Anda di halaman 1dari 107

TRANSMISI

1.1. PENGERTIAN UMUM

a Secara etimologis yang dimaksud transmisi adalah pengiriman; jaringan


atau penyaluran. Sedangkan penyaluran dapat diartikan : proses;
perbuatan; cara menyalurkan.

a Dalam konteks pembahasan ini, yang dimaksud transmisi (penyaluran) adalah


penyaluran energi listrik, sehingga mempunyai maksud : proses dan cara
menyalurkan energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, misalnya :
9 Dari pembangkit listrik ke gardu induk.
9 Dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya.
9 Dari gardu induk ke jaring tegangan menengah dan gardu distribusi.
9 Dari jjaringg distribusi tegangan
g g menengah
g ke jjaring
g tegangan
g g rendah dan
instalasi pemanfaatan.

a Lebih spesisifik lagi dalam pembahasan ini akan difokuskan pada Transmisi
Tegangan Tinggi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang ada
di Indonesia.

a Pembahasannyay bersifat ppraktis sesuai p


pengalaman
g dan p
pelaksanaan p
pekerjaan
j
di lapangan, dengan harapan para profesionalis di bidang pemasangan
(konstruktor) instalasi listrik akan lebih mudah dalam mempelajari dan
memahaminya. 1
1.2. FUNGSI TRANSMISI

a Sebagaimana disebutkan dimuka bahwa transmisi tenaga listrik benfungsi untuk


menyalurkan energi listrik dari suatu tempat ke tempat lainnya.

a Sedangkan transmisi tegangan tinggi, adalah :


9 Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk
lainnya.
9 Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui
isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.
9 Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70 KV
dan 150 KV.

a Beberapa hal yang perlu diketahui :


9 Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-angsur
mulai ditiadakan (tidak digunakan).
9 Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di
Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera.
9 Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.
2
1.3. JENIS TRANSMISI BERDASARKAN KUALIFIKASI TEGANGAN

a Selama ini ada pemahaman dari para profesionalis ketenagalistrikan,


ketenagalistrikan bahwa
yang dimaksud transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan
menggunakan tegangan tinggi.

a Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energi
listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over
head line).

a Sebenarnya transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke
tempat lainnya, yang besaran tegangannya adalah tegangan ultra tinggi (UHV),
tegangan ekstra tinggi (EHV), tegangan tinggi (HV), tegangan menengah (MHV),
dan tegangan rendah (LV).

a Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari :


9 Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah,
tegangan menengah dan tegangan tinggi.
9 Menggunakan kabel udara untuk tegangan ekstra tinggi.

a Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari kualifikasi


tegangannya : 3
1.3.1. SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET)
200 KV – 500 KV
a Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas
500 MW.

a Tujuannya
j y adalah agar
g drop p tegangan
g g dan ppenampang
p g kawat dapat p direduksi
secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien.

a Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah : konstruksi tiang (tower)


yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan isolator
yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.

a Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET,


SUTET adalah masalah sosial
yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan, antara lain :
9 Timbulnya protes dari masyarakat yang menentang pembangunan SUTET.
9 Permintaan ganti rugi tanah untuk tapak tower yang terlalu tinggi.
tinggi
9 Adanya permintaan ganti rugi sepanjang jalur SUTET.
9 Dan lain sebagainya.

a Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan
500 km.
4
1.3.2. SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 30 KV – 150 KV

a Tegangan
T operasii antara
t 30 KV sampaii dengan
d 150 KV.
KV

a Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit
terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat.
kawat Biasanya hanya 3 kawat dan
penghantar netral digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali.

a Apabila
p kapasitas
p daya
y yyangg disalurkan besar,, maka p
penghantar
g pada masing-
p g
masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan
berkas konduktor disebut Bundle Conductor.

a Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling efektif
adalah 100 km.

a Jika jarak transmisi lebih dari 100 km,


km maka tegangan jatuh (drop voltage)
terlalu besar, sehingga tegangan ini di ujung transmisi menjadi rendah.

a Untuk mengatasi hal tersebut,


tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring
system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan
akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia.
5
1.3.3. SALURAN KABEL TEGANGAN TINGGI (SKTT) 30 KV – 150 KV

a SKTT dipasang di kota-kota


kota kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau JAwa),
JAwa)
dengan beberapa pertimbangan :
9 Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena sangat
sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
9 Untuk ROW juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat, karena
padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi.
9 Pertimbangan keamanan dan estetika.
9 Adanya
Ad permintaan
i t d pertumbuhan
dan t b h bebanb b yang sangatt tinggi.
ti i

a Jenis kabel yang digunakan :


9 Kabel yang berisolasi (berbahan) poly etheline atau kabel jenis Cross Link
Poly Etheline (XLPE).
9 Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil
paper impregnated).

a Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan :


9 Single core dengan penampang 240 mm2 – 300 mm2 tiap core.
9 Three
Th core dengan
d penampang 240 mm2 2 – 800 mm2
2 tiap
ti core.
9 Pertimbangan fabrikasi.
9 Pertimbangan pemasangan di lapangan.
6
Lanjutan 1.3.3.

a Kelemahan SKTT :
9 Memerlukan biaya yang lebih besar jika dibanding SUTT.
9 Pada saat proses pembangunan memerlukan koordinasi dan penanganan
yang kompleks, karena harus melibatkan banyak pihak, misal : pemerintah
kota (Pemkot) sampai dengan jajaran terbawah, PDAM, Telkom, Perum Gas,
Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan lain-lain.

a Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter. Untuk
desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa
sambungan sesuai kebutuhan.

a Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine Cable)
dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu :
9 Sub marine cable 150 KV Gresik – Tajungan (Jawa – Madura).
9 Sub marine cable 150 KV Ketapang – Gilimanuk (Jawa – Bali).

a Beberapa hal yang perlu diketahui :


9 Sub marine cable ini ternyata rawan timbul gangguan.
9 Direncanakan akan didibangun sub nmarine cable Jawa – Sumatera.
9 Untuk Jawa – Madura, saat ini sedang dibangun SKTT 150 KV yang dipasang
(diletakkan) di atas Jembatan Suramadu.
7
1.3.4. SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 6 KV – 30 KV

a Di Indonesia, pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20 KV.


Secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat ini hampir
semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV.

a Transmisi SUTM digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi
yyangg menghubungkan
g g dari Gardu Induk,, Penyulang
y g ((Feeder),
), SUTM,, Gardu
Distribusi, sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen).

a Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo,


trafo efektifitas penyalurannya
hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Jika transmisi
lebih dari jarak tersebut, efektifitasnya menurun, karena relay pengaman tidak
bisa bekerja secara selektif.

a Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan likuiditas,


kondisi geografis,
geografis dan lain
lain-lain)
lain), transmisi SUTM di Indonesia disalurkan jauh
melebihi kondisi ideal di atas.

8
1.3.5. SALURAN KABEL TEGANGAN MENENGAH (SKTM) 6 KV – 20 KV

a Diti
Ditinjau
j d i segii fungsi
dari f i , transmisi
t i i SKTM memiliki
iliki fungsi
f i yang sama dengan
d
transmisi SUTM. Perbedaan mendasar adalah, SKTM ditanam di dalam tanah.

a Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM,


SKTM adalah :
9 Kondisi setempat yang tidak memungkinkan dibangun SUTM.
9 Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW), karena berada di tengah kota
dan pemukiman padat.
9 Pertimbangan segi estetika.

a Beberapa hal yang perlu diketahui :


9 Pembangunan
P b t
transmisi
i i SKTM lebih
l bih mahal
h l dan
d l bih rumit,
lebih it karena
k h
harga
kabel yang jauh lebih mahal dibandimg penghantar udara dan dalam
pelaksanaan pembangunan harus melibatkan serta berkoordinasi dengan
banyak
y ppihak.
9 Pada saat pelaksanaan pembangunan transmisi SKTM sering menimbulkan
masalah, khususnya terjadinya kamacetan lalu lintas.
9 Hampir seluruh (sebagian besar) transmisi SKTM terpasang di wilayah PT.
PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta & Tangerang.
Tangerang
9 Jika terjadi gangguan, penanganan (perbaikan) transmisi SKTM relatif sulit
dan memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan SUTM.
9
1.3.6. SALURAN UDARA TEGANGAN RENDAH (SUTR)
40 VOLT – 1000 VOLT

a Transmisi SUTR adalah bagian hilir dari sistem tenaga listrik pada tegangan
distribusi di bawah 1000 Volt, yang langsung memasok kebutuhan listrik
tegangan rendah konsumen.

a Di Indonesia, tegangan operasi transmisi SUTR saat ini adalah 220/ 380 Volt.

a Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh :


9 Susut tegangan yang disyaratkan.
9 Luas penghantar jaringan.
jaringan
9 Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi.
9 Sifat daerah pelayanan (desa, kota, dan lain-lain).
9 Di Indonesia
I d i (PLN),
(PLN) susut tegangan yang diijinkan
diiji k adalah
d l h +5% d
dan
– 10 %, dengan radius pelayanan berkisar 350 meter.

a Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low Voltage
Twisted Cable (LVTC).
10
1.3.7. SALURAN KABEL TEGANGAN RENDAH (SKTR)
40 VOLT – 1000 VOLT

a Diti
Ditinjau
j d i segii fungsi,
dari f i transmisi
t i i SKTR memiliki
iliki fungsi
f i yang sama dengan
d
transmisi SUTR. Perbedaan mendasar adalah SKTR di tanam didalam di dalam
tanah.

a Jika menggunakan SUTR sebenarnya dari segi jarak aman/ ruang bebas (ROW)
tidak ada masalah, karena SUTR menggunakan penghantar berisolasi.
Penggunaan SKTR karena mempertimbangkan :
9 Sistem transmisi tegangan menengah yang ada, ada misalnya : karena
menggunakan transmisi SKTM.
9 Faktor estetika.

a Ol
Oleh
h karenanya
k transmisi SKTR
S pada
d umumnya dipasang
d d daerah
di d h perkotaan,
k
terutama di tengah-tengah kota yang padat bangunan dan membutuhkan aspek
estetika.

a Dibanding transmisi SUTR, transmisi SKTR memiliki beberapa kelemahan, antara


lain :
9 Biaya investasi mahal.
9 Pada saat pembangunan sering menimbulkan masalah.
masalah
9 Jika terjadi gangguan, perbaikan lebih sulit dan memerlukan waktu relatif
lama untuk perbaikannya.
11
1.4. PERTIMBANGAN PEMBANGUNAN TRANSMISI TEGANGAN
TINGGI

a Adanya pertambahan dan pertumbuhan beban pada instalasi pemanfaatan.


a Karena pembangkit tenaga listrik pada umumnya lokasinya jauh dari pusat-pusat
beban, sehingga untuk menyalurkan energi listrik harus dibangun transmisi
tegangan tinggi.
a Pemilihan transmisi SUTT mempertimbangkan beberapa hal, antara lain :
9 Biaya investasi (biaya pembagunan) jauh lebih murah jika dibanding
transmisi SKTT.
9 Untuk penyaluran yang jaraknya jauh, SUTT lebih mudah, lebih cepat dan
lebih praktis dalam pelaksanaan pembangunannya.
9 Koordinasi pada saat pelaksanaan pembangunan,
pembangunan lebih mudah,
mudah dan tidak
melibatkan banyak pihak jika dibandingkan dengan SKTT.
9 Pada saat beroperasi, jika terjadi gangguan mudah dalam perbaikannya.
9 Route SUTT bisa melewati berbagai g kondisi g
geografis,
g , misal : dataran
rendah (tanah rata), pegunungan, sungai, persawahan, perbukitan, dan lain-
lain.
a Untuk di Pulau JAwa, transmisi SUTT 150 KV telah terpasang secara terintegrasi
melalui sistem interkoneksi (interconnection system). Sedangkan di Pulau
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sedang dikembangkan menjadi sistem
interkoneksi.
12
1.5. KETENTUAN JARAK AMAN/ RUANG BEBAS (ROW)

a Transmisi tenaga listrik


l k yang bertegangan
b tinggi (SUTET,
(S S
SUTT, S
SKTT, S
SKLTT),
)
memiliki resiko tinggi terhadap keamanan dan kesehatan lingkungan, terutama
menyangkut masalah besarnya tegangan dan pengaruh medan listrik yang
ditimbulkannya.
ditimbulkannya

a Satu hal penting yang harus diperhatikan dan dipenuhi, adalah ketentuan jarak
aman/ ruang bebas (ROW) pada daerah yang dilalui oleh jalur transmisi
tegangan tinggi.

a Dengan terpenuhinya jarak/ aman / ruang bebas (ROW) di sepanjang jalur


transmisi tegangan tinggi,
tinggi maka :
9 Keamanan dan kesehatan lingkungan dapat terpenuhi dengan baik.
9 Dampak secara teknik, keamanan, kesehatan dan sosial, dapat diterima oleh
masyarakat.
masyarakat

a Pada jalur SUTT yang lama pada umumnya sepanjang jalur SUTT tidak boleh
didirikan bangunan. Tetapi saat ini di sepanjang jalur SUTT banyak didirikan
bangunan, dengan pertimbangan selama jarak aman/ ruang bebas (ROW)
dipenuhi, maka keselamatan dan kesehatan lingkungan akan terpenuhi pula.
13
Lanjutan 1.5.

Gambar 1
1.
Jarak aman/ ruang bebas (ROW) pada
SUTT 150 KV.

14
Lanjutan 1.5.

Gambar 2.
Jarak aman/ ruang bebas (ROW)
pada SUTET 500 KV.

15
Lanjutan 1.5.

Gambar
G b 3 3.
Jarak aman/ ruang bebas (ROW)
pada SUTT 150 KV yang
melintasi sungai dan berada
pada daerah muara sungai

16
2.1. PONDASI TOWER (TIANG)

a Berfungsi untuk menyangga tower atau sebagai tapak (kaki) tower.


a Dalam satu route map SUTT, jenis dan konstruksi pondasi terdiri dari beberapa
type. Hal ini disebabkan adanya beberapa pertimbangan yang dijadikan acuan
d l
dalam menentukan
t k type
t pondasi
d i SUTT,
SUTT sehingga
hi muncull beberapa
b b t
type pondasi.
d i

a Pertimbangan dalam menentukan pondasi tower :


9 Route map yang akan dilalui jalur SUTT.
SUTT
9 Posisi pondasi tower, apakah pada posisi suspension, tension atau dead end.
Untuk tension masih memperhitungkan besar kecilnya sudut belokan.
9 Kondisi tanah yang akan ditempati pondasi, misal : tanah normal, tanah
berlumpur (sawah atau rawa), tanah berpasir, tanah berbatu, posisi tanah
tebing/ miring, dan lain sebagainya.
9 Besar kecilnya (berat) tower yang akan dipasang pada pondasi.
9 Pertimbangan harga tanah,
tanah aspek sosial,
sosial dan lain-lain.
lain-lain
9 Catatan :
• Besar kecilnya pondasi menyesuaikan tower yang akan dipasang.
g
• Masing-masing g ppabrikan tower memiliki desain dan spesifikasi
p yyang
g
berbeda-beda.
• Pada saat ini tower SUTT telah diproduksi di dalam negeri.
17
Lanjutan 2.1.

a Type pondasi :
9 Kode pengenal (notasi huruf) pada type pondasi terdiri dari beberapa macam.
9 Pada umumnya kode pengenal pondasi adalah : Aa, Bb, Cc, Dd, DrD, AA, AA,
CC, DRD, BN, BS, BT, dan lain-lain.

a Konstruksi pondasi :
9 Untuk menentukan konstruksi pondasi yang akan dipasang, dipasang harus terlebih
dahulu dilakukan pengecekan (pengujian) kondisi tanah setempat, untuk
mengetahui kemampuan sigma tanah yang akan ditempati pondasi dan
tower.
9 Dengan mengetahui kemampuan sigma tanah (daya dukung tanah),
baru bisa ditentukan konstruksi pondasi yang akan dipasang.
9 Dengan mempertimbangkan kondisi sigma tanah, beberapa jenis pondasi
SUTT antara lain : Pondasi Normal (Normal Foundation),
SUTT, Foundation) Bump Pile,
Pile Mikro
Pile, Staruss Pile, Injection Micro Pile, Cakar Ayam, Bor Pile.

a Untuk desain konstruksi pondasi jenis tertentu, terkadang PLN harus membayar
royalty fee kepada pemegang patent, yang nilainya berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak.
18
2.2. TEMBOK/ PASANGAN BETON/ PASANGAN BATU KALI PENAHAN
TAPAK TOWER

a Route SUTT yang jauh dan melihat kondisi geografis di Indonesia pada
umumnya, menjadikan pondasi dan letak tower berada pada kondisi tanah yang
bermacam-macam jenis.

a Untuk pondasi tower yang terletak (berada) pada pondasi dan kondisi tertentu,
maka harus dipasang
p g ((dibangun)
g ) tembok/ p
pasangan
g beton/ p
pasangan
g batu kali
yang berfungsi untuk menahan pondasi tower.

a Tembok/pasangan beton/ pasangan batu kali tersebut dipasang pada dan


bertujuan :
9 Posisi dan kondisi pondasi yang terletak di tebing (posisi tanah miring), untuk
menghindari timbulnya tanah longsor.
longsor
9 Posisi dan kondisi pondasi yang terletak di sawah, tambak, rawa-rawa dan
tempat berpasir, untuk menghindari terjadinya pengikisan tanah pada tapak
tower dan agar tanah tidak lembek,
lembek maka harus dipasang tembok keliling
pada batas tanah milik PLN.

19
2.3. PATOK TANDA BATAS TANAH

a Untuk memberikan tanda dan untuk menghindari terjadinya penyerobotan tanah


milik PLN, maka pada tiap lokasi tower PLN dipasang patok tanda batas tanah.

a Patok tanda batas tanah ini terbuat dari beton bertulang yang di atasnya ditulisi
“PLN” dan dipasang diempat sudut batas tanah.

a Patok tanda batas tanah ini dipasang pada tiang SUTT yang berbentuk tower,
sedangkan yang berbentuk Single Pole biasanya tidak dipasang patok tanda
batas tanah.
tanah

a Pemasangan patok tanda batas tanah mengikuti luas tanah PLN, biasanya ukuran
8 m x 8 m,
m 10 m x 10 m,m 12 m x 12 m,
m 14 m x 14 m,m dan seterusnya,
seterusnya mengikuti
besar kecilnya tower.

a T
Tanah
h yang berada
b d pada d patok
t k tanda
t d batas
b t tanah
t h diurug
di d diratakan,
dan di t k pada
d
umumnya levelnya lebih tinggi dari tanah yang ada di sekitarnya.
20
2.4. TOWER (TIANG) DAN PERLENGKAPANNYA

a Berfungsi sebagai penyangga kawat (konduktor/ penghantar) yang direntangkan


antara tower-tower (tiang-tiang) pada jalur transmisi melalui isolator-isolator.

a Beberapa jenis tower dan fungsinya :


9 Tower penyangga (Suspension Tower) berfungsi utnuk mendukung
((menyangga)
y gg ) p penghantar
g SUTT beserta Accesoriiesnya,
y sehinggagg harus kuat
menahan gaya berat dari peralatan listrik yang ada pada tower tersebut.
Tower ini berada pada posisi jalur lurus sampai dengan sudut 2 Derajat.
9 Tower penegang atau peregang (Tension Tower), berfungsi untuk menahan
gaya berat
b t dan
d t ik dari
tarik d i dua
d arah
h dari
d i penghantar
h t SUTT.
SUTT Tower
T i i berada
ini b d
pada posisi jalur lurus SUTT (di tengah atau diantara beberapa tower).
9 Tower Sudut ( Angle Tower), disebut juga Tower Penegang, berfungsi
menerima gaya tarik akibat dari perubahan arah SUTT. Tower ini terletak
pada belokan route map jaringan transmisi SUTT.
9 Tower Akhir (Dead and Tower), berfungsi sebagai penegang dan terletak
pada posisi paling akhir dari jaringan transmisi SUTT (terletak di dekat switch
yard Gardu Induk). Tower ini hanya menahan gaya tarik penghantar SUTT
dari satu arah saja.
21
Lanjutan 2.4.

3
3. a B
Bagian-bagian
i b i Tower T :
9 Stub (Kerangka Tower),
adalah kerangka utama tower,
yang berfungsi untuk
menopang komponen
k li t ik
listrik
SUTT.
9 Silang-silang, berfungsi
sebagai penguat rangka tiang
(di
(diagonall tiang).
i )
9 Travers, berfungsi sebagai
tempat dudukan isolator dan
tempat pemasangan kawat
tanah (ground wire)

a Perlengkapan lain tower :


9 Number Plate
Plate, adalah
menunjukkan nomor tower
dan urutan fasanya.
9 Danger Plate atau plat tanda
bahaya.
bahaya
Gambar 4 : 9 Penghalang panjat.
Tower dan perlengkapannya 9 Step bolt.
22
Lanjutan 2.4.

a Bentuk dan Konstruksi Tiang SUTT :


9 Konstruksi baja :
¾ Terbuat dari baja profil atau besi siku,
disusun sedemikian rupa sehingga
membentuk suatu menara (tower),
(tower) yang
kekuatannya disesuaikan dengan
kebutuhan.
¾ Konstruksi jenis inilah yang banyak
digunakan di Indonesia.
9 Konstruksi Manesman:
¾ Terbuat dari pipa baja. Konstruksi
jenis ini digunakan di Indonesia
hanya di daerah perkotaan yang
tidak memungkinkan dipasang
menara (tower).
¾ Jarak efektif antara tiang adalah 20
meter sampai dengan 40 meter.
¾ Jarak andongan terendah dengan
Gambar 5 : t
tanahh dan
d b
bangunan adalah
d l h ± 7
Konstruksi baja tiang SUTT berupa meter.
menara ¾ Pada konstruksi jenis ini untuk posisi
tiang tertentu (tiang penegang, tiang
sudut,, tiang g awal/akhir), ), dilengkapi
g p
dengan Guy Wire yang berbentuk
tarik (Line Guy) atau tekan (Pole
Brace)
23
Lanjutan 2.4.

a K
Konstruksi
t k i Kayu
K ::
9 Terbuat dari kayu ulin dan
kayu besi, yang mempunyai
kekuatan dan umur yang baik
d tidak
dan tid k perlul melalui
l l i proses
pengawetan.
9 Jenis ini jarang digunakan di
Indonesia, apalagi saat ini
untukk memperoleh l h k
kayu
sangat sulit dan bisa-
bisa lebih mahal jika
dibandingkan menggunakan
konstruksi jenis lainnya.
lainnya

a Konstruksi Tiang Beton (Concrete


Pole) :
9 Terbuat dari beton bertulang
Gambar 6 : yang berongga di dalamnya.
Konstruksi Manesman Tiang SUTT 9 Konstruksi jenis ini digunakan
di kota-kota
kota kota besar di
Indonesia, karena tidak
memungkinkan dipasang tiang
bentuk menara.
24
Lanjutan 2.4.

Gambar7
b :
Konstruksi Tiang Beton dan Tiang Kayu SUTT
25
2.5. KOMPONEN SIPIL PADA SKTT

a Berbeda dengan komponen sipil


pada SUTT,, maka komponen
p p sipil
p
pada SKTT lebih sederhana,
karena tidak memerlukan
pondasi.
pondasi

a Beberapa komponen sipil pada


SKTT, antara lain :
¾ Pasir urug.
¾ Lempengan beton pengaman.
¾ Patok tanda SKTT.
¾ Konstruksi jembatan kabel
Gambar 8 :
Komponen Sipil pada SKTT (
(apabila
b l melewati
l sungai).
)

26
3.1. KONDUKTOR DAN PERLENGKAPANNYA

a Berfungsi untuk menyalurkan arus listrik dari satu tempat ke tempat lainnya.
lainnya
a Jenis kawat yang digunakan :
9 Kawat tembaga (Cu). Saat ini sudah jarang digunakan, karena harganya yang
mahal.
mahal
9 Kawat ACSR (Alluminium Conductor Steel Reinforce) :
¾ Jenis inilah yang saat ini banyak diginakan di Indonesia.
¾ Saat ini dikembangkan g penggunaan
p gg T-ACSR ((Thermal-Alluminium Steel
Reinforce), yang memiliki kemampuan hantar arus (KHA) kurang lebih 1,7
kali KHA ACSR.
¾ Pertimbangan lain penggunaan ACSR/T-ACSR, selain memenuhi
ketentuan standard teknik,, jjuga
g memiliki kemampuan
p ((kekuatan)) mekanik
yang lebih baik jika dibanding konduktor lai, misal : AAC, AAAC.
a Hal-hal yang perlu diperhatikan :
9 Jika arus listrik mengalir
g pada p
p penghantar,
g , maka akan menimbulkan p panas
pada penghantar dan akan menyebabkan terjadinya pemuaian pada
penghantar, yang pada akhirnya akan menyebabkan timbulnya penurunan
andongan (lendutan).
9 Konsdisi tersebut p perlu adanya
y ketentuan standard suhu operasi
p maksimum
penghantar yang diijinkan.
9 PLN menetapkan ketentuan suhu operasi maksimum penghantar SUTT
sebesar 750 C.
27
Lanjutan 3.1.

a Beberapa material yang termasuk


lengkapan (Accessories) konduktor :
9 Batang pelindung (Armor Rod), Rod)
berfungsi untuk melindungi dan
penguatan konduktor dari
Gambar 9 : kemungkinan timbulnya kerusakan
Jenis Konduktor ACSR
akibat gesekan penjepit, yang
diakibatkan getaran karena angin.
9 Peredam (Dumper) :
¾ Berfungsi untuk mengurangi
getaran-getaran pada
penghantar
h t SUTT
maupun pada ground wire,
Gambar 10 : karena angin dan lain-lain.
Batang
g Pelindung
g (Armor
(
Rod) ¾ Dit
Ditempatkan
tk b d k t dengan
berdekatan d
klem penjepit (Tension Clamp/
Suspension Clamp). 28
Lanjutan 3.1.

9 Penyambung penghantar (Joint


Sleeve) :
¾ Berfungsig untuk menyambung
y g
penghantar.
¾ Joint sleeve harus mempunyai
konduktifitas yang baik dan
kekuatan mekanis yang tinggi.
Gambar 11 : ¾ Joint sleeve yang digunakan
Peredam (Dumper) untuk menyambung konduktor
ACSR, terdiri dari dua bagian,
yaitu : bagian dalam untuk
sambungan steel dan bagian luar
untuk sambungan alluminium.
¾ Joint sleeve juga disebut Mid
Span Joint, yang sistem
penyambungannya adalah
sistem tekan
(Compression Joint).
g
Dengan sistem ini akan
Gambar
G b 12 : menghasilkan batang pasip,
Penyambung Penghantar sehingga secara mekanis maupun
elektris memenuhi karakteristik
penghantar SUTT. 29
Lanjutan 3.1.

9 Repair Sleeve :
¾ Berfungsi sebagai pembungkus/
mereparasi/memperbaiki penghantar
yang urat-uratnya rusak (putus).
(putus)
¾ Terdiri dari dua bagian, yang pertama
sebagai penutup sebagian besar
konduktor dan bagian kedua penutup
kecil yang disambungkan ke bagian
kecil,
Gambar 13 : pertama.
Repair Sleeve
¾ Setelah terpasang , selanjutnya
diproses, sehingga akan berbentuk
segi enam.
enam

9 Paralel Groove Clamp (PG Clamp) :


¾ Berfungsi
g untuk menghubungkan
g g
(penyambung) kawat penghantar pada
posisi tower tension.
¾ Kedua ujung kawat penghantar dari
Gambar 14 : klem penegang
p g g yyangg lain,,
dihubungkan melalui Jumper Support
Paralel Groove Clamp Insulator.
30
Lanjutan 3.1.

9 Perentang (Spacer) :
¾ Berfungsi sebagai pengatur jarak
(pemisah) dua atau lebih
k d k
konduktor pada
d tiap-tiap
phasa SUTT.
¾ Tujuannya adalah untuk menjaga
agar jarak antara konduktor
dengan konduktor dalam satu
phasa tidak berubah dan tidak
bertumbukan, karena adanya

Gambar
G b 15 : gaya elektromekanik atau angin.
angin
Perentang (Spacer)

31
3.2. INSULATOR STRINGS & FITTING

a Yang dimaksud Insulator Strings


dan Fitting, adalah rangkaian
isolator dan perlengkapannya,
antara lain : Isolator, Tension
Clamp,p, Suspension
p Clamp,
p, U Blot,,
Anchor Sackle, Horn Holder,
Yoke, Ball Clevis, Arching Horn,
Clevis Eye dan Socket Clevis.
a Isoalato
Isoalator :
Gambar 16 : 9 Berfungsi sebagai isolasi
Isolator Piring (Isolator Gantung) antara konduktor dengan
tiang (tower).
9 Pada umumnya terbuat dari
porselin atau kasa.
9 Isolator yang digunakan pada
SUTT :
¾ Isolator Gantung (lihat
gambar 16).
¾ Isolator Tonggak Saluran
(lihat gambar 17).
¾ Isolator Tonggak Saluran
Gambar 17 : Horizontal (lihat gambar
Isolator Tonggak Saluran Vertikal 18). 32
Lanjutan 3.2.

a Klem Penegang ( Tension


Clamp) :
9 Berfungsi untuk penjepit
(pengikat) penghantar phasa
pada tower
p tension ((tower
penegang).
9 Pada SUTT umumnya
digunakan jenis klem
penegang :
¾ Jenis mur baut atau bolt &
Gambar 18: nut (lihat gambar 19).
Isolator Tonggak Saluran Horizontal ¾ Jenis press atau
Compression Type (lihat
gambar 20).
9 Umumnya bahannya terbuat
dari campuran alluminium
atau tembaga, tergantung
da i jenis penghantar
dari penghanta yang
ang
digunakan.
9 Pada saat ini Klem Penegang
yang terbuat dari campuran
tembaga jarang digunakan,
digunakan
Gambar 19 : karena penghantar tembaga
Klem Penegang (Tension Clamp) tidak digunakan lagi pada
dengan Mur Baut SUTT.
33
Lanjutan 3.2.

a Klem penyangga (Suspension Clamp) :


9 Berfungsi untuk penjepit (penegang)
penghantar pada isolator gantung
yang terdapat pada tiang penyangga.
9 Pada klem penyangga biasanya
dilengkapi dengan batang pelindung
(Armor Wire),
Wire) yang tujuannya adalah
Gambar 20 :
Klem Penengang (Tension mencegah rusaknya (cacat)
Clamp) type Press penghantar yang diakibatkan tekanan
klem dan getaran penghantar akibat
angin.

a Klem Jembatan (Paralel Groove Clamp) :


9 Berfungsi sebagai penghubung
(penyambung/ penggandeng) kedua
ujung penghantar dari klem penegang
satu
t dengan
d kl
klem penegang.
Gambar 21 : 9 Dipasang pada tower penegang.
Klem Penyangga (Suspension
Clamp) 34
Lanjutan 3.2.

a Accesories lain yang melengkapi isolator gantung, adalah :


9 Tanduk busur (Arcing Horn), yang berfungsi untuk melindungi isolator dari
tegangan surja.
9 Cincin Perisai (Grading Ring), berfungsi untuk meratakan
(mendistribusikan) medan listrik dan distribusi tegangan yang terjadi pada
isolator.

a U Bolt :
Berfungsi sebagai penghubung antara insulator strings dengan ujung travers
tower tempat insulator strings digantungkan (dicantolkan).

a Jumlah jenis dan type isolator tiap rangkaian, tergantung pada spesifikasi SUTT
dan juga kondisi jalur yang dilalui (route map) SUTT, misal : daerah yang kondisi
udaranya
uda a ya normal,
o a , dae
daerah
a ya
yangg mengandung
e ga du g po
polusi
us kimia
a ttinggi,
gg , dae
daerah
a ya
yang
g
udaranya mengandung garam (asin), dan lain-lain.

a Untuk daerah yang kondisi udaranya baik (tidak mengandung polusi kimia dan
) digunakan
asin), d k Isolator
l Type Normal. l Sedangkan
d k untukk daerah
d h yang udaranya
d
berpolusi tinggi, digunakan Isolator Type Fog (Fog Type Insulator).
35
3.3. KOMPONEN PENGAMAN (PERLINDUNGAN)

a Komponen pengaman (perlindungan) pada transmisi tegangan tinggi (SUTT),


memiliki fungsi penting sebagai pengaman (perlindungan) SUTT secara
menyeluruh.

a Komponen pengaman (perlindungan) pada SUTT, antara lain :


9 Kawat Tanah (Ground Wire) dan perlengkapannya.
9 Pentanahan tiang.
9 Jaringan pengaman (Safety Net).
9 Bola pengaman (Balistor).
(Balistor)

a Untuk kawat tanah (ground wire) dan pentanahan tiang, dipasang di sepanjang
j l SUTT.
jalur SUTT

a Untuk jjaringan
g pengaman
p g ((Safetyy Net)) dan bola p
pengaman
g dipasang
p g ppada
tempat-tempat tertentu jalur SUTT, sesuai kondisi dan kebutuhan setempat.

36
3.3.1. KAWAT TANAH (GROUND WIRE) DAN PERLENGKAPANNYA

a Adalah kawat pentanahan (grounding) yang berfungsi untuk mengetanahkan


arus listrik saat terjadinya gangguan (sambaran) petir secara langsung.
a Pada umumnya ground wire
terbuat dari kawat baja (steel
wire)
i ) dengan
d k k t St 35 atau
kekuatan t
St 50, tergantung dari spesifikasi
yang ditentukan oleh PLN.

a Accesories Ground Wire : Joint


Sleeve, Dumper, Jumper Clamp,
Tension Clamp, Suspension
Clamp dan PG Clamp.

a Accesories ground wire yang


memiliki nama/ jenis yang sama
g
dengan accesories p
penghantar,
g ,
memiliki fungsi yang sama
dengan accesories penghantar
tersebut.
Gambar 22 :
Pemasangan Ground Wire a Jumlah ground wire pada SUTT,
pada Tower ada yang satu atau dua,
tergantung dari pucuk tower.
37
3.3.2. PENTANAHAN TIANG

a Pentanahan tiang dipasang pada


masing-masing tower di
sepanjang jalur SUTT.

a Fungsi pentanahan tiang :


Untuk menyalurkan arus listrik
dari kawat tanah (ground wire)
akibat
kib terjadinya
j di sambaran
b petir.
i

a Pentanahan tiang terdiri dari


kawat tembaga
g atau kawat baja j
yang di klem pada pipa
pentanahan dan ditanam di dekat
pondasi tower (tiang) SUTT.

a Pemasangan pentanahan tiang


dilakukan setelah pemasangan
Stub Tower dan sebelum
pembesian/ pengecoran pondasi,
Gambar
G b 23 : karena pentanahan tiang ini ada
Pentanahan Tiang dalam pondasi.
38
3.3.3. JARING PENGAMAN (SAFETY NET)

a Berfungsi untuk pengaman SUTT


dari gangguan yang dapat
membahayakan SUTT tersebut
dari lalu lintas yang berada di
bawah SUTT yang tingginya
melebihi tinggi yang diijinkan.

a Fungsi lainnya adalah untuk


menjaga kemungkinan putusnya
penghantar SUTT, sehingga tidak
membahayakan lalu lintas yang
melewati persilangan dengan
SUTT tersebut.

a Pada umumnya jaring pengaman


dipasang di pe lintasan
perlintasan
(persilangan) jalan umum dengan
jalur SUTT.

Gambar
G b 24 :
Jaring Pengaman(Safety Net)

39
3.3.4. BOLA PENGAMAN (BALISTOR)

a Dipasang sebagai tanda pada


SUTT, untuk pengaman lalu lintas
udara.

a Pada umumnya dipasang pada


kawat tanah (Ground Wire) di
daerah yang banyak dilewati lalu
lintas udara atau di dekat bandar
udara (Bandara).

a Untuk pengaman pada malam


hari, digunakan Balistor yang
dipasang
p g ppada kawat p phasa dan
bekerja atas dasar drop tegangan
yang dapat menyalakan ion
pendar seperti lampu neon
Gambar
G b 25 : (lampu TL) dengan warna kuning.
kuning
Bola Pengaman (Balistor)

40
4.1. KABEL TANAH

a Pada umumnya jenis kabel yang


digunakan adalah Kabel Oil
Impregnating
p g g Paper
p Failed.

a Kabel ini adalah sejenis kabel


minyak,
y , yyang
g isolasinya
y terdiri dari
unsur minyak yang meng-
impregnating kertas isolasi untuk
membungkus konduktor, sehingga
mampu mengisolasi
i l i t h d
terhadap
tegangan kerja sistem.

a P
Penggunaan isolasi
i l i jenis
j i ini
i i karena
k
dianggap relatip cukup baik, sebab
isolasi cukup tipis dan mempunyai
Gambar 26 : kekuatan secara elektris dan
Kabel Minyak 150 KV mekanis yang cukup baik.

41
4.2. SAMBUNGAN (JOINTING)

a Sambungan Langsung :
Konstruksi sambungan ini cukup
sederhana,, tidak menggunakan
gg
teknologi tinggi (konvensional),
tetapi mempunyai kekuatan dan
keandalan yang baik.

Gambar 27 : a Sambungan Terpisah (Stop Joint) :


Penampang Sambungan 9 Konstruksi sambungan ini
Langsung Kabel Minyak 150 KV terbagi
g menjadi
j dua,, yyangg
masing-masing minyak sisi
sebelah kiri dan kanan tidak
saling bertemu.
9 Jika terjadi kebocoran minyak,
minyak
konstruksi jenis ini lebih mudah
dalam mencari letak kebocoran,
terutama jika SKTT terbagi
Gambar
G b 28 : menjadi beberapa seksi dari
Stop Joint Terpisah Kabel Minyak panjang kabel yang kurang lebih
150 KV 300 meter.
42
4.3. PROSES PENGISIAN MINYAK

a Proses pengisian :
9 Sepanjang seksi kabel harus
terlebih dahulu di vacum.
vacum
9 Treatment minyak kabel.
9 Memasukkan minyak.

a Perbedaan level permukaan tanah


akan menimbulkan perbedaan
tekanan di salah satu sisi kabel,
dimana tekanan normal adalah 1,2
bar.

a Karena perbedaan level, maka pada


bagian kabel yang rendah akan
Gambar 29 : mempunyai tekanan lebih tinggi,
Proses Vacum Stop Joint, setelah yang disebabkan unsur berat
selesai di Installing minyak tersebut.
43
5.1. PERSIAPAN PEKERJAAN

a P
Pengecekan
k terhadap
t h d semua route t SUTT,
SUTT terutama
t t pada
d lokasi
l k i tanah
t h yang akan
k
ditempati masing-masing pondasi tower.
Catatan : Bisa terjadi bahwa patok tanda tempat tapak tower dipindah oleh
pihak tertentu,
tertentu sehingga dalam pelaksanaan pekerjaan timbul
masalah, misalnya : masalah ganti rugi dan masalah teknis.

a Inventarisasi pohon/ tanaman/ bangunan yang akan ditempati tapak tower,


tower di
sekeliling tapak tower jalan masuk menuju tapak tower, karena :
9 Untuk pelaksanaan pekerjaan pondasi dibutuhkan tempat yang lebih luas dari
tanah yang akan ditempati tapak tower. Jika pada tanah ini terdapat pohon/
tanaman/bangunan, maka perlu dirundingkan masalah ganti ruginya.
9 Jika diperlukan jalan masuk menuju tapak tower dan kemungkinan akan
merusak p pohon// tanaman// bangunan,
g , maka p
perlu dirundingkan
g masalah g
ganti
ruginya.
9 Meskipun pada tanah tapak tower sudah dibeli oleh PLN, ada kemungkinan
pihak bekas pemilik tanah masih meminta ganti rugi pohon/ tanamn,
sehingga perlu dirundingkan penyelesaiannya, agar tidak timbul masalah
pada saat pelaksanaan pekerjaan.
44
Lanjutan 5.1.

a Persiapan administrasi (surat menyurat), administrasi keuangan dan administrasi


teknik :
9 Surat menyurat
y dan ppengurusan
g ijin-ijin
j j untuk keperluan
p koordinasi dengan
g
pihak-pihak terkait.
9 Menyimpan petunjuk-petunjuk dan gambar-gambar pelaksanaan.
9 Menyiapkan
y p format-format dan buku-buku untuk laporan p harian,, laporan
p
mingguan, dan lain-lain.
9 Pembayaran ganti rugi tanaman/ pohon/ bangunan yang terkena dampak
pemasangan pondasi tower

a Pembuatan Direksi Keet dan gudang lapangan, mobilisasi peralatan kerja dan
mobilisasi material.

a Menyiapkan crew tenaga kerja :


Di awal pekerjaan SUTT yang dibutuhkan adalah tenaga kerja ahli dan terampil di
bidang pekerjaan sipil (untuk pekerjaan pondasi) dan di bidang pekerjaan
mekanikal (untuk pekerjaan Stub Setting dan Erection Tower).
45
5.2. UITZET/ PEMATOKAN

a Uitzet/ pematokan sangat


menentukan untuk melaksanakan
pekerjaan selanjutnya.

a Uitzet/ pematokan adalah


menentukan letak pondasi pada
masing-masing kaki pondasi.
pondasi

a Harus diyakini bahwa posisi patok


yyang
g menandai tempatp tower tidak
bergeser (tidak digeser) dari tempat
yang telah ditentukan.

a Jik
Jika patokk tanda d l k tower
letak
bergeser, secara teknis akan timbul
masalah, misalnya : seharusnya
Gambar 30 : tower suspension
p yyangg berubah
Uitzet/ Pematokan posisi menjadi tension.

46
5.3. PEMASANGAN BOUWPLANK

a Pemasangan bouwplank adalah untuk menentukan letak (posisi) masing-


masing kaki tower.

a Pemasangan bouwplank menggunakan kayu papan yang mengelilingi letak


pondasi tower dan berbentuk bujur sangkar.

a Dari empat sisi pada titik tertentu ditarik benang, sehingga pada titik
pertemuan tarikan benang tersebut diketahui sebagai letak titik tengah (As)
masing-masing
g g kaki tower.

a Berdasarkan pengalaman di lapangan dan kebiasaan para pekerajaan


lapangan,
p g ,p pada umumnyay ppapan-papan
p p p untuk bouwplank
p tidak dipasang,
p g,
karena bouwplank justru akan bergeser jika terkena tanah galian.

a Titik As kaki tower diukur dan ditentukan setelah p


pekerjaan
j galian tanah
g
selesai.

47
5.4. GALIAN TANAH

a Galian tanah dilakukan setelah


bouwplank terpasang, sehingga
posisi tanah yang akan digali jelas
dan tidak terjadi kesalahan galian
tanah.

a Pekerjaan galian tanah


diperuntukkan pada jenis pondasi
cakar ayam dan pondasi normal.

a Untuk pondasi jenis Bump Pile, Bor


Pile,
l Strauss Pile,
l Mikro
k Pile,
l
Injection Mikro Pile, tidak ada
Gambar 31 : pekerjaan galian tanah.
Galian Tanah pada Pondasi Type
Normal
a Pada saat melaksanakan pekerjaan
galian tanah, harus dilakukan hati-
hati jangan sampai benang untuk
menentukan p poros ((As)) kaki tower
bergeser.

48
5.5. URUG PASIR DAN LANTAI KERJA

Gambar 32 :
Urug Pasir dan Lantai Kerja
a Bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah, apalagi jika tanahnya
l b k dan
lembek d b l
berlumpur, sehingga
hi pada
d saatt pengecoran pondasi,
d i
dasar (landasan) tempat pondasi di cor dalam keadaan keras.
a Pada umumnya lantai kerja ini tidak perlu ada pembesian. Jadi spesi
betonnya hanya berupa campuran pasir dan semen atau pasangan batu kali.
a Sebaiknya disiapkan lubang yang akan digunakan untuk memasukkan
pentanahan tiang (tower) dan akan dihubungkan ke kaki tower (stub
tower).
49
5.6. STUB SETTING DAN PEMASANGAN PENTANAHAN TIANG

a Adalah pekerjaan penyetelan/


pemasangan bodi utama tower
(kaki-kaki tower).

a Pada bagian bawah masing-masing


kaki tower, dipasang sepatu stub
berupa
p besi siku yyangg disilangkan,
g
sehingga stub tower tidak
menancap (ambles) tanah.

a Penyetelan kaki tower akan sangat


menentukan kelancaran erection
Gambar 33 : tower selanjutnya.
Stub Setting dan Pemasangan
Pentanahan Tiang
a Setelah stub (kaki) tower dipasang
dengan baik dan sebelum pekerjaan
pembesian dipasang pentanahan
pembesian,
tiang (penjelasan dan gambar lihat
bagian 3.3.2. gambar 23)
50
5.7. PEMBESIAN DAN PEMASANGAN BEKESTING

a Pembesian merupakan bagian dari


cor pondasi.

a Besar kecilnya
y ppenampang
p g besi dan
pembesian secara keseluruhan,
tergantung dari besar kecilnya
pondasi dan tower.

a Pada saat melakukan pembesian


harus dilaksanakan dengan hati-
hati, jangan sampai merubah
setting stub (pengesetan kaki
tower).

a Setelah pembesian selesai,


dilanjutkan pemasangan bekesting
(cetakan beton).

Gambar
G b 34 : a Pemasangan bekesting termasuk
sampai dengan kaki tower yang
Pembesian dan Pemasangan
Bekesting Pondasi Type Normal menyembul di atas tanah.
51
5.8. PERSIAPAN COR PONDASI

a Dalam melakukan pengecoran


masing-masing kaki-kaki pondasi
tower, harus diselesaikan tuntas
(tidak boleh terpotong).

a Oleh karenanya hal penting yang


harus diperhatikan dan dipenuhi
sebelum cor p
pondasi adalah :
9 Jika kondisi galian tanah rentan
longsor, harus dipasang turap
dengan kuat dan baik.
9 Bekesting harus telah terpasang
dengan baik dan kuat.
9 Palungan (tempat memasukkan
Gambar 35 : campuran semen ke dalam
Persiapan Cor Pondasi b k ti )
bekesting) h
harus di i k
disiapkan
dengan baik.
9 Material (semen, pasir, air, koral, dan lain-lain) harus telah disiapkan cukup.
9 Perlengkapan kerja (beton,
(beton molen,
molen pompa air, air vibrator,
vibrator sekop,
sekop dan lain-lain)
lain lain)
harus disiapkan lengkap dan memadai.
9 Kesiapan tenaga kerja dan supervisor (pengawas).
52
5.9. PELAKSANAAN COR PONDASI

a Pengecoran pada masing-masing


masing masing
kaki tower dilakukan secara terus
menerus dan tuntas, tidak boleh
ada tenggang waktu yang terlalu
lama.
lama

a Jika dalam satu kaki tower di cor


p kali dalam beberapa
beberapa p hari,,
dikhawatirkan senyawa pada
sambungan cor menjadi kurang
baik.

a Kekuatan beton ditentukan dalam


notasi K, misal : K-175, K-225, K-
Gambar 36 : 350 dan seterusnya, tergantung
Cor Pondasi Tower dari spesifikasi yang telah
ditentukan dalam kontrak.
a Pada saat cor dibuat “kubus beton”, untuk dilakukan uji kekuatan beton,
sebagai bukti bahwa pondasi telah memenuhi syarat kekuatan betonnya. betonnya
Pengujian (test) tekan hancur beton dilakukan di laboratorium konstruksi
(biasanya di Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan di Perguruan Tinggi setempat,
atau di tempat lain yang direkomendasikan). 53
Lanjutan 5.9.

a Agar campuran beton merata, padat


dan tidak berongga, setelah
campuran beton dituangkan harus
diaduk dengan mesin penggetar
(vibrator).
(vibrator)

a Jika pekerjaan dalam keadaan


emergency dan membutuhkan
penyesalan cepat
cepat, dimana
pengerasan beton juga harus
dipercepat, maka beton diberi
campuran Adittive.

a Jenis dan volume adittive yang


dicampurkan bermacam-macam,
tergantung sampai seberapa cepat
waktu
a tu ya
yang
g d dibutuhkan
butu a untuk
u tu
pengerasan beton.

a Dengan campuran Adittive ini, yang


Gambar 37 : seharusnya baru boleh didi-erection
erection
towernya pada umur beton 28 hari,
Turap yang dipasang pada tanah bisa dipersingkat menjadi 3, 4, 5
yang mudah ambrol hari dan seterusnya.
54
Lanjutan 5.9.

a Pada kondisi tanah tertentu (misal :


berlumpur berpasir,
berlumpur, berpasir dan lain-lain)
lain lain)
yang mudah ambrol dan meluber,
disekeliling
g g
galian harus dipasang
p g
turap yang kuat, sehingga pada
saat pengecoran tidak ambrol.

a Jenis pondasi tergantung jenis dan


k di i tanah
kondisi h setempat. Gambar
G b 38
menunjukkan gambar pondasi
Gambar 38 :
Pondasi Jenis Cakar Ayam tower jenis cakar ayam.

55
5.10. PEMBONGKARAN BEKESTING DAN URUG BALIK

a Pembongkaran bekesting dilakukan


apabila umur beton telah
mencukupi (beberapa hari setelah
pelaksanaan cor pondasi).

a Setelah bekesting dibongkar,


dilanjutkan dengan melakukan
pengurugan kembali
k b li ((urug balik)
b lik)
tanah.

a Pada saat melakukan urug balik,


tidak boleh sekaligus selesai. Tetapi
harus dilakukan secara bertahap/
berlapis, kemudian dipadatkan
dengan menggunakan alat pemadat
tanah (Stamper), dilanjutkan untuk
lapisan urugan selanjutnya, sampai
dengan selesai.
Gambar 39 :
Pembongkaran Bekesting dan
Urug Balik
56
5.11. ERECTION TOWER

a Ereetion Tower dilaksanakan


setelah pondasi tower dinyatakan
benar-benar mengeras.

a Biasanya jika pengecoran dalam


keadaan normal (tidak
menggunakan campuran Adittive/
untuk
t k mempercepatt pengerasan
beton), pekerjaan erection baru
dilaksanakan setelah umur pondasi
mencapai 28 (dua puluh delapan)
h i sejak
hari j k pengecoran selesai.
l i

a Urutan pelaksanaan erection tower :


9 Pemasangan stub (kaki tower)
secara bertahap seksi demi
seksi.
Gambar 40 : 9 Pemasangan silang-silang
(di
(diagonal)
l) tower.
t
Erection Stub Tower dan Silang-
Silang (Diagonal). 9 Pemasangan travers dan pucuk
tower.
57
5.12. FINISHING DAN PEKERJAAN LAIN-LAIN

a Yang termasuk finishing, meliputi


pekerjaan :
9 Perataan tanah sesuai dengan g
luas tanah yang dimiliki PLN
pada tapak tower.
9 Pengerasan bolt & nut tower.
Bila perlu sampai satu atau dua
tingkat (seksi stub), bolt & nut
dimatikan (di las), terutama
didaerah yang rawan pencurian.
pencurian
9 Pemasangan Danger Plate dan
Number Plate.
9 Pemasangan Penghalang Panjat
Tower.
9 Pemasangan patok batas tanah
Gambar 41 :
milik PLN.
Perataan Tanah & Patok Batas
Tanah Milik PLN 9 Penyempurnaan mata intan
(plesteran kaki tower).
58
Lanjutan 5.12.

a Pekerjaan finishing tersebut


biasanya dilaksanakan setelah
pekerjaan penarikan konduktor
(stringing) diselesaikan, dengan
maksud agar tidak terjadi kerusakan
ketika dilaksanakan pekerjaan
stringing.

a c a Pekerjaan lain-lain :
b
9 Pemasangan Vang Net (kalau
kebetulan 1 paket dengan
pekerjaan SUTT).
9 Pemasangan
P b l
bola pengaman//
Balistor (kalau ada).
Gambar 42 : 9 Pemasangan tembok penahan
a Plat Nomor Tower (Number Plate)
a. Plate). pondasi (kalau ada).
b. Plat Tanda Bahaya (Danger Plate).
c. Penghalang Panjat Tower.
59
6.1. PERSIAPAN PEKERJAAN

a Identifikasi permasalahan, dengan pertimbangan :


9 Volume pekerjaan stringing SUTT harus melalui jalur yang panjang (jauh).
9 Melewati berbagai macam area (rumah/ bangunan, bangunan perkebunan
perkebunan,
persawahan, hutan tanaman pangan, hutan jati, jaringan listrik dan telepon,
dan lain-lain).
9 Pada saat pelaksanaan pekerjaan dan untuk keperluan ruang bebas/ jarak
aman, beberapa hal yang harus diperhatikan :
¾ Pekerjaan harus berjalan kontinyu dan tidak boleh terhenti (berhenti)
karena timbulnya
y masalah di lapangan.
p g
¾ Timbulnya kerusakan dan pembongkaran untuk keperluan ROW dan saat
pelaksanaan pekerjaan harus diselesaikan diantisipasi pada saat
persiapan pekerjaan.
9 Adanya protes dari masyarakat yang tidak menyetujui pembangunan SUTT.
9 Permintaan ganti rugi kerusakan tanaman/ bangunan yang terlalu tinggi
(tidak wajar).
9 Dan berbagai permasalahan lainnya, yang terkadang tidak diprediksi dan
tidak diperhitungkan sebelumnya.
60
Lanjutan 6.1.

a Antisipasi yang harus dilakukan :


9 Agar dalam pelaksanaan pekerjaan berjalan lancar, tidak tersendat dan
terhenti serta agar tidak timbul permasalahan, maka perlu antisipasi sejak
awal.
9 Bentuk antisipasi ini adalah melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya.

a Dampak
p jjika antisipasi
p kurang
g matangg:
9 Ada kemungkinan pada saat pelaksanaan pekerjaan berlangsung, harus
terhenti (dihentikan), misalnya : karena ganti rugi yang belum beres,
adanya protes dari masyarakat, dan lain-lain.
9 Akan muncul biaya tak terduga untuk pengamanan peralatan kerja dan
material yang ada di lapangan. Jika terhentinya pekerjaan berlangsung
lama, maka pembengkaan biaya menjadi sangat besar.
9 Timbulnya kerawanan keamanan dan dampak sosial.
sosial
9 Pengaruh terhadap sistem ketenagalistrikan secara lebih luas, karena akan
berdampak pada sistem yang lain.
9 Kerugian di sisi PLN karena penyerapan anggaran yang tertunda dan
penjualan energi listrik yang tertunda.
9 Kerugian masyarakat karena tertundanya dalam memanfaatkan listrik.
61
Lanjutan 6.1.

a Antisipasi dan persiapan pekerjaan :


9 Identifikasi dan inventarisasi terhadap kemungkinan timbulnya kerusakan
tanaman, bangunan dan lain-lain, akibat pelaksanaan pekerjaan. Hal ini
menyangkut penyelesaian ganti rugi.
9 Mengurus dan mengkoordinasikan berbagai permasalahan dan perijinan/
pemberitahuan yyang
p g terkait dengan
g berbagai
g pihak,, misalnya
p y : PLN
setempat, Pemkab/ Pemkot beserta jajarannya, PT. Telkom, Perumka,
Perhutani, dan lain-lain.
9 Menyiapkan
y p informasi yyang
g menyangkut
y g petunjuk
p j pelaksanaan kerja,
p j ,
gambar-gambar pelaksanaan, dan lain-lain.
9 Menyiapkan buku-buku dan format-format laporan, yang diperlukan untuk
mencatat berbagai kejadian dalam pelaksanaan pekerjaan, laporan harian,
laporan mingguan, dan lain-lain.
9 Menyiapkan Direksi Keet dan gudang di lapangan. Karena pekerjaan SUTT
bersifat mobile dan routenya panjang, biasanya Direksi Keet dan Gudang,
menyewa dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

62
Lanjutan 6.1.

9 Pemasangan stegger (scaffolding)


pada lintasan SUTT yang
bersilangan (crossing) dengan jalan,
kabel telepon, rel KA, bangunan,
dan lain-lain.

Gambar 43 :
Stegger
gg (Crossing
g dengan
g JTM dan
Jalan
l Raya))

9 Penyelesaian pembayaran ganti rugi


tanaman,, banguan,
g ,ppohon.
Gambar
G b 44 :
Scaffolding (Crossing dengan SUTT)
63
6.2. PEMASANGAN INSULATOR STRINGS

a Menyiapkan isolator sesuai volume


kebutuhan di masing-masing area.

a Membersihkan isolator dari kotoran-


kotoran yang menempel, misalnya :
debu, oli, minyak, cat dan kotoran-
kotoran lainnya.

a Menginventarisasi kebutuhan
isolator dan rangkaiannya
pada masing- masing tower dari
seluruh tower yang ada.

a Melaksanakan pengesetan isolator


dan rangkaiannya sesuai data
masing-masing tower dari seluruh
Gambar 45 : tower yang ada.
Isolator dalam Kemasan
(Packing) a Jenis Insulator Strings berdasarkan
jenis tower :
9 Suspension
p Insulator Strings.
g
9 Tension Insulator Strings.
9 Dead End Insulator Strings.
9 Jumper Support Insulator. 64
Lanjutan 6.2.

a Pemasangan Insulator Strings :


9 Suspension Insulator Strings,
dipasang pada tower penyangga
((suspension).
p ) Adalah tower yyang
g
terletak pada posisi SUTT lurus,
tetapi bukan tower penegang.
9 Tension Insulator Strings,
dipasang pada tower belokan
dan tower penegang (tension).
9 Dead End Insulator Strings,
dipasang pada tower awal/
akhir SUTT.
9 Jumper Support Insulator,
Gambar 46 : dipasang pada tower tension
Insulator Strings Set dan tower awal/ akhir.
akhir

a Selanjutnya menaikkan Insulator a Pada cross arm paling atas dari


Strings
St gs ke e ccross
oss aarm dadan g
masing-masingg tower dipasang
p g
mengaitkannya (memasang) Snatch Block, yang berfungsi untuk
pada cross arm. alat menaikkan (kerekan) insulator
strings. 65
Lanjutan 6.2.

a Gambar 47 sampai dengan gambar 53 menunjukkan proses pemasangan


Insulator Strings, bagian-bagian Insulator Strings dan Insulator Strings dalam
keadaan telah terpasang pada travers.

Gambar 47 :
Menaikkan Insulator Strings ke
Travers

66
Lanjutan 6.2.

Gambar 48 :
Single Suspension Insulator Strings(A), Suspension Clamp
(B), Armour Rod (C) dan Dumper (D)
67
Lanjutan 6.2.

Gambar
G b 49 :
Single Tension Insulator, Double Tension Insulator Strings dan
Jumper Support Insulator pada Tower Belokan (Tower Tension)
68
Lanjutan 6.2.

Gambar 50 :
Pemasangan Tension Insulator Strings & Proses Sagging

69
Lanjutan 6.2.

Gambar 51 :
Single dan Double Tension Insulator Strings
70
Lanjutan 6.2.

Gambar 52 :
Double Suspension Insulator Strings

71
Lanjutan 6.2.

Gambar 53 :
Single Tension & Jumper Supoort
I
Insulator
l t StStrings
i pada
d Tower
T Belokan
B l k (Tension)
(T i )

72
Lanjutan 6.2.

Gambar 54 :
Insulator Strings
g Terpasang
p g pada
p
Gantry Gardu Induk

73
6.3. PENARIKAN KONDUKTOR & GROUND WIRE

a Dalam pelaksanaan pekerjaan stringing SUTT,


SUTT salah satu pekerjaan pokok
adalah penarikan konduktor dan ground wire.

a Sebelum proses penarikan konduktor dan ground wire dilaksanakan, harus di


cek terlebih dahulu seluruh jalur yang akan dilalui pekerjaan stringing apakah
telah aman, terutama pada jalur persilangan (crossing) dengan jalan, dan lain
sebagainya
b i h
harus sudah
d h terpasang
t stegger/
t / scaffolding
ff ldi dengan
d b ik
baik.

a Mengingat pada proses stringing merupakan pekerjaan yang sering


menimbulkan masalah, maka perlu antisipasi dan persiapan secara khusus dan
matang.

a Secara umum ada tiga bagian utama dalam pelaksanaan pekerjaan penarikan
konduktor dan ground wire yang harus dilakukan, yaitu :
9 Persiapan umum.
9 Persiapan penarikan (pemasangan pilot wire).
9 Proses dan pelaksanaan penarikan konduktor dan ground wire.
74
6.3.1. PERSIAPAN UMUM

a Meletakkan (menempatkan) mesin-mesin penarik (Engine Winch dan Real


Winder) pada jalur-jalur penarikan Tensioner Engine atau Break pada Drum
Area, dimana pada tempat tersebut juga diletakkan Haspel-Haspel Konduktor
dan Ground Wire.
Wire

a Pada masing-masing tower yang berada di depan mesin penarik dan dan mesin
penegang (Tensioner),
(Tensioner) semua cross arm-nya
arm nya dipasang achoer ke body tower.
tower
Tujuannya adalah untuk menahan Cross Arm dari kemungkinan timbulnya
pembengkokan pada saat dilaksanakan penarikan konduktor dan ground wire.

a Pada suspension insulator yang telah terpasang pada jalur penarikan, dipasang
Montage Roll yang berfungsi untuk lewatnya Pilot Wire dan konduktor serta
ground wire. Sedangkan
g g pada tower tension,, Montage
p g Roll langsung
g g dipasang
p g
pada cross arm, dengan dibantu Wire Rope yang telah dipotong dan
disesuaikan kebutuhan.

a Setelah persiapan umum kita lakukan dengan baik, dilanjutkan dengan


persiapam penarikan (pemasangan Pilot Wire).
75
6.3.2. PERSIAPAN PENARIKAN (PEMASANGAN PILOT WIRE)

a Pemasangan Small Pilot Wire :


9 Melaksanakan penggelaran Small Pilot Wire dari arah Drum Area ke arah
Engine Winch Puller Engine.
9 Penggelaran sekaligus dilaksanakan pada Montage Roll yang telah
terpasang.
9 Setiap gulungan Small Pilot Wire, panjangnya lebih kurang 200 meter.
9 Setiap Winch dan Tensioner diperlukan beberapa gulung Small Pilot Wire.
9 Antara gulungan yang satu dengan gulungan lainnya disambung dengan
Wire Clips.

a Pemasangan Big Pilot Wire :


9 Setelah Big Pilot Wire sampai pada Engine Winch, maka Big Pilot Wire dari
Break Machine (Tensioner) disambung dan ditarik ke arah Engine Winch,
sesuai dengan panjang Small Pilot Wire.
9 Selanjutnya Small Pilot Wire digulung dengan Reel Winder yang diletakkan
d k t dekat
dekat d k t Engine
E i Winch.
Wi h
9 Panjang Big Pilot Wire bisa mencapai 10.000 meter.
76
Lanjutan 6.3.2.

a Persiapan penarikan konduktor dan ground wire :

9 Konduktor dan ground wire ditarik dengan menggunakan Big Pilot Wire dari

Drum Site ke arah Engine Winch.

9 Penarikan konduktor dilakukan sekaligus, sehingga diperlukan material

(perlengkapan) bantu yang berupa Yoke yang dilengkapi dengan Counter

Weight.

9 Pada saat Big Pilot Wire sudah sampai di tempat Engine Winch, maka Drum

(Haspel) konduktor dan ground wire dilewatkan pada Tensioner serta

dililitkan sesuai reelnya (alur) dari Tensioner.

9 Fungsi Tensioner adalah untuk mengatur ketinggian konduktor dan ground

wire dari tanah, pada saat berlangsungnya proses penarikan.

77
6.3.3. PROSES DAN PELAKSANAAN PENARIKAN KONDUKTOR &
GROUND WIRE

a Ujung konduktor dan ground wire dihubungkan dengan Yoke yang telah
dilengkapi Counter Weight, dengan menggunakan Pulling Grip dan Beugel,
sedangkan ujung Big Pilot Wire dihubungkan dengan Yoke menggunakan
Beugel.
Beugel

a Proses penarikan :
9 Penarikan konduktor dan ground wire mengikuti jalur Pilot Wire.
Wire
9 Setelah Yoke sampai pada Rol-Rol yang terpasang pada tower, dilakukan
penyetopan Engine dan Tensioner.
9 Penyetopan dilakukan oleh pekerja pengawal Counter Weight dengan
menggunakan sarana komunikasi Handy Talky.
9 Memindahkan Yoke dari Rol sisi Drum Site dan Rol sisi Engine Site,
dilaksanakan oleh pekerja yang telah siap pada tower jalur Pilot Wire.

a Penyambungan konduktor dan ground wire :


9 Apabila
p konduktor dan gground wire dalam satu g
gulungan
g ((haspel)
p ) telah
habis ditarik, maka dilakukan penyambungan dengan gulungan (haspel)
lainnya.
78
Lanjutan 6.3.3.

9 Penyambungan
P b d
dengan menggunakan
k Joint
J i t Sleeve
Sl t
type C
Compression.
i
9 Untuk sambungan konduktor (konduktor line/ phasa) yang pada umumnya
menggunakan kawat ACSR, proses penyambungannya dua kali, yaitu
penyambungan
b (j i t sleeve)
(joint l ) steel
t l dan
d penyambungan
b (j i t sleeve)
(joint l )
alluminium.
9 Untuk sambungan ground wire yang pada umumnya menggunakan kawat
GSW penyambungan dilakukan satu kali,
GSW, kali karena semua urat kawatnya
sama, terbuat dari steel.
9 Agar pada saat melalui rol-rol kabel sambungan tidak mengalami kerusakan,
maka diberi pengaman yang berupa Joint Protector.
Protector

a Begitulah seterusnya proses penarikan dilakukan, hingga ujung konduktor dan


groundd wire
i sampaii pada
d Engine
E i Wich
Wi h (Dead
(D d End
E d Tower).
T )

a Pemasangan Tension Clamp dan Persiapan Sagging :


9 Setelah Counter Weight sampai pada Engine Winch, ujung-ujung konduktor
dan ground wire dilepas dari Yoke.
79
Lanjutan 6.3.3.

9 Selanjutnya salah atu ujung konduktor dan ground wire dipasang Tension
Clamp dan dikaitkan (dipasang) pada Tension Insulator Strings.
9 Pada
P d sisi
i i ujung
j yang satunya
t b l
belum di
dipasang T i
Tension Cl
Clamp, k
karena
andongan (sagging) dari konduktor dan ground wire tersebut masih belum
sempurna.
p
9 Salah satu ujung konduktorn dan ground wire di klem dengan
mempergunakan Come Along pada tower yang lain, dengan terlebih dahulu
diatur andongannya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan PLN.

a Demikianlah
D iki l h proses dan
d pelaksanaan
l k penarikan
ik k d kt dan
konduktor d ground
d wire
i
pada masing-masing phasa/ line dilaksanakan. Untuk penarikan konduktor dan
ground wire p
g pada p
phasa// line yyang
g lain,, mengikuti
g ketentuan dan tatacara
seperti yang diuraikan di atas.

80
6.4. PENGATUBAN ANDONGAN (SAGGING)

a Setelah penarikan konduktor dan ground wire antar Section Drum Site dan
Engine Site selesai dilaksanakan seluruhnya, selanjutnya dilaksanakan
pekerjaan pengaturan andongan (sagging).

a Untuk mengatur clearance andongan (sagging) dipergunakan alat penarik yang


berupa Small Engine, pada tower tension yang ujung konduktornya belum di
klem.

a Pada tower-tower kontrol yang ditentukan antara tower tension dipasang


pesawat Theodolit untuk mengukur dan mengetahui clearance andongan
(sagging) konduktor dan ground wire.

a Ketentuan besar kecilnya tarikan dan tinggi rendahnya andongan konduktor


dan ground wire, disesuaikan dengan spesifikasi SUTT.

a Selanjutnya dilakukan pemasangan Tension Clamp pada ujung konduktor dan


ground wire, Dengan demikian pekerjaan sagging telah selesai.
81
6.5. CLAMPING DAN PEMASANGAN ACCESORIES

a Dengan selesainya pekerjaan sagging dan dead & clamp kedua ujung
konduktor dan ground wire dipasang pada masing-masing tower tension,
j y dilakukan p
selalnjutnya pemasangan
g Klem ((Clamping)
p g) ppada tower-tower
penyangga (Suspension Tower).

a Proses dan pelaksnaan clamping :


9 Memindahkan konduktor dan ground wire dari Montage Roll ke posisinya
masing-masing, yaitu : untuk konduktor ke Suspension Insulator Strings dan
untuk
t k ground
d wire
i dipasang
di (dik itk ) pada
(dikaitkan) d Cross
C A
Arm paling
li atas
t (untuk
( t k
double ground wire) atau pada pucuk tower (untuk single ground wire).
9 Selanjutnya diteruskan dengan pengerasan klem-klem.

a Pekerjaan lainnya :
9 Pemasangan Jumper Support Insulator pada tower tension lengkap dengan
pemasangan Jumper Conductor dan Paralel Groove Clamp.

82
Lanjutan 6.5.

a Pemasangan Stock Bridge Dumper untuk masing-masing konduktor dan ground


wire.
Catatan : Jarakk dari
d kl
klem pada
d Insulator
l String ke
k Stockk Bridge
d Dumper,
disesuaikan dengan ketentuan yang diberikan PLN.

a Apabila jumlah konduktor pada masing-masing line (phasa) lebih dari satu,
misalnya : dua atau empat, maka harus dipasang pemisah atau perentang
(Spacer).

a Tujuan
T j pemasangan Spacer
S adalah
d l h untuk
t k menjaga
j j k antara
jarak t k d kt yang
konduktor
satu dengan konduktor lainnya dalam satu phasa, agar tidak berubah dan tidak
bertumbukan satu dengan lainnya, karena adanya gaya elektromagnetik atau
angin.

83
6.6. GAMBAR-GAMBAR PELAKSANAAN PEKERJAAN STRINGING SUTT

Gambar 55 :
Wire Rope (Pancingan Konduktor dan Ground Wire)

84
Lanjutan 6.6.

Gambar 56 :
Tensioner

85
Lanjutan 6.6.

Gambar
G b 57 :
Engine Winch (A) dan Reel Windeer (B)
86
Lanjutan 6.6.

Gambar 58 :
Counter Weight.
87
Lanjutan 6.6.

Gambar 59 :
Proses P
P Penyambungan
b K
Konduktor
d kt ACSR dengan
d menggunakan
k
Joint Sleeve Type Compression

88
Lanjutan 6.6.

Gambar 60 :
Penyambung Konduktor ACSR (Joint Sleeve) yang telah terpasang.

89
Lanjutan 6.6.

Gambar 61 :
Standby Conduktor dengan bantuan Montage Rol (Posisi konduktor
jauh dari Tensioner).

90
Lanjutan 6.6.

Gambar 62 :
Joint Sleeve Ground Wire.

91
6.7. PEKERJAAN FINISHING

a S
Secara umum pekerjaan
k j fi i hi
finishing adalah
d l h melakukan
l k k pengecekan
k t h d
terhadap
semua scope pekerjaan yang telah dikerjakan, dengan maksud :
9 Untuk mengetahui apakah pekerjaan telah dilaksanakan secara baik dan
benar.
9 Dengan pengecekan akan diketahui apabila terjadi kekurangan pekerjaan,
sehingga langsung dilakukan langkah-langkah perbaikan.

a Melaksanakan pembongkaran stegger (scaffolding) dan membersihkan lokasi


pekerjaan sepanjang jalur SUTT, dari sisa-sisa (limbah) pekerjaan.

a M
Menyelesaikan
l ik pembayaran
b ganti
ti rugii kerusakan
k k t
tanaman, b
bangunan, pohon-
h
pohon, dan lain-lain yang mengalami kerusakan atau karena ditebang, yang
diakibatkan oleh pelaksanaan pekerjaan.

a Memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak (kalau ada), yang diakibatkan oleh
proses pengangkutan peralatan dan material kerja pada saat pelaksanaan
stringing.

a Memperbaiki bangunan yang rusak (kalau ada), yang diakibatkan pada saat
pelaksanaan pekerjaan stringing.
92
Lanjutan 6.7.

a Memperbaiki
b k tanah h yang rusak,
k yang digunakan
d k sebagai
b l d
landasan (
(tempat)
)
peralatan kerja stringing.

a Melaksanakan pengecekan sepanjang jalur SUTT, untuk mengetahui keadaan


SUTT apakah benar-benar sudah aman dari gangguan pohon-pohon /
bangunan atau kemungkinan masih terdapat sisa-sisa material yang menempel
pada
d konduktor
k d kt atau
t di atas
t tower.
t

a Melaksanakan Commissioning Test atau pemeriksaan dan pengujian seluruh


route SUTT.
SUTT

a Menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi teknik, laporan-


laporan pekerjaan, pembuatan asbuilt drawing, laporan progress phisik, dan
lain sebagainya.

a Mengembalikan (retour) material sisa pekerjaan ke gudang PLN.

93
7.1. PENGERTIAN COMMISSIONING TEST

a P
Pekerjaan
k j i t l i listrik
instalasi li t ik yang telah
t l h selesai
l i dikerjakan
dik j k d
dan akan
k di
dioperasikan,
ik
tidak serta merta langsung boleh dioperasikan. Sebelum dan pada saat akan
dioperasikan harus diyakini terlebih dahulu bahwa instalasi listrik tersebut benar-
benar aman untuk dioperasikan.
p

a Untuk meyakini bahwa instalasi listrik telah benar-benar aman dioperasikan,


keberadaannya harus telah memenuhi persyaratan dan ketentuan teknis yang
berlaku.

a Apakah instalasi listrik telah memenuhi persyaratan dan ketentuan yang


berlaku, harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian atau commisoning test.

a Secara umum pengertian Commisioning Test adalah :


9 Serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengujian instalasi tenaga
listrik yang telah selesai dikerjakan dan akan diopersikan.
9 Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa instalasi yang diperiksa dan
diuji, baik alat demi alat maupun sebagai sub sistem dan sistem,
telah berfungsi semestinya dan memnuhi persyaratan kontrak, sehingga
dinyatakan siap untuk diopersikan dan secara resmi dapat
diserahterimakan kepada Pemberi Kerja.

94
7.2. RUANG LINGKUP COMMISSIONING TEST

a P
Pemeriksaan
ik :
Merupakan bagian dari Commisioning Test, dengan cara melihat langsung
terhadap peralatan/ material maupun konstruksi instalasi listrik yang telah
terpasang secara kasat mata dan atau melalui bantuan alat tertentu, misal :
teropong tetapi tidak menggunakan bantuan alat uji/alat ukur.
teropong, ukur
a Ada 2 (dua) jenis pemeriksaan, yaitu :
9 Pemeriksaan sifat tampak (visual check).
9 Pemeriksaan pemasangan atau rangkaian konstruksi.
konstruksi
a Pemeriksaan sifat tampak (visual check), yang meliputi :
9 Pemeriksaan item per item alat/ barang/material yang telah terpasang.
9 Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah alat/barang/material
yang dipasang telah sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak.
9 Melihat apakah perlengkapan yang dipasang dalam kondisi baik,
secara phisik tidak ada kelainan, tidak cacat phisik, tidak rusak, dan
lain-lain.
a Pemeriksaan pemasangan (konstruksi) yang meliputi :
9 Pemeriksaan rangkaian alat/barang/material yang telah terpasang.
9 Tujuannya
j y adalah mengetahui
g alat/ barang/material
g yyang
g dipasang,
p g
apakah telah sesuai dengan gambar rencana maupun peraturan yang berlaku
(SNI, LMK, PUIL, SPLN, dan lain sebagainya).

95
7.3. COMMISSIONING TEST PADA TRANSMISI

a Pemeriksaan sifat tampak (Visual Check) :


9 Memeriksa kondisi tower, apakah semuanya dalam keadaan baik dan tidak
ada bagian yang berkarat, termasuk bolt & nut-nya.
9 Memeriksa kondisi isolator,
isolator apakah semuanya dalam keadaan baik dan
bersih, tidak ada yang pecah atau retak dan tidak ada kotoran yang
menempel.
9 Memeriksa kelengkapan isolator, apakah dalam keadaan baik dan tidak cacat.
9 Memeriksak kondisi
k d konduktor,
k d k groundd wire dan
d joint sleeve,
l tidak
d k boleh
b l h ada
d
yang cacat (rantas) dan pengepresan harus baik (tidak longgar dan tidak
terlalu kuat).
9 Memeriksa semua p perlengkapan/material.barang
g p / g lainnya
y yyang g terpasang
p g
pada SUTT, yang pada prinsipnya semua dalam kondisi baik, secara phisik
tidak ada kelainan, tidak cacat phisik, tidak rusak dan tidak kotor.

a Pemeriksaan pemasangan (konstruksi) :


9 Memeriksa semua komponen SUTT sebagaimana disebutkan di atas, harus
benar-benar telah terpasang dengan baik, sesuai dengan spesifikasi dan
ketentuan yang berlaku.
9 Jadi pada pemeriksaan konstruksi ini, yang diperiksa adalah rangkaiannya,
yaitu rangkaian semua komponen dalam satu kesatuan (sistem) SUTT.
96
Lanjutan 7.3.

a Untuk item pekerjaan tertentu yang tidak bisa dilihat secara kasat mata (tidak
bisa dilihat secara kasat mata), maka dilakukan pengujian dengan menggunakan
alat uji/ alat ukur.

a Pengujian transmisi relatif lebih sederhana dan tidak serumit pengujian instalasi
pembangkit tenaga listrik maupun gardu induk.

a Pada transmisi yang diuji antara lain :


9 Tahanan isolasi isolator, tahanan isolasi antara phasa dengan phasa dan
tahanan isolasi antara phasa dengan kawat netral. Alat uji/ alat ukur yang
digunakan adalah Mega Ohm Meter/ Megger/ Insulation Resistance Tester.
9 Tahanan pembumian, dengan menggunakan alat uji/ alat ukur Earth
Resistance Tester.
Catatan : Dalam melakukan ppengujian
g j agar
g hati-hati dan menggunakan
gg alat ukur
yang benar-benar presisi dan tidak rusak.

97
7.4. PENGOPERASIAN TRANSMISI

a Apabila tahap Commissioning Test telah dilaksanakan dan diselesaikan dengan


sesuai ketentuan yang berlaku, maka Transmisi telah siap untuk dioperasikan.

a Agak berbeda dengan pengoperasian Gardu Induk yang hanya di satu tempat,
tempat
pengoperasian Transmisi harus dilaksanakan secara lebih hati-hati, karena
berada pada area dan route yang panjang. Oleh karenanya sebelum
dioperasikan/ dimasuki tegangan (Energizing), harus diyakini bahwa seluruh
route jaringan benar
benar-benar
benar aman.
aman

a Dalam pengoperasian transmisi melibatkan pihak-pihak :


9 Pihak Pemberi Kerjaj ((Pengguna
gg Jasa).
)
9 PT. PLN (Persero) Jasa Sertifikasi, selaku pihak yang memberikan Sertifikat
Laik Operasi (SLO).
9 Pihak Kontraktor Listrik yang mengerjakan Transmisi.
9 PT.
PT PLN (Persero)
(P ) terkait.
t k it
9 Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat, beserta jajarannya.

a Dengan telah dioperasikannya transmisi,


transmisi dilanjutkan dengan penyerahan
pekerjaan oleh Kontraktor kepada Pemberi Kerja.

98
8.1. SERAH TERIMA PERTAMA

a Setelah Transmisi beroperasi dengan baik, maka pekerjaan tersebut dapat


dinyatakan selesai, sehingga dapat dilaksanakan serah terima pekerjaan (serah
terima pertama).

a Dengan dilaksanakannya serah terima pertama ini, berarti phisik pekerjaan telah
mencapai 100 % (seratus persen). Tetapi pada umumnya pembayaran termijn
h
hanya dib ik 95% dari
diberikan d i total
t t l nilai
il i kontrak.
k t k

a Pada saat serah terima pertama ini, pelaksana pekerjaan (Kontraktor) masih
mempunyaii tanggungan
t pekerjaan
k j yang akan
k dil k
dilaksanakan
k (jik terdapat
(jika t d t
kekurangan yang tidak signifikan) selama masa pemeliharaan.

a S
Selanjutnya
l j t K t kt berkewajiban
Kontraktor b k jib memberikan
b ik J i
Jaminan P
Pemeliharaan
lih yang
berupa Bank Garansi (Garansi Bank).

a K
Kekurangan
k ( i ) pekerjaan
(sisa) k j dib tk
dibuatkan B it Acara
Berita A d l
dalam b t k “Pending
bentuk “P di
Item” pekerjaan.
99
8.2. MASA PEMELIHARAAN

a Yang dimaksud masa pemeliharaan adalah masa atau periode waktu tertentu
dimana Kontraktor harus melakukan pemeliharaan terhadap pekerjaan yang
telah dikerjakan.

a Jadi jika selama masa waktu pemeliharaan terdapat kekurangan pekerjaan yang
menyebabkan tidak sesuai dengan kontrak, kewajiban Kontraktor untuk
menyelesaikan/
l ik / memperbaiki/
b iki/ menyempurnakan
k hingga
hi sesuaii dengan
d k t k
kontrak.

a Untuk pekerjaan Transmisi, sisa pekerjaan yang ditoleransi dikerjakan pada masa
pemeliharaan
lih (k
(karena b l
belum di l ik
diselesaikan pada
d saatt sebelum
b l S h Terima
Serah T i
Pertama), antara lain
9 Penyelesaian ganti rugi yang masih tersisa, yang keterlambatannya tidak
disebabkan oleh Kontraktor.
Kontraktor
9 Pengembalian (retour) material ke gudang PLN.
9 Pembuatan asbulit drawing.
9 Berita
B it acara penyelesaian
l i sisai pekerjaan
k j (P di Item).
(Pending It )
9 Pekerjaan lain yang diakibatkan bukan karena ketidaksiapan Kontraktor.
100
8.3. SERAH TERIMA KEDUA

a Apabila masa pemeliharaan (garansi) telah dilampaui dan sisa pekerjaan selama
masa pemeliharaan telah diselesaikan dengan baik, maka dapat dilaksanakan
penyerahan pekerjaan kedua (Serah Terima Kedua).

a Dengan dilaksanakannya Serah Terima Kedua, maka hubungan kontraktual


antara Pemberi Kerja (PLN) dengan Kontraktor telah berakhir.

a Catatan :
9 Meskipun secara legal aspect seharusnya hubungan kontraktual berakhir,
kenyataannya Kontraktor masih harus memberikan jaminan terhadap
Peralatan Material yyang
g terpasang.
p g
9 Pada umumnya jaminan diberikan selama 1 (satu) tahun sejak Serah Terima
Kedua.
9 Jaminan yang diberikan berupa Jaminan Bank (Bank Garansi).
9 Jadi kalau ada kerusakan peralatan/ material yang disebabkan bukan karena
kesalahan operasi atau bencana alam, maka pihak Kontraktor masih
berkewajiban memperbaikinya.

a D
Dengan telah
l h dilaksanakannya
dil k k S h Terima
Serah T i K d
Kedua, maka
k pembayaran
b retensii
sebesar 5% (lima persen) dilaksanakan (dibayarkan).

101
9.1. ASPEK MANAJEMEN

a Dari sisi konstruksi, pekerjaan Transmisi adalah pekerjaan yang sederhana


sehingga dalam pekerjaannya tidak sulit. Yang rumit dan terkadang menyulitkan
adalah masalah-masalah non teknis, karena :
9 Route SUTT yang panjang, sehingga pekerjaan berpindah-pindah tempat
(mobile).
9 Dalam pelaksanaan pekerjaan melibatkan banyak pihak, terutama pihak
eksternal (masyarakat) yang akan dilalui dan disekitar jalur SUTT.
9 Permasalahan-permasalahan di lapangan antara lain :
¾ Masalah
M l h ganti ti rugii tanah,
t h tanaman,
t b
bangunan, d lain-lain.
dan l i l i
¾ Kesulitan mendapatkan ruang bebas/ jarak aman (ROW).
¾ Ketidaksediaan masyarakat untuk dilalui jalur SUTT.

a Akibat berbagai permasalahan tersebut, sering terjadi pekerjaaan terpaksa harus


terhenti beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan ada yang
sampai terhenti bertahun-tahun.

a Pihak yang terlibat dan terkait dalam pelaksanaan pembangunan pekerjaan


SUTT, antara lain :
9 Kontraktor Listrik selaku pelaksana pekerjaan.
9 Pemberi Kerja atau Instritusi Pengguna (PLN).
9 Pabrikan/ Distributor/ Supplier/ Fabrikator komponen listrik.
102
Lanjutan 9.1.

9 Importer dan Transporter.


Transporter
9 Pemkab/ Pemkot setempat beserta jajarannya yang akan dilalui jalur SUTT.
9 Masyarakat setempat yang akan dilalui dan yang ada di sekitar jalur SUTT.

a Mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi, maka aspek manajemen


harus mendapatkan perhatian dan penanganan sebaik-baiknya, bahkan secara
khusus ditangani
g oleh p
para p
personil yyang
g berpengalaman
p g di bidang
g p
pekerjaan
j
Transmisi.

a Karena pekerjaan ini banyak berpotensi timbul masalah (konflik), maka :


9 Kontraktor harus mampu mengkoordinasikan semua pihak dengan sebaik-
baiknya.
9 Kontraktor harus mampu menangani setiap masalah yang timbul dengan
sebaik-baiknya
b ik b ik d responsif
dan if terhadap
t h d segala l masalah
l h yang dihadapi.
dih d i
9 Pelaksana (petugas) lapangan harus jeli melihat kemungkinan timbulnya
masalah, sekaligus memiliki kemampuan tentang manajemen konflik.
9 Kontraktor harus mampu mengindetifikasi dan melaksanakan secara baik
tentang alur proses pekerjaan, sejak dari awal sampai dengan berakhirnya
kontrak.
103
Lanjutan 9.1.

a Jenis dan ruang lingkup aktifitas yang harus dilakukan,


dilakukan antara lain : :
9 Administrasi :
¾ Pengurusan ijin-ijin.
¾ Administrasi keuangan (pembuatan jaminan uang muka, muka jaminan
pelaksanaan, jaminan pemeliharaan, dan lain –lain).
9 Keuangan (pembayaran komponen/ peralatan/ bahan/ material).
9 Administrasi teknik (pembuatan Kurva S, Time Schedule, Format Schedule,
A b ilt Drawing,
Asbuilt D i d lain-lain).
dan l i l i )
9 Pelaksanaan phisik pekerjaan sejak dimulainya pekerjaan sampai serah
terima pekerjaan.
9 Keamanan dan keselamatan pekerja maupun pekerjaan.
9 Dan lain sebagainya.

a Salah satu aspek manajemen yang cukup penting dan harus dipenuhi, dalam
pembuatan “Network Planning”, sehingga :
9 Alur dan proses pekerjaan dapat diketahui dengan mudah.
9 Semua jenis dan ruang lingkup pekerjaan yang ada dapat dilaksanakan sesuai
dengan jadual yang telah dibuat.
dibuat
9 Pengkoordinasian pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.
9 Pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dengan hasil yang memuaskan.
104
9.2. KRITERIA KONTRAKTOR LISTRIK

a Usaha jasa konstruksi terdiri dari 5 (lima) bidang,


bidang yaitu ASMET (Arsitektural,
(Arsitektural Sipil,
Sipil
Mekanikal, Elektrikal dan Tata Lingkungan), bidang elektrikal memiliki kekhasan
dan kekhususan dibanding yang lain.

a Khusus untuk bidang Elektrikal, selain harus mengacu pada UU 18/ 1999, juga
harus mengacu pada UU 15/ 1985 tentang Ketenagalistrikan.

a Bidang Elektrikal selain sangat spesifik,


spesifik juga memiliki resiko tinggi.
tinggi

a Kriteria Kontraktor Listrik yang menjadi pelaksana pekerjaan Transmisi,


adalah :
9 Memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang sesuai dengan klasifikasi dan
kualifikasi pekerjaan yang dikerjakan.
9 Harus memiliki pengalaman pekerjaan sejenis dengan pekerjaan yang
dikerjakan.
dikerjakan
9 Memiliki personil (tenaga kerja) yang berpengalaman dalam melaksanakan
pekerjaan Transmisi.
9 Memiliki Penanggung gg g Jawab Teknik ((PJT)) yyang g bersertifikat Keahlian
Kualifikasi Ahli Utama di bidang Teknik Tenaga Listrik.
9 Memiliki peralatan kerja yang memadai, sesuai dengan pekerjaan yang
ditangani.
105
9.3. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

a Aspek yang sangat penting yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pekerjaan,
adalah aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

a Apalagi untuk pekerjaan elektrikal yang beresiko tinggi, aspek K3 harus menjadi
perhatian utama. Terlebih apabila melaksanakan pekerjaan pada lokasi Transmisi
Eksisting yang bertegangan, para personil (tenaga kerja) harus mendapatkan
pelatihan khusus tentang
p g K3.

a Untuk pelaksanaan pekerjaan Transmisi Eksisting, masalah K3 harus dipatuhi


secara lebih ketat,
ketat disamping itu yang harus diperhatikan dan dipenuhi :
9 Harus ada Supervisor yang khusus menangani dan mengkoordinasikan
masalah K3.
9 Setiap dan semua pekerjaan dalam pelaksanaannya harus berkoordinasi
dengan Pengawas Pekerjaan (PLN).
(PLN)
9 Di lokasi pekerjaan harus dipasang rambu-rambu tanda bahaya, sehingga
pekerja tidak seenaknya berlalu lalang di lokasi tertentu yang
membahayakan.
9 Harus disediakan alat keselamatan kerja yang lengkap.
lengkap
9 Semua pihak harus mematuhi dan menjalankan peraturan K3 dengan baik.

106