KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 30 Juni 1992 Nomor : MA/Kumdil/82/VI/K/1992

Kepada Yth. Sdr . 1. Ketua Tinggi . 2. Ketua Negeri . di – Seluruh Indonesia SURAT EDARAN Nomor : 2 Tahun 1992 Tentang PETUNJUK BINDALMIN KEPANITERAAN PENGADILAN LINGKUNGAN PERADIALAN UMUM MENGENAI KEWARGANEGARAAN DAN PEWARGANEGARAN RI. Mununjuk Keputusan Ketua Mahkamah Agung – tanggal 18 RI, Maret 1988 Nomor : KMA/012/SK/III/1988 tentang Pola Pembinaan dan Pengendalian Administrasi Kepaniteraan Pengadilan lingkungan Peradilan Umum, antara lain telah mengatur pula buku-buku register permohonan Kewarganegaraan Indonesia, register permohonan suratsurat bukti Kewarganegaraan RI., register permohonan mengikuti suami Kewarganegaraan Indonesia (ex pasal 7 ayat (1) Undangundang No. 62 Tahun 1958), maka setelah meneliti tentang penanganan permohonan-permohonan RI. Serta Kewarganrgaraan dan dan Pewarganegaraan pengelolahan pemeliharaan Pengadilan Pengadilan

administrasi, maupun fungsi-fungsi pengawasan dan pelaporan yang

b. Dalam Kewarganegaran Indonesia” dan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1980. 3. Sudah berumur 21 tahun. Pengadilan Negeri harus benar-benar bepegang pada ketentuan Undang-undang. khususnya pasal 5 mengenai syarat-syarat antara lain : a. ternyata belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. menyelesaikan permohonan Kewarganegaraan Indonesia. Nomor : KMA/012/SK/III/1988. Bagi Ketua Pengadilan Negeri : Ketua pengadilan Negeri yang akan melakukan pencatatan urusanurusan Kewarganegaraan dan Pewarganegaraan Indonesia diwajibkan melaksanakan hal-hal tersebut di bawah ini : 1.” Beserta semua peraturan pelaksanaannya. antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1958. . Menyelenggarakan register administrasi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI. atau pada waktu mengajukan permohonan bertempat tinggal dalam daerah itu selama sedikit-dikitnya 5 tahun berturut-turut mengajukan permohonan Kewarganegaraan. 6 dan 7. Mempelajari dengan sungguh-sungguh Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1980 tentang “ Tatacara penyelesaian Permohonan 4. 2. untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan. Lahir dalam wilayah Republik Indonesia. perlu diberikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut : I.dilakukan baik oleh Pengadilan Negari maupun oleh Pengadilan Tinggi. Mempelajari dengan sungguh-sungguh Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 1958 tentang “ Kewarganegaraan RI. khususnya mengenai Pola Pencatatan Urusan-urusan tersebut pada angka 5. khususnya yang berkenaan dengan penanganan Kewarganegaraan dan Pewarganegaraan sebagaimana tersebut diatas. Mengingat semakin banyak dan kompleknya permasalahanpermasalahan yang timbul.

Membayar pada kas Negara uang sejumlah antara Rp..sampai Rp. 500. Apabila ia seorang laki-laki yang kawin mendapat persetujuan isteri (isteri-isterinya). Dalam keadan sehat rohani dan jasmani. atau kehilangan kewarganegaraannya apabila ia memperoleh Kewarganegara Republik Indonesia atau menyertakan pernyataan menanggalan kewarganegaraan lain menurut ketentuan hukum perjanjian penyelesaian dwikewarganegaraan antara Republik Indonesia dan Negara yang bersangkutan. hendaknya Pemohon mampu menulis sendiri permohonannya dalam bahasa Indonasia. bulan ketentuan tidak boleh melebihi penghasilan yang nyata bersangkutan tidak pernah dihukum berdasarkan putusan . 1000. Cukup dapat berbahasa Indonesia dan memepunyai sekedar pengetahuan tentang sejarah Indonesia serta tidak pernah dihukum karena melakukan kejahatan yang merugikan Republik Indonesia..yang paling akhir atau sama sekali selama 10 tahun tidak berturut-turut. Mempunyai mata pencarian yang tetap. Tidak mempunyai dwi-kewarganegaraan. e. Sebagai tolak ukur mengenai pengetahuan berbahasa Indonesia. f. d. maka yang bersangkutan harus mengetahui sejarah kemerdekaan Republik Indonesia dan pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. h. Sebagai tolak ukur mengenai pengetahuannya tentang sejarah. c. g. Sebagai merugikan tolak ukur mengenai adalah hukuman bahwa yang yang Republik Indonesia.yang ditentukan besarnya oleh Jawatan Pajak tempat tiap tinggalnya yang berdasarkan nyata dengan pengahasilannya sebulan.

8. Bupat/Walikota. 5. Kepala Kejasaan Negeri. 9. dengan tembusan Ketua Pengadilan Tinggi. mengirimkan berkas permohonan itu kepada Menteri Kehakiman – RI. 10. 7. Dengan mengirimkan tembusan kepada Ketua Pengadilan Tinggi. Ketua Pengadilan Negeri setelah mengetahui kelengkapan surat permohonan tersebut. . pemalsuan dokumen imigrasi dan putusan-putusan pidana yang menyangkut orang-orang asing supaya segera dilaporkan kepada Pengadilan Tinggi dengan tembusan kepada Mahkamah Agung RI. Ketua Pengadilan Negeri bertanggung jawab atas pelaksanaan pengiriman surat kepada Bupati/Walikota. sehingga ketiga instansi itu mempunyai cukup waktu untuk mengadakan penelitian. Kepala Kejaksaan Negeri dan kepala Polisi Resort untuk minta Surat Keterangan tentang Kesetiaan Pemohon terhasap Nagara RI.pengadilan karena melanggar peraturan Perundang- undangan yang mengancam pelanggarnya dengan sanksi pidana lima tahun atau lebih. Sekretaris Negara dan BAKIN. Setiap Setiap putusan yang menyangkut imigran gelap. Kapolres. maka Ketua Pengadilan Negeri melakukan penyumpahan terhadap pemohon tersebut dengan disaksikan oleh Ketua RT/RW di tempat pemohon bertempat tinggal. berkas pemohon beserta photo yang bersangkutan harus ada di atas meja penguji guna menyocokkan identitas pemohon. 6. Setelah permohonan dikabulkan dengan Keputusan President. Ketua Pengadilan Negeri juga melaporkan penyumpahan itu kepada Menteri Kehakiman RI. Di dalam melakukan pengujian terhadap Pemohon.

Mengadakan pengawasan terhadap pelaksanan Surat Edaran ini. . Pelaporan dan Fungsi Pengawasan 1. 3. 2. Pemeliharaan Pewarganegaraan administrasi ini Kewarganegaraan oleh dan dilaksanakan sub/Urusan Kepaniteraan Hukum Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi. Melaporkan setiap putusan Pengadilan yang menyangkut imigra gelap. Mengadakan bimbingan tentang Pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan Undang-undang Nomor 62 Tahun 1958 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1980 dan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1980. 4. Ketua Pengadilan Negeri/Ketua Pengadilan Tinggi menujuk salah seorang Hakim/Hakim Tinggi. diwajibkan melaksanakan hal-hal tersebut di bawah : 1. Ikut serta membantu penyelenggaraan Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Kewarganegaraan RI yang segera dilakukan. pemalsuan dokumen imigrasi dan putusan pidana yang menyangkut orang asing. baik putusan termaksud sudah berkekuatan hukum tetap atau belum. Mengadakan analisa terhadp setiap laporan-laporan Ketua Pengadilan Negeri dan melaporkan hasil analisa tersebut dengan menyampaikan saran-saran tindak kepada Ketua Mahkamah Agung RI. 5. III. Bagi Ketua Pengadilan Tinggi : Ketua Pengadilan Tinggi yang menerima laporan tentang adanya persoalan tentang Kewarganegaraan dan Pewarganegaraan Indonesia.II. dengan hanya menyebut secara singkat kasus posisi dan amar putusan. 2. untuk melaksanakan fungsi pengawasan (Kimwas/Kimtiwas). disamping tugas sehari-hari sebagai Hakim/Hakim Tinggi.

IV. Direktur Hukum dan Peradilan Mahklamah Agung RI. Pelaporan masalah Kewarganegaraan daan Pewarganegaraan ini dikirim ke Pengadilan Tinggi setiap 3 bulan dengan tembusan pada Mahkamah Agung RI.3. . Demikian untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ketua Mahkamah Agung – RI. U. Hal-hal lain yang belum diatur dalam Surat Edaran ini. setiap 6 bulan. akan diatur lebih lanjut.. ttd. SH. ALI SAID.b.. Lain-lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful