al-A’raf : 7).
Allah menciptakan manusia dan Dia mengajari mereka pandai berbicara.

(4-3 : ‫ )الرحمن‬H‫ان‬H‫ي‬H‫ب‬J‫ ال‬P‫ه‬H‫م‬N‫ل‬H‫ ع‬. H‫ان‬H‫س‬J‫لن‬


K J‫ ا‬H‫ق‬H‫ل‬H‫خ‬
“Dia (Allah) telah menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (QS
ar-Rahman : 3-4).
Banyak pula hadits yang menjelaskan pentingnya ilmu.
“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR al-Bukhari dan
Muslim).
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, Dia akan
memahamkannya dalam urusan agama.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
“Barangsiapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Ilmu yang diperintahkan dalam Islam bersifat mutlak. Keutamaan ilmu
bertingkat-tingkat sesuai dengan obyek dan bidang bahasannya. Dan ilmu yang
paling utama adalah ilmu agama, dengannya manusia dapat mengenal dirinya
dan Tuhannya, menyingkap jalan hidupnya, dan mengetahui hak dan
kewajibannya.
Setelah itu baru ilmu yang dapat mengungkap hakikat yang menuntun manusia
menuju kebenaran, mendekatkan mereka kepada kebaikan, mewujudkan
kemaslahatan bagi mereka, atau menghindarkan mereka dari bahaya.
Asas-asas pengetahuan ada lima yaitu : guru, murid, ilmu, metode, sarana dan
prasarana (QS al-‘Alaq : 1-5).

Membangun tradisi ilmiah (iijadu al-bi’ah al-‘ilmiyyah)


Islam membentuk sikap mental ilmiah dengan berbagai cara.
1) Mencela taklid

‫ه‬J‫ي‬H‫عل‬
H ‫ا‬H‫ ن‬J‫د‬H‫ج‬H‫ا و‬H‫ا م‬H‫ن‬P‫ب‬J‫ س‬H‫ا ح‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬K‫ول‬J P‫ س‬N‫ الر‬H‫لى‬K‫إ‬H‫ و‬P‫ ا ل‬H‫ل‬H‫ز‬J‫ن‬H‫آ أ‬H‫ م‬H‫لى‬K‫ا إ‬J‫و‬H‫ال‬H‫تع‬H J‫ م‬P‫ه‬H‫ ل‬H‫ل‬J‫ي‬K‫ا ق‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫و‬
(104 : ‫ )المائدة‬H‫ن‬J‫و‬P‫تد‬H J‫ه‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫ا و‬³‫ئ‬J‫شي‬ H H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫يع‬H H‫ ل‬J‫هم‬P P‫آؤ‬H‫آب‬H‫ ء‬H‫ان‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬H‫و‬H‫ا أ‬H‫ن‬P‫آء‬H‫آب‬H‫ء‬
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Marilah mengikuti (apa yang
diturunkan) Allah dan (marilah mengikuti) Rasul. Mereka menjawab,
‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya’. Dan (apakah mereka akan mengikuti juga nenek-moyang
mereka) walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan
tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS al-Maidah : 104).
2) Menolak persangkaan

: ‫ا )النجم‬³‫ئ‬J‫شي‬
H S‫ق‬H‫ح‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬J‫ني‬K J‫غ‬P‫ل ي‬
H N‫ن‬N‫ الظ‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ و‬N‫ن‬N‫ل الظ‬
N K‫ إ‬H‫ن‬J‫و‬P‫بع‬K N‫يت‬H J‫ن‬K‫ إ‬m‫م‬J‫ل‬K‫ ع‬J‫ن‬K‫ م‬J‫م‬P‫ه‬H‫ا ل‬H‫م‬H‫و‬
(28
“Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, padahal sesungguhnya
persangkaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS an-
Najm : 28).
“Jauhilah persangkaan karena persangkaan adalah sedusta-dusta perkataan.”
(Muttafaq ‘Alaih)
3) Menolak emosi, hawa nafsu, dan pertimbangan pribadi, menetapkan
prinsip netral dan obyektif

‫اه‬H‫و‬H‫ ه‬H‫ب ع‬H N‫ ات‬K‫ ن‬N‫م‬K‫̄ل م‬H‫ض‬H‫ أ‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ و‬J‫ م‬P‫ه‬H‫آء‬H‫و‬J‫أه‬H H‫ ن‬J‫و‬P‫بع‬K N‫يت‬H ‫ا‬H‫ م‬N‫ن‬H‫ أ‬J‫ م‬H‫ل‬J‫اع‬H‫ ف‬H‫ ك‬H‫ا ل‬J‫و‬P‫ب‬J‫ي‬K‫تج‬H J‫ي س‬H J‫ م‬H‫ ل‬J‫ ن‬K‫إ‬H‫ف‬
(50 : ‫ )القصص‬K‫ ال‬H‫ن‬K‫ى م‬³‫د‬P‫ ه‬K‫ر‬J‫ي‬H‫غ‬K‫ب‬
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa
sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS al-Qashash : 50).
4) Memberikan perhatian kepada pengamatan, berpikir, dan perenungan
‫ )العراف‬m‫ء‬J‫شي‬
H J‫ن‬K‫ م‬P‫ ال‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ا خ‬H‫م‬H‫ و‬K‫ض‬J‫لر‬
H J‫ا‬H‫ و‬K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ الس‬K‫ت‬J‫و‬P‫ك‬H‫ل‬H‫ م‬K‫ا في‬J‫و‬P‫ر‬P‫ظ‬J‫ن‬H‫ ي‬J‫م‬H‫ل‬H‫و‬H‫أ‬
(185 :
“Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala
sesuatu yang diciptakan Allah.” (QS al-A’raf : 185).

(21 : ‫ )الذاريات‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫ص‬J‫تب‬P H‫ل‬H‫ف‬H‫م أ‬J P‫ك‬K‫س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫ أ‬H‫في‬H‫و‬


“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka tidakkah kalian perhatikan.” (QS adz-
Dzariyat : 21).

‫ن‬J‫بي‬K S‫ذ‬H‫ك‬P‫م‬J‫ ال‬P‫ة‬H‫ب‬K‫اق‬H‫ ع‬H‫ان‬H‫ ك‬H‫يف‬J H‫ا ك‬J‫و‬P‫ر‬P‫ظ‬J‫ان‬H‫ ف‬K‫ض‬J‫لر‬


H J‫ ا‬K‫ا في‬J‫و‬P‫ر‬J‫ي‬K‫س‬H‫̂ن ف‬H‫ن‬P‫ س‬J‫م‬P‫ك‬K‫ل‬J‫ب‬H‫ ق‬J‫ن‬K‫ م‬J‫ت‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫د‬H‫ق‬
(137 : ‫)آل عمران‬
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnatullah, karena itu
berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-
orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS Ali Imran : 137).
5) Memerangi buta huruf

‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬. P‫م‬H‫ر‬J‫ك‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫̄بك‬H‫ور‬H J‫أ‬H‫ر‬J‫ اق‬. m‫ق‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ان‬H‫نس‬J K‫ل‬J‫ ا‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬. H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫ذي‬K N‫ك ال‬S‫ب‬H‫م ر‬K J‫اس‬K‫ ب‬J‫أ‬H‫ر‬J‫اق‬
(5-1 : ‫ )العلق‬J‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬J‫م‬H‫ال‬H‫ م‬H‫ان‬H‫نس‬J K‫ل‬J‫م ا‬H N‫ل‬H‫ ع‬. K‫م‬H‫ل‬H‫ق‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫م‬N‫ل‬H‫ع‬
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajari manusia apa yang tak diketahuinya.”(QS al-‘Alaq : 1-5).
6) Menganjurkan untuk mempelajari berbagai bahasa
Sehingga di antara sahabat-sahabat Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam ada
yang menguasai bahasa Parsi, Romawi, dan Habsyi. Rasulullah telahg
menyuruh Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Suryani, bahasa orang-orang
Yahudi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Daud, dan at-
Tirmidzi.
7) Menganjurkan penggunaan statistik
“Hitunglah untukku berapa orang yang melafadzkan kata-kata Islam.” (al-
Hadits). Mereka pun menghitung sampai 1500.
8) Menggunakan prinsip perencanaan
Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan proyek perencanaan ekonomi dan
pertaniannya yang termaktub dalam al-Qur’an merupakan dalil dan bukti yang
sangat jelas tentang hal ini.
9) Mengakui logika eksperimen dalam urusan duniawi

(‫ )رواه مسلم عن عائشة رصي ال عنها‬J‫م‬P‫اك‬H‫ي‬J‫دن‬P K‫ر‬J‫و‬P‫م‬P‫أ‬K‫م ب‬P H‫ل‬J‫ع‬H‫م أ‬J P‫ت‬J‫ن‬H‫أ‬
“Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.” (HR Muslim dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha).
10) Memperhatikan pendapat orang-orang banyak dan berilmu

(59 : ‫ا )الفرقان‬³‫ير‬J K‫ب‬H‫ خ‬H‫ه‬K‫ ب‬J‫ل‬H‫أ‬J‫اس‬H‫ف‬


“Maka tanyakanlah ia pada Dzat Yang Mahatahu.” (QS al-Furqan : 59).

(14 : ‫ )فاطر‬m‫ر‬J‫ي‬K‫ب‬H‫ خ‬P‫ل‬J‫ث‬K‫ م‬H‫ك‬P‫ئ‬S‫نب‬H P‫ ي‬H‫ل‬H‫و‬


“Dan tidak akan bisa bercerita kepadamu seperti (yang dilakukan) oleh Yang
Mahatahu.” (QS Fathir : 14).
11) Mengizinkan untuk mengambil semua ilmu duniawi yang bermanfaat dari
sumber manapun meski dari non-Muslim sekali pun (infitahiyah).
“Kata hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang. Di mana pun dia
menemukannya, maka dialah yang paling berhak untuk mengambilnya.” (HR
at-Tirmidzi).
12) Melarang dengan keras dan memarangi khurafat, khayalan, sulap, sihir,
dan sejenisnya.

Bacalah dengan nama Rabb-mu


Perintah membaca dengan beragam maknanya pada ayat pertama surat al-‘Alaq
diteruskan dengan “bismi rabbik” yang bermakna ‘dengan nama Tuhanmu’. Bi
disini ada yang mengatakan hanya sekedar sisipan, ada yang berpendapat
mengandung arti mulabasah (penyertaan), berarti “bacalah disertai dengan
Nama Tuhanmu!”
Bismi rabbik adalah satu ungkapan. Sudah menjadi kebiasaan orang Arab sejak
zaman dahulu hingga kini mengaitkan suatu pekerjaan yang dilakukan dengan
nama sesuatu yang mereka muliakan. Ini dimaksudkan untuk memberikan
kesan (atsar) yang baik atau katakanlah memberikan “berkat” (tambahan
kebaikan material dan immaterial) untuk pekerjaan itu. Juga untuk
menunjukkan bahwa pekerjaan tadi dilakukan semata-mata demi ‘dia’ yang
disebut namanya itu.
Kebiasaan orang-orang Arab, ketua parlemen membuka sidang-sidang resmi
dengan mengucapkan “bismillah wa bismi asy-sya’b” (atas nama Allah dan
atas nama rakyat). Demikian pula anak lahir diberi nama tokoh tertentu, agar
anak kelak memiliki harapan dan mencontoh sifat-sifat terpuji dari tokoh itu.
Mengaitkan pekerjaan dengan nama Allah mengantarkan pelakunya ikhlas
karena-Nya. Agar amalnya menghasilkan keabadian. Tanpa ketulusan semua
amal akan punah.
(23 : ‫ا )الفرقان‬³‫ور‬J P‫ث‬J‫ن‬H‫ م‬³‫آء‬H‫ب‬H‫ ه‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ ف‬m‫ل‬H‫م‬H‫ ع‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ل‬K‫م‬H‫ا ع‬H‫ م‬H‫لى‬K‫آ إ‬H‫ن‬J‫م‬K‫د‬H‫ق‬H‫و‬
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (tanpa keimanan dan
keikhlasan) itu, lalu Kami jadikan amal tersebut (bagaikan) debu yang
berterbangan.” (QS al-Furqan : 23).

‫اس‬N‫ الن‬P‫ ع‬H‫ف‬J‫ين‬H ‫ا‬H‫ا م‬N‫ م‬H‫أ‬H‫ و‬³‫آء‬H‫ف‬P‫ ج‬P‫ ب‬H‫ذه‬J H‫ي‬H‫ ف‬P‫د‬H‫ب‬N‫ا الز‬N‫ م‬H‫أ‬H‫ ف‬H‫ل‬K‫اط‬H‫ب‬J‫ال‬H‫ و‬N‫ ق‬H‫ح‬J‫ ال‬P‫ ا ل‬P‫ ب‬K‫ر‬J‫ض‬H‫ ي‬H‫ ك‬K‫ل‬H‫ذ‬H‫ك‬
(17 : ‫ )الرعد‬K‫ض‬J‫لر‬ H J‫ ا‬K‫ في‬P‫ث‬P‫ك‬J‫م‬H‫ي‬H‫ف‬
“Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang
bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya,
adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (QS
ar-Ra’du : 17).
Menyertakan pekerjaan dengan nama Allah akan berbekas sepanjang zaman.
Sebagaimana manusia yang dididik oleh Rasulullah dengan nama Allah, metode
Allah, dan karena Allah melahirkan proses pertumbuhan yang menjengkalkan
hati orang-orang kafir.

‫ا‬³‫ ع‬N‫ك‬P‫ ر‬J‫ م‬P‫اه‬H‫ر‬H‫ ت‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ن‬J‫بي‬H H‫آء‬H‫م‬H‫ح‬P‫ ر‬K‫ار‬N‫ف‬P‫ك‬J‫ى ال‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫آء‬N‫شد‬ K H‫ أ‬P‫ ه‬H‫ع‬H‫ م‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫ و‬K‫ ا ل‬P‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫̂د ر‬N‫م‬H‫ح‬P‫م‬
‫د‬J‫و‬P‫ ال س¯ج‬K‫ر‬H‫ث‬H‫ أ‬J‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬K‫ه‬K‫ه‬J‫و‬P‫ج‬P‫ و‬K‫ ف ي‬J‫م‬P‫اه‬H‫يم‬J K‫ا س‬³‫ا ن‬H‫و‬J‫ض‬K‫ر‬H‫ و‬K‫ ا ل‬H‫ ن‬K‫ م‬³‫ل‬J‫ض‬H‫ ف‬H‫ ن‬J‫و‬P‫غ‬H‫بت‬J H‫ا ي‬³‫د‬N‫ج‬P‫س‬
‫ظ‬€‫غ„ل‬€‫ت‬€‫اس‬€‫ه• ف‬€‫زر‬€ €‫أ‬€‫ه• ف‬€‫ط„أ‬€‫ ش‬€‫ج‬€‫خر‬ „ €‫ر„ع’ أ‬€‫ز‬€‫ ك‬K‫ل‬J‫ي‬K‫نج‬J ‫ل‬
K J‫ ا‬K‫ في‬J‫م‬P‫ه‬P‫ثل‬H H‫م‬H‫ و‬K‫اة‬H‫ر‬J‫و‬N‫ الت‬K‫ في‬J‫م‬P‫ه‬P‫ل‬H‫ث‬H‫ م‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬
(29 : ‫ )الفتح‬€‫ظ ب‚ ‚هم• ال„ك•ف†ار‬ € „‫غ‚ي‬€‫ ل‚ي‬€‫ر†اع‬Œ‫ى س•و„ق‚ه‚ ي•ع„ج‚ب• الز‬€‫ل‬€‫ى ع‬€‫و‬€‫اس„ت‬€‫ف‬
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka : kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu
menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan
hati orang-orang kafir.” (QS al-Fath : 29).
Menurut Abdul Halim Mahmud (mantan Syaikh Al Azhar) dalam bukunya, Al-
Qur’an fi Syahri al-Quran mengatakan :
Dengan kalimat iqra bismi rabbik, al-Qur’an tidak sekedar memerintahkan
membaca, tetapi ‘membaca’ adalah simbol dari segala yang dilakukan manusia,
baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan
jiwanya ingin menyatakan “bacalah demi Tuhanmu”, “bergeraklah demi
Tuhanmu”, “bekerjalah demi Tuhanmu”.
Demikian pula, apabila Anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan
aktifitas, maka hendaklah hal tersebut didasarkan pada bismi rabbika. Ayat
tersebut akhirnya berarti “Jadikanlah seluruh kehidupanmu (duduk, berdiri dan
berbaring), wujudmu, dalam cara dan tujuanmu, demi Allah”.
Pada surat al-‘Alaq ini Allah memperkenalkan perbuatan-Nya dengan redaksi
‘rabb’. Padahal Allah memiliki sifat yang berkaitan dengan Dzat-Nya dan
perbuatan-Nya (fi’il). Namun yang dikenalkan dalam ayat ini perbuatan-Nya
terlebih dahulu. Sebab kegagahan kebangsawanan Allah merupakan zat yang
tidak berbekas – secara langsung – pada makhluk-makhluk-Nya. Ia tidak bisa
ditularkan dan diberikan.
Dengan sifat Tuhan yang berbentuk perbuatan (fi’li), seperti ‘rabb’, maka
perintah membaca disini dengan nama Tuhan yang bersifat mendidik,
memelihara, mengembangkan, meningkatkan dan memperbaiki makhluk-Nya,
memberikan jejak secara otomatis untuk diikuti. Dan, Rabb yang menciptakan
(al-Khaliq), mendidik, merawat, mengembangkan, meningkatkan, memperbaiki
makhluk-Nya, wajar jika Dia yang berhak memilikinya (al-Malik). Fenomena
rububiyyatullah, khalqiyyatullah dan mulkiyyatullah adalah kenyataan yang
tidak bisa dihalangi oleh siapa pun.

δφ
Ò‫الدليل التاريخي‬
(FAKTA SEJARAH)

Ò‫الدليل الفطري‬
(FAKTA FIRTRAH)

Ò‫سي‬
Ò ‫الدليل الح‬ u‫معرفة الرب‬
(FAKTA INDRAWI) (MENGENAL RABB)

Ò‫الدليل العقلي‬
(FAKTA LOGIKA)

‫الدليل النقلي‬
(FAKTA SEJARAH)
BAB II
u‫معرفة الرب‬
MENGENAL “RABB”

Dalam al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan bahwa manusia itu
ateis (mulhid). Karena keberadaan Tuhan begitu jelas, tidak perlu dibuktikan.
Berikut dijelaskan hujjah eksistensi Tuhan.

Fakta sejarah (ad-dalil at-tarikhi)


Dari masa ke masa ditemukan hampir semua ummat manusia mempercayai
kekuatan di balik alam ini (Tuhan). Hanya saja ungkapan wujud Tuhan
digambarkan sesuai dengan tingkat peradaban manusia.
Orang-orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan banyak
tuhan) : bintang adalah tuhan (dewa), Venus adalah Dewa Kecantikan, Mars
adalah Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa Kekayaan, sedangkan Tuhan
tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari.
Orang-orang Hindu mempunyai banyak dewa, yang diyakini sebagai tuhan-
tuhan. Keyakinan itu tercermin antara lain dalam Hikayat Mahabarata.
Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya Dewa Isis, Dewi
Osiris, dan yang tertinggi Ra’. Masyarakat Persia pun demikian, mereka
percaya bahwa ada Tuhan Gelap dan Tuhan Terang.
Para ahli filsafat setelah menerawang, berfikir, merenung, membanding,
mengukur, menjangka, pendeknya memfilosofi, sampailah ia di ujung
perjalanan. Yakinlah ada sesuatu Yang Maha Mutlak, Dialah ‘puncak ideal’
(kata Plato). Dialah ‘Tao’, yang tak dapat diberi nama (kata Lao Tze). Maka
insaflah kelemahan dirinya.
Pengaruh keyakinan tersebut merambah ke masyarakat Arab, walaupun jika
mereka ditanya tentang Penguasa dan Pencipta langit dan bumi mereka
menjawab, “Allah”. Tetapi dalam waktu yang sama mereka menyembah juga
berhala-berhala al-Lata, al-Uzza, dan Manata, tiga berhala terbesar mereka, di
samping ratusan berhala lainnya. Definisi Allah bagi kaum jahiliyah berbeda
dengan Allah menurut al-Qur’an.
Al-Qur’an datang untuk meluruskan keyakinan itu, dengan membawa ajaran
tauhid. Berbicara tentang Allah versi Allah saja terulang sebanyak 2697 kali.

Fakta fitrah (ad-dalil al-fithri)


Jangankan al-Qur’an, Kitab Taurat dan Injil dalam bentuknya yang sekarang
pun (Perjanjian Lama dan Baru) tidak menjelaskan wujud Tuhan. Karena
keberadaan-Nya sedemikian jelas dan terasa. Sehingga tidak perlu dijelaskan.
Kehadiran Tuhan merupakan bawaan (fithrah) manusia sejak asal kejadiannya.

‫ ال‬K‫ ق‬J‫ل‬H‫خ‬K‫ ل‬H‫ل‬J‫دي‬K J‫تب‬H H‫ا ل‬H‫ي ه‬J H‫ل‬H‫ ع‬H‫ا س‬N‫ الن‬H‫ر‬H‫ط‬H‫ ف‬J‫ ي‬K‫ت‬N‫ ال‬K‫ ا ل‬H‫ ت‬H‫ر‬J‫ط‬K‫ا ف‬³‫ ف‬J‫ي‬K‫ن‬H‫ ح‬K‫ ن‬J‫ي‬S‫لد‬K‫ ل‬H‫ ك‬H‫ه‬J‫ج‬H‫ و‬J‫ م‬K‫ق‬H‫أ‬H‫ف‬
(30 : ‫ )الروم‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫يع‬H ‫ل‬ H K‫اس‬N‫ الن‬H‫ر‬H‫ث‬J‫ك‬H‫ أ‬N‫ن‬K‫ك‬H‫ل‬H‫ و‬P‫م‬S‫ي‬H‫ق‬J‫ ال‬P‫ن‬J‫دي‬S ‫ ال‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah
atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tiada
perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (QS ar-Rum : 30).

‫ت‬J‫ س‬H‫ل‬H‫ أ‬J‫م‬K‫ه‬K‫ س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫ى أ‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ه م‬P H‫د‬H‫ه‬J‫أش‬HH‫ و‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ت‬N‫ي‬S‫ر‬P‫ ذ‬J‫ م‬K‫ه‬K‫ر‬J‫و‬P‫ه‬P‫ ظ‬J‫ ن‬K‫ م‬H‫ م‬H‫ آد‬J‫ن ي‬K H‫ ب‬J‫ ن‬K‫ م‬H‫̄ب ك‬H‫ ر‬H‫ذ‬H‫خ‬H‫ أ‬J‫ذ‬K‫إ‬H‫و‬
(172 : ‫ا )العراف‬H‫ن‬J‫د‬K‫شه‬ H ‫ى‬H‫ل‬H‫ا ب‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬J‫م‬P‫ك‬S‫ب‬H‫ر‬K‫ب‬
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul
(Engkau tuhan kami), kami menyaksikan’.” (QS Al-A’raf: 172).
Apabila kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup, termenung seorang diri,
terdengarlah suara dhamir (hati), mengajak kita berdialog untuk mengajak
menyatu dengan totalitas wujud Yang Maha Mutlak.
Suara itu mengantar kita betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya. Dan betapa
Maha Kuasa dan Perkasa Dia Yang Maha Agung itu. Suara itu adalah suara hati
nurani. Setiap orang dengan berbagai kedudukannya memiliki fithrah itu.
Fithrah yang terbawa sejak kelahirannya. Sekalipun seringkali – karena
kesibukan dan dosa-dosa – ia terabaikan dan tertutup. Suaranya begitu lemah
sehingga tak terdengar lagi.
Tetapi bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertancap di
dalam jiwa, maka hilanglah semua unsur-unsur ketergantungan lain kecuali
kepada Allah. Tiada tempat bergantung, menitipkan harapan, tempat mengabdi
kecuali Allah. Tiada daya untuk mendatangkan manfaat, tiada pula kuasa untuk
menolak madharrat, kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha
Agung (laa haula wa laa quwwata illa billahi ‘aliyyil ‘azhim).
Kemudian setelah itu tidak ada lagi rasa takut yang menghantui atau
mencengkeram, tiada pula rasa sedih yang akan mencekam (QS Fushshilat : 30;
ar-Ra’d : 28).
Memang ada saat-saat dalam hidup ini – singkat atau panjang – dimana manusia
mengalami keraguan tentang wujud-Nya (QS al-Jatsiyah : 24), bahkan menolak
kehadiran-Nya. Akan tetapi, keraguan itu akan beralih menjadi kegelisahan,
khususnya ketika ia merenung dan tertimpa musibah (QS Yunus : 22). Jadi
kebutuhan ber-Tuhan permanen, sementara mengingkari Tuhan bersifat
temporal.
Beralasan, jika dikatakan bahwa mereka yang tak mempercayai wujud Tuhan
adalah orang-orang yang keras kepala. Ini dapat dipahami dari ayat yang
menguraikan diskusi yang terjadi antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan
Namrud (QS al- Baqarah :258). Fir’aun, ketika berhadapan dengan Musa
‘alaihis salam bertanya, “Siapa tuhan semesta alam itu?” (QS asy-Syu’ara’ :
23).
Bukti pernyataan yang lahir dari sikap keras kepala adalah pengakuan Fir’aun
sendiri ketika ruhnya akan terlepas dari jasadnya. Al-Qur’an menjelaskan sikap
Fir’aun yang ketika itu kembali ke fithrah, tetapi terlambat.

‫ا‬H‫ن‬H‫أ‬H‫ و‬H‫ل‬J‫ي‬K‫آء‬H‫ر‬J‫س‬K‫ إ‬J‫نو‬P H‫ ب‬H‫به‬K J‫ت‬H‫ن‬H‫ آم‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬P‫نه‬N H‫ أ‬P‫نت‬J H‫ آم‬H‫ال‬H‫ ق‬P‫ق‬H‫ر‬H‫غ‬J‫ ال‬P‫ه‬H‫ك‬H‫ر‬J‫د‬H‫ا أ‬H‫ذ‬K‫ إ‬N‫تى‬H‫ح‬
(91-90 : ‫ )يونس‬H‫ن‬J‫دي‬K K‫س‬J‫ف‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬H‫ت‬J‫ن‬P‫ك‬H‫ و‬P‫ل‬J‫ب‬H‫ ق‬H‫يت‬J H‫ص‬H‫د ع‬J H‫ق‬H‫ و‬H‫لن‬J‫ آ‬H‫ين‬J K‫م‬K‫ل‬J‫س‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫م‬
“Hingga saat Fir’aun telah hampir tenggelam, berkatalah dia, ‘Saya percaya
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Apakah
sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka
sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS
Yunus : 90-91).

Fakta indrawi (ad-dalil al-hissi)


Ada sebagian orang menuntut bukti wujud Tuhan dengan pembuktian material.
Mereka ingin segera melihat-Nya secara langsung. Nabi Musa ‘alaihis salam
suatu ketika pernah bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya,
sehingga Tuhan berfirman sebagai jawaban permohonanya.

‫ى‬N‫ل‬H‫تج‬H ‫ا‬N‫م‬H‫ل‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫ان‬H‫ر‬H‫ ت‬H‫وف‬J H‫س‬H‫ ف‬P‫ه‬H‫ان‬H‫ك‬H‫ م‬N‫ر‬H‫ق‬H‫ت‬J‫ اس‬K‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬K‫ل‬H‫ب‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫لى‬K‫ إ‬J‫ر‬P‫ظ‬J‫ ان‬K‫ن‬K‫ك‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ان‬H‫ر‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫ ل‬H‫ال‬H‫ق‬
‫ا‬H‫ن‬H‫أ‬H‫ و‬H‫يك‬J H‫ل‬K‫ إ‬P‫ت‬J‫ب‬P‫ ت‬H‫ك‬H‫ان‬H‫بح‬J P‫ س‬H‫ال‬H‫ ق‬H‫اق‬H‫ف‬H‫ا أ‬N‫م‬H‫ل‬H‫ا ف‬³‫ق‬K‫ع‬H‫ى ص‬H‫س‬J‫و‬P‫ م‬N‫ر‬H‫خ‬H‫ك·ا و‬H‫ د‬P‫ ه‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬K‫ل‬H‫ب‬H‫ج‬J‫ل‬K‫ ل‬P‫̄به‬H‫ر‬
(143 : ‫ )العراف‬H‫ن‬J‫ني‬K K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬P‫ل‬N‫و‬H‫أ‬
“Engkau sekali-kali tidak dapat melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke bukit itu, jika ia
tetap di tempatnya (seperti keadaannya semula), niscaya kamu dapat melihat-
Ku. Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian tersebut menjadikan
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa
sadar kembali, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu, dan
aku orang yang pertama (dari kelompok) yang beriman’.” (QS al-A’raf : 143).
Kejadian itu membuktikan bahwa manusia agung pun tidak mampu melihat-
Nya – paling tidak – dalam kehidupan di dunia ini. Agaknya kenyataan sehari-
hari membuktikan bahwa kita mengakui sesuatu tanpa harus melihatnya.
Bukankah kita mengakui adanya angin, hanya dengan merasakan atau melihat
bekas-bekasnya? Bukankah kita mengakui adanya “nyawa” bukan saja tanpa
melihatnya bahkan mengetahui eksistensinya.
Ada beberapa faktor yang menjadikan makhluk tak bisa melihat sesuatu.
Pertama, sesuatu yang dilihat terlalu kecil apalagi dalam kegelapan. Sebutir
pasir pada malam hari tidak mungkin ditemukan seseorang. Namun bukan
berarti pasir tidak ada.
Kedua, sesuatu itu sangat terang. Bukankah kelelawar tidak dapat melihat di
siang hari, karena sedemikian terangnya sinar matahari dibandingkan dengan
kemampuan matanya untuk melihat. Tetapi bila malam tiba, dengan mudah ia
dapat melihat. Demikian pula manusia tidak sanggup menatap matahari dalm
beberap saat saja, bahkan sesaat setelah melihatnya ia akan menemukan
kegelapan. Kalau demikian wajar jika mata kepalanya Tuhan Pencipta matahari.
Sayidina Ali radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seorang sahabatnya, Zi’lib
al-Yamani.

: H‫ال‬H‫؟ ق‬P‫ا ه‬H‫تر‬H H‫ي ف‬J H‫ك‬H‫ و‬: H‫يل‬J K‫؟ ق‬P‫ا ه‬H‫ر‬H‫ أ‬H‫ا ل‬H‫د م‬P P‫ب‬J‫ع‬H‫ أ‬H‫ ف‬J‫ي‬H‫ك‬H‫ و‬: H‫ال‬H‫؟ ق‬H‫ب ك‬N H‫ ر‬H‫ ت‬J‫ي‬H‫أ‬H‫ ر‬J‫هل‬H : H‫ل‬J‫ي‬K‫ق‬
.K‫ان‬H‫م‬J‫لي‬K J‫ ا‬K‫ق‬K‫ائ‬H‫ق‬H‫ح‬K‫ ب‬P‫ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ق‬J‫ ال‬P‫ه‬P‫ك‬K‫در‬J P‫ ت‬J‫ن‬K‫ك‬H‫ول‬H K‫ان‬H‫ي‬K‫ع‬J‫ ال‬K‫ة‬H‫هد‬H ‫ا‬H‫ش‬P‫م‬K‫ ب‬P‫ن‬J‫و‬P‫ي‬P‫ع‬J‫ ال‬P‫اه‬H‫ر‬H‫ ت‬H‫ل‬
Ditanyakan, “Apakah anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab,
“Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” Ditanyakan lagi,
“Bagaimana anda melihatnya?” Imam Ali menjawab, “Dia tak dapat dilihat
oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tapi bisa dilihat oleh hati dengan
hakikat keimanan”.
Mata hati jauh lebih tajam dan dapat lebih meyakinkan daripada pandangan
mata. Bukankan mata kita sering menipu kita? Kayu yang lurus terlihat
bengkok di dalam sungai, bayangan kita lihat tetap, padahal bergerak. Dari
kejauhan kita melihat air, ternyata fatamorgana. Binatang yang besar terlihat
kecil dari kejauhan.

Fakta logika (ad-dalil al-‘aqli)


Banyak ayat-ayat yang menjelaskan argumen logika tentang keesaan Tuhan.

(22 : ‫ا )النبياء‬H‫دت‬H H‫س‬H‫ف‬H‫ ل‬P‫ ال‬N‫ل‬K‫̂ة إ‬H‫ه‬K‫ا آل‬H‫م‬K‫يه‬J K‫ ف‬H‫ان‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬


“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua Tuhan, maka pastilah
keduanya binasa.” (QS al-Anbiya : 22).
Seandainya ada dua pencipta, maka akan kacau ciptaannya. Karena jika masing-
masing pencipta menghendaki sesuatu yang tidak disetujui olah yang lain, maka
kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan terwujud.
Kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukan Tuhan. Dan
apabila keduanya bersepakat, itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan
mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin
membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu. Fenomena keteraturan,
ketetapan, petunjuk, rezeki, kasih sayang, moral, di alam raya ini adalah bukti
keesaan Tuhan.

‫ان‬H‫ي‬K‫و‬H‫ت‬J‫ي س‬H J‫هل‬H m‫ل‬P‫ج‬H‫ر‬K‫ا ل‬³‫م‬H‫ل‬H‫•ل س‬


³ ‫ج‬€‫ر‬€‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫ س‬K‫اك‬H‫تش‬H P‫ م‬P‫آء‬H‫ك‬H‫شر‬
P K‫ ه‬J‫ي‬K‫ ف‬³‫ج•ل‬€‫ ر‬³‫ل‬H‫ث‬H‫ م‬P‫ ا ل‬H‫ ب‬H‫ر‬H‫ض‬
(29 : ‫ )الزمر‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬H‫ ل‬J‫م‬P‫ه‬P‫ر‬H‫ث‬J‫ك‬H‫ أ‬J‫ل‬H‫ ب‬K‫ل‬K P‫د‬J‫م‬H‫ح‬J‫ ال‬³‫ل‬H‫ث‬H‫م‬
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang lelaki (budak) yang dimiliki
oleh beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai
mereka), dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang raja.
Adakah keduanya (budak-budak itu) sama halnya? Segala puji bagi Allah,
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS az-Zumar : 29).
Ayat ini menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada
sekian banyak orang yang memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling
berselisih dan buruk perangainya. Alangkah bingungnya dia. Majikan yang satu
memerintahkan satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah atau
mengintruksikan hal yang berbeda. Begitulah seterusnya, sehingga pada
akhirnya budak itu hidup dalam kompleks kejiwaan yang tak diketahui
bagaimana menanggulanginya. Bandingkan dengan seorang budak lain yang
hanya milik penuh seseorang sehingga ia tidak mengalami dan kontradiksi.
Sementara orang ada yang membuat kemungkinan berikut, yakni bahwa
manusia ingin hidup bebas. Sesungguhnya keinginan itu disamping mustahil,
bertentangan dengan kemanusiaannya, karena berarti tidak ketika itu tidak
mengakui adanya hukum, tujuan, keinginan, ide – dalam arti dia kosong sama
sekali dari keyakinan tertentu – dan keadaan demikian mencabut dari hakikat
kemanusiaannya. Keadaan semacam ini tidak ada wujudnya dalam kehidupan
manusia di dunia. Orang yang liberal, pasti dalam hidupnya dilandasi oleh
keyakinan tertentu atau berusaha mencari ide/keyakinan tertentu. Manusia harus
menerima wewenang pengaturan dari keyakinan tertentu (ide yang ada dalam
hatinya). Wajar, jika al-Qur’an pada ayat diatas menggunakan istilah yang
mengandung arti rajulan, budak (seseorang yang dimiliki oleh pihak lain).
(Allah dalam Kehidupan Manusia, karya Murtadha Muthahhari).
Keadaan ruwet yang dilukiskan oleh ayat diatas, terbukti kebenarannya dalam
kenyataan hidup orang-orang yang lemah imannya, karena memiliki banyak
keyakinan yang kontradiktif. Orang yang semacam ini didominasi sekian
penguasa yang buruk perangainya sehingga ia mengidap penyakit kejiwaan
kepribadian terbelah (split personality). Akidah tauhid adalah kebutuhan jiwa
manusia untuk memperoleh kepastian hidup.
Berikut rangkaian pertanyaan yang menunjukkan akan kebutuh-an asasi itu :
“Siapa yang menjamin bila Anda melontar ke depan, maka batu itu tidak
mengarah ke belakang? Apa yang menjamin bahwa air selalu mencari tempat
yang rendah? Siapa yang menjamin bahwa sekali waktu api itu tak
membakar?”

Fakta tekstual (ad-dalil an-naqli)


Al-Qur’an secara harfiyah bermakna “bacaan sempurna” merupakan nama
pilihan Allah yang tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal
tulis-baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Qur’an Al
Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.
Tiada bacaan yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya
atau tidak bisa menulis aksaranya , dan dihafal huruf demi huruf oleh orang
dewasa, remaja dan anak-anak melebihi Al-Qur’an.
Tiada bacaan yang memiliki perhatian sedemikian rupa, bukan saja sejarahnya
secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat
turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya melebihi Al-
Qur’an.
Tiada bacaan yang dipelajari sedemikian serius, bukan hanya susunan redaksi
dan pemilihan kosa katanya, kandungannya yang tersurat, yang tersirat bahkan
sampai kesan yang ditimbulkannya, melebihi Al-Qur’an. Semua dituangkan
dalam jutaan jilid buku, dari generasi demi generasi. Kemudian apa yang
dituangkan dari sumber yang tidak kering itu, berbeda-beda sesuai dengan
perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semuanya
mengandung kebenaran. Al-Qur’an adalah permata yang memancarkan cahaya
yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Tiada bacaan yang diatur tatacara membacanya, mana yang dipendekkan,
dipanjangkan, dipertebal, diperhalus ucapannya, dimana tempat yang terlarang
atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya,
sampai kepada etika membacanya. Senandung Al-Qur’an “Kalamun” berikut
yang dibaca para ulama’ usai ta’lim atau tadarrus Al-Qur’an secara bersama-
sama.

‫ه‬P‫ور‬J P‫ن‬H‫ و‬m‫اء‬H‫ د‬S‫ل‬P‫ ك‬J‫ن‬K‫ م‬J‫ي‬K‫ف‬H‫شت‬


J H‫ أ‬K‫به‬K K‫ية‬NK‫ن‬H‫ و‬m‫ل‬J‫ع‬K‫وف‬H m‫ل‬J‫و‬H‫ ق‬J‫ن‬H‫ ع‬H‫ه‬N‫ز‬H‫تن‬P P‫ه‬P‫اع‬H‫م‬H‫̄ل س‬H‫م‬P‫ ي‬H‫̂م ل‬J‫ي‬K‫د‬H‫̂م ق‬H‫ل‬H‫ك‬
‫ي‬K‫ع‬J‫م‬H‫ س‬K‫ب ه‬K J‫ر‬S‫و‬H‫ون‬H K‫ ه‬K‫ف‬J‫و‬P‫ر‬P‫ ح‬S‫ر‬K‫ب س‬K J‫ ي‬K‫ن‬J‫ع‬S‫ت‬H‫ م‬S‫ ب‬H‫ار‬H‫ي‬H‫ ف‬J‫ ي‬K‫ت‬H‫ر‬J‫ي‬H‫ح‬H‫ و‬J‫ ي‬K‫ل‬J‫ه‬H‫د ج‬H J‫ن‬K‫ ع‬J‫ ي‬K‫ب‬J‫ل‬H‫ق‬K‫̂ل ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫د‬
‫ر‬J‫ب‬H‫ق‬J‫ ال‬K‫ ف ي‬S‫ ب‬H‫ا ر‬H‫ ي‬K‫ب ه‬K J‫ س‬K‫ن‬H‫أ‬H‫ و‬³‫ة‬H‫م‬J‫ك‬K‫ح‬H‫ا و‬³‫ م‬J‫ل‬K‫ع‬H‫ا و‬³‫ ح‬J‫ت‬H‫ ف‬K‫ ه‬K‫ ب‬J‫ ي‬K‫ ل‬J‫ ب‬H‫ه‬H‫ي و‬K J ‫ت‬H‫ل‬J‫ق‬P‫م‬H‫ و‬J‫ ي‬K‫ب‬J‫ل‬H‫ق‬H‫و‬
‫ي‬K‫ت‬H‫ش‬J‫ح‬H‫و‬
“Suatu firman yang qadim yang tidak ada bosan mendengarnya (yakni Kitab
Suci Al-Qur’an). Dia suci (unggul atau tidak mungkin terdiri) dari segala
ucapan, perbuatan, dan niat. Dengan Al-Qur’an kami minta kesembuhan dari
segala penyakit. Cahayanya merupakan petunjuk bagiku dalam gulita dan
gulana hati. Ya Rabbi, berikanlah kepadaku kenikmatan (kegembiraan) karena
rahasia (misteri) huruf-hurufnya. Terangilah dengan Al-Qur’an pendengaran,
nurani, dan ucapakanku. Anugerahkan kepadaku dengannya keterbukaan hati,
ilmu, dan hikmah. Dan, tentramkan rasa takutku di dalam kubur, dengannya,
ya Rabbi.”
Adakah bacaan ciptaan makhluk yang seagung itu? Al-Qur’an menantang :

‫ه‬K‫ثل‬J K‫م‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ت‬J‫يأ‬H ‫ل‬


H K‫آ ن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ا ال‬H‫ذ‬H‫ ه‬K‫ل‬J‫ث‬K‫م‬K‫ا ب‬J‫و‬P‫ت‬J‫أ‬H‫ ي‬J‫ ن‬H‫ى أ‬H‫ل‬H‫ ن¯ ع‬K‫ج‬J‫ال‬H‫ و‬P‫ س‬J‫لن‬
K J‫ ا‬K‫ ت‬H‫ع‬H‫م‬H‫ت‬J‫ اج‬K‫ ن‬K‫ئ‬H‫ ل‬J‫ل‬P‫ق‬
(88 : ‫ا )السراء‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ه‬H‫ ظ‬m‫ض‬J‫ع‬H‫ب‬K‫ ل‬J‫م‬P‫ه‬P‫ض‬J‫ع‬H‫ ب‬H‫ان‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬H‫و‬
“Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun
semacam Al-Qur’an ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya,
walaupun mereka bekerja sama.” (QS al-Isra’ : 88).
Masihkah kita meragukan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha
Agung dan Maha Mulia?

δφ

‫أطوارا‬
PERIODIK
‫ق‬Ò‫التعل‬
‫بالرحم‬ ‫النسي‬
MELEKAT LUPA

‫نطفة‬
SPERMA & OVUM

‫مخلوق مدني‬ ‫معرفة‬


‫من علق‬ ‫النس‬ ‫النسان‬
MAKHLUK SEGUMPAL
SOSIAL DARAH JINAK MENGENAL
MANUSIA

‫مضغة‬
‫قة‬Ò‫مخل‬
‫ق إلى‬Ò‫التعل‬ DAGING

‫ال‬ ‫النوس‬
BERGANTUN DINAMIS
‫مضغة غير‬
‫قة‬Ò‫مخل‬
DAGING TAK

‫عظام‬
TULANG

‫لحم‬
DAGING

‫خلق آخر‬
Makhluk
Berbentuk Lain
BAB III
‫معرفة النسان‬
MENGENAL MANUSIA

Makna “al-‘alaq” secara kebahasaan (lughatan)


Pada ayat kedua aurat al-‘Alaq Allah menampakkan perbuatan-Nya “khalaqal
insana min ‘alaq” (Dia menciptakan manusia dari segumpal darah). Dari ayat
ini menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu al-Khaliq (Pencipta) dan
manusia adalah makhluk yang diciptakan dari segumpal darah.
Pengenalan disini tidak hanya tertuju kepada rasio manusia, tetapi juga kepada
kesadaran batin dan intuisinya, bahkan seluruh totalitas manusia. Pengenalan
dengan mata hati diharapkan membimbing akal dan fikiran sehingga anggota
tubuh dapat menghasilkan perbuatan yang baik dan memeliharanya.
Kata “al-insan” yang berarti manusia terambil dari akar kata “uns” (jinak,
senang dan harmonis), atau ia terambil dari akar kata “nis-yun” yang berarti
lupa. Atau terambil dari akar katanya “naus” yaitu pergerakan atau dinamika.
Makna-makna diatas memberikan gambaran tentang potensi yang dimilikinya,
lupa, kemampuan bergerak yang melahirkan dinamika, makhluk yang
sewajarnya melahirkan rasa senang, jinak dan harmonis pada pihak-pihak lain.
Berbeda dengan “basyar” yang juga diterjemahkan manusia, tetapi dari aspek
fisik (QS al-Kahfi : 110). Tetapi pada ayat berikut mencakup fisik dan psikis.

(4 : ‫ )التين‬m‫م‬J‫ي‬K‫و‬J‫تق‬H K‫ن‬H‫س‬J‫ح‬H‫ أ‬K‫ فى‬H‫ان‬H‫نس‬J K‫ل‬J‫ا ا‬H‫ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya.” (QS at-Tiin : 4).
Al-Qur’an mengantar manusia menghayati petunjuk-petunjuk Allah,
memperkenalkan jatidirinya, antara lain dengan menguraikan proses
kejadiannya. Ayat kedua surat al-‘Alaq menguraikan secara singkat hal tersebut,
kemudian diperkuat oleh ayat yang lain berikut.

‫م‬P‫ ث‬. m‫ي ن‬J K‫ك‬H‫ م‬m‫ار‬H‫ر‬H‫ ق‬K‫ ف ي‬³‫ة‬H‫ف‬J‫نط‬P P‫ا ه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬N‫ث م‬P . m‫ي ن‬J K‫ ط‬J‫ ن‬K‫ م‬m‫ة‬H‫ل‬H‫ل‬P‫ س‬J‫ ن‬K‫ م‬H‫ان‬H‫ س‬J‫لن‬ K J‫ا ا‬H‫ ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬
‫ام‬H‫ظ‬K‫ع‬J‫ا ال‬H‫ن‬J‫و‬H‫ س‬H‫ك‬H‫ا ف‬³‫ا م‬H‫ظ‬K‫ ع‬H‫ة‬H‫غ‬J‫ض‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫ ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ ف‬³‫ة‬H‫غ‬J‫ض‬P‫ م‬H‫ة‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ع‬J‫ا ال‬H‫ ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ ف‬³‫ة‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ة‬H‫ف‬J‫ا ال̄نط‬H‫ ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫خ‬
(14-12 : ‫ )المؤمنون‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ق‬K‫ال‬H‫خ‬J‫ ال‬P‫ن‬H‫س‬J‫ح‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫ك‬H‫ار‬H‫ب‬H‫ت‬H‫ر ف‬€ €‫ا آخ‬Š‫ل„ق‬€‫ خ‬P‫اه‬H‫ن‬J‫أ‬H‫نش‬J H‫ أ‬N‫ثم‬P ‫ا‬³‫م‬J‫ح‬H‫ل‬
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.
Kemudian saripati itu Kami jadikan nuthfah dalam tempat yang kokoh (rahim),
kemudian nuthfah itu Kami jadikan ‘alaqah. Lalu ‘alaqah itu kami jadikan
mudhgah (segumpal daging) dan mudhghah itu Kami jadikan tulang.
Selanjutnya tulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan
ia makhluk yang berbentuk lain (yakni bukan sekedar fisik, ruh). Mahasucilah
Allah, sebaik-baik Pencipta.” (QS al-Mu’minun :12-14).
Ayat diatas menyimpulkan proses kejadian manusia dari segi fisik dalam lima
tahap : (1) nuthfah (pertemuan sperma dan ovum), (2) ‘alaqah, (3) mudhghah
(segumpal daging), yakni pembentukan organ-organ vital yang dalam surat al-
Hajj : 5 dirinci bahwa ada mudhghah mukhollaqah (terbentuk secara sempurna)
dan ada pula ghairu mukhallaqah (terbentuk secara tidak sempurna), (4) ‘izham
(tulang), (5) lahm (daging).
Kata ‘alaq’ dalam surat al-‘Alaq berarti menempel, melekat, berdempet serta
masuk ke dinding rahim. Sekalipun ada yang mengatakan segumpal darah.
Tetapi para ahli bahasa Arab menyatakan bahwa sesuatu diberi nama sesuai
dengan sifatnya. Seperti hati di beri nama ‘qalb’ karena sifatnya yang berbolak-
balik.

Makna “al-‘alaq” secara istilah (ishthilahan)


Ketika spermatozoa laki-laki menyatu dengan ovum (sel telur) perempuan,
terbentuklah bahan dasar calon bayi. Sel tunggal ini, yang dalam ilmu biologi
dikenal sebagai zygot, akan mulai berkembang dengan sendirinya melalui
pembelahan dan akhirnya menjadi ‘sepotong daging’ (mudhghah).
Akan tetapi, zygot itu tidak menjalani masa perkembangannya dalam ruang
hampa. Zygot melekat pada rahim bagaikan akar-akar yang tertancap dengan
kokoh di tanah dengan sulur-sulur mereka. Melalui ikatan ini, zygot bisa
memperoleh bahan-bahan dari tubuh ibunya yang amat penting bagi
pertumbuhannya. Yang menarik, dalam Al-Qur’an, Allah selalu menyebut
zygot yang berkembang di rahim sang ibu sebagai ‘alaq.

