Anda di halaman 1dari 566

     

Judul Asli:
Manhaj Ishlâh wa Al Taghyîr ‘Inda Jamâ’atil Ikhwân Al Muslimîn
Dirâsatan fi Rasâil al Imâm al Syahîd

Judul Terjemah:
Konsep Reformasi Dalam Perspektif Ikhwanul Muslimin
Studi Pembelajaran Terhadap Risalah Pergerakan
Imam Syahid Hasan Al Banna

Penerbit:
Daruttauzi’i Wa Al Nasyr al Islamy
Cetakan Pertama Tahun 2006

Penulis:
DR. Muhammad Abdurrahman Mursy Ramadan

Pengantar:
Ir. Muhammad Khairat Syatir

Kata Pengantar
Ir. Muhammad Khairat Syatir

Konsep dakwah yang dibawa oleh Imam Syahid Hasan Al Banna adalah
konsep dakwah yang komprehensif dan universal, yang mencakup seluruh
sudut pemahaman Islam dan mampu menjawab realiti kehidupan nyata.

Ia seperti sinar fajar pagi yang menyingkap tabir pekat yang menutupi
kehidupan umat Islam, ia benar-benar adalah Pembaharu Islam abad ke- 20.

Imam Syahid mampu mencantumkan pemahaman terhadap nilai-nilai Al


Quran dan petunjuk Rasulullah Saw, secara benar dan menyeluruh dengan
pembacaan dan renungannya yang mendalam terhadap fakta-fakta sejarah

1
dan sunah Allah dalam menempatkan sebuah kekuasaan atau kewujudan di
muka bumi, termasuk kemampuannya untuk melihat secara fleksibel dan
saksama realiti kehidupan umat Islam, mengesan penyakit umat dan
mengetahui cara penyembuhannya serta skala keutamaannya.

Sebelum kedatangan Imam Syahid, sebenarnya telah banyak dilakukan


usaha- usaha perbaikan dan reformasi di tubuh umat, namun usaha- usaha
tersebut cenderung hanya sementara dan jangka pendek. Beberapa
diantaranya belum membawa konsep pemahaman Islam yang benar- benar
menyeluruh, atau pemahaman yang mendalam terhadap realiti kehidupan,
atau tidak menjaga sunah (ketentuan) Allah dalam proses penetapan
kewujudan, atau kerana terjadinya penyelewengan seiring dengan
pergantian zaman, atau kerana perpindahan ke generasi berikutnya dan
generasi itu tak mampu memikulnya, atau kerana reaksi-reaksi yang terhad
atau teori serta simbol-simbol hampa tanpa adanya bangunan dakwah yang
kuat dan gerakan yang terus menerus.

Kaedah ilmu yang dibawa Imam Syahid sangat khas, kaedah tersebut mampu
mengubah teori dan mimpi-mimpi menjadi kenyataan yang nyata, hal ini
kemudian disokong dengan kemampuannya dalam mengorganisasi dan
mengatur secara baik, yang membuatnya mampu –dengan izin Allah-
memimpin dan mendirikan sebuah jamaah yang membawa panji-panji Islam,
dengan asas yang kuat yang tak mudah hilang dan dihancurkan.

Bangunan yang kuat dan berkesinambungan ini menunjukkan sebagian dari


mahakarya Imam Syahid Hasan Al Banna. Suatu hari dia pernah ditanyakan
suatu hal, “Mengapa anda tidak menulis ilmu yang luarbiasa ini dan
melahirkan buku-buku? Dia menjawab, “Sesungguhnya aku membina dan
menciptakan para pejuang yang membawa kebenaran.”

Imam Syahid Hasan Al Banna adalah orang pertama yang menyedari


keadaan reality kehidupan umat, dia mengetahui kadar kerosakan yang
dideritai masyarakat, serta kadar kemunduran yang dideritanya. Kerosakan
umat tidak hanya terhad pada runtuhnya kekhalifahan dan hilangnya

2
persatuan umat, permasalahannya tidak hanya terhad pada penjajahan
tentera asing terhadap negeri-negeri muslim, atau terhad pada kemunduran
teknologi dalam segala bidang. Untuk pertama kalinya keadaan kemunduran
umat telah sampai pada titik sifar yang sangat membahayakan. Umat dan
tapak penyokongnya telah berada jauh di luar kawasan keberadaan dan
kewujudannya. Permasalahannya telah sampai pada titik-titik penting dan
asas dasar berdirinya sebuah masyarakat dan negara.

Masalah di tubuh umat tidak akan dapat dihilangkan dengan perbaikan yang
hanya sebahagian, atau pembinaan semula pada beberapa aspeknya sahaja,
atau hanya dengan melakukan reformasi di sebagian bidang-bidangnya dan
dengan menggunakan suntikan-suntikan penenang; masalah umat jauh lebih
dalam dari semua ini. Keadaan umat telah sampai kepada lubang pertama
dalam proses pembinaan dan pembelaannya, negara Islam telah sirna sama
sekali, kekuasaannya yang hakiki telah hilang untuk pertama kalinya sejak
pendirian negara Islam di Madinah. Oleh kerana itu projek kebangkitan dan
rekonstruksi harus dimulakan sesuai dengan langkah-langkah yang dilakukan
oleh Rasulullah Saw. Bermula dengan pembinaan peribadi muslim secara
individu, lalu pembinaan keluarga, pembinaan komuniti muslim hingga
pembinaan sebuah masyarakat, sampai akhirnya tiba pada fasa penetapan
keberadaan dan pendirian sebuah negara dan terus berlanjutan hingga
memimpin dunia seisinya.

Pengetahuan Imam Syahid terhadap keadaan realiti umat yang begitu


mendalam, jelas dan terperinci, membuatnya mampu –dengan izin Allah-
menciptakan sebuah konsep praktikal dengan beberapa fasa dan dengan
tujuan dan sasaran yang saling berkaitan, serta mengarah kepada langkah-
langkah yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika memulai dakwah Islam yang
pertama dan asas negara yang menjadi model dan teladan.

Imam Syahid memiliki kebijaksanaan berpolitik dan fleksibiliti yang luarbiasa


dalam menghadapi krisis dan rancangan- rancangan jahat, oleh kerana itu
tidak ada jalan lain bagi para penyeru kebatilan selain membunuh dan
melenyapkannya. Mereka lupa bahwa bahawa dakwah yang dipimpinnya

3
akan terus berlanjutan, dan sesungguhnya itu adalah dakwah Allah yang
akan terus maju dan mendapat kemenangan dengan izin Allah.

Dia (Imam Syahid) –semoga Allah meridhainya-, sangat memelihara salafiyah


dakwah, dengan mengikuti sunah dan tidak membuat bid’ah, dengan
pemahaman yang sungguh mendalam terhadap Islam dan sunnah Rasulullah
Saw.

Dia berkali-kali mengulang dan menegaskan hal ini di dalam risalahnya, dia
menulis dalam risalahnya ‘Ila Ayyi Syai-in Nad’u an Nâs’ dengan mengatakan,
“Wahai kaum, sesungguhnya kami berdakwah kepada kalian dengan Al
Quran di tangan kanan dan Sunnah di tangan kiri, dan perbuatan para Salaful
Ummah dari umat ini merupakan sumber kekuatan kami, kami mengajak
kalian kepada Islam, nilai-nilai Islam, hukum dan petunjuk Islam.”

Dan diantara perkara yang sangat dijaga oleh Imam Syahid Hasan Al Banna
dalam membangunkan jemaah dan membentuk personaliti seorang al akh
muslim adalah implementasi rukun Tajarrud (menyucikan diri) dan tidak
bergantung kepada seseorang tokoh atau lembaga, namun seharusnya
ikatan seorang al akh yang hakiki dan kesetiaan tertingginya hanya kepada
Allah -azza wajalla-.

Ketika Imam Syahid menghadiri sebuah majlis yang besar, salah seorang
peserta yang hadir berdiri menyambutnya dan member tabik kepada beliau –
hal ini sebagaimana dilakukan kepada setiap pembesar dan pemimpin politik
– namun Hasan Al Banna menolak perlakuan tersebut dan tidak
mendiamkannya, dia berkata, “Sesungguhnya hari dimana diserukan nama
Hasan Al Banna tidak akan pernah terjadi, seharusnya seruan kita adalah,
“Allah ghayatuna (Allah tujuan kami), Al Rasul Dza’imuna (Rasulullah
pemimpin kami), Al Quran Dusturuna (Al Quran pedoman kami), Al Jihad
Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami), Al Maut fi Sabilillah asma amanina
(Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi), Allah Maha Besar dan
pujian kesempurnaan hanya milik Allah.

4
Dia juga menegaskan di dalam risalah ta’lim, “Setiap orang diambil dan
ditolak perkataannya, kecuali al Ma’shum Rasulllah Saw., dan setiap yang
datang dari salaful Ummah –semoga Allah meredhai mereka-, yang sesuai
dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah, maka kami akan menerimanya.”

Sesungguhnya personaliti Imam Syahid merupakan contoh dalam hal ini.


Sebahagian Ikhwan mendebatkan dan memberikan pendapat terhadap idea
dan pemikiran-pemikirannya, sebahagian yang lain berbeza atau bahkan
menegurnya.

Dia juga berkata, “Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar sebuah kejayaan


dan sesungguhnya ditangan Allah-lah semua urusan. Sesungguhnya para
pendahulu kalian yang mulia tidak mencapai kemenangan kecuali dengan
kekuatan iman mereka, kesucian jiwa dan kebersihan diri, serta keikhlasan
hati dan amal mereka dari ikatan apapun atau fikiran. Mereka menjadikan
segala sesuatu bersesuaian dengan nilai-nilai keikhlasan tersebut, sehingga
jiwa mereka menyatu dengan akidah, dan akidah mereka menyatu dengan
jiwa-jiwa mereka. Merekalah sesungguhnya gagasan itu, dan gagasan itulah
mereka. Jika kalian demikian maka fikirkanlah, sesungguhnya Allah
mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka amalkanlah
dan sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan kejayaan,
namun jika diantara kalian ada yang menghidap penyakit hati, yang tujuan
hidupnya berpenyakit, yang kehilangan harapan dan keinginan, yang
memiliki luka masa lalu, maka keluarkanlah dia dari barisan kalian, kerana
sesungguhnya dia adalah penghalang turunnya rahmat, yang terkurung
tanpa ada taufik (petunjuk).”

Sesungguhnya Ikhwan –sebagaimana yang dibina oleh Hasan Al Banna


dengan nilai-nilai Islam-, tidak mengidolakan seseorang dan tidak
menyembah mereka. Mereka mengetahui benar kedudukan para tokoh dan
menempatkan mereka pada tempatnya secara wajar, dan selalu menjaga
adab-adab Islam dan petunjuk Rasulullah Saw. dalam melakukan interaksi
dengan para pemimpin dan imam mereka.

5
Imam Syahid Hasan Al Banna –semoga Allah meridhai mereka-, meyakini
kebenaran jalan yang dilaluinya dan kebenaran manhaj, serta dengan
pertolongan Allah –azza wajalla- terhadap dakwahya. Dia menjelajahi buana
menyerukan agama Allah, menyedarkan jutaan manusia dari kelalaian, dan
dia diikuti oleh banyak lapisan masyarakat. Dia pernah bertemu dengan
seseorang yang bertanya kepadanya, “Adakah engkau akan melihat buah
kemenangan dari usaha yang engkau lakukan? Imam Syahid menjawab
dengan tenang dan penuh keyakinan, “Kemenangan itu tidak akan terlihat di
generasiku dan digenerasimu, tapi akan tampak di generasi yang akan
datang.”
Imam Syahid memberikan perincian yang jelas tentang tugas dan peranan
seorang muslim serta persiapan yang harus dimiliki, dia mengatakan,

(“Tugas kita adalah memimpin dunia dan memberikan petunjuk kepada


manusia seluruhnya kepada aturan Islam yang benar dan ajaran-ajarannya
yang tiada ajaran lain yang dapat membahagiakan manusia selain ajaran-
ajarannya.”

Dakwah kita adalah, keimanan yang mendalam, kuat dan yang paling abadi ..
• Kepada Allah, pertolongan dan kemenangan dari-Nya

• Kepada pemimpin Rasulullah Saw., kejujuran dan amanahnya


• Kepada manhaj, keistimewaan dan kelayakannya
• Kepada persaudaraan, kewajipan dan kesuciaannya

• Kepada balasan, kebesaran, dan kemuliaannya


• Kepada diri mereka sendiri .. mereka adalah sebuah jamaah yang
diberikan kekuatan untuk menyelamatkan dunia seisinya.”)

Imam Syahid sangat member perhatian kepada pemuda, dan berjaya


menjadikan mereka sebagai darah segar yang mengalir di tubuh umat Islam,
yang mampu membangkitkan dan menggerakkannya.

Di akhir kehidupannya, sekitar dua minggu sebelum kesyahidannya,


-keadaan pada saat itu sangat genting-, salah seorang berkata, “Wahai

6
Ustadz, banyak berita yang tersebar tentang engkau, dan tentang apa yang
terjadi terhadap engkau. Imam Syahid berkata, “Apa yang akan terjadi?
Adakah pembunuhan? Sesungguhnya kami mengetahui bahawa perkara itu
adalah kesyahidan, dan itu adalah cita-cita kami. Seseorang bertanya lagi,
“Bagaimana dengan dakwah? Imam menjawab, “Aku telah menyelesaikan
tugasku dan aku telah meninggalkan para rijal (pejuang) dan aku melihat
mereka dengan mataku bahawa mereka benar-benar rijal, maka aku akan
mati dengan penuh ketenangan, dan yang aku inginkan adalah mati sebagai
syahid.” Cita-cita itu benar-benar terwujud, dia mendapatkan syahadah.

Setiap orang yang mempelajari pemikiran Imam Hasan Al Banna, maka dia
akan mendapati bahawa fikiran-fikiran tokoh ini mempunyai ciri khas yang
sangat sepadan dengan realiti kehidupan dan mengacu kepada dasar-dasar
agama, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan (ekstrimisme) maupun sifat
meremehkan. Pemikiran-pemikirannya mampu bertahan dan berkomunikasi
dengan alam fikiran manusia dan tidak dibenci oleh jiwa, pemikiran-
pemikiran yang diterima secara baik yang tidak mengenal kekerasan dan
terorisme. Dasarnya berpijak kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw.
serta amalan para ulama terdahulu yang soleh.

Imam Al Banna adalah seorang pembaharu urusan agama ini pada masa dan
generasinya, dia dan para pembaharu lainnya. Dia menyeru manusia untuk
beriman kepada Allah dan kembali kepada ajaran Rasulullah Saw. Dia
menempuh jalan yang pernah dijalani para ulama-ulama terdahulu. Dia
menyeru dakwahnya dan mengembalikan konsep berfikir Islami yang benar
yang berasaskan kepada:

Pertama, Membebaskan akidah dari tipuan-tipuan kejumudan dan yang


terkandung di dalamnya berupa khayalan dan syubhat, sebagai perbaikan
penggambaran yang benar seorang muslim terhadap kewujudan alam
semesta, manusia dan kehidupan, untuk mewujudkan keseimbangan dan
keadilan, agar akidah (keyakinan) dapat memberikan pengaruh dalam
melahirkan para pejuang, agar dapat melahirkan kembali personaliti muslim
yang berakhlak yang pernah dibangun dan dibina Rasulullah Saw. di Darul

7
Arqam bin Abi Arqam. Kemudian membangun dengan personaliti- personality
ini –baik lelaki mahupun wanita- batu bata yang akan menyusun sebuah
keluarga yang nantinya mampu melahirkan para pejuang, yang menciptakan
sebuah umat yang berdiri di atas budi pekerti dan akhlak yang mulia
sebelum ia berdiri di atas sebuah negara.

Kedua, menyucikan akal seorang muslim dari fikiran-fikiran yang terpecah-


belah terhadap Islam, kerana hal itu hanya akan memperbesarkan perbezaan
dalam masalah-masalah furu’ dan separa- separa, dan meniadakan pola
berfikir yang universal terhadap Islam.

Ketiga, Menghancurkan kejumudan yang dialami oleh akal akibat ditutupnya


pintu ijtihad, yang sebenarnya mematikan kecerdasan untuk menciptakan
dan member pandangan dan akhirnya menjatuhkannya pada lubang taklid
buta yang tercela. Ini juga menghalangi umat Islam menikmati penyelesaian-
penyelesaian konsep pemikiran dalam Islam terhadap problematika dan
permasalahan hari ini yang jauh dari alam berfikir yang banyak bertentangan
dengan ketetapan prinsip-prinsip agama.

Maka untuk mengembalikan konsep berfikir yang baik dan benar, diperlukan
sebuah bingkai pandangan yang universal terhadap Islam, -dan pandangan
ini dimiliki oleh Imam Hasan Al Banna-, dan yang dimiliki oleh para
pendahulunya, iaitu para pejuang yang mengambil ajaran ini dari konsep
yang diajarkan Rasulullah Saw.. Dengan konsep tersebut, mereka kemudian
membangunkan sebuah tamadun , mendirikan sebuah pemerintahan, dan
merekapun memimpin tamadun di muka bumi.

Ia adalah sebuah konsep yang sempurna dan universal yang mengajak


saudara-saudaranya ikut bersama menjadi sebahagian untuk membangun
sebuah jama’ah, yang memberikan darah dan jiwanya untuk menegakkan
kalimat Allah di muka bumi, dan membuat panji-panji kejahatan menjadi hina
dan tercela, demikian juga yang dilakukan oleh Imam Al Banna. Jama’ah
Ikhwanul Muslimin membawa konsep pemahaman ini, dan menyeru
kepadanya. Ia teguh menahan akibatnya demi mempasakkan nilai tersebut di

8
tengah masyarakat. Telah berapa banyak pejuang yang gugur demi
memperjuangkannya? Imam Syahid Hasan Al Banna adalah yang paling
hadapan dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang membuktikan pengorbanan
tersebut – semoga Allah membalas apa yang telah dia berikan untuk Umat
Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya-. Telah berapa banyak darah yang
ditumpahkan? Sudah berapa banyak anak-anak menjadi yatim? Telah berapa
banyak wanita yang kehilangan anaknya? –Kita menabungnya menjadi
kebaikan di akhirat-, Hingga pemahaman benar-benar terpasak kuat dan
menjadi sesuatu yang lumrah yang tidak ada perbezaan di dalamnya, walau
dengan banyaknya fitnah dan ujian serta tersebarnya syubhat dan tuduhan-
tuduhan palsu dan bantahan. Apa yang dibawa oleh Imam Hasan Al Banna
adalah sebuah pembaharuan, walaupun sebenarnya Imam Syahid hanya
memperbaharui sesuatu yang lama yang hampir dilupakan.

Kecelaruan yang dihadapi umat tidaklah semudah seperti yang diyakini oleh
sebahagian orang. Apa yang telah merasuki fikiran berupa kemelut,
kebingungan dan pencerobohan pemikiran, pada gilirannya akan
menghalang terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, dan menghalang misi
yang dibela. Permasalahan ini tidak mungkin disembuhkan dalam waktu
sehari semalam, atau dengan penyampaian kuliah dari seorang pakar, atau
dengan pelajaran di beberapa tempat dari seorang pemikir muslim, ataupun
dengan nasihat-nasihat secara kerap dari salah seorang ulama tersohor, atau
dengan lembaran-lembaran yang diedarkan kemudian hilang tanpa kesan
seiring berakhirnya bacaan, atau dengan buku-buku yang dihafal teks atau
naskahnya. Ia sesungguhnya adalah penderitaan yang telah berlangsung
lama, yang memerlukan tarbiyah dan usaha yang gigih, agar kita dapat
mewarisi para rijal (pejuang) bukan mewarisi buku saja, kerana kita ingin
mendirikan agama yang tegak di atasnya negara dan tamadun, serta
menyedarkan umat yang akan memimpin dunia.

Sesungguhnya manhaj yang mampu melahirkan para pejuang dan yang


mampu memenuhi ikrarnya kepada Allah, memerlukan beberapa hal berikut,
Pemahaman yang benar (Al Fahm Al Shahih), pembentukan yang sangat
cermat, keimanan, ketulusan cinta, pengorganisasian yang rapi, agar kita

9
dapat membuat jalinan jama’ah yang di serukan Allah dengan panggilan,
“wahai orang-orang yang beriman,” iaitu orang-orang yang sentiasa memiliki
hubungan yang baik dengan Allah. Agar mereka menjadi ahli ibadah terlebih
dahulu sebelum menjadi pemimpin, maka dengan ibadah mereka akan
dihantarkan untuk memimpin dengan sebaik-sebaiknya, hal itu tentunya
dilakukan dengan manhaj yang jelas, amalan yang terus menerus, budi
pekerti yang tinggi, nafas yang panjang, kesabaran dengan sebaik-
sebaiknya, nasihat kebaikan, perbincangan yang bijak, dan kesedaran, serta
evaluasi yang sangat cermat. Mengapa demikian? Kerana manhaj perbaikan
apapun yang digunakan untuk keperluan manusia, dan dakwah kebenaran
apapun yang idea dasar dan pemahamannya tidak bersandar pada nilai-nilai
ini, dan tidak menurut Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. maka ia adalah
dakwah yang rapuh dan akan tercabut akarnya dari permukaan bumi. Namun
jika ia bersatu dengan sumber gizi, kekuatan dan kehidupannya maka
akarnya tertancap kuat dan dahannya menjulang ke langit dan akan
memberikan buah di setiap waktu dengan izin Allah.

Imam Hasan Al Banna telah menjelaskan nilai-nilai ini dengan sangat jelas
tanpa ada kesamaran dan keraguan, baik dari segi kejelasan idea, kesatuan
pandangan dan etika, kesatuan target dan tujuan dan kesatuan visi serta
kesamaan prasarana yang mewujudkannya. Imam Hasan Al Banna
mengetahui bahawa masyarakat sangat memerlukan penjelasan pemahaman
untuk memperkemaskan gerakan, dan penjelasan pandangan untuk
menyamakan barisan, serta penjelasan idea agar dapat berjalan secara
benar dan mewujudkan cita-cita yang diharapkan.

Kita sangat menghargai budaya dialog, perbincangan dan bertukar


pandangan ..
Kami katakan kepada mereka yang berbeza pendapat dengan kami,
   
Ertinya:
“Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu .. “ (Q.S Ali Imran: 65)

10
Kepada mereka yang mendebat kami, kami katakan,
      
  
Ertinya:
“Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah
orang yang benar. “ (Q.S Al Baqarah: 111)

Kepada mereka yang membangkang, kami katakan:


     
    
Ertinya:
“Dan Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti
berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. “ (Q.S Saba: 24)

Kerana sesungguhnya syiar setiap da’I yang meyerukan agama Allah adalah,
    
Ertinya:
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, ..” (Q.S Al
Baqarah: 83)

Buat para penyeru dakwah Islam yang berbeza pandangan dengan


kami, maka kami katakan kepada mereka, “Mari kita saling tolong menolong
dalam perkara yang kita sepakati dan saling memberitahu dan memaafkan
dalam perkara-perkara yang tidak kita sepakati.” Namun jika mereka
mengabaikan seruan itu, maka kami akan katakan, “Semoga keselamatan
selalu dilimpahkan kepada kalian dan kami tidak menginginkan apapun
kecuali ikatan cinta kerana Allah. “

Kajian dalam buku ini memaparkan pandangan yang jelas dan


menyeluruh terhadap manhaj perubahan dan konsep merealisasikan tujuan-
tujuannya. Di dalamnya juga terdapat jawapan terhadap pertanyaan-
pertanyaan yang banyak diutarakan, serta penjelasan permasalahan yang
banyak mengandungi perbezaan, mahupun perbedaan pikiran. Ini merupakan

11
langkah serius yang dilakukan untuk menjelaskan pandangan dan manhaj
dakwah Ikhwanul Muslimin serta tujuan-tujuannya. Ini merupakan tambahan
rujukan yang ditulis dan diedarkan oleh aktivis dakwah Ikhwan, untuk
menjelaskan dakwah mereka dan menjawab syubhat-syubhat. penulisnya
adalah salah seorang yang dibina dalam barisan dakwah, menyandang dan
teguh di atas prinsip-prinsip jama’ah. Dan kita mengagungkan seseorang
yang merupakan hak Allah.

Cairo, Ramadan 1426 H/Oktober 2005

IR. Muhammad Khairat Syathir


Wakil Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin

Pendahuluan

Pendahuluan

Sepanjang perjalanan sejarah, kumpulan- kumpulan penyeru perbaikan lahir


dan berkembang subur. Mula-mula cahayanya terang benderang selama
beberapa waktu, namun bersilih ganti masa sinarnya meredup dan padam,
atau menyimpang dari prinsip-prinsipnya, atau arusnya berubah dan

12
akhirnya dikendalikan oleh peristiwa dan perkembangan zaman, dan
akhirnya ia menjadi memori di halaman sejarah.

Perubahan dan kelemahan pada kumpulan- kumpulan tersebut kita saksikan


terjadi setelah satu atau dua generasi berikutnya atau setelah terjadinya
rentetan peristiwa tragis yang menimpa. Namun sekarang kita berada di
hadapan dakwah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Imam Syahid Hasan
Al Banna – kita berbaik sangka dengan mengatakan beliau gugur sebagai
syahid, walaupun kita sebenarnya tidak berhak memastikan kesucian
seseorang di atas ketentuan Allah-, pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/ Maret
1928 M, usianya waku itu sekitar 22 tahun, kemudian gugur syahid pada usia
yang masih muda tahun 1949 M ..
Kita melihat ada sesuatu yang berbeza ..
Kita melihat dakwahnya begitu kuat dan tegar, dakwahnya mengalir selama
lebih kurang 77 tahun, berjalan di atas jalan dan manhaj yang sama, tidak
ada perubahan dan penyimpangan, padam apinya atau koyak layarnya,
meskipun harus berhadapan dengan beragam ujian dan konspirasi, serta
pelbagai rintangan, tekanan dan penyeksaan.

Setelah berlalu beberapa generasi dan menyatu bersama dakwah ini, dia
tetap berjalan di atas prinsip-prinsip dan misi yang diperjuangkannya, dan
bahkan berada di penjaga terdepan di medan perjuangan antara Islam dan
kebatilan. Dengan izin Allah dia menjadi harapan baru bagi umat Islam di
Timur dan Barat, untuk kembali mengembalikan kemuliaan Islam di persada
bumi.

Kita melihat hal itu dengan penuh keyakinan, dan kitapun benar- benar
mengetahui bahawa hal itu terwujud tiada lain adalah berkat izin Allah,
kurnia dan pengawalan-Nya terhadap kelangsungan dakwah ini. Kita juga
mengetahui kekuatan pembangunan yang menjadi batu asas dakwah ini,
iaitu tarbiyah, dan persiapan para rijal di dalam jama’ah melalui pembinaan
yang dilakukan Imam Syahid Hasan Al Banna dan generasi pertama dakwah
ini.

13
Kajian ini merupakan kumpulan risalah-risalah Imam Syahid dan beberapa
penyampaiannya yang asalnya adalah sebuah usaha persendirian yang
tentunya terdapat kebenaran dan kekeliruan. Dengan kajian ini kita dapat
mengetahui konsep Imam Syahid dalam perbaikan dan perubahan serta
target tertinggi yang ingin dicapai dengan dakwah yang diserukannya.

Dengan menitikberatkan kajian terhadap tulisan-tulisan Imam Syahid, kami


juga mengambil beberapa bagian dari muruid-murid beliau, hal ini untuk
menambah penjelasan dan perincian dari risalah-risalahnya.

Dalam pembahasan ini juga terdapat pengulangan ucapan-ucapan Imam


Syahid di beberapa bab dan fasal, saya lebih memilih mengulang ucapan-
ucapannya berbanding memberikan isyarat kepada pembaca untuk merujuk
kepada perkataan-perkataannya, hal ini dimaksudkan untuk
mempermudahkan para pembaca untuk memahami makna-makna yang
terkandung dalam bab tersebut.

Selain memperbanyakkan pengulangan kata- kata Imam Syahid, kami juga


berupaya untuk mengumpulkan perkataan-perkataan Imam yang terpisah-
pisah ke dalam sebuah tema atau pembahasan, agar kita dapat memahami
secara lebih dekat pemahaman Imam Syahid secara menyeluruh, bukan
untuk membatasi atau mempersempit cakerawala berfikir.

Warisan berharga yang telah ditinggalkan oleh Imam Syahid ini sangat
memerlukan kajian-kajian intensif dan pembahasan, beliau telah menulis dan
menyampaikan seruan kepada para da’I dengan pemahamannya yang
mendalam terhadap Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., terhadap sunnah
perubahan di alam semesta, rentetan peristiwa dan pengalaman-pengalaman
dakwah sebelumnya.

Semoga Allah memberikan ganjaran setimpal terhadap apa yang telah dia
persembahkan untuk kita, Islam dan keluarganya.

14
Saya juga berharap kepada para pembaca untuk bertoleransi dan
memaklumkan jika menemui perbezaan-perbezaan dan kekeliruan di dalam
buku ini, dan berkenan memberikan doa untuk kebaikan.

Wallahu min warâ-il Qashdi wa huwa yahdi al sabîl


Manshurah, Ramadan 1426 H/ Oktober 2005

Penulis
Dr. Muhammad Abdurrahman al Mursy Ramadan

15
Bab I

Mengenal Konsep Dakwah


Ikhwanul Muslimin

Pertama, Dasar pemikiran


Kedua, Realiti
Ketiga, Halangan dan inisiatif kejayaan
Keempat, keistimewaan dan ciri khas Dakwah

Mengenal Konsep Dakwah Ikhwanul Muslimin


Pertama, Dasar pemikiran

Dakwah Islam adalah Projek Kebangkitan:


Imam Syahid1 berkata di dalam risalahnya ‘Dakwah kami’:
“Kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami,
memaparkan di hadapan mereka kaedah kami, dan membimbing mereka
menuju dakwah kami. Di sini tidak ada yang samar dan kabur- kabur.
Semuanya terang. Bahkan lebih terang dari sinar mentari, lebih jelas dari
cahaya fajar, dan lebih benderang dari putihnya siang.”

Perbezaan antara kami dan kaum kami – setelah persamaan keimanan-


bahawa mereka memiliki keimanan yang statik dan cepat tertidur,
sementara keimanan yang bersemayam di dalam jiwa Ikhwanul Muslimin
adalah keimanan yang kuat membara. Kami memahami Islam dengan
pemahaman yang luas dan integral, yang sejatinya mengatur seluruh urusan
dunia dan akhirat, ia tidak terbatas untuk perkara-perkara ibadah atau
kerohanian ... “2
1
kita berbaik sangka dengan mengatakan beliau gugur sebagai syahid, walaupun
kita sebenarnya tidak berhak memastikan kesucian seseorang di atas ketentuan
Allah.
2
Kutipan ringkas dari Majmu’atu Rasa-il Imam Syahid Hasan al Banna, Dakwatuna ,
Hal. 13,16,17

16
Sesungguhnya dakwah, dan seluruh tujuannya, cadangan, kaedah, dan syiar-
syiarnya sangat jelas dan terperinci. Ia disampaikan secara terbuka dan tidak
ditutup-tutupi atau dirahsiakan. Tidak pula panjang lebar dan berbasa-basi.
Tidak ada kesangsian dan keraguan. Dasar dan rujukannya adalah Islam,
celupannya Islam, dan tujuannya adalah Allah –azza wa jalla-.

Sebagaimana dakwah mampu mewujudkan dan mencakup seluruh aspeknya


dengan segenap realisasi amal dan sifat-sifat dakwah Islam, dan seluruh
segmen perbaikan, ia tidak terbatas hanya pada satu aspek tanpa aspek
yang lain, atau memiliki sifat tanpa sifat yang lain, serta sangat menjaga
keaslian rujukannya kepada Islam yang suci dan jernih sebagaimana yang
dibawa oleh Rasulullah Saw., mengikuti kaedah para sahabat, dan ulama-
ulama terdahulu –semoga Allah meredhai mereka-. Dakwah ini juga sangat
menguasai secara mendalam keadaan dan realiti kehidupan umat serta
bahaya dan halangan yang dihadapinya, penyakit dan penyebabnya. Ia
mengenal jalan yang dilaluinya secara jelas, fasa, usaha penyembuhan dan
kaedahnya:
“Ia adalah Dakwah salafiyah, Thariqah suniyah, hakikat sufiyah3,
hai’ah siyasiyah, Jama’ah riyadhiyah, Rabithah ‘Ilmiyah tsaqafiyah, Syarikah
Iqtishadiyah, Fikrah ijtima’iyah.”4

3
Teliti perkataan Imam Syahid, “hakikatnya adalah hakikat sufiyah”, dan tidak
mengatakan, “jalannya adalah sufiyah.”
4

Risalah, Muktamar al Khamis, hal. 123


Dakwah salafiyah: Kerana mereka berdakwah untuk mengajak kembali (bersama
Islam) kepada sumbernya yang jernih dari kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.

Thariqah Suniyah: kerana mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunah yang
suci-khususnya dalam masalah akidah dan ibadah- semaksimum mungkin sesuai
dengan kemampuan mereka.

Hakikat Sufiyah: kerana mereka memahami bahawa asas kebaikan adalah kesucian
jiwa, kejernihan hati, amal yang berterusan, berpaling dari ketergantungan
kepada makhluk, mahhabah fillah, dan keterikatan kepada kebaikan.

Hai’ah Siyasiyah: kerana mereka menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum
pemerintahan, meluruskan persepsi yang berkaitan dengan hubungan umat Islam
terhadap bangsa-bangsa lain diluar negara, mentarbiyah bangsa agar memilih
izzah, dan menjaga identitinya.

Jama’ah Riyadhiyah: kerana mereka sangat memerhatikan masalah fizikal dan


sangat memahami bahawa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang
mukmin yang lemah.

17
Dengan ungkapan yang lain sesungguhnya kita membawa, “Projek dakwah
Islam sesuai dengan dengan manhaj nabawi” untuk kebangkitan umat. Ini
bermakna bahawa sesungguhnya kami bukan hanya parti politik yang dimiliki
sebuah komuniti muslim yang memiliki misi memperbaiki Islam, namun lebih
dari itu kami memiliki sebuah projek perbaikan Islami yang merupakan
bahagian yang tidak terlepas dari rekonstruksi (celupan) Islam yang
menyeluruh yang dengannya kita mendapatkan celupan serta obsesi yang
kita miliki. Ia merupakan projek yang berkaitan erat dengan peranan umat
Islam di dalam kehidupan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah,

   


 
 
 
    
   
    
   
       
     
   
    
   
   
   

Rabithah ‘Ilmiyah tsaqafiyah: kerana Islam menjadikan thalabul ‘ilmi sebagai


kewajipan bagi setiap muslim dan muslimah.

Syarikah Iqtishadiyah: kerana Islam sangat memerhatikan pemerolehan harta dan


pembahagiannya. Pentj.

18
 
 
   
  
 
“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-
benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk
kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu
Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari
dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi
saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap
manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah
kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik
pelindung dan sebaik- baik penolong.” (Q.S Al Hajj: 57-58)5

Imam Syahid berkata: “Wahai Ikhwanul Muslimin, wahai seluruh umat


manusia .. kami bukanlah parti politik, walaupun politik yang bersendikan
ajaran Islam merupakan inti fikrah kami, dan kami bukanlah lembaga sosial
kemasyarakatan, walaupun amal-amal kebaikan dan sosial merupakan target
terbesar kami, dan kami bukanlah kelab sukan, walaupun bersukan secara
fizikal dan rohani menjadi salah satu bahagian terpenting dalam dakwah
kami. Kami bukanlah bentuk-bentuk yang disebutkan di atas, kerana hal itu
semua dapat dipergunakan oleh tujuan-tujuan tertentu, serta dalam waktu
yang tertentu pula.. sementara kami wahai umat manusia adalah fikrah dan
akidah, aturan dan manhaj yang tidak dibatasi oleh wilayah tertentu, dan
tidak dibatasi oleh jenis tertentu, yang tidak dihalangi oleh batas-batas
geografi, ia tidak akan berhenti pada sebuah urusan sehingga Allah

5
Risalah Wudhu al Ru’yah, Al Ustadz Musthafa Masyhur, hal. 4

19
mewariskan bumi dan seluruh isinya; sesungguhnya ia adalah hukum dari
Allah Yang Maha Mencipta alam semesta, serta merupakan manhaj Rasul-
Nya yang dipercayai.”6

Walaupun dakwah ini tidak terhad pada parti politik atau lembaga
sosial kemasyarakatan, atau sebuah lembaga yang memiliki tujuan-tujuan
tertentu, namun dakwah tetap memanfaatkan lembaga-lembaga ini dan
halangan- halangan yang dihadapinya sebagai usaha untuk menyebarkan
dakwah serta mewujudkan misi-misi Islam dan menerjemahkan nilai-nilai
keIslaman ke dalam masyarakat. Maka sudah selayaknya ia mendirikan
lembaga-lembaga kebaikan dan sosial, kelab- kelab sukan dan parti politik
(yang memiliki ideologi Islam di dalam konsep dasarnya atau memiliki
kaedah perbaikan tertentu, atau parti politik yang mampu menyampaikan
misi jama’ah dan aspirasi politiknya), serta melakukan kerjasama dengan
orang lain dalam mewujudkan target-target tersebut. Semua langkah-
langkah ini merupakan usaha yang akan membantu dakwah serta menjadi
langkah untuk mengaspirasikan target tertentu dari gerakan dakwah dan
tidak bertentangan dengan konsep universaliti dakwah dan prinsip-
psinsipnya yang tetap. Dan tentunya ia tidak menjadi sesuatu yang
menggantikan jama’ah, universalitasi manhaj dan pembentukannya, atau
tidak terbatas pada hal itu saja.

Dalam menghadapi rintangan-rintangan ini maka nama dan simbol


tidak menjadi begitu penting, selama tujuan dan target-targetnya jelas dan
terperinci, serta batasan-batasan yang benar dapat diwujudkan, serta tidak
terdapat penyelewengan dari prinsip-prinsip Islam dan akidah yang benar.
Sebagaimana ia juga mampu berjalan dan memainkan peranan dan tugasnya
dengan usaha- usaha konsitusi dan perjuangan hukum.

“Ini adalah posisi kalian. Maka janganlah merasa kecil dengan diri
kalian sendiri sehingga kalian membandingkannya dengan orang-orang
selain kalian. Atau kalian melakukan dakwah di atas jalan kaum bukan

6
Risalah Al Ikhwan tahta Rayat Al Quran (Risalah Ikhwan di bawah naungan panji
Al Quran) , hal.197

20
muslim atau kalian berupaya untuk melakukan penyeimbangan antara
dakwah yang kalian ambil cahayanya dari Allah dan Rasul-nya dengan yang
dakwah-dakwah lain yang banyak dilperbolehkan oleh kondisi-kondisi
darurat, dan akhirnya lenyap bersama peredaran peristiwa dan hari.”7

Obsesi, Misi dan Tujuan


Obsesi yang sebenarnya dalam menghidupkan dakwah tercermin dalam,
“(Keyakinan yang kuat bahawasanya redha Allah Swt. serta pemenuhan
kewajiban pada hari perhitungan, menjadikan kita wajib melakukan amal-
amal kolektif untuk menunaikan kewajipan-kewajipan syariah secara umum
serta untuk meninggikan kalimat Allah Swt. di muka bumi, terutama sesuai
dengan pemahaman yang benar terhadap Islam sebagaimana yang
disebutkan dalam Risalah Ta’alim secara khusus dan di dalam rukun pertama
‘Al Fahm’ secara khusus.

Dan hendaknya obsesi ini menjadi dasar yang mendorong realisasi amal-
amal kolektif tumbuh dari tapak ibadah, dan hendaknya kerja-kerja kolektif –
termasuk jama’ah- tidak menjadi tujuan atau usaha, namun ia merupakan
kewajipan. Keperluan kita terhadap jama’ah akan terus berlaku kewajipan-
kewajipan yang menjadi dasar kewajipannya masih ada).”

Imam Syahid telah memberikan isyarat tentang fasa yang sedang


dihadapi oleh umat dan ini menjadi sebuah kewajipan baginya: “Telah tiba
saatnya kita harus menghadapi kekeliruan masa lalu, kita harus membaiki
yang pecah, menyambung yang terputus, menyelamatkan diri dan anak-
anak kita, mengembalikan keperkasaan dan kemuliaan yang kita miliki,
membangunkan peradaban dan mengajarkan agama kita, serta kita harus
menyelamatkan umat dari bahaya yang mengancamnya.”8

Dengan demikian, kita dapat meringkaskan misi-misi jama’ah yang


ingin diwujudkan adalah, ((“Melakukan amal-amal untuk meninggikan

7
Risalah: Al Ikhwan tahta Rayat Al Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal.198
8
Risalah: Hal Nahnu Qaumum ‘Amaliyyun? (Apakah Kita Para Aktivis)? hal. 69

21
kalimat Allah di muka bumi, agar nilai-nilai Islam dan syariatnya menjadi
hukum tertinggi dan menguasai satu perempat dunia,

 
 

  
 



Ertinya:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah[611] dan supaya
agama itu semata-mata untuk Allah …” (Q.S Al Anfal: 39)

Hal itu dilakukan dengan kebangkitan bersama umat Islam, agar ia


mampu memimpin dunia dan menjalankan peranannya sebagai saksi
terhadap alam semesta,


 
 


 
 
  
  
 
Ertinya:
“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat
yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia
dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …” (Q.S Al
Baqarah: 143)

Dan saling tolong menolong sesama muslim untuk melaksanakan


tugas dan kewajipan-kewajipan syariat yang dibebankan kepada kita.”)

Target-target tersebut diatas dapat diringkaskan dalam beberapa hal


berikut ini:
1. Pembentuk individu muslim
2. Rumah tangga Islami
3. Masyarakat muslim
4. Membebaskan negeri dari seluruh penguasa asing

22
5. Mendirikan pemerintahan Islam dan mengadakan perbaikan
6. Mengembalikan kewujudan negara Islam Antarabangsa untuk
seluruh umat Islam dengan membebaskan negeri-negeri mereka,
mewujudkan persatuan dan kesatuan, mendirikan khilafah yang
hilang dan mengembalikan wilayah-wilayah Islam yang dirampas.
7. Memimpin dunia dengan menyebarkan dakwah Islam di satu
perempat dunia.

Imam Syahid menjelaskan tujuan-tujuan dakwah dan pelaksanaannya


dalam kaedah- keadah praktikal yang menerangkan tentang maksud-
maksudnya, beliau berkata: “Tujuan dan target kalian adalah target-target
Islam yang hanif, adapun maksud-maksudnya adalah:
1. Memperbaiki pemahaman kaum muslimin terhadap agama
mereka dan menjelaskan tentang dakwah Al Quran,
menyampaikannya kepada masyarakat dengan cara yang
baik serta sesuai dengan konteks masa kini, agar kebaikan
dan keindahannya dapat diungkap serta menjawab
syubhat-syubhat dan kebatilan.
2. Menghimpun kaum muslimin secara amali kedalam prinsip-
prinsip Islam dengan memperbaharui kehebatan
pengaruhnya di dalam jiwa.
3. Memberikan khidmat kepada masyarakat dan
membersihkannya dari kebodohan, penyakit, dan
kefakiran, serta memberikan sokongan untuk kebaikan dan
manfaat umum dalam pelbagai bentuk.
4. Seseorang tidak akan berasa memiliki kehormatan, dan
kemuliaan, kecuali jika dia dapat menikmati rasa kenyang,
tidak bergantung kepada orang lain, dan dapat
mencukupkan keperluan hidupnya sehari-hari. Islam sangat
mengambil berat aspek ini, oleh kerana itu ia tidak
melupakan aspek ekonomi dan tidak meremehkan
perbaikan kewangan. Islam bahkan menempatkannya
menjadi bahagian utama yang akan mengukuhkan

23
persatuan dan kesatuan umat, baik secara individu
mahupun secara kolektif. Sehingga dapat meningkatkan
status sosial dan merapatkan jurang kelas-kelas
masyarakat serta menenangkan setiap individu masyarakat
terhadap dirinya sendiri, kerabat dan putera-puteri mereka.
Terjaminnya rasa keadilan sosial secara benar dan
terpenuhinya peluang yang sama bagi setiap individu.
5. Jika tujuan-tujuan ini tidak dapat diwujudkan kecuali
dengan berdirinya sebuah negara, maka sudah seharusnya
kita meminta hak untuk mendirikan sebuah pemerintahan
Islam yang mengambil berat nilai-nilai, hukum dan ajaran-
ajarannya.
6. Syaratnya adalah kebebasan dan kemerdekaan
sepenuhnya. Adalah tidak dapat dielakkan jika sebahagian
dari tujuan-tujuan kalian –sebagai dakwah Islam yang
benar dan menyeluruh- seperti membebaskan lembah Nil,
negara-negara Arab dan negara-negara Islam dengan
seluruh wilayah bahagiannya dari tangan orang asing.
7. Dakwah Islam yang hanif tidak terbatas pada satu bangsa
tanpa bangsa yang lain, atau pada satu kawasan tanpa
kawasan yang lain, sesungguhnya Allah Swt. berfirman:

  

  

  


  
Ertinya:
“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia
seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” (Q.S Saba: 28)

24

 
 
  
 
 
Ertinya:
“Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran)
kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh
alam.” (Q.S Al Furqan: 1)

  
 

 
 
 


  

 
  

 
 
Ertinya:
“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu
supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gelita kepada cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, (iaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S Ibrahim: 1)

Ini adalah dasar pertama aspek rohani dan amal yang diletakkan di
bumi ini sebagai medium penyatuan dunia. Dan hendaknya dakwah kalian
wahai saudara-saudaraku tercinta mengusahakan agar terciptanya
perdamaian dunia dan pembinaan kehidupan baru untuk manusia, dengan
menunjukkan kepada mereka kebaikan dan keindahan agama kalian,
mengagungkan prinsip dan ajaran-ajarannya kepada mereka, serta
memberikannya kepada mereka.

Itulan tujuan dan target dakwah kalian, semuanya bersumber dari nilai-nilai
Islam yang hanif, tak selembar rambutpun yang keluar dari batasan tersebut.

25
   

   

   
 

Ertinya:
“Segala puji bagi Allah yang Telah menunjukkan kami kepada (syurga)
ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak
memberi kami petunjuk. “ (Q.S Al A’raf: 43)9

Kedua, Realiti
Ciri Fasa Dakwah dan Hakikat Perselisihan:

Jelasnya pandangan dalam tujuan dan target dakwah tidak akan sempurna
kecuali dengan jelasnya pandangan dalam melihat cirri- ciri dakwah dan
hakikat perselisihan, serta pengenalan terhadap bentuk-bentuk tentangan
agar dakwah dapat berjalan sesuai dengan petunjuk dan pengetahuan.

Keadaan dakwah Islam di abad kontemporari sebagaimana dakwah-dakwah


penyeru perbaikan lainnya yang dipimpin oleh para Nabi –semoga selawat
dan salam tercurahkan kepada mereka semua- tidak mendapat ruang yang
dapat membantu mempermudahkan realisasi amal-amalnya, ia bahkan harus
menghadapi kesulitan dan tentangan- tentangan. Seorang da’i sudah
semestinya mengetahui cirri- ciri jalan dakwah yang panjang dan sulit yang
senantiasa memerlukan kesungguhan dan perjuangan, jalan-jalannya
dipenuhi duri, peluh dan darah, yang menuntut ketegaran, dan keikhlasan
semata-mata hanya kepada Allah.

Begitupula halnya dengan dakwah Ikhwanul Muslimin, -ia harus berhadapan


dengan realiti kehidupan umat yang sangat sukar; yang adal;ah tidak
mengejutkan merupakan akumulasi masalah yang selama ini bersarang di

9
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 249

26
tengah masyarakat, berupa keruntuhan dan jauhnya umat dari tuntunan
Allah dan pelaksanaan syariat Allah, kekacauan dan dominasi musuh
terhadap umat-, ia mengenal benar keadaan ini, kadar beban yang akan
dipikulnya, rintangan yang berada di jalannya serta perwatakan musuh yang
akan dihadapinya. Diantara halangan- halangan tersebut:
a. Penyelewengan dan kejumudan;
Bentuk-bentuknya sebagai berikut:
1. Keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap Islam serta
ketidak tahuan mereka terhadap dakwah Ikhwanul Muslimin.
2. Keterasingan Para ulama tradisional dan orang-orang selain
mereka terhadap nilai-nilai ajaran Islam, dan memenjarakan
pemahaman keIslaman hanya sebatas ibadah dan rutin spiritual
sahaja serta beberapa akhlak dan budi pekerti.
3. Disibukkan dengan perkara-perkara yang furu’ (cabang) dalam
Islam dan hal-hal yang memecahkan persatuan umat, fikiran yang
jumud dan berlembut di hadapan kemodenan.
4. Keberadaan kelompok-kelompok dan pemikiran menyimpang dari
pemahaman Islam dan akidah yang sesungguhnya, yang
menyerang nilai-nilai dasar Islam, dan memberikan alternatif baru
berupa konsep dan nilai-nilai dari luar masyarakat muslim, yang
kemudian mendapat sambutan dan sokongan dari dalam mahupun
dari luar kawasan.
5. Kepelbagaian kaedah dan gagasan para penyeru dakwah Islam,
serta adanya permusuhan dan kebencian di antara mereka.

b. Kemerosotan keadaan masyarakat dan lembaga-lembaga perbaikannya,


seperti:
1. Hilangnya refleksi ibadah dari akhlak dan budi pekerti. Dimana kita
menemui ramai orang yang sangat menjaga dan memelihara ibadah solat
lima waktu, puasa, dan solat berjemaah di masjid serta ibadah-ibadah yang
lain, namun rutin spiritual tersebut tidak memberikan pengaruh yang ketara
terhadap akhlak, dan budi pekerti mereka.

27
2. Melekatnya adat dan kebiasaan buruk yang diwarisi dari generasi ke
generasi, yang menyimpang dari dasar dan prinsip-prinsip ajaran Islam.
3. Hilangnya obsesi dan tujuan-tujuan nasionalisme serta kemerosotan
semangat.
4. Leburnya keperibadian muslim di tengah masyarakat dan lemahnya
aset-aset kemanusiaan dari unsur-unsur yang mencetuskan kejayaan, berupa
kesungguhan, keberanian, kemajuan, cita-cita untuk mengalahkan egoisme,
perpecahan, saling mencela, statik serta lemahnya keperibadian yang baik
dan produktif.
5. Tersebarnya kerosakan dan para perosak serta pencuri yang
melahap harta rakyat tanpa pengawasan dan perhitungan.
6. Kemerosotan peranan lembaga-lembaga kemasyarakatan, baik
dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum, media dan lain sebagainya,
termasuk kemunduran keilmuan dan peradaban sehingga membuat kita
cenderung mengikuti (apa saja) tanpa mengenal kebebasan.

c. Rosaknya hukum dan lenyapnya iklim politik yang sihat


Gambarannya antara lain:
1. Lenyapnya kebebasan politik dan sirnanya perasaan dan aspirasi
rakyat, serta tersebarnya iklim diktatorisme politik di dalam
pemerintahan.
2. Masyarakat terpedaya oleh para Dajjal dan penipu dari para
panglima dan pemimpin, dan memberikan kepercayaan mereka
kepada para pemimpin tersebut, lalu merekapun bertindak
sewenang- wenangnya. Reaksi yang muncul dari keterpedayaan ini
adalah lahirnya rasa curiga dan kebencian masyarakat terhadap
para da’i.
3. Rosaknya Undang-undang, keterbatasan, kontradiksi dan tumpang-
tindih satu sama lain, serta tidak adanya penghormatan terhadap
undang-undang.
4. Dominasi organisasi-organisasi perosak terhadap aset-aset
kerajaan yang bekerjasama dengan kekuatan tertentu dari luar,
yang bekerja memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini untuk

28
mengukuhkan kedudukannya di tengah rakyat, yang kemudian
menjadikannya sebagai alat dan usaha untuk melumpuhkan
kebangkitan Islam dan umat, serta mengalahkan kekuatan dan
pengaruh apapun yang membahayakan posisinya di kerusi
pemerintahan.
5. Perpecahan dan perseteruan antara negara-negara Islam, dan
konflik dalam negeri setiap kawasan, serta masalah- masalah
lainnya yang sengaja diciptakan oleh para penjajah.
6. Hilangnya penerapan yang benar dan menyeluruh terhadap syariat
Islam, serta adanya usaha untuk menjauhkan nilai-nilainya dari
kehidupan masyarakat dan umat manusia.

d. Konspirasi dari dalam dan luar negeri terhadap dakwah Islam dan umat.
Bentuk-bentuknya antara lain;
1. Kewujudan para pendengki, penghasut, orang-orang yang
bercita- cita tinggi serta kaum munafik di dalam setiap segi
kehidupan yang berupaya melumpuhkan dakwah, menghulurkan
tangannya untuk menyakiti serta melakukan pendekatan dan
bekerjasama dengan para penguasa.
2. Kekuatan atheisme dan konspirasi terhadap Islam yang berasal
dari kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang berupaya
melakukan penghancuran dan menjauhkan masyarakat dari nilai-
nilai keIslaman.
3. Konspirasi luar yang berasal dari pelbagai kekuatan penjajah
asing terhadap Islam dan kaum muslimin, bagi mewujudkan cita-
cita dan keinginan mereka mendapatkan keuntungan dari
negara-negara Islam di dunia. Pendirian negara Israel di jantung
negara Arab merupakan sebahagian dari rantai konspirasi
tersebut.
4. Situasi masyarakat bahkan telah sampai pada tahap hilangnya
pusat dan unsur-unsur pembangun masyarakat dan umat serta
lenyapnya kepemimpinan yang hakiki terhadap agama Allah di
muka bumi. Hal ini menjadikan kerosakannya semakin kritikal

29
dan tidak mungkin diperbaiki secara sebahagiannya saja.
Perubahan dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh
dan melakukan langkah-langkah bertahap sebagaimana yang
dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Siapa saja yang meneliti perseteruan antara umat Islam dan musuh-
musuhnya yang berasal dari luar, maka akan menyangka bahawa
perseteruan yang terjadi berjalan tidak seimbang. Jika melihat kemajuan
pembangunan fizikal yang dimiliki musuh-musuh Islam terhadap kaum
muslimin:
• Terdapat kesempatan besar untuk menguasai sebab-sebab kekuatan
ketenteraan antara kaum muslimin dan musuh-musuhnya.
• Di pentas politik, kewujudan politik yang menghimpun kaum muslimin
–di seluruh hamparan muka bumi- ternyata tidak memiliki kebebasan
dan kekuatan untuk menetapkan keputusan sendiri.
• Di bidang ekonomi, walaupun umat Islam telah menikmati kekayaan
alam negerinya yang melimpah ruah, namun sesungguhnya mereka
tidak memiliki autonomi dalam ekonomi dan sebenarnya mereka tidak
menguasai dan memiliki kekayaan negerinya dengan kepemilikan
yang sebenar- benarnya. Sebenarnya kita sedang didera oleh ekonomi
yang tidak autonomi.
• Di bidang keilmuan (konsep) dan praktikal, sesungguhnya untuk
melihat jarak besar antara kita (umat Islam) dengan musuh-musuh
agama ini bukanlah sesuatu yang sukar.

Walaupun demikian, potensi dan kekuatan umat Islam tetap


diperhitungkan, musuh-musuh Islam bahkan menganggap Islam sebagai
musuh pertama yang ditakuti, kerana mereka mengetahui benar bahwa
mereka belum menemui pertempuran dan perseteruan yang sebenar-
benarnya sampai sekarang dan belum mampu melumpuhkannya. Kerana itu
mereka akan terus menggempur umat Islam hingga dapat menaklukkannya.

30
Dalam kadar tertentu, musuh-musuh Islam telah mampu
menyingkirkan refleksi keIslaman individu dan masyarakat muslim, namun ia
kerap berhadapan dengan rintangan jika wujudnya seorang muslim yang
benar-benar memegang komitmen keIslaman di waktu yang lain, dengan
hanya mendapatkan kesempatan.

Musuh-musuh Islam benar-benar mengetahui bahawa setiap muslim


masih berpotensi dan berpeluang membawa Islam secara sempurna pada
suatu hari.

Oleh kerana itu, tempat pertempuran sebenaryang dijadikan musuh


sebagai medan melakukan gempuran terhadap Islam adalah medan
kewujudan muslim, baik secara individu, keluarga dan masyarakat, dengan
akhlak dan kebiasaan-kebiasaannya.

Sesungguhnya musuh senantiasa berupaya melakukan kerosakan


terhadap kewujudan muslim dan melenyapkan dari dirinya sendi-sendi rukun
Islam dan menggantikannya dengan nilai-nilai yang lain. Namun ketika
mereka merasakan kegagalan dalam usahanya mengeluarkan muslim dari
agamanya, maka kemudian mereka membuat lubang pada wadah
(keperibadian muslim) agar tidak dapat digunakan untuk memelihara nilai-
nilai keIslaman dan tidak mampu bergerak ke masa depan. Musuh-musuh
Islam tidak puas hanya dengan ruang peradaban di bidang ketenteraan,
politik, kelimuan, ekonomi dan lain-lain, namun mereka juga memasukkan
rasa takut ke dalam jiwa umat Islam. Dengan demikian, maka pertempuran
yang sesungguhnya adalah terhadap: Pembentukan individu dan masyarakat
muslim.

Sesungguhnya medan pertempuran antara kita dengan mereka adalah


perwatakan, ciri khas, pembinaan dan pembentukan (sibghah) Islami.

Imam Syahid menjelaskan tentang keadaan umat dan masyarakat,


“Dari sini tampaklah refleksi keIslaman yang kuat, yang penuh, cemerlang
dan deras di pelbagai segmen kehidupan Mesir. Nama-nama yang digunakan

31
menggunakan bahasa Arab, bahasanya Arab, masjid-masjid yang besar ini
disebutkan di dalamnya nama Allah, darinya terdengar seruan kebenaran
setiap pagi dan petang, kita memiliki perasaan yang tidak bergetar seperti
getarnya terhadap Islam dan apa yang berhubungan dengan Islam,
seluruhnya merupakan kebenaran.”

Namun ketamadunan Barat telah menggempur kita dengan gempuran


yang kuat dan luar biasa melalui ilmu pengetahuan, harta, politik,
kemewahan dan kesenangan, permainan dan pelbagai kenikmatan yang
melenakan, yang tak pernah kita kenal sebelumnya, sehingga kita kagum
dan tunduk di hadapannya. Gempuran ini telah memberikan pengaruh yang
sangat besar, dan merobohkan naungan pemikiran Islam tentang kehidupan
sosial masyarakat Mesir dalam pelbagai bidang, yang akhirnya membuatkan
kita berusaha mengubah keadaan kita dan mencelupnya dengan celupan
Eropah. Kita kemudian memenjarakan kekuasaan Islam di dalam hati dan
tempat-tempat ibadah, dan memisahkannya dari urusan-urusan kehidupan
duniawi, serta menjauhkannya satu sama lain dengan jarak yang sangat
jauh. Dengan begitu, kita hidup dengan kehidupan yang bergoncang dan
saling berselisihan.

Kehidupan Barat dengan segala gemerlap dan fitnahnya serta dengan


segala tampilan kekuatan fizikal berupaya menguasai dan mendominasi di
seluruh sudut kehidupan kita..”10

Imam Syahid menggambarkan penyakit yang semakin kritikal dalam


tubuh umat, beliau mengatakan, “Lemahnya akhlak dan kehilangan teladan
tertinggi, merebaknya budaya mementingkan diri sendiri berbanding
kepentingan umum, tidak berani menghadapi kebenaran dan lari ketika
menjalani terapi penyembuhan, serta perpecahan –semoga Allah
memusnahkannya-. Inilah sebenarnya penyakit umat.”11

10
Risalah: Dakwatuna fi Thaur Jadid (Dakwah kami di zaman baru) , Hal. 238
11
Risalah: Al Mu’tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 152

32
• Sesungguhnya permusuhan Barat dan Zionis terhadap dunia Islam –
atau dengan projek kebangkitan Islam-, tidak hanya matlamat ekonomi
atau perdagangan –walaupun ini merupakan bagian dari matlamat
mereka- target utama mereka adalah perlawanan terhadap nilai-nilai
keIslaman yang lengkap dan peradabannya yang sempurna.

Moro Berger mengatakan di dalam bukunya ‘Quwaa al Syar al


Mutahâlifah’, “Rasa takut terhadap Arab dan perhatian kami terhadap
bangsa Arab bukan kerana minyak dan gas yang dimiliki Arab, namun
disebabkan Islam. Untuk itu Islam harus diperangi; Untuk dihancurkan tanpa
persatuan bangsa Arab yang merupakan kunci kekuatan Arab, kerana
kekuatan Arab bertaut erat dengan kekuatan Islam, keperkasaan dan
penyebarannya.”12

Namun bahaya luar ini tidak berbentuk titik yang sangat berbahaya
atau ancaman yang luarbiasa terhadap Islam. Asas utamanya adalah sebesar
mana kekuatan kita berpegang teguh terhadap manhaj dan tujuan-tujuan
Islam, sekuat mana kekuatan barisan kita serta ketegaran di atas visi dan
misinya.

Maka jangan jadikan ancaman musuh dari luar ini sebagai lilin untuk
menutupi kesalahan dan kekurangan kita, atau sebagai alasan ketika kita
gagal melaksanakan tugas, dengan tetap meyakini adanya musuh dan
peranan mereka. Sesungguhnya dakwah yang kita serukan adalah dakwah
rabbani yang mempunyai sumber dan mendapat pertolongan dari Allah Sang
Pemilik semesta, yang diatur oleh keseimbangan dan sunnah Allah di dalam
perubahan dan penempatan. Untuk itu, kita harus mengambil jalan
pertengahan, iaitu tidak berlebihan menghadapi pengaruh dan marabahaya
ancaman musuh dari luar ini, dan tidak pula meremehkan permasalahannya.

Musuh-musuh Islam berkerjasama bersama orang-orang bodoh dan


mereka yang tertipu dari kaum muslimin, seperti alat dan para hakim yang
menjual akhirat mereka dengan dunia, untuk melenyapkan jati diri dan
12
Dikutip dari Akhbar Afaq Arabiyyah, yang terbit pada 30 Juni 2005 M, hal. 16

33
identiti muslim dan penghancuran terhadap proses pembentukan peribadi-
peribadi muslim. Dan mereka menggunakan segala macam cara dan
kemudahan, baik secara teori mahupun praktikal untuk mewujudkan
kebatilan mereka dengan melalui media, pendidikan, krisis ekonomi dan
sosial.

Mereka juga menggunakan kaki tangannya dari beberapa kawasan dan


daerah untuk memerangi kita. Kaki tangan mereka ini tiada lain adalah tali-
tali yang mereka miliki yang dikhayalkan di hadapan kita seolah-olah benda
hidup.. adapun tangan-tangan keji yang digunakan musuh untuk melawan
kita yang merupakan perpanjangan dari kekuatan mereka, telah sampai pada
tahap menjual akhirat secara fizikal dengan dunia, iaitu dunia orang-orang
bodoh dan para pemimpin.

Untuk itu, maka pandangan yang kami miliki sangat jelas ketika kami
bertekad untuk melakukan jihad dan perjuangan di medan pertempuran yang
sebenarnya, medan tarbiyah, pembentukan diri dan pemeliharaan identiti
muslim.

Tentang Kewajipan Dakwah


Walaupun kita dikepung oleh usaha- usaha penyempitan gerakan atau
semakin besarnya jarak antara cita-cita dan realiti yang kita hadapi, tidak
seharusnya kita lemah dan putus asa, atau menjadikan hal ini sebagai alasan
untuk meninggalkan dakwah. Tentang kewajiban dakwah dan dengan hasil
apapun, Imam Syahid mengatakan:
1. Sesungguhnya dakwah adalah sebuah kewajipan yang berada di
bahu kita. Jika kita mendapatkan kemenangan sebagaimana yang
kita harapkan untuk umat berupa kebaikan dan hidayah maka itulah
yang kita peroleh, dan hal itu berkat kekuatan dan pertolongan Allah.
2. Jika tidak, maka cukuplah bagi kita menjadi jambatan yang akan
menghubungkan dakwah dan petunjuk ini kepada mereka yang
memiliki kekuatan yang lebih besar untuk melakukan misi dakwah ini.
Atau dengan ungkapan yang lain, cukuplah bagi kita menjadi rantai

34
antara penyeru dakwah yang telah mendahului kita dengan generasi
yang akan datang berikutnya.
3. Jika hal itupun tidak mampu kita lakukan, maka cukuplah bagi kita
meminta maaf kepada Allah, lalu menunaikan amanah dan
melakukan apa yang menjadi kewajipan. Renungkanglah firman Allah
dalam Al Quran:

 
 
  


Ertinya:
“Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab)
kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Q.S Al A’raf: 164)

• Demikianlah tiga tingkatan yang menjadi tujuan dakwah, yang


tertinggi adalah yang pertama; untuk menjelaskan kepada kita
tentang kewajipan dakwah yang tak mungkin ditinggalkan kecuali
memenuhinya, dan tidak menerima alasan ataupun belas kasihan.13

Imam Syahid juga mengatakan kepada Ikhwan, “Ingatlah nikmat Allah


yang telah diberikan-Nya kepada kalian, persiapkanlah diri kalian, persiapkan
dakwah, dan sampaikan berita gembira, sesungguhnya masa depan adalah
milik kalian, dan sesungguhnya Allah selalu bersama kalian, dan Dia tak akan
meninggalkan usaha kalian.”14

Beliau berkata, “Sesungguhnya seorang da’I bekerja untuk


menunaikan kewajipannya merupakan hal yang pertama, yang kedua adalah
untuk mendapatkan pahala di akhirat, dan yang ketiga untuk memberikan
sumbangan. Seorang da’i, jika dia melakukan dakwah maka dia telah
menunaikan kewajipannya dan akan mendapat pahala dari Allah, dan tidak
ada keraguan dalam hal itu jika syarat-syaratnya telah dipenuhi. Sementara

13
Dari Makalah: Al Dakwah Ila Allah, Imam Syahid, Majalah Dakwah, Vol.82
Februari 1999. Dikutip dari buku, Al Imam Syahid Hasan Al Banna, karya Fuad Al
Hajarsi.
14
Risalah Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemuan Ketua-ketua Wilayah), hal. 246

35
untuk manfaat, maka urusannya kembali kepada Allah. Suatu waktu
kesempatan datang dan tak diperhitungkan yang membuat pekerjaannya
membuahkan hasil yang lebih berkat, berbeza jika dia memilih berhenti
meninggalkan pekerjaan, maka dia akan menerima dosa atas kelalaian
tersebut dan dia kehilangan kesempatan mendapatkan pahala jihad dan
tentu tidak dapat memberikan sumbangan.”15

Beliau juga berkata, “Telah tiba waktunya, dimana seorang muslim


harus mengetahui tujuannya, dan menentukan targetnya, dan hendaknya dia
berupaya untuk mewujudkan target-targetnya tersebut hingga dia sampai
kepada tujuan yang diinginkan. Adapun mereka yang dilanda kelalaian dan
kebingungan, permainan dan gurauan, hati-hati yang lengah, maka bukanlah
termasuk jalan orang-orang mukmin.”16

Ketiga: Halangan dan Faktor-Faktor Kejayaan


Halangan dan rintangan yang dihadapi dakwah:

Realiti di lapangan dakwah, karakteristik setiap fasa, dan hakikat


perselisihan –sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya- merupakan
halangan terbesar yang akan kita hadapi.

Pada fasa ini, dakwah menghadapi pelbagai rintangan di setiap tahap,


baik dalam proses pembentukan individu mahupun masyarakat muslim.
Rintangan-rintangan tersebut tergambar dalam tiga usaha berikut17:
1. Usaha- usaha memasukkan projek Barat dan Zionis untuk
mewujudkan kebiasaan dan menguasai aset-aset umat, serta
melakukan projek-projek perubahan secara keseluruhan dalam
bidang ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan.
2. Sejumlah usaha untuk melemahkan peranan kepemimpinan gerakan
Islam antarabangsa.

15
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.54
16
Risalah: Da'watuna (Dakwah kami), hal.15
17
Risalah: Wudhuh Ru'yah , Musthafa Masyhur, Hal.19, 20 (rangkuman)

36
3. Usaha untuk menyingkirkan kita dari penyebaran pengaruh dalam
masyarakat serta menghapuskan peranan umat Islam dari seluruh
sektor awam di kawasan masing- masing.

Penyingkiran ini sama seperti sebagaimana yang dikatakan oleh


Waraqah bin Naufal ketika peristiwa turunnya wahyu kepada Rasulullah Saw.
Waraqah berkata kepada Rasulullah Saw.,”Dia adalah malaikat yang turun
kepada Nabi Musa, duhai seandainya aku dapat bersama mendampingimu
ketika engkau diusir oleh kaummu.” Nabi Muhammad Saw. berkata, “Apakah
mereka akan mengeluarkannya? Warawah menjawab, “Tiada seorangpun
yang membawa risalah sepertimana yang engkau bawa, melainkan akan
diusir oleh kaumnya.”18

Imam Syahid menjelaskan halangan dan rintangan yang akan dihadapi


oleh para da’i, Rintangan yang ada di jalan dakwah kita: “Aku ingin berterus
terang kepada kalian, bahawasanya dakwah yang kalian serukan masih
sangat asing di kebanyakan masyarakat. Dan pada hari di mana mereka
mengetahui dan mengenal tujuan, serta target-target dakwah, maka kalian
akan menerima dendam dan permusuhan. Kalian akan menemui di hadapan
kalian pelbagai beban berat, kalian akan berhadapan dengan bermacam
halangan, maka pada saat itulah sebenarnya kalian telah menempuh
perjalanan para da’i.”

“Kalian masih belum dikenali, dan kalian masih mudah menyerukan


dakwah, dan kalian akan bersiap-siap memenuhi tuntutan dakwah untuk
berjihad dan berjuang.”

“Kebodohan penduduk negeri terhadap hakikat Islam akan menjadi


halangan di hadapan dakwah yang kalian serukan..

Dan kalian akan menemui bagaimana para ulama dan orang-orang


yang tampak berkomitmen tinggi memegang nilai-nilai Islam masih berasa

18
Dikutip dari sirah nabawiyah, karya Ibnu Hisyam

37
asing dan takjub terhadap pemahaman Islam yang kalian bawa dan mereka
akan mengingkari jihad kalian..

Para pemimpin, pembesar negeri dan para pemilik kekuasaan akan


mendengki kalian..

Seluruh pemerintah akan berdiri di hadapan kalian dengan sikap yang


sama.. dan setiap pemerintah tersebut akan berupaya melumpuhkan
kegiatan kalian dan akan meletakkan rintangan di jalan kalian..

Orang-orang tersebut akan berupaya menutup setiap peluang


kebangkitan kalian dan mematikan cahaya dakwah kalian..

Untuk melakukan hal itu mereka memanfaatkan pemerintahan yang


lemah, akhlak yang semakin runtuh, dan tangan-tangan yang terjulur kepada
mereka dengan permintaan, serta kepada kalian dengan penganiyaan dan
permusuhan..

Orang-orang akan menunjukkan jarinya kepada kalian di sekitar


dakwah yang kalian bawa dengan debu-debu syubhat dan tuduhan-tuduhan
yang keji..

Mereka akan berupaya mencari celah-celah kekurangan, dan


menunjukkannya kepada manusia dalam bentuk yang sangat buruk, dengan
menggunakan kekuatan yang mereka miliki serta harta dan kekayaan yang
mereka miliki..

  



  
  
  
  
 

38
Ertinya:
“Mereka berkemahuan memadamkan cahaya (agama) Allah dengan
mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak
menyukai.” (Q.S Al Taubah:32)

Maka kalian akan masuk ke wilayah fitnah dan ujian, kalian akan
ditangkap dan dijerumuskan ke dalam penjara, kalian akan dibuang negeri
dan terusir, kalian akan mendapatkan kesukaran dan kehilangan pekerjaan,
dan rumah-rumah kalian akan digeledah..

Masa ujian yang menimpa kalian ini kadang- kala akan berjalan cukup
lama, firman Allah:


 
 
  
   

Ertinya:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S AL Ankabut:2)

Akan tetapi setelah ujian dan fitnah itu, Allah menjanjikan kepada
kalian kemenangan untuk para pejuang serta ganjaran yang berlipat ganda
untuk mereka yang berbuat kebaikan..

Apakah kalian tetap bertahan untuk menjadi para penolong agama


19
Allah?”

Yang mulia, Imam Syahid Hasan Al Banna menjelaskan bahawa jalan


dakwah adalah jalan panjang yang dipenuhi perjuangan dan pengorbanan,
kesabaran dan ketegaran. Walaupun demikian, jalan ini merupakan jalan
yang satu-satunya dan tidak ada jalan lain:
19
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 109

39
“Jalan dakwah ini adalah jalan panjang, namun tidak ada jalan lain
yang menjadi pilihan..”

Siapa saja yang ingin cepat menikmati buah sebelum masanya, atau
ingin memetik kembang sebelum waktunya, maka aku tidak menjadi
sebahagian darinya dan sebaiknya dia keluar dari dakwah ini dan memilih
20
jalan dakwah yang lain.”

Bekal Kita Menghadapi rintangan:


• Ikhwanul Muslimin menghadapi rintangan-rintangan ini dengan
perspektif yang menyeluruh dan kaedah yang komprehensif untuk
perbaikan, menjaga keseimbangan di seluruh fasa-fasanya, dan tidak
akan meremehkan langkah-langkah dan fasa-fasa tersebut, ia akan
menempuh kaedah membangunkan bukan menghancurkan, serta
melakukan hubungan dan kerjasama dengan orang-orang ikhlas yang
lain untuk menciptakan kemaslahatan dakwah dan mendorong
perpaduan kalimat dan persatuan barisan masyarakat.
• Imam Syahid telah menegaskan bahawa asas dasar dakwah dalam
menghadapi rintangan, yang akan melindunginya dari serangan
musuh-musuh, dan yang akan menjadi sandaran dalam mewujudkan
tujuan-tujuan dakwah, diantaranya adalah keimanan yang mendalam,
pembinaan yang teliti, dan tugas yang berkesinambungan, dengan
menguatkan komitmen terhadap rukun-rukun baiat pada setiap
individu dalam barisan dakwah, senantiasa berbaik sangka kepada
Allah, keyakinan dan harapan terhadap pertolongan Allah Swt. untuk
kemenangan dakwah.
• Kaedah Ikhwanul Muslimin dalam menciptakan perbaikan dalam
masyarakat adalah memusatkan perhatiannya terhadap kesedaran
setiap individu, pembinaan dan menghidupkan umat dan
memaksimumkan potensi-potensi yang dimilikinya.

20
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 127

40
• Titik tolak untuk mewujudkan hal ini adalah, keimanan kepada Allah,
ikatan dengan kitab-Nya yang mulia, dan dengan melakukan tarbiyah
yang tepat dan benar, sehingga akan terwujudlah kesatuan barisan
dan manhaj.

Imam Syahid berkata, “Jika ada seorang muslim yang benar, maka
padanya terdapat punca- punca kejayaan.”

Beliau berkata, “Tidak ada bekal apapun yang dimiliki umat dalam
perjalanan berbahaya ini kecuali jiwa seorang mukmin, azam yang kuat dan
benar, kedermawanan untuk melakukan pengorbanan, serta tetap maju
walaupun di saat-saat lemah. Namun jika menggunakan selain itu, maka dia
akan kalah dalam urusannya, dan kegagalan akan menyertai generasinya.”21

Imam Syahid menunjukkan beberapa sudut penting yang menjadi


langkah kejayaan di hadapan tentangan-tentangan ini:
1. Segala puji bagi Allah, sesungguhnya kami bebas dari cita- cita
peribadi, dan jauh dari egoisme, kami tidak menginginkan apapun
selain keredaan Allah dan kebaikan untuk manusia, dan kami tidak
bekerja kecuali untuk mendapatkan reda Allah Swt.
2. Kekuatan keyakinan dan cita-cita. Sesungguhnya kami menunggu-
nunggu pertolongan dari Allah dan kemenangan dari-Nya.
Barangsiapa yang dimenangkan oleh Allah, maka tidak ada yang
mampu mengalahkannya.
3. Kekuatan dakwah kita, dan perlunya manusia terhadapnya,
kemurnian tujuan kita dan pertolongan dari Allah. Hal ini merupakan
langkah kejayaan yang tak mampu dihalangi oleh akibat dan
rintangan.
4. Berimanlah kepada Allah dan banggalah dengan pengetahuan
tentang-Nya serta bersandarlah kepada-Nya, maka janganlah engkau
takut pada selain Allah dan merasa gentar pada selain-Nya.
Tunaikanlah kewajipan dan jauhi larangan-larangannya.

21
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 69

41
5. Hiasi diri dengan sifat-sifat mulia dan sopan santun serta berpegang
teguhlah dengan ketinggian akhlak. Jadilah orang-orang yang kuat
dengan budi pekerti mereka, dan bangga terhadap apa yang telah
diberikan Allah kepadanya berupa keperkasaan dan kemuliaan
orang-orang yang bertakwa.
6. Bacalah Al Quran dan tadaburi makna-maknanya, serta ingatlah
selalu sirah perjalanan Rasulullah Saw.
7. Jadilah orang-orang yang bekerja dan bukan orang-orang yang
banyak berdebat. Sesungguhnya jika Allah menginginkan kebaikan
untuk suatu kaum maka Dia akan memberikan mereka anugerah
amalan (kesempatan untuk melakukan), namun jika ada suatu kaum
yang tersesat setelah mereka mendapatkan petunjuk, maka tiada
lain kerana mereka banyak berdebat.
8. Berilah hadiah sesama kalian dan peliharalah ikatan di antara kalian,
kerana itu merupakan rahsia kekuatan dan kejayaan kalian.
9. Tetaplah tegar hingga Allah memberikan kemenangan antara kalian
dengan kaum, dan sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik pemberi
kemenangan.
10. Dengar dan taatlah kepada pemimpin kalian dalam waktu senang
dan sukar, dalam hal yang disukai mahupun yang tidak disukai,
kerana hal itu adalah simbol fikrah kalian dan menjadi usaha
penghubung antara kalian.
11. Nantikan pertolongan dan kemenangan dari Allah, sesungguhnya
kesempatan tersebut akan datang tanpa ada keraguan.22

Imam Syahid berkata, “Kami telah mempersiapkan diri untuk itu,


keimanan yang tak tergoncang, amal yang tak berhenti, keyakinan kepada
Allah yang tak lemah, serta jiwa-jiwa yang bergembira pada hari
pertemuannya dengan Allah sebagai syahid di jalan-Nya.”23

Beliau berkata, “Sesungguhnya dakwah kalian ini tidak akan mencapai


kemenangan kecuali dengan jihad, pengorbanan, usaha, pengorbanan jiwa
22
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Semalam dan Hari ini), hal. 109-111
23
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 179

42
dan harta, maka berikanlah jiwa-jiwa kalian, serahkan roh-roh kalian, dan
berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”24

Beliau berkata, “..dan jihad adalah menjadi sebahagian dari persiapan


kami..”25

Imam Syahid juga mengatakan, “Saya telah dan masih selalu


mengatakan hal ini kepada Ikhwan dalam setiap kesempatan bahawa
sesungguhnya kalian tidak akan dikalahkan selamanya dengan sedikitnya
jumlah kalian, tidak pula kerana lemahnya kelengkapan yang kalian miliki,
dan tidak pula dengan besarnya jumlah musuh kalian, dan bukan pula kerana
konspirasi musuh terhadap kalian, walaupun seluruh penduduk bumi bersatu,
sesungguhnya mereka tidak akan dapat melumpuhkan kalian, kecuali
sesuatu yang telah ditetapkan Allah.

Namun kalian akan dikalahkan dengan kekalahan yang sangat dahsyat


dan kalian akan kehilangan semua kemudahan untuk mewujudkan
kemenangan dengan sebab,

“Jika kalian merosakkan hati kalian, dan Allah tidak memperbaiki


urusan kalian, atau jika kalian tercerai- berai dan pendapat kalian berbeza.”

Namun jika kalian berpadu dalam satu hati menuju Allah Swt. dan
dalam ketaatan kepada-Nya, serta berjalan di atas jalan keredaan-Nya, Allah
firman:

  


 
  
 
Ertinya:

24
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 194
25
Ibid

43
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali Imran: 135)


  
 
 

  
  
 
Ertinya:
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia
dari jalan Allah Kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, Maka sekali-kali
Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (Q.S Muhammad: 35)

Kita menghadapi keadaan, peristiwa dan perubahan-perubahan ini


dengan: “Kemahuan yang kuat yang tak tersentuh oleh kelemahan,
kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan
pengkhianatan, pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan
kebakhilan, dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan, keyakinan dan
penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan
dan penyelewengan, atau tertipu dengan yang lain.”26

Begitupula halnya terhadap permasalahan bangsa dan usaha untuk


mendapatkan kemerdekaan serta membebaskan diri dari penjajahan dan
mampu mendapatkan kebebasan rakyat dan hak-hak mereka. Imam Syahid
berkata, “Diperlukan sebuah perjuangan yang panjang, pahit, berat dan
berkesinambungan, dan hal ini tak mungkin dilakukan kecuali dengan
persatuan, ukhuwah yang menyeluruh, perasaan yang mengumpulkan hati-
hati kita, perjuangan dengan perjuangan, begitupula istiqamah terhadap
manhaj kebenaran, arah yang benar menuju petunjuk kebaikan. Pada hari
dimana hal ini dapat dipenuhi maka tidak akan ada satupun rintangan di
hadapan kita, dan –dengan izin Allah- kita harus mendapatkan hak-hak kita
dalam waktu yang singkat. Keimanan dan cinta menyatu menjadi satu
26
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
45

44
kesatuan yang hakiki, dan itu adalah sesuatu yang sangat kita perlukan
sekarang, adakah mungkin ada jalan untuk mewujudkannya..”

Imam Syahid juga berkata, “Sesungguhnya medan kata-kata bukanlah


medan khayalan, dan medan amal bukanlah medan kata-kata, dan medan
jihad bukanlah medan amal, dan medan jihad yang sebenar bukanlah medan
jihad yang keliru.”27

“Kendalikan gejolak perasaan dengan pertimbangan- pertimbangan


akal..”

“Jangan melanggar ketentuan alam, kerana hal itu adalah sebuah


kekalahan, namun tundukkanlah, gunakan, alihkan arusnya, dan mintalah
pertolongan sebahagiannya dengan sebahagian yang lain.”

“Dan nantikanlah saat kemenangan, sesungguhnya waktu


kemenangan sudah semakin dekat..”28

Beliau juga menjelaskan, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin tidak


bakhil terhadap dakwah yang mereka pikul, walau dengan makanan putera-
puteri mereka, cucuran darah dan harga kepentingan mereka, serta yang
melimpah dari perbelanjaan mereka ..”

Sesungguhnya sejak hari mereka memikul beban dakwah ini mereka


mengetahui sungguh bahawa dakwah tersebut paling tidak akan
mengorbankan darah dan harta. Oleh kerana itu mereka mengorbankan
semua yang miliki untuk Allah, dan mereka memahami sungguh makna
firman Allah dalam Al Quran:

    


 
   
27
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 128
28
Ibid, hal. 186

45
   
  
   
  
  
   
  
  
    
 
Ertinya:
“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan
harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang
pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi)
janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah
yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah
dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang
besar.” (Q.S Al Taubah: 111)

Mereka menerima jual beli tersebut dan memberikan dagangannya


dengan penuh kerelaan jiwa, dan meyakini bahawa sesungguhnya seluruh
keutamaan hanya milik Allah.”

Mereka mencukupkan diri dengan yang mereka miliki atas apa yang
dimiliki orang lain, kemudian Allah menganugerahkan kepada mereka berkat
bagi yang sedikit, dan kemudian menghasilkan hasil yang banyak.”29

Beliau berkata pada kesukaran- kesukaran yang kita hadapi: “Wahai


Ikhwan, sikap yang sebetulnya di hadapan rintang-rintangan ini adalah kita

29
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 187

46
harus ingat bahawasanya kita berdakwah dengan dakwah Allah, dan ia
adalah sebaik-sebaiknya dakwah, Kita menyerukan fikrah Islam, dan ia
merupakan sebaik-sebaik fikrah, dan kita memberikan kepada manusia
syariat Al Quran dan ia merupakan syariat yang paling adil:


    
    

  
Ertinya:
“Sibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik sibghahnya dari pada
Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Q.S Al Baqarah:138)

Seluruh alam sangat memerlukan dakwah ini, dan seluruh yang ada di
dalamnya memudahkan dan mempersiapkan jalannya.”30

Faktor-faktor Kejayaan Dakwah:

Imam Syahid menyampaikan tentang langkah- langkah kejayaan


dakwah dan tiang- tiang penyokong dakwah yang benar yang tidak akan
berjaya tanpa tiang- tiang tersebut. Beliau menyebutkan kewajipan-
kewajipan di jalan dakwah, persenjataan dan perbekalan yang harus
disiapkan, ditambah dengan apa yang telah beliau sebutkan di dalam
karakteristik dakwah, dan itu merupakan manhaj yang mendidik, yang kita
yakini dan yang akan membimbing kita menuju kejayaan dan kemenangan
dengan izin Allah. Imam Syahid mengarahkan Ikhwan kepada rukun-rukun ini,
memahami serta menjaganya, dan meminta mereka untuk:
a. Menjaga rukun-rukun tersebut dengan tidak menguranginya
b. Bahawa rukun-rukun tersebut tidak berhenti pada satu fasa,
namun ia tetap berkesinambungan dan tumbuh bersama
mereka, serta bertambah kekuatan dan pengaruhnya.

30
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal.109

47
c. Terbinanya diri di setiap fasa pembinaan, hingga benar-
benar kuat dan tegar, diuji dan dipilih hingga menambah
keteguhan mereka.
d. Hendaknya rukun-rukun tersebut memberikan pengaruh
yang kuat di jiwa-jiwa mereka serta pengaruh-pengaruh
praktikal dan spiritual.
e. Bersikap tawadhu dan menghindarkan diri dari sikap
sombong dan ujub, serta mengembalikan seluruh
keutamaan dan anugerah hanya kepada Allah dalam setiap
urusan dan kejayaan, dan hal ini tidak bertentangan dengan
sikap bangga terhadap rukun-rukun tersebut dan senantiasa
mengingatnya.

Imam Syahid mengingatkan tentang tiang- tiang penyokong tersebut


dengan mengatakan, “Ingatlah hal ini baik-baik wahai Ikhwan, bukan untuk
kesombongan dan bukan pula untuk berbangga diri, akan tetapi agar kalian
mengetahui bahawa sesungguhnya Allah telah menuliskan kepada dakwah
kalian keimanan dan keikhlasan, pemahaman, perpaduan, pertolongan dan
pengorbanan, dan ini tidak Dia tuliskan pada dakwah-dakwah lain yang diuar-
uarkan di pasar-pasar, yang memiliki semboyan yang tinggi dan memiliki
penampilan yang mewah..

Sifat-sifat tersebut merupakan tiang- tiang penyokong dakwah yang


sebenar- benarnya, oleh kerana itu berusahalah menjaganya secara
optimum, dan hendaklah kalian selalu menambah kekuatan dan
keteguhannya di dalam jiwa-jiwa kalian, serta ingatlah bahawa kalian tidak
memiliki keutamaan dan anugerah apapun dalam hal itu:

  


    
    
   

48
  
 
Ertinya:
“Mereka merasa Telah memberi nikmat kepadamu dengan keIslaman
mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa Telah memberi nikmat
kepadaku dengan keIslamanmu, Sebenarnya Allah, dialah yang melimpahkan
nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu
adalah orang-orang yang benar." (Q.S Al Hujurat: 17)31

Kita dapat menyimpulkan usaha dan tiang- tiang dasar tersebut di atas
dengan beberapa isi berikut:
1. Keikhlasan dan penyucian diri (tajarud) hanya untuk Allah
2. Membina kekuatan iman dan kebesaran jiwa
3. Kefahaman yang benar dan menyeluruh, serta jelasnya pandangan
dan tujuan.
4. Pembangunan dan pembinaan individu yang baik
5. Kekuatan ikatan dan pengorganisasian serta ketahanan bangunan
internal.
6. Amal yang berkesinambungan, jihad yang terus menerus,
pengorbanan dan kesabaran.
7. Pemahaman yang nyata terhadap sunah-sunah Allah dalam proses
kemenangan di muka bumi, hukum-hukum perubahan, aturan-
aturan semesta serta pemanfaatan yang baik terhadap sunah-
sunah tersebut.

Keempat, Keistimewaan dan ciri khas dakwah


Dakwah Kami adalah Islam yang kukuh

Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah Islamiyah yang


berkesinambungan dalam segala sesuatu, baik syiarnya, prinsip-prinsipnya,
manhaj dan tujuan-tujuannya, ia tidak menerima alternatif lain selain Islam.
31
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 204

49
Konsep dan muatan dakwah yang digunakan merupakan refleksi dari
pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh, “Ia tidak dinodai oleh warna
lain selain Islam.”32

Sebagai dakwah yang universal, ia tentu tidak hanya menjadi seruan-


seruan politik yang mengambil berat urusan-urusan keadilan, persamaan,
pembanterasan kerosakan serta norma-norma lain –unsich- yang tidaklah
mengejutkan merupakan sebahagian dari ajaran Islam. Akan tetapi ia adalah
seruan dakwah Islam yang mencakup urusan agama dan dunia yang
bertujuan untuk menegakkan syariat Islam secara praktikal dan sempurna
serta mewujudkan nilai-nilai keIslaman dan tujuan-tujuannya secara
menyeluruh –dan tidak mengapa ia mengadaptasi projek-projek perbaikan
tersebut, namun sebagai sebahagian dari projek dan tujuan-tujuan Islam
yang dideklarasikan dan diserukannya, serta tidak ditinggalkan dengan
alasan kerana kekuatan atau situasi yang tidak kondusif.

Jika dakwah memiliki institusi yang berbeza dan usaha- usaha yang pelbagai
yang bergerak dalam masyarakat, seperti yayasan-yayasan dalam pelbagai
bidang, parti politik, kelab dan asosiasi-asosiasi tertentu, maka setiap bidang-
bidang tersebut memiliki segmen-segmen dakwah tersendiri serta bidang-
bidang garapan tertentu, dengan tetap menjadikan Islam sebagai rujukan.
Namun tentunya seruan jama’ah yang melekat dengan nama dan
kewujudannya haruslah merupakan seruan Islam yang menyeluruh, baik
dalam tujuan, target-targetnya, garapan dan batasan-batasannya.

Untuk menjelaskan hal ini, Imam Syahid mengatakan, “Ketahuilah, -semoga


Allah memberikan pemahaman kepadamu- yang pertama bahawa
sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin merupakan dakwah yang umum
yang tidak bersangkutan kepada sebuah kelompok tertentu, dan tidak
condong ke salah satu corak pemikiran yang dikenali manusia, ia justeru
mengarah kepada keteguhan agama dan dasar ajarannya.”33

32
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.213
33
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 25

50
• Dengarlah wahai saudaraku, Dakwah kita adalah dakwah yang
mencakup seluruh karakteristik Islam yang disifatkan padanya, makna
yang lebih luas dari makna yang dipahami oleh kebanyakan manusia.
Kami meyakini bahawa makna Islam yang sesungguhnya mencakup
dan mengatur seluruh urusan kehidupan, yang menjawab seluruh
urusan-urusannya, dan ia juga menetapkan aturan-aturan yang sangat
cermat dan teliti, dan tidak diam berpangku tangan di hadapan
masalah kehidupan yang senantiasa berganti serta badan- badan
keadilan yang diperlukan untuk perbaikan manusia.”34
• Kami memahami Islam dengan pemahaman yang luas dan
menyeluruh sebagai aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan
dunia dan akhirat, dan kami tidak mendakwa hal ini atau
memperbesar-besarkannya, namun hal ini adalah sesuatu yang kami
fahami dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. serta sirah kaum
muslimin terdahulu.”35
• Benar, dakwah kami adalah dakwah Islam dengan seluruh muatan
makna yang dikandung kalimat ini, maka selanjutnya fahamilah
bersesuaian dengan keinginanmu, dan ketahuilah bahawa
pemahamanmu dibatasi oleh kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw.
serta sirah orang-orang soleh dari kaum muslimin.”36
• Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah nilai
(prinsip).”37
• Sesungguhnya dakwah ini tidak sesuai kecuali bagi mereka yang telah
menguasai seluruh aspek- aspeknya dan menunaikan seluruh tuntutan
dakwah berupa jiwa, harta, waktu dan kesihatan.”38
• Dakwah ini tidak menerima persekutuan. Kerana diantara karakteristik
dakwah adalah persatuan. Barangsiapa yang telah bersedia menerima
hal tersebut, maka sesungguhnya dia telah hidup bersama dakwah,
dan dakwah hidup bersamanya.”39
34
Ibid, hal. 18
35
Ibid
36
Ibid
37
Ibid, hal. 17
38
Ibid
39
Ibid, hal 16

51
• Wahai kaum kami, sesungguhnya kami berdakwah kepada kalian
dengan AlQuran di tangan kanan, dan sunnah Rasulullah di tangan kiri,
amal perbuatan orang-orang soleh dari umat ini adalah teladan kami.
Kami mengajak kalian kepada Islam, nilai-nilai Islam, hukum-hukum
Islam, petunjuk Islam. Jika seandainya hal ini merupakan siasah
(politik) maka sesungguhnya hal ini adalah politik kami.”40
• Wahai kaum muslimin, peribadatan kepada Allah, jihad di jalan serta
memperkuatkan syariat agama Allah di muka bumi merupakan tugas
kalian dalam kehidupan.”41
• Jika Ikhwanul Muslimin meyakini hal tersebut, maka mereka meminta
manusia untuk menjadi tunjang- tunjang kebangkitan Islam, sebagai
asas kebangkitan dunia Timur di setiap barisan kehidupan, dan
mereka meyakini bahawa setiap tampilan kebangkitan yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam atau bertentangan
dengan hukum-hukum Al Quran maka hal itu merupakan percubaan
yang rosak dan gagal.”42
• Ikhwanul Muslimin tidak mengkhususkan dakwah pada sebuah
kawasan Islam tanpa kawasan yang lain, namun mereka
mengumandangkan seruan dakwah hingga sampai ke telinga para
pemimpin dan panglima di setiap kutub bumi yang para penduduk
negerinya memeluk agama Islam.”43
• Kalian telah mendeklarasikan sejak hari pertama bahawa dakwah yang
kalian serukan adalah dakwah Islam yang murni yang bersandarkan
kepada Islam ..

Kalian memahami Islam dengan pemahaman yang menyeluruh, dan


kalian meyakininya sebagai sebuah sistem kehidupan sosial yang
sempurna yang memperbaiki keadaan masyarakat di setiap
aspeknya..

40
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
37
41
Ibid, hal. 43
42
Ibid, hal. 47
43
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 247

52
Kalian juga meyakini bahawa di antara kewajipan muslim adalah
berjuang untuk Islam; hingga ia mampu menguasai komponen
masyarakat seluruhnya dan mengambil posisinya di tengah
masyarakat sebagaimana yang telah Allah sediakan baginya untuk
kehidupan manusia..

Kalian juga meyakini bahawa hal itu merupakan sesuatu yang mungkin
dan mudah jika kaum muslimin menginginkannya, bersatu dan
berusaha untuk mewujudkannya.”44

• Dalam tiga hal ini, boleh jadi ada perbezaan pandangan di antara
kalian atau di antara kelompok kaum muslimin, di antara mereka
masih banyak yang memahami bahawa Islam tidak lebih dari akidah
atau sebuah keyakinan yang benar atau yang salah, ibadah yang
sempurna ataupun yang tidak sempurna. Dan masih banyak yang
memahami bahawa jihad untuk memperjuangkan Islam adalah
sesuatu yang akan berakhir dan berlalu waktunya, dan masih banyak
yang memahami bahawa rintangan yang berada di hadapan para
mujahid untuk mewujudkan cita-cita Islam terlalu besar untuk
disingkirkan.

Dengan keterbatasan pemahaman ini, kecilnya perasaan optimis serta


rasa putus asa yang melanda jiwa, banyak manusia yang menyerah
dan berguguran di hadapan kenyataan ini, dan mereka berfikir bahawa
perkara itu akan membebaskan mereka dari kehinaan di dunia dan
seksaan di akhirat.

Kemudian kalian bangkit wahai Ikhwanul Muslimin untuk


membebaskan diri kalian dan manusia dari kesempitan pemikiran,
sifat lemah dan keputusasaan, serta menantikan kemenangan yang
telah dijanjikan Allah kepada kalian,

44
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
47

53
 
 
  
  
 
   

   


 
 
 
 

 
  
  

  
    

   
  

 
 
 

   
  
 

Ertinya:
“(iaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka
tanpa alasan yang benar, kecuali Kerana mereka berkata: "Tuhan kami
hanyalah Allah". dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebahagian
manusia dengan sebahagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara
Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-
masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah

54
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(iaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka
bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S Al Hajj: 40-41)45

Siapakah kalian? Apa sifat kalian?

Dan manusia akan berkata, “Apakah maksud perkara ini, dan siapakah
kalian wahai Ikhwanul Muslimin?
Apakah kalian adalah penganut Tarikat Sufi? Atau lembaga sosial? Atau
lembaga kemasyarakatan? Atau parti politik?

Maka jawapan kita kepada yang bertanya itu adalah, “Kami adalah
para pendakwah Al Quran dan kebenaran yang mencakupi:
Thariqah Shufiyah naqiyyah, untuk memperbaiki jiwa dan menyucikan
hati serta menghimpun hati-hati manusia kepada Allah yang Maha Besar dan
Maha Tinggi..

Jam’iyyah Khairiyyah Nafi’ah, yang mengajak kepada kebaikan dan


mencegah kemungkaran, membantu yang tertimpa musibah, berlaku baik
kepada orang-orang fakir dan miskin, serta mendamaikan orang-orang yang
bermusuhan..

Mu’assasah Ijtima’iyyah Qa’imah, yang memerangi kebodohan,


kemiskinan, penyakit dan kehinaan dalam pelbagai bentuk ..

Hizb Siyasi nazhif, menjadi wadah aspirasi dan terbebas dari cita- cita
dan kepentingan, yang memiliki target tertentu serta menguasai kemahiran
memimpin dan mengarahkan ..

45
Risalah Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemuan Ketua-ketua Wilayah), hal. 247

55
Kami adalah Islam itu sendiri wahai manusia, barangsiapa yang
memahaminya, maka akan mengenal kami.”46

Diantara identiti Jama’ah Ikhwanul Muslimin adalah, “Dakwah, tarbiyah


dan jihad dengan segenap makna yang mencakupnya tiga hal tersebut.”47

Imam Syahid juga mengatakan, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin


memiliki kaedah tertentu yang diikuti sebagai petunjuk jalan, yang mereka
gunakan sebagai timbangan diri dan mereka akan mengetahui dimana
mereka berada berdasarkan timbangan tersebut.”48

Jika anda bertanya kepada mereka tentang prinsip dasar ini secara
teori? Maka saya akan menjawabnya secara jelas, bahawa prinsip dasarnya
adalah prinsip dasar yang dibawa Al Quran. Jika anda mengatakan, “Apakah
usaha dan langkah-langkah nyata yang dilakukan? Maka sayapun akan
menjawabnya dengan sangat jelas, “Usaha dan langkah-langkah yang
ditempuh adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.,
sesungguhnya urusan umat terakhir ini tidak akan baik kecuali jika mengikuti
contoh kebaikan yang dilakukan oleh para pendahulunya.”49

• Ikhwanul Muslimin tidak menyibukkan diri dalam masalah-masalah


furu’. Tidak mengapa jika mereka melakukan kaijan dan penelitian
ilmiah dalam masalah-masalah furu’, tanpa menyibukkan dirinya
hanya pada masalah furu’ tersebut atau justeru mempengaruhi
perbezaan tersebut hingga menjadi taufan kebencian terhadap orang
lain hingga menerima pandangannya.
• Mereka juga tidak melemparkan celaan kepada orang-orang yang tidak
sepandangan dengan mereka, dan tidak menyibukkan diri untuk
membantah orang-orang yang mengkritik mereka.

46
Ibid, hal. 252
47
Lihat, Al La-Ihah Al ‘Alamiyah lil Ikhwan Al Muslimin
48
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Adakah Kita Para Aktivis)?, hal. 388
49
Ibid

56
• Tidak terobsesi terhadap kecetekan amal dan menyelam di belakang
segala sesuatu dan peristiwa untuk mengetahui tujuan dan kemana
arahnya. Mereka juga tidak bereaksi berlebihan dan tidak terpancing
oleh pengaruh-pengaruh tertentu, tidak menakutkan dan tidak pula
ditakuti. Langkah-langkah mereka seimbang dan dengan izin Allah
mampu mengalahkan usaha- usaha konspirasi dan pelumpuhan.
• Tidak bergantung kepada tokoh tertentu, atau terhadap lembaga-
lembaga, kedudukan dan obsesi tertentu. Mereka justeru bertumpu
kepada dakwah dan sangat menjaganya.
• Ciri khas mereka adalah komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar yang
mereka yakini, berkesinambungan dan mendarah daging antara
generasi, sesuatu yang tidak pernah wujud dalam sejarah kelompok
manapun di abad ini.
• Ikhwanul Muslimin adalah sebuah jama’ah yang setiap individunya
memiliki cara pandang dan aspirasi yang pelbagai, yang memperkaya
dan membantu jaemaah dalam membuat keputusan, namun tidak
terdapat aliran pemikiran, gagasan yang saling berseteru, pemikiran
kanan mahupun pemikiran kiri, serta perbezaan-perbezaan lain
sebagaimana lazim terjadi di setiap parti, komuniti dan perkumpulan
yang lain. Nasihat dan musyawarah merupakan perkara yang selalu
dilakukan terus menerus serta tidak terputus, dan hal itu menjadi
sebahagian dari proses pembentukan dan tarbiyah yang dilakukan.
• Mereka tidak percaya dengan lompatan-lompatan di atas kebenaran,
atau pandangan yang sempit, namun justeru sangat menjaga
pembangunan amal dan proses pembentukan secara cermat dan teliti,
kepastian terhadap hakikat segala sesuatu serta penerimaan hasil
dengan tanpa tergesa-gesa memetik buahnya.
• Memahami secara sedar dan penuh perhitungan terhadap jalan dan
cabaran yang akan dihadapinya, ketinggian tujuan dan cakupannya.
Menguasai realiti medan dan rintangan di sekitarnya, mampu
berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip dakwah dengan penuh
komitmen, kesabaran dan kesungguhan, yang tidak dihinggapi oleh
perubahan, kelemahan dan rasa putus asa, dengan keyakinan bahawa

57
kemenangan dan tujuannya tidak akan terwujud dalam satu generasi,
namun merupakan suatu usaha yang berlanjutan dan terus menerus,
sebuah panji yang diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya, hingga terwujudnya target dan cita-cita yang diharapkan
dengan izin Allah.

Imam Syahid berkata, “Ikwanul Muslimin tiada lain adalah anak-anak


dakwah yang meyakini dakwah, berlaku ikhlas dan terdidik di dalam
pangkuan dakwah, oleh kerana itu tidak sukar bagi mereka
mengorbankan makanan anak-anak dan keperluan mereka sendiri
demi memperjuangkan dakwah dan jihad mereka.”50

Mereka menganggap bahwa sesungguhnya dakwah seluruhnya


adalah kewajipan, seluruhnya adalah pengorbanan dan taruhan,
mereka tidak menantikan kedudukan, pangkat dan kekayaan, kerana
sesungguhnya pahala dan ganjaran hanya dari Allah di akhirat. Dan
tak seorangpun dari mereka yang mengatakan, “Mana bahagianku?
Mana hakku?

• Dalam beberapa waktu, sebahagian mereka tertinggal di belakang


rombongan dakwah atau keluar dari gerabak disebabkan kelemahan
individu atau berkurangnya rasa sabar atau kerana penyimpangan
pemahaman dan kelemahan komitmen, namun hal itu tidak
menggoyahkan dan tidak memberikan pengaruh yang besar bagi
bangunan dakwah mereka.
• Mereka tidak dilemahkan oleh rasa putus asa, kebosanan atau
kelesuan, namun optimisme terpancar terhadap kemenangan Allah.
Apa yang mereka lakukan berupa usaha untuk menggerakkan dan
menyedarkan umat Islam dengan izin Allah menjadi menara terhadap
kesungguhan usaha dan peranan mereka, yang terlebih dahulu
diketahui musuh sebelum teman.

50
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 272

58
• Dalam melakukan gerakan dan strategi- strategi dakwah mereka
sangat mengambil berat hukum realiti dan keadaan yang berlaku
dengan ilmu dan pengetahuan, dengan tetap bercermin kepada
prinsip-prinsip syariat dan tujuan-tujuannya, yang tidak hanya
memenuhi keadilan syar’i dalam urusan-urusan harakah yang
membuatnya mengambil tindakan tanpa memperhitungkan hokum
realiti, peluang dan fasa-fasa yang akan dilalui dakwah serta
konsekuensi apa saja yang berlaku baik berupa kebaikan maupun
kerosakan.

Maka strategi- strategi tersebut sepatutnya harus memenuhi keadilan


syar’i dan keadilan harakah yang adalah tidak mengejutkan
merupakan sebahagian dari keseimbangan syariat ketika berhadapan
dengan realiti. Berapa banyak tindakan-tindakan dan gerakan yang
mempergunakan nama ‘syariat’ memberikan implikasi buruk terhadap
dakwah kerana tidak didasari oleh pengetahuan dan pemahaman
terhadap kenyataan dan realiti.

• Rentetan peristiwa dan badai yang melanda umat Islam adalah


sebagai langkah untuk menguji kebenaran manhaj, kekuatan dan
kekukuhan bangunan dakwah, dan dengan izin Allah mereka menjadi
harapan umat Islam untuk mengembalikan kemuliaan dan
keagungannya.
• Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang integral menyeluruh,
yang mencurahkan perhatiannya pada perbaikan dan pembengan:51
1. Sumber rujukannya adalah syariat Islam
2. Yang meyakini kepentingan kesatuan umat dan menjauhkannya
dari pertentangan demi mewujudkan kemaslahatan umum.
3. Yang mendorong bersikap baik, dan memberikan nasihat dengan
santun kepada siapa yang berbuat buruk.
4. Usaha untuk meraih kekuasaan bukan semata-mata menjadi
tujuan.
51
Diambil perkataan Al Ustadz Musthafa Masyhur pada acara peringatan kesyahidan
Imam Hasan Al Banna.

59
5. Namun lebih kepada kerjasama untuk mendirikan Negara Islam
yang urusannya dikembalikan kepada Allah, perbaikan individu
muslim, keluarga dan masyarakat; menuju kepada yang Allah
sebutkan dalam Al Quran:

  

 
 
  
   
  
   
 

 
Ertinya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S
Ali Imran: 110)

Imam Syahid berkata di dalam memoarnnya, “Wahai generasi


umat yang kami banggakan dan yang kami cintai, Kami adalah kaum
muslimin dan cukuplah demikian, manhaj kami adalah manhaj
Rasulullah Saw. dan cukuplah demikian, akidah kami bersumber dari
kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw, dan cukuplah demikian.”52

Diantara Karakteristik Dakwah Ikhwanul Muslimin


52
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal.199

60
Diantara ciri khas dakwah Ikhwanul Muslimin dan yang
membezakannya dari dakwah-dakwah yang lain adalah:
1. Menjauhi Titik-titik khilafiyah
Ikhwan meyakini tentang kebolehan berbeza pandangan dalam
masalah-masalah furu’iyyah, bahkan hal itu merupakan sebuah
kemestian dan tidak selayaknya kita menghalanginya dan menjadikan
perbezaan sebagai titik yang memisahkan dan membezakan.

Imam Syahid berkata, “Bukanlah termasuk aib dan cela, apabila kita
berbeza pendapat. Namun yang merupakan aib dan cela adalah sifat
ta’ashshub (fanatik) dengan satu pendapat dan membatasi ruang
lingkup berfikir manusia.”

Beliau juga berkata, “Cukuplah manusia itu berhimpun atas sesuatu


yang menjadikan seorang muslim itu muslim, sebagaimana dikatakan
oleh Zaid r.a.”

Beliau menambahkan, “Persepsi demikian ini penting bagi sebuah


jemaah yang ingin menebarkan fikrahnya di suatu negeri yang tidak
pernah reda gelora khilafiyah atas hal-hal yang sebenarnya tidak
beguna untuk diperdebatkan dan diperselisihkan.”53

2. Menjauhi Dominasi Tokoh dan Pembesar


Ini juga merupakan prinsip dasar sejak awal pertumbuhan dakwah.
Imam Syahid berkata, “Kami telah membiasakan hal ini sejak
permulaan dakwah, agar warnanya yang jernih tidak bercampur
dengan warna-warna dakwah lain yang diusung dan digembar-
gemburkan oleh para tokoh dan pembesar, hingga tak seorangpun
dari mereka dapat memanfaatkan dakwah untuk kepentingan lain
yang bukan merupakan tujuan dakwah.”54

53
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.124
54
Ibid

61
Namun setelah dakwah tumbuh kuat, dan prinsip-prinsip dasarnya
semakin kukuh, ia akhirnya mampu menguasai kelompok tersebut dan
mengarahkan mereka untuk memperjuangkan dakwah, mempengaruhi
dan menjadikan mereka bekerja untuk kepentingan dakwah.

3. Menjauhi hubungan dengan parti-parti dan golongan-golongan.


Hal ini juga merupakan karakteristik dakwah sejak awal, agar ia
terhindar dari cita- citaa dan konflik antara parti. Imam Syahid berkata,
“Oleh kerana itu kami lebih mengutamakan menjauhi semuanya dan
bersabar atas segala kekurangan kerana mempertahankan unsur-
unsur yang soleh, sehingga tabir itu akan terkuak dan manusia akan
mengetahui segala hakikat yang tersembunyi. Pada akhirnya mereka
akan kembali kepada khitah utama dan hati mereka dipenuhi oleh oleh
rasa yakin dan percaya..”

“Sekarang, ketika alat dakwah semakin kuat, tiang penyangganya


semakin kukuh, sehingga mampu mengarahkan dan bukan diarahkan,
mempengaruhi dan bukan dipengaruhi, maka kita persilakan dengan
penuh hormat kepada para tokoh, pembesar, golongan, dan organisasi
untuk bergabung, meniti jalan dan beraktiviti bersama kami. Pada saat
yang sama mereka harus mahu meninggalkan kebanggaan-
kebanggaan kosong yang tidak bermakna, bersatu di bawah panji Al
Quran yang agung dan bernaung di bawah naungan Rasulullah yang
teduh, serta berjalan di atas manhaj Islam yang lurus.

Imam juga berkata, “Namun jika mereka menolak, tak menjadi


masalah bagi kami untuk menunggu sejenak sementara memohon
pertolongan ke hadrat Allah, sehingga pada saatnya mereka akan
terkepung dan hilanglah apa saja yang ada di tangan mereka. Pada
akhirnya mahu tidak mahu mereka harus beramal demi dakwah
dengan penuh kerendahan hati, walau mereka dahulunya menjadi
tokoh penentang utamanya.”55

55
Ibid, hal.125

62
4. Tadaruj (Bertahap dalam melangkah)
Tadaruj (bertahap dalam melangkah) dan bertumpu pada tarbiyah,
kejelasan langkah dakwah Ikhwanul Muslimin dan penetapan tiga fasa
dakwah; Fase Ta’rif, (fase penyampaian, pengenalan dan penyebaran
fikrah), Fasa Takwin (fase pembentukan dan pembinaan), fasa Tanfidz
(fase pelaksanaan) merupakan ciri-ciri istimewa yang dimiliki
dakwah.56

5. Mengutamakan kerja daripada seruan dan propaganda

6. Sambutan pemuda kepada dakwah

7. Cepat berkembang di desa dan bandar

Imam Syahid berkata, “Dahulu kami berusaha kuat memacu laju


dakwah dan memaksimumkan penyebarannya, namun kini laju
dakwah tersebut justeru bergerak lebih cepat dan mendahului kami. Ia
menembus segenap penjuru bandar dan perkampungan dan memaksa
kami menanganinya dengan serius serta memenuhi tuntutannya,
meskipun untuk itu kami harus menghadapi pelbagai persoalan berat
yang sangat memenatkan.”57

8. Rabbaniyah (berprinsip ketuhanan), Insaniyah (kemanusiaan), dan


‘Alamiyah (universal).

Diantara karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin adalah, Rabbaniyah


(berprinsip ketuhahan), insaniyah (kemanusiaan), dan ‘alamiyah
(universal), yang menyatukan aspek spiritual dan akal manusia. Imam
Syahid berkata, “Di antara karakteristik dakwah kami adalah
rabbaniyah dan ‘alamiyah.”58

56
Ibid, hal. 125-126
57
Ibid, hal. 123
58
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 226

63
Inilah sebabnya, dakwah Ikhwan dikatakan bercirikan rabbaniyah
(berorientasi ketuhanan) sekaligus insaniyah (peduli terhadap aspek-
aspek kemanusiaan). Allah berfirman dalam Al Quran:


  
  

 
 

  
  
    

 
Ertinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari
seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al
Hujurat: 13)

Rasulullah Saw. bersabda:


‫ وليس منا من مات على عصبية‬.. ‫ليس منا من دعاالى عصبية‬

Ertinya:
“Bukan termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashabiyah
(fanatisme golongan), dan bukan termasuk dalam golonganku orang
yang mati kerana membela fanatisme golongan.” (HR. Ahmad)59

59
Ibid, hal. 227

64
Imam Syahid juga berkata, “Bahawa sebuah masyarakat manusia
tidak akan menjadi baik kecuali jika ada keyakinan hati yang bangkit
dari dalam jiwa hingga merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. dan
merasa terhormat dengan ma’rifah kepada-Nya. Oleh kerana itu, wajib
bagi manusia untuk kembali beriman kepada Allah, kenabian,
kehidupan akhirat, dan kepada hari pembalasan. Yakni dimana pada
saat itu Allah akan membalas seluruh perbuatan manusia selama
kehidupannya di dunia.

  



   
  
 
  
Ertinya:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun,
nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar zarahpun, nescaya dia akan melihat
(balasan)nya pula. (Q.S Al Zalzalah:7-8)

Di saat inilah, di saat seluruh manusia dituntut untuk pantas


bangkit dengan potensi akal fikirannya untuk belajar, mengetahui,
berkarya serta melakukan berbagai eksplorasi atas sumber daya alam
demi mendapatkan manfaat yang sebanyak-banyaknya,

 
 
 

Ertinya:
“Dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan." (Q.S Thaha:114)

65
Oleh sebab itu kami menyeru umat manusia kepada warna
pemikiran yang memadukan antara keimanan pada yang ghaib dan
optimalisasi fungsi akal.”60

9. Diantara karakteristik dakwah Ikhwan adalah, Pemahaman Islam yang


komprehensif, dan kefahaman amal serta mencakup seluruh aspek-
aspeknya.

Imam Syahid berkata, “Demikianlah kita dapat melihat bahawa


kesempurnaan makna kandungan Islam telah menyatu dengan fikrah
kami. Kesempurnaan yang menyentuh semua aspek pembaharuan,
dan aktiviti Ikhwan mengarah kepada pemenuhan semua aspek ini.
Pada saat orang-orang selain mereka hanya menggarap satu sisi
dengan mengabaikan sisi-sisi yang lainnya, maka Ikhwan berusaha
menuju sisi-sisi itu semuanya. IKhwan memahami bahawa Islam
memang menuntut mereka memberikan perhatian kepada semua sisi
tersebut.”61

Walaupun demikian, dengan kesempurnaan keIslamannya Ikhwan


berusaha sekuat tenaga untuk menghindari dan menjauhi setiap sisi
kekurangan dan kelemahan yang mengundang fitnah.”62

10. “Ikhwan juga sangat menghindari fanatisme terhadap nama atau


sebutan, kerana mereka telah disatukan oleh Islam yang integral,
tercermin dalam namanya, Al Ikhwan al Muslimun.”63

60
Ibid
61
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), Hal.123
62
ibid
63
ibid

66
Dakwah Ikhwan adalah dakwah salafiyah64, thariqah sunniyah65, Hakikat
shufiyah66, Hai’ah siyasiyah67, jama’ah riyadhiyah68, rabithah ‘ilmiyah
tsaqafiyah69, syirkah iqtishadiyah70 dan fikrah ijtima’iyah71.”72

11. Peka dan berlemah lembut

Imam Syahid berkata, “Setiap dakwah memiliki karakteristik73,


karakteristik dakwah Ikhwan yang saya yakini ada beberapa hal,
diantaranya adalah, Konstruksi (pembangunan). Dakwah kami adalah
dakwah yang membangun dan bukan menghancurkan, dan ia
melakukannya dengan penuh kepekaan, maka kami adalah orang yang
harus melakukannya sebelum segala yang lain.”

Dalam mengikuti manhaj konstruktif dan bukan destruktif, Imam Syahid


mengatakan, “Selagi kalian selalu mempersiapkan diri kalian untuk
64
Maksudnya adalah mereka berdakwah untuk mengajak kembali (bersama Islam)
kepada sumbernya yang jernih dari Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya. (Pentj:
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.227. Era Intermedia, tahun
1998)
65
Maksudnya mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunah yang suci -khususnya
dalam masalah akidah dan ibadah- semaksimum mungkin sesuai dengan kemampuan
mereka(Pentj: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.227. Era
Intermedia, tahun 1998)
66
Maksudnya mereka memahami bahawa asas kebaikan adalah kesucian jiwa,
kejernihan hati, amal yang berterusan, berpaling dari ketergantungan kepada
makhluk, kecintaan karena Allah dan keterikatan kepada kebaikan. (Pentj:
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.227. Era Intermedia, tahun
1998)
67
Maksudnya mereka menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan,
meluruskan persepsi yang terkait dengan hubungan umat Islam terhadap bangsa-
bangsa lain di luar negeri, mendidik bangsa agar memiliki ‘izzah dan menjaga
identitinya. (Pentj: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.228.
Era Intermedia, tahun 1998)
68
Maksudnya mereka sangat mengambil berat masalah fizikal dan memahami benar
bahawa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang mukmin yang
lemah. (Pentj: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.228. Era
Intermedia, tahun 1998)
69
Maksudnya mereka memahami bahawa Islam menjadikan thalabul ‘Ilmi (menuntut
ilmu) sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. (Pentj: Risalah
Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.228. Era Intermedia, tahun 1998)
70
Mereka memahami bahawa Islam sangat memandang berat pemerolehan harta dan
pembahagiannya. (Pentj: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.228.
Era Intermedia, tahun 1998)
71
Maksudnya mereka sangat menaruh perhatian pada segala penyakit yang ada dalam
masyarakat Islam dan berusaha mengubati dan menyembuhkannya. (Pentj: Risalah
Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid I, hal.228. Era Intermedia, tahun 1998)
72
Risalah Pergerakan: Muktamar ke V, hal. 123
73
Memoar Dakwah dan Para Da’i

67
berkontribusi terhadap amal-amal Islam di segenap lapangan, maka aku
wasiatkan kepada kalian untuk selalu bersikap konstruktif dan bukan
destruktif, dan pada saat itu kalian harus berfikir bagaimana menciptakan
lapangan kerja sosial dan merealisasikan layanan terhadap Islam,
tinggalkanlah dahulu permusuhan dan kebencian; kerana sesungguhnya
melakukan usaha- usaha pembangunan jauh lebih baik dan berharga
seribu kali daripada tindakan penghancuran.”74

Diantara karakteristiknya yang lain adalah:


Kesepadanan antara perkataan dan perbuatan
Maka kita harus mempelajari undang-undang (hukum)75 yang kita
miliki, cukuplah apa yang terdapat di dalamnya, dan kami mengikuti apa
yang kami katakan.

Rabbaniyah (berprinsip ketuhanan)


Kami senantiasa menjalin hubungan dengan Allah dengan segenap
kemampuan yang kami miliki, iaitu dengan senantiasa berzikir dan
berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur –terdapat banyak doa ma’tsur di
dalam Risalah Ikhwan.

Senantiasa berkumpul (berjama’ah)


Kami selalu berkumpul dan merindukan pertemuan serta merasakan
hak-hak berukhuwah.

12. Semangat perjuangan

Kami menggadaikan diri untuk dakwah dan melapangkan hati untuk


melakukan segala sesuatu untuk dakwah.

74
Hasan Al Banna, Kisah-kisah Dakwah dan Tarbiyah, Abbas Asisi, hal.147
75
Maksud beliau adalah Al Quran Dusturuna (Al Quran sebagai pedoman kami)

68
Imam Syahid berkata, “Wahai al Ikhwan al Muslimun, janganlah kalian
berputus asa, kerana berputus asa tidak termasuk akhlak kaum
muslimin.”76

Perkara-perkara umum ini telah kalian ketahui perinciannya secara


keseluruhan, yang ringkasannya adalah, Pembangunan dan pekerjaan,
maka bekerjalah.”77

12. Ia adalah dakwah yang boleh kita sifatkan dengan beberapa sifat
berikut ini:78
• Rabbaniyah al Mashdar
Rabbaniyah al Mashdar (berprinsip ketuhanan)
Sumber rujukannya adalah wahyu Allah Swt.
• Wasatiyah (sifat pertengahan)
• Sifat peka dan positif terhadap alam, manusia dan kehidupan
• Realistik ketika berinteraksi dengan individu dan masyarakat serta
dengan orang lain.
• Mengutamakan akhlak dan kesantunan dalam tujuan-tujuannya, misi
dan langkah yang digunakan.
• Manhajnya integral dan menyeluruh
• Dakwah universal
• Mengutamakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan
• Memberikan perlawanan terhadap orang-orang yang menzalimi dan
memeranginya.
• Salafiyah dalam pemikiran, paradigma dan akidah

• Dakwah yang logik dan diterima masyarakat, serta tidak membenci


siapa saja yang ingin mengikutinya.

76
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 125
77
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal.262 (Dikutip dari perkataan Imam Syahid di majalah Ikhwanul
Muslimin, awal tahun ke 5)
78
Manhaj Imam Al Banna, Al Tsawabit wa al Mutgayyirat, Dr. Jum’ah Amin, hal.124

69
Jamaah ini bukan merupakan parti politik yang usaha politiknya nya
mendapat bias dari golongan dan aliran pemikiran tertentu. Namun ia
merupakan mainstream yang memberikan kebebasan berfikir dalam
kerangka umum dakwah Islam, ideologi Ikhwan dan prinsip-prinsipnya,
yang membiarkannya berjalan sesuai dengan ketentuan dan peraturan
yang berlaku, serta sesuai dengan hasil musyawarah dalam meluruskan
dan mengembangkan.

Oleh sebab itu, hal itu merupakan aturan untuk mewujudkan


persatuan pemahaman, persatuan nilai dan keseimbangan. Adapun
pendapat peribadi, selagi hal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
dasar jamaah maka hal itu tetap menjadi pendapat peribadi dan jamaah
tidak menjadikannya sebagai pandangan. Dalam banyak situasi, Jamaah
tidak mengambil pemahaman fikih tertentu dalam masalah-masalah furu’
yang diperdebatkan para ulama.

Jamaah ini bergerak sesuai dengan tonggak dasar dan prinsip-prinsip


dakwah, dan tidak berjalan sesuai dengan kemasalahatan sementara atau
matlamat sesaat dan pandangan yang sempit.

Karakteristik Manhaj Tarbiyah di Masyarakat:


Diantara karakteristik manhaj Ikhwan dalam mentarbiyah masyarakat
dan mengarahkannya, serta dalam komunikasi-komunikasi dakwah adalah
bahawa manhaj tersebut lahir dari:
1. Dari kesamaran menuju terang
2. Dari ucapan dan perdebatan menuju amal dan perbuatan
3. Dari sifat berlemah lembut dan berterabur menuju program
kerja yang terencana (Dari mimpi menuju dunia nyata).
4. Dari permasalahan-permasalahan furu’ dan separa- separa
menuju permasalahan mendasar dan universal (Dari ibadah-
ibadah sunah menuju ibadah-ibadah wajib dengan tetap
memelihara keduanya).
5. Dari perbezaan menuju kesepakatan

70
6. Dari perpecahan dan perseteruan menuju persatuan dan
perpaduan.
7. Dari sifat ekstrim dan berlebih-lebihan menuju sifat sederhana
dan seimbang.
8. Dari kesukaran dan ancaman menuju kemudahan dan khabar
gembira.
9. Dari fanatisme golongan dan insklusif menuju toleransi dan
keterbukaan.

Imam Syahid berkata tentang tonggak- tonggak yang menopang


berdirinya agama ini di bumi, “Wahai Al Ikhwan al Muslimun, Agama ini
telah dimenangkan oleh perjuangan pedang-pedang kalian yang bersandar
terhadap tonggak- tonggak berikut ini:
• Keimanan kepada Allah
• Zuhud terhadap harta kekayaan dunia dan mengutamakan
kenikmatan akhirat.
• Pengorbanan dengan jiwa, raga dan harta untuk memenangkan
kebenaran.
• Cinta terhadap kematian di jalan Allah
• Berada di atas perjuangan tersebut dengan berpedoman kepada Al
Quran yang mulia.79

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar


kejayaan, dan di tangan Allah-lah segala urusan, sesungguhnya pedang-
pedang kalian yang kuat tak akan meraih kemenangan kecuali dengan
keimanan yang dibawanya, kesucian jiwa, kebersihan hati dan keikhlasan
serta amal dari keyakinan dan ketenangan, dan hal itu yang akan membuat
segala sesuatu senantiasa sesuai dengannya, hingga jiwa-jiwa mereka
bersatu dengan keyakinan mereka, dan keyakinan mereka dengan jiwa-jiwa
mereka, dan pada saat itu mereka adalah ideologi dan ideologi adalah
mereka. Jika kalian telah menjadi seperti itu maka fikirkanlah: Sesungguhnya
Allah telah mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka

79
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), Hal. 152

71
kerjakanlah, sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan
kemenangan. JIka diantara barisan kalian ada seseorang yang berpenyakit
hatinya, yang kehilangan orientasi, tidak memiliki obsesi dan terluka masa
lalunya, maka keluarkan dia dari barisan kalian, kerana dia akan menjadi
penghalang turunnya rahmat, yang menutup turunnya pertolongan dan
taufik dari Allah.”80

Imam Syahid menjelaskan tentang kepentingan kekuatan jiwa dalam


membina umat dan para penyeru dakwah serta pemusatan kekuatan dalam
keimanan yang sempurna dan pengorbanan dalam perjuangan, beliau
berkata, “Sesungguhnya dalam pembinaan umat dan tarbiyah bangsa-
bangsa, umat ini memerlukan kekuatan jiwa yang besar yang tergambar
dalam beberapa hal berikut:
• Keinginan yang kuat yang tidak dihinggapi kelemahan
• Kesetiaan yang tinggi yang tidak diwarnai oleh pengkhianatan dan
kepura-puraan.
• Pengorbanan besar yang tidak dihalangi oleh ketamakan dan
kebakhilan.
• Pengetahuan terhadap tonggak- tonggak dasar dan keyakinan
terhadapnya serta penghargaan terhadap tonggak- tonggak tersebut
yang akan menjaganya dari kesalahan dan penyimpangan atau tertipu
dengan yang lain.

Setiap bangsa telah kehilangan keempat sifat ini, atau paling tidak
para pemimpin dan para pembawa perbaikannya, ia adalah bangsa yang
kecundang dan membimbangkan yang tidak akan sampai kepadanya
kebaikan dan tak mampu mewujudkan cita-cita.”81

Beliau berkata, “Dengan tiga keyakinan; keimanan terhadap


kebesaran risalah dakwah ini, bangga kerana meyakininya serta optimis

80
Lihat buku Imam Syahid, Fuad Al Hajarsy, hal. 136
81
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
45

72
terhadap pertolongan Allah adalah tiga hal yang dihidupkan Rasulullah Saw.
di dalam hati para sahabatnya dengan izin Allah.”82

Untuk menjamin kebenaran dan ketepatan setiap individu dalam


menjalankan manhaj Islam, dakwah menaruh perhatian besar terhadap
perkembangan jiwa dan pembersihannya, serta membangun pengawasan
peribadi dan hati yang hidup, ketakwaan, rendah hati dan rasa takut kepada
Allah.

Imam Syahid berkata, “Guna menjamin kebenaran dan ketepatan


dalam pelaksanaannya –atau minimum mendekati tepat- Islam sangat
menaruh perhatian untuk memberikan terapi kejiwaan kepada manusia,
yakni sumber aturan, bahan pemikiran, persepsi dan pembentukan. Islam
kemudian memberikan pengenalan bagi jiwa manusia tentang ubat-ubat
mujarab yang mampu menyucikan hawa nafsu, membersihkannya dari noda-
noda kepentingan Peribadi, menunjukkannya kearah kesempurnaan dan
keutamaan, serta membentenginya dari penyimpangan, penyelewengan dan
permusuhan.“83

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya kita memiliki senjata yang tak


lekang dimakan malam dan perjalanan hari iaitu kebenaran, dan setelah itu
kita juga memiliki senjata keimanan dan cita-cita, selain ketiga senjata
tersebut kita masih memiliki senjata lain, iaitu bahawa kita tidak berputus
asa dan tidak tergesa-gesa, kita tidak mendahului peristiwa dan tidak
dilemahkan oleh panjangnya perjuangan.”84

“dan kami akan bekerja dengan keyakinan-keyakinan ini, dan kami


akan melakukannya dengan kebenaran, yang didorong oleh keimanan dan
dikuatkan oleh cita-cita.”85

82
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 234,
235
83
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 121
84
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 269
85
Ibid, hal. 270

73
Beliau juga mengatakan, “Lalu apakah persiapan kita untuk
mewujudkan manhaj ini?!

Jawapan terhadap pertanyaan tersebut adalah, Keimanan, jihad dan


pengorbanan, serta keyakinan terhadap pertolongan Allah.
a. Keimanan:
• Mereka telah meyakini dengan sedalam-dalamnya keimanan, yang
kuat, suci dan abadi terhadap Allah, kemenangan dan pertolongan-
Nya.
• Terhadap manhaj, kelebihan dan kebenarannya
• Persaudaraan, hak-hak dan kesuciaannya
• Terhadap pembalasan, keagungan, keperkasaan dan ganjaran-Nya.
• Dan terhadap diri mereka sendiri. Mereka adalah sebuah jamaah yang
dipilih untuk menyelamatkan alam semesta, dan mereka adalah umat
terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

b. JIhad
* Mereka telah mengetahui dengan sebenar-benarnya dan seyakin-
yakinnya bahawa dakwah yang mereka serukan tidak akan meraih
kemenangan kecuali dengan jihad, pengorbanan dan kerja keras.
Sebagaimana yang dilakukan para sahabat Rasulullah Saw. yang meyakini
kebenaran jihad, besarnya pengorbanan dan kerja keras, maka kami juga
berupaya untuk melakukannya.

c. “Kami pun meyakini pertolongan dan kemenangan dari Allah.”86

Imam Syahid memusatkan perhatian terhadap makna-makna


keimanan ini iaitu asas amal dan jihad, kepentingan kerja keras dan
pengorbanan, serta kewajipan-kewajipan yang harus dipenuhi, beliau
berkata:
“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berjaya diwujudkan jika..:
1. Kuat rasa keyakinan kepadanya

86
Risalah Pergerakan: Ikhwan di bawah panji Al Quran, hal. 193, 194.

74
2. Ikhlas dalam berjuang di jalannya
3. Semakin bersemangat dalam merealisasikannya
4. Kesediaan untuk beramal dan berkorban untuk mewujudkannya.
5. Beramal untuk mewujudkannya.”87

“Dalam menempuh perjalanan yang penuh marabahaya ini Umat tidak


memiliki apapun kecuali jiwa yang beriman, perkasa dan kuat, jujur dan
dermawan dalam melakukan pengorbanan dan perjuangan di tengah
kemelut, jika tidak maka ia akan dikalahkan dan kegagalanlah yang akan
dirasakan oleh generasi mudanya.”88

“Tanpa kekuatan roh dan pembaharuan jiwa, maka kita tidak akan
mampu memberikan langkah apapun terhadap umat.”89
Tentang langkah- langkah utama yang menopang dakwah, maka Imam
Syahid mengatakan, “langkah- langkah umum yang dimiliki dakwah tidak
akan berubah dan berganti serta tidak keluar dari tiga hal berikut;
1. Keimanan yang mendalam
2. Pembinaan yang sangat teliti
3. Amal yang berkesinambungan.”90

Sesungguhnya langkah untuk penanaman nilai dalam setiap seruan


dakwah –kiranya sudah dimaklumi, difahami, dan terbaca bagi siapa saja
yang punya perhatian kepada sejarah jama’ah-jamaah– secara global
terangkum dalam empat kata; Iman, amal, mahabbah dan ukhuwah.”91

Beliau juga menegaskan tentang kepentingan pemusatan perhatian


setiap individu terhadap dakwah dan menguasai seluruh aspek-aspeknya,
“Sesungguhnya dakwah ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-
orang melebur dan memberikan apa saja yang kelak dituntut olehnya, baik

87
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.174
88
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal.69
89
Ibid, hal. 70
90
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal.108
91
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 240

75
waktu, kesihatan, harta bahkan jiwa. Sesungguhnya ini adalah dakwah yang
tak menerima penyekutuan, kerana diantara cirinya adalah persatuan.”92

Imam Syahid berkata, “Wahai Al Ikhwan al Muslimun, Agama ini berdiri


tegak dengan perjuangan pedang-pedang kalian yang bersandar terhadap
tiang- tiang keimanan yang kuat kepada Allah, Zuhud terhadap harta
kekayaan dunia yang fana dan mengutamakan kenikmatan kehidupan
akhirat, pengorbanan dengan jiwa, raga dan harta untuk memenangkan
kebenaran, cinta terhadap kematian di jalan Allah, serta berjalan di atas
pentas perjuangan dengan berpedoman kepada Al Quran yang mulia. Maka
dengan tiang- tiang ini, bangunlah kebangkitan kalian, baiki diri dan
pusatkan perhatian terhadap dakwah kalian, serta bimbinglah umat ini
menuju kebaikan.”93

Beliau berkata, “Beban dakwah tidak akan mampu dipikul kecuali oleh
mereka yang telah menggadaikan dirinya untuk dakwah, dan merelakan
dirinya untuk memikul beban perjalanan, yang senantiasa cepat menjemput
kebaikan, selalu memberikan apa yang diberikan kepada mereka dengan
hati yang senantiasa merasa takut kepada Allah, dan mereka selalu kembali
kepada Tuhan-Nya, yang mengoptimumkan kerja mereka dengan harapan
amalan tersebut diterima.”

Imam Syahid berkata, “Untuk melakukan misi dakwah, kami telah


mempersiapkan keimanan yang tidak tergoncang, amalan yang tidak
berhenti, keyakinan kepada Allah yang tak lemah, serta jiwa yang senantiasa
bahagia jika suatu hari ia menemui Allah dalam keadaan syahid.”94

Beliau kemudian meringkaskan hal itu dalam sebuah kalimat. Beliau


berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka akan terdapat
cirri- cirri kejayaan dalam dirinya.”95

92
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal.16
93
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.152
94
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.179
95
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
37

76
Imam berkata di dalam rujukan utama manhaj ini, “tonggak utama
dalam menjalankan langkah-langkah ini adalah Al Quran yang tidak
dicampuri oleh kebatilan apapun baik dari kedua tangannya mahupun dari
belakang, kemudian sunnah yang benar dan terjamin dari Rasulullah Saw.,
serta sirah yang mulia para ulama-ulama terdahulu. Kita tidak mengharapkan
balasan apapun dari usaha- usaha tersebut, melainkan untuk mendapatkan
keredaan Allah dan memenuhi kewajipan serta memberikan petunjuk dan
pembinaan terhadap manusia.”96

Tentang kadar kekuatan komitmen Ikhwan terhadap dakwah dan syiar-


syiar yang diperjuangkannya, Imam Syahid berkata, “Kami akan berjihad
untuk mewujudkan fikrah kami, dan kami akan bekerja keras selama kami
hidup, kami akan mengajak manusia semua untuk menyambut seruan
dakwah, dan kami akan mengorbankan apa saja untuk mewujudkannya,
hingga kami hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Syiar-syiar yang
senantiasa kami serukan adalah: Allah tujuan kami, Muhammad pemimpin
dan tauladan kami, Al Quran adalah pedoman kami, jihad adalah jalan juang
kami, dan mati di jalan adalah cita-cita kami tertinggi.”97

Bab II

Mekanisme Perubahan
• Pengantar
Agama Islam sebagai suatu manhaj yang memiliki perbezaan asas dengan
manhaj-manhaj konvensional lainnya. Ia adalah sebuah manhaj yang
diturunkan Allah dari langit untuk meninggikan darjatnya yang kemudian
dilaksanakan demi mendapatkan kebaikan di dunia dan kenikmatan di
akhirat. Ia tidak terikat dengan suatu masa tertentu atau suatu kawasan
tertentu, namun merupakan risalah penutup kenabian untuk seluruh umat
manusia. Islam adalah manhaj yang sempurna dan menyeluruh serta

96
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.176
97
Ibid

77
sesuai dengan setiap zaman dan tempat yang mampu mengendalikan
seluruh syariat yang diturunkan sebelumnya, yang mencakup seluruh sisi
kehidupan dan pelbagai aspek-aspeknya.

Agama yang membuat manusia menghadapkan seluruh wajahnya kepada


Allah dengan berserah diri sepenuhnya dan semata-mata untuk beribadah
kepada-Nya dengan penuh rasa takut dan kecintaan pada zat-Nya serta
harapan untuk mendapat pahala dari-Nya.

Adapun manhaj konvensional buatan manusia, adalah suatu manhaj yang


diciptakan oleh kelompok manusia tertentu dan di sebuah komuniti
tertentu; untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dan
menghadapi urusan-urusan mereka, sesuai dengan pandangan, keadaan,
zaman dan tabiat mereka secara khusus. Ia bersifat terbatas dan terikat
dengan zaman dan jenis tertentu, terikat dengan tempat dan tabiat
tertentu, yang didominasi oleh nafsu dan kecenderungan manusia, serta
oleh keterbatasan dan kelemahan manusia.

Di dalam agama Islam terdapat seluruh unsur yang mendukung


kehidupan dan tonggak- tonggak mendasar yang membuatnya mampu
beradaptasi dalam menghadapi segala bentuk perubahan, serta keanjalan
dalam menerima segala bentuk ijtihad manusia dengan mainstream yang
telah ditetapkan untuk hak itu. Hal ini yang membuat para pemeluknya
dapat memanfaatkan dan menggunakan percubaan-percubaan dan ijtihad
manusia dalam setiap sisi kehidupan sesuai dengan perspektif Islam dan
epistemiologi keIslaman.

• Realiti dan manhaj perubahan

Berbicara tentang manhaj perubahan pada saat dan realiti kehidupan


terkini terhadap umat dan manhaj apapun, maka sepatutnya harus
menentukan keadaan realiti dan penyakitnya secara teliti98, menetukan

98
Coba lihat kembali bab sebelumnya untuk menambah penjelasan dalam pembahasan
ini

78
target dan tujuan-tujuan tertentu, kemudian menetapkan koridor yang
akan dilalui, tahap-tahap serta langkah untuk mewujudkan target-target
tersebut.

Walaupun konsep dakwah telah sangat jelas dan mencakup segala hal
sejak awal penyebarannya, namun dalam pelaksanaannya dakwah
memiliki beberapa fasa dan tahapan yang akan dilalui. Imam Syahid
berkata, “Dengan demikian, dakwah ini memiliki fasa dan tahapan
tertentu yang kami harapkan dapat diikuti dan ditempuh bersama-sama,
hingga kami sampai ke tujuan yang hendak dicapai.”99

Dan hal ini didahului sebelumnya oleh: Dasar pegangan dan sibghah
(celupan) yang akan mengarahkan perspektif dan manhaj tersebut.100

Imam Syahid telah menemukan secara jelas dan terperinci tanda- tanda
kelemahan dan penyebab kerosakan yang dideritai umat Islam di dalam
beberapa risalahnya.101

Imam Syahid berkata tentang kerosakan yang tersebar di tubuh umat


dengan mengatakan, “Sesungguhnya ia sedang menderita, pada aspek
politik oleh penjajahan musuh-musuhnya, perpecahan, permusuhan,
fanatisme kelompok dan kehancuran pada generasi mudanya.

Dalam aspek ekonomi, dengan penyebaran amalan riba di setiap kelas


masyarakat serta hegemoni perusahaan-perusahaan asing atas aset dan
kekayaan negerinya.

Ia juga menderita pada aspek pemikiran iaitu dengan kehampaan dan


kerosakan, serta atheisme yang menghancurkan keyakinan dan
memusnahkan teladan utama di dalam jiwa generasi mudanya.
99
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 232
100
Lihat kembali karakteristik dakwah pada bab sebelumnya
101
Lihat risalah-risalah sebelumnya; Dakwah kami, Kepada Apa Kita Mengajak
Manusia, Antara kemaren dan hari ini, Muktamar ke V, Menuju Cahaya, risalah
dalam muktamar para ketua kawasan, serta risalahnya dalam muktamar para pelajar
Ikhwan.

79
Dalam aspek sosial kemasyarakatan, dengan melenyapkan akhlak dan
budi pekerti serta sifat-sifat luhur kemanusiaan yang diwarisi dari orang-
orang soleh terdahulu dengan mengikuti budaya Barat, yang akhirnya
mengalir dalam dirinya seperti aliran racun ular berbisa yang meracuni
darah dan mengotori kesucian jiwa dengan hukum-hukum konvensional
buatan Barat yang tidak akan mencegah para pelaku kejahatan, tidak
akan mampu membetulkan orang-orang yang melampaui batas serta
tidak akan mampu menolak kezaliman.

Begitupula kehampaan dalam pendidikan dan tarbiyah masyarakat yang


kemudian menghalangi pengarahan yang benar terhadap pertumbuhan
dan masa depan generasi mudanya serta para pembawa amanah
kebangkitan umat.

Dalam aspek kejiwaan, iaitu dengan keputusasaan yang sangat


membimbangkan, kemalasan yang sangat kritikal, serta sifat pengecut
yang memalukan, kehinaan, kebakhilan dan egoisme yang menghalangi
diri dari kerja keras, dan menjadi dinding dari pengorbanan, yang
akhirnya mengeluarkan umat ini dari barisan para pejuang ke barisan
orang-orang lalai dan para kecundang.”102

Imam Syahid telah menentukan pegangan dan tujuan dakwahnya iaitu


Islam, baik sebagai dasar pegangan, visi dan tujuan, serta manhaj, beliau
berkata, “Manhaj kami adalah Islam, tiang- tiangnya sebagaimana tertera
dalam Al Quran, langkah dan strategi kami adalah panduan yang kami
dapatkan dari Rasulullah Saw.”103

“Kami meyakini bahwa di dalam manhaj Islam terkandung seluruh konsep


yang diperlukan umat dan kebangkitannya.”

102
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 82
103
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)? Hal. 90

80
“Oleh sebab itu, kami harus membangunkan kebangkitan dunia Timur
sesuai dengan tonggak dan prinsip-prinsip dasar Islam dalam setiap
aspek kehidupan.”104

Kami juga meyakini bahwa semua bentuk kebangkitan yang bertentangan


dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan berlanggaran dengan hukum-
hukum Al Quran adalah sebuah usaha yang rosak dan akan menemui
kegagalan.”105

Wahai kaum kami, sungguh ketika kami menyeru kalian, ada Al Quran di
tangan kanan kami dan sunah di tangan kiri kami, serta jejak kaum salaf
yang soleh dari putera-puteri terbaik umat ini adalah teladan kami. Kami
menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajarannya, kepada hukum-
hukum dan kepada petunjuknya.”106

Sumber yang menentukan tujuan-tujuan ini adalah Islam, dan ia


sebagaimana tertuang jelas di dalam Al Quran dan sunah Rasulullah
Saw.”107

“Oleh sebab itu, fikarh kami adalah Islam semata, di atas Islam fikrah itu
tegak, kepada Islam fikrah itu bersandar, demi Islam fikrah itu berjihad,
dan demi meninggikan kalimatnya fikrah itu berbuat dan beramal. Kita
tidak mungkin mengganti Islam dengan sistem yang lain, tidak rela
menjadikan yang selain Islam sebagai imam, dan tidak akan taat kepada
yang lain sebagai landasan hukum.

  


  

104
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.47
105
Ibid
106
Ibid
107
Ibid

81
  

Ertinya:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali
tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S Ali Imran: 85)108

“Seungguhnya tujuan Ikhwan terletak pada pembinaan generasi baru


dari kaum muslimin dengan ajaran-ajaran Islam yang benar, yang
bertindak untuk mencelup umat dengan celupan Islam yang sempurna
dalam setiap aspek kehidupannya.”109

Imam Syahid merangkumkan garis perjuangan Rasulullah Saw. dalam


berdakwah, beliau berkata, “Langkah-langkah tersebut sangat jelas dalam
langkah perjuangan yang ditempuh dakwah Islam generasi pertama, dan
Allah telah meletakkan sebuah manhaj tertentu yang mesti dilalui
generasi pertama kaum muslimin –semoga keredaan Allah tercurah
kepada mereka semua-, iaitu:
1. Dakwah secara sembunyi-sembunyi
2. Kemudian dakwah secara terbuka serta upaya
memperjuangkannya tanpa rasa bosan.
3. Lalu hijrah menuju hati-hati yang subur dan jiwa-jiwa yang sedia
menerima hidayah, kemudian mempersaudarakan antara jiwa-jiwa
tersebut dan menempatkan singgahsana keimanan di hati-hati
mereka.
4. Kemudian melakukan perjuangan dan berpaling dari kebatilan
menuju kebenaran.
Dengan demikian, selesai sudah langkah pertama dalam manhaj
dakwah, yang merupakan gambaran yang diberikan oleh Rasulullah
Saw., baik syariat maupun penerapannya.

108
Risalah, Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 99
109
Risalah, Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 88

82
5. Sepeninggalan Rasulullah Saw., para sahabat dan tabi’in kemudian
meneruskan model dakwah ini secara lengkap di tanah Arab dan
hingga tersebar ke negeri-negeri yang lain.110

Tentang jauhnya target perubahan yang hendak dicapai serta


peranan yang ingin diwujudkan, Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya
kalian adalah para da’i tarbiyah, tonggak- tonggak kemenangan kalian
adalah, Memahamkan bangsa ini, meyakinkan dan membangkitkan
kesedarannya dari segala aspek terhadap prinsip-prinsip agama Islam,
ajaran dan nilai-nilai dasarnya. Dan hal ini merupakan tujuan yang tak
mungkin dicapai dalam hitungan hari dan tahun, namun ia adalah jihad
yang terus menerus, amal yang berkesinambungan, ia akan berhadapan
dengan barisan pasukan kebodohan, buta huruf, penyakit, kemiskinan,
kedengkian dan kebencian, kecilnya cita-cita dan pemutusan silaturahim,
serta bertahun lamanya umat tenggelam dalam genangan kerosakan
yang merebak ke setiap tempat. Adakah kalian berfikir atau manusia
menyangka hal ini adalah masalah yang ringan?

Bahkan tujuan kalian lebih luas dari ini; kalian menginginkan umat ini
menjadi model umat muslim masa depan yang akan menjadi teladan
semua negara-negara Timur, dan kalian menginginkan dari bangsa-
bangsa ini sebuah persatuan Islam yang akan membawa misi
kemanusiaan menuju ajaran Islam.

Ini adalah tugas dan peranan kalian yang oleh manusia dilihat masih
sangat jauh, namun dalam pandangan kalian dan Islam yang telah
mewajibkannya sebagai sebuah kewajipan sebagai sesuatu yang dekat
ataupun jauh?

  


   

110
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 88, 89.

83
   
   
Ertinya:
“Jika mereka berpaling, Maka Katakanlah: "Aku Telah menyampaikan
kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan Aku tidak
mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau
masih jauh?.” (Q.S Al Anbiya: 109)111

Imam Syahid menggambarkan permasalahan umat sebagaimana


permasalahan individu muslim dengan mengatakan, “Hingga dengan
rahmat Allah yang mampu menghadirkan seorang doktor yang mahir dan
seorang pakar yang sangat pandai yang mengetahui tempat luka dan
mampu mengidentifikasi, mengenal tempat penyakit dan mampu
menyembuhkannya.

Pengubatannya terdiri dari tiga perkara, mengetahui tempat penyakit,


sabar terhadap rasa sakit ketika pengobatan berlangsung, dan seorang
pakar yang mahir mengubatinya hingga melalui tangannya Allah
memberikan kesembuhan dan kemenangan.”112

Dalam terapi pengubatan yang kami gunakan terdapat tiga perkara


yang merupakan bahagian dari fikrah Ikhwan;
Yang pertama, Manhaj yang benar; Ikhwan mendapatkannya di dalam
kitab Allah dan sunah Rasul-Nya Saw..
Yang kedua, Para pekerja yang mukmin; untuk itu Ikhwan membuat
diri mereka melaksanakan apa yang mereka fahami dari agama Allah
dalam bentuk amal dan tanpa melibatkan perasaan dan kelembutan.
Yang ketiga, Kepemimpinan yang kuat dan dipercayai. Ikhwan juga
telah menemukainya, dan mereka sangat mematuhi dan taat bekerja di
bawah panjinya.”113

111
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal.267, 268
112
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal.34
113
Ibid, hal. 37

84
Imam Syahid menjelaskan bahawa kekuatan dakwah bergantung
kepada:
“Kekuatan seruan-seruan dakwah itu sendiri, kemudian di hati orang-
orang yang meyakininya, lalu pada keperluan alam terhadap dakwah
tersebut, kemudian pertolongan dari Allah bila- bila sahaja yang Dia
kehendaki dan menampakkan kekuatan-Nya.”114

• Tabiat Perubahan dan Karakteristiknya:

Sebelum membicarakan tentang tabiat perubahan, karakteristik dan sifat-


sifatnya, maka pertama-tama yang harus dipenuhi adalah:
a. Kejelasan terhadap manhaj perubahan
b. Keyakinan terhadap kemampuan manhaj pilihan tersebut.
c. Membatasinya dengan koridor dan tuntutan-tuntutan syariat
yang dibawa Islam.

Ia adalah:
1. Perubahan yang menyeluruh dan mendalam terhadap individu
dan masyarakat.
Penyebaran nilai-nilai keIslaman dan syariat mesti menjadi
hakikat yang terlihat, dan tidak terbatas pada penampilan dan
simbol semata-mata. Untuk mengawal peranan-peranan tersebut
tidak hanya dilakukan oleh beberapa individu masyarakat atau
lembaga keadilan tertentu, namun ia memerlukan perjuangan
dan keseriusan semua lembaga-lembaga khusus dan umum yang
ada.
2. Perubahan ini adalah persoalan agama, oleh sebab itu tidak
semestinya dilakukan secara paksa dan kekerasan, namun harus
dilakukan dengan keinginan, pilihan dan keimanan. Ia tidak
hanya dianggap sebagai usaha mengganti pemerintah dengan
pemerintah yang lain yang akan meninggikan syiar-syiarnya atau

114
Ibid

85
menetapkan sebuah keputusan, namun ia bersandar kepada
keyakinan dan keimanan manusia dan permintaan mereka
terhadap perubahan tersebut.
3. Perubahan dari bawah
Hal ini menuntut sebuah perubahan dari bawah sesuai dengan
manhaj perubahan yang dipilih. Perubahan dari bawah berbeza
halnya dengan perubahan dari atas; kerana sejatinya ia
dilakukan dengan cara melahirkan keyakinan pada setiap
komponen masyarakat untuk berpegang teguh terhadap syariat
Islam. Sebuah perubahan mendalam dan bukan perubahan pada
tingkat atas; kerana ia bermula dari lingkup individu masyarakat
dan institusi-institusinya yang kemudian bertitik- tolak dari dalam
institusi-institusi tersebut dan bukan sebaliknya. Ia bermula dari
individu-individu masyarakat yang kemudian dilakukan ke
institusi-institusi, dan tidak dimulai dengan penguasaan
pemerintah untuk melakukan perubahan. Imam Al Hudaibi
berkata, “Dirikanlah Negara Islam di hati kalian, maka ia akan
tegak di bumi kalian.” Ia adalah perubahan tingkat bawah yang
memiliki pintu masuk masyarakat dan pintu institusi.

    


   

   
 
 
  
     
  
Ertinya:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S Al Ra’d: 11)

86
4. Perubahan yang bertahap
‘Sesungguhnya orang yang bercita- cita yang ingin menguasai
sesuatu akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.’
Maka proses perubahan ini bersandar kepada tahapan dan
perpindahan dari satu fasa ke fasa berikutnya, dari satu tangga
ke tangga berikutnya, atas asas kematangan dan kesempurnaan
serta kemampuan menghadapi persoalan, krisis dan
permasalahan.

Imam Syahid berkata, “Barangsiapa yang tergesa-gesa ingin


menikmati buahnya sebelum matang atau hendak memetik
kembang sebelum waktunya maka sebaiknya dia keluar dari
barisan dakwah ini ke dakwah yang lain.”

Oleh sebab itu, kami mengikat gelora perasaan dengan


kecerdasan akal, dan menjadikan khayalan sepadan dengan
hakikat dan kenyataan.”

Dan kami tidak akan melanggar undang-undang alam semesta


kerana hal itu adalah kekalahan, namun kami akan
menundukkan, mengendalikan dan mengalihkan arusnya serta
menjadikannya sebagai penolong satu sama lain.”

Kerana ia adalah perubahan bertahap dan bukan perubahan


radikal, maka langkahnya bukan kekuatan dan kekerasan;
sesungguhnya dakwah yang benar adalah yang mampu
berkomunikasi dengan jiwa, kemudian ia mampu mengetuk
pintu-pintu hati yang tertutup, sesuatu yang mustahil dapat
dibuka oleh pukulan tongkat, atau dengan kilatan mata pedang
dan tombak.

5. Perubahan Universal

87
Isyarat-isyarat ini sebagaimana telah ditetapkan sejak fajar
pertama dakwah, firman Allah:

  


  
 
  
 
Ertinya:
“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan
sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
Mengetahui.” (Q.S Saba:28)

Dakwah ini adalah dakwah universal sejak ia dilahirkan, yang


tidak dibatasi oleh kawasan tertentu dan tidak pula dibatasi oleh
daerah tertentu; untuk itu “Kami telah menggambungkan semua
elemen dalam setiap ceruk negeri kami yang telah dipisah-
pisahkan oleh politik Barat, yang telah dimusnahkan oleh
kepentingan Negara-negara Eropah; untuk itu kami tidak akan
pernah mengakui perkongsian politik apapun dan kami tidak
akan menerima kesepakatan-kesepakatan tersebut, yang telah
menjadikan dunia Islam berubah menjadi negeri-negeri kecil
yang lemah dan tercarik- carik serta mudah ditelan oleh para
penceroboh- penceroboh itu.”

6. Perubahan yang kami inginkan adalah perubahan yang tenang


dan berkesinambungan, yang tidak tergugat dan tidak bersifat
sementara; untuk itu kita wajib melakukan tarbiyah, memimpin
dan memberikan peranan pada kekuatan-kekuatan perubahan
secara keseluruhan serta mengkoordinasikan kerjasamanya demi
mewujudkan keyakinan dan penerimaannya terhadap halangan-
halangan perubahan.

88
7. Perubahan memiliki kekuatan kawalan terdepan yang memegang
kepemimpinan, dan ia memiliki kekuatan politik yang handal iaitu
rakyat negara, yang memiliki kekuatan yang menyokongnya
iaitu, institusi-institusi masyarakat, dan institusi ini memiliki
kekuatan yang mendukungnya, iaitu umat Islam di dunia secara
keseluruhan.

Ia adalah perubahan yang sangat dalam dan tidak dangkal,


perubahan di tingkat bawah dan bukan di tingkat atas, yang
bersifat beransur- ansur dan tidak tergesa-gesa, perubahan
universal dan tidak di kawasan tertentu, yang berkesinambungan
dan tidak sementara, kami akan memimpin umat ke arah ini dan
tidak akan mewakilkan mereka dengan yang lain.”115

Sesungguhnya pelaksanaan manhaj Islam secara sempurna dan


menyeluruh serta projek pembangunannya di tengah masyarakat
tidak hanya terbatas pada perspektif yang benar atau
pemahaman yang universal, namun juga memerlukan proses
tarbiyah dan persiapan orang-orang yang akan memikul amanah
pelaksanaannya dan memimpin setiap individu bangsa. Dan
persiapan di dalam kelompok ini berdasarkan pada proses
tarbiyah Islamiyah yang sempurna agar Islam dapat dikenali dari
keperibadiannya, pemahaman dan akhlaknya, dalam amal dan
setiap gerakannya. Proses tarbiyah tidak berjalan dalam waktu
yang ringkas atau hanya dengan pelajaran beberapa saat, namun
ia merupakan proses pembentukan yang sangat cermat dan teliti
serta merupakan perbaikan individu yang lengkap. Lalu akan
datang ujian, cubaan dan rintangan untuk menyaring dan
memilih, yang pada akhirnya akan memperlihatkan daya
tahannya menanggung tekanan untuk tetap tegar dan tidak
menyimpang.

115
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Al Ustadz Musthafa Masyhur, hal.31

89
Hilangnya titik-titik konsentrasi ini atau kelemahannya dalam
pelbagai lapangan kehidupan masayarakat akan menyebabkan
melemahnya tarbiyah masyarakat dan pelaksanaan yang benar
terhadap manhaj Islam.

Sesungguhnya Ikhwan tidak pernah bermaksud menghancurkan


sistem atau merubah kebatilan semata lalu menggantikannya
dengan sistem yang lain atau merubah kebatilan dengan
kebatilan yang lebih kecil penyimpangannya. Ia justeru
bermaksud untuk menyusun dan merancang bangunan Islam
yang sempurna dan integral di tengah masyarakat dan umat
dengan segenap asasnya secara keseluruhan, sebuah bangunan
yang kukuh dan kuat yang akan memikul tekanan-tekanan dan
berhadapan dengan segala rintangan.

Bangunan yang kukuh ini dengan tapak dan bebannya tidak


hanya berada di tempat terbatas dan kawasan tertentu saja,
namun ia adalah bangunan yang disediakan mampu memikul
tanggungjawab bangsa Arab, umat Islam dan dunia
antarabangsa. Sesungguhnya kita berniat untuk mendirikan dan
menghidupkan umat Islam serta pembinaan negaranya secara
universal.

Dan tujuan ini lebih besar dan lebih jauh dibanding perubahan
sistem semata.

Konstruksi ini mencakup bangsa dan masyarakat, yang


merupakan pendukung dan batu batanya, dan sudah semestinya
ia mendapatkan tarbiyah, persiapan dan kesedaran; untuk
kemudian diwarnai dengan Islam, baik pemahaman, akhlak, budi
pekerti, nilai dan adat istiadat. Ia juga harus mengetahui hak-
haknya dan bagaimana menjaga hak-hak tersebut serta
bagaimana berkorban untuk memeliharanya. Ia juga harus benar-
benar sedar dan penuh perhitungan, serta tidak tertipu dengan

90
para penjual simbol dan syiar-syiar para penyeru perbaikan,
memberikan toleransi terhadap manhaj dan dakwahnya atau
berpaling darinya.

Tanpa persiapan dan tarbiyah terhadap suatu bangsa maka


bangunan masyarakatnya akan rapuh dan lemah serta terjadinya
perlanggaran antara satu sama lain di dalam satu komuniti
masyarakat. Bahkan dengan keadaan tersebut komponen
masyarakatnya tidak akan bersedia menerima beban fasa
tersebut, iaitu pendirian sebuah Negara Islam, kerana pada fasa
tersebut ia dituntut untuk mampu menghadapi halangan dan
tentangan serta tekanan-tekanan baik internal mahupun
eksternal, memberikan pengorbanan, semakin setia dan komited
terhadap jama’ah.

Imam Syahid Sayyid Quthb berkata, “Maka sudah semestinya


sebuah gerakan Islam dimulakan dari tapak dasarnya, iaitu
membangunkan bimbingan akidah Islam di hati dan fikiran, serta
tarbiyah terhadap orang-orang yang menerima dakwah dan
pemahaman ini dengan tarbiyah Islam yang benar, serta dengan
tidak memaksa sebuah sistem Islam dengan cara menguasai
pemerintahan sebelum kukuhnya tiang- tiang keIslaman di
tengah masyarakat, sebab masyarakat tersebutlah yang akan
meminta sistem pemerintahan Islam kerana mereka mengetahui
hakikatnya dan menginginkan.”116

Sesungguhnya bangunan (masyarakat) yang dicita-citakan oleh


Ikhwan bukan bangunan masyarakat biasa sebagaimana Negara-
negara di dunia, namun ia merupakan bangunan akidah Islam
sejak mula berdiri, semenjak hari pertama pembangunannya,
yang akar dan pembinaannya bersumber dari manhaj Allah dan

116
Lihat Koran Al Muslimun, perkataan yang disampaikan Imam Syahid Sayyid Quthb,
yang dipublikasikan lewat Koran dengan tema, Mengapa mereka mengeksekusiku?
Komentar ini beliau tulis sebelum proses eksekusi pada pagi Senin, 29 Agustus
1966.

91
Sunah Rasul-Nya Saw. dan ia bukan deklarasi moral dan akhlak
semata, atau hanya seruan-seruan reformasi yang diserukan
banyak pihak, walaupun ini merupakan komponen ringkas dari
bangunan yang dimaksudkan. Namun ia justeru merupakan
sebuah bangunan yang memiliki pelan konstruksi yang jelas dan
tiang- tiang yang sempurna, iaitu Islam secara keseluruhan, baik
umat, masyarakat, Negara dan pemerintah, misi dan
peradabannya.

Di sana juga terdapat ruang universal yang merupakan aset


umat, iaitu lapangan dakwah dan harakah yang merupakan
kekuatan penyokong.

Kemudian juga tersedia ruang universal dengan segenap arus,


perseteruan dan langkah-langkah yang ingin menguasai kawasan
Arab dan dunia Islam.

Disamping itu juga terdapat sunah alam dalam proses


perubahan, serta waktu- waktu yang memerlukan kesedaran,
kewaspadaan dan kemampuan untuk memanfaatkan, cara
memenangkan dan bersiap menanti keadaan yang akan
dihadapi.

Semuanya memerlukan perhitungan

Sesungguhnya Negara Islam sejak awal berdiri –dengan izin


Allah- akan berhadapan dengan tentangan dalam setiap apsek,
baik sosial kemasyarakatan, akademik, peradaban dan
ketenteraan. Ia akan lahir di tengah badai dan gelombang, hal ini
tentu memerlukan kekuatan dan kekukuhan bangunan untuk
membentengi dan mewujudkan projek-projek besar Islam.

Dalam proses rekonstruksi ini kami tidak terpisah dari


masyarakat, dan kami tidak bermaksud untuk mengumpulkan

92
seluruh kekuatan perbaikan dan perjalanannya, namun peranan
kami yang menjadi dasarnya adalah sebagai penyeru dakwah
dan kesedaran umat, saling membantu dan bekerjasama dengan
segenap warga masyarakat yang mencintai dan ikhlas berjuang
untuk negaranya, sehingga pada akhirnya kami sampai kepada
kesamaan manhaj, visi dan tujuan.

Sesungguhnya tarbiyah masyarakat dan pengetahuan mereka


terhadap hak-haknya serta komitmen merupakan elemen dasar
dan pengawasan yang sangat efektif pada setiap sistem yang
akan memimpinnya, sehingga ia tidak akan menyimpang dan
tertipu dengan slogan-slogan dan simbol-simbol yang tidak
sesuai dengannya.

Sebuah bangsa yang proses tarbiyahnya telah berjalan dengan


sempurna dan baik adalah jaminan dan yang mengawal
bangunan ini, ia mampu meneliti, mengawasi dan mengubah jika
terjadi penyimpangan. Oleh sebab itu maka tarbiyah dan
pembinaan masyarakat sangat penting dan mentarbiyahnya
sesuai dengan manhaj Ikhwan.
Pilihan raya politik, parlimen, profesionalisme, dewan perwakilan
dan yang lain merupakan sebahagian dari perjuangan konstitusi,
yang merupakan alat pembantu untuk mewujudkan manhaj
jamaah dan pembangunan tonggak- tonggak masyarakat
muslim.

Akan tetapi kotak-kotak suara pilihan raya hanyalah alat untuk


menyampaikan aspirasi masyarakat dan bungkusan bagi dakwah
serta menjadi alat untuk menghubungkannya ke lembaga dan
yayasan-yayasan tertentu, namun ia tidak mendidik sebuah
masyarakat dan tidak membangunkan sebuah tapak yang kukuh,
sementara hal ini merupakan hal yang mendasari proses
perubahan dan perbaikan. Bahkan kemajuan dalam proses

93
tarbiyah yang sempurna akan memberikan buah dan hasil dalam
pelaksaan pilihan raya.

Sesungguhnya pembangunan tapak dasar yang kuat dan tiang-


tiang yang kukuh dan tersebar di semua tempat adalah yang
mewujudkan akidah dan persatuan, sedangkan tarbiyah
masyarakat, pembinaan dan pencelupannya dengan celupan
Islam adalah asas utama yang tak dapat digantikan. Setelah itu
terwujud, kemudian dilanjutkan dengan usaha- usaha dan
kemudahan lain yang akan membantu, menyempurnakan dan
mendukung terwujudnya target-target tersebut.

Juga terdapat peranan lain dalam mengupayakan kepemilikan


umat terhadap usaha- usaha kekuatan di tengah masyarakat
yang memberikan peluang baginya untuk mewujudkan visi dan
misinya. Iaitu dengan melakukan perubahan terhadap keadaan
realiti lembaga-lembaga kemasyarakatan dan individualnya (baik
lelaki mahupun wanita), agar sesuai dengan perspektif
pembangunan sempurna yang mampu menciptakan
penyelesaian konkrit terhadap masalah- masalah terkini dan
masa depan yang menyatu dalam satu syiar, Al Islam huwa al
Hall (Islam adalah penyelesaian) sesuai dengan program-
program yang terperinci yang mampu memberikan penyelesaian
terhadap permasalahan dan kegundahan manusia.

Kita menginginkan pengubatan tersebut berlangsung dengan


jelas dan meyakinkan bahawa tidak ada alternatif lain selain
penyelesaian yang diberikan Islam, sebuah penyelesaian yang
menjadi kemestian, kerana penyelesaian tersebut merupakan
pemberian Allah, zat yang menciptakan manusia dan yang Maha
Mengetahui kebaikan dan manfaat untuk manusia.117

117
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Al Ustadz Musthafa Masyhur, hal. 38

94
Had minimumnya adalah paling tidak kami memiliki perspektif
yang jelas dan integral dalam permasalahan tersebut, lalu kita
meluruskan kerosakan yang terjadi dan mengubati sebab-sebab
kelemahan, kemudian melakukan perbaikan di semua institusi
dan tahap kehidupan menuju titik berpijak yang sebenarnya,
serta dengan menguasai alat- alat kekuatan untuk kemudian
mengoptimumkan usaha- usaha tersebut dalam sebuah payung
pemerintahan Islam yang mampu menyempurnakan proses
perbaikan, menguatkan bangunan serta mewujudkan tujuan-
tujuannya secara sempurna. Sebuah kerajaan muslim akan
berdiri kukuh setelah terpenuhinya tonggak dasar perbaikan dan
pembangunan di masyarakat serta keyakinan masyarakat yang
kuat terhadap kepentingan solusi Islam dalam kehidupan dan
perkembangannya.

Panjangnya perjalanan, kuatnya perjuangan serta pengorbanan


yang harus diberikan tidak akan menggoyahkan kami dari
manhaj kami; kerana bangunan yang dicita-citakan sangat besar
dan agung. Kejayaan yang hakiki dan kemenangan yang
sebenarnya adalah ketegaran di atas manhaj ini serta dengan
mewujudkan bangunan ini dengan pertolongan Allah Swt.

Kepemimpinan yang bijak dan mengarahkan Semangat

Perubahan ini dinakhodai oleh kepemimpinan yang bijak dan


tidak bertentangan dengan undang-undang semesta dalam
perubahan serta tidak tertipu dengan semangat yang membara;
kerana ia mengetahui bahawa orang yang sangat bersemangat,
reaktif dan emosional kadang-kadang menjadi orang yang paling
mudah tergoncang, larut dan kalah ketika berhadapan dengan
kesulitan dan realiti di lapangan.

Motivasi, dorongan dan semangat yang luar biasa secara umum


berasal dari beberapa hal berikut:

95
1. Tidak mengetahui hakikat beban
2. Kadang- kala berasal dari kecilnya kemungkinan untuk
bertemu kesukaran dan kekalahan, yang kemudian
mendorongnya untuk melakukan gerakan, perlawanan dan
kemenangan dengan segala bentuk tanpa mengukur beban
gerakan, perlawanan dan kemenangan tersebut. Sehingga
ketika ia berhadapan dengan beban-beban tersebut yang
ternyata lebih berat dari perhitungan mereka, serta-merta
mereka menjadi orang-orang di barisan pertama yang
mengalami kegoncangan dan kegentaran. Firman Allah:

    


 
 
 
 
 


  
  
  
    
   
  
 
 
    

  
 
  
 
Ertinya:

96
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada
mereka[317]: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah
sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada
mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan
munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada
Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: "Ya
Tuhan kami, Mengapa Engkau wajibkan berperang kepada Kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajipan berperang) kepada
kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan
di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-
orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Q.S
An Nisa:77)118

Imam Syahid berkata, “Aku berharap kalian bijak dalam mengambil


langkah, dan hendaknya kalian meluruskan jalan kalian dengan akal
dan perasaan secara bersamaan, jangan biarkan bara semangat
memandu kalian menuju jalan yang tidak bermanfaat untuk
kepentingan dakwah.”119

Dalam hal ini beliau juga mengatakan, “Mereka (Ikhwan) lebih memilih
sikap perlahan-lahan namun bijak demi meraih kemenangan yang
gemilang.”120

Adapun dalam menolak marabahaya atau berpegang teguh dengan


dakwah, maka sesungguhnya, “sikap perlahan-lahan dan tenang akan
menghentikan gerak maju dan merenggut kemenangan mereka, dan
pada saat itu merekapun mengetahui bagaimana mempertahankan
dakwah mereka..”121

Ringkasan Prasarana Perubahan

118
Ibid, hal. 33
119
Hasan Al Banna, momen-momen dakwah dan tarbiyah, Abbas Asisi, hal.147
120
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 266
121
Ibid

97
Prasarana Perubahan dalam manhaj Ikhwan mempunyai titik berat
pada tiga rukun:
1. Komitmen terhadap Islam dengan pemahaman yang benar,
baik ilmu dan pengamalan serta jihad.
2. Kepentingan jama’ah dan kemestian adanya barisan kaum
muslimin yang tersusun rapi di bawah satu kepemimpinan.
3. Tarbiyah dan pembentukan dalam menyediakan individu
muslim dan membangunkan generasi baru muslim,
memberikan perhatian terhadap bangsa dan masyarakat
dan mengoptimumkan peranan-peranannya serta
mencelupkannya dengan celupan Islam.

Dan hal tersebut di atas diringkaskan dalam langkah-langkah berikut:


1. Pembangunan dan pembinaan generasi baru
Dan ini mengalir dan menyebar di tengah masyarakat dan di tubuh
umat, yang akan memberikan pengaruh dalam menyedarkan umat
dan memperbaiki keadaannya. Generasi ini akan menjadi tiang
dasar berdirinya sebuah pemerintah dan Negara Islam.

Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya dakwah Ikhwan secara


khusus ditujukan untuk membentuk generasi baru kaum muslimin
dengan nilai-nilai ajaran Islam yang benar, yang bekerja dengan
celupan Islam yang sempurna dalam segala tahap kehidupan.”122

Generasi baru ini adalah tapak kukuh dan inti yang akan
mendukung berdirinya kerajaan Islam dan yang akan memikul
beban dan serta memimpin umat di atas manhajnya.

Imam berkata, “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini,


maka perbaikilah dakwah dan maksimumkan proses
pembentukannya, ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati,
serta kebebasan pemikiran dan akal, kebebasan jihad dan amal.

122
Risalah: P Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 188

98
Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al
Quran, serta latihlah ia menjadi perajurit di bawah bendera dan
panji Nabi Muhammad.”123

2. Tonggak- tonggak generasi mukmin ini harus memenuhi beberapa


hal berikut:
a. Hendaknya jumlahnya memadai dan sesuai dengan target
serta beban yang akan dipikul tatkala mendirikan sebuah
Negara dan menghadapi pelbagai tentangan. Hal ini
tentunya adalah sesuatu yang selalu berubah sesuai
dengan situasi dan kenyataan yang berlaku. Pada tahun
1935 M, saat penduduk Mesir masih berjumlah 16 juta,
Imam Syahid berkata, “Dan di saat jumlah kalian -wahai
Ihkwanul Muslimin- telah mencapai 300 katibah (yaitu 12
ribu), dan setiap katibah telah mempersiapkan dirinya
secara spiritual dengan iman dan akidah, secara intelektual
dengan ilmu dan tsaqafah, dan secara fizikal dengan aneka
latihan dan rekreasi, maka pada saat itu ajaklah aku
mengharungi kedalaman samudera, menembus ketinggian
langit dan berperang bersama kalian melawan tirani dan
penguasa zalim, maka aku benar-benar akan
124
melakukannya insya Allah.”

b. Dan hendaknya tonggak- tonggak ini tersebar di seluruh


kawasan, daerah, perkampungan, yayasan, dan lembaga-
lembaga sosial dengan jumlah yang memungkinnya
memberikan pengaruh dan warna serta mengarahkan
komunititersebut kepada syariat Allah.

Tempat yang tidak ditempati oleh tonggak- tonggak


mukmin ini, atau hanya ditempati oleh komuniti mukmin

123
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 197
124
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 181

99
yang lemah, maka ia akan menjadi kawasan lemah yang
memberikan implikasi buruk terhadap kekuasaan dan
ikatan kepemimpinan umat Islam serta model penerapan
syariat Islam dan tarbiyah masyarakat. Sesungguhnya
semangat, sambutan baik dan penerimaan ketika
kemenangan Islam tidak menjadi ukuran atau pengganti
proses pembentukan yang mendalam terhadap tonggak-
tonggak mukmin ini.

c. Dan hendaknya kekuatan utama ini sampai pada taraf


keimanan dan tarbiyah yang sesuai dengan beban yang
ada, kemudian melalui ujian dan proses penyaringan, serta
menjalani cubaan, bencana yang beraneka ragam hingga
terbebas dan membersihkan dirinya dari batu bata yang
lembik serta menambah kekuatan dan keteguhan.

d. Dan hendaknya kekuatan utama ini berada dalam satu saf


yang kuat dan di bawah satu kepemimpinan, serta memiliki
langkah kemenangan iman dan menjauhkannya dari
kekalahan dan kehinaan.

Asas kekuatan barisan terdapat dalam kekuatan akidah,


kekuatan persatuan dan kekuatan ikatan sebelum kekuatan
otot dan senjata.

e. Perhimpunan atau pembentukan kekuatan inti tidak


berdasarkan propaganda yang membabi buta atau hanya
dengan propaganda umum, perasaan yang membara atau
dengan gerakan tambahan dan penyebaran yang sangat
cepat, namun ia dilakukan dengan kepiawaian menyucikan
alat- alat yang baik dan sesuai (Manusia ibarat seratus unta
yang tak memiliki pengembala), tarbiyahnya, pembentukan

100
dan penanaman rukun-rukun baiat, serta pembaharuan
iman dengan agama dan dakwah.

3. Menyebarkan dakwah, pengenalan dan tarbiyah masyarakat:

Seiring dengan penyucian dan pembentukan tonggak- tonggak


utama ini, juga pada masa yang sama dilakukan usaha- usaha
penyebaran dakwah, pengenalan (sosialisasi dakwah) dan tarbiyah
masyarakat sesuai dengan pemahaman Islam, mencelupkannya
dengan celupan Islam dan menghadapi sisi-sisi kerosakan yang ada
serta mewujudkan sifat-sifat yang diinginkan seperti kepekaan,
kesedaran dan pengorbanan dll. Sehingga para pendukung dan dan
yang bersimpati terhadap dakwah semakin bertambah banyak, dan
nilai-nilai dakwah menjadi pegangan umum di tengah masyarakat,
serta didukung dan ditopang oleh tokoh-tokoh masyarakat.

Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya khutbah dan perkataan,


tulisan dan pelajaran, seminar, identifikasi penyakit dan ubatnya,
semuanya tidak akan memberikan manfaat apapun dan tidak akan
mewujudkan tujuan apapun serta tidak akan menghubungkan da’i
kepada target yang diharapkan..”125

“Tidak demikian wahai Ikhwan, bukan ini yang kita inginkan. Di


antara yang kita inginkan adalah keredaan Allah, adapun tujuan
Ikhwan yang paling utama, target Ikhwan yang paling tinggi,
perbaikan yang diinginkan oleh Ikhwan dan yang disiapkannya
adalah perbaikan yang integral dan menyeluruh yang didukung
oleh kekuatan umat secara keseluruhan.126

Maka hal ini menuntut:


1. Iman Yang mendalam
2. Pembentukan yang teliti
125
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal.108
126
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.205

101
3. Amal yang berkesinambungan

“Maka yakinlah terhadap fikrah kalian dan berkumpullah di


127
sekelilingnya, bekerjalah untuknya dan teguhlah.”

“Akan tiba masanya prinsip-prinsip Ikhwan akan menyebar dan


mendominasi, dan rakyat akan belajar bagaimana mereka
mengutamakan kemaslahatan umum berbanding kemaslahatan
128
Peribadi.”

Tentang penyebaran dakwah di pelbagai tempat, kawasan dan


komuniti masyarakat, Imam Syahid menegaskan tentang wujudnya
tujuan ini, “Untuk itu kami berusaha agar dakwah kami sampai ke
setiap rumah dan agar suara kami terdengar ke segenap penjuru.”129

Yang mana hal ini kemudian memerlukan inovasi dan langkah yang
bervariasi dalam menggunakan medium- medium dakwah
kontemporari, keterbukaan terhadap masyarakat, ramah dan
komunikatif, serta sosialisasi dakwah, gagasan dan sikap-sikapnya
dalam setiap majlis, muktamar, peristiwa dan krisis.

Jamaah juga menggunakan segala medium dakwah serta ditambah


dengan pengaruh positif dari para tokoh dakwah di masyarakat.
Dakwah tidak hanya terbatas pada satu alat tertentu namun
dikembangkan dalam bentuk lembaga-lembaga sosial, yayasan,
asosiasi, yang merupakan sebahagian dari lembaga-lembaga dakwah
dan yang mampu berinteraksi dengan masyarakat dalam setiap
segmen serta bekerja untuk menyedarkan umat dan menyatukannya
di bawah naungan Islam.

127
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal.108
128
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.137
129
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.177

102
4. Jamaah juga menempuh cara perjuangan konstitusi sebagai
sebahagian dari projek perbaikan dan gerakan di tengah
masyarakat. Kerana jamaah kerap harus berhadapan dengan
situasi yang sempit dan sukar yang menghalanginya dari medium-
medium yang layak untuk dakwah, serta dari perjuangan konstitusi
sebagai sebahagian dari hak asasinya, namun kemudian ia
menghadapinya dengan penuh kesabaran, dan sikap positif,
perhatian terhadap dakwah fardiyah dan pengaruh dalam
masyarakat dengan kerja dan teladan yang baik, menggunakan
medium- medium yang sesuai untuk menyampaikan dakwah dan
tarbiyah individu, tidak melepaskannya dari manhaj, cara, dan
prinsip-prinsip dakwah serta tidak bersandar kepada kekerasan dan
tetap bertahan menghadapi tekanan tersebut walaupun ujian
datang menghadang.

5. Sampainya jamaah dakwah ini ke fasa kepemimpinan masyarakat,


hingga dakwah dan jamaah itu benar-benar menjadi harapan umat
dan mampu memenuhi tuntutan masyarakat, menanamkan
prinsip-prinsip Islam dan tujuan-tujuannya, menyerukan Islam
kepada umat dan berpegang teguh padanya, serta munculnya para
aktivis dakwah sebagai tokoh-tokoh masyarakat di pelbagai
bidang, dan menjadi perhatian dan ikutan umum.

Kemudian terjalinnya kerjasama dengan setiap orang yang


menyerukan perbaikan serta melakukan penyatuan antara para
pejuang-pejuang yang ikhlas dan para penyeru reformasi baik
personal maupun kolektif dengan tetap menyampaikan dakwah
kepada mereka untuk. Lalu kita tunggu bagaimana kemudian
putaran waktu akan membuat mereka meyakini bahawa dakwah
ini adalah dakwah yang sangat integral dan sempurna, hingga
mereka mengikuti dan bernaung di bawah panjinya jika mereka
menginginkan, dan akhirnya dakwah Ikhwan menjadi jantung
umat, akal dan cita-citanya.

103
6. Ketika hal ini dapat diwujudkan sesuai dengan yang direncanakan,
dan bersama terwujudnya jarak internasional terhadap dakwah
berupa bantuan moral dari umat Islam dan kekuatan perbaikan di
dalamnya, maka pada saat itu dakwah melakukan langkah penting
dan membuat pemerintah eksekutif130 condong kepadanya dalam
situasi rakyat dan institusi pemerintahan yang memerlukan Islam
dan yang mendukung jamaah. Kecondongan pemerintah kepada
manhaj Islam dan aspirasi masyarakat yang diarahkan oleh
dakwah dengan izin Allah akan terwujud, baik dengan pilihannya
sendiri atau kerana kecondongan amal nyata terhadap pemerintah
tanpa kekerasan.

Sesungguhnya kerja politik, intelektual, sosial, pelayanan, tarbiyah


dan dakwah di setiap komuniti masyarakat dan institusi-
institusinya akan membuat pandangan masyarakat umum
menjurus kepada jamaah dan dakwah, dan kemudian jamaah akan
mendapatkan kepercayaan dan sokongan majoriti. Yang pada
akhirnya secara praktikal membuat cenderung pula orang-orang di
jalan, daerah, perkampungan, yayasan-yayasan, lembaga, asosiasi,
lembaga profesion dan politik, dan akan membuat pemerintah
setempat akan juga cenderung kepada pandangan masyarakat
umum, sehingga urusannya akan diserahkan kepada jamaah yang
didukung oleh masyarakat. Jamaah dakwah kemudian menjadi
corong yang akan mengarahkan, berpengaruh dan menjadi pelaku,
bersatu dan bekerjasama dengan seluruh kelompok dan kalangan
masyarakat.

Jika pemerintah eksekutif menolak dan menekan keinginan


masyarakat, lalu menyakiti dan melakukan tekanan-tekanan dan
bantahan, maka hal itu merupakan bentuk kezaliman dan
penindasan terhadap kehendak rakyat. Saat itulah jamaah
130
Untuk menambah keterangan tentang hal ini, silakan lihat: Bab IX,
Pemerintahan Islam, yang merupakan bagian dari buku yang berjudul: Bagaimana
keberpihakan dengan pemerintah eksekutif.

104
berkewajipan melakukan penolakan terhadap tindak kezaliman
tersebut –yang bukannya tindak kezaliman pertama, namun ia
akan tetap bersabar-, ia akan melakukan pembelaan masyarakat
dan pilihannya terhadap manhaj Islam.

Imam Syahid berkata, “AKu berkata kepada orang-orang yang


bertanya, bahawa sesungguhnya Ikhwan akan menggunakan
kekuatan dimana tidak ada yang lain yang bermanfaat, dimana
mereka meyakini bahwa mereka telah menyempurnakan persiapan
iman dan persatuan. Dan ketika mereka menggunakan kekuatan
ini, maka mereka menjadi orang-orang mulia dan bebas serta akan
memberi memberikan peringatan lebih dulu, lalu menunggu untuk
kemudian datang dengan penuh kehormatan dan keperkasaan,
dan akan memikul seluruh akibat sikap-sikap mereka dengan
penuh keredaan dan kelapangan hati.”131

Beliau juga mengatakan, “Kami adalah penyeru kebenaran dan


kedamaian, kami meyakini dan bangga dengannya, jika kalian
menghadang dan menghalangi jalan dakwah kami, maka
sesungguhnya Allah telah mengizinkan kami untuk membela diri.
Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang jahat dan zalim.”132

Imam berkata, “Kami tidak akan berputus asa, dan sesungguhnya


kami memiliki cita-cita yang lebih agung di sisi Allah.”

   


   
 

Ertinya:

131
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.136
132
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal.136

105
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan
manusia tiada mengetahuinya. (Q.S Yusuf;21)133

• Prasarana pembentukan, tarbiyah untuk individu dan


masyarakat:

1. Proses persiapan untuk barisan ini serta tonggak- tonggak yang


disebut di atas tidak mungkin dapat diwujudkan dalam waktu
sehari semalam, namun memerlukan tarbiyah yang mendalam,
dan ia wajib mendapatkan tarbiyah yang mendalam,
pembentukan yang teliti agar sampai ke tahap keimanan yang
berhak mendapatkan kemenangan dari Allah, dan hendaknya
mampu mengembang beban berat dan tekanan-tekanan setelah
kemenangan.
2. Pembentukan ini tidak terpisah dari kenyataan dan gerakan –
hingga salah seorang mengaku bahawasanya hal itu dilakukan
dengan memencilkan diri-, padahal gerakan dakwah, interaksi dan
sikap positif dengan realiti merupakan bahagian asasi dari
dakwah. Bersama reality dan perjalanan gerakan ini maka akan
menciptakan kematangan Peribadi dan kedewasaan akhlak,
“Gerakan kami terikat dengan keyakinan kami, dan keyakinan
kami terikat dengan gerakan kami.”134
3. Penyucian dan pembentukan tonggak- tonggak ini adalah tugas
yang berkesinambungan. Ia tidak terhenti pada fasa tertentu atau
hingga berdirinya sebuah Negara –namun ia akan terus
berlanjutan selama keberlanjutan jamaah demi mewujudkan
tujuan yang lebih besar, hingga seluruh dunia dapat dikuasai, dan
hal itu merupakan target penting yang harus dipelihara.
4. Diperlukan interaksi dan kesinambungan antara tonggak- tonggak
yang baru lahir dengan tonggak- tonggak lama demi mewujudkan
kesinambungan, kesatuan dan persatuan. Dengan demikian maka

133
Risalah: P Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Semalam dan Hari ini), hal.110
134
Dari perkataan Imam Syahid Sayyid Quthb. Kami menyangkanya demikian dan kami
tidak mengganggap suci seseorang di atas kewenangan Allah.

106
kesinambungan generasi akan tetap terpelihara dan
terlaksananya pewarisan dakwah secara terus menerus dan
istiqamah sesuai manhaj tanpa ada penyimpangan. Pertumbuhan
saf dan interaksi antara tonggak- tonggak ini merupakan tugas
yang terus menerus dan tidak terputus, baik sebelum mahupun
setelah kemenangan.
5. Bahawa manhaj tarbiyah dan pembentukan dalam barisan dakwah
tidak dapat digantikan dengan yang lain, termasuk tonggak-
tonggak tersebut, hingga ia sampai pada tahap keimanan yang
diinginkan yang sedia menerima kemenangan, serta
terlaksanannya penyediaan umat menghadapi fasa ini. Maka pada
saat itu, Allah akan memberikan faktor-faktor yang akan
memberkati dalam setiap langkahnya sehingga berdirinya Negara.

Al Ustadz Musthafa Masyhur –semoga Allah merahmatinya-


berkata, “Perjalanan waktu dan hari telah membuktikan bahawa
perhatian terhadap tarbiyah akan mengekalkan keaslian gerakan
Islam, kesinambungan dan pertumbuhannya, hingga menyatunya
antara individu dan kesatuan saf, kerjasama dan produktiviti yang
diberkati. Sesungguhnya tarbiyah adalah peranan dasar yang
diinginkan dari kita dan untuk kita.”135

6. Permasalahan tidak hanya terhenti pada pembentukan individu,


namun harus pula dilakukan tarbiyah masyarakat dan
mencelupnya dengan celupan Islam serta menyatukannya dengan
pemikiran Islam, menjadikannya sebagai medium kemenangan
dakwah dan membuatnya bersedia mendirikan pemerintah Islam,
berkomunikasi dan berinteraksi dengannya, menjaga dan
melindunginya. Tanpa melakukan persiapan masyarakat dan
komunitinya yang beraneka ragam serta tanpa penyebaran
dakwah dan tiang- tiangnya di segenap tempat, jalan-jalan dan
perkampungan, maka sebenarnya urusan tersebut belum selesai.

135
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Al Ustadz Musthafa Masyhur, hal.39

107
Sesungguhnya Ikhwan bersabar dan menahan dirinya dari hanya
mengambil tugas dalam pemerintahan sementara jiwa-jiwa
masyarakat masih dalam keadaan demikian. Maka diperlukan
waktu untuk penyebaran dan mendominasinya prinsip-prinsip
Ikhwan, lalu masyarakat akan belajar bagaimana ia akhirnya lebih
mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan
Peribadi.”136

“Wahai Ikhwan, janganlah kalian tergesa-gesa, di hadapan kalian


masih terdapat waktu yang luas.”137

“Pencukupan dan penyebaran dakwah dengan menggunakan


pelbagai medium hingga ia difahami oleh masyarakat umum, lalu
memenangkannya dengan keyakinan dan keimanan.”138

“Sebarkanlah dakwah di setiap lokasi engkau berada, di kedai-


kedai, jalan-jalan, rumah-rumah, masjid-masjid, warung- warung,
tempat-tempat umum dan khusus, di perkampungan, dusun-
dusun, perkotaan, ibu kota, perusahaan-perusahaan, tempat
kerja, taman-taman, sekolah dan lain-lain.”139

“Buatlah kelompok-kelompok Ikhwan di setiap jalan, kelab- kelab


Al Quran di setiap pedalaman, panji-panji Muhammad di bandar,
dan di setiap penjuru bumi seorang Al Akh yang akan menyerukan
prinsip-prinsip dakwah dan ajaran-ajaran kalian, yang memberikan
kalimat-kalimat kalian dan berbaiat dengan baiat kalian.”140

7. Oleh sebab itu bangsa ini harus berusaha mewujudkan persatuan


dan kesatuannya, menjaga sumber-sumber kekuatan serta

136
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 138
137
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 263
138
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 212
139
Diantara nasehat Imam Syahid Hasan Al Banna kepada Ikhwan. Diambil dari buku
Imam Syahid, Fuad Al Hajarsy, Hal. 111.
140
Ibid

108
membantu dakwah dengan penuh pemahaman dan keyakinan.
Dan hendaknya ia disokong oleh individu-individu dan tokoh-tokoh
yang memiliki rasa cinta dan kesetiaan yang tinggi. Dilakukannya
pengubatan terhadap petanda- petanda negatif dan kelemahan,
membangunkan keinginan yang kuat, kesetiaan, pengorbanan
yang mulia, pengetahuan yang benar terhadap prinsip dan
meyakininya, berpegang teguh dan tegar di atasnya, serta
mewarnai diri dengan akhlak-akhlak yang mulia dan sifat-sifat
keberanian.”141

8. Dengan demikian maka proses pembinaan terhadap tonggak-


tonggak ini berjalan seimbang dengan amal dan aktiviti umum,
tarbiyah masyarakat, penyampaian dakwah, memperoleh
pendukung dari pelbagai lapangan. Lalu fasa-fasa ini akan berjalan
dengan proses pengenalan dan perkumpulan, pembinaan dan
persiapan, dengan amal dan pelaksanaan yang bersandarkan
pada garis dan petunjuk yang jelas.

Imam Syahid berkata, “Setiap dakwah harus memiliki tiga fasa:


Pertama, Fasa Ta’rif
Yakni fasa pengenalan dan penyebaran fikrah sehingga dia
mampu sampai kepada khalayak dari segala tingkat sosial.
Kedua, fasa Takwin (Pembentukan)
Pada fasa ini dilakukan pemiliha terhadap aktivis yang sudah
direkrut, mengkoordinasikan, dan mengumpulkan untuk
berinteraksi dengan objek dakwah.
Ketiga, Fasa tanfidz
Merupakan tahap pelaksanan amal menuju produktiviti kerja
dakwah yang optimum.

Kadang-kadang ketiga faae ini berjalan secara bersamaan, kerana


melihat pentingnya kesatuan dakwah dan saling keterkaitan

141
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), Hal.
45

109
antara ketiga fasa tersebut. Sering kali kita menjumpai seorang
da’I berdakwah, pada saat yang sama dia juga seorang murabbi
yang menyaring para aktivis yang ada di bawahnya, dan pada
saat yang bersamaan dia melakukan amal dan tanfidz
sekaligus.”142

9. “Namun tidak diragukan lagi bahawa tujuan akhir atau hasil


sempurna yang kita inginkan takkan terwujud kecuali setelah
melakukan perkumpulan umum, banyaknya pendukung dan
kukuhnya pembinaan.”

Namun, tidak dapat disangkal bahawa hasil akhir yang sempurna


itu tidak mungkin dirasakan kecuali setelah tersebarnya
pengenalan fikrah, banyaknya aktivis, dan kemapanan
143
Takwiniyah.”

10. Dan hendaknya kalian tidak disibukkan oleh orang lain tentang
tanggapan terhadap diri kalian, baik pujian mahupun celaan.
Imam Syahid berkata, “Kalian akan mendengar beberapa pihak
akan memperkatakan kalian. Jika pembicaraan tersebut
menyebut-nyebut kebaikan kalian maka bersyukur terhadap hal
itu dan jangan sampai kalian terpedaya dengan hakikat kalian,
namun jika mereka menyebut sebaliknya maka maafkanlah
mereka. tunggu hingga zaman mengungkap hakikat semuanya,
dan jangan membalas dosa dengan dosa yang serupa, serta
jangan menyibukkan diri untuk memikirkan komentar-komentar
tersebut sehingga memalingkan kalian dari pekerjaan yang telah
menjadi tugas kalian.”144

142
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 126
143
Ibid
144
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 263

110
“Yakinlah bahawa tak seorangpun yang dapat memalingkan kalian
dan takkan mencelakai kalian. Sabar dan bertakwalah kerana
sesungguhnya hal itu merupakan kewajipan.”145

Sebaik-baiknya jalan yang kita jalani adalah tidak membuat diri


kita sibuk memperhatikan orang lain dan tidak memperhatikan
diri kita. Kita sangat memerlukan persiapan yang banyak dan
penyatuan, banyak umat dan lapangan-lapangan dakwah yang
masih kosong yang sangat memerlukan jundi-jundi dakwah dan
perjuangan. Kita tidak memiliki banyak waktu untuk melihat dan
sibuk menguruskan orang lain.”146

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya jalan ini walaupun panjang


namun tidak ada jalan yang lain dalam membangunkan
kebangkitan dengan bangunan yang benar. Dan pengalaman
telah membuktikan teori ini.”147

Imam Syahid berkata, “Aku sampaikan kepada orang-orang yang


bersemangat di antara kalian agar bersabar menunggu putaran
zaman, dan aku sampaikan kepada orang-orang yang duduk di
antara kalian untuk bangkit dan bekerja, kerana sesungguhnya
jihad tidak mengenal istirahat.

  


 
   
 
Ertinya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) kami,
benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan

145
Ibid
146
Ibid
147
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
54

111
kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang
yang berbuat baik. (Q.S Al Ankabut: 69)

Dan aku mengajak untuk selalu maju ke depan.”148

Mursyid Am Ikwanul Muslimin, Al Ustadz Mahdi Akif berkata


kepada pemerintah dan organisasi-organisasi yang banyak
menghambat gerakan dakwah, “Dengan izin Allah tak seorang
pun yang mampu melumpuhkan dakwah Ikhwanul Muslimin,
kerana kami sangat memandang berat kemaslahatan negeri,
senantiasa menggunakan cara-cara hikmah dan prinsip
perdamaian dalam setiap aktivitinya, kami menjaga ibadah
kepada Allah di dalam umat dan di tengah kalian. Tidakkah kalian
berhenti dan menarik tangan kalian demi keinginan rakyat dan
berhenti demi keinginan mereka untuk perbaikan. Namun jika
kalian mengabaikannya, maka sesungguhnya Allah Swt. berada di
atas semuanya Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan
kami akan tetap berjalan di atas jalan kami dan kalian akan
menunggu hingga Allah membukakan kebenaran di antara kita
dan sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baiknya pembuka.
Waspadalah terhadap fitnah besar yang akan menimpa, dan demi
Allah kalian akan dipertanggungjawabkan semuanya di hadapan
Allah. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kami dan
kepada kalian. Ya Allah, sesungguhnya kami telah
menyampaikannya maka saksikanlah!”149

Beliau juga memberikan nasihat kepada Ikhwan dalam


menghadapi rintangan tersebut, “Hendaknya kalian bersabar di
atas jalan jihad dan pengorbanan, memikul tanggung jawab ini di
hadapan Allah dan di hadapan umat. Tidak ada lagi rasa malas,
takut, lemah dan goncang, namun harus diganti dengan
kesedaran, semangat, optimis dan keinginan yang kuat terhadap

148
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 153
149
Dari risalah Mursyid Am ‘Ikhwanul Muslimin; dakwah dan risalah, April 2005

112
kebenaran, pemerintah yang baik dan perbaikan yang dicita-
citakan.”150

Target-target Tarbiyah Masyarakat Sebagai Prasyarat Mendirikan


Negara:

Kami ingin menegaskan dan menyusun kembali hal ini dalam beberapa
perkara:
- Bahawa Persiapan dan tarbiyah yang diinginkan harus mencakup beberapa
hal berikut:
1. Tarbiyah dan pendidikan yang merupakan haknya, bagaimana dia
meminta, mendapatkan dan memeliharanya.
2. DIa mampu membezakan antara tokoh dan personality- personaliti
yang ikhlas dengan personality- personality yang buruk dan para
pemikul obsesi Peribadi, sehingga dia tidak terpedaya dengan slogan
dan simbol-simbol palsu.
3. Mendapat sibghah Islam dalam akhlak, ibadah, budi pekerti dan
muamalahnya, serta semakin bertambah kedekatannya dengan Al
Quran dan masjid.
4. Pemikiran yang cenderung terhadap syariat Islam
5. Belajar berkorban dan bersabar dalam memperjuangkan prinsip
yang diyakininya.
6. Selalu berada di sekeliling jamaah dan tokoh-tokohnya serta
membantunya dengan sepenuh pemahaman, keyakinan dan cinta,
interaktif dengan target-target jamaah dan mampu bekerjasama
dalam setiap projek perbaikan di masyarakat.
7. Ia yakin menjadi bagian dari umat Islam sehingga dia turut
merasakan masalahnya dan berupaya membantunya.

Sesungguhnya jamaah ini tidak terbatas gerakannya pada jumlah


komunitas muslim yang mayoritas, namun pengaruh dakwahnya
membentang ke seluruh lapisan masyarakat dan kelompok-kelompok
150
Ibid

113
minoritas. Hal ini tiada lain adalah demi mewujudkan perdamaian
social dan persatuan nasional yang merupakan bagian dari prinsip
dasar ajaran Islam.

Persiapan dan tarbiyah yang diinginkan untuk masyarakat inilah yang


akan menjadi jaminan utama yang dapat mencegah terjadi
penyimpangan penguasa atau kelompok manapun yang menguasai
pemerintahan yang berupaya melakukan penipuan dengan simbol-
simbol atau berusaha melenyapkan hak-hak, prinsip dan mendustai
keinginan masyarakat. Ia juga merupakan jaminan untuk keteguhan
pemerintah dan ketenangannya.

Sesungguhnya pendirian sebuah pemerintahan Islam di tengah umat –


dengan supremasi hukum yang sebenar-benarnya- tidak akan
mendapatkan sambutan baik dari kekuatan intelegen dan penjajah
Barat di dunia internasional, karena cepat atau lambat tujuan-tujuan
Islam akan berbenturan dengan ambisi dan obsesi-obsesi mereka,
yang takkan pernah bertemu dengan tujuan-tujuan Islam dan
kemaslahatan umat. Pemerintah Islam akan berhadapan dengan
tekanan luarbiasa, seperti embargo ekonomi dan politik, pembunuhan
karakter dan penciptaan keragu-raguan terhadap Islam, bahkan
sampai pada tahap tekanan dan perang fisik yang keras.

Dan hal ini akan memberikan implikasi kepada setiap individu


masyarakat, untuk itu mereka diminta untuk bersabar dan
memberikan pengorbanan serta ketegaran dalam menghadapi
pelbagai bentuk kesulitan. Mereka juga harus memiliki kewaspadaan
dan pengetahuan serta semakin meningkatkan perkumpulan dengan
pemerintah Islam, tokoh dan para pemimpinnya dengan penuh
keyakinan dan rasa cinta serta membelanya dalam menghadapi
konspirasi dalam dan luar negeri, memberikan pengorbanan dengan
sepenuh dirinya -sebagaimana seharusnya-. Seperti yang dikatakan
oleh Imam Syahid, “Terpenuhinya keinginan dan kemauan yang kuat
terhadap apa yang diyakini, tegar dan loyal terhadap janjinya, serta

114
pengorbanan dan kesabaran untuk memperjuangkannya walaupun
berat, terpenuhinya ilmu, kesadaran dan pengetahuan terhadap
prinsip dan jalan yang akan dilalui, maka ia takkan terpedaya dan
dipengaruhi oleh mobilisasi yang memiliki kepentingan tertentu,
menerima tawaran atau menyimpang dari prinsip dan keyakinannya.
Tanpa proses persiapan, tarbiyah masyarakat dan umat maka
ketentraman pemerintah Islam dan jaminan ketentramannya hanya
akan menjadi sesuatu yang diragukan terwujudnya ketika berhadapan
dengan musuh dan mendapat ancaman sejak hari pertama.

Imam Syahid menegaskan –di dalam beberapa tempat- tentang


kekuatan dakwah yang harus dimiliki demi mewujudkan target-target
dakwah di masyarakat, diantaranya:
1. Takaran keimanan terhadap dakwah dan target-targetnya
2. Beramal untuk menyebarkan dakwah dan menjelaskannya dengan
menggunakan pelbagai sarana serta prasarana untuk
menyampaikannya ke seluruh tempat dan pelosok, serta interaksi
yang baik terhadapnya.
3. Hendaknya kita menjadi model dan teladan yang baik terhadap
nilai-nilai yang kita serukan kepada manusia, serta berpegang
teguh kepada kitab Allah dan berusaha mengamalkannya.
4. Hendaknya kita berada dalam satu barisan yang saling bertaut,
dalam satu kesatuan, satu hati, satu tujuan, serta menjaga
kesatuan hati di masyarakat, kesatuan kalimat dan kesatuan umat.
5. Berkorban dan bersabar terhadap kendala dan rintangan yang
dihadapi serta meniatkannya sebagai perjuangan di jalan Allah,
mengikhlaskan diri hanya kepada Allah dan melepaskan diri dari
segala bentuk kesombongan dan keangkuhan.

Imam Syahid tidak menunggu fase pertama ini berakhir kemudian


memulai fase berikutnya, yaitu mendirikan pemerintah, khilafah dan
penguasaan dunia, namun sejak awal mula ketika melakukan
pembinaan individu dan masyarakat muslim, beliau telah berupaya
memuluskan terwujudnya tujuan-tujuan dakwah yang tinggi, ia telah

115
menanamkan benih-benih dan pilar-pilar dasar untuk tujuan-tujuan
tersebut sebagai prasarana dalam mewujudkan individu dan
masyarakat muslim, hingga akar-akarnya menyebar dan tumbuh
bersama dengan gerakan dakwah. Maka ketika tiba waktu untuk
mewujudkannya, pada saat itu ia telah mendirikan pilar-pilar dan
pondasi dasar dalam setiap individu dan masyarakat, dan secara
bertahap ia telah melakukan proses pembangunan dengan langkah-
langkah yang berkesinambungan dan dengan sarana-sarana yang
gradual.

Urgensi Strategi dan Evaluasi:


Imam Syahid menjelaskan tentang urgensi melakukan perhitungan
diri, mengevaluasi diri dan gerakan, baik secara personal maupun kolektif,
serta menyusun strategi yang baik untuk masa depan, mengambil langkah-
langkah praktis untuk menyelesaikan beberapa kekeliruan, menyingkirkan
kendala-kendala dan memperbaiki apa yang telah berlalu, segera melakukan
amal dan penyusunan strategi, dengan mempertimbangkan kondisi dan
perkembangan yang berlaku.

Imam Syahid juga menegaskan tentang urgensi miliu dalam


menyempurnakan amal-amal dakwah yakni, rasa cinta dan ukhuwah
(persaudaraan), ruh kepercayaan terhadap pemimpin, terhadap manhaj dan
tujuan, ruh keyakinan dan cita-cita terhadap bantuan dan kemenangan dari
Allah. Termasuk urgensi persiapan diri dan mental di dalam melakukan
evaluasi atau perhituangan terhadap strategi, baik berupa kejernihan hati,
toleransi, miliu saling menasehati dan saling memaafkan, niat yang benar,
keinginan yang kuat yang tak lemah di hadapan rintangan, yang tak goyah
menghadapi tekanan, dan yang tak gentar menghadapi rintangan dan
kesalahan.

Dan hendaknya seorang Al Akh tetap berpegang teguh kepada Allah –azza
wajalla-, menyandarkan diri hanya kepada-Nya dan meminta pertongan
kepada-Nya.

116
Imam Syahid berkata, “Hendaknya kita senantiasa mengevaluasi diri kita
terhadap masa lalu dan yang akan datang, sebelum datang masa
perhitungan, sesungguhnya ia benar-benar akan datang.

Terhadap masa lalu: maka hendaknya kita menyesali kesalahan diri,


menyingkirkan rintangan, meluruskan yang masih bengkok dan memperbaiki
yang telah berlalu. Masih ada peluang yang tersisa dan waktu yang lapang
untuk melakukan perbaikan.

Terhadap masa depan: Maka kita harus mempersiapkan bekal berupa, Hati
yang jernih, niat yang tulus, amal shalih, dan keinginan yang kuat untuk
berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Sesungguhnya seorang mukmin –selamanya- selalu berada dalam dua rasa


takut; antara sesuatu yang berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang
dilakukan Allah untuknya, antara sesuatu yang akan terjadi dan masih
tersisa, sementara ia tidak mengetahui apa yang ditakdirkan Allah
untuknya.”151

Al Ustadz Musthafa Masyhur –semoga Allah merahmatinya- berkata, “Secara


alami upaya untuk mewujudkan kekuasaan agama Allah di muka bumi akan
berjalan dengan pendirian khilafah Islamiyah sesuai dengan strategi yang
sangat cermat, dan tidak terjadi secara kebetulan atau secara reaksioner.
Target-target besar diurai dalam beberapa target-target secara bertahap,
dan dibuatnya langkah-langkah strategis pada setiap target pencapaian
dengan sarana-sarana yang dibutuhkan kemudian langkah-langkah untuk
merealisasikannya.

Dan untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan pencermatan terhadap kondisi


dan mengenal kemungkinan dan peluang-peluag yang ada serta menentukan
figur-figur yang akan melaksanakannya, menentukan waktu yang tepat
untuk melaksanakan dan melakukan spekulasi terhadap kemungkinan-
kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana cara menghadapinya,
151
Dikutip dari buku Al Masar, Al Ustdaz Ahmad Rasyid

117
‫إن ال يحب إذا عمل أحدكم عمل أن يتقنه‬
Artinya:
“Sesungguhnya Allah sangat menyukai seorang yang melakukan suatu
pekerjaan dan melakukannya dengan baik.”

Inovasi dan pembaharuan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan


dianjurkan oleh Islam demi meningkatkan metode kerja dan sarana
kehidupan.
‫إن ال كتب الحسان على كل شيء‬
Artinya:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan di dalam setiap urusan.”

Islam juga membuka pintu yang selebar-lebarnya untuk optimalisasi


amal:
‫الحكمة ضالة المؤمن أنى وجدها فهو أحق بها‬
Artinya:
“Hikmah adalah barang yang hilang seorang mukmin, dimanapun ia
mendapatkannya maka ia adalah orang yang paling berhak mengambilnya.”

Selama hal itu masih berada dalam koridor ajaran Islam dan adab-
adabnya,
‫من عمل عمل ليس عليه أمرنا فهو رد‬
Artinya:
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak kami
perintahkan, maka amalan tersebut ditolak.”

Dan hendaknya kita memahami ketika menjalankan peran dalam


merancang dan melakukan inovasi managerial di medan-medan dakwah
bahwasanya kita sedang berinteraksi dengan hati dan jiwa-jiwa manusia, dan
sesungguhnya urusan hati berada di tangan Allah. Sekali waktu kita
mendapatkan hati-hati yang mudah terbuka dan dan sebagiannya sulit, ini
semua bergantung dengan taufik dan pertolongan dari Allah. Terkadang Allah
menjadikan kebaikan yang melimpah di tangan seseorang dan terkadang
tidak bisa diwujudkan di tangan orang lain. Sesungguhnya segala urusan

118
berada di tangan Allah. Maka janganlah seseorang mengira bahwa rancangan
dan strategi kerja bertentangan dengan keyakinan bahwa segala urusan
berada di tangan Allah. Karena sesungguhnya Allah memerintahkan kita
untuk bekerja dan menggunakan segenap sebab-sebab, adapun hasilnya
diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Strategi dan perencanaan adalah
upaya menggunakan sebab-sebab, dan kita melakukannya dengan
bertawakkal kepada Allah. Dan tawakkal adalah kita menggunakan segenap
usaha dan tidak menggantungkan diri pada upaya semata dan menyerahkan
seluruh urusan hanya kepada Allah.”152

Ikhwan dan Manhaj-manhaj yang lain:


Dengan manhaj yang paripurna Ikhwan menolak dan bangkit dari
indikasi-indikasi kerusakan yang terdapat di beberapa individu dan gagasan
sejumlah tokoh dalam kebangkitan Islam:
a. Mereka menolak manhaj keputusasaan dan kegagalan yang diangkat
oleh sejumlah orang dengan alasan bahwa tidak terwujudnya
keberhasilan dan bertambahnya fenomena kebatilan.
b. Atau manhaj para pemimpin yang bodoh dan idealis dalam bekerja
dan berdakwah, mereka ingin memulai pekerjaan dengan sempurna
(perfect).

Dr. Yusuf Al Qaradlawy menggambarkan tipikal kelompok dengan


mengatakan, “Semua yang mereka miliki adalah lisan yang panjang
sementara lengan mereka pendek, kecerdasan dalam mengkritik namun
gagal dalam bekerja, memiliki semangat tinggi untuk menghancurkan namun
tak memiliki kemampuan membangun.”

Obsesi terbesar mereka adalah mencari-cari kesalahan dan kealpaan


para aktivis dakwah serta mengumpulkannya dari pelbagai arah, kemudian
melakukan sorotan dengan menggunakan kaca pembesar, sehingga sebiji
benih tampak seperti kubah dan semut tampak seperti gajah.

152
Risalah, Wudhuh Ru'yah, Musthafa Masyhur, hal.40,41

119
Kelompok dengan tipikal seperti ini tidak memberikan sedikitpun kata
maaf untuk para aktivis dan mereka biasanya tidak memiliki prasangka baik
dan tidak memaklumi kondisi-kondisi tertentu yang dihadapi para aktivis,
mereka tidak pernah menganggap bahwa dalam kondisi darurat tertentu
terdapat beberapa pengecualian hukum, hal itu karena mereka tidak
melakukan apa-apa. Kalian mendapatkan mereka seolah-olah tidak pernah
melakukan kesalahan, karena kesalahan sebenarnya adalah hasil dari
sebuah ijtihad. Mereka adalah saudara-saudara kita yang baik yang
terpedaya. Mereka terpedaya oleh angan-angan dan berharap kepada Allah
dengan angan-angan.”153

c. Ikhwan juga menolak manhaj Al Isti’jal (terburu-buru), Karena hal itu


bertentang dengan manhaj tarbiyah dan pembinaan. Bagi kelompok
ini yang terpenting adalah bekerja dan berjihad dengan segala bentuk
pekerjaan dan jihad tanpa ada koridor dan persiapan.
“Padahal lapangan perkataan bukanlah lapangan kerja”, tidak penting
apakah kita harus bekerja, yang paling utama adalah bagaimana kita
bekerja dengan baik dan berupaya untuk melakukan pekerjaan yang
paling baik. Adapun diantara bentuk ihsan dalam amal adalah kita
melakukan sesuatu dengan ilmu dan sesuai dengan tempatnya. Kita
tidak bekerja sebelum tiba waktunya dan kita tidak menunda
pekerjaan dari waktu yang telah ditetapkan. Dari hal ini kita
mengetahui hikmah mengapa Islam sangat memperhatikan
pengaturan waktu dalam shalat dan puasa.

Diantara bentuk ihsan dalam amal adalah mendahulukan suatu


pekerjaan yang harus didahulukan dan menunda pekerjaan yang harus
ditunda, serta menempatkan setiap pekerjaan sesuai dengan
kedudukan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Maka menjadi kewajiban bagi kita memahami bahwa bekerja untuk


dunia dengan menggunakan segala upaya dan kekuatan untuk

153
Makalah Tentang Kebangkitan Islam, Dr. Yusuf Al Qaradlawy, Majalah Al
Risalah, Ramadan 1422 H/Desember 2001, Vol. I

120
mewujudkannya merupakan bagian dari pengamalan agama. Jika kita
kehilangan dunia, maka kita takkan mendapatkan agama.

d. Dan diantara kelompok-kelompok ini adalah mereka yang hanya


melakukan aktivitas politik praktis dengan penuh ambisi dan
melupakan sisi-sisi lain yang jauh lebih penting, yakni memulai
dengan pembinaan, tarbiyah, serta aktivitas-aktivitas pemikiran dan
sosial. Padahal hal ini tak dapat dipisahkan dari aktivitas politik,
bahkan merupakan prasyarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Oleh karena itu maka dibutuhkan proses pembinaan mendasar secara


massif dan serius yang akan menyokong aktivitas politik Islam dan
mendorong lahirnya keinginan terhadap sebuah pemerintahan sesuai
dengan hukum Allah.

Sebagaimana dibutuhkannya pilar-pilar tarbiyah dan barisan yang


kokoh yang akan memimpin masyarakat untuk terjun ke dalam kancah
politik, dibutuhkan pula tarbiyah dan proses pembentukan sebuah
generasi muslim yang memiliki kesadaran terhadap agama dan
memahami dunianya, berakidah yang benar, ibadahnya sesuai
tuntunan, memiliki akhlak dan budi pekerti luhur, mampu membangun
dan memberi, memiliki kesholehan Pribadi dan masyarakat, seluruh
tipe-tipe tersebut merupakan prasyarat untuk menyukseskan aktivitas
politik.

e. Adapula kelompok yang hanya melihat kekuatan-kekuatan militer


sebagai obsesi yang paling besar untuk melenyapkan kebatilan.
Padahal ajaran Islam yang benar atau pembentukan pemerintahan
Islam di tengah masyarakat takkan dapat dilakukan dengan aksi-aksi
kekerasan.

f. Terdapat juga kelompok al Muntadzirun al Qa’idun (Yang menunggu


dan hanya duduk). Kelompok ini tidak melakukan apapun, tidak ada

121
dakwah dan gerakan. Dalam pandangan mereka tak perlu ada upaya-
upaya perbaikan di masyarakat kecuali setelah berdirinya Negara
Islam. Mereka menghentikan setiap aliran dan membekukan setiap
gerakan hingga berdirinya Negara Islam.154

Dr. Yusuf Al qaradlawy berkata tentang Imam Syahid Hasan Al Banna


ketika menggambarkan dakwahnya, “Beliau sangat memperhatikan
dengan sangat serius agar kader dan para pendukung dakwahnya
tidak hidup di dalam teori-teori semata, agar mereka tidak digilas oleh
perdebatan dalam gagasan, masalah-masalah furu’ (masalah-masalah
cabang), dan permasalahan khilaf yang tidak akan habis. Beliau sering
mengulang-ulang haidts Rasulullah Saw,

‫ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إل أوتوا الجدل‬


Artinya:
“Tidaklah tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan
petunjuk dariku, kecuali jika mereka melakukan perdebatan.”155

Oleh karena itu ia menjadikan al ‘Amal (bekerja) merupakan


salah satu rukun baiat, dan menjadikannya terbagi dalam beberapa
segmen, yang sebagian dilakukan oleh seorang Al Akh Muslim secara
pribadi dan sebagiannya dilakukan dalam kapasitasnya sebagai
anggota di jamaah, hingga beliau menamakan shaf-shaf kader dan
para pengusung dakwahnya dengan sebutan Al Ikhwan Al ‘Amilin
(Aktivis Ikhwan; atau ikhwan yang bekerja). Beliau memilih
menggunakan kalimat Al Amal dari kalimat-kalimat yang lain.”156

Ikhwan menolak manhaj kudeta dan revolusi serta model


manhaj memberontak terhadap pemerintah. Hal ini bukan manhaj
Ikhwan dan tidak sesuai dengan tipikal tarbiyah yang mereka lakukan

154
Makalah Tentang Kebangkitan Islam, Dr. Yusuf Al Qaradlawy, Majalah Al
Risalah, Ramadan 1422 H/Desember 2001, Vol. I
155
HR. Tarmidzi dari Abu Umamah, dan ia berkata Hadist Hasan.
156
Makalah Tentang Kebangkitan Islam, Dr. Yusuf Al Qaradlawy, Majalah Al
Risalah, Ramadan 1422 H/Desember 2001, Vol. I

122
terhadap umat dan masyarakat. Imam Syahid berkata, “Adapun
revolusi, maka Ikhwan Muslimin tidak pernah memikirkannya, tidak
bersandar padanya dan tidak meyakini manfaat dan hasilnya.”157

Sesungguhnya metode revolusi yang dilakukan dengan aksi


penggulingan pemerintah oleh sekelompok orang, walaupun dikuatkan
dengan propaganda besar namun tak mampu melakukan pembinaan
dan tarbiyah terhadap rakyat. Adapun klaim yang mengatakan bahwa
hal itu dapat dilakukan setelah revolusi, sebenarnya merupakan klaim
yang tidak realistis. Dasar yang mana yang akan diletakkan yang akan
dijadikan tempat pembinaan rakyat?

Karena sesungguhnya sebagaimana keberhasilan suatu


kelompok menguasai kursi pemerintahan maka suatu saat ia akan
digulingkan oleh kelompok yang lain. Bahkan hal ini akan mengarah
kepada kekuasan semu dan ambisi yang tinggi terhadap kursi
kekuasaan, dekonstruksi dan kekerasan. Dan pada akhirnya yang
terjadi adalah pergantian pemerintah dan individu-individunya tanpa
ada pembangunan yang nyata dan perbaikan yang signifikan. Upaya-
upaya revolusi walaupun diperkuat dengan slogan dan
propagandanya, tiada lain hanyalah usaha perbaikan parsial semata,
namun sesungguhnya realita membuktikan bahwa tidak ada
perbedaan antara kelompok revolusi dalam menguasai rakyat dengan
obsesi mereka merebut kekuasaan.

Cara-cara revolusi dan kekerasan terhadap masyarakat,


dekonstruksi dan meledaknya titik-titik tekanan, tersulutnya
permusuhan dan pemberontakan antar kelompok, semua ini hanya
akan melumpuhkan potensi umat dan masyarakat serta tidak
membangun apapun dan tidak menegakkan dakwah. Dan pada
gilirannya yang akan menggulingkan pemerintah dan menguasainya
adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan dan kekuatan paling
besar dalam menghadapi ombak dan persaingan.
157
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 136.

123
Sesungguhnya pengalaman masa lalu dan sekarang yang pahit
telah menegaskan kebenaran perspektif dan kedalaman pandangan
Ikhwan. Ikhwan juga menolak aksi-aksi kekerasan dan penumpahan
darah terhadap penduduk negeri apapun alasannya. Sejarah Ikhwan
membuktikan hal itu, adapun peristiwa dan krisis yang terjadi, hal itu
adalah persoalan-persoalan individu tertentu yang dengan hal itu
jamaah telah mengambil sikap yang tegas sebagai pengingkaran
terhadap hal tersebut; karena hal itu merupakan tindakan yang telah
keluar dari khitah dan manhaj Ikhwan, dan orang-orang yang
melakukan aksi-aksi tersebut bukan bagian dari Ikhwan dan bukan
termasuk kaum muslimin. Demikian sebagaimana penjelasan Imam
Syahid Hasan Al Banna.

Pemahaman Seputar Sarana-sarana Dakwah:


Target-target besar terbagi dalam beberapa target-target kecil,
yang kemudian menjadi sarana-sarana untuk mewujudkan target-
target besar. Demikian hingga kami sampai pada susunan target-
target dan tujuan yang paripurna serta sarana-sarana yang saling
terkait.

Jika menyebutkan beberapa sarana umum yang paling


mendasar, maka yang paling penting adalah sebagai berikut:
a. Menghidupkan simpati dan perasaan, menggerakkan hati dan
mengikatnya dengan Allah –azza wajalla- dan dengan Al Quran.
b. Tarbiyah yang serius terhadap individu muslim dan lingkungan
yang ada di sekitar kita.
c. Menyebarkan dakwah dengan hikmah dan dengan nasehat
kebaikan, memberikan pemahaman yang mendalam terhadap
Islam dan akhlak-akhlak Islami, serta mencari simpatisan dan
individu-individu yang akan mendukung dakwah di setiap tempat
dan organisasi.

124
d. Perjuangan konstitusi dan kegiatan-kegiatan di kelembagaan sosial
dengan pelbagai bentuk dan segmentasi.
e. Kegiatan-kegiatan perbaikan terhadap lembaga-lembaga sosial,
pembenahan dan pemilikan asset-aset kekuatan.

Sarana-sarana umum ini kemudian ditopang dengan sarana-


sarana lain dalam pelbagai corak serta dengan perangkat-perangkat
yang beraneka ragam yang membantu mewujudkan target-target
umum dan target-target tertentu. Hal ini sebagaimana yang dilakukan
dengan menggunakan program dan cara-cara yang beragam dan terus
dikembangkan sesuai dengan perkembangan kondisi dan kebutuhan
serta sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan dakwah.

Perangkat dan sarana-sarana ini bekerja dalam satu susunan,


yang tidak berbeda dan tidak bertentangan, yang berjalan dalam
langkah dan strategi dari satu tubuh dan satu kerangka –walaupun ia
memiliki banyak cabang dan satuan-, yang saling berhubungan dan
terkait satu sama lain dan berada di bawah satu kepemimpinan. Yang
di dalam setiap satuan-satuannya yang beraneka ragam, terwujudnya
sendi-sendi Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami),
dan takaful (saling menanggung beban), dalam koridor dan batas-
batas yang tertentu, serta spesialisasi dan tujuan-tujuan amal praktis.

Yang notabenenya menghimpun antara tugas personalia


dakwah dengan tugas-tugas kolektif, serta sangat memperhatikan
proses pembentukan dan tarbiyah individu kader dakwah. Jika terdapat
seorang Pribadi mukmin yang benar maka bersamanya terdapat
sebab-sebab kesuksesan.

Begitupula perhatian yang mendalam terhadap


keberlangsungan generasi dan penanaman nilai-nilai dakwah di dalam
jiwa. Sesungguhnya syariat Islam adalah pedoman, manhaj dan
rujukan dalam setiap urusan kita, dan untuk setiap sarana yang kita

125
miliki, yang kita dapatkan dari sirah para nabi dan Rasulullah Saw,
salaf Sholeh dalam perjuangan dan gerakan dakwah.

Kami menolak cara-cara kekerasan, dan penggunaan kekuatan


dan cara-cara teroris terhadap orang lain. Kami meyakini keharaman
darah, kehormatan dan harta, sebagaimana wasiat Rasulullah Saw.
kepada umat Islam, dan kami menolak segala bentuk upaya pelecehan
terhadap kehormatan tersebut dengan alasan dan hujjah apapun.

Imam Syahid berkata tentang penyebaran dakwah dan


pengumpulangan dukungan, “Adapun sarana untuk mewujudkan cita-
cita ini tidak dilakukan dengan uang, dan tidak pula menggunakan
kekuatan fisik. Dakwah yang benar adalah yang dilakukan dengan
mengetuk jiwa terlebih dahulu, membisikkan hati-hati manusia, dan
membuka tabir-tabir penutup jiawa. Mustahil dakwah ini akan eksis
jika mendahulukan pukulan cemeti atau lemparan anak panah.
Sesungguhnya, sarana untuk penanaman nilai dalam setiap seruan
dakwah –kiranya sudah dimaklumi dan dipahami, yang terangkum
dalam empat kata; Iman, amal, mahabbah dan ukhuwah.

Bukankah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam


menanamkan nilai-nilai dakwah kepada generasi pertama dari sahabat
beliau tidak lebih dari ajakan kepada keimanan dan amal? Kemudian
beliau Saw. berupaya menghimpun hati-hati mereka dalam naungan
mahabbah dan ukhuwah, sehingga menjelmalah kekuatan akidah
menjadi kekuatan wihdah. Jadilah jamaah mereka sebagai jamaah
percontohan, yang dengannya sudah pasti akan tegak agama Allah
dan dakwahnya menggema ke seluruh penjuru, meski ditentang oleh
seluruh penduduk bumi.”158

Kami juga menolak mengkafirkan manusia, dan berlaku ekstrim


terhadap mereka dengan pengingkaran dan ancaman, sehingga
mereka putus asa dan semakin terpuruk. Namun kami berupaya
158
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 240

126
menjadi qudwah, berbuat baik kepada mereka, dan melakukan
perbaikan secara bertahap, kami selalu berusaha menyatukan hati dan
persatuan umat, serta tidak menyulut kebencian dan permusuhan di
antara mereka.

Kami juga memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang yang


ada serta bantuan orang lain, bekerjasama dan melakukan koordinasi
dengan mereka, serta dengan setiap sukarelawan yang ikhlas yang
berjuang untuk kemaslahatan negeri.

Kami tidak tergesa-gesa mengharapkan hasil usaha, bersabar


dan tegar di hadapan setiap rintangan, serta elastis menggunakan
sarana-sarana yang ada.

Sesungguhnya lembaga dan wadah-wadah yang didirikan oleh


jamaah, seperti yayasan, club-club sosial dan olah raga, lembaga
sosial kemasyarakatan (LSM), yayasan ekonomi, partai politik dll,
adalah organisasi yang memiliki tatanan sarana yang tersusun rapi
dan perjuangan konstitusi, yang bekerja untuk kemaslahatan jamaah
atau merupakan bagian darinya, yang merupakan penyempurna dari
aktivitas dakwah. Tak peduli apapun nama dan gelarnya, dan tidak
disyaratkan pencantumam nama jamaah atau kalimat-kalimat Islami di
lembaga tersebut, karena intinya adalah kandungan program.
Lembaga-lembaga ini juga didirikan sesuai dengan undang-undang
dan aturan sosial yang berlaku di masyarakat, yang memiliki tujuan
dan sarana-sarana yang jelas, dan program-program yang
tersosialisasikan. Siapapun yang ingin bergabung, bekerja dan
membantu aktivitas tersebut sesuai dengan aturan dan ketentuan
yang berlaku, maka dakwah menyambut baik tawaran tersebut.

Termasuk tidak ada pertentangan antara posisi aktivis dakwah


dengan ikatan mereka terhadap jamaah, rujukan mereka terhadap
jamaah serta usaha-usaha mereka untuk mewujudkan tujuan-tujuan
dakwah secara keseluruhan. Rujukan ini harus jelas dan terperinci

127
serta tidak boleh keluar dari target dakwah atau melenceng dalam
prilaku dan aktivitasnya, atau terdapat pelanggaran undang-undang di
dalamnya.

Adapun lembaga-lembaga yang didirikan di masyarakat, dan


jamaah ikut berperan di dalamnya baik melalui para aktivis maupun
melalui proyek dan program-program yang mendukung jamaah, maka
hal itu merupakan salah satu sarana kerja-kerja sosial dakwah dalam
koridor dan lingkup perjuangan konstitusi yang terbuka untuk setiap
individu dan civitas di tengah masyarakat. Jamaah memiliki metode
tersendiri dalam memainkan peran ini, yaitu:
1. Tidak menimbun (harta atau kekayaan)
Jamaah justru melakukan kerjasama dan saling bantu dengan
orang lain, walaupun jumlah mereka mayoritas. Lembaga-lembaga
sosial dengan skala nasional bukan barang timbunan yang dimiliki
perseorangan. Diantara prinsip jamaah adalah saling membantu
dan bekerjasama dengan orang lain dalam setiap sesuatu yang
baik dan bermanfaat.
2. Keikutsertaan dan partisifasi dakwah dalam wadah-wadah dan
lembaga ini semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah Swt.,
dan tidak bermaksud mengambil keuntungan materi. Ia juga
senantiasa menjungjung tinggi ketentuan finansial dan undang-
undang yang berlaku.
3. Menghormati aturan dan undang-undang kerja yang berlaku di
setiap lembaga-lembaga tersebut serta tidak ikut campur dalam
urusan-urusan privasi lembaga –atau dalam satuan-satuan jamaah
yang lain-, kecuali hanya berupa nasehat kebaikan dan
mempersiapkan tenaga-tenaga profesional.
4. Terbuka dengan keberadaan dan gerakan kita, dalam dakwah dan
dan kalimat kita.
5. Prinsip partisipasi dalam sebuah lembaga adalah untuk melakukan
perbaikan; dimana diantara tujuan kami adalah melakukan
perbaikan di setiap lini kehidupan masyarakat, termasuk

128
menyampaikan dakwah kepada setiap kelompok masyarakat dan
institusinya. Yang tentunya tidak hanya menyampaikan teori-teori
melalui perkataan semata, namun dengan perbaikan, qudwah dan
pelaksanaan program-program Islami, sehingga masyarakat
memberikan kepercayaannya kepada para da’I dan penyeru
perbaikan. Hingga mereka mengenal dan mengetahui bahwa
manhaj Islam sangat komprehensif dan mencakup segala sesuatu,
serta cocok untuk setiap lini kehidupan.
6. Menerima kritikan dan selalu intropeksi diri, mengakui kesalahan
dan melakukan evaluasi, serta meminta kepada masyarakat untuk
membantu dan membenahi kesalahan-kesalahan kami. Kami juga
menghormati pandangan mereka dan mengalah untuk beberapa
keinginan mereka.

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan jamaah di beberapa lembaga


dan civitas merupakan bukti nyata kemajuan dan perbaikan yang
dilakukan Ikhwan, begitupula dengan proyek-proyek yang dihasilkannya,
penghormatan mereka terhadap undang-undang dan ketentuan
masyarakat. Kami bahkan mendapatkan bahwa pemerintah yang
berwenang dan orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang sakitlah yang
melakukan pelanggaran terhadap undang-undang dan menghalang-
halangi aktivitas lembaga-lembaga ini, menghentikan, menguasai dan
membekukannya.

Dalam beberapa waktu, dakwah terkadang harus menghadapi


tekanan, embargo dan penyiksaan di balik jeruji-jeruji penjara. Sebagian
mereka mungkin mengira bahwa hal itu akan melemahkan jamaah
sebagai akibat dari embargo terhadap aktivitas dan kegiatan-
kegiatannya, namun dakwah tetap berkembang pada masa-masa
tersebut dengan perkembangan yang luarbiasa yang semakin
menguatkan ruh dan semangat jihad, ketegaran, pengorbanan,
keterikatan dan kesatuan, yang kemudian menjadi titik tolak yang kuat.
Sesungguhnya kewajiban dakwah dalam fase ini adalah ketegaran dan
keteguhan. Jika suatu masa dakwah menghadapi tekanan dan embargo,

129
maka pada saat itulah ia akan berkembang, tumbuh dan menyebar ke
pelbagai penjuru.

Kotak Pemilu
Tentang kotak pemilu, kekuatan mayoritas di parlemen adalah
merupakan salah satu langkah-langkah penyempurna dan peran untuk
mendapatkan kecenderungan dan perlindungan pemerintah terhadap
masyarakat. Hal ini merupakan konsekueksi logis dari kekuatan dakwah
dan penyebarannya di setiap lini kehidupan, di setiap perkampungan,
kawasan dan jalan-jalan, namun bukan merupakan langkah satu-satunya
atau yang paling utama dalam melakukan proses perubahan di
masyarakat dan pemerintah Islam, dimana pondasi dasarnya adalah:
1. Pembangunan pilar dasar yang beriman dan memiliki kekokohan dan
kekuatan akidah, yang setiap komponennya saling bertautan satu
sama lain dengan jumlah dan kualitas yang sama, yang mampu
memenuhi setiap lapangan dan lembaga, setiap tempat dan
kawasan, perkampungan dan perkotaan, yang memiliki kekayaan
kemampuan dan sejumlah figur yang dibutuhkan.
2. Ia juga berdiri di atas pembinaan dan tarbiyah masyarakat, sehingga
tershibghah dengan nilai-nilai Islam dalam prilaku dan kebiasaannya
sehar-hari, dan condongnya opini publik terhadap, dan berkumpul di
sekitar jamaah dan figur-figurnya, serta mendukungnya dengan
penuh keyakinan dan rasa cinta.
3. Secara alami, jamaah akan menjadi kekuatan mayoritas dan
diperhitungkan di setiap lembaga pemilihan, diantaranya parlemen,
sehingga lembaga dan institusi-institusi masyarakat akan condong
kepada jamaah.

Namun jika semata-mata hanya mewujudkan suara mayoritas di


parlemen tanpa memenuhi sisi-sisi penting yang disebut di atas,
maka tidak akan mengarah kepada berdirinya pemerintahan Islam
sebagaimana yang diinginkan Ikhwan, hal itu justru semata hanya

130
mengantar kepada kursi kekuasaan di kementerian, yang hanya
mewujudkan beberapa langkah-langkah perbaikan yang parsial.

Sebagaimana mayoritas parlemen dapat diwujudkan dengan baiknya


pengaturan strategi dalam pemilu, atau besarnya kekuatan
dukungan dan kekuatan lobi, maka hal itupun tidak selamanya
merupakan indikasi terpenuhinya pembinaan dan penahapan yang
diinginkan di dalam jamaah dan masyarakat.

Oleh karena itu, jangan sampai kita terpedaya dengan hasil pemilu,
atau membuat kita tergesa-gesa melangkah, atau melakukan
lompatan-lompatan di atas fase-fase dakwah yang telah ditetapkan,
atau kita menjadikan kotak suara dalam pemilu adalah tujuan utama
dalam setiap langkah dan target-target kita.

Tentang Waktu yang diperlukan:


Sebuah target yang besar untuk mewujudkan kemenangan
dakwah, membutuhkan kebersinambungan generasi yang terus
menerus, serta masa yang tidak sedikit. Hal itu karena agungnya
tujuan dan besarnya bangunan dakwah yang kita inginkan, serta
dengan masih lemahnya capaian-capaian yang mampu kita
laksanakan dalam kurun waktu yang sangat panjang dikarenakan
kekeliruan dan penyimpangan hingga penyakit tersebut semakin
akut.
Maka besarnya tantangan dan tanggungjawab yang dihadapi
dakwah, hadir bersama keyakinan yang kuat terhadap pertolongan
dan kemenangan dari Allah.

Imam Syahid berkata, “Harus ada manhaj tertentu yang kita


inginkan, kemudian sekelompok orang yang bekerja dalam manhaj
tersebut, hingga terciptanya kesinambungan antar generasi dalam
menempuh jalan ini untuk sampai pada tujuannya.”159

159
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?

131
Imam Syahid pernah ditanya oleh seorang pemuda pada akhir
tahun 40-an, “Kapankah tiba waktu kemenangan yang dicita-
citakan?, beliau menjawab, “Kemenangan itu tidak terwujud pada
generasiku dan generasimu, namun akan terwujud pada generasi
yang akan datang –dengan izin Allah-.”

Imam Syahid menolak cara-cara yang gegabah atau lompatan-


lompatan di atas fase-fase dakwah yang telah ditetapkan, ia berkata,
“Wahai Ikhwanul Muslimin, terutama orang-orang yang bersemangat
dan tergesa-gesa diantara kalian, dengarkanlah seruan dariku yang
tinggi dan menggema dari atas mimbar ini di muktamar kalian yang
besar ini, bahwa sesungguhnya khitah perjalanan kalian telah
tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya
tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini dengan
sepenuh keyakinan, bahwa ia adalah jalan yang paling aman dan
selamat untuk sampai ke tujuan. Ya, jalan ini mungkin terasa
panjang, namun tidak ada jalan alternatif lain untuk sampai ke
tujuan. Sesungguhnya kejantanan dan keberanian akan teruji dengan
dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan dan kontiunitas amal.
Barangsiapa yang tergesa-gesa mendapatkan buahnya sebelum
matang atau memetik kembang sebelum waktunya maka saya tidak
mendukungnya sedikitpun.”160

Beliau juga berkata, “Dan kalian –wahai para wakil Ikhwan- mungkin
saja mampu mempersingkar masa itu, jika kalian benar-benar
membulatkan tekad dan mengerahkan semua potensi. Atau mungkin
kalian lengah, sehingga salah dalam perhitungan dan tidak sesuai
dengan hasil yang diprediksikan (diperkirakan). Oleh karena itu,
yakinlah pada diri kalian akan beratnya tugas, bentuklah segera
katibah dan kelompok-kelompok, pertajam kepahaman mereka
dengan materi-materi, bersegeralah untuk berkiprah (di lapangan),
sebarkah dakwah kalian ke medan-medan yang belum pernah

160
Risalah Pergerakan, Muktamar Ke V, hal.127

132
tersentuh oleh dakwah, dan jangan sesekali kalian sia-siakan waktu
meski hanya semenit tanpa diisi dengan amal.”161

Maka hal ini sangat tergantung kepada, kesungguhan dalam


beramal, pendirian bangunan, peningkatan marhalah, terpenuhinya
syarat-syarat, batasan-batasan, dan pengaruh yang tergantung
dengan segenap tujuan dan optimalisasi peluang.

Imam Syahid berkata, “Bahwa hasil akhir yang sempurna itu


tidak mungkin dirasakan kecuali setelah tersebarnya pengenalan
fikrah, banyaknya aktivis, dan soliditas Takwiniyah.”162

Ia juga berkata, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin memiliki


metode tertentu yang diikuti sebagai petunjuk jalan, yang mereka
gunakan sebagai timbangan diri dan mereka akan mengetahui
dimana mereka dari timbangan tersebut.”163

Imam Syahid berkata, “Setiap langkah ditempatkan pada waktu


yang tepat.”164

Ikhwan Setelah Berdirinya Negara


Sesungguhnya jamaah ini berdiri dan tetap eksis hingga
tercapainya seluruh target-targetnya yang besar, dan akan terus
menjaganya, namun pada saat itu ia tidak hanya berupa kelompok
tertentu saja. Setelah berdirinya Negara, maka tarbiyah Ikhwan akan
semakin luas dan membentang hingga mencakup seluruh lapisan
masyarakat dan umat Islam secara keseluruhan. Sehingga terjadi
pembaharuan dalam darahnya dan meluasnya pilar-pilar dasar serta
berkesinambungannya generasi, dengan kedalaman tarbiyah dan
keluasannya, serta ikatan pertautan antar individunya, yang

161
Ibid
162
Ibid, hal. 127
163
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, Hal. 36
164
Ibid

133
kemudian terwujudnya kekuatan bangunan dan kemampuan untuk
mewujudkan tujuan-tujuannya yang tinggi dan memeliharanya.

- Dakwah Ikhwan menerima keberadaan orang lain


walaupun memiliki perbedaan dengannya, dan menjaga
hak-hak mereka sebagaimana yang dianugerahkan Allah
berupa kebebasan yang mereka yakini.
- Dakwah Ikhwan tidak memonopoli ladang dakwah dan
tarbiyah di masyarakat, atau mengkhususkan hal itu pada
diri mereka. Medan dakwah terbuka luas untuk setiap
kekuatan dan golongan, baik muslim maupun nonmuslim
tanpa ada tekanan atau permusuhan. Mereka memiliki
hak yang sama, selama mereka masih berada dalam
norma yang diyakini masyarakat serta tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip Islam. Penyimpangan yang
dilakukan tidak diputuskan kecuali oleh peradilan yang
adil dan independent yang tidak tunduk kepada kekuatan
pemerintah yang berkuasa.
- Dakwah Ikhwan menghormati aspirasi umat dengan
sebenar-benarnya, dan itu merupakan salah satu rukun
pemerintahan Islam, yang menolak segala bentuk
pelecehan terhadap keinginan mereka, pemalsuan dan
penipuan.
- Dakwah Ikhwan menjunjung tinggi keinginan umat
walaupun berbeda dengan pandangan Ikhwan, maka
Ikhwan memilih mengalah dan berjalan beriring bersama
umat dengan cara yang bijak dan nasehat kepada
kebaikan.
- Pengalaman pahit yang telah dirasakan oleh negeri kami
yang tercinta dikarenakan oleh segelintir orang atau
kekuatan yang berupaya merusak pemerintah yang sah
hingga terjadi kehancuran, maka ini menguatkan bahwa
Islam dan tarbiyah umat merupakan jaminan yang hakiki

134
yang akan mencegah terjadinya kehancuran tersebut,
yang akan melindungi hak-hak umat, dan yang akan
mengawasi para pemimpin negeri. Hal ini sebagaimana
yang dilakukan umat Islam dalam mengawasi pemimpin
mereka Umar Bin Khattab –semoga Allah meridhainya-,
‫وال لو رأينا فيك اعوجاجا لقومناه بسيوفنا‬
Artinya:
“Demi Allah, kalau seandainya kami melihat
engkau melaksanakan kesalahan, maka kami akan
meluruskanmu dengan pedang-pedang kami.”165

Jihad adalah Jalan Dakwah

Imam Syahid menjelaskan makna jihad yang merupakan salah


rukun bai’at:

“Yang dimaksud dengan jihad adalah sebuah kewajiban yang


tetap hukumnya hingga hari kiamat. Ini merupakan kandungan dari
apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

‫ مات ميتة جاهلية‬:‫من مات ولم يغزو ولم ينو الغزو‬


Artinya:
“Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang atau
belum pernah berniat untuk berperang, ia mati dalam keadaan
jahiliyah.”

Peringkat pertama jihad adalah pengingkaran dengan hati, dan


peringkat terakhirnya adalah pernang di jalan Allah. Sedangkan antara
keduanya terdapat jihad dengan lisan, pena, tangan dan kata-kata
yang benar di hadapan penguasa yang zhalim.

“Tidaklah dakwah menjadi hidup, kecuali dengan jihad. Kadar


ketinggian dakwah dan keluasan bentangan ufuknya adalah penentu
165
Lihat kembali pembahasan ini dalam bab, Pemerintah Muslim.

135
bagi sejauhmana keagungan jihad di jalan-Nya dan sejauhmana pula
harga yang harus ditebus untuk mendukungnya. Sedangkan
keagungan pahalanya diberikan kepada para mujahid.

    


  
Artinya:
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya.” (Q.S Al Hajj:78)166

Jihad membutuhkan totalitas keikhlasan dan pengorbanan


tanpa batas:

Imam Syahid berkata, “Kami ingin mengatakan kepada kaum


kami, bahwa beban dakwah ini hanya bisa dipikul oleh mereka yang
telah memahami dan bersedia memberikan apa saja yang kelak
dituntut olehnya; baik waktu, kesehatan, harta bahkan darah.

    



 

  
 
 
 
 
   
  
166
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal.361

136
 
  
    
  

:Artinya
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(Q.S Al Taubah: 24)

“Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal


satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia
harus hidup bersama dakwah dan dakwahpun akan melebur
dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam
memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan
tertinggal bersama orang-orang yang duduk-duduk.”167

Imam Syahid menjelaskan tentang tingkatan jihad bahwa


hendaknya seorang muslim mengambil bagian dari perjuangan
suci ini. Beliau berkata dalam Risalah Pergerakan, Apakah Kita
Para Aktivis?:

“Apa yang mereka inginkan –dari diri mereka dan orang lain-
dari jihad di jalan Allah:

167
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal.16

137
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah munculnya emosi yang dinamis dan kuat, yang
mengaliri gelora cinta untuk meraih kembali kehormatan dan kejayaan
Islam; yang membisikkan gejolak rindu untuk menggapai kekuasaan
dan kekuatannya; yang menangisi duka lara dan meratapi nasib kaum
muslimin yang lemah.
- Sabagian dari makna jihad dalam Islam wahai
saudaraku tercinta, adalah menjadikan duka cita atas kondisi yang
mengitari itu sebagai pemicu dalam berpikir secara sungguh-sungguh
bagaimana mendapatkan jalan keluar; dalam merenung panjang dan
mendalam bagaimana memilih jalan-jalan amal dan cara-cara
penyelesaian.
- Sebagian dari makna jihad dalam Islam wahai
saudaraku tercinta, adalah anda menyisihkan dari sebagian waktu,
sebagian harta, sebagian tuntutan pribadimu untuk kebaikan Islam
dan putra-putri kaum muslimin.
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah anda memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah
yang mungkar, menaati Allah, mengikuti Rasul-Nya, mengamalkan
kitab-Nya, serta memberikan nasehat kepada para pemimpin Islam
dan masyarakatnya, dan engkau mengajak kepada agama Allah
dengan hikmah dan nesehat kebaikan.
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah anda mengingkari siapa saja yang mengingkari
agama-Nya, dan memutuskan siapa saja yang memusuhi Allah dan
Rasul-Nya. Hendaknya anda tidak menjalin hubungan apapun dengan
mereka, tidak ada interaksi, jamuan makan maupun jamuan minum.
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah anda menjadi prajurit Allah; anda melindungi agama-
Nya dengan jiwa dan harta anda. Untuk-Nya jangan sisakan milik anda
sedikitpun. Jika kejayaan dan kehormatan Islam terancam dan gema
kebangkitan diserukan, anda harus menjadi orang pertama kali

138
menyambut seruan itu dan menjadi orang yang pertama yang maju ke
medan jihad.
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah anda bekerja demi menegakkan timbangan keadilan,
melakukan perbaikan urusan seluruh makhluk, meluruskan tindak
kezaliman, dan mencegah tangan pelakunya seberapapun kekuatan
dan kekuasaannya.
- Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku
tercinta, adalah –jika anda tidak dapat melakukan itu semua-
hendaklah anda memberikan cinta anda kepada para mujahid dari
relung hati yang paling dalam dan memberikan masukan nasehat
kepada mereka dengan buah pikiran anda yang jernih. Dengan begitu,
Allah Swt. telah mencatat untuk anda pahala dan telah melepaskan
anda dari tanggung jawab. Janganlah sekali-kali anda menjadi orang
selainnya, sehingga hati anda akan dikunci dan dituntut dengan
sepedih-pedihnya siksa.

