Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Tampil cantik dengan kulit yang putih, halus, bebas dari jerawat, bintik
hitam, dan keriput adalah dambaan setiap wanita. Kondisi ideal seperti itu
tidak akan tercapai begitu saja, tanpa tindakan dan usaha sejak dini. Berbagai
upaya dilakukan untuk mendapatkan atau mempertahankan kondisi ideal
tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan kosmetik perawatan
kulit. Tujuan penggunaan kosmetik ini adalah untuk melindungi kulit akibat
faktor lingkungan tempat kita hidup misalnya asap kendaraan bermotor, air
yang tercemar polusi, makanan yang mengandung lemak tak jenuh, juga
radiasi sinar ultraviolet dari sinar matahari. Faktor lingkungan tersebut akan
menghasilkan radikal bebas yang dapat mempercepat proses penuaan.
Sementara itu sinar ultra violet dari sinar matahari selain berakibat pada
penuaan kulit juga dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, bintik hitam,
kulit menjadi kusam, keriput, dan yang paling ditakuti adalah kanker kulit
yang merupakan efek jangka panjang.1,2
Kosmetik perawatan kulit yang beredar di pasaran dan diyakini dapat
mempertahankan peremajaan kulit adalah yang memiliki aktivitas
antioksidan dan berefek tabir surya. Kedua aktivitas ini berguna untuk
melindungi kulit agar terhindar dari serangan radikal bebas serta dapat
meredam dampak negatif dari radiasi sinar ultra violet. Adanya kekhawatian
akan kemungkinan adanya efek samping yang belum diketahui dari senyawa-
senyawa antioksidan sintetik akibat durasi pemakaian yang terlalu lama
menyebabkan antioksidan alami menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan.
Indonesia dengan kekayaan alam yang demikian besar tentu saja
mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk mendapatkan bahan alam yang
berkhasiat antioksidan ataupun tabir surya. Potensi inilah yang mendorong
produsen kosmetik berlomba-lomba memasarkan produknya yang berasal
dari bahan alami tumbuh-tumbuhan yang diyakini lebih aman
penggunaannya. Bukti-bukti ilmiah melalui serangkaian penelitian guna
mendukung khasiat khususnya antioksidan dari bahan alam tersebut juga
telah banyak dilakukan. Penelitian yang telah dilakukan pada beberapa zat
diantaranya: bengkoang, papain, teh hijau, teh hitam, belimbing wuluh, buah
merah, mulberry, kulit buah pandan laut dan lain-lain menunjukkan bahwa
zat-zat tersebut mempunyai aktivitas antioksidan.3,4,5 Dengan kandungan
antioksidan yang tinggi bengkoang, papain serta teh hijau juga dapat
berfungsi sebagai pencerah kulit karena dapat secara optimal menghambat
aktivitas tyrosinase. Bahkan kencur yang selama ini digunakan sebagai
rempah-rempah ternyata memiliki efek tabir surya.6
Ubi jalar juga merupakan kekayaan alam Indonesia yang tersebar
diseluruh wilayah Indonesia dan banyak dimanfaatkan sebagai sumber
nutrisi. Harganya yang murah memungkinkan untuk dikonsumsi oleh semua
golongan masyarakat, bahkan di Negara Barat ubi jalar merupakan makanan
primadona dan biasa disajikan pada perayaan-perayaan hari besar. Ubi jalar
mempunyai beberapa varietas antara lain putih, merah dan ungu. Komposisi
zat gizinya sangat tinggi dan hampir sama, namun varietas ubi jalar merah
lebih kaya akan kandungan betakarotennya. Adapun zat gizi yang terkandung
dalam ubi jalar antara lain karbohidrat, lemak, protein, serat, kalsium, fosfor,
mangan, besi, asam fenolat, antosianin, vitamin B6, vitamin E, vitamin C dan
juga betakaroten. Kekayaan zat gizinya ini khususnya varietas merah dan
ungu yang kemudian dimanfaatkan untuk mencegah atau terapi berbagai
macam penyakit seperti jantung koroner, stroke, kanker, kolesterol,
xeroftalmia, demensia dan lain-lain. .
Walaupun kandungan gizinya cukup tinggi akan tetapi ubi jalar belum
banyak dimanfaatkan untuk sediaan kosmetik. Saat ini baru ubi jalar ungu
dengan kandungan antosianin, telah diteliti untuk pewarna alami dalam
kosmetik. Padahal dengan kandungan betakarotennya yang tinggi (7700
mg/100 g) maka ubi jalar merah sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan
dalam sediaan kosmetik, mengingat betakaroten memiliki aktivitas sebagai
antioksidan yaitu senyawa yang dapat menyumbangkan satu atau lebih
elektron kepada radikal bebas sehingga radikal bebas tersebut dapat diredam.
Salah satu uji untuk menentukan aktivitas antioksidan adalah metode
DPPH (1,1 Diphenyl-2-picrylhidrazyl). Metode DPPH memberikan informasi
reaktivitas senyawa yang diuji dengan suatu radikal stabil. DPPH
memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 515 nm dengan warna
violet gelap. Penangkapan radikal bebas menyebabkan elektron menjadi
berpasangan yang kemudian menyebabkan penghilangan warna yang
sebanding dengan jumlah elektron yang diambil.8,9
Mengacu pada pernyataan-pernyataan di atas maka menarik sekali untuk
diteliti aktivitas antioksidan dan tabir surya ubi jalar merah kaitannya dengan
pengembangan bahan alam yang bermanfaat untuk kosmetik sehingga pada
aplikasinya nanti dapat digunakan sebagai kosmetik perawatan kulit.

1.2. Perumusan masalah


1. Apakah ekstrak ubi jalar merah memiliki aktivitas antioksidan dan tabir
surya?
2. Apakah aktivitasnya masih dapat dipertahankan dalam formula sediaan
bentuk lotion?
3. Apakah ke dua aktivitas tersebut tetap stabil selama dua bulan
penyimpanan pada suhu 5оC, 25оC, dan 45оC

1.3. Tujuan penelitian


1. Tujuan umum
Mengetahui manfaat ekstrak ubi jalar merah untuk sediaan kosmetik
perawatan kulit.
2 . Tujuan khusus
a. Menguji aktivitas antioksidan dan tabir surya ekstrak ubi jalar merah.
b. Membuat formulasi sediaan lotion ekstrak ubi jalar merah
c. Menguji stabilitas sediaan lotion ubi jalar merah.
d. Menguji stabilitas aktivitas antioksidan dan tabir surya lotion ubi jalar
merah
1.4. Manfaat penelitian
1. Mengembangkan sumber daya alam Indonesia yang bermanfaat
bagi kosmetik.
2. Tambahan informasi tentang manfaat dari ubi jalar merah
3. Menambah keanekaragaman pilihan bahan alam yang bermanfaat
bagi antioksidan dan tabir surya.

1.5. Ruang lingkup penelitian


Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengekstraksi ubi jalar merah yang telah dikeringkan dalam oven dengan
suhu 45о C menggunakan pelarut etanol.
2. Uji aktivitas antioksidan ekstrak ubi jalar merah dengan metode DPPH
(penangkapan radikal bebas DPPH) dan dihitung sebagai prosen inhibisi.
3. Uji aktivitas tabir surya ekstrak ubi jalar merah dengan menghitung nilai
SPF (Sun Protection Factor)
4. Membuat formulasi lotion ekstrak ubi jalar merah
5. Uji stabilitas lotion, aktivitas antioksidan dan tabir surya setiap dua
minggu selama delapan minggu, kecuali tabir surya hanya minggu ke nol
dan minggu ke delapan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kulit Manusia


Kulit adalah lapisan terluar dari tubuh manusia yang sebagian besar
ditumbuhi rambut, baik rambut halus maupun rambut kasar dan panjang,
yang membungkus seluruh permukaan tubuh manusia. Secara anatomi fungsi
kulit melindungi tubuh terhadap benda asing, misalnya bakteri dan benturan
fisik, juga berfungsi menghindari penguapan yang berlebihan.1Fungsi
perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti
pembentukan lapisan tanduk secara terus-menerus (keratinisasi dan pelepasan
sel-sel yang telah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum
dan keringat, dan pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari
bahaya sinar ultraviolet matahari. Selain itu kulit juga merupakan suatu
kelenjar holokrin yang besar (Montagna, Renault, Debreuil)(dikutip dari
Tranggono10).
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar yang membatasi
manusia dari lingkungan hidupnya. Luas kulit sekitar 1,2 – 2,3 m2 dengan
berat kira-kira 16% dari berat badan. Kulit merupakan organ esensial dan
vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan.11 Kulit juga sangat
kompleks, elastis dan sensitif, serta ketebalannya sangat bervariasi tergantung
pada jenis kelamin, lokasi dan umur. Umumnya laki-laki memiliki kulit yang
lebih tebal daripada perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki lapisan
lemak subkutis yang lebih tebal daripada laki-laki.12

2.1.1. Morfologi kulit


Kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan epidermis, lapisan
dermis dan lapisan subkutis.12,13,14
A.Lapisan epidermis
Epidermis tersusun dari beberapa lapis sel dengan ketebalan lebih
kurang 0,1-0,3 mm. Berturut-turut dari mulai lapisan terluar adalah
stratum corneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum
spinosum dan stratum basale. Pada lapisan epidermis terdapat melanosit
yaitu sel-sel dendrit yang memproduksi dan mengeluarkan melanosom
yang mengandung melanin. Melanin berperan penting dalam
mempengaruhi warna kulit.12 Melanosit dihasilkan oleh sel-sel basal
pada lapisan basal. Epidermis juga mengandung sel-sel Langerhans
dengan fungsi respon imun sebagai mekanisme perlindungan melawan
invasi material-material asing.12
B.Lapisan dermis
Lapisan dermis atau korium merupakan lapisan kedua kulit.
Lapisan ini jauh lebih tebal daripada epidermis, terbentuk oleh jaringan
elastik dan fibrosa padat dengan elemen selular, kelenjar dan rambut
sebagai adneksa kulit. Lapisan ini terdiri atas:
1.Pars papilaris (lapisan papilari) yaitu bagian yang menonjol ke dalam
epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
2.Pars retikularis (lapisan retikular) yaitu bagian bawah dermis yang
berhubungan dengan subkutis, terdiri atas serabut penunjang kolagen,
elastin dan retikulin.
Pada lapisan dermis terdapat pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar
keringat, dan kelenjar sebaceous.12
C.Lapisan subkutis
Lapisan subkutis terdapat di bawah lapisan dermis yang terdiri dari
jaringan ikat yang berisi banyak sel-sel adipose. Sel lemak merupakan
sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir karena sitoplasma lemak
yang bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu
dengan lainnya oleh trabekula yang fibrosa. Fungsi utama lemak
subkutis adalah untuk mengatur suhu. Pada wanita umumnya lemak
subkutis lebih besar daripada pria dan pada anak-anak lebih besar
daripada dewasa.12

2.1.2. Fungsi biologi kulit


Kulit adalah suatu organ yang mempunyai beberapa variasi fungsi
penting, yaitu:
A.Fungsi Proteksi
Kulit melindungi bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan fisik
maupun mekanik, gangguan kimia, gangguan sinar ultraviolet dan
gangguan mikroorganisme. Gangguan fisik maupun mekanik dapat
ditanggulangi oleh bantalan lemak subkutis. Gangguan kimiawi seperti
panas dan dingin dan mikroorganisme dapat diatasi oleh lemak
permukaan kulit yang berasal dari kelenjar palit kulit yang mempunyai
pH 5,0-6,5. Gangguan sinar ultraviolet diatasi oleh sel melanin yang
menyerap sebagian sinar tersebut. Proses keratisasi juga merupakan
sawar mekanis karena sel-sel tanduk melepaskan diri secara teratur dan
diganti oleh sel muda di bawahnya.11
B.Fungsi Absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan, maupun benda
padat. Tetapi cairan yang mudah menguap lebih mungkin diserap kulit,
begitu pula zat yang larut dalam minyak. Kemampuan absorpsi kulit
dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban udara,
metabolisme dan jenis vehikulum zat yang menempel di kulit.
Penyerapan dapat melalui celah antarsel, saluran kelenjar atau saluran
keluar rambut.11
C. Fungsi respirasi
Kulit juga merupakan organ untuk respirasi. Kulit mengabsorpsi
oksigen dari udara dan membentuk lebih kurang 2% dari total respirasi
tubuh. Selain itu, kulit juga mensekresikan minyak, keringat dan sisa-
sisa metabolisme. Dalam kondisi normal tubuh kehilangan seperempat
cairan perhari melalui kulit. Dua pertiga dari jumlah tersebut adalah
keringat sedang sisanya air.14
D. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (Termoregulasi)
Kulit melakukan peran ini dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengerutkan otot dinding pembuluh darah kulit. Pada keadaan suhu
tubuh meningkat, kelenjar keringat mengeluarkan banyak keringat ke
permukaan kulit dan dengan penguapan keringat tersebut terbuang pula
kalori / panas tubuh. Vasokonstriksi pembuluh darah kapiler kulit
menyebabkan kulit melindungi diri dari kehilangan panas pada waktu
dingin. Kulit kaya akan pembuluh darah kapiler sehingga cara ini cukup
efektif. Mekanisme termoregulasi ini diatur oleh sistem saraf simpatis
yang mengeluarkan zat perantara asetilkolin. Dinding pembuluh darah
kulit pada bayi belum berfungsi secara sempurna sehingga mekanisme
termoregulasi belum berjalan dengan baik.11
E. Fungsi Pengindra (Sensori)
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis. Badan ruffini yang terletak di dermis, menerima rangsangan
dingin dan rangsangan panas diperankan oleh badan krause. Badan taktil
Meissner yang terletak di papil dermis menerima rangsang rabaan,
demikian pula badan Merkel-Renvier yang terletak di epidermis. Saraf-
saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah erotik.11

2.2. Ubi jalar merah (Ipomoea batatas L. Lam)


2.2.1. Klasifikasi
Ubi jalar merah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:15
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Liliopsida (berkeping dua / dikotil)
Subclass : Arecidae
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)
Genus : /Ipomoea
Spesies : Ipomoea batatas, L

