Ahmadiyah, Islam atau Bukan? Laporan: Kompas.com Senin, 14 Februari 2011 | 13:31 WITA TRIBUN-TIMUR.COM - Saat saya bertanya kepada intelektual muda Nahdatul Ulama Zuhaeri Misrawi, "Ahmadiyah itu Islam atau bukan?" Maka Misrawi yang lebih populer dengan panggilan Gus Mis ini hanya mengungkap bahwa Ahmadiyah adalah salah satu sekte dalam Islam yang muncul di Qadian dengan tokohnya Mirza Ghulam Ahmad. Dalam konstelasi Islam, Ahmadiyah memang unik. Di beberapa negara seperti di Arab dan Pakistan, pengikut Ahmadiyah dimusuhi secara terang-terangan. Bahkan di Pakistan, Ahmadiyah harus "keluar" dari Islam dan membentuk agama baru yang bernama Ahmadi. Sehingga jika kalangan Ahmadiyah di Pakistan hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus keluar dulu dari negara tersebut lantaran pemerintah setempat hanya memberi izin naik haji kepada yang beragama Islam sesuai yang tercantum di paspor. Namun, lantaran "dimusuhi" itulah, Ahmadiyah justru kerap menjadi perbincangan, dan nama kelompok ini pun salah satu mashab yang paling dikenal di dunia selain Suni di Irak dan Syiah di Iran. Kenapa Umat Islam Marah Kepada Ahmadiyah? Menurut mereka yang anti-ahmadiyah, faham Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam. Kalangan mainstream berpegang pada tafsir bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Maka siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi. Di antara inti persoalan ketegangan tersebut adalah QS : Al Ahzab ayat 40 berbunyi : "Maa kaana muhamadun abaa ahadin min rijalikum walakin rasullalahi wa khotamannabiyyin". Kalangan Islam mainstream menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki- laki dari kamu, tetapi dia adalah Rasullullah dan penutup nabi nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". Sementara Ahmadiyah menerjemahkannya, "Muhamad bukanlah bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan "Khatamanabiyyin". "Khatamanabiyyin" oleh pengikut Ahmadiyah diterjemahkan Nabi paling mulia dan nabi penutup yang membawa syariat. Friksi berikutnya adalah tentang Nabi Isa as. Umat Islam meyakini Isa tidak wafat, melainkan diangkat oleh Allah untuk kemudian diturunkan kembali di akhir zaman untuk memerangi musuh-musuh Islam. Qs: 4:157: dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya Kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi(yang mereka bunuh ialah) orang serupa dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) Isa, benar benar dalam keraguan tentang yang di bunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang di bunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Sedangkan Ahmadiyah meyakini, Isa atau Imam Mahdi yang dipersonifikasikan sebagai Mirza Ghulam Ahmad telah meninggal dan dikuburkan. Tentu saja, persoalan yang muncul tak sesederhana itu. Bahkan, dialog-dialog yang telah dilakukan di antara dua kelompok yang "bersengketa" itu pun hingga kini tak pernah menemukan jalan keluar yang melegakan semua pihak. Secara demografis, pergerakan Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke beberapa negara. Ahmadiyah mengaku memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Pada situs Ahmadiyah tertulis, saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. Jemaat ini membangun proyek-proyek sosial, lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, penerbitan literatur-literatur Islam dan pembangunan mesjid-mesjid. Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian di antara para pengikut agama yang berbeda. Menurut Ahmadiyah, gerakan ini sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran Al-Quran: "Tidak ada paksaan dalam agama" (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apapun untuk alasan apapun. Pergerakan ini menawarkan nilai-nilai Islami, falsafah, moral dan spiritual yang diperoleh dari Al-Quran dan sunnah Nabi Suci Islam, Muhammad saw. Beberapa orang Ahmadi seperti almarhum Sir Muhammad Zafrullah Khan (Menteri Luar Negeri pertama dari Pakistan; Presiden Majelis Umum U.N.O yang ke 17; Presiden dan Hakim di Mahkamah Internasional di Hague) dan Dr. Abdus Salam (peraih hadiah Nobel Fisika tahun 1979) telah dikenal karena prestasi dan jasa-jasanya oleh masyarakat dunia. Ahmadiyah Qadian dan Lahore Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip: 1. Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor), yakni kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru. 2. Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam. Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka: 1. Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan ahlussunnah wal-jama'ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. 2. Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. 3. Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun. 4. Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat. 5. Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar. 6. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi. 7. Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid. 8. Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir. 9. Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir. 10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW. Ahmadiyah di mata Ulama Islam Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad AlQadiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah Al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris Sementara, Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1835-1908M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1835M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik. Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris. Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya. Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908M. Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya. Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, At-Tabligh dan Tajliat Ilahiah Menurut para penentang Ahmadiyah, permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani, sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir, bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor. Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, maka pertama kali yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878M. Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid. Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan kusyufat tipuan yang ia alami. Sehingga orang-orang awam menilainya sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu saja. Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud. [Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25] Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880M, dengan judul Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya. Cerita tentang alam ghaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan kusyufatnya.(*) Tribun Timur Lebih Interaktif, Lebih Akrab Redaksi: 081.625.2233 (SMS), tribuntimurcom@yahoo.com, Facebook Tribun Timur Berita Online Makassar, twitter.com/tribuntimur Sirkulasi: 081.625.2266 (SMS) Iklan: 0411 (8115555) (Irham) AS Khawatir Ikhwanul Muslimin *Cegah Mesir Jadi Negara Islam seperti Iran *Tidak Akan Bantu Percepatan Pemilu *Bahrain Tangkal "Efek Kairo", Tiap Keluarga Diberi 1.000 Dinar *Aljazair Mulai Dilanda Demonstrasi IST Obama Minggu, 13 Februari 2011 | 04:54 WITA Kairo, Tribun - Amerika Serikat (AS) tidak akan segera mendukung digelarnya pemilihan umum di Mesir setelah Presiden Hosni Mubarak mundur. AS khawatir besarnya peran kelompok oposisi terbesar, Ikhwanul Muslimin, sehingga Mesir akan menjadi negara Islam seperti Iran dengan Revolusi 1979-nya. Hal itu karena Ikhwanul Muslimin satu-satunya partai yang telah menyiapkan kampanye untuk pemilu selanjutnya sehingga partai ini bakal menang jika pemilu seegra digelar. Ahli politik luar negeri, Karen Brooks, mengatakan hal itu, seperti dikutip laman The Wall Street Journal, Sabtu (12/2) wita. Ikhwanul Muslimin secara resmi dilarang sejak tahun 1950-an, tetapi jumlah anggotanya tetap mencapai jutaan orang dan mengoperasikan jaringan program sosial serta keagamaan yang luas di seluruh negeri itu. Di bawah pemerintahan Mubarak, Mesir adalah negara pendukung AS di Timur Tengah. Jika pemerintahan diambil alih oleh Ikhawanul Muslimin maka diperkirakan peta politik di Timur Tengah berubah khususnya kebijakan Mesir mengenai Amerika Serikat dan Israel. Brooks, ahli politik luar negeri yang membantu