‫ة‬€‫ق‬€‫ل‬€‫ ع‬H‫ا ن‬H‫ ك‬N‫ث م‬P . H‫نى‬J‫يم‬P Ú‫ ي‬K‫ن‬H‫ م‬J‫ ن‬K‫ م‬³‫ة‬H‫ف‬J‫نط‬P P‫ي ك‬H J‫ م‬H‫ل‬H‫ أ‬. ‫ى‬³‫د‬P‫ س‬H‫ ك‬H‫ر‬J‫يت‬P J‫ ن‬H‫ أ‬P‫ان‬H‫ س‬J‫لن‬
K J‫ ا‬P‫ب‬H‫ س‬J‫ح‬H‫ي‬H‫أ‬
(39-36 : ‫ى )القيامة‬H‫ث‬J‫لن‬ P J‫ا‬H‫ و‬H‫ر‬H‫ك‬N‫ الذ‬K‫ن‬J‫ي‬H‫ج‬J‫و‬N‫ الز‬P‫نه‬J K‫ م‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ ف‬. ‫ى‬N‫و‬H‫س‬H‫ ف‬H‫ق‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ف‬
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan tidak terurus? Bukankah
dia dahulu hanya setitik mani yang dipancarkan? Kemudian, mani itu menjadi
‘alaqah, lalu (Allah) menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah
menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.” (QS al-Qiyamah :
36-39).
Makna Arab untuk kata ‘alaqah adalah ‘sesuatu yang melekat di suatu tempat’.
Kata ini secara harfiah dipakai untuk mengungkapkan lintah yang melekat di
tubuh untuk mengisap darah. Tentu saja inilah kata terbaik yang memungkinkan
untuk memaparkan keadaan zygot yang melekat di dinding rahim dan menyerap
makanannya dari situ.
Al-Qur’an mengungkap lebih banyak lagi mengenai zygot. Dengan secara
sempurna melekat di dinding rahim, zygot itu mulai tumbuh. Sementara itu,
rahim si ibu terisi dengan suatu cairan yang disebut cairan amnion yang
mengitari zygot. Corak terpenting cairan amnion (tempat pertumbuhan bayi)
adalah melindungi bayi dari pukulan-pukulan yang berasal dari luar. Fakta ini
terungkap dalam Al-Qur’an.
(21-20 : ‫ )المرسلت‬m‫ن‬J‫ي‬K‫ك‬H‫ م‬m‫ار‬H‫ر‬H‫ ق‬K‫ في‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ ف‬. m‫ن‬J‫ي‬K‫ه‬H‫ م‬m‫آء‬H‫ م‬J‫ن‬K‫ م‬J‫م‬P‫ك‬J‫ق‬P‫ل‬J‫نخ‬H J‫م‬H‫ل‬H‫أ‬
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari cairan yang hina, kamudian Kami
tempatkan dia di tempat yang kokoh terlindung (rahim).” (QS al-Mursalat :
20-21; al-Mu’minun : 12-14; al-Infithar : 6-8).
Informasi ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berasal dari satu sumber yang
mengetahui pembentukan ini hingga serinci-rincinya. Omong kosong sajalah
yang mengatakan mengenai kelahiran manusia secara kebetulan.

Kesan yang dimunculkan


Kesan ayat “khalaqal insana min ‘alaq” tidak hanya berbicara tentang
reproduksi manusia tetapi menekankan tentang sifat bawaan manusia sebagai
makhluk social, seperti dikemukakan sebelum ini bahwa diantara arti ‘alaq
adalah “ketergantungan”. Sehingga dapat dipahami bahwa manusia itu makhluk
yang telah diciptakan Allah dengan memiliki sifat ketergantungan kepada
pihak-pihak lain sampai akhir perjalanan hidupnya. Al insanu makhlukun
madaniyyun (keberadaan manusia karena keterikatan dengan orang lain), kata
sosilolog muslim Ibnu Khaldun. Bahkan agama adalah hubungan interaksi yang
baik (ad-diinu al-mua’amalah). Disamping itu, makhluk sosial tidak dapat
hidup dalam bentuk apapun kecuali menggantungkan diri kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.
Kata ‘alaq diartikan sebagai salah satu periode kejadian manusia,
mengantarkannya kepada kesadaran tentang asal-usulnya. Sedangkan kesan dari
kata itu menimbulkan kesadaran tentang ketergantungan kepada banyak pihak
yang pada akhirnya memandu manusia menyadari keterikatan dengan
lingkungannya, dunianya, bahkan menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah
Yang Maha Pencipta (al-Khaliq).
Ini pula yang membuka pintu pikiran (wijhah) dan mata batinnya (bashirah),
orientasi (ittijah), pola pikir (tashawwur) manusia menuju pengenalan diri,
lingkungan dan Sang Khaliq. Pengenalan (ma’rifat) tersebut merupakan jenis
pengetahuan yang paling mendasar. Al-Qur’an memberikan pesan penting ini.

(19 : ‫ )الحشر‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬K‫اس‬H‫ف‬J‫ ال‬P‫م‬P‫ ه‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫ أ‬J‫م‬P‫ه‬H‫س‬P‫نف‬J H‫ أ‬J‫م‬P‫اه‬H‫س‬J‫ن‬H‫أ‬H‫ ف‬H‫وا ال‬P‫نس‬H H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫ا ك‬J‫نو‬P J‫و‬P‫ك‬H‫ ت‬H‫ل‬H‫و‬
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Tuhan, maka Dia
menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-
orang yang fasiq.” (QS al-Hasyr : 19).
Manusia yang lalai adalah manusia yang tidak mengingat asal kejadiannya, dan
tidak menyadari siapa yang menghadirkannya di dunia ini. Ketika seseorang
berjalan menelusuri padang sahara, kemudian tersesat, tiba-tiba datang seorang
pemandu; maka yang pertama kali dia beri ucapan terima kasih adalah pemandu
itu. Itulah Allah dan utusan-utusan-Nya.

δφ
BAB IV
‫معرفة العالم‬
MENGENAL ALAM
Asal kejadian alam raya (ashlu nasy’atil kauni)
Menurut data yang diperoleh pada abad ke-20, ternyata alam semesta ini ada
secara tiba-tiba setelah sebelumnya tidak ada. Teori ini dikenal dengan sebagai
teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini
pada mulanya terjadi ledakan.
Ada bukti kuat yang mendukung teori Ledakan Dahsyat. Meluasnya alam
semesta merupakan salah satunya, dan bukti yang signifikan mengenai hal ini
adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan benda-benda langit. Untuk
memahaminya dengan lebih baik, alam semesta dibayangkan sebagai
permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian
permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian
permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan, demikian
jugalah benda-benda angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas.
Dalam hal ini mari kita merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang relevan dengan
teori diatas.

(47 : ‫ن )الذاريات‬
H J‫و‬P‫ع‬K‫س‬J‫و‬P‫م‬H‫ا ل‬N‫ن‬K‫وإ‬H ‫د‬m J‫ي‬H‫أ‬K‫ا ب‬H‫اه‬H‫ن‬J‫ي‬H‫بن‬H H‫آء‬H‫م‬N‫الس‬H‫و‬
“Dan, langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya
Kami benar-benar berkuasa.” (QS adz-Dzariyaat : 47).
Pada ayat lain tentang langit, Allah berfirman :

‫ن‬K‫ا م‬H‫ ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ا و‬H‫ا ه‬H‫ن‬J‫ق‬H‫ت‬H‫ف‬H‫ا ف‬Š‫ت„ ق‬€‫ا ر‬H‫ ت‬H‫ان‬H‫ ك‬H‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ا‬H‫ و‬K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ ال س‬N‫ ن‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ر‬H‫ف‬H‫ ك‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ر‬H‫ ي‬J‫ م‬H‫ل‬H‫و‬H‫أ‬
(30 : ‫ )النبياء‬H‫ن‬J‫نو‬P K‫م‬J‫ؤ‬P‫ ي‬H‫ل‬H‫ف‬H‫ أ‬Ú‫ي‬H‫ ح‬m‫ء‬J‫شي‬ H N‫ل‬P‫ ك‬K‫اء‬H‫م‬J‫ال‬
“Dan, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara
keduanya. Dan, dari air, Kami menjadikan segala sesutatu yang hidup. Maka,
mengapakah mereka tiada yang beriman.” (QS al-Anbiya’ : 30).
Menurut kamus-kamus Arab, kata asal ratq yang diterjemahkan ‘terpadu’ dalam
ayat ini berarti “sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu
dalam massa yang berat”. Menurut terminologi fiqh Islam, jika ternyata calon
istri kita ‘rataq’ boleh dibatalkan karena fungsi bilogisnya tertutup oleh tulang,
sehingga menghambat jalinan keharmonisan keluarga.

‫ن‬J‫ر‬H‫ق‬J‫ال‬H‫الر†ت„ق‚ و‬€‫ و‬K‫ص‬H‫بر‬H J‫ال‬H‫ و‬K‫ام‬H‫ذ‬P‫ج‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ن‬J‫و‬P‫ن‬P‫ج‬J‫ال‬K‫ ب‬: m‫وب‬J P‫ي‬P‫ ع‬K‫ة‬H‫س‬J‫م‬H‫بخ‬K P‫ة‬H‫أ‬J‫ر‬H‫م‬J‫̄د ال‬H‫ر‬P‫ت‬H‫و‬
“Istri boleh dikembalikan (diceraikan) karena 5 hal, yakni : (1) gila, (2)
berpenyakit kusta, (3) berpenyakit sopak, (4) alat kelamin tertutup tulang, dan
(5) alat kelamin tersumbat daging.” (Kifaayatul Akhyaar, juz II, hal. 59).
Maksudnya ayat ini, dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk
entitas. Pernyataan “pisahkan” adalah kata kerja “fatq” dalam bahasa Arab dan
ini berarti memecah obyek dalam keadaan ratq. Sebagai misal, penumbuhan
benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi diungkapkan dengan kata kerja ini.
Kini, mari kita melihat kembali ayat yang menunjukkan bahwa langit dan bumi
itu dalam keadaan ‘ratq’ lalu keduanya diartikan ‘dipisahkan’ dalam kata kerja
‘fatq’. Maksudnya, yang satu menerobos yang lain dan membuat jalan
keluarnya.
Sungguh, bila kita mengingat peristiwa pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat
bahwa bintik yang disebut ‘telur kosmik’ itu mengandung semua bahan alam
semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit dan bumi” yang belum tercipta pun,
terkandung dalam bintik ini dalam keadaan ‘ratq’. Sesudah itu, telur kosmik ini
meledak, kemudian semua zat menjadi ‘fatq’. Yang menarik temuan-temuan
ilmiyah ini belum ada sebelum abad ke-20.
Yang terang alam semesta berjalan menurut aturan yang pasti. Semuanya
bertasbih menurut bahasanya masing-masing. Sedangkan, kita di bagian alam
yang kecil ini tidak bersedia tunduk kepada aturan Allah, alangkah sombongnya
kita.

(8-7 : ‫ )الرحمن‬K‫ان‬H‫ز‬J‫ي‬K‫م‬J‫ ال‬K‫ا في‬J‫و‬H‫غ‬J‫تط‬H ‫ل‬


N H‫ أ‬. H‫ان‬H‫ز‬J‫ي‬K‫م‬J‫ع ال‬H H‫ض‬H‫و‬H‫ا و‬H‫ه‬H‫ع‬H‫ف‬H‫ ر‬H‫آء‬H‫م‬N‫الس‬H‫و‬
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.” (QS ar-Rahman :
7-8).

‫ا‬N‫ن‬K‫ا إ‬H‫ين‬J H‫ل‬H‫ا ع‬³‫عد‬


J ‫و‬H P‫ه‬P‫يد‬J K‫ع‬P‫ ن‬m‫ق‬J‫ل‬H‫ خ‬H‫ل‬N‫و‬H‫ا أ‬H‫ن‬J‫أ‬H‫بد‬H ‫ا‬H‫م‬H‫ ك‬K‫ب‬P‫ت‬P‫ك‬J‫ل‬K‫ ل‬S‫ل‬K‫ج‬S‫ الس‬S‫ي‬H‫ط‬H‫ ك‬H‫آء‬H‫م‬N‫ى الس‬K‫و‬J‫نط‬H H‫م‬J‫و‬H‫ي‬
(104 : ‫ )النبياء‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ل‬K‫اع‬H‫ا ف‬N‫ن‬P‫ك‬
“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-
lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai pertama begitulah Kami
akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya
Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS al-Anbiya’ : 104).

(38 : ‫ )يس‬K‫م‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ع‬J‫ ال‬K‫ز‬J‫ي‬K‫ز‬H‫ع‬J‫ ال‬P‫ير‬J K‫د‬J‫ق‬H‫ ت‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ا ذ‬H‫ه‬H‫ ل‬Ú‫ر‬H‫ق‬H‫ت‬J‫س‬P‫م‬K‫ ل‬J‫ي‬K‫ر‬J‫تج‬H P‫ش‬J‫م‬N‫الش‬H‫و‬
“Dan, matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketentuan Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yasin : 38).
Jika kita salah dalam mengelola alam raya ini, maka akan mendatangkan
bencana.

‫ا‬H‫ا م‬H‫هذ‬H J‫ م‬P‫ه‬P‫ر‬J‫و‬P‫ه‬P‫ظ‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬P‫ب‬J‫و‬P‫ن‬P‫ج‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬P‫اه‬H‫ب‬K‫ا ج‬H‫ه‬K‫ى ب‬H‫و‬J‫ك‬P‫ت‬H‫ ف‬H‫م‬N‫ن‬H‫ه‬H‫ ج‬K‫ار‬H‫ ن‬K‫ا فى‬H‫يه‬J H‫ل‬H‫ى ع‬H‫م‬J‫يح‬P H‫م‬J‫و‬H‫ي‬
(35 : ‫ )التوبة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ز‬K‫ن‬J‫تك‬H J‫تم‬P J‫ن‬P‫اك‬H‫ا م‬J‫و‬P‫ق‬J‫و‬P‫ذ‬H‫ ف‬J‫م‬P‫ك‬K‫س‬P‫نف‬J H‫ل‬K J‫م‬P‫ت‬J‫ز‬H‫ن‬H‫ك‬
“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar
dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan)
kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,
maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS at-
Taubah : 35).
‫ م‬P‫ه‬H‫ ل‬Ó‫شر‬
H ‫و‬H P‫ ه‬J‫ل‬H‫ ب‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ا ل‬³‫ر‬J‫ي‬H‫خ‬H‫هو‬P K‫ه‬K‫ل‬J‫ض‬H‫ ف‬J‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬P‫اه‬H‫ا آت‬H‫م‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ل‬H‫خ‬J‫يب‬H H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ن‬H‫ب‬H‫س‬J‫ح‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫و‬
‫ا‬H‫ب م‬K P‫ا ل‬H‫ و‬K‫ ض‬J‫لر‬ H J‫ا‬H‫ و‬K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ ال س‬P‫ا ث‬H‫ير‬J K‫ م‬K‫ ل‬KH‫ و‬K‫ة‬H‫ام‬H‫ي‬K‫ق‬J‫ ال‬H‫ م‬J‫يو‬H H‫ب ه‬K ‫ا‬J‫و‬P‫ل‬K‫خ‬H‫ا ب‬H‫ م‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬N‫و‬H‫يط‬P H‫س‬
(180 : ‫̂ر )آل عمران‬J‫ي‬K‫ب‬H‫ خ‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬H‫م‬J‫ع‬H‫ي‬
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu
baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta
yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.
Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.”
(QS Ali Imran : 180).

Sunnatullah pada alam (qadha’ takwini fil kauni)


Para ahli sejarah menyebutkan bahwa kaum zindiq meminta waktu kepada Abu
Hanifah, khusus untuk berdebat dengannya, tentang Tuhan. Ketika tiba waktu
yang disepakati, Imam Abu Hanifah terlambat. Beberapa saat kemudian, beliau
datang menemui mereka, setelah mereka berputus asa menunggu
kedatangannya. Mereka menyalahkan Imam Abu Hanifah karena
keterlambatannya. Imam Abu Hanifah berkata kepada mereka, sambil meminta
maaf, “Aku telah datang menemui kalian pada waktu yang telah ditentukan.
Tetapi aku tertahan lama di pinggir sungai Tigris, mencari pemilik perahu
yang akan membawa menyeberangi sungai. Namun, aku tidak menemukannya.
Ketika aku telah putus asa, dan bermaksud pulang, aku melihat beberapa
potong papan yang datang sendiri, lalu masing-masing papan itu bergabung
menjadi satu, sehingga jadi sebuah perahu indah di hadapanku. Aku lalu
menaiki perahu itu, menyeberangi sungai. Dan kini, aku sudah berada di
hadapan kalian.”
Orang-orang zindiq berkata kepada Imam Abu Hanifah, “Apakah engkau
hendak memperolok-olokkan kami? Apakah mungkin papan papan itu datang
sendiri menjadi perahu?”
Imam Abu Hanifah berkata kepada mereka, “Inilah yang membuat kalian
berkumpul untuk berdebat denganku. Maka, jika kalian tidak percaya bahwa
perahu bisa membuat dirinya sendiri, bagaimana mungkin kalian ingin aku
percaya bahwa alam yang sempurna dan menakjubkan ini telah mengalami
peristiwa-peristiwa perubahannya dengan sendirinya, tanpa Sang Pencipta
Yang Agung?”
Kaum zindiq terpojok. Mereka tidak bisa membantah alasan yang sangat
rasional itu. Akhirnya mereka menyatakan ke-Islaman di hadapan Imam Abu
Hanifah.
Kehidupan yang ada diatas bumi kita pasti memiliki beragam syarat yang
esensial, dimana tidak mungkin syarat itu dipenuhi, diteliti dan diatur secara
kebetulan atau serampangan.
Teori kebetulan terkait dengan sistem alam yang lengkap dan valid, hanyalah
pendapat yang dikemukakan oleh orang yang bodoh, atau orang yang keras
kepala, yang sebenarnya sedang menyaksikan kebenaran di depan matanya,
tetapi ia justru menolaknya.
Berikut contoh-contoh detail sistem alam yang meruntuhkan teori kebetulan.
a) Seandainya lapisan bumi ini tebal, niscaya ia akan menghisap oksigen dan
karbondioksida. Tentu saja kehidupan ini takkan pernah ada.
b) Seandainya atmosfir lebih rendah daripada yang sekarang ini, maka
sesungguhnya jutaan meteor yang terbakar setiap hari di luar angkasa, akan
mengenai seluruh bagian kulit bumi, serta akan membakar segala sesuatu
yang mudah terbakar.
c) Seandainya matahari kita memberikan setengah dari cahaya panasnya
sekarang ini, niscaya tubuh kita akan membeku. Seandainya cahaya panas
matahari bertambah setengah kali sinarnya yang sekarang, niscaya kita akan
menjadi abu.
d) Seandainya bulan menyinari kita pada saat ini, berjarak 20.000 mil dari
bumi, niscaya seluruh muka bumi ini akan dilimpahi oleh air yang sangat
deras setiap harinya, yang bisa menghanyutkan gunung-gunung.
e) Seandainya malam kita sepuluh kali lebih panjang atau lebih lama dari yang
biasa kita lalui, niscaya matahari musim panas akan membakar tumbuh-
tumbuhan kita di siang hari. Sedangkan di malam hari, setiap tumbuhan di
bumi akan membeku.
f) Seandainya jumlah oksigen di udara mencapai 50% atau lebih besar
kapasitasnya dibanding dengan kapasitas normal (21%) yang tersedia, maka
setiap benda yang bisa terbakar akan menjadi daerah nyala api, sejak
percikan api pertama.
g) Seadainya air yang meliputi bumi ini terasa manis, niscaya kehidupan di
muka bumi ini akan dipenuhi oleh kebusukan dan penderitaan. Sedangkan
rasa asin adalah sesuatu yang bisa mencegah terjadinya pembusukan dan
kerusakan. Dan, seandainya tidak terjadi persenyawaan kalori dengan
yodium, niscaya takkan ada garam dan selanjutnya takkan ada kehidupan.
h) Seandainya tidak ada hukum daya tarik (gravitasi), maka dari mana akan
bertemu dan kawinnya atom dan partikel-partikelnya?
i) Seandainya poros bumi konstan, tentu akan terjadi musim panas yang
berkepanjangan di suatu wilayah, dan musim dingin yang berkepanjangan
di wilayah lain.
j) Seandainya bumi seperti bintang Mercuri yang tak beredar kecuali menuju
satu arah, yaitu matahari, niscaya tidak ada seorang pun yang hidup, karena
malam yang berlangsung selamanya demikian pula siang. Dengan
demikian, tidak akan ada kehidupan.
Demikianlah, teori kebetulan tentang alam ini tertolak dengan sendirinya. Dan
sesungguhnya di balik alam raya ini ada arsiteknya, Allah Yang Maha Pencipta.
Wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan alam raya ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka
.
δφ

‫العلم المنافي للجهل‬


ILMU YANG MENIADAKAN
KEBODOHAN

Ò‫اليقين المنافي للشك‬


YAKIN YANG MENIADAKAN
KERAGUAN

‫د‬Ò ‫القبول المنافي للر‬


PENERIMAAN YANG
MENIADAKAN PENOLAKAN

‫النقياد المنافي للمتناع‬ ‫شروط قبول الشهادة‬


KETUNDUKAN YANG SYARAT DITERIMANYA
MENIADAKAN KEENGGANAN SYAHADAT

‫الصدق المنافي للكذب‬


KEJUJURAN YANG MENIADAKAN
KEDUSTAAN

‫الخلص المنافي للشرك‬


KEIKHLASAN YANG
MENIADAKAN SYIRIK

‫ة المنافي للكراهة‬Ò‫المحب‬
KECINTAAN YANG MENIADAKAN
KEBENCIAN
‫الجهل بمعنى الشهادة‬
JAHIL AKAN MAKNA SYAHADAT

‫ها‬Ò‫ فى بعض معانيها أو كل‬Ò‫الشك‬


MERAGUKAN SEBAGIAN ATAU
KESELURUHAN MAKNANYA

‫الشرك بال‬
MENYEKUTUKAN ALLAH

‫النفاق‬ ‫نواقض الشهادة‬


NIFAQ (KEIMANAN YANG DUSTA)
PEMBATAL-PEMBATAL
SYAHADAT

‫البغض فى معانيها ولوازمها‬


MEMBENCI MAKNA &
KONSEKUENSINYA

‫ترك معاني الشهادة‬


MENINGGALKAN MAKNANYA

‫ عن معانيها‬Ò‫الرد‬
MENOLAK MAKNANYA
‫الكفر‬
‫الهدم‬ Mengingkari ‫البراء‬ ‫النفي‬ ‫ل‬
Penghancuran Penolakan
Pengingkaran TIADA
(21:57-58) (16:36)
‫العداوة‬
Memusuhi
‫المنفي‬ ‫إله‬
Yang menolak
‫المفاصلة‬ (4:48,116)
TUHAN
Memisahkan diri

‫البغض‬
Membenci
‫الخلص‬
Monoloyalitas (98:11,14)
‫الولء والبراء‬ ‫ل إله إل‬
Loyalitas & Pengingkaran
‫الطاعة‬ ‫ال‬
Menaati

‫النصرة‬ ‫الثبات‬
Membela Peneguhan
‫إل‬
KECUALI
(7:59)
‫القرب‬
‫البناء‬ Mendekat
‫الولء‬ ‫المثبت‬ ‫ال‬
Membangun Yang dikecualikan
Loyalitas ALLAH
(22:41,78; 24:55) ‫المحبة‬ (7:65,73)
Mencintai
‫العروة الوثقى‬
Tali yang kuat

‫أساس الحياة ألسلمية‬ ‫اليثار‬


Asas khidupan Islami Mengutamakan saudara

‫حصن متين‬ ‫قوة النفس‬


Benteng yang kokoh Kekuatan jiwa

‫الطريق إلى الخرة‬ ‫فقه الشهادة‬ ‫الخلق‬


Jalan menuju akhirat MAKNA SYAHADAT Akhlak – Moralitas

‫ترفع النسانية‬ ‫نهي النفس عن الهوى‬


Me Menolak rayuan syahwat
Krisis perasaan akan

‫سبيل التقرب إلى ال‬ ‫التضحية‬


Jalan bertaqarrub kpd Allah Patriotisme

‫السعادة فى الدنيا‬
Kebahagiaan di dunia
‫الشهادة فى ضوء سورة‬
‫العلق‬
‫توحيد الربوبية‬ ‫العليم‬ ‫الكرم‬ ‫الخالق‬ ‫رب‬
‫‪TAUHID RUBUBIYAH‬‬ ‫‪MAHA TAHU‬‬ ‫‪MAHA MULIA‬‬ ‫‪PENCIPTA‬‬ ‫‪RABB‬‬

‫الجاهلية‬
‫‪JAHILIYAH‬‬
‫الشهادة‬ ‫لم يعلم‬ ‫من علق‬ ‫مخلوق‬ ‫النسان‬ ‫اقرأ‬
‫‪Dari Segumpal‬‬
‫‪SYAHADAT‬‬ ‫‪TIDAK TAHU‬‬ ‫‪CIPTAAN‬‬ ‫‪MANUSIA‬‬ ‫‪BACALAH‬‬
‫‪Darah‬‬
‫السلمية‬
‫‪ISLAMIYAH‬‬

‫توحيد ألوهية‬ ‫التحكيم‬ ‫التعظيم‬ ‫التسليم‬ ‫العبادة‬


‫‪TAUHID ULUHIYAH‬‬ ‫‪BERTAHKIM‬‬ ‫‪Mengagungkan‬‬ ‫‪PASRAH‬‬ ‫‪ABDI‬‬

‫شهادة ‪ -‬أن تعبدال كانك تراه فإن لم تكن تراة فإنه يراك ‪-‬‬
‫الحسان‬
BAB V
‫الشهادة فى ضوء سورة العلق‬
PROSES LAHIRNYA SYAHADAT DALAM SURAH AL-‘ALAQ

Sebagai abdi (‘ibadah)


Jika men-tadabburi kandungan surat al-‘Alaq : 1-5, sungguh kita akan
memperoleh pelajaran yang fundamental. Kajian akidah yang diajarkan oleh
para Rasul setiap masa. Dengan kajian ini tidak saja membangun dasa-dasar
ilmu pengetahuan (the bacic of knowledge), pula membangun dasar-dasar
kepribadian (the basic of knowing).
Intisari studi (dirasah) surah al-‘Alaq : 1-5 adalah penempatan posisi Rabb dan
kedudukan al-insan secara proporsional. Allah adalah sebagai subyek (pencipta,
Maha Mulia, Maha Pandai) dan manusia sebagai obyek. Awal sebuah
kerusakan (chaos) terjadi di dunia ini ketika manusia tidak bersedia menerima
dirinya sebagai obyek, bahkan memposisikan dirinya sebagai subyek. Makhluk
memposisikan diri seperti al-Khaliq. Hina tetapi merasa diri mulia, masih
memerlukan pujian dan sanjungan. Hanya memiliki ilmu sedikit (wa ma utitum
minal ‘ilmi ila qalilan), dipinjami kekuasaan, menolak aturan Tuhan Yang
Maha Mengetahui (al-‘Alim) dan Maha Mulia (al-Akram).
Ketika manusia (al-insan) lupa diri (nis-yan), maka tidak tahu diri dan tidak
tahu Tuhan, ketika itu ia meng-cover diri (kafir, menutup diri) dari
perkembangan sekitarnya. Sehingga ia lemah dalam merespon setiap
perubahan, perkembangan yang terjadi (dhu’ful istijabah lil mutaghayyirat).
Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang kafir (menutupi
fitrahnya sendiri).
Dinosaurus punah di muka bumi ini karena kelemahnnya dalam merespon
perkembangan di luar dirinya. Hewan-hewan lain yang hidup berdampingan
dengannya dianggap sebagai ancaman, bukan anugerah. Sikap menutup diri
inilah salah satu bentuk thagha’ (sikap melampaui batas).
Puncak kerusakan kepercayaan adalah syirk (selingkuh) dan puncak kerusakan
akhlak adalah sombong, thagha’, meminjam istilah Imam al-Ghazali. Syirik
identik dengan selingkuh dan sombong adalah sikap menolak kebenaran
(batharul haqq) dan meremehkan orang lain (ghamthun naas). Kelemahan
apapun yang dimiliki oleh manusia, sifat dasarnya akan menonjol yaitu al-uns
(cenderung harmonis), sehingga memudahkan untuk membangun kerjasama
(ta’awun) dengan pihak manapun dan terhadap siapapun, kecuali jika dalam
dirinya ada sebiji sawi sifat sombong. Tidak akan masuk surga apabila dalam
diri manusia terdapat sebiji sawi sifat sombong (al-Hadits).
Jika kita menengok kehidupan masa lalu, nenek moyang kita dahulu juga
disibukkan oleh persoalan di luar dirinya, menaklukkan alam, mengusir
binatang buas, kehidupan berpindah-pindah (nomaden). Sehingga ketika
muncul gejolak dirinya, cenderung menerapkan hukum rimba. Yang menang
siap menindas yang kalah, yang kalah bersedia untuk hidup menderita.
Demikian pula perkembangan disiplin ilmu yang berkaitan dengan kedirian
manusia (ilmu psikologi) terlambat ditemukan, dibandingkan dengan ilmu
sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, dll.
Manusia yang tak tahu diri dan tak tahu Tuhan dikategorikan jahiliyah. Jadi,
jahiliyah pada ayat diatas tidak identik dengan buta aksara, buta budaya (ummi).
Masyarakat jahiliyah dahulu dikenal pakar sastra, dan pakar pidato murtajal
(tanpa teks), dan yang berhasil memperoleh juara, hasil karyanya ditempel di
dinding Ka’bah. Jahiliyah artinya tidak tahu diri dan tidak tahu Tuhan.
Di dalam surat pertama Al-Qur’an ini Allah memperkenalkan dirinya dengan
perbuatannya yaitu Rabb. Proses pengenalannya tidak dipaksakan, tetapi lewat
instrumen yang telah disediakan oleh Allah kepada manusia (pendengaran,
penglihatan, hati) agar diaktifkan. Sehingga akan melahirkan kesadaran siapa
Rabb itu sesungguhnya.
Secara bahasa Rabb berarti mendidik (at-tarbiyah), merawat memperhatikan,
dan mengembangkan menuju kesempurnaan (al-‘inayah war ri’ayah wat
tarqiyah). Sifat tersebut bersumber dari induk sifat Tuhan, ar-Rahman ar-
Rahim. Allah memiliki 100 % sifat rahmat. Dan satu persen darinya dicurahkan
kepada makhluknya diantaranya kepada ibu dan kepada makhluk hidup yang
lain. Jika kita ingin mengenal perbuatan Rabb, maka ingatlah kasih sayang
orang tua kepada anaknya. Seperti yang sering kita doakan.

‫ا‬³‫ر‬J‫ي‬K‫غ‬H‫‚ي ص‬
J ‫ان‬€‫ †بي‬€‫ا ر‬H‫م‬H‫ا ك‬H‫م‬P‫ه‬J‫م‬H‫ح‬J‫ار‬H‫ي و‬
N H‫د‬K‫ال‬H‫و‬K‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ ل‬J‫ر‬K‫ف‬J‫ اغ‬S‫ب‬H‫ر‬
“Wahai Rabb kami, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan kasih
sayangilah keduanya sebagaimana keduanya merawatku sejak kecil.”

(13 : ‫ )لقمان‬H‫يك‬J H‫د‬K‫ال‬H‫و‬K‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ ل‬J‫ر‬P‫شك‬


J ‫ ا‬K‫ن‬H‫أ‬
“Hendaklah engkau bersyukur kepada-KU dan kepada orang tuamu.” (QS
Luqman : 13).
Bukti kesyukuran kita pada orangtua ialah sikap yang mengun-dang ridhanya.
Demikian pula wujud syukur kita pada Allah.
Kesadaran akan kedalaman rububiyyatullah yang ditransfer 1% pada ibu, akan
mengantarkan sikap mencari (siapa yang menghadirkan diri di dunia),
merindukannya (yarju liqa-a rabbihi) dan siap menjadi abdinya (‘ibadah).
Berbuat yang disenanginya, meninggalkan sikap yang dibencinya. Seseorang
yang dipelihara sejak kecil, dikarunia kenikmatan, diselamatkan dari berbagai
petaka, kemudian tidak bisa berterima kasih, maka manusia seperti ini di sebut
manusia yang lalai (ghofil), tidak tahu balas budi. Air susu di balas dengan air
tuba. Ditolong malah menjerumuskan (ditulung menthung, bhs Jawa).

Menyerahkan diri (taslim)


Kemudian Allah memperkenalkan perbuatan-Nya yang kedua yaitu al-Khaliq
(Pencipta). Semua makhluk tidak bisa menolak fenomena penciptaan ini
(zhahiratul khilqah). Ubun-ubun kita berada dalam genggaman-Nya (nashiyati
bi-yadihi). Ada sebuah sastra Arab yang melukiskan orang tua yang ingin
kembali kepada masa muda, tetapi itu hanya sebuah angan-angan (mustahil
terjadi).

P‫ب‬J‫شي‬
K P‫م‬J‫ ال‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ا ف‬H‫م‬K‫ ب‬P‫ه‬P‫ر‬K‫ب‬J‫خ‬P‫أ‬H‫ا * س‬³‫م‬J‫و‬H‫ ي‬P‫د‬J‫و‬P‫يع‬H P‫اب‬H‫ب‬N‫„ت الش‬
H ‫ي‬€‫ ل‬H‫ل‬H‫أ‬
Duhai, sekiranya masa muda itu terulang hari ini, aku akan mengabarkan apa
yang dilakukan oleh orang yang telah beruban dan pikun.
Dalam terminologi Bahasa Arab kata laita memiliki makna lit-tamanni (angan-
angan, mustahil). Sedangkan kata la’alla mengandung arti lit-tarajji (harapan,
realistis).

‫ة‬N‫و‬P‫ ق‬K‫د‬J‫بع‬H J‫ ن‬K‫ل م‬


H H‫ع‬H‫ ج‬N‫ م‬P‫ ث‬³‫ة‬N‫و‬P‫ ق‬m‫ ف‬J‫ع‬H‫ ض‬H‫د‬J‫بع‬H J‫ ن‬K‫ م‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬N‫ م‬P‫ ث‬m‫ ف‬J‫ع‬H‫ ض‬J‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬P‫ك‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫ذ ي‬K N‫ ال‬P‫ا ل‬
(54 : ‫ )الروم‬P‫ير‬J K‫د‬H‫ق‬J‫ ال‬P‫يم‬J K‫ل‬H‫ع‬J‫ ال‬H‫و‬P‫وه‬H P‫آء‬H‫يش‬H ‫ا‬H‫ م‬P‫ق‬P‫ل‬J‫خ‬H‫ ي‬³‫بة‬H J‫ي‬H‫وش‬H ‫ا‬³‫ف‬J‫ع‬H‫ض‬
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Maha Mengetahui lagi
Maha Kuasa.” (QS ar-Rum : 54).
Jadi masa kecil yang masih lemah, masa muda yang kuat, dan kembali lemah
pada masa tua, meninggal, adalah pergiliran dan perguliran siklus kehidupan
yang harus kita jalani. Sedikitpun kita tidak bisa menolak rencana besar Allah
tersebut. Sekalipun mulut kita menolak. Jadi secara phisik kita ini tunduk pada
ketentuan Allah (aslam).

‫ن‬J‫و‬P‫ع‬H‫ج‬J‫تر‬P K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬K‫ إ‬N‫ثم‬P J‫ م‬P‫ك‬J‫ي‬K‫ي‬J‫يح‬P N‫ م‬P‫ ث‬J‫ م‬P‫ك‬P‫ت‬J‫ي‬K‫يم‬P N‫ م‬P‫ ث‬J‫ م‬P‫اك‬H‫ي‬J‫ح‬H‫أ‬H‫ا ف‬³‫ا ت‬H‫و‬J‫م‬H‫ أ‬J‫ م‬P‫نت‬J P‫ك‬H‫ و‬K‫ا ل‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫ف‬J‫ك‬H‫ ت‬H‫ ف‬J‫ي‬H‫ك‬
(28 : ‫)البقرة‬
“Bagaimana kamu mengingkai kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu
Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya
kembali, kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS al-Baqarah : 28).
Secara fisik, fenomena penciptaan Allah berjalan secara teratur tanpa ada yang
bisa menghalanginya. Dari ayat diatas, manusia akan melewati lima fase
kehidupan. Pertama, di alam ruh. Kedua, di alam dunia. Ketiga, di alam
barzakh. Keempat, di alam kiamat. Kelima, di alam akhirat. Sesungguhnya kita
milik Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Jadi kehidupan kita sekarang
ini belum final.

(47 : ‫ا )الكهف‬³‫د‬H‫ح‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ه‬J‫ن‬K‫ م‬J‫ر‬K‫اد‬H‫نغ‬P J‫م‬H‫ل‬H‫ ف‬J‫م‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ر‬H‫ش‬H‫ح‬H‫و‬


“Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari
mereka.” (QS al-Kahfi : 47)

(55 : ‫ى )طه‬H‫ر‬J‫خ‬P‫ أ‬³‫ة‬H‫ار‬H‫ ت‬J‫م‬P‫ك‬P‫ج‬K‫ر‬J‫خ‬P‫ا ن‬H‫نه‬J K‫م‬H‫م و‬J P‫ك‬P‫د‬J‫ي‬K‫نع‬P ‫ا‬H‫ه‬J‫ي‬K‫ف‬H‫ و‬J‫م‬P‫اك‬H‫ن‬J‫ق‬H‫ل‬H‫ا خ‬H‫ه‬J‫ن‬K‫م‬
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan
mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada
kali yang lain.” (QS Thaha : 55).

(14 : ‫ا )نوح‬³‫ار‬H‫و‬J‫ط‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ك‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫د‬H‫ق‬H‫و‬


“Yang menciptakan kamu secara periodik.” (QS Nuuh :14)
Seorang ahli sastra Arab mengatakan bahwa dunia ini bukan masa akhir.

‫ل‬J‫و‬P‫م‬J‫ح‬H‫ك م‬N‫ن‬H‫أ‬K‫م ب‬H‫ل‬J‫اع‬H‫ة ف‬H‫از‬H‫ن‬H‫ر ج‬J‫و‬P‫ب‬P‫ق‬J‫لى ال‬K‫ت إ‬J‫ل‬H‫م‬H‫ا ح‬H‫ذ‬K‫إ‬


‫̂ل‬J‫و‬P‫ز‬J‫ع‬H‫ م‬H‫ك‬N‫ن‬H‫بأ‬K J‫م‬H‫ل‬J‫اع‬H‫م ف‬m J‫و‬H‫ ق‬H‫ر‬J‫و‬P‫م‬P‫ أ‬H‫يت‬J N‫ل‬H‫ا و‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫و‬
Jika engkau membawa jenazah ke kuburan, ingatlah (suatu saat) engkau akan
digotong. Dan jika engkau diserahi urusan kaum, ingatlah (suatu saat) engkau
akan di ma’zulkan.

‫ا )آل‬³‫ ه‬J‫ر‬H‫ك‬H‫ا و‬³‫ع‬J‫و‬H‫ ط‬K‫ض‬J‫لر‬


H J‫ا‬H‫ و‬K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ الس‬K‫ ف ي‬J‫ن‬H‫ م‬H‫م‬H‫ل‬J‫س‬H‫ أ‬P‫ه‬H‫ل‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫غ‬J‫يب‬H K‫ ال‬K‫ين‬J K‫ د‬H‫ر‬J‫ي‬H‫غ‬H‫ف‬H‫أ‬
(83 : ‫عمران‬
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
suka maupun terpaksa.” (QS Ali Imran : 83).
Alam dan seisinya tunduk kepada aturan Allah (sunnatullah). Alangkah
sombongnya jika kita makhluk kecil di bagian alam ini menolak aturan-Nya?
Sikap yang benar bagi makhluk yang lemah adalah pasrah (taslim) kepada Dzat
Yang Mengatur dan Mengendalikan alam ini.

Mengagungkan Allah (ta’zhim)


Berikutnya Allah memperkenalkan diri dengan sifat fi’li-Nya yang Maha Mulia
(al-akram), berbentuk superlatif (bentuk mubalaghah, penyangatan). Allah
memiliki segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia makhluk, tempatnya
salah dan lupa (mahallul khatha’ wan nis-yan), karena manusia tebuat dari
segumpal darah (min ‘alaq). Dari bahan dasar ini manusia memiliki banyak
kelemahan. Dalam diri manusia dipenuhi dengan lubang kotoran. Kotoran
lubang mata, kotoran telinga, kotoran hidung, kotoran, lubang muka (qubul),
kotoran lubang belakang (dubur), dll. Jika topeng yang menutupi kita, terbuka
alangkah hinanya fisik kita, tidak ada harganya, ora ana ajine (Bhs. Jawa).
Kata al-akram biasa diterjemahkan dengan “Yang Maha Pemurah” atau
“Semulia-mulia”. Jika kembali ke akar kata “karama” yang menurut kamus-
kamus bahasa Arab antara lain berarti : memberikan dengan mudah dan tanpa
pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia dan sifat kebangsawanan.
Ada perbedaan dalam perintah “membaca” pada ayat pertama dan perintah yang
sama pada ayat ketiga. Ayat pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi
seseorang ketika membaca (dalam segala pengertiannya), yaitu membaca demi
Allah. Sedang ayat satunya menggambarkan manfaat yang diperoleh dari
bacaan dan pengulangannya. Dengan bacaan yang ikhlas, Allah akan
menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman dan beragam
wawasan, sekalipun obyek bacaannya itu-itu saja.
Sedangkan manusia ‘min ‘alaq’ (dari segumpal darah), hina, menjijikkan. Maka
tidak ada sikap lain kepada al-Akram melainkan at-ta’zhim, mengagungkan dan
memuliakan-Nya.

Berhukum dengan ilmu-Nya


Allah memperkenalkan sifat-Nya yang terakhir adalah al-‘Alim (Maha Pandai).
Kata ‘ilm dari segi bahasa berarti kejelasan. Segala yang terbentuk dari akar
kata ‘ilm mempunyai ciri yang menonjol ‘kejelasan’. Misalnya ‘alam (bendera),
‘ulmat (bibir sumbing), a’lam (gunung-gunung), ‘alamat (alamat). Ilmu adalah
pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Allah tidak dinamakam a’rif tetapi ‘alim, yang berkata kerja ya’lamu (Dia
mengetahui). Biasanya Al-Qur’an menggunakan kata itu – untuk Allah – dalam
hal-hal yang diketahui-Nya. Berikut ini adalah diantara obyek-obyek
pengetahuan yang disandarkan kepada Allah dalam al-Qur’an.

(284 ,235 ,77 : ‫ )البقرة‬H‫ن‬J‫̄رو‬K‫س‬P‫ا ي‬H‫ م‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬


“Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan.” (QS al-Baqarah : 77, 235,
284).

(19 : ‫ )النجم‬K‫ام‬H‫ح‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ا في‬H‫ م‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬


“Allah mengetahui sesuatu yang berada di dalam rahim.” (QS an-Najm : 19).

(9 : ‫ى )الرعد‬H‫ث‬J‫ن‬P‫̄ل أ‬H‫ ك‬P‫ل‬K‫م‬J‫ح‬H‫ا ت‬H‫م‬


“Allah mengetahui apa yang di kandung oleh setiap wanita.” (QS ar-Ra’d : 9).

(29 : ‫ )آل عمران‬J‫م‬P‫ك‬K‫س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫ أ‬K‫ا في‬H‫م‬


“Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu.” (QS Ali Imran : 29).

(70 : Ò‫ )الحج‬K‫ض‬J‫لر‬
H J‫ ا‬K‫ا في‬H‫م‬H‫ و‬K‫ات‬H‫او‬H‫م‬N‫ الس‬K‫ا في‬H‫م‬
“Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS al-Hajj : 70).

(19 : ‫ )المؤمن‬P‫ر‬J‫دو‬P ¯‫ي الص‬K‫ف‬J‫تخ‬P ‫ا‬H‫م‬H‫ و‬K‫ين‬P J‫ع‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫ة‬H‫ن‬K‫آئ‬H‫خ‬


“Allah mengetahui kedipan mata dan yang disembunyikan dalam dada.” (QS
al-Mu’min : 19)

(7 : ‫ى )العلى‬H‫ف‬J‫يخ‬H ‫ا‬H‫م‬H‫ و‬H‫ر‬J‫ه‬H‫ج‬J‫ ال‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬


“Yang mengetahui yang lahir dan tersembunyi.” (QS al-A’laa : 7).
Sedangkan manusia dikeluarkan dari perut ibunya tidak mengetahui apa-apa.
Kemudian Allah membuat instrumen yang bisa digunakan untuk meraih
pengetahuan.

‫ار‬H‫ ص‬J‫لب‬
H J‫ا‬H‫ و‬H‫مع‬J N‫ ال س‬P‫ م‬P‫ك‬H‫ ل‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ا و‬³‫يئ‬J H‫ ش‬H‫ ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ل ت‬
H J‫ م‬P‫ك‬K‫ات‬H‫ه‬N‫م‬P‫ أ‬K‫ ن‬J‫و‬P‫ط‬P‫ ب‬J‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬P‫ك‬H‫ج‬H‫ر‬J‫خ‬H‫ أ‬P‫ا ل‬H‫و‬
(78 : ‫ )النحل‬H‫دة‬H K‫ئ‬J‫ف‬H‫ل‬J‫ا‬H‫و‬
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.” (QS
an-Nahl : 78).

: ‫ى )الن جم‬H‫د‬P‫ه‬J‫ ال‬P‫ م‬K‫ه‬S‫ب‬H‫ ر‬J‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬P‫ك‬H‫آء‬H‫ ج‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ و‬P‫ س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫ل‬J‫ى ا‬H‫و‬J‫ته‬H ‫ا‬H‫ م‬H‫ و‬N‫ ن‬N‫ الظ‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ع‬K‫تب‬N H‫ ي‬J‫ ن‬K‫إ‬
(23
“Yang mereka ikuti hanyalah persangkaan saja dan apa yang diingini oleh
hawa nafsu mereka. Sedangkan petunjuk telah datang dari Tuhan mereka.”
(QS an-Najm : 23).
Tiada sikap yang patut bagi makhluk yang bodoh terhadap Tuhan Yang Maha
‘Alim, kecuali berhukum dengan aturan-Nya (ber-tahkim). Sikap Tuhan kepada
makhluk dinamakan Tauhid Rububiyah. Sedangkan sikap hamba kepada Allah
dengan (ibadah, menyembah), mengagungkan (ta’zhim), dan tunduk kepada
hukum-Nya (tahkim) disebut dengan Tauhid Uluhiyah. Inilah makna syahadat
(persaksian). Tiada Tuhan yang disembah, diagungkan, dipatuhi hukumnya
kecuali Allah.
Syahadat pada surat pertama ini secara eksplisit tidak terlihat, akan tetapi
dimunculkan dengan menggerakkan pendengaran, penglihatan dan hati.
Kelahiran syahadat ini tidak dipaksakan, tetapi lewat perintah iqra’. Syahadat
adalah pintu pertama memasuki Islam. Syahadat bentuk kedekatan tingkat
tinggi kepada Allah (ihsan).

(‫ )رواه مسلم‬H‫اك‬H‫ير‬H P‫ه‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬P‫اه‬H‫ر‬H‫ ت‬J‫ن‬P‫ك‬H‫م ت‬J H‫ ل‬J‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬P‫اه‬H‫تر‬H H‫ك‬N‫ن‬H‫أ‬H‫ ك‬H‫ ال‬H‫د‬P‫ب‬J‫تع‬H J‫ن‬H‫أ‬
“Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika
engkau tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihatmu
(muraqabatullah).” (HR Muslim).

Mendalami makna syahadat (fiqh asy-syahadah)


Syahadat adalah landasan ke-Islam-an seseorang. Ibarat sebuah bangunan
rumah, syahadat adalah pondasi. Rumah yang tidak memiliki pondasi yang
kuat, sekalipun genting-gentingnya bagus, maka rumah itu akan mudah roboh
oleh teriknya panas, guyuran air hujan dan terpaan badai. Sesungguhnya
selemah-lemah rumah adalah sarang laba-laba. Syahadat laksana hishnun matin
(benteng yang kokoh) atau al-‘urwah al-wutsqa (tali yang kuat).
Orang yang bersyahadat dengan benar dan menghayati segala konsekuensi yang
terkandung di dalam kalimat pendek itu (kalimah thayyibah), ia akan teguh
dalam menghadapi fluktuasi kehidupan.

‫ن‬H‫ه‬J‫و‬H‫ أ‬N‫ ن‬K‫إ‬H‫ا و‬³‫ي ت‬J H‫ ب‬J‫ ت‬H‫ذ‬H‫خ‬N‫ ات‬K‫ ت‬J‫و‬P‫ب‬H‫ك‬J‫ن‬H‫ع‬J‫ ال‬K‫ل‬H‫ث‬H‫م‬H‫ ك‬H‫اء‬H‫ي‬K‫ل‬J‫و‬H‫ أ‬K‫ ا ل‬K‫ ن‬J‫دو‬P J‫ ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ذ‬H‫خ‬N‫ ات‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ل‬H‫ث‬H‫م‬
(41 : ‫ )العنكبوت‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ا ي‬J‫و‬P‫ان‬H‫و ك‬J H‫ ل‬K‫ت‬J‫بو‬P H‫ك‬J‫ن‬H‫ع‬J‫ ال‬P‫يت‬J H‫ب‬H‫ ل‬K‫وت‬J P‫ي‬P‫ب‬J‫ال‬
“Perumpamaan orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya selemah-
lemah rumah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (kebenaran,
syahadat).” (QS Al-Ankabut : 41).

‫ا‬H‫ ه‬H‫ ل‬H‫ام‬H‫ ص‬K‫نف‬J ‫ل ا‬


H ‫ى‬H‫ ق‬J‫ث‬P‫و‬J‫ ال‬K‫ة‬H‫و‬J‫ر‬P‫ع‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ك‬H‫س‬J‫تم‬H J‫ ا س‬K‫د‬H‫ق‬H‫ ف‬K‫ا ل‬K‫ ب‬J‫ ن‬K‫م‬J‫يؤ‬P H‫ و‬K‫ ت‬J‫و‬P‫اغ‬N‫الط‬K‫ ب‬J‫ر‬P‫ف‬J‫ك‬H‫ ي‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ف‬
(256 : ‫)البقرة‬
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (Tuhan selain Allah),
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang
tidak akan putus.” (QS al-Baqarah : 256).
Diatas pondasi yang kuat ini akan tegak pula sistem kehidupan Islami. Sistem
ekonomi, sosial, politik, pendidikan, militer dan juga sistem akhlak. Kehidupan
yang tidak berlandaskan akidah ibarat membangun istana pasir. Membangun di
atas permukaan balon.
Jika kembali pada aurat al-‘Alaq, maka syahadat adalah sebuah keputusan final.
Keputusan ini bukan diperoleh karena tekanan eksternal dirinya, tetapi lahir dari
motivasi dirinya sendiri (motivati intristik), lewat iqra’. Iqra’ adalah melihat,
menimbang, menerawang, berfikir (ijtihad), merenung, melatih diri dengan
latihan ruhani (mujahadah), dan mengorbankan apa yang dimilikinya untuk
pencarian itu (jihad), membanding (muqaranah), mengukur, tentang diri, Rabb,
dan alam raya. Akhirnya sampailah di ujung perjalanan. Itulah dia, syahadat
kebenaran. Itulah keyakinan secara total (al-yaqinu kulluhu). Itulah gelora
keimanan.

(86 : ‫ )الزخرف‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫يع‬H J‫هم‬P H‫ و‬S‫ق‬H‫ح‬J‫ال‬K‫د ب‬H K‫ه‬H‫ ش‬J‫ن‬H‫ م‬N‫ل‬K‫إ‬


“akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui
yang haq (tauhid) dan mereka meyakini (nya).” (QS az-Zukhruf : 86).
Tidak mengherankan jika aspek terpenting dalam kehidupan, pendidikan
misalnya, tanpa landasan kebenaran terasa hampa. Dalam kehidupan yang lebih
luas menjadi kering. Masyarkat sipil berwatak militer, manusia modern
berkarakter primitif. Manusia yang secara fisik sehat, tetapi batinnya kesakitan.
Hidup dalam kesepian di tengah keramaian.
Kehidupan sekarang memerlukan injeksi yang membangunkan hati (yaqzhah),
gelora jiwa (thumuhat), dan menggerakkan cita rasa. Tokoh Islam, Mohammad
Iqbal, mengomentari kondisi pendidikan sekarang, “Pengajaran dan
pendidikan modern tak mengajarkan air mata pada mata, dan tidak
mengajarkan kekhusyu’an pada hati nurani”.
Mentransformasikan kebenaran iman merupakan langkah mendasar untuk
menyelamatkan kehidupan. Iman adalah bekal untuk menggapai keridhaan dan
pengakuan Allah. Iman adalah jembatan menuju akhirat. Kita tidak akan
mampu menuju surga yang dipenuhi oleh hal-hal yang dibenci (huffat bil
makarih) tanpa iman. Sebagaimana kita takkan berdaya menghindarkan diri dari
api neraka yang diselimuti dengan sesuatu yang menggiurkan tanpa kekuatan
iman.
Hanya iman yang bisa melahirkan perikemanusiaan manusia. Imanlah yang
memfungsikan tujuan dihadirkannya manusia di dunia, yaitu menyembah Allah
dan membuatnya mencintai ibadah, hingga mengabdi menjadi sesuatu yang
menyenangkan. Iman yang mengantarkan kita untuk mendekati Allah dengan
melaksanakan kewajiban dan sunnah. Bertolak dari sini akan menimbulkan
cinta timbal balik antara makhluk dan al-Khaliq. Allah menjadi
pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang
dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul. Jika ia
memanggil-Nya dengan seruan, Dia menyambutnya, dan jika ia meminta-Nya,
Dia mengabulkannya.
Iman adalah bekal untuk menggapai kebahagiaan di dunia. Iman yang bisa
menemani harta, tahta, wanita, segala aspek kehidupan menjadi bermakna.
Dunia tanpa disinari oleh cahaya iman akan membuat pemburunya kecewa.
Betapa banyak sesuatu yang pesonanya menggiurkan, lalu mereka membanting
tulang untuk meraihnya dengan suatu harapan bahwa disana terdapat
kebahagiaan yang diidamkannya, namun setelah ditemuinya hanya berupa
fatamorgana. Dikira air oleh orang yang kering kerongkongannya, karena
kehausan, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Yang diburu hanyalah bayangan
semu (QS an-Nuur : 39).
Hanya Allah yang memberikan manusia ketenangan batin. Dan ketentraman
jiwa hanya diberikan kepada hamba yang dipilih-Nya yang beriman.

: ‫ )الر عد‬P‫ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ق‬J‫ ن¯ ال‬K‫ئ‬H‫م‬J‫تط‬H K‫ ال‬K‫ر‬J‫ذك‬K K‫ ب‬H‫ل‬H‫ أ‬K‫ ال‬K‫ر‬J‫ك‬K‫ذ‬K‫ ب‬J‫م‬P‫ه‬P‫ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ن¯ ق‬K‫ئ‬H‫م‬J‫تط‬H H‫ا و‬J‫نو‬P H‫ آم‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ال‬
(28
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah.
Bukankah dengan meningat Allah hati menjadi tenang.” (QS ar-Ra’du : 28).
Kadang-kadang dengan uang dan harta orang memperoleh kelezatan duniawi
(mata’). Bisa memenuhi apa saja yang bisa dibeli dengan uang. Tetapi,
kebahagiaan sejati (ni’mat) tidak dijajakan di mall dan super market, tidak pula
dapat dibeli dengan uang, atau diperoleh dengan pengaruh dan jabatan. Sebab
kebahagiaan, ketenangan itu muncul dari dalam jiwa. Bukan suatu wujud
barang yang dapat diambil di tempat tertentu. Kebahagiaan sejati adalah seperti
yang dirasakan oleh Ibrahim bin Adham pada penghujung tahajjud-nya.

‫ا‬³‫د‬H‫س‬H‫ا ح‬H‫يه‬J H‫ل‬H‫ا ع‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬H‫ات‬H‫ق‬H‫ ل‬P‫ك‬J‫و‬P‫ل‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫ه‬H‫ف‬H‫ر‬H‫ ع‬J‫و‬H‫ ل‬m‫ذة‬N H‫ ل‬K‫ في‬P‫ن‬J‫ح‬H‫ن‬
Kami hidup bahagia, sekiranya para raja itu mengetahui kebahagiaan ini,
pastilah mereka menguliti kami karena dengki.
Dengan kemajuan IPTEK, manusia bisa hidup dalam dunia yang serba
otomatis. Hanya dengan menekan tombol, manusia di ujung timur bisa saling
kontak dengan manusia di ujung barat, besi keras menjadi lunak, benda yang
bergerak menjadi diam. Tetapi ilmu pengetahuan tidak mampu menjamin
kebahagiaan. Sekalipun ilmu menjanjikan sarana material kehidupan, tetapi
tidak memandu bagi tujuan dan tugas hidup itu sendiri. Untuk apa ia harus hadir
di muka bumi ini? Ilmu dan teknologi hanya menghasilkan apa yang disebut
wasilatul hayat (sarana kehidupan), sedangkan iman melahirkan minhajul hayat
(pedoman kehidupan).
Tujuan dan tugas kehidupan adalah wilayah garapan iman. Iman yang
menumbuhkan pada diri manusia rindu kepada kebenaran dan kesucian, serta
membenci kefasikan. Iman yang mendorong jasmani menuju ke tingkat rohani
yang lebih tinggi di sisi Allah. Iman yang memberi kekuatan pemuda untuk
membentengi diri dari gejolak nafsu biologis, sebagaimana kekuatan iman
Yusuf ‘alaihis salam dalam menghindari godaan para wanita selebritis,
sehingga lebih memilih penjara daripada takluk melawan gejolak dirinya.

‫ب‬J‫ص‬H‫ أ‬N‫ن‬P‫ده‬H J‫ي‬H‫ ك‬J‫ني‬SH‫ ع‬J‫ف‬K‫ر‬J‫ص‬H‫ ت‬N‫ل‬K‫إ‬H‫ و‬K‫يه‬J H‫ل‬K‫ إ‬J‫ي‬K‫نن‬H J‫و‬P‫ع‬J‫يد‬H ‫ا‬N‫م‬K‫ م‬N‫ي‬H‫ل‬K‫ب¯ إ‬H‫ح‬H‫ أ‬P‫ن‬J‫ج‬S‫ الس‬S‫ ب‬H‫ ر‬H‫ال‬H‫ق‬
(33 : ‫ )يوسف‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ل‬K‫اه‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬J‫ن‬P‫ك‬H‫وأ‬H N‫ن‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬K‫إ‬
“Ya Tuhanku, penjara lebih aku senangi daripada memenuhi ajakan mereka
kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah
aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf : 33).
Iman yang mendidik manusia memiliki sikap berkorban, seperti pengorbanan
Ismail ‘alaihis salam untuk siap melepas nyawanya demi perintah Tuhan (QS
ash-Shaffat : 102). Iman merobah sikap individualis, egois menjadi jiwa
patriotisme dalam sejarah klasik dan modren (QS Thaha : 112; az-Zilzalah : 7;
an-Nisa’ : 40). Fenomena isytisyhad (bom syahid) yang dilakukan para pemuda
di belahan bumi yang lain belakangan ini, membuktikan bahwa ajaran klasik
iman masih relevan untuk memberikan pelajaran nyata dan pukulan telak
kepada simbol dikatator internasional (malikun jabbar).
Iman yang bisa melahirkan akhlak terpuji. Kehilangan akhlak akan
meruntuhkan diri sendiri, kata Ali bin Abi Thalib. Bangsa yang tidak bermoral
laksana bangunan tanpa pondasi. Kata sastra Arab, “Bila moral bangsa itu
terkena musibah, maka adakanlah upacara ta’ziyah”. Sebab morallah nyawa
mereka, jika ia tiada maka wujud mereka pun tiada.

‫ا‬J‫بو‬P H‫ذه‬H J‫م‬P‫ه‬P‫ق‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ أ‬J‫ت‬H‫هب‬H H‫ ذ‬P‫هم‬P J‫ن‬K‫إ‬H‫ * و‬J‫ت‬H‫ي‬K‫بق‬H ‫ا‬H‫ م‬P‫ق‬H‫ل‬J‫لخ‬


H J‫ ا‬P‫م‬H‫لم‬
P J‫ا ا‬H‫م‬N‫ن‬K‫إ‬H‫و‬
Suatu ummat hanya berdiri tegak, selama akhlaknya bermutu tinggi. Ia akan
runtuh, apabila akhlaknya menghilang.
Selama pembuat kebijakan berusaha menerapkan aturan kehidupan hanya
dengan undang-undang dan surat-surat keputusan, tapi lupa bahwa manusia itu
hanya bisa dikendalikan realitas yang ada pada dirinya bukan dari pengaruh
eksternal maka surat-surat keputusan itu tidak bermanfaat. Egoisme, hawa
nafsu, tetap mengungguli kebaikan. Kejahatan jadi tak terkendali. Seorang
pakar hukum Inggris mengatakan, “Tanpa undang-undang masyarakat tidak
stabil, tanpa moral undang-undang tidak berlaku, dan tanpa iman moral tidak
berjalan”.
Iman yang berhasil membangun kekuatan jiwa untuk mengha-dapi problem
yang selalu dicemaskan oleh kebanyakan manu-sia. Musibah, kesempitan
rezeki, jodoh dan ajal. Mukmin yakin bahwa semua itu berada dalam
genggaman Allah, tanpa diku-rangi dan ditambah. Seandainya seluruh manusia
bekerjasama untuk mendatangkan manfaat dan kecelakaan pada seseorang,
mereka tidak akan mampu mewujudkannya sedikitpun kecuali yang telah
dituliskan-Nya.
Iman yang memperkuat tali kekeluargaan lalu menyatukannya dalam naungan
persaudaraan cinta kasih. Jika belakangan ini timbul konflik yang bermuara
pada perbedaan ras, warna kulit, bahasa, etnis, daerah, strata sosial, keturunan,
kekayaan, maka iman menyingkirkan perbedaan itu. Kemudian menjadikan
ikatan iman menjadi ikatan yang mendarah daging. Sehingga mukmin
mencintai saudaranya seiman melebihi kecintaan kepada sudara kandung,
bahkan anak kandungnya sendiri (QS Hud : 46; al-Hujurat : 10). Dalam
naungan ukhuwah iman, akan lenyap pertentangan, kecemburuan sosial,
kedengkian dan penyakit hati lainnya.
Iman tak hanya menjaga kesucian jiwa dari dengki (ukhuwah paling rendah),
melainkan memberi muatan hati dengan cinta kasih yang diserap dari sifat suci
cinta kasih Allah (mahabbatullah). Yaitu cinta yang ditanam dalam hati orang
yang loyal kepada-Nya. Cinta itu menerbangkan pemiliknya yang membumi
menuju realitas yang Maha Tinggi. Dicerminkan dalam komunitas yang tidak
ditemukan dalam masyarakat manapun yaitu sikap mengutamakan orang lain
lebih dari dirinya (itsaar). Sekalipun dirinya dalam kondisi kekurangan. Ia rela
menjadikan dirinya sebagai sasaran senjata musuh untuk memagari saudaranya
seiman (QS al-Hasyr : 9).

Syarat diterimanya syahadat (syuruthu qabuuli asy-syahadah)


Syarat adalah sesuatu yang tanpa keberadaannya, maka yang disyaratkan itu
tidak sempurna dan tidak terwujud. Jadi, syarat syahadat adalah sesuatu yang
tanpa keberadaannya, maka sya-hadat dianggap tidak sah; yang pertamakali
diucapkan Allah, malaikat dan ahli ilmu penegak keadilan. Orang yang tak
memiliki ilmu tentang ayat-ayat Allah, takkan bisa bersyahadat.

K‫ط‬J‫س‬K‫ق‬J‫ال‬K‫ا ب‬³‫م‬K‫آئ‬H‫ ق‬K‫م‬J‫ل‬K‫ع‬J‫و ال‬P‫ل‬J‫و‬P‫أ‬H‫ و‬P‫ة‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫م‬J‫ال‬H‫ و‬P‫ ال‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ أ‬P‫ ال‬H‫د‬K‫ه‬H‫ش‬
Syarat sahnya syahadat itu ada tujuh.
Pertama, mengetahui (al-‘ilmu) makna syahadat dengan dua dimensinya,
penafian (laa) dan penetapan (illaa). Yaitu bahwa ia harus mengetahui dimensi
penafian dalam muatan kalimat syahadat, yang dalam hal ini adalah penafian
semua sembahan selain Allah; dan dimensi penetapan, yang dalam hal ini
penetapan hak uluhiyah hanya bagi Allah semata.

(19 : ‫ )محمد‬P‫ ال‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ أ‬J‫م‬H‫ل‬J‫اع‬H‫ف‬


“Maka ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah.” (QS Muhammad : 19).
Lawan dari pengetahuan ini adalah ketidaktahuan (al-jahl) akan makna
syahadat.
Kedua, keyakinan (al-yaqin), yakni tahu secara sempurna akan makna syahadat
tanpa keraguan sedikit pun. Jadi, imannya tak mengandung sesuatu yang
bertentangan dengannya dalam hati.

‫ م‬K‫ه‬K‫ال‬H‫و‬J‫م‬H‫بأ‬K ‫ا‬J‫و‬P‫د‬H‫اه‬H‫وج‬H ‫ا‬J‫و‬P‫اب‬H‫ت‬J‫ير‬H J‫ م‬H‫ ل‬N‫ث م‬P K‫ه‬K‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ر‬H‫ و‬K‫ا ل‬K‫ا ب‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫ م‬N‫ن‬K‫إ‬
(15 : ‫ )الحجرات‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬K‫اد‬N‫ الص‬P‫م‬P‫ ه‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫ أ‬K‫ ال‬K‫ل‬J‫بي‬K H‫ س‬K‫ فى‬J‫م‬K‫ه‬K‫س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫أ‬H‫و‬
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS al-
Hujurat : 15).
Lawan keyakinan adalah keraguan (asy-syakk).
Ketiga, keikhlasan. Kata ini diambil dari kata susu murni (al-laban al-khalish),
yang tidak lagi dicampuri kotoran yang merusak kemurnian & kejernihannya.
Ikhlas berarti membersih-kan hati dari segala yang kontradiktif dengan makna
syahadat.

(5 : ‫نة‬Ò‫ )البي‬H‫آء‬H‫ف‬H‫ن‬P‫ ح‬H‫ين‬S‫ الد‬P‫ه‬H‫ ل‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ص‬K‫ل‬J‫خ‬P‫ م‬H‫وا ال‬P‫د‬P‫ب‬J‫ع‬H‫ي‬K‫ ل‬N‫ل‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ر‬K‫م‬P‫آ أ‬H‫م‬H‫و‬
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali hanya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”
(QS al-Bayyinah : 5).
Keikhlasan adalah lawan syirik (asy-syirk). Keikhlasan laksana tak menerima
lamaran lain, dan syirik adalah perselingkuhan.
Keempat, kejujuran (ash-shidq), yaitu bahwa lahirnya tidak menyalahi batinnya.
Keduanya harus saling sesuai dan sejalan, yaitu antara lahir dan batinnya, antara
ilmu dan amalnya, antara doa dan usahanya, antara apa yang ada dalam hati
dengan yang ada dalam raga. Maka tidak ada sesuatu yang dikerjakan oleh raga
yang menyalahi apa yang diyakini oleh hati.

: ‫ )النعام‬H‫ون‬J P‫د‬H‫ت‬J‫ه‬P‫ م‬J‫م‬P‫ه‬H‫ و‬P‫ن‬J‫لم‬


H J‫ ا‬P‫م‬P‫ه‬H‫ ل‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫ أ‬m‫م‬J‫ل‬P‫ظ‬K‫ ب‬J‫م‬P‫ه‬H‫ان‬H‫م‬J‫ي‬K‫آ إ‬J‫و‬P‫بس‬K J‫ل‬H‫ ي‬J‫م‬H‫ول‬H ‫ا‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬
(82
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk-Nya.” (QS al-
An’am : 82).
‫م‬P‫نه‬J K‫ م‬H‫ و‬P‫ه‬H‫ب‬J‫نح‬H ‫ى‬H‫ض‬H‫ ق‬J‫ن‬H‫ م‬J‫م‬P‫ه‬J‫ن‬K‫م‬H‫ ف‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫وا ال‬P‫د‬H‫اه‬H‫ا ع‬H‫ا م‬J‫و‬P‫ق‬H‫د‬H‫ا̂ل ص‬H‫ج‬K‫ ر‬H‫ين‬J K‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫م‬
(23 : ‫ )الحزاب‬³‫يل‬J K‫بد‬J H‫ا ت‬J‫و‬P‫ل‬N‫د‬H‫ا ب‬H‫وم‬H P‫ر‬K‫ظ‬H‫ت‬J‫ين‬H J‫ن‬H‫م‬
“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur,
dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit
pun tidak berubah (janjinya).” (QS al-Ahzab : 23).
Rasulullah Saw juga bersabda :

‫ )رواه البخاري عن معاذ بن‬H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ د‬K‫ ه‬K‫ب‬J‫ل‬H‫ ق‬J‫ ن‬K‫ا م‬³‫ق‬K‫اد‬H‫ ص‬P‫ل ا ل‬
N K‫ إ‬H‫ ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬H‫ال‬H‫ ق‬J‫ ن‬H‫م‬
(‫جبل رضي ال عنه‬
“Siapa yang mengucapkan : Tiada tuhan selain Allah dengan jujur dalam
hatinya, maka ia masuk surga.” (HR al-Bukhari dari Muadz bin Jabal
radhiyallahu ‘anhu).
Lawan kejujuran adalah an-nifaq, yaitu menampakkan sesuatu yang sebenarnya
tidak ada dalam batinnya, atau bahwa ia menyimpan kekufuran dalam hatinya
tetapi menampakkan iman dalam lisan dan raganya.
Kelima, cinta (al-mahabbah), yakni mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan
segala apa yang dari keduanya berupa ilmu dan amal, serta mencintai orang-
orang yang beriman.

(165 : ‫ )البقرة‬K‫ل‬K ‫ب·ا‬P‫̄د ح‬H‫ش‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬


“Dan orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah.” (QS al-
Baqarah : 165).

(54 : ‫ )المائدة‬P‫نه‬H J‫̄بو‬K‫ح‬P‫ي‬H‫ و‬J‫م‬P‫̄به‬K‫ح‬P‫ي‬


“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS al-Maidah :
54).

(3 : ‫ )آل عمران‬P‫ ال‬P‫م‬P‫ك‬J‫ب‬K‫ب‬J‫يح‬P K‫ني‬J‫و‬P‫بع‬K N‫ات‬H‫ ف‬H‫ ال‬H‫ن‬J‫̄بو‬K‫تح‬P ‫م‬J P‫ت‬J‫ن‬P‫ ك‬J‫ن‬K‫ إ‬J‫ل‬P‫ق‬
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintaimu.” (QS Ali Imran : 3).
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

‫ا‬N‫ م‬K‫ م‬K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬K‫ إ‬N‫ ب‬H‫ح‬H‫ أ‬P‫ه‬P‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ر‬H‫ و‬P‫ ا ل‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ ي‬J‫ ن‬H‫ أ‬: K‫ا ن‬H‫م‬J‫لي‬
K J‫ ا‬H‫ة‬H‫و‬H‫ل‬H‫ ح‬H‫د‬H‫ج‬H‫ و‬K‫ ه‬J‫ي‬K‫ ف‬N‫ ن‬P‫ ك‬J‫ ن‬H‫ ثˆ م‬H‫ل‬H‫ث‬
‫ )رواه البخاري ومسلم عن أنس بن‬... K‫ل‬K ‫ل‬ N K‫ إ‬P‫̄به‬K‫ح‬P‫ ي‬H‫ ل‬H‫ء‬J‫ر‬H‫م‬J‫ ال‬N‫ب‬K‫يح‬P J‫ن‬H‫أ‬H‫ا و‬H‫هم‬P ‫ا‬H‫و‬K‫س‬
(‫مالك رضي ال عنه‬
“Ada tiga hal yang bila terdapat dalam diri seseorang, niscaya ia akan
mendapatkan manisnya iman, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai
daripada segala sesuatu selain keduanya, dan bahwa ia tidak mencintai
seseorang melainkan hanya semata karena Allah, ……” (HR al-Bukhari dan
Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Cinta itu disamping rela berkorban untuk yang dicintai, ia adalah amanah. Yaitu
kemarahan terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan syahadat, atau
dengan kata lain semua ilmu dan amal yang menyalahi sunnah Rasulullah
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam Selain itu murka terhadap para pelaku atau
pembawa ajaran dengan segala ilmu dan amal yang mereka bawa.

‫ )رواه ال طبراني عن ا بن‬K‫ ا ل‬K‫ فى‬P‫ ض‬J‫غ‬P‫ب‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ ا ل‬K‫ ب¯ فى‬P‫ح‬J‫ ال‬K‫ا ن‬H‫يم‬J K‫ل‬J‫ى ا‬H‫عر‬
P P‫ ق‬H‫ث‬J‫و‬H‫أ‬
(‫اس وعكرمة رضي ال عنهم‬Ò‫عب‬
“Ikatan iman yang terkuat adalah cinta karena Allah dan marah karena
Allah.” (HR ath-Thabrani dari Ikrimah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum)
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam juga menyebut bagian ketiga dari
syarat mendapatkan manisnya iman dalam hadits terdahulu.

- K‫ار‬N‫ الن‬K‫ في‬H‫ف‬H‫ذ‬J‫يق‬P J‫ن‬H‫ أ‬P‫ه‬H‫ر‬H‫ك‬H‫ا ي‬H‫م‬H‫ ك‬P‫نه‬J K‫ م‬P‫ ال‬P‫ه‬H‫ذ‬H‫ق‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫ن‬H‫د أ‬H J‫ع‬H‫ ب‬K‫ر‬J‫ف‬P‫ك‬J‫ ال‬K‫ في‬H‫ود‬J P‫ع‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ أ‬H‫ه‬H‫ر‬J‫يك‬H J‫ن‬H‫أ‬H‫و‬
‫الحديث‬
“Dan bahwa ia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya daripadanya, sama seperti ia membenci untuk dilemparkan
ke dalam neraka.”
Lawan dari cinta adalah benci (al-karahah) terhadap semua kata dan orang yang
menyalahi Allah dan Rasul-Nya serta Islam.
Keenam, ketundukan (al-inqiyad), yaitu tunduk dan menyerah-kan diri kepada
Allah dan Rasul-Nya secara lahir dengan mengamalkan semua perintahnya dan
meninggalkan semua larangannya. Lawannya adalah penolakan atau
ketidakmauan (al-imtina’).

‫ا‬J‫و‬P‫ن‬H‫ز‬J‫تح‬H H‫ل‬H‫ا و‬J‫و‬P‫اف‬H‫خ‬H‫ ت‬N‫ل‬H‫ أ‬P‫ة‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫م‬J‫ ال‬P‫م‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬P‫ل‬N‫نز‬H H‫ت‬H‫ا ت‬J‫و‬P‫ام‬H‫ق‬H‫ت‬J‫ اس‬N‫ثم‬P P‫ا ال‬H‫̄بن‬H‫ا ر‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ن‬K‫إ‬
(30 : ‫لت‬Ò‫ )فص‬H‫ن‬J‫و‬P‫د‬H‫وع‬J P‫م ت‬J P‫نت‬J P‫ ك‬J‫ي‬K‫ت‬N‫ ال‬K‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ال‬K‫ا ب‬J‫و‬P‫شر‬ K J‫ب‬H‫أ‬H‫و‬
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : Tuhan kami ialah Allah
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan) : Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat : 30; an-Nuur : 63; al-
Ahzab : 36).
Ketujuh, penerimaan (al-qabul), yakni kerendahan, ketundukan dan penerimaan
hati terhadap segala sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya akan
melahirkan ketaatan dan ibadah kepada Allah, dengan jalan meyakini bahwa
tidak ada yang dapat menunjuki dan menyelamatkannya kecuali ajaran Islam.
Lawan dari penerimaan adalah pembangkangan dan penolakan (ar-radd), yaitu
berpaling dan membangkang dari ajaran-ajaran Rasulullah shalla-llahu 'alaihi
wa sallam dengan hatinya, sehingga ia tidak ridha dan tak menerima ajaran-
ajaran tersebut.
Perbedaan antara ketundukan (al-inqiyad) dan penerimaan (al-qabul) adalah
bahwa ketundukan itu pekerjaan fisik, sedang penerimaan itu adalah pekerjaan
hati.

Pembatal-pembatal syahadat (nawaqidhu asy-syahadah)


Kata nawaqidh adalah bentuk jamak dari asal kata naqidh, artinya “yang
merusak”. Maka kata nawaqidh syahadah berarti yang merusak dan
membatalkan makna syahadat, dimana meyakini, mengucapkan dan
mengamalkan makna syahadat tidak secara otomatis membuat ia disebut
muslim, serta bebas dari semua yang menyalahi Islam.
Sehingga apabila salah satu dari hal-hal yang membatalkan syahadat itu ada
pada diri seseorang, maka ia tidak dapat disebut muslim dan tidak diperlakukan
dengan hukum yang diberlakukan muslim, melainkan diperlakukan dengan
hukum yang diberlakukan kepada orang-orang kafir atau musyrik. Ini bila
pembatal syahadat itu terdapat dalam dirinya sejak awal.
Tetapi ia disebut murtad bila melakukan salah satu pembatal syahadat setelah
masuk Islam. Sekalipun ia telah meyakini kebenarannya dengan hatinya,
mengucapakan dengan lisannya dan melaksanakannya dengan raganya.
Pertama, ketidaktahuan (jahl) akan makna syahadat. Dengan demikian,
mengucapkan syahadat tanpa mengetahui maknanya sama sekali tidak
bermanfaat baginya.
Kedua, keraguan (syakk) akan sebagian atau seluruh makna syahadat. Karena
dengan begitu ia sebenarnya menganggap kebolehan dan ketidakbolehannya
sama saja. Bahkan andaikan pun ia menganggap salah satu atas yang lain, hal
itu tetap membutuhkan keyakinan.
Ketiga, mempersatukan (syirk) Allah dengan sesuatu selain Dia.

‫ في‬³‫ة‬H‫ي‬K‫اق‬H‫ ب‬³‫ة‬H‫م‬K‫ل‬H‫ا ك‬H‫ه‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫ و‬. K‫ين‬J K‫د‬J‫يه‬H H‫ س‬P‫ه‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫ن‬H‫ر‬H‫ط‬H‫ ف‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ل‬K‫ إ‬. H‫ون‬J P‫د‬P‫ب‬J‫تع‬H ‫ا‬N‫م‬K‫آ̂ء م‬H‫ر‬H‫ ب‬J‫ي‬K‫ن‬N‫ن‬K‫إ‬
(28-26 : ‫ )الزخرف‬H‫ن‬J‫و‬P‫ع‬K‫ج‬J‫ر‬H‫ ي‬J‫م‬P‫ه‬N‫ل‬H‫ع‬H‫ ل‬K‫ه‬K‫ب‬K‫ق‬H‫ع‬
“Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu sembah,
tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia
akan memberi hidayah kepadaku. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu
kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat
tauhid itu.” (QS az-Zukhruf : 26-28).
Dan ini menuntut adanya pengetahuan tentang syirik dan batasan-batasannya,
agar kita dapat menghindari syirik dan para pelakunya.
Keempat, kedustaan dalam akidah (nifaq), yakni menampakkan iman dan
menyembunyiakn kekufuran.
(11 : ‫ )الفتح‬J‫م‬K‫به‬K J‫و‬P‫ل‬P‫ ق‬K‫ في‬K‫يس‬J H‫ا ل‬H‫ م‬J‫م‬K‫ته‬K H‫ن‬K‫س‬J‫ل‬H‫أ‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫ي‬
“Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.”
(QS al-Fath : 11).
Lawan dari nifaq adalah mengetahui makna syahadat tauhid, menerimanya
dengan hatinya, melaksanakan semua kewajiban yang menjadi konsekensinya,
sedang hatinya jujur dengan apa yang diucapkan oleh lisannya.
Kelima, membenci terhadap syahadat dengan segala maknanya, memusuhi
orang-orang yang meyakini kebenarannya dan para penyerunya, serta berusaha
menjauhkan manusia darinya dengan jalan menyeru kepada hal-hal yang
bertentangan dengan kalimat itu, serta mendukung dan mencintai para penyeru
tersebut dan menjadikan mereka sebagai sekutu selain Allah.

(165 : ‫ )البقرة‬K‫ ال‬S‫ب‬P‫ح‬H‫م ك‬J P‫ه‬H‫ن‬J‫̄بو‬K‫يح‬P ‫ا‬³‫اد‬H‫د‬J‫ن‬H‫ أ‬K‫ ال‬K‫ن‬J‫و‬P‫ د‬J‫ن‬K‫ م‬P‫ذ‬K‫تخ‬N H‫ ي‬J‫ن‬H‫ م‬K‫اس‬N‫ الن‬H‫ن‬K‫م‬H‫و‬
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-
tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai
Allah.” (QS al-Baqarah : 165; at-Taubah : 21).
Keenam, meninggalkan makna dan lafazh syahadat serta tidak mau
melaksanakan kewajiban-kewajiban yang sudah menjadi konsekuensinya, baik
secara umum maupun parsial, dimana ia tidak melaksanakan rukun Islam dan
perbuatan Islami; sekalipun ia mengkalim bahwa ia memahami, meyakini dan
mencintai maknanya, serta memusuhi semua yang menyalahinya serta para
pelakunya.
Ketujuh, menolak makna dan lafazh syahadat serta keyakinan akan
kebenarannya. Karena kaum musyrikin Arab sebenarnya mengetahui makna
syahadat, tetapi menolaknya dan tidak menyukainya.

‫ا‬H‫ ن‬K‫ت‬H‫ه‬K‫ا آل‬J‫و‬P‫ك‬K‫ار‬H‫ت‬H‫ا ل‬N‫ئ ن‬K H‫ أ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫وي‬H H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫ب‬J‫تك‬H J‫ي س‬H P‫ ا ل‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ ل‬H‫ل‬J‫ي‬K‫ا ق‬H‫ذ‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ان‬H‫ ك‬J‫ م‬P‫ه‬N‫ن‬K‫إ‬
(36 : ‫ات‬Ò‫ )الصاف‬m‫ن‬J‫و‬P‫ن‬J‫ج‬H‫ م‬m‫ر‬K‫اع‬H‫ش‬K‫ل‬
“Apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaaha illallah’ (tiada tuhan selain
Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, ‘Apakah
sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena
seorang penyair gila’.” (QS ash-Shaffat : 36). (Lihat: al-Madkhalu li Dirasatil
‘Aqidatil Islamiyyah ‘alaa Madzhabi Ahlissunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin
Muhammad bin Abdullah Al Buraikan).

Loyalitas dan pengingkaran (al-wala’ wal bara’)


Termasuk tuntutan kalimat syahadat adalah membebaskan manusia dari
loyalitas kepada selain Allah, seperti loyalitas kepada thaghut, kaum musyrikin,
kaum Yahudi, kaum Nasrani, kaum sekuler, kaum munafik, serta penganut
ajaran-ajaran atau isme-isme yang bertentangan dengan ajaran Islam.
‫ن‬K‫ م‬H‫س‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ف‬H‫ك‬K‫ذل‬H J‫ل‬H‫ع‬J‫ف‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫م‬H‫ و‬H‫ين‬J J‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬K‫ن‬J‫و‬P‫ د‬J‫ن‬K‫ م‬H‫آء‬H‫ي‬K‫ل‬J‫و‬H‫ أ‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اف‬H‫ك‬J‫ ال‬H‫ن‬J‫و‬P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬K‫ذ‬K‫خ‬N‫ت‬H‫ ي‬H‫ل‬
(28 : ‫ )آل عمران‬³‫اة‬H‫ق‬P‫ ت‬J‫م‬P‫ه‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫تق‬N H‫ ت‬J‫ن‬H‫ أ‬N‫ل‬K‫ إ‬m‫ء‬J‫ي‬H‫ ش‬K‫ في‬K‫ال‬
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir manjadi wali
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian,
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memlihara
diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS Ali Imran : 28; 149; al-Maidah :
80-81; al-Mujadalah : 22; an-Nahl : 30).
Tujuannya agar manusia memurnikan loyalitasnya kepada Allah, Rasul-Nya,
dan orang-orang mukmin, serta bersikap bara’ (lepas diri) dari selain mereka.
Hatinya terpenuhi oleh perasaan ini, hanya mendukung penganut kebenaran dan
iman, bergembira dengan kemenangan mereka, mendoakan kebaikan bagi
mereka, bersedih dengan musibah yang mereka hadapi, di pertarungan apapun
yang terjadi antara al-haqq dan al-bathil.
Karena itu diantara tanda orang mukmin adalah gembira terhadap kemenangan
dien Muhammad shalla-llahu 'alaihi wa sallam dan bersedih karena
kemundurannya. Sedangkan di antara tanda-tanda munafik ialah gembira
terhadap kekalahan dien Islam dan bergembira karena kemenangannya.

‫ ال‬K‫ا ف ي‬N‫ا ب‬H‫ح‬H‫ ت‬K‫ ن‬H‫ل‬P‫ج‬H‫ ر‬: J‫ م‬P‫ه‬J‫ن‬K‫م‬H‫ و‬P‫̄ل ه‬K‫ل ظ‬


N K‫ إ‬N‫ل‬K‫ ظ‬H‫ ل‬H‫ م‬J‫و‬H‫ ي‬K‫ ه‬S‫ل‬K‫ ظ‬K‫ ف ي‬P‫ ا ل‬P‫ م‬P‫̄له‬K‫ظ‬P‫̂ة ي‬H‫بع‬J H‫س‬
(‫ )رواه مسلم عن أبي هريرة رضي ال عنه‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬H‫ق‬H‫ر‬H‫ت‬J‫اف‬H‫ و‬K‫ه‬J‫ي‬H‫عل‬ H ‫ا‬H‫ع‬H‫م‬H‫ت‬J‫ج‬K‫ا‬
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya hari
dimana tak ada naungan kecuali naungan-Nya, (diantara mereka) adalah : dua
orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dengan mana mereka
berkumpul dan berpisah.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Dari sini terlihat bahwa orang-orang munafiq tidak mampu mengendalikan
dirinya ketika melihat kehancuran menimpa orang-orang mukmin. Ia riang
gembira dan berusaha menampakkan kegembiraan hatinya. Sebab, loyalitas
telah diperuntukkan bagi selain mukmin. Sedangkan hatinya dipenuhi dengan
kedengkian dan kemunafikan. Ia mengungkapkan perasaan-perasaan ini dengan
cara-caranya yang khas. Apabila ia seorang politikus, ia ungkapkan dengan
terang-terangan atau terselubung. Jika ia seorang jurnalis, ia ungkapkan dengan
pemberitaan yang menjengkelkan. Jika ia berada diantara sesamanya, teranglah
apa yang ditutup-tutupi.
Maka, wajib seorang muslim mencintai muslim lainnya yang beratuhid,
mengharapkan kemenangan untuknya, mendoakan kebaikan baginya, saling
berbagi rasa dengannya, dan memberikan pembelaan untuknya. Ini harus
disadari bahwa semua perkara tadi merupakan ajaran dien yang dengannya
Allah disembah. Juga merupakan hak sudara muslimnya tanpa harus melihat
hasil pertempuran, apakah menang atau kalah. Karena, bimbang dalam
memberikan wala’ (loyalitas) itu merupakan tanda kemunafikan. Jika melihat
kemenangan milik orang-orang mukmin, mereka bantu dan dukung. Namun,
jika melihat orang-orang kafir menang, mereka akan menolong mereka.
‫ان‬H‫ ك‬J‫ ن‬K‫إ‬H‫ و‬J‫ م‬P‫ك‬H‫ع‬H‫ م‬J‫ ن‬P‫ك‬H‫ ن‬J‫ م‬H‫ل‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ال‬H‫ ق‬K‫ ا ل‬H‫ ن‬K‫ حˆ م‬J‫ت‬H‫ ف‬J‫ م‬P‫ك‬H‫ ل‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬J‫ م‬P‫ك‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ ص‬N‫ب‬H‫تر‬H H‫ ي‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ال‬
: ‫ )الن ساء‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬H‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ع‬H‫ن‬J‫م‬H‫ن‬H‫ و‬J‫ م‬P‫يك‬J H‫ل‬H‫ ع‬J‫ذ‬K‫و‬J‫تح‬H J‫ س‬H‫ ن‬J‫ م‬H‫ل‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ال‬H‫بˆ ق‬J‫ي‬K‫ ص‬H‫ ن‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اف‬H‫ك‬J‫ل‬K‫ل‬
(141
“(Yaitu) orang-orang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai
orang-orang mukmin). Jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka
berkata, ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jika orang-
orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan), mereka balik berkata,
‘Bukankah kami turut memenangkan kamu, dan membela kamu dari orang-
orang mukmin?” (QS An-Nisa’ : 141).
Demikianlah orang munafik bersikap mendua dan menipu, bahkan Dasamuka
(berwajah sepuluh). Kadang kala ia juga mengucapkan perkataan yang bisa
memuaskan kedua pihak, supaya sama-sama tetap dapat bergabung dengan
pihak mana pun yang kelak menang.
Jika kita melihat apa yang menimpa umat Islam, khususnya pada masa
kelemahan dan penyiksaan mereka, kita akan melihat kepala-kepala munafik
muncul. Mereka menampakkan taring-taringnya, lalu memberikan dukungan
dan bantuan kepada orang-orang musyrik dan sekuler. Mereka kerahkan segala
yang Allah berikan untuk menolong orang-orang musyrik. Kebalikan dari sikap
para Nabi, sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihis salam.

(77 : ‫ )القصص‬H‫ن‬J‫ي‬K‫م‬K‫ر‬J‫ج‬P‫م‬J‫ل‬K‫ا ل‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ه‬H‫ ظ‬H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ أ‬J‫ن‬H‫ل‬H‫ ف‬N‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ت‬J‫م‬H‫نع‬J H‫ا أ‬H‫م‬K‫ ب‬S‫ب‬H‫ ر‬H‫ال‬H‫ق‬
“Ya Rabb-ku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku
sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QS
al-Qashash : 17).
Fakta ini menunjukkan bahwa mayoritas orang yang mengaku Islam belum
merealisasikan tauhid dengan benar. Dalam jiwa mereka belum menancap
bara’ kepada orang-orang musyrik dan sekuler. Bahkan, mereka cenderung atau
sudah tampak jelas membantu musyrik untuk menyerang muslim. Inilah bentuk
nifaq i’tiqadi (kemunafikan dalam akidah) yang bisa mengeluarkan mereka dari
agama Allah.
Mereka bangga dengan tingginya kalimat sekuler. Berkebalikan dengan janji
Musa ‘alaihis salam, mereka justru berkata, “Wahai Rabb-ku, demi nikmat
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku pasti akan menggunakannya
untuk membantu mereka (kaum musyrikin) dalam menghancurkan orang-orang
mukmin”. Na’dzu billah.
Sesungguhnya wala’ dan bara’ (loyalitas dan permusuhan) adalah perkara
fundamental. Ilmuwan berkata, “Tidak terdapat dalam Al-Qur’an ayat-ayat
yang lebih banyak setelah ayat-ayat tentang uluhiyah melebihi ayat-ayat yang
berkaitan dengan persoalan wala’ dan bara’. (Hakadza ‘Allamal Anbiya Laa
Ilaaha Illallah, karya Syekh Salman bin Fahd al-‘Audah).
Wallahu ‘alam bish-shawab.
δφ

PAKET III .
‫رسالة الشريعة‬
Prinsip Syariat


‫رسالة الشريعة‬
‫‪PRINSIP SYARIAH‬‬

‫ما أنت بنعمة ربك بمجنون ال نبيون – الصديقون – الشهداء ‪-‬‬ ‫الخالق‬
‫‪Bukan orang gila‬‬
‫الصالحون‬

‫الهتدون‬ ‫وإن لك لجرا غير ممنون‬ ‫قلم ال‬ ‫الكرم‬ ‫ال‬


‫‪Mendapat petunjuk‬‬ ‫‪Pahala tak terputus‬‬ ‫‪Konsep Allah‬‬

‫وإنك لعلى خلق عظيم‬ ‫العليم‬


‫الجنة‬ ‫السعادة‬ ‫حياة طيبة‬ ‫‪Akhlak yang agung‬‬
‫‪Surga‬‬ ‫‪Bahagia‬‬ ‫‪Kehidupan mulia‬‬

‫سورة القلم‬

‫النار‬ ‫الشقاوة‬ ‫مثيشة ضنكا‬


‫‪Neraka‬‬ ‫‪Sengsara‬‬ ‫‪Kehidupan sempit‬‬ ‫إنك مجنون‬ ‫المخلو‬
‫‪Orang gila‬‬
‫ق‬
‫الضال‪Ò‬ون‬ ‫ولك أجر ممنون‬ ‫قلم النسان‬ ‫من‬ ‫النسان‬
‫‪Sesat‬‬ ‫‪Pahala terputus, sementara‬‬ ‫‪Konsep manusia‬‬
‫علق‬
‫وإنك لعلى خلق ذليل‬ ‫لم يعلم‬
‫الكافرون – الفاسقون ‪-‬‬
‫‪Akhlak yang rendah‬‬
‫الظالمون‬
BAB I
‫رسالة الشريعة‬
PRINSIP SYARIAT

Surat al-Qalam ayat 1-7

‫حيم‬Ò‫حمن الر‬Ò‫بسم ال الر‬


‫ر‬J‫ي‬H‫ا غ‬³‫ر‬J‫ج‬H‫ل‬H H‫ك‬H‫ ل‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ و‬. m‫ن‬J‫و‬P‫ن‬J‫ج‬H‫م‬K‫ ب‬H‫ك‬S‫ب‬H‫ ر‬K‫ة‬H‫م‬J‫ع‬K‫ن‬K‫ ب‬H‫ت‬J‫ن‬H‫آ أ‬H‫ م‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫سط‬ J H‫ا ي‬H‫م‬H‫ و‬K‫م‬H‫ل‬H‫ق‬J‫ال‬H‫ن و‬
‫ن‬K‫ إ‬. P‫ن‬J‫و‬P‫ت‬J‫ف‬H‫م‬J‫ ال‬P‫م‬P‫ك‬S‫ي‬H‫أ‬K‫ ب‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫ص‬J‫يب‬P H‫ و‬P‫ر‬K‫بص‬J P‫ت‬H‫س‬H‫ ف‬. m‫م‬J‫ي‬K‫ظ‬H‫ ع‬m‫ق‬P‫ل‬P‫ى خ‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ ل‬H‫نك‬N K‫إ‬H‫ و‬. m‫ون‬J P‫ن‬J‫م‬H‫م‬
. H‫ين‬J K‫د‬H‫ت‬J‫ه‬P‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫و أ‬H P‫ه‬H‫ و‬K‫ه‬K‫يل‬J K‫سب‬
H J‫ن‬H‫ ع‬N‫ل‬H‫ ض‬J‫ن‬H‫م‬K‫م ب‬P H‫ل‬J‫ع‬H‫ أ‬H‫هو‬P H‫ك‬N‫ب‬H‫ر‬
“Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis. Tidaklah engkau, dengan nikmat
Tuhanmu, seorang gila. Dan sesungguhnya untukmu pahala yang tiada putus-
putusnya. Dan sesungguhnya engkau adalah benar-benar atas budipekerti yang
agung. Maka engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat kelak. Siapa
di antara kamu yang terganggu fikiran. Sungguh Tuhanmu, Dialah yang lebih
tahu siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia pun lebih tahu siapa yang
mendapat petunjuk.”

Definisi kebahasaan ‘qalam’ (lughatan)


Dari segi bahasa, kata ‘qalama’ berarti memotong ujung sesuatu. Dalam sebuah
hadits yang menjelaskan ‘sunnah-sunnah fithriyah’ disebutkan diantaranya
taqlimu al-azhafir (memotong ujung kuku). Tombak yang dipotong ujungnya
sehingga meruncing dinamai maqaliim. Anak panah yang runcing ujungnya dan
yang bisa digunakan mengundi dinamai pula qalam, sebagaimana firman-Nya :

(44 : ‫م )آل عمران‬H H‫ي‬J‫ر‬H‫ م‬P‫ل‬P‫ف‬J‫ك‬H‫ ي‬J‫م‬P‫̄يه‬H‫•م أ‬


J ‫ه‬€‫م‬€‫ „قل‬€‫ أ‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬J‫ل‬P‫ذ ي‬J K‫م إ‬J K‫ه‬J‫ي‬H‫د‬H‫ ل‬H‫ت‬J‫ن‬P‫ا ك‬H‫م‬H‫و‬
“Padahal kamu tidak beserta mereka melemparkan anak-anak panah mereka
(untuk mengundi) siapa di antara mereka yang memelihara Maryam.” (QS Ali
Imran : 44).
Demikian pula ditemukan dalam bentuk jama’ ‘aqlam’ bermakna ‘pena’ pada
firman Allah berikut.

‫ا‬H‫ م‬m‫ر‬P‫ح‬J‫ب‬H‫ أ‬P‫ة‬H‫ع‬J‫ب‬H‫ س‬K‫ ه‬K‫د‬J‫بع‬H J‫ ن‬K‫ م‬P‫̄د ه‬P‫م‬H‫ ي‬P‫ر‬J‫ح‬H‫ب‬J‫ال‬H‫ م´ و‬€‫أق„ل‬€ m‫ة‬H‫ر‬H‫ج‬H‫ ش‬J‫ ن‬K‫ م‬K‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ا ف ي‬H‫ م‬N‫ ن‬H‫ أ‬J‫و‬H‫ل‬H‫و‬
(27 : ‫ )لقمان‬K‫ ال‬P‫ات‬H‫م‬K‫ل‬H‫ ك‬J‫ت‬H‫د‬K‫ف‬H‫ن‬
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena-pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (keringnya), niscaya
tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. (QS Luqman : 27).
Al-Quran secara umum menjelaskan bahwa ‘qalam’ adalah alat yang digunakan
untuk menulis, yakni alat tulis apapun – termasuk komputer yang tercanggih.
Demikian pula ‘qalam’ adalah alat untuk mengundi. Dalam surat al-Qalam,
qalam adalah alat, tetapi yang dimaksudkan adalah hasil penggunaan alat
tersebut, yakni “tulisan”.
Dalam kaidah bahasa Arab seringkali suatu kata yang berarti “alat” atau
“penyebab” dimaksudkan untuk akibat atau hasil penggunaan alat itu. Dan suatu
kata atau ayat yang singkat boleh jadi ditemukan rincian artinya dalam ayat
yang lain (tafsir al-ayat bil ayat).
Maka, arti qalam pada surat al-‘Alaq dengan surat al-Qalam saling berkaitan,
apalagi surat al-Qalam turun setelah akhir ayat kelima surah al-‘Alaq, menurut
beberapa riwayat.
Penemuan pena serta tulis menulis merupakan satu anugerah Allah yang
terbesar. Dengan tulisan, satu generasi dapat mentransfer ilmu dan pengalaman
mereka kepada generasi berikut, sehingga manusia tidak terus-menerus mulai
dari nol. Begitu pentingnya pena dan hasil tulisannya, para ahli membagi
kehidupan manusia dalam dua periode. Periode pra-peradaban (prehostoric) dan
periode peradaban (historic). Sedang batas pemisah antara keduanya adalah
penemuan pena serta tulisan.

Mengenal tulisan (qalamullah) dan kemurahan Allah (karamullah)


Kalau merujuk arti qalam dalam bentuk jama’ ‘aqlam’ dalam Al-Qur’an surat
Luqman ayat 27, yang dimaksudkan adalah ‘ilmullah (ilmu Allah). Ada yang
berpendapat Al-Qur’an, as-Sunnah dan al-Islam. Konsep Allah adalah syariat
(syara’a) Allah yang diperuntukkan hamba-hamba-Nya.
Dari wahyu pertama Al-Qur’an diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan
dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah
diketahui manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang
belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau dasar
usaha manusia (‘ilmu kasbi). Cara kedua dengan mengajar tanpa alat atau tanpa
usaha manusia (‘ilmu laduni, ‘ilmu khafi).
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu hanya dua tahun hidup bersama Nabi
shalla-llahu 'alaihi wa sallam, tetapi paling banyak meriwayatkan hadits selain
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Abu Hurairah lebih banyak memperoleh ‘ilmu
khafi (ilmu tersembunyi). Walaupun berbeda, keduanya dari satu sumber, yaitu
Allah.
Setiap pengetahuan memiliki subyek dan obyek. Secara umum subyek dituntut
peranannya untuk memahami obyek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan
bahwa obyek terkadang memperkenalkan diri kepada subyek tanpa usaha sang
subyek. Misalnya komet Halley yang memasuki cakrawala hanya sejenak setiap
76 tahun, muncul terakhir tahun 1986. Pada kasus ini, walaupun para astrologi
menyiapkan diri dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati dan
mengenalnya, sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu
dalam memperkenalkan diri.
Wahyu, ilham, intuisi, firasat, yang diperoleh manusia yang siap dan suci
jiwanya, atau apa yang disebut kebetulan, yang dialami ilmuwan yang tekun,
semuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat
dianalogikan dengan kasus komet di atas.
Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam bukan
lewat qalamullah tetapi atas karamullah (kemurahan Allah), karena wahyu
turun bukan atas usaha beliau. Kadang langsung masuk ke dalam dadanya.
Setelah dibacakan Allah, setelah itu tidak pernah lupa.

(6 : ‫ى )العلى‬H‫نس‬J H‫ ت‬H‫ل‬H‫ ف‬H‫ك‬P‫ئ‬K‫ر‬J‫نق‬P H‫س‬


“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu
tidak akan lupa.” (QS al-A’laa : 6).
Seringkali Rasulullah menghendaki turunnya wahyu, tetapi tak kunjung
diturunkan. Bahkan beliau pernah hampir saja menjatuhkan dirinya dari atas
gunung, karena beban berat yang dipikul, sementara wahyu yang ditunggu tidak
turun.
Kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali diperoleh justru ketika
meninggalkan teori-teori ilmiah yang telah dipelajarinya selama ini. Buku
Manhaj Tarbiyah Islamiyah, oleh Muhammad Quthb, disusun setelah
mengalami stagnasi kejiwaan (Lihat: Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M.
Quraisy Syihab, MA).
δφ
‫رباني‬
BERKETUHANAN

‫أخلقية‬
MEMBENTUK MORAL

‫ قلم‬- ‫خصائص القرآن‬


‫واقعي‬
REALISTIS ‫ال‬
KARAKTERISTIK KONSEP

‫إنسانية‬
MANUSIAWI

‫تناسق‬
TERATUR

‫شمول‬
UNIVERSAL
BAB II
‫خصائص قلم ال‬
KARAKTERISTIK KONSEP ALLAH

Rabbani
Konsep Allah memiliki keistimewaan yang membedakannya dengan undang-
undang lain buatan manusia, yaitu bersifat rabbaniyyah. Lebih tepatnya,
rabbaniyyatul mashdar dan rabbaniyyatul ghayah (bersumber dari Allah dan
tujuan akhir karena Allah).
Konsep Allah bercelupkan keagamaan, terbungkus oleh kesucian yang tiada
taranya dan menanamkan kepada penganutnya rasa cinta dan hormat yang
bersumber dari mata air keimanan dengan kesempurnaan, keluhuran dan
kemuliaannya, bukan bersumber dari rasa takut terhadap kekuasaan legislatif
dengan aparatnya.
Konsep itu bukan produk manusia yang kemampuannya terbatas dan
terpengaruh oleh kondisi, tempat, dan waktu, terpengaruh oleh hawa nafsu,
perasaan dan pertimbangan kemanusiaan.
Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Mencipta dan Memiliki semua makhluk,
Pengatur semesta alam ini, Menciptakan manusia, Maha Mengetahui apa yang
bermanfaat dan apa-apa yang maslahat serta yang bisa memperbaiki.

(14 : ‫ )الملك‬P‫ر‬J‫ي‬K‫ب‬H‫خ‬J‫ ال‬P‫ف‬J‫ي‬K‫ط‬N‫و الل‬H P‫ه‬H‫ و‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫ن‬H‫ م‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫أ‬


“Ingatlah, (Allah Yang Mencipta), Maha Mengetahui, dan Dia Maha Halus
lagi Maha Awas.” (QS al-Mulk : 14).
Kaum muslimin meyakini bahwa konsep Allah paling sempurna, syamil, paling
adil, paling mampu mewujudkan kebajikan dan menolak berbagai macam
keburukan. Konsep Allah berhasil menegakkan kebenaran dan menumbangkan
dan mencabut mafsadat ke akar-akarnya. Dan seorang muslim dapat merasakan
kepuasan dengan keadilan dan kebajikannya.
Seorang muslim juga meyakini dalam lubuk hatinya bahwa Allah selalu
mengawasi ketika ia tengah menjalankan konsep ini atau pada saat ia
meninggalkannya. Dia meyakini bahwa Allah mencatat perbuatannya itu untuk
di-hisab saat seluruh manusia dibangkitkan untuk melihat amal perbuatannya.

-7 : ‫ )الزلزلة‬P‫ه‬H‫ير‬H ‫ر·ا‬H‫ ش‬m‫ة‬N‫ر‬H‫ ذ‬H‫ال‬H‫ثق‬J K‫ م‬J‫ل‬H‫م‬J‫ع‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫وم‬H . P‫ه‬H‫ر‬H‫ا ي‬³‫ر‬J‫ي‬H‫ خ‬m‫ة‬N‫ذر‬H H‫ال‬H‫ثق‬J K‫ م‬J‫ل‬H‫م‬J‫ع‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫م‬H‫ف‬
(8
“Maka barangsiapa yang beramal kebajikan sebobot zarrah pun, ia psti akan
melihatnya. Dan barangsiapa yang beramal kejahatan sebesar zarrah pun,
pasti ia akan menemuinya.” (QS az-Zalzalah : 7-8).
Akhlaqiyah (membentuk moral)
Konsep Allah memiliki keunggulan membentuk moral dalam seluruh aspeknya,
sebagai buah dari sifat rabbaniyah-nya. Dengan demikian, konsep Allah lebih
mengutamakan akhlak dengan seluruh yang tercakup di dalamnya.

(‫ )رواه الحاكم‬K‫ق‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫م‬K‫ار‬H‫ك‬H‫ م‬H‫م‬S‫م‬H‫لت‬


P K P‫ثت‬J K‫ع‬P‫ا ب‬H‫م‬N‫ن‬K‫إ‬
“Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR al-
Hakim).
Disini terlihat perbedaan antara konsep Allah dengan qanun dari sisi kandungan
maupun tujuannya. Kandungan undang-undang buatan manusia adalah
serangkaian hak-hak pribadi dan perorangan, sementara konsep Allah
mencakup sekumpulan taklif (tugas). Dan, hukum syara’ adalah kalamullah
yang berkaitan dengan pekerjaan mukallaf (yang dikenai beban dan tugas).
Qanun memandang manusia dari segi hak-haknya, sedangkan konsep Allah
melihat manusia dari segi kewajibannya. Tugas dan kewajiban ini ialah hak-hak
orang lain yang harus dipenuhi, maka ia harus menjaganya sesuai dengan
penjagaannya terhadap hak-haknya atas orang lain. Selain itu, manusia dalam
pandangan qanun sebagai penuntut, sedang dalam pandangan konsep Allah ia
dituntut dan diminta tanggung jawab (mas’uliyah) karena ia makhluk yang
diberi taklif, diperintah dan dilarang. Ia tidak diciptakan untuk main-main, sia-
sia atau dibiarkan saja. Tetapi, ia memiliki hak dan kewajiban.
Adapun dari segi tujuan, qanun punya tujuan yang bermanfaat dan terbatas,
yaitu langgengnya masyarakat dan teraturnya dan berbagai perkara di dalamnya
terutama yang bersifat material serta menegakkan disiplin. Inilah yang
diciptakan oleh para pembuat qanun, hatta walau pun kandungannya – bisa jadi
–menuntut penyimpangan dari akhlak dan agama.
Selanjutnya, jika kita melihat konsep Allah, maka tujuannya di samping
memelihara kelanggengan masyarakat dan keteraturan hubungan sesamanya,
juga mewujudkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan ummat manusia.
Mengangkat mereka ke derajat kemanusiaan yang luhur serta memelihara nilai-
nilai akhlak dan ruhani yang tinggi.

Realistis (waqi’iy)
Ciri-ciri lain dari konsep Allah ialah bersifat realistis, dimana perhatiannya
terhadap nilai-nilai luhur akhlaq tidak menghalanginya untuk menaruh
perhatian terhadap realita yang ada. Mendiagnosis berbagai penyakit yang di
deritanya sekaligus memberikan resepnya.
Konsep Allah tidak berdayung di lautan khayal. Juga tidak terbang di awang-
awang dan di angkasa. Keteladanan yang semu yang membentuk manusia tanpa
wujud seperti yang diperbuat Plato dengan Republic-nya. Dan seperti apa yang
menjadi utopia ajaran komunisme tentang masyarakat yang kehilangan hak
milik dan tidak membutuhkan suatu pemerintah, hukum pertahanan, keamanan
dan penjara.
Konsep Allah diturunkan untuk manusia sesuai dengan kejadiannya, yang Allah
ciptakan dengan fisik yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit;
dengan rasa cinta yang melambung dan naluri yang merendah. Allah mengakui
dorongan kedurhakaan dan ketakwaan yang senantiasa bertempur di dalam jiwa
mereka.

(8-7 : ‫ا )الشمس‬H‫اه‬H‫و‬J‫ق‬H‫وت‬H ‫ا‬H‫ه‬H‫ر‬J‫و‬P‫ج‬P‫ا ف‬H‫ه‬H‫م‬H‫ه‬J‫ل‬H‫أ‬H‫ ف‬. ‫ا‬H‫اه‬N‫سو‬


H ‫ا‬H‫م‬H‫ و‬m‫س‬J‫ف‬H‫ن‬H‫و‬
“Dan, demi jiwa dan apa-apa yang meluruskannya. Maka Dia mengilhaminya
akan kedurhakaannya dan ketaqwaannya.” (QS Asy-Syams : 7-8).

Insaniyah (manusiawi)
Konsep Allah bersifat insaniyah dan ‘alamiyah. Makna insani-yah ialah ia
diturunkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia, membimbing dan
memelihara sifat-sifat humanistik-nya serta menjaga dari kedurjanaan sifat
hewani agar tidak mengalahkan sifat kemanusiaannya. Untuk itu, maka
disyariatkanlah semua bentuk ibadah bagi manusia dalam rangka memenuhi
kebutuhan ruhaninya. Dengan demikian manusia bukan semata-mata raga yang
terdiri dari unsur tanah yang membutuhkan makan, minum dan nikah, tetapi ia
juga ruh yang luhur yang menempati raga itu.
Konsep Allah juga memelihara kemuliaan manusia yang dianugerahkan Allah
Sang Pencipta, yang Menjadikannya khalifah di muka bumi dan yang
Menyuruh malaikat bersujud kepadanya serta yang telah Mengabadikan
kemuliaan itu dalam kitab-Nya.

(70 : ‫ )السراء‬H‫دم‬H ‫ آ‬J‫ي‬K‫بن‬H ‫ا‬H‫ن‬J‫م‬N‫ر‬H‫ ك‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬


“Dan sungguh Kami telah memuliakan bani Adam (manusia).” (QS al-Isra’ :
70).
Konsep Allah menaruh perhatian besar terhadap manusia seutuhnya, baik raga,
jiwa maupun pikirannya. Konsep Allah memperhatikan raga manusia dengan
mewajibkan pemelihara-annya dan melarang segala bentuk penyiksaan
walaupun dengan ibadah.

Teratur (tanasuq)
Ciri konsep Allah lainnya adalah teratur. Yakni semua bagian-bagiannya
masing-masing bekerja teratur, kompak dan seimbang dalam rangka mencapai
satu tujuan bersama. Antara yang satu dengan lain tidak berbenturan tapi sejalan
dan seirama, teratur dan rapi. Karakteristik ini bisa juga dinamakan dengan
takamul (komperhensip).
Keteraturan dan keserasian dalam fenomena alam (khalqiyah) dan konsep Allah
(kalimatullah) sebagai suatu keseimbangan (tawazun), kita temui sebagai suatu
gejala yang tampak pada setiap apa-apa yang disyariatkan Allah, tampak pada
setiap makhluq-Nya.

Universal (syumul)
Konsep Allah mencakup aspek ibadah yang mengatur hubungan dengan Rabb-
nya. Masalah ini dijelaskan oleh fiqh ibadah yang terdiri dari bab thaharah,
shalat, shaum, hajji, nadzar, udh-hiyyah (berkorban), ayman (sumpah) dan hal-
hal lain yang tidak pernah dikenal dalam qanun.
Mencakup pula hukum kerumahtanggaan (nizhamul usrah), seperti nikah,
thalaq, mengatur rumah tangga, nafkah, wasiat, waris, dan hal-hal yang
termasuk dalam masalah pembentukan rumah tangga Islami dan segala upaya
mempertahankannya, masalah ‘iddah, dll. Hukum ini dikenal dengan Hukum
Pribadi (al-ahwal asy-syakhshiyah).
Juga mencakup segi mu’amalah, transaksi seperti jual beli, gadai, hibah, utang-
piutang, join dalam usaha (syirkah), luqathah (barang temuan), dan sejenisnya
yang bertujuan mengatur hubungan antarindividu dalam menggunakan harta
dan menjaga hak masing-masing yang semua ini sekarang dinamakan Hukum
Sipil.
Ia juga mencakup bidang ekonomi seperti berkaitan dengan pengembangan
harta atau pemakaiannya sebagaimana pula berkaitan dengan pengatutan Baitul-
Maal, tentang pemasukan dan pengeluaran zakat, harta ghanimah, fai’, pajak,
serta hal-hal yang diharamkan Allah seperti riba, menimbun harta, memakan
harta orang dengan cara batil, dsb.
Konsep Allah juga mencakup tindak pidana dan balasannya yang telah
ditentukan dengan nash dan hadis seperti qishash, dan hukuman-hukuman lain
seperti potong tangan bagi pencuri, mencambuk atau merajam pezina,
mencambuk peminum minuman keras dan orang yang menuduh orang lain
berzina. Atau sanksi-sanksi yang ketentuannya diserahkan kepada ulil amri,
para qadhi atau hakim, yang disebut dalam fiqh dengan hukuman ta’zir (dera).
Inilah yang dikenal undang-undang kejahatan dan Hukum Pidana (jinayat).
Juga mencakup hal-hal yang berkaitan dengan hukum, putusan, dakwaan,
persaksian, iqrar (pengakuan), sumpah dan lainnya yang bertujuan menegakkan
keadilan antar-umat manusia dan menyelesaikan suatu kasus atau perkara yang
semua termasuk ke dalam apa yang disebut Hukum Acara.
Mencakup aspek undang-undang kepemimpinan, dasar kewajiban mengangkat
pemimpin dan syarat-syaratnya yang harus dipenuhi, cara pemilihannya, hak
dan kewajibannya, hubungannya dengan dengan rakyat, hukum mentaatinya,
serta bagaimana menghadapi pembangkang (oposisi) dan sejenisnya, yang
bertujuan mengatur hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Ini
termasuk ke dalam “Undang-undang Dasar”.
Mencakup masalah hubungan kenegaraan seperti mengatur hubungan negara
Islam dengan negara-negara lain yang non-muslim, baik dalam kondisi perang
maupun damai. Masalah yang berkaitan dengan penduduk non-muslim di
negara Islam. Ini dibahas dalam fiqih Islam, dan sekarang ini semua tercakup ke
dalam apa yang dinamakan Hukum Internasional.
δφ
BAB III
‫وعد ال للملتزم بالقرآن‬
JAMINAN ALLAH BAGI YANG BERQUR’AN

Tidak gila
Gila adalah perbuatan yang menyalahi kebiasaan, ukuran, kriteria umum
(khariqul ‘adah). Jika merujuk kepada hadits, diterangkan bahwa diantara orang
yang tidak dikenai dan bebas dari taklif (beban tugas) menjalankan syariat
diantaranya adalah ‘anil jununi hatta ya’qila (orang gila sampai akalnya
berfungsi). Orang gila tidak dikenai taklif karena akalnya tidak normal.
Maksud ayat “ma anta bi ni’mati rabbika bi majnun” adalah bahwa dengan
nikmat Islam ini maka kamu tidak akan melakukan pekerjaan hina.
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah yang menjelaskan kriteria wanita yang
harus dijadikan calon istri meliputi hartanya, kecantikannya, keturunannya. Jika
semua sifat tidak terkumpul pada satu orang, maka beruntunglah kamu dengan
memilih yang beragama, taribat yadaaka (‘agar kedua tanganmu tidak
berdebu’). Taribat dari kata turab artinya debu; yadaaka artinya kedua
tanganmu (usaha yang kamu lakukan). Jika agama tidak dijadikan alternatif
pilihan, kedua tanganmu berdebu (mengerjakan pekerjaan yang hina). Tidak
pantas dilakukan oleh makhluk yang berakal. Postur tubuhnya seperti manusia
tapi karakternya seperti anjing (kalb), kera (qird) dan himar (keledai).

‫ن‬K‫ إ‬K‫ب‬J‫ل‬H‫ك‬J‫ ال‬K‫ثل‬H ‫م‬H H‫ ك‬P‫ه‬P‫ل‬H‫ث‬H‫م‬H‫ ف‬P‫اه‬H‫هو‬H H‫بع‬H N‫ات‬H‫ و‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫لى‬K‫ إ‬H‫د‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ أ‬P‫ه‬N‫ن‬K‫ك‬H‫ل‬H‫ا و‬H‫به‬K P‫اه‬H‫ن‬J‫ع‬H‫ف‬H‫ر‬H‫ا ل‬H‫ن‬J‫شئ‬
K J‫و‬H‫ل‬H‫و‬
(176 : ‫ )العراف‬J‫ث‬H‫ه‬J‫ل‬H‫ ي‬P‫ه‬J‫ك‬P‫ر‬J‫تت‬H J‫و‬H‫ أ‬J‫ث‬H‫ه‬J‫ل‬H‫ ي‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬J‫ل‬K‫م‬J‫ح‬H‫ت‬
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya)
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa
nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu
mengusirnya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya juga.” (QS al-A’raf : 176).
Jika kata majnun (gila) dikaitkan dengan kata janna pada surat al-An’am : 72,
yang artinya menutupi, maka sakit gila menjadikan seseorang dalam dunia ini
sia-sia. Karena dia tidak dikenai tugas dan kewajiban (taklif). Oleh karena itu
perintah dan larangan tidak akan masuk hatinya, karena instrumen
kemanusiaannya tertutup.
Dengan Al-Qur’an hati manusia menjadi lapang, terbuka. Sehingga mudah
tersentuh dengan kebenaran. Jika khilaf ia menyesal dan bersegera kembali
kepada Allah. Hatinya bersih, terbebas dari berbagai kontaminasi virus hati
(amraadhul qalb). Orang Yahudi jarang sekali yang masuk Islam karena
hatinya keras (qaswatul qalb). Sekeras-keras batu jika dipecahkan, maka di
tengah-tengahnya akan mengeluarkan air.
Memperoleh pahala yang tak terputus
Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain, utamanya Al-Qur’an,
akan menjadi pembela pemiliknya di akhirat kelak (hujjatun lahu).
Pada suatu hari ada seorang ulama’ mendelegasikan tugas kepada muridnya
untuk menghadiri sebuah mu’tamar (komferensi). Tetapi, dalam majlis itu yang
hadir hanya seorang. Murid tersebut ragu-ragu apakah acara ini diteruskan.
Setelah dikonsultasikan kepada gurunya, dijawab sesungguhnya jika anda bisa
menyadarkan seorang yang hadir ini lebih baik daripada satu forum.
Mengajarkan ilmu Al-Qur’an kepada orang lain pahalanya akan abadi. Karena
semakin banyak ilmu seseorang semakin kuat dorongannya untuk
melaksanakan kebaikan. Maka, Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam
berdoa tidak ingin ditambahi kekayaan tetapi mohon kepada Allah agar
ditambahi ilmu. Harta yang diifakkan akan habis, sedangkan ilmu yang
diajarkan akan bertambah. Lebih-lebih dari murid pertama juga aktif
mengajarkannya kepada orang lain. Maka mesin pahala tidak akan berhenti
berputar.
Rata-rata umur umat Muhammad antara 60 tahun sampai 70 tahun. Yang
menjadikan umur pendek mereka dinilai setara dengan umur umat sebelumnya
yang panjang-panjang, karena semangat dalam mengembangkan Islam ini.
Sesuai dengan karakteristik Islam itu sendiri yang terus berkembang. Ibarat air
akan mencari dataran rendah untuk dialiri. Tinta ulama laksana darah para
syuhada. Jangan mencerca orang yang berilmu, karena darahnya akan beracun
(menimbulkan bahaya).

‫ )رواه البخاري‬K‫ م‬H‫نع‬N‫ ال‬K‫ر‬P‫م‬P‫ ح‬J‫ ن‬K‫ م‬H‫ ك‬H‫̂ر ل‬J‫ي‬H‫ا خ‬³‫د‬K‫اح‬H‫ و‬³‫ل‬P‫ج‬H‫ ر‬H‫ب ك‬K P‫ ا ل‬H‫د ي‬K J‫ه‬H‫ ي‬J‫ ن‬H‫ل‬H K‫ا ل‬H‫و‬H‫ف‬
(‫عن سهل بن سعد رضي ال عنه‬
“Maka demi Allah, sungguh bila Allah memberikan hidayah kepada seseorang
karena (usaha) kamu, itu lebih baik bagi kamu dari pada unta-unta merah
(kendaraan kebanggaan orang-orang Arab).” (HR al-Bukhari, dari Sahal bin
Sa’ad radhiyallahu ‘anhu).
Orang yang mengamalkan Al-Qur’an dan mengajarkannya dia akan meninggal
dalam keadaan syahid. Maksud syahid disini adalah ketika di alam barzakh
bumi tidak memakan jasadnya. Makna yang lain, sekali pun secara fisik
kematian telah memisahkan kita, tetapi nama baiknya tetap terngiang-ngiang di
telinga orang-orang yang ditinggalkan.

‫ن‬H‫ أ‬K‫ر‬J‫ي‬H‫ غ‬J‫ن‬K‫ م‬P‫ه‬H‫د‬J‫بع‬H ‫ا‬H‫ه‬K‫ ب‬H‫ل‬K‫م‬H‫ ع‬J‫ن‬H‫ م‬P‫ر‬J‫ج‬H‫أ‬H‫ا و‬H‫ه‬P‫جر‬J H‫ أ‬P‫ه‬H‫ل‬H‫ ف‬³‫ة‬H‫ن‬H‫س‬H‫ ح‬³‫نة‬N P‫ س‬K‫م‬H‫ل‬J‫لس‬
K J‫ ا‬K‫ في‬N‫ن‬H‫ س‬J‫ن‬H‫م‬
(‫̂ء )رواه مسلم‬J‫ي‬H‫ ش‬J‫م‬K‫ه‬K‫ر‬J‫و‬P‫ج‬P‫ أ‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ص‬P‫نق‬J H‫ي‬
“Barangsiapa yang menciptakan kebiasaan baik dalam Islam, maka ia
mendapat pahala sebagaimana orang yang mengerjakannya, tanpa
mengurangi jatah pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).
Memiliki akhlaq yang agung
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘akhlak’ diartikan sebagai budi
pekerti atau kelakuan. Kata akhlaq adalah jama’, yang bentuk tunggalnya
khuluq. Kata khuluqin ‘azhim pada surat al-Qalam dinilai sebagai konsiderans
pengangkatan Nabi Muhammad sebagai Rasul. Dialah satu-satu Rasul yang
dijuluki dengan asmaul husna (nama-nama Tuhan yang baik) secara dobel, ra-
ufun rahiim.

‫ن‬J‫ي‬K‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬J‫ك م‬P J‫ي‬H‫ل‬H‫ صˆ ع‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ ح‬J‫̄ت م‬K‫عن‬


H ‫ا‬H‫ م‬K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫̂ز ع‬J‫ي‬K‫عز‬
H J‫م‬P‫ك‬K‫ س‬P‫ف‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫ ن‬K‫̂ل م‬J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬J‫ م‬P‫ك‬H‫آء‬H‫ ج‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬
(128 : ‫̂م )التوبة‬J‫ي‬K‫ح‬H‫فˆ ر‬J‫و‬P‫ء‬H‫ر‬
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu, sengat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-
orang mu’min.” (QS at-Taubah : 128).
Yang dimaksud rahim disini sayang kepada orang beriman dan ra-uf disini
belas kasih kepada umatnya yang berdosa (asy-syafaqatu ‘alal mudznibin).
Oleh karena itu, ketika naza’ (hampir dicabut nyawanya), yang ditanyakan oleh
Rasulullah bukan anaknya, tapi “ummati… ummati…” (umatku, umatku).
Budi pekerti yang amat agung. Akhlaq adalah sikap hidup, karakter atau
perangai. Awalnya latihan terus menerus (mujahadah) akan kesadaran bahwa
yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk. Lalu terbiasa
condong/memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Setelah kebaikan dilakukan secara berkesinambungan (istimrar) menjadi
kebiasaannya dan akhirnya kebaikan itu inhern dengan dirinya. Disini kebaikan
menjadi sikap hidup. Ada yang berpendapat budi pekerti adalah perpaduan
antara sikap lahir dan batin. Budi yang halus (adab) adalah sikap batin, pekerti
yang halus adalah sikap hidup.
Bahasa yang halus dikenal dengan budi bahasa. Disini maksudnya budi jadi isi
jiwa, makna yang terkandung dalam hati, lalu diucapkan dengan bahasa yang
terpilih. Bahasa adalah lambang sebuah peradaban. Ungkapan seseorang
menunjukkan isi hatinya.
Keteguhan Nabi, ketenangan serta kesabaran dari tuduhan gila umatnya. Dia
tidak kehilangan akal adalah termasuk akhlaq yang agung. Diantara
keberhasilan dakwah beliau adalah kemampuan menahan hati menerima celaan
semena-mena dari orang yang bodoh (safih).

‫ صلى‬K‫ ال‬K‫ول‬J P‫س‬H‫ ر‬H‫لى‬K‫ إ‬P‫ر‬P‫نظ‬J H‫ أ‬J‫ي‬S‫ن‬H‫أ‬H‫ ك‬: H‫ال‬H‫د رضي ال عنه ق‬m J‫و‬P‫ع‬J‫س‬H‫ م‬K‫ن‬J‫ ب‬K‫د ال‬K J‫ب‬H‫ ع‬J‫ن‬H‫ع‬
‫ه‬P‫م‬J‫و‬H‫ ق‬P‫ه‬H‫ب‬H‫ر‬H‫ ض‬J‫م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ه‬P‫م‬H‫ل‬H‫وس‬H K‫ ال‬P‫ات‬H‫و‬H‫ل‬H‫ ص‬K‫اء‬H‫ي‬K‫نب‬J H‫ل‬J‫ ا‬H‫ن‬K‫ي·ا م‬K‫نب‬H J‫ي‬K‫ك‬J‫ح‬P‫ال عليه وسلم ي‬
‫ ل‬J‫ م‬P‫ه‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬J‫ ي‬K‫م‬J‫و‬H‫ق‬K‫ ل‬J‫ر‬K‫ف‬J‫ اغ‬N‫ م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ ا‬: P‫ل‬J‫و‬P‫يق‬H H‫هو‬P H‫ و‬K‫ ه‬K‫ه‬J‫ج‬H‫ و‬J‫ ن‬H‫ ع‬H‫د م‬N ‫ ال‬P‫ح‬H‫ س‬J‫يم‬H ‫و‬H P‫ه‬H‫ و‬P‫ ه‬J‫و‬H‫م‬J‫د‬H‫أ‬H‫ف‬
(‫فق عليه‬Ò‫ )مت‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ي‬
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Seakan-akan aku
lihat kepada Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam ketika beliau
menceritakan salah seorang Nabi dari Nabi-nabi yang banyak itu, dia dipukul
oleh kaumnya sampai berdarah-darah, disapunya darah yang mengalir di
wajahnya itu lalu berdoa, “Ya Allah, ampuni kaumku, karena sesungguhnya
mereka tidak tahu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Akhlaq Rasulullah yang menonjol disini adalah muhsin (tetap berbuat baik
kepada yang bersikap jelek kepadanya) (QS Ali Imran : 134), yaitu memaafkan
dan mendoakan.
Bahkan beliau bersabda dalam redaksi hadits yang lain, “Maafkanlah orang
yang menzhalimimu, berilah orang yang mengharamkan pemberian denganmu,
dan sambunglah hubungan terhadap orang yang selama ini memutuskan
hubungan denganmu”.
Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Sesungguhnya Nabi shalla-llahu ‘alaihi
wa sallam melaksanakan Al-Qur’an, baik perintahnya maupun larangannya,
telah menjadi sikap hidup dan melekat ke dalam tabiat asli beliau. Perintah Al-
Qur’an dikerjakan, larangannya ditinggalkan. Semuanya dihiasi oleh budi
pekerti yang agung, malu, dermawan, berani, pemaaf, menahan marah.
Pendeknya semua budi yang indah.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya dari
Urwah bin Zubair, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata, “Tidak sekalipun
pernah Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam memukul khadam, dan tidak pernah
memukul perempuan, bahkan tidaklah menjadi kesukaannya memukul, kecuali
memukul dalam perang fi sabilillah. Dan kalau beliau memilih dua hal, pasti
beliau pilih mana yang paling mudah, asal jangan dosa. Dan tidaklah beliau
membalas dendam, kecuali kalau aturan Allah dilanggar orang. Kalau aturan
Allah dilanggar, saat itulah beliau baru membalas, bukan untuk dirinya
melainkan untuk agama Allah”.
Ada sahabat yang mengatakan, ketika pertama kali kita kenal Rasulullah shalla-
llahu ‘alaihi wa sallam kita takut kepadanya, setelah lama kita bergaul
dengannya kita mencintainya.

(‫م )رواه الترمذي‬J K‫ه‬K‫آئ‬H‫س‬K‫ن‬K‫ ل‬J‫م‬P‫ه‬P‫ار‬H‫ي‬K‫خ‬H‫ا و‬³‫ق‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ه‬P‫ن‬H‫س‬J‫ح‬H‫ا أ‬³‫ان‬H‫يم‬J K‫ إ‬H‫ين‬J K‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ ال‬P‫ل‬H‫م‬J‫ك‬H‫أ‬
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaqnya.
Dan orang terhitung orang baik-baik ialah yang bersikap baik terhadap
isterinya.” (HR at-Tirmidzi).
Akhlaq di sini mencakup dimensi yang lebih dalam dan luas. Mengendalikan
jiwa, berkata jujur, ihsan dalam berbuat, amanah dalam bermuamalah, berani
berpandapat, adil dalam menetapkan hukum, berpegang teguh dengan
kebenaran, keinginan (‘azam) yang kuat untuk melakukan kebaikan, menyuruh
kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, menjaga kebersihan, menghormati
peraturan dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
BAB IV
‫الخسران لنصار قلم الناس‬
KEHINAAN PEMBELA IDEOLOGI MANUSIA

Gila (majnun)
Orang yang jauh dari Al-Qur’an akan menjadi gila. Gila wanita, gila harta dan
gila tahta. Selain Al-Qur’an tidak akan mampu menolak godaan wanita, harta
dan tahta. Bagi orang kafir ketiga kekayaan itu yang dijadikan tujuan akhir
hidupnya. Sehingga hatinya kafir (terkover, tertutup) dari petunjuk Allah.
Sehingga seruan Allah, seolah-olah suara yang didengar dari jarak yang jauh,
suara apa itu ?.

‫ان‬H‫ك‬H‫ م‬J‫ ن‬K‫ م‬K‫ ن‬J‫و‬H‫اد‬H‫ين‬P H‫ئ ك‬K H‫ل‬J‫و‬P‫ى أ‬³‫ م‬H‫ ع‬J‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫و‬P‫وه‬H ‫̂ر‬J‫ق‬H‫ و‬J‫ م‬K‫ه‬K‫ان‬H‫ آذ‬K‫ ف ي‬H‫و ن‬J P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫ ي‬H‫ ل‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬
(44 : ‫لت‬Ò‫د )فص‬m J‫ي‬K‫ع‬H‫ب‬
“Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan,
sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka (tidak menerangi mereka).
Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang
jauh.” (QS Fushshilat : 44).
Segala aktifitas orang kafir hanya akan menutup (raana) hatinya sendiri. Dan
mereka menjadi pemburu yang kecewa, karena yang diburunya tidak
ditemukan.

‫ م‬H‫ ل‬P‫ ه‬H‫آء‬H‫ا ج‬H‫ذ‬K‫ إ‬N‫تى‬H‫ ح‬³‫آء‬H‫ م‬P‫ا ن‬H‫ئ‬J‫م‬N‫ الظ‬P‫به‬P H‫ س‬J‫ح‬H‫ ي‬m‫ة‬H‫ع‬J‫ي‬K‫ق‬K‫ ب‬m‫اب‬H‫ر‬H‫ س‬H‫ ك‬J‫ م‬P‫ه‬P‫ال‬H‫م‬J‫ع‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ر‬H‫ف‬H‫ ك‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬
(39 : ‫ا )النور‬³‫ئ‬J‫شي‬ H P‫ه‬J‫د‬K‫ج‬H‫ي‬
“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana
di tanah datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS an-Nuur :
39).

Memperoleh balasan sesaat (mu-aqqatan)


Yang diperoleh bagi orang berpaling dari Al-Qur’an hanyalah mata’ (kepuasan
sementara). Balasan itu tidak akan memuaskan hatinya, seakan-akan minum air
laut semakin di minum semakin haus. Semakin banyak yang didapatkan
semakin menumpuk pula kebutuhan dan kekurangannya. Orang kaya, menurut
Islam, bukan yang banyak hartanya tetapi kaya hati.
Kata Abu Bakar, “Jadikanlah harta itu pada genggaman tanganmu dan
janganlah engkau masukkan dalam hatimu.” Orang Islam semangat dalam
mengumpulkan karunia-Nya, tapi tidak kikir dalam membelanjakan kebaikan-
kebaikannnya.
Oleh karena itu seorang yang jauh dari Al-Qur’an akan merasakan kehidupan
yang serba sulit (ma’isyatan dhankan). Secara lahiriyah bisa makan ini, itu,
bertempat tinggal sesuka hatinya, tetapi hatinya terpenjara oleh nafsunya.
Orang yang tidak ber-Qur’an tidak bisa zuhud. Sementara orang yang ber-
Qur’an mampu bersikap zuhud (membatasi konsumsi) setelah
mengumpulkannya. Kreatif dalam mengelola karunia Allah. Dikumpulkannya
sebanyak mungkin, kemudian dia tinggalkan untuk Allah. Lelaki Qur’ani
memiliki daya cipta material, pada saat yang sama memiliki daya kendali
material.
Mukmin adalah petarung sejati, pebisnis sejati, tetapi pada akhirnya ia
pemimpin sejati. Seorang mukmin tidak sekedar mampu menurunkan tirani,
tetapi mampu membuat rakyat sejahtera setelah berkuasa. Dan itu mustahil
dilakukan sebelum ia menjadi pebisnis sejati.

Berperangai hina

‫ن‬J‫ي‬K‫ئ‬K‫ا س‬H‫ خ‬³‫ة‬H‫د‬H‫ر‬K‫ا ق‬J‫و‬P‫ن‬J‫و‬P‫ ك‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ا ل‬H‫ ن‬J‫ل‬P‫ق‬H‫ ف‬K‫ت‬J‫ب‬N‫ ال س‬K‫ ف ي‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫دو‬H H‫ت‬J‫ اع‬H‫ ن‬J‫ذي‬K N‫ ال‬P‫ت م‬P J‫م‬K‫ل‬H‫ ع‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬
(65 : ‫)البقرة‬
“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar perintah
pada hari Sabtu, maka Kami firmankan : Jadilah kamu kera-kera yang hina.”
(QS al-Baqarah : 65).
Hari Sabtu adalah waktu istirahat dari bekerja, dikhususkan untuk beribadat
kepada Tuhan. Memuliakan hari Sabtu adalah salah satu janji Bani Israil dengan
Tuhan. Tetapi mereka pandai mempermainkan hukum Tuhan. Peristiwa ini
terjadi di danau Thabaria, Alia, Madyan, kata para ahli. Mereka berdiam di tepi
pantai. Sekalipun dilarang mencari ikan pada hari Sabtu, tetapi mereka
memasang alat penangkap ikan (kail) pada Jum’at malam, lalu diambil pada
hari Ahad. Sehingga mereka mendapat kutukan Tuhan menjadi kera yang hina.
Sebagian ahli tafsir berpendapat : mereka menjadi babi, keledai.
Jika direnungkan ayat ini, bukan berarti mereka berubah bentuk. Tetapi
perangainya berubah menjadi perangai binatang. Lebih memuliakan ikan
daripada seruan Tuhan. Jika keledai berkarakter keledai, tidak mengherankan.
Manusia berperangai seperti keledai, inilah bentuk kehinaan. Yang dibenci
Tuhan dan manusia adalah seorang yang memiliki kesamaan sifat dengan
binatang. Memiliki akal, sama perangainya dengan makhluq yang tidak berakal.
Akal yang merupakan karunia terbesar dari Allah untuk dirinya, tidak
difungsikan. Mereka bangga dengan memperoleh keuntungan duniawi. Tetapi
tidak sadar sesungguhnya mereka dijauhi oleh orang yang baik. Menghalalkan
segala cara, asalkan tujuan tercapai (al-ghayatu tubarrirul wasa-il). Tidak ada
kawan abadi, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri.
Menurut Ibnu Mundzir, dari Ibnu Abil Hatim, mereka terima dari Mujahid,
“Yang disumpah Tuhan sehingga menjadi kera atau monyet adalah hati
mereka, bukan badan mereka. Peristiwa ini adalah majaz (kiasan) seperti pada
surat al-Jumu’ah ayat 5, ‘Laksana keledai memikul kitab’.”

P‫ه‬H‫س‬J‫ف‬H‫ ن‬H‫ذب‬N H‫ ع‬P‫ه‬P‫ق‬P‫ل‬P‫ خ‬H‫اء‬H‫ س‬J‫ن‬H‫م‬


“Siapa yang jelek akhlaqnya, ia menyiksa dirinya sendiri.”
Wajar, orang yang berbuat menyalahi suara batinnya, akan tersiksa. Ia akan
dihantui perasaan bersalah (inhizamun nafsi). Tidak akan merasakan kepuasan
batiniyah. Karena hati nuraninya dinodai dengan akan noktah hitam. Imam Ali
bin Abi Thalib menyimpulkan akibat buruk dosa, dalam doanya :
“Ya Allah, ampuni dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah,
ampunil dosa-dosaku yang mendatangkan bencana. Ya Allah, ampuni dosa-
dosaku yang merusak karunia. Ya Allah, ampuni dosa-dosaku yang menahan
doa. Ya Allah, ampuni dosa-dosaku yang menurunkan bala. Yaa Allah, ampuni
dosa-dosaku yang mempercepat kebinasaan”.

δφ
‫أصالة المصدر‬
Kemurnian dan keutuhan sumber asasi

‫القرآن مصدر وحيد‬


AL-Qur’an sebagai sumber utama

‫خصائص الجيل القرآني‬


PROFIL GENERASI QUR’ANI
‫منهج التلقي – التعامل مع القرآن للتطبيق‬
‫والعمل‬
Pola penerimaan – Berinteraksi dengan al-
Qur’an untuk dilaksanakan

‫المفاصلة التامة‬
Isolasi total dengan pola jahiliyah sebelumnya
BAB V
‫خصائص الجيل القرآني‬
PROFIL GENERASI QURANI

Ada fenomena yang unik dalam sejarah Islam yang patut dijadikan rujukan,
tolak ukur keberhasilan dakwah di mana saja dan kapan saja, bagi yang terjun di
medan dakwah. Gejala itu tidak lain adalah dakwah ini mampu men-setting
generasi, yakni generasi Sahabat radhiyallahu ‘anhum, generasi terbaik dalam
sepanjang sejarah Islam dan kemanusiaan.
Setelah itu boleh dikata, tidak pernah terulang lagi munculnya generasi
sekualitas itu, sekalipun ada beberapa figur yang muncul (mujaddid), tetapi
belum pernah lahir dalam bentuk society (160.000 orang, peny.), selain dari
generasi Sahabat. Gejala ini menimbulkan pertanyaan di kalangan yang masih
bersedia memikirkan kelangsungan dakwah Islam. Apakah penyebab dan
rahasia keberhasilan mereka?

Kemurnian dan keutuhan sumber asasi (ashalatu al-mashdar)


Al-Qur’an yang dikaji oleh para sahabat Rasul shalla-llahu 'alaihi wa sallam
dan yang menjadi asas perjuangan mereka dalam kehidupan, adalah Al-Qur’an
di tangan kita sekarang. Dan itu yang akan dibaca oleh generasi sesudah kita
nanti sampai akhir zaman. Al-Qur’an yang tetap asli, utuh, dan murni. Demikin
pula hadits Rasulullah, yang bagi sahabat dahulu dijadikan sebagai pedoman
kerja, semuanya masih tersimpan rapi dan mudah dipahami. Kecuali pribadi
Rasulullah yang telah meninggalkan kita. Lalu apakah ini yang menjadi
penyebab? Jawabannya bukan.
Seandainya keberadaan Rasulullah yang menjadi rahasianya, niscaya Allah
tidak akan menjadikan dakwah Islam ini kaffatan linnas wa rahmatan lil
‘alamin. Dan Islam bukan risalah terakhir diturunkan oleh Allah. Akan tetapi
Islam tidak demikian. Allah menjamin keutuhan dan kemurnian Al-Qur’an,
sekalipun Rasulullah telah wafat. Dakwah ini akan berlangsung secara
kontinyu, sekalipun beliau tiada. Bahkan, beliau telah sukses menyampaikan
risalah ini dengan sempurna sampai akhir zaman.
Kehilangan pribadi Rasulullah bukan menjadi faktor utama dalam dakwah ini.
Sayyid Quthb, dalam bukunya Ma’alim fii ath-Thariq mencoba mengamati
profil masyarakat sahabat. Dari hasil pengamatannya, beliau mengemukakan
tiga faktor yang menjadi karakteristik generasi Qur’ani yang pertama itu.
Pertama, al-Qur’an, sumber utama (al-Qur’an manba-un wahiid)
Generasi sahabat mempersepsikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan
landasan kehidupan. Adapun hadits adalah tafsir operasional dari sumber utama
itu. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang perilaku Rasulullah, dia
menjawab, “Budi pekertinya adalah Al-Qur’an”.
Sebenarnya ketika itu bukan tidak ada hambatan peradaban dalam menegakkan
semangat beragama. Peradaban Romawi kala itu sudah mencapai tingkat
kemajuannya di bidang budaya, ilmu, dan hukum, yang sampai sekarang masih
dianut oleh beberapa negara sebagai sistem hukum. Demikian pula kebudayaan
Yunani yang terkenal dengan logika dan filsafatnya. Kebudayaan Persia, India,
dan China tercatat sebagai kebudayaan yang besar waktu itu. Dua peradaban
Romawi dan Persia mendominasi Jazirah Arab dari utara dan selatan.
Tetapi, fokus generasi sahabat kepada Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber
dan acuan, mempunyai sasaran khusus. Rasulullah ingin mencetak generasi
yang spesifik, di mana hati, akal, wawasan, ideologi, dan orientasi (ittijah)
mereka terpelihara orisinilitasnya dari berbagai pengaruh luar yang tidak sesuai
dengan manhaj Al-Qur’an.
Generasi inilah yang dicatat sejarah sebagai generasi yang unik, sebab generasi
berikutnya telah mengalami pembauran sistem dan telah terkontaminasi
berbagai polutan dalam memahami sumber utama. Seperti filsafat dan logika
Yunani yang banyak mencemari pemikiran pemikir Islam, israiliyat Yahudi dan
teologi Nasrani, serta berbagai kebudayaan dan peradaban asing, yang turut
mencampuri penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mengurangi kadar
kejernihan pemikiran generasi berikutnya dalam memahami Al-Qur’an.
Kedua, metode penerimaan al-Qur’an (manhaj at-talaqqi)
Antara generasi sahabat dan generasi berikutnya cenderung mengalami
perbedaan dalam aspek pola penerimaan Al-Qur’an. Generasi awal ketika
membaca Al-Qur’an tidak bertujuan membongkar rahasia alam, sains,
pengayaan materi-materi ilmiah. Akan tetapi menerima Al-Qur’an seperti
menerima perintah dari Allah untuk diterapkan secara langsung dalam
kehidupan pribadi dan masyarakat. Persis seperti seorang prajurit menerima
perintah dari komandannya untuk dilaksanakan secara spontan. Sahabat
mencukupkan sepuluh ayat untuk dihafal dan diamalkan muatannya.
Metode penerimaan yang aplikatif – justru menyingkap ufuk ilmu dan
keindahan, pesan-pesan inti – yang tidak terungkap sekiranya mereka
berinteraksi dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan metode pertama
dapat mempraktiskan kerja, meringankan beban, menterjemahkan teori-teori
ilmiah yang mandeg ke dalam kerja nyata yang dinamis.
Sesungguhnya Al-Qur’an tidak menerima metode apapun selain dari metode
penerimaan yang praktis dan aplikatif. Karena Al-Qur’an bukan buku seni,
ilmu, sejarah, sekalipun semuanya terkandung dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup (minhajul hayah). Karena itu
Allah menurunkannya secara bertahap.

(106 : ‫ )السراء‬³‫ل‬J‫ي‬K‫نز‬J H‫ ت‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ل‬N‫ز‬H‫ن‬H‫ و‬m‫ث‬J‫ك‬P‫ى م‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ه‬H‫أ‬H‫ر‬J‫تق‬H K‫ ل‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ق‬H‫ر‬H‫ا ف‬³‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬H‫و‬


“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya
bagian demi bagian.” (QS al-Isra’ :106).
Allah menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus. Tetapi berdasarkan kebutuhan-
kebutuhan dan perkembangan yang kontinyu dalam ideologi dan konsepsi, juga
berdasarkan problem alamiah yang dihadapi umat Islam dalam kehidupannya.
Terakadng ayat turun menerangkan peristiwa tertentu dan kondisi khusus, serta
menggariskan peranan yang harus dimainkan mereka dalam menghadapi
kejadian itu, dan memperbaiki kesalahan mereka, dengan begitu terasa
keterikatan jiwa dengan Allah sebagai Pencipta. Dari metode penerimaan yang
praktis ini para sahabat muncul sebagai generasi yang terbaik.
Ketiga, isolasi (mufashalah) dari persepsi lama
Apabila seorang telah mengikrarkan dirinya sebagai muslim berarti ia telah
menghapus segala masa lalunya ketika jahiliyah, dan sekarang akan memulai
hidup baru yang sama sekali terpisah mutlak dari hidupnya pertama pada masa
jahiliyah; merasakan hidup yang lalu itu penuh noda dan kotoran yang hanya
bisa terhapus dengan Islam.
Dengan sikap pasrah seperti ini, ia menerima petunjuk Islam yang baru. Maka
setiap kali tidak mampu menunaikan kewajiban yang dibebaankan Islam
kepadanya, ketika itu ia merasakan bersalah dan berdosa. Akhirnya, jalan
membersihkan dirinya ialah dengan kembali kepada petunjuk Al-Qur’an. Isolasi
perasaan secara mutlak ini antara masa lalu yang jahiliyah dan masa sekarang
yang Islami, jelas terlihat dalam hubungan sosial dengan masyarakat jahiliyah
yang ada di sekitarnya dengan melepaskan samasekali hubungannya dengan
lingkungan jahiliyah dan menyatu dengan lingkungan yang Islami, sekalipun
hubungan dagang dan harian masih terjadi. Yang jelas, perubahan total terjadi
dalam lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, serta pergaulan yang
baru telah bertolak dari tauhid. Ketiga karakteristik inilah yang tidak dimiliki
oleh generasi berikutnya, sehingga tidak bertahannya nilai-nilai ke-Islam-an
yang utuh dalam persepsi dan mata hati mereka.
Untuk mengembalikan ma’nawiyah (spirit) ber-Qur’an ini, perlu kita membuka
ruang yang luas dalam kepribadian kita dengan bekal khusus. Yaitu
pemberdayaan ruhani kita secara lebih intensif (tarbiyah ruhiyah), agar Qur’an
bisa berinteraksi lebih kuat dan mendalam dalam diri kita. Karena Al-Qur’an
berasal dari Dzat yang Maha Suci, dikirimkan melalui makhluk yang suci, dan
diberikan kepada hamba yang dipilih-Nya (ishthafaahu), Rasulullah shalla-
llahu ‘alaihi wa sallam
Wallahu ‘alam bish-shwab.
δφ

PAKET IV .

‫رسالة الخلق‬
Prinsip Akhlak


‫أفضل الصلة بعد الفريضة‬ ‫رسالة‬
‫البين‬ Shalat yang palig utama setelah ‫أشد وطأ‬
3:138 – Penjelasan shalat fardhu Langkah lbh teguh ‫الخلق‬
Prinsip Akhlaq
‫الحق‬ ‫أقوم قيل‬
2:147 – Kebenaran Bacaan lbh berkesan
‫رفع الدرجات‬ ‫قيام الليل‬
Qiyamul Lail
‫الشفاء‬ Terangkat derajatnya ‫قول ثقيل‬
10:57 – Obat Ucapan berbobot
‫ترتيل‬
‫رحمة‬ ‫سبحا طويل‬ ‫القرآن‬
17:82 – Rahmat ‫من طلب العلى سهر الليالي‬ Produktif Baca Qur’an
Siapa yang ingin raih kemuliaan,
‫الهدى‬ dia bangun malam ‫قرة أعين‬ ‫ذكر ال‬
2:2,128 – Petunjuk Pandangan sejuk Ingat Allah
‫سورة‬
‫الفرقان‬ ‫أكرم النسان‬ ‫مقاما محمودا‬
25:1 – Pembeda Posisi terpuji ‫التوكل‬ ‫المزمل‬
Manusia paling mulia Tawakkal
‫النور‬ ‫مدخل صدق‬
5:15-16 – Cahaya
Tempat masuk ‫رعاية‬
‫يجوز الحسد فيه‬ yang benar ‫الصبر‬ ‫المعنوية‬
Boleh iri padanya Sabar
‫الموعظة‬ ‫سبب دخول‬ Menjaga
stamina ruhani
3:138, 54:17,22 – ‫الجنة‬
Nasihat Sebab masuk ‫الهجرة‬
‫دأب الصالحين‬ Hijrah
Kebiasaan orang shalih
‫الروح‬ ‫علمة اليمان‬
42:42, 40:15 – Ruh Tanda iman

‫الذكر‬ ‫تكفير الذنوب‬


15:19 – Pengingat Penghapus dosa
BAB I
‫رسالة الخلق‬
PRINSIP AKHLAQ

Surat al-Muzzammil ayat 1-9

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬


‫ل‬S‫ت‬H‫ور‬H K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫د‬K‫ ز‬J‫و‬H‫ أ‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ ق‬P‫نه‬J K‫ م‬J‫ص‬P‫ق‬J‫ ان‬K‫و‬H‫ أ‬P‫ه‬H‫ف‬J‫ص‬K‫ ن‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ل ق‬ N K‫ إ‬H‫ل‬J‫ي‬N‫ الل‬K‫م‬P‫ ق‬. P‫ل‬S‫م‬N‫ز‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫آ̄يه‬H‫ي‬
‫م‬H‫و‬J‫ق‬H‫أ‬H‫ا و‬³‫ئ‬J‫وط‬H ‫̄د‬H‫ش‬H‫ أ‬H‫هي‬K K‫ل‬J‫ي‬N‫ الل‬H‫ة‬H‫ئ‬K‫اش‬H‫ ن‬N‫ن‬K‫ إ‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ثق‬H ‫ل‬ ³ J‫و‬H‫ ق‬H‫ك‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ي‬K‫ق‬J‫نل‬P H‫ا س‬N‫ن‬K‫ إ‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ت‬J‫تر‬H H‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ال‬
‫ب‬H‫ ر‬. ³‫يل‬J K‫بت‬J H‫ ت‬K‫يه‬J H‫ل‬K‫ إ‬J‫تل‬NH‫ب‬H‫وت‬H H‫ك‬S‫ب‬H‫م ر‬H J‫ اس‬K‫ر‬P‫ذك‬J ‫ا‬H‫ و‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫و‬H‫ا ط‬³‫ح‬J‫سب‬ H K‫ار‬H‫ه‬N‫ الن‬K‫ في‬H‫ك‬H‫ ل‬N‫ن‬K‫ إ‬. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ق‬
. ³‫ل‬J‫ي‬K‫ك‬H‫ و‬P‫ه‬J‫ذ‬K‫خ‬N‫ات‬H‫ ف‬H‫و‬P‫ ه‬N‫ل‬K‫ إ‬H‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ل‬K‫ب‬K‫ر‬J‫غ‬H‫م‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ق‬K‫ر‬J‫ش‬H‫م‬J‫ال‬
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat), di malam
hari kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari
seperdua sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan
tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan
di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan
yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada-Nya
dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tiada Tuhan melainkan
Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung”.

Menjaga stamina ruhaniah (ri’ayatu al-ma’nawiyah)


Mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritualnya, semangat hidup. Selalu ada
gelora yang bertalu-talu di balik lubuk hati mereka. Itulah yang membuat sorot mata
mujahid selalu tajam, di balik kelembutan mereka. Itulah yang membuat mereka
memiliki harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain.
Itulah vitalitas.
Tak pernahkah kesedihan menghinggapi mereka? Tidak adakah jalan ketakutan,
kegelisahan, kegalauan, menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka terusik bahkan
tergoda oleh keputusasaan yang berakibat mengundurkan diri dari perjuangan?
Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin
memenangkan pertarungan?
Para mujahid adalah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan manusia juga
dirasakan oleh mujahid. Sebagaimana layaknya manusia, kehidupan mujahid pun
fluktuatif (naik-turun). Ada saat dimana ia naik, sukses, gembira. Di saat yang lain
mereka harus gagal, sehingga membuat takut, cemas, sedih, gundah-gulana. Bahkan,
terkadang mereka merasakan berada pada puncak stagnasi (futur).
Yang membedakan para mujahid dari manusia umumnya bahwa mereka memiliki
keterampilan bagaimana mempertahankan vitalitas, melawan ketakutan-ketakutan,
kegalauan, kecemasan, dan menghalau keputusasaan. Mereka mengetahui sejak dini
dan sekaligus melawannya gejala-gejala yang bisa melumpuhkan jiwa. Kemampuan
mengelola gejolak internal diri menjadikan mujahid memiliki stamina ruhaniah yang
stabil. Dan mereka telah mempersepsikan bahwa sunnatullah dalam kehidupan ini
memang tidak sederhana dan tidak mudah. Sehingga mereka memiliki aset kekuatan
mental untuk tidak larut terlalu jauh dalam kegagalan dan keberhasilan. Sesungguhnya
keberhasilan itu adalah ketika kita meninggal dalam husnul khatimah. Sebaik-baik
amal adalah yang pungkasan. Dan sebaik-baik umur adalah yang terakhir, dan hari
yang terbaik adalah hari ketika hamba bertemu dengan Allah.
Ahli sastra Mesir, Syauqi, mengatakan :

H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ح‬J‫ض‬H‫ ي‬H‫ك‬H‫ل‬J‫و‬H‫ ح‬P‫اس‬N‫الن‬H‫ا و‬³‫ي‬K‫اك‬H‫ ب‬H‫̄مك‬P‫ أ‬P‫تك‬J H‫د‬H‫ل‬H‫و‬


Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis dan orang-orang di sekitarmu
tertawa.
Menangis karena menghadapi kehidupan dengan membawa misi yang suci tidak
sederhana. Dan orang di sekitar kita gembira (termasuk ibu yang baru saja
melahirkan) karena kedatangan ada penerus baru yang diharapkan bisa membantunya
dalam mengatasi tekanan kehidupan.
Vitalitas, keunggulan spiritual itu biasanya dibentuk dari keyakinan-keyakinan
terhadap alam ghaib. Dan proses perawatan ketahanan mental itu berpangkal dari
tradisi spiritual yang khas dan unik. Inilah yang menjadikan Ibrahim bin al-Adham
mengungkapkan apa yang dirasakannya pada penghujung tahajjudnya, “Kami dalam
kelezatan (spiritual) sekiranya para raja mengetahui bahwa sumber kebahagiaan itu
ada disini mereka akan menguliti kami, karena iri”.
Dengan cara menjaga hubungan kecintaan secara timbal balik antara mujahid dengan
Allah lewat kultur spiritual yang konstan, berkesinambungan, shalat lail, membaca al-
Qur’an, dzikir; muncullah suasana jiwa yang merasakan intervensi Allah (tadakhul
rabbani) secara langsung. Sehingga pendengaran, penglihatan, langkahnya merupakan
jelmaan dari kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga pada saat tertentu
memenuhi persyaratan untuk menjadi kekasih Allah (waliyullah). Sebagai kekasih
Allah, akan memperoleh pembelaan, dukungan, dan pertolongan-Nya pada saat yang
diperlukan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa
sallam bersabda, “Bahwa Allah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka
Kuizinkan ia diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan
suatu amal lebih Kusukai daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan
kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-
amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi
pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat
dengannya, menjadi tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia
berjalan dengannya …” (HR al-Bukhari).

(‫ )الحديث‬H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫ل‬H‫خ‬H‫ د‬³‫ة‬H‫ع‬J‫ك‬H‫ ر‬H‫ة‬H‫ر‬J‫عش‬


H J‫ي‬H‫نت‬H J‫ى اث‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ر‬H‫اب‬H‫ ث‬J‫ن‬H‫م‬
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat sunat rawatib 12
rokaat secara berkesinambungan, masuk surga.” (Al-Hadits).
“Dan barangsiapa melaksanakan shalat berjamaah selama 40 hari, menemui dari
takbir pertama, maka ditulis oleh Allah dua pembebasan, pembebasan dari penyakit
nifaq (ragu-ragu) dan pembebasan dari neraka.” (Al-Hadits).
“Jika engkau ingin masuk surga, maka engkau ridha dengan sesuatu yang menimpa
diri yang tidak kamu sukai.” (Al-Hadits).
Dalam suatu peperangan, kaum muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah
melampaui para mujahidin lainnya. Mereka pun menanyakan ulama’ yang tetap
membujang hingga wafatnya itu, tentang rahasia kekuatannya. Beliau menjawab, “Ini
adalah buah dari ma’tsurat (al-kalimatut thayibah) yang secara rutin saya baca di
pagi hari setelah shalat shubuh sampai matahari terbit dari ufuk timur. Saya selalu
menemukan kekuatan yang dahsyat setiap selesai melakukan wirid harian itu. Tapi,
jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa seperti lumpuh hari itu”.
Dalam perang Yarmuk, Khalid bin Walid menyuruh dengan marah beberapa
pasukannya untuk mencari topi perangnya yang hilang dari kepalanya. Beberapa saat
kemudian pasukannya muncul dan melaporkan kalau topi yang dicarinya tidak
ditemukan. Khalid pun marah dan menyuruh mereka mencari kembali. Akhirnya
mereka menemukannya. Khalid pun merasa perlu menjelaskan sikapnya yang unik itu,
“Di balik topi perang saya ini ada beberapa helai rambut Rasulullah Shalla-llahu
‘alaihi wa sallam. Tidak pernah saya memasuki suatu peperangan dan memakai topi
ini, melainkan pasti saya merasa yakin bahwa beliau mendoakan kemenangan bagi
saya”.
Allah memiliki cara sendiri bahwa gelar mujahid sejati itu tidak diperoleh seseorang
dengan gratis (majjanan). Sejarah kepahlawanan manusia sebagian besarnya justru
lahir di tengah-tengah tekanan kehidupan yang berat dan kompleks. Tekanan
kehidupan secara psikologis, sesungguhnya kita perlukan untuk merangsang
munculnya potensi yang terpendam dalam diri dan memberikan stimulasi proses
terjadinya kreatifitas dan dinamika.
Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat orang kurang produktif.
Bukan situasinya yang kita persoalkan, tetapi pada dasarnya manusia membutuhkan
stimulasi yang kuat untuk bergerak. Manusia adalah produk sebuah lingkungan (ibnul
bi-ah). Diantara stimulan jiwa adalah tekanan hidup, kesempitan, musibah, dll.
Seorang ahli hikmah mengatakan, “Bergeraklah karena dalam gerakan itu ada
barakah”. Barakah artinya tambahan kebaikan (ziyadatul khair), baik berupa materi
maupun immateri, kualitas atau kuantitas.
Mukmin sejati pandai dalam mensiasati tekanan, musibah. Ia selalu menemukan celah
dibalik kebuntuan dan secercah sinar di balik kegelapan; sehingga tetap memiliki
ketenangan, harapan, dan semangat.
Kebutaan tidak menghambat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz merebut
takdirnya menjadi ulama’ besar. Beliau hafal al-Qur’an dan ribuan hadits. Ketulian
tidak mencegat Mushtafa Shadiq ar-Rifa’iy menuju puncak, sebagai salah satu
sastrawan muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuhan takluk di depan tekad baja
Syaikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja menantang
Israel, tetapi bahkan menantang dunia. Kecacatan istrinya (bermata juling) sama sekali
bukan sebagai hambatan kesuksesan Syaikh Utsman an-Naisaburi dalam
mengantarkannya sebagai tokoh publik dan membangun keluarga sakinah, mawaddah
wa rahmah. Stagnasi jiwa yang menimpa aktifis dakwah Muhammad Quthb justru
melahirkan karya tulis Manhaj Tarbiyah Islamiyah I-II, memperoleh hadiah nobel
dunia Islam dari Kerajaan Saudi Arabia.

Shalat lail
Al-Muzzammil yang menjadi nama surat ini artinya berselimut dengan kain karena
kedinginan ataupun berselimut dalam arti kiasan, yakni yang diselimuti dengan tugas
kenabian yang dipikulkan kepadanya. Tugas untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan,
dan memberikan khabar kepada kaumnya dengan agama baru.
Al-Muzzammil adalah panggilan kasih sayang Tuhan kepada Muhammad shalla-llahu
‘alaihi wa sallam. Orang Arab jika ingin memanggil seseorang, maka ia memanggil
dengan julukan sesuai keadaan yang dipanggil ketika itu.
Ketika Ali karramallahu wajhahu sedang ada masalah dengan keluarganya (Fatimah
radhiyallahu ‘anha), ia tertidur di masjid. Pakaian dan badannya dipenuhi dengan
debu. Rasulullah memanggil dengan panggilan keakraban, “Berdirilah, wahai Aba
Turab (yang penuh debu)”. Ketika memanggil kepada intelijennya, Abu Huzaifah,
yang tertidur pada malam perang Khandaq, beliau membangunkannya dengan,
“Bangunlah, wahai penidur”.
Pada surat al-Muzzammil, Rasulullah diperintahkan bangun malam untuk qiyamul lail
dengan redaksi qum. Mengerjakan shalat lail dengan sungguh-sungguh,
menyempurnakan syarat dan rukunnya, adab-adabnya, dan dengan kesadaran penuh.
Ibnu Abas mengatakan, “Semula shalat lail ini diwajibkan kepada Nabi dengan ayat
qumil-laila. Kemudian di-nasakh kewajiban itu menjadi sunnah, dengan redaksi ayat
20, ‘Sebab itu bacalah mana yang mudah dari Al Quran’.”
Shalat lail merupakan karakteristik hamba Allah Yang Maha Rahman.

(64 : ‫ا )الفرقان‬³‫ام‬H‫ي‬K‫ق‬H‫ا و‬³‫د‬N‫سج‬


P J‫م‬K‫ه‬S‫ب‬H‫ر‬K‫„ن ل‬
H ‫ ‚بي„ت•و‬€‫ ي‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬
“Dan orang-orang yang bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka pada waktu
malam.” (QS al-Furqan : 64)
Ketika menyebutkan ciri orang-orang yang bertaqwa, Allah berfirman :

(18-17 : ‫ )الذاريات‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫ف‬J‫غ‬H‫ست‬
J H‫ ي‬J‫هم‬P K‫ار‬H‫ح‬J‫س‬H‫ل‬J‫با‬K H‫ و‬. H‫ •عو„ن‬€‫يه„ج‬€ ‫ا‬€‫ الل† „يل‚ م‬€‫قل‚ي„ل• م‚ن‬€ ‫ا‬J‫و‬P‫ان‬H‫ك‬
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu sahur mereka
memohon ampun.” (QS adz-Dzariyat : 17-18).
Allah juga menceritakan ciri orang yang memiliki iman yang sempurna, dengan
firman-Nya :

‫ل‬H‫ ف‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬K‫ف‬J‫ين‬P J‫م‬P‫اه‬H‫ن‬J‫ق‬H‫ز‬H‫ا ر‬N‫م‬K‫م‬H‫ا و‬³‫ع‬H‫م‬H‫ط‬H‫ا و‬³‫ف‬J‫و‬H‫م خ‬J P‫ه‬N‫ب‬H‫ ر‬H‫ن‬J‫و‬P‫دع‬J H‫اج‚ع‚ ي‬€‫ض‬€‫ن‚ ا „لم‬€‫جن•و„ •به•م„ ع‬
• €‫افى‬€‫ج‬€‫ت‬€‫ت‬
(17-16 : ‫ )السجدة‬H‫ن‬J‫و‬P‫ل‬H‫م‬J‫ع‬H‫ا ي‬J‫و‬P‫ان‬H‫ا ك‬H‫م‬K‫ ب‬³‫آء‬H‫ز‬H‫ ج‬m‫ين‬P J‫ع‬H‫ أ‬K‫ة‬N‫ر‬P‫ ق‬J‫ن‬K‫م م‬J P‫ه‬H‫ ل‬H‫ي‬K‫ف‬J‫خ‬P‫آ أ‬H‫سˆ م‬J‫ف‬H‫ ن‬P‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ت‬
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan
penuh harap dan cemas, dan mereka menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan
kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui kesenangan yang menyejukkan
pandangan mata yang disembunyikan bagi mereka sebagai balasan terhadap amal
yang dahulu mereka lakukan.” (QS as-Sajdah : 16-17).

(113 : ‫ )آل عمران‬H‫ن‬J‫و‬P‫د‬P‫ج‬J‫يس‬H J‫هم‬P H‫ و‬K‫ل‬J‫ي‬N‫ الل‬H‫آء‬H‫ آن‬K‫ ال‬K‫ات‬H‫ آي‬H‫ن‬J‫و‬P‫تل‬J H‫ي‬
“Mereka membaca ayat-ayat Allah pada sebagian malam ketika mereka melakukan
shalat.” (QS Ali Imran : 113).

(17 : ‫ )آل عمران‬K‫ار‬H‫ح‬J‫س‬H‫ل‬J‫ا‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫ف‬J‫غ‬H‫ت‬J‫س‬P‫م‬J‫ال‬H‫و‬


“Dan orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur.” (QS Ali Imran : 17).
Allah mendeskripsikan orang-orang yang memiliki iman sempurna bahwa mereka
beribadah di waktu malam hari dengan dasar ilmu. Karena itu Allah meninggikan
kedudukan mereka di atas yang lainnya.

(9 : ‫ )الزمر‬K‫ه‬S‫ب‬H‫ ر‬H‫ة‬H‫م‬J‫ح‬H‫ا ر‬J‫و‬P‫ج‬J‫ير‬H H‫ و‬H‫ة‬H‫ر‬K‫خ‬H‫ل‬J‫ ا‬P‫ر‬H‫حذ‬


J H‫ا ي‬³‫م‬K‫ائ‬H‫ق‬H‫ا و‬³‫د‬K‫اج‬H‫ الل†ي„ل‚ س‬€‫آء‬€‫تˆ آن‬K‫ان‬H‫ ق‬H‫هو‬P J‫ن‬N‫م‬H‫أ‬
“(Apakah kalian, wahai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung), ataukah orang-
orang yang dalam keadaan sujud dan berdiri dengan penuh ketundukan pada waktu
malam hari karena mengkhawatirkan (keselamatan) akhirat dan mengharap rahmat
Tuhannya.” (QS Az-Zumar : 9).

(79 : ‫ا )السراء‬³‫د‬J‫و‬P‫م‬J‫ح‬H‫ا م‬³‫ام‬H‫ق‬H‫ م‬H‫̄بك‬H‫ ر‬H‫ك‬H‫ث‬H‫بع‬J H‫ ي‬J‫ن‬H‫ى أ‬H‫س‬H‫ ع‬H‫ك‬H‫ ل‬³‫ة‬H‫ل‬K‫اف‬H‫ ن‬K‫ه‬K‫ ب‬J‫د‬N‫ج‬H‫ه‬H‫ت‬H‫† „يل‚ ف‬u‫ الل‬€‫م‚ن‬€‫و‬
“Dan bertahajjudlah pada sebagian malam sebagai tambahan bagimu (Muhammad).
Mudah-mudahan Tuhanmu memberikan kedudukan yang terpuji kepadamu.” (QS al-
Isra’ : 79).

(26 : ‫ )النسان‬³‫ل‬J‫ي‬K‫و‬H‫ ط‬³‫يل‬J H‫ ل‬P‫ه‬J‫بح‬S H‫س‬H‫ و‬P‫ه‬H‫ ل‬J‫د‬P‫ج‬J‫اس‬H‫ ف‬K‫يل‬J N‫ الل‬H‫ن‬K‫م‬H‫و‬


“Dan pada sebagian malam, sujudlah kepada-Nya dan mahasucikanlah Dia pada
sebagian besar waktu malammu.” (QS al-Insan : 26).

(49 : ‫د )الطور‬K J‫و‬P‫ الس¯ج‬H‫ار‬H‫ب‬J‫د‬K‫إ‬H‫ و‬P‫ه‬J‫بح‬S H‫س‬H‫ ف‬K‫يل‬J N‫ الل‬H‫ن‬K‫م‬H‫و‬


“Dan pada sebagian malam, mahasucikanlah Dia dan pada saat fajar setelah
bintang-bintang terbenam.” (QS ath-Thur : 49).
Shalat malam merupakan faktor utama bagi seseorang untuk bisa masuk surga,
sebagaimana sabda Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam, “Wahai sekalian manusia,
sebarkan salam, berilah makan, sambunglah kekerabatan, dan shalatlah di saat
manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya kamu masuk surga, kampung
keselamtan.” (HR Ibnu Majah).
Shalat malam merupakan penutup kesalahan dan penghapus dosa, seperti dalam
hadits, “Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam karena shalat malam itu
merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ibadah yang mendekatkan
diri kepada Tuhan kalian, serta penutup kesalahan dan penghapus dosa.” (HR at-
Tirmidzi).
Boleh iri terhadap orang yang rajin shalat malam, dalam artian mengharap agar bisa
menirunya. Rasulullah menyatakan, “Tidak boleh dengki kecuali terhadap dua
kelompok orang. Pertama, orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa Al
Quran lalu dia amalkan di sepanjang malam dan siang, dan kedua, orang yang diberi
harta oleh Allah lalu harta tersebut dia infakkan sepanjang malam dan siang.” (HR
al-Bukhari).
Allah akan memberikan perkataan yang berbobot (QS al-Muzzammil : 5). Allah juga
telah bersumpah dengan ciptaan-Nya, yaitu waktu malam (wal-laili, demi waktu
malam). Apabila Allah bersumpah dengan makhluq-Nya sendiri itu menunjukkan
tingginya kedudukan yang disumpahnya.
Di waktu malam gangguan berkurang, suasana hening. Keheningan malam
berpengaruh kepada fikiran dan hati. Jika potensi akal dan hati menyatu akan
melahirkan tekat yang kuat (iradah atau ‘azmun qawiy). Dengan ide dasar (qaulan
tsaqilan), melahirkan langkah-langkah strategis. Kemudian sosialisasi program
pencerahan secara berkesinambungan, tak kenal henti. Dari sini kemudian tertanam
kebaikan di benak publik, maka ia akan ditempatkan pada posisi yang tinggi
(maqaman mahmuda) di hati mereka.

‫ الحديث‬- J‫م‬P‫ك‬K‫آء‬H‫ف‬H‫ع‬P‫ض‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬H‫ص‬J‫ن‬P‫وت‬H H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬H‫ز‬J‫ر‬P‫ا ت‬H‫م‬N‫ن‬K‫إ‬


“Sesungguhnya anda dikaruniai rizki dan di tolong oleh orang-orang yang lemah
diantara kamu.” (Al-Hadits).
Dalam suatu Hadits Qudsi Allah berfirman, bahwa pada sepertiga malam Tuhan turun
ke langit dunia untuk mendengarkan keluhan hamba-Nya yang mengeluh, menerima
taubat oarng yang bertaubat dan permohonan orang yang mohon ampun.
Maksudnya hubungan kita dengan langit sangat dekat. Ahli ilmu alam menyebut
bahwa udara ini dipenuhi oleh ether, maka ether di waktu malam itu memperdekat
hubungan. Dan bacaan al-Qur’an ketika itu lebih berkesan di hati.

Tartil al-Qur’an
Membaca Al Quran dengan tartil artinya membaca dengan menghadirkan hati (al-
qira’atu ma’a hudhuri al-qalbi).
Al-Khazin mengatakan, “Ketika Allah memerintahkan dengan qiyamul lail diikuti
dengan tartil Al-Qur’an, sehingga memungkinkan orang yang shalat dengan
menghadirkan hati, tafakur terhadap hakikat dan makna ayat. Ketika sampai pada
mengingat Allah, hatinya merasakan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya. Ketika
menyebut janji dan ancaman, dia akan takut dan penuh harap. Ketika menyebutkan
kisah dan perumpamaan, dia mengambil pelajarannya. Maka, hatinya tersinari
dengan marifat kepada Allah. Membaca dengan cepat menunjukkan akan
ketidaktahuan maknanya. Disini jelas bahwa maksud dari ‘tartil al-Quran’ adalah
menghadirkan hati ketika membacanya”.
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam membaca al-Qur’an dengan perlahan-lahan.
Keluarnya huruf terucapkan dengan jelas. Tidak melewati ayat rahmat kecuali
berhenti dan mohon kepada Allah, dan tiada melewati ayat siksa kecuali berhenti dan
minta perlindungan Allah darinya.

‫م‬P‫ ث‬. P‫ ه‬H‫آن‬J‫ر‬P‫ ق‬J‫ب ع‬K N‫ات‬H‫ ف‬P‫ا ه‬H‫ن‬J‫أ‬H‫ر‬H‫ا ق‬H‫ذ‬K‫إ‬H‫ ف‬. P‫ ه‬H‫آن‬J‫ر‬P‫وق‬H P‫ ه‬H‫ع‬J‫م‬H‫ا ج‬H‫ ن‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬N‫ ن‬K‫ إ‬. H‫ ه‬K‫ ب‬H‫ل‬H‫ج‬J‫تع‬H K‫ ل‬H‫ك‬H‫ان‬H‫ س‬K‫ ل‬K‫ ه‬K‫ ب‬J‫ ك‬S‫ر‬H‫ح‬P‫ ت‬H‫ل‬
(19-16 : ‫ )القيامة‬P‫ه‬H‫ان‬H‫بي‬H ‫ا‬H‫ين‬J H‫ل‬H‫ ع‬N‫ن‬K‫إ‬
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak
cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami lah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sungguh
atas tanggungan Kami penjelasannya.” (QS al-Qiyamah : 16 - 19).

‫ة‬H‫و‬H‫ل‬K‫ ت‬: H‫ال‬H‫ق‬H‫ا؟ ف‬H‫ ه‬P‫ؤ‬H‫ل‬H‫ا ج‬H‫و م‬H K‫ ا ل‬H‫ل‬J‫و‬P‫ س‬H‫ا ر‬H‫ ي‬: H‫ل‬J‫ي‬K‫ق‬H‫ ف‬P‫د‬J‫ي‬K‫د‬H‫ح‬J‫ ال‬P‫أ‬H‫د‬J‫ي ص‬H ‫ا‬H‫ م‬H‫ ك‬P‫أ‬H‫د‬J‫ت ص‬H H‫ ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ق‬J‫ ال‬N‫ ن‬K‫إ‬
(‫ )رواه البيهقي‬K‫ت‬J‫و‬H‫م‬J‫ ال‬P‫ر‬J‫ذك‬K H‫ و‬K‫آن‬J‫ر‬P‫ق‬J‫ال‬
“Sesungguhnya hati-hati bisa berkarat sebagaimana besi.” Maka ditanyakan kepada
beliau, “Wahai Rasulullah, apa penghilangnya?” Rasulullah menjawab, “Membaca al-
Qur’an dan mengingat mati.” (HR al-Baihaqi).

Mengingat Allah (dzikrullah)


Dzikrullah akan menyelamatkan seseorang dari badai keraguan, was-was, kecemasan,
kegoncangan dan segenap penyakit jiwa lainnya. Dengan selalu mengingat Allah hati
seorang menjadi hidup. Dzikrullah dapat mendatangkan ketenangan, ketentraman,
keyakinan dan kedamaian di dalam jiwa.

(152 : ‫ )البقرة‬J‫م‬P‫ك‬J‫ر‬P‫ك‬J‫ذ‬H‫ أ‬J‫ي‬K‫ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫ك‬J‫اذ‬H‫ف‬


“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al Baqarah/2 : 152).
“Orang-orang beriman dan tenteram hatinya karena mengingat Allah. Ketahuilah
bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (QS ar-Ra’du : 28).
Dzikrullah juga dapat membangkitkan keberanian, keteguhan, dan semangat juang,
karena ia menyadari akan keikutsertaan Allah dalam dirinya. Kesadaran ini
selanjutnya akan melahirkan potensi dahsyat yang dapat menggerakkannya untuk
menghadapi segala tantangan dan melewati semua hambatan dengan penuh keyakinan
dan ketenangan.
Ketika Musa dihadapkan oleh kepanikan kaumnya karena akan tersusul oleh pasukan
Fir’aun, sementara di hadapannya terbentang lautan yang tidak bertepi, “Kemanakah
kita akan lari?”

‫ن‬J‫ي‬K‫د‬J‫يه‬H H‫ س‬J‫ي‬S‫ب‬H‫ ر‬J‫ي‬K‫ع‬H‫ م‬N‫ن‬K‫ إ‬N‫ل‬H‫ ك‬H‫ال‬H‫ ق‬. H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬H‫ر‬J‫د‬P‫م‬H‫ا ل‬N‫ن‬K‫ى إ‬H‫وس‬J P‫ م‬P‫اب‬H‫ح‬J‫ص‬H‫ أ‬H‫ال‬H‫ ق‬K‫ان‬H‫ع‬J‫م‬H‫ج‬J‫ ال‬H‫آء‬H‫ر‬H‫ا ت‬N‫م‬H‫ل‬H‫ف‬
‫م‬J‫ي‬K‫ظ‬H‫ع‬J‫ ال‬K‫د‬J‫و‬N‫الط‬H‫ ك‬m‫ق‬J‫ر‬K‫̄ل ف‬P‫ ك‬H‫ان‬H‫ك‬H‫ ف‬H‫ق‬H‫ل‬H‫ف‬J‫ان‬H‫ ف‬H‫ر‬J‫ح‬H‫ب‬J‫ ال‬H‫اك‬H‫ص‬H‫بع‬K J‫ب‬K‫ر‬J‫ اض‬K‫ن‬H‫ى أ‬H‫وس‬J P‫ م‬H‫لى‬K‫آ إ‬H‫ن‬J‫ي‬H‫ح‬J‫و‬H‫أ‬H‫ ف‬.
(62-61 : ‫)الشعراء‬
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa
: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab : Sekali-kali tidak
akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petujuk
kepadaku. Lalu Kami wahyukan kepada Musa : Pukullah lautan itu dengan
tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung
yang besar.” (QS asy-Syu’ara : 61-62).
“Orang-orang yang apabila diancam orang lain dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya
orang-orang telah berkumpul untuk memerangi kamu, karena itu takutlah kepada
mereka.’ Maka, (perkataan) itu justru menambah iman mereka berkata, ‘Allah cukup
bagi kami, dan Ia sebaik-baik penjaga’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan
karunia dari Allah. Mereka tidak disentuh oleh bahaya apapun karena mereka
mencari ridha Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang sangat besar. Yang
demikian itu, tidak lain hanyalah syetan yang hendak menakut-nakuti pengikutnya.
Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika
memang kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran 173-175).

Sabar
Dalam kamus-kamus bahasa, kata shabr berarti menahan, baik dalam pengertian
material seperti menahan orang dalam tahanan, maupun non-material seperti menahan
jiwa dari keinginannya.
Dari akar kata shabr diperoleh sekian bentuk kata dengan beragam arti, diantaranya
shabara bihi, yakni menjamin, pemuka masyarakat yang melindungi kaumnya. Dari
akar kata tersebut terbentuk pula kata yang berarti gunung yang tegar dan kokoh, awan
diatas awan lainnya, tanah yang gersang, dll. Kesabaran menuntut ketabahan
menghadapi sesuatu yang sulit, berat, pahit yang harus diterima dan dihadapi dengan
tanggung jawab.
Sastra Arab mengatakan, “Shabar itu awalnya pahit melebihi empedu dan berakhir
dengan manis melebihi madu”.
Ulama etika mendefinisikan shabr sebagai menahan diri atau membatasi jiwa dari
keinginan-keinginan demi mencapai sesuatu yang lebih baik.
Seorang yang menghadapi rintangan dalam pekerjaannya, terkadang hati kecilnya
membisikkan agar ia berhenti walaupun yang diharapkan belum tercapai. Bisikan jiwa
ini jika ditahan, ditekan, dengan terus melanjutkan usaha, ini berarti perwujudan dari
hakikat sabar. Sabar disini bermakna tabah.
Seseorang yang dirundung duka, jika mengikuti nafsunya, ia akan meronta,
menggerutu kepada Tuhan, manusia. Tetapi bila ia menahan, dan menerima musibah
dengan ridha sambil menghibur dirinya bahwa di balik musibah ada hikmahnya.
Berarti ia sabar menerima ketetapan-ketetapan Tuhan.
Dari contoh yang kedua ini, dikemukakan suatu hadits yang diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwa suatu ketika Rasul shalla-llahu
'alaihi wa sallam menemukan seorang wanita sedang menangis di hadapan sebuah
kubur. Nabi kemudian bersabda kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah dan
bersabarlah”. Wanita tersebut menjawab, “Pergilah, jangan ikut campur urusanku.
Engkau tidak tertimpa seperti apa yang menimpaku”. (Wanita tersebut tidak mengenal
Nabi sehingga sewaktu disampaikan kepadanya bahwa yang menasihatinya itu adalah
Rasulullah, ia sadar dan menyesal. Kemudian ia mengunjungi Nabi di rumah beliau).
Beliau tidak memiliki penjaga-penjaga pintu dan ia menyampaikan penyesalannya
dengan berkata, “Aku tidak mengenalmu”. Nabi menjawab, “Hakikat kesebaran
dinilai pada saat-saat pertama dari kedatangan musibah,” (maksudnya, bukan setelah
berlalu sekian waktu).
Ahli Tafsir ar-Raghib al-Asfahani menjadikan ayat 177 surat al-Baqarah sebagai
kesimpulan dari segala kesabaran yang dituntut al-Qur’an. Sabar menghadapi
kebutuhan yang mengakibatkan kesulitan tergambar dalam kata al-ba’saa’, sabar
dalam menghadapi musibah dicakup dengan kata adh-dharra’, sabar dalam
menghadapi musuh tergambar dalam kata hiina al-ba’si.

‫أ„س‬€‫ ال„ب‬€‫وح‚ي„ن‬€ ‚‫الض†ر†آء‬€‫اء‚ و‬€‫أ„س‬€‫ ال„ب‬K‫ في‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اب‬N‫الص‬H‫و‬


“Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.”
Dalam al-Qur’an, ditemukan perintah shabar berkaitan dengan banyak konteks:
1) Dalam menanti keputusan Allah (QS Yunus : 109).
2) Menanti datangnya janji Allah dan kemenangan (QS ar-Ruum : 60).
3) Menghadapi ejekan dan gangguan orang-orang yang tidak percaya (QS Thaha :
130).
4) Menghadapi kehendak nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak setimpal
(QS an-Nahl : 127).
5) Dalam melaksanakan ibadah (QS Maryam : 65; Thaha : 132).
6) Dalam menghadapi malapetaka (QS Luqman : 17).
7) Dalam usaha memperoleh apa-apa yang dibutuhkan (QS al-Baqarah : 153).

Tawakkal (berserah diri kepada Allah)


Rasulullah Saw bersabda : Tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab
dan disiksa.

(‫ن )متفق عليه‬


H J‫و‬P‫ل‬N‫ك‬H‫و‬H‫يت‬H ‫م‬J K‫ه‬S‫ب‬H‫ى ر‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫ير‬NH‫ط‬H‫ت‬H‫ ي‬H‫ول‬H H‫ن‬J‫و‬P‫تو‬P J‫ك‬H‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫ق‬J‫ر‬H‫ت‬J‫يس‬H ‫ل‬
H H‫ين‬J K‫ذ‬N‫م ال‬P P‫ه‬
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta dibuatkan mantera, tidak membakar
(mengecos) dirinya dengan besi, tidak tathayyur (pesimis yang membuatnya tidak
berbuat apa-apa), dan bertawakkal kepada Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)
Tawakkal berbeda dengan ittikal. Tawakkal adalah al-akhdzu bil asbab (mengambil
faktor-faktor menuju sukses), sedangkan ittikal menyandarkan diri dengan kebesaran
Allah secara pasif.
Rasulullah tidak memasuki medan perang hingga mempersiapkan bekal yang cukup,
faktor-faktor pendukung kemenangan, memilih lokasi perang, juga timing (pengaturan
waktunya). Beliau tidak memasuki perang di hari yang panas, kecuali setelah
suasananya menjadi dingin, dan melakukan penyerangan dengan rencana yang
matang, mengatur barisan tentara-tentaranya. Setelah merampungkan persiapan yang
matang, beliau mengangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah, sebagai bentuk
tawakkal. Setelah mempersiapkan perbekalan material dan immaterial, lalu
menyerahkan keberhasilan dan kemenangan hanya kepada Allah. Bukan ber-tawakkal
pada persiapannya itu. Tawakkal adalah memaksimalkan ikhtiyar dan ketentuan akhir
adalah hak prerogatif Allah. Bekerja cerdas dan berdoa keras.
Langkah-langkah yang disusun Rasulullah Saw untuk keberhasilan hijrah ke Madinah
sebagai berikut :
1) Memilih sahabat pilihan yang bisa menemani perjalanan, Abu Bakar ash-Shiddiq.
2) Menyiapkan logistik didelegasikan kepada Asma binti Abu Bakar. Ia membawa
makanan dan minuman dengan ikat pinggangnya, hingga dijuluki Dzatun
nithaqaini (wanita yang mempunyai dua ikat pinggang).
3) Menyiapakan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit dan
panjang.
4) Menyertakan seorang penunjuk jalan yang menguasai rute perjalanan yang akan
dilalui.
5) Mengelabuhi musuh yang mengepung rumahnya dengan menunjuk Ali bin Abi
Thalib untuk menggantikan tempat tidurnya.
6) Ketika beliau dikejar, beliau dan temannya bersembunyi di Gua Tsur.
7) Ketika Abu Bakar mengatakan, “Sekiranya salah seorang dari mereka melihat di
bawah kakinya, mereka pasti melihat kita, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,
“Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak
ketiga adalah Allah.”
Rasulullah bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal
yang sebenarnya, maka kalian pasti diberi rizki sebagaimana burung diberi rizki, ia
pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian pulang pada sore hari
harinya dalam keadaan kenyang.” (HR at-Tirmidzi).

‫ )رواه‬J‫م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬H‫ن‬J‫ر‬P‫ص‬J‫ان‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬J‫م‬K‫ز‬J‫ه‬K‫ ا‬K‫اب‬H‫ز‬J‫ح‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫م‬K‫از‬H‫ه‬H‫ و‬K‫اب‬H‫ح‬N‫ الس‬H‫ي‬K‫ر‬J‫ج‬P‫م‬H‫ و‬K‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ ال‬H‫ل‬K‫ز‬J‫ن‬P‫ م‬N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ا‬
(‫البخاري ومسلم‬
“Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan
sekutu, hancurkan musuh-musuh itu, dan menangkan kami atas mereka.” (HR al-
Bukhari dan Muslim).

Hijrah
Sejak awal perkembangan dakwah, lingkungan yang kondusif menjadi prioritas.
Menanam benih kebenaran di lahan yang tidak subur maka benih itu tidak akan
tumbuh dengan subur. Dalam pendidikan anak saja, lingkungan harus dipersiapkan
dengan baik. Di rahim mana benih itu ditanam, kondisi ruhani ketika menanam, dll.
(‫ )رواه أبو داود والترمذي‬P‫ل‬K‫ال‬H‫خ‬P‫ ي‬J‫ن‬H‫ م‬H‫لى‬K‫م إ‬J P‫ك‬P‫د‬H‫ح‬H‫ أ‬J‫ر‬P‫نظ‬J H‫ي‬J‫ل‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ خ‬K‫ن‬J‫ي‬K‫ى د‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ل‬P‫ج‬N‫الر‬
“Seseorang itu mengikuti agama kawannya, maka hendaklah kalian melihat salah
seorang diantara kamu dengan siapa ia berteman.” (HR Abu Dawud dan at-
Tirmidzi).
Manusia pada dasarnya anak dari sebuah lingkungan (ibnul bi-ah). Selama tigabelas
tahun Rasulullah berdakwah di Makah, tetapi yang menjadi pendukung beliau tidak
sampai ratusan orang. Berbeda dengan dakwah beliau di kawasan yang baru yang
kondusif (kawasan yang didesain Islami) di Madinah. Dalam waktu 10 tahun beliau
membawa pasukan obor berjumlah 10.000 orang untuk memasuki Makah dengan cara
damai (nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, Bhs. Jawa).
Ahli sastra Arab mengatakan, “Seseorang itu diperbudak oleh kebiasaan dan
lingkungannya”.
δφ
‫سليم العقيدة‬
Kemurnian akidah

‫صحيح العبادة‬
Lurusnya ibadah

‫متين الخلق‬
Kokohnya akhlaq

‫مثقف الفكر‬
Luas wawasan berfikir

‫قادر على الكسب‬ ‫خريج مدرسة المزمل‬


Bisa mencari penghidupan LULUSAN SEKOLAH AL-
MUZZAMMIL

‫قوي الجسم‬
Kuatnya fisik

‫منظم فى شؤونه‬
Teratur urusannya

‫حريص على الوقت‬


Memperhatikan waktu

‫نافع لغيره‬
Bermanfaat bagi orang lain
BAB II
‫ل‬u‫م‬u‫يج مدرسة المز‬u‫خر‬
LULUSAN MADRASAH AL-MUZZAMMIL

Tujuan tarbiyah dengan pendekatan tahapan turunnya wahyu ialah membentuk


kepribadian muslim yang utuh (takwin al-muslim al-mutakamil). Seluruh aspek
kemanusiaan diberdayakan secara sinergis dan optimal, sehingga akan
melahirkan potensi maksimal, baik segi ruhiyah (spiritual), fikriyah, ‘aqliyah
(intelektual), khuluqiyah (moral), jasadiyah (fisik), dan ‘amaliyah (operasional).
Sosok muslim mujtahid, mujahadah dan mujahid. Sosok muslim yang rasyid
(memadukan kecerdasan otak dan batin), dunia dan akhirat, spiritual dan
material, doa dan usaha, pikir dan zikir, memiliki daya cipta material dan daya
kendalinya. Manusia yang bertaqwa (inna akramakum ‘indallahi atqaakum),
meminjam istilah Muhammad Quthb.
Menurut Syekh Hasan al-Banna, pendidikan Islam mencakup seluruh aspek,
sebagaimana berikut :
1) Salim al-‘aqidah (bersihnya aqidah). Setiap individu muslim dituntut
memiliki kelurusan aqidah yang hanya dapat diperoleh melalui pemahaman
yang luas dan utuh terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
2) Shahih al-Ibadah (lurusnya ibadah). Setiap individu dituntut untuk
beribadah sesuai dengan tuntunan syariat. Pada dasarnya ibadah bukanlah
hasil ijtihad seseorang karena ibadah tidak dapat diseimbangkan melalui
penambahan, pengurangan, atau penyesuaian, dengan kondisi dan kemajuan
zaman (ghairu ma’qulil ma’na, atau tauqifi, paten).
3) Matin al-Khuluq (kokohnya akhlaq). Setiap individu dituntut untuk
memiliki ketangguan akhlaq sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu,
syhawat dan syubhat.
4) Qadir ‘ala al-Kasb (mampu mencari penghidupan). Setiap individu dituntut
untuk mampu menunjukkan potensi dan kreativitasnya dalam kebutuhan
hidup. Sehingga tidak menjadi tanggungan orang lain. Muslim sejati ikut
memecahkan persoalan, bukan bagian dari persoalan.
5) Mutsaqaf al-Fikr (luas wawasan berfikirnya). Setiap individu muslim
dituntut memiliki keluasan wawasan. Ia mampu memanfaatkan kesempatan
dan peluang untuk mengembangkan diri.
6) Qawy al-Jism (kuat fisiknya). Setiap individu dituntut untuk memiliki
kekuatan fisik melalui sarana-sarana yang dipersiapkan Islam.
7) Mujahid li Nafsihi (pejuang diri sendiri). Setiap individu dituntut untuk
memerangi hawa nafsunya dan mengukuhkan diri di atas hukum-hukum
Allah melalui ibadah dan amal shalih. Bisa berjihad melawan tipudaya
setan yang menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan.
8) Munazham fii Syu’unih (teratur urusannya). Setiap individu dituntut untuk
mampu mengatur segala urusannya sesuai dengan aturan Islam. Pada
prinsipnya setiap pekerjaan yang tidak teratur hanya akan berakhir dengan
kegagalan.
9) Haaris ‘ala Waqtih (memperhatikan waktunya). Setiap individu dituntut
untuk mampu memelihara waktunya sehingga akan terhindar dari kelalaian
(taqshir). Mampu menghargai waktu orang lain sehingga tidak akan
membiarkan orang lain tidak produktif.
10) Nafi’ li Ghairih (bermanfaat bagi orang lain). Setiap individu muslim
mampu menumbuhkembangkan berbagai potensi, bakat dan kapasitasnya,
sehingga menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain.
Dari kesepuluh komponen diatas, tergambarkan sosok muslim yang ideal.
Shalih linafsihi dan shalih lighoirihi, atau mushlih. Sholih untuk dirinya sendiri
dan bisa mendorong perbaikan untuk orang lain. Sosok mujtahid, sufi
(mujahadah), sekaligus mujahid (pejuang).
Wallahu a’lam bish-shawab.
δφ

PAKET V .

‫رسالة الدعوة والحركة‬


Prinsip Dakwah & Harakah


‫إصلح النفس – حياة طيبة‬ ‫رسالة الدعوة والحركة‬
Perbaikan diri – Kehidupan yang mulia PRINSIP DAKWAH & HARAKAH

‫مراتب النذار‬
‫إصلح البيت – سكينة مودة ورحمة‬ Tahap peringatan ‫قم فأنذر‬
‫إقامة المامة‬ Perbaikan keluarga – Sakinah, mawaddah wa Bangkit, beri peringatan!
‫الصغرى‬ rahmah ‫تزكية النفس‬
Penegakan Imamah
Mikro ‫إصلح المجتمع – قرية مباركة‬ Kebersihan diri ‫وربك فكبر‬
Membimbing masyarakat – Desa yang Rabbmu, agungkanlah!
diberkati ‫تزكية المال‬
‫تحرير الوطن – بلدا أمنا‬ Kebersihan harta ‫وثيابك فطهر‬
Memerdekakan tanah air – Negeri yang aman Pakaianmu, bersihkanlah!
‫تزكية الفرج‬ ‫سورة‬
‫إصلح الحكومة – بلدة طيبة ورب‬ Kebersihan moral ‫والرجز فاهجر‬ ‫المدثر‬
‫غفور‬ Dosa, tinggalkanlah!
Memperbaiki pemerintah – Negeri makmur ‫تزكية السلطان‬
‫إقامة الخلفة السلمية العالمية – كافة‬ Kebersihan jabatan ‫ول تمنن تستكثر‬
‫إقامة المامة‬ ‫للناس‬ Tulus dalam memberi
‫الكبرى‬ Penegakan khilafah Islamiyah global –
Kaffatan lin-naas
Penegakan Imamah
Makro ‫أستاذية العالم – رحمة للعالمين‬ ‫ولربك فاصبر‬
Penghulu dunia – Rahmatan lil ‘alamin Bersabarlah!

‫الغاية – مرضاة ال‬


Tujuan akhir – Meraih ridha Allah
BAB I
‫رسالة الدعوة والحركة‬
PRINSIP DAKWAH DAN HARAKAH

Surah al-Muddatstsir ayat 1-6

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬


. P‫ر‬K‫ث‬J‫ك‬H‫ست‬
J H‫ ت‬J‫ن‬P‫ن‬J‫تم‬H H‫ول‬H . J‫ر‬S‫ه‬H‫ط‬H‫ ف‬H‫ك‬H‫اب‬H‫ي‬K‫وث‬H . J‫ر‬S‫ب‬H‫ك‬H‫ ف‬H‫ك‬N‫ب‬H‫ور‬H . J‫ر‬K‫ذ‬J‫ن‬H‫أ‬H‫م ف‬J P‫ ق‬. P‫ر‬S‫ث‬N‫د‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫آ̄يه‬H‫ي‬
.J‫ر‬K‫ب‬J‫اص‬H‫ ف‬H‫ك‬S‫ب‬H‫ر‬K‫ل‬H‫و‬
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan
Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
untuk memenuhi (perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Qum fa andzir (bangkitlah dan berilah peringatan)

J‫ر‬K‫ذ‬J‫ن‬H‫أ‬H‫م ف‬J P‫ ق‬. P‫ر‬S‫ث‬N‫د‬P‫م‬J‫ا ال‬H‫آ̄يه‬H‫ي‬


“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”
Wahai orang yang dikemuli dengan selimut yang menginginkan tidur dan
istirahat. Secara terminologis selimut disini bermakna selimut sesungguhnya
yang dipergunakan karena Nabi merasa kedinginan. Tetapi selimut disini juga
bermakna tugas nubuwah yang berat secara phisik dan psikhis yang dialami
utusan Allah yang terakhir itu.
Bangunlah dari tempat tidurmu dengan tekat yang membaja, azam yang bulat
terpatri dalam jiwa, dan peringatkanlah manusia dari siksa Allah jika mereka
tidak beriman. Dipanggil dengan ungkapan ‘ Al Muddatstsir’ sebagai bentuk
kelembutan dan kasih sayang Allah kepada Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa
sallam.
Kalau pada surat al-Muzzammil adalah perintah kepada Nabi dan ummatnya
untuk potensialisasi dari (tazkiyah, tashfiyah, tarbiyah dan tarqiyatu nafs). Pada
surat al-Muddatstsir ini perintah untuk aktualisasi diri (dakwah). Sebagai
konsekuensi logis jabatan sebagai mandataris Allah di muka bumi ini.
Proses potensialisasi diri dan aktualisasi diri (‘abdullah dan khalifatullah) ini
harus berjalan secara sinergis, tawazun. Jika menonjolkan salah satunya akan
melahirkan ruhaniawan yang kurang peka merespon perubahan sekelilingnya
(dhu’ful istijabah lil mutaghayyirat). Manusia idealis yang tidak mengakar di
bumi. Seperti para ahli sufi yang menikmati kepuasan aktifitas ruhaniyah secara
infiradi, karena lari dari tanggungjawab kehidupan sosial. Seandainya Nabi
hanya menikmati kelezatan spiritual isra’-mi’raj, tidak akan turun ke bumi.
Sebaliknya jika mobilitas dakwah tanpa diimbangi oleh kemapanan spiritual,
maka seluruh kegiatan yang dilakukan tidak memiliki sandaran vertikal, tidak
menangkap spirit (ruh). Akan terjangkiti kehampaan spiritual. Tidak bisa
melahirkan ruhul jihad. Alur kehidupan yang memarjinalkan campur tangan
Tuhan (tadakhul rabbani). Pola kehidupan sekularistik. Pola pengembangan
sebagai ‘abdullah dan khalifatullah yang berjalan secara tidak terpadu, akan
melahirkan kepribadian yang pecah (split personality). Aktifitas ritual tidak
mampu melahirkan kepekaan sosial.
Al-Qurthubi mengatakan, “Panggilan ini menonjolkan sikap lembut kepada
yang dipanggil, dari yang mulia kepada kekasih, yakni menyerunya dengan
sifatnya, tidak dengan namanya, Muhammad, agar ia merasakan kelembutan
dari Rabbnya. Seperti sabda Rasulullah kepada Hudzaifah bin al-Yamani pada
perang Khandaq, “qum yaa nauman.” (bangunlah hai si penidur). ‘Aisyah jika
sedang dalam kondisi stabil jiwanya memanggil Nabi Muhammad, ya
Rasulallah, dan jika sedang marah memanggilnya dengan namanya, ya
Muhammad.”

Ummat Islam bukan penonton


Jika aktifitas dakwah berhenti, umat akan sakit batinnya. Yang ma’ruf
(kebaikan yang dikenal) menjadi asing, dan yang munkar (perbuatan yang
dibenci) menjadi merajalela. Sekalipun di dalamnya ada orang-orang yang
menjaga kebaikan dirinya, rajin shalat, puasa, dzikir, tetapi mengabaikan
tanggungjawab sosial, tegur sapa (dakwah). Akhirnya Allah menurunkan azab
secara merata. Doa-doa yang kita panjatkan tidak didengar dan tak dikabulkan.
Orang-orang jahat menduduki posisi penting di-backing mafia dan pemodal.
Umar bin al-Khaththab mengkhawatirkan bencana ini dalam munajat-nya :

K‫ة‬H‫ثق‬S ‫ ال‬K‫ز‬J‫ج‬H‫وع‬H K‫ر‬K‫اج‬H‫ف‬J‫ ال‬K‫د‬J‫ل‬K‫ ج‬J‫ن‬K‫ م‬K‫ال‬K‫ ب‬P‫ذ‬J‫و‬P‫ع‬H‫أ‬


Aku berlindung kepada Allah dari kekejaman orang yang jahat dan lemahnya
orang tsiqah (secara moral baik).
Rasulullah menegaskan, “Demi Tuhan yang diriku ini adalah dalam tangan-
Nya, hendaklah kamu menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan kamu mencegah
dengan sungguh-sungguh yang mungkar, atau dipastikan bahwa Allah akan
menimpakan bencana-Nya ke atas kamu. Setelah itu kamupun berdoa memohon
kepada-Nya, tetapi permohonanmu itu tidak dikabulkan-Nya lagi.” (HR at-
Tirmidzi, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu).
Yang dimaksud bencana, seperti dijelaskan hadits berikut :

‫اب‬H‫ ص‬H‫أ‬H‫ ف‬m‫نة‬H J‫ي‬K‫ف‬H‫ى س‬H‫ل‬H‫ا ع‬J‫و‬P‫م‬H‫ته‬H H‫ا س‬K m‫ م‬J‫و‬H‫ ق‬K‫ثل‬H H‫م‬H‫ا ك‬H‫ ه‬J‫ي‬K‫ ف‬K‫ ع‬K‫اق‬H‫و‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ ا ل‬K‫د‬J‫و‬P‫د‬P‫ى ح‬H‫ل‬H‫ ع‬K‫ م‬K‫ائ‬H‫ق‬J‫ ال‬P‫ل‬H‫ث‬H‫م‬
‫اء‬H‫م‬J‫ ال‬H‫ ن‬K‫ا م‬J‫قو‬H H‫ت‬J‫ا ا س‬H‫ذ‬K‫ا إ‬H‫ه‬K‫ل‬H‫ف‬J‫ س‬H‫ أ‬K‫ ف ي‬H‫ ن‬J‫ذي‬K N‫ ال‬H‫ا ن‬H‫ك‬H‫ا ف‬H‫ه‬H‫ل‬H‫ف‬J‫ س‬H‫ أ‬J‫ م‬P‫ه‬P‫ض‬J‫ع‬H‫وب‬H ‫ا‬H‫ ه‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ أ‬J‫ م‬P‫ه‬P‫ض‬J‫ع‬H‫ب‬
‫ا‬H‫ ن‬H‫ق‬J‫و‬H‫ ف‬J‫ ن‬H‫ م‬K‫ؤذ‬J ‫ن‬P J‫ م‬H‫ل‬H‫ا و‬³‫ ق‬J‫ر‬H‫ا خ‬H‫ن‬K‫ب‬J‫ي‬K‫نص‬H K‫ا ف ي‬H‫ ن‬J‫ق‬H‫ر‬H‫ا خ‬N‫ ن‬H‫ أ‬J‫و‬H‫ ل‬: ‫ا‬J‫و‬P‫ال‬H‫ق‬H‫ ف‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ق‬J‫و‬H‫ ف‬J‫ ن‬H‫ى م‬H‫ل‬H‫ا ع‬J‫̄رو‬H‫م‬
‫ا‬J‫و‬H‫ج‬H‫ن‬H‫ا و‬J‫و‬H‫نج‬H J‫ م‬K‫ه‬J‫دي‬K J‫ي‬H‫ى أ‬H‫ل‬H‫ا ع‬J‫و‬P‫ذ‬H‫خ‬H‫ أ‬J‫ ن‬K‫إ‬H‫ا و‬³‫ ع‬J‫ي‬K‫م‬H‫ا ج‬J‫و‬P‫ك‬H‫ل‬H‫ا ه‬J‫و‬P‫اد‬H‫ر‬H‫ا أ‬H‫ م‬H‫ و‬J‫ م‬P‫ه‬J‫و‬P‫ك‬P‫ر‬J‫يت‬H J‫ ن‬K‫إ‬H‫ف‬
(‫ا )رواه البخاري‬³‫ع‬J‫ي‬K‫م‬H‫ج‬
“Perumpamaan orang yang berpegang teguh pada aturan Allah dan orang
yang melanggarnya diibaratkan seperti penumpang sebuah kapal laut : ada
yang berada diatas dan ada yang berada dibawah. Para penumpang yang
berada dibawah harus mengambil keperluan air minum dari atas. Kemudian
mereka berkata , “ Sebaiknya kami lubangi saja kapal bagian kami ini agar
tidak merepotkan penumpang yang berada dibagian atas”. Jika tindakan
mereka dibiarkan maka akan binasa semuanya. Jika mereka dicegah, niscaya
selamatlah seluruh penumpang yang ada di dalamnya.” (HR al-Bukhari)
Jika dakwah itu dilakukan menunggu kesempurnaan diri, api syubhat (salah
paham terhadap Islam) dan nafsu syahwat memanas, syetan-syetan akan
bertepuk tangan, saking gembiranya (al-Hadits).
Dakwah yang dimaksud disini adalah usaha secara sungguh-sungguh dan
berkesinambungan (istimrar) merubah masyarakat dari kebodohan (jahalah)
menuju pengetahuan (ma’rifah), dari pengetahuan menuju konsep (fikrah), dari
fikrah menuju gerakan (harakah) dan dari harakah menuju hasil akhir dakwah
(natijah) yaitu kemenangan Islam atas agama-agama yang lain, dan dari natijah
menuju tujuan akhir (ghayah), yakni ridha Allah.
Membangun kehidupan yang Islami, dengan begitu adalah cita-cita dakwah
kita. Tentu hal ini merupakan pekerjaan berat yang melelahkan phisik dan jiwa,
membutuhkan waktu yang panjang (QS at-Taubah : 43), melampaui umur
individu dan umur generasi. Dan akan melewati jalan yang terjal, licin, curam,
mendaki, tikungan tajam, dan batu karang.

: ‫ا )العنكبوت‬³‫ام‬H‫ ع‬H‫ن‬J‫ي‬K‫س‬J‫م‬H‫ خ‬N‫ل‬K‫ إ‬m‫نة‬H H‫ س‬H‫ف‬J‫ل‬H‫ أ‬J‫م‬K‫ه‬J‫ي‬K‫ ف‬H‫ث‬K‫ب‬H‫ل‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫م‬J‫و‬H‫ ق‬H‫لى‬K‫ا إ‬³‫ح‬J‫و‬P‫ا ن‬H‫ن‬J‫ل‬H‫س‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫د‬H‫ق‬H‫ل‬H‫و‬
(14
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia
tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun (satu milenium
kurang lima puluh tahun)” (QS al-Ankabut : 14).
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan
marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
(menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap (gelap di
perut ikan, di dasar laut dan di malam hari) : Bahwa tidak ada Tuhan selain
Engkau, Maka Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang
yang zalim.” (QS al-Anbiya’ : 87).
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita akan
sunnatullah dalam dakwah :

‫ان‬H‫يط‬J H‫ش‬H‫ و‬P‫ه‬P‫ل‬K‫ات‬H‫ق‬P‫̂ر ي‬K‫اف‬H‫ك‬H‫ و‬P‫ه‬P‫ض‬H‫بغ‬J H‫قˆ ي‬K‫اف‬H‫ن‬P‫م‬H‫ و‬P‫ده‬P P‫س‬J‫ح‬H‫̂ن ي‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫ م‬: ‫د‬H K‫ائ‬H‫شد‬
H K‫س‬J‫م‬H‫ خ‬H‫ن‬J‫بي‬H P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ال‬
‫ الحديث‬- P‫ه‬P‫ع‬K‫از‬H‫ن‬P‫سˆ ت‬J‫ف‬H‫ون‬H P‫̄له‬K‫ض‬P‫ي‬
“Orang mukmin senantiasa berada di antara lima ancaman berat : (1) mukmin
yang mendengkinya, (2) munafiq yang membencinya, (3) kafir yang
memeranginya, (4) syetan yang menyesatkannya, dan (5) nafsu yang
melawannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Lai dari hadits Anas
radhiyallahu ‘anhu, di dalam Makarim al-Akhlaq).

: ‫ )التوبة‬P‫ة‬N‫ الش¯ق‬P‫م‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬J‫ت‬H‫د‬P‫ع‬H‫ ب‬J‫ن‬K‫ك‬H‫ول‬H H‫ك‬J‫و‬P‫بع‬H N‫لت‬


H ‫ا‬³‫د‬K‫اص‬H‫ا ق‬³‫ر‬H‫ف‬H‫س‬H‫ا و‬³‫ب‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ا ق‬³‫ض‬H‫ر‬H‫ ع‬H‫ان‬H‫ك‬J‫و‬H‫ل‬
(42
“Sekiranya yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka
mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.” (QS
at-Taubah : 42).

‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ا ال‬N‫ ن‬H‫ت‬H‫ ف‬J‫د‬H‫ق‬H‫ول‬H . H‫ ن‬J‫و‬P‫ن‬H‫ت‬J‫يف‬P ‫ل‬


H J‫ م‬P‫وه‬H ‫ا‬N‫ ن‬H‫ا آم‬J‫و‬P‫ول‬J P‫ق‬H‫ ي‬J‫ ن‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ك‬H‫تر‬J P‫ ي‬J‫ ن‬H‫ أ‬P‫ا س‬N‫ الن‬H‫ب‬K‫ س‬H‫ح‬H‫ أ‬. ‫الم‬
(3-1 : ‫ )العنكبوت‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ب‬K‫اذ‬H‫ك‬J‫ ال‬N‫ن‬H‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬H‫ل‬H‫ا و‬J‫و‬P‫ق‬H‫د‬H‫ ص‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬N‫ن‬H‫م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ي‬H‫ل‬H‫م ف‬J K‫ه‬K‫ل‬J‫ب‬H‫ ق‬J‫ن‬K‫م‬
“Alif Lam Mim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan : Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak akan diuji lagi ?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut : 1-3)

‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اب‬N‫ ال ص‬H‫ م‬H‫ل‬J‫ع‬H‫وي‬H J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫د‬H‫اه‬H‫ ج‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ ا ل‬K‫ م‬H‫ل‬J‫يع‬H ‫ا‬N‫ م‬H‫ل‬H‫ و‬H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ا ال‬J‫و‬P‫ل‬P‫دخ‬J H‫ ت‬J‫م أ ن‬J P‫بت‬J K‫ س‬H‫ ح‬J‫ م‬H‫أ‬
(142 : ‫)آل عمران‬
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata
bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-
orang yang sabar.” (QS Ali Imran : 142)

‫آء‬H‫ س‬J‫أ‬H‫ب‬J‫ ال‬P‫م‬P‫ه‬J‫ت‬N‫س‬H‫ م‬J‫م‬P‫ك‬K‫بل‬J H‫ ق‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬H‫ل‬H‫ خ‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ل‬H‫ث‬H‫ م‬J‫م‬P‫ك‬K‫ت‬J‫يأ‬H ‫ا‬N‫م‬H‫ول‬H H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫وا ال‬P‫ل‬P‫خ‬J‫د‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫م أ‬J P‫بت‬J K‫س‬H‫ ح‬J‫م‬H‫أ‬
‫ر‬J‫ص‬H‫ ن‬N‫ن‬K‫ل إ‬ H H‫ أ‬K‫ ال‬P‫ر‬J‫ص‬H‫ ن‬H‫تى‬H‫ م‬P‫ه‬H‫ع‬H‫ م‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ال‬H‫ و‬P‫ل‬J‫و‬P‫س‬N‫ الر‬H‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫ ي‬N‫تى‬H‫ا ح‬J‫و‬P‫ل‬K‫ز‬J‫ل‬P‫ز‬H‫ و‬P‫آء‬N‫ر‬N‫الض‬H‫و‬
(214 : ‫بˆ )البقرة‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ ق‬K‫ال‬
“Apakah kamu mengira bahwa kamu masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan,
sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Bilakah
datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
dekat.” (QS al-Baqarah : 214).

‫ ن‬K‫إ‬H‫ ف‬K‫ه‬K‫ين‬J K‫ د‬K‫ب‬J‫ س‬H‫ى ح‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ل‬P‫ج‬N‫ى الر‬H‫ل‬H‫بت‬J P‫ ي‬P‫ثل‬H J‫م‬H‫ل‬J‫ا‬H‫ ف‬P‫ثل‬H J‫م‬H‫ل‬J‫ ا‬N‫م‬P‫ ث‬P‫اء‬H‫ي‬K‫نب‬J H‫ل‬J‫ ا‬³‫ء‬H‫بل‬H K‫اس‬N‫̄د الن‬H‫ش‬H‫أ‬
‫ا‬H‫ م‬H‫ ف‬K‫ ه‬K‫ين‬J K‫ د‬K‫در‬J H‫ى ق‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ي‬K‫ل‬P‫ت‬J‫ب‬P‫ ا‬³‫ة‬N‫ق‬K‫ ر‬K‫ ه‬K‫ين‬J K‫ د‬K‫ ف ي‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫ ن‬K‫إ‬H‫ و‬P‫ ه‬P‫ء‬H‫ل‬H‫ ب‬N‫تد‬H J‫ش‬K‫ا ا‬³‫ب‬J‫ل‬H‫ ص‬K‫ ه‬K‫ين‬J K‫ د‬K‫ ف ي‬H‫ا ن‬H‫ك‬
‫̂ة )رواه البخاري‬H‫ئ‬J‫ي‬K‫ط‬H‫ خ‬K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬H‫ م‬H‫ و‬K‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ى ا‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ش ي‬ K J‫م‬H‫ ي‬N‫تى‬H‫ ح‬K‫د‬J‫ب‬H‫ع‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫ء‬H‫ل‬H‫ب‬J‫ ال‬P‫ ح‬H‫بر‬J H‫ي‬
(‫وأحمد والترمذي‬
“Orang yang paling berat tertimpa cobaan adalah para Nabi dan begitulah
yang utama dan terutama, seorang diberi cobaan menurut kekuatan agama
yang dimilikinya, semakin kuat agamanya semakin besar pula cobaannya, ujian
berjalan seiring dengan kadar agamanya, dan cobaan itu tidak akan
meninggalkan hamba tersebut sehingga ia berjalan dengan keadaan bersih
dari segala dosa.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan at-Tirmidzi).

‫ع‬H‫ز‬H‫ج‬J‫ ال‬P‫ ه‬H‫ل‬H‫ ف‬H‫ ع‬H‫ز‬H‫ ج‬J‫ ن‬H‫وم‬H P‫ر‬J‫ب‬N‫ ال ص‬P‫ ه‬H‫ل‬H‫ ف‬H‫بر‬H H‫ ص‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ ف‬J‫ م‬P‫ه‬H‫تل‬H J‫ب‬K‫ا ا‬³‫ م‬J‫و‬H‫ ق‬N‫ ب‬H‫ح‬H‫ا أ‬H‫ذ‬K‫ إ‬H‫ ا ل‬N‫ ن‬K‫إ‬
(‫)رواه الترمذي‬
“Sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, pasti Dia menguji
mereka. Barangsiapa yang rela (dengan cobaan itu) maka mereka akan
mendapat keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang benci (kepada cobaan itu)
maka baginya kemurkaan-Nya.” (HR at-Tirmidzi).

(‫ )رواه أحمد والترمذي‬K‫ات‬H‫و‬H‫ه‬N‫الش‬K‫ ب‬P‫ار‬N‫ الن‬K‫ت‬N‫ف‬P‫وح‬H K‫ه‬K‫ار‬H‫ك‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ ال‬K‫ت‬N‫ف‬P‫ح‬


“Jalan surga itu dipenuhi oleh berbagai kesusahan, dan jalan neraka itu
dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Tahapan peringatan (maratibul indzar)


Ada beberapa tahapan amal dakwah yang harus menjadi cita-cita yang
menggelorakan jiwa (thumuhat) sebagai seorang muslim.
1) Ishlahu an-nafsi (memperbaiki diri)
Memperbaiki diri ini agar memiliki fisik yang kuat, akhlaq mulia, wawasan
luas, mampu bekerja, beraqidah dengan benar, berjuang dengan jiwanya,
menjaga waktunya, mampu mengatur kegiatannya dan bermanfaat bagi orang
lain. Target dari tahapan pertama ini agar seorang muslim bisa mencapai
kehidupan yang mulia (hayatan thayyibah).
2) Ishlahu al-baiti (memperbaiki rumah tangga)
Mendidik semua anggota keluarga untuk menghormati fikrah-nya, menjaga
adab-adab Islam dalam seluruh sisi kehidupan, memilih istri yang baik,
mengajari hak dan kewajibannya, pandai dalam mendidik anak dan pembantu,
membesarkan mereka berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Membangun keluarga
yang berkualitas ini untuk menggapai keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.
3) Irsyad al-mujtama’ (membimbing masyarakat)
Membimbing masyarakat ini dengan cara menganjurkan kebajikan, memerangi
kejahatan dan kemungkaran, mendukung nilai-nilai kebaikan, memprakarsai
kebaikan, membentuk opini umum untuk mendukung fikrah Islam dan
mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan
masyarakat. Fase ini bertujuan tercapainya desa yang diberkahi (qaryah
mubarakah).
4) Tahriru al-balad (berjuang melepaskan negeri dari penjajahan asing)
Berjuang untuk kemerdekaan negeri, dengan cara membebaskannya dari
kekuasaan asing – non Islam – baik dalam aspek politik, ekonomi, atau
spiritual. Perjuangan ini dilakukan agar mencapai negeri yang aman (baladan
amina).
5) Ishlahu al-hukumah (memperbaiki pemerintahan yang ada)
Mereformasi pemerintah, agar terbentuk sebuah pemerintahan yang benar-benar
Islami sehingga dapat menjalankan perannya sebagai institusi yang melayani
umat dan berjuang untuk mewujudkan kebaikannya. Pemerintahan Islam adalah
pemerintahan yang terdiri dari atas orang-orang muslim yang komitmen dengan
kewajiban-kewajiban Islam, tidak melakukan maksiat secara terang-terangan
dan menjalankan hukum dan ajaran Islam. Tahapan kelima ini agar tercapai
negeri makmur penuh ampunan Tuhan (baldatun thayyibatun wa rabbun
ghafur).
6) Iqamatu al-khilafah al-Islamiyah al-‘alamiyah (menegakkan kepemimpinan
dunia Islam)
Mengembalikan eksistensi umat Islam dalam skala global, dengan cara
memerdekakan negaranya, mengembalikan kegemilangannya, memurnikan
kebudayaannya, dan mewujudkan persatuannya, sehingga semua hal tersebut
dalam mengembalikan khilafah yang telah hilang dan persatuan yang dicita-
citakan. Agar Islam ini menjelajah ke seluruh umat manusia (kaffatan lin-naas).
7) Ustadziyat al-‘alam (menjadi guru bagi dunia)
Tahapan terakhir ini dilakukan dengan cara menyebarkan dakwah Islam ke
seluruh pelosok dunia sehingga tidak ada lagi fitnah (kekacauan, kemusyrikan)
dan seluruh ketaatan hanya diberikan kepada Allah semata. Allah tidak
menghendaki kecuali tetap menyempurnakan cahaya-Nya. Hal ini dilakukan
agar rahmat Islam tidak terhalangi oleh hambatan apapun (rahmatan lil
‘alamin).
Tiga tahapan pertama dilakukan untuk menggapai penegakan kepemimpinan
berskala mikro (iqamatu al-imamah as-shughra), dan empat tahapan terakhir
memiliki target penegakan kepemimpinan yang berskala makro (iqamatu al-
imamah al-kubra). Namun, empat tingkatan terakhir mustahil bisa terwujud
tanpa dukungan kepemimpinan Islam yang kokoh (al-imamah wal jama’ah).
Oleh karena itu dakwah dalam surat al-Muddatstsir ini mengarahkan obyek
dakwah (tarbiyah dan da’wah Islam) menuju tarbiyah jama’iyah. Setiap
individu muslim adalah bagian dari jamaah Islam.
Ringkasan dari tahapan amal dakwah ini dan target yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut.
Ishlahu an-nafsi  Hayatan thayyiban.
Ishlahu al-bait  Sakinah, mawaddah wa rahmah.
Irsyad al-mujtama  Qaryah mubarakah
Tahrir al-balad  Baladan amina
Ishlahu al-kukumah  Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur
Iqamat al-khilafah  Kaffatan lin-naas
Ustadziyat al-‘alam  Rahmatan lil alamin.

Mengagungkan Rabb

J‫ر‬S‫ب‬H‫ك‬H‫ ف‬H‫ك‬N‫ب‬H‫ر‬H‫و‬
“Dan Tuhanmu, agungkanlah”
Mustahil seorang da’i sukses mensucikan diri dari niatan yang mengotori
keikhlasannya tanpa penghayatan kalimah takbir dengan benar. Dengan ucapan
takbir setiap ibadah shalat sesungguhnya kita dituntun untuk mewaspadai ilah-
ilah dalam diri kita yang menandingi Allah Yang Maha Akbar. Di era
globalisasi ini secara halus dan perlahan, syetan dan para prajuritnya dengan
berbaju teknologi komunikasi menampilkan berbagai tandingan Tuhan yang
terpaksa kita agungkan.
Betapa sering kita sekarang membesarkan ilmu, kekuasaan, kekayaan dan diri
kita sendiri. Kita meng-akbar-kan kekayaan karena kita bersedia melakukan apa
saja untuk medapatkannya, tanpa harus memperdulikan halal dan haram, tanpa
menghiraukan ancaman Allah, bahkan kita sering bersikap persetan dan
menutupi bisikan batin kita. Ketika Allah mengatakan dalam firman-Nya,
jangan ambil kekayaan itu karena anda akan merugikan orang lain, anda akan
memeras dan menyengsarakan orang yang lemah, anda mengambil hak mereka
yang seharusnya anda kasihani dan anda sayangi. Anda persetankan seruan dari
langit itu karena didepan anda telah berdiri dengan megah simbol kebesaran,
kekayaan dan kekuasaan. Karena terpesona dengan kegemerlapan dunia kita
tidak bisa mengatur waktu shalat kita. Kita tidak punya waktu lagi untuk
bersilaturrahim, menjenguk orang yang sakit, tidak sempat lagi mengunjungi
masjid yang berdekatan dengan rumah kita secara rutin.

‫اء‬H‫ن س‬S ‫ ال‬H‫ل‬H‫م‬J‫ج‬H‫ أ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ح‬K‫ك‬J‫ن‬H‫وي‬H ‫ا‬H‫ ه‬H‫ان‬H‫و‬J‫ل‬H‫وأ‬H ‫ا‬H‫ ي‬J‫ ال̄دن‬H‫ ب‬J‫ي‬K‫اي‬H‫ط‬H‫ أ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ل‬P‫ك‬J‫أ‬H‫ مˆ ي‬J‫و‬H‫ ق‬J‫ م‬P‫ك‬H‫د‬J‫بع‬H J‫ي‬K‫ت‬J‫أ‬H‫ي‬H‫س‬
‫س‬P‫نف‬J H‫أ‬H‫ و‬P‫ب ع‬H J‫تش‬H ‫ل‬
H K‫ل‬J‫ي‬K‫ل‬H‫ق‬J‫ ال‬H‫ ن‬K‫ نˆ م‬J‫و‬P‫ط‬P‫ ب‬J‫ م‬P‫ه‬H‫ا ل‬H‫ ه‬H‫ان‬H‫و‬J‫ل‬H‫وأ‬H K‫ا ب‬H‫ي‬S‫ الث‬H‫ل‬H‫م‬J‫ج‬H‫ أ‬H‫ن‬J‫و‬P‫ب س‬H J‫ل‬H‫ي‬H‫ا و‬H‫ ه‬H‫ان‬H‫و‬J‫ل‬H‫أ‬H‫و‬
‫ن‬K‫ م‬³‫ة‬H‫ه‬K‫ل‬H‫ا أ‬H‫ ه‬J‫و‬P‫ذ‬H‫خ‬N‫ت‬K‫ا ا‬H‫ي ه‬J H‫ل‬K‫ إ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ح‬J‫و‬P‫ر‬H‫ي‬H‫ و‬H‫ ن‬J‫و‬P‫د‬J‫يغ‬H ‫ا‬H‫ن ي‬J ‫ى ال̄د‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ف‬K‫اك‬H‫ ع‬P‫ ع‬H‫ن‬J‫تق‬H H‫ ل‬K‫ر‬J‫ي‬K‫ث‬H‫ك‬J‫ال‬K‫ب‬
‫ار‬H‫ر‬K‫ ش‬H‫ئ ك‬K H‫ل‬J‫و‬P‫ أ‬H‫و ن‬J P‫ع‬K‫ب‬N‫يت‬H J‫ م‬P‫اه‬H‫و‬H‫ه‬K‫ل‬H‫ و‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ه‬H‫نت‬J H‫ا ي‬H‫ ه‬K‫ر‬J‫م‬H‫ أ‬H‫لى‬K‫ إ‬J‫ م‬K‫ه‬S‫ب‬H‫ ر‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ ب·ا د‬H‫ور‬H J‫ م‬K‫ه‬K‫ه‬H‫ل‬K‫ إ‬K‫ ن‬J‫و‬P‫د‬
(‫ )رواه الطبراني‬J‫ي‬K‫ت‬N‫م‬P‫أ‬
“Akan datang sesudahmu kaum yang memakan kemewahan dunia dengan
segala ragamnya, mengendarai kendaraan yang bagus dengan segala
ragamnya, menikahi wanita-wanita cantik dengan segala ragamnya, memakai
pakaian yang seindah-indahnya dengan segala ragamnya. Mereka mempunyai
perut yang tidak kenyang dengan yang sedikit, dan nafsu yang tidak puas
dengan yang banyak. Mereka menundukkan diri kepada dunia, pagi dan sore
harinya mengejar dunia sebagai tuhan dan pengatur mereka. Mereka mengikuti
perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka adalah sejelek-jelek
ummatku.” (HR. Thabrani).
Bila dunia, ilmu, kekuasaan kita besarkan, maka bukan saja Allah tampak kere,
kurus dan kurimen, sehingga Dia kita anggap tidak berdaya, tidak lagi kita
libatkan dalam setiap keputusan penting kehidupan kita. Bahkan sesuatu yang
terlihat dengan jelas kebenarannya menjadi kecil, mungil, tidak kelihatan.
Karena penglihatan batin (bashirah) kita buta. Kita acuh tak acuh dengan
penderitaan orang lain, kita bersenang-senang diatas kesengsaraan saudara kita.
Tidak pernah terlintas dalam batin kita ketika menikmati makanan lezat, di
tempat lain ada seonggok tubuh kurus yang direnggut nyawanya perlahan-lahan
karena tidak sanggup membayar biaya rumah sakit. Ada bayi-bayi merah yang
kehilangan dekapan dan air susu karena ibunya tidak bisa meninggalkan rumah
majikannya. Ilah lain yang kerapkali kita besarkan adalah kekuasaan.

(22 : ‫ )محمد‬J‫م‬P‫ك‬H‫ام‬H‫ح‬J‫ر‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ع‬H‫ط‬J‫ق‬H‫ت‬H‫ و‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ا في‬J‫و‬P‫د‬K‫س‬J‫تف‬P J‫ن‬H‫ أ‬J‫م‬P‫يت‬J N‫ل‬H‫و‬H‫ ت‬J‫ن‬K‫م إ‬J P‫ت‬J‫سي‬
H H‫ ع‬J‫ل‬H‫ه‬H‫ف‬
“Tetapi, jika kamu berkuasa, kamu pasti menimbulkan kerusakan di bumi, dan
kamu putuskan persaudaraan.” (QS Muhammad : 22)
Qatadah mengatakan, “Bagaimana kamu melihat suatu kaum yang berpaling
dari kitab Allah, bukankah mereka menumpahkan darah dengan cara yang
haram, memutuskan tali silaturrahim, dan durhaka kepada Yang Maha
Penyayang?” (Shafwatut Tafasir III, hal. 210).
Bila orang sudah salah kaprah dalam menyikapi kekuasaan, Allah pun menjadi
kecil, kebenaran menjadi kabur. Kedudukan tidak lagi dianggap sebagai amanah
Allah yang akan dipertanggungjawabkannya di hari kiamat, tetapi diterima
sebagai alat untuk berbuat sewenang-wenang. Kekuasaan yang seharusnya
dipakai untuk melindungi yang lemah, mengayomi yang dirundung derita, dan
membela yang teraniaya, malah digunakan untuk melindungi yang kuat,
mengayomi yang zhalim, membela yang menganiaya dan mendukung para
koruptor berdasi dan para penghisap kekayaan negara. Kekuasaan berbalik
menjadi berpihak kepada yang berpunya dan yang berkuasa.
Bila kita gila jabatan, bukan saja ancaman Allah yang menjadi kecil, akhirnya
menganggap diri kita besar, kita berubah menjadi orang yang menganggap diri
tidak pernah salah dan pantang disalahkan, dikritik, sekalipun tidak benar. Kita
menganggap paling benar sekalipun jauh dari kebenaran. Kita menganggap
lawan terhadap orang yang menasehati kita dengan tulus. Kita senang
mendengarkan orang-orang yang memuja dan membesarkan kita, seperti kata
Fir’aun :

(24 : ‫ى )النازعات‬H‫ل‬J‫ع‬H‫ل‬J‫ ا‬P‫م‬P‫̄بك‬H‫ا ر‬H‫ن‬H‫أ‬


“Akulah Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS an-Nazi’at : 24).
Ketika kekayaan, kekuasaan, ilmu sudah ada di genggaman kita, akhirnya kita
menuhankan diri kita sendiri. Aturan buatan kita sendiri kita persepsikan lebih
baik dari aturan Allah. Kita menjadi takabbur. Bila hanya Allah saja yang kita
yakini Maha Besar, maka takbir akan menghunjam di hati. Kekayaan,
kekuasaan, ilmu, dan totalitas potensi yang kita miliki kita pandang menjadi
karunia dari Allah yang kita selalu syukuri. Segala atribut kebesaran,
kemewahan, kekayaan, kekuasaan kita gunakan untuk mengabdi, tunduk, patuh,
dan mengharumkan, membesarkan asma Allah.

(32 : Ò‫ )الحج‬K‫ب‬J‫و‬P‫ل‬P‫ق‬J‫ى ال‬H‫و‬J‫تق‬H J‫ن‬K‫ا م‬H‫ه‬N‫ن‬K‫إ‬H‫ ف‬K‫ ال‬H‫ر‬K‫آئ‬H‫شع‬


H J‫م‬S‫ظ‬H‫يع‬P J‫ن‬H‫م‬H‫و‬
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar
Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj : 32).

Membangun citra diri

J‫ر‬S‫ه‬H‫ط‬H‫ ف‬H‫ك‬H‫اب‬H‫ثي‬K H‫و‬


“Dan pakaianmu, bersihkanlah.”
Yakni sucikanlah pakaianmu dari hal-hal yang najis dan kotoran. Karena
seorang mukmin itu baik dan suci, tidak patut untuk membawa sesuatu yang
kotor. Ibnu Zaid berkata, “Orang-orang musyrik dahulu tidak bersuci, maka
Allah memerintahkannya untuk membersihkan diri dan pakaiannya”. Ibnu
Abbas berkata, “Dianalogikan pakaian itu dengan hati. Dan maknanya
sucikanlah hatimu dari dosa dan masiat”.
Orang Arab berkata, “Si Fulan itu pakaiannya bersih yakni suci”, yang dengan
sifat itu mereka menginginkan bersih dari aib dan akhlak yang tercela. Mereka
mengatakan, “Si Fulan pakaiannya kotor,” maksudnya berhias dengan akhlaq
yang tercela. Ar-Razi mengatakan, “Sebab kebaikan julukan ini, karena pakaian
itu sesuatu yang melekat pada seseorang, oleh karena itu mereka menyebut
pakaian untuk menjuluki manusia”. Ada yang berpendapat, “Pakaiannya bagus
artinya dia bisa menjaga harga dirinya dalam sarungnya”.

J‫ر‬P‫ج‬J‫اه‬H‫ ف‬H‫ز‬J‫ال̄رج‬H‫و‬
“Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah”
Yakni, jauhilah penyembahan terhadap berhala dan arca dan jangan sekali-kali
menghampirinya. Ibnu Zaid mengatakan, “Tuhan-tuhan yang dahulunya mereka
menyembahnya. Allah memerintahkannya untuk menjauhinya dan tidak
mendekatinya dan mendatanginya lagi”. Ada isolasi perasaan, persepsi secara
total. Imam al-Fakhr mengatakan, “Ar-rijz artinya sebutan untuk sesutu yang
kotor seperti ar-rijs.” Allah berfirman, “Maka jauhilah olehmu rijs dan autsan
(berhala).”
“Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah”, ungkapan ini mencakup untuk
memperbaiki akhlaq. Seakan-akan Allah berfirman : tinggalkanlah kebodohan,
lacut, semua kejelekan, dan janganlah berperilaku dengan akhklaq orang-orang
musyrik.
Yang dimaksud al-hajru disini adalah perintah untuk menjauhinya secara terus
menerus. Sebagaimana doa yang diucapkan orang muslim dalam surat al-
Fatihah, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus,” maksudnya tetapkanlah kami
dalam petunjuk ini.

Program inti
Sikap orang lain terhadap kita dibentuk oleh ketrampilan kita membangun citra
diri. Semua buku-buku yang berkaitan dengan fiqh dakwah, yang dijadikan
fokus pembahasan adalah dai, bukan obyek dakwah. Karena kepribadian da’i
lebih fashih dari materi dakwah. Itulah sebabnya perintah dalam surat al-
Muddatsir adalah membersihkan diri da’i dari cacat moral sebelum berdakwah.
Ada beberapa program berikut yang perlu menjadi perhatian khusus.
Pertama, tazkiyatun nafs.
Dahulu bangsa Arab adalah bangsa yang kotor. Kepercayaan kepada Allah
(‘aqidah) mereka telah terkontaminasi oleh pemujaan berhala (ashnam) dan
benda-benda alam yang dianggap bertuah. Ekonomi masyarakat (iqtishad) telah
tercemari dengan penindasan yang kuat terhadap yang lemah, kesewenang-
wenangan yang kaya terhadap yang miskin, dan keserakahan the have kepada
yang kurus, kere dan kurimen. Kebudayaan mereka ternodai dengan kerendahan
akhlaq penghinaan kepada wanita, perbudakan sesama dan pemujaan terhadap
hawa nafsu. Hukum mereka adalah peradilan rimba. Yang kuat selalu benar,
mudah memperoleh akses ekonomi dan kekuasaan. Yang lemah selalu kalah
dan salah. Yang tidak memiliki posisi secara formal terisolir dan tersudut.
Agama mereka kaya dengan seremonial, tetapi miskin dalam aplikasi. Agama
yang membonsai pikiran dan hati nurani. Orang-orang yang pandai dibonsai
potensinya (tsallajatul ulama’).
Allah membangkitkan hamba yang dipilih-Nya, Muhammad bin Abdullah
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Ia sendiri orang yang suci (musthafa) dan
dipercaya (al-amin). Ia lahir dari keluarga yang shaleh, pengurus, pemelihara,
dan penjaga al-Baitul Atiq (rumah Allah yang suci). Mereka juga menyambut
tamu-tamu Allah (dhuyufur Rahman) pada musim haji.

‫م‬P‫ه‬P‫م‬S‫ل‬H‫ع‬P‫ي‬H‫ و‬J‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬S‫ك‬H‫ز‬P‫ي‬H‫ و‬K‫ ه‬K‫ات‬H‫ آي‬J‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬J‫و‬P‫تل‬J H‫ ي‬J‫ م‬P‫ه‬J‫ن‬K‫ل م‬
³ J‫و‬P‫ س‬H‫ ر‬H‫ ن‬J‫ي‬S‫ي‬S‫لم‬
P J‫ ا‬K‫ ف ي‬H‫ ث‬H‫بع‬H J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫و‬P‫ه‬
(2 : ‫ )الجمعة‬m‫ن‬J‫بي‬K P‫ م‬m‫ل‬H‫ل‬H‫ ض‬J‫ي‬K‫ف‬H‫ ل‬P‫بل‬J H‫ ق‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ان‬H‫ ك‬J‫ن‬K‫إ‬H‫ و‬H‫ة‬H‫م‬J‫ك‬K‫ح‬J‫ال‬H‫ و‬H‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ال‬
“Ia bangkitkan di tengah bangsa nan ummi seorang rasul untuk membacakan
ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab
dan al-Hikmah, walaupun sebelumnya mereka dalam kesesatan.” (QS al-
Jumu’ah : 2).
Muhammad memulai mengajak masyarakatnya yang tidak terstruktur
(nomaden) dan kotor itu dengan meniupkan angin kesucian. Ia mengajak
kembali mengingat nama Allah dan memuja-Nya. Ia mengingatkan bahwa
manusia bisa tercemar citra dirinya karena terlalu mengutamakan dunia dan
melupakan hari esok yang pasti terjadi. Ia menyatakan dirinya sebagai pelanjut
para pejuang kemanusiaan sepanjang sejarah. Penerus para anbiya’, syuhada’,
shalihin. Pewaris perjuangan Nabi Ibrahim dan Musa ‘alaihimas salam.

. ‫ا‬H‫ ي‬J‫ ال̄دن‬H‫وة‬H‫ي‬H‫ح‬J‫ ال‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ثر‬K J‫ؤ‬P‫ ت‬J‫ل‬H‫ ب‬. ‫ى‬N‫ل‬H‫ ص‬H‫ ف‬K‫ ه‬S‫ب‬H‫م ر‬H J‫ ا س‬H‫ر‬H‫ذك‬H H‫ و‬. ‫ى‬N‫ ك‬H‫تز‬H J‫ ن‬H‫ م‬H‫ ح‬H‫ل‬J‫ف‬H‫ أ‬J‫د‬H‫ق‬
‫ى‬H‫ س‬J‫و‬P‫وم‬H H‫ي م‬J K‫اه‬H‫ر‬J‫ب‬K‫ إ‬K‫ف‬P‫ح‬P‫ ص‬. H‫لى‬J‫لو‬ P J‫ ا‬K‫ف‬P‫ ال ص¯ح‬J‫ ي‬K‫ف‬H‫ا ل‬H‫هذ‬H N‫ ن‬K‫ إ‬. ‫ى‬H‫ ق‬J‫ب‬H‫أ‬H‫̂ر و‬J‫ي‬H‫ خ‬P‫ة‬H‫ر‬K‫خ‬H‫ل‬J‫ا‬H‫و‬
(19-14 : ‫)العلى‬
“Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya lalu mengingat Tuhannya
dan memuji-Nya. Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia padahal
akhirat lebih baik dan lebih kekal. Yang ini, sungguh ada pada suhuf terdahulu
suhuf Ibrahim dan Musa.” (QS al-A’la : 14-17).

(10-9 : ‫ا )الشمس‬H‫اه‬N‫س‬H‫ د‬J‫ن‬H‫ م‬H‫اب‬H‫ خ‬J‫د‬H‫ق‬H‫ و‬. ‫ا‬H‫اه‬N‫ك‬H‫ ز‬J‫ن‬H‫ م‬H‫ح‬H‫ل‬J‫ف‬H‫ أ‬J‫د‬H‫ق‬
“Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Celakalah orang
yang mencemarinya.” (QS asy-Syams : 9-10).
Secara bertahap berubahlah bangsa Arab. Mereka memilih kesucian sekali pun
harus bersimbah darah, air mata dan nyawa. Sumayyah bersama suaminya Yasir
dan anaknya ‘Ammar membersihkan aqidahnya dari kemusyrikan. Sekeluarga
memeluk Islam. Ia dianiaya, dipukuli, dijemur di tengah padang pasir yang
membakar. Padahal ia wanita yang tua renta dan lemah (kaanat ‘ajuzan
kabiratan dha’ifatan).
Sumayyah bertahan dengan keimanannya. Ia lebih menghargai idealismenya
daripada keselamatan dirinya. Abu Jahal datang dengan tombak di tangan. Ia
memaksa Sumayyah mengucapkan kata-kata kufur. Rasulullah mengutus
sahabat untuk menyampaikan berita gembira di surga kepada Sumayyah.
Rasulullah mengizinkan untuk mengucapkan kalimat kufur asal hati tetap
beriman. Tetapi, apa jawab Sumayyah?

‫ث‬S‫و‬H‫ل‬P‫ ت‬J‫ن‬H‫ أ‬P‫يع‬J K‫ط‬H‫ت‬J‫تس‬H H‫ا ل‬H‫ه‬H‫ب‬J‫ل‬H‫ ق‬P‫ ال‬H‫ر‬N‫ه‬H‫ ط‬J‫ي‬K‫ت‬N‫ ال‬H‫ة‬N‫ي‬H‫م‬P‫ س‬N‫ن‬K‫م إ‬H H‫ل‬N‫ الس‬K‫ ال‬H‫ول‬J P‫س‬H‫ ر‬J‫ي‬S‫عن‬ H ‫ا‬J‫و‬P‫غ‬K‫ل‬J‫ب‬H‫أ‬
‫ر‬J‫ف‬P‫ك‬J‫ ال‬K‫ة‬H‫م‬K‫ل‬H‫ك‬K‫ا ب‬H‫ه‬H‫ان‬H‫س‬K‫ل‬
Sampaikan salamku pada Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam
Sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak
akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur.
Abu Jahal marah dan menusukkan tombaknya pada rahim Sumayyah.

K‫م‬H‫سل‬
J K‫ل‬J‫ ا‬K‫ في‬m‫دة‬H J‫ي‬K‫شه‬
H H‫ل‬N‫و‬H‫ أ‬J‫ت‬H‫ان‬H‫ك‬H‫ و‬K‫ر‬J‫و‬H‫ف‬J‫ى ال‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫ت‬H‫ات‬H‫م‬
Ia mati karena kehabisan darah. Dan jadilah Sumayyah wanita yang pertama
kali syahid dalam Islam.
“Inilah buah tazkiyatun nafs, penyucian diri.”
Kedua, tazkiyatu farj.
Buraidah radhiyallhu ‘anhu – dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Abu
Dawud – menceritakan peristiwa taubatnya seorang wanita yang pernah
berzina. Ia menemui Rasulullah dan berkata :

J‫ي‬K‫ن‬J‫ر‬S‫ه‬H‫ط‬H‫ ف‬P‫ت‬J‫ي‬H‫ن‬H‫ ز‬J‫د‬H‫ ق‬K‫ ال‬H‫ول‬J P‫س‬H‫ا ر‬H‫ي‬


Ya Rasulullah, aku telah berzina (Jawa: disembranani tiang jaler, atau dinodai
seorang pria), maka sucikanlah aku.
Ia meminta Rasulullah menghukumnya dengan hukuman mati (rajam).
Rasulullah menolaknya dan menyuruhnya datang keesokan harinya. Esoknya ia
datang lagi, meyakinkan Rasul bahwa ia telah hamil. “Pulanglah,” kata
Rasullah, “sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan ia datang
lagi dengan menggendong bayi merah yang dibungkus dengan kain. Rasul
mulia menolaknya, “Pulanglah, susuilah anakmu sampai engkau sapih.”
Setelah dua tahun, ia datang kembali dengan bayi dan sekerat roti.

H‫ام‬H‫ع‬N‫ الط‬H‫ل‬H‫ك‬H‫د أ‬J H‫ق‬H‫ و‬P‫ه‬P‫ت‬J‫م‬K‫ط‬H‫د ف‬J H‫ ق‬K‫ ال‬H‫ل‬J‫و‬P‫س‬H‫ا ر‬H‫ا ي‬H‫ذ‬H‫ه‬
Ini ya Rasulullah, sudah aku sapih, dan ia sudah makan makanan.
Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam lalu menyuruh seorang Sahabat merawat
anak wanita dari suku Ghamidiyah itu. Beliau menetapkan hukum rajam.
Ketika darahnya membersit dan mengenai wajah Khalid, ia memaki wanita itu.
Rasulullah pun murka,

P‫ه‬H‫ ل‬H‫ر‬K‫ف‬P‫غ‬H‫ ل‬m‫س‬J‫ك‬H‫ م‬P‫ب‬K‫اح‬H‫ا ص‬H‫ه‬H‫اب‬H‫ ت‬J‫و‬H‫ ل‬³‫بة‬H J‫و‬H‫ ت‬J‫ت‬H‫اب‬H‫ ت‬J‫د‬H‫ق‬H‫ ل‬K‫ه‬K‫يد‬H K‫ ب‬J‫ي‬K‫س‬J‫نف‬H J‫ذي‬K N‫ال‬H‫و‬H‫̂د ف‬K‫ال‬H‫ا خ‬H‫ ي‬³‫ل‬J‫ه‬H‫م‬
“Celaka kau, Khalid. Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, wanita itu
telah taubat dengan suatu taubat (yang suci) sehingga sekiranya ada pendosa
besar dengan taubatnya Allah akan mengampuni dosanya.”
Ia tidak sanggup, tidak tenang, merasa bersalah, menjalani kehidupan ini
dengan memikul dosa. Ia memilih menyucikan dirinya dengan hukum rajam. Ia
memilih tubat.
Inilah tazkiyatul farj; penyucian kehormatan, penyucian moral.
Ketiga, tazkiyatul maal.
Ketika Hasan dan Husain jatuh sakit, ibunya Fatimah dan suaminya bernadzar
untuk puasa tiga hari. Ketika melaksanakan nadzarnya, di rumah Fatimah tidak
ada makanan untuk berbuka. Ali mengambil bulu domba dari seorang Yahudi
untuk dipintal dengan upah tiga sha’ gandum. Hari pertama Fatimah
menyelesaikan sepertiga pekerjaan, dan ia memperoleh satu sha’ gandum. Ia
memaksanya dan membuat lima potong roti.
Ketika mau berbuka, seorang miskin berdiri di depan pintu rumah, “Wahai
keluarga Muhammad, aku ini orang Islam yang miskin. Berilah makanan
padaku, semoga Allah menjamu kalian dengan hidangan di surga.” Fatimah
menyerahkan seluruh makanan dan menghabiskan malam dalam keadaan lapar.
Pada hari kedua dan ketiga terjadi peristiwa serupa. Hanya kali ini yang muncul
meminta tolong adalah tawanan muslimin dan anak yatim. Saat Ali membawa
kedua anaknya menemui Rasulullah, beliau melihat kedua cucunya gemetar
karena lapar, laksana dua ekor burung kecil yang kedinginan.
“Hai Aba Hasan,” kata Rasulullah, “aku sedih sekali melihat kalian. Marilah
kita temui istrimu Fatimah.” Fatimah masih dalam mihrabnya. Nabi segera
memeluk putrinya, “Ya Allah, tolonglah keluarga Muhammad yang hampir
kelaparan ini.” Maka turunlah firman Allah surat al-Insan ayat 5-12.

‫ ال‬P‫اد‬H‫ب‬K‫ا ع‬H‫به‬K P‫ ب‬H‫ر‬J‫يش‬H ‫ا‬³‫ين‬J H‫ ع‬. ‫ا‬³‫ر‬J‫و‬P‫اف‬H‫ا ك‬H‫ ه‬P‫اج‬H‫ز‬K‫ م‬H‫ا ن‬H‫ ك‬m‫ س‬J‫أ‬H‫ ك‬J‫ ن‬K‫ م‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ب‬H‫ر‬J‫يش‬H H‫ار‬H‫ر‬J‫ب‬H‫ل‬J‫ ا‬N‫ ن‬K‫إ‬
. ‫ا‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ط‬H‫ت‬J‫ س‬P‫ م‬P‫̄ر ه‬H‫ ش‬H‫ا ن‬H‫ا ك‬³‫ م‬J‫يو‬H H‫ ن‬J‫و‬P‫اف‬H‫خ‬H‫ي‬H‫ و‬K‫ر‬J‫ذ‬N‫الن‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫وف‬J P‫ ي‬. ‫ا‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ج‬J‫ف‬H‫ا ت‬H‫ ه‬H‫ن‬J‫و‬P‫ر‬S‫ج‬H‫ف‬P‫ي‬
‫ ل‬K‫ ا ل‬K‫ ه‬J‫ج‬H‫و‬K‫ ل‬J‫ م‬P‫ك‬P‫م‬K‫ع‬J‫ط‬P‫ا ن‬H‫ م‬N‫ن‬K‫ إ‬. ‫ا‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ س‬H‫أ‬H‫ا و‬³‫يم‬J K‫يت‬H H‫ا و‬³‫ين‬J K‫ك‬J‫ س‬K‫ م‬K‫ ه‬S‫ب‬P‫ى ح‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ا م‬H‫ع‬N‫ الط‬H‫ ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ع‬J‫ط‬P‫ي‬H‫و‬
. ‫ا‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ط‬J‫م‬H‫ا ق‬³‫ س‬J‫بو‬P H‫ا ع‬³‫ م‬J‫يو‬H ‫ا‬H‫ ن‬S‫ب‬H‫ ر‬J‫ ن‬K‫ م‬P‫ا ف‬H‫خ‬H‫ا ن‬N‫ ن‬K‫ إ‬. ‫ا‬³‫ر‬J‫و‬P‫شك‬ P H‫ول‬H ³‫آء‬H‫ز‬H‫ ج‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫د م‬P J‫ي‬K‫ر‬P‫ن‬
‫ة‬N‫ن‬H‫ا ج‬J‫و‬P‫ر‬H‫ب‬H‫ا ص‬H‫ب م‬K J‫ م‬P‫اه‬H‫ز‬H‫وج‬H . ‫ا‬³‫ر‬J‫و‬P‫ر‬P‫و س‬H ³‫ة‬H‫ضر‬ J H‫ ن‬J‫ م‬P‫اه‬N‫ق‬H‫ل‬H‫ و‬K‫و م‬J H‫ي‬J‫ ال‬H‫ ك‬K‫ل‬H‫ ذ‬N‫شر‬
H P‫ ا ل‬P‫ م‬P‫اه‬H‫ق‬H‫و‬H‫ف‬
(12-5 : ‫ا )النسان‬³‫ر‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ح‬H‫و‬
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi
minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga)
yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat
mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut
akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan
makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang
ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu
dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab)
Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam
penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan
memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan
Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga
dan (pakaian) sutera.
Inilah tazkiyatul mal, penyucian harta. Harta diperoleh dengan kerja keras yang
halal. Tetapi betapa pun cintanya ia memiliki harta itu, ia belanjakan buat yang
menderita, melarat dan sengsara. Demi kesucian, keluarga nabi itu (ahlul bait)
tidak sanggup makan di tengah penderitaan, tangisan orang lain.
Keempat, tazkiyatus sulthan.
Orang Islam tidak anti kekuasaan. Bahkan kekuasaan yang diperoleh
merupakan hadiah dari Allah bagi orang yang beriman. Ada tipe manusia yang
tidak berubah karena pendekatan kultural (da’wah dan tarbiyah), tetapi perlu
ditopang kekuasaan yang berwibawa seperti Abu Sufyan ketika jahiliyah.
Yang dilarang adalah mencemari kekuasaan dengan kepentingan pribadi,
keluarga dan golongan. Kata kemunafikan dan kekuasaan dalam Al-Qur’an
sama banyaknya (al-munafiqu wa as-sulthan). Ini berarti kekuasaan itu
cenderung menyimpang dan korup. Mensucikan kekuasaan itu berarti
mendahulukan kepentingan masyarakat secara keseluruhan dari kepentingan
individu, keluarga, kelompok sesuai tuntunan Allah.
Ketika Ali menjadi khalifah, Ia membagikan harta Baitul Maal hanya kepada
yang berhak. Saudaranya ‘Aqil pernah meminta lebih dari haknya karena anak-
anaknya sedang menderita. “Datanglah lagi nanti malam,” kata Ali, “engkau
akan aku beri sesuatu.”
Malam itu Aqil itu datang. Ali berkata, “Hanya ini saja untukmu.” Aqil segera
menjulurkan tangannya untuk memegang pemberian Ali. Tiba-tiba ia menjerit,
meraung seperti sapi dibantai. Rupanya ia memegang besi yang menyala.
Dengan tenang Ali berkata, “Itu besi yang dibakar api dunia. Bagaimana kelak
aku dan engkau dibelenggu dengan rantai jahannam?”
Inilah tazkiyatus sulthan. Penyucian kekuasaan dari pencemaran kepentingan
pribadi, keluarga, kelompok dan golongan. Sebagai penguasa, Ali memilih
hidup sederhana, karena ia menyadari bahwa mayoritas masyarakat mana pun
dalam kehidupan sederhana.
Marilah kita ber-muhasabah secara radikal dan komperhensif, sudah sejauh
mana upaya kita dalam mewujudkan latihan kesucian kita? Sumayyah memilih
ditusuk tombak daripada mencemari lidahnya dengan kalimat kufur. Periksalah
lidah kita, tidakkah kita mudah mengobral makian, menyebarkan fitnah,
menggunjing kejelekan orang lain? Tidakkah kita seenaknya menyakiti
perasaan sesama, mengkafirkan yang tidak sepaham? Bukankah kefasihan
bacaan al-Qur’an sebanding dengan kefasihan kita dalam mencaci saudara kita?
Periksalah diri kita, bukankah kita sering menyimpan dengki, takabur, iri hati,
prasangka jelek? Kita terkadang mendahulukan kesenangan dunia sekalipun
dengan cara mengotori kehormatan kita.
Demi kesucian dirinya, Fatimah memilih lapar daripada membiarkan orang lain
lapar. Kita sering menyalahgunakan wewenang dengan merampas dan
mengorbankan kepentingan orang banyak. Padahal dalam sejarah kehidupan
manusia, awal terjadinya bencana adalah diawali dengan ketidakadilan
distribusi wewenang kemudian diikuti oleh penyimpangan dalam pemerataan
ekonomi.

Ketulusan

P‫ر‬K‫ث‬J‫تك‬H J‫س‬H‫ ت‬J‫ن‬P‫ن‬J‫تم‬H ‫ل‬


H H‫و‬
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang
lebih banyak.”
Yakni janganlah kamu memberi sesuatu kepada manusia dengan mengharapkan
imbalan yang melebihi pemberian itu. Karena orang yang mulia itu berlepas diri
dari apa yang diberikan sekalipun dalam jumlah yang banyak. Berilah dengan
suatu pemberian yang tidak khawatir tertimpa kefakiran.
Ibnu Abbas mengatakan, “Janganlah engkau memberikan sesuatu untuk
mencari sesuatu yang lebih baik.” Ada yang berpendapat, “Janganlah engkau
memberi agar engkau diberi yang lebih banyak darinya. Rahasia larangan ini
agar pemberian itu terlepas dari mengharapkan imbalan untuk menjaga harga
diri dan kesempurnaan akhlaq. Nabi memerintahkan dengan semulia-mulia adab
dan semulia-mulia budi pekerti.”
Ibnu Zaid mengatakan, “Janganlah engkau memberikan nubuwah (tugas
kenabian) kepada manusia dengan mengharapkan imbalan dunia yang lebih
banyak sebagai penggantinya.”

‫آء‬H‫ئ‬K‫ ر‬P‫ ه‬H‫ال‬H‫ م‬P‫ ق‬K‫ف‬J‫ين‬P J‫ ي‬K‫ذ‬N‫ال‬H‫ى ك‬H‫ذ‬H‫ل‬J‫ا‬H‫ و‬S‫ ن‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬J‫م‬P‫ك‬K‫ات‬H‫ق‬H‫د‬H‫ا ص‬J‫و‬P‫ل‬K‫ط‬J‫تب‬P ‫ل‬ H ‫ا‬J‫نو‬P H‫ آم‬H‫ ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ا ال‬H‫آ̄ي ه‬H‫ي‬
‫ه‬H‫اب‬H‫ ص‬H‫أ‬H‫ ف‬m‫ا ب‬H‫تر‬P K‫ ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬m‫ان‬H‫و‬J‫ف‬H‫ ص‬K‫ثل‬H H‫م‬H‫ ك‬P‫ ه‬P‫ل‬H‫ث‬H‫م‬H‫ ف‬K‫ر‬K‫خ‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ م‬J‫و‬H‫ي‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ا ل‬K‫ ب‬P‫ ن‬K‫م‬J‫يؤ‬P H‫ول‬H K‫ا س‬N‫الن‬
‫ م‬J‫و‬H‫ق‬J‫ي ال‬K‫د‬J‫ه‬H‫ل ي‬
H P‫ا ل‬H‫ا و‬J‫بو‬P H‫ك س‬H ‫ا‬N‫ م‬K‫ م‬m‫ء‬J‫شي‬ H ‫ى‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬K‫د‬J‫ق‬H‫ ي‬H‫ا ل‬³‫د‬J‫ل‬H‫ ص‬P‫ ه‬H‫ك‬H‫ر‬H‫ت‬H‫̂ل ف‬K‫اب‬H‫و‬
(264 : ‫ )البقرة‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ر‬K‫اف‬H‫ك‬J‫ال‬
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedeqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia
tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu
seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan
lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang kafir.” (QS al-Baqarah : 264).

‫م‬P‫اك‬H‫د‬H‫ ه‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫م‬P‫ك‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ن¯ ع‬P‫م‬H‫ ي‬P‫ ال‬K‫بل‬H ‫م‬J P‫ك‬H‫م‬H‫ل‬J‫س‬K‫ إ‬N‫ي‬H‫ل‬H‫ا ع‬J‫̄نو‬P‫م‬H‫ ت‬H‫ ل‬J‫ل‬P‫ا ق‬J‫و‬P‫م‬H‫ل‬J‫أس‬H J‫ن‬H‫ أ‬H‫يك‬J H‫ل‬H‫ ع‬H‫ون‬J ‫̄ن‬P‫م‬H‫ي‬
(18 : ‫ن )الحجرات‬ H J‫ي‬K‫ق‬K‫اد‬H‫م ص‬J P‫ت‬J‫ن‬P‫ ك‬J‫ن‬K‫ إ‬K‫ان‬H‫م‬J‫ي‬K‫ل‬K‫ل‬
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keIslaman mereka.
Katakanlah : Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keIslamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu
dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang
benar.” (QS al-Hujurat : 18).

Efek ketulusan

(29 : ‫ )هود‬K‫ى ال‬H‫ل‬H‫ل ع‬


N K‫ إ‬H‫ي‬K‫ر‬J‫ج‬H‫ أ‬J‫ن‬K‫ إ‬³‫ال‬H‫ م‬K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬J‫م‬P‫ك‬P‫ل‬H‫أ‬J‫أس‬H H‫ ل‬J‫ي‬K‫م‬J‫و‬H‫ا ق‬H‫ي‬H‫و‬
“Dan (dia berkata) : Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepadamu
(sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” (QS Huud : 29).

(10 : ‫ا )النسان‬³‫ر‬J‫و‬P‫ك‬P‫ ش‬H‫ل‬H‫ و‬³‫آء‬H‫ز‬H‫م ج‬J P‫ك‬J‫ن‬K‫ م‬P‫د‬J‫ي‬K‫ر‬P‫ ن‬H‫ ل‬K‫ ال‬K‫ه‬J‫ج‬H‫و‬K‫ ل‬J‫م‬P‫ك‬P‫م‬K‫ع‬J‫ط‬P‫ا ن‬H‫م‬N‫ن‬K‫إ‬
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapakan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu
dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS al-Insan : 10).
Ketulusan dalam terminologi sufistik identik dengan kemurnian dari berbagai
campuran kotoran (al-khulushu min al-mustaqdzirat). Ibarat emas murni, maka
ia berupa benda yang terbebas dari berbagai imitasi (tiruan). Mengalirnya
ketulusan sebagai sesuatu yang hadir begitu saja, tanpa kontaminasi, pretensi,
tendensi, kepentingan apapun untuk melakukan sesuatu. Ia laksana mata air
yang mengalir deras dari kedalaman telaga hati dengan sendirinya secara
spontan. Ia bening adanya.
Ikhlas tidak berwarna. Dari sudut pandang para salik (penempuh jalan menuju
Allah), ia bebas dari warna merah, jingga, kuning, dan bahkan putih, warna-
warna yang menyimbolkan nafsu amarah, nafsu kepemilikan, hedonisme, nafsu
kepada lawan jenis, nafsu ingin mempertahankan status quo, nafsu ingin
mengambil ini dan itu, sampai nafsu yang ingin memiliki kebenaran itu sendiri.
Bening bisa diwarnai apa saja, tetapi ia juga bisa menghadirkan semua warna
dan ornamen seperti adanya.
Seperti halnya air bening yang selalu menjadi tumpuhan harapan dahaga yang
telak, ketulusan juga menjadi dambaan jiwa yang kering. Ketulusan adalah
kekayaan yang abadi. Mungkin seorang akan bahagia dengan memiliki uang,
pangkat, atau jabatan. Tetapi, bahagia karena uang, pangkat, atau kedudukan itu
baru kemungkinan. Bahagia karena ketulusan adalah kepastian. Seorang ahli
sufi mengatakan, “Keikhlasan sesaat adalah keselamatan sepanjang masa (al-
ikhlashu saa’atan najaatul abad).” Kebahagiaan, kedamaian, memang bukan
berbentuk barang yang diperoleh di tempat tertentu; di mall, supermarket, bar,
pub, tempat wisata, dll. Kebahagiaan diperoleh dari Tuhan kepada pemilik hati
yang komunikatif dengan-Nya. Yaitu orang yang berhati sehat (qalbun salim),
hati yang terhindar dari virus ruhani.
Kehadiran ketulusan dalam hati, melukiskan kondisi hati yang tidak
menyembunyikan kepentingan, atau hasil apapun selain nikmatnya merasakan
ketulusan itu sendiri. Nikmat itu membuat pemiliknya lupa bahwa di ujung
amalnya yang tulus. Ketulusan itu tersimpan rapat-rapat oleh pelakunya, persis
ia merahasiakan kekurangan, sisi hitam, dan bau tidak sedap dalam dirinya.
Ikhlas laksana binatang penyu. Secara diam-diam ia mampu bertelur dari 500
sampai 3000 butir. Sebaliknya, ayam baru bertelur satu buah saja, ia berteriak-
teriak ke kanan dan kekiri, mengumumkan hasil karyanya kepada khalayak
ramai.
Tetapi Tuhan Maha Adil, justru sikap bersahaja, sederhana dari berbagai virus
ananiyah, egoisme, individualis, ambisius itu menjadi tidak sederhana.
Pengaruh ketulusan begitu penting dan terasa. Wujudnya menjadi bermakna,
berbekas, dan abadi dalam ingatan. Menanam ketulusaan akan menuai hasil
yang tak terhingga. Seorang ulama salaf mengatakan :

P‫ة‬N‫ي‬S‫ الن‬P‫ه‬P‫ر‬S‫غ‬H‫تص‬P m‫ر‬J‫بي‬K H‫ ك‬m‫ل‬H‫م‬H‫ ع‬N‫ب‬P‫ر‬H‫ و‬P‫ة‬N‫ي‬S‫ الن‬P‫ه‬P‫بر‬S H‫ك‬P‫ ت‬m‫ر‬J‫ي‬K‫صغ‬


H m‫ل‬H‫م‬H‫ ع‬N‫ب‬P‫ر‬
Betapa banyak amal perbuatan kecil dibesarkan oleh niat ikhlasnya, dan
betapa banyak amal perbuatan besar dikecilkan oleh niatnya.
Bahkan, menurut sebuah hadits, dua malaikat Allah akan mendoakan orang
yang melaksanakan infaq harian dengan tulus pada pagi hari dengan
menggunakan isim nakirah, “khalafan” (pengganti) yang tak terhingga.

‫ا‬³‫ف‬H‫ل‬H‫ا خ‬³‫ق‬K‫نف‬J P‫ م‬K‫ط‬J‫ اع‬N‫م‬P‫ه‬N‫لل‬H‫ا‬


Ya, Allah berikanlah orang yang berinfaq dengan tulus, pengganti (dari apa
yang ia infaqkan itu).
Khalafan (pengganti) disini menggunakan kalimat yang bersifat umum. Dalam
riwayat lain kholafan itu berupa keharmonisan keluarga, anak yang taat, siklus
pergaulan yang menyejukkan, jalan keluar dari beragam kesulitan, kebahagiaan,
kepuasan batin, dll. Bentuk dan macam “pengganti” itu sepenuhnya hak
prerogatif (mutlak) Allah.
Ketulusan pantang dipuji dan disakiti. Orientasi tertingginya hanya keridhaan
Allah Yang Maha Adil. Ketulusan yang dia lakukan, akan dimonitor Tuhan.
Dan akan berefek kepada pemiliknya, tidak salah alamat. Ibu Sudalmiyah,
ibunda dari Prof. Dr. M. Amien Rais pernah berujar, “Keikhlasan akan
menghasilkan sikap mental baja.”
Kata orang Jawa, “Dijiwit dadi kulit, dicokot dadi otot, setan ora doyan, dhemit
ora ndulit.” Yakni, apapun yang dilakukan orang lain terhadap dirinya, tidak
membuatnya berubah orientasi. Seorang ‘abid pada zaman dahulu terbukti
sukses mengalahkan syetan, hanya bersenjatakan ketulusaan niat. Dan setelah
itu kalah melawan syetan untuk kedua kalinya karena ia tidak bisa
mempertahankan niatnya semula.
K‫اء‬H‫د‬K‫ت‬J‫ب‬K‫ل‬J‫ ا‬K‫اد‬H‫س‬H‫ ف‬J‫ن‬K‫ م‬K‫ة‬H‫د‬H‫اه‬H‫ج‬P‫م‬J‫ ال‬H‫د‬J‫ع‬H‫ ب‬P‫ة‬H‫ر‬J‫ت‬H‫ف‬J‫ل‬H‫ا‬
Kelesuan sesudah kesungguhan timbul karena adanya kerusakan pada langkah
awalnya (niat).

‫ن‬H‫وم‬H P‫ت ه‬P H‫اي‬H‫ه‬K‫ ن‬J‫ت‬N‫ح‬H‫ ص‬P‫ت ه‬P H‫اي‬H‫د‬K‫ ب‬J‫ت‬N‫ح‬H‫ ص‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ ف‬K‫اء‬H‫تد‬K J‫لب‬
K J‫ ا‬K‫اد‬H‫ س‬H‫ ف‬J‫ ن‬K‫ى م‬H‫او‬H‫دع‬N ‫ ال‬P‫د‬N‫ول‬H H‫ت‬H‫ا ت‬H‫ م‬N‫ن‬K‫إ‬
‫ك‬H‫ل‬H‫ا ه‬H‫م‬N‫ب‬P‫ر‬H‫ ف‬P‫ه‬P‫ت‬H‫اي‬H‫د‬K‫ ب‬J‫ت‬H‫د‬H‫س‬H‫ف‬
Sesungguhnya berbagai keluhan itu muncul karena kerusakan sejak permulaan.
Barangsiapa yang benar permulaannya maka benar pula kesudahannya dan
barangsiapa yang salah permulaannya maka bisa jadi dia binasa.

K‫ه‬K‫ت‬H‫ب‬K‫اق‬H‫ى ع‬H‫ه‬H‫ت‬J‫ن‬P‫ م‬K‫ في‬P‫م‬H‫ل‬J‫يس‬H H‫ ل‬K‫ته‬K H‫اد‬H‫ر‬K‫ إ‬K‫ئ‬K‫اد‬H‫ب‬H‫ م‬K‫̄ح في‬K‫يص‬H ‫ل‬
H J‫ن‬H‫م‬
Barangsiapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan
selamat pada kesudahan akibatnya.

K‫ية‬NK‫ن‬H‫ل‬H‫ع‬J‫ ال‬K‫ا في‬³‫يح‬J K‫ص‬H‫ ف‬J‫ن‬P‫تك‬H S‫ر‬S‫ الس‬K‫ا في‬³‫ح‬J‫ي‬K‫ح‬H‫ ص‬J‫ن‬P‫ك‬


Jadilah kamu orang yang benar dalam rahasiamu niscaya engkau menjadi
orang yang fasih ditengah keramaian.
‫ه‬H‫ ل‬H‫ي‬K‫ف‬P‫ا ص‬H‫ف‬H‫ ص‬J‫ ن‬H‫م‬H‫ و‬K‫ية‬NS‫ الن‬K‫ح‬H‫ل‬H‫ ص‬K‫ ب‬K‫ ب‬J‫ل‬H‫ق‬J‫ ال‬P‫ح‬H‫ل‬H‫ ص‬H‫ و‬K‫ ب‬J‫ل‬H‫ق‬J‫ ال‬K‫ح‬H‫ل‬H‫ ص‬K‫ ب‬K‫ل‬H‫م‬H‫ع‬J‫ ال‬P‫ح‬H‫ل‬H‫ص‬
‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ط‬S‫ل‬P‫ خ‬H‫ط‬N‫ل‬H‫ خ‬J‫ن‬H‫م‬H‫و‬
Baiknya amal karena baiknya hati dan baiknya hati karena baiknya niat.
Barangsiapa yang tulus dalam niatnya maka hasilnya akan mulus, dan
barangsiapa yang keruh niatnya akan keruh pula hasilnya.
Rasulullah pernah bersabda :

‫ ن‬J‫و‬P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ال‬H‫ و‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ل ال‬


N K‫ا إ‬J‫و‬P‫ك‬H‫هل‬H H‫ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ل‬J‫ س‬P‫م‬J‫ال‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ل‬J‫ س‬P‫م‬J‫ ال‬N‫ل‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ك‬H‫ل‬H‫ ه‬K‫ا س‬N‫̄ل الن‬P‫ك‬
‫ل‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ك‬H‫هل‬H H ‫ ن‬J‫و‬P‫ل‬K‫ام‬H‫ع‬J‫ال‬H‫ و‬H ‫ ن‬J‫و‬P‫ل‬K‫ام‬H‫ع‬J‫ل ال‬ N K‫ا إ‬J‫و‬P‫ك‬H‫هل‬H H ‫ ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ال‬H‫ع‬J‫ال‬H‫ و‬H ‫ ن‬J‫و‬P‫م‬K‫ال‬H‫ع‬J‫ ال‬N‫ل‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫ك‬H‫ل‬H‫ه‬
‫ الحديث‬- m‫ر‬H‫ط‬H‫ خ‬K‫ في‬H‫ن‬J‫و‬P‫ص‬K‫ل‬J‫خ‬P‫م‬J‫ال‬H‫ و‬H‫ن‬J‫و‬P‫ص‬K‫ل‬J‫خ‬P‫م‬J‫ال‬
“Semua manusia akan hancur kecuali orang yang berserah diri kepada Allah
(muslim), semua orang muslim akan hancur kecuali orang beriman, orang
beriman akan hancur kecuali orang ‘alim, dan orang yang alim akan hancur
kecuali yang mengamalkan ilmunya, dan orang yang beramal akan hancur
kecuali yang tulus. Dan orang yang tulus dalam bahaya.” (al-Hadits).
Manusia yang tulus jiwanya mudah dikenali, dan diakrabi. Karena memandang
orang lain sebagai anugerah, bukan ancaman. Berbeda dengan orang munafiq,
lain di hati lain pula yang di kepala dan yang diperlihatkan. Manusia munafiq
itu sosok yang bertopeng sepuluh (dasamuka, bhs. Jawa). Efek bagi pelakunya
adalah mudah tersinggung (kulla sha-ihatin ‘alaihim) keragu-raguan (raybah),
kebimbangan (idza ra-aita tu’jibuka ajsaamuhum). Orang yang ikhlas itu, tidak
menyimpan agenda tertentu untuk mengambil sesuatu dari orang lain. Tetapi
bahkan ia ingin berbagi dan memberi (itsar), sebanyak mungkin. Keikhlasan
menimbulkan jiwa yang tenang (thuma’ninah). Orang yang ikhlas itu bahkan
menyimpan rapat-rapat amalnya sebagaimana ia merahasiakan aibnya.

Sabar di jalan dakwah

J‫ر‬K‫ب‬J‫اص‬H‫ ف‬H‫ك‬S‫ب‬H‫ر‬K‫ل‬H‫و‬
Dan untuk memenuhi (perintah) Tuhanmu, bersabarlah
Yakni, bersabarlah atas gangguan kaummu, untuk meraih ridha Allah. Ibrahim
an-Nakha’i mengatakan : bersabarlah dalam pemberianmu (sedekahmu) itu
hanya karena mengharap ridha Allah semata. Ash-shabru qarinul yaqin (sabar
itu temannya keyakinan). Tidak ada keyakinan (iman) jika sifat sabar ini belum
tumbuh dalam diri kita.
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka. Dan adalah mereka meyakini
ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah : 24).
Ibnul Jauzi mengatakan : Ayat ini peringatan untuk suku Quraisy sesungguhnya
kalian jika taat dan beriman kepada-Ku, Aku jadikan diantara kamu sebagai
pemimpin. Ini termasuk bentuk penghargaan terhadap bangsa Quraisy yang
memiliki komitmen terhadap kebenaran. Adapun kabilah Quraisy yang durhaka
tetap memperoleh azab dari Allah.

- ‫ ي·ا‬K‫ش‬H‫ر‬P‫ا ق‬³‫د‬J‫ب‬H‫ ع‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ا ص‬H‫ع‬J‫ل‬K‫ ل‬P‫ار‬N‫الن‬H‫ ي·ا و‬K‫بش‬H H‫ا ح‬³‫بد‬J H‫ ع‬H‫ا ن‬H‫ ك‬J‫و‬H‫ل‬H‫ و‬K‫ة‬H‫اع‬N‫لط‬K‫ ل‬P‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ل‬H‫ا‬
‫الحديث‬
“Surga itu berhak bagi orang yang patuh sekalipun dari suku Habsyi (berkulit
hitam kelam) dan Neraka itu berhak bagi yang durhaka betapapun berasal dari
kabilah Quraisy.” (al-Hadits).
δφ
BAB II
‫طبيعة الطريق‬
TABIAT JALAN DAKWAH

Dalam kacamata al-Qur’an (fi dhaw’il Qur’an), seorang mukmin akan


menghadapi musibah yang tidak disengaja, karena cobaan itu datangnya di luar
perencanaanya, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, kematian
orang yang dicintainya, kekurangan buah-buahan. Dan Allah akan memberikan
kabar gembira bagi yang menyikapinya dengan sabar. Bahkan Allah
menjanjikan kepadanya shalawat, rahmat dan petunjuk menuju jalan
kebahagiaan (QS al-Baqarah : 155-157). Keluhan, ratapan seseorang ketika
ditimpa suatu penyakit akan menghapus dosa, dan dijamin terkabul apa yang
menjadi permohonannya (al-Hadits). Selain kondisi sakit, doa seseorang ada
kemungkinannya ditunda bahkan ditolak.
Dan musibah lain yang diakibatkan oleh sesuatu yang sengaja dipilih dan
pahalanya lebih besar, yaitu memilih jalan Islam yang secara sunnatullah akan
dihadapkan dengan berbagai macam rintangan, teror secara fisik dan mental
dari musuh, tekanan secara psikis dari keluarga, rayuan, konspirasi jahat,
intimidasi, fitnah, menghadapi masa-masa sulit (fatratu al-idhthihad), penjara,
pembunuhan, dll.

‫آء‬H‫ س‬J‫أ‬H‫ب‬J‫ ال‬P‫م‬P‫ه‬J‫ت‬N‫س‬H‫ م‬J‫م‬P‫ك‬K‫بل‬J H‫ ق‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬H‫ل‬H‫ خ‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫ل‬H‫ث‬H‫ م‬J‫م‬P‫ك‬K‫ت‬J‫يأ‬H ‫ا‬N‫م‬H‫ول‬H H‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫وا ال‬P‫ل‬P‫خ‬J‫د‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫م أ‬J P‫بت‬J K‫س‬H‫ ح‬J‫م‬H‫أ‬
‫ر‬J‫نص‬H N‫ن‬K‫ إ‬H‫ل‬H‫ أ‬K‫ ال‬P‫ر‬J‫نص‬H H‫تى‬H‫ا م‬J‫و‬P‫ن‬H‫ آم‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ال‬H‫ و‬P‫ل‬J‫و‬P‫س‬N‫ الر‬H‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫ ي‬N‫تى‬H‫ا ح‬J‫و‬P‫ل‬K‫ز‬J‫ل‬P‫ز‬H‫ و‬P‫آء‬N‫ر‬N‫الض‬H‫و‬
(214 : ‫بˆ )البقرة‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ ق‬K‫ال‬
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-
orang yang beriman bersamanya : Bilakah datangnya pertolongan Allah?
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”) QS al-Baqarah : 214).
Lihat juga: QS al-Ankabut : 2; Ali Imron : 142; at-Taubah : 24; al-Buruj : 4-8).
Menurut riwayat dari Ibnul Mundzir dan Ibnu Jarir dan Abdurrazaq, bahwa
Qatadah menerangkan sesungguhnya ayat ini turun ketika kaum sekutu yang
terdiri dari kaum kafir Quraisy, Yahudi Bani Quraizhah dan kabilah-kabilah
Arab mengepung Madinah, yang dikenal dengan Perang Khandaq (parit) atau
Perang Ahzab (pasukan sekutu). Nyaris Madinah dikuasai musuh. Surat al-
Ahzab diturunkan untuk mengenang peristiwa itu. Ibnu Abas berkata : Ayat ini
peringatan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah bahwa dunia ini adalah
lahan ujian dan cobaan. Cobaan adalah sunnatullah bagi kehidupan orang-orang
beriman. Para Nabi juga mengalami ujian yang tidak kalah beratnya, untuk
membersihkan mereka supaya menjadi shafwatullah (pilihan Allah).
Nabi-nabi bani Israil berjumlah 70 orang, dibunuh oleh kaumnya sendiri.
Hampir semua Nabi diusir dari negerinya sendiri. Ibrahim dibuatkan tempat
pembakaran khusus oleh kaum paganisme. Nabi Nuh diperintahkan oleh Allah
membuat perahu untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman. Nabi
Zakariya yang sudah setua itu digergaji kepalanya.
Kaum beriman sesudah mereka juga mengalami ujian yang sama (QS al-Buruj :
4-8). Penganut tauhid di Arab Selatan (ashhabul ukhdud) digalikan lubang dan
dipaksa untuk memasukinya, serta disiram dengan minyak dan dibakar.
Sebabnya, hanya karena mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah saja. Nabi
juga pernah menceritakan seorang anak yang menyerukan tauhid dan seruannya
menyinggung hati raja yang zhalim, yang kemudian memasukkannya ke hutan
supaya menjadi mangsa binatang buas, tetapi pulang dengan selamat. Setelah
itu ia disiksa dengan berbagai macam siksaan, tetapi tetap pada pendiriannya.
Akhirnya dia berkata, “Tuan-tuan bisa membunuh saya hanya dengan anak
panah ini, maka sebelum melepaskan anak panah ke tubuh saya sebutlah nama
Allah, Tuhan anak ini (bismillah wa rabbil ghulam).” Semua orang menyebut
nama Allah, dan anak itu terbunuh. Maka, berimanlah seluruh rakyat di negeri
itu. Seorang anak yang berjiwa tauhid, nyawanya dikorbankan untuk meng-
Islam-kan mereka. Ujian itu mengenai orang yang menapaki jalan iman, baik
secara individu maupun secara kolektif.

K‫ات‬H‫و‬H‫ه‬N‫الش‬K‫ ب‬P‫ار‬N‫ الن‬K‫ت‬N‫ف‬P‫وح‬H K‫ه‬K‫ار‬H‫ك‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬P‫ة‬N‫ن‬H‫ج‬J‫ ال‬K‫ت‬N‫ف‬P‫ح‬


Jadi, jalan menuju surga itu dikelilingi oleh sesuatu yang kita benci (makarih)
dan neraka itu diliputi oleh sesuatu yang membangkitakan nafsu syahwat.

‫ر‬J‫م‬H‫ج‬J‫ى ال‬H‫ل‬H‫ ع‬K‫ ض‬K‫اب‬H‫ق‬J‫ال‬H‫ ك‬K‫ن ه‬K J‫ي‬K‫بد‬K P‫ك‬S‫ س‬H‫تم‬H P‫م‬J‫ا نˆ ال‬H‫م‬H‫ ز‬K‫ت ي‬J‫أ‬H‫ ي‬: ‫م‬Ò‫وقال صلى ال عل يه و سل‬
(‫)رواه أحمد‬
Rasulullah pernah bersabda, “Akan datang suatu masa seorang yang
berpegang teguh dengan agamanya seperti memegang bara api.” (HR Ahmad).

‫ان‬H‫يط‬J H‫ش‬H‫ و‬P‫ه‬P‫ل‬K‫ات‬H‫ق‬P‫̂ر ي‬K‫اف‬H‫ك‬H‫ و‬P‫ه‬P‫ض‬H‫بغ‬J H‫قˆ ي‬K‫اف‬H‫ن‬P‫م‬H‫ و‬P‫ده‬P P‫س‬J‫ح‬H‫̂ن ي‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫ م‬: ‫د‬H K‫ائ‬H‫شد‬
H K‫س‬J‫م‬H‫ خ‬H‫ن‬J‫بي‬H P‫ن‬K‫م‬J‫ؤ‬P‫م‬J‫ل‬H‫ا‬
‫ الحديث‬- P‫ه‬P‫ع‬K‫از‬H‫ن‬P‫سˆ ت‬J‫ف‬H‫ون‬H P‫̄له‬K‫ض‬P‫ي‬
“Orang mukmin itu senantiasa berada di antara lima ancaman berat : Mukmin
yang mendengkinya, munafiq yang membencinya, kafir yang memeranginya,
syetan yang menyesatkannya, nafsu yang melawannya.” (Hadits ini dikeluarkan
oleh Abu Bakar bin Lai dari Anas bin Malik, di dalam Makarim al-Akhlaq).
“Orang yang paling berat cobaanya adalah para Nabi, kemudian orang yang
paling baik sesudahnya, kemudian orang yang paling baik sesudahnya.
Sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, pasti Dia menguji mereka.
Barangsiapa yang rela (dengan cobaan) itu maka mereka akan mendapat
keridhaan-Nya, dan barngsiapa yang benci (kepada cobaan itu) maka baginya
kemurkaan-Nya.” (al-Hadits)
δφ
‫بالحكمة‬
BIJAKSANA
‫الطريقة أهم من المادة‬
Metodologi dakwah penting dibanding
muatannya
‫والموعظة الحسنة‬ ‫أسلوب الدعوة‬
NASIHAT YANG BAIK METODOLOGI DAKWAH
‫كلموا الناس على قدر عقولهم‬
Berbicaralah dengan manusia sesuai kadar
pikiran mereka
‫المجادلة الحسنة‬
DEBAT OBYEKTIF-ARGUMENTATIF
BAB III
‫أسلوب الدعوة‬
METODOLOGI DAKWAH

‫ن‬H‫ س‬J‫ح‬H‫ أ‬H‫ه ي‬K J‫ ي‬K‫ت‬N‫ال‬K‫ ب‬J‫ م‬P‫ه‬J‫ل‬K‫اد‬H‫وج‬H K‫ة‬H‫ن‬H‫ س‬H‫ح‬J‫ ال‬K‫ة‬H‫ظ‬K‫ع‬J‫و‬H‫م‬J‫ال‬H‫ و‬K‫ة‬H‫م‬J‫ك‬K‫ح‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ ك‬S‫ب‬H‫ ر‬K‫ل‬J‫بي‬K H‫ س‬H‫لى‬K‫ إ‬P‫ ع‬J‫د‬P‫ا‬
(125 : ‫)النحل‬
“Serulah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan pengajaran
yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS an-Nahl :
125).
Ayat diatas mengandung tuntunan, acuan praktis metodologi dalam berdakwah.
Metodologi berdakwah (uslubud da’wah) merupakan aspek yang urgen dalam
membantu keberhasilan di medan dakwah. Sekalipun materi dakwah cukup
baik, disampaikan pada momentum yang tepat, tetapi mengabaikan metodologi
yang benar mustahil akan mencapai target akhir dakwah yang diprogramkan.
Oleh karenanya, di samping seorang da’i membekali diri dengan stabilitas
psikologis yang mantap dan ilmu yang luas, yang lebih penting adalah
memahami heteroginitas dan latar belakang serta kondisi riil bidang garapan
dakwahnya (dirasah maidaniyah), dengan harapan bisa memberikan input
sesuai dengan sasaran yang dituju, informasi yang selaras dengan kebutuhan
fitrahnya. “Sampaikan dakwah ini kepada ummat sesuai dengan kapasitas
pemikiran mereka.” (khaathibun naasa ‘alaa qadri ‘uquulihim).
Maksud ayat diatas adalah : Serulah manusia, hai Muhammad, kepada dinullah
(agama Allah) dan syariat-Nya yang suci dengan uslub (gaya) yang bijaksana,
halus dan lembut, yang bisa memberikan kesan dan pengaruh yang signifikan
kepada mereka (bimaa yu-atstsiru fiihim wa yanja’u), bukan dengan cara yang
keras dan kasar (Lihat: Shafwatut Tafasir II : 148). Sebagaimana dakwah
dengan sikap lemah-lembut yang diperagakan oleh Musa dan Harun ketika
mengajak raja Fir’aun ke jalan Islam.

. ‫ى‬H‫ غ‬H‫ ط‬P‫ ه‬N‫ن‬K‫ إ‬H‫ ن‬J‫و‬H‫ع‬J‫ر‬K‫ ف‬H‫لى‬K‫ا إ‬H‫ ب‬H‫ذه‬J K‫ ا‬. J‫ ي‬K‫ر‬J‫ك‬K‫ ذ‬K‫ا ف ي‬H‫ ي‬K‫تن‬H ‫ل‬
H H‫ و‬J‫ت ي‬K H‫ي‬H‫أ‬K‫ ب‬H‫ ك‬J‫و‬P‫خ‬H‫أ‬H‫ و‬H‫ ت‬J‫ن‬H‫ أ‬J‫ه ب‬H J‫ذ‬K‫ا‬
‫و‬H‫ا أ‬H‫ن‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ط‬P‫ر‬J‫ف‬H‫ ي‬J‫ن‬H‫ أ‬P‫اف‬H‫نخ‬H ‫ا‬H‫ن‬N‫ن‬K‫ا إ‬H‫ن‬N‫ب‬H‫ ر‬H‫ال‬H‫ ق‬. ‫ى‬H‫ش‬J‫خ‬H‫و ي‬J H‫ أ‬P‫ر‬N‫ك‬H‫ذ‬H‫يت‬H P‫ه‬N‫ل‬H‫ع‬H‫ا ل‬³‫ين‬S H‫ل ل‬
³ J‫و‬H‫ ق‬P‫ه‬H‫ ل‬H‫ل‬J‫و‬P‫ق‬H‫ف‬
(46-42 : ‫ )طه‬H‫ى‬H‫ر‬H‫أ‬H‫ و‬P‫ع‬H‫م‬J‫س‬H‫ا أ‬H‫م‬P‫ك‬H‫ع‬H‫ م‬J‫ني‬K N‫ن‬K‫ا إ‬H‫اف‬H‫تخ‬H H‫ ل‬H‫ال‬H‫ ق‬. ‫ى‬H‫غ‬J‫يط‬H J‫ن‬H‫أ‬
“Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan
janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua
kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, semoga ia ingat
atau takut. Berkatalah mereka berdua : Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui
batas. Allah berfirman : Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku
bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS Thaha : 42-46).
Dakwah disini berisi seruan terhadap manusia yang diselimuti berbagai
kegelapan kekafiran (zhulumatul kufri) agar mereka kembali kepada cahaya
iman (nurul iman), menapaki jalan yang lurus, yaitu dienul haqq, agama yang
benar. Sehingga fitrah manusia terlindungi dari berbagai kontaminasi ideologi,
budaya, kebiasaan, pola pikir dan pola sikap yang tidak Islami. Dalam
melakukan tugas dakwah (wazhifatud da’wah) diajarkan oleh al-Qur’an
menggunakan tiga metode
Pertama, al-hikmah.
Yaitu, dengan pendekatan yang bijaksana. Mengedepankan akal budi yang
mulia, dada yang lapang (insyirahush shadri), hati nurani yang bersih dari
interes pribadi dan kepentingan lain-lain. Dengan metodologi ini diharapkan
mempunyai daya tarik tersendiri (magnet power) manusia menuju kepada inti
(jauhar) ajaran Islam, yakni tauhidullah (mengesakan Allah).
Hikmah terkadang dimaknai sebagian orang dengan filsafat. Padahal hikmah itu
inti filsafat, lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dijangkau oleh orang yang
terlatih kecerdasannya dan lebih tinggi cara berfikir dan berlogika. Sedangkan
hikmah bisa dipahami oleh orang yang belum maju cara berfikirnya, namun tak
bisa dibantah oleh orang yang wawasannya lebih luas. Hikmah tidak sebatas
ucapan verbal, tetapi jelmaan dari tindakan dan sikap hidup.
Kedua, al-mau’izhatul hasanah.
Bermakna pengajaran atau pesan-pesan yang baik, yang disampaikan sebagai
nasehat. Sesungguhnya bentuk nasihat itu hanya ada dua. Pertama, nasihat yang
selalu berbicara, yaitu al-Qur’an; dan nasihat yang senantiasa diam, yakni
kematian (al-maut).
Nasihat yang baik ini bentuk pendidikan yang tersendiri. Nasihat orang tua
berupa praktek kehidupan keagamaan di dalam rumah tangga sejak kecil –
sebelum si anak terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang lain – akan memiliki
pengaruh yang penting dalam pembentukan serta pewarnaan kepribadiannya,
kelak di kemudian hari. Sebab, contoh beragama sejak usia dini akan membekas
ketika kelak menjadi dewasa.
Ketiga, jadilhum bil-latii hiya ahsan.
Bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau ditemukan bantahan dan
tukar fikiran (polemik), maka perlu ditempuh jalan yang sebaik-baiknya.
Membicarakan persoalan yang diperdebatkan dengan berfikir obyektif dan hati
yang jernih. Menghindari ucapan yang menyakitkan dan melukai perasaannya.
Tetapi ditunjukkan bukti-bukti dan argumentasi yang ilmiah dan bisa
menggungah akal fikiran dan perasaannya, sehingga mereka melihat hujjah
(alasan) yang tak terbantahkan.
“Janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang
paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” (QS al-
Ankabut : 46).
Yakni jangan menyeru Ahli Kitab kepada Islam dan berdiskusi dengan mereka
dalam urusan agama kecuali dengan pendekatan yang baik seperti megajak
merenungkan ayat-ayat Allah, dan memberikan peringatan dengan
mengemukakan alasan-alasan dan penjelasan-penjelasan-Nya (Lihat: Shafwatut
Tafasir II, hal. 462).
Imam Al-Fahkr mengatakan : Sesungguhnya orang musyrik datang dengan
membawa kemunkaran maka layak untuk dihadapi dengan perdebatan yang
lebih keras, dengan mamatikan pemikirannya secara telak dan mematahkan
pemahamannya yang keliru terhadap Islam. Adapun terhadap Ahli Kitab,
karena mereka beriman dengan turunnya kitab-kitab dan diutusnya para Rasul,
mengakui kenabian Muhammad, maka berdebat dengan mereka dengan cara
yang lebih santun dan sejuk kecuali orang-orang yang zhalim diantara mereka
yang menetapkan anak untuk Allah, dan pernyataan mereka tentang Trinitas,
maka mereka harus diajak berdialog dan berdebat dengan pendekatan yang
lebih jelek, mematahkan pendapat mereka dan mengungkap kejahilan mereka
(Shafwatut Tafasir II, hal. 464).
Ketiga metodologi dakwah diatas sangat diperlukan di segala tempat dan masa.
Karena dakwah itu ajakan dan seruan membawa manusia menuju jalan yang
lurus (shiratal mustaqiim), bukan propaganda (di’ayah), sekalipun propaganda
itu terkadang menjadi alat dakwah. Dakwah lebih mengedepankan usaha
meyakinkan, sedangkan propaganda lebih cenderung memaksakan kehendak.
Dakwah dengan cara paksaan akan melahirkan ketaatan semu (kemunafikan).
Dakwah membangun kesadaran manusia dengan disentuh potensi dasar yang
dimiliki, yaitu pendengaran, penglihatan dan hati. Karena membangun
komitmen dan kesadaran beragama itu tidak boleh ada pemaksaan kehendak
(QS al-Baqarah : 256).
Kebenaran dan kesesatan itu telah jelas perbedaannya. Urusan memberi
petunjuk dan menyesatkan seseorang adalah wewenang Allah semata. Seorang
da’i sebatas penyampai pesan (muballigh), pembuka pintu hidayah, bukan
pemutus perkara benar dan salah (hakim).
Inilah pedoman, tuntunan dakwah di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Berdakwah di tengah-tengah berbagai aliran pemikiran, upaya peragu-raguan
(tasykik), pembaratan (taghrib), peperangan pemikiran (al-ghazwu al-fikri),
usaha-usaha menjauhkan pemeluk Islam dari agamanya (tab’id), dan
menawarkan kehidupan skuler (laa-diniyyah), memerlukan format dakwah yang
lebih menarik, sesuai dengan tingkat kebutuhan sejarah dan zamannya. Dakwah
dengan cara konvensional tentu tidak menarik di kalangan masyarakat modern,
yang lebih maju cara berfikirnya. Tetapi kita harus yakin sesungguhnya setiap
ajakan yang luhur pasti akan ada yang merespon (likulli da’watin mujiib).

(‫ )رواه أحمد وأبو داود والترمذي‬K‫ه‬K‫ل‬K‫اع‬H‫ ف‬K‫ر‬J‫ج‬H‫ أ‬P‫ل‬J‫ث‬K‫ م‬P‫ه‬H‫ل‬H‫ ف‬m‫ر‬J‫ي‬H‫ى خ‬H‫ل‬H‫ ع‬N‫دل‬H J‫ن‬H‫م‬
“Siapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala
orang yang mengerjakannya.” (HR Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi).
Ketiga metodologi dakwah yang Qur’ani diatas akan tetap berlaku menurut
perkembangan zaman dan pemikiran manusia, karena pada dasarnya metode
dakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, bantahan yang logis akan selalu
memperoleh tempat yang layak di benak publik.
δφ
‫القرآن الكريم‬
AL-QURA’NUL KARIM

‫الحديث النبوي‬
HADITS-HADITS NABI SAW

‫السيرة النبوية‬
SEJARAH HIDUP NABI SAW
‫دراسة الميدان – علم الثقافة‬
‫والحضارة‬
MENGENAL MEDAN – SENI & BUDAYA
‫علم التاريخ‬
ILMU SEJARAH

‫علم النفس‬
ILMU JIWA – PSIKOLOGI ‫ثقافة الداعي‬
WAWASAN DA’I
‫علم الجغرافية‬
GEOGRAFI – ILMU BUMI

‫علم الخلق‬
ILMU AKHLAQ

‫علم المجتمع‬
SOSIOLOGI – ILMU KEMASYARAKATAN

‫علم السياسة‬
ILMU POLITIK

‫لغة القوم‬
BAHASA DAERAH – LOKAL

‫علم مقارنة الديان‬


ILMU PERBANDINGAN AGAMA
BAB IV
‫ثقافة الداعي‬
WAWASAN SEORANG DA’I

Ada ungkapan yang mengatakan :

‫ه‬J‫ي‬K‫ط‬J‫يع‬P ‫ل‬
H K‫ء‬J‫ي‬N‫ الش‬P‫د‬K‫اق‬H‫ف‬
Yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu.
Seorang da’i yang lemah spirit dan kurang wawasannya, disamping ia tidak bisa
mempengaruhi dirinya, lebih berat lagi memberikan pencerahan pada tataran
obyek dakwah (mad’u). Seorang da’i/da’iyah yang adalah diterjunkan untuk
manusia (ukhrijat linnas), maka ia dituntut memiliki bekal ilmu (zaadul ilmi)
yang membantunya dalam memahami seluk-beluk, karakter dasar manusia dari
masa ke masa.
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka.”
(al-Hadits).
Orang lain mempersepsikan sesuatu kepada kita, tergantung kepada strategi
pencitraan kita. Jika kita berhasil meyakinkan orang dengan citra diri kita, maka
hal ini adalah pendukung utama dalam kesuksesan misi dakwah yang kita bawa.
Inilah kendala yang terbesar dalam dakwah. Jika kita meneliti semua referensi
tentang fiqh dakwah dan harakah, maka yang dijadikan fokus perhatian dalam
garapan dakwah adalah da’i itu sendiri, bukan massa yang akan direkrutnya.
Kepribadian da’i memiliki magnit (daya tarik) dan atsarun fa’aal (pengaruh
yang signifikan) dalam mempengaruhi orang lain.
Dukungan vertikal dan horizontal (akar rumput) kepada da’i tergantung kualitas
hubungan (ittishal) da’i kepada keduanya. Jika kita dekat kepada Allah, Dia
akan menolong kita dan meneguhkan langkah-langkah kita. Demikian pula jika
kita berhasil menanamkan kebaikan, birr, ma’ruf di benak publik, mereka akan
mendukung kita minimal lewat do’anya. “Sesungguhnya kalian ditolong oleh
orang-orang lemah diantara kamu” (al-Hadits). Orang tidak sekedar melihat
idealisme kita, tetapi sejauhmana kualitas cara-cara kerja Islam kita (amal
Islami) kita dalam realitas kehidupan. Orang menilai kita terhadap apa yang
bisa kita berikan dan peran apa yang bisa dimainkan kepada mereka.
Menurut Muhammad Abduh, dalam Tafsir al-Manaar, ada 11 bidang ilmu
pengetahuan (tsaqafah) yang perlu dikuasai oleh seorang da’i dalam
melaksanakan tugas dakwah. Dengan pengetahuan luas akan mendukung
keberhasilannya dalam mengantisipasi berbagai kendala (tribulasi) yang
ditemukan di medan dakwah.
Pertama, al-Quran, al-Hadits & Sirah Nabi.
Seorang da’i dituntut menguasai dengan sempurna kemana ummat ini akan
dibawa. Ia harus faqih terhadap buku induk dakwah, yaitu al-Quran dan al-
Hadits. Kemudian, ia harus mengetahui pula tangan pertama yang menerima,
memberikan interpertasi dan mengaplikasikan al-Quran; mengetahui sunnah
Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam; memahami sejarah perjuangan beliau
dan para sahabatnya yang utama (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhum); mengetahui sejarah kehidupan pengikut beliau
yang setia untuk dijadikan contoh (lit-ta’assi). Setelah para sahabat meninggal,
adalah generasi Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, setelah itu para fuqaha’. Jika
fuqaha’ tidak ada maka kita mencontoh ulama’ ‘amilun (para ulama yang
mengamalkan ilmunya untuk tegaknya syari’at).
Kedua, Ilmu Ethnologi.
Ilmu pengetahuan ini adalah wawasan tentang keadaan obyek dakwah (mad’u).
Disini mencakup iklim, pengalaman, kebiasaan, pendidikan mereka. Ketika
Rasulullah meninggal, para sahabat berselisih dalam menentukan siapa yang
berhak menggantikan beliau (khalifah). Setelah dua hari mengadakan rapat
secara maraton, akhirnya disepakati Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah
shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Sekalipun semula ada suara yang menentang
pilihan itu, tetapi pada akhirnya semua golongan dan etnis menerima sahabat
yang digelari ash-Shiddiq itu.
Semuanya mengetahui bahwa sahabat senior yang menemani Nabi di Gua Tsur
itu memahami secara mendalam adat istiadat semua kabilah Arab. Abu Bakar
tidak sekedar hafal nama-nama mereka, tetapi memahami perbedaan perangai
mereka secara mendetail. Seperti perumpamaan kita sekarang, mengetahui
watak orang Batak, Minangkabau, Sunda, Jawa, Bugis, Banjar, dll.
Ketika timbul pemberontakan di mana-mana, sehingga beberapa orang daerah
yang jauh menyatakan lepas dari komando pusat pemerintahan, dan
mendakwakan dirinya sebagai Nabi sepeninggal Rasulullah, yaitu Musailamah
al-Kadzdzab, al-Aswad al-‘Ansi, Sajjah binti al-Harits dan Malik bin Nuwairah.
Abu Bakar dengan berani dan tegas memadamkan api pemberontakan itu,
sekalipun Umar bin al-Khaththab yang dikenal pemberani itu masih maju-
mundur. Wawasan Abu Bakar tentang etnologi (ilmu etnis) suku-suku Arab itu
yang mendukungnya, sehingga berhasil meredam gejolak itu dengan sukses.
Beliau mengerti kabilah mana yang harus ditundukkan dengan paksa, diplomasi
dan gertak sambal. Ini dalam dakwah dikenal dengan ilmu etnologi.
Ketiga, Ilmu Sejarah.
Seorang da’i harus mengetahui secara global sumber ilmu sejarah. Dari mana
munculnya kerusakan akhlaq, adat istiadat yang mengotori kecerdasan berfikir
setiap bangsa. Mengapa suatu bangsa itu maju berkembang, kemudian
tenggelam ditelan oleh zaman. Al-Qur’an sering mengungkapkan sejarah timbul
dan tenggelamnya ummat sebelum kita.
Keempat, Ilmu Jiwa.
Ilmu ini penting untuk menghadapi kondisi kejiwaan seseorang atau kelompok.
Seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain hanya menonjolkan
ilmu tanpa mendalami kejiwaannya akan menemui kegagalan.
Seorang professor di Perguruan Tinggi belum tentu berhasil mengajar orang
yang buta budaya dan buta aksara. Ia mungkin wawasannya luas, tetapi belum
tentu mengetahui kondisi pendengarnya. Dengan mengetahui heterogenitas
obyek dakwah, seorang da’i akan menyampaikan misi dan visinya dengan tepat,
bijaksana. Itulah sebabnya dikatakan, “Ceramailah manusia sesuai dengan
kadar pemikirannya.”
Kelima, Ilmu Bumi.
Seorang da’i akan merintis dakwah di lokasi tertentu, sudah tentu ia harus
mengetahui peta dakwah yang akan menjadi garapan dan lahan dakwanya. Ia
harus mengetahui secara garis besar tata kota medan dakwah yang akan
diterjuni. mengetahui mana sungai dan pegunungannya, bagaimana tabiat dan
iklimnya. Berbekal pengetahuan ini para sahabat dahulu bisa berhasil dalam
penaklukan beberapa negeri (futuhatul bilad).
Imam Syafi’i berubah fatwanya setelah pindah dari Baghdad ke Mesir, karena
perbedaan kondisi secara keseluruhan kedua negeri itu. Pengaruh sungai,
padang pasir, adat istiadat, sehingga fatwa di tempat tinggalnya yang pertama
tidak berlaku di kediamannya yang baru. Oleh karena itu, beliau dikenal
mempunyai Qaul Qadim (fatwa lama) dan Qaul Jadid (fatwa baru). Sebab,
keadaan di Irak berbeda dengan kondisi di Mesir.
Keenam, Ilmu Akhlaq.
Ilmu akhlaq ini mengupas tentang perbuatan yang tercela dan terpuji. Tetapi
akhlaq ini tidak sebatas pengetahuan tetapi perlu diperagakan di medan
kehidupan. Keteladan da’i lebih banyak menolong keberhasilannya dari pada
wawasannya. Sekalipun ilmu seorang da’i sundhul langit (setinggi langit), tetapi
tidak dibarengi dengan akhlaq yang baik, ilmu itu akan menjadi bumerang
baginya (hujjatun ‘alaihi). Banyak da’i yang gagal karena persoalan budi
pekerti. Sebab, pendapat umum (public’s opinion) mengatakan bahwa penyeru
kebaikan itu terkesan tidak boleh salah. Da’i harus lebih baik dari pada mud’u-
nya. Sekali lancung ke ujian, selamanya orang tidak akan percaya lagi,
meminjam pepatah Bahasa Indonesia.
Ketujuh, Ilmu Sosiologi.
Ilmu masyarakat adalah suatu bidang ilmu pengetahuan yang hidup dan selalu
mengalami perkembangan yang dinamis. Sebab ia mengkaji dan menyelidiki
sebab-sebab kemajuan dan kemunduran suatu bangsa; timbul tenggelamnya
masyarakat dari masa nomaden (badawi) sampai menjadi masyarakat yang
berbudaya (madani); mengapa masyarakat berkembang, kemudian layu
sebelum berbuah. Ilmu sosiologi berkaitan erat dengan ilmu sejarah dan akhlaq,
bahkan bersumber dari keduanya.
Ada yang mengatakan bahwa sejarah itu akan berulang. Yakni perangai serta
tingkah laku manusia akan berulang. Orang-orang dahulu bisa jaya karena
komitmen dengan nilai-nilai moral, dan jatuh karena mengabaikan nilai
idealisme itu. Bapak sosiologi Islam adalah Ibnu Khaldun.
Kedelapan, Ilmu Politik.
Ilmu siyasah (politik) ini penting dikuasai seorang dai, untuk mengetahui di
zaman apa dia hidup. Ia akhirnya mempunyai sikap politik terhadap sistem
pemerintahan yang ada. Jika da’i buta politik, akan menjadi korban politik dari
para politikus. Oleh karena itu materi dakwah yang disampaikan Rasulullah di
Makkah berbeda dengan di Madinah. Dalam Islam dikenal dengan fase
Makiyah dan fase Madaniyah.
Kesembilan, Lughatul Qaum (bahasa obyek dakwah).
Menguasai bahasa daerah tempat berdakwah diperlukan supaya dapat
menyelami lubuk jiwa yang mempunyai bahasa tersebut. Bagaimanapun ‘alim-
nya seseorang tetapi tidak mengetahui bahasa pendengarnya bagaikan orang
yang bisu. Sehingga kamunikasi antara keduanya tidak lancar.
Orang Arab mengatakan, “Barangsiapa yang mengetahui bahasa kaum,
niscaya ia terlepas dari makar-nya.”
Kesepuluh, Ilmu Kesenian dan Kebudayaan.
Pengetahuan akan seni dan budaya obyek dakwah akan membekali seorang da’i
untuk tidak bersikap isti’jal (gegabah) dalam menentukan hukum seni dan
budaya. Jika persoalan ini tidak dikuasai bisa saja ia menjadi tersudut dalam
pergaulan masyarakat hanya karena persoalan yang tidak prinsip. Ketidaktahuan
da’i dalam masalah kesenian dan kebudayaan setempat secara mendalam, bisa
jadi menjadi batu sandungan tersendiri dalam membangun keterbukaan dengan
mereka. Sehingga hanya persoalan sepele menjadi problem yang serius.
Kesebelas, Ilmu Muqaranatu al-Adyan (illmu perbandingan agama).
Mengetahui pokok-pokok perbedaan agama-agama di dunia ini penting, agar
wawasan da’i itu berkembang. Islam itu tidak dimonopoli satu madzhab dan
satu ummat saja, tetapi orang yang berbeda dengan kita juga merupakan lahan
dakwah yang strategis. Sesuai dengan karakteristik Islam yang kaffatan lin-nas
dan rahmatan lil-’alamin, maka seorang da’i harus memiliki persepsi bahwa ia
sesungguhnya ditugasi oleh Islam untuk mengajak ke semua lapisan etnis, suku,
bangsa, aliran.
Da’i tidak sekedar pemimpin ummat Islam, tetapi pemandu manusia semuanya
menuju jalan yang diridhai oleh Allah. Akhirnya, da’i itu akan sukses bergaul
tidak saja di masyarakat homogen, tetapi berhasil pula berinteraksi dengan
masyarakat yang heterogen dan pluralistik.
Dengan bekal ilmu tersebut seorang da’i akan luas pergaulannya, tidak
eksklusif. Kehadirannya diterima oleh semua unsur dan golongan di
masyarakat. Rasulullah sendiri berhasil menaklukkan hati masyarakat Arab,
karena sejak masa pemudanya mereka memberikan gelar kehormatan
kepadanya al-Amin (dapat dipercaya), setelah beliau memimpin proyek renovasi
Ka’bah karena serangan banjir.
Keluasan ilmu sangat mempengaruhi keberhasilan da’i dalam melaksanakan
tugas di medan dakwah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani bisa menaklukkan hati
penduduk yang mayoritas bromocorah karena keluasan ilmunya. Setiap
pertanyaan yang diajukan kepada beliau dijawab dengan jelas dan tuntas.
Jawaban yang beliau berikan menghilangkan keraguan mereka.
Wallahu a’lam bish-shawab.
δφ

PAKET VI .

‫رسالة الجماعة‬
Prinsip Jamaah


‫رسالة المامة والجماعة‬
‫‪PRINSIP IMAMAH & JAMA’AH‬‬

‫البيئة ‪ -‬القرى‬
‫‪Kawasan yang Islami‬‬ ‫العقيدة‬
‫‪AQIDAH‬‬

‫المة – أهل – الجندية‬


‫المطيعة‬
‫‪Umat – Penduduk – Prajurit‬‬
‫‪yang patuh‬‬ ‫المجتمع‬ ‫العبادة‬ ‫سورة الفاتحة‬
‫السلمي‬ ‫‪IBADAH‬‬

‫المامة ‪ -‬القيادة‬
‫‪Kepemimpinan‬‬

‫منهاج الحياة‬
‫الشريعة – القانون ‪-‬‬ ‫‪SISTEM KEHIDUPAN‬‬
‫الدستور‬
‫‪Syari’ah – Aturan main‬‬
BAB I
‫رسالة الجماعة‬
PRINSIP JAMAAH

Surat al-Fatihah ayat 1-7

‫م‬J‫و‬H‫ ي‬K‫ك‬K‫ل‬H‫ م‬. K‫م‬J‫ي‬K‫ح‬N‫ الر‬K‫ن‬H‫م‬J‫ح‬N‫ الر‬. H‫ن‬J‫ي‬K‫م‬H‫ال‬H‫ع‬J‫ ال‬S‫ب‬H‫ ر‬K‫ل‬K P‫د‬J‫م‬H‫ح‬J‫ ال‬. K‫م‬J‫ي‬K‫ح‬N‫ الر‬K‫ن‬H‫م‬J‫ح‬N‫ الر‬K‫ ال‬K‫سم‬ J K‫ب‬
‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫اط‬H‫ر‬K‫ ص‬. H‫م‬J‫ي‬K‫ق‬H‫ت‬J‫س‬P‫م‬J‫ ال‬H‫اط‬H‫ر‬S‫ا الص‬H‫ن‬K‫د‬J‫اه‬K . P‫ن‬J‫ي‬K‫تع‬H J‫نس‬H H‫اك‬N‫ي‬K‫إ‬H‫ و‬P‫د‬P‫ب‬J‫نع‬H H‫اك‬N‫ي‬K‫ إ‬. K‫ن‬J‫ي‬S‫الد‬
‫ن‬J‫ي‬S‫آل‬N‫ل الض‬
H H‫ و‬J‫م‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬K‫ب‬J‫و‬P‫ض‬J‫غ‬H‫م‬J‫ ال‬K‫ير‬J H‫م غ‬J K‫ه‬J‫ي‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫ت‬J‫م‬H‫نع‬J H‫أ‬
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-MU lah kami
menyembah dan hanya kepada-MU lah kami mohon pertolongan.Tunjukilah
kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat kepada mereka bukan jalan orang-orang yang Engkau
murkai, bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

Makna umum surat al-Fatihah


Jika al-Fatihah adalah pembuka kitab al-Qur’an (fatihatul Kitab), itu berarti
segala kandungan dan makna al-Qur’an telah terangkum di dalamnya. Tema
utama al-Qur’an berkisar pada masalah aqidah, ibadah, dan manhaj hayah
‘sistem kehidupan’. Dalam surat al-Fatihah dimulai dengan menyebut tema
aqidah, yaitu al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin, ar-rahmanir-rahim, maaliki
yaumid-diin. Selanjutnya yang kedua, bertemakan ibadah, yaitu iyyaka
na’budu wa iyyaka nasta’in. Serta ketiga, mempunyai tema manhaj hayah,
yaitu ihdina ash-shiraathaa al-mustaqim, dan shiraatha al-ladziina an’amta
‘alaihim ghairi al-maghdhuubi ‘alaihim wa laadh-dhaallin.
Pertama, al-Qur’an mengajak kepada aqidah, lalu ibadah dan selanjutnya
minhaj hayah. Dalam al-Fatihah kita dapatkan ketiga kandungan tema ini
datang secara berurutan sekaligus. Dalam ajaran Islam, tema aqidah bukan
semata-mata konsumsi otak, tetapi harus melahirkan hasil, berbekas,
diwujudkan dengan melaksanakan kewajiban. Ketika mengenal Allah memiliki
sifat rububiyah, rahmat, hisab, maka semua itu mengharuskan untuk beramal.
Bertolak dari sini, surat al-Fatihah dimulai dengan pujian kemudian
mengajarkan ibadah, meminta pertolongan, meminta hidayah agar selalu di atas
jalan lurus. Surat ini juga memperkenalkan Allah dan sifat rububiyah-Nya
sekaligus menunjukkan posisi kita, yaitu beribadah kepada-Nya. Poros gerak
ibadah itu ialah memuji Allah al-hamdulillah, beribadah kepada-Nya, meminta
pertolongan dan memohon agar konsisten berjalan di atas sistem yang
digariskan-Nya.
Inti ajaran Islam itu adalah ma’rifatullah. Allah memperkenalkan diri-Nya
sebagai Rabb (pendidik alam) dan Malik (pemilik), al-Mu’in (penolong) dan al-
Hadi (pemberi hidayah). Asas aqidah adalah iman kepada Allah (rabbul
‘alamin) dan hari akhir (maaliki yaumi ad-diin). Kemudian asas ibadah adalah
(iyyaka na’budu). Kata ganti iyyaka dikedepankan atas kerja, fi’il, tentunya
memberi konotasi hanya itu. Dan asas berjalan menuju Allah (thariq ilallah),
adalah teladan yang baik yang telah dicontohkan para Nabi, shiddiqin,
syuhada’, dan segenap orang shalih. Al-Fatihah juga secara eksplisit
memberikan isyarat kepada sumber penyimpangan, inhiraf, teladan jahat orang-
orang sesat.
Surat al-Fatihah dimulai dengan menyebut Dzat yang berhak menerima pujian,
serta penyifatan diri-Nya dengan sifat-sifat yang agung. Allah adalah pemilik
segala urusan yang agung, yang berhak dipuji, ditaati, dimintai pertolongan
dalam segala persoalan. Dzat yang khusus itu diajak dialog dengan sifat-sifat
terpuji dengan menyebut iyyaka ‘hanya kepada-Mu’ lah, wahai Pemilik segala
sifat mulia, ini kami menyembah dan meminta pertolongan.
Tema ibadah didahulukan atas isti’anah (memint tolong) karena mendahulukan
wasilah (ibadah) sebelum masuk wilayah isti’anah, memperbesar peluang
adanya pengabulan (ijabah). Kata isti’anah mencakup seluruh bentuk
pertolongan yang diinginkan Allah.
Ihdina adalah penjelasan dari permintaan ma’unah (pertolongan). Seakan-akan
manusia meminta hakikat pertolongan yang diinginkannya, yaitu jalan yang
lurus. Jalan yang lurus mustahil dapat terwujud tanpa pertolongan Allah.
Realisasi dari permohonan itu bisa didapatkan dengan ibadah. Tiada ibadah
tanpa ma’rifah. Ma’rifah yang tidak berorientasi pada penujuan segala pujian
kepada Allah adalah ma’rifah yang pincang. Bila seorang hamba mendapatkan
nikmat berkata al-hamdulillah. Jika merasakan goncangan membaca iyyaaka
na’budu wa iyyaka nasta’in.
Al-Fatihah menyebutkan dengan ungkapan jama’, “iyyaaka na’budu wa
iyyaaka nasta’in” serta “ihdina ash-shirath al-mustaqim”, ini menegaskan
prinsip seorang muslim wajib menjadi bagian dari jamaah kaum muslimin
dan bahwa tarbiyah Islamiyah dan dakwah Islamiyah (pada surat al-
Muddatsir) harus berbentuk tarbiyah jama’iyah.
Dan surat al-Fatihah ini menjelaskan dua jalan. Jalan orang yang diberi nikmat
dan jalan yang dimurkahi Allah dan tersesat. Allah telah menjelaskan orang-
orang yang telah diberi nikmat.

‫ن‬J‫ي‬K‫ح‬K‫ال‬N‫ال ص‬H‫ء و‬K ‫آ‬H‫د‬H‫الش¯ه‬H‫ و‬H‫ن‬J‫ي‬K‫يق‬J S‫د‬S‫ال ص‬H‫ و‬H‫ ن‬J‫ي‬S‫بي‬K N‫ الن‬H‫ ن‬K‫ م‬J‫ م‬K‫يه‬J H‫ل‬H‫ ع‬P‫ ا ل‬H‫ م‬H‫ع‬J‫ن‬H‫ أ‬H‫ين‬J K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ ع‬H‫ م‬H‫ ك‬K‫ئ‬H‫ل‬J‫و‬P‫أ‬H‫ف‬
(69 :‫)النساء‬
“Maka mereka itu akan tinggal bersama orang-orang yang telah diberi nikmat
oleh Allah, yang terdiri dari golongan Nabi, shiddiqin, para syuhada dan
orang-orang shalih.” (QS an-Nisa’ :69).
δφ

BAB II
MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAMI DENGAN SPIRIT AL-
FATIHAH

Kalau pada surat-surat sebelumnya, Allah mengenalkan diri-Nya dengan


“Rabb”; mengenalkan sifat dan perbuatan-Nya, maka pada surat Al-Fatihah ini
Allah mengenalkan diri-Nya dengan jelas, yaitu “Allah”. Nama Allah telah
mencakup nama Dzat-Nya dan perbuatan-Nya.
Allah disini meluruskan “Allah” yang diyakini masyarakat Jahiliyah. Kaum
musyrikin beranggapan bahwa Allah memiliki hubungan tertentu dengan Jin.

(158 : ‫ات‬Ò‫ا )الصاف‬³‫ب‬H‫نس‬H K‫ة‬N‫ن‬K‫ج‬J‫ ال‬H‫ن‬J‫بي‬H H‫ و‬P‫ه‬H‫ين‬J H‫ا ب‬J‫و‬P‫ل‬H‫ع‬H‫ج‬H‫و‬


“Dan mereka adakan (hubungan) keturunan antara Allah dan antara jin.” (QS
ash-Shaffat : 158).
Mereka juga beranggapan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita.

(40 : ‫ا )السراء‬³‫اث‬H‫ن‬K‫ إ‬K‫ة‬H‫ك‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫م‬J‫ ال‬H‫ن‬K‫ م‬H‫ذ‬H‫خ‬N‫ات‬H‫ و‬H‫ن‬J‫ني‬K H‫ب‬J‫ال‬K‫ ب‬J‫م‬P‫̄بك‬H‫ ر‬J‫م‬P‫اك‬H‫ف‬J‫ص‬H‫أ‬H‫ف‬H‫أ‬


“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang
Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan diantara para malaikat.” (QS al-
Isra’ : 40).
Mereka juga menganggap bahwa mereka tidak bisa berkomunikasi langsung
kepada-Nya sehingga para malaikat dan berhala-berhala perlu disembah sebagai
perantara antara manusia dengan Allah.

: ‫ى )الزمر‬H‫ ف‬J‫ل‬P‫ ز‬K‫ ا ل‬H‫لى‬K‫ا إ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ب‬S‫ر‬H‫ق‬P‫ي‬K‫ ل‬N‫ل‬K‫ إ‬J‫ م‬P‫ده‬P P‫ب‬J‫نع‬H ‫ا‬H‫ م‬H‫آء‬H‫ي‬K‫ل‬J‫و‬H‫ أ‬K‫ ه‬K‫ن‬J‫دو‬P J‫ ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ذ‬H‫خ‬N‫ ات‬H‫ي ن‬J K‫ذ‬N‫ال‬H‫و‬
(3
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS az-Zumar : 3).
Pada surat al-Fatihah ini Allah secara jelas mendelegasikan sebagian tugas-Nya
kepada manusia sebagai wakil-Nya untuk mengelola alam raya (rabbul
‘alamin). Jadi posisi kita pada surat ini dilegalkan membawa nama (asma) dan
sifat (simah) Allah. Bismillahirahmanirrahim.
Dengan pendelegasian sebagian tugas kekhalifahan ini, manusia sebagai hasil
tarbiyah dan da’wah diarahkan oleh sebuah kepemimpinan untuk membumikan
pesan-pesan langit pada realitas kehidupan. Aspek sosial, politik, ekonomi,
sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.
Karena yang ditekankan al-Qur’an bahwa disamping manusia tercelup (ter-
shibghah) dengan al-Qur’an (ahl), juga perlu diwujudkan nilai luhur itu dalam
sebuah kawasan (al-qaryah). Sehingga bumi ini dihuni oleh hamba yang
menjadikan Allah sebagai Tuhan. Inilah yang disebut dengan lingkungan yang
Islami (al-bi’ah al-Islamiyah).
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang melaksanakan Islam, secara aqidah
dan ibadah, secara syariat dan sistem, secara budi pekerti dan tingkah laku.
Kebalikannya adalah masyarakat jahili. Masyarakat Islami tidak sekedar
komunitas yang menamakan dirinya Islam sedangkan syariat Islam tidak
merupakan hukum di dalamnya, sekalipun ia shalat, berpuasa, zakat dan
melakukan ibadah haji. Bukan pula yang menciptakan suatu jenis Islam khusus
untuk dirinya sendiri selain dari ketetapan Allah Yang Maha Suci dan
diterjemahkan oleh sunnah Nabi.
Masyarakat jahili adalah masyarakat yang menjadikan Allah tidak berdaulat di
bumi, sekalipun secara ritual disembah secara rutin. Jika Allah hanya berkuasa
di langit dan tidak diberi wewenang untuk mengatur bumi yang nota-bene
milik-Nya, adalah bentuk lain masyarakat jahili.

(84 : ‫̂ه )الزخرف‬H‫ل‬K‫ إ‬K‫ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫في‬H‫̂ه و‬H‫ل‬K‫ إ‬K‫آء‬H‫م‬N‫ الس‬K‫ي في‬


J K‫ذ‬N‫و ال‬H P‫ه‬H‫و‬
“Dialah (Allah) yang menjadi Tuhan di langit dan bumi.” (QS az-Zukhruf : 84)

(40 : ‫ )يوسف‬P‫م‬S‫ي‬H‫ق‬J‫ ال‬P‫ن‬J‫دي‬S ‫ ال‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ ذ‬P‫اه‬N‫ي‬K‫ إ‬N‫ل‬K‫ا إ‬J‫و‬P‫بد‬P J‫ع‬H‫ل ت‬


N Ò‫ أ‬H‫ر‬H‫م‬H‫ أ‬K‫ل‬K ‫ل‬
N K‫ إ‬P‫م‬J‫ك‬P‫ح‬J‫ ال‬K‫ن‬K‫إ‬
“Hukum itu hanyalah kepnyaan Tuhan. Ia telah memerintahkan kepada kamu
agar jangan menyembah orang lain selain Ia sendiri. Itulah agam yang lurus.”
(QS Yusuf : 40).
δφ
BAB III
UNSUR-UNSUR MASYARAKAT ISLAMI

Ada beberapa komponen penting yang menjadi persyaratan terwujudnya


masyarakat Islami.
Pertama, kawasan, wilayah, teritorial yang kondusif (al-bi’ah, al-qura).
Lingkungan yang kondusif sangat mendukung terlaksananya ajaran Islam.

(97 : ‫ا )النساء‬H‫ه‬J‫ي‬K‫ا ف‬J‫و‬P‫ر‬K‫اج‬H‫ه‬P‫ت‬H‫ ف‬³‫ة‬H‫ع‬K‫اس‬H‫ و‬K‫ ال‬P‫ض‬J‫ر‬H‫ أ‬J‫ن‬P‫تك‬H J‫م‬H‫ل‬H‫ا أ‬J‫و‬P‫ال‬H‫ق‬


“Bukankah bumi Allah itu luas, kemudian kalian berhijrah di dalamnya.” (QS
an-Nisa’ : 97).
Kedua, ummat (al-ummah, ahl).

‫ر‬H‫ك‬J‫ن‬P‫م‬J‫ ال‬K‫ ن‬H‫ ع‬H‫ ن‬J‫و‬H‫نه‬J H‫ي‬H‫ و‬K‫ ف‬J‫و‬P‫ر‬J‫ع‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫م‬J‫أ‬H‫ي‬H‫ و‬K‫ر‬J‫ي‬H‫خ‬J‫ ال‬H‫لى‬K‫ إ‬H‫ ن‬J‫و‬P‫دع‬J H‫̂ة ي‬N‫م‬P‫ أ‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ م‬J‫ ن‬P‫ك‬H‫ت‬J‫ل‬H‫و‬
(104 : ‫)آل عمران‬
“Hendaklah diantara kamu segolongan yang mengajak kebaikan dan
melarang kemungkaran.” (QS Ali Imran : 104).

‫ )آل‬K‫ر‬H‫ك‬J‫ن‬P‫م‬J‫ ال‬K‫ ن‬H‫ ع‬H‫ ن‬J‫و‬H‫نه‬J H‫ت‬H‫ و‬K‫ ف‬J‫و‬P‫ر‬J‫ع‬H‫م‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫ ن‬J‫و‬P‫ر‬P‫م‬J‫أ‬H‫ ت‬K‫ا س‬N‫لن‬K‫ ل‬J‫ ت‬H‫ج‬K‫ر‬J‫خ‬P‫ أ‬m‫ة‬N‫م‬P‫ أ‬H‫ر‬J‫ي‬H‫ خ‬J‫ م‬P‫ت‬J‫ن‬P‫ك‬
(110 : ‫عمران‬
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS Ali Imran : 110)

(143 : ‫ا )البقرة‬³‫ط‬H‫س‬H‫ و‬³‫ة‬N‫م‬P‫ أ‬J‫م‬P‫اك‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬H‫ك‬K‫ل‬H‫ذ‬H‫ك‬H‫و‬


“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan.” (QS al-Baqarah : 143)
Ketiga, syariat (asy-syari’ah, aturan).

(18 : ‫ا )الجاثية‬H‫ه‬J‫بع‬K N‫ات‬H‫ ف‬K‫ر‬J‫م‬H‫ل‬J‫ ا‬H‫ن‬K‫ م‬m‫ة‬H‫ع‬J‫ي‬K‫ر‬H‫ى ش‬H‫ل‬H‫ ع‬H‫اك‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ع‬H‫ ج‬N‫م‬P‫ث‬


“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari
urusan (agama), maka ikutilah dia.” (QS al-Jatsiyah : 18)

(105 : ‫ )النساء‬P‫ ال‬H‫اك‬H‫ر‬H‫آ أ‬H‫بم‬K K‫اس‬N‫ن الن‬


H J‫ي‬H‫ ب‬H‫م‬P‫ك‬J‫ح‬H‫ت‬K‫ ل‬S‫ق‬H‫ح‬J‫ال‬K‫ ب‬H‫اب‬H‫ت‬K‫ك‬J‫ ال‬H‫ك‬J‫ي‬H‫ل‬K‫ا إ‬H‫ن‬J‫ل‬H‫ز‬J‫ن‬H‫ا أ‬N‫ن‬K‫إ‬
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah
Allah wahyukan kepadamu.” (QS an-Nisa’ : 105)
Keempat, kepemimpinan (al-imamah).
Ummat yang telah terbina dengan dakwah dan tarbiyah perlu dikelola, dipandu,
dan diarahkan oleh sebuah kepemimpinan. Diawali dari kepemimpinan yang
bersifat mikro (al-imamah ash-shughra), menuju kepemimpinan yang bersifat
makro (al-imamah al-kubra). Keduanya harus sama-sama diprioritaskan. Tidak
boleh dipisahkan. Kepemimpinan mikro seharusnya melahirkan kepemimpian
makro. Jika keduanya dipisahkan, akan masuk pada perangkap sekulerisme.

Tugas Kepemimpinan Islam


a) Memakmurkan (i’mara) dan mengatur urusan keduniaan (siyasatud dunya)
b) Melaksanakan syariat, memelihara agama (hirasatud din)
Dua tugas yang bersifat keagamaan (diniyah) dan sekaligus keduniaan (dun-
yawiyah). Menegakkan qadha’ syar’i dan qadha’ kauni adalah amanah dan
taklif (tugas) kekhalifahan dari Allah. Ini adalah kebutuhan primer kemanusian
(dharurah basyariyah), dan tuntutan keagamaan (hajah syar’iyah). Jika tidak
dilaksanakan akan terjadi kekacauan, chaos (fitnah). Di dalamnya akan dihuni
oleh manusia hipokrit (split personality), munafik. Manusia yang rajin
beribadah mahdhah, tapi di luar masjid melakukan tindakan yang bertentangan
dengan isi doanya. Amanah kekhalifahan ini dijelaskan dalam firman Allah :

‫ا‬H‫ م‬H‫ ك‬K‫ ض‬J‫ر‬H‫ل‬J‫ ا‬K‫ ف ي‬J‫م‬P‫ه‬N‫ن‬H‫ف‬K‫ل‬J‫خ‬H‫ت‬J‫ س‬H‫ي‬H‫ ل‬K‫ات‬H‫ح‬K‫ال‬N‫وا ال ص‬P‫ل‬K‫م‬H‫ع‬H‫ و‬J‫ م‬P‫ك‬J‫ن‬K‫ا م‬J‫و‬P‫ن‬H‫م‬H‫ أ‬H‫ ن‬J‫ذي‬K N‫ ال‬P‫ ا ل‬H‫د‬H‫ع‬H‫و‬
‫د‬J‫بع‬H J‫ن‬K‫ م‬J‫م‬P‫ه‬N‫ن‬H‫دل‬S H‫يب‬P H‫ل‬H‫ و‬J‫م‬P‫ه‬H‫ى ل‬H‫ض‬H‫ت‬J‫ي ار‬K‫ذ‬N‫ ال‬P‫م‬P‫ه‬H‫ين‬J K‫ د‬J‫م‬P‫ه‬H‫ ل‬N‫نن‬H S‫ك‬H‫م‬P‫ي‬H‫ل‬H‫ و‬J‫م‬K‫ه‬K‫بل‬J H‫ ق‬J‫ن‬K‫ م‬H‫ن‬J‫ي‬K‫ذ‬N‫ ال‬H‫ف‬H‫ل‬J‫خ‬H‫ت‬J‫اس‬
(55 : ‫ا )النور‬³‫ئ‬J‫ي‬H‫ ش‬J‫ي‬K‫ ب‬H‫ن‬J‫و‬P‫ك‬K‫شر‬ J P‫ ي‬H‫ل‬H‫ و‬J‫ي‬K‫ن‬H‫ون‬J P‫د‬P‫ب‬J‫يع‬H ‫ا‬³‫ن‬J‫م‬H‫ أ‬J‫م‬K‫ه‬K‫ف‬J‫و‬H‫خ‬
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-
benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS an-Nuur : 55).

(165 : ‫ )النعام‬K‫ض‬J‫لر‬
H J‫ ا‬H‫ف‬K‫ئ‬H‫ل‬H‫ خ‬J‫م‬P‫ك‬H‫ل‬H‫ع‬H‫ي ج‬
J K‫ذ‬N‫و ال‬H P‫ه‬H‫و‬
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi.” (QS al-
An’am : 165).
Untuk membumikan amanah kekhalifahan, Allah telah membuat model struktur
yang Islami, bertugas mewujudkan kerajaan Allah (mulkiyatullah) di bumi
secara efektif dan efisien. Struktur yang baik dan berfungsi secara benar akan
mewujudkan kultur masyarakat yang baik. Dengan kultur yang baik, dilakukan
secara kolektif merupakan media yang fashih untuk perbaikan masyarakat
secara keseluruhan.
Dalam intitusi masyarakat yang paling kecil, jika pola kepemimpinan di
dalamnya tidak berfungsi dengan baik, maka tugas penegakan nilai-nilai Islami
dalam keluarga akan mengalami hambatan. Suami adalah qawwam (pemimpin)
dan anggota keluarga adalah sebagai makmumnya. Salah dalam penempatan
struktur ini akan terjadi fitnah (chaos).
Orang-orang yang mendampingi ulil amri adalah orang yang ahli dalam
memilah-memilih persoalan dan mencarikan solusinya. Disini harus diisi oleh
orang yang ‘alim pada bidangnya masing. Seperti dalam struktur shalat
jama’ah, di belakang imam adalah orang yang pandai (ulin nuha). Jika sewaktu-
waktu imam batal karena udzur syar’i, maka makmum di belakangnya pantas
segera menggantikannya.
Menjadi rakyat tanpa melalui seleksi, karena kita otomatis menjadi rakyat.
Sebaliknya seorang pemimpin itu hadir lewat seleksi yang ketat yang dilakukan
oleh sebuah komunitas tertentu. Jika dalam sebuah kelompok seseorang
memiliki kualitas yang lebih, tentu akan terpilih dengan sendirinya untuk
dijadikan wasit (penengah). Ibnu Khaldun mengatakan :

K‫ة‬H‫اد‬H‫ي‬K‫ق‬J‫ ال‬K‫ق‬P‫ل‬P‫ خ‬K‫ير‬J K‫ي‬J‫غ‬H‫ت‬K‫̂ع ل‬K‫اب‬H‫ ت‬K‫ة‬N‫م‬P‫ل‬J‫ ا‬K‫ق‬P‫ل‬P‫ خ‬P‫ير‬J K‫ي‬J‫غ‬H‫ت‬


Perubahan moralitas bangsa berbanding lurus dengan kesiapan untuk berubah
(menuju kebaikan) di kalangan elit.
Ada ungkapan yang mengatakan :

K‫ه‬K‫ك‬K‫ل‬H‫ م‬K‫ن‬J‫دي‬K ‫ى‬H‫ل‬H‫ ع‬P‫ة‬N‫ي‬K‫ع‬N‫الر‬


Agama rakyat tergantung kepada kualitas keagamaan rajanya.

ALLAH SWT
Al-Qur’an

RASULULLAH SAW
As-Sunnah

ULIL AMRI – ULAMA’ – AHLUL HALLI WAL ‘AQDI


Ad-Dustur – Al-Qanun

DIWAN AL-‘IMARAH
Dewan Tanfidziyah – Dewan Pelaksana

SIYASATUD DUN-YA WA HIRASATUD DIEN


Mengelola Dunia & Memelihara Agama

AL-UMMAH
Masyarakat

δφ
‫طاعة أولى المر‬
Menaati ulil amri

‫الحكم بما أنزل ال‬


Melaksanakan hukum Allah

‫الخوة بين المؤمنين‬


Ukhuwah sesama muslim

‫الشورى فى المور‬ ‫خصائص المجتمع‬


Musyawarah
‫السلمي‬
‫رد الختلف إلى أولى المر‬ KARAKTERISTIK
Mengembalikan putusan MASYARAKAT ISLAM
atas ikhtilaf kepada ulil amri

‫التواصى بالحق والصبر‬


Saling menasihati dengan
kebenaran & kesabaran
‫المعاهدة بين المؤمنين‬
‫والكفار‬
Membuat perjanjian mengatur
antara muslim & non-muslim
‫إعداد القوة‬
Terbangunnya struktur kekuatan
mengantisipasi ancaman
‫بسم ال‬
Membawa nama Allah – Harus yang terbaik

‫الحمد ل‬
Beraktifitas dengan penuh keikhlasan

‫رب العالمين‬
Bersifat universal

‫الرحمن الرحيم‬
Menebarkan kasih sayang

‫ملك يوم الدين‬


Berorientasi pada akhirat

‫إياك نعبد‬ KULTUR MASYARAKAT


Mengabdikan diri hanya kepada Allah SWT AL-FATIHAH

‫إياك نستعين‬
Mengharap bantuan hanya dari Allah SWT

‫اهدنا الصراط المستقيم‬


Berpedoman pada Manhaj Islami

‫صراط الذين أنعمت عليهم‬


Meneladani figur publik yang baik

‫عير المغضوب عليهم‬


Menghindari murka Allah SWT

‫ول الضالين‬
Menghindari kesesatan
BAB IV
PAKET AL-FATIHAH

Mayarakat Islami adalah komunitas yang tergambar dalam sebuah kawasan


(al-qura, al-bi’ah), didukung oleh ummat yang taat (al-jundiyah al-muthi’ah,
ahlu), dipandu oleh kepemimpinan (al-qiyadah, al-imamah), dengan aturan
main dari al-Qur’an, untuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi; agar rahmat
Islam menyebar kepada semua yang berhak (kaffatan linnaasi wa rahmatan lil
‘alamin).
Bismillah, ‘dengan membawa nama Allah’. Rabbul ‘alamin dan Maliki
yaumiddin, ‘menegakkan amanah kekhalifahan untuk mengelola dunia dan
menjaga agama’. Shirat al-mustaqim, ‘al-manhaj ar-rabbani yakni al-Qur’an
dan Sunnah Rasul’. An’amta ‘alaihim, ‘para Nabi, shiddiqun, syuhada’,
shalihun diatas manhaj rabbani’. Al-magdhub ‘alaihim dan adh-dhaallin,
‘diatas manhaj jahili’.

Tafsir al-Fatihah
Bismillah, ‘dengan asma Allah’, minallah, billah, ilallah (dari Allah, dengan
cara Allah, menuju Allah). Al-hamdulillah, ‘ketulusan niat’. Rabb, ‘merawat,
mendidik, mengembangkan, meningkatkan kualitasnya’. Ar-Rahman, ‘kasih
kepada seluruh makhluq’. Ar-Rahim, ‘sayang kepada orang-orang mukmin’.
Malik, ‘hak menghalalkan dan mengharamkan’. Yaumuddin, ‘Hari kiamat,
pembalasan’. Iyyaka na’budu, ‘al-ibadah, semua aktifitas lahir dan batin yang
diridhai dan dicintai Allah’. Iyyaka nasta’in, ‘mohon pertolongan Allah’.
Ihdinash shirat al-mustaqim, ‘petunjuk, arahan, bimbingan’. Shirat al-
mustaqim, ‘jalan yang lurus, tidak ada penyimpangan syubhat dan syahwat di
dalamya, yakni al-Islam, al-Qur’an, al-Hadits atau al-Manhaj al-Islami’. Shirat
alladzina an’amta ‘alaihim, Nabi, shiddiqun, shalihin, syuhada’, berada pada
manhaj Islami’. Ghoir al-maghdhubi ‘alaihim wa laa adh-dhaallin, ‘Yahudi,
Nasrani, berada pada manhaj jahili.’

Karakteristik masyarakat Islami


1. Otoritas kekuasaan Ulil Amri dari orang-orang beriman (tha’atu ulil amri).
(QS an-Nisaa’ : 59).
2. Otoritas kekuasaan melaksanakan hukum Allah (al-hukmu bima anzala-
llaahu) (QS al-Maidah : 49).
3. Terjalinnya ukhuwah Islamiyah antara sesama muslim (al-ukhuwwatu
bainal muslimin) (QS al-Hujurat : 15).
4. Bermusyawarah dalam memecahkan persoalan (asy-syura fii al-umur) (QS
asy-Syura : 38).
5. Lembaga kepemimpinan memutuskan masalah kontroversial (raddul
ikhtilaf ilaa ulil amri) (QS an-Nisa’ : 83).
6. Saling menasehati dengan kebenaran dan sabar (at-tawashi bil haqqi wa bi
ash-shabr) (QS al-‘Ashr : 3)
7. Membuat perjanjian yang mengatur hubungan antara muslim dan non
muslim (al-mu’ahadah bainal muslimin wal kuffar) (QS al-Fath : 29; al-
Maidah : 54).
8. Terbangunnya struktur kekuatan dalam menghadapi berbagai ancaman
(i’dadul quwwah) (QS al-Anfal :60)

Kultur (budaya) masyarakat Al-Fatihah


Bismillah – Membawa nama Allah, dituntut beramal yang memiliki kualitas
excellent.
Al-hamdulillah – Beraktifitas dengan penuh keikhlasan.
Ar-Rahman ar-Rahim – Menebarkan rahmat dan kasih sayang.
Rabbul ‘alamin – Bersifat universal.
Maliki yaumiddin – Berorientasi pada akhirat.
Iyyaka na’budu – Mengabdikan diri hanya kepada Allah.
Iyyaka nasta’in – Mengharap bantuan Allah.
Ihdinash shirathal mustaqim – Berpedoman pada manhaj ilahi.
Shiratha alladzina an’amta ‘alaihim – Meneladani orang-orang yang baik.
Ghoiril maghdhubi ‘alaihim – Menjauhi murka Allah
Wala adh-Dhaallin – Menjauhi kesesatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.


δφ
SINOPSIS TAHAPAN TURUNNYA AL-QURAN DALAM GERAKAN

Tujuan Perubahan Tahapan Perubahan Langkah Perubahan Nama Surat


‫اهداف التحويل‬ ‫مراتب التحويل‬ ‫اعمال التحويل‬ ‫اسم السورة‬
Sosialisai & pembekalan ilmu, Tabligh (at-tabligh) Dari kebodohan menuju ma’rifat Al-‘Alaq
wawasan (al-i’laam, tazwidul (minal jahalati ila al-ma’rifah) Ishlahun nafsi (memperbaiki diri)
‘ulum wa ats-tsaqafah)
Pembekalan Manhaj Qurani At-ta’lim (pengajaran) Dari ma’rifat menuju Fikrah Qur’ani Al-Qolam
(tarbiyah Qur’aniyah) (minal ma’rifah ila al-fikrah al-Qur’ani) Ishlahu al-bait (memperbaiki
rumah tangga)
Menggerakkan ibadah secara Pembentukan (screening) kader Dari fikrah menuju pemberdayaan Al Muzzamil
istiqomah (at-tahridh ‘ala (takwinur rijal) ruhani (minal fikrah ila at-tarbiyah ar- Irsyadul mujtama’ (membimbing
al-‘ibadah al-mustamirrah) ruhiyah) ummat), sab-han thawilan
Merapikan shaf (tauhid ash- Penataan (tanzhim) Dari tazkiyah menuju harakah Al-Muddatsir
shaff), mengatur kinerja (tansiq dakwah (minat tazkiyah ila al- Ishlahul hukumah (memperbaiki
al-amal), evaluasi gerakan harakah) pemerintahan yang ada)
(riqobat al-‘amal), lewat syura,
mu’tamar, dll.
Pelaksanaan kehidupan Islami Pelaksanaan (tanfidz), Dari gerakan dakwah menuju Al Fatihah
dalam segala aspeknya (tanfidzu munculnya ahli pada bidang masyarakat Islami (min al-harakati ila Iqomatu ad-daulah (menegakkan
al-hayat al-Islamiyah fi nawaahi masing-masing; ekonom, al-mujtama’ al-Islami), intervensi kerajaan Allah di bumi)
al-hayat); Memulai program surat pendidik, politikus, intelijen, kepada kekuasaan yang ada
adh-Dhuha dan kelengkapan ulama, zu’ama (menjadi anggota legislatif)
infra strukturnya, sehingga kelak
menegara.
DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shabuni, Muhammad Ali. Shafwatut Tafasir. Tanpa tahun. Darul Kutub Al


Islamiyah, Jakarta.
Ahjad, Ustadz Najih, At-Tibyan Fi Al-Ahkam Al-‘Amaliyah, Ponpes Maskumambang,
Gresik.
Ahmad Karzun, Dr. Anis. Adab Thalibil ‘Ilmi, Dar Nurul Maktabah, Jeddah.
Al-Ghazali, Syekh Muhammad. ‘Aqidatu Al-Muslim. Al-Maktabah Al-Faishaliyah.
Al-Ghazali, Syekh Muhammad. Jaddid Hayatak, Darul Fikr, Beirut.
Al-Jazairi, Syekh Abu Bakar Jabir. ‘Aqidatul Mukmin, Darul Fikr, Beirut.
Al-Jazairi, Syekh Abu Bakar Jabir. Minhajul Muslim, Darul Fikr, Beirut.
Al-Maqdisi, Al-Hasani, Fathurrahman Li Thalibi Ayat Al-Qur’an. Maktabah Dahlan,
Indonesia.
Al-Qardhawi, Dr. Yusuf. Madkhal Li Dirasati Asy-Syari’ati Al-Islamiyyah, Maktabah
Wahbah, Kairo.
Al-Qardhawi, Dr. Yusuf. Tarbiyah Hasan Al-Banna dalam Jama’ah Al-Ikhwan Al-
Muslimun, Rabbani Press.
Al-Qaththan, Manna’ Khalil. Mabahits Fi ‘Ulum Al-Qur’an. Mansyurat Al-‘Ashr Al-
Hadits. Beirut.
Al-Wasyli, ‘Abdullah bin Qasim, Syarah Ushul ‘Isyrin, Menyelami Samudera 20
Prinsip Hasan Al-Banna, Era Intermedia, Solo.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali. Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. Darul Fikr. Beirut,
Libanon.
Az-Zubi, Mahmud. Hal Satasquthu Amrika Kama Saqathat As Suviyeti.
Bin Hasan bin ‘Aqil bin ‘Aqil Syarif, Shalih Tak Berdayaguna, Rabbani Press. Jakarta.
Bin Muhammad Al-Buraikan Abdullah Al Buraikan, Dr. Ibrahim. Al-Madkhal Li
Dirasati Al-‘Aqidah Al-Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah Wal Jama’ah.
HAMKA, Prof. Dr. Pelajaran Agama Islam. Bulan Bintang, Jakarta.
HAMKA, Prof. Dr. Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas. Jakarta.
Izzah Darwazah, Muhammad, At-Tafsiru Al-Hadits, Assuwaru Murattabah Hasban
Nuzul. Darul Ihya Lil Kutubi Al-‘Arabiyyah, Isa Al-Babi Al-Halabi wa syirkaahu.
Qardhawi, Syekh Dr. Yusuf. Al-Mubasysyirat Bi-ntishari Al-Muslimin.
Quthub, Sayyid. Ma’alim Fi Ath-Thariq.
Rasyid, MA, Dr. Daud. Islam Dalam Berbagai Dimensi. Gema Insani Press. Jakarta.
Sabiq, Sayid. Fiqh As-Sunnah. Darul Fikr, Beirut
Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Oktober 2003. Sya’ban 1424 H.
Penerbit Lentera Hati.
Suar, Marwan bin Nuruddin. Mukhtashar Tafsir ath-Thabari. Darul Fikr. Beirut,
Libanon
Tahmid, Lc, Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Menuju Jama’atul Muslimin, Telaah Sistem
Jama’ah dalam Gerakan Islam, Rabbani Press.
Team Penulis, Panduan BerIslam, Departemen Dakwah, Dewan Eksekutif
Hidayatullah.
Thanthawi, Syekh Ali. Ta’rif ‘Am Bid Din Al-Islam. Darul Fikr, Beirut.
Yahya, Harun, Moralitas Al-Quran Solusi Atas Segala Persoalan Umat Manusia,
Rabbani Press. Jakarta.
Yahya, Harun, Pernahkah Anda Merenung Tentang Kebenaran, Robbani Press. Jakarta.
Yahya, Harun. Membongkar Kesalahan Faham Materialisme, Mengenal Allah Lewat
Akal. Rabbani Press. Jakarta.
Yakan, Fathi, Membongkar Jahiliah Meraih Sukses Berdakwah. Era Intermedia. Solo.

δφ