2.2.2. Nama umum


Indonesia: Huwi boled, huwi mantang, katelo, ketela, ketela rambat, telo
rambat (Jawa), gadong, piek, gadung jalur, ubi jalah, balading, ubi pelo
(Sumatra), gadong jalur (Batak), katila (Dayak), Watata (Sulawesi Utara),
patatas (Papua).16,17
Inggris : Sweet potato
Melayu : Ubi keledek
Thailand : Phak man thet
Jepang : Satsumaimo15

2.2.3. Morfologi
Tanaman ubi jalar tumbuh atau merambat di permukaan tanah.
Tanaman ini termasuk tanaman semak (herba) halus dan berbulu.17
Helaian daun rapuh, patah-patah, berwarna hijau hingga kekuningan, hijau
tua kecoklatan atau hijau kehitaman, permukaan bawah umumnya lebih
pucat; bentuk bundar telur, jantng melebar atau agak berlekuk menjari,
panjang helaian 4 cm sampai 14 cm, lebar 4 cmsampai 11 cm; pangkal
daun berlekuk, ujung daun meruncing, pinggir daun rata atau agak
berlekuk, kadang-kadang berbagi menjari; tulang daun menyirip.16 Bagian
yang dipanen dari tanaman umbi ini adalah umbinya. Ubi jalar ditanam
dengan stek batang pada lahan yang telah diolah secara intensif. Tanaman
ubi jalar lebih cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m
di atas permukaan laut (dpl).17

2.2.4. Kegunaan
Ubi jalar merupakan tanaman palawija penting di Indonesia setelah
jagung dan ubi kayu. Komoditas ubi jalar sangat layak untuk
dipertimbangkan dalam diversifikasi pangan karena memiliki beberapa
kelebihan antara lain kandungan nutrisi, umur tanam yang pendek, serta
tingkat produksi yang tinggi. Pemanfaatan ubi jalar dalam agroindustri
sudah lama berkembang yaitu sebagai campuran pada proses pembuatan
saos tomat, serta yang sedang dikembangkan adalah pengolahan tepung ubi
jalar. Keuntungan utama pemakaian tepung ubi jalar adalah harga lebih
murah, rasa lebih manis, nilai kalori lebih tinggi daripada tepung terigu.
Selain itu dengan kandungan gizi yang tinggi maka akan meningkatkan
nilai total gizi produk (seperti roti dan biskuit). Bagi kesehatan, ubi jalar
selain untuk kesehatan mata (mencegah xeroftalmia), sekelompok
antioksidan yang terkandung dalam ubi jalar mampu menghalangi laju
perusakan sel oleh radikal bebas. Karenanya ubi jalar dapat mencegah
kemerosotan daya ingat dan kepikunan, penyakit kardiovaskuler seperti
jantung koroner, kolesterol, stroke serta kanker. Sementara kandungan serat
dan pektin dalam ubi jalar sangat baik untuk mencegah gangguan
pencernaan seperti wasir, sembelit, hingga kanker kolon.18,19

2.2.5. Kandungan
Kandungan umbi ubi jalar merah dalam 100 gram adalah sebagai berikut:18
Kandungan Gram
Energi 123 kkal
Protein 1,8
Lemak 0,7
Karbohidrat 27,9
Asam fenolat 0,014-0,051
Antosianin 0,11-0,21
Serat dan pektin
Kalsium 0,03
Fosfor 0,049
Besi 0,007
Betakaroten 7,7
Vitamin C 0,022
Vitamin E

2.3. Karotenoid
Karotenoid merupakan pigmen yang terdistribusi secara sangat
luas, terdapat dalam semua jenis tumbuhan dari tumbuhan tingkat rendah
sampai tingkat tinggi. Senyawa ini mempunyai dua fungsi utama dalam
tumbuhan. Pertama sebagai pigmen pelengkap dalam proses fotosintesis, dan
kedua sebagai zat warna dalam bunga dan buah. Pada bunga kebanyakan
karotenoid terlihat sebagai warna kuning. Pada buah, selain warna kuning,
karotenoid dapat pula terlihat sebagai warna merah dan jingga seperti pada
tomat.20,21
Karotenoid adalah senyawa tetraterpenoid C40 yang larut dalam
lemak. Karotenoid merupakan pigmen yang tidak stabil, mudah teroksidasi
terutama bila berhubungan langsung dengan udara. Karotenoid yang terkenal
adalah hidrokarbon tak jenuh turunan likopena atau turunan likopena
teroksigenasi yang dikenal sebagai xantofil. Strutur kimia likopena yaitu
berupa rantai panjang yang terdiri atas delapan satuan isoprena, merangkai
dari kepala sampai ekor sehingga terbentuk sistem ikatan terkonjugasi
lengkap. Rangkaian ini merupakan kromofornya yang menghasilkan warna.
Pembentukan cincin likopena pada salah satu ujung menghasilkan γ-karoten,
sedangkan bila cincin terjadi pada ke dua ujungnya terbentuklah hidrokarbon
bisiklik yaitu β-karoten. Isomer β-karoten (misalnya α-karoten dan Є-
karoten) hanya berbeda pada letak ikatan rangkapnya dalam satuan ujung
siklik. Xantofil umum biasanya berupa monohidroksikaroten (misalnya
lutein, rubixantin), dihidroksikaroten (zeaxantin), atau
dihidroksiepoksikaroten (violaxantin).21

