Anda di halaman 1dari 6

PITYRIASIS ALBA

PENDAHULUAN

Pitiriasis alba merupakan suatu penyakit kulit yang asimptomatik dengan ciri khas berupa
lesi kulit yang hipopigmentasi, penebalan, dan skuama dengan batas yang kurang tegas. Kondisi
seperti ini biasanya terletak pada daerah wajah, lengan atas bagian lateral, dan paha. Jika terkena
pada anak-anak biasanya lesinya menghilang setelah dewasa. Pitiriasis alba umumnya ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda dan sering didapatkan pada wajah, leher, dan bahu. 1,2 Lesi
menjadi jelas pada saat setelah musim panas dimana hanya pada bagian lesi, kulit tidak menjadi
gelap. Ukuran lesinya bervariasi namun biasanya rata-rata berdiameter 2 – 4cm. 1

Pitiriasis alba pertama kali ditemukan oleh Gilbert tahun 1860 dan digolongkan sebagai
penyakit bersisik pada saat ini pitiriasis alba digolongkan sebagai bentuk inflamasi dermatosis
dan mempunyai beberapa nama yang berbeda dengan melihat aspek klinis pada lesi. Nama-nama
yang sering digunakan adalah seperti pityriasis alba faciei danpityriasis alba simplex. 3

Meskipun pitiriasis alba bukan kasus serius, tapi penting dalam aspek kosmetik karena
sering mengenai pada wajah terutama pada mulut, dagu, pipi, serta dahi 3,4

EPIDEMIOLOGI

Di Amerika Serikat, pitiriasis alba umumnya terjadi sampai 5 % pada anak-anak, tetapi
epidemiologi yang pasti belum dapat dijelaskan. Pitiriasis alba umumnya terjadi pada anak-anak
yang berusia 3-16 tahun. Sembilan puluh persen kasus terjadi pada anak yang berusia lebih muda
dari 12 tahun. Sering juga terjadi pada orang dewasa. 4-8

Pitiriasis alba dapat terjadi pada semua ras, tetapi memiliki prevalensi yang tinggi pada
orang-orang yang memiliki kulit yang berwarna. Wanita dan pria sama banyak.4,5,7,13,15

ETIOLOGI

Sampai saat ini belum ditemukan adanya etiologi yang definitif walaupun beberapa usaha
telah dilakukan untuk menemukan adanya mikroorganisme pada lesi kulit. Namun dikatakan
juga biasanya pitiriasis alba seringkali didapat pada kulit yang sangat kering yang dipicu oleh
lingkungan yang dingin. 2,7

Pitriasis alba juga telah diketahui sebagai suatu manifestasi dari dermatitis atopik. 6.
Penelitian terakhir mengenai etiologi pitriasis alba yang dilakukan pada tahun 1992, dimana
Abdallah menyimpulkanStaphylococcus aureus merupakan elemen penting dalam menimbulkan
manifestasi klinis penyakit ini. Dia menemukan bakteri ini ada pada 34% dalam plak pitriasis
alba dan 64% pada rongga hidung pasien yang sama dan pada kelompok kontrol presentasinya
secara berurutan 4% dan 10%. Faktor lingkungan sepertinya sangat berpengaruh walaupun
mungkin bukan berupa agen etiologis langsung, paling tidak dapat memperburuk atau
memperbaiki lesi.3

PATOGENESIS

Dalam penelitian pada 9 pasien dengan pitiriasis alba yang luas, ditemukan densitas dari
melanosit yang normal berkurang pada daerah lesi tanpa adanya aktivitas sitoplasmik.
Melanosom cenderung lebih sedikit dan lebih kecil namun pola distribusi dalam keratinosit
normal. Hipopigmentasi utamanya diakibatkan oleh berkurangnya jumlah melanosit aktif dan
penurunan jumlah dan ukuran dari melanosomes pada daerah lesi kulit. Transfer melanosom di
keratinosit secara umum tidak terganggu. Gambaran histologis kurang spesifik. Hiperkeratosis
dan parakeratosis tidak selalu ada dan sepertinya tidak berperan penting dalam patogenesis dari
hipomelanosis. Beragam derajat jumlah edema dan sekret lemak intrasitoplasmik dapat terlihat.. 7

GAMBARAN KLINIS

Pitiriasis alba umumnya bersifat asimtomatis tetapi bisa juga didapatkan rasa terbakar dan
gatal.1,3,7 Secara klinis, pitiriasis alba ditandai oleh makula berbentuk bulat atau oval kadang
irregular yang pada awalnya berwarna merah muda atau coklat muda ditutupi dengan skuama
halus, yang kemudian menjadi hipopigmentasi. 6,13 Lesi biasanya multipel dengan diameter
bervariasi antara 0,5-2 cm dan dapat tersebar secara simetris. 6,10 Lesi pada umumnya didapatkan
pada daerah wajah ( sekitar 50-60 % kasus ) terutama pada daerah dahi, sekitar mata dan mulut.
Tetapi dapat juga ditemukan pada daerah yang lain seperti pada leher, bahu, ekstremitas atas
serta pada ekstremitas bawah.2,3,6,7,10

Secara klinis, pitiriasis alba bisa dibagi menjadi dua, yaitu :3

1. Bentuk lokal.

Bentuk yang sering ditemukan dan sering pada anak. Umumnya lesi didapatkan pada
daerah wajah. Bentuk ini memberikan respon yang baik dengan pengobatan.

2. Bentuk umum.


Jarang ditemukan dan sering pada usia remaja


Secara klinis bisa dibagi menjadi 2 varian, yaitu :


Idiopatik : ditandai oleh lesi nonsquamous  yang simetris berbatas tegas dan
berwarna putih di mana cenderung untuk merusak permukaan kulit pada
daerah tungkai dan lengan secara ekstensif. Varian ini memberikan respon
yang jelek dengan pengobatan.


Dengan riwayat dermatitis atopik : varian ini juga dikenali sebagai extensive
pityriasis alba yang ditandai dengan rasa gatal pada daerah lesi dan sering
didapatkan pada daerah antecubital, popliteal dan bisa mengenai seluruh
badan. Varian ini memberikan respon yang baik dengan pengobatan
kortikosteroid.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan adalah :

Pemeriksaan potassium hidroksida (KOH)3,7

Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan pitiriasis versikolor, tinea fasialis atau tinea
korporis

Pemeriksaan histopatologi dari biopsi kulit5,7,9

Pemeriksaan histopatologis dari biopsi kulit tidak banyak membantu karena tidak
patognomonik untuk menegakkan diagnosis.7 Pada pemeriksaan histopatologis
didapatkan : adanya akantosis ringan, spongiosis dengan hiperkeratosis dan parakeratosis
setempat, pigmentasi melanin yang irreguler pada lapisan basal kulit. Kadang ditemukan
pula kelenjar sebum yang atrofi.7,8,15


Pemeriksaan mikroskop elektron

Terlihat penurunan jumlah serta berkurangnya ukuran melanosom. 4

DIAGNOSIS

Diagnosis pitiriasis alba dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan


pemeriksaan penunjang. Biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia 3-16 tahun. 4,6

Pada pemeriksaan fisis didapatkan lesi berbentuk bulat, oval atau plakat tidak teratur. Warna
merah muda atau sesuai dengan warna kulit dengan skuama halus. Setelah eritema menghilang,
lesi yang dijumpai hanya depigmentasi dengan skuama halus. Bercak biasanya multipel 4 sampai
20 dengan diameter antara ½ - 2 cm. Dengan distribusi lesi pada wajah yaitu paling banyak di
sekitar mulut, dagu dan pipi.4,6

Pemeriksaan penunjang juga dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis pitiriasis alba, seperti
pemeriksaan potassium hidroksida (KOH), pemeriksaan histopatologi dari biopsi kulit,
pemeriksaan lampu wood,dan mikroskop elektron. Pada pemeriksaan potassium hidroksida
(KOH) tidak didapatkan hifa dan spora yang merupakan indikasi dari penyakit akibat jamur.
Pada pemeriksaan histopatologis hanya dijumpai adanya akantosis ringan, spongiosis dengan
hiperkeratosis sedang dan parakeratosis setempat. Pada pemeriksaan mikroskop elektron terlihat
penurunan jumlah serta berkurangnya ukuran melanosom. 4

DIAGNOSIS BANDING

Pitiriasis alba merupakan penyakit kulit yang bisa didiagnosis dengan gambaran klinis dan jarang
memerlukan konfirmasi tes laboratorium.Walaupun demikian, pitiriasis alba dapat didiagnosis
banding dengan :

1. Pitiriasis versikolor

Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada stratum korneum yang
disebabkan oleh jamur malassezia furfur.12,13

Gambar 2. Tampak makula hipopigmentasi pada daerah punggung.*

Makula secara tipikal sering terjadi pada punggung bagian atas dan dada tetapi
juga dapat terjadi pada lengan atas, leher dan wajah. 13,14. Pemeriksaan dengan lampu
Wood akan menunjukkan adanya fluoresensi berwarna kuning keemasan pada daerah
yang berskuama.3 Pemeriksaan KOH dari skuama penderita ini mengandung hifa dan
bentuk jamur dari malassezia furfur.7,10

2. Vitiligo
Vitiligo adalah gangguan autoimun progresif dapatan dengan gambaran klinis
makula berwarna putih, 7,12. Penyakit ini memiliki lokasi lesi pada tempat-tempat yang
tidak biasa pada pitiriasis alba.3 Wajah adalah lokasi yang sangat umum untuk vitiligo
tetapi distribusinya biasanya paling sering di sekitar mata atau mulut.7,10,11,12

Gambar 3. Makula hipopigmentasi berbatas tegas pada daerah wajah. *

Pada pemeriksaan lampu wood dan histopatologis didapatkan kehilangan pigmen


kulit yang menyeluruh dimana tidak didapatkan pada pitiriasis alba.3,7

3. Psoriasis

Psoriasis ialah penyakit autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan
adanya bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama di atasnya disertai
fenomena tetesan lilin, auspitz dan kobner.

Gambar 4. Tampak daerah berskuama dengan papul di daerah punggung.*

4. Depigmentasi postinflamasi,yang didiagnosis dengan riwayat klinis dari lesi inflamasi


pada tempat yang hipokromik.3

PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan yaitu mengeliminasi inflamasi dan infeksi, mengembalikan barier


stratum korneum dengan menggunakan emolient dan penggunaan bahan
antipruritus untuk mengurangi kerusakan pada kulit dan mengontrol faktor –faktor eksaserbasi.1
Dengan penggunaan hidrokortison dan krim emolien dapat mengurangi eritema, skuama
dan gatal. 7

Antibiotik juga dapat diberikan untuk mengatasi infeksi olehstaphylococcus


aureus seperti cephalexin, cefadroxil, dan dicloxacillin.

PROGNOSIS

Pitiriasis alba memiliki prognosis yang baik. Depigmentasi yang terjadi tidak permanen
dan biasanya sembuh spontan dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun. Durasi gejala
berbeda pada setiap individu. Pengobatan dapat mempersingkat durasi lesi sampai beberapa
minggu.3,5

KESIMPULAN

Pitiriasis alba adalah suatu bentuk dermatitis yang belum diketahui penyebabnya dan bersifat
asimptomatik. Makula berbentuk bulat atau oval kadang irregular yang pada awalnya berwarna
merah muda atau coklat muda ditutupi dengan skuama halus, yang kemudian menjadi
hipopigmentasi.

Penatalaksanannya untuk mengeliminasi inflamasi dan infeksi, mengembalikan barier stratum


korneum dengan menggunakan emolient dan penggunaan bahan antipruritus untuk mengurangi
kerusakan pada kulit dan mengontrol faktor –faktor eksaserbasi.

Prognosis Pitiriasis alba baik. Biasanya sembuh spontan dalam beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Durasi gejala berbeda pada setiap individu.