Anda di halaman 1dari 5

Tugas Sejarah

Pertanyaan:

1. Perkembangan sistem pemerintahan, struktur birokrasi, dan sistem hukum pada


masa kolonial
a. Bagaimana sistem pemerintahannya?
b. Bagaimana struktur birokrasinya?
c. Bagaimana sistem hukum yang berlaku?

2. Deskripsikanlah perubahan demokrasi dan demografi dari abad 19 sampai awal


abad 20!
a. Komersialisasi ekonomi
b. Monetisasi
c. Industrialisasi
d. Pertumbuhan dan mobilitas penduduk

3. Deskripsikanlah kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia pada masa


kolonial!
a. Bagaimana mobilitas sosial di daerah-daerah?
b. Bagaimana sosial dan budaya masyarakat pada masa kolonial?
c. Bagaimana kedudukan atau peranan perempuan pada masa kolonial?

Jawab:

1. Perkembangan sistem pemerintahan, struktur birokrasi, dan sistem hukum


pada masa kolonial:
a. Sistem pemerintahan pada masa kolonial:
Kekuasaan penguasa pribumi berubah, mereka jatuh status sosialnya,karena
kekuasaannya selaanjutnya tergantung pada pemerintah kolonial Belanda.Kebebasan para
pemimpin bumiputera untuk mengambil keputusan dan menentukan kebijakan tidak
berlaku lagi. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan kolonial menyebabkan
runtuhnya kekuasaan politik setempat, merosotnya kehidupan sosial dan goyahnya
budaya dan tradisi

b. Struktur birokrasi pada masa kolonial:


Birokrasi merupakan sistem struktur manajemen pemerintahan negara atau
administrasi besar atau organisasi sesuai dengan kebutuhan atau keinginan yang
kompleks yang ditandai dengan otoritas hirarkis di antara banyak kantor dengan prosedur
yang tetap. Pada masa kolonial, sistem birokrasi digunakan untuk mengendalikan seluruh
wilayah dengan mempertimbangkan jarak, daratan dan wilayah antar negeri yang sangat
besar agar tidak menyulitkan dalam melakukan eksplorasi sumber-sumber daya, selain
dari itu perlu adanya partisipasi pasif, partisipasi aktif dari bumiputera sangat diperlukan,
kolaborasi dalam partisipasi aktif ini tentunya dengan tidak boleh mengorbankan
kekuasaan dan pengaruh kolonialisme.
c. Sistem hukum yang berlaku pada masa kolonial:
Pada masa kolonial Belanda, Belanda memberlakukan semacam undang-undang
dasar bagi wilayah Indonesia yang bernama Indische Staatsregeling (IS). Pada masa ini,
pemerintah Hindia Belanda berusaha untuk melakukan unifikasi hukum di Indonesia, dan
berkat perjuangan Van Vollenhoven hukum adat juga dimasukkan dalam sistem hukum
kolonial Belanda, sehingga terdapat Indische Staatsregeling yang berada di pusatnya dan
sistem Hukum Adat, sistem Hukum Islam dan sistem Hukum Barat berada diluarnya.

2. Perubahan demokrasi dan demografi dari abad 19 sampai abad 20 di bidang


komersialiasi ekonomi, monetisasi, industrialisasi, pertumbuhan dan mobilitas
penduduk:
Dalam menentukan kebijakan pemerintahan di tanah jajahan, ada dua golongan
politik yang berpengaruh di kalangan elite Belanda, yaitu golongan liberal dan golongan
konservatif. Kaum liberal mengajukan gagasan baru bagi kebijakan kolonial di Indonesia,
yang ditujukan kepada kebebasan dan kesejahteraan penduduk. Gagasan dan cita-cita
liberal ini mendapat pengaruh dari Revolusi Perancis, karena negeri Belanda pernah
dikuasai oleh Perancis. Kaum liberal berharap pemerintah Belanda menjalankan sistem
pemerintahan langsung dan menggunakan sistem pajak, sedangkan kaum konservatif
lebih memilih mempertahankan sistem politik dan sistem ekonomi yang diterapkan pada
masa VOC. Kaum konservatif mengganggap cara yang dilakukan oleh VOC lebih efisien
karena mereka menganggap gagasan orang-orang liberal sangat sulit untuk dilaksanakan
pada masyarakat karena faktor pertanian yang belum maju. Karena adanya dua
perbedaan pandangan, maka pemerintah mengambil jalan tengah, yaitu melaksanakan
anjuran kaum konservatif karena kebijakannya mendatangkan keuntungan yang cepat dan
mudah untuk dilaksanakan. Namun pemerintah juga menjalankan pembaharuan yang
dianjurkan oleh kaum liberal, maka politik kolonial pada tahun 1800-1870 dipengaruhi
gagasan untuk menjalankan sistem dagang dan sistem pajak. Gagasan pembaharuan
dalam politik kolonial dimulai sejak pemerintahan Deandels dan Raffles di Indonesia
pada awal abad-19. Pada zaman pemerintahan kolonial Inggris di bawah Raffles berkuasa
di Indonesia, diperkenankan sistem sewa tanah. Bahkan sistem sewa tanah itu dijadikan
pegangan pemerintah Inggris dalam menjalankan kebijakan ekonominya selama berkuasa
di Indonesia. Sistem itu diteruskan oleh pemerintah Belanda setelah Indonesia diserahkan
kembali oleh Inggris. Raffles berpendapat bahwa tanah adalah milik pemerintah kolonial
sehingga para petani yang mengerjakan tanah dianggap sebagai penyewa tanah yang
wajib membayar sewa tanah kepada pemerintah. Setelah Indonesia diserahkan kepada
Inggris pada tahun 1816, pemerintah kolonial Belanda melanjutkan sistem pemerintahan
yang dilakukan oleh Inggris, tetapi mengalami kegagalan akibat dari pemerintah kolonial
Belanda di bawah Gubernur Jendral Van den Bosch melaksanakan sistem tanam paksa
(culture stelsel). Tanam paksa berhasil mengembalikan kejayaan negeri Belanda
berlimpah-limpah. Ketika kaum liberal memperoleh kemenangan di negeri Belanda,
mereka menuntut kepada pemerintah kerajaan Belanda agar menghapuskan sistem tanam
paksa. Setelah sistem tanam paksa dihapuskan, bukan membawa perbaikan namun
membawa kemerosotan. Terutama bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, para
pengusaha swasta dapat memperoleh keuntungan dalam jumlah yang sangat besar,
sedangkan kehidupan masyarakat terus merosot, sehingga sangat sulit untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
3. Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia pada masa kolonial:
a. Mobilitas sosial pada masa kolonial:
Pada masa itu, masa dimana rakyat masih menggunakan tempurung kepala untuk
meminum air yang didapat dari mata air, rakyat biasa hidup menderita. Mereka miskin
makanan, miskin pendidikan (rakyat miskin tidak dapat bersekolah), miskin baju, serta
miskin akan hak-hak sebagai manusia. Bahkan, ketika ekspor panen getah naik 40% pun,
rakyat masih memakan umbi batang pisang. Bisa dikatakan bahwa martabat manusia saat
itu tidaklah lebih penting dari hasil panen kopi. Bahkan, anak-anak dari kalangan rakyat
miskin pun diharuskan untuk bekerja (misalnya dengan menjual rumput liar) agar dapat
bertahan hidup. Mereka hidup terjajah dan terbelakang.
Hidup terlihat sangatlah tidak adil bagi kaum rakyat biasa tersebut. Merekalah yang
menanam dan memanen hasil-hasil ekspor tersebut namun bukannya menikmati
keuntungan dari apa yang mereka lakukan, mereka malah mendapatkan penderitaan dan
keuntungan yang didapat diambil oleh kaum penjajah. Meskipun tidak adil dan mereka
hidup dengan sangat menderita, mereka mau tidak mau harus tetap mengikuti hal-hal
yang sudah berlaku dan hanya bisa pasrah agar tetap dapat melangsungkan hidup mereka.
Yang terasa berlebihan yaitu anak-anak kecil diharuskan untuk bekerja, padahal mereka
seharusnya memiliki hak untuk menikmati masa-masa indah sebagai anak-anak, bukanlah
merupakan kewajiban mereka untuk bekerja, kewajiban untuk bekerja sudah
selayaknyalah berada pada pundak orang tua mereka.

b. Sosial dan budaya pada masa kolonial:


Anak yang sudah dapat berjalan akan menjalani upacara tedak siten. Upacara tersebut
dilakukan untuk memperingati seorang anak yang mulai mampu berjalan di tanah Jawa
untuk pertama kalinya.
Upacara tedak siten tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa masih mementingkan
tradisi yang diwariskan turun temurun dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya.
Mereka menjaga tradisi yang ada dengan baik agar tradisi tersebut tidaklah hilang
dimakan waktu. Selain itu, memperlihatkan bagaimana mereka ingin mengingatkan
kepada masyarakat setempat bahwa anak mereka ‘ada’ dan sudah mampu berjalan, yang
menandakan bahwa hal itu adalah langkah pertama mereka menuju sesuatu yang lebih
berarti lagi nantinya. Terdapat tradisi pingitan. Tradisi tersebut mengharuskan seorang
anak perempuan yang sudah siap dinikahkan (sudah menstruasi) tinggal di dalam suatu
ruangan dan hanya diperbolehkan untuk menemui kerabat dekatnya. Kemudian, dia akan
tinggal disana hingga orang tuanya mendatangkan calon suami untuknya. Anak
perempuan tersebut pada akhirnya akan menikahi orang yang dibawa oleh orang tuanya
tersebut. Tradisi ini merupakan tradisi yang bisa dikatakan konyol karena bertujuan agar
tidak mengenal pria lain dan tidak adil (apalagi bila dipadankan dengan pria yang
berumur jauh diatas anak perempuan yang dipingit). Perempuan tidak diberikan
kesempatan untuk memilih, bahkan memilih untuk dirinya sendiri. Wanita dianggap tidak
mampu dan diperlakukan sesuai dengan kehendak yang berada diatasnya (orang tuanya),
padahal mereka bahkan belum memberikan kesempatan bagi anak perempuan tersebut
untuk melakukan hal yang diinginkannya.
Rakyat yang banyak tertekan dan terbelakang tersebut serta situasi pada saat itu
meragukan bahwa bisa bebas dari tekanan-tekanan yang ada. Sedangkan orang Belanda,
mengumbar banyak janji namun sulit melihat gambaran kenyataannya.
Hal itu memperlihatkan kepada bangsa Indonesia bahwa bangsa Belanda (Eropa) sulitlah
dipercaya karena hanya mengumbar janji. Namun, terlihat juga betapa bangsa Indonesia
sangatlah mudah diperalat yaitu rakyat masih saja banyak yang mempercayai janji-janji
yang dibuat, yang dimungkinkan karena keadaan yang tidak juga membaik dan adanya
keinginan bahwa janji yang diumbar akan menghasilkan sesuatu yang nyata. Dari semua
keadaan tersebut, rakyat ditanami suatu pikiran bahwa mereka terpenjara dalam lingkaran
setan tak berujung dan mereka tidak dapat bebas lagi dari dalamnya. Keraguan rakyat
tersebutlah yang mendorong sulitnya mereka terbebas dari keadaan yang ada.

c. Peran wanita pada masa kolonial:


Di zaman tersebut, gelar tertinggi (terutama untuk wanita) yaitu gelar ‘Raden Ayu’. Gelar
tersebut bisa didapat dengan menjadi istri utama dari seorang bupati. Seorang bupati bisa
menikahi sebanyak mungkin wanita yang ia inginkan, namun hanya seorang dari
merekalah yang bisa diangkat menjadi istri utama. Istri utama akan tinggal di rumah
utama dan istri lain tinggal di rumah lain meskipun masih berada dalam satu kompleks.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum wanita pada zaman tersebut dianggap tidaklah
lebih tinggi daripada kaum pria, terjadi diskriminasi terhadap perempuan dan kaum
wanita pun tidak mampu melakukan hal apapun selain pasrah karena hal tersebut sudah
mendarah daging dalam kehidupan mereka. Kaum wanita dianggap sebagai barang yang
bisa dipilih, dinikahi, dan diperlakukan secara sewenang-wenang oleh seorang pria.
Poligami tersebut menjadi contoh atas poligami yang terjadi sekarang, serta memperjelas
ketidak adilan terhadap kaum wanita yang terjadi sejak dulu hingga sekarang, yang
jelaslah merendahkan martabat kaum wanita. Terlebih lagi, ketika kaum pria
membandingkan derajat wanita yang satu dengan wanita yang lainnya, hal tersebut dapat
dipastikan sangat menyinggung martabat seorang wanita. Terdapat stratifikasi, bahkan
dalam kaum wanita itu sendiri. Mereka yang berpangkat lebih tinggi bisa menikmati
hidup lebih layak daripada mereka yang berpangkat lebih rendah. Yang menyakitkan
adalah bila mereka yang berpangkat lebih rendah dipisahkan dari anak mereka dan
bahkan tidak diijinkan untuk dipanggil dengan sebutan ‘ibu’ oleh anak yang mereka
lahirkan sendiri dan memanggil dengan sebutan ‘anak’ kepada anak kandung mereka
sendiri. Apalagi ketika mengingat bahwa anak mereka tersebut bahkan dianggap
memiliki pangkat yang lebih tinggi dari pada ibu mereka sendiri. Seorang ibu tidaklah
dianggap seorang ibu lagi ketika sang ibu bukanlah ‘Raden Ayu’.

Nama Ade Tiara


Kelas XI IPS 2
No. Absen 1
Tagihan Menjawab pertanyaa nomor 4, 5, 6 tentang kehidupan masyarakat
Indonesia pada masa kolonial.
Nilai Sikap 31 January 2011:
Daftar pustaka

• http://id.wikipedia.org/wiki/Birokrasi_di_Indonesia#Peran_birokrasi_pada_masa_
kolonial

• http://herlina.fateback.com/bahasa.htm

• http://www.smkn2sekayu.sch.id/BAHAN%20AJAR%20SEJARAH%20KLS
%20XI.ppt

• http://www.elvinmiradi.com/sistem+pemerintahan+indonesia+pada+era+koloni
alisme+belanda.html –

• Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah: Untuk SMA Kelas XI Progran Ilmu Sosial .
Jakarta. Penerbit Erlangga

• http://apaapaapa.blogspot.com/2009/02/kehidupan-masyarakat-dalam-
bidang.html