2.4. Antioksidan
Berbicara tentang antioksidan maka mau tidak mau harus
menyertakan penjelasan mengenai oksidan termasuk didalamnya adalah
radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul-molekul dalam tubuh yang tidak
stabil yang terbentuk akibat adanya sisa-sisa proses metabolisme protein,
karbohidrat dan lemak yang dikonsumsi oleh tubuh sendiri.1,2 Radikal bebas
seringkali dijumpai dalam bentuk oksigen yang reaktif. Molekul yang sangat
reaktif ini jika tidak dikendalikan dapat merusak tubuh dan berperan terhadap
timbulnya berbagai penyakit.22,23 Sumber radikal bebas bisa berasal dari
tubuh sendiri, faktor lingkungan seperti polusi udara akibat asap kendaraan
ataupun rokok, air yang terpolusi, serta sinar matahari, dan juga dari radikal
bebas itu sendiri. Diantara sekian banyak radikal bebas yang paling
berbahaya adalah ion superoksida, yang terbentuk dari hidrogen peroksida.
Disamping superoksida dan hidroksil, oksigen tunggal atau atom oksigen
yang tidak berikatan dengan molekul oksigen diatomik merupakan radikal
bebas perusak yang cukup berbahaya.2
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menyumbangkan satu atau
lebih proton kepada radikal bebas sehingga radikal bebas tersebut dapat
diredam.24 Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang mampu
menghilangkan, membersihkan, menahan pembentukan ataupun memadukan
efek spesies oksigen reaktif.25,26 Penggunaan senyawa antioksidan juga anti
radikal saat ini semakin meluas seiring dengan semakin besarnya pemahaman
masyarakat tentang peranannya dalam menghambat penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung, ateriosklerosis, kanker serta gejala penuaan.
Masalah-masalah ini berkaitan dengan kemampuan antioksidan untuk bekerja
sebagai inhibitor reaksi oksidasi oleh radikal bebas reaktif yang menjadi
pencetus penyakit-penyakit degeneratif.27
Fungsi utama antioksidan digunakan sebagai upaya untuk
memperkecil terjadinya proses oksidasi dari lemak dan minyak dalam
sediaan farmasi, memperkecil terjadinya proses kerusakan dalam makanan,
meningkatkan stabilitas lemak yang terkandung dalam makanan serta
mencegah hilangnya kualitas sensori dari nutrisi. Dengan demikian
antioksidan tidak hanya digunakan dalam industri farmasi, tetapi juga
digunakan secara luas dalam industri makanan, industri petroleum, industri
karet dan sebagainya.28
Tubuh manusia sebenarnya menghasilkan senyawa antioksidan,
tetapi jumlahnya seringkali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas
yang masuk ke dalam tubuh. Sebagai contoh, tubuh manusia dapat
menghasilkan glutathione yang merupakan antioksidan kuat, hanya saja
tubuh memerlukan asupan vitamin C sebesar 1000 mg untuk memacu tubuh
menghasilkan glutathione tersebut. Jika tubuh kekurangan antioksidan maka
tubuh membutuhkan asupan dari luar. Dengan menerapkan pola hidup
sebagai vegetarian akan sangat membantu dalam mengurangi resiko
keracunan akibat radikal bebas. Keseimbangan antara antioksidan dan
radikal bebas menjadi kunci utama pencegahan stress oksidatif dan penyakit-
penyakit kronis yang dihasilkan.29
Antioksidan terbagi menjadi antioksidan enzim dan vitamin.
Antioksidan enzim meliputi superoksida dismutase (SOD), katalase dan
glutation peroksidase (GSH.Prx). Antioksidan vitamin mencakup
alfatokoferol (vitamin E), beta karoten dan asam askorbat (vitamin C) yang
banyak terdapat pada hewan dan tumbuhan. Sebagai antioksidan, beta
karoten adalah sumber utama vitamin A yang sebagian besar terdapat pada
tumbuhan. Selain melindungi buah-buahan dan sayuran berwarna kuning
atau hijau gelap dari bahaya radiasi matahari, beta karoten juga berperan
serupa dalam tubuh manusia. Senyawa lain yang memiliki sifat antioksidan
adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang terdapat
pada teh, buah-buahan, sayuran, bir, bahkan kecap.29
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi
antioksidan primer, sekunder dan tersier. Antioksidan primer dapat bereaksi
dengan radikal bebas dengan cara memutus reaksi berantai sehingga berperan
dalam memutus pembentukan radikal bebas baru dan mengubahnya menjadi
produk yang stabil. Adapun yang termasuk dalam antioksidan primer adalah
enzim superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase
(GSH.Prx). Antioksidan sekunder senyawa yang berfungsi utuk menangkap
senyawa radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai, contohnya
vitamin E, C, dan betakaroten. Sementara antioksidan tersier adalah senyawa
yang berperan dalam memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang
disebabkan oleh radikal bebas, contohnya enzim yang memperbaiki DNA
pada inti sel adalah metionin sulfoksida reduktase.30
Metode yang sering digunakan untuk mengukur aktivitas
antioksidan suatu senyawa adalah:
1. Uji DPPH
DPPH atau 1,1 Difenil 2pikrilhidrazil merupakan suatu radial bebas yang
stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari elektron bebas
pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan
terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa diukur
absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 515 nm. Ketika arutan
DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom
hidrogen, maka warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan
tereduksinya DPPH.31,32
2. Uji ABTS
Asam 2,2 Azinobis (3 etilbenzatiazolin) 6 sulfonat (ABTS) merupakan
substrat dari peroksidase, dimana ketika dioksidasi dengan kehadiran
H2O2 akan membentuk senyawa radikal kation metastabil dengan
karakteristik menunjukkan absorbansi kuat pada panjang gelombang 414
nm. ABTS merupakan senyawa larut air dan stabil secara kimia.
Akumulasi dari ABTS dapat dihambat oleh antioksidan pada medium
reaksi dengan aktivitas yang bergantung waktu reaksi dan jumlah
antioksidan. Kemampuan relatif antioksidan untuk mereduksi ABTS
dapat diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 734 nm.
Absorbansi maksimal juga dapat terjadi pada panjang gelombang yang
lain. Panjang gelombang yang mendekati infra merah (734 nm) dipilih
untuk meminimalkan interfensi dari absorbansi komponen lainnya.31
3. Uji TRAP
Pengujian TRAP atau Total Radical Trapping Antioxidant Parameter
bekerja berdasarkan pengukuran konsumsi oksigen selama reaksi oksidasi
lipid terkontrol yang diinduksi oleh dekomposisi termal dan AAPH (2,2
Azobis (2 aminidopropana) hidroklorida) untuk mengukur total aktivitas
antioksidan. Hasil uji ini diekspresikan sebagai jumlah (dalam mikromol)
radikal peroksil yang terperangkap oleh 1 liter plasma.Pengukuran serum
TRAP berdasarkan penentuan lamanya waktu yang diperlukan oleh
serum uji untuk dapat bertahan dari oksidasi buatan.31
4. Uji FRAP
Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) bekerja berdasarkan
reduksi dari analog ferroin, kompleks Fe3+ dari tripiridiltriazin
Fe(TPTZ)3+ menjadi kompleks Fe2+, Fe(TPTZ) 2+
yang berwarna biru
intensif oleh antioksidan pada suasana asam. Hasil pengujian
diinterpretasikan dengan peningkatan absorbansi pada panjang
gelombang 593 nm dan dapat disimpulkan sebagai jumlah Fe2+ (dalam
mikromolar) ekuivalen dengan antioksidan standar.31
5. Metode CR
Larutan Ce(IV) sulfat yang diberikan pada sampel akan menyerang
senyawa antioksidan. Senyawa antioksidan dapat berperan sebagai
pemindah elektron , maka perusakan struktur oleh elektron reaktif yang
berasal dari oksidator kuat seperti Ce(IV) sulfat tidak terjadi. Metode ini
berdasarkan spektrofotometri yang pengukurannya dilakukan pada
panjang gelombang 320 nm. Kapasitas reduksi Ce(IV) pada sampel dapat
diukur konsentrasi dan pH larutan yang sesuai membuat Ce(IV) hanya
mengoksidasi antioksidan dan bukan senyawa organik lain yang mungkin
teroksidasi. Hal ini membuat penentuan panjang gelombang maksimum
dan nilai pH larutan penting untuk diketahui dan dijaga selama
pengukuran agar tidak terjadi pergeseran panjang gelombang selama
pengukuran.33