Demikian inilah sebagian dari tingkatan-tingkatan


jihad dalam Islam. lalu dimanakah posisi Ikhwanul
Muslimin di antara tingkatan-tingkatan ini?168

Imam Syahid menyimpulkan hal itu dengan


mengatakan, “Wahai kaum muslimin, beribadah
kepada tuhan, berjihad menegakkan agama dan
meninggikan-Nya adalah misi kalian dalam
kehidupan ini. Jika kalian melaksanakannya dengan
baik, niscaya kalian akan memperoleh
kemenangan. Tapi jika kalian hanya melaksanakan
sebagiannya atau bahkan melalaikan semuanya,
maka biarkahlah ku baca ayat berikut ini,

168
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 83

139
 
 
  
 
   
     
  
 

:Artinya
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya; tidak ada
Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.”
(Q.S Al Mukminun: 115-116)169

Sebagai wujud dari kepahaman terhadap makna


yang diisyaratkan oleh ayat di atas, para sahabat
Rasulullah Saw. –sebagai generasi pilihan Allah- tampil
dengan julukan, “layaknya rahib-rahib di malam hari, dan
penunggang kuda di siang hari.”

Imam Syahid menggambarkan jihad mereka sebagai


upaya untuk menguasai dunia dan melakukan perbaikan, beliau
berkata, “Wahai kaum muslimin, untuk itulah –setelah
Rasulullah Saw. kembali ke haribaan Allah- kaum muslimin
segera bertebaran di segenap penjuru bumi. Al Quran ada
dalam dada mereka, rumah-rumah mereka ibarat pelana-pelana
kuda, dan pedang-pedang mereka senantiasa terhunus dalam

169
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
43

140
genggaman. Dari lisan mereka mengalir deras hujjah-hujjah
yang terang, menyeru manusia kepada salah satu dari tiga
pilihan; Islam, Jizyah, atau perang. Siapa yang memilih Islam,
maka ia akan menjadi saudara kaum muslimin dengan
menyandang hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang
membayar jizyah –sementara ia tetap dalam kekafirannya-,
maka ia berada di bawah perlindungan dan perjanjian dengan
kaum muslimin, dimana kaum muslimin akan memenuhi janji
dan melaksanakan semua kewajibannya. Tapi bila ia tetap
enggan, maka kaum muslimin akan memerangi mereka sampai
Allah Swt. berkenan memenangkan hamba-hamba-Nya.”

Jadi mereka keluar dari rumah-rumah mereka bukan karena


ambisi kekuasaan, bukan pula untuk memburu harta dan
popularitas, apalagi karena nafsu imperialisme. Mereka keluar
semata-mata untuk menunaikan satu misi suci sebagaimana
telah diwasiatkan nabi mereka, Muhammad Saw. Sebuah
amanat yang mengharuskan mereka berjihad di jalan Allah Swt;

  
   
     
  
  
 
Artinya:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah[611]
dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah[612]. jika
mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah
Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Al Anfal: 39)170

170
Ibid, hal. 43, 44

141
Sesunguhnya ekspansi Islam merupakan upaya untuk
membangkitkan keimanan di dalam hati manusia dan untuk
meninggikan kalimat kebenaran di muka bumi, menghapus
kezhaliman. Jadi sebenarnya tidak ada panglima yang menang
dan musuh yang kalah, yang ada justru orang-orang yang
beriman dan menerima seruan agama Allah, sehingga
semuanya benar-benar menjadi saudara yang Saling mencintai
satu sama lain. Dengan demikian cairlah sudah fikrah kesukuan
dan kelompok di hadapan fikrah ukhuwah Islamiyah.171

Mereka berjuang dengan dakwah mereka untuk


melenyapkan seluruh bentuk penindasan, kerusakan dan fitnah
di muka bumi, agar manusia terbebas dan memilih –jika mereka
menginginkannya- masuk kedalam agama Allah, atau hidup
bernaung di bawah panjinya dengan penuh rasa aman dan
terlindungi dari setiap kezhaliman dan kesewenang-wenangan.

Imam Syahid berkata, “Dengan demikian seorang


pejuang muslim adalah juga seorang guru yang memiliki semua
sifat yang semestinya ada pada seorang guru; cahaya, hidayah,
rahmat dan kelembutan. Sehingga pembebasan Islam berarti
juga pembebasan peradaban, kemajuan, pengajaran dan
bimbingan kepada seluruh umat manusia. Samakah ini dengan
dominasi Barat sekarang, yang terwujud dalam bentuk
imperialisme dan penindasan?172

Imam Syahid menjawab orang-orang yang mencela kewajiban


jihad. Ia berkata, “Akan datang suatu masa dimana terdapat
sekelompok manusia yang mencela Islam karena kewajiban
jihad dan kewajiban berperang.”

171
Diantara kalimat Imam Syahid, dikutip dari buku Al Imam Syahih Hasan Al Banna
Pengusung Panji dakwah Abad 20, Al Ustad Fuad Al Hajarsy, hal. 176.
Lihat juga, Harian Afaq Arabiyah, 19 Nopember 1998 M, Edisi 284.
172
Risalah Pergerakan, Kepada Apa Kita Menyeru Manusia, hal. 35

142
Beliau menjelaskan dengan perkataannya, “Allah Swt telah
mewajibkan jihad kepada kaum muslimin bukan sebagai alat
permusuhan atau sarana bagi kepentingan Pribadi, tetapi
sebagai perlindungan bagi dakwah dan jaminan bagi
perdamaian, selain sebagai sarana untuk menunaikan misi
(risalah) agung yang dipikulkan di pundak kaum muslimin; misi
hidayah bagi manusia untuk menegakkan kebenaran dan
keadilan.173

Tentang makna jihad yang sempurna, urgensi


mempersiapkannya dan upaya untuk membangun rukun-
rukunnya di dalam jiwa serta patuh terhadap batasan dan
hukum-hukumnya, Mursyid ‘Am sebelumnya Musthafa Masyhur
menegaskan tentang kebutuhan umat terhadap persiapan jihad.
Beliau mengatakan,

“Kondisi alam hari ini –setelah seluruh kekuatan


kejahatan bersatu di bawah satu kepemimpinan, dan semakin
meningkatnya aksi-aksi kekerasan, ancaman, kezhaliman,
penangkapan, pembunuhan, dan pembantaian- menegaskan
kepada kita tentang urgensi untuk membangkitkan ruh jihad
Islam sebagai solusi tanpa harus mematikan eksistensi umat
dan peradaban Islam.”

Agar kita sampai ke tingkatan jihad dan perjuangan,


maka kita harus melakukan tarbiyah jiwa dengan tarbiyah yang
mendalam, mempersiapkannya agar tidak mengalami
kegoncangan ketika menghadapi musibah, agar ia tidak gentar
di hadapan kesulitan, itulah keteguhan dan ketabahan sehingga
hilang semua cobaan dan musibah dan Allah mengganti
kesulitan dengan kemudahan. Ia adalah harapan kepada Allah,
keyakinan dan menyandarkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu
maka kaum muslimin harus dipersiapkan untuk sabar dalam
173
Risalah Pergerakan, Jihad, hal. 424

143
kondisi berat dan sulit dan ketika menghadapi cobaan,
kesabaran menghadapi tipudaya musuh-musuh Allah,
kesabaran dalam jihad dan kepungan, ia adalah kesabaran yang
akan membuat umat Islam bangkit menjalankan kewajiban dan
tanggungjawabnya dengan penuh ketabahan, keyakinan dan
ketenangan yang stabil.

Imam Syahid Hasan Al Banna berkata, “Wahai Ikhwan,


berjuang menundukkan jiwa adalah kewajiban kita yang
pertama, maka berjihadlah menundukkan jiwa-jiwa kalian dan
giringlah ia menuju ajaran Islam dan hukum-hukumnya, serta
janganlah meremehkan apapun bentuknya. Penuhilah
kewajiban, lakukanlah ketaatan dan jauhilah dosa, bersihkan diri
kalian dari kemaksiatan, jadikan hati dan perasaan kalian
senantiasa berhubungan dengan Allah, Yang mempunyai
kekuasaan di langit dan di bumi, lawanlah kemalasan dan
kelemahan, arahkanlah keremajaan, emosi dan perasaan kalian
kepada kemuliaan, kesucian dan kejernihan, lawanlah bisikan
nafsu yang menyesatkan, jagalah waktu dan jangan
membuangnya pada sesuatu yang tidak bermanfaat, evaluasi
dirimu dengan evaluasi yang cermat, jangan sampai ada satu
detik waktu yang berlalu tanpa diisi dengan amalan yang baik
dan usaha yang berkah.”174

Imam Syahid berkata, “Kewajiban ini menunut adanya


jiwa yang dipenuhi keimanan dan hati yang luhur. Berusahalah
untuk senantiasa meneguhkan komitmen kalian dan
memurnikan hati kalian. Kewajiban ini menuntut –dan akan
selalu menuntut- kalian untuk terus berkorban dengan harta
dan kesungguhan. Bersiaplah dan singsingkanlah lengan baju
kalian. Sesungguhnya apa yang ada pada kalian akan pupus
habis, dan apa yang ada pada Allah akan kekal selamanya.

174
Dari perkataan Musthafa Masyhur, Dimana Hati Kaum Muslimin Terhadap
Penumpahan Darah Umat Islam?

144
Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum muslimin jiwa dan
harta benda mereka, dengan memberikan balasan berupa
surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.”175

Imam Syahid berkata tentang perdamaian,


“Sesungguhnya Islam sebagaimana ia mewajibkan perang, ia
juga sangat memperhatikan masalah perdamaian. Allah Swt.
berfirman:

  
  
   
  
  
:Artinya
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka
condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Q.S Al Anfal:61)
Seorang muslim, tatkala ia keluar untuk berjihad,
dibenaknya hanya ada satu pikiran; berjihad agar kalimat Allah
menjadi yang tertinggi. Agamanya pun melarang ia mencampuri
niat yang suci ini dengan maksud-maksud lain; demi pangkat,
demi ketenaran, demi harta, demi meraup ghanimah, atau demi
memenangkan peperangan tanpa peduli dengan kebenaran.
Semua itu haram baginya. Yang halal hanyalah satu urusan;
mempersembahkan darah dan nyawanya sebagai tebusan bagi
akidahnya dan demi menegakkan hidayah bagi seluruh umat
manusia.”176

175
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
45
176
Risalah: Al Jihad (Risalah Jihad), hal. 261

145
Jika jihad dalam Islam memiliki tujuan yang sangat mulia,
maka sarananya pun adalah sarana yang paling utama. Allah
Swt. mengharamkan permusuhan. Dia berfirman:

  


  
 
    
 

:Artinya
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang
memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,
Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas. (Q.S Al Baqarah: 190)

Allah Swt. juga memerintahkan untuk berlaku adil,


meskipun kepada musuh. Firman-Nya:

 
 
  
  
 
  
  
   
    
  
  

146
 
  
  
 
  
  
   
    
  

:Artinya
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-
orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah,
menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al
Maidah: 8)

Allah Swt. membimbing kaum muslimin mennuju kasih


saying yang paripurna. Mereka ketika berperang tidak
melampaui batas, tidak bertindak aniaya, tidak menyiksa tubuh
manusia, tidak mencuri, tidak merampok harta, tidak melukai
kehormatan, dan tidak membuat derita. Di kala perang, mereka
adalah sebaik-baiknya pasukan perang, dan di kala damai,
mereka adalah sebaik-baiknya pelaku perdamaian.177

177
Ibid. hal. 261

147
Jihad Islam dengan makna dan batasan-batasannya tidak
terpisah dari prinsip-prinsip perdamaian dalam agama Islam.
Mursyid ‘Am sebelumnya, Musthafa Masyhur mengatakan,
“Perdamaian merupakan salah satu prinsip dasar dalam Islam,
asas dan salah satu kewajiban dalam Islam. Hal ini sangat jelas
dan lebih jelas dari cahaya matahari, ia juga merupakan salah
satu bagian dari eksistensi kaum muslimin dan akidah mereka.
Umat Islam mencintai kehidupan dan mengajak manusia
kepadanya, memimpin mereka menuju satu tujuan yang
dengannya mereka diciptakan; hingga mereka mendapatkan
ketenangan dalam hidup dan berbahagia dengan menaati
Rabbnya.”

Kalimat perdamaian dan beberapa derivasi kalimatnya


disebutkan dalam Al Quran tidak kurang di 133 tempat,
sementara kalimat perang hanya disebut dalam Al Quran di 6
ayat saja.

Dan salah satu nama yang dimiliki Allah Swt. adalah As


Salam (Perdamaian), dan ucapan salam yang digunakan kaum
muslimin sebagai pemersatu hati dan pengikat hati individu-
individu masyarakatnya satu sama lain adalah As Salam.
Rasulullah Saw. bersabda:
‫أفشوا السلم وأطعموا الطعام وألينوا الكلم تدخلوا جنة ربكم بسلم‬

Artinya:
“Sebarkanlah salam dan berikan makanan, lembutkanlah
perkataan, maka kalian akan masuk surga Rabb kalian dengan
penuh kedamaian.”

Dalam hadits lain Rasulullah Saw. mengatakan:


‫إن ال جعل السلم تحية لمنتا وأمانا لهل ذمتنا‬

Artinya:

148
“Sesungguhnya Allah menjadikan As Salam sebagai
ucapan salam untuk umat kami dan menjadi rasa aman bagi
ahli dzimmah kami (nonmuslim).”178

Seorang muslim juga diwajibkan –sewaktu berdoa kepada


Rabbnya- untuk menyampaikan salam (doa keselamatan)
kepada Rasulullah Saw., kepada dirinya dan kepada hamba-
hamba Allah yang shalih.

Seorang muslim tidak menjadikan perang sebagai obsesi


yang sebenarnya, ia bahkan tidak diizinkan berperang kecuali
dengan tujuan yang sangat mulia dari perdamaian dan
ketenangan. Perdamaian adalah tujuan mulia dalam Islam,
namun perdamaian tanpa ada penindasan di dalamnya, tanpa
kezhaliman, kelaliman dan persengketaan. Adapun ketika terjadi
kelaliman dan permusuhan terhadap sendi-sendi kemanusiaan,
seperti kebebasan memeluk agama dan beribadah, atau
kelaliman terhadap hak dan kewajiban-kewajiban umum, maka
pada saat itu Islam tidak meridai perdamaian yang berdiri di
atas permusuhan.

Allah Swt berfirman:

 
  
    
   
   
 
 
 
178
HR. Thabrani

149
   
   
  
   
  
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung
halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena
mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya
Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan
sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara
Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan
masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi
Maha Perkasa.” (Q.S Al Hajj: 40)
Perang dalam Islam bukan hawa nafsu kaum muslimin,
bukan pula kemuliaan perang yang menjadi obsesi umat Islam,
bukan upaya untuk mengalahkan orang lain dengan tujuan dan
target tertentu. Justru terwujudnya kebaikan dan keadilan itulah
tujuan perang yang sesungguhnya dalam Islam. Firman Allah:

 
  
 
 

  
   
  

150
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan.” (Q.S Al Hajj: 41)

Agama Islam adalah rahmat yang luas hingga kepada


hewan. Islam telah lebih dahulu memberikan kasih terhadap
hewan sejak 14 abad yang lalu. Ia menjadikan perlakukan baik
terhadap hewan adalah sebagian dari sendi keimanan, dan
mengancam perlakukan buruk terhadapnya dengan siksaan dan
balasan yang pedih.

Inilah Islam yang menganugerahkan kepada umatnya


sumber dan sebab-sebab kekuatan, kemampuan menghadapi
tantangan, jaminan keadilan, persamaan, kedamaian dan
kebebasan, kemampuan mencipta, kesiapan berkorban dan
perhatian terhadap upaya-upaya kebaikan untuk
kemanusiaan.”179

Makna Al Nashr (Kemenangan) dan Bentuknya yang


Variatif

Tentang makna Al Nashr (Kemenangan) dengan bentuk-


bentuknya yang variatif, Al Ustadz Musthafa Masyhur berkata,
“Ketika kalimat Allah meninggi dimuka bumi dan musuh-musuh
Allah gagal memalingkan kita dari tugas atau membelokkan kita
dari keyakinan kita, ketika orang-orang bathil merasa bosan
menyerukan kebatilannya, maka ketika itulah kita mengingat
kemenangan, kemenangan yang diberikan kepada Rasulullah
Saw. dan sahabatnya sewaktu mereka berada di goa Tsaur,

179
Dari perkataan Al Ustadz Musthafa Masyhur, Tipuan dan celaan terhadap Islam
dan pemeluknya

151
ketika beliau Saw. keluar tanpa teman seorangpun selain As
Shiddiq (Abu Bakar As Shiddiq), tanpa ada bala tentara dan
tanpa perbekalan, sementara musuh-musuhnya banyak,
kekuatan mereka jauh berada di atas kekuatannya, ia tidak
memiliki kekuatan materi apapun, bersama sahabatnya
Rasulullah Saw. benar-benar tidak memiliki kekuatan, kendati
demikian kemenangan itu akhirnya terwujud.

Allah Swt. berfirman:

  


  
 
 
   
  
  
   
   
 
  
  
  
  
  
  
Artinya:
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka
Sesungguhnya Allah Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-

152
orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah)
sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya
berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya:
"Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta
kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu
tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir
Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi. Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[643]. (Q.S Al Taubah:40)

Ia adalah kemenangan yang diberikan Allah kepada


seorang Ghulam Abdullah bin Tsamir ketika suatu hari ia
meminta kepada penguasa zhalim untuk dipanah di hadapan
manusia dengan syarat menyebut nama yang sangat dibenci
oleh penguasa zhalim tersebut agar ia dapat membunuhnya;
Penguasa tersebut akhirnya dapat membunuh ghulam tersebut
setelah menyebut nama Tuhannya sementara ia sangat
membenci nama itu. Walaupun ghulam itu mati, namun manusia
yang menyaksikan pemandangan itu serta merta mengimani
Tuhan yang diyakini ghulam dan mereka menyerukan bahwa
kalimat Allah adalah yang tertinggi.

Kemudian kemenangan itu kembali terulang kepada


Ashabul Ukhdud, ketika api keimanan melawan fitnah, ketika
keyakinan mengalahkan kehidupan, ketika para penguasa lalim
kelelahan menghadapi jiwa-jiwa yang beriman sementara
mereka menguasai jasad-jasad mereka. sesungguhnya itu
adalah kemenangan tanpa kekuasaan. Namun kemudian Allah
memberikan kemenangan dengan kekuasaan.

Firman Allah:

  


 

153
 
 
  
  
  
  
 
 
   
 
   
   
 
  
  
 

 
  
  
 
 
 
 
   

154
 
   
   
 
 
Artinya:
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh
bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka
berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk
mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka
Itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S Al Nur: 55)

 
  
 
 

 
   
  
Artinya:

155
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan.” (Q.S Al Hajj: 41)

Akan datang suatu hari di mana khilafah Islam berdiri,


saat itu panji-panji kebenaran ditinggikan dan keadilan merata
ke seluruh negeri, dan kedamaian tersebar di bumi.”180

Bab III

Pemahaman Tarbiyah
Dalam Proses Pembinaan

Pemahaman Tarbiyah Dalam Proses Pembinaan

Gambaran-gambaran Pembinaan Tarbawi dan Ciri-cirinya:


Pembinaan tarbawi dilakukan dengan dua rukun yang mendasar, yaitu:
a. Melaksanakan Tarbiyah terhadap setiap individu,
“Melakukan pembinaan diri adalah kewajiban kita yang
pertama.”
b. Komitmen terhadap tarbiyah kolektif yang diberikan jamaah,
manhaj dan dari ikatan yang menyatukannya dengan asas
Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami),
Takaful (Saling melengkapi).

180
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Ustadz Musthafa Masyhur, hal. 46

156
Imam Syahid menyebut orang-orang yang komitmen terhadap
Kewajiban seorang Aktivis dan melaksakannya dengan sebutan, Al
Ikhwan Al Shadiqin (Ikhwan Yang Benar).

Beliau berkata, “Wahai umat Islam sekarang adalah masa pembinaan,


maka binalah diri kalian dengan demikian kalian telah membina umat.
Sesungguhnya kewajiban ini membutuhkan jiwa-jiwa yang mukmin
dan hati-hati yang selamat.”181

Dalam proses pembinaan personal, Imam Syahid sangat


memperhatikan beberapa sisi berikut:
1. Urgensi membangkitkan keimanan, memperbaharui jiwa,
kekuatan hati dan perasaan sebagai dasar untuk maju dan eksis:
Beliau berkata, “Maka yang pertama yang kami inginkan adalah
terbangunnya jiwa-jiwa yang hidup, kuat, dan tangguh. Kami
menginginkan hati-hati yang segar, dan memiliki semangat yang
berkobar, jiwa-jiwa yang optimis, membara, yang penuh cita-cita
dan bervitalitas tinggi.”182

Ia juga berkata, “Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan


Islam dan keindahan Al Quran, serta latihlah ia menjadi prajurit di
bawah bendera dan panji Nabi Muhammad.”183

2. Urgensi Pemahaman Yang Komprehensif Terhadap Dakwah:


Maka Imam Syahid menetapkan 20 prinsip dasar, diantara adalah
Al Fahm (Paham atau pemahaman) sebagai salah satu rukun
dasar dari rukun baiat.184

Dengan demikian sangat jelas bahwa Imam Syahid memberikan


perhatian yang sangat besar terhadap rukun Al Fahm bagi
181
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
44
182
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), Hal. 233
183
Risalah, Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), Hal. 197
184
Lihat Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 356:359

157
seorang al Akh. Beliau juga menjelaskan tentang batasan-batasan
dan prinsip-prinsip dasar yang menjadi pijakan dalam rukun ini di
dalam Al Ushul Al Isyrin yang bersumber dari dari Al Quran dan Al
Sunnah.185

Imam Syahid juga menjelaskan hal ini dengan mengatakan,


“Dakwah kami adalah dakwah Islamiyah dengan segala makna
yang tercakup dalam kata itu. Pahamilah apa saja yang anda
ingin anda pahami dari kata itu dengan tetap berpedoman pada
kitab Allah, Sunnah Rasulullah Saw. dan salafus soleh (jalan hidup
pendahulu yang shalih) dari kaum muslimin. Kitab Allah adalah
adalah sumber dasar ajaran Islam, sunnah Rasulullah Saw. adalah
penjelas dari kitab tersebut, sedang sirah kaum salaf adalah
contoh aplikatif dari perintah Allah dan ajaran Islam.”186

3. Urgensi Loyalitas yang paripurna terhadap dakwah dan


keikhlasan.
“Dakwah ini tidak menerima perserikatan.”

4. Kewajiban bekerja untuk kepentingan dakwah dan berkorban di


jalannya.
Dan hal ini tentunya tidak hanya sebatas perkataan dan slogan.
Imam Syahid berkata, “Bahwa beban dakwah ini hanya bisa
dipikul oleh mereka yang telah memahami dan bersedia
memberikan apa saja yang kelak dituntut olehnya; baik waktu,
kesehatan, harta bahkan darah.”187

Kemudian beliau menjadikan al ‘Amal terdiri dari 7 tingkatan,


yang dimulai dengan memperbaiki diri sendiri hingga
kepemimpinan dunia.
185
Imam Syahid mengkhususkan rukun Al Fahm sebagai salah satu dari 20 Prinsip
Dasar Ikhwan. Sebenarnya ia bukan ushul dalam Islam, ia hanya merupakan
pembatasan makna pemahaman yang benar bagi seorang muslim, yang merupakan
bagian dari manhaj dan makna Islam itu sendiri.
186
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 17
187
Ibid. hal. 16

158
5. Urgensi Pemusatan dan Tidak melakukan lompatan
“Oleh karena itu maka perlu dilakukan pembatasan, dan
hendaknya seluruh jiwa dan perasaan dikumpulkan, harus ada
pemusatan hingga ia benar-benar menjadi keyakinan yang kokoh
yang tidak goyak oleh keraguan dan kebimbangan. Tanpa
pemusatan perhatian dan pembatasan sasaran, nasib
kebangkitan umat hanya akan seperti lilin kecil di tengah gulita
sahara. Nyalanya akan terasa redup, lemah dan tidak
188
bertenaga.”

Proses pembinaan ini sangat memperhatian gradualitas dan


prioritas dalam pembentukan. Ia mempersiapkan lingkungan dan
iklim yang cocok untuk pembinaan ini, dan akan menggunakan
pelbagai sarana tarbawi untuk mewujudkan target-target
tarbiyah, serta melihat seseorang dengan pandangan yang
menyeluruh.

6. Urgensi Kesatuan Barisan dan Ikatan


Imam Syahid berkata, “Yakinlah kepada fikrah kalian, dan
berkumpullah di sekelilingnya, bekerjalah untuknya dan teguhlah
di atas jalannya.”189

“Wahai Ikhwan, Persatuan dan ikatan kalian adalah senjata


utama, ia adalah senjata yang paling ampuh yang kalian miliki,
maka jagalah persatuan itu, senantiasalah berada dalam barisan
jamaah, jangan kalian berselisih dengan saudara-saudara kalian
dalam sebuah permasalahan, jangan sampai kalian terpisah
dikarenakan urusan-urusan yang sepele dan oleh kebimbangan
yang mematikan.”190

188
Risalah, Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 233
189
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), Hal. 108
190
Nasehat Imam Syahid Hasan Al Banna kepada Ikhwan, dari buku Al Imam Syahid,
Fuad Al Hajarsy, hal. 111

159
Termasuk urgensi kondisi yang mendukung di dalam shaf jamaah
di setiap jenjangnya, baik berupa iklim cinta, interaksi, saling
nasehat-menasehati, saling memaafkan, kelapangan hati,
kebersihan jiwa, iklim saling percaya dengan seluruh maknanya,
keterbukaan dan keterusterangan antar individu. Jika iklim ini
dinodai oleh sebuah kerusakan, maka hal itu akan memberikan
dampak langsung kepada jamaah, dan setiap program dan sarana
yang digunakan tidak akan memberikan hasil apapun, bahkan
semua pengarahan tidak akan bermanfaat apa-apa, sehingga
tumbuh di dalamnya celah-celah keretakan, perseteruan dan
permasalahan. Semoga Allah melindungi kita dari semua itu.

7. Urgensi Membangkitkan Ruh Optimis dan Keyakinan kepada


Pertolongan dan Kemenangan dari Allah untuk dakwah.
Imam Syahid berkata, “Dengan berbekal tiga keyakinan; yakni
beriman kepada kebenaran risalah, bangga dalam memeluknya,
dan optimis dengan akan datangnya pertolongan Allah, -maka
Rasulullah Saw. telah berhasil menghidupkan –dengan izin Allah-
iman dalam hati dan jiwa kaum muslimin dari generasi pertama
para sahabat. Maka kepada tiga keyakinan ini kami mengajak
manusia.”191

8. Teguh Di atas Jalan Dakwah


Imam Syahid menegaskan, “Kemauan yang keras yang tak
tersentuh oleh kelemahan, kesetiaan yang kuat yang tak dikotori
oleh kepura-puraan dan pengkhianatan, pengorbanan besar yang
tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan, dengan
pengetahuan terhadap dasar perjuangan, keyakinan dan
penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari
kesalahan dan penyimpangan, atau tertipu dengan yang lain.”192

191
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 235
192
Risalah Pergerakan, Kepada Apa Kami Menyeru Manusia, hal. 45

160
Ujian, cobaan dan kesabaran dalam mengarungi pahit getir jalan
dakwah merupakan wadah yang akan menyaring, menyepuh dan
mengokohkan pembinaan ini.

Hendaknya ia seorang kader dakwah tabah menjalani ujian ini,


bertahan menghadapi proses tarbiyah dan pembinaannya dengan
penuh kesabaran dan keridhaan, sebagaimana yang disebutkan
oleh Imam Syahid di dalam Risalah Ta’alim. Menjalaninya dengan
penuh keyakinan dan selalu ingat target besar yang hendak
diwujudkan.

9. Urgensi Ikhlas
Imam Syahid berkata, “Ia berbuat dengan seluruh perkataan dan
perbuatan hanya mengharap keridaan Allah, tidak melihat pada
ghanimah yang akan didapatkan, popularitas, dan gelar,
hendaknya ia benar-benar menjadi jundi dakwah baik akidah
maupun fikrah.

Imam Syahid juga berkata, “Dan kita -al hamdulillah- berlepas diri
dari ambisi-ambisi dan jauh dari kepentingan Pribadi. Kita tidak
menginginkan kecuali keridhaan Allah dan kemaslahatan
manusia. Kita tidak akan beramal kecuali hanya ingin meraih
ridha-Nya. Kita menantikan pertolongan dan kemenangan hanya
dari Allah. Barangsiapa yang dimenangkan oleh-Nya, maka tak
seorangpun yang bisa mengalahkannya.

   


  
  
 
:Artinya
“Yang demikian itu Karena Sesungguhnya Allah
adalah pelindung orang-orang yang beriman dan

161
Karena Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak
mempunyai Pelindung.” (Q.S Muhammad: 11)193

“Jika seandainya diantara kalian ada seseorang yang


memiliki hati yang sakit, kehilangan orientasi hidup,
kehilangan obsesi, dan luka masa lalu maka
keluarkanlah ia dari sisi kalian, karena ia menjadi
penghalang turunnya rahmat dan menjadi hijab
turunnya pertolongan Allah.”

10. Urgensi Akidah dan Aktivitas Hati


Imam Syahid berkata, “Akidah adalah pondasi
aktivitas, dan aktivitas hati lebih penting daripada
aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan
keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun
dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda.”194

11. Urgensi Rukun-rukun Bai’at


10 rukun baiat yang ditetapkan oleh Imam Syahid
merupakan prinsip dasar dalam proses pembinaan
peserta tarbiyah, serta yang akan menangkalnya dari
penyimpangan, perubahan dan kelemahan, yaitu;
Fahm (pemahaman), Ikhlas, Amal (aktivitas), Jihad,
Tadhiyah (pengorbanan, Taat (kepatuhan), Tsabat
(keteguhan), Tajarrud (kemurnian), Ukhuwah dan
195
Tsiqah (kepercayaan).”
12. Ia adalah perubahan yang mendalam, paripurna dan
integral.
Perubahan dan pembinaan individu ini tidak hanya
berupa perubahan bentuk atau reaksi perasaan
semata, atau keahlian dan semangat dalam gerak dan

193
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 109
194
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 393
195
Ibid

162
pelaksanaan, namun ia adalah perubahan yang
mendalam dan integral terhadap diri seseorang, baik
pemahaman dan keyakinan, prilaku dan amal, dalam
dakwah dan ibadah, begitupula di dalam penampilan,
gerakan dan tindakan.

13. Realitas pengalaman


Bahwa dalam mewujudkan kesuksesan, ia tidak
bergantung semata-semata hanya kepada
pengetahuan, membaca, atau perubahan yang
bersifat fisik, namun merupakan perubahan
berdasarkan realitas pengalaman. Dr. Yusuf Al
qaradlway menjelaskan hal ini dengan mengatakan,
“Kita harus mengubah perhatian kita menuju anasir
inti dan ruh sebagai ganti perhatian kita terhadap sisi
fisik semata. Barangsiapa yang kehilangan tauhid dan
keyakinan, ikhlas dalam beribadah, jujur dalam
mu’amalah, sifat kasih, adil, itqan dalam bekerja,
ketinggian cita rasa dalam sastra, ukhuwah dalam
hubungan, maka sesungguhnya ia telah kehilangan
inti ajaran Islam, walaupun ia berpegang teguh
dengan bentuk dan fisik.

Beliau juga berkata, “Kebanyakan orang merasa


bangga bahwa mereka menjaga dan memperhatikan
sunnah Rasulullah Saw., namun sesungguhnya
mereka lebih menjaga sunnah secara simbiolis
ketimbang menjaganya secara esensial. Memang baik
menjaga sunnah secara simbiolis dan penampilan fisik
seperti memanjangkan jenggot dan meninggikan
pakaianmu di atas mata kaki dll, namun tidak baik jika
menjadikan hal ini segalanya dalam agama, seolah-
olah hal itu merupakan bagian dari rukun iman atau
prinsip-prinsip dasar Islam dan Ihsan. Dan juga tidak

163
baik jika anda mengklaim setiap orang yang tidak
memelihara sunnah secara simbiolis dengan iman
yang rapuh, iman yang lemah, atau mengikuti jalan
orang-orang nonmuslim.”

Padahal hal ini merupakan (tahsinat) kebaikan yang


sangat dianjurkan namun bukan merupakan
(daruriyat) kewajiban, dan bukan merupakan (hajiyat)
kebutuhan sebagaimana yang dijelaskan oleh para
ahli fiqih dan ushul.”196

14. Keseimbangan dan Integralitas antara Harakah dan


Pembinaan.
Pembinaan tarbawi tidak terbentuk jauh dari realitas
kehidupan atau terkurung dalam bilik-bilik penyepian,
namun ia senantiasa diwarnai dengan harakah
(gerakan), aktivitas dan interaksi dengan masyarakat,
serta gerakan dengan target-target dakwah yang
merupakan sarana pertumbuhan dan perkembangan
dalam proses tarbiyah.

Pembagian amal dan pembinaan dalam dua tahap;


tahapan gerakan di masyarakat dan tahapan tarbiyah
individu tiada lain merupakan pembagian secara
normatif saja, adapun secara praktek pembagian ini
sebenarnya tidak ada. Sebagaimana keimanan; yakni
sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibenarkan
dengan amalan, demikian halnya dengan tarbiyah
yang mencakup dua sisi individu dan masyarakat
dalam sebuah kesatuan yang paripurna dan
keseimbangan yang mendalam. Kita tidak mungkin
memisahkan kedua sisi tersebut, sebagaimana kita

196
Tulisan Dr. Yusuf Al Qaradlawy, Al Shahwah al Islamiyah, Majalah Risalah,
Edisi I

164
tidak mungkin memisahkan tubuh manusia dari unsur-
unsur esensialnya.

Maka pelbagai sisi seperti, pemahaman, keyakinan,


perasaan, spirit, akhlak, prilaku, keinginan dan
gerakan, merupakan sisi-sisi yang saling terpaut dan
interaktif, sulit untuk memisahkan sisi-sisi tersebut,
karena semuanya berada dalam makna pemahaman
tarbiyah. Tidak ada tarbiyah tanpa gerakan, aktivitas,
dan keinginan di seluruh aspek kehidupan.

Dengan semakin banyaknya kegiatan dan


beragamnya segmentasi amal, terkadang kita
kehilangan konsentrasi dan pemusatan perhatian,
atau lemahnya perhatian terhadap pembinaan
internal. Untuk itu dibutuhkan perspektif yang jelas
dan penguasaan yang komprehensif terhadap target-
target dakwah dalam setiap fase, serta keseimbangan
antara gerakan dengan aspek-aspek amal. Dan
memberikan perhatian –dengan tetap maju dan
melakukan gerakan- terhadap proses pembinaan
individu, pembangunan pilar-pilar yang menopangnya,
dan terwujudnya kepemimpian tertinggi: sebagai
timbangannya adalah, kecermatan, hal ini akan
menciptakan strategi dan mencermati setiap
fenomena yang tampak, meneliti keseimbangan,
mendorong aktivitas dan memberikan penyembuhan.

15. Pembinaan Tarbawi adalah Dasar Tanggungjawab


197
dalam barisan.
Imam Syahid berkata, “Kepemimpinan -dakwah
Ikhwan- menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati,
posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran
197
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 399

165
ilmu, dan posisi seorang syaikh dalam aspek
pendidikan rohani, dan posisi seorang pemimpin
dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara
umum dalam dakwah.”

16. Ijtihad seorang kader, penguasaan dan pengamalannya


terhadap manhaj tarbiyah.
Imam Syahid menitik beratkan pembinaan seorang Al
Akh dalam hal, perbaikan diri dan dakwah kepada
orang lain. Beliau mengarahkan tentang aspek-aspek
amal yang dibutuhkan dalam pembinaan seorang Al
Akh hingga ia memiliki sifat-sifat berikut:
Salimul Akidah (bersih akidahnya), shahihul Ibadah
(benar ibadahnya), Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya),
Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat), Mutsaqqaful
Fikr (berwawasan pemikirannya), Qadirun Alal Kasbi
(mampu berekonomi), Munazhamun fi Syu’unihi
(terorganisir seluruh urusannya), Harishun Ala waqtihi
(Cermat mengatur waktunya), Mujahidun Linasihi
(kuat kesungguhan jiwanya), Nafi’un Li Ghairihi
198
(Bermanfaat bagi selainnya).

Imam Syahid berkata, “Cengkeramlah dengan


sungguh-sungguh bimbingan-bimbingan ini. Jika tidak
maka dalam barisan orang-orang yang duduk dan
para pemalas masih terdapat kursi-kursi yang
kosong.”

“Saya yakin, jika engkau mengetahuinya dengan baik


dan engkau menjadikannya cita-cita dan orientasi
hidupmu, maka balasanmu adalah kehormatan hidup
di dunia dan kebajikan serta ridha di akhirat. Engkau
bagian dari kami dan kami bagian dari dirimu. Jika
198
Ibid. Rukun Amal, hal. 394

166
engkau berpaling darinya lalu duduk-duduk santai
saja, maka tiada lagi hubungan antara kita. Jika
engkau seseorang yang biasa berada di depan majelis
kita, di pundakmu tertempel gelar-gelar mentereng,
dan kau tampak begitu menonjol di antara kita, maka
dudukmu akan dihisab Allah dengan seberat-beratnya
hisab.”199

17. Bentuk Pembinaan ini Terhimpun dalam 5 (lima) kata


berikut:
1. Kesederhanaan
2. Tilawah
3. Shalat
4. Keprajuritan
5. Akhlak
Kemudian hal ini disimpulkan dalam 5 (lima) point berikut:
1. Iman yang kuat
2. Pemahaman yang benar
3. Pembinaan yang cermat
4. Cinta yang dipercaya
5. Amal yang berkesinambungan

Slogan prinsip-prinsip ini termaktub dalam 5 (lima) kata:


1. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami)
2. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami)
3. Al Qur’an Syir’atuna (Al Quran adalah Undang-undang
kami).
4. Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami).
5. As Syahadah Umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita
kami).200

199
Ibid. Hal. 369
200
Ibid. hal. 369

167
Manhaj Imam Hasan Al Banna dalam Tarbiyah Akidah

Adapun manhaj Imam Syahid Hasan Al Banna dalam


pemahaman akidah sangat jauh dari Ilmu Kalam dan istilah-istilah yang
dibuat oleh para ulama yang pakar di bidang ini. pemahamannya juga jauh
dari teori-teori ilmu filsafat dan bentuk-bentuk perbedaan yang dilahirkan
oleh para ahli kalam. Imam Syahid memiliki manhaj baru yang disimpulkan
dalam 2 (dua) hal mendasar:
Pertama, berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah dalam
menyampaikan pemahaman akidah kedalam hati dan penanamannya di
dalam jiwa dan perasaan. Hal ini sebagaimana jalan yang dilakukan oleh para
ulama salaf.
Kedua, Memanfaatkan penjelasan lewat tanda-tanda akidah tersebut di
dalam diri dan memberikan muslim standar ukuran untuk mengetahui kadar
realisasi dan pelaksanaannya.

Imam Syahid berkata, “Ketauhilah bahwa dalam perkara akidah manusia


terbagi dalam beberapa kelompok:
- Sebagian mereka mendapatkannya melalui pengajaran
dan meyakininya sebagai sebuah adapt. Kelompok ini
sangat mudah terpengaruh jika berhadapan dengan
beberapa syubhat dalam akidah.
- Sebagian mereka ada yang melihat dan mencermati
sehingga keimanannya bertambah dan keyakinannya
semakin kuat.
- Sebagian mereka ada yang masih terus mencermati,
menggunakan pikiran, dan meminta pertolongan kepada
Allah dengan ibadah, menjalankan perintah-perintah-Nya
dan beramal dengan sebaik-baiknya, sehingga cahaya
hidayah menyinari hati-hati mereka, dan mereka bisa
melihat dengan mata hati kesempurnaan iman dan
keyakinannya, serta ketetapan jiwanya.
Firman Allah:

168
 
 

 
:Artinya
“Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah
menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan
balasan ketaqwaannya.” (Q.S Muhammad: 17)201

Dalam menerapkan proses perbaikan diri dan penanaman keyakinan


akidah dalam hati, Imam Syahid menyimpulkan beberapa kewajiban, rukun-
rukun dasar dalam sebuah model praktis dengan tema “Aku meyakini dan
aku berjanji”, yang disimpulkan dari Al Quran dan sunnah Rasulullah Saw.,
yang tidak melenceng seujung rambutpun dari kedua sumber tersebut.
Beliau meminta Ikhwan untuk menghapal konsep tersebut, mematuhi
batasan-batasannya, melaksanakan nash-nashnya, dan mematuhi perjanjian-
perjanjiannya.”202

Beliau berkata tentang manhaj ini, “Saya meyakini bahwa manhaj ini
adalah sarana praktis dalam melaksanakan tarbiyah diri dan memperbaiki
akhlak.”203

Tentang sifat rabbani (berorientasi ketuhanan) dan pemusatannya


pada individu muslim, Imam Syahid tidak menggunakan pembagian-
pembagian teoritis dan studi akademis, beliau justru memberikan metode
praktis yang membekas, sederhana, jelas dan mudah untuk dilaksanakan.
Beliau berkata, “Dan di antara sifat-sifat khas seorang muslim adalah
rabbaniyah, maka kita harus senantiasa menjaga hubungan kita dengan

201
Risalah Al Aqa-‘id hal. 416. Lihat juga tulisan Al Ustadz Musthafa Masyhur –
dalam rangka memperingati kesyahidan Imam Hasan Al Banna.
202
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, Hal. 73
203
Ibid

169
Allah semampunya, yaitu dengan cara melakukan zikir dan doa. Di dalam
Risalah Al Ma’tsurat banyak sekali zikir dan doa-doa.”204

Beliau juga menunjukkan agar kita memulai proses perbaikan tersebut


dengan memperbaki shalat dan ibadah-ibadah kita, dan hendaknya kita
menjadi qudwah dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Imam
Syahid berkata, “Wahai saudaraku muslim, anda paham sekarang, untuk itu
jadilah teladan ihsan dalam shalatmu, serta yakinlah bahwa langkah pertama
sebelum segela aktivitas kita adalah memperbaiki shalat.”205

Beliau juga berkata, “Mereka juga melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar,
dan sudah memulainya dari diri mereka sendiri, kemudian kepada keluarga,
rumah-rumah mereka, kerabat dekat dan teman-teman mereka. Mereka
menyampaikan hal itu dengan penuh kesabaran, perlahan, dengan hikmah
dan nasehat-nasehat kebaikan.”206

Ujian dan Cobaan adalah Sebuah Kemestian dalam Dakwah

Dalam proses pembinaan dan di dalam shaf dakwah ini pasti terjadi
ujian dan penyeleksian. –baik Ujian-ujian yang berasal dari dalam dan dari
luar- akan didera oleh setiap individu maupun jamaah ini dalam pelbagai
bentuk, dan di setiap fase-fase dakwah akan menyaring barisan dakwah ini
dan membersihkannya dari batu-batu bangunan yang rapuh dan lemah,
sehingga ia semakin kuat dan kokoh. Firman Allah:

  


  
   


204
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 262
205
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, Hal. 76
206
Ibid

170
:Artinya
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S Al
Ankabut:2)

Kami berdoa kepada Allah kesehatan dan kekuatan. Sesungguhnya


demikianlah tabiat jalan dakwah ini, ini adalah sunnah Allah Swt. terhadap
dakwah-dakwah kebenaran, dan ini akan menjadi ukuran ketegaran,
kebenaran, kemajuan dan keberhasilannya.

Imam Syahid berkata, “Tidak ada dakwah tanpa jihad, dan tidak ada
jihad tanpa tekanan.”207

Ia berkata, “Saya ingin berterus terang kepada kalian bahwa dakwah


yang kita emban ini belum banyak diketahui orang. Nanti, di saat mereka
telah mengetahui dan memahami tujuan dan sasarannya, niscaya akan
terjadi permusuhan dan penentangan dari mereka. Di depan kalian akan
terbentang berbagai kesulitan dan kalian akan menemui banyak kendala.
Saat itu berarti kalian telah memulai meniti jalan para aktivis dakwah yang
sesungguhnya.

Para penguasa, pemimpin dan pengambil kebijakan akan menaruh


kebencian terhadap kalian. Setiap rezim (penguasa) akan berusaha
melumpuhkan aktivitas kalian dan menebar duri-duri penghalang di jalan
kalian.

Kalian akan dipenjara dan ditahan, diusir dan dideportasi.


Kepentingan-kepentingan kalian akan dikebiri, kalian akan diberhentikan dari
pekerjaan, dan rumah-rumah kalian akan digeledah, dan diawasi. Ujian dan
cobaan ini kemungkinan akan sangat panjang waktunya.”208

207
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 213
208
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 109

171
Beliau juga berkata dalam menghadapi ujian-ujian ini, “Wahai
Ikhwanul Muslimin, Sesungguhnya kemenangan ada bersama kesabaran,
keberhasilan ada bersama ketegaran, dan sesungguhnya pahala kebajikan
hanya untuk orang-orang yang bertakwa.”209

Al Usar Tarbawiyah (Usrah-usrah Tarbiyah/Pembinaan)

Usrah-usrah tarbiyah dan katibah-katibah Ikhwan merupakan salah


satu sarana tarbiyah dan termasuk hal yang tsawabit (prinsipil) dalam
jamaah, yang membantu proses pembentukan bangunan jamaah sehingga
terwujudnya, Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami), dan
Takaful (saling melengkapi) antara kader dakwah. Ia juga merupakan sarana
untuk membentuk sebuah wadah pembinaan iman dan program-program
tarbiyah, pengorganisasian aktivitas dan gerakan, dimana hal ini berlangsung
di lingkungan yang penuh rasa cinta, kasih, kelapangan hati, saling nasehat-
menasehati, saling memaafkan, keterbukaan dan keterusterangan.

Usrah adalah wadah utama dalam proses tarbiyah, kandungan dan


programnya tidak terbatas pada rutinitas pertemuan berkala semata, ia
adalah ikatan yang kokoh dan interaksi yang serius, dimana terlaksananya
proses pembinaan dan pengarahan.

Imam Syahid berkata, “Islam menekankan perlunya pembentukan usar


(usrah-usrah) dari pengikut-pengikutnya, yang dapat membimbing mereka
kepada puncak keteladanan, mengokohkan ikatan hatinya, dan mengangkat
derajat ukhuwahnya; dari kata-kata dan teori menuju realita dan amal nyata.
Karena itu –wahai saudaraku- usahakan agar dirimu menjadi batu bata yang
baik bagi bangunan (Islam) ini.

209
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 201

172
Sedangkan pilar-pilar ikatan ini ada tiga; hafalkan dan usahakan untuk
mewujudkannya, sehingga ia tidak hanya menjadi beban berat yang kering
tanpa ruh:
1. Ta’aruf (Saling mengenal)
Ia adalah awal dari pilar-pilar ini. karenannya saling mengenallah
dan saling berkasih sayanglah kalian dengan ruhullah. Hayatilah
makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara kalian, berusahalah
agar tidak ada sesuatupun yang menodai ikatan kalian,
hadirkanlah selalu bayangan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits
yang mulia di benakmu. Letakkan di pelupuk matamu kandungan
ayat-ayat berikut:
    
:Artinya
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara.
(Q.S Al Hujurat:10)

2. Tafahum (Saling memahami)


Ia adalah pilar kedua dari pilar-pilar sistem ini.
karenanya, istiqamahlah kalian dalam manhaj yang
benar, tunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah
kepadamu, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang.
Evaluasilah dirimu dengan evaluasi yang cermat dalam
hal ketaatan dan kemaksiatan.

3. Takaful (Saling menanggung bebang)


Ia adalah pilar ketiga. Hendaklah sebagian dari kalian
memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah
fenomena iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah
sebagian dari kalian senantiasa bertanya kepada
sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika
didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberikan
pertolongan selama ada jalan untuk itu.”210

210
Risalah: Nizamul Usar, Hal. 373, 374

173
Imam Syahid menjelaskan bahwa ta’aruf, tafahum dan
takaful, tidak semata pengetahuan dangkal terhadap
nama dan kepribadian seseorang. Ia justru merupakan
pengenalan yang mendalam, interaksi dan koordinasi
antara kader dakwah satu sama lain. Bahwa sifat ekstrim
dan keras hanya akan menjadi kerikil terhadap ukhuwah
dan hendaknya upaya untuk saling memahami ini
berjalan terus menerus di setiap waktu dan kondisi, serta
hendaknya ia memiliki batas-batas tertentu demi
terwujudnya pertautan dan kesatuan.

Imam Syahid berkata, “Setelah itu hendaknylah setiap


kalian bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu
aib tampak padanya. Hendaklah seorang Al Akh
menerima nasehat saudaranya denan penuh rasa suka
cita dan ucapkan terima kasih padanya. Untuk Al Akh
yang menasehati, hendaknya berhati-hati, jangan sampai
hatimu –yang secara ikhlas ingin memberi nasehat
kepada saudaramu- itu berubah niat, meski hanya
sepotong rambut. Jangan sampai ia merasakan adanya
kekuarangan pada sasaran nasehat, lalu menganggap
bahwa dirinya lebih utama darinya. Kalau ia merasa tidak
mampu memperbaikinya, biarkanlah selama kurang lebih
sebulan penuh, lalu janganlah diceritakan aib yang ia
lihat itu, kecuali kepada pemimpin usrah saja. Setelah itu,
tetaplah dalam keadaan mencintai dan menghargainya,
sehingga Allah Swt. menetapkan keputusan-Nya.

Sedangkan untuk Al Akh yang dinasehati, waspadalah


jangan sampai engkau berubah sikap, menjadi keras hati
kepada Al Akh yang menasehati, meski seujung rambut
apapun. Kenapa demikian? Karena mahabbah fillah (cinta
karena Allah) adalah setinggi-tinggi martabat dalam
agama, sedangkan nasehat adalah pilar agama itu.

174
“Sesungguhnya agama adalah nasehat.” Allah Swt.
melindungi sebagian kalian dari (kejahatan) sebagian
yang lain, memuliakanmu dengan ketaatan kepada-Nya,
dan memalingkan tipu daya setan dari kami dan kalian
semua.211

Islam juga sangat memperhatikan prinsip-prinsip


interaksi antara individu, sebagai penjelasan Imam
Syahid, “Tidak ada tempat di majelis usrah bagi
perdebatan, perang mulut, atau pelampiasan emosi
dengan mengangkat suara tinggi-tinggi. Itu semua haram
hukumnya menurut fiqih usrah. Yang dibenarkan adalah
penjelasan dan minta penjelasan, itu pun harus dengan
memperhatikan batas-batas etika dengan keutuhan sikap
saling menghargai dari seluruh anggota. Jika ada suatu
usulan atau complain, Naqib (pembimbing usrah)
hendaklah menampungnya untuk kemudian
menyampaikannya kepada pemimpin.212

Ruh ukhuwah dan mahabbah inilah yang berusaha kita


upayakan agar tersebar di masyarakat dan
terpadukannya hati-hati umat. Imam Syahid berkata,
“Perintah-perintah Allah dan taujih-taujih Nabi ini –
setelah berlalu generasi pertama umat Islam- telah
(hanya) menjadi kata-kata yang menghias bibir kaum
muslimin semata dan khayalan belaka di benak mereka,
sampai kalian datang wahai Ikhwan yang saling
mengenal. Kalian telah berusaha untuk menerapkannya
di masyarakat kalian, dan kalian inginkan kembalinya
ikatan umat yang saling bersaudara dengan jiwa
ukhuwah Islamiyah.”213

211
Ibid, Hal. 374
212
ibid
213
ibid

175
Imam Syahid menyebut pembimbing usrah sebagai
Naqib, hal ini tiada lain adalah untuk menjelaskan
kepada kita bahwa hubungan antara naqib dan anggota
usrah bukan hubungan kekuasaan, namun lebih kepada
hubungan tarbiyah dan pengarahan. Mereka menduduki
posisi orang tua dalam ikatan hati, posisi seorang guru
dalam memberikan pengajaran ilmu, dan posisi seorang
syaikh dalam aspek pendidikan rohani, dan posisi
seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-
kebijakan politik secara umum dalam dakwah.

Seorang Naqib selayaknya memiliki kemampuan dan


pengaruh yang kuat untuk memainkan perannya sesuai
yang diinginkan, ia tidak hanya menjalankan program-
program usrah dan perintah-perintah tertentu. Ia juga
harus berperan dalam meningkatkan semangat anggota
usrah dan mentransfer ketinggian semangatnya kepada
anggota usrah, menggali potensi dan kemampuan
mereka, memberikan solusi terhadap permasalahan-
permasalahan mereka, serta mengikat mereka untuk
senantiasa bersama jamaah.

Imam Syahid memberikan perhatian yang sangat besar


terhadap program-program usrah, beliau tidak hanya
membatasinya dengan kegiatan belajar sebagai
rutinitas pertemuan, namun juga mencakup 10 sifat,
serta tahapan-tahapan pembinaan lain dalam proses
pembentukan kader dakwah.

Adapun agenda-agenda usrah, maka Imam Syahid


menyebutkan beberapa hal berikut:
1. Setiap al Akh menyampaikan persoalannya,
sementara yang lain ikut terlibat membahas dan mencari

176
penyelesaiannya. Semua itu dalam suasana ukhuwah yang tulus
dan orientasi yang jernih hanya bagi Allah Swt. Pada yang
demikian itu ada proses peneguhan tsiqah dan pengokohan
ikatan hati.
2. Telaah seputar persoalan Islam dan membaca
risalah dan taujihat yang ditelorkan oleh pemimpin umum yang
ditujukan untuk usar.
3. Studi terhadap berbagai buku yang berguna.214

Dengan metode Imam Syahid menginginkan


terwujudnya perhatian yang serius terhadap kondisi
para kader dakwah, gerakan dan aktivitas mereka,
mengevaluasi beberapa tugas yang diberikan
kepada mereka, serta mengikutsertakan mereka
dalam memberikan solusi, masukan, dan kerjasama
dalam melakukan gerakan dan aktivitas dakwah.
Begitupula halnya dengan sisi belajar, maka hal
inipun termasuk salah satu dari tiga rukun penting
dalam usar, namun metode dan takarannya
diserahkan sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh jamaah; demi
mewujudkan pembinaan kader yang paripurna dari
pelbagai sisi, baik politik, sosial kemasyarakatan,
wawasan keilmuan, profesi, pengetahuan fiqih, dll.

Proses belajar di dalam usar sangat berkaitan


dengan seluruh individu dalam sebuah usar. Pada
setiap pertemuan, dilakukan pencermatan pada
setiap materi yang dipelajari, didiskusikan sesuai
dengan pengetahuan setiap individu di usar dan
kemanfaatannya bagi semua anggota, saling
mengingatkan dan saling memberikan nasehat.
Pertemuan usar juga memberikan perhatian yang
214
Ibid. hal. 374, 375

177
besar terhadap perenungan ayat-ayat Al Quran, zikir,
doa, saling menasehati untuk melakukan shalat
malam dan shalat berjamaah di mesjid, terutama
shalat Shubuh dan shalat Isya.

Imam Syahid juga memberikan perhatian terhadap


proses pembinaan di dalam usrah dari sisi praktek
amali, yang akan menambah ikatan dan kekuatan
usar, berupa kegiatan rihlah, puasa, ifthor jama’i,
mabit, serta beberapa aktivitas lain dari bentuk-
bentuk kehidupan berjamaah. Begitupula dalam
mewujudkan makna ukhuwah dalam keadaan-
keadaan darurat tertentu, menanyakan ketidak
hadiran seseorang, dan memperhatikan yang
terputus (kehadirannya).

Indikasi keberhasilan sebuah usrah dalam


mewujudkan target-targetnya dapat dilihat dari hal-
hal berikut:
1. Sejauhmana antusias anggota di dalam usrah.
2. Sejauhmana kesehatan suasana usrah dari rasa
cinta dan kasih antar anggotanya.
3. Sejauhmana terpenuhinya ruh yang kuat dan
semangat yang tinggi.
4. Sejauhmana percepatan aktivitas dan gerakan
dalam dakwah.
5. Sejauhmana tersalurnya kebutuhan dan potensi
anggota usrah, serta peningkatan kemampuan mereka.
6. Sejauhmana tingkat perhatian terhadap kondisi
dan problematika anggota usrah, serta upaya untuk
menyelesaikannya.
7. Optimalisasi peran dan tugas naqib terhadap
anggota usrah. Dasar hubungan antara naqib dan anggota usrah

178
adalah tsiqah (kepercayaan), insijam (keharmonisan), ulfah
(kecintaan), dan Mahabbah mutabadalah (saling berkasih
sayang). Dengan demikian, maka teratasilah semua kesulitan,
hilanglah seluruh beban, dan terbukalah hati.

Makna kekuatan Yang diinginkan Barisan Dakwah

Melalui pembinaan yang cermat dan mendalam, serta dengan ujian


dan cobaan, maka barisan dakwah akan sampai pada tahap kekuatan yang
diinginkan, yang dapat terlihat dari hal-hal berikut:
a. Kekuatan akidah dengan keparipurnaannya
b. Kekuatan persatuan dan pengorganisasian dalam barisan dakwah.
c. Kekuatan para pemimpin dalam kuantitas tertentu yang memiliki
kemampuan dan keahlian praktis, serta kemampuan dalam jihad dan
persiapannya.

Jadi yang pertama adalah terwujudnya kekuatan akidah dalam kadar


yang memadai, kekuatan ikatan dan persatuan, dan hendaknya hal itu
mencakup barisan dakwah dan dengan kuantitas yang sesuai dengan realita
yang ada. Dan hal ini harus terpenuhi sebelum barisan dakwah melakukan
langkah selanjutnya untuk berjihad dan menghadapi problematika dakwah
yang lain.

Sesungguhnya kekokohan barisan dakwah dan kekuatannya akan


terwujud dengan ukhuwah dan ikatan antara personal-personal dakwah,
serta keberhimpunan mereka di sekitar para pemimpinnya dengan penuh
kepercayaan, dan dengan semangat syura (musyawarah) yang merupakan
manhaj yang mereka pelajari di dalam shaf dakwah. Hal ini kemudian yang
akan memproteksi mereka dari segala upaya penyusupan dan konspirasi
yang merongrong mereka dari dalam.

Imam Syahid berkata, “Wahai Ikhwan, Persatuan dan ikatan kalian


adalah senjata utama, ia adalah senjata yang paling ampuh yang kalian

179
miliki, maka jagalah persatuan itu, senantiasalah berada dalam barisan
jamaah, jangan kalian berselisih dengan saudara-saudara kalian dalam
sebuah permasalahan, jangan sampai kalian terpisah dikarenakan urusan-
urusan yang sepele dan oleh kebimbangan yang mematikan.”215

Beliau juga berkata, “Hendaklah kalian saling mencintai satu sama


lain. Jagalah selalu persaudaraan dan kesatuan, karena ia merupakan rahasia
kekuatan dan penentu keberhasilan kalian. Teguhlah dalam prinsip, sampai
Allah membukakan Al Haq di antara kalian dan di tengah kalian. Dia-lah
sebaik-baiknya pembuka (pemberi kemenangan).

Dengar dan taatilah qiyadah (pemimpin) kalian dalam kondisi sulit


maupun mudah, dalam keadaan giat ataupun malas. Itulah syiar dan simbol
fikrah kalian dan mata rantai hubungan di antara kalian.”216

Sesungguhnya ketergesa-gesaan dalam berperang atau menghadapi


musuh secara totalitas tanpa persiapan tarbawi, selektifitas dakwah, dan
penyebaran yang seimbang, merupakan penyimpangan dari batasa-batasan
yang benar, yang tidak akan mendatangkan apapun kecuali kekalahan,
kehancuran dan kegoncangan.

Imam Syahid berkata, “Sebelum kekuatan fisik, yang lebih penting dan
krusial adalah kekuatan rohani, yang berupa: akhlak yang mulia, keimanan
dan pengenalan terhadap hak, keinginan yang kuat, pengorbanan untuk
sebuah kewajiban, kesetiaan yang lahir dari kepercayaan dan kesolidan, dari
dua hal kemudian akan terwujud persatuan. Untuk itu kami berupaya untuk
menyucikan ruh-ruh kami, menguatkan jiwa dan meluruskan budi pekerti,
kami berdakwah dan kami berjihad dengan dakwah kami, kami meminta
umat untuk melakukan penyucian jiwa dan perbaikan akhlak yang
berlandaskan Al Quran. Firman Allah:

215
Nasehat Imam Syahid Hasan Al Banna kepada Ikhwan, dari buku Al Imam Syahid,
Fuad Al Hajarsy, hal. 111. Yang kemudian dipublikasikan kembali lewat Majalah
Dakwah, Edisi 82, Syawal 1419 H/ Januari dan Februari 1999 M.
216

180
     
   
    
    
      
  
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S Al Ra’d: 11)217

Kerapian Shaf dan Hubungan Antara Komponennya

Permasalahannya kemudian tidak hanya terhenti pada proses


pembinaan pilar-pilar dakwah dan perekrutan dukungan, namun juga harus
dilanjutkan dengan pengaturan shaf dan pengorganisasian dakwah, ‘Tidak
ada dakwah tanpa ada qiyadah (kepemimpinan)’, serta membuat beberapa
norma dan batasan-batasan yang mengikatnya, dengan tetap
mengoptimalkan penyebaran institusi-institusi dan figur-figur Ikhwan di kota
dan perkampungan yang saling bertautan dan saling menyokong selayaknya
seperti bangunan yang saling menopang satu sama lain.

Imam Syahid berkata, “Ikatan yang ada antara cabang-cabang Ikhwan


bukan sekedar ikatan nama atau tujuan secara global. Namun, ia adalah
ikatan total dalam segala aspeknya; ikatan kasih saying, ikatan kerjasama,
ikatan kesucian amal, dan ikatan kesetiaan persaudaraan di atas jalan
dakwah. Disamping itu juga ikatan kesatuan total untuk bersama-sama
menanggung beban derita perjuangan, dalam memaknai hakikat tujuan,
sistem, dan langkah-langkah kerja yang nyata.”218

217
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
46
218
Risalah, Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 132

181
Ikatan terhadap qiyadah (kepemimpinan) dari setiap komponen-
komponen dakwah dan diantara mereka, menegaskan tentang hakikat
tarbiyah dalam jamaah Ikhwan. Dimana di dalam dakwah Ikhwan senantiasa
patuh mendengarkan qiyadah-qiyadah mereka dengan hati-hati mereka,
sebelum mereka mendengarkannya dengan teling-telinga mereka.

Imam Syahid juga menjelaskan tentang urgensi organisasi-organisasi


umum (wajihah ‘ammah), “Yaitu organisasi-organisasi yang bekerja dan
memberikan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat umum, dan
merupakan aktivitas yang berkesinambungan dengan hasil yang nyata.

Dan aktivitasnya tidak melulu melaksanakan program yang


diinstruksikan dari Kantor Pusat Jamaah yang ada di Kairo saja.

Selain itu hubungan antara kantor pusat dengan cabang-cabang dan


organisasi-organisasi yang ada di bawahnya bukanlah hubungan atasan dan
bawahan, bukan pula hubungan administrative antara pekerja dengan
pengawas semata, tetapi ia adalah ikatan yang lebih dari itu. Disini berlaku
ikatan rohani sebagai pondasinya, lalu ikatan kekeluargaan, dimana terjadi
saling kunjung-mengunjungi di antara mereka. Para Da’I Ikhwan saling
mengunjungi antar sesamanya dan berinteraksi secara kental sehingga
saling mengetahui apa-apa yang mendesak mereka butuhkan, baik urusan
Pribadi, keluarga, maupun urusan yang lain.”219

Keberlangsungan Tarbiyah

Proses pembinaan dan tarbiyah demi mewujudkan kekuatan akidah,


kekuatan persatuan, perbaikan diri dan pembentukannya sesuai dengan
manhaj yang lurus, tidak berarti akan berhenti atau lemah pada satu fase
tertentu setelah diraihnya kekuasaan, namun justru ia merupakan sebuah
kemestian yang akan terus berlanjut hingga terealisinya 7 (tujuh) target dan
219
ibid

182
sehingga Allah mewariskan bumi dan seluruh isinya kepada orang-orang
beriman.

Proses pembinaan akan terus berlanjut sepanjang perjalanan jamaah


dan kehidupan kader dakwah, dan akan terus tumbuh bersama realita dan
kendala yang dihadapi, dan kita akan mengetahui bahwa ujian dan cobaan
juga berjalan seiring dengan perjalanan hidupnya, ia akan menggoncang shaf
dari dalam, yang demikian itu akan semakin memperkuat jiwa dan
mengokohkan iman.

Dengan semakin luasnya lapangan amal dan aktivitas dakwah, maka


akan semakin meningkat pula rintanga yang dihadapi, sehingga sampai pada
tahap dimana beberapa peristiwa dan problematika dakwah turut
menyingkap beberapa celah dan kelemahan tarbiyah pada beberapa individu
kader dan para masul (penanggungjawab) dakwah, sesuatu yang
sebelumnya tidak terlihat. Jika hal ini ditemukan, maka hal ini merupakan
sebuah kewajaran; karena sesungguhnya sebuah gerakan dakwah dengan
pelbagai tekanan yang menderanya secara tidak langsung akan menjadi
medan penyeleksian dan pemilahan. Hal ini kemudian menuntut jamaah
dakwah untuk terus melakukan evalusi yang terus-menerus terhadap kondisi
tarbiyah individual kader dakwah, serta semakin meningkatkan pemusatan
pembinaan, persiapan dan pembentukan, serta tidak tergesa-gesa dalam
proses pemindahan jenjang tarbiyah dari satu fase ke fase berikutnya, atau
tergesa-gesa memasuki medan tantangan. Hal ini juga dilakukan dengan
tetap memperhatikan keseimbangan kuantitas dan kualitas antar kader
dakwah di setiap jenjang tarbiyah dengan lapangan gerakan dan aktivitas,
serta dengan tidak sampai menjauhkan jamaah dari pengaruh dan
kontribusinya di masyarakat.

Imam Syahid menjelaskan tentang hal ini –terutama ketika ia


mendapatkan beberapa titik kelemahan tarbiyah di beberapa mas’ul dakwah,
di tengah semakin padatnya aktivitas dakwah dan tantangan-, “Jika aku telah
melangkah maju maka aku pantang surut kembali, namun aku akan kembali

183
kepada dakwah sebagaimana mulanya, menguatkan tarbiyah dan
pembinaan serta membaca Ma’tsurat.”

Sebesar apa upaya yang dikerahkan oleh setiap orang dalam


menerapkan ajaran Islam, tarbiyah dan pembinaan, dan penyebaran dakwah,
maka sebesar itupula ia akan menghabiskan dan menggunakan waktu.
Namun hendaknya mereka mengetahui bahwa perjalanan dakwah sangat
panjang dan membutuhkan banyak generasi (untuk memperjuangkannya).
Karena sesungguhnya tujuan dan cita-cita yang besar memerlukan
kekokohan dan kekuatan dasar pijakan serta persiapan yang matang,
sehingga bangunan benar-benar sempurna dan kuat.

Sewaktu-waktu datang masa-masa penuh berkah atas izin Allah,


dimana dakwah semakin diterima di tengah masyarakat, sehingga terjadi
percepatan dan peningkatan persentase pertumbuhan kader-kader dakwah
dan penyebarannya, dan akan terbuka kesempatan untuk yang bangun dan
bersiap-siap untuk mengambil manfaat darinya, namun tetap ada
standarisasi yang sangat bergantung dengan jenjang pembinaan dan
tarbiyah.

Tentang Realitas Kader Dakwah

• Tidak berarti dengan tingginya manhaj dan nilai-nilai tarbiyah, maka


setiap individu kader dakwah menjadi malaikat sepanjang siang dan
malam, namun mereka justru tetap menjadi bagian dari komunitas
masyarakat yang menerima seruan dakwah dan bersemayamnya iman
di hati-hati mereka, yang memikul beban dakwah, dan di waktu yang
sama mereka juga memperbaiki dirinya sendiri, ‘Perbaiki dirimu dan
berdakwahlah kepada orang lain’.

Mereka tidak melakukan dosa besar dan tidak melakukan maksiat


secara terang-terangan. Walaupun mereka mampu melakukan
maksiat, namun mereka segera menyesali perbuatannya dan bertobat

184
kepada Allah, dan tidak ada yang tersisa di barisan mereka orang-
orang yang kehilangan orientasi dan keinginan.

Imam Syahid berkata, “Kami sesungguhnya tidak berputus asa dengan


diri kami.”

Beliau juga menasehatkan, “Agar kami senantiasa mengukur kadar diri


kami apa adanya.”

Di dalam buku “Memoar Imam Syahid Hasan Al Banna, beliau


menyampaikan nasehat yang diberikan oleh Syaikh Muhsin Sa’id Al
Urfy, salang seorang ulama dari Suriah. Saat itu bertepatan dengan
acara peresmian Ma’had Hurra Al Islamy di Ismailiyah pada era
pertama dakwah. Beliau selalu mengatakan kepada saya, “Dengarlah
baik-baik, janganlah engkau merasa resah dengan bergabungnya
kedalam dakwah orang-orang yang banyak melakukan kekurangan
dalam ketaatan dan melakukan kemaksiatan, selama masih takut
kepada Allah, menghormati undang-undang, dan berusaha melakukan
ketaatan dengan baik, karena mereka akan bertobat dalam waktu
dekat. Sesungguhnya bahtera dakwah ini laksana rumah sakit yang di
dalamnya terdapat dokter yang memberikan obat dan pasien yang
membutuhkan pengobatan, maka janganlah anda tutup pintu dakwah
di hadapan wajah mereka.

Namun hendaknya engkau waspada dengan dua kelompok dengan


kewaspadaan yang tinggi, dan jangan sekali-kali mengikutkan mereka
dalam gerbong dakwah; pertama adalah mulhid (atheis), yaitu orang
yang tidak memiliki keyakinan agama, walaupun mereka tampak
seperti orang-orang yang baik. Karena ia tidak mempunyai harapan
lagi untuk diperbaiki, dan ia sangat jauh dari kalian dengan dasar
ideologi, sampai ia benar-benar bertobat dan kembali kepada agama.
Yang kedua, yaitu orang baik yang tidak menghormati undang-undang
dan peraturan serta tidak mengenal makna ketaatan. Tipikal seperti ini

185
bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan menghasilkan kerja, namun
ia akan merusak kekokohan jamaah. Ia akan mendekati jamaah untuk
kepentingan pribadinya dan akan meninggalkannya jika berbeda.
Andai engkau bisa mengambil manfaat darinya sementara ia jauh dari
shaf jamaah, maka lakukanlah. Namun jika tidak, maka ia akan
merusak dan menggoyahkan barisan dakwah.”220

• Begitupula dari tipikal kelompok orang-orang yang suka menyebar


fitnah dan menyimpan ambisi-ambisinya. Berkata Syaikh Hamid
Askariyah –semoga Allah merahmatinya-, beliau adalah salah satu
generasi pertama yang mendirikan jamaah dakwah ini bersama
dengan Imam Syahid. Ketika dakwah berhadapan dengan sekelompok
orang yang keluar dari jamaah, dan melakukan fitnah, beliau
memberikan nasehat kepada Imam Syahid, “Mereka tidak memiliki
kebaikan sedikitpun, mereka telah kehilangan kesadaran terhadap
keagungan dakwah ini, mereka telah kehilangan ketaatan terhadap
qiyadah (pemimpin), sesungguhnya mereka tidak memberikan
kebaikan apapun terhadap barisan dakwah kita, maka hati-hatilah
terhadap mereka dan teruslah berjalan di atas jalanmu, dan kepada
Allah tempat meminta pertolongan.”221

• Beliau juga menjelaskan tentang tidak terwujudnya manhaj dakwah


secara sempurna di beberapa personal, “Sekelompok manusia
memvonis kalian terhadap dakwah yang kalian serukan, bahwa kalian
tidak menerapkan manhaj dakwah secara sempurna di dalam diri
kalian. Saya membenarkan pendapat ini, karena harus diakui kita
masih lemah dalam mewujudkan manhaj dakwah secara sempurna di
dalam diri kita, dan sayapun tidak akan beralasan bahwa sebenarnya
kelemahan ini lebih banyak disebabkan oleh kondisi dibanding oleh
disebabkan oleh pelaku dakwah. Karena hal ini lebih menjadi otokritik
agar kita berupaya untuk mewujudkan kesempurnaan, dan tidak

220
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 108, 109
221
Ibid. hal. 137

186
maksudkan untuk membela kelemahan. Namun saya ingin
menegaskan tentang perbedaan antara Ikhwan dengan komunitas lain
adalah dalam hal; bahwa Ikhwan merasakan kekurangan ini dan
mengakuinya, sementara orang lain akan menggunakan alasan dan
bersembunyi di balik keindahan kata-kata. Ikhwan dengan pengakuan
ini, akan terus berjalan untuk melakukan penyempurnaan hingga
mereka mendapatkan bagian yang telah ditetapkan Allah untuk
mereka.”222

• Imam Syahid juga menolak orang-orang yang malas dan orang yang
banyak bertanya dengan mengatakan, “Maka dimanakah jamaah itu
sebenarnya? Apa yang telah aku berikan untuk jamaah? Beliau
mengatakan, “Demikianlah orang banyak tertipu dalam memahami
hakikat jamaah dan individu. Mereka mengira bahwa jamaah itu
sesuatu sedangkan individu adalah sesuatu yang lain. Padahal jamaah
itu, tiada lain adalah kumpulan dari individu-individu, dan individu-
individu itu adalah komponen bangunan jamaah itu sendiri. Apabila
komponen-komponen itu bercerai-berai dan setiap mereka bertanya
dengan pertanyaan, “lalu dimanakah jamaah itu? Siapa yang bertanya
dan siapa yang ditanya? Kita sering memahami hal ini secara keliru,
disebabkan oleh kebiasaan kita bersikap kurang bertanggungjawab;
kita sering melimpahkan beban tanggung jawab hanya pada pundak
seseorang. Berikutnya lahirnya sifat masa bodoh, tidak tahan uji
menghadapi keadaan, dan tidak kunjung melangkah lebih maju.

Untuk itu, maka saya ingin berseru kepada putra-putri Islam yang
memiliki semangat bahwa sesungguhnya seluruh jamaah Islam di
masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus
pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haramlah
hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertinggal dari kafilah
dakwah, meskipun sesaat.”223

222
Ibid. hal. 266, 267
223
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 63

187
“Tidakkah seorang Al Akh memahami bahwa sesungguhnya jamaah
adalah tempat individu-individu berkumpul.”224

• Setiap individu dalam shaf dakwah tidak diproduksi dalam satu


cetakan, atau dalam satu naskah yang digandakan, namun di sana
terdapat perbedaan manusiawi, baik dalam kemampuan maupun
karakter. Walaupun dakwah telah menetapkan standar minimal dan
dasar yang sama, namun tentu dakwah harus beradaptasi dengan
perbedaan-perbedaan ini, mengendalikannya dengan segenap kendala
yang ada, mengarahkannya untuk beraktivitas dan memperbaiki apa
saja yang bisa diperbaiki. Jamaah dakwah menerima setiap individu
dengan segala kondisi yang ada, kemudian ia akan tumbuh bersama
mereka dan memberikan apa saja yang mereka butuhkan. Pluralitas
dan keberagaman yang menjadi karakter setiap individu ini merupakan
hal yang positif, ia akan menjadi aset dan modal bagi jamaah untuk
belajar mengendalikannya dan memberikan peran yang tepat.

• Pembentukan ini diupayakan agar tidak menghasilkan model produk


yang teoritis dan filosofis semata, tapi lebih bertujuan menghasilkan
kepribadian yang aktif dan produktif, dan ini adalah manhaj yang
membedakan antara khayalan, slogan dan ucapan dengan
kesungguhan amal, dan jihad yang bijaksana.

“Sesungguhnya seseorang yang berbicara itu berbeda dengan orang


yang beramal, dan orang yang beramal berbeda dengan orang yang
berjihad, dan orang yang berjihad berbeda dengan orang yang
berjihad dengan bijak yang produktif menghasilkan keuntungan besar
dengan pengorbanan yang sedikit.”225

• Bahwa dakwah juga tidak membiarkan seseorang mengembangkan


manhaj individual yang bersemangat tapi tidak terkontrol dan terarah.
Imam Syahid berkata, “Kekanglah rasa ketergesaan kalian dengan
224
ibid
225
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 129

188
pandangan dan pemikiran yang jernih, dan terangilah kecemerlangan
akal pikiran dengan gelora perasaan yang mengharu biru penuh
semangat. Beranganlah dengan kejujuran hakikat dan kenyataan, dan
singkaplah hakikat itu dengan benderangnya angan yang rasional nan
cemerlang.”226

• Imam Syahid berkata, “Sebagian orang mengatakan bahwa kalian


adalah orang-orang yang tenang dan tidak agresif, orang lamban di
era yang serba cepat, mereka mengklaim kalian dengan mengatakan
bahwa kalian loyo dan lemah dalam semangat. Maka ingatkanlah
mereka dengan satu kalimat yang mengatakan, “Berapa banyak
ketergesa-gesaan yang justru menghambat jalan.”

Allah Swt. ketika mengajarkan metode penyampaian dakwah kepada


:nabi-Nya, berfirman

     


 
 
:Artinya
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik.” (Q.S Al Nahl: 125)

Allah Swt. tidak mengatakan untuk berdakwah dengan tergesa-gesa,


kasar dan keras, dan itu adalah perintah Allah yang diturunkan kepada
kalian. Dan hendaklah kalian memahami bahwa jika Ikhwan
mengetahui bahwa ketergesa-gesaan akan memberikan keberhasilan
dengan persentase 99%, dan kebijaksanaan akan memberikan
persentase keberhasilan 100%, maka mereka akan memilih untuk
mengambil langkah perlahan yang bijak demi mewujudkan kesuksesan
yang sempurna.

226
Ibid. hal 127

189
Dan hal ini adalah ijtihad mereka. Namun mereka berpandangan
bahwa jika datang waktu untuk melakukan penyegeraan, sementara
mereka mengetahui bahwa kelambatan dan ketenangan justru akan
menghambat kemajuan mereka, atau akan merenggut kemenangan
mereka, maka pada saat itu mereka tahu apa yang harus dilakukan
untuk menambah bekal dakwah dan bagaimana mewujudkan
kematian yang mulia dalam mencapai tujuan yang agung.

   


   
      
:Artinya
“Dan Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan
sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran
ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Q.S Rum: 60)

• Manhaj Tarbiyah sangat memperhatikan terwujudnya kebersihan hati,


pikiran, keikhlasan, dan kemurniaan diri untuk dakwah. Imam Syahid
berkata dalam wasiatnya kepada Ikhwan:
“Jika saya khususkan apa yang hendak saya sampaikan kepada kalian
dalam kesempata ini, maka hendaknya syiar kita adalah kebersihan;
baik jiwa, pikiran, lisan, dalam berjalan, pakaian, badan, makanan,
minuman, penampilan, tempat tinggal, interaksi, dalam perjalanan,
perkataan dan perbuatan.”

Dan diantara wasiat Rasulullah Saw. kepada umatnya adalah:


Senantiasalah bersih hingga kalian tampak seperti tahi lalat di antara
bangsa-bangsa.”

Begitu indah dan tingginya bahwa ajaran fiqih yang pertama dalam
ibadah kita adalah Thaharah (kebersihan). Dalam sebuah hadits yang
shahih disebutkan:

190
‫ ومفتاح الصلة الطهور‬,‫مفتاح الجنة الصلة‬
Artinya:
“Kunci surga adalah shalat, dan kunci shalat adalah thaharah.”

Maha benar Allah yang berfirman:

    


   

Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Q.S Al baqarah:222)227

• Imam Syahid menekankan tentang urgensi keimanan dan ketakwaan,


serta bagaimana cara untuk mewujudkannya. Beliau berkata di dalam
Risalah Ta’alim, “Dan hendaklah engkau menempuh perjalan menuju
Allah dengan penuh semangat dan keinginan.”

“Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat


akhirat, dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan
pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat,
mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunah, seperti shalat
malam, puasa tiga hari –minimal- setiap bulan, memperbanyak zikir
hati dan lisan, dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada
setiap kesempatan.”228

Imam Syahid juga mewasiatkan kepada para aktivis dakwah untuk


melakukan muhasaban rutin setiap hari dan setiap pekan. Hal ini
dimaksudkan agar kita terbiasa melakukan evaluasi diri dan
pembaharuan niat yang baik serta taubat yang benar dari segala

227
Bagian dari risalah terakhir yang ditulis Imam Syahid untuk Ikhwan.
Diterbitkan oleh Majah Al Mabahits, 16 Januari 1951 M.
228
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), Kewajiban Aktivis Dakwah, hal. 367

191
bentuk kemaksiatan, dan agar kita dapat mengetahui permasalahan
dengan cepat.

Pentingnya Refleksi Nilai-nilai Tarbiyah

• Dalam proses tarbiyah sangat dibutuhkan perhatian yang besar


terhadap refleksi nilai-nilai ibadah, ketaatan, dan sarana-saran yang
beragam untuk tarbiyah, serta penjelasan tentang pengaruh-pengaruh
konkretnya terhadap individu peserta tarbiyah, yang tidak berdasarkan
jumlah yang dihasilkan semata.
• Hakikat dari refleksi nilai-nilai tarbiyah tentunya tidak akan tampak
kecuali pada saat-saat sempit dan tertekan yang dialami oleh masing-
masing individu. Maka melalui kondisi-kondisi tersebut akan tampak
hakikat perubahan yang terjadi. Adapun pada kondisi-kondisi biasa dan
tenang, maka tidak menjadi standar dan tidak menjadi ujian terhadap
kekokohan tarbiyah seseorang.
• Proses evaluasi dan perbaikan harus dilakukan dengan berinteraksi
langsung dalam setiap kondisi, dan bersandar pada kejelasan,
keterbukaan, keterus-terangan dan apa adanya, dan harus dilakukan
melalui pencermatan yang teliti, dan tidak berdasarkan pada isu-isu
yang tersebar, perkataan dan perkiraan, serta hendaknya
memperhatikan kondisi-kondisi tertentu masing-masing individu.
Tujuannya tidak untuk klasifikasi dan melemahkan, namun untuk
proses peningkatan kualitas tarbiyah setiap kader di segala aspek,
serta untuk menutupi celah-celah kerusakan dan kelemahannya.
• Proses evaluasi tarbiyah atau pembersihan hati ini merupakan hal
yang tetap dan akan terus berlangsung, yang tidak berhenti pada
suatu jenjang atau fase tertentu. Maka perubahan akan terus terjadi
pada setiap individu di setiap waktu, dan pencapaiannya terhadap satu
sifat tertentu, terkadang tidak berlangsung lama, karena sewaktu-
waktu ia akan dihinggapi oleh kelemahan dan permasalahan, dengan
demikian hal ini menegaskan kepada kita tentang urgensi

192
dilakukannya evaluasi dan penyegaran, baik di jenjang individu
peserta tarbiyah maupun mas’ul.
• Terkadang kelemahan refleksi tarbiyah pada diri seseorang disebabkan
oleh beberapa sebab umum maupun khusus; yang hal ini menuntut
sebuah pencermatan yang serius, dan upaya yang keras, serta usaha
untuk menghilangkan kendala-kendalanya.
Diantara sebab-sebab umum adalah:
1. Rusaknya iklim untuk mengoptimalkan fungsi sarana-sarana
tarbiyah, lemahnya hubungan antara sesama peserta tarbiyah, dan
sesama murabbi dan mas’ul.
2. Tidak memahami dan menguasai sarana-sarana tarbiyah yang
beraneka ragam dengan pemahaman yang benar, baik murabbi
atau individu-individu yang melaksanakannya, yang kemudian
mengakibatkan terjadinya kerusakan dalam penerapannya.
3. Lemahnya kualitas tarbiyah murrabi dan kepiawaian mereka dalam
menggunakan sarana-sarana tarbiyah yang beraneka beragam,
dan keterbatasan kemampuan pada jumlah sarana tarbiyah yang
sangat sedikit. Pengalaman dan keahlian dalam menggunakan
sarana-sarana tarbiyah diwariskan melalui interaksi langsung dari
satu jenjang ke jenjang yang lain, dan tidak melalui penjelasan-
penjelasan teoritis.
4. Kurang optimalnya dorongan pada setiap peserta tarbiyah untuk
berinteraksi langsung dengan sarana-sarana tarbiyah tersebut,
mengevalusi dan mengawasi pengaruhnya terhadap diri mereka.
5. Hilangnya naluri tarbiyah dari setiap peserta tarbiyah, dan tidak
jelasnya manhaj tarbiyah yang mereka miliki.
6. TIdak ada evaluasi dari murabbi terhadap refleksi dan pengaruh
instrumen tarbiyah pada masing-masing peserta tarbiyah, dan
tidak adanya teguran kepada mereka ketika terjadi kelemahan dan
permasalahan.
7. Lemah atau hilangnya kekuatan spirit dan semangat yang tinggi,
yang bermula dari mas’ul kemudian berpindah ke peserta tarbiyah.

193
8. Banyak dan melimpahnya tugas dan kewajiban tanpa keteraturan
(analisa beban dan pendelegasian tugas), yang menyebabkan
kemalasan dan terbebani.
9. Sedikitnya zikir dan doa kepada Allah, baik skala personal maupun
kolektif (jamaah).
10. Kerasnya hati, serta dominasi dosa dan maksiat.

Selain itu terdapat permasalahan-permasalahan khusus yang


berkaitan dengan individu-individu tertentu, baik masalah finansial,
sosial, pekerjaan (profesi), atau penyimpangan dalam pikiran dan
prilaku.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan evaluasi yang cermat terhadap


setiap individu kader dan melakukan upaya penyembuhan yang cocok
untuk itu, dengan tetap memahami bahwa proses penyembuhan hati
bukan permasalahan yang mudah.

Istighfar, doa, zikir, memperbanyak ikatan dengan Al Quran, shalat


malam dan sedekah adalah ibadah yang dapat membersihkan dan
menyucikan hati.

Tarbiyah Mas’ul Dakwah dan Struktur Kepengurusan

Sesungguhnya dakwah memberikan perhatian khusus terhadap


tarbiyah para mas’ul, mempersiapkan kemampuan dan kemahiran di bidang
yang digelutinya, begitupula dengan persiapan tarbawi. Hal ini merupakan
dasar yang akan membantunya dalam menjalankan tugas sesuai dengan
kemampuannya.

Berikut beberapa sisi-sisi penting yang sangat diperhatikan dalam


tarbiyah para mas’ul:
a. Yang berhubungan langsung dengan diri mas’ul

194
1. Rasa tanggung jawab yang tinggi seorang mas’ul di hadapan Allah
Swt., dan ia akan memikul amanah tersebut di hadapan-Nya.
2. Selalu ikhlas dalam setiap amal, dan menghindari sifat-sifat ujub,
angkuh, riya, sum’ah (ingin selalu dipuji), serta selalu berupaya
merasakan bahwa ia sangat membutuhkan jamaah ini, dan bukan
jamaah yang membutuhkannya.
3. Tidak tergantung dengan kedudukan, sama halnya ia dikedepankan
atau dikebelakangkan, serta selalu menguatkan semangat jundiyah
(militansi dan kepatuhan terhadap pemimpin).
4. Senantiasa memuhasabah dirinya, sebagaimana yang dilakukan
oleh Umar bin Khattab –semoga Allah meridhainya-.
5. Hendaknya ia memiliki bekal khusus dari ibadah dan ketaatan, yang
dengannya ia mendapatkan bekal ruhi, dan menjadikannya sebagai
sarana untuk meminta taufik dari Allah, memperbanyak doa, meminta
dan menyandarkan diri kepada Allah.
6. Dan hendaknya ia selalu memiliki kekuatan spiritual yang tinggi,
semangat yang selalu membara, dan tekad yang kuat.

b. Yang berhubungan dengan tugasnya:


1. Kemurnian yang paripurna, yaitu dengan mengikat setiap anggota
tarbiyah dengan jamaah, dan bukan dengan figuritasnya, serta tidak
menghalangi siapa saja yang bersamanya dari anggota kelompok dan
jamaah.
2. Amanah dalam pengiriman dan penyampaian
3. Mengembangakan potensi dan kemampuan diri, serta berupaya
untuk mendapatkan beberapa keahlian yang dibutuhkan.
4. Lebih mengutamakan kerja, dan menjauhkan diri dari cara-cara
yang gaduh dan suara yang tinggi, senantiasa tawakkal kepada Allah,
mengutamakan hal-hal yang substabsial, sebagaimana lebih baik
baginya memiliki buku tanpa judul dari pada memiliki judul tanpa
buku.
5. Selalu menggunakan cara-cara musyawarah dan prosedural kerja.
6. Menerima nasehat dari siapapun

195
7. Memperhatikan adab-adab muhasabah dan evaluasi, dan
hendaknya tegas dan mampu mengambil keputusan.
8. Hendaknya ia Menjadi teladan bagi siapa saja yang bersamanya
dalam hal ketaatan, kedisiplinan dan dalam berbagai hal.
9. Mampu mengkondisikan suasana, serta menebar iklim kasih,
persaudara dan saling memikul beban.
10. Menjaga keadilan dan kesamaan dalam hubungan sosialnya,
mampu memperhitungkan dan memutuskan sesuatu secara tepat,
serta bersandar pada kebenaran dan bukti.
11. Menerima masukan, permintaan dan evaluasi

c. Yang berhubungan dengan interaksinya dengan anggota tarbiyah


1. Lapang dada, berbaik sangka dan percaya terhadap ikhwah yang
lain, karena mereka adalah turut berperan bersamanya untuk memikul
tanggungjawab.
2. Memiliki kemahiran tarbiyah dalam menyampaikan taujih
(pengarahan) dan materi-materi tarbiyah, karena ia bertanggungjawab
terhadap mereka, mengembangkan potensi yang mereka miliki dan
pendelegasian yang tepat.
3. Memiliki kemampuan untuk menguasai anggota, menghadapi
problematika dan permasalahan-permasalahannya.
4. Mengenal karakter, tipikal dan kondisi setiap anggota
5. Mewujudkan makna-makna Ta’aruf, Tafahum, dan Takaful, dengan
makna yang sempurna di antara anggota.
6. Tidak menyembunyikan ilmu, mentransfer pengalaman dan
kemampuan kepada orang-orang yang bersamanya, serta bekerja
keras dalam mewariskan dakwah dan pembentukan simpatisan
dakwah.
7. Saling berhubungan dengan ikhwah yang lain, berinteraksi dengan
mereka, dan berada di garda terdepan bersama mereka.
8. Menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang yang
lebih senior dan yang junior dari mereka.

196
Muwashafat tarbawiyah (karakteristik kader tarbiyah) ini tentunya
tidak mungkin dilahirkan dalam waktu sehari-semalam, atau dengan
mengadakan lompatan-lompatan tertentu, namun hal ini hanya bisa terwujud
dengan ketekunan, latihan, dan pengarahan yang berkesinambungan. Kita
tidak mengatakan bahwa seorang mas’ul dalam segala sisi telah memiliki
dan menyempurnakan karakter-karakter ini, namun paling tidak ada standar
minimal untuk kita memulai. Yang kemudian penyempurnaan, latihan dan
peningkatan kualitas tarbiyah akan dilanjutkan dengan menggunakan
sarana-sarana tarbiyah yang beraneka ragam, dengan tetap mengetahui
bahwa jika seorang kader yang hendak diberikan tanggungjawab ternyata
memiliki sebuah cela yang bisa merusak, maka kita harus berhenti sejenak
sebelum memberikan tanggungjawab tersebut, dan kita tidak boleh
meremehkan permasalahan itu, walaupun ia memiliki banyak karakter positif
yang lain.

Diantara permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:


Lemahnya makna jundiyah (militansi dan ketaatan kepada qiyadah),
lemahnya kedisiplinan terhadap jamaah dan condong kepada figuritas dan
mengikuti pandangan individu dan nafsu, tidak memiliki loyalitas, bergantung
dengan kedudukan dan posisi serta tidak siap untuk meninggalkannya jika
diminta, keras hati dan kasar terhadap orang lain, bangga terhadap diri
sendiri, tidak menerima kritikan dan masukan (terutama dalam hal
penyimpangan finansial dan akhlak), dll.

Kepengurusan dalam dakwah kami, tidak terpisah dari tarbiyah dan


pembinaan, karena keduanya adalah sebuah kemestian. Praktek
kepengurusan pada dasarnya merupakan praktek nilai-nilai tarbiyah dan ia
memiliki bentuk dan sarana yang beragam, ia tidak semata mengikuti
sebuah manhaj studi atau gagasan yang disampaikan di pelatihan-pelatihan
managerial, namun lebih kepada praktek, latihan, interaksi dan pelatihan
anggota tarbiyah oleh mas’ul.

Adab-adab Islam, akhlak dan batasan-batasannya dalam hubungan


dan interaksi langsung yang terjalin antara anggota tarbiyah dengan

197
batasan-batasan kerja itu sendiri, merupakan asas tarbiyah dan mahhaj
praktis yang akan mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Struktur kepengurusan di dalam jamaah pada dasarnya merupakan


sebuah fase tarbiyah dimana ada saling keterkaitan dan kesatuan dalam
menjalankan tanggungjawab, dan bukan struktur kelompok yang hanya
melakukan kerja-kerja nisbi yang terpisah di beberapa sekat yang berbeda-
beda. Struktur-struktur itu misalnya, serikat para pekerja, petani, kalangan
profesional, pedagang, pegawai, ulama, atau persatuan para guru, pelajar
dan kaum wanita. Dengan pelbagai jenjang tanggungjawab yang ada di
internal struktur kepengurusan tersebut, justru mereka berada dalam satu
barisan yang saling bertautan erat yang membentuk kesamaan
tanggungjawab, baik melalui pemilihan atau penetapan dari anggota tanpa
melihat sekat-sekat bidang di tempat mereka bekerja, lalu mereka
menyelesaikan tugas dan kepentingan mereka secara kolektif.

Tidak mengapa jika struktur kepengurusan tersebut berupa


kepanitiaan atau tim-tim khusus yang bekerja dan bergerak di masing-
masing bidang dan divisi tertentu.

Terkadang, beberapa peristiwa menimbulkan gerakan tertentu


terhadap jamaah, sementara ia belum memiliki kesiapan yang sempurna
dengan kemampuan dan ketersediaan tenaga-tenaga ahli, baik kuantitas
maupun kualitas yang mumpuni. Dalam kondisi seperti ini, dakwah tentu
tidak bisa berdiri mematung hingga sempurna seluruh potensi dan
kemampuan yang ada. Namun selayaknya pada waktu itu, ia berusaha
menggali dan memusatkan perhatian untuk menyiapkan pembinaan-
pembinaan tarbawi dan keahlian untuk para tokoh di dalam jamaah, dan
hendaknya aktivitas dan peristiwa yang terjadi tidak menggangu proses
pembinaan tarbawi dan pembinaan terhadap aset dan tokoh-tokoh jamaah.
Hendaknya juga dilakukan upaya keras untuk mengobati titik-titik cela dan
kelemahan yang ada. Proses penyiapan kader-kader handal yang memiliki
kemampuan paripurna dalam pelbagai sisi baik tarbawi maupun keahlian

198
tertentu merupakan proyek besar yang membutuhkan waktu yang relatif
panjang.

Sesungguhnya pertolongan Allah akan datang setelah dikerahkannya


seluruh kemampuan manusia secara optimal, dan menyandarkan seluruh
urusan dan bertawakkal kepada-Nya.

Sesungguhnya kader-kader dakwah yang menonjol, tokoh-tokoh, dan


kader-kader yang menjadi figur-figur politik dan sosial, sangat membutuhkan
perhatian tarbawi dan evaluasi yang cermat dan terus-menerus, karena
karakter gerakan dan aktivitas mereka, serta kantor-kantor tempat mereka
bekerja akan menguras banyak waktu yang mereka miliki, dan hal itu sudah
barang tentu memberikan dampak terhadap kondisi ruhi dan tarbiyah
mereka.

Sebagaimana sorotan publik, pers, kemilau kedudukan, dan gema


suara mikropon terkadang memberikan implikasi yang cukup besar terhadap
jiwa dan memberikan pengaruh yang negatif, yang kemudian menyebabkan
terjadinya fitnah dan penyimpangan, baik pikiran, kedisiplinan, loyalitas,
ketaatan dan ruh militansi. Yang kemudian menyebabkan timbulnya sifat liar,
takjub dengan pendapat sendiri, dan hanya loyal untuk kepentingan diri dan
kemaslahatannya sendiri. Hal ini bahkan sampai pada penolakan terhadap
taujih (seruan atau himbauan jamaah) dan pelanggaran terhadap rukun-
rukun bai’at, baik sebagian maupun seluruhnya.

Untuk itu, kami menegaskan tentang pentingnya persiapan tarbiyah


yang baik dan berkualitas terhadap figur-figur kader yang menonjol dan
tokoh-tokoh dakwah yang beraktivitas sebelum diterjunkan ke pelbagai
lapangan, memberikan imunitas kepada mereka dari fitnah dan
penyimpangan, serta melanjutkan pembinaan tarbawi secara terus menerus
dan berkesinambungan, dan senantiasa menerapkan budaya musarahah
(berterus terang) dan taujih-taujih tarbawi, serta memberikan perhatian yang
besar terhadap bentuk-bentuk penyimpangan sejak mula, walaupun sesuatu

199
yang kecil dan sederhana, dan hendaknya jamaah selalu tegas dan disiplin
dalam menerapkan hal ini.

Tentang Kitman (Menyembunyikan) dan Sirriyah (kerahasiaan)

Jamaah ini bukan sesuatu yang rahasia dan tertutup, namun adalah
sebuah barisan yang saling bertautan erat, bersatu dan saling mengasihi,
yang setiap individunya hidup bersama yang lain dan saling mengunjungi,
dan saling memikul beban satu sama lain.

Jamaah ini bukan pula sebuah kelompok rahasia yang masing-masing


individunya tidak mengenal individu yang lain kecuali tugasnya. Prinsip
jamaah ini adalah saling hidup bersama dan saling mengenal antara labinah
(batu bata) dalam barisan dakwah, yang saling bertaut, yang komitmennya
yang paling rendah adalah salamatul Shadr (lapang dada), dan yang paling
tinggi adalah al ‘Itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya dari
kepentingannya sendiri).

Imam Syahid berkata, “Kenalilah siapa saja yang engkau temui dari
saudara-saudaramu.”

“Hendaklah sebagian dari kalian memikul beban sebagian yang lain.


Demikian itulah fenomena iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian
dari kalian senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi
kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberikan
pertolongan selama ada jalan untuk itu.”

“Hendaklah selalu ada ikatan ruh dan amal dengan qiyadah.”

“Dan hendaklah ia mengenal dan mengetahui seluruh kondisinya,


serta yakin kepada pemimpinnya dan seluruh kemampuan dan keikhlasan
yang dimilikinya, yang kemudian melahirkan rasa cinta, penghormatan dan
ketaatan.”

200
“Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu
dengan pengetahuan yang lengkap, juga kenalkan dirimu kepeda mereka
dengan selengkapnya.”229

Hal ini tidak bertolak belakang dengan mainstream dan prinsip


harakah, serta konsentrasinya untuk mendalami pengetahuan yang khusus
dan bermanfaat untuknya. Rasulullah Saw. bersabda:
‫( )من حسن إسلم المرء تركه ماليعنيه‬
Artinya:
“Diantara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah meninggalkan
apa saja yang tidak bermanfaat baginya.”

Termasuk menjaga lisan dan menyimpan amanah majlis. Ini semua


termasuk adab-adab Islam dan akhlaknya, dan merupakan kewajiban jamaah
dan kerapian shaf dakwah.

Terdapat perbedaan besar antara kerahasiaan gerakan dan


kerahasiaan prinsip dalam dakwah. Di dalam dakwah tidak ada rahasia atau
sesuatu yang disembunyikan, atau terdapat prinsip-prinsip yang
dipublikasikan dan ada prinsip yang disembunyikan. Sesungguhnya dakwah,
-yang berlandaskankan manhaj Islam- prinsip-prinsipnya disampaikan secara
terbuka, target-target, visi dan misinya disampaikan, fase dan tahapan-
tahapan dakwahnya telah ditetapkan dan diketahui, risalah dan selebaran-
selebarannya diumumkan, kader dan tokoh-tokohnya hidup dan berbaur
dengan masyarakat, dan mereka memiliki izzah dengan dakwah yang
mereka ikuti, kegiatan dan aktivitas mereka di tengah masyarakat terbuka
dan dapat diketahui, mereka ada di mesjid-mesjid, lembaga-lembaga sosial,
bersama masyarakat di setiap tempat dan waktu, dan mereka juga
melakukan perjuangan konstitusi dan aktivitas politik.

Adapun penutupan beberapa sisi dalam strategi gerakan di barisan


dakwah, maka hal itu lebih kepada upaya memproteksi dakwah akibat
229
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), Kewajiban Aktivis Dakwah, hal. 368

201
tekanan dan konspirasi musuh-musuh Allah, dan ini sesuai dengan sunnah
Rasulullah Saw.:
‫( ) استعينوا على قضاء حوائجكم بالكتمان‬
Artinya:
“Jadikanlah kitman (upaya untuk menutupi sesuatu) sebagai penolong
dalam memenuhi beberapa kebutuhan kalian.”

Yang Tsabit (prinsipil) dan Mutagayyir (relatif) dalam dakwah

Sesungguhnya dakwah memiliki keistimewaan dengan prinsip-


prinsipnya dan tujuannya yang tetap, sejak awal mula kelahiran dakwah. Jadi
tidak benar pendapat orang yang mengatakan bahwa dakwah ini awal mula
lahir sebagai gerakan dakwah tasawuf dan akhlak, kemudian berubah
menjadi gerakan politik.

Universalitas dakwah dan kesempurnaannya telah ditetapkan, jelas


dan dideklarasikan sejak dakwah ini diserukan. Risalah-risalah Imam Syahid;
dari risalah yang pertama hingga risalah yang terakhir yang disampaikan
kepada Ikhwan memiliki manhaj dan prinsip yang sama, dan hal ini tidak
bertentangan dengan hakikat bahwa strategi dakwah dalam melaksanakan
dan menerapkan memiliki tahapan dan fase-fase tertentu sebagaimana yang
dijelaskan dan diarahkan oleh Imam Syahid.

Imam Syahid berkata dalam Muktamar Para Pemimpin Wilayah dakwah


pada tahun 1945 M:
“Telah ditetapkan kepada kalian asas pertama dakwah sejak bulan
Dzulqa’dah 1347 H/1928 M), dan kalian akan terus memegang teguh dan
tegar hingga Allah mewujudkan janji-Nya –insya Allah-.”

Sesungguhnya prinsip-prinsip jamaah adalah prinsip-prinsip Islam itu


sendiri, engkau tidak bisa menyimpangkannya. Jamaah dakwah, harus
memegang teguh prinsip-prinsip yang khusus baginya dalam gerakan dan
pengorganisasian, dan ia memiliki dasar pijakan yang berlandaskan kepada

202
syariat Allah. Sementara sarana-sarana dakwah akan terus berubah dan
berkembang sesuai dengan kondisi dan keadaan.

“Untuk itu kami harus menegaskan lagi bahwa, sesungguhnya


tarbiyah, dakwah dan jamaah yang terorganisir, merupakan prinsip dan
ketetapan yang tidak akan berubah. Meskipun sarana-sarana dakwah dan
aktivitas-aktivitas yang menyokong misi dakwah semakin berkembang,
namun dakwah tetap berada dalam prinsip dan poros yang tidak berubah.

Perubahan dan inovasi pada sarana dan kegiatan-kegiatan dakwah


memiliki batasan-batasan dan prinsip yang harus dipenuhi serta melalui
institusi-institusi jamaah yang menetapkan syura dan nota-nota
kesepakatan.230

Tentang Rasa Kepemilikan Terhadap Islam

Jamaah tidak memonopoli sifat Islam untuk dirinya semata, dan


menapikannya dari kelompok-kelompok yang lain, karena ia bukan jama’atul
al Muslimin (kelompok kaum muslimin) yang siapa saja meninggalkan dan
berbeda dengannya maka telah keluar dari agama Islam, namun ia
merupakan jama’atul minal muslimin (sebuah kelompok dari kaum muslimin)
yang berdiri demi mewujudkan tujuan-tujuan Islam sesuai dengan ideologi
dan manhaj yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah, sebagaimana yang
dipahami dan diyakini sebagai jalan yang benar dan tidak ada jalan yang lain.
Jamaah tidak menetapkan sebuah hukum (ketetapan) terhadap orang lain,
hanya Allah semata yang berhak menetapkan hukuman terhadap mereka.
“Kami adalah para da’I, dan bukan hakim yang menghukumi.”231

Jamaah tidak berdiri di atas mazhab tertentu, namun ia terbuka untuk


yang lain sesuai dengan pemahaman Islam yang komprehensif dan mengajak

230
Imam Syahid Hasan Al Banna, Al Ustadz Fuad Al Hajarsy, hal. 164. Lihat pula:
Al Tsabit wa al Mutaghayyir, Dr. Jumah Amin.
231
Kami adalah Para Da’I bukan hakim, Hasan al Hudhaibi

203
kepadanya, dan mengajak untuk bekerjasama untuk mengembalikan
kemulian umat Islam dan mewujudkan tujuan-tujuan Islam seluruhnya.

Hujjah

Jamaah dan prinsip-prinsipnya merupakan hujjah bagi kader-kader


dakwah, dan bukan kader yang menjadi hujjah baginya. Sejauhmana
sesesorang mengambil dan menerapkan nilai-nilai dakwah dan tarbiyah,
serta ketaatannya terhadap prinsip-prinsip dakwah, maka sebesar itu pula ia
berperan sebagai representasi dakwah ini, walaupun ia sebagai prajurit
dakwah yang berada di akhir barisan.

Imam Syahid berkata, “Ada beberapa orang yang ada di barisan kami,
namun sesungguhnya ia tidak bersama kami, dan ada beberapa orang yang
tidak berada di barisan kami, namun ia bersama kami.”

Beliau juga berkata tentang kewajiban dakwah dan ajaran-ajarannya:


“Cengkeramlah dengan sungguh-sungguh bimbingan-bimbingan ini.
Jika tidak maka dalam barisan orang-orang yang duduk dan para pemalas
masih terdapat kursi-kursi yang kosong.”

“Saya yakin, jika engkau mengetahuinya dengan baik dan engkau


menjadikannya sebagai cita-cita dan orientasi hidupmu, maka balasanmu
adalah kehormatan hidup di dunia dan kebajikan serta ridha di akhirat.
Engkau bagian dari kami dan kami bagian dari dirimu. Jika engkau berpaling
darinya lalu duduk-duduk santai saja, maka tiada lagi hubungan antara kita.
Jika engkau seseorang yang biasa berada di depan majelis kita, di pundakmu
tertempel gelar-gelar mentereng, dan kau tampak begitu menonjol di antara
kita, maka dudukmu akan dihisab Allah dengan seberat-beratnya hisab.”232

Jadi yang merepresentasikan jamaah dan menyampaikan sikap-


sikapnya secara langsung, adalah qiyadah (pemimpin) tertinggi, yang disebut
232
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), Hal. 369

204
Mursyid ‘am, atau siapa yang dipercayakan sebagai juru bicara atas nama
jamaah dan menyampaikan pandangan-pandangannya. Adapun individu
dalam jamaah dakwah dan siapa saja yang bergabung dengan jamaah ini,
-dengan tetap berada dalam satu kesatuan dan ideologi yang sama-, maka
setiap orang berhak memiliki pandangan, ijtihad, dan interpretasi dalam
pemikiran dan dakwah Islam, selama tidak keluar dari batasa-batasan
syariat, prinsip dan sikap-sikap jamaah.

Bab IV

Proses Pembentukan Personal


Kader Dakwah
(Perbaikan Diri)

Pemahaman Tarbiyah Dalam Proses Pembinaan

Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik,


maka akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.”233

“Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan


pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan
pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan
perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan
penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses
ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak
mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.”234

“Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh


Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang
mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang
233
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
37
234
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 70

205
luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan
dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk
memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada
tujuan.”235

Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi


di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam
risalah dan penyampaian-penyampaiannya, adalah dengan cara
mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa
saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi
amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil
muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi
melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan
keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah,
dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya.

Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros


utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu:
1. Poros keimanan dan ibadah
2. Poros akhlak dan budi pekerti
3. Poros dakwah dan gerakan

• Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses


pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan
jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan.
• Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros
keimanan dan akhlak.236
• Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat
perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik
peran dan tugas yang diberikan.
• Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu:

235
ibid
236
Hal ini sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid di dalam Risalah Pergerakan,
Dakwah Kami di Zaman Baru, hal. 236

206
a. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader,
“Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban
kita yang pertama.”237
b. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh
jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang
menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan
takaful.

• Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk
menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun
dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus
mengupayakannya.
• Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan
dan memperbaharui ruh, jiwa dan perasaan, sebagai asas untuk
bergerak dan terus eksis.
• Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas; Iman yang kuat,
pemahaman yang benar, pembinaan yang cermat, cinta yang
dipercaya, dan amal yang berkesinambungan. Ini sebagaimana yang
dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya.
• Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah, tidak
melakukan lompatam-lompatan, serta urgensi kesatuan barisan. Imam
Syahid berkata, “Yakinlah kepada fikrah kalian, dan berkumpullah di
sekelilingnya, bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya.”238

Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan


yang sederhana dan terbatas, namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam.
Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga
ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). Meskipun di antara tujuan-tujuan
tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar,
kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj
Allah Swt., pertolongan, kemenangan dan taufik dari-Nya. Hal ini tidak
mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang
237
Dari petuah Imam Syahid
238
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), Hal. 108

207
dalam proses pembinaan, tarbiyah dan pembangunan, yang berlangsung
secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya, dengan tetap
memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan
tarbiyahnya, karena hal ini merupakan asas pijakan.

Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya, dan target-


target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan,
kudeta, atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam
perubahan, menyelesihi atau meremehkannya. Pengalaman sejarah yang
pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer,
menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam
Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw., dan sunnah Allah
dalam perubahan dan kejayaan, yang mencakup pengalaman-pengalaman
orang lain, dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh
kedalamnya.

Karakteristik Pembinaan Diri

Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang


paripurna dan gradual terhadap personal, dari sisi normatif teoritis menuju
sisi praktis-realistis, dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap
orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual, wawasan keilmuan dan
kemahiran, yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif
dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati, yang berakhlak, berbudi
pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti, seimbang,
dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang, yang berpedoman kepada
sunnah Rasulullah Saw. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan.
Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat, tiada lain adalah
pengantar, manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk
mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjuk-petunjuknya dalam
membangun dan memperbaiki manusia.

208
• Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan
diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri, yaitu dengan
membangun keimanan, membersihkan jiwa dan menguatkan
keinginan. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan
tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk
menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini, yaitu Usrah. –
Dalam kerangka jamaah- usrah adalah labinah dasar dalam
membangun jamaah. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah
yang akan mewujudkan, ta’aruf, tafahum dan takaful, diantara kader
dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain.
• Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana
pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang
ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan
kemajuan-, Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang
harus memenuhi komunitas pembinaan, labinah-labinah, dan seluruh
barisan dakwah, yaitu cinta karena Allah, persaudaraan, saling
memaafkan, menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling rendah
adalah salamatu shard (berlapang dada). Ini adalah iklim dan suasana
yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang
luas, kesucian dan kemuliaan. Imam Syahid menyebut
penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’, dan menjadikan
seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan
pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan
diri.
• Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi
(mendasar) dalam dakwah, baik dalam hal menetapkan mas’ul,
maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya, atau hubungan
dengannya. Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan
mengatakan, “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan- menduduki
posisi orang tua dalam ikatan hati, posisi seorang guru dalam
memberikan pengajaran ilmu, dan posisi seorang syaikh dalam aspek
pendidikan rohani, dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan

209
kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Dan dakwah
mengumpulkan seluruh makna ini.”239
• Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap
kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan
tarbawi kader-kader dakwah. Beliau tidak memisahkan antara
pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat, antara gerakan, aktivitas
dan pengaruh kader di tengah masyarakat. Tetapi ia adalah sebuah
pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan
pengaruh satu sama lain, dan ia adalah bagian yang mendasar dari
pembentukan ini, yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari:
“Pemahaman yang teliti, pembinaan yang mendalam, dan amal yang
berkesinambungan. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya
sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan
muwashafat tarbiyah, karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul
Khulq (Kokoh akhlaknya).
• Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal:
“Kesederhanaan, tilawah, Shalat, Keprajuritan, akhlak.”240
Maknanya adalah:
- Poros keimanan dan ibadah, inti adalah tilawah dan
shalat.
- Poros dakwah dan gerakan, intinya adalah keprajuritan.
- Poros budi pekerti, intinya adalah akhlak
- Karakter manhaj dan pembentukan sarana, intinya adalah
kesederhanaan.
-Slogan pembentukan ini, Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan
kami), Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami), Al
Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami), Al
Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami), Al Maut Fi
Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami
tertinggi).

239
Risalah Pergerakan, Risalah Ta’alim, Rukun-rukun Bai’at, hal. 364
240
Risalah Pergerakan, Risalah Ta’alim, Kewajiban Aktivis Dakwah, hal. 369

210
• Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses
pembentukan ini dan tingkatan-tingkatannya dalam memenuhi
tuntutan-tuntutan dakwah, jihad dan dalam mengemban beban
dakwah yang berat, beliau berkata:
“Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi
terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk
menghimpun berbagai bagian yang ada.

Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. Tidak dapat dikerjakan oleh
seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul
beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. Slogan
utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan.

Sistem dakwah –pada tahapan ini- bersifat tasawuf murni dalam


tataran ruhani, dan bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan
untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat; tanpa ragu dan
bimbang.”241

• Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam
karakteristik pembentukan dan tarbiyah, dengan kesempurnaannya di
pelbagai sisi perbaikan, yang sesuai dengan keinginan dan target yang
ingin dicapai, yang kemudian disebut sebagai, Tahap pengenalan;
dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan
fikrah Islam di tengah masyarakat. Urgensinya adalah kerja social bagi
kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasihat, bimbingan,
dan beberapa cara lain. Tentang hal ini, Imam Syahid berkata,
“Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan
kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip
ajarannya. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini- tidaklah
dituntut, bahkan tidak lazim. Tingkatannya seiring dengan kadar
penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum
jamaah.”242
241
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 397
242
Ibid, hal 397

211
Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang
berkerja di lapangan ini, yaitu lapangan perbaikan umum,
mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat.

• Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam


proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. Beliau
berkata, “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia-
dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi
tingkatan dalam akidah Islam. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat
dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan
mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup
mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil, dan ta’thil, serta
tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita
mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana
Rasulullah Saw. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.243

“Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi
dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan
maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan
dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak
justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah.”244

Beliau juga berkata, “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci
adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum
dalam agama Islam.”245

Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh


seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah, mesjid
dan perhatian yang besar terhadap shalat, Qiyam Lail, dan hendaknya

243
Ibid, hal. 357
244
Ibid, hal. 358
245
Ibid, hal. 356

212
memiliki wirid harian bacaan Al Quran; baik wirid tilawah,
mendengarkan, menghapal, menghayati dan mentadabburinya.246

• Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah


berlandaskan manhaj Islam, yang titik tolaknya adalah perbaikan dan
mencakup segala aspek kemanusiaan, baik kepribadiaan, akhlak,
kehidupan dunia dan akhirat. Beliau juga tidak membedakan dalam
urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita, anak-
anak maupun orangtua. Semuanya memiliki satu pijakan dasar,
walaupun berbeda bentuk dan programnya. Hal ini merupakan rukun
pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan
pembangunan Negara. Imam Syahid berkata, “Dan dengan urgensi
kelahiran generasi baru ini, maka perbaikilah dakwah dan
maksimalkan proses pembentukannya, ajarkan kepadanya kebebasan
jiwa dan hati, serta kebebasan pemikiran dan akal, kebebasan jihad
dan amal. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan
keindahan Al Quran, serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah
bendera dan panji Nabi Muhammad, maka kalian akan menyaksikan
kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan
membahagiakan orang lain.”247

Imam Syahid berkata, pertama-tama, kami menginginkan seorang


yang muslim dalam pola piker dan akidahnya, dalam moralitas dan
perasaannya, serta dalam amal dan prilakunya. Ini merupakan salah
satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami.”

Beliau juga berkata, “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat


membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir
produktivitas yang pemberani.”248 Dakwah ini tidak membutuhkan
kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku, serta anasir-anasir

246
10 wasiat
247
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 197
248
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 63

213
dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri, yang
memiliki jiwa yang keropos.”

“Untuk itu, kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana


perhatian kami kepada kaum pria. Kami juga memperhatikan anak-
anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda.”249

Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan


beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula, yang
mencakup manhaj tarbawi dan takwini, dengan tetap menjaga
beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka.

• Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh


seorang muslim di dalam kehidupannya, yaitu:
Salimul Akidah (bersih akidahnya), shahihul Ibadah (benar ibadahnya),
Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya), Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang
kuat), Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya), Qadirun Alal
Kasbi (mampu berekonomi), Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir
seluruh urusannya), Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur
waktunya), Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya), Nafi’un Li
Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya).250

• Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut, yaitu; Fahm


(pemahaman), Ikhlas, Amal (aktivitas), Jihad, Tadhiyah (pengorbanan),
Taat (kepatuhan), Tsabat (keteguhan), Tajarrud (kemurnian), Ukhuwah
dan Tsiqah (kepercayaan),”251 sebagai poros-poros pembentukan
utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen
terhadap jamaah ini, yaitu sebagai poros penyempurna, yang akan
berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain, yang menyatu dan
membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. Unsur ini yang
kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang

249
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 177
250
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 356, 359
251
Ibid

214
diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-
kegiatan tarbiyah.

Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang


dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah, demi membentuk
labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan:

Dalam aspek harakah, kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini;


Amal (aktivitas), Jihad, Tadhiyah (pengorbanan).

Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah, kami membutuhkan


Taat (kepatuhan), Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan).

Dalam aspek keyakinan, kami membutuhkan Fahm (pemahaman),


Ikhlas, Amal (aktivitas), dan Tajarrud (kemurnian).

Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas, seorang kader dakwah


membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan); agar dapat mewujudkan
semua rukun-rukun baiat, dan tsabat di atas prinsip-prinsip, baiat dan
komitmennya terhadap jamaah.

Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat, maka kelemahan


dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan
kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain.

• Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang


berupa tingkatan-tingkatan amal-, yaitu arah dan wadah yang
membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah, yang
berasal dari dalam diri setiap individu, kemudian mempersiapkannya
agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya.

Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang


al akh yang tulus, yaitu:

215
1. Perbaikan diri sendiri
2. Pembentukan keluarga muslim
3. Bimbingan masyarakat
4. Pembebasan tanah air
5. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah
Islam yang baik.
6. Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan
terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama.
7. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam
di seantero negeri.

Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap
akh sebagai anggota dalam jamaah itu.”252

Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan


perwujudannya di dalam program-program penyiapan individu, dan di
dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan. Sebagaimana ia juga
memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang
terwujud secara gradual, sesuai dengan masing-masing tujuan, tanpa
membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut, atau
membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain, dengan tetap
memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui, dalam rangka
mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu.

Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan


statis, namun fleksibel dan dinamis, dengan tetap menjaga perbedaan
antara individu kader, dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan
instrumen yang baru. Ia juga memelihara target, karakteristik dan
target-target utama. Program-program ini –baik teori maupun praktek-
tidak terpisah, namun saling menyempurnakan satu sama lain, yang
mencakup seluruh aspek tarbawi.

252
Ibid, hal. 359, 361

216
Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam
proses pembentukan individu serta kesinambungannya,
“Sesungguhnya, Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin; 1.
Perasaan dan nurani yang peka, sehingga dapat membedakan antara
kebaikan dan keburukan.
2. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam
memahami sesuatu itu benar atau salah.
3. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam
membela kebenaran.
4. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas
kemanusiaan secara baik, dan menjadi perangkat yang layak untuk
mewujudkan cita-cita yang mulia, mampu mengegolkan misi
kebenaran dan kebajikan.”253

Dengan demikian, maka kewajiban seorang akh adalah:


1. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-
Nya, untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan.
2. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk
meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya.
3. Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami, untuk mewujudkan
kemauan yang kuat dan tekad yang membaja.
4. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara
makan, minum, dan tidur, agar ia dipelihara oleh Allah dari
ancaman pelbagai penyakit.

Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini, ia tidak hanya


memperuntukkannya bagi kaum laki-laki dan meninggalkan kaum
wanita, melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam
pandangan Islam. oleh karena itu, Ukhti Muslimah, -sebagaimana kami
nasehatkan kepada al akh Mulsim- hendaklah selalu dalam kehalusan
nurani, keluasan cakrawala berpikir, kesempurnaan akhlak dan
kesehatan badan.254
253
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 235
254
Ibid, hal. 236

217
Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk
membangun kekuatan diri, dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut
merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk
bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah. Sifat-sifat terbut adalah:
“Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan, kesetiaan
yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan,
pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan,
dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan, keyakinan dan
penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan
dan penyimpangan, atau tertipu dengan yang lain.”255

Target-Target Tarbiyah

Manhaj tarbiyah dalam melakukan pembinaan dan perbaikan diri


menurut pandangan jamaah, berlandaskan dan bertitik tolak dari shibghah
Islam dan manhajnya yang mulia. Ia memiliki satu target yang ingin
diwujudkan, yaitu;
Mewujudkan kesempurnaan ibadah kepada Allah, menunaikan risalah
dakwah di muka bumi, menjalankan tugas dan tujuan-tujuan dakwahnya,
serta melaksanakan apa saja yang untuk mewujudkan tujuan-tujuan
tersebut.

Ini adalah persiapan umum dan khusus.


Umum adalah; mencakup seluruh aspek umum dalam proses
pembentukan kepribadian dan individu muslim.
Khusus adalah; mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas yang
diwajibkan kepadanya.
Dengan pemenuhan dua hal ini, maka ia menjadi garda depan di
barisan para mujahid yang tulus dalam mengemban risalah dakwah dan
teguh di atas jalannya.

255
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
45

218
Kami menginginkan pembentukan yang khusus terhadap anggota
jamaah dan para pengemban risalah dakwah, terus meningkat dan
menyempurnakan pembentukan umum yang diharapkan dari setiap manusia
muslim.

• Target Umum:
1. Kepribadian mukmin yang baik
2. Memiliki kekuatan jiwa yang luarbiasa
3. Yang berjuang keras dalam melaksanakan dakwah dan mewujudkan
target dan tujuan-tujuannya di seluruh permukaan bumi.
4. Menyempurnakan persiapan iman dan jihad
5. Teguh di atas jalan dakwah hingga ia menemui Allah

• Asas manhaj yang merupakan susunan target-target tarbiyah


ini, tergambar dalam hal-hal berikut:
1. 10 sifat untuk membentuk kepribadian mukmin yang baik
2. Rukun-rukun baiat dalam rangka mempersiapkannya untuk berjihad.
3. Tingkatan-tingkatan amal, dan target-target dakwah yang tinggi yang
ingin diwujudkan.

Asas-asas ini berlandaskan dorongan, visi, dan peran yang telah


ditetapkan berdasarkan manhaj Islam dan petunjuknya.

Dari asas ini, terwujudlah simpul utama terhadap tujuan-tujuan


pembentukan tarbawi, yang kemudian terbagi dalam beberapa target yang
sesuai dengan berbagai tahapan usia dan jenjang tarbiyah yang berbeda
antara individu di dalam jamaah. Yang terbagi dalam target-target marhalah
anak-anak dan dewasa, akhwat dan anggota usar, yang kemudian akan
dibagikan dalam jenjang-jenjang yang berbeda sebagaimana telah ditetapkan
dalam setiap fase.

Tujuan-tujuan yang telah tersusun ini berlandaskan pada hal-hal


berikut ini:

219
1. Visi dan misi; yakni yang disebut sebagai landasan filosofis dalam
perbaikan dan pembentukan.
2. Tujuan-tujuan tertinggi dalam Islam dan dakwah
3. Karakteristik individu dan kebutuhannya
4. Pandangan masyarakat dan tujuan-tujuan yang hendak diwujudkan.

Para ulama Ushul Fiqh meletakkan kebutuhan pokok dalam Daruriyyat


al Khams, yaitu; Hifzu Nafs (menjaga jiwa/kehormatan jiwa), Hifzu Din
(Menjaga agama), Hifzu Aql (menjaga akal), Hifzu Mal (menjaga harta), Hifzu
Nasl (menjaga keturunan), kemudian beberapa hal berupa takmilat
(kebutuhan penyempurna), tahsinat (kebutuhan pelengkap), sebagai acuan
dan rujukan kebutuhan manusia secara umum.

Setiap tujuan tarbiyah, memiliki tiga aspek penting:


1. Aspek keilmuan
2. Aspek perasaan dan kepekaan jiwa
3. Aspek akhlak

Aspek-aspek ini satu sama lain saling menyempurnakan dan


melengkapi. Kelemahan dan kekurangan pada salah satunya akan
menyebabkan kelemahan pada aspek-aspek yang lain. Oleh karena itu
refleksi aspek keilmuan, perasaan dan kepekaan jiwa, serta aspek akhlak
harus terlihat dalam diri setiap individu.

• Karakteristik Target(keistimewaan tujuan-tujuan tarbiyah):

1. Ia adalah tujuan yang berkesinambungan, yang memiliki permulaan


namun tidak memiliki akhir.
2. Pertumbuhannya berkesinambungan dan mengiringi setiap individu
dalam setiap aspek.
3. Ia akan berhadapan dengan banyak kendala dan perubahan dalam
kehidupan manusia, yang membuatnya butuh ketegaran, hingga ia

220
bisa kokoh dan eksis dalam mewujudkan target-target yang
diinginkan.
4. Ia adalah tujuan-tujuan yang saling berhubungan, yang sangat
memperhatikan sisi gradualitas dalam proses dan tidak melakukan
lompatan-lompatan, memiliki pengaruh yang akumulatif dengan tidak
adanya pemisahan, serta dilakukannya proses evaluasi dan
pengulangan.
5. Ia bersandar pada upaya untuk membangkitkan ruh, penyucian jiwa
dan muraqabatullah, serta dengan realitas keberadaan jiwa
lawwamah (mengajak kepada keburukan), dan jiwa yang hidup.

Ia berusaha menggabungkan antara upaya manusia dengan taufik


dan hidayah dari Allah, kemudian menjadikannya sebagai dasar
tempat bergantungnya hati dan memurnikan diri. Sebab-sebab
kelemahan dan kendala yang akan dihadapi sangat besar, tanpa
menyandarkan diri kepada pertolongan Allah, maka perbaikan yang
diinginkan tidak akan terwujud.

Manhaj tarbawi harus memiliki tujuan, target dan sarana-sarana


tertentu. Tujuan tanpa sarana untuk mewujudkannya maka hanya
akan menjadi gagasan idealis yang tidak realistis. Sarana tanpa
sasaran dan target maka akan mengarah kepada kesia-siaan.

Sebagaimana terdapat target-target jangka panjang dan target-


target jangka pendek, maka dapat dipahami bahwa target-target
cabang tertentu (target jangka pendek) dalam aktivitas tarbiyah yang
berkesinambungan merupakan sarana untuk mewujudkan target
besar atau target jangka panjang.

• Ciri-ciri Dalam Target Tarbiyah


1. Syumuliyah (komprehensif) dalam setiap aspek kehidupan
manusia. Ia mencakup semua kebutuhan masyarakat dan dunia

221
serta hubungannya terhadap alam semesta, termasuk
kebutuhan personal setiap individu.
2. TIdak ada pertentangan satu sama lain
3. Tujuan-tujuannya saling menopang
4. Keseimbangan, antara tujuan-tujuan tarbiyah dengan
keseimbangan yang dibatasi oleh timbangan relatif terhadap
target-target dan skala prioritas.

Termasuk keseimbangan antara kebutuhan Pribadi dengan


lingkungan yang mengitarinya; Individu – masyarakat – dunia
(kemanusiaan) – alam semesta.

Begitupula keseimbangan dalam menerapkan tarbiyah kolektif


dan tarbiyah individu, yang masing-masingnya saling
menyempurnakan.

5. Eksistensi dan kesinambungan


6. Inovasi; jika target-target utama dalam tarbiyah memiliki
keistimewaan tsabat (kekokohan) dan kekuatan, maka target-
target cabang membutuhkan inovasi dan pengembangan;
sesuai dengan realitas yang dihadapi.
7. Fleksibelitas; dalam menerapkan manhaj tarbiyah juga
dibutuhkan fleksibelitas; dengan tetap menjaga realita dan
kemampuan, begitupula dengan perbedaan antara individu, dan
kebutuhannya masing-masing.

• Tingkatan Target Tarbiyah


Tujuan-tujuan tarbiyah tidak berada dalam satu tingkatan saja,
namun memiliki beberapa tingkatan, yang dimulai dari tingkatan Al
Kifayah, yang berupa tingkatan minimal yang cukup untuk melakukan
aktivitas atau mewujudkan sebuah tujuan tertentu, kemudian terus
meningkat menuju tingkatan Al Kafaah, yang merupakan tingkatan

222
tertinggi dalam mewujudkan tujuan-tujuan ini. Tingkatan terakhir ini
juga merupakan tingkatan yang panjang dan tidak terbatas.

Target-target tarbiyah dalam pandangan Islam, harus mampu


mewujudkan tingkatan Itqon, kemudian meningkat kepada tingkatan
Shidq kemudian kepada tingkatan Ihsan.

Sebagaimana dalam tujuan tarbiyah; kesinambungan dan


penerapannya menggunakan bentuk yang beragam dan secara
gradual sesuai dengan kedalaman dan proses penerimaan peserta
tarbiyah, yang mencakup pengulangan materi dalam beberapa waktu
tertentu, atau mempelajari kembali suatu materi tarbiyah secara lebih
dalam, cermat dan lebih luas, atau lebih meningkatkan penerapannya
secara praktek, atau mengkaji salah satu aspeknya secara khusus,
mengajarkannya kepada orang lain, mengingatnya dalam beberapa
kondisi dan peristiwa. Contohnya dalam mempelajari sirah atau ayat Al
Quran; di jenjang pemula dalam proses pembentukan, bentuk
pembelajarannya mungkin sangat sederhana, kemudian setiap kali
meningkat jenjang tarbiyah seseorang, ia akan mengulangi proses
pembelajarannya secara lebih dalam dan cermat, sejalan dengan
peningkatan tarbiyah dan penerapannya, begitupula halnya dalam
ibadah dan ketaatan. Demikian keterikatan, pembelajaran, dan
penghayatannya tidak berhenti pada tujuan-tujuan tersebut.

• Urgensi Pembangunan yang benar dan Keterikatan antar


target-target tarbiyah:
- Karena tujuan-tujuan tarbiyah merupakan satu kesatuan,
dan memiliki pengaruh yang akumulatif dalam kehidupan
manusia, maka ia bermula dari masa kecil hingga akhir
kehidupannya. Dengan demikian maka pembagian tujuan-tujuan
tarbiyah dan pengenalannya dimula sejak masa kanan-kanak,
remaja dan pelajar, bahkan dimulai sejak masa balita melalui
kedua orangtuanya. Jika ia sudah meranjak dewasa, namun dalam

223
pertumbuhannya ia belum mendapat pembinaan tarbiyah yang
cukup atau belum melewati masa pembentukan pada periode
tersebut, maka ia menyempurnakannya pada fase-fase partisifasi
dakwah, yang dimulai dari jenjang simpatisan, pendukung, dan
jenjang-jenjang tarbiyah berikutnya.
- Sebagaimana tidak terdapat pemisahan antara
pembinaan umum dan pembinaan khusus.

Maksud dari pembinaan umum adalah, pembinaan dasar-dasar


tarbiyah, yang dengannya seorang muslim meningkatkan dirinya
secara terus menerus dan mewujudkan ibadahnya kepada Allah,
yang mencakup segala aspek kehidupan manusia, dan akan terus
berlangsung sepanjang kehidupannya, tumbuh dan berkembang
dengan nilai-nilai tersebut.

Adapun pembinaan khusus, adalah mempersiapkan seorang


muslim untuk menjalankan tugas yang penting, dan merupakan
tingkatan tertinggi dalam jihad dan pengorbanan. Hal ini juga
berlandaskan kepada manhaj Islam, dan merupakan pelengkap
dan berkaitan secara terus menerus dengan asas pembinaan
umum, dan tak akan memberikan buahnya, atau menguatkan
bangunan di dalam diri setiap individu, jika di dalam pembinaan
umum terdapat kerusakan atau kelemahan, kemandegan atau
kemandulan.

• Poros-poros simpul utama dalam Target-target Tarbiyah

Kita dapat menyimpulkan poros-poros simpul utama ini dalam


beberapa tujuan tarbiyah berikut:
1. Shahihul fahm (benar pemahamannya) dan Mutsaqqaful Fikr
(berwawasan pemikirannya).
2. Salimul Akidah (bersih akidahnya)
3. Shahihul Ibadah (benar ibadahnya), dan kuat imannya.

224
4. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat), dan memiliki tubuh
yang sehat.
5. Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya) dan peka perasaannya.
6. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya), dan
Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya).
7. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi).
8. Mampu memainkan peran dalam mendirikan rumah tangga
muslim.
9. Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya), Inovatif dalam
mengembangkan kemampuan dan potensinya.
10. Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya), dan mampu
memainkan perannya secara optimal di tengah masyarakat.
11. Berhubungan dengan umatnya, dan senantiasa berupaya untuk
mengembalikan kepemimpinan khilafah Islam.
12. Interaktif dengan alam di sekitarnya, dan berusaha untuk
kemaslahatan kemanusiaan dan kedamaian manusia.
13. Bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan dakwahnya, dan
komitmen terhadap jamaahnya.

Kita dapat memaparkan beberapa perincian poros dan tujuan-


tujuan umum dalam proses pembentukan ini, serta tujuan-tujuan dasar
yang terkandung di dalamnya:
Poros-Poros utama
Dalam Pembinaan tarbawi terhadap individu
1. Salimul Akidah (bersih akidahnya):
1. Dari aspek pemahaman yang benar dan akidah salaf
2. Hendaknya akidah adalah pendorong dan penggerak dalam
kehidupan dan prilakunya.
3. Hendaknya Allah menjadi tujuannya semata, dan hendaknya
indikasinya dapat terlihat dalam kehidupan dan
kepribadiaannya.
4. Memahami dan mengetahui tujuan penciptaannya, tabiat
kehidupan dunia, permusuhan terhadap syetan, keyakinan

225
terhadap hari kebangkitan dan hari pembalasan, saling
melengkapi antara lelaki dan wanita serta karakter masing-
masing, timbangan keutamaan antara anak-anak manusia,
pluralitas bangsa dan suku, serta tabiat hubungan dengan
mereka.

2. Shahihul Ibadah (benar ibadahnya), dan kuat imannya:


1. Mewujudkan makna ibadah secara total di dalam kehidupan
dan dakwahnya.
2. Mengutamakan sunnah yang benar, serta mengambil fiqh
dan ilmu yang sesuai.
3. Mampu mewujudkan dasar bangunan Islam dan rukun-rukun
iman (Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, Rasul-rasul-Nya, iman terhadap hari kiamat, serta iman
terhadap ketentuan-Nya, baik ketentuan baik maupun
ketentuan buruk.
4. Melaksanakan kewajiban dan mendekatkan diri kepada Allah
dengan amalan-amalan sunnah dan ketaatan.
5. Berupaya menjalankan tingkatan-tingkatan keimanan dan
sifat orang-orang yang beriman sebagaimana yang tertera di
dalam AL Quran dan sunnah.
6. Memiliki kekuatan iman dalam seluruh aspek-aspek berikut:
a. Terhadap Islam dan risalahnya
b. Terhadap AlQuran dan kemuliaannya
c. Terhadap dakwah dan tujuan-tujuannya
d. Terhadap kemenangan dan pertolongan-Nya
e. Terhadap kebenaran manhaj dan jalannya
f. Terhadap pemimpin dan jamaahnya
7. Memiliki hubungan erat dengan Al Quran, baik membacanya,
memahami, menghapal dan mengamalkannya.
8. Terikat hatinya dengan mesjid
9. Mencintai shalat dan mengerjakannya secara optimal dan
senantiasa menjaganya.

226
3. Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya) dan peka perasaannya:

1. Memperbaiki kepekaan hati yang telah mati, memperbaharui


perasaan dan membangun kekuatan diri yang besar serta
kemauan yang kuat.
2. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, dan
menghilangkan seluruh prilaku yang buruk, serta
menghilangkan sikap ujub, sombong dan riya.
3. Komitmen terhadap manhaj Islam, baik dalam perkataan,
muamalat dan prilakunya.
4. Memiliki semangat yang tinggi, halus perasaannya, peka
mata hatinya, mulia nuraninya, yang mampu membedakan
antara yang baik dan yang buruk.
5. Memperhatikan adab-adab Islami dalam setiap waktu dan
kesempatan.
6. Menjadi teladan bagi orang lain, dan mampu mempengaruhi
orang-orang di sekitarnya.
7. Mengetahui hak-hak orang lain dan memberikannya, baik
hubungannya terhadap orang lain. Seperti, baik prilakunya
terhadap kedua orangtua, menghormati yang tua,
menyayangi yang muda, dan berbuat baik pada
tetangganya.
8. Melengkapi diri dengan akhlak-akhlak keimanan dalam
harakah dan dakwah. Seperti, ukhuwah, cinta di jalan Allah,
budaya musyawarah, nasehat-menasehati, lapang dada,
itsar (mengutamakan kepentingan orang lain dari
kepentingannya sendiri), saling memaafkan, saling
menyayangi, dermawan, sabar, teguh, dll.

4. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat), dan memiliki tubuh yang
sehat:

227
1. Memiliki fisik yang kuat, sehat, dan mampu melakukan apa
yang ia butuhkan.
2. Menjaga kesehatan dan keburagannya, serta menggunakan
sarana untuk pencegahan dan pengobatan.
3. Melakukan olahraga yang bermanfaat, dan berupaya
mendapatkan beberapa keahlian yang diperlukan.
4. Melengkapi sarana-sarana kekuatan fisik sesuai
kemampuannya, dan menghindari kebiasaan-kebiasaan
buruk yang berpengaruh negatif terhadap kesehatannya,
menggunakan manhaj pertengahan dan menghindari sikap
berlebih-lebihan.
5. Mengekang syahwat dan nafsu diri agar sesuai dengan
manhaj Islam, mengenak kadar kekuatannya dan
mengarahkannya ke arah yang benar dan bermanfaat.
Diantaranya nafsu untuk mempertahankan diri, akal dan
keturunan.

5. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya), dan


Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya).
1. Teratur dan bersih dalam setiap urusannya, rapi dalam
setiap kondisi. Dimulai dari kerapian pakaian, penampilan,
keseharian dan pekerjaannya.
2. Memanfaatkan waktunya, dan tidak menyia-nyiakannya
pada hal-hal yang tidak bermanfaat, serta mengawasi
dirinya dalam hal itu.
3. Mampu mengatur seluruh urusannya, menetapkan skala
prioritas, dan mampu mewujudkan keseimbangan dalam
perhatian dan tuntutan pelaksanaan.
4. Mampu menentukan pekerjaan yang cocok pada waktu yang
sesuai.
5. Mampu mengikuti langkah-langkah strategis, dan pindah
dari alam khayalan dan perkataan menuju alam realita dan

228
amal nyata, baik dalam konsentrasi maupun sewaktu
melaksanakan.
6. Senantiasa bertawakkal kepada Allah dalam segala
aktivitasnya.

6. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi):


1. Mampu mandiri secara ekonomi yang cukup dan sesuai
dengan kondisinya, dengan memiliki keahlian dan
pengembangan dirinya dalam hal itu.
2. Mencari ilmu dan keahlian yang dibutuhkan untuk bidang
tersebut.
3. Selalu berupaya untuk mendapatkan penghasilan yang halal,
sesuai dengan batasa-batasan syariat dalam mendapatkan
rezeki.
4. Amanah dan jujur dalam pekerjaan, merasa cukup dengan
apa yang dimiliki, serta menghindarkan diri dari sifat ujub,
bakhil dan tamak.
5. Melakukan ibadah kepada Allah dengan pekerjaannya dan
senaniasa bertawakal kepada-Nya.
6. Mengenal nilai harta dan pekerjaan sesuai dengan
pandangan Islam.
7. Menyisihkan pendapatannya untuk orang-orang fakir dan
miskin, serta senantiasa mengeluarkan zakat fitrah dan
zakat mal.

7. Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya), dan mampu


memainkan perannya secara optimal di tengah masyarakat:
1. Senatiasa berharap kebaikan untuk manusia dan
kemanusiaan, dan berupaya untuk melakukannya.
2. Senantiasa berlaku positif, dan menggunakan cara
perbaikan bukan mencela atau menghancurkan, serta selalu
menjaga adab-adab nasehat terhadap individu dan para
mas’ul dakwah.

229
3. Bermanfaat bagi selainnya, baik individu maupun lembaga,
dengan melakukan kerjasama dalam kebaikan dan kebajikan
dengan orang lain. Yaitu mewujudkan prilaku positif,
mempengaruhi dan melakukan perbaikan di dalamnya.
4. Mengenal problematika dan realita yang dihadapi
masyarakatnya, serta berupaya untuk memberikan saham
kebaikan dan pelayanan umum, serta berusaha bekerja
untuk melakukan perbaikan dan pengembangan
masyarakatnya dalam pekerjaan dan profesinya.
5. Berupaya untuk memperbaiki prilaku-prilaku buruk dan
kebiasaan yang tidak baik, serta fenomena kerusakan
pemikiran dan perbuatan dengan sarana yang paling baik
dan mudah.
6. Berupaya untuk membangun negerinya, menjaga
kemandirian dan persatuannya, mendukung perkembangan
politik, keilmuan dan ekonominya, serta melepaskannya dari
segala bentuk tekanan dan intimidasi Negara asing.
7. Berusaha menyebarkan dakwah dan akhlak-akhlak mulia di
tengah masyarakat, serta memberikan hidayah dan petunjuk
kepada orang lain.
8. Menguasai batasan-batasan dalam menjalankan amar
ma’ruf nahi munkar, serta nasehat terhadap para mas’ul dan
orang-orang selain mereka, serta mengetahui secara cermat
undang-undang dan prosedur yang berlaku.
9. Berprilaku dengan adan-adab dakwah dan seorang da’I,
mampu berkomunikasi dengan orang lain dan memberikan
pengaruh pada mereka, serta memahami seni berbeda
dalam pandangan.
10. Mengikuti dan menunaikan tugas-tugas yang diberikan
jamaah dalam aktivitas-aktivitas dakwah.
11. Memiliki keahlian dan kemahiran komunikasi, berdialog serta
berinteraksi dengan orang lain dan dengan masyarakat
umum.

230
12. Memiliki kemampuan melakukan interaksi sosial dengan
masyarakat dan institusi-institusinya.

8. Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya), Inovatif dalam


mengembangkan kemampuan dan potensinya.
1. Senantiasa merasakan pengawasan dari Allah, serta
berupaya untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah dan
rasa takut pada-Nya.
2. Mampu menguasai bisikan-bisikan nafsu, menahannya dari
perkara-perkara yang haram, dan menjauhkannya dari hal-
hal yang syubhat.
3. Senantiasa melakukan evaluasi diri, untuk menekan
pengarus bisikan-bisikan hati yang buruk.
4. Selalu melakukan perbaikan akhlak untuk mewujudkan
tarbiyah diri dan kemauan yang keras.
5. Senantiasa berupaya melakukan zikir kepada Allah dalam
berbagai bentuk, istighfar, dan taubat kepada-Nya.
6. Berupaya untuk menggali potensi yang dimilikinya,
mengembangkan kemampuan, dan meningkatkan
keahliannya.
7. Berusaha menguasai keahlian di bidang tekhnologi mutakhir.

9. Shahihul fahm (benar pemahamannya) dan Mutsaqqaful Fikr


(berwawasan pemikirannya).
1. Benar pemahaman agama dan dakwahnya, terhadap tugas
dan perannya dalam kehidupan.
2. Berwawasan pemikirannya, luas cakrawala pengetahuannya,
mengenal disiplin-disiplin ilmu dan aliran-aliran pemikiran
dunia, serta mampu menetapkan hukum yang benar
terhadapnya dan mampu berintekasi dengannya.
3. Mengetahui sejarah umat-umatnya yang terdahulu (seperti
beberapa peristiwa bersejarah, tokoh-tokoh utamanya,
sebab-sebab kelemahan, dan sebab-sebab kekuatan).

231
Maksud umat-umatnya yang terdahulu adalah: negerinya,
bangsa Arab dan umat Islam.
4. Mengenal musuh dan bahaya-bahaya yang mengancam
umat Islam, serta mengetahui problematika kontemporer,
serta sarana apa saja yang dibutuhkan untuk menciptakan
kemajuan dan kesuksesan.
5. Mengenal dan menguasai sejarah dakwah dan jamaahnya
(tujuan-tujuannya, ciri-ciri dan realitanya), dan hal itu
merupakan sebagian dari sejarah umatnya. Mempelajari
sumber-sumber dan risalah yang ditulis tentang hal itu.
6. Mempelajari sirah Rasulullah Saw. dan sirah para orang-
orang terdahulu yang baik, untuk menjadi petunjuk dalam
gerakan dan fikrahnya, dan mengambil keteladanan mereka
sebagai nilai dan model yang menerangi.
7. Senantiasa belajar untuk mendapatkan ilmu dan wawasan
yang bermanfaat, pengalaman yang cocok untuk kehidupan
dan profesinya, serta apa yang dibutuhkan untuk
dakwahnya, kewajiban-kewajibannya, dan berupaya untuk
meningkatkan diri sesuai dengan kemampuannya.
8. Mengikuti segala bentuk perkembangan kontemporer untuk
mengambil manfaatnya.
9. Berusaha keras untuk mendapatkan ilmu-ilmu syar’I dan
mengenal hukum-hukum sesuai dengan kemampuan yang
sesuai dengannya, serta meningkatkan pengetahuan dalam
hal itu sesuai kemampuannya.
10. Merasa bangga dengan bahasa Arab, senantiasa menjaga,
serta mempelajari kaidah-kaidahnya.

10. Menjalankan perannya dalam mendirikan rumah tangga muslim:


1. Mengenal dan menguasai hak dan kewajibannya, perannya
dalam mendirikan rumah tangga muslim, dan persiapannya
untuk menunaikannya.

232
2. Menjaga dan memeliharanya dari pengaruh-pengaruh buruk
dan negative.
3. Mengoptimalkan proses pertumbuhan dan tarbiyah terhadap
keluarga, anak-anak terhadap nilai-nilai Islam.
4. Mewujudkan penampilan Islam dalam rumah tangga, baik
dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari, serta
menghormati fikrah-fikrah Islam dan komitmen terhadapnya.
5. Menjadi teladan yang berpengaruh terhadap tetangga dan
karib kerabatnya, selalu menyambung hubungan silaturahim
dengan sauadara-saudaranya, tetangga, dan mewujudkan
makna takaful (saling memikul beban) dan rasa kasih
terhadap mereka.
6. Menyiapkan rumahnya untuk tuntutan-tuntutan jihad dan
tabiat marhalah dakwah.
7. Berupaya untuk menciptakan model rumah tangga muslim,
dan hendaknya ia memiliki peran nyata di masyarakat,
keluarga, di tengah karib kerabat dan tetangganya, yang
membuat mereka menghormati fikrah-fikrah Islamnya,
terpengeruh dan mengikutinya.
8. Memberikan perhatian terhadap proses penyiapan generasi
muslim, meningkatkan dan menumbuhkan potensi dan
kemampuan mereka, setia terhadap tuntutan-tuntutan
agama dan umatnya serta kebutuhan-kebutuhan mereka
secara Pribadi.

11. Senantiasa berhubungan dengan umatnya, dan senantiasa


berupaya untuk mengembalikan kepemimpinan khilafah Islam:
1. Berusaha untuk menyebarkan Islam di seluruh penjuru
dunia, serta merasakan ikatan dan tanggungjawab terhadap
setiap jengkal tanah yang di atasnya panji tauhid di
tinggikan.
2. Mengetahui problematika umat dan permasahan-
permasalahan terkini dunia Islam.

233
3. Mewujudkan hubungan kerjasama, hubungan dan bantuan
terhadap problematika yang dihadapinya, terutama
permasalahan Palestina.
4. Merasakan keterikatan jiwa dan raga, serta tanggungjawab
keimanan terhadap dunia Islam dan setiap jengkal tanah
yang dihuni oleh seorang muslim.
5. Mengenal peradaban Islam dan merasa bangga kepadanya
dan kepada kontribusi yang telah diberikannya untuk
manusia, serta mengenal misi umat Islam dan kebutuhan
manusia terhadapnya.
6. Menjaga produksi dalam negeri dan Negara-negara muslim
dan menyokong produktivitasnya.
7. Meyakini khilafah dan berupaya untuk mengembalikannya,
meyakini kepemimpinan dunia dan hal itu akan terwujud
sesuai dengan janji Allah dan keutamaan-Nya.
8. Menyokong persatuan Arab dan Islam, serta berusaha untuk
mengembalikan eksistensi umat Islam, kemajuan dan
keagungannya.

12. Interaktif dengan alam di sekitarnya, dan berusaha untuk


kemaslahatan kemanusiaan dan kedamaian manusia, yang
mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Mentadabburi tanda-tanda kebesaran Allah di alam, serta
merasakan fenomena keagungan-Nya, mengetahui
hubungan yang baik dengan alam, dan sesungguhnya Allah
telah menundukkannya untuk umat manusia sesuai dengan
ketentuan yang terbatas.
2. Mengenal makhluk-makhluk ciptaan Allah di alam dan
memanfaatkannya untuk kemaslahatan manusia sesuai
dengan kebutuhan, dan berusaha mengenal hikmah
penciptaannya.
3. Menjaga kebersihan lingkungan, dan keselamatan semesta
sesuai dengan pemahaman Islam.

234
4. Ikut serta untuk memberikan kontribusi dalam
memakmurkan bumi dan memperbaikinya, dan setiap orang
bekerja di bidangnya masing-masing.
5. Saling berhubungan dengan manusia dan bangsa-bangsa di
dunia, mengenal problematika yang dihadapinya dan
peristiwa-peristiwa besar yang mempengaruhinya.
6. Membantu penegakan nilai-nilai kebenaran, keadilan dan
menolak kezaliman, serta ikut serta dalam menciptakan
perdamaian dunia.
7. Meningkatkan Profesionalitas keahlian untuk melakukan
hubungan tersebut.
8. Bekerjasama dengan orang lain dalam setiap kebaikan,
keadilan dan perbaikan.

13. Bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan dakwahnya, dan


komitmen terhadap jamaahnya.
1. Menyempurnakan persiapan jihad, baik berupa ilmu,
pemahaman, mengenal realitasnya, tujuan dan saran-
sarananya, kendala-kendala yang dihadapi serta terhadap
peraturan dan ketentuan jamaahnya.
2. Disiplin dalam shaf dan jamaahnya, komitmen terhadapnya,
senantiasa berpedoman pada para qiyadahnya, dan
menunaikan rukun-rukun baiatnya. Dalam aspek harakah;
Amal (aktivitas), Jihad, Tadhiyah (pengorbanan). Dalam
aspek pengorganisasi dan barisan dakwah, Taat
(kepatuhan), Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). Dalam
aspek keyakinan, Fahm (pemahaman), Ikhlas, Amal
(aktivitas), dan Tajarrud (kemurnian). Kemudian Tsabat
(keteguhan) dalam setiap rukun-rukun tersebut.
3. Melaksanakan rukun-rukun usrahnya (dalam ta’aruf,
tafahum dan takaful).
4. Disiplin dalam gerakannya, murni dalam dakwahnya,
beraktivitas untuknya, produktif dalam dakwahnya,

235
melaksanakan ketaatan, semangat keprajuritan, berkorban
untuk dakwah karena mengharapkan keridhaan Allah, ikhlas
dalam dakwah, serta komitmen terhadap syura
sebagaimana makhluk yang hidup dengannya.
5. Menjaga keselamatan jamaahnya, kekuatan dan ikatannya,
kemajuan dan pencapaian target-targetnya.
6. Memahami timbangan perseteruan antara hak dan batil,
serta sunnah perubahan dan kejayaan.
7. Mengenal musuh-musuh dakwah dan karakteristik mereka,
strategi dan target-target mereka, serta perangkat yang ia
butuhkan berupa ilmu dan persiapan. Diantara ilmu rijal
(mengenal identitas seseorang), dan pendidikan keamanan
(intelegensia).
8. Menguasai kemahiran tertentu untuk memudahkan tugas
dan peran-peran yang diberikan jamaah.
9. Memiliki dan mengoptimalkan kemahiran-kemahiran yang
cocok untuknya dalam menyampaikan dan menyebarkan
dakwah.

Dari pemaparan di atas, maka jelaslah manhaj Ikhwan yang


komprehensif, yang mencakup seluruh aspek pembinaan; mulai dari
pembinaan iman, fikrah, akhlak, pengorganisasian, undang-undang,
keamanan, gerakan, politik, sosial, profesionalitas, olahraga, ekonomi,
dakwah, dunia internasional, dll. Termasuk dalam realitasnya, dan
penahapan dalam tingkatan yang berbeda-beda, serta memusatkan
proses pembinaan dengan mengarahkannya pada realitas amal, yang
dengannya seorang individu bergerak dan memberikan pengaruh pada
masyarakat.

Ia tidak hanya terbatas pada program pendidikan secara


normatif semata, namun ia menghimpun seluruh sarana pembentukan
dan tarbiyah, mulai dari syaikh murabbi, teladan amal, interaksi,
dialog, evaluasi dengan pengarahan dan perbaikan, dan sarana-sarana

236
yang lain dalam lingkup dan komitmen terhadap batasan-batasan
Islam, serta dalam lingkup persaudaraan dan cinta di jalan Allah.

Dalam manhaj ini, juga dituntut keterbukaan, kejelasan dan


keterus-terangan, sehingga masing-masing individu menguasai target-
target yang harus diwujudkan dan dilaksanakan, baik pada jenjang
tarbiyah yang akan dilaluinya dan jenjang tarbiyah yang sedang
dijalaninya, kendala-kendala yang dihadapinya, sisi-sisi kerusakan
yang terlihat, trik dan cara mengobatinya, metode perbaikan, hasil-
hasilnya, dan hendaklah jelas baginya kemampuan untuk menegaskan
atau melemahkan serta konsekuensi keduanya. Hendaknya ia memiliki
motivasi dan dorongan, dan berupaya untuk terus meningkatkan
kualitas tarbiyahnya, menunaikan urusan dengan penuh kesungguhan
dan perhatian. Ia juga dituntut untuk menciptakan iklim yang sehat
dan komitmen terhadap adab-adab Islam dalam menyampaikan
nasehat, pengarahan, perbaikan, pengobatan dan menutup aib.

Pengarahan dan Wasiat

Kami menyampaikan di sini pengarahan Imam Syahid Hasan Al


Banna –baik dalam risalah maupun dalam perkataan-perkataannya-
tentang nilai-nilai dan sifat-sifat yang harus dimiliki Ikhwan (termasuk
diantaranya kewajiban aktivis dakwah). Secara umum kami
menyampaikannya dengan ungkapan kalimat yang sama, atau
meringkas maknanya sebagaimana yang beliau maksudkan. Termasuk
menggunakan metode amal dalam pembangunan umat dan tarbiyah,
dan dalam kehidupannya sebagai teladan dan bisa memberikan
pengaruh dan pembentukan –yang dengan izin Allah- akan melahirkan
generasi kuat dan kokoh, yang akan mengemban risalah dakwah dan
menjaganya.
Pertama, Dalam aspek akidah dan ibadah:

237
1. Terwujudnya hubungan hati dan jiwa yang terus menerus terhadap
Allah (indikasi-indikasi yang diinginkan adalah; memperbanyak
zikir, dan berdoa kepada Allah sementara orang lain tidur.
2. Membangun keimanan kepada Allah, rukun-rukunnya, serta
merasa bangga dengan keimanannya (terwujudnya rabbaniyah;
berprinsip ketuhanan).
3. Terwujudnya ketergantungan kepada Allah dan menyandarkan diri
kepada-Nya. Maka janganlah takut pada sesuatu yang lain dan
jangan gentar selain kepada-Nya.
4. Lahirnya keimanan terhadap keagungan risalah agama Islam, dan
merasa bangga karena memeluknya, serta bangga dengan
keagungan Islam dan keindahan Al Quran.
5. Mengenal Allah, mengesakan dan menyucikannya, dan ini
merupakan keyakinan Islam yang paling tinggi.
6. Menyampaikan tentang urgensi kekuatan akidah dan cakupannya
terhadap semua aspek.
7. Menyampaikan tentang rukun-rukun iman dan mengingatkan
akhirat.
8. Mempelajari risalah dalam prinsip-prinsip akidah, serta mengikuti
manhaj salaf dalam pemahaman, dan pengamalan serta kembali
bersama Islam menuju tujuannya yang murni.
9. Mempelajari risalah tentang ikhlas
10. Melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam Islam dan tidak
melalaikannya, menunaikan rukun-rukunya serta mengutamakan
sunah yang suci; yaitu untuk mewujudkan sifat shahihul Ibadah
(benar ibadahnya), melalui shalat, puasa, zakat, dan haji.
11. Tergantung dengan Al Quran dan berkaitan dengannya; melalui
tadabbur terhadap makna-maknanya, membacanya dengan baik,
mendengarkan, menghapal dan mengamalkannya.
12. Menghidupkan sunnah Rasulullah Saw, baik petunjuk maupun
hadits-haditsnya, yaitu dengan menghapalnya, mempelajari sirah
dan memahaminya, mengamalkan sunnahnya yang suci; agar
menjadi petunjuk jalan.

238
13. Menekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunnah dan
senantiasa melakukan ketaatan, memperbanyak bekalnya berupa;
shalat malam, berdoa kepada Allah sementara manusia sedang
tidur, berdoa di waktu sahur, berpuasa, zikir hati dan lisan
(senantiasa memperbanyak zikir), membaca doa-doa ma’tsur dan
azkar pagi dan sore, tadabbur dan menghayati ayat-ayat Allah dan
sunah-sunah-Nya, memberik sedekah, serta selalu menyisihkan
bagian dari hartanya untuk fakir miskin, berapapun
penghasilannya.
14. Berdoa kepada Allah di saat manusia tidur
15. Senantiasa memperbaharui tobat dan istighfar
16. Selalu merasa pengawasan oleh Allah dan senantiasa mengingat
akhirat.

Kedua, dalam aspek nurani, dan kepekaan iman:


1. Menanamkan keimanan dan keyakinan pada pertolongan dan
kemenangan dari Allah terhadap dakwah (yakin dan tsiqoh
terhadap pertolongan Allah).
2. Mewujudkan keimanan terhadap fikrah Islam dan rasa bangga
terhadap dakwah serta keagungan tugasnya.
3. Mewujudkan keimanan terhadap manhaj dan kebenarannya serta
menanamkan tsiqoh di dalam diri, keimanan terhadap dakwah,
prinsip-prinsip, tujuan dan sarana-sarananya.
4. Menanamkan keyakinan terhadap balasan dan ganjaran pahala di
sisi Allah.
5. Menumbuhkan keikhlasan yang paripurna di jalan Allah dan
ketenangan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Indikasi
pencapaian keikhlasan adalah: selalu berharap ridha Allah dalam
setiap perkataan dan perbuatannya, tidak melihat pada harta,
penampilan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Pencegahan dari
penyimpangan keikhlasan yang berupa: ujub, riya, memburu
popularitas, dan sombong, adalah dengan menjadi seorang prajurit

239
–fikrah dan akidahnya- dengan mengembalikan seluruh
keutamaan kepada Allah semata.
6. Memperbaiki kepekaan hati yang mati, serta meluruska jiwa
secara total.
7. Mewujudkan kebangkitan yang hakiki dalam jiwa dan nurani, agar
dapat melahirkan jiwa yang hidup, bergelora dan penuh vitalitas.
8. Melahirkan perasaan cemburu yang selalu membara (keimanan
yang membara yang membangkitkan kekuatan dalam jiwa), gelora
semangat, dengan tetap mengendalikan bara semangat ini.
“Kekanglah gejolak perasaan dengan pandangan dan pemikiran
yang jernih, dan terangilah kecemerlangan akal pikiran dengan
gelora perasaan yang mengharu biru penuh semangat.”
9. Selalu menguatkan dan memperbaharui jiwa, dan memenuhinya
dengan nilai-nilai keimanan dan akidah. (senantiasa melakukan
pembersihan jiwa, menguatkan diri, dan membangun kekuatan diri
yang besar).
10. Memiliki perasaan yang peka dan sensitif, yang bisa membedakan
antara kebaikan dan keburukan.
11. Memiliki semangat yang tinggi dan berupaya menyembuhkan rasa
pesimis, putus asa dalam jiwa, serta menyerah pada kondisi dan
realita.
12. Senantiasa menyertakan ruh jihad, rela berkorban, dan kerja keras
di jalan dakwah dan tujuan-tujuannya.
13. Mengetahui kemuliaan dakwah, keluasan cakupannya, keagungan
jihad di jalannya, serta besarnya harga yang harus dibayar untuk
menyokongnya dan ganjaran pahala untuk orang-orang yang
berjuang karena Allah semata.
14. Memahami dakwah secara benar dan merasa bangga dengannya:
a. Totalitas keyakinan terhadap kemuliaan tujuan dakwah.
b. Totalitas keyakinan terhadap kesuksesan sarana dakwah.
c. Keyakinan yang tinggi bahwa jalan ini adalah jalan yang
paling selamat (sebagaimana yang telah digariskan oleh

240
Imam Syahid dan ditetapkan strateginya), dan tidak ada
jalan yang lain.
d. Keyakinan bahwa jalan ini sangat panjang, penuh tahapan,
dan membutuhkan: kesabaran, ketegaran, kesungguhan,
kesinambungan aktivitas, tidak tergesa-gesa,
memanfaatkan makhluk-makhluk ciptaan Allah di alam
semesta tanpa membenturkannya, optimis terhadap
pertolongan Allah dan senantiasa menantikan saat-saat
kemenangan.
e. Hidup bersama dakwah dan memperjuangkannya.

15. Timbangan yang benar terhadap diri sendiri (ukurlah diri kalian),
tsiqoh terhadap pertolongan Allah, serta timbangan yang benar
terhadap qiyadah, terhadap ukhuwah dan barisan dakwah.

Ketiga, dalam aspek cinta dan ukhuwah:


1. Meyakini persaudaraan dan kemuliaan ikatan ukhuwah
2. Mewujudkan sifat lapang dada, kebersihan jiwa, dan kejernihan hati
(untuk mewujudkan hakikat shufiyah).
3. Tekad dan perasaan yang kuat terjadap ukhuwah Islamiyah, serta
rasa tanggungjawab terhadap setiap jengkal tanah yang dihuni
oleh seorang muslim, dan ikut merasakan sakit dan tersentuh
terhadap semua peristiwa yang menimpa mereka.
4. Cinta di jalan Allah dan ikatan dalam kebaikan, serta pertautan hati
dan jiwa.
5. Kebersihan hati dari rasa dengki, benci dan semua perasaan yang
dapat merusaknya.
6. Mencintai kebaikan terhadap umat dan keinginan untuk
memberikan hidayah kepada mereka.
7. Kepekaan terhadap persaudaraan kemanusiaan secara umum dan
memahaminya secara benar.
8. Memelihara persatuan dan ikatan (ukhuwah di jalan Allah).
Diantara indikasinya adalah:

241
a. Persaudaraan dan saling mencintai karena Allah,
pengahayatan makna dan urgensinya.
b. Terwujudnya sifat lapang dada, sehingga mencapai derajat
itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya dari
kepentingannya sendiri).
c. Hendaknya ia tidak merusak kesucian hubungan
persaudaraan dengan obsesi tertentu.
d. Tidak menyelesihi urusan saudara-saudaranya
e. Tidak dipisahkan oleh permasalahan-permasalahan sepele,
dan kecurigaan yang mematikan.
f. Menanyakan saudara-saudara yang ghaib (tidak hadir).
g. Melepaskan diri dari hubungan karena figuritas tertentu,
ta’ashshub, atau fanatisme kepartaian di dalam barisan
dakwah.
h. Senantiasa berada dalam jamaah, tidak mendahului dan
tidak berada di belakangnya.

9. Mewujudkan indikasi-indikasi persatuan di dalam ta’aruf, tafahum


dan takaful, saling memikul beban saudaranya, berjanji untuk
saling membantu dalam kebaikan. Jika didapatkan padanya
kesulitan, segeralah memberikan pertolongan selama ada jalan
untuk itu.
10. Menguasai fiqh nasehat dan adab-adabnya, mengobati
ketergelinciran lidah, tidak berubah hatinya, menerima nasehat
dalam segala bentuk dan dari arah manapun. Bagi yang
menasehati, hendaknya menyampaikan nasehat sebagaimana
seharusnya.
11. Mengenal saudara-saudaranya, usrah dan katibah-nya, satu
persatu dan dengan pengenalan yang mendalam (menunaikan hak
saudara-saudaranya berupa cinta dan penghormatan, bantuan dan
sifat itsar, tidak meninggalkan mereka kecuali karena udzur
tertentu.

242
12. Hendaknya ia selalu menjaga adab-adab majelis terhadap saudara-
saudaranya:
a. hadir secara rutin di majelis
b. Tidak menimbulkan keributan dan kegaduhan
c. Selalu menjaga indikasi kesungguhan tanpa kebimbangan.
d. Menjaga adab berbicara, mendengarkan dan berdialog
e. Adab bercanda
f. Menjaga amanah majelis

Keempat, Dalam aspek Menahan Diri:


1. Menguatkan kesungguhan jiwanya dan mengarahkannya sesuai
dengan ajaran-ajaran Islam.
2. Menahan diri dari syahwat, hasrat dan kebiasaannya
3. Membiasakan diri untuk melakukan muhasabah dan evaluasi diri
dengan sangat cermat (diantaranya melakukan muhasabah
sebelum tidur).
4. Menahan gejolak perasaan (Kekanglah gejolak perasaan dengan
pandangan dan pemikiran yang jernih, dan terangilah
kecemerlangan akal pikiran dengan gelora perasaan yang
mengharu biru penuh semangat).
5. Mengontrol dorongan-dorongan syahwat dan selalu
mengarahkannya kepada hal-hal yang halal.
6. Membentengi diri dari hal-hal yang haram
7. Meninggalkan kemaksiatan (selalu bertobat dan istighfar,
meninggalkan dosa, membersihkan diri dari kemaksiatan,
menjauhi dosa-dosa besar, menghindari larangan-larangan Allah,
tidak bermaksiat secara terang-terangan, melepaskan diri dari
kemaksiatan dan pelanggaran, menjauhkan diri dari dosa-dosa
kecil, bertobat dan menyesal jika melakukan maksiat, menjauhkan
diri dari syubhat hingga ia tidak terjebah dalam perkara-perkara
haram, serta mampu bersikap terhadap: tujuan hidup yang sakit,
kehilangan orientasi hidup, kehilangan obsesi, luka masa lalu, dan
ia belum membersihkannya.

243
Kelima, Dalam Aspek Akhlak dan kepribadian yang baik:
1. Peningkatan akhlak: selalu menghiasi diri dengan akhlak-akhlak
yang mulia, berpegang teguh dengan kesempurnaan, hingga kita
menjadi kuat dengan akhlak dan menjadi teladan dalam hal itu.
2. Perbaikan menyeluruh terhadap diri dan mengobati prilaku-prilaku
buruk dan ketamakan (melepaskan diri dari hati yang sakit, tujuan
hidup yang cacat, kehilangan orientasi hidup, kehilangan obsesi,
luka masa lalu, dan ia belum membersihkannya secara sempurna.
3. Berupaya semampunya untuk menghidupkan adat-adat Islami, dan
mematikan adat-adat asing dalam setiap aspek kehidupan,
mengutamakan sunah yang suci dalam segala hal dan penerapan
fiqh yang benar.
4. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak berikut:
a. Bersih dan suci dalam segala hal (tempat tinggal, pakaian,
makanan, badan, tempat kerja, lisan, dan kebersihan hati
dari kedengkian dan kebencian).
b. Kejujuran; jujur perkataannya.
c. Loyal; hendaknya ia menetapi janji, dan perkataan, tidak
memungkiri dan menyelisihinya.
d. Berani; kuat daya tahannya. Sebaik-baiknya keberanian
adalah: berterus-terang dalam kebenaran, menyimpan
rahasia, mengakui kesalahan dan kelemahan diri, mampu
menahan diri ketika marah.
e. Tenang; ketenangan mempengaruhi kesungguhan
f. Rasa malu; memiliki rasa malu, sensitive perasaannya, peka
perasaannya terhadap kebaikan dan keburukan, dan tidak
terang-terangan berbuat keburukan.
g. Tawadhu (rendah hati); tanpa merendahkan diri,
merundukkan kepala dan lunak, sederhana dan tidak
penakut.
h. Adil dan seimbang; adil dalam menetapkan hukum secara
benar, tidak melupakan kebaikan karena kemurkaan, tidak

244
dikuasai permusuhan sehingga melupakan kebaikan,
berkata benar kepada dirinya, dan orang yang paling
dekatnya meskipun hal itu pahit, objektif dalam menimbang
kebaikan dan keburukan serta mengambil sisi kebaikan dari
segala sesuatu.
i. Penyayang, lembut, dermawan dan toleran; memaafkan,
lembut hatinya dan belas kasih terhadap terhadap sesama
manusia, tidak cepat marah, tidak berkata kotor, dan
melupakan keburukan dengan kebaikan.
j. Meninggalkan perdebatan dan pertentangan, dan
hendaknya menjadi aktivis yang produktif.
k. Menjadi iffah (kehormatan diri), dan meletakkan kemuliaan
dirinya di atas segala tujuan dan tujuan-tujuan yang hina.

5. Melakukan tarbiyah diri, dan pencapaian takwa dalam setiap amal.


6. Mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain:
a. Baik interaksinya, budi pekertinya, dan menjaga lisannya
terhadap orang lain.
b. Berlapang dada dengan orang-orang yang menyelesihinya,
dan mampu berinteraksi dengan mereka.
c. Menambah kemampuan dialog dengan hikmah, dan nasehat
kebaikan (latihan memberikan tanggapan terhadap perkara-
perkara syubhat yang dilemparkan, dan menyebarkan
fikrah).
d. Menunaikan kewajiban dalam persaudara kemanusiaan
secara umum, dan ikut andil dalam perdamaian dunia.
e. Menunaikan kewajiban dalam persaudara Islam secara
umum.
f. Mampu bekerjasama dengan orang lain dalam hal-hal yang
disepakati pada tataran umum dan Islam, selama tidak
bertentangan dengan dakwah.

245
g. Bermanfaat terhadap orang lain, baik dalam memberikan
nasehat, menebarkan kebaikan, dan memberikan layanan
umum.

7. Seimbang dan adil dalam urusan dunia; tidak berlebihan dalam


beribadah, tidak berlebihan dalam kezuhudan, dan idak menzalimi
dunianya hanya karena mengejar akhirat.
8. Membentuk keinginan yang kuat yang tidak dihinggapi kelemahan;
yaitu dengan melawan kemalasan, menghilangkan indikasi
kelemahan dalam keinginan (seperti, kegentaran, kelemahan,
kaku, menyerah, keragu-raguan, dll), melawan kebiasaan, adat dan
syahwat.
9. Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya); yakni
konsentarsi, menetapkan skala prioritas dan kemampuan secara
tertib, baik dalam melaksakannya, yaitu dengan mencermati
segala urusan sesuai dengan kondisinya kemudian memilih jalan
yang paling utama.
10. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya): tidak
menggunakan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,
menjauhkan diri dari debat kusir dan teori-teori filsafat, dan
berupaya membentuk kepribadian aktivis yang produktif.
11. Menjauhkan diri dari penampilan-penampilan mewah dan kaya
raya.
12. Mewujudkan makna kelelakian (keberanian) sejati

Keenam, Dalam aspek kesehatan fisik:


1. Melakukan General Check tahunan untuk kesehatan fisik dan
mengobati penyakit.
2. Menggunakan sarana-sarana pencegahan dan perlindungan
kesehatan fisik, dan tidak berlebihan.
3. Menjauhkan diri dari sebab-sebab kelemahan fisik. Seperti
menjauhkan diri dari minum khamr dan minuman keras, tidak
merokok dan yang sejenis, tidak berlebihan mengkonsumsi susu

246
dan teh, serta menjauhkan seluruh jenis makanan dan minuman
yang dapat melemahkan fisik dan akal, seperti rokok, obat-obatan
terlarang dll.
4. Menggunakan sarana-sarana kekuatan, seperti melakukan
olahraga yang bermanfaat dan menumbuhkan vitalitas fisik yang
terus-menerus.
5. Menggunakan kekuatan fisik untuk melaksanakan peran dan
tugas-tugas dakwah, seperti menunaikan kewajiban kemanusiaan
dengan sebaik-baiknya, hendaknya menyiapkan sarana yang baik
untuk mewujudkan keinginan yang baik, menggunakan kekuatan
fisik untuk memenangkan kebaikan dan kebenaran, menunaikan
tugas dan kewajiban yang dibutuhkan dakwah sesuai dengan
jenjang tarbiyah yang dilaluinya.

Ketujuh, Dalam aspek usaha dan pekerjaan:


1. Memiliki kemampuan untuk mendapatkan hasil usaha yang halal,
memiliki kemahiran untuk profesi tertentu, yaitu dengan
mewujudkan beberapa indikasi berikut:
a. Mencari pekerjaan dan usaha dengan penuh izzah, serta
dengan jelasnya pemahaman terhadap permasalahan rezeki
dengan penuh keimanan.
b. Menjalankan aktivitas ekonomi, dan melakukan pekerjaan
yang bebas, dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.
c. Memahami bahwa pekerjaan sebagai pegawai negeri
merupakan pintu rezeki yang paling sempit dan sulit, maka
jangan membatasi diri hanya dengan pekerjaan tersebut,
dan tidak menolak jika kesempatan itu diberikan
kepadanya, serta tidak pula berhenti sebagai pegawai
negeri, kecuali jika ia bertentangan dengan kewajiban-
kewajiban dakwah.
d. Selalu berupaya menunaikan profesinya dan setiap
pekerjaan yang ditekuninya secara profesional, dan
hendaknya ia menjadi teladan dalam pekerjaan tersebut,

247
yaitu dengan tidak berbuat curang, menetapi janji, dan loyal
terhadap sumpah dan janji.
e. Mendalami ilmu dan kemahirannya secara optimal, dan
selalu meningkatkan potensi dan kemampuannya untuk
kepentingan dakwah.
f. Hendaknya yang menjadi titik tolak dan landasannya adalah
dakwah, oleh karena itu jangan sampai ia melupakan dan
menyia-nyiakannya.

2. Terwujudnya batas-batas interaksi materi


a. Menjauhkan diri dari perjudian dan sarana-sarana usaha
yang haram, meskipun keuntungannya sangat besar.
b. Menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari praktek riba dan
membersihkan diri secara total.
c. Berupaya mencari usaha yang halal dan menjauhkan diri
dari perkara-perkara syubhat (Menghindari syubhat, agar
tidak terjerumus di dalamnya).
d. Ekonomis dan hemat menggunakan harta untuk masa
depan, serta menyisihkan (menabung) beberapa bagian
dari penghasilan untuk keperluan-keperluan darurat,
meskipun hanya sedikit.
e. Tidak berlebihan dalam kebutuhan-kebutuhan skunder
f. Hendaklah ia menjadi qudwah dalam interaksinya terhadap
uang (harta):
- Dalam menetapinya
- Dalam memutuskan, memberikan dan menetapkan
- Cermat dalam mengelolanya
- Menunaikan hak-hak manusia secara optimal tanpa
pamrih.

g. Tidak ambisius terhadap apa yang dimiliki orang lain.


h. Seimbang dan adil dalam urusan-urusan dunia, serta zuhud
terhadap harta kekayaan dunia yang fana, mengutamakan

248
kekekalan kehidupan akhirat, serta tidak menggantungkan
dirinya kepada harta perhiasan dunia.
i. Memberikan bantuan terhadap harta kekayaan dan aset-
aset Islam secara umum, yaitu dengan:
- Mendorong berdirinya perusahaan-perusahaan ekonomi
Islam.
- TIdak menggunakan sandang dan pangan kecuali
produksi Negerinya dan Islam.
- Selalu berupaya untuk memberikan setiap qirsy256 yang
dimilikinya untuk penduduk negerinya yang muslim dan
umat Islam secara umum sesuai kemampuannya.

j. Menunaikan hak harta


- Menunaikan kewajiban zakat, untuk kepentingan dakwah,
serta untuk kebutuhan-kebutuhannya yang dibenarkan
dalam syariah.
- Menunaikan hak fakir dan miskin, berapapun penghasilan
yang ia dapatkan.
- Berpartisipasi untuk aktivitas dakwah dengan
memberikan bagian tertentu dari hartanya.
- Berjihad dengan harta

k. Menjaga adab-adab Islami dan norma-norma


kemasyarakatan; menyayangi yang muda, menghormati
yang tua, berlapang-lapang dalam majelis, tidak tajassus
dan ghibah, tidak menimbulkan kegaduhan, meminta izin
ketika masuk dan keluar suatu tempat, menjaga lisan, dll.
l. Menunaikan hak-hak tetangga dan senantiasa menjaganya.
m. Menghindari teman-teman yang buruk, rekan-rekan yang
mengajak kepada kerusakan serta tempat-tempat maksiat
dan dosa.

256
Satuan terkecil mata uang Mesir

249
n. Memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok dan
institusi yang bertentangan dengan fikrahnya.
o. Melepaskan diri dari berhubungan dengan organisasi dan
kelompok apapun yang tidak mendatangkan kemaslahatan
terhadap dakwahnya, terutama jika diminta untuk
meninggalkannya.
p. Komitmen dengan prinsip-prinsip dakwahnya dalam
berinteraksi dengan organisasi dan personal-personal
tertentu.

Kedelapan, dalam aspek masyarakat dan rumah tangga:


1. Terhadap kerabat dekat dan anggota keluarga, dimana kita
melakukan tarbiyah terhadap keluarga, sehingga menjadi rumah
tangga muslim;
a. Yang mampu mengarahkan anggota keluarga dan kerabat
untuk menghormati fikrah dan menyebarkannya di tengah
keluarga.
b. Mampu memilih istri yang sholehah, dan mengarahkan
untuk menunaikan hak dan kewajibannya.
c. Baik interaksinya terhadap anggota keluarga, anak-anak
dan pembantu.
d. Baik dalam memberikan tarbiyah kepada anak-anak,
pembantu, dan membangun lingkungan keluarga dengan
prinsip-prinsip Islam.
e. Menjaga adab-adab Islami dalam setiap aktivitas dan
kesibukan rumah tangga.
f. Menjaga silaturahim, dan selalu memenuhi kebutuhan serta
berupaya untuk kemaslahatan anggota keluarga, dan
kebutuhan mereka terhadap Islam.
g. Membantu dakwah dan menyokongnya dari belakang

2. Melatih keluarga untuk mengambil andil dalam pembinaan


masyarakat, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

250
a. Meningkatkan kemampuannya
b. Mempelajari ilmu yang bermanfaat dan cocok
c. Menggunakan sarana-sarana yang dibutuhkan
d. Menciptakan teladan untuk hal tersebut
e. Menggunakan metode bertahap dan hikmah serta
memanfaatkan sarana-sarana yang paling baik.
f. Memiliki aktivitas yang banyak, yang berupa gerakan-
gerakan diri dan tanggap dalam beramal.

Target-targetnya adalah:
a. Mendorong nilai-nilai keutamaan
b. Menyebarkan dakwah kebaikan
c. Semangat amar ma’ruf
d. Memerangi kehinaan
e. Melatihnya untuk melakukan pelayanan umum terhadap
masyarakat dan tanggap untuk melakukan kebaikan dan
kebajikan.
f. Memberikan kontribusi dalam mewarnai kehidupan
masyarakat umum dengan fikrah-fikrah keIslaman.
g. Berupaya untuk menghidupkan adat-adat Islami yang hilang,
serta memberikan pencerahan keimanan terhadap adat-adat
Islami dan menghilangkan aib-aib yang masih ada.
h. Ikut serta dalam menciptakan perdamaian dunia,
menyebarkan kebaikan dan kebajikan untuk manusia, serta
tanggap dalam melakukan amal-amal kebaikan.
i. Ikut memberikan peran dalam menciptakan perbaikan, dan
menolak kerusakan di tengah masyarakat melalui upaya-
upaya konstitusional.
j. Menjaga unsur-unsur penyokong kekuatan, perbaikan, dan
pembangunan di tengah masyarakat, dan melawan sikap
masa bodoh, upaya-upaya kehancuran, dekonstruksi, serta
ikut serta dalam mengarahkan dan mengoptimalkan potensi
masyarakat.

251
k. Menyebarkan semangat persatuan dan kerjasama antara
kita, bangsa-bangsa Arab, dan masyarakat Islam, serta
memerangi perpecahan dan penyimpangan.

Kesembilan, dalam aspek dakwah:


1. Kemampuan menyebarkan dakwah dan menjadikan fikrah
Islamiyah sebagai opini umum di masyarakat.
2. Kemampuan dalam menghimpun manusia kepada kitab Allah,
dan membangkitkan keimanan dari dalam hati, serta memilih
orang-orang yang mengusung risalah dakwah.
3. Latihan untuk memimpin masyarakat menuju kebaikan, dan
hendaknya di antara bangsa-bangsa ini kita bergerak untuk
menyadarkan, membimbing dan mengarahkan mereka, serta
mengenal kondisi dan problematika yang mereka hadapi.
4. Berupaya untuk menyadarkan umat, menjelaskan kepada mereka
tentang realita kehidupan umat Islam, tentang apa yang sedang
terjadi, tentang bahaya dan konspirasi yang berada di sekeliling
mereka, dan mengajarkan kepada mereka bahwa Islam tidak rela
terhadap pengecilan hak-hak kebebasan dan kemandirian,
termasuk tentang kejayaan dan panggilang jihad –walaupun
mereka harus memenuhinya dengan darah dan harta-,
memberikan ruh optimisme dan memerangi keputus-asaan dan
kegagalan.
5. Fiqh (seni) menghadapi problematika dan batasan-batasannya
6. Fiqh (seni) menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar
7. Menguasai fiqh jihad, yaitu:
a. Mengorbankan diri, harta dan waktu untuk mewujudkan cita-
cita.
b. Gambaran-gambaran jihad yang berbeda-beda dan
bagaimana menjalankannya.
c. Senantiasa istishhab niyyatil Jihad (menyertakan niat jihad),
kecintaan terhadap mati syahid dan pengorbanan di jalan
Allah.

252
d. Berupaya melahirkan mujahid-mujahid yang produktif dan
bijak, yang bisa mewujudkan keuntungan besar dengan
pengorbanan yang sedikit.
e. Sikap kami terhadap kekerasan dan terorisme, adalah
dirasah syar’iyyah (tinjauan syariat), dan dirasah tarikhiyyah
(tinjauan empiris).
f. Tidak melakukan sebuah aktivitas yang memberikan
pengaruh yang signifikakn, kecuali dengan izin.

8. Mengenal undang-undang perbaikan masyarakat, menjaga


keseimbangan ekosistem dan tidak melalaikannya.

Kesepuluh, Dalam aspek jamaah:


1. Menguasai fiqh syuro, baik teori, penerapan dan praktek:
a. Urgensi kelembagaan dakwah
b. Jauh dari dominasi perorangan
c. Adab dalam ikhtilaf

2. Penguasaan terhadap fiqh keputusan (nota-nota kesepahaman)


dan batas-batas setiap hubungan, baik dalam lingkup ukhuwah dan
rasa cinta sesama aktivis dakwah, yang seyogyanya bukan
pertentangan dan permusuhan, maupun dalam lingkup pandangan
yang komprehensif dalam memperhatikan dan memahami urusan-
urusan dakwah.

3. Tsiqoh terhadap qiyadah dan taat kepadanya, mengenal secara


sempurna dan berkumpul di sekitarnya:
a. Selalu memiliki keterikatan hati dan amal dengan qiyadah.
b. Mengenal mereka
c. Memberikan nasehat dan masukan kepada qiyadah
d. Memposisikan qiyadah secara benar dan interaksi tarbiyah
yang sempurna dengannya, demi mewujudkan:
1. Posisi orang tua dalam ikatan hati

253
2. Posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran
ilmu.
3. Posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani.
4. Posisi seorang pemimpin dalam menentukan
kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam
dakwah.
e. Hendaknya qiyadah memiliki hak memberikan keputusan
antara kemaslahatannya Pribadi dan kemaslahatan dakwah
secara umum.
f. Hendaknya qiyadah memiliki rujukan dan evalusi

4. Mewujudkan batas-batas gerakan yang dibutuhkan:


a. Terwujudnya semangat keprajuritan yang terus menerus
(kesiapan dan kesiagaan), dimana seorang jundi dakwah
senantiasa merasakan dirinya sebagai prajurit yang berada
di barak-barak militer yang sedang menunggu perintah,
apapun jenjang tarbiyahnya.
b. Menguasai adab-adab evaluasi dan komitmennya terhadap
adab-adab tersebut.
c. Dipercaya dalam menyampaikan, yaitu dengan kejujuran,
amanah terhadap perkataan, amanah dalam memindahkan
–baik uang maupun barang-, memurnikan diri dari syahwat.
d. Menguasai sarana-sarana tarbiyah dan penerapannya;
kesiapan meletakkan kondisi kesehariannya di bawah
kondisi dakwah.

5. Fiqh dakwah dan batas-batas fiqh pelaksanaan, memilih pendukung


dakwah dan mentarbiyah mereka, dan melakukan aktivitas-aktivitas
produktif.
6. Menjaga fiqh prioritas
7. Mengupayakan terwujudnya kemurnian jamaah dari
ketergantungan terhadap prinsip-prinsip, figuritas, dan organisasi
tertentu, dan hendaknya ia komitmemn terhadap timbangan

254
dakwah dalam berinteraksi dan berhubungan dengan masyarakat
dan organisasi-organisasi lain.
8. Interaksi yang benar terhadap instruksi-instruksi qiyadah, yang
terlihat dari hal-hal berikut:
a. Cara menerima perintah dan melaksanakannya
b. Sam’an wa tha’atan, dalam keadaan giat maupun malas,
dalam keadaan sulit maupun mudah, selama perintah
tersebut bukan kemaksiatan.
c. Segera menunaikan perintah
d. Menyampaikan nasehat dan mengerahkan kesungguhan
untuk itu, sesuai dengan arah perjalanannya yang benar.
e. Tidak ada tempat untuk keraguan, perdebatan, menjelek-
jelekkan, saling bantah, sungkan atau keraguan.
f. Menanamkan keyakinan bahwa pandangan dirinya
berpeluang keliru dan pandangan qiyadah adalah kebenaran
dalam perkara-perkara ijtihadiyah, yang tidak terdapat nash
atau hukumnya. Tidak mengapa meminta penjelasan
terhadap sesuatu yang belum dipahami dengan tetap
mengedepankan semangat sam’an wa tha’atan.

Bab V

Membangun Keluarga Muslim

Membangun Keluarga Muslim

• Urgensi Membangun Rumah Tangga


Rumah tangga adalah kawasan kedua pada tingkatan amal dan target-
targetnya dalam dakwah Ikhwan. Ia merupakan bagian dasar dari
struktur bangunan masyarakat dan perbaikannya. Tidak hanya karena

255
peran rumah tangga dan seorang akh dalam mendukung proyek-
proyek dakwah, tapi juga karena keluarga merupakan batu pijakan
dasar yang orisinil yang tidak ada gantinya dalam membangun sebuah
masyarakat. Masyarakat tidak akan baik, kecuali dengan baiknya
bangunan keluarga. Tidak pernah tergambar bahwa terdapat sebuah
masyarakat muslim yang mulia dan menegakkan prinsip-prinsip Islam,
sementara rumah tangga dan keluarganya lemah dan sangat jauh dari
indikasi dan gambaran masyarakat yang menerapkan manhaj Allah.

Imam Syahid berkata, “Apabila sudah terbangun keluarga yang shalih,


maka umatpun akan menjadi shalih, karena umat merupakan
kumpulan keluarga. Dengan kata lain, sesungguhnya keluarga adalah
miniature umat, sementara umat adalah keluarga yang besar.”257

Beliau juga berkata, “Kami menginginkan kebangkitan laki-laki dan


perempuan secara bersama-sama, mengumumkan adanya takaful dan
emansipasi serta menetapkan tugas masing-msing secara rinci.”258

“Untuk itu, kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana


perhatian kami kepada kaum pria. Kami juga memperhatikan anak-
anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda.”259

Imam Syahid memberikan beberapa gambaran dalam pembentukan


keluarga, yang terus menerus ditingkatkan dari batas minimal hingga
menjadi model yang diinginkan, yakni dari; menghargai fikrahnya,
hingga pembinaan kelaurga muslim teladan dalam setiap aspek
kehidupan.

Imam Syahid berkata, “Pembentukan kelurga muslim, yaitu dengan


mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika
Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri

257
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 236
258
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 94
259
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 177

256
yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya,
mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik,
serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.”260

Rumah tangga yang dimaksudkan adalah tidak hanya sebuah rumah


tangga yang kecil yang terdiri dari pasangan suami isteri serta anak-
anak, namun ia lebih luas dan mencakup seluruh anggota keluarga
dan karib kerabat.

Dengan demikian, maka perhatian untuk membentuk rumah tangga


muslim harus diberikan sejak dini, yaitu dengan mempersiapkan setiap
individu, baik laki-laki maupun wanita, dan mempersiapkan mereka
untuk membangun rumah tangga dan memilih istri yang baik.

• Urgensi Perbaikan Diri


Setiap individu adalah labinah dalam keluarga, memperbaikinya
merupakan langkah mendasar untuk memperbaiki rumah tangga.
Imam Syahid berkata, “Perbaikan dalam skala individu akan
berpengaruh bagi perbaikan keluarga, karena keluarga merupakan
kumpulan individu. Jika anggota keluarga yang laki-laki shalih dan
yang perempuan shalihah –keduanya merupakan pilar keluarga- maka
mereka akan bisa membangun sebuah keluarga ideal, sesuai dengan
model yang telah dituntunkan oleh secara proporsional oleh Islam.”261

Dalam melakukan perbaikan untuk skala individu, Imam Syahid


menyebutkan beberapa hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan:
1. Perasaan dan nurani yang peka
2. Pandangan yang benar
3. Keinginan yang kuat
4. Tubuh yang sehat
5. Pengarahan yang benar untuk melaksanakan tugas dengan benar.

260
Risalah, Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 360
261
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 236

257
Imam Syahid menyebutkan 10 sifat –selain beberapa sisi lain dalam
pembentukan Pribadi- yang akan mewujudkan pribadi aktivis sekaligus
pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani, yang memiliki
keistimewaan dalam aspek-aspek mendasar ini.

Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya, Islam menginginkan dalam diri


setip mukmin perasaan dan nurani yang peka, sehingga dapat
membedakan antara kebaikan dan keburukan. Islam juga
menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami
sesuatu itu ‘benar’ atau ‘salah’, sebuah keinginan yang kuat yang
tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran, tubuh yang
sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik,
dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita mulia,
mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan.”262

Dan hal ini bisa diwujudkan dengan menerapkan manhaj Islam dalam
aspek-aspek berikut:
“Oleh karena itu, kami sangat menganjurkan kepada setiap akh agar
beribadah sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk meningkatkan
kualitas ruhiyahnya, belajar apa saja yang memungkinkan dipelajari
untuk memperluas cakrawala berpikirnya, berakhlak Islami untuk
menguatkan keinginannya, dan komitmen dengan tata aturan Islam
dalam hal makan, minum, dan tidur sehingga Allah senantiasa
menjaganya dari marabahaya.”

Kaidah-kaidah ini tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki dan


meninggalkan kaum wanita, melainkan keduanya memiliki kedudukan
yang sama dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, ukhti muslimah –
sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh muslim- hendaklah
selalu dalam kehalusan nurani, keluasan cakrawala berpikir,
kesempurnaan akhlak, dan kesehatan badan.”263

262
Ibid, hal. 235
263
Ibid

258
• Kaidah dan Tujuan Pembinaan keluarga Muslim
Imam Syahid menjelaskan tentang kaidah dan tujuan umum dalam
pembentukan keluarga muslim:
“Islam telah membimbing kita dalam membangun rumah tangga,
(mulai dari memilih calon pasangan hidup), dengan sebaik-baiknya
bimbingan. Dia juga mengikat suami istri dengan ikatan yang kokoh,
menentukan hak dan kewajiban mereka, mewajibkan mereka untuk
menjaga buah pernikahan ini sampai matang tanpa cacat dan cela,
mengantisipasi apa saja yang bisa menghadang kehidupan rumah
tangga dari berbagai problem secara tepat dan cermat, dan
mengambil jalan pertengahan dalam setiap permasalahan, tidak
berlebihan dan tidak meremehkan.”264

Kita dapat meringkas target-target umum dan khusus dari


pembentukan keluarga muslim, sebagai berikut:
1. Komiten dengan prinsip-prinsip syariat dalam membangun
rumah tangga muslim, yang mencakup hal-hal berikut:
a. Membangun rumah tangga muslim dari pasangan suami
istri yang muslim dan shalih-shalihah.
b. Masing-masing pasangan menunaikan kewajiban dalam
rumah tangga.
c. Satu sama lain bekerjasama dalam melaksanakan tugas
masing-masing.
d. Berupaya untuk melahirkan dan menumbuhkan mawadah
(rasa cinta) dan rahmah, serta hubungan yang romantis di
dalam keluarga.
e. Mampu menyelesaikan setiap persoalan keluarga dan
konflik suami isteri dengan baik.

2. Kemampuan ayah dalam memberikan tarbiyah dan


pendidikan terhadap anak-anak dan pembantu serta

264
ibid

259
mengkondisikan mereka dengan nuansa keluarga yang
Islami:
a. Kaum ayah mampu menggunakan metode dan sarana-
sarana tarbiyah yang benar terhadap anak-anak.
b. Mampu berinteraksi dengan anak-anak secara baik di setiap
fase pertumbuhan mereka, dengan tetap menjaga
karakteristik setiap fase pertumbuhan anak (Sejak dilahirkan
- masa menyusui – Anak usia dini – balita – dan remaja).
c. Mampu mengatasi problematika yang ditemui selama
mendidik anak-anak.
d. Membentuk kepribadian muslim yang paripurna, yaitu
melalui target-target dan prosedur khusus berikut:
1. Mewujudkan 10 sifat dalam setiap masa
pertumbuhan Salimul Akidah (bersih akidahnya),
shahihul Ibadah (benar ibadahnya), Matinul Khulq
(Kokoh akhlaknya), Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang
kuat), Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya),
Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi),
Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh
urusannya), Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur
waktunya), Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan
jiwanya), Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi
selainnya).
2. Komitmen dengan norma dan adab-adab Islam dalam
setiap aspek kehidupan. Seperti ketika makan,
minum, tidur, meminta izin, berbicara, bercanda,
memberikan nasehat, zikir, kebersihan, menutup
aurat atau berhijab, menghormati yang tua,
menyayangi yang muda, lembut terhadap hewan,
serta norma-norma sosial penting yang lain.
3. Membiasakannya untuk mencintai Allah dan rasul-
Nya, mengenal nikmat-nikmat Allah, mencintai
Rasulullah Saw. dan senantiasa bershalawat

260
kepadanya, mencintai shalat dan senantiasa
menunaikannya, memiliki keterikatan dengan Al
Quran dan selalu menjaganya. Pembangunan rasa
cinta dan hubungan yang baik ini sangat penting,
agar penerapan dan pelaksanaannya selalu benar.
4. Membangun sifat mawas diri
5. Membiasakannya untuk selallu menyukai kebaikan
(kemuliaan), dan membenci kehinaan, membangun
timbangan yang benar untuk membedakan antara
yang baik dan salah, serta membentuk standar
akhlak dan budi pekerti yang luhur.
6. Mengutamakan pemberian model dan qudwah
7. Membiasakan permainan yang bermanfaat dan
produktif.
8. Menumbuhkan ruh keberanian, vitalitas,
kesungguhan, kesabaran dan disiplin dalam
permainan olahraga yang bermanfaat.
9. Memperhatikan aspek-aspek pendidikan, psikologi,
kesehatan dan pertumbuhan anak-anak, serta
mewujudkan keselamatan dalam skala minimal,
berprestasi dan istimewa sebagai target.
10. Menyadarkan dan memproteksi anak-anak dari
khurafat dan kebohongan-kebohongan terhadap
Islam.
11. Menanamkan loyalitas terhadap Islam, bangga Islam
dan peradabannya, mengenal kontribusi yang
diberikan Islam kepada dunia, dan bangga dengan
bahasa Arab dan kemahiran menggunakannya.

e. Menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya,


serta memberikan keahlian tertentu, seperti, komputer,
membaca, dan riset ilmiah. Menyalurkan bakat dan
kemampuannya, mempelajari beberapa bahasa asing, dll.

261
f. Mengenalkan kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, dan
menjaga keseimbangan antara dorongan syahwat dengan
pemahaman Islam.
g. Mengajarkannya beberapa keahlian dan profesi tertentu,
agar bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mandiri
secara ekonomi.

3. Terlaksananya rukun-rukun rumah tangga antara


anggotanya; Ta’aruf, tafahum dan takaful, dan hendaknya
bersama-sama mewujudkan persatuan, keterikatan dan
kesepahaman.
4. Menjalankan peran sosial rumah tangga:
a. Interaksi yang baik dengan anggota keluarga, karib kerabat
dan tetangga dengan mengenal hak-hak mereka serta
menunaikannya, takaful dan jalinan hubungan yang baik
dengan mereka (suami istri berupaya menunaikan
kewajiban tersebut).
b. Mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya
c. Menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah
tangganya.
d. Adapun terhadap anak-anak, maka hendaklah mereka
dididik untuk untuk menjalankan peran sosial mereka di
masyarakat, dan hal itu tercakup dalam beberapa hal
berikut:
1. Melatih dan mengajarkan mereka bagaimana menjalin
hubungan baik dengan orang lain. Baik dengan
orangtua, saudari wanitanya, karib kerabat, tetangga,
teman-temannya, yang tua dan yang muda.
2. Selalu bersikap positif dalam berhubungan dengan
masyarakat:
a. Melatih dan mengajaknya untuk melakukan
perbaikan di masyarakat sesuai dengan
kemampuannya.

262
b. Mengajarkannya adab-adab melaksanakan amar
ma’ruf nahi munkar.
c. Ikut serta dalam melakukan kebaikan dan aktivitas
sosial.
d. Memiliki perhatian terhadap negerinya,
perkembangan, dan kemajuannya, serta
kemampuan berinterkasi dengan problematikanya
sesuai dengan pandangan Islam.

4. Mengenal ragam tipikal manusia, serta peran laki-laki


dan wanita dalam kehidupan, hubungan antara
keduanya, dan hubungannya dengan seluruh anak
manusia di dunia.
5. Mempelajari norma-norma hubungan dan kerjasama
sosial serta metode yang benar dalam interaksi
dengan orang lain.
6. Memiliki kemampuan dalam interaksi dengan
masyarakat dan seluruh instansinya, melalui sarana-
sarana dan maslahat kehidupan. Seperti menguasai
keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk itu;
kemampuan bahasa, hadits, khutbah, internet,
managemen, kekonstitusian, undang-undang, dll.
7. Mempersiapkan diri untuk kepentingan masa depan,
seperti persiapan menjadi seorang ayah, ibu rumah
tangga, dan kepribadian yang mampu berdikari, dan
menekuni profesi tertentu yang bermanfaat. Kita juga
memperhatikan pendidikan anak-anak perempuan
agar mereka memiliki kemahiran yang mereka
butuhkan nanti dalam menjalankan peran sebagai ibu
rumah tangga, problematika keluarga, ilmu kesehatan,
serta apa saja yang ia butuhkan untuk hal itu,
begitupula halnya dengan anak laki-laki, maka mereka
juga harus dididik agar siap menunaikan kewajiban

263
mereka sebagai kepala rumah tangga, bekerjasama
dengan kaum wanita.
8. Mewujudkan hubungan antara keluarga dan umat
Islam secara umum, bangga dengan sejarah dan
peradabannya, yang peka dan segenap problematika
dan permasalahannya.

5. Memberikan perhatian yang besar terhadap peran wanita,


tarbiyah dan pembinaannya:
Hendaknya ia menjalankan perannya yang penting dalam
menyiapkan generasi yang kuat dan membangun keluarga
muslim, begitupula perannya di tengah masyarakat, hubungannya
dengan umat Islam, dan hendaknya kaum wanita mendapatkan
semua hak-haknya, baik partisipasi politik, pendidikan, ekonomi,
sosial dan lain-lain.

Kaum wanita juga tidak boleh menerima perlakukan kasar dan


kekerasan, dan hendaknya mereka mendapatkan bantuan dan
dukungan dalam mewujudkan keseimbangan terhadap perannya
di segenap aspek.

Imam Syahid telah mendirikan sebuah divisi akhwat muslimat, hal


ini menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap pembinaan
dan kemajuan kaum wanita, serta dalam menjalankan peran
mereka terhadap keluarga dan dakwah.

6. Keluarga yang mampu mengatur kehidupan ekonomi


rumah tangga:
a. Mewujudkan keluarga yang produktif, dan mendorong
usaha-usaha mandiri dalam rumah tangga.
b. Mengurangi budaya dan fenomena konsumtif yang
berlebihan, memerangi pemborosan dan kebiasaan
berhutang, kecuali pada kondisi-kondidi darurat.

264
c. Menjaga keseimbangan ekonomi keluarga dan cermat dalam
mengelola dan memanage keuangan.
d. Memanfaatkan pengalaman-pengalaman keluarga yang
sukses serta saling membantu antar keluarga.

7. Melindungi keluarga dari unsur-unsur perusak, baik dari


dalam maupun dari luar.
8. Berpartisipasi dalam dakwah untuk agama Allah,
mempersiapkan keluarga agar mampu memikul beban
dakwah dan sabar di atas jalannya.
9. Hendaknya keluarga –dengan seluruh anggotanya-
memberikan kontribusi sebagai warga Negara:
(Terutama bagi keluarga besar), maka hendaknya ia mampu
berinteraksi dengan problematika keumatan, menjaga
kemandiriannya, kemajuan, serta nilai-nilai kebebasan, keadilan
dan persamaan hak.

Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan penahapan dalam


menerapkan target-target ini, melalui beberapa jenjang yang
berbeda-beda. Maka kami memulainya dengan yang paling mudah
dan dengan metode yang sederhana, kemudian secara perlahan-
lahan bertambah dalam dan luas.

Proyek pembentukan keluarga muslim, bukanlah semata proyek


mata kuliah yang bisa dibaca oleh anggota keluarga, dan bukan
pula jadwal pelajaran, namun ia adalah sebuah kehidupan dan
praktek nyata terhadap semua aspek Islam yang beragam, serta
kerja keras untuk mewujudkan rumah tangga muslim yang ideal.

Proyek ini juga tidak terbatas pada rumah tangga Ikhwan saja
-walaupun ini merupakan dasar utama proyek ini-, namun untuk
seluruh rumah tangga di masyarakat, yaitu dengan menggunakan
program-program yang variatif dan publikasi yang baik dan

265
terarah, memberikan contoh nyata model rumah tangga muslim
ideal, studi problematika rumah tangga dan solusi-solusinya,
memanfaatkan hari-hari besar Islam dan kegiatan-kegiatan publik
dalam memperbaiki perspektif masyarakat, menyalurkan
pengaruh-pengaruh dakwah, perhatian yang besar terhadap
keberadaan basis-basis dakwah di dalam setiap keluarga, yang
akan memainkan perannya melalui pengarahan dan bimbingan
yang benar, dan basis-basis dakwah ini bisa jadi adalah salah satu
anggota keluarga. Termasuk hal yang penting dalam hal ini adalah
menghidupkan nuansa takaful dan tolong-menolong antar
keluarga dan rumah tangga, dan hendaknya sebuah keluarga
muslim menjadi basis dakwah dalam himpunan keluarga yang
besar. Kita juga dituntut untuk memberikan perhatian yang besar
terhadap pembinaan pemuda, baik laki-laki dan wanita dalam
membentuk keluarga muslim, serta membantu mereka untuk
memilih pasangan hidup yang sesuai dan baik.

Sebuah rumah tangga muslim tidak menyendiri dalam sebuah


komunitas dan terpisah dari problematika dan permasalahan
masyarakat. Keluarga dan masyarakat saling memberikan
pengaruh satu sama lain. Oleh karena itu, kami selalu berupaya
untuk mendapatkan hasil final yang positif, baik dalam pembinaan
keluarga maupun masyarakat. Permasalahan tidak akan dapat
diselesaikan dengan menutup diri, namun ia hanya bisa
diselesaikan dengan kepekaan dan tanggapan positif. Seluruh
sarana yang ada di masyarakat, dapat dimanfaatkan untuk
kemaslahatan keluarga, dan memberikan pengaruh positif seperti
yang diharapkan, jika kita mampu memanfaatkan dan
mengoptimalkannya.

266
Bab VI

Bekerja Bersama Masyarakat

Bekerja Bersama Masyarakat

• Manhaj Islam dalam Membangun Masyarakat


Manhaj Islam dalam membangun masyarakat dan menjaga
keselamatannya, adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam
Syahid berdasarkan kepada nilai-nilai yang telah ditetapkan, diantara:
a. Mencegah dari permasalahan dan sebab-sebab kehancuran
b. Mendeteksi penyakit-penyakit sosial di masyarakat dari
akarnya, dengan keyakinan bahwa setiap permasalahan yang
didera ada obatnya.
c. Menjadikan asas kesembuhan dan obat pertama dalam setiap
perbaikan masyarakat adalah shalihnya jiwa dan eratnya
ikatan sosial antar anggota masyarakat.
d. Mencegah kesulitan, dan yang mengarah kepada kesukaran.
e. Meletakkan kaidah-kaidah umum yang global, tanpa
meninggalkan kaidah-kaidah rinci.
f. Islam menetapkan metode penerapan
g. Dakwah dilakukan dengan penuh hikmah, nasehat kepada
kebenaran, dan penerapan yang baik, sehingga dapat
menyentuh semua umat manusia.

Imam Syahid berkata, “Setelah meletakkan dasar-dasar kehidupan


bermasyarakat, Islam berupaya mengantisipasi berbagai macam
problematika sosial. Pertama, yang disodorkan oleh Islam adalah upaya-
upaya preventif (pencegahan) terhadap hal-hal yang menyebabkan

267
timbulnya masalah. Terhadap masalah-masalah yang terlanjur muncul, Islam
juga memberikan jalan keluar yang bersifat kuratif (pengobatan). Tidak ada
permasalahan yang tak ada jalan keluarnya menurut Islam. Setiap penyakit
pasti ada obatnya. Obat pertama dalam setiap perbaikan masyarakat adalah
shalihnya jiwa dan eratnya ikatan sosial antar anggota masyarakat.

Islam melingkupi semuanya. Ia tidak mengajak manusia meniti


jalan kesulitan, dan yang mengarah kepada kesukaran. Islam menghendaki
kemudahan bukannya kesulitan. Islam meletakkan kaidah yang bersifat
global tanpa meninggalkan hal-hal yang berifat rinci, sekaligus menjelaskan
cara-cara penerapannya. Islam juga memerintahkan zaman dan waktu untuk
menjalankan perannya. Oleh karena itu, Islam merupakan syariat yang
sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Penyebaran dakwahpun harus
sampai menyentuh semua kalangan manusia, sehingga terwujudlah apa
yang difirmankan oleh Allah,

         

     
Artinya:
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” (Q.S Al Anbiya: 107)

Jika keyakinan terhadap apa yang kami paparkan di atas mulai


menguat dan menuju pencapaian hasil yang telah kami gariskan –sehingga
sistem Islam yang terkait dengan individu, keluarga, dan masyarakat
terlaksana-, maka risalahpun akan sampai ke setiap telinga dan hati
manusia. Hal itu berarti fikrah kami telah diterima masyarakat, dan dakwah
kami mendapat sambutan dari umat.”265

Sebagaimana Imam Syahid juga menjelaskan tentang ikatan dan


hubungan antara anggota masyarakat, yang berdiri di atas prinsip-prinsip ini
dalam Islam:

265
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 237

268
1. Ikatan ukhuwah dan cinta antara anggota masyarakat, dan
Islam telah menghilangkan seluruh anasir yang dapat
melemahkan ikatan ini.
2. Batas-batas hak dan kewajiban antara anggota masyarakat.
3. Menjelaskan tentang peran pemerintah dan yang diperintah.
4. Menetapkan batasan-batasan muamalah dan interaksi
umum dengan sangat jelas.
5. Menetapkan standar keutamaan di masyarakat serta
persamaan hak di hadapan hukum.
6. Menetapkan batas-batas hubungan antara Negara, hak dan
kewajiban masing-masing, oleh karena itu Islam juga
menjelaskan tentang kaidah-kaidah hubungan luar negeri.
7. Menjadikan prinsip dasar hubungan umat Islam dengan
umat-umat yang lain adalah Dakwah, kerjasama dalam
kebaikan dan kebajikan, serta solidaritas sosial antara anak
manusia.

Imam Syahid berkata, “Islam telah memberi tuntunan kepada umat ini
berupa kaidah hubungan sosial untuk mewujudkan kesejahteraan. Islam pun
mengikat antar individu dalam umat ini dengan ikatan ukhuwah dan
menjadikannya sebagai konsekuensi dari keimanan yang tertanam dalam
dada mereka. Setiap mukmin harus senantiasa meningkatkan kualitas
ukhuwah ini menuju terwujudnya mahabbah (saling mencintai), bahkan
sampai pada itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya), serta mengikis
habis apa saja yang bisa memporakporandakan ikatan ini. Islam juga
menentukan hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat. Seorang bapak
dalam rumah tangga mempunyai hak dan kewajiban tertentu, demikian juga
ibu, anak, dan kerabatnya.
Dalam kehidupan bernegara, Islam memerinci tugas, kewajiban, serta hak
penguasa dan rakyatnya secara cermat. Ia menjelaskan pola interaksi antar
pihak secara detail, dengan tidak menjadikan yang satu lebih utama dari
yang lain, kecuali oleh takwanya. Islam juga tidak melebihkan pemimpin
dengan yang dipimpin, atau majikan dengan budaknya. Semua manusia di

269
sisi Allah sama derajatnya, layaknya gigi sisir yang sama rata. Yang
membedakan antara satu dengan yang lain adalah ketakwaan dan amal
shalihnya. Islam juga menggariskan tata aturan dalam hubungan antar
bangsa, menjelaskan hak dan kewajibannya masing-masing, sampai masalah
yang sekecil-kecilnya.266

• Urgensi Bekerja Bersama dengan masyarakat

Bersinergi dengan masyarakat untuk membentuk sebuah masyarakat


muslim dalam tampilan dan shibghahnya, mencakup semua elemen
masyarakat, strata dan kelompok-kelompoknya, biak laki-laki maupun
wanita, remaja, anak-anak, pelajar, dewasa dan orangtua.

Pembentukan Pribadi muslim dan rumah tangga muslim merupakan


unsur mendasar dalam pembentukan masyarakat muslim, termasuk gerakan
dakwah di dalamnya, keduanya tidak mungkin dipisahkan.

Imam Syahid menetapkan target dan aspek-aspek perbaikan secara


gradual di masyarakat, dan hal ini dengan pengetahun yang mendalam
bahwa: Perubahan secara total terhadap masyarakat, membutuhkan
kecenderungan penguasa terhadap Islam dan syariatnya, dan ini merupakan
fase perbaikan selanjutnya, namun ini tidak menghentikan proyek perbaikan
di masyarakat, menyampaikan nasehat dan mensosialisasikan manhaj-
manhaj Islam dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, di terus diserukan
kepada penguasa dalam berbagai tingkatannya.267

Imam Syahid berkata, “JIka tujuan-tujuan ini –perbaikan individu dan


masyarakat muslim- tidak bisa diwujudkakn kecuali di bawah naungan
sebuah pemerintah yang shalih, maka kalian harus menuntut dengan hak
Islam untuk mendirikan sebuah pemerintah yang memperhatikan prinsip,
nilai-nilai dan ajaran Islam.”

266
Ibid, hal. 236
267
Lihat: Risalah: Nahwa an Nur (Menuju Cahaya)

270
Ikhwanul Muslimin menyampaikan program-program perbaikan
kepada pemerintah yang berkuasa, dengan tujuan membantu mereka dalam
merealisasikan aspirasi Ikhwan, namun hal ini harus tetap berada dalam
koridor syariat, sehingga mereka tidak ikut serta dalam melakukan
kemungkaran dengan dalih politik.

Sebagaimana yang disampaikan Ikhwanul Muslimin kepada


pemerintah dengan lisannya, dan dengan tetap menjaga adab dan upaya
untuk menarik hati. Karena konsep perbaikan ini juga kadang-kadang
disampaikan kepada masyarakat nonmuslim, maka adab dan seni
penyampaian juga harus dijaga dan tanpa perasaan rendah diri sebagaimana
yang diajarkan Islam.268

Walaupun tidak mendapat sambutan baik dari pemerintah yang


berkuasa, Ikhwan tetap akan memberikan nasehat, hal ini sebagaimana yang
dikatakan oleh Imam Syahid, “Walaupun demikian, kami tetap akan berada
pada posisi orang-orang yang memberi nasehat, sehingga Allah
membukakan kebenaran antara kami dan kaum kami dan sesungguhnya
Allah adalah Sebaik-baiknya pembuka (pemberi kemenangan).”269

Oleh karena itu perbaikan masyarakat dan menshibghahnya dengan


shibghah Islam merupakan sebuah kemestian, terpenuhinya aspek-aspek
akhlak dan norma-norma dakwah yang diinginkan, berkumpulnya dalam
barisan dakwah dan syariat Islam serta dan memintanya.

Maka adalah sebuah keharusan menyiapkan dan mentarbiyah bangsa


dan anggota masyarakat, sehingga tiba masanya terbentuk sebuah
pemerintah Islam.

Imam Syahid berkata, “Tidak ada kebangkitan umat tanpa di dasari


akhlak, jika suatu umat mampu mengokohkan semangat jihad dan

268
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al Banna)
269
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 214

271
pengorbanan, mampu mengekang dorongan hawa nafsu dan syahwatnya,
maka ia mampu menjemput kemenangan.”270

Imam Syahid juga menjelaskan tentang penyakit yang didera oleh


masyarakat, “Dekadensi moral, hilangnya standar nilai yang agung,
mendahulukan kepentingan Pribadi di atas kepentingan umum, bersikap
pengecut dan takut menghadapi kenyataan, lari dari persoalan dan tidak
berusaha untuk mengantisipasinya, serta perpecahan –semoga Allah
menghancurkannya-. Inilah penyakitnya dan obatnya adalah dengan satu
kalimat saja, yang merupakan lawan dari sifat-sifat buruk ini, yakni perbaikan
jiwa. Upaya yang harus kita tempuh tidak lain adalah mengobati jiwa
manusia dan meluruskan moral bangsa.

    


    
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S Al Syams: 9-10)271

Tentang metode dan manhaj perbaikan, Imam Syahid berkata, “Prilaku


buruk dan fenomena kehidupan tidak Islami telah merajalela dalam
kehidupan kita, sehingga seorang da’I membutuhkan kekuatan dan
kesadaran yang luarbiasa, serta mencari tampilan-tampilan keIslaman
diantara aliran yang menghanyutkan ini.

Bersinergi dengan masyarakat dalam upaya mempersiapkan dan


mentarbiyahnya, tidak semata-mata merupakan tahapan pertama untuk
memudahkan berdirinya Negara Islam, namun ia adalah proyek yang
berkesinambungan dan terus-menerus untuk membangun kebangkitan umat,
ia tidak berhenti dan mengendor hanya dengan berdirinya Negara, namun ia

270
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 157
271
Risalah, Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 152

272
adalah jalan panjang dari proyek tarbiyah dan menyempurnakan kebangkitan
umat.

Imam Syahid berkata, “Setiap umat memiliki wajah kehidupan sosial


yang dengan sadar diayomi oleh pemerintah, diatur oleh sistem hukum, dan
dilindungi oleh penguasa. Maka bangsa-bangsa Islam di Timur harus
menjadikan seluruh rangkaian fenomena kehidupan sosial itu sejalan dengan
etika dan ajaran Islam.272

Imam Syahid menjelaskan tentang tarbiyah secara lebih mendalam


dengan mengatakan, “Hendaknya tarbiyah menjadi penopang utama
kebangkitan, maka yang pertama adalah umat mendapatkan tarbiyah dan
memahami haknya secara sempurna, lalu mempelajari metode untuk
mendapatkan hak-hak tersebut, kemudian ditarbiyah untuk meyakininya,
dan menyebarkan kekuatan iman di hatinya. Dalam ungkapan yang lain, ia
belajar manhaj kebangkitan secara teori, praktek dan spirit.

Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan waktu yang sangat panjang;


karena ia adalah manhaj yang dipelajari oleh umat, maka umat harus
menanamnya dengan penuh kesabaran, kesulitan, dan perjuangan yang
panjang, dan setiap umat yang berupaya melanggar batas-batas tabiat
tersebut maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Oleh karena itu, ada dua hal yang harus dipenuhi, yakni manhaj dan
kepemimpinan.

Adapun manhaj; maka materi-materinya harus sedikit sesuai dengan


kemampuan, bisa dipraktekkan, dan hasilnya dapat dirasakan langsung,
walaupun sedikit.

Adapun kepemimpinan; maka harus dipilih dan ditentukan secara


cermat, hingga ketika sampai pada tahap tsiqah ia ditaati dan didukung, ia

272
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
48

273
juga harus merupakan pemimpin yang dididik untuk menjadi pemimpin,
bukan pemimpin yang diciptakan oleh kondisi darurat, atau dilahirkan oleh
peristiwa, atau menjadi pemimpin karena tidak adanya pemimpin.” 273

Dalam menetapkan langkah-langkah dakwah, Imam Syahid


menghindari bahaya dan ketergelinciran yang pernah dilakukan oleh orang-
orang terdahulu, beliau menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Saya
mencatat bahwa kita memiliki watak-watak tergesa-gesa dan mudah
terpengaruh serta emosional. Juga watak-watak yang lain, baik sosial
maupun nonsosial, yang menjadikan kebangkitan kita akan terjadi secara
tiba-tiba dan langsung menguat seiring dengan kuatnya pengaruh waktu, lalu
menurun dan akhirnya lenyap seperti tak terjadi apa-apa.

Jika saja tujuan perjuangan kita dipahami orang banyak, saya masih
yakin akan adanya dua faktor yang menyertai pemahaman tersebut.
Pertama, sarana-sarananya tidak dikenal dan tidak tertentu, bahkan mungkin
dipahami secara kontradiktif oleh masing-masing mereka dan kita tidak
merasakannya. Kedua, terputusnya hubungan secara total antara generasi
pendahulu dan generasi penerus. Mungkin generasi pendahulu telah sampai
di pertengahan jalan, namun generasi berikutnya tidak meneruskannya
estafeta perjuangan tersebut, karena putusnya hubungan antara keduanya.
Lalu generasi penerus memulai kembali dari awal, terkadang mereka bisa
mencapai hasil sebagaimana yang dicapai oleh pendahulunya, namun juga
terkadang kurang darinya atau bisa juga lebih banyak. Yang jelas, umat tidak
pernah sampai kepada tujuan akhir, karena umur individual itu sangat
terbatas bila dibanding dengan usia kebangkitan dan umur umat. Kalau kita
berpikir bahwa satu orang dapat mewujudkan seluruh keinginan umat, maka
itu adalah khayalan dan tipuan emosi belaka. Setiap aktivis harus
menurunkan kadar emosinya agar ia bisa mengambil manfaat dari apa yang
dikerjakan pendahulunya.

273
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna).

274
Imam Syahid berkata, “Oleh karena itu, Ikhwanul Muslimin
menyerukan bahwa bahwa asas yang menjadi tumpuan kebangkitan kita
adalah ‘Tauhid’, yakni mengesakan Allah sebagai satu-satunya sesembahan,
dan juga menyatukan segala fenomena kehidupan dalam diri bangsa ini di
atas asas Islam dengan segenap kaidahnya.”274

Beliau juga berkata, “Kami berharap semoga Mesir kembali kepada


ajaran dan prinsip-prinsip Islam, bersandar padanya dan membangun sebuah
peradaban baru. Tidak mengapa umat Islam mengambil nilai-nilai kebaikan
dari manapun, tidak ada larangan bagi kita untuk mengambil hal-hal yang
bermanfaat dari orang lain dan menerapkannya, selama sesuai dengan
kaidah-kaidah agama, norma kehidupan dan kebutuhan masyarakat kita.”275

• Poros-poros Sinergisitas kerja dengan masyarakat


Sinergisitas dengan masyarakat muslim berada dalam tiga poros
berikut–yang masing-masing poros menyokong satu sama lain-:
1. Membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh
Ini merupakan asas pijakan sebelum membicarakan tentang apapun,
perubahan atau prilaku. Makna keimanan harus benar-benar tertanam
terlebih dahulu, ia dihimpun oleh keindahan ayat-ayat Al Quran,
keagungan Islam dan petunjuk Rasulullah Saw., kebangkitan iman ini
kemudian diiringi dengan komitmen ibadah dan keyakinan terhadap
rukun-rukun Islam serta menjalankan kewajiban-kewajibannya.
2. Menyadarkan masyarakat dan mentarbiyahnya (baik prilaku, akhlak,
keilmuan dan politik), serta terwujudnya sikap positif di tengah-tengah
mereka.
3. Menyebarkan dakwah dan prinsip-prinsipnya, serta mendapatkan
pendukung.

• Asas-asas Utama Perbaikan Sosial

274
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 239
275
Ibid

275
Imam Syahid meringkas dasar-dasar perbaikan sosial secara
sempurna, seperti yang dibawa oleh Islam, sebagaimana berikut276:
1. Rabbaniyah (berprinsip ketuhanan);
2. Ketinggian kualitas jiwa manusia;
3. Penegasan terhadap keyakinan akan adanya jaza’ (balasan)
atas setiap amal;
4. Deklarasi ukhuwan antar sesama manusia
5. Bangkitnya laki-laki dan wanita secara bersama-sama,
mengumumkan adanya takaful dan emansipasi serta
menetapkan tugas masing-masing secara rinci;
6. Jaminan kepada masyarakat akan adanya hidup, pemilikan,
lapangan kerja, kesehatan, kebebasan, pengajaran dan
keamanan bagi setiap individu, serta menentukan sumber-
sumber penghasilan;
7. Penentuan dua macam gharizah (kecenderungan);
kecenderungan untuk memelihara jiwa dan memelihara
keturunan serta mengatur berbagai tuntutan yang terkait
dengan makanan dan pemenuhan kebutuhan seksual;
8. Tegas dalam memerangi berbagai tindak criminal dan
pelanggaran hak-hak asasi manusia;
9. Penegasan akan pentingnya wihdatul umat dan mengikis habis
semua bentuk perpecahan;
10. Mewajibkan umat untuk berjihad memperjuangkan prinsip-
prinsip al haq yang digariskan oleh sistem ini;
11. Menjadikan daulah sebagai sarana sebagai sarana bagi
perwujudan dan pemeliharaan fikrah, bertanggungjawab
mewujudkan sasaran-sasarannya di masyarakat dan
mentransformasikannya kepada sekalian manusia.

• Tahapan-tahapan amal sosial dan titik tolaknya:


Peluang dan lahan amal bersama dengan masyarakat semakin luas
dan berjenjang, yang mencakup pelbagai aspek kehidupan masyarakat, dan

276
Risalah Pergerakan, Antara Kemaren dan Hari ini

276
hal itu dilakukan sesuai dengan kondisi dan peluang yang memungkinkan
bagi dakwah dan aktivis dakwah.

Jamaah ini, eksistensi dan titik tolak sosialnya tidak berlandaskan


kepada undanga-undang, legalitas pemerintah atau anugerah dari orang lain,
namun landasannya bertitik tolak dari dakwah dan eksistensinya yang nyata
dan rill di masyarakat. Maka pengaruh sosial yang sudah dibangun oleh
dakwah tidak mungkin bisa dihentikan atau ditekan oleh undang-undang.
Sesungguhnya dakwah akan menghadapi kendalan dan tantangan ini dengan
penuh kesabaran dan kebijakan.

Dalam tataran aktivitas sosial, atau perjuangan konstitusi


(sebagaimana namanya yang diberikan Imam Syahid), maka mencakup tiga
jenjang atau aspek di masyarakat:
1. Dalam aspek individual; yakni dengan menggerakkan para
aktivis jamaah untuk melakukan dakwah dan berbaur
dengan anggota masyarakat dalam kehidupan dan kondisi
yang mereka hadapi. Jadi, dimanapun ada seorang muslim,
maka dakwah akan bergerak bersamanya. Dakwah akan
mendidiknya agar melakukan gerakan sosial di masyarakat,
mewarnai mereka dengan perkataan dan perbuatan, serta
menjadi model teladan bagi dakwah.
2. Membentuk perkumpulan-perkumpulan, lembaga, club-club,
serta simpul-simpul sosial yang memberikan andil terhadap
kebaikan dan kebajikan, menyebarkan pemahaman dan
adab-adab Islam di dalam masyarakat. Untuk melakukan hal
ini, dakwah meminta bantuan dan memanfaatkan orang-
orang ikhlas dari anggota masyarakat dan para simpatisan,
yang dalam pembentukannya tetap menggunakan prosedur
undang-undang yang berlaku di masyarakat.

Wadah-wadah sosial ini berbentuk lembaga-lembaga yang


beragam, yang melakukan aktivitas sosial dan amal

277
kebaikan yang beraneka ragam pula, dan tidak mesti harus
menggunakan label nama Ikhwanul Muslimin. Karena bisa
jadi ia menggunakan nama-nama dan label yang beraneka
ragam sesuai dengan karakter undang-undang dan kegiatan
yang berlaku.

Imam Syahid menegaskan hal ini dengan mengatakan,


“Tidak menjadi sebuah kemestian sebuah gerakan dakwah
dinamakan dengan Jam’iyyah Ikhwanul Muslimin, karena
kami tidak bertujuan selain untuk perbaikan diri dan
menghaluskan jiwa. Maka boleh saja dakwah itu berupa
sekolah-sekolah al Anshor, ma’ahid-ma’ahid (pondok-
pondok) Hurra, atau club-club perkenalan.”277

3. Berakivitas di lembaga-lembaga dan yayasan yang ada di


masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial, pendidikan,
politik, profesi, eksekutif, dll.

Lalu dilakukan usaha penyampaian dakwah dan manhaj-


manhaj perbaikan ke segenap lembaga dan yayasan-
yayasan tersebut, mencari pendukung, masuk kedalamnya
dan menyebarkan tokoh-tokoh dakwah dalam berbagai
aspek, dengan tetap menjunjung tinggi undang-undang dan
konstitusi yang berlaku di masyarakat.

Sebagai contoh; aktivitas-aktivitas di yayasan-yayasan


kemasyarakatan, partisipasi politik dalam pemilu, asosiasi,
lembaga-lembaga dan perhimpunan, sebagai anggota
dewan perwakilan rakyat (DPR), lembaga-lembaga
pengawasan, dll.

• Sifat dan Karakteristik Amal bersama masyarakat

277
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al Banna,
hal. 152

278
Aktivitas umum dalam dakwah bersama masyarakat memiliki sifat dan
karakteristik sendiri, yang senantiasa dijaga oleh dakwah dan diajarkan
kepada kader-kadernya. Hal itu mencakup:
1. Ruh mencintai mayarakat dan menginginkan
kebaikan untuk mereka:
Hendaknya ruh itu benar-benar yang mendominasi dan mendorong
dalam setiap aktivitas dakwah terhadap masyarakat. Sebagaimana
perkataan Imam Syahid, “Kami berharap agar kaum kami
mengetahui, bahwa mereka sangat kami cintai lebih dari diri kami
sendiri, betapa kami mencintai dapat memberikan pengorbanan
untuk kemuliaan mereka jika hal itu dibutuhkan.”

Hal ini tiada lain adalah karena kepekaan yang telah meluluhkan
dan menguasai seluruh perasaan kami.

Sungguh sangat luarbiasa bagi kami menyaksikan apa yang dialami


oleh kaum kami, lalu kemudian kami menyerah kepada kehinaan
atau merelakan kesia-siaan..
Untuk itu kami berbuat untuk manusia di jalan Allah.

Kami serukanlah kepada kaum kami, “Bahwa sesungguhnya kami


adalah untuk kalian, bukan untuk orang lain, dan kami tidak akan
pernah menjadi musuh kalian sampai kapanpun.”

Sikap kami terhadap masyarakat adalah seperti yang digambarkan


oleh Imam Syahid, “Mereka melempar kami dengan batu, maka
kami akan melempar mereka dengan buah.”

Kami tidak meninggikan diri di atas masyarakat atau


membanggakan diri lebih tinggi derajatnya di atas mereka, atau
meremehkan mereka –kami berlindung kepada Allah dari hal itu-,
kami justru bangga dengan dakwah Islam, dan berharap agar

279
seluruh anggota masyarakat ikut bersama kami, serta
mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

2. Memanfaatkan segala sarana yang ada:


Baik secara individual maupun kolektif, yakni dengan
memanfaatkan undang-undang dan memanfaatkannya untuk
kemaslahatan dakwah, tidak justru membenturkan atau kaku di
hadapannya.

Imam Syahid berkata, “Sarana-sarana propaganda saat inipun


berbeda dengan sebelumnya. Kemaren, propaganda disebarkan
melalui khutbah, pertemuan, atau surat menyurat. Tapi sekarang
seruan atau propaganda kepada isme-isme itu disebarkan melalui
penerbitan majalah, Koran, film, panggung teater, radio, dan
media-media lain yang beragam. Sarana-sarana itu telah berhasil
semua jalan menuju akal dan hati khalayak, baik pria maupun
wanita, di rumah-rumah, di toko-toko, di pabrik-pabrik, bahkan di
sawah-sawah mereka.

Maka adalah wajib bagi para pengemban misi dakwah ini untuk
(juga) menguasai semua sarana tersebut agar dakwah mereka
membuahkan hasil yang memuaskan.”278

3. Menghadapi Rintangan dan tekanan dengan


perjuangan konstitusi:
Kami menghormati undang-undang dan konstitusi yang berlaku di
masyarakat, kami tidak akan melakukan upaya-upaya
pemberontakan atau kudeta, namun dengan tetap menyampaikan
aspirasi kami untuk perbaikan dan perubahan, agar undang-undang
dan konstitusi tersebut sesuai dengan prinsip dan syariat Islam.
Bahkan kami sangat menentang upaya-upaya pelecehan terhadap
penerapan undang-undang, begitupula dengan undang-undang
yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau yang
278
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 22

280
secara jelas bertentangan dengan syariat Islam, maka kami akan
menghadapinya, kami akan menyerukan perbaikan dan
berkomitmen terhadap konsep dakwah yang memperjuangkan hak,
serta dengan tabiat seluruh perangkat konstitusi, kami akan
menghadapi upaya-upaya penyempitan dan tekanan terhadap
dakwah dengan tetap teguh dan melakukan perlawanan konstitusi
dan berpegang teguh terhadap hak-hak kami secara konstitusional.

Imam Syahid berkata, “Menyebarkan dakwah dengan pelbagai


sarana publikasi hingga dakwah dipahami oleh khalayak, lalu
memperjuangkannya dengan akidah dan keimanan. Kemudian
melakukan penyaringan anasir-anasir yang baik untuk menjadi
tonggak penopang yang kuat terhadap fikrah perbaikan ini,
kemudian melalukan perjuangan konstitusi agar suara dakwah
menembus ruang-ruang birokrasi dan menarik simpati pemerintah
eksekutif.”279

4. Eksistensi dan Legalitas Jamaah adalah dari Allah


Jamaah ini mendapatkan eksistenssi dan legalitas bukan dari
keputusan lembaga, kehendak pemerintah atau penguasa, namun
ia berasal dari Tuhannya, dari dakwah dan dari kebenaran yang
diyakini dan dianutnya.

Dalam aspek kerja-kerja untuk perbaikan, jamaah melakukan


kegiatan dan berbaur dengan anggota masyarakat, dengan
demikian ia telah mendapatkan legalitas rill di tengah masyarakat,
dan menyebarkan tokoh-tokoh dakwah di sana, kemudian
masyarakat berkumpul di sekitar dakwah dan memperjuangkannya.

“Hukum dan pemerintah yang berkuasa yang memerangi dakwah


berupaya untuk melenyapkan nama jamaah ini beserta tokoh-tokoh
sosial dan politiknya, karena keterikatan nama jamaah dan para
tokoh-tokohnya dengan kontribusi dan pengorbanan, pelayanan
279
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 212

281
umum, kebersihan, kesucian dan kepekaan terhadap kebaikan,
keadilan, kelembutan terhadap manusia dan menolak kekerasan.
Dengan legalitas rill ini serta dengan interaksi aktif dengan elemen
masyarakat, maka kita menolak segala bentuk upaya
pendeskreditan jamaah yang diusung oleh organisasi pers dan
segala upaya melemparkan tuduhan terhadap aktivis-aktivis
jamaah, serta melancarkan syubhat terhadap mereka.”280

Kita harus melanjutkan langkah perjuangan kita untuk berdakwah


kepada Allah meskipun dengan pelbagai tekanan. Kita harus
menciptakan metode baru agar dapat menyampaikan dakwah
kepada kaum kita, dan kembali harus menyodorkan ide-ide segar
dalam setiap problematika yang bergulir dengan cara yang
diterima oleh masyarakat.”

Dengan demikian, maka kita akan senantiasa eksis dalam


kehidupan umat dan tidak akan pudar, selama shaf dakwah ini
senantiasa menjaga keteguhan dan komitmennya terhadap
qiyadah dan selalu siap berkorban dan berkontribusi. Dan pada
gilirannya secara perlahan-lahan akan tumbuh pemahaman
terhadap fikrah kita dan kelembutan dengan gerakan kita, serta
dukungan terhadap akivitas-akitivitas kita, menyokong dan
membela jika kita disakiti.”281

Jamaah ini tidak pernah berupaya melakukan konfrontasi. Ia tidak


konfrontatif dan tidak dikonfrontasi, namun pada saat yang sama ia
juga tidak pernah kompromi terhadap prinsip-prinsipnya atau
berhenti melakukan aktivitas dan proyek-proyek perbaikan serta
upaya penyadaran dan tarbiyah terhadap masyarakat, ia akan
bersabar dan memikul apa saja yang akan ia temui untuk
melaksanakan hal itu.

280
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Ust. Mustafa Masyhur, hal. 22
281
Ibid

282
5. Menolak Cara kekerasan, terorisme, pemaksaan dan
kebencian:
Jamaah menolak cara-cara kekerasan, terorisme, pemaksaan dan
kebencian, baik kepada pemerintah yang sedang berkuasa, dengan
organisasi atau musuh-musuh yang lain. Jamaah lebih memilih
menahan perlakuan zalim dan menyerahkan urusan kepada Allah,
serta menolak perlakukan tersebut dengan sarana-sarana yang
baik.
Tentang penggunaan kekuatan dan melakukan tindak kekerasan di
jalan-jalan dengan slogan amar ma’ruf nahi munkar, seperti
menghancurkan kedai-kedai minuman keras, maka Imam Syahid
menolak cara-cara yang tidak menggunakan fiqh syar’I dan
pandangan terhadap realitas masyarakat, hal ini tiada lain hanya
akan menimbulkan implikasi buruk yang lebih besar dibanding
manfaatnya. Imam Syahid justru melihat bahwa untuk menyikapi
hal ini dibutuhkan cara-cara hikmah dan kondisi yang tepat serta
dengan menggunakan sarana-sarana konstitusi untuk melakukan
pressure, dengan tetap berusaha mencari penyebab munculnya
kerusakan ini, serta berupaya untuk menyembuhkannya.

Imam Syahid berkata, “Bisa dimaklumi bahwa tidak ada satu pun
orang yang punya kepedulian di Mesir ini ingin melihat ada kedai
minuman keras di sini. Ikhwan sendiri –sebagai salah satu bentuk
kepedulian- telah memberikan peringatan keras kepada
pemerintah tentang masalah ini, jauh sebelum mereka
melakukannya. Karena, sesungguhnya pemerintahlah yang telah
menyengsarakan bangsanya dalam hal ini.

Oleh karena itu kami yakin bahwa tindakan menentang arus


(menghancurkan kedai-kedai minuman) seperti ini belum saatnya.
Haruslah dipilih waktu yang tepat untuk itu dengan menempuh
cara yang sebijak mungkin, sehingga dalam pelaksanaannya dapat
menekan bahaya yang seringan-ringannya. Dengan demikian,
sampailah kita pada maksud yang kita inginkan. Memang dalam hal

283
ini pandangan pemerintah harus mengarah kepada kewajiban
Islaminya.282

Ikhwan mengontrol semangat dan menimbang gejolak perasaan


dengan kejernihan pikiran.
“Kekanglah gejolak perasaan dengan pandangan dan pemikiran
yang jernih, dan terangilah kecemerlangan akal pikiran dengan
gelora perasaan yang mengharu biru penuh semangat.”283

Imam Syahid berkata, “Sarana untuk mewujudkan cita-cita ini


bukanlah harta dan bukan pula kekuatan fisik. Dakwah yang haq
akan mengarahkan pembicaraan kepada ruh, menyeru kepada
hati, dan membuka tabir-tabir penutup jiwa.”284

Beliau juga berkata, “Mereka melakukan hal ini dengan penuh


kesabaran, ketegaran, kebijakan dan nasehat.”285

Ikhwan sangat menghindari penggunaan tindak kekerasan dan


paksaan dalam mengajak masyarakat untuk melaksanakan prinsip-
prinsip Islam dan menanamkan nilai-nilai akhlaknya. Ikhwan justru
lebih memilih menggunakan cara-cara untuk ‘memuaskan’ hingga
masyarakat umum memahami dan mendukungnya dengan akidah
dan keimanan. Hal ini dilakukan setelah membangkitkan keimanan
di hatinya, mengoptimalkan keterikatan jiwanya dengan Al Quran
dan penyandarannya kepada Allah.

6. Menggunakan manhaj amal implementatif


Masyarakat sangat membutuhkan kepada yang membimbing
tangannya, memperbaiki kerusakan dan dekadensi, tarbiyah Islam,
dan upaya-upaya pemberian aspek-asppek kebaikan dan kebajikan,
dan hal ini membutuhkan manhaj amal implementatif. Yakni
282
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), Hal. 149
283
Ibid, hal. 127
284
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 240
285
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 84

284
dengan berjuang bersama masyarakat menghadapi problematika
dan krisis, memberikan mereka apa saja yang bisa kita berikan
berupa kebaikan dan pelayanan umum, dan hendaknya kita tidak
berhenti sampai di situ saja, kita bahkan harus membangkitkan
keimanan dan menguatkan keinginan mereka, menyebarluaskan
contoh-contok kebaikan, takaful dan ta’awun, serta mengikat
mereka kepada Islam dengan ikatan yang mulia. Ini adalah
tantangan di segala komunitas masyarakat, kelompok dan
lembaga-lembaganya, ia bahkan tidak terbatas pada satu kawasan
saja tanpa kawasan yang lain.

7. Universalitas Dakwah Ikhwan


Imam Syahid berkata, “Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah
umum, yang tidak dinisbahkan kepada kelompok tertentu dan tidak
condong pada adat apapun di masyarakat dengan warna yang
khas, karakteristik dan pengikut yang khas, ia mengarah pada
orisinalitas agama dan kedalamannya.”286

Ia adalah dakwah yang tidak terbatas pada pandangan-pandangan


parsial, warna atau kelompok tertentu, namun ia mencakup semua
kalangan dengan pemahaman Islamnya yang paripurna, yang
ditetapkan dalam 20 rukun prinsip pemahaman.”287

8. Ia Menghimpun seluruh makna perbaikan


Karena landasannya adalah pemahaman Islam yang komprehensif,
yang tidak terbatas pada aspek tertentu tanpa aspek yang lain. Ia
adalah, “Dakwah salafiyah, thariqah suniyah, Hakikat sufiyah,
hai’ah siyasiyah, Jama’ah riyadhiyah, Rabithah ‘Ilmiyah tsaqafiyah,
Syarikah Iqtishadiyah, Fikrah ijtima’iyah.”288

9. Ia tidak terbatas pada aspek aktivitas umum

286
Risalah: Dakwah Kami (Dakwah Kami), hal. 25
287
Risalah: Ta’alim (Risalah Ta'alim), hal. 356
288
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 122

285
Dakwah justru berupaya mengumpulkan hati-hati manusia kepada
Al Quran dan mengedepankan manhaj-manhaj ishlah dalam
berbagai aspek kehidupan, membentuk pusat-pusat kegiatan
keimanan dan tidak membatasi dakwah umum hanya melalui
khutbah dan ceramah-ceramah, atau hanya melakukan perbaikan
parsial di masyarakat. Tujuan dakwah ini lebih luas dari itu semua.

Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya khutbah dan perkataan,


tulisan dan pelajaran, seminar, identifikasi penyakit dan obatnya,
semuanya tidak akan memberikan manfaat apapun dan tidak akan
mewujudkan tujuan apapun serta tidak akan mengantarkan da’i
kepada target yang diharapkan.”
Namun hal ini membutuhkan:
1.Iman Yang mendalam
2.Pembentukan yang cermat
3.Amal yang berkesinambungan

“Maka yakilah terhadap fikrah kalian dan berkumpullah di


289
sekelilingnya, bekerjalah untuknya dan teguhlah.”

Setelah menyebutkan beberapa bentuk dan aspek kebaikan dan


aktivitas sosial yang dilakukan oleh Ikhwan, Imam Syahid berkata,
“Namun sekali-kali tidak wahai Ikhwan, sebenarnya hal ini bukan
segalanya yang kita inginkan, yang kita inginkan adalah keridhaan
Allah.”

Tujuan asasi, tujuan luhur, dan perubahan yang dikehendaki


Ikhwan adalah perubahan secar total dan integral, seluruh
kekuatan umat bersinergi bahu membahu, bersatu patu untuk
menghadapi dan mengadakan perubahan dan reformasi.290

289
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal.108
290
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal.205

286
10. Menggunakan Metode Perbaikan yang positif, yang
melakukan pembangunan sebelum kehancuran:
“Ikhwan tidak suka mencampur adukkan antara pembangunan dan
upaya penghancuran.”291

Imam Syahid juga berkata, “Sesungguhnya manusia hidup dalam


gubuk-gubuk akidah yang lusuh, maka jangan kalian hancurkan
gubuk-gubuk mereka, namun bangunlah untuk mereka istana-
istana akidah yang mulia, maka mereka pasti akan meninggalkan
gubuk-gubuk tersebut dan pindah ke istana-istana yang kalian
bangun.”292

11. Menghidupkan rasa optimis di tengah masyarakat,


setelah membangkitkan keimanan mereka:
Ini merupakan hal yang mendasar dalam sarana melakukan
aktivitas sosial, yakni menghilangkan rasa persimis dan putus asa,
kemudian membangkitkan keimanan dan rasa optimis.

Imam Syahid berkata, “Umat yang bangkit membutuhkan rasa


optimis yang tinggi dan luas, Al Quran memerintahkan umat-
umatnya agar memiliki perasaan ini, yakni dengan cara
mengeluarkan dari umat yang mati, suatu umat yang semuanya
adalah kehidupan, semangat, cita-cita dan tekad.”293

Beliau juga berkata, “Wahai manusia, sebelum kami berbicara


kepada kalian tentang shalat, dan puasa, tentang peradilan dan
hukum, tentang tradisi dan ibadah, serta aturan-aturan dalam
muamalah, terlebih dahulu kami akan berbicara tentang hati yang
hidup, ruh yang hidup, jiwa yang tanggap, nurani yang peka, dan
iman yang dalam.

291
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 149
292
Dari buku: Dr. Taufik Wa’I, Ikhwanul Muslimin adalah Gerakan Islam Terbesar,
hal 129
293
Risalah: Nahwa an Nur (Menuju Cahaya), hal. 277

287
Semua itu bisa terwujud dengan ketiga rukun ini:
1. Iman dengan keagungan risalah Islam
2. Bangga dalam memeluk agama Islam
3. Yakin akan datangnya dukungan dan pertolongan Allah.
Apakah kalian sudah beriman?294

12. Jamaah dengan manhaj perbaikannya bukan sebagai


pengganti masyarakat:
Jamaah justru bersinergi dan bekerjasama dengan segenap
kekuatan yang mengupayakan perbaikan, “Kita saling tolong
menolong dalam hal-hal yang kita sepakati, dan saling memahami
dalam hal yang kita perselisihkan.”

Jamaah juga tidak mengklaim bahwa upaya perbaikan hanya


miliknya sendiri atau membatasi kebaikan pada dirinya sendiri, ia
selalu memelihara setiap yang memiliki kemampuan. Dakwah dan
jamaah melakukan aktivitas penyadaran dalam masyarakat dan
bekerjasama dengan segenap kelompok-kelompok yang ikhlas,
mengarahkan dan menunjukkan mereka kepada kebaikan.

Imam Syahid berkata, “Kami akan mentarbiyah bangsa kami, agar


lahir dari mereka sebuah bangsa yang muslim, dan kami akan
menjadi bagian dari bangsa muslim itu.”295

“Perubahan yang dikehendaki Ikhwan adalah perubahan secara


total dan integral, seluruh kekuatan umat bersinergi bahu
membahu, bersatu padu menghadapi dan mengadakan perubahan
dan reformasi.296

Perbaikilah diri kalian, konsentrasilah pada dakwah kalian, dan


pimpinlah umat menuju kebaikan.

294
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 235
295
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 179
296
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal.205

288
13. Menghindari cara-cara politik (golongan) dalam
bekerja, serta tidak memasuki wilayah konflik dan
perseteruan dengan kelompok yang lain:
Imam Syahid berkata, “Kami tidak menyerang mereka, karena kami
membutuhkan kekuatan dan kesungguhan yang mereka gunakan
untuk permusuhan.”297

Kesadaran itulah yang membuat dada mereka lebih lapang dalam


menghadapi orang-orang yang menyelisihi mereka.

Ikhwanul Muslimin membolehkan adanya perbedaan dan


membenci sikap fanatisme terhadap pendapat sendiri, serta
senantiasa berusaha menemukan kebenaran, kemudian membawa
masyarakat kepada kebenaran itu dengan cara yang baik dan sikap
yang lemah lembut.298

14. Murni dan ikhlas karena Allah dalam berdakwah dan


bekerja
Ia harus murni dari nafsu dan ambisi Pribadi, terbebas dari ujub,
ghurur (terpedaya), dan mengembalikan seluruh urusan kepada
Allah semata.

Imam Syahid berkata, “Bahwa dakwah (Ikhwanul Muslimin)


membawa misi dakwah yang bersih dan suci; bersih dari ambisi
Pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa
nafsu.”299
“Segala puji bagi Allah, sesungguhnya kami terbebas dari ambisi-
ambisi pribadi, dan jauh dari egoisme, kami tidak menginginkan

297
Ibid, hal. 215
298
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal.27
299
Ibid. hal, 13

289
apapun selain keridaan Allah dan kebaikan untuk manusia, dan
kami tidak bekerja kecuali untuk mendapatkan rida Allah Swt.”300

Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yang putih, suci dan


murni, yang tidak terwarnai (dengan warna lain), ia selalu bersama
kebenaran dimanapun berada, yang menyukai perkumpulan dan
membenci penyimpangan.”301

“Andaikan yang kami lakukan ini adalah sebuah keutamaan, maka


kami sama sekali tidak menganggap itu keutamaan diri kami. Kami
hanya percaya kepada firman Allah Swt.

   


   
 
   
  
  
   
:Artinya
“Mereka merasa Telah memberi nikmat kepadamu dengan
keIslaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa Telah
memberi nikmat kepadaku dengan keIslamanmu, Sebenarnya
Allah, dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang
yang benar." (Q.S Al Hujurat: 17)

15. Bangga dengan dakwah dan mendeklarasikannya


dengan segenap kekuatan dan kejelasan di tengah
menjamurnya kelompok-kelompok dakwah:

300
Risalah Pergerakan, Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari in)i, hal.
109
301
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 25

290
Imam Syahid berkata, “Sesungguh dunia sekarang ini, berada pada
posisi saling tarik-menarik antara Komunis Rusia dan Demokrasi
Amerika, ia merasakan kegoncangan dan kebingungan serta tak
satupun dari dua jalan itu yang dapat mengantarkannya kepada
ketenangan dan keselamatan. Dan sekarang, di tangan kalian ada
botol obat penawar yang berasal dari wahyu langit, maka kalian
berkewajiban untuk mendeklarasikan hakikat (kebenaran dakwah)
dengan jelas, kita harus mengajak kepada manhaj kita yang Islami
dengan penuh kekuatan, kita tidak perlu takut karena kita tidak
memiliki negara atau kekuatan, karena sesungguhnya kekuatan
dakwah terletak pada dakwah itu sendiri, lalu pada hati orang-
orang yang meyakininya, lalu pada kebutuhan dunia padanya,
kemudian pada pertolongan Allah, kapan saja ia berkenan
302
menunjukkan kehendak dan kekuatannya.”

• Mempersiapkan kader dakwah untuk bersinergi dengan


masyarakat:
Dakwah mempersiapkan kader-kadernya melalui tarbiyah, latihan dan
pemahaman yang benar, untuk bersinergi dengan masyarakat dan
memberikan perlayanan umum untuk manusia. Dengan segenap perbedaan
jenjang dan kualitas masing-masing kader tarbiyah, sesuai kondisi dan
persiapan mereka secara personal, masing-masing kader dalam barisan
(dakwah) tetap diminta untuk memberikan kontribusinya, dan itu merupakan
bagian mendasar dalam dakwah dan tarbiyahnya.

Karena personal kader-kader tarbiyah merupakan titik tolak untuk


melakukan aktivitas sosial dan dakwah, maka ia harus dipersiapkan dan terus
menerus dibina, dari penguasaan dan pemahaman terhadap tujuan-tujuan
dakwah, target dan mainstream dakwah hingga diperkenalkan dengan
kondisi rill di lapangan dan kendala-kendalanya.

Ia dipersiapkan agar memenuhi hal-hal berikut:

302
Bagian terakhir dari risalah yang ditulis oleh Imam Syahid untuk Ikhwanul
Muslimin, diterbitkan oleh Majalah Al Mabahits, edisi 16 Januari 1951 M.

291
1. Memiliki rasa cinta dan kepekaan terhadap masyarakat dan
seluruh civitasnya.
2. Mengetahui dan mengenal secara jelas dan sadar terhadap
peran sosialnya di masyarakat, dan itu merupakan bagian dari
dakwahnya.
3. Memiliki sikap positif dalam harakah (dakwah)
4. Memiliki semangat yang tinggi dan aktivitas yang luas, yang
terlatih untuk memberikan layanan umum.
5. Peka terhadap persoalan-persoalan Islam, yang kemudian
dapat mencerna dan memberikan keputusan terhadap persoalan
tersebut dengan muatan-muatan dakwah.
6. Cepat dan tanggap dalam memberikan perlayanan umum
dan proyek-proyek kebaikan kepada masyarakat.
7. beradab dan berakhlak Islami, yaitu: Menjaga lisan, baik
muamalahnya, amanah, jujur dalam janji dan ucapan, dermawan,
toleran dan lembut terhadap sesama, tidak berpegang kepada
persangkaan, menjauhkan diri dari ghibah dan namimah, menjadi
teladan dalam muamalah maliyah (masalah keuangan) dan sosial,
itqon (professional) dalam pekerjaan dan aktivitasnya, adil, benar
membuat keputusan perkara, tidak melupakan kebaikan dengan
kemarahannya, tidak melupakan jasa baik karena permusuhan,
mengatakan yang benar walaupun terhadap diri sendiri atau orang
yang paling dekatnya walaupun kebenaran itu pahit, mengasihi
yang muda dan menghormati yang tua, tidak membuat gaduh atau
keributan, tegar dan tabah menghadapi tekanan dan aksi teror,
melepaskan diri dari ambisi, nafsu dan makna-makna ujub dan
takabbur, berlapang dada terhadap orang-orang yang berbeda
dengannya, dan tahu bagaimana bermuamalah dan bekerjasama
dengan mereka.303

Imam Syahid berkata, “Ketika seorang akh bergabung dengan Ikhwan,


ia diharuskan menyucikan jiwa, meluruskan tingkah laku,

303
diantara kewajiban Aktivis

292
mempersiapkan akal, jiwa dan raganya untuk jihad dan perjuangan
panjang di masa yang akan datang. Kemudian ia dituntut untuk
menyebarkan ruh (semangat) ini kepada keluarga, kerabat, teman
sejawat, dan masyarakatnya. Seorang akh belumlah dikatakan sebagai
seorang muslim yang benar hingga ia menerapkan hukum dan akhlak
Islam pada dirinya, serta menjaga batas-batas perintah dan larangan
Allah dan Rasul-Nya.”304

“Telah tiba waktunya, seorang muslim harus mengetahui tujuannya,


dan menentukan arahnya, kemudian bekerja untuk arah yang
ditujunya agar sampai pada tujuannya.”305

Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya, masa akan mengeluarkan


saripatinya yang banyak dari peristiwa-peristiwa yang dialaminya.
Kesempatan-kesempatan itu akan terbuka untuk sebuah kerja besar.
Dunia akan menanti dakwah kalian, dakwah hidayah, dakwah
keberuntungan, dan kedamaian untuk membebaskan manusia dari
semua penderitaan. Sekaranglah giliran kalian untuk memimpin umat
dan membimbing bangsa.”306

“Saya pun berbicara kepada kepada mereka yang malas agar segera
bangkit dan bergerak, karena jihad tidak mungkin dilakukan dengan
santai.”

   


  
  
 
:Artinya
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami,
benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.

304
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal.205
305
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 15
306
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V)

293
dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik. (Q.S Al Ankabut: 69)307

Bab VII

Tujuan dan Aspek Amal


Bersama Keluarga dan Masyarakat

Tujuan dan Aspek Amal Bersama Keluarga dan Masyarakat

• Poros-poros dan Tujuan Amal Bersama Masyarakat

Kami akan menyampaikan secara ringkas –dari Risalah-risalah Imam


Syahid dan pengarahan-pengarahannya-, poros-poros dan tujuan amal
bersama masyarakat, yang dalam pembentukannya mencakup: rumah
tangga, opini umum, komunitas (perkampungan, kota-kota, dan distrik),
institusi (negeri, resmi dan tanfidziyah (eksekutif pemerintah)) di seluruh
jenjangnya serta seluruh unsur-unsur yang mempengaruhinya; baik ekonomi,
pers, politik, adat, undang-undang dan lain-lain.

Hal ini kemudian menjadikan shaf Ikhwan termasuk bagian dari


masyarakat, yang mulai dari dirinya sendiri kemudian menyebar dan
memberikan pengaruh di lingkungan sosialnya, baik dalam skala individu,
rumah tangga, atau masyarakat, yang tujuan-tujuan antara lain:
1. Memperhatikan rumah tangga sebagai basis dasar dalam
membina masyarakat308:

307
Ibid
308
Untuk Menambah keterangan, rujuk kembali ke Bab V, Pembentukan Keluarga
Muslim.

294
Imam Syahid berkata, “Kami menginginkan kebangkitan laki-laki dan
perempuan secara bersama-sama, mengumumkan adanya takaful dan
emansipasi serta menetapkan tugas masing-masing secara rinci.”309

Titik permulaannya adalah:


a. Keluarga-keluarga dakwah dan pendukungnya; yang dimulai dengan
memilih suami atau istri yang baik, mempersiapkan mereka untuk membina
rumah tangga muslim, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan
didikan yang baik, membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam, serta
menjaga nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas dan kesibukan rumah tangga.

“Kami meninginkan rumah tangga muslim, baik pikiran maupun akidahnya,


baik akhlak maupun nuraninya, dalam aktivitas dan prilakunya.”310

b. Kemudian lokasi dakwah meluas ke anggota keluarga, kerabat dekat,


dimana ia mampu mengajak keluarganya untuk menghargai fikrahnya,
menyebarkan nilai-nilai Islam di tengan-tengah mereka, mendapatkan
dukungan terhadap fikrah-fikrah Islam dan dakwah.

C. Memberikan pengaruh di keluarga-keluarga yang ada di masyarakat


dengan pelbagai sarana untuk menyemarakkan fenomena kehidupan Islam,
dan membina generasinya dengan nilai-nilai Islam.

Imam Syahid berkata, “Aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar, telah mereka
mulai dari diri mereka sendiri, kemudian kepada keluarga, rumah-rumah
mereka, kerabat dekat dan teman-teman mereka. Mereka menyampaikan hal
itu dengan penuh kesabaran, penuhperhitungan, dengan hikmah dan
nasehat-nasehat kebaikan.”311

2. Memberikan perhatian terhadap lapangan usia yang berbeda-


beda, peran wanita dan hak-haknya:

309
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 94
310
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 101
311
Risalah: P Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 84

295
Baik perhatian kepada remaja, mahasiswa, laki-laki maupun wanita,
mengikat mereka dengan ajaran Islam dan mendidik mereka dengan
pendidikan yang benar, serta memberikan perhatian dan peran yang
istimewa terhadap para pemuda312, terutama dari Universitas Al Azhar.

Imam Syahid juga memberikan perhatian yang sama terhadap kaum


wanita, dengan mengatakan, “Untuk itu, kami juga memperhatikan kaum
wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Kami juga
memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda.”313

Beliau juga berkata, “Kami menginginkan kebangkitan laki-laki dan


perempuan secara bersama-sama, mengumumkan adanya takaful dan
emansipasi serta menetapkan tugas masing-masing secara rinci.”314

3. Optimalisasi Organisasi dan Para Aktivis Dakwah Untuk


Kepentingan Agama Islam:

Baik dari dalam shaf dakwah maupun dari luar shaf, yaitu dengan
melengkapinya dengan sarana-sarana dan penjelasan terhadap ajaran Islam,
serta mengarahkannya untuk perbaikan, berkoordinasi dan bekerjasama.
Seperti, mesjid, khutbah, lembaga, club-cluc, dan lain-lain.

“Telah tiba waktunya, dimana seorang muslim harus mengetahui


tujuannya, dan menentukan targetnya, dan hendaknya ia berupaya untuk
mewujudkan target-targetnya tersebut hingga ia sampai kepada tujuan yang
diinginkan. Adapun mereka yang dilanda kelalaian dan kebingungan,
permainan dan gurauan, hati-hati yang lengah, maka bukan termasuk jalan
orang-orang mukmin.”315

312
Lihat Risalah Pergerakan, Kepada Para Pemuda
313
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 177
314
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 94
315
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal.15

296
4. Memberikan pengarahan kepada masyarakat, memperkuat
keimanan dan melakukan tarbiyah secara bertahap, dengan
langkah-langkah berikut:
a. Membangkitkan keimanan di dalam hati manusia terhadap Al
Quran.
Yang sangat urgen adalah mengenalkan Al Quran kepada masyarakat,
dan menjelaskan keagungan dan mukjizatnya serta berinteraksi
dengannya.

Imam Syahid berkata, “Saya berkeyakinan bahwa tujuan paling penting


dari diturunkannya Al Quran yang wajib ditunaikan oleh umat Islam ada
tiga perkara, yaitu:
Pertama, memperbanyak membacanya (tilawah), beribadah dengan
membacanya, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan Al Quran.
Kedua, Menjadikannya sebagai sumber hukum-hukum agama dan syariat.
Ketiga, Menjadikannya sebagai dasar undang-undang di dunia, yang
harus dipetik nilai-nilainya dan diterapkan dalam realitas kehidupan.”316

“Ketauhilah bahwa Ikhwanul Muslimin berupaya dengan sungguh-


sungguh untuk mengembalikan mereka kepada kitabullah, mereka
beribadah dengan tilawahnya, mengambil cahayanya –dalam memahami
kata-kata para pemimpin umat- dengan ayat-ayatnya, meminta kepada
manusia untuk menerapkan hukum-hukumnya, dan menyeru mereka
bersama-sama untuk mewujudkan tujuan ini, yang merupakan semulia-
mulia tujuan seorang muslim dalam hidupnya.”317

“Dan kalian meyakini bahwa kewajiban muslim yang haq adalah berjuang
untuk Islam sehingga menguasai kehidupan masyarakat seutuhnya.”318

316
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal.86
317
Ibid
318
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 237

297
B. Menghidupkan Adat-adat Islami dan menghilangkan adat-adat asing
dalam setiap aspek kehidupan, serta berupaya untuk mengamalkan
sunnah Rasulullah Saw.

“Kita mengajak manusia untuk menerapkan hal itu dengan cara-cara yang
lembut dan penuh cinta.”319

“Dengan tetap mengedepankan kesabaran, perhitungan, kebijaksanaan


dan nasehat.”320

c. Memperkuat akhlak, “Maka tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul


Muslimin adalah tarbiyah shahihah, pembaharuan jiwa, memperkuat
akhlak, dan menumbuhkan keberanian yang sesungguhnya.”321

d. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar, memerangi kehinaan, dan


kemungkaran dengan bijak dan penuh hikmah, diantaranya:
“Jimat, mantra, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara
ghaib, dan semisalnya, adalah kemungkaran yang harus diperangi,
kecuali mantra dari ayat Al Quran atau ada riwayat dari Rasulullah Saw.”
“Setiap bid’ah yang dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi
dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan
maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan
dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak justru
menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah.”

“Ziarah kubur –kubur siapapun- adalah sunnah yang disyariatkan dengan


cara-cara yang diajarkan Rasulullah Saw., akan tetapi meminta
pertolongan kepada penghuni kubur siapun mereka, berdoa kepadanya,
memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun dari
kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya
dengat satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk

319
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami).
320
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?
321
Ibid

298
mendapatkan berkah), bersumpah dengan selain Allah, dan segala
sesuatu yang serupa dengannya adalaj bid’ah besar yang wajib diperangi.
Juga janganlah mencari ta’wil (pembenaran) terhadap berbagai prilaku
itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih besar.”322

e. Menshibgahah kehidupan masyarakat dengan shibghah Islam

“Kami berupaya untuk membina umat Islam dalam kondisi yang


memudahkan mereka untuk benar-benar menjadi muslim.”323

5. Membangkitkan Ruh Optimisme dan Keimanan serta Menguatkan


Kepekaan:

Harus ada upaya untuk membangkitkan ruh, dan membangun jiwa


yang hidup dan penuh vitalitas, yang merasa izzah dengan Islam, merasakan
keindahan dan keagungan Al Quran, yang dengan hal itu ia memahami
dakwah dan agamanya, serta memperjuangkannya dengan penuh keyakinan
dan keimanan.

Imam Syahid berkata, “Dengan Tiga spirit; Iman dengan keagungan


risalah Islam, bangga dalam memeluk agama Islam, Yakin akan datangnya
dukungan dan pertolongan Allah, spirit yang dihidupkan oleh pembawa
pertama risalah dakwah ini, Nabi Muhammad Saw. di hati para sahabatnya,
maka kepada spirit itu kami menyeru manusia.”324

6. Membina masyarakat untuk bersungguh-sungguh dan


mengembangkan sikap positif, serta mengutamakan kemaslahatan
umum dari kemaslahatan Pribadi, dan bagaimana menuntut haknya:

322
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 358
323
Al Ustadz Mushthafa Masyhur, Risalah Wudhuh Ru'yah, hal. 16
324
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 235

299
“Maka akan datang waktu tersebar dan mendominasinya prinsip-
prinsip Ikhwan, lalu masyarakat akan belajar bagaimana ia lebih
mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan Pribadi.”325

Dan hendaknya kita berusaha, “Mendirikan komunitas-komunitas


kebaikan di tengah masyarakat dan yang komitmen terhadap ajaran-ajaran
Islam sebagai manhaj kehidupan dan berupaya untuk menyebarkannya.”

7. Meluruskan akhlak dan jiwa, dan menshibghah masyarakat


dengan shibghah Islam:

Imam Syahid menyebutkan sisi penting dari penyakit yang diderita


oleh masyarakat, yang membutuhkan upaya perbaikan dan penyembuhan,
yakni:
1. Dekadensi moral
2. Kehilangan keteladanan tertinggi
3. Mengutamakan kepentingan Pribadi dari kepentingan umum
4. Takut menghadapi kenyataan
5. Lari dari proses pengobatan
6. Perpecahan –semoga Allah menghancurkannya-
Inilah penyakitnya, dan obat adalah satu kata yang menjadi solusinya,
yang merupakan lawan dari sifat-sifat buruk ini, yakni perbaikan jiwa. Upaya
yang harus kita tempuh tidak lain adalah mengobati jiwa manusia dan
meluruskan moral bangsa.

    


    
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S Al Syams: 9-10)326

325
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 137
326
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 152

300
8. Memberikan pelayakan kepada masyarakat dan memerangi
kebodohan, penyakit dan kemiskinan, mendorong usaha-usaha
kebaikan dan kemaslahatan umum dalam pelbagai bentuk, serta
memberikan bantuan pada saat musibah dan bencana:

Imam Syahid berkata, “Sasaran kalian adalah berbuat untuk


membenahi kurikulum pendidikan dan pengajaran, memerangi kemiskinan,
kebodohan dan memberantas penyakit, mengikis tindak criminal, dan
membentuk masyarakat ideal yang loyal kepada syariat Islam.”327

Adapun tentang sarana yang membantu proyek ini adalah


sebagaimana yang dikatakan Imam Syahid, "Sarana-sarana yang digunakan
Ikhwan dalam medan seperti ini adalah melakukan perngorganisasian,
menggalang sukarelawan, dan meminta bantuan kepada para pakar di
bidang-bidang masing-masing, dan kemudian melakukan pengelolaan
terhadap apa saja yang dibutuhkan oleh proyek-proyek yang ada, baik
menyangkut masalah harta (pembiayaan), rekruitmen peserta, maupun
sukarelawan untuk mendukung proyek-proyek semacam itu."328

Jamaah ini berkhidmat kepada masyarakat untuk memberikan


pelayanan dan bantuan-bantuan sosial, sesuai dengan kemampuan dan
kondisi yang memungkinkan. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh
Imam Syahid, "Seperti membangun mesjid dan memakmurkannya;
membangun sekolah; membangun kantor-kantor dan mengurusnya;
mendirikan lembaga-lembaga social dan membimbing serta memelihara
kelangsungannya; mengadakan peringatan-peringatan hari besar Islam yang
terkait dengan kebesaran dan kemuliaannya; melakukan ishlah (perbaikan)
terhadap hubungan social antara anggota masyarakat yang untuk keperluan
itu tentunya menyita banyak waktu, tenaga dan harta; menjembatani
hubungan antara orang-orang kaya yang alpa dengan orang-orang miskin
yang membutuhkan uluran tangan mereka, dengan cara mengumpulkan

327
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 108; lihat
juga: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 152
328
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), Hal. 240

301
shadaqah untuk dibagikan pada waktu-waktu tertentu dan ketika hari raya
dan hari-hari besar lainnya."329

Beliau juga berkata, "Jamaah ini terdiri dari para akh yang menjadikan
lembaga-lembaga sebagai tempat aktivitas mengajar orang-orang yang buta
huruf, mengajarkan hukum-hukum agama kepada manusia, memberikan
nasehat dan bimbingan, mendamaikan orang-orang yang bermusuhan, serta
menyalurkan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.

Jamaah ini juga mendirikan yayasan yang bermanfaat, seperti


madrasah, ma'had, balai pengobatan, dan mesjid-mesjid sesuai dengan
kemampuan dan kondisi yang ada."330

Kemudian agar manusia tidak menganggap bahwa dakwah hanya


terbatas untuk hal ini saja, Imam Syahid menambahkan, “Namun sekali-kali
tidak wahai Ikhwan, sebenarnya hal ini bukan segalanya yang kita inginkan,
yang kita inginkan adalah keridhaan Allah. Tujuan asasi, tujuan luhur, dan
perubahan yang dikehendaki Ikhwan adalah perubahan secar total dan
integral, seluruh kekuatan umat bersinergi bahu membahu, bersatu patu
untuk menghadapi dan mengadakan perubahan dan reformasi.331

8. Menyadarkan umat dan anggota masyarakat tentang


peran dan kewajiban mereka, serta terhadap
problematika umat Islam, menghidupkan ruh
persatuan dan tolong-menolong antara bangsa-
bangsa Arab dan Islam dan melawan perpecahan dan
penyimpangan:

"Hingga kita bisa menanamkan kesadaran di setiap orang masyarakat


Mesir tentang urgensi perubahan yang Islami."332

329
Ibid
330
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), Hal. 205
331
Ibid
332
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Ustadz Musthafa Masyhur

302
Aspek ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Memulai dengan memperbaiki pemahaman kaum muslimin
terhadap agama mereka, menjelaskan dakwah Al Quran dengan sejelas-
jelasnya dan menyampaikannya dengan cara yang baik dan sesuai dengan
konteks kekinian (kontemporer), mengungkap keindahan dan kecantikan
yang terdapat di dalamnya, serta menolak syubhat dan kebatilan darinya.
b. Memperbaharui pengaruh (Al Quran) yang luarbiasa terhadap jiwa,
menghidupkan rasa optimisme dan keyakinan terhadap pertolongan Allah
Swt.
c. Menyadarkan umat terhadap kondisi umat Islam, musibah-musibah
yang menimpanya, ancaman dan konspirasi yang menyelimutinya.
d. Membangkitkan kepekaan umat Islam serta kewajibannya terhadap
saudara-saudaranya seagama, dan melakukan gerakan-gerakan positif untuk
menghadang konspirasi yang meliputinya, serta terus menerus berupaya
memberikan bantuan dan pertolongan terhadap negeri-negeri muslim yang
tertindas, dan memberikan perhatian terhadap problematika yang
menimpanya, terutama Palestina.

Imam Syahid berkata, "Cukuplah rasa sakit ini ada di dalam penjelasan
ini, karena rangkaian (konspirasi) itu ternyata tidak akan pernah berakhir,
dan kalian tahu akan hal ini. Namun, kalian harus menjelaskannya kepada
khalayak dan mengajarkan kepada mereka bahwa Islam tidak pernah rela
sedikitpun jika sampai dikurangi dari pemeluknya kebebasan dan
kemerdekaannya. Mereka senantiasa siap jika harus memimpin dan
mengumandangkan jihad, meski itu harus mereka bayar dengan jiwa dan
harta mereka."333

Beliau juga berkata, "Seyogyanya kita harus senantiasa mengingat


musibah-musibah ini dan membacanya di setiap pagi dan petang,
mengajarkannya kepada putera-puteri kita, isteri dan saudara-saudara kita,
serta menyampaikannnya kepada rekan-rekan dalam pelbagai pertemuan,
sehingga remaja-remaja kita tumbuh dewasa dan mengetahui secara benar

333
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal.151

303
musuh-musuh mereka, agar mereka tidak tertipu dan tidak ditimpa
(musibah) seperti yang pernah menimpa kita." 334

e. Membangun persatuan Arab dan Islam, dan meminta pemerintah


untuk membantu upaya ini dan memberikan prasarana yang dibutuhkan.

10. Menyadarkan umat terhadap tipikal musuh serta agar tidak


terpedaya dengan tipu dayanya:

"Sehingga remaja-remaja kita tumbuh dewasa dan mengetahui secara


benar musuh-musuh mereka, agar mereka tidak tertipu dan tidak ditimpa
(musibah) seperti yang pernah menimpa kita." 335

"Jangan kalian terpedaya oleh diri kalian sendiri wahai umat Islam,
cukuplah kelalaian dan persangkaan baik, sementara Allah telah
menggambarkan kaum tersebut dalam Al Quran dengan mengatakan:

 
  
   

Artinya:
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka
sanggup." (Q.S Al Baqarah: 217)

Ingatlah selalu bahwa ular (musuh) pertama umat Islam adalah


generasinya yang tertipu dan terpedaya, yang telah meninggalkan
identitasnya sebagai muslim dan menentangnya, kemudian Allah
memusnahkan orang-orang yang tidak beragama dari putera-puteri Islam.

334
Makalah dengan judul Kewajiban Dunia Islam terhadap apa yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931 (dari buku: Imam Syahid, Fuad al Hajarsi. Hal. 117
335
Makalah dengan judul Kewajiban Dunia Islam terhadap apa yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931 (dari buku: Imam Syahid, Fuad al Hajarsi. Hal. 117

304
Maka ingatlah wahai Ikhwanul Muslimin, bahwa orang-orang yang mulhid
(kufur) dari umat Islam adalah musuh pertama kalian."

11. Melakukan penyadaran secara terus-menerus seputar manhaj


dan syariat Islam, menolak syubhat dan menunjukkan kebenarannya
yang cemerlang, sehingga ia menjadi tuntutan publik yang
diserukan dan didukung oleh segenap masyarakat. Dengan demikian
ia berkaitan erat dengan tujuan Islam yang tinggi, dari mendirikan
pemerintah Islam secara totalitas, membebaskan negeri,
mengembalikan kepemimpinan khilafah dan memimpin dunia
(Ustaziyatul 'Alam):

Imam Syahid berkata, "Hendaknya makna-makna ini wahai saudara-


saudara yang saya muliakan tersebar di antara kita, dan kita sebarkan di
kalangan manusia. Masih banyak yang memahami makna undang-undang
Islam secara tidak tepat dengan yang sebenarnya."336

"Diantara bentuk dakwah kalian wahai ikhwah yang saya cintai, adalah
kalian turut andil memberikan kontribusi untuk perdamaian dunia dan
membangun kehidupan yang baru untuk manusia, dengan menunjukkan
kepada mereka bentuk-bentuk riil kebaikan agama kalian, menjelaskan
tentang prinsip-prinsip dan ajarannya, serta menyampaikannya kepada
mereka."337

"Kami meyakini bahwa di dalam manhaj Islam terdapat segala prinsip


dan perangkat-perangkat untuk kehidupan dan kebangkitan umat, serta
kunci kebahagiaan baik untuk skala individu, keluarga, masyarakat dan
Negara."338

Dan hendaknya mereka mengenal sejauh mana keberlepasan dan


kejauhan pemerintah dari syariat Al Quran:

336
Risalah dalam muktamar para pelajar dan mahasiswa Ikhwanul Muslimin
337
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 251
338
Risalah: Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia)

305
"Dalam kaitan ini, ada satu hal yang ingin saya katakana bahwa
Ikhwanul Muslimin belum melihat suatu pemerintahan –baik pemerintahan
yang sekarang maupun yang lalu- yang bisa mengemban amanat dan
menunjukkan kesiapannya untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Masyarakat
hendaknya memahami hal ini dan menuntut kepeda pemerintah untuk
mendapatkan hak-hak keIslamannya. Dan Ikhwan-lah yang bekerja untuk
itu."339

12. Menyadarkan umat tentang hak-haknya, baik politik maupun


sosial, serta hak mendapatkan kebebasan dan keamanan,
membangkitkan semangat kebangsaan yang tulus dan
mengarahkannya agar sesuai dengan pandangan Islam:

Imam Syahid berkata, "Kita harus menyadarkan manusia, bahwa


politik, kebebasan, dan izzah, merupakan bagian dari ajaran Al Quran, dan
mencintai bangsa (nasionalisme) merupakan sebagian dari keimanan."340

"Islam yang hanif ini telah mendeklarasikan sekaligus menganggap


sakral kemerdekaan tersebut, menegaskan keberhakannya bagi setiap
individu dan masyarakat dengan kandungan nilai yang utama, menyerukan
kepada mereka agar merasa terhormat dengan kemerdekaan itu, untuk
kemudian memeliharanya. Rasulullah Saw. bersabda:
‫(( )) من أعطى الذلة من نفسه طائعا غير مكره فليس مني‬
Artinya:
"Barangsiapa yang menghinakan dirinya dengan sukarela tanpa
dipaksa, maka ia bukan termasuk golonganku."

Islam memerangi penindasan internasional yang mereka


menamakannya penjajahan dengan semua praktek kekuatan yang dilakukan.
Ajaran Islam sama sekali tidak membolehkan suatu bangsa menguasai dan
memaksakan kehendaknya kepada bangsa lain. Kata-kata Umar bin Khattab
kepada 'Amr bin Ash kiranya masih terngiang di telinga kita,

339
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 137
340
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 257

306
"Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sementara sang ibu telah
melahirkan mereka dalam keadaan mereka."341

Dalam bidang sosial, harus dibangkitkan semangat untuk meraih


izzah, kemuliaan dan cinta kemerdekaan."342

Kita juga bertujuan untuk mempersiapkan umat dan masyarakat untuk


menyiapkan dirinya demi mengemban tugas dan perjuangan yang panjang,
serta untuk menghadapi perseteruan yang sengit antara kebenaran dan
kebatilan, antara maslahah dan mafsadah, antara pemilik kebenaran dan
yang merampasnya, antara penempuh jalan yang lurus dan yang
menyimpang, antara para da'i yang tulus dengan para pengklaim yang palsu,
dan hendaknya umat dan masyarakat mengetahui bahwa jihad (perjuangan)
ini merupakan bagian dari kesungguhan, dan kesungguhan itu adalah
kelelahan dan kesulitan.

Bagi umat, tidak ada bekal yang dapat digunakan untuk menghadapi
situasi yang buas ini kecuali hati yang sarat iman, hasrat yang kuat dan
kemauan yang keras, sikap murah hati dan kesediaan berkorban, serta
kesiapan terjun ke medan juang pada waktunya. Tanpa ini semua, umat akan
hancur, perjuangan senantiasa menuai kegagalan, dan nasib tak menentu
bakal menimpa generasinya."343

Dalam mentarbiyah dan membina umat, Ikhwanul Muslimin sangat


memperhatikan sisi kesadaran kebangsaan dan kematangan politik yang
dimiliki umat.

Imam Syahid berkata, "Sistem Islam bukanlah slogan dan julukan


semata, selama kaidah-kaidah pokok di atas tadi bisa diwujudkan (dimana
tidak mungkin suatu hukum akan tegak tanpanya) dan diterapkan secara
tepat hingga dapat menjaga keseimbangan dalam berbagai situasinya (yang
341
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam).
342
Ibid
343
Risalah: Hal Nahnu Qoumun 'Amaliyun (Apakah Kita Para Aktivis)?, hal. 69

307
masing-masing bagian tidak mendominasi bagian yang lain. Keseimbangan
ini tidak mungkin bisa terpelihara tanpa adanya nurani yang selalu terjaga
dan perasaan yang tulus akan kesakralan ajaran ini."344

13. Melawan aliran-aliran yang merusak dan menghancurkan umat


serta yang memusuhi Islam, menyadarkan masyarakat; sehingga
dapat dibedakan antara para pemimpin yang tulus dengan para
pengobral slogan dan nafsu:

Imam Syahid berkata, "Umat kita harus bisa membedakan antara


orang-orang berakidah yang berjuang dan para pecundang dari politikus dan
militer."345

"Merupakan kewajiban kami untuk merubah tanpa terjangkit wabah


pemikiran mereka yang telah akut, menahan siapa saja yang berbaik sangka
terhadap musuh, dan siapa saja yang telah membius otot-otot kami dengan
pemikiran-pemikiran palsu dan kalimat-kalimat rayuan, yang di belakangnya
tiada lain adalah upaya merusak bangsa Timur dan melenyapkan persatuan
Islam, mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang Eropa."346

"Secara umum dapat dikatakan bahwa kita sedang berhadapan


dengan gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi
dan peradaban kelezatan serta syahwat, yang mana ia telah memerosotkan
moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi
Saw. dan hidayah Al Quran, menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik
mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita
terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat bergulat dengan
derita."347

344
Risalah: Sistem Pemerintahan. hal. 319. (penerjemah mencantumkan redaksi yang
ditulis Imam Syahid secara lengkap)
345
Dari makalah, Mihnatul Islam, dari buku; Ikhwanul Muslimin dan Permasalahan
Palestina, Ustadz Fuad Al Hajarsi, hal. 55
346
Dari makalah, Kewajiban dunia Islam terhadap musibah yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931. diambil dari buku, Imam Syahid, karya Fuad Al Hajarsi
347
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 114

308
Beliau juga berkata, "Adapun jika yang mereka maksudkan dengan
nasionalisme itu adalah memilah umat Islam dan Arab menjadi kelompok-
kelompok yang saling bermusuhan dan berseteru satu sama lain, atau
membagi-baginya dengan batas-batas geografi yang sempit, maka kami
menolaknya."348

"Ikhwanul Muslimin tidak percaya pada kebangsaan (nasionalisme)


dalam makna-makna buruk di atas (kebangsaan permusuhan dan
kebangsaan jahiliyah). Kami tidak pernah menyerukan ungkapan Firaunisme,
Arabisme, Feniqisme, atau Sirianisme, dan yang lain-lain. Tidak juga kepada
semua nama dan gelar yang selama ini digembar-gemborkan orang."349

"Kami meyakini bahwa semua bentuk kebangkitan yang bertentangan


dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan berbenturan dengan hukum-hukum Al
Quran adalah sebuah upaya yang rusak dan akan menemui kegagalan.”350

14. Memelihara faktor-faktor kekuatan dan kebaikan yang ada di


masyarakat dan melawan faktor-faktor kemalasan dan kerusakan,
serta bekerjasama dengan seluruh kekuatan yang tulus, serta
mendorong para mas'ul di pelbagai tempat:

Dan hendaknya kita berusaha, “Mendirikan komunitas-komunitas


kebaikan di tengah masyarakat dan yang komitmen terhadap ajaran-ajaran
Islam sebagai manhaj kehidupan dan berupaya untuk menyebarkannya.”351

Termasuk pula membantu kelompok-kelompok manapun dari umat ini


yang bertujuan melakukan kebaikan serta bekerjasama dengannya, baik
muslim maupun nonmuslim dari anak-anak negeri ini, bahkan mereka yang
tidak menggunakan symbol-sombol Islam sama sekali. Dalam kisah

348
Risalah: Da'watuna (Dakwah Kami), hal. 20
349
Ibid, hal. 23
350
Risalah, Ila Ayyi Syai'in Nad'unnas (Kepada Apa Kita Menyeru Manusia), hal.
57
351
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Ustadz Musthafa Masyhur

309
perjalanan Imam Syahid, terdapat banyak contoh sikap-sikapnya yang
menegaskan tentang hal ini.
15. Menyebarkan Fikrah Ikhwanul Muslimin dan prinsip-prinsipnya:

Hal ini dilakukan baik dalam skala individu maupun dalam skala
kolektif dan dengan menggunakan pelbagai sarana yang memungkinkan
untuk itu. Imam Syahid berkata, “Pemuasan dan penyebaran dakwah dengan
menggunakan pelbagai sarana hingga ia dipahami oleh masyarakat umum,
lalu memenangkannya dengan keyakinan dan keimanan.”352

"Kami akan terus berdakwah, dan akan terus melakukannya hingga


tak ada seorangpun yang tidak sampai kepadanya dakwah Ikhwanul
Muslimin sesuai dengan hakikatnya yang cemerlang dan benar.353

“Untuk itu kami berupaya agar dakwah kami sampai ke setiap rumah
dan agar suara kami terdengar ke segenap penjuru, fikrah kami bisa
dipahami dengan mudah, serta bisa menerobos ke seluruh penjuru desa,
kota dan pusat-pusat kegiatan dan tempat-tempat pertemuan, Untuk itu
kami tidak akan menyia-nyiakan potensi dan sarana yang ada.”354

“Sebarkanlah dakwah di setiap lokasi engkau berada, di took-toko,


jalan-jalan, rumah-rumah, mesjid-mesjid, cafe-cafe, tempat-tempat umum
dan khusus, di perkampungan, dusun-dusun, perkotaan, ibu kota,
perusahaan-perusahaan, tempat kerja, taman-taman, sekolah dan lain-
lain.”355

“Buatlah kelompok-kelompok Ikhwan di setiap jalan, club-club Al


Quran di setiap pedesaan, panji-panji Muhammad di perkotaan, dan di setiap
penjuru bumi seorang Al Akh yang akan menyerukan prinsip-prinsip dakwah

352
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 212
353
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 126
354
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.177
355
Diantara nasehat Imam Syahid Hasan Al Banna kepada Ikhwan. Diambil dari buku
Imam Syahid, Fuad Al Hajarsy, Hal. 111.

310
dan ajaran-ajaran kalian, yang memberikan kalimat-kalimat kalian dan
berbaiat dengan baiat kalian.”356

Beliau juga berkata, "Sudah saatnya kalian menjelaskan kepada


masyarakat tentang misi dan sarana-sarana dakwah kalian, serta batasan-
batasan fikrah dan manhaj amal kalian."357

16. Mendapatkan opini umum terhadap fikrah Islam dan dakwah


(jamaah Ikhwanul Muslimin) dan berkumpulnya mereka di sekitar
jamaah dan tokoh-tokohnya:

Yaitu dengan melakukan pembentukan pondasi-pondasi


kemasyarakatan yang mendalam yang mampu membantu aktivitas politik
Islam dan mendukung upaya menuntut undang-undang yang sesuai dengan
Al Quran dan sunnah.

Termasuk melakukan pembebasan para cendekiawan dari ghazwul


fikri yang ditanam oleh penjajahan budaya.

"Mendapatkan legalitas politik dan legalitas sosial di atas realitas


kehidupan, baik titik tolak eksistensinya, gerakan, jamaah dan indivudunya,
serta kedekatan mereka dengan masyarakat dan kelompok-kelompoknya,
tanpa menunggu atau tergantung dengan aspek hukum, yang merupakan
haknya, hak yang tidak diberikan oleh pemerintahnya yang zhalim, yang
tidak menghormati supremasi hukum dan perundang-undangan.358

Upaya untuk mendapatkan dukungan publik dan mengikatnya dengan


Islam berjalan seimbang dengan aktivitas-aktivitas kebaikan dan sosial.
Setelah menyebutkan aspek-aspek garapan Ikhwanul Muslimin dalam
aktivitas sosial, beliau menyebutkan, "Namun tujuan Ikhwan tidak hanya
untuk aktivitas sosial semata, namun inti dakwah kalian adalah fikrah dan

356
Ibid
357
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 129
358
Risalah: Wudhuh Ru'yah, Ustadz Musthafa Masyhur

311
akidah yang disemai di hati masyarakat; agar masyarakat mendapatkan
tarbiyahnya, mengimani dengan hati dan berkumpulnya hati-hati mereka di
sekeliling dakwah. Itulah sebenarnya target utama dan proyek Islam dalam
setiap aspek kehidupan."359

Beliau juga berkata, “Hingga ia dipahami oleh masyarakat umum, lalu


memenangkannya dengan keyakinan dan keimanan.”360

17. Melakukan Upaya perbaikan hukum dan undang-undang

"Ikhwanul Muslimin bekerja keras dalam rangka memberi kejelasan


pengertian teks-teks yang rancu (ambigu) dalam UUD Mesir dan
memperbaiki metode yang digunakan untuk menerapkannya di dalam
negeri."361

18. Menetapkan manuver-manuver dakwah dan pandangannya,


terutama terhadap peristiwa-peristiwa yang bergulir, sikap-sikap
dan aliran-aliran yang beraneka ragam, yang diadopsi oleh
masyarakat:

Ini merupakan kewajiban harakah umum dan interaksi dengan


komunitas masyarakat. Oleh karena itu maka sebuah jamaah –dalam kondisi
seperti ini- harus maju dan menyampaikan sikapnya, dengan bersandar pada
syariat Islam dan maslahat umum.

19. Melakukan upaya-upaya untuk mendukung ekonomi bangsa,


yaitu dengan cara:
a. Mendirikan proyek-proyek; Jamaah Ikhwanul Muslimin telah banyak
memberikan kontribusi dengan mendirikan proyek-proyek ekonomi
sepanjang sejarahnya (baik atas nama jamaah Ikhwanul Muslimin maupun
melalui individu-individu jamaah). Walaupun akhirnya proyek-proyek ini

359
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 240
360
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 212
361
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 139

312
dikuasai dan dibekukan oleh pemerintah yang zhalim. Dengan demikian,
proyek-proyek seperti ini sangat tergantung dengan kondisi-kondisi yang ada
di sekitar dakwah.
b. Mendorong individu-individu jamaah dan yang lain untuk mendirikan
proyek-proyek nasional.
c. Mendorong usaha-usaha kerajinan rumah yang sederhana
d. Memerangi praktek riba dalam pelbagai bentuknya
e. Memerangi segala sumber-sumber penghasilan haram dan yang
melanggar syariah.
f. Menghidupkan realisasi rukun zakat, dan mengoptimalkan siklus dan
pendistribusiannya sesuai dengan tuntunan syariat.
g. Mengutamakan produk dalam negeri muslim di atas produk-produk
Barat serta memboikot seluruh produk-produk musuh dalam pelbagai
bentuknya."362

Imam Syahid berkata, "Memberikan bantuan terhadap harta kekayaan


dan aset-aset Islam secara umum, yaitu dengan mendorong berdirinya
perusahaan-perusahaan ekonomi Islam, Selalu berupaya menjaga setiap
qirsy363 yang dimilikinya agar tidak diberikan pada nonmuslim, tidak
menggunakan sandang dan pangan kecuali produksi Negerinya dan Islam."364

Beliau juga berkata, "Diantara prinsip Ikhwanul Muslimin adalah,


Mengutamakan pertumbuhan aset-aset umat Islam sesuai dengan asas Islam
yang benar."365

Tentang kontribusi jamaah Ikhwanul Muslimin atau individu-


individunya dalam aktivitas ekonomi dan proyek-proyek yang bermanfaat
dalam memelihara aset-aset umat Islam, Imam Syahid memberikan dua
persyaratan:

362
Lihat kembali, Risalah Pergerakan, Menuju Cahaya, hal.290, dan Risalah
Pergerakan, Sistem Ekonomi, hal. 338 (Agenda Persoalan Kita Dalam Kaca Mata
Sistem Islam).
363
Satuan terkecil mata uang Mesir
364
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), kewajiban Aktivis Muslim, hal. 367
365
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 282

313
Pertama, TIdak mencampur antara kegiatan dakwah dengan kegiatan
ekonomi, baik dalam bentuk maupun label, maka hendaknya nama
proyeknya tidak dengan nama jamaah Ikhwanul Muslimin, dan kegiatan
tersebut memiliki sistem perhitungan materi yang tidak tercampur dengan
perasaan atau kealpaan. Dakwah adalah sesuatu, dan aktivitas ekonomi
adalah sesuatu yang lain, walaupun keduanya saling menyokong satu sama
lain, namun keduanya memiliki warna, sarana dan metode yang berbeda.
Kita ingin menerapkan kaidah-kaidah Islam yang hanif.

Kedua, saya tidak memiliki hubungan apapun dengan aktivitas-aktivitas ini,


baik dari dekat maupun jauh; untuk menjaga kepribadian saya, waktu dan
usaha saya.366

Proyek ekonomi pertama Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah, Syarikah


Muamalat Islamiyah Musahamah (Serikat Muamalat Islam).

• Penjelasan
Imam Syahid menjelaskan bahwa kontribusi jamaah Ikhwanul Muslimin
dalam memberikan pelayanan umum dan menumbuhkan aset-aset umat
Islam, adalah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, dimana ia tidak
mampu melaksanakannya sendiri atau melakukannya secara sempurna, dan
dimana hal itu merupakan tugas pemerintah:
"Tujuan ilmiahnya adalah, menjelaskan tentang dakwah Islam dan
mengungkap keindahan dan kecantikan ajarannya; tujuan sosialnya adalah,
Membantu orang-orang yang terkena musibah dan bencana; tujuan
ekonominya adalah, menyelamatkan aset-aset kekayaan nasional,
menumbuhkan dan memeliharanya, dll. Setiap tujuan-tujuan ini akan
menghabiskan dan menyita waktu kita, dan menuntut kerja keras, namun
tidak semua yang diiginkan seseorang dapat ia wujudkan.367

Walaupun jamaah tidak memiliki kemampuan yang dimiliki pemerintah


dalam menciptakan perbaikan, yang kadang-kadang ia berada dalam

366
Ibid
367
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 258

314
tekanan masyarakat yang meminta lebih, namun seyogyanya ia harus
berupaya memberikan segenap kemampuan yang dimilikinya dalam aspek-
aspek politik, sosial, dan aktivitas-aktivitas kebaikan yang lain, dan
hendaknya ia selalu berada di garda depan dalam setiap peristiwa dan
kondisi-kondisi darurat. Semuanya dilakukan dengan tetap memperhatikan
keseimbangan, dan tidak terlepas dari strategi yang paripurna, dan
menghindari hal-hal sebagai berikut:
a. Pengurasan tenaga
b. Tindakan pemblokiran dan spekulasi
c. Memperdaya dan konfrontatif
d. Sibuk dengan perkara-perkara furu' (parsial) dan
melupakan hal-hal yang prinsipil.
e. Terlibat dalam permusuhan yang sengit dengan
orang lain.
f. Masuknya orang-orang yang ambisius kedalam shaf
dakwah dengan cara yang membabi buta tanpa
penyeleksian, serta kelompok opurtunis yang sangat
tergantung dengan pembayaran dan yang suka
menjual slogan-slogan.
g. Misorientasi dan kehilangan perhatian untuk
mewujudkannya, hilangnya pandangan yang jelas
terhadap jalan dan tahapan-tahapannya.

Poros dan tahapan-tahapan dalam proses sinergisitas bersama


masyarakat di pelbagai aspek ini, akan dijalani oleh dakwah dan akan terus
berlangsung setelah berpihaknya pemerintah tanfidziyyah kepadanya, untuk
kemudian disempurnakan apa yang telah dimulainya, dan sempurna pulalah
proses perbaikan yang diinginkan –dengan izin Allah dan keutamaan-Nya-.

Diantara wasiat terakhir Imam Syahid kepada Ikhwanul Muslimin368 di


medan dakwah dan aktivitas perbaikan masyarakat, yakni, "Sesungguhnya

368
Makalah Imam Syahid, dipublikasikan oleh Majalah al Mabahits, Januari 1951 M.

315
Allah telah memilih kalian dengan bergabung bersama kafilah dakwah ini,
maka peliharalah selalu:
1. Adab-adab dakwah dan syiar-syiarnya di antara manusia
2. Perbaikilah jiwa-jiwa kalian
3. Perbaikilah amal kalian
4. Istiqamah terhadap perintah-perintah Allah
5. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran
6. Memberikan nasehat dengan penuh kelembutan kepada manusia.
7. Bersiap-siap melakukan kerja keras dan memikul beban, serta
berjihad dengan jiwa dan harta.
8. Perbanyaklah tilawah Al Quran
9. Memelihara shalat jamaah
10. Bekerjalah dengan ikhlas karena Allah semata
11. Kemudian tunggulah pertolongan Allah dan taufik dan kemenangan
dari-Nya, firman Allah:

  


   
  
Artinya:
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi
Maha Perkasa." (Q.S Al Hajj: 40)

316
Bab VIII

Tentang Tujuan
Pembebasan Negeri dan Kemerdekaannya

Tentang Tujuan
Pembebasan Negeri dan Kemerdekaannya

• Mukadimah
Imam Syahid menjelaskan tentang urutan-urutan amal dan target-
target jamaah, "Membebaskan negeri dan melepaskannya dari segala bentuk
penjajahan asing (nonmuslim), baik politik, ekonomi, dan jiwa."369

Dengan demikian, Imam Syahid menjadikan pembebasan negeri dan


memerdekakannya secara total, serta mengusir penjajah dari negeri-negeri
muslim merupakan kewajiban dan tujuan politik yang diupayakan oleh
jamaah sebelum mewujudkan pendirian pemerintah Islam, dan itu
merupakan hal yang mudah dengan target pembinaan masyarakat muslim
merupakan bagian utama di dalamnya.

Imam Syahid berkata, "Jika kami dizalimi oleh Negara manapun –dan
kami berada di negeri sendiri- maka setiap jengkal dari tanah Mesir yang
mahal akan ditebus dengan darah, jiwa, harta dan putera-puteri negeri ini,
dan pada saat itu Ikhwanul Muslimin telah mempersiapkan diri dengan
sempurna untuk menambah persediaan negeri ini dengan seluruh
kemampuan yang dimilikinya, jiwa dan raga."370

Beliau juga berkata tentang skala peperangan dan tantangan yang


akan dihadapi, "Adalah bagian yang baik untuk kita, dapat menyaksikan
zaman dimana kekuatan Yahudi Internasional menantang bangsa-bangsa
369
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim), hal. 394
370
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 298

317
Arab dan Islam dan menodai kesuciannya dengan besi dan api, maka kita
akan menerima tantangan ini dengan keyakinan bahwa Allah yang maha
tinggi dan maha mulia telah memberikan kepada kita keutamaan dan
kelebihan untuk melakukan perlawanan terhadap musuh dan
melumpuhkannya."371

Terhadap permasalahan negeri dan upaya mendapatkan


kemerdekaan, membebaskannya dari penjajah dan upaya untuk
mendapatkan kebebasan politik serta hak-haknya, Imam Syahid
mengisyaratkan beberapa gambaran konsep dan manhaj yang dapat
mewujudkan hal itu, beliau berkata, "(Untuk membebaskan dan
memerdekaan negeri) Dibutuhkan jihad yang panjang, pahit, berat dan
berkelanjutan, dan hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan persatuan
yang paripurna dan totalitas ukhuwah, perasaan yang terhimpun dari hati ke
hati, kesungguhan dan istiqamah di atas manhaj kebenaran dan arah yang
tepat menuju kebaikan. Di saat hal ini bisa diwujudkan maka tak satupun
rintangan yang akan menghalangi jalan kita, dan dengan izin Allah kita akan
sampai ke tujuan dalam waktu yang singkat. Keimanan dan cinta akan
melahirkan persatuan yang hakiki, dan kita sangat membutuhkannya
sekarang ini. Apakah kita dapat mewujudkan kedua hal itu?

Sebagaimana kita saksikan bahwa Imam Syahid menyiapkan Ikhwanul


Muslimin untuk menghadapi penjajah Inggris, kemudian bagaimana beliau
mampu membangkitkan semangat perlawanan rakyat, katibah-katibahnya
yang menghadapi barisan penjajah Inggris, memberikan pengorbanan yang
besar dalam Perang Suez, dan mereka telah mengoreskan lembar-lembar
peristiwa monumental yang belum banyak yang terungkap oleh sejarah
hingga hari ini372, saat dimana banyak orang hanya memperhatikan slogan-
slogan, pidato dan khutbah yang membangkar semangat.

371
Dari makalah Imam Syahid, yang terakhir ditulisnya. Dipublikasikan oleh
Majalah al Mabahits, pada Januari 1951 M, dan diterbitkan kembali oleh Majalah
Dakwah, januari/Februari 1999 M.
372
Lihat: Imam Syahid, Pembawa Panji Dakwah Abad 20, Fuad Al Hajarsi, dalam bab
khusus tentang pertempuran Ikhwanul Muslimin melawan penjajah Inggris.

318
Imam Syahid menginginkan kemerdekaan yang total dan hakiki di
setiap aspek, tidak hanya kemerdekaan parsial atau hanya penarikan
pasukan semata. Kemerdekaan adalah terbebas dari seluruh bentuk
penjajahan pihak asing; ekonomi, budaya, sosial, politik, dll, atau yang
dikenal sebagai penjajah asing (non muslim) dengan segala kandungan
budaya, pemikiran, visi dan misi. Targetnya adalah kebebasan yang hakiki
dengan segala kandungan dan muatannya, bukan slogan-slogan kosong
semata, atau mengganti penjajah dengan penjajah yang lain dengan nama
dan baju yang berbeda. Imam Syahid meyakini bahwa kebebasan adalah
kewajiban suci yang tak seorangpun yang berhak melepaskannya.

Imam Syahid berkata, "Islam yang hanif ini telah mendeklarasikan


sekaligus menganggap sakral kemerdekaan tersebut, menegaskan
keberhakannya bagi setiap individu dan masyarakat dengan kandungan nilai
yang utama, menyerukan kepada mereka agar merasa terhormat dengan
kemerdekaan itu, untuk kemudian memeliharanya. Rasulullah Saw.
bersabda:
‫(( )) من أعطى الذلة من نفسه طائعا غير مكره فليس مني‬
Artinya:
"Barangsiapa yang menghinakan dirinya dengan sukarela tanpa
dipaksa, maka ia bukan termasuk golonganku."

Islam memerangi penindasan internasional yang mereka


menamakannya penjajahan dengan semua praktek kekuatan yang dilakukan.
Ajaran Islam sama sekali tidak membolehkan suatu bangsa menguasai dan
memaksakan kehendaknya kepada bangsa lain."373

Ketika menetapkan hal ini, Islam juga menegaskan aspek-aspek


operasional dalam menjaga nilai-nilai kemerdekaan. Maka di wajibkanlah atas
mereka untuk berjihad dengan harta dan jiwa. Jihad merupakan fardhu
kifayah ketika dia dilaksanakan untuk menjamin kelangsungan dakwah.

373
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam); Tentang masalah kenegaraan, hal. 308.

319
namun, ia menjadi fardhu 'ain bagi umat manakala ditujukan untuk
menghalau intervensi pihak luar terhadap umat Islam.

Islam juga menjadikan mati syahid sebagai derajat keimanan tertinggi,


menjanjikan kepada para mujahid kemenangan dan dukungan di dunia, serta
kenikmatan abadi di akhirat. Bahkan Islam mendeklasikan bahwa jihad
adalah amalan yang paling utama setelah iman, firman Allah:

  


  
  
 
  

    
 
Artinya:
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi
Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Q.S Al Taubah:
20)374

"Dari sinilah Ikhwanul Muslimin berkeyakinan bahwa setiap Negara


yang memusuhi dan berusaha menginvasi wilayah-wilayah muslim adalah
Negara yang zalim dan harus dihalangi gerak langkahnya. Dalam hal ini
kaum muslimin harus segera mempersiapkan diri dan menjalin kerjasama
untuk melepaskan diri dari cengkeraman kaum imperialis."375

Imam Syahid menjelaskan perbedaan antara penindasan penjajah dan


gerakan ekspansi Islam (futuhat) sepanjang perjalanan, dengan mengatakan,
"Ketika seorang penakluk muslim dengan pedang terhunus di tangannya
pergi ke medan jihad di jalan Allah, maka tidaklah ia mengharap keuntungan

374
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 309
375
Risalah Pergerakan, Muktamar ke V, hal. 205

320
dunia, tidak pula mengintai kekayaan bangsa lain untuk dirampasnya, meski
tanpa disengaja di tangannya telah penuh dengan semua itu. Akan tetapi,
yang dia yakini adalah dakwah dan mengemban risalah, serta menjaga nilai-
nilai kebenaran, keadilan dan kedamaian."376

Pada saat yang sama Islam juga menganggap kaum muslimin adalah
kaum yang mengemban amanah risalah Allah di muka bumi. Di dunia mereka
menempati posisi al ustadziyah (pemandu) –kami tidak mengatakan posisi
pengendali- khususnya terkait dengan penuaian amanat. Oleh karenanya
umat Islam tidak diperkenankan menghinakan atau memperbudak manusia
lain. Sebaliknya, mereka juga tidak diperkenankan bersikap lunak kepada
para penindas atau tunduk kepada para perampas yang melampaui batas,
firman Allah:

  


 

   
Artinya:
"Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang
kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (Q.S An Nisa: 141)377

Upaya untuk mewujudkan kemerdekaan dan mengusir kekuatan


penjajah dari negeri merupakan langkah utama sebelum mendirikan
pemerintah muslim, adapun untuk sisi-sisi kebebasan dan kemerdekaan yang
paripurna dalam pelbagai aspeknya, baik sosial, budaya dan ekonomi, maka
umat harus menempuh jalan yang bisa membuatnya berdiri secara mandiri.
Ketika saat mendirikan sebuah pemerintah Islam, maka hal itu akan menjadi
pondasi dasar, dan akan bangkit bersama umat di pelbagai aspek kehidupan,
demi mewujudkan kemerdekaan yang paripurna dan kemajuan yang dicita-
citakan.

376
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 308
377
Ibid

321
• Strategi Mengusir Penjajah

Imam Syahid menggariskan poros-poros umum dan strategi yang


cocok untuk mengusir penjajah dari negeri-negeri muslim –waktu ia beliau
membuktikannya ketika berhadapan dengan penjajah Inggris di Mesir:
1. Membangkitkan umat dan menyadarkan dan mempersiapkannya
untuk menghadapi penjajah:
Hal ini tentunya merupakan pancaran dari pemahaman Islam dan apa
yang diwajibkan kepada pemeluknya. Imam Syahid menggunakan pelbagai
sarana personal dan kolektif untuk membangkitkan dan mempersiapkan
masyarakat, sehingga hal ini benar-benar menjadi sesuatu yang diyakini
secara kuat dan tertanam, menjadi rujukan dan yang diserukan oleh
masyarakat, begitupula membongkar cela para pecundang dan orang-orang
yang tertipu.

Imam Syahid berkata, "Kami menyebarkan buletin dan keterangan-


keterangan yang menjelaskan kepada masyarakat tentang hak-hak mereka
yang tersembunyi dan apa yang ditutupi dari cela para pecundang dan
mereka yang terpedaya, kami akan menghimpun masyarakat dalam satu
kata di pelbagai pertemuan dan muktamar."378

"Merupakan kewajiban kami untuk merubah tanpa terjangkit wabah


pemikiran mereka yang telah akut, menahan siapa saja yang berbaik sangka
terhadap musuh, dan siapa saja yang telah membius otot-otot kami dengan
pemikiran-pemikiran palsu dan kalimat-kalimat rayuan, yang di belakangnya
tiada lain adalah upaya merusak bangsa Timur dan melenyapkan persatuan
Islam, mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang Eropa."379

2. Menghimpun kalimat masyarakat dan menyatukan kekuatan dan


usaha, serta mengkoordinasikan strategi untuk itu:

378
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemuan Ketua-ketua Wilayah)
379
Dari makalah, Kewajiban dunia Islam terhadap musibah yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931. diambil dari buku, Imam Syahid, karya Fuad Al Hajarsi. Hal.
117

322
"Kami akan menyerukan penyelenggaraan muktamar Arab-Islam untuk
menyatukan kekuatan dan mengkoordinasikan strategi."380

"Sekarang, kita berada di depan berbagai situasi internasional yang


baru, yang hampir sama dengan masalah yang sedang kita hadapi. Semua
itu pada hakikatnya adalah satu masalah saja, yakni penyempurnaan
kebebasan dan kemerdekaan, serta menghancurkan semua belenggu
penindasan dan imperialisme. Kita harus kembali pada apa yang telah
diwajibkan oleh Islam (kepada semua pengikutnya) sejak pertama ia
diturunkan, yakni ketika Islam menjadikah wihdah sebagai salah satu makna
dari sekian kandungan makna iman, kita harus bersekutu dan bersatu."381

3. Menggunakan kekuatan pers untuk memberi tekanan dalam skala


internasional –baik pemerintah maupun masyarakat- untuk
menjelaskan problematika yang dihadapi serta mencari dukungan
untuknya:

"Kami akan mengirimkan saudara-saudara kami ke segenap penjuru


Negara-negara asing, yang akan mempegaruhi rakyat dan pemerintahnya
terhadap permasalahan nasional Islam."382

"Walaupun dengan tekanan pers terhadap Negara-negara asing dan


terhadap organisasi-organisasi dunia, namun Imam Syahid mengetahui kadar
relativitas aspek-aspek tersebut, dan meyakini bahwa pada dasarnya
tergantung kepada diri sendiri, "Jika hal ini tidak memberikan faedah apa-apa
dan kami tidak mendapat bagian apapun dari dunia baru, maka kami akan
tahu bagaimana meneguhkan diri kami dan membuat benteng yang kokoh
antara kami (orang-orang yang beriman) dan orang-orang zhalim itu."383

380
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 117
381
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 229
382
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 270
383
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 270

323
"Yang saya inginkan adalah agar umat Islam meyakini bahwa aksi
protes saja tidak cukup, bahkan tidak bermanfaat sama sekali, karena aksi
protes tidak mampu menghilangkan beban dan tidak dianggap telah
memenuhi kewajiban, maka tidak benar kalau hanya menyandarkan diri
pada aksi protes semata."384

4. Menghadapi kelemahan pemerintah dan intervensi asing dengan


menggunakan opini publik untuk melakukan tekanan dalam rangka
menghadapi kerusakan ini:

Imam Syahid berkata, "Sesungguhnya faktor utama yang merusak


tatanan kehidupan masyarakat Mesir, negeri-negeri Arab dan Islam adalah
intervensi pemerintah asing, dan ini merupakan kelemahan yang tidak
seharusnya terjadi di dalam pemerintah, sehingga seluruh keinginan dan
pelaksanaan pemerintah adalah sesuai dengan keinginannya, baik sebagai
duta besar atau sebagai dalang. Maka pintu pertama proses perbaikan ini
adalah kita melawan dua fenomena ini, agar masyarakat terbebas dari dua
imperialis. Karena jika tidak, maka seluruh upaya akan sia-sia belaka."385

5. Perdamaian dengan penjajah

Imam Syahid membatasi bentuk-bentuk perdamaian dengan para


penjajah, seperti perjanjian dan pemberlakuan hukum sebagai sarana untuk
mengusir mereka. Cara ini tidak dilarang untuk digunakan dan dimanfaatkan
dengan syarat bahwa pemberian hak harus dilakukan secara total, jangan
sampai ada hak kita yang dirampas atau kebebasan kita yang terpasung,
atau yang membuat kita terpaksa melepaskan beberapa bagian dari hak kita,
atau sebagai sarana untuk memperpanjang usia penjajahan.

Imam Syahid berkata, "Kendati demikian, Islam menyambut baik


adanya cara-cara yang konstruktif untuk mengakhiri pemusuhan, jika cara-

384
Dari makalah, Kewajiban dunia Islam terhadap musibah yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931. diambil dari buku, Imam Syahid, karya Fuad Al Hajarsi. Hal.
117
385
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 258

324
cara itu pada akhirnya mengakui akan kebenaran bagi yang berhak, firman
Allah:

   


  
    
   
Artinya:
"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah
kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Anfal: 61)

Rasulullah tidak memilih antara dua perkara kecuali yang paling


mudah, selama hal itu bukan masalah yang haram. Di antara jenis
perdamaian adalah genjatan senjata, jika hal itu bisa mengarah pada
pencapaian kebenaran yang sempurna. Rasulullah Saw. sendiri pernah
melakukan genjatan senjata dengan orang kafir dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Diantara jenis perdamaian yang lain adalah mau berhukum dengan


hukum orang lain, jika hal itu akan mengantarkan kepada kebenaran. Meski
dalam hal ini kita tidak pernah menjumpai bahwa Rasulullah Saw. atau salah
satu khulafaaur Rasyidin yang rela dengan hukum orang kafir. Akan tetapi
hal itu bisa dibenarkan jika dilihat dari konteks ayat dan keharusan untuk
bersepakat atas kebaikan. Islampun tidak melarangnya apabila hal itu terjadi
antara kaum muslimin dengan non muslim, selama di dalamnya terdapat
kemaslahatan dan tidak merugikan kaum muslimin sendiri.386

Adapun pemberlakuan hukum yang didasari oleh keuntungan dan


ambisi Negara, yaitu bermaksud mengurangi (merampas) hak umat Islam –
sebagaimana dapat kita lihat dari keputusan-keputusan PBB atau organisasi-
organisasi dunia lainnya-, maka hal itu tidak bisa diterima apapun alasannya.
Seperti sikap Imam Syahid menolak keputusan PBB terkait dengan
386
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 224

325
pembagian wilayah Palestina menjadi dua; wilayah Arab dan wilayah Yahudi,
beliau menentang keputusan tersebut dengan segenap kemampuan yang
dimilikinya.

Imam Syahid berkata, "kami telah melakukan genjatan senjata, namun


kita tidak mendapatkan apa-apa. Hal ini karena kebandelan, kelicikan dan
tipu daya penjajah Inggris. Kita juga telah melakukan adopsi hukum, namun
kita juga tidak memperoleh hasil apapun, karena dikalahkan oleh berbagai
kepentingan internasional dan ambisi kolonial.

Imam Syahid tidak tertipu dengan gembar-gembor pers tentang


perjanjian dan keuntungan yang kami ambil. Slogan-slogan kosong dan kata-
kata tidak membuatnya lengah terhadap kebenaran.

Imam Syahid berkata, "Seorang penulis terkemuka pernah


menuliskan; sesungguhnya kita telah memperoleh keuntungan moral yang
besar dengan diumumkannya problem-problem kita secara besar-besaran di
hadapan dunia internasional, mengungkapnya dari hanya sekedar saling
memahami secara sempit kepada sebuah pernyataan yang memiliki
legitimasi di tingkat global. Hal ini benar. Namun, keuntungan moral itu sama
sekali tidak cukup untuk mengantisipasi permasalahan yang paling
mendasar, karena kita masih tetap bersama Inggris, yang dengan itu kita
tidak akan bisa maju selangkah pun. Bahkan, kondisi stagnan itu akan
semakin mengakibatkan kegundahan dan ketidakmenentuan."387

6. Diperlukan pernyataan sikap perlawanan dan membatalkan semua


kesepakatan dan keterikatan:

Imam Syahid berkata, "Jika usaha-usaha seperti ini menemui jalan


buntu, maka prinsip Islam telah jelas, yakni mengumumkan permusuhan
(peperangan), kemudian segera melakukan jihad dengan pelbagai
388
sarananya."
387
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 225
388
Ibid

326
Beliau juga berkata, "tidak ada jalan lain bagi kita kecuali mencabut
perjanjian genjatan senjata itu dan mengumumkan perang terbuka. Pada
saat yang sama, kita mendeklarasikan kepada mereka untuk mencabut
semua ikatan dan kesepakatan antara kita dengan mereka, serta
mengumumkan bahwa kita dalam kondisi perang. Dari situlah kita akan
mulai mengatur kehidupan kita sendiri tanpa campur tangan mereka.

Dalam bidang ekonomi, kita harus merasa cukup (dan sementara


membatasi diri) dengan apa yang ada di negeri kita dan di negeri saudara-
saudara kita dari bangsa Arab dan kaum muslimin (tidak perlu minta bantuan
ke Negara yang lain.)

Dalam bidang sosial, harus dibangkitkan semangat untuk meraih


izzah, kemuliaan dan cinta kemerdekaan.

Dalam bidang operasional kemiliteran, rakyat harus diberikan


pendidikan dan latihan militer, sambil menunggu datangnya kesempatan dari
Allah (sampai dating waktunya untuk berperang dengan mereka).389

Harus dipersiapkan pula moralitas bangsa untuk hal itu dengan


berbagai penerangan dan sosialisasi besar-besaran, persis sebagaimana
sebuah bangsa ketika menghadapi perang yang sesungguhnya. Di atas asas
inilah kondisi sosial akan berubah.390

Kerja keras ini bukan tidak mungkin bisa ditangani oleh individu atau
lembaga tertentu. Namun, pemerintahlah yang harus menjadi
penanggungjawab yang pertama dan terakhir.391

Oleh karena itu, Imam Syahid maju dan menyampaikan gagasan


perbaikan ini kepada pemerintah, mengajaknya untuk menunaikan tugas

389
Ibid
390
Ibid
391
Ibid

327
dengan segala sarana dan prasarana, memberi tekanan hingga pemerinatah
mengambil langkah konkret untuk mengentaskannya, minimal pemerintah
memberikan perlindungan, dan dukungan terhadap aktivitas militer rakyat
untuk melawan penjajah.

7. Boikot

Diantara sarana konvensional yang diserukan oleh Imam Syahid dalam


rangka memberikan perlawanan kepada penjajah adalah melakukan boikot,
baik boikot ekonomi, sosial, budaya, pers dan boikot-boikot yang lain.

"Mereka akan menyaksikan bahwa senjata negatif ini akan


menghilangkan keinginan mereka dan mengembalikan permusuhan itu
kepada diri mereka sendiri."392

"boikot adat budaya dan produk-produk yang tidak Islami."

"Boikot segala sesuatu yang tidak berasal dari Timur (Islam), baik
kebiasaan, budaya, dan produk-produknya, serta merasa bangga dengan
ketimurannya (keIslamannya)."393
"Dunia Islam dengan segenap jiwanya telah memberikan kepada kita
kepekaan perasaan, kelemah-lembutan dan dukungan, sehingga kita
menyaksikan sebuah jalinan yang demikian kuat antara kita dengan Islam,
yang keduanya saling memberi dukungan dan saling menghormati."394

"Dengan cara ini (yang dengan sendirinya akan menambah


perbendaharaan sarana khusus kita bagi setiap umat mencabut perjanjian
damai dan jihad tadi, yakni sebuah nilai lain dari nilai-nilai kekuatan yang
tidak lain adalah persatuan dan kesatuan), kita akan bisa terbebas dan
mampu menjadi lawan yang seimbang bagi bangsa-bangsa yang rakus di

392
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah).
393
Dari makalah, Kewajiban dunia Islam terhadap musibah yang menimpanya, Imam
Syahid tahun 1931. diambil dari buku, Imam Syahid, karya Fuad Al Hajarsi. Hal.
117
394
Risalah: Nahwa an Nur (Menuju Cahaya), hal. 275

328
dunia ini, dan Negara-negara yang saling berkompetisi untuk
memperebutkan materi dan kepentingan."395

8. Perlawanan total dalam menghadapi penjajah membutuhkan


persiapan dan pengorbanan, untuk itu perlu persiapan jiwa untuk
melakukannya:

"Rakyat sangat siap untuk berkorban, tetapi hanya untuk sebuah


tujuan yang jelas. Tujuan yang mengarah pada kemenangan atau mati
syahid."396

9. Partisipasi jamaah dalam memberikan perlawanan militer


terhadap penjajah:

Imam Syahid benar dalam strateginya dan sukses dalam penyiapan


jamaah dan masyarakat, dimana pada akhirnya ia berhasil mengusir penjajah
setelah kesyahidannya. Jamaah Ikhwanul Muslimin memberikan kontribusi
luarbiasa dalam perlawanan militer terhadap penjajah, memberikan
pengorbanan dan jiwa para syuhada dalam pertempuran sengit di Terusan
Suez.397

Imam Syahid berkata, "Saat kami beriman dan berjuang, kami tidak
menggantungkan jihad pada kekuatan senjata, banyaknya pasukan dan
armada perang, kami menyadari bahwa kami lebih lemah dari itu semua, dan
kami merasakan dengan rasa yang mendalam terhadap rantai yang
membelengu tangan dan kami kami."398

395
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 314
396
Ibid, hal. 311
397
Lihat, a. Perlawanan rahasia di Terusan Suez, Al Ustadz Kamil Syarif
b. Imam Syahid, Pengusung panji dakwah abad 20, Ustadz Fuad Al Jaharsi,
Bab khusus tentang pertempuran Ikhwanul Muslimin melawan Inggris.
398
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 258

329
"Kami akan bekerja dengan landasan spirit perasaan ini: Kami akan
menegakkan kebenaran, dan di dorong oleh keimanan dan diarahkan oleh
cita-cita."399

Perlawanan ini dilakukan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip


dakwah, dan dengan pandangan yang komprehensif dan luas, sebagaimana
dapat kita lihat dalam siasat Imam Syahid:
a. Bahwasanya diperlukan persiapan yang hakiki terhadap
umat dan menyadarkannya, begitupula mempersiapkan jamaah ini
untuk berperan di bidang tersebut; oleh karena itu maka kerja yang
harus dilakukah adalah membentuk sistem khusus untuk melatih dan
mempersiapkannya pada hari pembebasan.

Dimana jamaah berada di garda terdepan umat yang akan memimpin


perjuangan, mempersembahkan syuhada, memberikan pengorbanan,
sementara masyarakat di sekitarnya menerima, membantu dan
memperjuangkannya.

b. Imam Syahid menolak perlawanan yang asal-asalan, tanpa


persiapan dan strategi yang jelas dan menyeluruh, atau hanya menjadi
petualangan militer semata, atau menjadi bagian yang terpisah dari
umat dan masyarakat.
c. Beliau juga menolak penghentian peran dan aktivitas jamaah ketika
terwujudnya kemerdekaan dan kebebasan saja, atau jamaah hanya
membatasi tujuannya hanya pada target-target ini –walaupun target
tersebut sangat penting-. Kemerdekaan dan kebebasan bukanlah visi
satu-satunya, namun ia merupakan bagai dari satu susunan sempurna
dari visi dan strategi. Jamaah menjadi sarana untuk mewujudkan
seluruh visi dan misinya, dan menjaga agar tidak terjadi benturan dan
singgungan antara visi-visi tersebut satu sama lain, atau hanya
terbatas pada visi-visi yang parsial.

399
Ibid, hal. 270

330
Oleh karena itu kita melihat pembangunan jamaah, proses eksistensi,
keberlangsungan dan upaya mewujudkan visi-visinya berjalan
seimbang dengan target pembebasan dan kemerdekaan.

Kami melihat bahwa jamaah telah maju kehadapan, setelah melakukan


persiapan dan pada waktu yang tepat, ia mampu memikul beban
dakwah dengan penuh ketegaran dan menghadapinya dengan
segenap pengorbanan dan dengan jiwa syuhada yang gugur,
menghadapi rintangan dan kepungan musuh, dan dengan keutamaan
Allah terlihatlah kemampuannya untuk tetap eksis dan memproteksi
dakwah. Musuh telah berupaya untuk memukul mundur jihad Ikhwanul
Muslimin di Palestina dan Terusan Suez, dengan mengarahkan
serangan-serangan yang mematikan, namun segala puji bagi Allah,
Ikhwanul Muslimin mampu menghadapi serang-serangan itu, dan
keluar dari pertempuran dengan kekuatan yang semakin membaja,
untuk melanjutkan aktivitas dakwah secara sempurna.

d. Imam Syahid telah mempersiapkan Ikhwanul Muslimin dan


masyarakat dengan persiapan yang sempurna dalam pelbagai aspek
dan dengan berbagai sarana untuk mengantarkan kepada
kemerdekaan negeri, melawan penjajah Inggris dan mengusirnya
keluar dari negeri Mesir, hari itu dinamakan sebagai Yaum Dam (hari
berdarah).

e. Persiapan ini tidak hanya dengan mempersiapkan kuantitas pasukan


yang sesuai dengan persiapan yang sempurna, namun ia juga
mencakup pemenuhan yang terus menerus terhadap kebutuhan,
sesuai dengan perkembangan peristiwa dan beban-bebannya. Adapun
unsur utama yang sangat dibutuhkan dalam segmen ini adalah al fard
(individu muslim) yang akan disiapkan dan ditarbiyah; dimana
peperangan banyak menelan pentolan-pentolan dakwah dan unsur-
unsur yang berkualitas, sementara penempatan (kader) yang
dilakukan terkadang belum mengalami pematangan dalam persiapan
tarbawi dan yang akan berperan sebagai unsur pemimpin; hal ini

331
dikarenakan cepatnya perputaran peristiwa dan tekanan yang terjadi,
atau karena sedikitnya waktu yang tersedia, sehingga menyebabkan
sedikitnya basis-basis shaf tarbiyah dan banyaknya unsur-unsur yang
bersemangat yang telah ditempatkan tanpa melalui persiapan tarbiyah
yang matang, sehingga mereka menjadi pentolan-pentolan jihad dan
pemimpin nasional, namun sayangnya pembinaan tarbiyahnya masih
lemah, dan kurang menguasai aspek-aspek dakwah dan rukun-
rukunya. Hal ini yang kemudian membuatnya terancam fitnah, dan
penyimpangan pemikiran, atau kerusakan struktural di jamaah dan
tarbiyah. Dengan demikian kita sampai kepada shaf yang pondasi dan
bangunan utamanya mengalami kelemahan, sebagai akibat dari
perseteruan dan pengorbanannya.

• Makna Negara Islam dan sikap terhadap permasalahan


Palestina:
Imam Syahid meluaskan pengertian Negara Islam hingga mencakup
seluruh Negara Islam. Ini yang sebenarnya yang diinginkan dari makna Islam
dan persatuan umat Islam. Sehingga setiap umat Islam wajib saling bahu
membahu dan bekerjasama mewujudkan kebebasan dan kemerdekaan di
setiap negeri-negeri muslim.

Imam Syahid berkata, "Saya ingin menuntaskan permasalahan ini,


bahwa sesungguhnya Negara Islam merupakan satu kesatuan yang tidak
terbagi-bagi, permusuhan terhadap salah satu bagiannya merupakan
permusuhan terhadap bagian-bagian yang lain."400

"Kelaliman yang dilakukan di setiap jengkal tanah yang dihuni seorang


muslim, merupakan kejahatan yang tak bisa dimaafkan."401

Imam Syahid menegaskan bahwa tidak ada sikap mengalah atau


penyepelean terhadap penjajah, walaupun dalam waktu yang panjang, harus

400
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 204
401
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 170

332
ada pengembalian hak-hak kita secara sempurna, tanpa ada satupun yang
dikurangi.

Imam Syahid berkata, "Setelah itu perhitungan kita dengan pihak


Inggris adalah perihal daerah-daerah muslim yang didudukinya, dimana
Islam telah mewajibkan kepada setiap penduduk di setiap wilayah tersebut –
dan kita juga tentunya- untuk berusaha menyelamatkan dan
membebaskannya dari cengkeraman musuh. Begitupula dengan Perancis
dan Italia, dan hari ini termasuk dalam kelompok mereka Rusia, Amerika,
India dll.

Beliau berkata tentang hal ini, "Perhitungan kita dengan Italia tidaklah
lebih sedikit daripada Perancis. Sungguh akan tiba suatu hari dimana akan
terbayar semua perhitungan ini, firman Allah:

 
   
  
  
    
 
Artinya:
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara
manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan
orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu
dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-
orang yang zalim. (Q.S Ali Imran: 140)402

"Maka merupakan hal yang alami, jika bagian dari tujuan kalian
-sebagai dakwah Islam yang benar dan paripurna- adalah membebaskan

402
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 150, 151

333
Lembah Nil, bangsa Arab dan negeri-negeri muslim dengan seluruh
bagiannya dari penjajahan bangsa asing."403

Hal ini sebagaimana peran yang dilakukan oleh Imam Syahid dalam
membebaskan negeri-negeri muslim. Seperti perannya terhadap
permasalahan Palestina, -sebagai tempat yang memiliki keistimewaan- yaitu
dalam pertempuran antara Islam melawan Barat, dan merupakan contoh
yang sangat jelas terhadap perampasan negeri kaum muslimin. Kami akan
menyampaikan secara ringkas, beberapa kalimat dan pengarahan yang
dberikan oleh Imam Syahid terkait dengan hal itu. Bagi yang ingin
memperluas dan mendalami lebih jauh perkataan-perkataan beliau, silakan
untuk merujuk kepada referensi-referensi khusus tentang hal itu.404

Imam Syahid berkata, "Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin tidak ada


cara lain untuk membebaskan Palestina kecuali dengan kekuatan."
Sebagaimana yang beliau tulis dalam suratnya kepada Abdurrahman Azzam,
sekretaris jendral Liga Arab ketika itu.405

Imam Syahid menyampaikan seruan kepada Negara-negara Arab dan


Islam untuk segera menarik diri dari PBB, dan mengajak seluruh bangsa-
bangsa Arab dan Islam untuk bangkit membela Palestina, hal ini sebagai
bentuk penolakan terhadap ketetapan yang dikeluarkan oleh PBB tentang
pembagian wilayah Palestina menjadi dua bagian dan pengakuan terhadap
eksistensi Israel sebagai Negara yang sah di Palestina.

Dalam memoar yang beliau sampaikan kepada Biro Politik Liga Arab,
Imam Syahid meminta, "Membersihkan Zionisme dari negeri-negeri Islam,
atau menyetujui Yahudi untuk hidup berdampingan dengan bangsa Arab di
bawah pemerintah Palestina yang merdeka, dengan syarat mengembalikan
setiap penduduk Yahudi ke negeri asalnya setelah Perang Dunia I."406

403
Risalah, Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 251
404
Diantaranya: Ikhwanul Muslimin dan Perang Palestina, Ustdadz Kamil Syarif;
Ikhwanul Muslimin dan Permasalahan Palestina, Fuad Al Hajarsi, dll.
405
Ikhwanul Muslimin dan Permasalahan Palestina, Fuad Al Hajarsi, hal. 14
406
Ibid

334
Dalam memoar yang ditulis kepada Dubes Inggris, Imam Syahid
menyampaikan, "Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin akan mengerahkan
seluruh jiwa dan harta mereka demi menjaga keutuhan setiap jengkal tanah
palestina yang Arab dan Islam, hingga Allah mewariskan bumi dan seluruh
isinya."407

Dengan segala keterbatasan kemampuan jamaah serta marabahaya


yang senantiasa mengintai, dan jamaah Ikhwanul Muslimin masih dalam
tahap pembinaan, namun Imam Syahid tetap ikut serta dalam jihad melawan
Yahudi, dan dalam memobilisasi umat Islam. Walaupun dengan segala
konsekuensi dan perkembangan yang akan terjadi, serta besarnya kekuatan
permusuhan yang berada di belakang Yahudi. Demikianlah sikap beliau
terhadap pelbagai permasalahan umat Islam.
Dalam ucapan belasungkawa untuk para syuhada jamaah yang gugur
di Palestina, sebagaimana disebut dalam makalahnya yang berjudul Mihnatul
Islam, Imam Syahid berkata, "Mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa
yang berada di sisi Allah, mereka telah mempersembahkan darahnya dalam
perjuangan di jalan Allah dalam peperangan yang dikuasai oleh kaum yang
tidak memperdulikan Islam (maksudnya para pemimpin Mesir pada waktu itu,
seperti raja Faruq dan lain-lain), mereka adalah orang-orang asing, orang-
orang asing, orang-orang asing.

Sesungguhnya Israel akan berdiri, karena gerakannya adalah gerakan


ideologi. Jalan yang akan kalian lalui sangat panjang, panjang dan
menakutkan, darah suci dan mulia yang tertumpah tidak akan ada gantinya.
Adapun Israel, akan tegak berdiri dan akan tetap eksis hingga Islam
menghancurkannya, sebagaimana Islam menghancurkan yang lainnya. Ini
adalah jalan kita yang tidak boleh kita lewatkan sebagai pertempuran dan
pembuktian kepahlawanan.

Sesungguhnya kita adalah pembawa risalah dakwah yang menolak


cita-cita palsu dalam setiap manuver politik yang tidak dipimpin oleh Islam,
407
Ibid, hal. 40

335
dan setiap jihad yang tidak dipimpin oleh kalimat Allah. Umat kita harus bisa
membedakan antara orang-orang berakidah yang berjuang dan para
pecundang dari politikus dan militer. Kita meminta maaf kepada Allah
terhadap darah syuhada yang telah tertumpah, dan semoga ini menjadi
peringatan bagi umat, jika peringatan itu bermanfaat.408

• Mengenal dengan baik Karakter musuh


Imam Syahid sangat berbeda (istimewa) dengan pengetahuan dan
pengenalannya yang mendalam terhadap musuh, serta tidak tertipu dan lalai
ketika berhubungan dengan mereka. Oleh karena itu, mereka tidak
mendapatkan solusi lain selain dengan membunuhnya, sehingga Allah Swt.
akhirnya memberikan anugerah syahadah kepadanya.

Imam Syahid berkata pada tahun 1931 M, dalam makalahnya yang


berjudul, Kewajiban Dunia Islam terhadap musibah yang menimpanya,409:

"Wahai umat Islam, merupakan kesia-siaan kalian berupaya


menjadikan musuh sebagai pemimpin, dan menjalin hubungan dengan
musuh-musuh kalian. Merupakan sebuah kesia-siaan kalian menanti belas
kasihan dari hari-hati mereka, sementara hati mereka telah membeku dan
membatu, atau lebih keras dari itu, menjadi lebih gelap dari kegelapan
malam, yang kehilangan cahaya sehingga tidak ada setitik cahayapun yang
tampak dari cahaya kebenaran. Merupakan kesia-siaan kalian berharap
mendengarkan kalimat-kalimat lembut dan santun dari kelompok mereka,
sementara mereka telah berkumpul di sekeliling kalian dan bersepakat untuk
menteror kalian. Walaupun mereka berbeda ambisi dan keinginan, namun
ada satu hal yang menyatukan mereka dan mereka bersumpah untuk
menunaikannya, yaitu melenyapkan Islam dan kaum muslimin. Hal itu tiada
lain adalah intrik pasukan Salib dan manuver politik yang sudah terbelakang,
yang kemudian membuat mereka berprilaku buas dan gila.

408
Dari makalah, Mihnatul Islam, dari buku; Ikhwanul Muslimin dan Permasalahan
Palestina, Ustadz Fuad Al Hajarsi, hal. 15
409
Makalah: Kewajiban Dunia Islam terhadap apa yang menimpanya, Imam Syahid
tahun 1931 (dari buku: Imam Syahid, Fuad al Hajarsi. Hal. 117

336
Jangan kalian terpedaya wahai kaum muslimin, cukuplah sudah
kelalaian dan berbaik sangka yang sudah berlangsung lama, Allah telah
menggambarkan karakter kaum itu kepada kalian melalui firman-Nya:

 
 
   

Artinya;
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka
sanggup. (Q.S Al Baqarah: 217)

Allah juga berkata kepada Nabi-Nya Muhammad Saw. dengan kalimat


yang lebih jelas, bahwa mereka tidak merelakan apapun untuk mereka
kecuali kemurtadan dan perbudakan. Selain itu, mereka juga memiliki
kedengkian yang lama yang ingin mereka tebus dari kalian, firman Allah:

   



  
  
 
  
   
  
Artinya:
"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan
ketika dia Berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", Maka tatkala manusia
itu Telah kafir, Maka ia berkata: "Sesungguhnya Aku berlepas diri dari kamu,
Karena Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam". (Q.S Al
Hasyr: 16)

"Ingatlah kalian wahai Ikhwanul Muslimin, bahwa orang-orang mulhid


dari kaum muslimin adalah musuh pertama kalian, dan sesungguhnya

337
mereka memiliki saham besar terhadap musibah yang menimpa negeri-
negeri muslim. Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan
mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sampai
hari kiamat, tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka.

Merupakan kewajiban kami untuk merubah tanpa terjangkit wabah


pemikiran mereka yang telah akut, menahan siapa saja yang berbaik sangka
terhadap musuh, dan siapa saja yang telah membius otot-otot kami dengan
pemikiran-pemikiran palsu dan kalimat-kalimat rayuan, yang di belakangnya
tiada lain adalah upaya merusak bangsa Timur dan melenyapkan persatuan
Islam, mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang Eropa. Barangsiapa
yang loyal terhadap suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan
mereka, firman Allah:

  
  
 
  
   
  
     
  
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-
orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian
mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara
kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim. (Q.S Al Maidah: 51)."410

410
Makalah ini kembali dipublikasikan di Majalah Dakwah, edisi 82 Syawal 1419 H/
Januari-Februari 1999 M.

338
Imam Syahid mengenal benar karakter dan tipikal Negara-negara
Barat, siasat dan ambisinya. Beliau mengirimkan surat kepada kepala
pemerintah Mesir, Ali Mahir pada tahun 1939 M, yaitu setelah deklarasi
perang dunia I, mengingatkannya untuk berhati-hati agar tidak mengekor di
belakang mereka, "Sesungguhnya Negara-negara Barat –wahai bapak kepala
Negara yang mulia- apapun warnanya tidak memiliki perjanjian dan
perlindungan, walaupun mereka berupaya menunjukkan kelembutan dan
belas kasih namun sesungguhnya mereka menyimpan sesuatu yang tidak
mereka perlihatkan, ia tidak akan ragu untuk membohongi dirinya sendiri
(dengan berpura-pura) jika ia mendapatkan kepentingan dan kemaslahatan
dalam berbohong. Maka kewajiban kita adalah tidak tunduk kepada mereka,
namun kita harus mempersiapkan diri dengan sempurna, dan dengan penuh
semangat, hingga ketika menghadapi bahaya kita telah memiliki kesiapan
yang sempurna, berdiri dengan penuh kemantapan, dan kita akan berjuang
untuk mempersiapkannya."411

Imam Syahid juga sangat mengenal secara mendalam proyek-proyek


Barat-Zionis yang ingin menguasai umat Islam, oleh karena itu beliau
menganggap perlawanan terhadap proyek-proyek tersebut merupakan
bagian dari tujuan jamaah, beliau berkata, "Adalah bagian yang baik untuk
kita, dapat menyaksikan zaman dimana kekuatan Yahudi Internasional
menantang bangsa-bangsa Arab dan Islam dan menodai kesuciannya dengan
besi dan api, maka kita akan menerima tantangan ini dengan keyakinan
bahwa Allah yang maha tinggi dan maha mulia telah memberikan kepada
kita keutamaan dan kelebihan untuk melakukan perlawanan terhadap musuh
dan melumpuhkannya."412

411
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 298
412
Dari makalah Imam Syahid, yang terakhir ditulisnya. Dipublikasikan oleh
Majalah al Mabahits, pada Januari 1951 M, dan diterbitkan kembali oleh Majalah
Dakwah, januari/Februari 1999 M.

339
Bab IX

Tentang Tujuan
Membentuk Pemerintah Islam

Tentang Tujuan
Membentuk Pemerintah Muslim

• Mukadimah
Imam Syahid menetapkan bahwa pendirian pemerintah Islam
merupakan bagian asasi dari manhaj Islam. Beliau juga menjelaskan bahwa
pengaturan kehidupan dan Islam merupakan asas keimanan dan keyakinan
terhadap syariat Islam. Ia menolak pemisahan antara agama dan politik.

Imam Syahid berkata, "Islam datang sebagai aturan, pemimpin,


agama, Negara, syariat dan pelaksanaan."413

"Dalam setiap perencanaan, langkah kerja, dan penetapan target,


Ikhwanul Muslimin selalu melaluinya dengan di bawah cahaya hidayah Islam
yang hanif ini. Inilah yang mereka pahami sebagaimana telah dijelaskan pada
awal tulisan ini. Agama Islam, yang telah diyakini oleh Ikwan telah
menjadikan pemerintahan sebagai salah satu pilar bangunannya. Ia tidak
hanya menjadi alat pengarah dan nasehat, namun harus diwujudkan dalam
realitas kehidupan. Dahulu, Khalifah yang ketiga (Utsman bin Affan) berkata,
"Sesungguhnya, Allah mencegah dengan kekuasaan sesuatu yang tidak bisa
dicegah dengan Al Quran."414

413
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 206
414
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 136. Yang dimaksud Imam
Syahid adalah bahwa pemberlakuan hukum dengan Al Quran dan mendirikan
pemerintah Islam merupakan sesuatu yang asasi dan mendasar, ia dianggap sebagai
sesuatu yang prinsipil dalam Islam. Adapun perincian undang-undang dan
peraturannya serta apa saja yang terkait dengannya, maka telah disebutkan di
dalam buku-buku fikih dan buku-buku cabang. Lihat kembali Risalah Akidah
Thahawiyah.

340
"Islam yang hanif ini mengharuskan pemerintahannya tegak di atas
kaidah sistem sosial yang telah digariskan oleh Allah untuk umat manusia.
Barangsiapa yang beranggapan bahwa agama –terlebih lagi Islam- tidak
mengungkap masalah politik atau bahwa politik tidak termasuk dalam
agenda pembahasannya, maka sungguh ia telah menganiaya diri sendiri dan
pengetahuannya."415

Oleh karena itu, Imam Syahid menjadikan politik menjadi bagian dari
tujuan utama yang diupayakan oleh jamaah, dan diupayakan oleh seluruh
kaum muslimin. Beliau menyebutkan dalam tingkatan amal dan tujuan
jamaah, "Setelah itu kita menginginkan pemerintah muslim yang bisa
membimbing anggota masyarakatnya ke mesjid."416

"Kami akan bekerja untuk menghidupkan sistem pemerintah Islam


dengan seluruh wujudnya, dan membentuk pemerintah Islam di atas system
ini."417

Imam Syahid menjelaskan tentang dua asas utama, beliau berkata,


"perhatikanlah selalu terhadap dua hal utama yang ingin kita capai:
Agar Negara muslim merdeka dari setiap dominasi asing. Hal itu
merupakan hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya
kecuali orang yang zalim lagi durhaka, atau para penjajah durjana.
Agar tegak di Negara ini sebuah daulah Islamiyah merdeka yang
menerapkan hukum Islam, merealisasikan sistem sosialnya,
mendeklarasikan prinsip-prinspinya yang lurus, dan menyampaikan
dakwahnya yang bijak kepada seluruh manusia. Selama daulah ini
belum tegak, maka seluruh kaum muslimin berdosa. Mereka
bertanggungjawab di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha
Agung, kareka pengabaian mereka untuk menegakkannya dan
keengganan mereka untuk mewujudkannya.

415
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam), hal. 317
416
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 177
417
Ibid. hal. 178

341
Kita ingin merealisasikan dua sasaran ini di Lembah Sungai Nil (baca
Mesir), di Negara-negara Arab, dan di setiap Negara-negara Arab, dan
di setiap Negara yang telah disejahterakan oleh Allah dengan akidah
Islamiyah, karena Islam merupakan agama, kemasyarakatan, dan
akidah yang mempersatukan seluruh pemeluknya.418

"Maka kalian harus menuntut dengan hak Islam untuk


mendirikan sebuah pemerintah yang memperhatikan prinsip, nilai-nilai
dan ajaran Islam, dan menyaratkan kebebasan dan kemerdekaan yang
sempurna."419

“JIka tujuan-tujuan ini –perbaikan individu dan masyarakat


muslim- tidak bisa diwujudkakn kecuali di bawah naungan sebuah
pemerintah yang shalih, maka kalian harus menuntut dengan hak
Islam untuk mendirikan sebuah pemerintah yang memperhatikan
prinsip, nilai-nilai dan ajaran Islam.”420

"Ikhwanul Muslimin berusaha agar sistem Islami didukung oleh


para penguasa, agar terbentuk Negara Islam baru yang menegakkan
dan menjalankan hukum-hukum ini terhadap umat manusia yang
didukung oleh umat Islam. Kehidupan mereka diatur oleh tuntunan
syariah berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya,
firman Allah:

   


  
 
 
   
Artinya:

418
Risalah; Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 107
419
Risalah: Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 251
420
Risalah; Nahwa an Nur (Menuju Cahaya)

342
"Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui.
(Q.S Al Jatsiyah: 18)421

• Ikhwanul Muslimin Tidak Ambisi Kekuasaan dan Tidak


bermaksud menguasai pemerintahan:
Imam Syahid berkata, "Ikhwanul Muslimin tidak menuntut tegaknya
pemerintahan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya, jika Ikhwan
mendapati di tengah umat terdapat orang yang siap memikul beban,
menunaikan amanat dan berhukum kepada sistem yang sesuai dengan
manhaj Islam dan Al Quran, maka mereka siap menajdi tentara, pembela dan
penolongnya."422

Mereka adalah para duat prinsip dan akidah, yang berdakwah dengan
penuh keikhlasan kepada pemerintah untuk kembali kepada manhaj Islam,
dan menggariskan kepada mereka jalan dan langkah yang dibutuhkan untuk
itu.

Imam Syahid berkata, "Untuk itu pertama-tama kami meminta kepada


pemerintah Mesir, kemudian kepada pemerintah Arab dan Islam untuk
mengembalikan sistem kehidupan dan peradabannya kepada sistem Islam,
yang indikasi konkretnya antara lain:
1. Mendeklarasikan bahwasanya ia adalah pemerintah Islam yang
menerapkan fikrah Islam sebagai asas Negara secara resmi.
2. Menghormati kewajiban dan syariat Islam, setiap pegawai dan
pekerjanya komitmen dalam melaksanakannya, dan hendaknya orang
tua diantara mereka menjadi qudwah bagi yang lain.
3. Menghindari al Mu'biqat (perbuatan maksiat yang merusak) yang telah
diharamkan oleh Islam, seperti Khamr (minuman keras) dan yang
sejenisnya, zina dan segala sesuatu yang mengarah kepadanya, riba
dengan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dari al Qimar
421
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 206
422
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V)

343
(Judi), harta haram, dan hendaknya pemerintah menjadi qudwah
dalam hal ini, dengan tidak membolehkan praktek-praktek seperti ini
dan tidak melindungi pelakunya dengan kekuatan hukum, serta tidak
berhubungan dengan masyarakat dengan cara-cara ribawi.
4. Memperbaharui kurikulum pendidikan, dimana terdapat pendidikan
tarbiyah Islamiyah nasional, memberikan perhatian yang besar kepada
pendidikan bahasa Arab dan sejarah, yang dapat membentuk tabiat
pelajar dengan nilai-nilai Islam dan membekali mereka dengan hukum-
hukum dan hikmah.
5. Menjadikan syariat Islam sebagai referensi utama undang-undang.
6. Menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam setiap sikap dan
kebijakan.

Inilah hak Islam terhadap kita, dan kami telah menyampaikannya, Ya


Allah saksikanlah.423

• Keterlambatan Pemerintah (dalam menerapkan syariat Islam)

Namun realitanya, pemerintah belum menerapkan syariat Islam


dengan benar, sehingga beban yang dipikul oleh jamaah bertambah berat,
yang mengharuskannya mampu mewujudkan tujuan utama ini. Imam Syahid
menyebut tidak diberlakukannya syariat atau terlambatnya pemberlakukan
syariat sebagai kejahatan dan pelanggaran terhadap hak kaum muslimin.
Namun, kenyataannya kini tidaklah demikian. Ia sebagaimana yang anda
lihat, Syariat Islam seolah-olah berada di suatu lembah, sementara
pelaksanaannya berada di lembah yang lain. Oleh karena itu, diamnya para
pembaharu Islam dari tuntutan diberlakukannya hukum Islam adalah dosa
besar yang tidak terampuni kecuali dengan mengambil alih pemerintahan
dari tangan mereka yang tidak mau menegakkannya.424

423
Risalah, Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 267,
268
424
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 138

344
Ini adalah kalimat yang telah jelas, dan kalimat ini bukan dating dari
kami sendiri. Kami hanya mempertegas apa-apa yang telah ditetapkan
hukum Islam itu sendiri.425

Namun, jika ternyata Ikhwan tidak mendapatkannya, maka tetaplah


pemerintahan itu menjadi bagian dari manhaj Ikhwan. Mereka akan terus
bekerja dalam rangka membersihkannya dari tangan-tangan penguasa yang
tidak mau melaksanakan hukum Allah.

Sesungguhnya Ikhwan belum melihat suatu pemerintahan –baik


pemerintahan yang sekarang maupun yang lalu- yang bisa mengemban
amanat dan menunjukkan kesiapannya untuk menegakkan nilai-nilai Islam.
Masyarakat hendaknya memahami hal ini dan menuntut kepada pemerintah
untuk mendapatkan hak-hak keIslamannya. Dan Ikhwanlah yang selama ini
bekerja untuk itu.426

Merupakan kesalahan yang fatal ketika kita melupakan akar pemikiran


ini, sehingga dalam prakteknya kita sering memisahkan agama dari urusan
politik (meski secara teorotis kita mengingkari pemisahan seperti ini). Kita
tetapkan dalam UUDa kita bahwa agama resmi Negara adalah Islam, namun
ternyata ketetapan ini tidak cukup bisa menghalangi para petinggi
pemerintahan dan para tokoh politik untuk merusak citra Islam dalam
persepsi dan pikiran khalayak, serta merusak keindahan Islam dalam realitas
kehidupan, dengan keyakinan dan perbuatan mereka yang menjauhkan
antara petunjuk agama dan muatan politik. Ini merupakan kelemahan
pertama dan awal mula kerusakan.427

Jika ada seorang pembaharu muslim yang sudah merasa puas hanya
menjadi seorang ahli ilmu dan penasehat, menetapkan keputusan hukum,
menggelar kajian ushul fiqih dan Fiqih praktisnya, sementara ia biarkan
pemerintah memberlakukan hukum yang tidak diridhai oleh Allah, dan
425
Ibid
426
Ibid
427
Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita dalam
kacamata sistem Islam). hal. 317, tentang Sistem pemerintahan.

345
mendorong rakyatnya untuk melanggar perintah-perintah-Nya, maka suara
sang pembaharu tadi laksana teriakan di tengah lembah.428

Imam Syahid juga menjelaskan tentang kondisi realita yang


sesungguhnya, dengan mengatakan, "Berterus teranglah dalam menjawab
pertanyaan tersebut, niscaya kamu jumpai hakikat yang jelas di hadapanmu.
Seluruh aturan yang engkau jadikan pijakan dalam setiap urusan hidupmu
adalah aturan buatan manusia belaka; yang tidak ada hubungannya dengan
Islam; tidak digali dari sumber nilai Islam dan tidak pula disandarkan
kepadanya."429

Beliau juga menunjukkan tentang pengkhianatan pemerintah terhadap


janji dan amanat yang dipikulnya, yakni dengan jauhnya mereka dari
penerapan manhaj Islam, "Maka tidak ada jalan lain bagi pemerintah Mesir,
dan partai-partai politik di Mesir kecuali harus menepati janji syar'inya
kepada Allah dan Rasul-Nya, di saat mereka mengucapkan dua kalimat
syahadat. Kemudian, mereka mesti komitmen dengan ajaran Islam. Mereka
juga harus menepati janji sosialnya dengan bangsa ini ketika menetapkan
undang-undang dan menyuarakan bahwa agama resmi Negara adalah Islam.

Jika tidak, maka berarti mereka telah ingkar janji dan mengkhianati
amanat Allah dan amanat manusia. Pemerintah harus berterus terang
kepada rakyat untuk menentukan sikapnya terhadap rakyat dan sikap rakyat
terhadap pemerintah. Sudah bukan waktunya lagi untuk menipu dan
memperdaya.

Kesetiaan ini akan melindungi negara dari berbagai ancaman sosial


yang bertubi-tubi. Kesetiaan ini juga akan mengembalikan ketenangan dan
ketentraman ke dalam hati dan jiwa. Namun, hal itu menuntut kita untuk
secepatnya mengubah berbagai sudut pandang dan situasi, serta
mengumandangkan dengan lantang bahwa lembah Nil adalah pengemban,

428
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V)
429
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 188

346
pembela, dan penyeru risalah Islamiyah. Sungguh, kata-kata saja tidaklah
berguna jika tidak disertai dengan amal."430

• Tentang Tabiat Pemerintah terhadap Islam:

"Namun kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerin Islam yang


bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah kepada Islam, yang
menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan
membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa
sebagai ideology alternative dunia yang memberi solusi yang benar dan jelas
bagi seluruh persoalan umat manusia.

Akan tetapi, dimanakah gerangan para pemimpin negeri kita ini?


Mereka semua telah dididik di sarang pendidikan asing, mereka telah tunduk
kepada pola pikirnya, mereka demikian antusias mengikuti jalan hidupnya,
dan mereka berlomba menjilat untuk mendapatkan keridhaannya."431

"orang-orang yang jiwanya, rumah tangganya serta urusan hidupnya,


baik yang pribadi maupun sosial telah kehilangan ruh Islamnya, tentu tidak
mampu mengalirkannya kepada orang lain, tidak kuasa untuk menyerukan
nilai-nilai dakwah yang bertentangan dengan sasaran yang diseru. Seperti
ungkapan 'Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikan apa-
apa'.432

Adapun yang bertanggung jawab dalam kondisi ini adalah pemerintah


dan rakyat.

Penguasalah yang memudahkan jalan dan menyerahkan


kepemimpinan kepada penjajah serta lebih mementingkan dirinya dari pada
rakyatnya, sehingga mengakibatkan tersebarnya penyakit di badan-badan

430
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam); hal. 303
431
Risalah: Al Ikhwan tahta rayatil Quran (Ikhwan di bawah naungan panji Al
Quran), hal. 196, 197
432
Ibid

347
pemerintah Mesir dan bahayanya melanda seluruh manusia: egoisme, riswah
(suap), ketidakadilan, ketidakberdayaan, bermalas-malasan, dan kerancuan;
dan rakyat yang senang terhadap kehinaan, melalaikan kewajiban, silau
dengan kebatilan, mengikuti hawa nafsu, serta kehilangan kekuatan iman
dan kekuatan jamaah, sehingga mereka menjadi mangsa santapan orang-
orang yang rakus dan ambisius.

Bagaimana keluar dari kondisi ini, jawabnya adalah dengan jihad dan
perjuangan. Hidup tak boleh putus asa dan putus asa tak boleh ada dalam
hidup ini. Marilah kita keluar dari kondisi yang bobrok ini dan
menggantikannya dengan sistem sosial yang lebih baik. Sistem sosial yang
dijadikan asas dan dijaga oleh pemerintah. Pemerintah yang berjuang dan
bekerja untuk menyelamatkan rakyatnya dan rakyatpun mendukungnya
dengan kesatuan kalimat, serta kekuatan tekad dan iman. Jika umat-umat
lain kehilangan pelita hidayah di masa-masa transisi, maka kita masih
memiliki Islam sebagai pelita dan cahaya yang membimbing kita.433

Sedangkan tentang undang-undang yang menyimpang dari syariat


Islam, Imam Syahid berkata, "suatu hal yang aneh dan tidak masuk akal jika
undang-undang yang berlaku untuk umat Islam bertentangan dengan ajaran
agamanya, Al Quran dan Sunah Nabi-Nya.

Undang-undang wadh'i (ciptaan manusia), di samping bertentangan


dengan agama, teks-teksnya juga bertentangan dengan UUD Mesir itu sendiri
yang menyebutkan bahwa agama Negara adalah Islam."434

Adapun Ikhwanul Muslimin, mereka sekali-kali tidak akan pernah rela


dan menyetujui undang-undang seperti ini. Mereka senantiasa bekerja
dengan segala cara dalam rangka mengganti undang-undang semacam itu
dengan syariat Islam yang adil dan utama, di semua sisi perundang-
undangan.435

433
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 211, 212
434
Risalah: l Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 140
435
Ibid

348
• Perbaikan pemerintah yang komprehensif
Mendirikan pemerintah Islam tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali
setelah membangun basis-basis yang menjadi pondasinya, melakukan
perbaikan masyarakat dan menyiapkan mereka untuk menerima pemerintah
tersebut dan membangkitan umat untuk meminta hal itu, dan mewujudkan
kebebasan dan kemerdekaan negeri dari seluruh intervensi asing.

Imam Syahid berkata, "Namun kita menginginkan agar fikrah Islam


mendominasi dan mempengaruhi semua kondisi, mewarnainya dengan
shibghah Islam, karena kalau tidak maka kita tidak akan mendapatkan
apapun."436

"Syaratnya adalah kebebasan dan kemerdekaan."437

"Sesungguhnya faktor utama yang merusak tatanan kehidupan


masyarakat Mesir, negeri-negeri Arab dan Islam adalah intervensi
pemerintah asing, dan ini merupakan kelemahan yang tidak seharusnya
terjadi di dalam pemerintah, sehingga seluruh keinginan dan pelaksanaan
pemerintah adalah sesuai dengan keinginannya, baik sebagai duta besar
atau sebagai dalang. Maka pintu pertama proses perbaikan ini adalah kita
melawan dua fenomena ini, agar masyarakat terbebas dari dua imperialis.
Karena jika tidak, maka seluruh upaya akan sia-sia belaka."438

Tujuan asasi, tujuan luhur, dan perubahan yang dikehendaki Ikhwan


adalah perubahan secar total dan integral, seluruh kekuatan umat bersinergi
bahu membahu, bersatu patu untuk menghadapi dan mengadakan
perubahan dan reformasi.439

Sesungguhnya Ikhwan bersabar dan menahan dirinya dari hanya


mengambil peran di pemerintahan sementara jiwa-jiwa masyarakat masih
436
Risalah: Da'watuna Fi Thaurin Jadid (Dakwah Kami di Zaman Baru), hal. 237
437
Risalah, Ijtima Ru'asa al Manatiq (Pertemua Ketua-ketua Wilayah), hal. 251
438
Ibid, hal. 258
439
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal.205

349
dalam keadaan demikian. Maka diperlukan waktu untuk penyebaran dan
mendominasinya prinsip-prinsip Ikhwan, lalu masyarakat akan belajar
bagaimana ia akhirnya lebih mengutamakan kepentingan umum di atas
kepentingan Pribadi.”440

Dengan demikian, maka mereka tidak akan tergesa-gesa untuk


mendirikan pemerintah Islam, kecuali setelah memenuhi faktor-faktor dan
rukun-rukun syariatnya, serta setelah sempurnanya fase-fase dan strategi.

• Sikap Terhadap pemerintah


Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap pemerintah yang tidak menerapkan
syariat Allah dan menyimpang dari manhaj Islam adalah sebagai berikut:

Tidak setuju dan tidak mengakui manhaj dan politiknya yang


bertentang dengan syariat Islam dan Al Quran, serta menolak semua undung-
undang yang bertentangan dengan Islam.

Imam Syahid berkata, "Kami tidak mengakui undang-undang apapun


yang tidak berlandaskan prinsip-prinsip Islam dan tidak mengacu
padanya."441

"Adapun Ikhwanul Muslimin, mereka sekali-kali tidak akan pernah rela


dan menyetujui undang-undang seperti ini."442

Diantara sarana untuk mengadakan perbaikan undang-undang adalah:


dengan menyampaikan catatan kepada menteri keadilan, dan para pemimpin
Negara, serta keinginan masyarakat kepada pemerintah untuk menerapkan
syariat Allah.443

440
Ibid, hal. 138
441
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal.177
442
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 140
443
Ibid

350
Imam Syahid juga berkata, "Kekuasaan merupakan bagian dari manhaj
mereka, dan mereka akan berupaya untuk membebaskannya dari tangan
pemerintah yang tidak menjalankan perintah Allah."444

Dan hal itu dilakukan dengan menyebarkan dakwah, menyadarkan


umat, perjuangan melalui konstitusi, perjuangan politik, membentuk shaf
mukmin yang kuat, mentarbiyah masyarakat, hingga pemerintah yang
berkuasa condong kepada mereka, atau membiarkan mereka.

Imam Syahid menyebutkan tabiat dalam menghadapi dan menyikapi


setiap yang menyimpang dari manhaj Islam dan mengadopsi syariat yang
lain, yakni dengan menetapkan dan menjelaskan kepada mereka dengan
jelas dan terperinci, bukan pertemuan di tengah jalan, bukan perjanjian
damai, bukan tawar menawar atau diam terhadap penyimpangan terhadap
syariat Allah. Semuanya berada dalam koridor Islam, perincian pemikiran,
konfrontasi politik, nasehat dan maaf kepada Allah. Imam Syahid
menyebutnya dengan, fase kifah siyasy (perjuangan politik).

Imam Syahid menulis di pembukaan edisi pertama dari Majalah Al


Nadzir tahun 1938 M, "Kalian akan memusuhi mereka semua di
pemerintahan dan di luar pemerintah dengan permusuhan yang luarbiasa,
jika mereka tidak menyambut dakwah kalian dan menjadikan ajaran Islam
sebagai manhaj yang mereka jalani dan yang mereka amalkan."445

Beliau juga berkata, "Kami akan memerangi setiap pemimpin partai


atau organisasi yang tidak berjuang untuk Islam dan tidak memudahkan
jalan untuk Islam untuk mengembalikan hukum dan kemuliaan Islam. Kami
akan mendeklarasikan permusuhan yang tidak ada perdamaian dan tidak
ada belas kasih, hingga Allah membukakan kebenaran di antara kita dan
sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baiknya pembuka."446

444
Ibid, hal 138
445
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 164
446
Ibid. hal. 163, 164

351
Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap perlawanan dan pemisahan
menggunakan sikap sebagai seorang pemberi nasehat yang mengasihi
pemerintah dan organisasinya:

"Sikap kami terhadap pemerintah Mesir dengan berbagai coraknya,


bagaikan sikap seorang penasehat yang mengingkan kebaikan dan
kelurusan. Mudah-mudahan Allah memperbaiki kerusakan ini, meskipun dari
berbagai pengalaman saya yakin bahwa apa yang kami kehendaki
447
berseberangan dengan mereka."

Untuk itu, jamaah Ikhwanul Muslimin maju dengan memberikan


nasehat yang tulus, dengan program dan proyek-proyek perbaikan di
pelbagai aspek, serta bekerjasama dengan segenap kekuatan masyarakat
untuk melakukan perbaikan umat dan mewujudkan kemajuan dan
kemerdekaannya.

Dalam risalah Imam Syahid yang beliau kirimkan kepada Mahir Basya
(kepala pemerintahan waktu itu, tahun 1939), menjelaskan tentang
pandangan Ikhwanul Muslimin dalam perbaikan. Ia berkata, "Ikhwanul
Muslimin meyakini bahwa jalan satu-satunya untuk melakukan perbaikan,
adalah dengan mengembalikan negeri Mesir kepada ajaran Islam dan
menerapkan prinsip-prinsip Islam dengan penerapan yang baik, mengambil
sari-sari penting dari fikrah yang lama dan yang baru, baik dari Barat
maupun dari Timur yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan
terdapat banyak kemaslahatan di dalamnya. Spirit yang harus terkandung
dalam fikrah perbaikan ini adalah bersandar kepada prinsip-prinsip dan dasar
ajaran Islam. Adapun para rijal yang akan melaksanakan proyek perbaikan ini
haruslah mereka yang dikenal menghormati dan menghargai fikrah ini.

Pemilihan rijal yang akan melaksanakan proyek ishlah ini lebih penting
dan lebih utama dari proyek ishlah itu sendiri. Karena sesungguhnya undang-

447
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 214

352
undang pada hakekatnya adalah tergantung bagaimana hakim yang
menjalankan dan menegakkan hukum-hukum tersebut."448

Standar yang digunakan Ikhwanul Muslimin terhadap dakwah Ishlah ini


–sebagaimana yang dijelaskan Imam Syahid- bergantung dengan spirit yang
menjiwai dakwah tersebut, serta kadar keikhlasannya. Begitupula terhadap
rijal yang akan melaksanakan dan menjalankan proyek ishlah tersebut, kadar
disiplin dan keimanan mereka, termasuk kemampuan menerjemahkan
perkataan dan slogan-slogan dalam kerja-kerja konkret dan realisasi amal
serta kadar pertentangan atau kedekatannya dengan fikrah Islamiyah.
Setelah itu, kemudian dilanjutkan dengan penetapan nama dan muatannya.

Walaupun Ikhwanul Muslimin mengetahui bahwa pemerintah tidak


menyambut seruan ishlah, namun mereka tetap memberikan nasehat, dan
melanjutkan perjalanan dakwah yang telah mereka tetapkan arah dan
tujuannya demi mewujudkan masyarakat muslim dan pemerintah muslim.

Imam Syahid berkata, "Kami telah membuat beberapa manhaj Ishlah


untuk pemerintah Mesir dan menyampaikan beberapa catatan murni dalam
banyak perkara yang menyentuh kehidupan masyarakat Mesir, dll.

Kemudian apa manfaatnya? Tidak ada


Apa yang telah dihasilkan? Tidak ada

Dan jawaban akan selalu sama setiap kali ditanyakan.

Walaupun demikian, kami akan tetap berada posisi memberikan


nasehat hingga Allah membukakan antara kami dan kaum kami kebenaran,
dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baiknya pembuka (pemberi
kemenangan)."449

448
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 299
449
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 214

353
Kami akan menempatkan diri, potensi, dan seluruh kemampuan yang
kami miliki di bawah organisasi atau pemerintah apapun yang bermaksud
melangkah bersama umat Islam menuju ketinggian dan kemajuan, kami
akan menjawab seruan tersebut dan menjadi jaminan.450

Jika anda ingin mendapatkan perincian, silakan merujuk Risalah


Pergerakan, Menuju Cahaya dan Agenda Persoalan Kita dalam kacamata
Sistem Islam, untuk mendapatkan contoh dan model proyek perbaikakn
Ikhwanul Muslimin.

Dengan menyerukan reformasi dan perbaikan undang-undang, karena


terdapat kerusakan di sebagian besar atau beberapa pasal-pasalnya atau
keringnya dari nilai-nilai Islam dan ajarannya, tidak serta merta kemudian
melakukan revolusi atau kudeta, kecuali jika undang-undang yang berlaku
adalah maksiat dan penyimpangan syariat secara jelas; maka tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada sang pencipta,
sebagaimana undang-undang juga menetapkan bahwa Islam adalah agama
Negara dan sumber utama konsitusi.

Kami menerima undang-undang dan peraturan yang berlaku di


masyarakat dan komitmen terhadap undang-undang tersebut, namun hal ini
tidak berarti kami menerima dengan ridha setiap kesalahan yang ada di
dalamnya, kami justru akan melakukan perbaikan dan perubahan dengan
menggunakan perjuangan secara konstitusi dan perjuangan politik, dengan
mentarbiyah masyarakat dan menyadarkan khalayak.

Jamaah Ikhwanul Muslimin –sesuai dengan prinsip dakwahnya-


berinteraksi dengan realita dengan tetap berupaya melakukan perubahan
dan pengembangan kea rah yang lebih baik.

Oleh karena itu ia melakukan hubungan dan interaksi dengan


pemerintah, memberikan nasehat, menyampaikan gagasan-gagasan
perbaikan, memberikan kerjasama demi mengupayakan kebaikan untuk
450
Risalah: Nahwa an Nur (Menuju Cahaya), hal. 294

354
masyarakat dan setiap bahaya yang mengancamnya, menyerukan dakwah
Islam, dan berusaha untuk menghilangkan setiap keragu-raguan dan syubhat
seputar dakwah.

Jamaah Ikhwanul Muslimin juga melakukan dialog sebagai sarana


untuk saling memahami dan bekerjasama, pada waktu yang sama ia pun
berupaya untuk menwujudkan visi-misinya, membawa dakwah dan
menyebarkannya dengan pelbagai sarana, mentarbiyah masyarakat dan
bangsa, membina individunya dan membentuknya sesuai dengan manhaj Al
Quran, melakukan usaha-usaha perubahan kondisi yang terjadi dan
mempersiapkan proses berdirinya Negara Islam.

Kerjasama dan sinergi jamaah dalam pelbagai kesempatan tidak


berarti ridha dan rela terhadap semua manhaj dan aturan yang bertentangan
dengan syariat Islam dan yang tidak menerapkan prinsip dan ajaran-
ajarannya.

Imam Syahid menjelaskan tentang aspek-aspek hubungan terhadap


pemerintah, "Adalah salah besar orang yang menuduh bahwa kalian
memusuhi pemerintah Islam atau lembaga sosial tertentu; sesungguhnya
sikap terhadap pemerintah-pemerintah ini tidak keluar dari dua hal; pertama,
jika ia bekerja dengan Islam dan untuk Islam sesuai kondisi dan
kemampuannya, maka kami adalah penolongnya yang pertama dan
pendukungnya yang paling tulus, dan sebaik-baiknya yang mengokohkan
kekuatannya dan yang menolongnya untuk Islam. Yang kedua, namun jika
pemerintah membenci Islam dan membuat konspirasi terhadapnya, maka
apakah seorang muslim –jika ia menjadi tertuduh- akan menjadi lawan atau
menjadi kawan?

Ikhwanul Muslimin memiliki kelebihan dari masyarakat pada


umumnya, karena jamaah ini lebih mengutamakan nasehat daripada
popularitas atau mendeskreditkan, mengutamakan perdamaian dan cinta
dari pada perseteruan dan peperangan, mengutamakan argument dan

355
perkataan yang lembut daripada kekerasan dan anarkis. Ini merupakan
ajaran Allah kepada para rasul-Nya.

   



  
 
Artinya:
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang
lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q.S Thaha: 44)

Imam Syahid menjelaskan bahwa manhaj jamaah terhadap pemerintah


adalah manhaj dakwah dan nasehat, beliau berkata, "Dengan demikian kami
meyakini bahwa dakwah terhadap para pemimpin, menyampaikan dan
mengenalkannya kepada mereka adalah sebaik-baiknya cara untuk
mewujudkan dan sampai pada tujuan-tujuan dakwah dan menjadi jalan yang
paling dekat untuk itu; sesungguhnya Allah memperbaiki umat dengan satu
orang dari mereka –jika Allah memperbaikinya-. Kalian tentu tahu perkataan
Rasulullah Saw. Agama adalah nasehat, kami (sahabat Rasulullah Saw.)
bertanya, untuk siapa yang Rasulullah? Beliau menjawab, "Untuk Allah,
Rasul-Nya, kitab-Nya, para pemimpin muslim dan masyarakatnya.

Hasan Al Bashri berkata, "Jika seandainya aku memiliki dakwah yang


diterima, aku pasti menjadikannya untuk para pemimpin; karena
sesungguhnya Allah memperbaiki banyak makhluknya dengan kebaikan
pemimpinnya."

Seluruh manusia telah mengetahui –termasuk para pemimpin- bahwa


berapa kali kami telah menyampaikan kalimat kebenaran yang tinggi
membahana, sedikitpun kami tidak berpaling dari hal itu, kendati kami harus
menerima tekanan dan kesengsaraan, kami tidak takut selain kepada Allah,
cukuplah Dia sebagai wali dan penolong kami.

Kami menganggap bahwa kita tidak senantiasa harus memusuhi


pemerintah dalam setiap keadaan atau mengeluarkan mereka dari Islam;

356
karena kadang-kadang pemerintah ikut berperan menghadapi musuh-musuh
Islam yang kuat dan menggagalkan tujuannya, maka adalah sebuah
kebodohan dan bukan bagian dari ajaran agama jika kaum muslimin mencela
orang-orang yang ikut berperan menghalangi musuh mewujudkan ambisi
mereka.

Maka akan lebih baik jika para pemimpin bisa menjadi partner
Ikhwanul Muslimin untuk mentarbiyah masyarakat dan mengarahkannya
dengan ajaran-ajaran Islam yang produktif, daripada menjadikan mereka
sebagai musuh dan rival para da'I, yang menghalangi aktivitas mereka. Sikap
kami terhadap pemerintah, partai politik adalah sikap para da'I bukan sikap
golongan tertentu. Mustahil kami bergabung di bawah panji golongan
tertentu, siapapun itu, atau di bawah pemimin tertentu, siapapun adanya."451

Imam Syahid berkata, "Para pendiri dakwah Ikhwanul Muslimin telah


menetapkan di kedua mata mereka dua hakikat yang mereka pegang dan
laksanakan serta manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Yaitu pertama, tidak
melihat atau berpikir atau bersandar kepada bantuan pemerintah.
Kedua, tidak berharap terhadap apa yang ada di tangan orang-orang kaya,
para politikus, murid-murid penjajah dan para makelar-makelar perusahaan
asing; karena sejak awal dakwah telah memperhitungkan bahwa mereka
akan menjadi orang pertama yang menjadi musuh, karena masing memiliki
pandangan dan jalan yang berbeda."452

Imam Syahid menyebutkan di dalam memoarnya, -sebagai contoh-


tentang sikap terhadap pemerintah Ali Mahir Basya, melalui makalah yang
ditulis oleh Ustadz Shalih Asymawy di Majalah Nazhir, edisi 27, yang
menggambarkan tentang sikap Ikhwanul Muslimin, "para pembaca mungkin
bertanya-tanya, Apa sikap Ikhwanul Muslimin terhadap pemerintah baru
(Parlemen Ali Mahir Basya)? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kami ingin
menyampaikan beberapa hakikat penting yang menjadi prinsip, yaitu bahwa

451
Hasan Al Banna, Sikap-sikap dalam dakwah dan tarbiyah, Abbas Asisi, hal.
145,146
452
Muzakkirat Da'wah wa Da'iyah Lil Imam al Syahid Hasan (Memoar Hasan Al
Banna), hal. 272

357
Ikhwanul Muslimin bukanlah partai politik yang mendukung dan menolak
pemerintah sesuai dengan maslahat dan kepentingan partainya atau sesuai
dengan ambisi pribadi, namun Ikhwanul Muslimin merupakan dakwah Islam
yang menjadikan Allah sebagai tujuannya dan Nabi Muhammad Saw. sebagai
qudwahnya, dan menjadikan Al Quran sebagai undang-undangnya, yang
memiliki program yang jelas dan terperinci, jelas arahnya, yang mengarah
kepada pembaharuan Islam, dan menshibghah masyarakat Mesir dengan
shibghah Islam, serta menebarkan ajaran-ajaran Islam di seluruh aspek
kehidupannya, baik syariat, sosial, politik dan ekonomi. Ia juga bertujuan
untuk membebaskan setiap jengkal tanah yang selalu terulang kalimat La
Ilaha Illallaah, wa Muhammad rasulullah (Tiada tuhan selain Allah, dan Nabi
Muhammad adalah rasulullah). Yang terakhir yaitu menebarkan Islam,
meninggikan panji Al Quran di setiap tempat hingga tidak ada lagi fitnah, dan
agama sepenuhnya adalah milik Allah."453

Jadi sikap kami terhadap parlemen Ali Mahir Basya adalah sama
halnya sikap kami terhadap parlemen atau pemerintahan yang lain, sikap
lama yang tidak akan berubah dengan pergantian parlemen dan tidak
berubah dengan pergantian menteri. Barang siapa yang mendukung fikrah
Islam, bekerja untuknya dan komitmen di atas nilai-nilainya di dalam diri dan
di rumahnya serta berpegang teguh terhadap Al Quran di dalam kehidupan
pribadi dan sosialnya, maka kami juga akan mendukung dan mendorongnya.
Namun barangsiapa yang menentang dakwah Islam, tidak bekerja untuknya
dan justru menghadang jalannya atau berupaya melumpuhkannya, maka
kami akan menjadi musuh baginya, dan di dalam dua kondisi tersebut, kami
membenci dan mencintai semata-mata karena Allah. Dan seyogyanya
seorang muslim berprasangka baik terhadap saudaranya, dan tidak ada yang
menghalangi kami untuk berprasangka baik terhadap pemerintahan Mahir Ali
Basya dan menteri-menterinya, namun sebagaimana kami diajarkan oleh
pengalaman untuk tidak percaya begitu saja dengan janji dan ucapan, dan
kami tidak akan menetapkan sikap dan mengeluarkan keputusan kecuali
terhadap pekerjaan, bukan perkataan."454

453
Ibid, hal. 292
454
Ibid, hal. 292, 293

358
Imam Syahid juga berkata, "Sikap kami terhadap seluruh organisasi
adalah, kami menginginkan kebaikan untuknya dan kami selalu memberikan
maaf kepadanya, kami tidak menuntut dan tidak menolak."

   


  
  

  
   
   
  
    
   
Artinya:
"Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan
"salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu
membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia,
Karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah keadaan kamu
dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S An
Nisa: 94)

• Asas Pendirian Negara


Imam Syahid menjelaskan tentang dasar yang menjadi pijakan
berdirinya Negara dan pemerintahan dalam Islam. Beliau berkata, "Sungguh
indah kata-kata Imam al Ghazali –semoga Allah meridhainya-, ketauhilah
bahwa sesungguhnya syariah adalah pondasi, dan raja adalah pengawalnya,
sesuatu yang tidak memiliki pondasi maka ia akan hancur, sesuatu yang
tidak memiliki pengawal maka akan hilang.

359
Daulah Islamiyah tidak akan tegak kecuali bertumpu di atas pondasi
dakwah; sehingga ia menjadi sebuah pemerintahan yang mengusung suatu
misi (risalah Islam), bukan sekedar bagan struktural, dan bukan pula
pemerintah yang materialistis, kaku dan gersang tanpa ruh di dalamnya.
Demikian pula dakwah tidak mungkin tegak kecuali ada jaminan
perlindungan; yang akan menjaganya, menyebarkan dan
mengokohkannya."455

Beliau juga berkata, "Islam bukanlah slogan dan julukan semata,


selama kaidah-kaidah pokok di atas tadi bisa diwujudkan (dimana tidak
mungkin suatu hukum akan tegak tanpanya) dan diterapkan secara tepat
sehingga dapat menjaga keseimbangan dalam berbagai situasinya (yang
masing-masing bagian tidak mendominasi bagian yang lain). Keseimbangan
ini tidak mungkin bisa dipelihara tanpa adanya nurani yang selalu terjaga
dan perasaan yang tulus akan kesakralan ajaran ini. Dengan memelihara dan
menjaganya akan tergapailah keberuntungan di dunia dan keselamatan di
akhirat.

Inilah yang dalam istilah politik modern kita kenal sebagai kesadaran
politik, atau kematangan politik, atau pendidikan politik, atau istilah-istilah
sejenis yang semua itu bermuara pada satu hakikat; keyakinan akan
kelayakan sistem dan rasa kepedulian untuk menjaganya. Teks-teks ajaran
saja tidaklah cukup untuk membangkitkan umat. Demikian juga, sebuah
undang-undang tak akan berguna jika tidak ada seorang hakim –yang adil
dan bersih- yang memelopori penerapannya."456

• Adab-adab Ikhwanul Muslimin dalam Melakukan konfrontasi


Politik:
Jamaah Ikhwanul Muslimin sangat menjaga dan memperhatikan –
dengan tetap memberikan nasehat dan perlawanan terhadap segala sesuatu
yang bertentangan dan keluar dari ajaran Islam- adab-adab Islami ketika
berhadapan dan berbicara dengan para pemimpin dan pembesar
455
Risalah: Nizhamul Hukm (Sistem Islam)
456
Ibid. hal. 319

360
pemerintahan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Syahid,
"Demikianlah kami mengajak manusia, sebagai bukti kepada Allah bahwa
dakwah telah sampai kepada mereka, dan mengarahkan mereka menuju
kebaikan dan kebenaran.457

Gerakan politik dan sikap-sikap reformis Ikhwanul Muslimin di dalam


masyarakat tidak berlandaskan kepada perlawanan dan penentangan kepada
pemerintah semata, namun metode dan manhajnya lembut dan santun serta
bijak dengan adab-adab Islam, memberikan nasehat dan berupaya untuk
tidak menyebabkan perpecahan dan menyulut perseteruan, karena yang
akan mengalami kerugian dalam hal ini adalah rakyat dan mayarakat.

Jamaah Ikhwanul Muslimin sangat menjaga kemaslahatan Negara


dalam banyak sikap dan prinsip-prinsipnya, karena hal itu merupakan bagian
dari kemaslahatan Islam, yang lebih diutamakan dari kemaslahatan dan
kepentingannya pribadi.

Ikhwanul Muslimin sangat istimewa dengan sikapnya yang menjaga


persatuan nasional dan perdamaian dalam negeri, menutup seluruh pintu-
pintu fitnah, menjaga kedamaian dan ketenangan kondisi politik serta
terciptanya iklim kebebasan; karena goncangan dan fitnah akan
menimbulkan pengaruh negatif terhadap masyarakat dan melemahkan
persatuannya, serta akan berimplikasi buruk terhadap penyebaran dakwah
dan kemajuannya.

Kebebasan dan kemerdekaan negeri merupakan salah satu target


utama yang selalu diusung dan diperjuangkan oleh Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul Muslimin bekerja secara independen dan terlepas dari segala


kekuatan yang mempengaruhinya, sekuat apapun beban dan tekanan yang
mereka dapatkan. Tujuan mereka adalah Allah, dan mereka tidak akan
bekerja selain untuk dakwah yang mereka bawa.

457
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 217 lihat surat Imam Syahid
kepada Nuhas Basya dan Raja Fuad.

361
Imam Syahid berkata, "Bukan sepenuhnya salah jika sebagian orang
menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin pada suatu masa dari fase-fase
dakwahnya tempat mengikuti arus pemerintahan yang ada, atau
mewujudkan tujuan yang bukan tujuannya dan bekerja untuk manhaj yang
bukan manhajnya. Hendaklah hal itu diketahui oleh siapa saja yang belum
mengetahui, baik dari Ikhwan maupun dari yang lain."458

"Hari dimana Ikhwanul Muslimin menjadi tempat mewujudkan tujuan


orang lain, atau menjadi alat suatu manhaj yang bukan manhajnya, tidak
akan pernah terjadi."459

Ikhwanul Muslimin tidak bisa digiring dengan kesenangan atau


ancaman. Mereka tidak takut pada siapun kecuali kepada Allah. Mereka tidak
tergiur dengan tahta dan kedudukan, tidak mengedepankan kepentingan
pribadi dan duniawi, dan jiwa mereka tidak tergantung pada kesenangan
dunia yang fana ini. Mereka menghendaki keridhaan Allah dan pahala-Nya di
akhirat. Setiap langkah mereka mencerminkan firman Allah:


    
   

Artinya:
"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya Aku
seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (Q.S Az Zariyat:
50)

Mereka meninggalkan berbagai pamrih dan ambisi menuju satu tujuan


yaitu keridhaan Allah Swt.

"Mereka tidak disibukkan oleh manhaj yang bukan manhaj mereka,


tidak memperjuangkan dakwah yang bukan dakwah mereka, tidak

458
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 191
459
Risalah: Mu'tamar Sadis (Muktamar ke VI), hal. 216

362
tershibghah dengan warna selain Islam, kami berlindung kepada Allah di
suatu masa menjadi kelompok yang menyerukan selain Al Quran dan ajaran
Islam."460

"Sampai sekarang wahai Ikhwanul Muslimin, Maktab Al Irsyad tidak


pernah mendapatkan perhatian apapun dari pemerintah, dan dan hal inilah
yang kami harapkan, kami tidak menerima siapun kecuali anggota atau
simpatisan Ikhwan, sedikitpun kami tidak bergantung kepada pemerintah,
dan janganlah kalian menjadikan hal itu bagian dari target dan manhaj
kalian, jangan melihatnya, jangan bekerja untuknya dan mintalah keutamaan
dan kemurahan kepada Allah."461

• Karakteristik Pemerintah Islam yang dicita-citakan

Pemerintah Islam bukan hanya slogan dan julukan semata, namun ia


memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang harus dipenuhi, yang berdiri di atas
basis dan rukun-rukun yang harus terpenuhi pula, baik bagi yang
menjalankannya maupun manhaj dan metode yang akan digunakan.

Imam Syahid menggambarkan pemerintah Islam yang dicita-citakan


oleh dakwah adalah:

"Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah


Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkakn perannya sebagai
pelayan umat dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka.
Pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum
muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak terang-
terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum-hukum
serta ajaran Islam.

460
Ibid, hal. 213
461
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal. 187

363
Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab,
kasih saying kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak
terhadap kekayaan Negara, dan ekonomis dalam penggunaannya.

Beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: menjaga


keamanan, menerapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran,
mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan
umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan
mentalitas, serta menyebarkan dakwah.
Beberapa haknya –tentu, jika telah ditunaikan kewajibannya- antara
lain loyalitas dan ketaatan, serta pertolongan terhadap jiwa dan hartanya.

Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasehat


dan bimbingan, lalu –jika tidak ada perubahan- bisa diterapkan pemecatan
dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada khaliq.

Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang nonmuslim –jika


keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi dan jabatan strategis. Tidak
terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, selama sesuai
dengan kaidah umum dalam sistem undang-undang Islam462, maka hal itu
dibolehkan, sebagaimana para ulama juga membolehkan pelimpahan
beberapa jabatan di lembaga eksekutif.

Imam Syahid juga berkata, "Setelah itu kami juga meninginkan


pemerintah yang bisa membimbing masyarakat menuju mesjid, dan
mengajak manusia menuju petunjuk Islam, sebagai para sahabat Rasulullah
Saw. membawa masyarakatnya, seperti Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin
Khattab."463

"Dan hendaknya daulah Islamiyah bisa ditegakkan di Negara merdeka


ini, yang menerapkan undang-undang Islam dan menerapkan aturan-

462
Risalah: Ta'alim (Risalah Ta'alim)
463
Risalah: Ila al Syabab (Kepada Para Pemuda), hal. 101

364
aturannya, mendeklarasikank prinsip-prinsipnya yang mulia, dan
menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan penuh hikmah."464

"Dan hendaknya pemerintah ini melanjutkan manhaj dakwah dan


mentarbiyah masyarakat dengan nilai-nilai Islam, dan melanjutkan perbaikan
individu dan rumah tangga di masyarakat dalam pelbagai aspeknya,
menyempurnakan kemandiriannya dalam pelbagai urusan kehidupan,
mewujudkan kemajuan ilmu, membangun kekuatan diri, dan
mempersiapkannya untuk memikul risalah dakwah Islam dan tujuan-
tujuannya yang mulia di seluruh alam.

Beliau juga berkata, "Daulah Islamiyah tidak akan tegak kecuali


bertumpu di atas pondasi dakwah; sehingga ia menjadi sebuah
pemerintahan yang mengusung suatu misi (risalah Islam), bukan sekedar
bagan struktural, dan bukan pula pemerintah yang materialistis, kaku dan
gersang tanpa ruh di dalamnya. Demikian pula dakwah tidak mungkin tegak
kecuali ada jaminan perlindungan; yang akan menjaganya, menyebarkan
dan mengokohkannya."465

Tentang peran pemerintah Islam dalam skala internasional, Imam


Syahid berkata, "Kami berharap Mesir bisa menjadi Negara muslim yang
mendukung setiap upaya dakwah Islamiyah, menyatukan seluruh potensi
bangsa Arab, berjuang untuk kebaikan mereka, melindungi kaum muslimin di
seluruh penjuru bumi dari segala bentuk permusuhan, dan menebarkan
kalimat Allah serta menyampaikan risalah-Nya, sehingga tidak ada lagi fitnah
dan agama semuanya milik Allah."466

• Tiang-tiang Penyangga Sistem pemerintahan Islam dan


undang-undang konstitusi:

464
Risalah: Baina l-Amsi wal Yaum (Antara Kemaren dan Hari ini), hal. 160
465
Risalah: Musykilatuna Fi Dhau'I al Nizham al Islamy (Agenda Persoalan Kita
dalam kacamata sistem Islam)
466
Risalah Pergerakan, Dakwah Kami di zaman baru, hal. 232

365
Imam Syahid menyebutkan bahwa terdapat tiga pilar utama yang
merupakan kerangka pokok sistem pemerintahan Islam, yaitu;
- Rasa tanggung jawab pemerintah
- Kesatuan masyarakat
- Sikap menghargai aspirasi rakyat

Imam Syahid menjelaskan tentang kewajiban representasi umat dan


keikutsertaan mereka dalam membina pemerintah secara benar dan
keberadaan Majelis Permusyawaran (yang terdiri dari ahlul halli wal 'aqd).
Beliau berkata, "Umat Islam adalah umat yang satu, karena ukhuwah –yang
dengannya Islam telah mempersatukan hati mereka- adalah salah satu
landasan iman. Tidak ada kesempurnaan iman kecuali dengan ukhuwah, dan
tidak akan terealisir iman kecuali dengan menegakkannya. Namun hal itu
tidak berarti menghalangi kebebasan menyatakan pendapat dan
menyampaikan nasehat dari yang kecil kepada yang besar, atau dari yang
besar kepada yang kecil.

Di kalangan umat Islam tidak terdapat perbedaan dan persoalan-


persoalan prinsip-prinsip antara satu dengan yang lain, karena sistem sosial
yang mereka yakini adalah satu, yakni al Islam yang telah dikenal luas oleh
mereka. Sementara itu, perbedaan dalam hal furu' (cabang) tidaklah
membahayakan; tidak akan menyebabkan kebencian, permusuhan, dan
fanatisme golongan. Apa yang sudah ada nashnya tidak perlu dilakukan
ijtihad terhadapnya."467

Ikhwanul Muslimin juga mendukung pemerintah yang menggunakan


perangkat undang-undang konstitusi yang bersumber dari undang-undang
Islam yang kekal; Al Quran dan sunnah Rasulullah Saw. dan mampu
mewujudkan musyawarah (syuro) Islam.

467
Risalah: Nizhamul Hukm (Sistem Islam), hal. 318, 319

366
Mereka menganggap bahwa undang-undang konsitusi yang dikenal di
dunia sekarang merupakan undang-undang yang sangat dekat dengan
prinsip-prinsip pemerintah Islam dan nilai-nilainya yang mulia.

Ikhwanul Muslimin tidak merelakan jika Islam dan prinsip-prinsip


pemerintah Islam diganti dengan yang lain, namun mereka tetap mengambil
manfaat dan segala sesuatu yang berguna dari undang-undang yang ada
selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Islam.

Imam Syahid menjelaskan tentang Fiqih Islam, "Ia sangat luas dan
fleksibel yang mencakup pelbagai bentuk dan ragam konsitusi dalam
aktivitas politik."468

Imam Syahid berkata, "Prinsip-prinsip UUD Mesir bermuara para


perlindungan terhadap kebebasan individu dengan segala variasinya, pada
musyawarah dan ketundukan penguasa pada kehendak rakyat, pada
tanggung jawab pemerintah kepada rakyat dan control mereka kepada
program yang dijalankan, dan pada penjelasan akan batasan-batasan
kekuasaan, dan semua ini sangat relevan dengan ajaran Islam dalam format
undang-undang.

Oleh karenanya Ikhwanul Muslimin berkeyakinan bahwa sistem UUD


Mesir ini adalah sistem yang paling dekat dengan Islam disbanding dengan
sistem UUD yang manapun di dunia ini. Mereka tak hendak mengganti
dengan sistem lain.469

Masalah ini –UUD- membutuhkan ketelitian dan penjelasan terhadap


teks-teksnya yang memungkinkan adanya interpretasi yang beragam,
begitupula pola penerapannyan secara praktis. Oleh karena itu, Ikhwanul
Muslimin bekerja keras dalam rangka memberi kejelasan pengertian teks-

468
Ibid
469
Risalah: Al Mu'tamar al Khamis (Muktamar Ke V), hal 138

367
teks yang rancu dalam UUD Mesir dan memperbaiki metode yang digunakan
untuk menerapkannya dalam negeri.470

"Kami menerima prinsip-prinsip yang ada pada UUD tersebut karena


ternyata sesuai dengan Islam dan bahkan bersumber darinya, sementara
yang kita kritisi selama ini adalah kerancuan teks dan pola penerapannya."471

Imam Syahid menegaskan tentang kebebasan menyampaikan


pemikiran dan mendirikan organisasi, lembaga dan partai politik serta
menyampaikan nasehat dan menuntut perbaikan kepada pemerintah. Beliau
menganggap perbedaan merupakan hal yang lumrah, walaupun begitu ia
menolak perseteruan, permusuhan dan konflik partai yang dapat
menghancurkan persatuan umat dan menjadikannya seperti kelompok-
kelompok yang saling bermusuhan, ia menamakannya sebagai partai politik
yang buta.

Imam Syahid berkata, "Sebagaimana yang diyakini oleh Imam Syahid


bahwa terdapat perbedaan antara kebebasan berpendapat, pemikiran, syuro
dan nasehat –yang merupakan kewajiban dalam Islam- dengan ta'ashshub
terhadap pemikiran tertentu atau keluar dari jamaah serta melakukan hal-hal
yang semakin memperluas jurang perbedaan antar umat."472

Dalam risalah Ikhwanul Muslimin (maret 1994 M) –yang berpegang


terhadap syuro dan multipartai- juga dijelaskan, Yang dilarang adalah
pertentangan yang mengarah kepada kegagalan dan kelemahan, adapun
perbedaan pandangan yang merupakan bentuk kesempurnaan dan
keberagaman cara pandang sangat dibutuhkan dalam mengungkap
kebenaran dan sampai kepada sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat,
terutama jika bisa disandingkan dengan semangat saling toleransi dan
keluasan perspektif, serta jauh dari sikap fanatik dan sempitnya pandangan.

470
Ibid
471
Ibid
472
Ibid, hal. 146

368
Oleh karena itu, kami meyakini keberagaman partai di tengah
masyarakat muslim, dan tentang tidak perlu adanya pembatasan dari
pemerintah terkait dengan kegiatan dan aktivitas kelompok dan partai
politik. Pemerintah sebaiknya membiarkan masing-masing partai untuk
bergerak dan menyerukan dan menjelaskan proyeknya masing-masing,
selama manhaj Islam tetap menjadi aturan yang tertinggi. Undang-undang
yang dijalankan seyogyanya dijalankan oleh hakim yang independen,
terlindungi dan jauh dari pengaruh penguasa atau pihak manapun, serta
teruji secara pemikiran, ilmu, fiqih dan wawasan, karena hal itu akan menjadi
jaminan terhadap keselamatan masyarakat dan keistiqamahannya di atas
jalan yang benar, kemudian menggunakan prosedur syar'I yang sesuai
terhadap siapa saja yang keluar dari prinsip-prinsip dasar yang tidak ada
perbedaan antara para ulama dan ahli fiqih, yang notabenenya merupakan
pilar-pilar penopang masyarakat.473

Ikhwanul Muslimin menegaskan dalam pandangan dan manhaj mereka


tentang urgensi terpenuhinya kebebasan masing-masing anggota
masyarakat, perlindungannya, serta persamaan hak di antara seluruh
anggota masyarakat.

Hak ini –pendirian partai, lembaga, dan club-club serta pengumuman


kepada khalayak dan dakwah kepadanya- dijamin untuk setiap penduduk
negeri dan untuk setiap kelompok, baik muslim maupun nonmuslim, laki-laki
dan wanita tanpa ada perbedaan.

Di dalam sirah Rasulullah Saw. dan khulafaur Rasyidin terdapat banyak


keterangan yang menguatkan keterangan ini, dan itu merupakan hak utama
yang dimiliki oleh setiap individu masyarakat.

Masyarakat juga seyogyanya harus dibina untuk menjaga dan


memelihara haknya serta berjuang untuk mendapatkan dan
menyempurnakan kekurangannya, dan ini merupakan jaminan utama;

473
Pandangan Ikhwan tentang multipartai dan wanita, Pusat Studi Islam, hal. 38,
39

369
sehingga tidak ada penguasa yang menyimpang atau merampas hak ini
darinya dengan hujjah apapun, atau dengan slogan apapun. Pengawasan
umat terhadap para pemimpin merupakan hal utama di dalam manhaj Islam
dalam pemerintahan.

Ikhwanul Muslimin menggunakan syuro sebagai asas dalam


pemerintahan, ia merupakan sebuah kemestian bagi seorang kepala
pemerintahan sedangkan umat merupakan sumber kekuatan pelaksanaan
Negara. Diantara kewajiban umat adalah mengawasi kepala pemerintahan
dan memberikan catatan padanya.

Imam Syahid berkata, "Diantara hak umat Islam adalah melakukan


kontrol terhadap pemerintah denga secermat-cermatnya dan menasehatinya
jika dirasa hal ini membawa kebaikan. Sedangkan pemerintah hendaknya
bermusyawarah dengan rakyat dengan rakyat dan menghargai
aspirasinya."474

Beliau juga berkata, "Pemerintah dalam menjalankan tugasnya


bertanggung jawab kepada Allah dan rakyatnya. Pemerintah adalah pelayan
dan pekerja, sedangkan rakyat adalah tuannya."475

Disebutkan di dalam risalah Ikhwanul Muslimin, "Perintahkanlah kaum


muslimin untuk bermusyawarah di antara mereka, dan mereka melakukan
muyawarah dalan setiap urusan mereka yang umum dan yang khusus demi
mewujudkan keadilan dan melaksanakan hukum Allah serta kemaslahatan
manusia, hingga tidak terjadi kehancuran individu atau kelompok dari
masyarakat dengan melakukan sesuatu yang melibatkan khalayak ramai,
dan memberikan implikasi buruk terhadap kemaslahatan umum dari
masyarakat muslimi.

Maknanya adalah bahwa umat adalah sumber kekuasaan, merekalah


yang memberikan amanah kepemimpinan kepada siapa saja yang mereka

474
Risalah: Nizhamul Hukm (Sistem Islam), hal. 319
475
Ibid. hal. 318

370
yakini agama dan amanahnya, pengalaman, ilmu, potensi dan
kemampuannya, yaitu apa-apa yang telah ditentukan berupa pekerjaan yang
harus dilaksanakan dengan penuh keadilan, ihsan dan insaf.476

Tidak boleh ada kepala Negara yang mengklaim ishmah (terjaga dari
kesalahan) dan terlepas dari kemungkinan-kemungkinan keliru, "Diantara
kewajiban setiap individu muslim adalah meluruskan jika kepala Negara
melakukan kesalahan, bahkan meluruskan penyimpangan-penyimpangannya
walaupun harus menggunakan pedang sekalipun. Batas ketaatan rakyat
kepada pemimpin adalah selama perintahnya bukan maksiat kepada Allah
dan Rasul-Nya, namun justru dalam rangka melaksanakan hukum Allah dan
syariat Islam, atau untuk kemaslahatan manusia pada sesuatu yang
diperbolehkan477, semua ini harus berada dalam koridor dan batasan yang
telah ditetapkan syariat.

Penugasan yang diberikan umat Islam dijalankan hukumnya dan


dibatasi oleh syariat Allah, "Umat Islam melakukan ibadah hanya kepada
Allah semata, menyucikan hukum-hukum Al Quran dan sunah Rasulullah
yang mulia, meyakini bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan selain apa
yang telah diturunkan Allah kepada mereka, yaitu sesuai dengan kandungan
dan tuntunan syariat Islam. Dengan demikian, maka umat Islam tidak berhak
memberikan tugas kepemimpinan suatu urusan kecuali terhadap sesuatu
yang telah ditetapkan oleh syariat, karena ia tidak boleh mendelegasikan
sesuatu terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya dan bukan haknya. Jika ia
memilih seorang wali untuk menjalankan keperluannya, maka seluruh urusan
harus diluruskan sesuai dengan muatan dan tuntunan hukum-hukum agama,
karena sesungguhnya agama adalah pondasi, dan penguasa adalah
pengawalnya, sesuatu yang tidak memiliki pondasi maka ia akan hancur,
sesuatu yang tidak memiliki pengawal maka akan hilang.478

476
Syuro dan multipartai, hal. 31
477
Ibid, hal. 33
478
Pandangan Ikhwanul Muslimin tentang Syuro, mulitipartai dan wanita, Pusat
Studi Islam, hal. 34

371
Dengan demikian keseimbangan syariat Islam yang terpancar dari
nilai-nilai ajaran Al Quran dan sunnah Rasulullah merupakan konstitusi
tertinggi dalam pemerintahan Islam. Oleh karena itu, kami meyakini bahwa
umat harus memiliki undang-undang tertulis yang sesuai dengan prinsip-
prinsip dan tujuan syariat Islam.

Undang-undang Islami inilah yang kemudian memberikan legalitas dan


alasan atas setiap sistem pemerintahan atau politik apapun, yang tidak
menerima pembangkangan terhadap syariat Islam dan prinsip-prinsipnya,
walaupun itu adalah sesuatu yang tersebar di kalangan manusia.

Dalam kerangka undang-undang Islam, harus terwujud keseimbangan


antara kekhususan (wilayah kerja) di pelbagai lembaga yang dikelola oleh
Negara, sehingga masing-masing lembaga itu tidak berbuat lalim satu sama
lain.

Sebagaimana undang-undang Islam juga harus memuat prinsip-prinsip


dan hukum-hukum yang memelihara dan menjaga kebebasan umum dan
khusus setiap individu masyarakat, baik muslim maupun non muslim,
menjadikan pemerintah adalah permusyawaratan yang berlandaskan
pemerintahan rakyat, yang membatasi dan menentukan tanggung jawab
kepala Negara di hadapan rakyat serta metode evaluasi, pelurusan dan
pembenaran kebengkokan mereka dengan cara yang baik dan sukses,
bahkan mengganti mereka jika hal itu diperlukan.

Hal ini tentunya membutuhkan keberadaan sebuah majelis perwakilan


yang memiliki kekuatan legislatif dan pengawasan, yang merepresentasikan
keinginan dan aspirasi rakyat melalui pemilihan umum yang bebas dan
bersih, yang memiliki keputusan yang mengikat dan harus dilaksanakan.
Sebagaimana kami melihat bahwa kepala Negara (presiden) tiada lain adalah
wakil rakyat, maka kepemimpinan Negara harus dibatasi dalam batas waktu
tertentu, yang tidak boleh diperbaharui kecuali untuk waktu yang terbatas;
hal ini untuk menjamin tidak terjadinya kelaliman pemerintah.479
479
Ibid, hal. 36, 37

372
Imam Syahid menyebutkan bahwa penghargaan terhadap aspirasi
rakyat serta kewajiban mengikutsertakan mereka dalam pemerintahan
dengan optimal dan benar merupakan bagian dari rukun sistem
pemerintahan Islam. Beliau menyebutkan, "Terdapat dua cara untuk
melakukan hal ini, yang pertama melakukan jaring aspirasi setiap individu
masyarakat dalam setiap permasalahan, ini yang dikenal dalam istilah
perpolitikan modern sebagai referendum. Yang kedua, yaitu melalui ahlul
Halli wal 'aqdi. Yang jelas dari pendapat para ahli fiqih, kita tahu bahwa orang
yang memungkinkan untuk menjadi ahlul halli wal 'aqdi itu ada pada tiga
golongan di bawah ini:
1. Para ahli fiqih yang mujtahid, dimana pendapat-pendapat mereka
dalam fatwa dan istinbath hukum diperhitungkan umat.
2. Para pakar dalam masalah-masalah yang bersifat integral
3. Mereka yang mempunyai posisi kepemimpinan di tengah masyarakat,
seperti tetua suku, tokoh masyarakat, dan pemimpin organisasi.

Mereka inilah yang boleh dimasukkan dalam kelompok Ahlul Halli wal
'aqdi.480

Kemudian juga termasuk bagian dari mereka adalah masyarakat yang


memilih mereka untuk berperan sebagai wakil dan mengawasi jalannya
pemerintah eksekutif, dan Islam menyerahkan kepada umat untuk memilih
bentuk dan sarana yang bisa merepresentasikan kelompok-kelompok ini.

Imam Syahid berkata, "Sistem parlemen modern telah melapangkan


jalan kea rah pembentukan ahlul halli wal 'aqdi dengan sistem pemilu
(dengan segala variasinya) yang telah dirumuskan oleh pakar hukum.
Sesungguhnya, Islam tidak menolak sistem ini, selama benar-benar
mengarah kepada pemilihan ahlul Halli wal 'aqdi."481

480
Risalah: Nizhamul Hukm (Sistem Islam), hal. 328
481
Ibid

373
Sistem Islam dalam hal ini bukanlah slogan dan julukan semata,
selama kaidah-kaidah pokok di atas bisa diwujudkan (dimana tidak mungkin
suatu hukum akan tegak tanpanya) dan diterapkan secara tepat sehingga
dapat menjaga keseimbangan dalam berbagai situasinya (yang masing-
masing tidak mendominasi bagian yang lain).482

Begitupula dengan peran dan posisi wanita di parlemen.

Imam Syahid meyakini tentang urgensitas pengaturan pemilu dan


peletakan beberapa aturan yang menjamin kesehatan dan kebersihan
jalannya pemilu untuk merepresentasikan aspirasi rakyat; hingga kondisinya
tidak berubah menjadi realitas yang serba palsu karena banyaknya politikus
yang bermain dan membohongi masyarakat.

Imam Syahid juga menegaskan tentang urgensi metode


penerapannya, tidak terpaku pada teks-teks peraturan secara kaku,
menetapkan hukum dengan hal-hal mendasar dan prinsipil dengan pelbagai
perubahan bentuk dan model. Dan keseimbangan ini tidak mungkin bisa
dijaga kecuali dengan nurani yang senantiasa hidup, dan kepekaan perasaan
terhadap kesucian nilai-nilai ajaran ini.

Imam Syahid sangat memperhatikan pembinaan kesadaran politik dan


kematangan politik umat, sehingga ia benar-benar sampai pada derajat
kekuatan dan kesadaran yang tinggi. Beliau berkata, "Inilah yang dalam
istilah politik modern kita kenal sebagai kesadaran politik, atau kematangan
politik, atau pendidikan politik, atau istilah-istilah sejenis yang semua itu
bermuara pada satu hakikat; keyakinan akan kelayakan sistem dan rasa
kepedulian untuk menjaganya."483

Ikhwanul Muslimin tidak membatasi pemerintah hanya pada


kelompoknya, dan tidak memonopoli hanya untuk dirinya. Ikhwan berupaya
mendirikan sebuah pemerintah Islam yang sesuai dengan karakteristik dan

482
Ibid, hal. 319
483
Ibid.

374
sifat-sifat yang ditetapkan oleh syariat. Mereka bersama masyarakat adalah
pengawal dan pemberi nasehat kepada para pemimpin. Rakyat bebas
memilih siapa saja yang mereka ridhai untuk menjadi pemimpin sesuai
dengan manhaj Islam dan syariatnya demi mewujudkan peran umat Islam,
bukan sesuai dengan hawa nafsu dan ambisi serta keluar dari syariat Allah.
Barang siapa yang keluar darinya maka telah keluar dari manhaj Islam dan
undang-undang Negara.

Sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan koridor-koridornya yang


berlaku, Ikhwanul Muslimin menerima pergantian kepemimpinan Negara
antara kelompok dan partai politik, yaitu melalui pemilu secara regular 484,
selama hal itu sesuai dan tidak melanggar hukum-hukum Islam dan
syariatnya, serta tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar dan tujuannya.

Diantara manhaj Ikhwanul Muslimin adalah, selalu menjaga untuk tidak


sendiri memikirkan problem umat yang besar dan kemaslahatan Negara, ia
justru berupaya untuk mengikutsertakan orang lain dari masyarakat. Ia
mengajak dan melakukan perjanjian dengan pelbagai simpul kekuatan
Negara dan aliran yang beraneka ragam untuk mewujudkan dan menerapkan
apa yang diinginkan oleh masyarakat. Seperti yang terjadi pada tahun 1948
M, dimana Ikhwanul Muslimin mengajak untuk mendirikan kesepakatan
nasional untuk menghadapi penjajahan Inggris terhadap Mesir, begitupula
dalam memberikan bantuan dan dukungan terhadap permasalahan Palestina
dan menghadapi penjajahan Yahudi di buminya. Dan hal ini terjadi pada abad
modern ini secara berulang-ulang.

Ikhwanul Muslimin melihat nilai positif terhadap meluasnya wilayah


kerjasama dan kesepakatan antara aliran dan kelompok-kelompok yang
beraneka ragam –terlepas dari perbedaan-perbedaan yang terjadi- demi
mewujudkan kemaslahatan Negara dan umat, bukan untuk kepentingan
segmen tertentu. Dan hal ini membuktikan kadar keluasan tingkat toleransi

484
Pandangan Ikhwanul Muslimin tentang Syuro, mulitipartai dan wanita, Pusat
Studi Islam, hal. 39

375
Ikhwanul Muslimin terhadap orang lain dan upaya mereka untuk menjaga
persatuan umat dan keutuhan bangsa.

• Gambaran Sistem Politik Islam

Fiqih Islam menjadikan pembagian kekuasaan Negara menjadi 4


(empat) kekuasaan, yaitu: Kekuasaan legislative (pembuat undang-undang),
kekuasan pengawasan, kekuasan eksekutif, dan kekuasaan yudikatif
(peradilan). Hal ini sesuai dengan gambaran para ulama tentang Ahlul halli
wal 'aqdi, dengan keberagaman bentuk dan wilayahnya.

Dengan demikian, terdapat sekat yang jelas antara pemerintah


legislatif dan pemerintah eksekutif.

Seorang pemikir muslim, Dr. Muhammad Imarah menyebutkan tentang


perbedaan ini di dalam manhaj permusyawaratan Islam. Beliau berkata,
"Perbedaan antara kekuasaan hasil ijtihad fiqih dalam sistem syuro Islam
dengan kekuasaan pengawasan, kekuasaan eksekutif, kekuasaan peradilan,
yang menjadikan kekuasan di dalam sistem pemerintahan Islam menjadi tiga
wilayah, sebagai ganti dari tiga kawasan, yaitu dengan menjadikan
kekuasaan legislatif di atas Negara; hal ini karena hak legalitas dalam
membuat undang-undang. Hal ini yang kemudian dapat membebaskan
undang-undang dari rezim pemerintahan dan nafsu manusia, dan di atas itu
semua, sistem pemerintahan ini mampu mewujudkan sekat yang jelas antara
wilayah kekuasan dalam pemerintahan.

Adapun independensi kekuasaan yang khusus menangani ijtihad dan


perundang-undangan dengan tetap komitmen terhadap hak legislatif, maka
hal itu adalah yang paling dekat untuk mewujudkan batas yang menyekat
antara wilayah kekuasaan dalam pemerintahan, dan lebih optimal dalam
meningkatkan supremasi hukum terhadap wilayah-wilayah kekuasaan yang
lain.485

485
Diantara tulisan Dr. Muhammad Imarah yang dipublikasikan oleh Koran Al Akhbar
tentang Konsep Syuro dalam Islam, tahun 2004 M.

376
Pembahasan ini merupakan masalah ijtihad fiqih