Anda di halaman 1dari 1

KOMITMEN PIMPINAN : FAKTOR SUKSES WHISTLE BLOWER SYSTEM Dikirim oleh

humas pada 2010/10/13 10:20:00 (177 Pembaca)

Kepemimpinan transformasional dan visioner merupakan salah satu kunci penting untuk keberhasilan
whistle blowing internal. Pemimpin yang setia pada visi-misi organisasi, bisa menjadi role model, agen
perubahan dan motivator ulung akan membuat sistem “peniup peluit” ini akan bekerja efektif dalam
sebuah organisasi.

Demikian diungkapkan DR Waluyo, mantan Plt Pimpinan KPK yang saat ini menjabat sebagai Direktur
Umum Pertamina dalam acara knowledge sharing bersama karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi di
gedung KPK, kemarin (12/10).

Waluyo berbagi ilmu mengenai Whistle Blowing Internal yang juga menjadi tema desertasinya di
Universitas Indonesia. Menurut dia, jika whistle blowing internal ini dilakukan dengan efektif, maka whistle
blowing eksternal tidak akan muncul. “Namun untuk menjadikan whistle blowing internal efektif,
diperlukan dukungan dan kemauan kuat dari manajemen tingkat atas,” tandasnya.

Whistle blowing system adalah sebuah sistem pencegahan dan identifikasi terhadap fraud yang terjadi
dalam suatu perusahaan/organisasi. Menurut Waluyo, tidak ada satu organisasi pun yang terhindar dari
fraud. “Sistem whistle blowing ini bisa menurunkan perilaku curang dalam organisasi/perusahan, tetapi
sistem ini harus dikelola agar efektif.” Yang bertindak sebagai whistleblower adalah karyawan, senior
manajer, customer, vendor, supplier dan semua yang berkepentingan dengan eksistensi
organisasi/perusahaan.

Waluyo menambahkan, selain dukungan manajemen tingkat atas, efektifitas whistle blowing internal akan
tercapai jika ada sumber daya manusia dan akses pelaporan yang mudah dan dijamin kerahasiaannya.
Yang tidak kalah penting, tandas dia, adalah penciptaan iklim kerja yang beretika.

Menurut dia, jika sistem whistle blowing internal ini berjalan efektif, lingkungan kerja akan lebih nyaman
dan ini menumbuhkan persepsi stakeholder dan shareholder bahwa perusahaan/organisasi memiliki
komitmen tinggi untuk melaksanakan bisnis yang bersih. “Semakin transparan praktik bisnis, maka bisnis
yang dilakukan akan semakin bersih.” Waluyo mencontohkan, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara
Negara (LHKPN) sebagai salah satu kegiatan untuk mempromosikan transparansi.

Ditambahkan Waluyo, yang tak penting adalah bagaimana mengomunikasikan keberadaan sistem
whistle blowing internal ini kepada seluruh karyawan. “Harus dikomunikasikan agar karyawan bergairah.”
Selain itu juga dibutuhkan sebuah code of conduct dan prosedur opersional standar untuk investigasi.
(humas)