2.5. Ekstraksi34
Eksraksi adalah penyarian senyawa-senyawa yang terdapat dalam
simplisia tanaman dengan menggunakan pelarut yang sesuai dengan cara
yang tepat sehingga diperoleh hasil yang secara kualitatif atau kuantitatif
memenuhi persyaratan. Ekstraksi dapat dilakukan dengan pelarut organik
terhadap bahan yang segar maupun yang kering. Pada prinsipnya senyawa
polar diekstraksi dengan pelarut polar sedangkan senyawa non polar
diekstraksi dengan pelarut non polar.
Metode ekstraksi ada 2 cara, yaitu cara panas dan cara dingin. Cara
panas antara lain:
1. Refluks
Ekstraksi dengan pelarut pada suhu didihnya selama waktu tertentu dan
jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin
balik.
2. Soxhlet
Eksraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan
dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah
pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
3. Digesti
Maserasi kinetik (dengan pengaduk kontinu) pada suhu yang lebih tinggi
dari suhu ruangan yaitu pada 40-50◦C.
4. Infus
Ekstraksi dengan pelarut air pada penangas air, bejana infus tercelup
dalam penangas air mendidih (96-98◦C) selama 15-20 menit.
5. Dekok
Infus pada waktu yang lebih lama (lebih dari 30 menit).
Cara dingin antara lain:
1. Maserasi
Proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan
(kamar). Secara teknologi termasuk dengan prinsip metode pencapaian
konsentrasi pada kesetimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan
pengadukan yang kontinu. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan
seterusnya.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke rongga
sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif dengan yang di luar sel.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang dalam cairan penyari.
2. Perkolasi
Ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive
extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses
terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus
sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan

2.6. Kosmetik
Menurut keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
tentang Kosmetika Republik Indonesia nomor H.K.00.05.4.17456 tentang
kosmetika 2003, menyatakan bahwa kosmetika adalah bahan atau sediaan
yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia
(epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan
mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah
penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau
memelihara tubuh pada kondisi baik.35
Bahan kosmetika adalah bahan yang berasal dari alam atau sintetik
yang digunakan untuk memproduksi kosmetik. Wadah adalah kemasan yang
bersentuhan langsung dengan isi. Berdasarkan keputusan BPOM tersebut,
kosmetika yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan :
1. Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta
persyaratan lain yang ditetapkan.
2. Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik.
3. Terdaftar dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan.
Bahan kosmetik sebagamana dimaksud di atas adalah harus
memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan Kodeks Kosmetik Indonesia atau
standar lain yang diakui.

2.6.1. Penggolongan kosmetik


Penggolongan kosmetika menurut Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) berdasarkan bahan dan penggunaannya serta maksud
evaluasi produk sediaan kosmetik dibagi dua golongan, yaitu:
1. Kosmetik golongan I adalah :
a. Kosmetika yang digunakan untuk bayi.
b. Kosmetika yang digunakan di sekitar mata, rongga mulut dan mukosa
lainnya
c. Kosmetika mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan
penandaan.
d. Kosmetika yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim
serta belum diketahui keamanan dan kemanfaatannya.
2. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I.
Breuer (dikutip dari Wasitaatmadja)36 membuat klasifikasi untuk
kosmetik sebagai berikut:
1. Toiletries: sabun, sampo, pengkilat rambut, kondisioner rambut, penata,
pewarna, pengeriting, pelurus rambut, deodorant, antiperspirant, dan
tabir surya.
2. Skin care: pencukur, pembersih, astringen, toner, pelembab, masker,
krim dan bahan untuk mandi.
3. Make up: foundation, eye make up, lipstick, roges, blusher,
enamel kuku
4. Fragrance: perfumes, colognes, toilet waters, body silk, bath powders,
after shape agent.

2.6.2. Kosmetik perawatan kulit


Kosmetik perawatan kulit bertujuan untuk:12
1. Membersihkan kulit
2. Melindungi keseimbangan kelembaban kulit
3. Menstimulasi metabolisme kulit
4. Melindungi kulit dari radiasi sinar ultra violet
Untuk menjaga agar kulit tetap kelihatan cantik dan sehat maka
kosmetik perawatan kulit mempunyai beberapa fungsi yang berbeda antara
lain:
1. Cleansing
2. Mencegah kekeringan
3. Mencegah kerusakan akibat sinar ultra violet
4. Mencegah oksidasi
5. Membantu mengatasi permasalahan kulit
6. Pencerah kulit
7. Anti aging Anti wrinkle
8. Mencegah jerawat
2.6.3. Stabilitas produk kosmetik
Menurut Connor bahwa suatu sediaan dikatakan stabil apabila
sediaan tersebut berada dalam batas yang dapat diterima selama periode
waktu yang ditentukan sehingga pada saat penggunaan maupun
penyimpanan sediaan tersebut masih menunjukkan sifat-sifat yang sama
seperti pada saat pembuatan.37
Menurut Mitsui uji stabilitas bertujuan untuk meyakinkan bahwa
produk tidak terpengaruh oleh cuaca dan tidak terjadi perubahan sifat fisika
kimia. Perubahan kimia meliputi: perubahan warna, warna luntur,
perubahan aroma, timbul bercak, kristalisasi dan lain-lain. Perubahan fisika
meliputi: pemisahan, pengendapan, berkeringat, penguapan, terbentuk zat
padat, menjadi lunak, cracking.
Uji stabilitas secara umum dilakukan pada berbagai suhu yang
sesuai dengan sifat-sifat bahan kemudian dicatat perubahan-perubahan
yang terjadi selama periodewaktu tertentu. Adapun pengujiannya adalah
sebagai berikut:
1. Temperatur yang digunakan -10oC, -5oC, 0oC, 25oC, room temperatur,
30oC, 37oC, 45oC, 50oC, 60oC, dan seterusnya. Temperatur dipilih
sesuai dengan sifat-sifat bahan.
2. Waktu pengujian: 1 hari hingga 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan dan
seterusnya.
3. Amati perubahan yang tampak pada produk misalnya perubahan
warna, penurunan warna, material asing, pemisahan , pengendapan,
berkeringat, mengendap, pertumbuhan bakteri, jamur, aroma, dan lai-
lain.
4. Jenis pengukuran dan alatnya:
a.pH dikur dengan pH meter
b. Kekerasan diukur dengan curd tension meter, rheometer
c.Kekentalan diukur dengan viscometer
d. Kekeruhan diukur dengan turbidity meter
e.Diameter partikel diukur dengan mikroskop, colter counter
f. Type emulsi diukur dengan tester (volt-ohm-milliameter
g. Sofening point menggunakan boiling method
h. Kadar air diukur dengan karl fischer
5. Evaluasi. Data pengukuran tersebut dicatat, dan dapat digunakan
sebagai acuan dalam formulasi.12

2.7. Sun Protection Factor (SPF)


SPF atau Sun Protection Factor ini terdapat pada kosmetik yang
dipakai untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari. Banyak jenis SPF,
ada SPF 15, SPF 30, adapula SPF 50. SPF dikenal sejak tahun 1962 yang
digunakan untuk mengukur efek sunscreen terhadap sinar ultra violet.
Sunscreen digunakan untuk melindungi kulit dari radiasi sinar ultra
violet.38,39
Sinar UV terdiri dari UVA (320-400 nm), UVB (290-320 nm), dan
UVC (190-290 nm). UVC dapat merusak jaringan kulit, tetapi sebagian besar
telah tersaring oleh lapisan ozon dalam atmosfer. UVB dapat menyebabkan
kulit terbakar sinar matahari, sedangkan UVA memiliki waktu yang lebih
panjang untuk merusak kulit.12,38,39 Maksud dari SPF 15, SPF 30 atau SPF 50
pada tabir surya menunjukkan tingkat perlindungannya. Sebagai contoh SPF
15 artinya jika kita telah terpapar sinar matahari selama 10 menit, SPF 15
akan melindungi kulit kita dari kerusakan (akibat terbakar sinar matahari)
selama 150 menit, begitupun dengan SPF 30 dan SPF 50.38
SPF yang lebih tinggi berarti memiliki waktu yang lebih banyak
bisa terpapar sinar matahari. Hal ini juga menggambarkan prosentase sinar
UVB yang diserap, tetapi nomor dari SPF ini tidak bertambah secara
eksponensial. Sebagai contoh SPF 15 menyerap 93,7 % sinar UVB tetapi
SPF 30 dapat menyerap 96,7 % .

Tabel 2.1. Prosentase serapan sinar UV terhadap nilai SPF


SPF % UV absorbed
2 50
4 70
8 87,5
15 93,3
30 96,7
50 98

Satu hal yang perlu diketahui, walau pada beberapa produk


sunscreen dilabelnya bertuliskan waterproof atau sweatproof ini tidak
menjamin. Efektivitas dari sunscreen akan berkurang dengan adanya air atau
keringat. Nomor SPF mengindikasikan kekuatannya dalam melindungi kulit
terhadap UVB, akan tetapi banyak sunscreen walaupun dengan SPF tinggi
ternyata sinar UVA juga ikut diserap kulit. Oleh karena itu pilihlah sunscreen
dengan broad spectrum (memiliki UVA protection). Agar efektif, gunakan
sunscreen 15 sampai 20 menit sebelum kulit kita terpapar sinar matahari. Dan
jika berkeringat ataupun berenang maka gunakan sesering mungkin untuk
menjaga keefektifan dari sunscreen.38

2.8. Lotion
2.8.1. Tujuan dan fungsi lotion12,13
Lotion pada umumnya merupakan suatu sediaan kosmetika yang
berbentuk cairan putih ataupun transparan yang diaplikasikan pada kulit.
Lotion merupakan cairan yang tidak larut dalam air dan dilarutkan untuk
menghasilkan larutan yang stabil dengan menggunakan prinsip
termodinamika. Tetapi saat ini banyak tipe lotion yang tidak mengikuti
deskripsi ini. Sebagai contoh lotion tansparan dan semi transparan dibuat
dengan teknik mikroemulsi dan lipid nano sphere, lotion opaque
merupakan emulsi yang berisi beberapa persen minyak bobot jenisnya
harus disesuaikan agar tidak terjadi creaming dan sedimentasi.
Lotion adalah emulsi tetapi mengandung lebih rendah wax dan
minyak dibandingkan krim, sehingga kelihatan lebih ringan dan lebih tidak
berminyak. Lotion mumnya lebih mudah dibuat dari pada krim karena lebih
tipis, serta waktu pemanasan dan pendinginan lebih singkat. Akan tetapi
problem stabilitas bentuk lotion akan lebih besar daripada krim karena krim
jauh lebih viscous sehingga secara umum lebih perlahan berubah ke bentuk
tidak stabil. Bentuk lotion digunakan untuk produk lotion kulit dan wajah,
kondisioner rambut, dan pembersih pelembab.
Lotion digunakan setelah wajah dibersihkan menggunakan
kosmetik pembersih wajah untuk memberikan kelembaban dengan
menambahkan humectan. Agar menghasilkan efek pelembab yang baik
dalam penggunaannya, tipe dan jumlah humectan harus proporsional
dengan etanol dan minyak yang disesuaikan dengan usia pemakai,
lingkungan dan kosmetik yang digunakan.

2.8.2. Komponen Lotion12


Komponen Fungsi Contoh bahan baku %
Air murni Pelarut, membantu Air demineralisata 30 ~ 95
kelembaban pada
lapisan tanduk kulit
Alkohol Rasa sejuk pada Etanol, isopropanol ~40
kulit, anti bakteri,
pelarut
Humectan Menjaga Glycerin Propylene ~20
kelembaban pada glycol, butylene glycol,
laisan tanduk, rasa PEG (300, 400, 1500,
nyaman saat 4000), hyaluronic acid.
digunakan, pelarut
Pelembut Melembutkan kulit, Eeter oils Qs
(emolien) humectan, memberi Plants oils (olive oil,
rasa nyaman saat jojoba oil)
digunakan
Solubilizing agent Melarutkan bahan High HLB surfactants `~1
baku (raw material) (polyoxyethylene oleyl
alcohol ether, dll)
Dapar Untuk mengatur pH Citric acid, lactic acid, Qs
produk (skin pH amino acid, sodium citrat
balance)
Thickening agent Rasa nyaman saat Carboxyvinil polymer, ~2
(pengental) digunakan, xanthan gum, pektin,
pelembab veegum, sodium
magnesium silicate
Perfume Menutup bau yang Geraniol, linalool Qs
tidak enak
Pengawet Mencegah Methyl paraben, propyl Qs
kontaminasi paraben
mikroba
Pewarna Qs
Anti fading agent Mencegah EDTA, UV absorrbent Qs
perubahan warna

2.8.3. Metode umum pembuatan lotion12


Lotion umumnya dibuat pada suhu kamar. Jika dalam formula
tidak banyak mengandung alkohol atau pengawet dan tanpa pemanasan
maka diperlukan perlakuan khusus untuk mencegah kontaminasi dari
mikroorganisme.
Pertama-tama humectan ditambahkan pada air murni kemudian
buffer, pengental, anti fading dan bahan-bahan larut air dilarutkan (fase
air). Berikutnya, emolien, pengawet, parfum, bahan-bahan obat dan bahan-
bahan lain yang larut etanol atau minyak ditambahkandalam etanol
bersama dengan pelarut (fase alkohol). Fase alkohol kemudian dicampur
dengan fase air dan dilarutkan pada suhu kamar. Berikutnya pewarna
ditambahkan untuk memberikan warna dan campuran disaring untuk
memperoleh lotion transparan.
Saat ini banyak lotion non alkohol yang beredar di pasaran. Untuk
tipe lotion ini, bahan-bahan yang tidak larut dalam air dilarutkan dalam
humectan bersama pelarut dengan bantuan pemanasan. Pada kasus ini
sangat penting dalam memilih humectan yang cocok untuk menghasilkan
lotion transparan.
Untuk menghasilkan lotion semitransparan maka digunakan
teknik mikroemulsi. Bagaimanapun juga diperlukan perlakuan yang lebih
dibandingkan lotion transparan karena ukuran partikelnya sangat
tergantung pada surfaktan dan proses pembuatan yang digunakan, yang
akan membuat hasilnya berkebalikan dengan transparan (keruh).

2.9. Formula lotion yang dibuat


Bahan %
Aqua demineralisata ad. 100
Ekstrak ubi jalar merah 5
Glyserin 5
Cetyl alcohol 1
Jojoba oil 1
Glyserilmonostearat 1
Olive oil 1
Asam stearat 0,5
Trietanolamin 0,2
Methyl paraben 0,2
Propyl paraben 0,2

2.10. Zat aktif dan bahan tambahan40,41,42


2.10.1. Aqua demineralisata
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Fungsi : sebagai pelarut

2.10.2. Glyserin
Nama lain : Trihydroksipropan
Nama kimia : Propan 1,2,3-triol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis,
diikuti rasa hangat, higroskopis
Kelarutan : dapat campur dengan air dan etanol (95%), praktis
tidak larut dalam kloroform, dalam eter
Titik didih : 290oC
Fungsi : Anti mikroba, emolien, humektan, pelarut, pemanis
Kadar : sebagai humektan ≤ 30%

2.10.3. Cetyl alcohol


Pemerian : Berbentuk sisik, butiran, kubus atau lempengan
yang licin, berwarna putih, bau khas lemah dan
rasa tawar
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol
(95%), dalam eter
Jarak lebur : 45-500C
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Fungsi : sebagai pengemulsi, thickening (pengental)
Kadar : pengental 2-5%

2.10.4. Glyserilmonostearat
Nama lain : Glyserol starat, glyseril stearat
Nama kimia : Acidum oktadekanoat
Pemerian : Serbuk putih hingga kekuningan, berbau khas,
rasa spesifik
Kelarutan : larut dalam etanol panas, eter, klorofom, aseto
panas, mineral oil, terdispersi dalam air dengan
sejumlah kecil surfaktan
Titik lebur : 55-600C
Fungsi : emolien, pengemulsi (surfaktan), pelarut,
penstabil. Surfaktan ini banyak dipakai karena
menghasilkan emulsi yang stabil.
Kadar : sebagai surfaktan sampai 5%
Penyimpanan : ditempat sejuk, kering dan terlindung dari cahaya
matahari

2.10.5. Olive oil


Nama lain : Oleum olivae
Pemerian : cairan kuning pucat, atau kuning kehijauan, bau
lemah, tidak tengik, rasa khas
Kelarutan : sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam
kloroform, eter dan eter minyak tanah
Fungsi : dalam kosmetik digunakan sebagai solven dan
kondisioner kulit dan rambut
Kadar : 0,1-3% sebagai emolien
Penyimpanan : dalam tempat sejuk, kering dan terlindung cahaya
matahari

2.10.6. Asam stearat


Nama kimia : Oktadecanoic acid
Pemerian : zat padat keras mengkilat, hablur putih atau
kuning pucat, mirip lemak lilin
Suhu lebur : kurang dari 50oC
Kelarutan : tidak larut dalam air, larut dalam 1:20 alkohol, 1:2
kloroform, 1:3 eter, 1:25 aseton, 1:6 karbon
tetraklorida, sangat larut dalam karbon disulfide,
larut dalam benzene, toluene
Fungsi : penemulsi, pelarut
Kadar : konsentrasi 0,5-20%

2.10.7. Trietanolamin
Nama lain : Trihydroksi triethylamin
Nama kimia : 2,2l,2ll nitritotrietanol
Pemerian : cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat,
bau lemah mirip amoniak, higroskopis
Kelarutan : dapat bercampur denganair,atau alcohol, larut
dalam kloroform, sukar larut dalam eter, benzene
Fungsi : Pengemulsi, pembuat alkali
Kadar : konsentrasi 2-4%
2.10.8. Methyl paraben
Nama lain : Nipagin, Methyl-p hydroksi benzoate
Pemerian : serbuk hablur halus, warna putih, hamper tidak
berbau, rasa sedikit membakar, diikuti rasa tebal
Kelarutan : sukar larut dalam air, larut dalam air mendidih,
mudah larut dalam etanol (95%), dalam aseton,
dalam eter, dalam alkali hidroksi, agak sukar larut
dalam glycerol panas, dan dalam lemak nabati.
Suhu lebur : 125-128oC
Fungsi : pengawet
Kadar : 0,02-0,3%
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

2.10.9. Propyl paraben


Nama lain : Nipasol
Nama kimia : Propyl 4-hydroksi benzoate
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Sangat larut dalam air, larut dalam etanol (95%),
aseton, mudah larut dalam alkali hidroksida
Jarak lebur : 95-98oC
Fungsi : pengawet
Kadar : preparat topikal 0,01-0,6%
2.10.10. Jojoba oil
Fungsi : Kondisioner kulit, oklusive, kondisioner rambut
Kadar : 0,1-0,3%
Kategori kosmetik : Krim dan lotion untuk wajah, tangan & tubuh;
krim dan lotion pelembab.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain penelitian


Penelitian ini adalah penelitian eksperimental untuk mengetahui apakah
ekstrak ubi jalar merah memiliki aktivitas antioksidan dan tabir surya serta
stabilitasnya dalam sediaan lotion.

3.2. Tempat dan waktu penelitian


Penelitian ini dilakukan di Pusat Penelitian Kimia (P2K) Serpong, Pusat
Penelitian Biologi (Herbarium Bogoriense) Bogor, Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila Jakarta dan Akademi Farmasi Muhammadiyah
Cirebon. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2010 sampai bulan Januari
2011.

3.3. Hipotesis
Ekstrak ubi jalar merah memiliki aktivitas antioksidan dan tabir surya, serta
aktivitasnya masih dapat dipertahankan dalam formula sediaan lotion.

3.4. Alat dan bahan penelitian


3.4.1. Alat
1. Alat maserasi
2. Oven
3. Rotary evaporator
4. Spektrofotometer cahaya tampak
5. Spektrofotometer UV-Vis
6. Inkubator
7. Pipet mikro
8. Alat-alat gelas
9. pH meter
10. Viscosimeter
3.4.2. Bahan
1. Ubi jalar merah
2. Etanol
3. Kloroform
3. Asam sulfat
4. Reagen DPPH (1,1 difenil 2 pikrilhidrazil)
9. Metanol pro analisis
10.Vitamin C
11. isopropyl alkohol
12. Bahan untuk formula lotion

3.5. Cara kerja


3.5.1. Pengumpulan dan penyediaan bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubi jalar merah
yang diambil dari desa Bandorasa Wetan kecamatan Cilimus
kabupaten Kuningan Jawa Barat.

3.5.2. Determinasi tanaman


Determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense Pusat
Penelitian Biologi LIPI Cibinong.

3.5.3. Pembuatan ekstrak


Ubi jalar merah yang telah dipotong kecil-kecil/dihaluskan
dikeringkan dalam oven suhu 45оC dan dimaserasi dengan pelarut
etanol selama 24 jam. Kemudian disaring hingga diperoleh filtrat dan
ampas, filtrat tersebut dievaporasi selanjutnya dikeringkan dalam oven
45оC dan diperoleh ekstrak ubi jalar merah.

3.5.4. Uji kualitatif karotenoid21


Sebanyak 0,5 mg ekstrak ubi jalar merah dilarutkan dalam 0,5 ml
kloroform, kemudian ditambahkan 0,5 ml asam sulfat pekat. Positif
adanya karotenoid ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru gelap
sampai nila.

3.5.5. Uji aktivitas antioksidan (Metode DPPH)


A. Persiapan awal
1. Pembuatan larutan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil)
Ditimbang 4 mg DPPH (BM 394,32) dilarutkan dalam 4,0 ml
pro analisa (1000 ppm), dikocok sampai homogen dan disimpan
dalam botol gelap pada suhu 5° C. Pada setiap pengujian
digunakan larutan DPPH baru.
2. Pembuatan larutan vitamin C ( standar positif)
Ditimbang 4 mg vitamin C dilarutkan dalam 4,0 ml metanol pro
analisa (1000 ppm), dikocok sampai homogen.
3. Pembuatan larutan ekstrak ubi jalar merah
Ditimbang 4 mg ekstrak ubi jalar merah dilarutkan dalam 4,0 ml
methanol pro analisa (1000 ppm), dikocok sampai homogen.
B. Pengujian aktivitas antioksidan
Pengujian aktivitas antioksidan diukur pada panjang gelombang 515
nm menggunakan spectrofotometer cahaya (tampak) dilakukan
terhadap vitamin C (kontrol positif) dan ekstrak ubi jalar merah.
1. Penentuan Operating Time
Sejumlah 1,25 ml larutan ekstrak ubi jalar merah dimasukkan
dalam botol berwarna gelap dan bertutup, ditambahkan metanol
(pa) 0,75 ml dan larutan DPPH 0,50 ml. Untuk blanko dibuat
dengan cara 2,0 ml methanol (pa) ditambah 0,50 ml larutan
DPPH. Kemudian botol ditutup rapat, kocok sampai rata dan
inkubasikan dalam inkubator 37° C selama 30 menit. Serapan
diukur pada panjang gelombang 515 nm pada menit ke-0
(langsung diperiksa); 5; 10; 15; 20 menit. Pada saat pemeriksaan
diusahakan kuvet tertutup, kalau tidak memungkinkan langsung
dikembalikan ke botol semula dan ditutup rapat.
2. Pengujian Aktivitas Antioksidan (% Inhibisi Oksidasi)
Masing-masing dibuat dengan beberapa konsentrasi:
1). Vitamin C konsentrasi 5, 10, 15, 20, 25 ppm
Dipipet 0,0125 ml, 0,0250 ml, 0,0375 ml, 0,0500 ml, 0,0625
ml larutan vitamin C kemudian diencerkan dengan methanol
(pa) sampai 2,0 ml dan ditambahkan larutan DPPH 0,500 ml,
dikocok sampai homogen. Pada setiap pengujian dilakukan
penetapan serapan blangko (metanol (pa) 2,0 ml ditambah
0,500 ml DPPH).
2). Ekstrak ubi jalar merah konsentrasi 25, 50, 125, 250, 500 ppm
Dipipet 0,0625 ml, 0,125 ml, 0,3125 ml, 0,625 ml, 1,250 ml
larutan ekstrak ubi jalar merah kemudian diencerkan dengan
methanol (pa) sampai 2,0 ml dan ditambahkan larutan DPPH
0,500 ml, dikocok sampai homogen.
Inkubasikan dalam inkubator 37° C selama 30 menit. Kemudian
sampel-sampel tersebut diukur serapannya pada panjang
gelombang 515 nm dengan batasan waktu penetapan selama
paling lama sesuai dengan operating time.
Dihitung % inhibisi oksidase dengan perhitungan :
(nilai Serapan blangko - nilai serapan sampel)
% inhibisi = X 100%
nilai serapan blangko

Untuk lotion ekstrak ubi jalar merah, ditimbang 80 mg


sampel kemudian dilarutkan dalam 4,0 ml metanol pro analisa
(20000 ppm). Dibuat beberapa konsentrasi yaitu: 500, 1000,
5000, 10000 ppm dengan cara dipipet 0,0625 ml, 0,125 ml,
0,625 ml, 1,250 ml larutan lotion ekstrak ubi jalar merah
kemudian diencerkan dengan methanol (pa) sampai 2,0 ml dan
ditambahkan larutan DPPH 0,500 ml, dikocok sampai
homogen.
Inkubasikan dalam inkubator 37° C selama 30 menit. Kemudian
sampel-sampel tersebut diukur serapannya pada panjang
gelombang 515 nm dengan batasan waktu penetapan selama
paling lama sesuai dengan operating time. Selanjutnya dihitung
% inhibisi oksidase.

3.5.6. Uji aktivitas tabir surya (Nilai SPF)39


Timbang saksama 12,5 mg bahan uji, larutkan dalam isopropyl alkohol
hingga 100,0 ml (125 ppm), diukur serapannya dengan
spektrofotometer pada rentang panjang gelombang 290 sampai 370 nm
dengan interval 5 nm. Area di bawah kurva dapat dihitung dari jumlah
serapan pada λn dan serapan pada λn-1 dibagi 2. Dihitung nilai log SPF
dengan cara membagi jumlah seluruh area dibawah kurva dengan
selisih panjang gelombang terbesar dan terkecil kemudian dikalikan 2.
Selanjutnya nilai log SPF diubah menjadi nilai SPF.

3.5.7. Uji iritasi (Teknik Patch Test)12


1. Digunakan enam ekor kelinci yang telah dicukur bulunya di daerah
punggung
2. Bahan uji diletakan di dua area punggung. Satu area kulit
punggungnya tetap utuh (tidak dilukai) dan area satu lagi kulit
punggungnya dilukai dengan bisturi.
3. 0,5 g bahan uji diletakan di area tes menggunakan plester dengan
ukuran 2,5 x 2,5 cm2.
4. Posisi bahan uji harus tetap dijaga agar posisinya tidak berubah.
5. Setelah 24 jam bahan diangkat kemudian reaksi kulit dievaluasi
seperti erythema dan edema.
6. Respon kulit dievaluasi lagi setelah 72 jam.

3.5.8. Formula lotion


Bahan %
Aqua demineralisata ad. 100
Ekstrak ubi jalar merah 5
Glyserin 5
Cetyl alcohol 1
Jojoba oil 1
Glyserilmonostearat 1
Olive oil 1
Asam stearat 0,5
Trietanolamin 0,2
Methyl paraben 0,2
Propyl paraben 0,2

3.5.9. Prosedur pembuatan lotion


1. Larutkan methyl paraben dalam air mendidih, dinginkan
hingga suhu mencapai 55oC. Masukan trietanolamin, glyserin dan
propyl paraben sambil diaduk. (A)
2. Lelehkan asam stearat dan cetyl alkohol pada suhu kurang
lebih 55oC. Kemudian masukan olive oil, jojoba oil, ekstrak ubi jalar
merah sambil diaduk. (B)
3. Campur massa B ke massa A sedikit demi sedikit sambil
diaduk sampai homogen.

3.5.10. Pemeriksaan Produk Lotion


Produk lotion yang telah selesai dibuat dilakukan pemeriksaan
meliputi: mutu fisik lotion (bentuk, warna, bau/aroma, tekstur, pH,
viskositas), aktivitas antioksidan, aktivitas tabir surya dan uji iritasi.

3.5.11. Pemeriksaan stabilitas lotion


Produk lotion yang telah selesai dibuat disimpan pada suhu 50C, 250C
dan 450C. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan meliputi stabilitas
tampilan, pH, warna, bau/aroma, viskositas, aktivitas antioksidan dan
aktivitas tabir surya. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu selama
delapan minggu, kecuali aktivitas tabir surya dilakukan pada minggu
ke nol dan ke delapan.

3.5.12. Alur kerja penelitian


Pengumpulan bahan
Determinasi tanaman
Ekstraksi tanaman
Karotenoid
diuji Antioksidan
Ekstraks
Tabir surya
Iritasi
Formulasi

Lotion

Suhu penyimpanan 5, 25, 45oC

Uji tahap awal Uji Stabilitas


- Mutu fisik: -Tampilan
• Bentuk
• Warna -PH
• Bau / aroma
-Warna
• Tekstur
• PH -Bau / aroma
• Viskositas
- SPF -Viskositas
- Iritasi