AS mengamati Indonesia pada pemerintahan Bill Clinton dan George Bush, juga membandingkan antara situasi di Mesir saat ini dengan kejatuhan Presiden Soharto di Indonesia, 1998 silam. Menurutnya, pemerintahan Indonesia berhasil berkembang menjadi negara sekuler dengan sedikit sekali pengaruh dari politik Islam. Hal ini ujar Brooks, karena pemilu selanjutnya dilakukan setahun setelah penggulingan Soeharto, sehingga partai sekuler mempunyai waktu untuk berkembang. Sementara selama 30 tahun menuju transformasi demokratis Indonesia, kata Brooks, partai Islam terlihat kesulitan mengumpulkan suara mayoritas. Ini berbeda dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang bisa berkembang pesat. Presiden Amerika Serikat sendiri, Barack Obama seperti dilansir VOA menyambut baik pengunduran diri Mubarak itu. Mubarak, kata Obama, telah menanggapi tuntutan rakyat Mesir yang haus akan perubahan. "Suara rakyat Mesir telah didengar," katanya. Mesir, kata dia, kini harus pindah ke kekuasaan sipil dan demokratis. Meski begitu, Obama mengingatkan bahwa pengunduran diri Mubarak ini hanyalah awal transisi di negara itu. "Ke depan akan terbentang hari-hari yang sulit," kata Obama dalam pidatonya di Gedung Putih, Sabtu (12/2) wita. Tak Jelas Para pembangkang Mesir, yang terdiri dari aktivis dunia maya hingga kelompok Ikhwanul Muslimin yang kuat, masih dilanda euforia. Namun, rencana mereka ke depan tetap tidak jelas saat tentara sekarang mengontrol negara itu. Tokoh pemimpin oposisi Mesir dan mantan Direktur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei menyatakan di situs micro-blogging twitter setelah Mubarak mundur bahwa Mesir sebuah "bangsa yang bebas dan besar". "Kami sudah mendapatkan kembali hidup kami," katanya sebelumnya kepada saluran televisi Al-Jazeera. "Pesan saya kepada rakyat Mesir adalah Anda telah mendapatkan kebebasan Anda... Mari kita memanfaatkan hal itu sebaik-baiknya dan semoga Tuhan memberkati Anda, " katanya. Sehari sebelumnya, ketika Mubarak berpidato bahwa ia tidak akan mundur dan hanya menjanjikan adanya amandemen terhadap sejumlah pasal dalam konstitusi, ElBaradei memperingatkan, Mesir akan "meledak". Mantan diplomat itu, yang tidak mengesampingkan kemungkinan untuk maju dalam pencalonan presiden jika konstitusi negara diubah, telah menyerukan reformasi demokrasi sejak kembali ke Mesir tahun lalu. Aktivis dunia maya Wael Ghonim, yang menjadi ikon revolusi Mesir setelah membuat laman di internet yang menyerukan aksi protes pada 25 Januari, mengirim pesan di twitter dengan judul "Selamat bagi Mesir". "Selamat datang kembali Mesir," tambahnya dalam bahasa Inggris di halaman twitter-nya (www.twitter.com/Ghonim), "Pahlawan sesungguhnya adalah orang muda Mesir di Alun-alun Tahrir dan seluruh rakyat Mesir." Ghonim (30), seorang eksekutif pemasaran regional Google, muncul sebagai juru bicara para pemrotes setelah dibebaskan pada Senin lalu. Ia sempat mendekam selama 12 hari di dalam tahanan. Ikhwanul Muslimin juga memuji pengunduran diri Mubarak setelah 30 tahun berkuasa. Kelompok itu juga berterima kasih kepada tentara. "Kami memuji rakyat Mesir dalam pertempuran mereka," kata Essam el-Erian, pemimpin senior dan juru bicara Ikhwanul kepada AFP. "Kami berterima kasih kepada tentara, yang tetap menjaga janji-janjinya. Kami merayakan momen ini bersama orang-orang Mesir, dan kami akan mengikuti rakyat dalam haluan ini," katanya setelah Wakil Presiden Omar Suleiman mengumumkan pengunduran diri Mubarak. Kelompok itu bersikap low profile selama demonstrasi nasional besar-besaran yang melanda negara itu. "Apa yang berikutnya terjadi (di Mesir) bisa jadi hanya sebuah reorganisasi dari sistem yang ada tanpa kemajuan mendasar terhadap perubahan," kata Claire Spencer, yang mengepalai Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House yang berbasis di London, Inggris. Ketua Liga Arab Amr Mussa, yang mandatnya sebagai kepala dari 22 anggota liga itu berakhir dalam dua bulan ini, bisa muncul sebagai pemimpin baru di negara kelahirannya, Mesir. Mussa memuji "rakyat Mesir dan tentara atas pencapaian bersejarah mereka" dan mendesak mereka "untuk membangun (sebuah sistem) di Mesir berdasarkan konsensus nasional". Efek Kairo Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa memutuskan bahwa tiap keluarga di negara teluk itu mendapat bonus 1.000 dinar dari kerajaan. Demikian dilansir kantor berita resmi Bahrain, BNA, Sabtu (12/2). Dengan keputusan itu rezim di Bahrain berharap dapat mencegah rencana aksi demonstrasi turun ke jalan, yang rencananya akan digelar pekan depan. Bahrain akan merayakan ulang tahun satu dasawarsa konstitusinya pada Senin pekan depan. Dilaporkan, kelompok oposisi Syiah akan memanfaatkan pulang itu untuk unjuk rasa terhadap penguasa Sunni. Masih menjadi pertanyaan berapa besar rencana demonstrasi tersebut akan mendapat sambutan. Namun skenario seperti di Tunisia dan Mesir, yang menyebabkan jatuhnya rezim setempat, diperkirakan tak akan terjadi di Bahrain. Keberhasilan rakyat Mesir melengserkan Mubarak tampaknya menginspirasi rakyat Aljazair. Pemerintah setempat langsung menyiapkan ribuan aparat keamanan untuk mencegah aksi unjuk rasa kelompok prodemokrasi. Sebelumnya pemerintah melarang aksi demonstrasi di ibu kota Aljazair, Algiers. Namun, kelompok oposisi dan sejumlah pegiat hak asasi manusia bergeming. "Kami sudah siap untuk melakukan aksi ini. Ini akan menjadi hari yang luar biasa bagi kehidupan berdemokrasi di Aljazair," ucapnya," kata juru bicara partai oposisi Aksi untuk Kebudayaan dan Demokrasi (RCD), Mohsen Belabes. Mereka mengatakan, aksi ini dilakukan untuk menuntut kondisi kehidupan yang lebih baik dan kebebasan yang jauh lebih besar bagi masyarakat di negara tesebut. Jumat (11/2), sebagaimana warta AP dan AFP, kepolisian setempat juga mencegah rencana sekelompok warga yang akan melakukan aksi di jalan untuk merayakan jatuhnya Mubarak. Demonstrasi di Aljazair telah dilarang sejak 1992 atau tepatnya sejak penguasa memberlakukan keadaan darurat di negara itu. Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika pada awal bulan ini mengatakan, pemberlakuan keadaan darurat dicabut dalam waktu tidak lama lagi. Menurut media pemerintah, pernyataan Bouteflika ini disampaikan saat menggelar pertemuan dengan sejumlah menterinya di Algiers. Dalam kesempatan itu, dia juga membolehkan warganya melakukan aksi demonstrasi dan protes di seluruh wilayah Aljazair, kecuali di ibu kota negara tersebut, Algiers. Mahasiswa Indonesia Mahasiswa Indonesia di Mesir turut lega atas mundurnya Mubarak setelah mencemaskan keselamatan mereka selama proses revolusi."Alhamdulillah, sedikit lega meskipun kami tetap waspada karena ini masih dalam masa transisi," kata seorang aktivis Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir. Pernyataan senada diutarakan oleh Ketua Kesepakatan Keluarga Minang (KMM) Alnofiandri Dinar, LC. "Kami anggota KMM ikut lega dan menyambut gembira atas berakhirnya unjuk rasa yang ditandai mundurnya Presiden Mubarak," kata Alnofiandri yang organisasinya beranggotakan 380 mahasiwa itu. Duta Besar RI untuk Mesir, AM Fachir, memuji sikap kenegarawanan Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun sejak 1981 tersebut. "Itu menunjukkan kenegarawanan beliau yang dengan lapang dada menerima keinginan rakyat," katanya. Dubes Fachir, yang akan mengakhiri masa tugasnya sebagai kepala perwakilan RI di Mesir pada bulan ini, juga meminta mahasiswa untuk tetap waspada dan mawas diri di negeri rantau itu. Krisis politik Mesir yang telah berlangsung sejak tiga pekan lalu memaksa Pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi WNI, termasuk mahasiswa, ke Indonesia. Satgas telah memulangkan enam kelompok yang mengangkut 2.600 WNI, sebagian besar adalah mahasiswa. Sehari menjelang mundurnya Mubarak, situasi keamanan di Mesir tidak menentu akibat banyaknya rumor di masyarakat, antara lain kudeta militer.(tribunnews.com/kompas.com/mh) Tribun Timur Setelah Mesir, Kini Giliran Aljazair Sukses pergantian rezim di Mesir menjadi ilham negeri tetangga. Aljazair mulai terguncang. Senin, 14 Februari 2011, 01:23 WIB Renne R.A Kawilarang Demonstrasi di Ibukota Aljazair, Aljir (AP Photo/Sidali Djarboub) BERITA TERKAIT • • • • • Sukses Mesir Menguatkan Aksi Protes di Yaman Mubarak Mundur, Rakyat Kini Bersihkan Jalanan Persamaan Mubarak dan Soeharto DPR: Mesir Bisa Belajar dari Indonesia Kemana Mubarak Akan Bersembunyi? VIVAnews--Lebih dari 400 orang ditahan polisi di Aljazair akibat mereka tak mengindahkan larangan aksi massa di ibukota negeri itu, Aljier, Ahad 13 Februari 2011. Ketua Liga untuk Mempertahankan Hak Azasi Manusia, Ali Yahia Abdenour, seperti dikutip dari Gulf News, mengatakan di antara mereka yang ditahan terdapat sejumlah wartawan asing. Para pemrotes itu menuntut perubahan demokratis, dan bentrok dengan polisi pada Sabtu 12 Februari kemarin. Mereka meminta Presiden Abdul Aziz Bouteflika turun. Partai oposisi mengatakan para demonstran telah membuat satu titik balik penting bagi negeri itu. Mereka berani menabrak larangan aksi massa yang selama ini diatur oleh Undang-Undang Darurat. Aljazair telah dicengkeram aturan itu sejak 1992. Tapi kali ini larangan yang berulangkali diteriakkan rezim itu seakan tak didengar rakyat. “Demonstrasi ini berhasil karena telah sepuluh tahun rakyat tak bisa menggelar aksi massa di Aljazair, dan itu menjadi halangan mental,” ujar Ali Rachedi, bekas pemimpin Front Partai Kekuatan Sosialis. “Rasa takut telah lenyap”. Para penggerak aksi itu mengatakan sekitar 26.000 polisi anti huru hara diturunkan untuk membubarkan aksi massa pada Sabtu lalu. Tapi, sekitar 10.000 orang berhasil menerobos rintangan polisi. Mereka menyelinap, dan melompat barikade, lalu berkumpul di pusat kota sebelum aksi protes dimulai. Para pejabat Aljazair mengatakan jumlah pemrotes hanya 1.500 orang. Pemimpin aksi Rally untuk Budaya dan Demokasi, Said Sadi, mengatakan jumlah polisi yang diterjunkan rezim Aljazair untuk menghalangi aksi mereka adalah bukti ketakutan penguasa. “Kami akan melanjutkan demonstrasi, dan terus melawan penguasa sampai mereka tumbang,” ujar Sadi. Fadil Bamaleh, Sekretaris Jenderal Koordinasi untuk Perubahan Demokratik di Aljazair (CDCA) mengatakan kepada Gulf News larangan demonstrasi di Aljazair yang diterapkan selama dua pekan lalu oleh rezim adalah ilegal. Organisasinya akan mengacuhkan larangan itu. Bamaleh mengatakan ribuan demonstran dari sekujur negeri itu datang ke Lapangan 1 Mei. Mereka menunjukkan kepada penguasa jika rakyat Aljazair tak lagi bisa menerima larangan yang mengekang kebebasan dan hak berekspresi. Bamaleh mengatakan sekitar 18 organisasi non-pemerintah terdiri dari wakil pemuda, aktivis HAM, keluarga tahanan politik serta orang hilang, telah membentuk grup di Facebook untuk menuntut perubahan rezim di Aljazair. "Pembentukan grup semacam itu sebelumnya telah menumbangkan rezim dikattor di Tunisia dan Mesir. Perkembangan yang berani di kedua negara Arab itu, betapapun, punya dampak positif kepada anggota grup. Kami berniat tak akan menghentikan aksi protes di sekujur negeri, sebelum rezim ini jatuh,” ujarnya. Bamaleh mengatakan, selaku presiden, Bouteflika telah gagal menjalankan demokrasi dan mendorong pembangunan ekonomi dan sosial yang sangat mendesak di negara itu. Demonstrasi di Aljazair itu berlangsung sehari setelah rakyat Mesir merayakan mundurnya Presiden Housni Mubarak. Menurut harian The New York Times, para demonstran di Lapangan 1 Mei kompak berteriak, "Bouteflika mundur!". Para demonstran juga berteriak, "Kemarin Mesir, Hari Ini Aljazair." Pan Arabisme baru? Apa yang terjadi di Aljazair jelas terilhami pergolakan di Mesir. Bagi pengamat Timur Tengah, Lamis Andoni, revolusi di Mesir itu kian membuktikan bangkitnya tipe baru Pan Arabisme. Dulu, solidaritas ini didengungkan pemimpin Mesir dekade 1960an, Gamal Abdul Nasser. Tujuannya mempersatukan mereka dari penjajahan bangsa asing dan, belakangan, menjadi energi pemersatu melawan Israel. Kini, sifat gerakan Pan Arabisme itu berubah. Menurut Andoni, solidaritas digunakan rakyat negara-negara Arab untuk melawan kekuasaan tiran di negeri mereka sendiri. "Tidak seperti Pan Arabisme di masa lalu, gerakan ini mewakili perjuangan rakyat agar bisa bebas dari ketakutan sekaligus membangkitkan harga diri mereka untuk menciptakan situasi yang lebih baik di masyarakat," tulis Andoni di laman stasiun berita Al Jazeera. Menurut dia, "kearifan" lama dari semangat Pan Arabisme, yaitu bebas dari penjajahan asing, telah terganti oleh prinsip untuk merdeka dari penindasan penguasa. Semangat baru Pan Arabisme itulah yang tengah melanda Dunia Arab. Motif dan pola perlawanan rakyat di Mesir - negara Arab terbesar - hingga di Yaman, yang dikenal sebagai anggota termiskin di Liga Arab, relatif sama. Mereka muak dengan rezim yang terlalu lama berkuasa, tapi gagal menciptakan keadilan sosial. Pergolakan itu digerakkan para pemuda di negara-negara Arab itu, yang piawai memanfaatkan teknologi informasi. Para demonstran di Suriah dan Yaman bisa menyaksikan dengan seksama, menit ke menit perkembangan gejolak di Mesir melalui grup di laman media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Itu sebabnya seorang eksekutif Google yang juga aktivis perlawanan di Mesir, Wael Ghonim, berterima kasih kepada pencipta laman Facebook, Mark Zuckerberg. Berkat layanan gratis Facebook, Ghonim dan para rekannya bisa membuat sejumlah grup akun mengajak massa turun ke jalan melawan rezim Mubarak. "Saya mau ketemu Mark Zuckerberg dan ingin berterima kasih kepada dia," kata Ghonim tak lama setelah pengumuman Mubarak turun dari kekuasaan, Jumat malam 11 Februari 2011.(np) Ahmadiyah, Darah dan Ibadah Datang sejak awal abad ke-20, Ahmadiyah ditentang di nusantara. Tak punya kitab sendiri. Jum'at, 11 Februari 2011, 21:31 WIB Hadi Suprapto, Dedy Priatmojo, Zaky Al-Yamani Ibu dan anak warga Ahmadiyah dievakuasi polisi di Makassar (Antara Foto) BERITA TERKAIT • • Infografik: Tragedi Ahmadiyah Dari India Menyebar ke 190 Negara VIVAnews - Bunyi surat itu memelas. "Berilah kami tempat, Bapak Wali Kota, di mana saja di wilayah kota Mataram ini,” tulis seorang jemaah Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kalimat selanjutnya, ditulis setengah putus asa. “Di pinggiran yang dianggap angker banyak setan sekali pun,” tulis si pengikut itu. Jeritan itu dikutip oleh Djohan Effendi, seorang pemikir Muslim yang prihatin akan nasib pengikut Ahmadiyah. "Menjadi pengungsi di negeri sendiri," tulis Djohan. Mereka adalah kaum terusir. Di Lombok, pada 2004, misalnya, para pengikut ajaran Mirza Ghulam Ahmad itu membeli tanah di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Saat itu, ada 36 kepala keluarga, atau 138 jiwa sempat menetap di Lingsar. Baru setahun menetap, kelompok ini diserang warga setempat pada Oktober 2005. Ahmadiyah, kata warga, membawa ajaran sesat. Mereka mencoba bertahan. Tapi lima bulan kemudian serangan kembali datang. Pada 4 Februari 2006, mereka tersingkir lagi. Karena tak punya tempat, pemerintah NTB lalu mengungsikan mereka ke Asrama Transito, di Majeluk Kota Mataram. “Di sini kami memang lebih aman,” ujar Basirun Ajiz, penasehat Jemaah Ahmadiyah Lombok. Hidup di penampungan juga sulit. Kebutuhan mereka sempat ditopang sembako bantuan Pemda sampai 2007. Setelah itu, agar tetap hidup, mereka kerja serabutan. Dari menjadi kuli kasar, mengasong, sampai tukang ojek. Beberapa bulan silam, ujar Basirun, mereka kembali ke Lingsar. Tapi hanya sempat menginjakkan kaki sebentar. Pada 26 November 2010, warga datang dengan beringas. Sekitar 21 rumah pengikut Ahmadiyah dirusak massa. Akhirnya mereka kembali ke Asrama Transito Kota Mataram. Itu sebabnya, surat terbuka seperti dikutip Djohan Effendi itu, terdengar lirih. “Berilah kami tempat, Bapak Wali Kota, di mana saja di wilayah kota Mataram ini, ... di pekuburan-pekuburan, yang penting kami dapat keluar dari penampungan. Hidup normal, menghirup udara kebebasan dan kemerdekaan”. Berdarah Tak hanya di Lombok, Jemaat Ahmadiyah juga ditolak di Sulawesi Selatan. Sekretariat mereka di Jalan Anuang, Kecamatan Mamajang, Makassar, didatangi seratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan, pada 28 dan 29 Januari 2011. Akibatnya, pada 29 Januari, puluhan anggota Jemaat Ahmadiyah terpaksa diungsikan ke kantor Polrestabes Makassar. Tapi, setelah evakuasi, sekretariat mereka dirusak dan diobrak-abrik. Pintunya dijebol, dan dokumen disita. Papan nama hijau di depan bangunan dirobohkan. Atas nama Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, massa FPI dipimpin Habib Reza menuntut Ahmadiyah bubar. Ajaran itu, dianggap melenceng dari Islam. FPI juga menuding Ahmadiyah melanggar SKB itu. Yang dimaksud FPI adalah surat keputusan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung pada 9 Juni 2008. Intinya, memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah menghentikan kegiatan yang bertentangan dengan Islam. Tapi, keputusan itu memancing tafsir yang lentur. FPI, misalnya, memandang semua kegiatan Ahmadiyah tergolong dakwah. “Harusnya mereka berhenti. Jika tidak, mereka telah menyebarkan ajaran kafir,” teriak Habib Reza, di tengah massa FPI Sulawesi Selatan yang beraksi hari itu. Di barat Nusantara, nasib Ahmadiyah lebih buruk. Misalkan, ada masjid Ahmadiyah yang dibakar di Ciampea, Bogor. Lalu ada teror pembakaran panti asuhan di Tasikmalaya, bentrokan di Kuningan, hingga penyerbuan masjid di Jakarta. Setara Institute mencatat, pada kurun 2008-2010, ada 276 kali aksi kekerasan atas Ahmadiyah. Terbanyak pada 2008, 193 kasus, atau 73 persen total kekerasan atas kaum minoritas di tahun itu. Pada 2009 dan 2010, Ahmadiyah diganyang sebanyak 33 dan 50 kali. Puncak tragedi berdarah terjadi pada Ahad, 6 Februari 2011. Tiga orang tewas dalam penyerbuan rumah mubalig Ahmadiyah, Suparman, di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten. Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar menuturkan kronologi penyerbuan brutal itu. Pada Sabtu 5 Februari, pukul 09.00, Kepolisian Resor Pandeglang menangkap Suparman, istri Suparman, dan Tatep (ketua Pemuda Ahmadiyah). Polisi membawa mereka ke kantor Polres Padeglang. Alasannya, ingin memeriksa status imigrasi istri Suparman yang warga negara Filipina. Mendengar informasi penahanan ini, pemuda Ahmadiyah dari Jakarta dan Serang datang ke Cikeusik mengamankan anggota Jemaah Ahmadiyah yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Semua jemaah, sekitar 25 orang itu telah berkumpul di rumah Suparman. Rombongan dari Jakarta dan Serang tiba pukul 08.00 WIB, Ahad 6 Februari. Jumlahnya 18 orang, ditambah tiga warga Cikeusik. Mereka lalu berjaga-jaga di rumah Suparman, takut ada serangan massa. Mendengar akan ada serangan, satu regu polisi dari Reserse Kriminal datang ke lokasi. Mereka sarapan, dan berdialog bersama Jemaat. Polisi minta mereka segera meninggalkan lokasi. Tapi, permintaan itu ditolak. Polisi lalu meninggalkan lokasi. Sejak saat itu tidak ada dialog lagi antara Jemaah Ahmadiyah dan kepolisian. Warga Ahmadiyah tetap berkumpul di rumah Suparman. Pukul 10.00, ratusan orang menyerbu rumah Suparman. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan golok. Terjadilah bentrokan itu. Total penyerang mencapai 1.500 orang. Akibat serbuan itu, tiga warga Ahmadiyah tewas mengenaskan. Mereka adalah Roni, 30, warga Jakarta Utara; Mulyadi, 30, warga Cikeusik; dan Tarno, 25, warga Cikeusik. Ibadah Peristiwa di Cikeusik berdampak ke seluruh Jemaat Ahmadiyah. Kata juru bicara Jemaat Ahmadiyah Sulsel, Mukhtiar, kecemasan menghantui pengikut mereka. Padahal, “Dalam Islam, perbedaan adalah rahmah, meski itu beda penafsiran,” ujarnya. Di Yogyakarta, tak jauh beda. Sering kali, saat mereka beribadah diintai orang tak dikenal. "Mungkin intel atau siapa, kami tak tahu," kata juru bicara Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta Munawar Ahmad. Dia beserta puluhan anggota jemaah itu pernah tegang setelah sekompok massa mendatangi masjid mereka. Untungnya, tak sampai terjadi keributan. "Melihat atributnya, mereka FPI," katanya. "Mereka minta dialog, kami turuti, sehingga tak sampai timbul kekerasan." Jemaah Ahmadiyah Yogyakarta cukup aktif. Mereka menggelar pengajian besar dua kali setiap bulan. Dakwah juga dilakukan melalui pendidikan nonformal. Tapi dakwah itu terbatas pada anggota mereka saja. Bagi Jemaah Ahmadiyah Bogor, yang tempatnya di Desa Cisalada, Kecamatan Ciampea itu pernah diserbu massa, kecemasan terasa pekat. Tapi, karena soal keyakinan, mereka tetap beribadah. Kata Khairul Khalam, Jemaah Ahmadiyah Bogor, "Keyakinan kami terhadap Imam Mahdi tak akan pudar." Tafsir Penafsiran memicu perbedaan. Ahmadiyah menafsirkan setelah Nabi Muhammad wafat akan muncul pembaru, dialah Mirza Ghulam Ahmad, nabi yang tak membawa syariat baru. Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Kerukunan Antarumat Beragama Slamet Effendi Yusuf mengatakan penafsiran Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tak bisa diterima sebagian besar umat Islam--mulai Islam radikal sampai moderat, kata Slamet, semua tak sependapat dengan akidah Ahmadiyah itu. "Hampir semua menganggap Ahmadiyah sesat," kata dia kepada VIVAnews.com. Juru bicara Front Pembela Islam Munarman mengatakan keyakinan itu sama saja menodai Islam. Dia mengatakan, tak hanya kepercayaan atas nabi terakhir, beberapa keyakinan Ahmadiyah juga dinilai sesat. Misalnya, kata Muhammad di dalam Alquran tak ditafsirkan sebagai Muhammad, melainkan Mirza Ghulam Ahmad. "Dia juga memiliki kitab tambahan, Tazkirah," ujar Munarman. Tapi, tudingan itu ditolak Ahmadiyah. Ketua Jemaat Ahmadiyah Indonesia Yogyakarta, Ahmad Saifudin Muttaqi, mengatakan mereka tak pernah menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. "Syahadat kami tetap,” ujarnya menirukan syahadat di rukun Islam. Adapun soal kitab Tazkirah, kata Saifudin, bukanlah kitab suci. Kitab itu hanya semacam kumpulan pengalaman rohani Mirza Ghulam Ahmad. Pegangan dan pedoman hidup Ahmadiyah tetaplah Alquran. Soal kontroversi Ahmadiyah ini, intelektual Muslim Azyumardi Azra, menekankan pentingnya ulama dan tokoh masyarakat mendidik masyarakat. Azyumardi meminta masyarakat tak alergi atas keberadaan warga Ahmadiyah. "Jangan cepat marah. Perkuat saja keimanan kita sendiri," ujar Azyumardi kepada VIVAnews. "Kementerian Agama perlu memberikan pendidikan yang lebih intensif kepada umat Islam supaya keimanannya tidak goyah." Dia juga menyarankan pemerintah memperkuat toleransi kerukunan umat beragama. Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah ini percaya, Ahmadiyah tak merusak agama Islam. Keberadaan Ahmadiyah tak bakal mengurangi keimanan seseorang. "Keimanan saya tetap saja meskipun ada orang-orang Ahmadiyah," katanya. Sang Mahdi Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) pada 1889 di satu desa kecil yang bernama Qadian, Punjab, India. Mirza Ghulam Ahmad bergelar sebagai Mujaddid, al-Masih, dan al-Mahdi. Seperti dikutip dari laman Ahmadiyah.or.id, setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal, Ahmadiyah dipimpin Shadr Anjuman Ahmadiyah. Setelah Anjuman meninggal, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad naik tahta. Bashiruddin tak lain adalah anak Mirza Ghulam Ahmad. Pada masa kepemimpinan inilah Ahmadiyah pecah. Bashiruddin berpendapat bahwa al-Masih al-Mau’ud itu betul-betul nabi. Semua orang Islam yang tidak berbaiat kepadanya, hukumnya kafir, dan keluar dari Islam. Menurut Bashiruddin, Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir. Jemaah yang menentang Bashiruddin, lalu keluar, dan membentuk Ahmadiyah Anjuman Isya’ati atau dikenal dengan Ahmadiyah Lahore, karena berpusat di Lahore, Pakistan. Ahmadiyah Lahore tetap bersikukuh Mirza hanyalah pembaru Islam di abad itu. Para pengikut Bashiruddin, dikenal sebagai Jemaat Ahmadiyah atau Ahmadiyah Qadian. Di Indonesia, Ahmadiyah Qadian disebut juga Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Pusatnya di Parung, Bogor. (Baca juga Dari India Menyebar ke 190 Negara) Sementara Ahmadiyah Lahore, bermarkas di Yogyakarta, dengan nama Gerakan Ahmadiyah Indonesia. Munarman, juru bicara FPI, target perlawanan organisasinya adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia. "Bukan Gerakan Ahmadiyah," ujarnya. Dalam buku 75 Tahun Jamaat Ahmadiyah Indonesia, aliran ini masuk ke Indonesia dibawa tiga pemuda asal Sumatera Barat. Mereka adalah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan. (Lihat infografik Tragedi Ahmadiyah) Awalnya mereka ingin belajar ke Mesir. Tapi guru mereka menyarankan ke India. Di India mereka bertemu komunitas Ahmadiyah Lahore. Lalu mereka juga melawat ke pusat Ahmadiyah di Qadian. Di Qadian lah mereka bertemu Bashiruddin, dan ketiganya pun dibaiat. Pada Agustus 1925, para pelajar ini pulang, dan mendirikan Ahmadiyah di Sumatera Barat. Pada 1926, Jemaat Ahmadiyah resmi berdiri sebagai organisasi. Mereka diakui sebagai organisasi berbadan hukum oleh Menteri Kehakiman RI di tahun 1953. (Laporan: Rahmat Zeena, Makassar; Erick Tanjung, Yogyakarta; Ayatullah Humaeni, Bogor; dan Edy Gustan, Lombok | np.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful