Kutipan Ramalan “Sabdo Palon & Noyo Genggong”

Suatu hari, Darmo Gandhul bertanya kepada Ki Kalamwadi demikian, “Awal mulanya bagaimana sehingga orang Jawa meninggalkan agama Buddha dan masuk agama Islam ?” Ki Kalamwadi lantas bercerita, “Hal ini perlu diketahui, supaya orang yang tidak tahu bisa mengerti.” Pada jaman dahulu negara Majapahit itu namanya negara Majalengka. Adapun nama Majapahit itu, hanya untuk pasemon, tetapi yang belum tahu riwayatnya menganggap bahwa nama Majapahit itu memang sudah namanya sejak semula. Raja Majalengka yang terakhir bernama Prabu Brawijaya. Waktu itu sang Prabu sedang susah hati. Sang Prabu kawin dengan Putri Cempa, padahal Putri Cempa tadi beragama Islam. Kalau sedang berkasih-kasihan, ia selalu bercerita kepada sang raja tentang keluhuran agama Islam. Setiap bertemu selalu memuji agama Islam sehingga menyebabkan Sang Prabu terpikat dengan agama Islam. Sang Prabu Brawijaya memiliki seorang putra dari istrinya Putri Cina, anak tersebut lahir di di Palembang dan diberi nama Raden Patah. Menurut aturan leluhur dari ayahandanya yang beragama Jawa Buddha, putra raja yang lahir si gunung, namanya adalah Bambang. Jika menurut alur ibu, sesebutannya adalah Kaotiang. Adapun jika orang Arab sebutannya adalah Sayid atau Sarib. Lalu sang Prabu meminta pertimbang sang Patih, menurut sang Patih maka putra sang Prabu tersebut dinamai Bambang, akan tetapi karena ibunya Cina, lebih baik disebut Babah artinya lahir di negara lain. Negeri Majalengka, pada suatu hari Prabu Brawijaya sedang dihadap Patih serta para madya bala. Patih memberi laporan bahwa baru saja menerima surat dari Tumenggung Kertasana. Isi surat memberi tahu bahwa negeri Kertasan sungainya kering. Sungai yang dari Kediri alirannya menyimpang ke timur. Sebagian surat tadi bunyinya begini, “Disebelah barat laut Kediri, beberapa dusun-dusun rusak. Semua itu terkena sabda ulama dari Arab, namanya Sunan Bonang. Mendengar kata Patih tersebut, Sang Prabu sangat marah. Patih kemudian diutus ke Kertasana, memeriksa keadaan senuanya, penduduk dan hasil bumi yang diterjang air bah ? Serta diperintahkan memanggil Sunan Bonang. Sang Prabu kemudian memerintahkan kepada Patih, orang Arab yang di tanah Jawa diusir pergi, karena membuat kerepotan negara, hanya di Demak dan Ampelgading yang boleh melestarikan agamanya. Selain dua tempat diperintahkan kembali ke negerinya. Jika tidak mau pergi diperintahkan untuk dibunuh, jawab Patih, ” Gusti ! benar perintah Paduka itu, karena ulama Giripura sudah tiga tahun juga tidak menghadap dan tidak mengirim upetti. Mungkin maksudnya hendak menjadi raja sendiri, tidak merasa makan minum di tanah Jawa. Berarti santri Giri hendak melebihi wibawa Paduka. Namanya Sunan Ainul Yakin, itu nama dalam bahasa Arab, artinya Sunan itu budi, Ainal itu makrifat, Yakin itu tahu sendiri. Jadi maknanya tahu dengan pasti. Dalam bahasa Jawa sama dengan kata Prabu Satmata. Itu nama luhur yang hanya dimiliki Yang Maha Kuasa, maha melihat. Di dunia tidak ada duanya nama Prabu Satmata, kecuali hanya Batara Wisnu ketika bertahta di negeri Medang Kasapta.

” Sang Prabu Brawijaya mendengar laporan Patih sangat terkejut. karena itu orang kafir. Setelah jadi. Setelah selesai shalat kemudian mereka menutup pintu. Orang di Giri geger. karena merasa lelah kemudian berhenti dipinggir mata air. tidak lama kemudian para Sunan dan para Bupati sudah berdatangan semua. “Sesaplah darahnya. hanya dengan satu orang. Yang demikian itu. “Ingat-ingat ulama Giri.Mendengar kata Patih. sekarang sudah saatnya Kraton Majalengka hancur. Setelah mendapat bantuan . tahu artinya Babah ? Babah itu artinya jorok sekali yaitu saja mati saja hidup. kemudian memanggil Adipati Demak. tidak kuat menanggulangi amukan prajurit Majapahit. saat itulah lehermu akan kupenggal. bahwa adipati Demak akan menjadi raja Jawa. Kamu musuh ayah raja. berdiri mematung seperti tugu. kemudian mereka melakukan shalat berjamaah di Masjid. ” Ketahuilah. meskipun dosa sekali. Adapun yang diperintahkan membunuh adalah Sunan Giri. Kata Sunan Bonang kepada Adipati Demak. Singkat cerita. Sunan Bonang yang sudah dipuji orang sealam semesta. Semestinya mereka membalas kebaikan juga. Sebenarnya ayahmu itu sia-sia kepada kamu. Sunan Bonang berkata lagi. Sunan Bonang sudah mengakui kesalahanya. benih Jawa dibawa putri Cina. tetapi kubalas di dunia saja. hanya satu yang tidak sepakat. Dari penglihatan gaibku yang kuat menjadi raja tanah Jawa.” Singkat cerita. Sesampainya di Demak. Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. umurnya sudah seratus tiga tahun”. kemudian perjalanan Prabu Brawijaya sampai di Blambangan. Mereka semua terbujuk oleh Sunan Bonang yang sangat piawai berbicara itu. Karena itu hancurkan Kraton Majalengka. para ulama dan para bupati. Mengapa putranya dan para ulama datang hendak merusak negara. Adipati Demak berkata. remuklah tulangnya. Sunan Bonang marah. Yang dihadapannya hanya . kemudian Sang Prabu memerintahkan untuk memerangi Giri. kemudian perang lagi musuh orang Majalengka. “Meskipun musuh ayah dan raja. tetapi dengan cara halus. Adapun yang di selatan masih tetap memakai agama Buddha. lagi pula raja kafir. orang-orang pesisir utara sudah beragama Islam. maka ibumu diberikan kepada Arya Damar. artinya jangan sampai ketahuan. maka Seh Siti Jenar dibunuh. Untuk itu Majapahit harus ditaklukkan. Para sunan dan para Bupati sudah mufakat semua. pasti menurut kepada kamu. Kalau membunuh orang kafir Buda kawak. Itu memutuskan tali kasih namanya. seberapa pahalamu nanti di hadapan Allah. menggantikan tahta raja hanya kamu. manusia keturunan raksasa. Seh Siti Jenar dipenggal kepalanya hingga tewas. Sunan Giri lari ke Bonang. Maka kemudian pergi dengan Sunan Giri ke Demak. tetapi siapkan senjata perang. Bupati Palembang. nanti kalau semua sudah berkumpul. tidak menghadap ke Majalengka. Sang patih juga tidak habis mengerti. tidak ada jeleknya. yaitu Seh Siti Jenar. setelah pasukan Majapahit dipukul mundur oleh pasukan yang dipimpin adipati Demak Raden Patah yang juga Putra Prabu Brawijaya. kamu akan mendapatkan ganjaran surga. Menghadaplah besok Garebeg Maulud. kamu tidak kubalas di akhirat. jangan sampai kelihatan. Perang ramai sekali. Ayahandamu pikirnya tetap tidak baik. para sunan dan para bupati dan prajuritnya yang sudah Islam. Kemudian mereka bermusyawarah untuk memperbesar masjid. Semua orang diberitahu oleh Sunan Bonang. Apa balasan saya kecuali kesetiaan. lipat berkali-kali. Ki patih tak habis berpikir. Dalam bathin Sunan Bonang berkata. diajak menyerang Majalengka. waktu itu tanah Jawa sudah hampir separo yang masuk agama Islam. mencari bantuan kekuatan. karena memusuhi ayah dan rajaku. “Saya takut menyerang negeri Majalengka. maka kuanjurkan balaslah dengan halus. ia meninggalkan suara. Kelak apabila ada raja Jawa bersama orang tua. keturunan rasul pemimpin orang Islam semua. Buktinya kamu diberi nama Babah. orang setanah Jawa Islam semua. karena tidak masuk akal orang diberi kebaikan kok membalas kejahatan. Tetapi bila ayahmu kalah. Sebelum Seh Siti Jenar tewas.

akan tetapi rambutnya tidak mempan dipotong. kalian berdua kuajak pindah agama Rasul dan meninggalkan agama Buddha. lemah tak berdaya kok akan direndam dalam air”. Sang Prabu Brawijaya bersabda. “Sahid ! Kamu datang ada apa ? Apa perlunya mengikuti aku ?” Sunan Kalijaga berkata. yaitu Noyo Genggong dan Sabdo Palon. Sang Prabu dimohon Islam Lahir bathin. hamba yakin tidak akan tega putra paduka memperlakukan sia-sia kepada paduka. bisa untuk pedoman orang tanah Jawa. langgeng selamanya. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya sampai lancang berani merebut tahta paduka. pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti tidakkalah karena dalam posisi salah. dan mengucapkan asma Allah. menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa. kulit kisut punggung wungkuk. Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Genggong artinya langgeng tidak berubah. Sabdo Palon ? Sabda artinya kata-kata. Kata-katanya hanya manis di bibir. Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga. ” Hamba ini Ratu Dang . agar buta mataku ini. karena apabila hanya lahir saja. “Sekarang aku akan ke pulau Bali. dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit. rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu Brawijaya berkata. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali. apabila sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya. “Hamba diutus paduka untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada paduka di manapun bertemu. Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi.dua abdi dalem. Kalau kalian mau. Lalu Sado Palon berkata sedih. maka rambutnya bisa dipotong. Sudah pasti orang Jawa yang belum Islam akan membela raja tua. Sunan Kalijaga merasa bersalah karena ikut menyerang Majapahit. Jadi bicara hamba itu. Setelah mendengar sabda Prabu demikian. Pasti akan kalah orang islam tertumpas dalam peperangan. Akhirnya setelah Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah agama Islam. bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan itu tidak masalah. bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Klungkung. orang sudah tua renta. namun lebih baik jika paduka berkenan berganti syariat Rasul. maka ia mohon agar dibunuh saja. karena akan malu mengetahui peristiwa menjijikan ini. maka kemudian beliau menyembah kaki sang Prabu sambil menyerahkan senjata kerisnya dengan berkata. Aku akan beri tahu tingkah Si Raden Patah. Mendengar kemarahan sang Prabu yang tak tertahankan. Suanan Kalijaga memendam senyum dan berkata. batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir bathin. “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading. dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. ia berkata dalam hati. ” Aku sudah dengar kata-katamu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sangat prihatin. disembah para bupati. Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal. “Mustahil jika demikian. lalu Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. “Coba pikirkan Sahid ! Alangkah sedih hatiku. lamis semua. toh hanya soal agama. sahid ! Tetapi tidak aku gagas ! Aku sudah muak bicara dengan santri ! Mereka bicara dngan mata tujuh. tidak tahu diri. Naya artinya pandangan. besok hamba yang tanggung. Sunan Kalijaga lantas berkata. Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil ketemu dengan sang Prabu diperjalanan. Palon kayu pengancing kandang. ketiga pemberi anugrah. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak paduka. bersiaga mengangkat senjata. setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga. maka blero matanya ! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang. meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya. karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintahkan negeri. memusuhi raja dan bapa. “Kamu berdua keberi tahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Pedoman orang Islam itu syahadat.

hawa. siapa yang bertahta. Sang prabu berkata.”Aku akan muksa dengan ragaku”. dan (3) padi Mriyi. Sang Prabu berkata lagi. kekosongan ketika aku belum maujud apa-apa. karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Mulai dari leluhur paduka dahulu. memuji diri sendiri. Sabdo Palon tersenyum. kepada agama baru tidak !! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba ? Apakah Paduka lupa nama hamba Sabdo Palon ! . Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. “Ikut agama lama. meliputi dunia dan akhirat. “Dimana Tuhan yang Sejati ?”. pasti akan celaka muksa hamba kelak. Tiga-tiganya itu satu. Paduka akan pergi ke akhirat mana. semua tidur berselimut tanah. Kangjeng Nabi musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah. Kalau hanya ikut-ikutan akan membuat celaka muksa paduka kelak. “Tidak jauh tidak dekat. gemuk kebanyakkan daging. Sang Prabu bertanya. Hamba suka agama lama menyebutkan Dewa Yang Maha Lebih. Sreng artinya berat sekali. Manusia mati muksa itu celaka. kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan. paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah. tidak ada yang berubah agamanya. sang Wiku Manumanasa. ” Paduka masukllah sendiri. tidak terpisahkan. masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa”. Sang Prabu bertanya. dan badan. terun-temurun sampai sekarang. mejdi asuhan hamba. Sampai sekarang ini umur hamba sudah 2. Hamba jika tidur sampai 200 tahun. jika sudah lama minta yang baru tidak bolak-balik. Wujudnya hanya asma. “Apa kamu tidak mau masuk agama Islam ?” Sabdo Palon berkata sedih. yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. jangan sampai masuk surga. “Aku akan kembali kepada yang suwung. Baru paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. tidak punya iman dan ilmu. lalu menyebut Nabi Muhammad Rasulallah dan nama Allah yang sejati !”. Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri. ” Keinginanku kembali ke akhirat. Jika hamba pindah agama. malah tersesat. “Itu matinya manusia tak berguna. Jika salah menjawab tentu dihukum. hamba tidak tega melihat watak sia-sia. karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. “Akhirat. dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. “Bagaimana niatmu. Sabdo Palon berkata.Hyang yang menjaga tanah Jawa. ditangkap. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua. mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul. menginjak-nginjak hukum. Kalau hamba mengatakan kurang ajar. Paduka bayangannya. hidupnya bekerja dengan paksaan. sejatinya tunggal budi. yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal : (1) rumput Jawan. Sakutrem dan Bambang Sakri. Sabdo Palon berkata sedih. Paduka bibit ruhani bukan malaikat. nanti tersesat lho ! Bila mau hamba ingatkan jangan sampai paduka mendapatkan kemelaratan seperti pengalidan negara. paduka belum kenal. ” Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa. Penting minum dan kencing saja. Apa tidak celaka ! Paduka jangan sampai pulang akhirat. demikianlah tujuan kematianku kelak”. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Sang Prabu. Saya tidak tahan dekat apalagi paduka. Paduka itu raja mulia tentu tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini”. menginjak-nginjak tatanan. kata Wikuutama disambut halilintar bersahutan. manusia raganya berasal dari nutfah menghadap Hyang Lata wal Hujwa. (2) padi Randanunut. sudah paduka bawa kemana-mana. tetapi juga tidak berkumpul. banyak binatang mengganggu. Enggi artinya kerja.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa. dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam besar. ketika hidup seperti hewan. Sabdo Palon berkata. paduka wujud sifat suksma. hilang makna hidup dalam mati”. sejak pertama menepati agama Buddha. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara. tidak mampu meringkas makan badannya. seperti manusia Arab itu. hanya makan minum dan tidur. itulah hidup-mati. Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata karena mau masuk agama Islam. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. maka Allah tidak kelihatan hanya Dzatnya yang meliputi semua mahluk. Nusa artinya Manusia. surga.

terdengar sampai ke negara mana-mana. masuk surga yang melebihi surganya orang kafir. Sabdo Palon banyak-banyak mencaci kepada Sang Prabu. tetapi tidak berada disitu. aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi. tetapi dua orang tadi kemudian musnah. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu. mereka semua memberontak dengan licik. anglela kalingan padang. sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. karena perempuan itu utamanya wadah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdo Palon dan Noyo Genggong. aku sudah terlanjur masuk agama Islam. “Besuk negara Blambangan gantilah dengan nama negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdi Palon ke Tanah Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdo Palon masih dalam alam gaib. aku malu apabila ditertawakan bumi dan langit “. Orang Jawa akan diajari tahu benar salah. yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon. hamba tidak ikut-ikutan. sebuah agama suci dan baik. Lama beliau tidak berkata. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. “Iya sudah. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. silakan Paduka jalani sendiri. Sang Prabu bersumpah. Ketika ditanya perginya akan kemana ? Ia menjawab tidak pergi. Kehancurannya tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu yaitu wali delapan atau sunan delapan yang disujudi orang Jawa. kata Sabdo Palon kepada Prabu Brawijaya. sudah disaksikan Sahid.” 3. artinya meliputi sekalian wujud. besok apabila ada orang Jawa tua berpengetahuan. Sabdo Palon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Sudah digaris kita harus berpisah. Sejak jaman kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit hancur dengan disengat tawon serta digerogotin tikus saja. Ramalan Sabdo Palon & Noyo Genggong 1. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali. Sembilannya Adipati Demak. Sang Prabu menyesal dan meneteskan air matanya. yang mengatakan bahwa agama Islam itu kelak apabila mati. Sado Palon berkata sambil meludah.bila laki-laki menurut perempuan. . Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdo Palon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha. tidak berwewenang memulai kehendak”. 2. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. dan bubarkan orang sekerejaan hanya dengan karena disantet demit. Hancurnya Majapahit suaranya menggelegar. pasti sengsara. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. ” Sejak jaman kuno. kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata Putri Cempa.“Bagimana ini. hanya menepati yang namanya Semar. kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga.

saya sebar seluruh tanah Jawa. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia. Saudagar selalu menderita rugi. dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. Bila ada yang tidak mau memakai. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Tidak dapat bila diubah lagi. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. 10. Hujan tidak tepat waktunya. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal. 9. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan. 11. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. akan saya hancurkan. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Benar-benar rusak moral manusia. 12. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Baunya tidak sedap. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Di sana-sini banyak orang mati. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Orang tanipun demikian juga. Bahaya penyakit luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi). Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. 8. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Menjadi makanan jin setan dan lainlainnya. Tiba-tiba sungainya banjir besar. 5. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Bumi sudah berkurang hasilnya. 7. Banyak hama yang menyerang. Itulah pertanda kalau saya datang. 6. Kelak Merapi akan bergelegar.4. Angin .

Kebanyakan mereka meninggal dunia. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang. Penyakitpun rupa-rupa. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. 15. Merusakkan kanan kiri. segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi. Gempa bumi tujuh kali sehari. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Namun bagaimana lagi. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya. . Manusia-manusia mengaduh di sana-sini. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Tanahpun menganga. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Sama sekali tidak dapat berbicara. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. 14. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Banyak yang tidak dapat sembuh. banyak yang sakit. 13. 16. sehingga membuat susahnya manusia. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan.besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Kembali ke alamnya. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful