Anda di halaman 1dari 17

MODEL PEMERINGKATAN KOPERASI:

Instrumen Penilaian Hasil dan Deteksi


Keperluan Pemberdayaan Koperasi
Oleh Prijadi Atmadja*)

PENDAHULUAN

   Membangun koperasi merupakan suatu proses pembelajaran yang berkelanjutan dan


berulang selaras dengan adanya pergantian generasi, pertambahan jumlah anggota
masyarakat, dan perkembangan dinamis berbagai aspek kehidupan yang ada di
masyarakat. Selaras dengan per-kembangan yang ada maka membangun koperasi tidak
bisa menjadi monopoli pemerintah. Telah terjadi suatu perubahan pemahaman bahwa
peran Pemerintah sebaiknya tidak bersifat langsung dalam bentuk intervensi
penyelenggaraan usaha dan organisasi koperasi. Oleh karena itu pendekatan pemberdayaan
masyarakat menjadi prioritas. Dalam hal ini untuk mengembangkan dan menumbuhkan
koperasi, organisasi koperasi sendiri yang harus didorong untuk secara aktif membangun
dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa pemerintah lepas tangan. Pemerintah tetap sangat
diperlukan untuk menciptakan iklim kondusif yang dibutuhkan, dan mendorong serta
menggalang partisipasi positif pihak terkait dalam membangun koperasi.
 

   Permasalahannya adalah bahwa pada satu sisi pembangunan koperasi tergantung pada
partisipasi aktif berbagai pihak, yaitu terutama dari kalangan koperasi sendiri, yang meliputi
anggota, pengurus dan pengelola serta partisipasi aktif pihak terkait baik pemerintah, dunia
usaha maupun masyarakat. Pada sisi yang lain belum tentu terdapat pemahaman yang
sama tentang tujuan, sasaran dan pengukuran serta kriteria penilaian hasilnya. Hal tersebut
potensial mengakibatkan tidak optimalnya dukungan pihak terkait dan tidak terjadi sinergi
positif diantara pihak dalam pemberdayaan koperasi. Karena itu perlu dibangun suatu
instrumen yang dapat mengukur sejauh mana kemajuan yang diperoleh telah mencapai
tujuan dan sasaran yang diharapkan. Alat dimaksud diharapkan akan mempermudah bagi
siapapun yang memiliki kepedulian dalam pembangunan koperasi dapat mengetahui kondisi
koperasi, mengukur kemajuan yang dicapai dan mengetahui kekurangan yang perlu
disempurnakan atau diatasi.

PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN KRITERIA PENILAIAN HASILNYA

Pemberdayaan Koperasi

   Pemberdayaan Koperasi dapat diartikan segala upaya yang ditujukan untuk menjadikan
koperasi lebih berdaya.Koperasi yang berdaya adalah koperasi yang dapat menjalankan dan
mengembangkan organisasi dan usahanya, melayani dan memberikan manfaat ekonomi
bagi anggotanya,
  
   Dengan pengertian pemberdayaan seperti tersebut diatas maka dalam pemberdayaan
koperasi terdapat upaya pemberdayaan, pelaku pemberdayaan, obyek pemberdayaan dan
hasil pemberdayaan.
Upaya pemberdayaan adalah segala hal yang dilakukan untuk menjadikan koperasi menjadi
lebih berdaya. Pelaku pemberdayaan adalah pihak yang melakukan pemberdayaan, dimana
menurut ketentuan dan normanya, pelaku pemberdayaan adalah anggota dan pengurus
koperasi, pemerintah dan berbagai pihak lainnya.

Upaya pemberdayaan koperasi meliputi :

1. Regulasi, yaitu pengadaan segala ketentuan agar koperasi memiliki kedudukan


hukum yang kuat dan mendorong terciptanya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan
berkembangnya koperasi secara teratur, bermanfaat bagi masyarakat dan
melindungi kepentingan masyarakat akibat penyalahgunaan praktek berkoperasi.
2. Penyediaan informasi potensi sumberdaya yaitu penyediaan informasi tentang
potensi sumberdaya yang tersedia pada berbagai pihak yang potensial diakses dan
didayagunakan oleh koperasi.
3. Fasilitasi kemitraan, yaitu fasilitasi dengan berbagai pihak agar koperasi
mendapatkan mitra saling menguntungkan dalam akses dan pendayagunaan
sumberdaya produktif seperti pasar, modal, teknologi, bahan baku, jaringan usaha
dan pelatihan.
4. Pengarahan (steering), yaitu memberikan panduan bagi masyarakat agar
masyarakat memiliki sikap yang tepat dan cara-cara yang baik dalam berkoperasi
dengan mengadakan, mengem-bangkan dan sosialisasi tentang pedoman, panduan,
percontohan (best practice), dan standar-standar operasi koperasi yang baik.
5. Monitoring dan evaluasi, yaitu pemantauan tentang keadaan koperasi dan
melakukan evaluasi apakah perkembangan keadaan koperasi sesuai dengan yang
diharapkan, dan selanjutnya memberikan rekomendasi tindakan apa yang diperlukan
agar menjadi lebih baik sesuai dengan harapan.
6. Klasifikasi atau rating adalah suatu penilaian kinerja melalui suatu sistem penilaian
yang obyektif, transparan, dengan kriteria & persyaratan yang jelas dan dilakukan
dalam suatu periode tertentu. Melalui klasifikasi dihasilkan kelompok koperasi
menurut tingkatan kinerjanya. Dengan klasifikasi tersebut memudahkan bagi
koperasi maupun pihak lain untuk mengetahui keadaan koperasi. Dengan demikian
memudahkan tindakkan pemberdayaan yang tepat yang dapat dilakukan masing-
masing pihak.
7. Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memantau, mencegah dan
menindak agar koperasi tidak melakukan hal-hal yang dilarang atau hal-hal yang
tidak diinginkan.
8. Koordinasi adalah segala upaya yang ditempuh agar pemberdayaan koperasi yang
dilakukan berbagai pihak terjadi sinkronisasi dan sinergi positif.
9. Pendidikan dan pelatihan adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan wawasan dan keterampilan berbagai pihak yang terkait dalam
pemberdayaan koperasi.
10. Pengembangan wirausaha anggota adalah segala upaya yang ditujukan untuk
menjadikan anggota koperasi memiliki kewirausahaan yang lebih tinggi, yang antara
lain dicirikan oleh sikap, kemauan, dan kemampuan bekerja lebih giat, produktif dan
inovatif.
11. Pengembangan partisipasi anggota yaitu berbagai upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan partisipasi anggota. Partisipasi anggota diwujudkan dalam bentuk
transaksi dengan koperasi seperti menyimpan, meminjam, menjual dan membeli
dengan koperasi serta partisipasi dalam pengelolaan dan pengawasan koperasi.
12. Pengelolaan koperasi yang professional adalah merupakan wujud pemberdayaan
koperasi oleh pengurus dan atau pengelola dalam bentuk upaya pengelolaan
koperasi yang sebaik-baiknya.
13. Dukungan masyarakat dan lembaga adalah pemberian kesempatan dan atau
dukungan positif pihak terkait untuk pemberdayaan koperasi.

Bagan 1
PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN KRITERIA PENILAIAN
HASIL/KINERJANYA

Hasil Pemberdayaan Koperasi.

   Obyek pemberdayaan koperasi mencakup masyarakat koperasi pada khususnya,


masyarakat pada umumnya maupun lingkungan koperasi. Sedangkan hasil pemberdayaan
koperasi pada dasarnya adalah tumbuh dan ber-kembangnya koperasi yang sehat. Koperasi
yang sehat adalah koperasi yang mampu melaksanakan fungsi dan peran yang diharapkan
secara berkelanjutan, yaitu memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi anggota, dan
memper-tanggungjawabkan kegiatannya dengan membuat neraca dan melaksanakan RAT.
   Koperasi yang sehat akan mampu memberikan manfaat bagi anggota dalam hal
penyediaan barang dan jasa yang diperlukan dengan mudah dan harga yang
menguntungkan. Dengan pelayanan koperasi yang memberikan manfaat atau nilai bagi
anggota maka anggota akan berpartisipasi pada koperasi dalam bentuk memberikan
simpanan yang akan menjadi modal koperasi, baik modal sendiri (simpanan pokok dan
wajib) maupun modal luar (simpanan sukarela), dan partisipasi dalam bentuk transaksi
yang menjadikan volume usaha koperasi.
   Dengan koperasi yang sehat, masyarakat akan memberikan dukungan dan kepercayaan
pada koperasi dalam bentuk menjadi anggota koperasi, dan kepercayaan pihak terkait
diberikan dalam bentuk kemauan untuk bermitra dengan koperasi, seperti lembaga
keuangan memberikan pinjaman kepada koperasi sehingga menjadi modal luar koperasi
atau bermitra dalam penyediaan barang yang diperlukan koperasi sehingga akan
mendorong peningkatan volume usaha koperasi.

Siklus Pemberdayaan dan Penilaian Hasil Pemberdayaan Koperasi

   Sebagai suatu upaya yang berkelanjutan, pemberdayaan koperasi mengikuti suatu


rangkaian kegiatan yang berulang, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring &
evaluasi dan selanjutnya kembali mengadakanperencanaan dan pelaksanaan, sebagaimana
siklus atau proses manajemen. Monitoring pada dasarnya adalah mengukur hasil
pemberdayaan dan evaluasi adalah menilai hasil pemberdayaan. Hasil pengukuran dan
penilaian hasil pemberdayaan diperlukan untuk menyimpulkan apakah hasil pemberdayaan
sesuai dengan yang diharapkan dan selanjutnya menentukan kegiatan yang diperlukan
untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.
   Untuk mengadakan pengukuran hasil pemberdayaan diperlukan adanya indikator hasil
pemberdayaan. Dan untuk menilai hasil pemberdayaan diperlukan kriteria penilaian hasil
pemberdayaan.

BAGAN 2
SIKLUS PEMBERDAYAAN DAN PENILAIAN PEMBERDAYAAN
KOPERASI
 

Indikator Hasil Pemberdayaan Koperasi

   Hasil pemberdayaan koperasi digambarkan atau diukur dengan indikator atau ciri-ciri
hasil pemberdayaan koperasi, yaitu meliputi indikator tumbuh dan berkembangnya koperasi
yang sehat, adanya manfaat koperasi bagi anggota, partisipasi anggota terhadap koperasi
dan dukungan masyarakat dan pihak terkait terhadap koperasi.
Indikator yang baik dapat menggambarkan keadaan keberha-silan pemberdayan koperasi
dengan jelas, mudah difahami sesuai dengan kebutuhan dan mudah diukur.
   Secara ideal, indikator hasil pemberdayaan koperasi menggambarkan keberhasilan
kinerja koperasi, baik kinerja koperasi secara langsung maupun tidak langsung atau
merupakan dampak keberhasilan kinerja koperasi yang meliputi aspek :

1. Adanya kepercayaan dan dukungan masyarakat dan lembaga terkait yang


dicerminkan oleh :
a. Ada dan bertambahnya jumlah anggota.
b. Adanya kesediaan pihak lain untuk mendukung dan bermitra dengan koperasi.
c. Adanya kemitraan pihak lain dengan koperasi seperti peminjam dana, kerjasama
pengadaan barang, dan sebagainya.
2. Partisipasi anggota koperasi dicerminkan oleh :
a. Ada dan bertambahnya simpanan anggota yang merupakan modal sendiri
(simpanan pokok, simpanan wajib) dan modal luar (simpanan sukarela)
b. Adanya transaksi anggota dengan koperasi melalui simpan, pinjam, jual dan beli
dengan koperasi yang merupakan komponen volume usaha koperasi.
c. Adanya kepedulian dalam penge-lolaan dan pengawasan koperasi.
3. Adanya manfaat keberadaan koperasi bagi anggota yang dicerminkan oleh :
a. Adanya kemudahan layanan jual atau beli, jasa, simpan, pinjam oleh koperasi
bagi anggota.
b. Adanya selisih harga atau nilai tambah dalam jual atau beli barang dan jasa
maupun simpan pinjam dan;
c. Adanya perolehan Sisa Hasil Usaha bagi anggota.
4. Kesehatan koperasi, yang dicerminkan oleh :
a. Berjalannya usaha koperasi yaitu mampu memberikan pelayanan usaha kepada
anggota dan masyarakat secara berkelanjutan dan mampu memberikan kemudahan
dan nilai tambah bagi anggota.
b. Berjalannya organisasi dan per-tanggungjawaban kepengurusan dicerminkan oleh
adanya neraca dan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan.

Bagan 3
INDIKATOR HASIL PEMBERDAYAAN KOPERASI
KRITERIA PENILAIAN HASIL PEMBERDAYAAN KOPERASI
   Setelah hasil pemberdayaan atau kinerja koperasi diukur dengan beberapa indikator
maka selanjutnya diadakan penilaian untuk dapat menyimpulkan tentang keadaan kinerja
koperasi. Dengan kesimpulan yang baik dapat memberikan gambaran secara ringkas, jelas
dan obyektif tentang perkembangan koperasi sehingga mudah dalam menentukan sikap
dan tindakan yang tepat terhadap koperasi bersangkutan. Terdapat berbagai cara atau
kriteria untuk menilai suatu hasil pemberdayaan. Dalam hal koperasi, kriteria penilaian
pemberdayaan koperasi dapat dilakukan dengan :
1) membandingkan keadaan sekarang terhadap keadaan tahun lalu,
2) membandingkan dengan standar yang berlaku pada koperasi atau usaha sejenis,
3) Klasifikasi koperasi dan
4) Penilaian kesehatan koperasi,
5) Penilaian koperasi berprestasi.
Perbandingan dengan keadaan Tahun lalu
   Kriteria penilaian hasil pemberdayaan koperasi dapat dilakukan dengan membandingkan
keadaan saat ini dengan keadaan tahun lalu tentang indikator-indikator hasil pemberdayaan
koperasi. Indikator tersebut dapat berupa indikator kinerja kelembagaan dan usaha atau
komponen-komponen dalam neraca koperasi.

Membandingkan Dengan Standar Pada Koperasi Yang Memiliki Usaha Sejenis.


   Kriteria penilaian yang lebih operasional adalah dengan memban-dingkan standar yang
berlaku pada industri atau jenis usaha koperasi yang sejenis. Pada koperasi idealnya
terdapat standar untuk koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi jasa dan koperasi
simpan/pinjam. Untuk koperasi simpan pinjam, Dewan Dunia untuk Kredit Union (World
Council of Credit Union - WOCCU). merekomendasikan penggunaan seperangkat rasio
keuangan yang dikenal dengan PEARLS (Protection (perlindungan), Efective Financial
Structure (struktur keuangan yang efektif), Asset Quality (kualitas asset), Rate Of Return
and Cost (tingkat pengembalian dan biaya), Liquidity (likuiditas), dan Sign of growth
(tanda-tanda pertumbuhan).
   PEARLS merupakan rasio keuangan yang telah dikonsolidasikan sedemikian rupa sehingga
menjadi program atau alat penilaian atau kriteria penilaian yang mampu mengukur setiap
komponen secara terpisah maupun keseluruhan sistem. PEARLS dapat melakukan
identifikasi permasalahan yang dihadapi sehingga dapat membantu manajer menemukan
solusi yang tepat terhadap kelemahan-kelemahan yang dihadapi : Kelebihan lain daripada
sistem PEARLS adalah :
1. Melakukan evaluasi struktur keuangan dalam neraca.
2. Melakukan evaluasi struktur tingkat pertumbuhan

   Dengan evaluasi struktur keuangan dalam neraca maka pada satu sisi penyediaan data
berarti sama dengan data untuk neraca. Pada sisi yang lain restrukturisasi berdasarkan
neraca berarti mencakup harta, kebijakan dan modal.
Dengan evaluasi mengenai tingkat pertumbuhan berarti terdapat petunjuk seberapa jauh
pertumbuhan yang diperlukan sesuai dengan kondisi laju inflasi.

Klasifikasi Koperasi
   Ketentuan Klasifikasi Koperasi yang saat ini berlaku adalah sesuai dengan Surat
Keputusan Menteri Negara Koperasi & UKM No. 129/KEP/M-KUKM/XI/2002 Tentang
Pedoman Klasifikasi Koperasi Tanggal 29 Nopember 2002. Ketentuan ini merupakan
pengganti dari pada ketentuan sebelumnya yaitu SK Menteri Koperasi Nomor :
139/M/Kpts/XI/1984 tanggal 28 Nopember 1984 tentang Klasifikasi Koperasi.

Tujuan dari pada klasifikasi menurut SK Menegkop & UKM tersebut adalah :
1). Mengetahui kinerja koperasi dalam suatu periode tertentu.
2). Menetapkan peringkat klasifikasi koperasi
3). Mendorong koperasi agar menerapkan prinsip-prinsip koperasi dan kaedah bisnis yang
sehat.

Persyaratan koperasi yang diklasifikasi adalah :


1). Koperasi primer atau sekunder
2). Berbadan hukum minimal 1 tahun.
3). Telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan.

   Klasifikasi Koperasi didasarkan atas penilaian terhadap penjabaran pe–laksanaan prinsip-


prinsip koperasi. Klasifikasi koperasi untuk koperasi tingkat nasional yang anggotanya
berdomisili pada satu atau lebih propinsi dilakukan oleh kelompok kerja yang dibentuk
Menteri Koperasi & UKM. Klasifikasi koperasi Tingkat propinsi, yaitu koperasi yang
anggotanya berdomisili pada satu atau lebih dari satu kabupaten/kota dilakukan oleh
kelompok kerja yang dibentuk oleh Gubernur. Sedangkan klasifikasi koperasi tingkat
Kabupaten dilakukan oleh kelompok kerja yang dibentuk oleh Bupati/Walikota.

Klasifikasi koperasi ditetapkan dalam empat peringkat, yaitu :


1). Klas A, koperasi dengan peringkat sangat baik dengan jumlah penilaian 85 s/d 100.
2). Klas B, koperasi dengan peringkat baik, dengan jumlah penilaian 70 s/d 84.
3). Klas C, koperasi dengan peringkat cukup baik, dengan jumlah penilaian 55 s/d 69.
4). Klas D, koperasi dengan peringkat kurang baik, dengan jumlah penilaian kurang dari 55.

Peringkat koperasi bersifat final dan berlaku untuk satu periode tertentu, maksimum 2
tahun.

Tabel. 1
Prinsip & Indikator Klasifikasi Koperasi Serta Nilainya

No Prinsip & Indikator

1 Keanggotaan Sukarela dan Terbuka


  a. Rasio peningkatan jumlah anggota (4)
  b. Rasio pencatatan kegiatan dalam Buku Daftar Anggota
   
2 Pengedalian oleh Anggota-anggota secara
Demokratis
  a. Penyelenggaraan RAT (4)
  b. Rasio kehadiran Anggota dalam RAT (4)
  c. Rencana Kegiatan (RK) & Rencana Pendapatan dan Belanja KSP
  d. Realisasi Anggaran Pendapatan Koperasi (2)
  e. Realisasi Anggaran Belanja Koperasi (2)
  f. Realisasi Surplus Hasil Usaha (2)
  g. Pemeriksaan (4)
   
3 Partisipasi Ekonomi Anggota
  a. Pelunasan Simpanan Pokok Anggota (3)
  b. Pelunasan Simpanan Wajib Anggota (3)
  c. Keterkaitan Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota (3)
  d. Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota (3)
  e. Pengembalian Piutang (3)
   
4 Otonomi dan Kemandirian
  a. Rentabilitas modal sendiri (3)
  b. Return On Asset (3)
  c. Asset Turn Over (3)
  d. Profitabilitas (3)
  e. Likuiditas (3)
  f. Solvabilitas (3)
  g. Rasio Modal Sendiri/Equity terhadap Hutang (3)
   
5 Pendidikan dan Pelatihan
  a. Pendidikan dan Pelatihan bagi Anggota (3)
  b. Pendidikan dan Pelatihan bagi Pengelola Koperasi (3)
  c. Penerangan dan Penyuluhan (3)
  d. Media Informasi (3)
  e. Tersedia Anggaran Khusus dan Penyisihan Dana Pendidikan
   
6 Kerjasama antar Koperasi
  a. Kerjasama Usaha secara Horisontal (3)
  b. Kerjasama Usaha secara Vertikal (3)
  c. Manfaat Kerjasama (4)
   
7 Kepedulian terhadap Komunitas
  a. Penyerapan Tenaga Kerja (4)
  b. Pembayaran Pajak/Cukai/Retribusi (4)
  c. Dana Pembangunan Daerah Kerja (3)
   
TOTA  
L

Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam / Unit Simpan Pinjam.

   Penilaian kesehatan Koperasi Simpan Pinjam / Unit Simpan Pinjam mengacu kepada
Keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah No.194/KEP/M/IX/1998
tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kesehatan KSP/USP. Kesehatan koperasi simpan
pinjam dan unit simpan pinjam merupakan kepentingan semua pihak yang terkait baik
masyarakat, calon anggota, pihak ketiga, anggota, Pengurus, Pengawas maupun
pemerintah. Lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara uang (intermediaries)
antara penabung atau penyimpan dengan peminjam, KSP/USP harus dikelola secara hati-
hati dan memenuhi norma-norma kesehatan lembaga keuangan.
   Adanya kecerobohan pengelolaan salah satu KSP/USP potensial berdampak terhadap
kerugian yang meluas. Kerugian KSP/USP dapat berakibat tidak mampu mengembalikan
dana yang disimpan anggota atau nasabah pada koperasi sehingga menimbulkan kerugian
atau penderitaan terhadap masyarakat penabungnya. Dampak lebih lanjut adalah citra
buruk KSP/USP sehingga menghambat atau mengganggu operasi dan pengembangan
KSP/USP secara keseluruhan. Karena itu, KSP/USP perlu dimonitor atau diawasi secara lebih
ketat dari pada jenis koperasi yang lain karena pada satu sisi kelangsungan usaha simpan
pinjam sangat tergantung pada citra baik dan kepercayaan masyarakat, dan pada sisi yang
lain potensial merugikan masyarakat luas, yaitu penabung
   Penilaian kesehatan koperasi dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif
melalui berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan usaha
koperasi.
Penilaian melalui pendekatan kualitatif dengan menilai aspek : Permodalan, Kualitas Aktiva
Produktif, Manajemen, Rentabilitas dan Likuiditas. Penilaian ini dilakukan dengan cara
mengkualifikasikan komponen-kom-ponen tersebut.
Pelaksanaan penilaian tingkat kesehatan pada tahap kedua dilakukan dengan menganalisis
dan menguji komponen yang tidak dapat dikuan-tifikasi, tetapi mempunyai pengaruh yang
material terhadap tingkat kesehatan koperasi.
Selanjutnya tingkat kesehatan koperasi dinyatakan dalam predikat : Sehat, Cukup Sehat,
Kurang Sehat dan Tidak Sehat.

1). Aspek dan Komponen Penilaian Serta Bobotnya


Dalam melakukan penilaian kesehatan, maka terhadap beberapa aspek seperti permodalan;
kualitas Aktiva Produktif, Manajemen, Rentabilitas dan Likuiditas dilakukan dengan
menggunakan sistem nilai kredit atau reward system yang dinyatakan dalam angka dengan
nilai kredit 0 sampai dengan 100.

Tabel. 2
Bobot Aspek dan Komponen Penilaian Kesehatan KSP/USP

No Aspek Yang Dinilai

1 Permodalan
  a. Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Asset
  b. Aspek yang dinilai sendiri terhadap Pinjaman diberikan beresiko
   
2 Kualitas Aktiva Produktif
  a. Rasio Volume Pinjaman pada Anggota thd Volume Pinjaman Diberikan
  b. Rasio Risiko Pinjaman Bermasalah terhadap Pinjaman diberikan
  c. Rasio Cadangan Risiko terhadap Pinjaman Bermasalah
   
3 Manajemen
  a. Permodalan
  b. Aktiva
  c. Pengelolaan
  d. Rentabilitas
  e. Likuiditas
   
4 Rentabilitas
  a. Rasio SHU sebelum pajak terhadap Pendapatan Operasional
  b. Rasio SHU sebelum pajak terhadap Total Asset
  c. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
   
5 Likuiditas
  Rasio pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima
   

2). Penetapan Kesehatan Koperasi

Berdasarkan hasil perhitungan penilaian terhadap 5 komponen pokok seperti yang telah
dijelaskan dimuka, maka akan diperoleh angka skor secara keseluruhan. Angka skor
tersebut dipergunakan untuk menetapkan predikat tingkat kesehatan koperasi (Koperasi
Kredit/Credit Union/Koperasi Simpan pinjam/Unit Simpan Pinjam) yang dibagi dalam 4
kategori/golongan yaitu :
 

Tabel. 3

SKOR PREDIKAT
81 - 100 Sehat
66 - d'' 81 Cukup Sehat
51 - d'' 66 Kurang Sehat
0 - d'' 51 Tidak Sehat

ALTERNATIF MODEL PEMERINGKATAN KOPERASI

Latar Belakang.

   Kriteria penilaian koperasi yang ada, yaitu meliputi klasifikasi koperasi, penilaian
kesehatan koperasi, dan penilaian koperasi berprestasi merupakan kriteria penilaian yang
dilakukan oleh pihak eksternal koperasi, dalam hal ini pemerintah. Disamping itu penerapan
kriteria penilaian tersebut mengadapi kendala sebagai berikut :

1. Indikator penilaian cukup rumit sehingga memerlukan keahlian yang khusus bagi
penilainya, sementara jumlah koperasi sangat besar sehingga realisasi pelaksanaan
penilaian tersebut relatif rendah.
2. Karena indikator pengukuran cukup rumit, hasil pengukuran seringkali dipandang
dapat dengan mudah dimanipulasi sehingga menimbulkan kekurangpercayaan
terhadap hasil pengukuran.
3. Hasil klasifikasi koperasi berupa klas A, B, C, atau D dapat dipandang sebagai terlalu
umum, sehingga sulit mencari makna apa atau implikasi apa yang tepat untuk
pemberdayaan koperasi selanjutnya. Hasil klasifikasi juga tidak memberikan indikasi
tentang kemitraan apa yang potensial dikembangkan dengan koperasi yang
bersangkutan, karena tidak ada indikasi besaran potensi permintaan atau penawaran
sebagai akibat besarnya jumlah anggota, atau kapasitas usaha yang dicerminkan
oleh volume usaha.

   Model PEARLS sangat tajam sebagai alat pengukuran dan penilaian kinerja KSP, namun
terlalu rumit untuk sebagian besar koperasi di Indonesia. Karenanya juga sulit untuk
diterapkan secara merata.

Pengertian

   Pemeringkatan koperasi adalah penetapan suatu koperasi atas dasar peringkat kinerja
koperasi. Peringkat koperasi mencerminkan tingkat perkembangan besaran dan kesehatan
koperasi, dan sekaligus memberikan indikasi tentang aspek mana koperasi perlu
ditingkatkan pengembangannya.

Tujuan dan Manfaat Pemeringkatan Koperasi.

1) Mengetahui tingkat perkembangan koperasi.


2) Menghasilkan informasi yang dapat memberikan indikasi tentang keperluan
pemberdayaan yang tepat bagi koperasi.

Indikator dan Peringkat Koperasi.

1. Peringkat koperasi di dasarkan atas keadaan koperasi yang ideal, yaitu :


a) Kesehatan koperasi.
b) Besaran koperasi
2. Indikator Kesehatan dan Besaran koperasi terdiri atas :
a) Kelembagaan.
b) Usaha
3. Indikator dan Kriteria Kesehatan dan Besaran Kelembagaan Koperasi adalah:
a) Besaran kelembagaan koperasi
dapat didasarkan atas jumlah anggota koperasi, yaitu dikatagorikan :
   - C : kurang dari 50 orang,
   - B : 50 s/d 500 orang
   - A : Lebih dari 500 orang
b) Kesehatan Kelembagaan Koperasi di indikasikan dengan :
   - Pelaksanaan RAT tepat waktu dan dibuat neraca usaha sesuai ketentuan
akuntabilitas
   - Simpanan pokok dan simpanan wajib yang terkumpul lebih dari 90 % dari pada
yang seharusnya.
   - Anggota tercatat dalam Buku Daftar Anggota dengan tertib dan jumlahnya lebih
dari 80 % dari pada anggota sebenarnya.
4. Indikator dan kriteria kesehatan dan Besaran Usaha koperasi
a) Besaran Usaha Koperasi di indikasikan dengan besarnya volume usaha, yaitu
dikatagorikan :
    - C : kurang dari Rp 50 Jt/Th.
    - B : Rp 50 Jt s/d Rp 1 Milyar/Th.
    - A : diatas Rp 1 Milyar/Th.
b) Kesehatan Usaha Koperasi diindikasikan oleh :
   - Volume transaksi koperasi dengan anggota lebih dari 75 % total volume usaha.
   - Volume usaha koperasi tahun ini meningkat lebih besar dari 10 % (laju inflasi)
daripada tahun lalu.
  - Rentabilitas (SHU/Modal sendiri) lebih besar dari 10 % (tingkat bunga tabungan
atau tingkat inflasi) dan likuiditas (aktiva lancar/pasiva lancar) antara 175 % s/d 200
%.

Kriteria Peringkat Koperasi

1) Kriteria Peringkat koperasi.

a. Peringkat Besaran Kelembagaan maupun usaha koperasi terdiri atas A, B, C dengan


batasan seperti pada butir 3.3 a dan 3.4 a.
b. Peringkat kesehatan lembaga dan usaha koperasi adalah + (positif) kalau memenuhi
kriteria sebagaimana dikemukakan pada Sub.bab 3.3.b dan 3.4.b, atau - (negatif)
kalau tidak memenuhi kriteria.

2) Peringkat Koperasi

No Volume Usaha C B A
  Jumlah Anggota < Rp 50 Jt/Th Rp 50 Jt – Rp 1 M > Rp 1 M
1 C: Kurang dari 50 Org C xxx
C xxx
C xxx
B xxx
C xxx
A xxx

2 B: 40 Org s/d 500 Org B xxx


C xxx
B xxx
B xxx
B xxx
A xxx

3 A: Lebih dari 500 Org A xxx


C xxx
A xxx
B xxx
A xxx
A xxx

Keterangan :

a. Peringkat koperasi dinyatakan dengan dua huruf A, B atau C serta tanda + atau -
pada huruf pertama dan 3 (tiga) tanda + atau - pada huruf kedua.
b. Huruf pertama menyatakan peringkat besaran jumlah anggota, dan huruf kedua
menyatakan peringkat besaran volume usaha.
c. 3 (tiga) tanda positif atau negatif dikanan atas huruf pertama menyatakan
kesehatan kelembagaan.
d. 3 (tiga) tanda positif atau negatif dikanan atas huruf kedua menyatakan kesehatan
usaha koperasi.
e. Sebagai contoh, koperasi yang memiliki peringkat A + - - B - + + berarti :
 

Peringkat   A +  -  -    B  -  +  + berarti :

(1) Kelembagaan

(2) Usaha
Tindak Lanjut Peringkat koperasi

1. Tindak lanjut pembinaan.

   Dengan peringkat koperasi, maka diketahui kemajuan besaran dan kesehatan koperasi.
Untuk kemajuan koperasi pada masa yang akan datang maka :
a) Peringkat besarannya ditingkatkan atau dipertahankan, yaitu C menjadi B atau A, B
menjadi B atau A, dan A tetap menjadi A.
b) Kesehatannya ditingkatkan, yaitu tanda negatif dibuat menjadi positif.

2. Monitoring & Evaluasi


a) Peringkat koperasi dapat diukur dan dinilai oleh koperasi sendiri.
b) Data dan peringkat koperasi dari masing-masing koperasi ditabulasi, oleh Sudin koperasi
dan selanjutnya diperoleh koperasi menurut peringkatnya. Selanjutnya pember-dayaan
koperasi seharusnya menghasilkan makin banyak koperasi yang berperingkat tinggi.

PENUTUP

   Pengukuran hasil pemberdayaan koperasi merupakan kepentingan berbagai pihak yang


terkait dalam pemberdayaan koperasi, yaitu masyarakat umum, pengelola koperasi,
anggota koperasi, mitra koperasi dan pemerintah. Secara umum kepentingan atau tujuan
pengukuran kinerja adalah untuk mengetahui perkembangan keadaan kinerja yang terjadi
apakah sesuai dengan kepentingannya. Keadaan kinerja apakah terdapat peluang yang
dapat memberikan manfaat atau peluang yang dapat merugikan bagi yang bersangkutan.
   Informasi tentang kinerja koperasi tersebut menentukan sikap dan langkah terhadap
koperasi pada masa yang akan datang. Bagi masyarakat yang belum menjadi anggota akan
mempengaruhi sikap dan langkah untuk menjadi anggota. Bagi masyarakat yang telah
menjadi anggota akan mempengaruhi apakah akan meningkatkan atau mengurangi
partisipasinya terhadap koperasi. Bagi pengelola akan menjadi bahan untuk menentukan
sikap dan langkah tentang hal-hal mana yang memerlukan perhatian atau perubahan
kebijakan dan penanganan secara khusus. Bagi mitra koperasi, akan mem-permudah
menentukan sikap akan meningkatkan, menahan atau mengurangi kemitraannya.
   Tujuan pengukuran dan penilaian hasil pemberdayaan koperasi oleh koperasi sendiri
adalah untuk :

a. Mengetahui tingkat perkembangan keadaan koperasi.


b. Mengetahui seberapa besar deviasi keadaan yang ada dibandingkan dengan keadaan
yang direncana-kan, atau diinginkan.
c. Memperoleh masukan dalam rang-ka pengendalian operasional jalannya organisasi
dan usaha koperasi.
d. Memperoleh masukan tentang keperluan pemberdayaan koperasi pada masa yang
akan datang.

   Sedangkan manfaat dari hasil pengukuran dan penilaian pemberdayaan koperasi adalah
sebagai bahan untuk menggali, menyusun dan memilih alternatif terbaik dalam upaya
meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemberdayaan koperasi pada masa yang akan
datang. Pengguna hasil pengukuran dan penilaian hasil pemberdayaan koperasi adalah
pihak yang berkepentingan dalam pemberdayaan koperasi, yaitu :

a). Anggota
Anggota berkepentingan untuk mengetahui hasil pengukuran dan penilaian hasil
pemberdayaan koperasi sebagai bahan untuk menilai apakah koperasi berjalan
sebagaimana mestinya dan sebagai mitra bisnis koperasi akan menentukan transaksi apa
yang menguntungkan dilakukan. Bentuk hasil pengukuran hasil pemberdayaan adalah
Keuangan Umum Koperasi, Daftar jenis & Ketentuan layanan koperasi dan Neraca koperasi.

b). Pengurus dan Pengelola


Kepentingan pengurus dan pengelola terhadap hasil pengukuran dan penilaian hasil
pemberdayaan koperasi adalah untuk mengetahui apakah keadaan yang ada berada pada
jalur yang diharapkan serta mendapatkan masukan tentang langkah apa yang diperlukan.
Bentuk hasil pengukuran dan penilaian kinerja koperasi adalah keragaan umum koperasi
dan Neraca.

c). Dinas Koperasi dan UKM serta Pihak Terkait


Dinas Koperasi &UKM berkepen-tingan terhadap hasil pengukuran dan penilaian kinerja
koperasi,untuk mengetahui hasil pemberdayaan yang telah dicapai dan langkah apa yang
tepat untuk pemberdayaan lebih lanjut. Bentuk hasil pengukuran dan penilaian kinerja
koperasi adalah Keragaan Umum Koperasi, Neraca dan Jenis Kemitraan yang diharapkan.

Daftar Bacaan

Undang - Undang No 25 / 92 Tentang Perkoperasian.


Peraturan Pemerintah No 9 / 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Simpan Pinjam oleh
Koperasi.
Keputusan Menteri Koperasi & UKM No 94 / 1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan
Simpan Pinjam Koperasi.
Keputusan Menteri Koperasi & UKM No 194 / 1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian
Kesehatan Simpan Pinjam Koperasi.
Keputusan Menteri Negara Koperasi & UKM No 29 / 2002 tentang Pedoman Klasifikasi
Koperasi.
Surat Menteri Negara Koperasi & UKM No 51/M.KUKM/IV/2002 tentang Pedoman Penilaian
Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Berprestasi Tahun 2002
Model Law For Credit Unions, World Council Of Credit Unions, Inc, 2000
Richard, S dan S. Oma.How To Measures Managerial Performance, Richard S, S, Oma, Mac
millan Publishing co, New York, 1980.
Buku Pintar Koperasi Kredit (1 & 2), Pusat Koperasi Kredit Jakarta, 2001 Penyusunan
Kriteria Penilaian Hasil Pemberdayaan Koperasi. Dinas Koperasi dan UKM Propinsi DKI
Jakarta, 2003.

*) Penulis adalah Peneliti pada Kementerian Koperasi dan UKM

Anda mungkin juga menyukai