Anda di halaman 1dari 86

Sep 29, '09 10:14 PM

NIKMAT DAN INDAHNYA SHALAT TAHAJUD


for everyone
Keutamaan Shalat Tahajud

Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah shalat Tahajud. Sehingga, dalam
literatur fikih Islam, shalat Tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan).

Shalat Tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah shalat Isya dan disyaratkan tidur terlebih
dahulu. Pelaksanaan Tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama, yaitu sepertiga
malam terakhir. Bahkan, ada yang menyebut waktu shalat Tahajud adalah di saat ketika kita
dapat mendengar suara jarum yang jatuh di atas lantai.

Allah SWT berfirman, ''Dan di antara waktu malam, maka bertahajudlah sebagai (ibadah)
kesunatan bagimu, semoga Tuhan mengangkatmu ke derajat yang mulia.'' (Al-Israa': 79).

Untuk melaksanakan shalat Tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi
ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin,
bahkan harus perang melawan nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap.
Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-Nya dan Maha Penyayang terhadap usaha
taqarrub kepada-Nya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang
melakukan ibadah sunah ini, yaitu derajat yang mulia, baik di dunia ini maupun di hadapan-Nya
nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat di atas.

Sebuah hadis qudsi tentang fadhilah Tahajud ini, sebagaimana diriwayatkan Bukhari, Muslim,
Malik, Turmudzi, dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Tuhanmu yang Maha
Pemberi Berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu
seperti tiga malam terakhir, dan Dia berfirman, 'Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan
Aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepada-Ku akan Aku berikan, dan
barangsiapa memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni'.''

Mahasuci Allah. Itulah tiga keutamaan shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan
setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan, dan dosa-
dosa diampuni. Mustahil bagi seorang hamba berharap bahwa setiap doanya ditolak,
permintaannya diabaikan, dan dosa-dosanya terus menumpuk.

Alangkah indahnya jika setiap kita umat Islam bisa mengumandangkan adzan, lalu shalat
Tahajud, dan kemudian dilanjutkan dengan doa.
Doa untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang
bermanfaat, serta kehidupan yang baik (hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita
sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha
Pengampun.

Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah pendiri langit dan bumi dan apa yang ada di
dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Raja langit dan bumi, serta segala yang ada di
dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi, serta segala yang ada di
dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau-lah al-Haq, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu
adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga dan neraka-Mu adalah benar, para nabi-Mu adalah
benar dan Muhammad SAW adalah benar serta hari kiamat adalah benar. Wallahu a'lam.
Tags: azan shalat tahajud
Prev: ALANGKAH INDAHNYA MENGUMANDANGKAN AZAN SEBELUM SHALAT
TAHAJUD
Next: MANFAAT SHALAT UNTUK KESEHATAN TUBUH
reply share

PENGUMUMAN:
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis

Sholat Tahajud Yang Indah


Senin, 28 Desember 2009 @ 20:31 WIB - Diari

By: agussyafii

Pagi saya di Rumah Amalia kedatangan tamu, seorang perempuan muda yang bekerja di
perusahaan swasta di Sudirman. Beliau bertutur, 'Mas Agus, saya sangat malas untuk pergi
kerja seperti biasanya. Hp di silent mode, karena tidak ingin terganggu apapun. saya sedang
dirundung kebingungan karena telah menggunakan uang kantor, dan atasan saya
menanyakan uang tersebut. ampuuun saya merasa gelap, dan akhirnya saya tidak masuk
kerja. seharian saya kebingungan di rumah. saya tidak tahu harus berbuat apa.' ucapnya
dengan wajah nampak penuh masalah.

Saya mengusulkan kepada beliau agar sholat tahajud sesampai di rumah, 'Memohonlah
kepada Alloh SWT, agar diberikan petunjuk.' Selepas adzan Isya' beliau izin pamit untuk
pulang. Saya mempersilahkan untuk meminum tehnya terlebih dahulu. Terlihat wajahnya
penuh keraguan, 'Bagaimana mungkin masalah saya bisa diselesaikan dengan sholat
tahajud?' itu pertanyaan yang dilontarkan sebelum meninggalkan saya. Sayapun tersenyum
mendengar pertanyaan itu. 'Yakinlah, Alloh SWT akan membantu anda,'

Beberapa hari kemudian, perempuan muda itu datang lagi ke Rumah Amalia, beliau
bertutur, 'setelah pulang dari Rumah Amalia, di tengah malam saya putuskan untuk mengadu
pada penguasa alam ini, saya tundukkan,sujudkan kening serendah-rendahnya untuk
mengharap ridho Alloh SWT. 'tuturnya.
'Saya pasrahkan segalanya pada penguasa kerajaan langit dan bumi ini, saya curhat kepada
Sang Khaliq. Saya pasrah berangkat kerja dengan bulat tekad saya akan katakan
sesungguhnya, dibenak saya saat itu saya akan dipecat tapi saya pasrah.' lanjutnya, terlihat
wajahnya memerah.

'Tapi apa yang terjadi Mas Agus? Subhanallah atasan saya hanya terdiam ketika mendengar
pengakuan saya dan akirnya beliau langsung memberikan solusi tanpa harus memecat saya
dari pekerjaan. Sungguh luar biasa indahnya Sholat Tahajud!' tuturnya dengan senyuman.
Sore itu telah menjadi sebuah kesaksian betapa indahnya sholat tahajud sebagai solusi hidup,
'Menyelesaikan masalah, tanpa masalah.'

Wassalam,
agussyafii

---
Yuk, sambut satu cinta untuk anak-anak Amalia. Dalam kampanye program 'Satu Cinta
Untuk Amalia (TALIA)' Kirimkan dukungan dan komentar anda di
http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii,
http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

Menyingkap Rahasia Sains Tahajud

pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam
kondisi layaknya orang yang melakukan meditasi dan relaksasi. jika kita pernah mendengar lirik
lagu tombo ati yang didendangkan budayawan kondang emha ainun nadjib bersama kelompok
musik kiai kanjeng, tahajud disebut sebagai salah satu pengobat hati. sebab shalat sunah yang
ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih
dekat dengan allah. hati yang dekat dengan tuhannya adalah hati yang damai.

orang yang rindu tahajud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. ia rela untuk
menghentikan kelelapan tidurnya dan bersimpuh pada sang khalik. alquran memuji mereka
dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat peraduan.

tahajud diketahui sebagai ibadah yang ditunaikan pada malam hari, saat setiap orang
mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan aktivitas di siang hari. banyak kalangan menyatakan
bahwa idealnya masa tidur di malam hari adalah enam hingga delapan jam. tidur di malam hari
akan memberikan energi baru bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya di pagi hingga siang
hari.

namun kemudian muncul sebuah pendapat lain dari seorang ilmuwan bernama ray meddis. ia
menyatakan bahwa masa tidur yang sempurna hanyalah tiga hingga empat jam setiap harinya.
seseorang akan mengalami deep slep sekitar tiga hingga empat jam saja. tentu seorang muslim
mampu memanfaatkan sisa masa tidur itu untuk memadu cinta dengan tuhannya, melalui shalat
tahajud.
“bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya. yaitu seperduanya atau
kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah alquran dengan
perlahan-lahan.” (al-muzammil [73]: 2-4).

seorang ilmuwan muslim asal mesir, fadhlalla haeri, menyatakan bahwa ayat tersebut
memberikan panduan bagi muslim untuk mencapai keseimbangan. di sisa masa istirahatnya, tiga
jam masa efektif tidur malam, maka ia pun semestinya bangun untuk menjalankan aktivitas yang
bermanfaat. bangun di waktu malam adalah salah satu aktivitas yang memberikan manfaat.

ia menambahkan, pada saat itu energi did lam tubuh seseorang berada dalam kondisi rndah.
selain itu, medan refleksi juga begitu bersih. dalam tradisi india, kondisi seperti itu disebut
sebagai tahap pembentukan kesadaran yang terjadi pada titik energi ketujuh atau cakra mahkota.
dampaknya, akan meningkatkan intuisi seseorang dan kesadaran diri untuk mampu
mengendalikan emosi negatif.

menurut haeri, pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia
berada dalam kondisi layaknya orang melakukan meditasi dan relaksasi atas kelenjar pineal. ini
akan menspiritualkan intelektual sesorang disertai dengan kemampuan personal untuk selalu
mendekatkan diri kepada allah serta menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya.

tak hanya itu, pada saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan memproduksi
hormon melatonin dalam jumlah besar dan mencapai puncaknya pada pukul 02.00 hingga 03.00
dini hari. hormon inilah yang kemudian menghasilkan turunan asam amino trytophan dalam
jumlah besar pula.

tahukah anda? tahajud menjadi sarana untuk mempertahankan melatonin dalam jumlah yang
stabil.

hormon melatonin akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh dan membatasi gerak pemicu
tumor seperti estrogen. haeri mengungkapkan bahwa pada masa kanak-kanak melatonin yang
ada di dalam tubuh berjumlah 120 picogram. namun jumlah tersebut akan semakin menurun
pada usia 20 30 tahun. selain secara alamiah, pengurangan jumlah melatonin di dalam tubuh juga
diakibatkan adanya pengaruh eksternal, seperti: tidur larut, medan elektromagnetik, dan polutan
kimia misalnya pestisida, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dan
sakit kepala. pada titik tertentu bahkan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh.

kafein yang terkandung di dalam kopi, teh hitam, dan soda tertentu juga akan menyebabkan
kemampuan antioksidan melatonin berkurang. keadaan ini akan membahayakan sel-sel tubuh
saat seseorang tengah terjaga. dengan demikian, kata haeri, yang harus menjadi perhatian adalah
bukan kuantitas tidur seseorang untuk memberikan kebugaran pada tubuh, tetapi justru kualitas
tidur. tiga jam adalah waktu yang cukup untuk itu.

tahajud tidak hanya memberikan pengaruh pada posisi melatonin. gerakan ibadah di sepertiga
malam terakhir ini juga memberikan pengaruh tertentu pada tubuh. setidaknya, pada saat berdiri
tegak dan mengangkat takbir secara tidak langsung akan membuat rongga toraks dalam paru-
paru membesar. ini akan menyebabkan banyak oksigen yang masuk ke dalamnya. ada kesegaran
yang dirasakan ketika seseorang dapat menghirup udara segar ke dalam paru-parunya di
keheningan malam itu. pada saat sujud, seluruh berat dan daya badan dipindahkan sepenuhnya
pada otot tangan, kaki, dada, perut, leher, dan jari kaki. proses ini dilakukan berulang-ulang
sesuai jumlahrakaat shalat tahajud yang kita lakukan.

setelah oksigen masuk ke dalam paru-paru, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan lancar
karena adanya pergerakan otot selama ruku’ dan sujud. selain itu, dalam shalat seseorang juga
melakukan gerakan duduk di antara dua sujud dan tahiyat yang menyebabkan adanya gerakan
tumit, pangkal paha, jari tangan, jari kaki, dan lainnya. tentu peredaran oksigen akan menjadi
lancar.
__________________

Memberi bukan berarti kehilangan. Menerima bukan berarti kemujuran. Memberi


adalah awal dari penerimaan. Menerima adalah akhir daripada pemberian

Minggu, 31 Januari 2010


FAWAID SHALAT SUNNAH
Tidak ada sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam kecuali ia mengandung
hikmah-hikmah atau faidah-faidah mulia, tanpa kecuali shalat sunnah. Di antara fawaidnya
adalah:

Pertama,Menjaga shalat sunnah membantu hamba untuk masuk ke dalam deretan sabiqina bil
khairat sebagaimana dalam ayat 32 surat Fathir yang telah hadir di tulisan sebelumnya dan hal
itu menurut penafsiran sebagian ulama.

Kedua, Menjaga shalat sunnah mendekatkan hamba kepada Allah dan selanjutnya membuat
hamba meraih mahabbah, kecintaan dari Allah Ta'ala.

‫عاَدى ِلي َوِلًيا َفَقْد آَذْنُتُه‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ َم‬: ‫ إن ال تعالى يقول‬: ‫ قال رسول ال صلى ال عليه وسلم‬: ‫عن أبي هريرة رضي ال عنه قال‬
ُ‫حّبه‬ِ ‫حّتى ُأ‬ َ ‫ل‬ ِ ‫ي ِبالَنَواِف‬
ّ ‫ب ِإَل‬
ُ ‫عْبِدي َيَتَقّر‬
َ ‫ل‬
ُ ‫عَليِه َوَما َيَزا‬
َ ‫ضُتُه‬
ْ ‫ي ِمّما اْفَتَر‬
ّ ‫ب ِإَل‬
ّ ‫ح‬
َ ‫شيٍء َأ‬
َ ‫عْبِدي ِب‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ب ِإَل‬
َ ‫ب َوَما َتَقّر‬
ِ ‫حْر‬
َ ‫ِبال‬...

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman,
‘Barangsiapa memusuhi waliKu maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. HambaKu tidak
mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku
wajibkan atasnya. HambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah
sehingga Aku menyintainya…” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ketiga, Menjaga shalat sunnah memberi peluang bagi seorang hamba untuk menyertai Nabi saw
di surga.
Dari Rabi’ah bin Kaab al-Aslami berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Mintalah.” Aku
menjawab, “Aku berharap bisa menyertaimu di surga.” Nabi saw bertanya, “Apakah tidak yang
lain?” Aku menjawab, “Cukup itu.” Maka Nabi saw bersabda, “Bantulah aku atas dirimu dengan
memperbanyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Hadits ini mempunyai kisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dinyatakan
shahih li ghairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 388, Rabi’ah
berkata, “Di siang hari aku melayani Nabi saw, jika malam tiba, aku datang ke pintu Rasulullah
saw dan tidur di sana. Aku selalu mendengar beliau mengucapkan, ‘Subhanallah, Subhanallah,
Subhana Rabbi.’ Sampai aku merasa bosan dan tidak kuat menahan kantuk sehingga aku pun
tidur. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, mintalah sesuatu kepadaku,
aku akan memberimu.’ Aku menjawab, ‘Beri aku waktu untuk berpikir.’ Rabi’ah berkata, “Aku
ingat bahwa dunia fana dan terputus, maka aku berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah,
aku memohon kepadamu agar engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkanku dari
neraka dan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah saw diam sesaat lalu bersabda, ‘Siapa
yang menyuruhmu meminta itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada, akan tetapi aku menyadari bahwa
dunia fana dan terputus sementara engkau mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah seperti saat
ini, maka aku ingin engkau berdoa kepada Allah untukku.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Aku
lakukan, namun bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.”

Memperbanyak sujud berarti memperbanyak shalat, ungkapan ini termasuk, ‘Menyebut sebagian
dan maksudnya adalah keseluruhan.’ Dan yang mungkin diperbanyak adalah shalat sunnah.

Keempat, Menjaga shalat sunnah memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi dalam shalat-
shalat fardhu.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali
dihisab adalah shalat, Rabbuna berfirman kepada malaikat –Padahal Dia lebih mengetahui-
‘Lihatlah shalat hambaKu, apakah dia menyempurnakannya atau tidak?’ Jika dia
menyempurnakannya maka ditulis sempurna untuknya, jika dia mengurangi sebagian darinya
maka Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hambaKu mempunyai shalat sunnah?’ Jika dia
mempunyai shalat sunnah maka Allah berfirman, ‘Sempurnakanlah untuk hambaKu faridhahnya
dari sunnahnya…” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Kelima, Memperbanyak sujud membuka peluang dikabulkannya doa.

Nabi saw bersabda, “Keadaan di mana hamba paling dekat kepada Rabbnya adalah sewaktu dia
sujud, maka perbanyaklah doa.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

Keenam, Menjaga shalat sunnah merupakan bukti syukur hamba kepada Allah Ta'ala yang telah
melimpahkan nikmat-nikmat yang tidak terhitung dan tidak ternilai.

Dari Aisyah bahwa Nabi saw melakukan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak, maka
Aisyah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah
telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?” Rasulullah saw
menjawab, “Aku hanya ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur.” Muttafaq alaihi. Wallahu
a’lam.
Ketujuh, Menjaga shalat sunnah meninggikan derajat dan melebur kesalahan.

Dari Ma’dan bin Abu Thalhah berkata, “Aku bertemu Tsauban mantan hamba sahaya Rasulullah
saw, aku berkata kepadanya, ‘Katakan kepadaku suatu amal yang bisa aku kerjakan yang
dengannya Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Tsauban tidak menjawab. Aku
mengulanginya sampai tiga kali, maka dia berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada
Rasulullah saw dan beliau bersabda, ‘Perbanyaklah sujud untuk Allah, karena kamu tidak
bersujud satu kali untuk Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dengannya dan
menghapus satu kesalahan darimu dengannya.’
(Izzudin Karimi)

KEKUATAN SHOLAT MALAM (1)


May 12th, 2008
Sudah banyak buku yang membahas tentang hikmah dan kekuatan sholat malam, berdasarkan
dalil Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama salaf. Pada tulisan ini saya ingin menyampaikan
hikmah dan kekuatan sholat malam berdasarkan pengalaman saya mengerjakan sholat malam
selama beberpa tahun kemudian berhenti selama beberapa tahun dan kembali mengerjakannya
lagi .
Perintah mengerjakan sholat malam sangat banyak kita temui dalam Al Qur’an. Antara lain pada
surat Al Israak ayat 78 dan 79 :
78- Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan
(dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).
79- Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke
tempat yang terpuji. ( Al Israak 78-79)
Bisa juga kita temui pada S al Muzzammil ayat 1- 9, Al Insan 25-26, Az-Zumar 9 dan lain
sebagainya. Rasulullah tidak pernah meninggalkan mengerjakan sholat malam selama hidupnya.
Sholat malam adalah salah satu senjata utama orang mukmin dalam menghadapi berbagai
masalah didunia ini. Namun sangat disayangkan sedikit sekali umat Islam yang sanggup
mengerjakan nya secara rutin setiap hari sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.
Saya mulai tertarik untuk mengerjakan sholat malam ini ketika masih duduk dikelas 2 STM
tahun 1969. Tekanan hidup dan kesulitan ekonomi membawa saya untuk menekuni sholat
malam, saya berharap Allah akan menolong saya mengatasi berbagai masalah yang saya hadapi.
Saya mulai sholat malam dalam keadaan masih buta huruf Al Qur’an alias belum bisa baca
qur’an. Hafalan saya hanya Al Fatihah dan 3 surat pendek Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nass. Saya
lakukan sholat malam seperti melakukan sholat taraweh, yaitu 2 rakaat kali empat ditambah 3
Raka’at sholat witir.
Keadaan saya ketika itu sangat sulit, uang sekolah tidak pernah saya bayar tepat waktu. Saya
selalu menunggak uang sekolah sampai 2 atau 3 bulan. Uang transport dan jajan yang diberikan
ayah juga pas pasan bahkan kadangkala kurang dari cukup. Pernah satu ketika saya kehabisan
ongkos hingga terpaksa pulang jalan kaki dari sekolah saya di Kampung Bali Tanah Abang
kerumah saya di kampung Pecandran, kira kira dibelakang Wisma Mandala jalan Gatot Subroto
sekarang.
Untuk menghemat biaya trasport saya menumpang dirumah teman sekelas saya Aliyusmardi di
daerah Jatibunder sehingga bisa kesekolah dikampung Bali dengan jalan kaki. Disamping rumah
teman saya ada sebuah Musholah. Orang tua teman saya bapak Murad memang sebagai pengurus
Musholah itu. Tiap hari saya bangun sekitar jam 3.30 mengerjakan sholat malam, kemudian
memompa air untuk keperluan musholah dan memasang tikar dimusholah untuk sholat subuh.
Saya sering menangis malam hari mengadukan keadaan saya pada Allah , saya cemas akan masa
depan saya. Apalagi setamat STM pertengahan tahun 1970 saya tidak bisa langsung bekerja,
Ijazah saya ditahan sekolah karena saya belum melunasi uang sekolah selama 6 bulan. Orang tua
saya tidak mampu membayar uang sekolah sekaligus 6 bulan. Saya bingung, saya hanya
mengadukan semua ini pada Allah dimalam hari.
Selama belum bekerja saya tetap tinggal dirumah teman saya, dan saya mulai belajar membaca
Al Qur’an secara autodidak serta tanya sana sini dengan teman yang lebih pandai. Alhamdulilah
dalam tempo 3 bulan saya sudah bisa membaca Al Qur’an. Disamping mengerjakan sholat
malam saya sering mengerjakan puasa senin–kamis kadang kadang saya juga puasa nabi Daud,
sehari puasa dan sehari berbuka. Sedihnya ketika mau berbuka saya tidak punya uang untuk
membeli makanan, sehingga saya hanya minum air putih dan terus lapar sampai besok hari. Saya
terus melakukan sholat malam dan mohon agar Allah memberi saya pekerjan yang sesuai.
Ditengah kebuntuan dan rasa putus asa saya berdo’a: ”Ya Allah, jika Engkau betul betul Tuhan
penguasa alam semesta yang menjadikan langit dan bumi yang Maha Kuat dan maha kaya, beri
hamba pekerjaan yang sesuai sebagai sumber penghidupan bagi hamba”.
Untuk menambah pengetahuan agama saya perlu banyak membaca buku, namun saya tidak
punya uang untuk membeli buku. Saya sering numpang membaca buku di toko buku LT 6
Gedung Sarinah. Sampai satu ketika saya diperkenalkan dengan teman ayah H Adam Yusuf
pemilik toko buku Fa Yusri di pasar Mayestik. Ia mempersilahkan saya meminjam buku yang
saya minati ditokonya asal dijaga baik baik. Setelah selesai membaca buku itu bisa dikembalikan
lagi ketokonya.
Saya sering bertukar fikiran masalah agama dengan teman teman ayah saya seperti H Adam
Yusuf (alm), H Marzali Ibrahim (alm) bapak Darsyaf Rahman (alm) dan lain lain. Saya sering
bertukar fikiran dengan orang yang sebaya ayah saya. Saya ingin punya teman yang sebaya atau
sedikit lebih tua dari saya. Naluri saya mengatakan bahwa saya akan mendapatkan teman seperti
yang saya inginkan itu. Tahun 1971 saya bekernalan dengan Masjon 13 tahun lebih tua dari saya.
Ia mempunyai satu ruang khusus yang penuh dengan buku. Saya diizinkan menetap dirumahnya.
Semua buku yang dimiliki saya baca dengan antusias. Masjon juga meminta saya untuk
mengajar Al Qur’an bagi adik adiknya.
Sejak itu saya mulai mengajar membaca Qur’an dan ceramah agama dari rumah kerumah pada
beberapa keluarga orang Silungkang di Jakarta. Ekonomi saya mulai membaik, dari honor
mengajar saya bisa mendapatkan sampai Rp 24.000 per bulan. Harga emas ketika itu Rp 500
pergram. Kalau dibandingkan dengan nilai uang sekarang bisa dibayangkan penghasilan saya
ketika itu cukup besar setara dengan 48 gram emas perbulan. Demikianlah Allah telah menjawab
do’a yang sering saya panjatkan setiap sholat malam. Allah memberi saya pekerjaan mengajar
agama dari rumah kerumah dengan penghasilan yang cukup lumayan ketika itu.
Sejak tahun 1972 saya menetap dimasjid Al Falah pasar Bendungan Hilir sambil mengajar
agama dari rumah kerumah saya ikut mengurus kegiatan di masjid Al Falah seperti kegiatan
Kuliah subuh setiap hari, membantu mengurus Khatib Jum’at, mengurus pengajian bulan
Ramadhan dan lain sebagainya. Selama tinggal di Masjid Al Falah saya juga tetap melakukan
sholat malam setiap hari. Bangun jam 3.30 terus sholat malam 2 rakaat kali empat, tambah witir
3 raka’at total semuanya 11 Raka’at. Hafalan ayat Qur’an juga sudah bertambah banyak.
Namun demikian tetap ada hal yang mengganjal dihati saya. Apakah saya bisa hidup layak
seperti orang lain, punya rumah, kendaraan sendiri, berkeluarga punya istri dan anak anak.
Dengan pekerjaan hanya mengajar mengaji seperti ini kiranya hal itu tidak mungkin saya dapat.
Apalagi saya tidak memiliki dasar pendidikan formal dibidang agama, ilmu saya terbatas . Saya
harus bekerja sesuai pendidikan formal saya yaitu STM Elektro. Saya tidak tahu bagaimana bisa
mendapat pekerjaan yang lebih baik. Ijazah STM saya sudah saya tebus dengan melunasi uang
sekolah yang tertunggak selama 6 bulan. Akhir Tahun 1973 saya mulai melamar kerja kesana
kemari dengan modal ijazah STM jurusan elektro yang saya miliki. Sampai akhirnya saya
diterima bekerja di PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang pada tahun 1974. Saya
ditugaskan di PLN Cabang Gambir di bagian perencanaan.
Selama tinggal di Masjid Al Falah Jl Bendungan Hilir dan bekerja di PLN saya tetap rutin
mengerjakan sholat malam. Hingga saya berumah tangga tahun 1978 dan keluar dari masjid Al
Falah mengontrak rumah sendiri di gg Taqwa Tanah Abang. Tahun 1979 saya ditugaskan
melanjutkan pendidikan di LPPU-ITB Bandung selama 3,5 tahun. Setelah saya kembali ke
Jakarta pada tahun 1982 saya mulai sibuk dengan tugas rutin di PLN. Saya tidak sanggup lagi
mengerjakan sholat malam secara rutin.
Tahun 1982 saya sudah punya rumah sendiri di perumahan Bintara III kelurahan Bintara Jaya
bekasi barat . Sholat malam sudah jarang saya lakukan. Kalau saya lakukan sholat malam,
siangnya dikantor jadi ngantuk. Sejak itu saya hanya sholat malam kalau ada kasus atau masalah
yang perlu saya atasi dengan segera. Apa yang saya inginkan dengan sholat malam secara rutin
sudah saya dapatkan. Istri, anak anak, rumah sendiri, kendaraan, penghasilan bulanan yang
cukup dan lain sebagainya.
Tahun 2001 memasuki usia 50 tahun timbul rasa prihatin yang mendalam dalam diri saya, sudah
20 tahun lamanya saya meninggalkan sholat malam yang dahulu ketika masih muda saya
lakukan secara rutin setiap hari. Beberapa kali saya coba mengerjakan sholat malam itu , namun
baru melakukan 2 atau 3 hari sudah putus lagi untuk beberapa lama. Perlu motivasi yang kuat
untuk sanggup melakukan sholat malam setiap hari. Ketika masih muda dahulu tekanan ekonomi
dan kesulitan hidup mendorong saya untuk mengerjakan sholat malam setiap hari dengan
harapan untuk dapat memperbaiki taraf hidup dan ekonomi. Lebih 10 tahun saya melakukan
sholat malam setiap hari, namun setelah apa yang saya inginkan saya dapat, semangat saya untuk
melakukan sholat malam mulai luntur. Saya jarang melakukan sholat malam. Saya hanya
melakukan sholat malam untuk mengatasi kasus atau masalah yang saya hadapi.
Saya perlu memiliki motivasi yang kuat yang mampu mendorong saya untuk melakukan sholat
malam setiap hari. Tahun 2001 saya merenung, usia saya sudah memasuki 50 tahun, 6 tahun lagi
memasuki masa pensiun. Saya tidak tahu berapa tahun lagi saya hidup didunia ini. Saya ingin
membawa bekal yang cukup untuk perjalan hidup di alam barzakh dan akhirat kelak. Ketika
muda dahulu saya sanggup mengerjakan sholat malam setiap hari, mengapa dihari tua , disaat
sudah dekat liang kubur justru saya meninggalkan sholat malam? Saya betul betul prihatin.
Keprihatinan ini menjadi pendorong yang kuat bagi saya untuk kembali melakukan sholat
malam.
April 2001 saya bertekad untuk mulai mengerjakan sholat malam lagi. Saya harus mengerjakan
sholat malam setiap hari selama 40 hari tidak boleh terputus seharipun. Jika pada hari ke 38
terputus maka saya harus mengulang kembali dari awal. Kalau selama ini baru mengerjakan 3
atau 4 hari saya sudah terputus, maka kali ini Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan selama 40
hari berturut turut. Demikian terus saya lakukan hingga 3 kali 40 hari. Alhamdulillah saya bisa
melakukan 120 hari berturut turut tanpa terputus. Anehnya rasa kantuk pada siang hari yang dulu
pernah menjadi penghalang bagi saya untuk melakukan sholat malam sekarang tidak muncul
lagi. Saya bangun setiap hari jam 3.30, terus melakukan sholat malam, setelah azan subuh terus
ke masjid melakukan sholat subuh berjama’ah. Pulang dari masjid membaca Qur’an, nonton
berita TV, senam aerobik , istirahat, mandi dan jam 7.00 berangkat kerja. Alhamdulillah kegiatan
tersebut bisa terus saya lakukan sampai saya memasuki masa pensiun tahun 2006.
Demikianlah saya pernah melakukan sholat malam selama 10 tahun kemudian berhenti selama
20 tahun dan sekarang saya sudah melakukannya kembali sejak 7 tahun yang lalu. Mudah
mudahan saya tetap bisa melaksanakan sholat malam sampai akhir hayat, sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah. Perlu motivasi yang kuat untuk sanggup mengerjakan sholat malam
secara rutin. Motivasi kebutuhan dunia ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong kita
melakukan sholat malam secara rutin. Motivasi kehidupan akhirat dan keinginan untuk dekat
dengan Allah , itulah motivasi yang paling kuat. Lakukanlah sholat malam karena ingin mencari
keredhaan Allah dan selalu dekat dengan –Nya.
Dari pengalaman saya mengerjakan sholat malam selama sekian tahun ada beberpa keuntungan
yang dimiliki orang yang sanggup mengerjakan sholat malam setiap hari secara rutin antara lain:
1. Memiliki intuisi atau firasat yang tajam
2. Mendapat kemudahan dalam menghadapi berbagai masalah dan problem
3. Optimis menghadapi berbagai masalah yang menghadang
4. Sholat diakhir malam menimbulkan rasa nyaman dan aman
5. Merasa selalu dekat dengan Allah
6. Terhindar dari perasaan tertekan dan stres berkepanjangan
7. Mendapat bimbingan dan petunjuk menghadapi berbagai masalah, yang biasanya muncul
ketika sedang duduk istirahat dan berdo’a disela sela sholat malam
8. Dicukupkan Allah semua hajat kebutuhannya dan mendapat rezeki yang tidak pernah
terputus
9. Mendapat pertolongan dan kemudahan dari tempat yang tidak pernah diduga
10. Meningkatkan kecerdasan spiritual
Dan banyak lagi keuntungan lain yang tentunya tidak sama pada setiap orang, tergantung
kekhasan masing masing.

• Forum Diskusi
• Tampilan Topik
Topik: Misteri Sholat Tahajjud
Menampilkan satu-satunya kiriman.


Andi
Hakikat Sholat Tahajjud

Kedudukan Sholat

Radulullah saw bersabda :

“ Sesungguhnya hal pertama yang akan dihisab dari perbuatn manusia pada
hari kiamat kelak adalah sholatnya. Jika sholatnya rusak maka dia akan sial
dan merugi. Jika dalam sholat fardlunya terdapat kekurangan maka Allah swt
akan berfirman : lihatlah, apakah hamba-ku mengerjakan sholat sunah! Maka
kekurangan dalam sholat fardlunya disempurnakan dengan sholat
sunnahnya. Kemudian seluruh amalmnya di perlakukan seperti itu. (HR. Abu
Daud dan Ahmad).

Sholat adalah kunci untuk bisa memasuki surga. Surga adalah kedamaian,
kebaikan dan hal-hal sejenis dengan ini. Dan kekekalannya hanya ada di
negeri akhirat nanti. Untuk itu sholat adalah tiket untuk bisa masuk surga.

Rasulullah bersabda :

“ Hal pertama yang akan diwajibkan oleh Allah atas ummatku adalah sholat
lima kali. Hal pertama yang akan di angkat oleh dari amal perbuatan
ummatku adalah sholat lima kali.”

Sholat sudah dikerjakan oleh nabi Ibrahim, nabi Ishaq, dan Nabi Ya’kub. Dan
perintah yang sama juga diturunkan kepada Nabi Musa. Apalagi Nabi Isa.
Sholat di bagi 2 yaitu sholat wajib dan sholat sunah.

Sholat fardlu (wajib) berjumlah lima waktu :

· Sholat subuh dikerjakan di pagi buta

· Sholat Dzuhur dikerjakan di siang hari

· Sholat asar dikerjakan di sore hari

· Sholat Maghrib dikerjakan di senja hari

· Sholat isya dikerjakan di malam hari

Hakikat, makna, manfaat, atau tujuan sholat :


· Sholat sebagai puncak ibadah

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya
agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui
(Q.S. Al-Isra’ : 1)”

· Sholat sebagai dzikir

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (Q.S
Thaha : 14).”

· Sholat sebagai doa

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami


adalah mereka yang apabila di peringatkan dan memiji Rabbnya, dan lagi
pula mereka tidaklah sombong, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya
dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan
harap. Serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami berikan (Q.S.
As-Sajaah : 15-16)”.

· Sholat sebagai cara untuk memohon pertolongan Allah SWT.

Allah swt berfirman :

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang


demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Q.S. Al-
Baqarah : 45)”.

Sesungguhnya yang disebut sebagai orang yang mukmin adalah orang yang
hatinya mencerminkan tiga keadaan, yakni :

1. Hati yang bersih

2. Hati yang tenang

3. Hati yang dipenuhi cinta-kasih

· Sholat sebagai cara mencegah perbuatan keji dan munkar

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kibab (Al-Qur’an)


dan dirikanlah sholat. Sesunguhnya sholat itu itu mencegah dari (Perbuatan-
perbuatan ) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S Al-Ankabut : 45)”.

Hakikat, manfaat, tujuan atau makna sholat sunah :

· Sebagai pelengkap bagi sholat fardlu

· Merupakan cara, sarana, metode, atau jalan untuk memohon kepada Allah
swt. Sesuai dengan keperluan masing-masing

· Untuk memuji kebesaran Allah

· Merupakan sholat tambahan dan untuk meningkatkan pendekatan dan


kedekatan kita kepada Allah swt

Rahasia-Rahasia Malam

Terbagi menjadi ;

a. Pesona malam

b. Kegelapan malam

c. Keindahan malam

d. Kesejahteraan malam

e. Kekuatan malam, dan

f. Spiritualitas malam

Dahsyatnya Energi Tahajjud

“Dan pada sebian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbilah


kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (Q.S Al-Insan : 26)”.

Sholat tahajud merupakan salah satu awalan sunah yang termasuk ke dalam
kelompok qiyam, al-lail. Amalan lain yang sangat di tekankan untuk
dikerjakan di malam hari adalah :

· Membaca Al-qur’an

· Mengerjakan sholat hajat

· Merenungkan ayat-ayat Allah

· Menambah wawasan atau pengetahuan yang berkaitan dengan


peningkatan kualitas kecerdasan spiritual.

Untuk bisa masuk ke dalam surga dengan penuh kedamaian, terdapat empat
syarat yang harus kita kerjakan :

1. Menyebarkan salam
2. Memberi makan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan
3. Menyambung silaturrahmi, dan
4. Mengerjakan sholat tahajud

Energi yang diberikan oleh sholat tahajud adalah :

1. Masuk surga dengan penuh kedamaian


2. Pencegahan dan Penghapusan perbuatan dosa
3. Obat dari berbagai penyakit, antara lain :

· Mencegah iri hati dan

· Menjadi obat bagi berbagai penyakit yang ada dalam tubuh

1. Dikagumi oleh Allah swt

Menurut Rasulullah saw, ada dua jenis orang yang dikagumi oleh Allah swt,
yaitu :

· Orang yang mengerjakan sholat tahajud, dan

· Orang yang berjihad di jalan Allah sampai titika darah penghabisan.

1. Sebagai Ungkapan rasa syukur


2. Jiwa menjadi baik
3. Permohonan Mustajabah

Ada enam waktu istijabah :


· Septertiga malam yang terakhir

· Ketika adzan

· Diantara Adzan dan Iqamat

· Di saat-saat sholat lima waktu

· Ketika berdirinya imam diatas mimbar jum’at sampai ditunaikannya sholat


jum’at

· Diakhir waktu setelah asar

1. Pintu Kebaikan
2. Memiliki Kemuliaan

Apabila anda mengerjakan sholat sunah tahajud, anda otomatis


mendapatkan kemuliaan dari Allah swt.

Hajat yang Menutupi Energi Sholat Tahajud

1. Ilmu Allah swt

2. Qadha dan Qadar Allah swt

3. Makrifatullah dalam Tahajud

September 30, 2007


GERAKAN SHALAT BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TUBUH
Filed under: Tahajjud
Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat
paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang
obat dari berbagai jenis pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya
manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat
besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini
sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut
berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme
dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-
masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada
bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan
kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke
seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya
oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian
bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh
bagian atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di
atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan
ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus
vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka
aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk
merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi
kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga.
I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat
sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ
pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu
memberi efek melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi
sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas
otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh
pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak
tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan
seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat
luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat
akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada
pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan
nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk
tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar
kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini
mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan
seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis
inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk
bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di
kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri
serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang
ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis)
yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-
tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima
banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang
memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah
kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan
kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah
tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat.
Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan
memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan
dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan
seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam
setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping
itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching).
Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat
dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota
tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian
atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada,
bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah
bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut
(rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta
pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk
mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di
dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi.
Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru
menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan
mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk:
iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya
otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang
persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri
harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan
tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit
dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di
daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur,
kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang
rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh
senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh
Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu
Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam
bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang
dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika
dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat
tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada
imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu,
juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya
permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini
dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol
dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya
antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini
meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak
ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan
temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata
dogma atau doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi.
Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa,
seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit
infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan
seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Misteri Sholat
Tahajjud

Ditulis oleh Samani


Minggu, 13 Desember 2009 09:17
Misteri Sholat Tahajjud

Hakikat Sholat Tahajjud


Kedudukan Sholat
Radulullah saw bersabda :
“ Sesungguhnya hal pertama yang akan dihisab dari perbuatn manusia pada hari kiamat
kelak adalah sholatnya. Jika sholatnya rusak maka dia akan sial dan merugi. Jika dalam
sholat fardlunya terdapat kekurangan maka Allah swt akan berfirman : lihatlah, apakah
hamba-ku mengerjakan sholat sunah! Maka kekurangan dalam sholat fardlunya
disempurnakan dengan sholat sunnahnya. Kemudian seluruh amalmnya di perlakukan
seperti itu. (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Sholat adalah kunci untuk bisa memasuki surga. Surga adalah kedamaian, kebaikan dan
hal-hal sejenis dengan ini. Dan kekekalannya hanya ada di negeri akhirat nanti. Untuk itu
sholat adalah tiket untuk bisa masuk surga.
Rasulullah bersabda :
“ Hal pertama yang akan diwajibkan oleh Allah atas ummatku adalah sholat lima kali. Hal
pertama yang akan di angkat oleh dari amal perbuatan ummatku adalah sholat lima kali.”
Sholat sudah dikerjakan oleh nabi Ibrahim, nabi Ishaq, dan Nabi Ya’kub. Dan perintah
yang sama juga diturunkan kepada Nabi Musa. Apalagi Nabi Isa. Sholat di bagi 2 yaitu
sholat wajib dan sholat sunah.
Sholat fardlu (wajib) berjumlah lima waktu :
• Sholat subuh dikerjakan di pagi buta
• Sholat Dzuhur dikerjakan di siang hari
• Sholat asar dikerjakan di sore hari
• Sholat Maghrib dikerjakan di senja hari
• Sholat isya dikerjakan di malam hari

Hakikat, makna, manfaat, atau tujuan sholat :


• Sholat sebagai puncak ibadah
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam Al-
Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar
kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui (Q.S. Al-Isra’ : 1)”
• Sholat sebagai dzikir
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka
sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (Q.S Thaha : 14).”
• Sholat sebagai doa
“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka
yang apabila di peringatkan dan memiji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah
sombong, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada
Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap. Serta mereka menafkahkan apa-apa
rezeki yang kami berikan (Q.S. As-Sajaah : 15-16)”.
• Sholat sebagai cara untuk memohon pertolongan Allah SWT.
Allah swt berfirman :
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian
itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Q.S. Al-Baqarah : 45)”.
Sesungguhnya yang disebut sebagai orang yang mukmin adalah orang yang hatinya
mencerminkan tiga keadaan, yakni :
1. Hati yang bersih
2. Hati yang tenang
3. Hati yang dipenuhi cinta-kasih
• Sholat sebagai cara mencegah perbuatan keji dan munkar
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kibab (Al-Qur’an) dan
dirikanlah sholat. Sesunguhnya sholat itu itu mencegah dari (Perbuatan-perbuatan )
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan (Q.S Al-Ankabut : 45)”.

Hakikat, manfaat, tujuan atau makna sholat sunah :


• Sebagai pelengkap bagi sholat fardlu
• Merupakan cara, sarana, metode, atau jalan untuk memohon kepada Allah swt.
Sesuai dengan keperluan masing-masing
• Untuk memuji kebesaran Allah
• Merupakan sholat tambahan dan untuk meningkatkan pendekatan dan kedekatan
kita kepada Allah swt

Rahasia-Rahasia Malam
Terbagi menjadi ;
a. Pesona malam
b. Kegelapan malam
c. Keindahan malam
d. Kesejahteraan malam
e. Kekuatan malam, dan
f. Spiritualitas malam

Dahsyatnya Energi Tahajjud


“Dan pada sebian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbilah kepada-Nya pada
bagian yang panjang di malam hari. (Q.S Al-Insan : 26)”.
Sholat tahajud merupakan salah satu awalan sunah yang termasuk ke dalam kelompok qiyam,
al-lail. Amalan lain yang sangat di tekankan untuk dikerjakan di malam hari adalah :
• Membaca Al-qur’an
• Mengerjakan sholat hajat
• Merenungkan ayat-ayat Allah
• Menambah wawasan atau pengetahuan yang berkaitan dengan peningkatan
kualitas kecerdasan spiritual.
Untuk bisa masuk ke dalam surga dengan penuh kedamaian, terdapat empat syarat yang
harus kita kerjakan :
1. Menyebarkan salam
2. Memberi makan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan
3. Menyambung silaturrahmi, dan
4. Mengerjakan sholat tahajud
Energi yang diberikan oleh sholat tahajud adalah :
1. Masuk surga dengan penuh kedamaian
2. Pencegahan dan Penghapusan perbuatan dosa
3. Obat dari berbagai penyakit, antara lain :
• Mencegah iri hati dan
• Menjadi obat bagi berbagai penyakit yang ada dalam tubuh
1. Dikagumi oleh Allah swt
Menurut Rasulullah saw, ada dua jenis orang yang dikagumi oleh Allah swt, yaitu :
• Orang yang mengerjakan sholat tahajud, dan
• Orang yang berjihad di jalan Allah sampai titika darah penghabisan.
1. Sebagai Ungkapan rasa syukur
2. Jiwa menjadi baik
3. Permohonan Mustajabah
Ada enam waktu istijabah :
• Septertiga malam yang terakhir
• Ketika adzan
• Diantara Adzan dan Iqamat
• Di saat-saat sholat lima waktu
• Ketika berdirinya imam diatas mimbar jum’at sampai ditunaikannya sholat
jum’at
• Diakhir waktu setelah asar
1. Pintu Kebaikan
2. Memiliki Kemuliaan
Apabila anda mengerjakan sholat sunah tahajud, anda otomatis mendapatkan kemuliaan
dari Allah swt.

Hajat yang Menutupi Energi Sholat Tahajud


1. Ilmu Allah swt
2. Qadha dan Qadar Allah swt
3. Makrifatullah dalam Tahajud

Rahasia Agar Kita Bisa Bangun Malam


1. Memiliki Azzam yang kuat untuk bangun malam
2. Tidak terlalu banyak makan dan minum sebelum tidur
3. Menggunakan pengingat
4. Tidak terlalu banyak bekerja
5. Tidur sebentar di siang hari, dan
6. Tidak melakukan dosa disiang hari

Keutamaan Sholat Tahajjud

Sholat tahajjud / Qiyamul lail merupakan ibadah sunnah yang memiliki banyak hikmah,
di antaranya bisa mengangkat ke tempat yang terpuji. Sebagaimana tersurat dalam
firman Allah SWT " Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai
suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah - mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat
yang terpuji." (Qs. Al - Isra': 79).
Shalat tahajjud hukumnya sunnah mu'akkad. Namun Rasulullah senantiasa mendirikan
shalat malam baik kondisi tenang maupun dalam tidak tenang, seperti dalam
perjalanan dan perang.
Bahkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasuluallah mendirikan
shalat hingga kedua kakinya lecet." (HR. An - Nasa'i). Kesungguhan Rasul ini juga
diikuti oleh para sahabat dan tabi'in. Sebagaimana ditulis dalam sejarah, para sahabat
dan tabi'in mengisi malam harinya dengan aktivitas ibadah, diantaranya dengan
mengerjakan shalat tahajjud. Bahkan saking berartinya ibadah sholat tahajjud bagi
mereka, sehingga ibadah tersebut bukan sekedar ibadah nafilah, tetapi seakan - akan
ibadah wajib bagi mereka.
Banyak rahasia dan khasiat yang terkandung dalam ibadah shalat tahajjud. Diantaranya
adalah : dikabulkannya do'a, menjadi hamba yang mempunyai kedudukan istimewa,
membentengi diri dari perbuatan maksiat, memperoleh balasan surga. Mendirikan
shalat tahajjud dengan istiqomah dan khusuk dapat membuat terkabulnya do'a. Hal ini
adalah janji dari Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi, "Rabb kita turun pada
setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu
berfirman, 'Siapa yang berdo'a kepada-Ku maka Aku kabulkan do'anya. Siapa yang
memohon kepada-Ku, siapa yang meminta ampunan kepada-Ku maka Aku memberikan
ampunan bagiNya.' Demikianlah hal itu terjadi hingga terbit fajar." (HR. Bukhari &
Muslim).
Menurut sumber terpercaya, ada seorang dosen senior yang juga rektor di salah satu
perguruan tinggi di Jakarta, ia dikaruniai umur panjang dan kesehatan yang prima,
penglihatannya masih tajam, giginya tidak ompong. Saat ditanya salah satu rahasianya
adalah ia rajin mengerjakan shalat tahajjud. Subhanallah!!! ini rahasia dan
keistimewaan bagi orang yang rajin mengerjakan shalat di malam hari (Shalat
Tahajjud).

« Kemuliaan Seorang Mu’min Terletak Pada Tahajjudnya


Keutamaan Sholat Sunnah Dhuha »
Tahajjud Lanjutan…
February 28, 2010 by Rony Lesmana
Berusaha dan berdo’a sebelum tidur supaya bisa bangun tahajjud
َ ‫ي َقا‬
‫ل‬ ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبي الّدْرَداَء َر‬
ْ‫ع‬
َ :
ِ‫ن َرّبه‬
ْ ‫عَلْيِه ِم‬
َ ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ن َنْوُمُه‬
َ ‫ َوَكا‬، ‫ب َلُه َما َنَوى‬
َ ‫صِبحَ ُكِت‬
ْ ‫حّتى ُي‬
َ ‫عْيَنُه‬
َ ‫ل َفَغَلَبْتُه‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫صّلي ِم‬
َ ‫ن َيُقْوَم َفُي‬
ْ ‫شُه َوُهَو َيْنِوي َأ‬
َ ‫ن َأَتى ِفَرا‬
ْ ‫َم‬
‫) ) رواه النسائي وابن ماجه بسند صحيح‬
Dari Abi Darda rodhiyallau ‘anhu, sesungguhnya Nabi bersabda :
“Siapa yang hendak beranjak ke tempat tidurnya lalu ia berniat untuk bangun dan shalat di
malam hari namun kemudian ketiduran hingga subuh, maka ia akan dicatat sesuai niatnya,
sedangkan tidurnya adalah sedekah dari Tuhannya.”
(HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)
‫عْنُهَما‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫ص َر‬
ِ ‫ن اْلَعا‬
ِ ‫عْمِرو ْب‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
:‫ل‬
ِ ‫لا‬
ُ ‫سْو‬
ُ ‫ي َر‬
ِ ‫لل‬
َ ‫ َقا‬:
ِ ‫ك ِقياَم الّلْي‬
‫ل‬ َ ‫ َفَتَر‬، ‫ل‬
َ ‫ن يُقوُم الّلْي‬
َ ‫ن َكا‬
ٍ‫ل‬َ ‫ل ُف‬
َ ‫ن ِمْث‬
ْ ‫ل تُك‬
َ ،‫ل‬
ِّ ‫عْبَد ا‬
َ ‫َيا‬
(‫)رواه البخاري‬
Abdullah bin Amru bin ‘Aash rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,
Rasulullah bersabda kepadaku :
“Hai Abdullah…! jangan seperti si fulan ya, dia bangun malam tapi meninggalkan shalat
malam.”
(HR. Bukhari)
ّ ‫ى الّنِب‬
‫ي‬ َ ‫عل‬
َ ‫صَها‬
ّ ‫ي ِإَذا َرَأى ُرْؤَيا َق‬
َِ ‫حَياِة الّنِب‬
َ ‫ي‬
ِ ‫لف‬
ُ‫ج‬ُ ‫ن الّر‬
َ ‫” َكا‬:‫ل‬
َ ‫عْنُهَما قَا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫عَمَر َر‬
ُ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ
‫ي ِاَلى الّناِر َفِإَذا‬
ِ ‫ي َفَذَهَبا ب‬ِ ‫خَذان‬
َ ‫ن َا‬
ِ ‫ن َمَلَكْي‬
ّ ‫ي الّنْوِم َكَأ‬
ِ ‫تف‬ ُ ‫ل َفَرَأْي‬
ِ ‫لا‬
ِ ‫سْو‬ُ ‫عْهِد َر‬
َ ‫ى‬َ ‫عل‬
َ ‫جِد‬
ِ‫س‬
ْ ‫ي الَم‬
ِ ‫ت َاَناُم ف‬
ُ ‫عْزبًا َوُكْن‬
َ ‫شاّبا‬
َ ‫لًما‬
َ‫غ‬ُ ‫ت‬
ُ ‫َوُكْن‬
ُ ‫ت َاُقْو‬
‫ل‬ ُ ‫جَعْل‬
َ ‫عَرْفُتُهْم َف‬
َ ‫س َقْد‬
ٌ ‫ن َوِاَذا ِفْيَها َنا‬
ِ ‫طي الِبْئِر َوِاَذا لَهَا َقْرَنا‬َ ‫طِوَيٌة َك‬
َ ‫ي َم‬
َ ‫ ِه‬:
” ‫ن الّناِر‬
َ ‫ل ِم‬
ِ ‫عْوُذ ِبا‬
ُ ‫”َا‬
ْ ‫ َلْم ُتَر‬: ‫ي‬
‫ع‬ ِ ‫لل‬
َ ‫خٌر َفَقا‬
َ ‫كآ‬
ٌ ‫ َوَلَقْيَنا َمَل‬: ‫ل‬
َ ‫…! َقا‬
َ ‫ل َفَقا‬
‫ل‬ ِ ‫لا‬
ِ ‫سْو‬
ُ ‫ى َر‬
َ ‫عل‬
َ ‫صٌة‬
َ ‫حْف‬
َ ‫صْتَها‬
َ ‫صٍة َفَق‬
َ ‫حْف‬
َ ‫ى‬
َ ‫عل‬
َ ‫صُتَها‬
ْ ‫ص‬
َ ‫ َفَق‬:
(‫ل‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫صّلي ِم‬
َ ‫ن ُي‬
َ ‫ل َلْو َكا‬
ِ ‫عْبُد ا‬
َ ‫ل‬
َ‫ج‬ُ ‫) ِنْعَم الّر‬
‫ل )رواه البخاري‬
ً ‫ل َقِلْي‬
ّ ‫ل ِا‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ل َيَناُم ِم‬
َ ‫ن َبْعُد‬
َ ‫)َفَكا‬
Dari Abdullah Bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma belia berkata:
“Pada masa Nabi , bila seseorang bermimpi, maka dia menceritakannya kepada beliau. Sayapun
berharap bermimpi dan bisa menceritakannya kepada Rasulullah. Saat itu aku masih remaja dan
sering tidur di dalam masjid. Suatu hari aku menyaksikan dalam mimpiku seolah-olah dua
malaikat menjemput diriku, kemudian membawaku menuju neraka. Aku mendapati neraka itu
berlipat (bertingkat) seperti tingkatan-tingkatan sumur dan memiliki dua tanduk. Di dalam
banyak sekali manusia-manusia yang saya kenali.
(Saat itu) aku berkata “Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka.”
Kami bertemu malaikat lain, seraya berkata kepadaku , “Engkau belum terpelihara darinya.”
Kemudian Aku menceritakan mimpi tersebut kepada Hafshah rodhiyallahu ‘anha, lalu Hafshah
menyampaikannya kepada Rasulullah . Maka beliau bersabda :
“Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, jika ia bangun pada sebagian malam untuk shalat.”
Maka setelah kejadian ini Abdullah tidak pernah tidur malam kecuali hanya sedikit saja.
(HR. Bukhari).
Padanya terdapat waktu mustajab untuk berdo’a
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫عْنُه َقالَ َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫جاِبٍر َر‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
‫ل َلْيَلٍة‬
ّ ‫ك ِفى ُك‬
َ ‫ل آَتاُه ِإّياُه َوَذِل‬
ّ ‫خْيرًا ِإ‬
َ ‫ل ِفيَها‬
َّ ‫ل ا‬
ُ ‫سَأ‬
ْ ‫عْبٌد ُمسِْلٌم َي‬
َ ‫ل ُيَواِفُقَها‬
َ ‫عًة‬
َ ‫سا‬
َ ‫ل َل‬
ِ ‫ن ِفى الّلْي‬
ّ ‫ِإ‬
(‫)رواه مسلم و أحمد‬
Dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu (saat) yang tidaklah seorang muslim meminta
(kepada) Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut,
melainkan Allah SWT memberinya, dan yang demikian itu adalah setiap malam.”
(HR. Muslim dan Ahmad )
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ َ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرةَ َر‬
ْ‫ع‬
َ
‫سَأُلِنى‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫ب َلُه َم‬
َ ‫جي‬
ِ ‫سَت‬
ْ ‫عوِنى َفَأ‬ ُ ‫ن َيْد‬
ْ ‫ل َم‬ُ ‫خُر َيُقو‬ِ ‫ل ال‬ ِ ‫ث الّلْي‬
ُ ‫ن َيْبَقى ُثُل‬
َ ‫حي‬
ِ ‫سَماِء الّدْنَيا‬
ّ ‫ل َلْيَلٍة ِإَلى ال‬
ّ ‫ك َوَتَعاَلى ُك‬
َ ‫ل َرّبَنا َتَباَر‬
ُ ‫ل » َيْنِز‬
َ ‫َقا‬
‫غِفَر َلُه « )رواه البخاري‬ ْ ‫سَتْغِفُرِنى َفَأ‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫طَيُه َم‬
ِ‫ع‬ْ ‫)َفُأ‬
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Tuhan kita Yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi turun kelangit dunia di penghujung
sepertiga malam terakhir, Dia berfirman: “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku
kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri, dan siapa saja yang
memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)
Allah menyayangi suami istri yang rajin qiyamullail
bahkan mereka dicatat sebagai ahli dzikir
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ ” َقا‬: ‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫عنْ َأِبي ُهَرْيَرةَ َر‬
َ :
“‫ل‬
ِ ‫ن الّلْي‬
ْ ‫ت ِم‬
ْ ‫ل اْمَرَأةً َقاَم‬
ُّ ‫حَم ا‬
ِ ‫جِهَها اْلَماَء َوَر‬
ْ ‫ضحَ ِفي َو‬
َ ‫ت َن‬
ْ ‫ن َأَب‬
ْ ‫ت َفِإ‬ْ ‫صّل‬
َ ‫ظ اْمَرَأَتُه َف‬
َ ‫صّلى ُثّم َأْيَق‬َ ‫ل َف‬
ِ ‫ن الّلْي‬
ْ ‫ل َقاَم ِم‬
ً‫ج‬ُ ‫ل َر‬
ُّ ‫حَم ا‬
ِ ‫َر‬
‫ أحمد والنسائي‬,‫جِهِه اْلَماَء” )رواه أبوداود‬ ْ ‫ت ِفي َو‬
ْ ‫ح‬َ‫ض‬َ ‫ن َأَبى َن‬ْ ‫صّلى َفِإ‬َ ‫جَها َف‬َ ‫ت َزْو‬ ْ ‫ظ‬َ ‫ت ُثّم َأْيَق‬
ْ ‫صّل‬
َ ‫)َف‬
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah bersabda,
“Allah swt merahmati seorang lelaki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan
istrinya. Jika (istrinya) enggan maka ia memercikan air di wajahnya. Dan Allah swt merahmati
seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan suaminya. Jika
(suaminya) enggan maka ia memercikkan air di wajahnya.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasaa’i ).
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫عْنُهَما َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫سِعيدٍ َوَأِبى ُهَرْيَرةَ َر‬
َ ‫ن َأِبى‬
ْ‫ع‬َ
«‫ت‬
ِ ‫ن َوالّذاِكَرا‬
َ ‫جِميًعا ُكِتَبا ِفى الّذاِكِري‬
َ ‫ن‬
ِ ‫صّلى َرْكَعَتْي‬
َ ‫صّلَيا َأْو‬
َ ‫ل َف‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ل َأْهَلُه ِم‬
ُ‫ج‬ُ ‫ظ الّر‬
َ ‫» ِإَذا َأْيَق‬
(‫)رواه أبوداود والنسائي وابن ماجه وابن حّبان والحاكم‬
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah rodhiyallhu ‘anhuma, keduanya berkata,
telah bersabda Rasulullah : “Apabila seorang lelaki membangunkan istrinya di malam hari
kemudian keduanya shalat (atau ia shalat) dua rakaat berjama’ah, maka keduanya ditulis di
kalangan orang-orang lelaki dan wanita yang berdzikir.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasaa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Posted in Dakwah Islami | Tagged tahajjud | Leave a Comment

« Wafat Dalam Keadaan Menghafal Alquran & Berpuasa


Tahajjud Lanjutan… »

Kemuliaan Seorang Mu’min Terletak Pada Tahajjudnya


February 23, 2010 by Rony Lesmana
Kemuliaan seorang mu’min terletak pada tahajjudnya
‫جِع‬
ِ ‫ضا‬
َ ‫ن اْلَم‬ِ‫ع‬ َ ‫جُنوُبُهْم‬ ُ ‫جاَفى‬ َ ‫( َتَت‬15) ‫ن‬ َ ‫سَتْكِبُرو‬
ْ ‫ل َي‬
َ ْ‫حْمِد َرّبِهْم َوُهم‬
َ ‫حوا ِب‬
ُ ‫سّب‬
َ ‫جًدا َو‬
ّ‫س‬
ُ ‫خّروا‬
َ ‫ن ِإَذا ُذّكُروا ِبَها‬
َ ‫ن ِبآَياِتَنا اّلِذي‬
ُ ‫ِإّنَما ُيْؤِم‬
16) ‫ن‬ َ ‫طَمًعا َوِمّما َرَزْقَناُهْم ُيْنِفُقو‬َ ‫خْوًفا َو‬
َ ‫ن َرّبُهْم‬َ ‫عو‬ُ ‫)َيْد‬
“Sesungguhnya orang yang beriman kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji
Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya
dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka
menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.”
(QS. As- Sajdah : 15-16)
64) ‫جًدا َوِقَياًما‬
ّ‫س‬
ُ ‫ن ِلَرّبِهْم‬
َ ‫ن َيِبيُتو‬
َ ‫( َواّلِذي‬63) ‫لًما‬
َ‫س‬َ ‫ن َقاُلوا‬
َ ‫جاِهُلو‬
َ ‫طَبُهُم اْل‬
َ ‫خا‬
َ ‫ض َهْوًنا َوِإَذا‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫عَلى ا‬
َ ‫ن‬
َ ‫شو‬
ُ ‫ن َيْم‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ِ ‫حَم‬
ْ ‫عَباُد الّر‬
ِ ‫)َو‬
“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah)
orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang
yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”
(QS. Al-Furqan : 63-64)
َ ‫ي َفَقا‬
‫ل‬ ّ ‫ى الّنِب‬
َ ‫ل ِإل‬
ٌ ‫جْبِرْي‬
ِ ‫جاَء‬
َ : ‫عْنُه‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫سْعٍد َر‬
َ ِ‫سْهل ِبن‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ :
ِ‫ف اْلُمْؤِمن‬
َ ‫شَر‬َ ‫ن‬ ّ ‫عَلْم َأ‬
ْ ‫ َوا‬، ‫ك ُمَفاِرُقُه‬ َ ‫ت َفِإّن‬
َ ‫شْئ‬
ِ ‫ن‬
ْ ‫حِببِ َم‬
ْ ‫ َوَأ‬، ‫ي ِبِه‬
ّ ‫جِز‬
ْ ‫ك َم‬
َ ‫شّئت َفِإّن‬
ِ ‫ل َما‬
ْ ‫عَم‬
ْ ‫ َوا‬، ‫ت‬
ٌ ‫ك َمّي‬
َ ‫ت َفِإّن‬
َ ‫شْئ‬
ِ ‫ش َما‬
ْ ‫ع‬
ِ ‫حّمد‬
َ ُ‫َيا م‬
ِ ‫ن الّنا‬
‫س‬ ِ‫ع‬َ ‫سِتْغَناُؤُه‬
ْ ‫عّزهُ ِا‬ ِ ‫ل َو‬
ِ ‫ِقَياُم الّلْي‬
(‫)رواه الطبراني‬
Dari Sahal bin Sa’ad rodhiyallahu ‘anhu : Jibril datang kepada Nabi seraya berkata :
“Hai Muhammad, hiduplah sekehendakmu, karena sesungguhnya engkau pasti akan mati,
berbuatlah sekehendakmu karena engkau akan mendapat ganjarannya, cintailah siapa saja
yang engkau sukai karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, ketahuilah
seseungguhnya kemuliaan seorang mu’min adalah bangun malam dan kebanggaannya adalah
ketidaktergantungannya kepada manusia.”
(HR. Thabrani)
Padanya terdapat waktu mustajab untuk berdo’a
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫جاِبٍر َر‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
‫ل َلْيَلٍة‬
ّ ‫ك ِفى ُك‬
َ ‫ل آَتاُه ِإّياُه َوَذِل‬
ّ ‫خْيرًا ِإ‬
َ ‫ل ِفيَها‬
َّ ‫ل ا‬
ُ ‫سَأ‬
ْ ‫عْبٌد ُمسِْلٌم َي‬
َ ‫ل ُيَواِفُقَها‬
َ ‫عًة‬
َ ‫سا‬
َ ‫ل َل‬
ِ ‫ن ِفى الّلْي‬
ّ ‫ِإ‬
(‫)رواه مسلم و أحمد‬
Dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu (saat) yang tidaklah seorang muslim meminta
(kepada) Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut,
melainkan Allah SWT memberinya, dan yang demikian itu adalah setiap malam.”
(HR. Muslim dan Ahmad )
Padanya terdapat waktu mustajab untuk berdo’a
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫جاِبٍر َر‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
‫ل َلْيَلٍة‬
ّ ‫ك ِفى ُك‬
َ ‫ل آَتاُه ِإّياُه َوَذِل‬
ّ ‫خْيرًا ِإ‬
َ ‫ل ِفيَها‬
َّ ‫ل ا‬
ُ ‫سَأ‬
ْ ‫عْبٌد ُمسِْلٌم َي‬
َ ‫ل ُيَواِفُقَها‬
َ ‫عًة‬
َ ‫سا‬
َ ‫ل َل‬
ِ ‫ن ِفى الّلْي‬
ّ ‫ِإ‬
(‫)رواه مسلم و أحمد‬
Dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu (saat) yang tidaklah seorang muslim meminta
(kepada) Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut,
melainkan Allah SWT memberinya, dan yang demikian itu adalah setiap malam.”
(HR. Muslim dan Ahmad )

ِّ ‫سوَل ا‬
‫ل‬ ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرَة َر‬
ْ‫ع‬َ

‫عوِنى‬
ُ ‫ن َيْد‬
ْ ‫خُر َيُقوُل َم‬
ِ ‫ث الّلْيِل ال‬
ُ ‫ن َيْبَقى ُثُل‬
َ ‫حي‬ِ ‫سَماِء الّدْنَيا‬ َ ‫َقاَل » َيْنِزُل َرّبَنا َتَباَر‬
ّ ‫ك َوَتَعاَلى ُكّل َلْيَلةٍ ِإَلى ال‬
‫غِفَر َلُه « )رواه البخاري‬ ْ ‫سَتْغِفُرِنى َفَأ‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫طَيُه َم‬
ِ‫ع‬ْ ‫سَأُلِنى َفُأ‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫ب لَُه َم‬ َ ‫جي‬ ْ ‫)َفَأ‬
ِ ‫سَت‬

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,


bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Tuhan kita Yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi


turun kelangit dunia di penghujung sepertiga malam
terakhir, Dia berfirman: “Siapa saja yang berdo’a kepada-
Ku maka akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta
kepada-Ku maka akan Aku beri, dan siapa saja yang
memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.”
(HR. Bukhari)
Posted in Dakwah Islami

KEKUATAN SHOLAT MALAM (2)


June 16th, 2008
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 153 :
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Dalam firmanNya Allah menegaskan agar kita minta tolong padaNya dalam menghadapi
berbagai hal dengan mengerjakan sholat dan bersabar menanti datangnya pertolongan Allah.
Minta tolong bisa kita lakukan dengan mengerjakan sholat sunah khusus untuk mohon
pertolongan. Waktunya bisa sesudah melakukan sholat wajib, pagi hari atau malam hari. Waktu
yang paling baik adalah sepertiga malam terakhir, bisa juga dengan mengerjakan sholat tahajud
atau sholat malam.

Sakit mata sembuh berkat tahajud


Saya punya beberapa pengalaman dalam melakukan sholat malam atau tahajud untuk mengatasi
beberapa masalah yang pernah saya alami. Antara lain pengalaman saya ketika anak pertama
saya yang masih berumur 6 bulan mengalami sakit mata. Sudah lebih 3 bulan mata kanan anak
saya selalu berair dan airnya meleleh dipipi hingga menimbulkan iritasi.
Saya membawa anak saya kedokter Gantira seorang dokter ahli mata di Bandung. Ia menjelaskan
bahwa saluran pembuangan air mata anak saya dari mata ke tenggorokan yang hanya sebesar
rambut mengalami penyumbatan. Saluran itu harus dibuka dengan melakukan operasi. Namun
karena anak saya masih berumur 6 bulan ia menyarankan saya untuk konsultasi dahulu pada ahli
anastesi, apakah anak saya bisa dianastesi untuk melakukan operasi mata. Saya dan istri saya
sangat terpukul mendengar keterangan dokter tersebut. Saya sedih dan cemas, mengapa anak
saya yang masih kecil itu harus menjalani operasi mata.
Saya minta tolong pada dokter ahli mata tersebut untuk sementara memberi obat apa saja yang
dapat meringan kan iritasi pada matanya. Dokter memberi salep mata yang harus diberikan 2 kali
sehari. Kami pulang dengan hati gundah. Istri saya selalu menangis mengkhawatirkan keadaan
anak kami. Kami sangat cemas kalau mata anak kami harus dioperasi. Berbagai angan angan
buruk menghantui fikiran kami.
Saya bertekad untuk melakukan sholat malam atau tahajjud mohon pada allah agar mata anak
saya disembuhkan. Saya bangun sebelum sholat subuh sekitar jam 3.30. Salep mata yang saya
dapatkan dari dokter saya letakan diatas sajadah tempat saya sujud. Saya lakukan sholat tahajjud
2 rakaat kemudian saya berdo’a agar salep mata yang diberikan dokter kepada kami diberi
kekuatan untuk menyembuhkan mata anak kami. Saya lakukan sholat 2 rakaat x 4 menjadi 8
rakaat dan ditutup dengan sholat witir 3 rakaat, sehinggal total semua menjadi 11 rakaat.
Diantara masing masing sholat 2 rakaat itu saya berdo’a mohon agar salep yang diberikan
dokter itu mempunyai khasiat untuk meyembuhkan mata anak kami.
Saya lakukan sholat tahajud setiap malam, berdo’a penuh pengharapan pada Allah agar mata
anak saya disembuhkan kembali. Sesuai saran dokter salep mata itu kami berikan 2 kali sehari,
waktu pagi dan sore hari. Alhamdulillah setiap hari kami lihat ada angsurannya. Lelehan airmata
pada pipi anak kami setiap hari tampak mulai berkurang. Pada hari ke tujuh lelehan air mata
dipipi anak saya sudah mengering dan tidak tampak lagi. Saya terus mengerjakan tahajud dan
berdo’a setiap malam. Alhamdulillah setelah 2 minggu mengerjakan sholat tahajud mata anak
saya betul betul telah sembuh. Matanya tampak bersih tidak ada bekas iritasi dan lelehan air mata
lagi. Kami betul betul bersyukur dan berterima kasih pada Allah.
Demikianlah mata anak saya tidak jadi dioperasi, ia sembuh hanya dengan memberikan salep
mata dan mengerjakan sholat tahajud selama 2 minggu terus menerus. Walaupun pada mulanya
dokter menyarankan untuk membuka saluran pembuangan air mata yang tersumbat itu harus
dioperasi. Namun dengan pertolongan Allah semuanya bisa normal kembali dengan obat yang
sederhana dan mengerjakan sholat tahajud setiap malam.
Pedagang koran dan rumah kontrakannya

Ketika saya kuliah di LPPU – ITB Bandung dahulu saya mengontrak rumah di Lingkungan
Tamansari dekat pasar Balubur. Saya sering membeli koran pada seorang pedagang koran yang
mangkal didepan pasar Balubur tersebut.
Pada suatu hari ia bercerita pada saya bahwa kontrakan rumahnya dibelakang pasar Balubur
sudah habis Ia masih punya waktu satu minggu sebelum kontrakannya habis dan ia harus pindah
dari rumah itu jika tidak memperpanjang kontrakannya. Ia sangat bingung karena sampai saat ini
ia belum punya uang untuk memperpanjang kontrakannya itu. Saya menyarankan pada nya
untuk meminta tolong pada Allah mengatasi masalahnya dengan mengerjakan sholat tahajud
pada malam hari. Saya jelaskan tata cara melakukannya mirip seperti sholat taraweh pada bulan
Ramadhan, dan dilakukan pada akhir malam menjelang sholat subuh. Saya ceritakan padanya
pengalaman saya bahwa anak saya bisa sembuh dengan berdo’a sesudah sholat tahanjud.
Ia mengikuti saran saya. Seminggu kemudia saya bertemu dengan nya, ia mengucapkan terima
kasih pada saya atas saran yang pernah saya berikan. Ia melakukan sholat tahajud sesuai dengan
yang saya sarankan. Dua hari yang lalu ada seorang langganan nya yang menyuruhnya untuk
mengisi dan menempati paviliun rumahnya di Jl Cihampelas yang kosong, tanpa perlu
membayar uang sewa. Ia betul betul merasa lega karena disaat ia tidak punya uang untuk
menyambung kontrakan rumahnya ada orang yang membantunya memberi tempat tinggal gratis.
Ia bisa merasakan kekuatan ajaib dari sholat malam. Saya juga sangat terkesan dengan cerita
teman saya itu, bahwa jika kita minta tolong pada Allah dengan sungguh sungguh dan
mengerjakan tahajud Insya Allah, Dia akan mendatangkan pertolongan kepaqda kita.

Tahajud bina kekuatan jiwa, peribadi unggul


Posted by: nurjeehan in Akidah, Ibadah & Doa, Motivasi, Tafakur (Muhasabah), Tazkirah
Oleh Masmawi Abdullah
FIRMAN Allah bermaksud:
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah sembahyang tahajud pada waktu malam, selain dari
sedikit masa (yang tak dapat tidak untuk berehat). Iaitu separuh dari waktu malam, atau
kurangkan sedikit daripada separuh itu. Ataupun lebihkan (sedikit) daripadanya: dan bacalah al-
Quran dengan ‘Tartil’ (perlahan-lahan). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu
perkataan yang berat (wahyu yang mengandungi perintah yang berat). Sesungguhnya
sembahyang dan ibadat malam lebih kuat kesannya (kepada jiwa), dan lebih tetap betul
bacaannya”. (Surah Al-Muzzammil, ayat 1-6)
Umat Islam dianjur melaksanakan qiamullail (tahajud) pada bahagian akhir malam sebagai
manifestasi kesyukuran kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang begitu banyak dikurniakan
kepada kita. Sesungguhnya solat pada akhir malam akan melahirkan kekuatan jiwa,
memperkukuhkan keinginan dan azam untuk patuh serta taat kepada Allah.
Beribadat dan bermunajat kepada Allah pada malam hari, di kala insan lain sudah lama nyenyak
dibuai mimpi indah. Ia suatu gambaran keikhlasan kepada Allah dan seterusnya membebaskan
diri dari sifat riak yang boleh membakar seluruh amalan kebajikan.
Bermunajat dengan melaksanakan tahajud pada malam hari mengecewakan syaitan yang tidak
jemu menggoda dengan pelbagai bisikan dan mendodoi manusia supaya terus lena hingga ke
pagi hari.
Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Ketika kamu tidur, maka datanglah syaitan dengan mengikat ubun-ubunmu dengan tiga ikatan.
Dan apabila ia terjaga dengan menyebut nama Allah, maka terlepaslah satu ikatan, jika ia terus
berwuduk maka terlepaslah ikatan kedua, kemudian apabila diikuti dengan solat Qiamullail,
maka terlepaslah ikatan yang ketiga dan pada waktu pagi berada dalam keadaan segar dan giat,
jika tidak berbuat demikian, maka akan kencinglah syaitan dalam kedua-dua telinganya.” (A-
Misykuh)
Rasulullah SAW sentiasa mengingatkan kita berhati-hati supaya tidak diperdayakan syaitan
laknatullah, jiwa yang tergoda dengan syaitan akan timbul sifat malas untuk melaksanakan
ibadat, hati menjadi keras dan liat untuk mendengar serta mendekati ilmu keagamaan.
Daripada Ibnu Mas’ud katanya,
“Sudah disebut perihal lelaki di hadapan Nabi SAW. Katanya, lelaki itu berterusan tidur hingga
subuh dan tidak bangun sembahyang lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya lelaki itu dikencing
oleh syaitan di dalam telinganya.” (Hadis riwayat Syaikhan dan an-Nasa’i)
Oleh demikian, menghidupkan malam hari dengan bertahajud dan bermunajat kepada Allah akan
mendapat kasih sayang dari Allah dan kasih sayang Allah itu terpancar dari-Nya melalui sikap
serta tindakannya.
Segala sikap dan tindakannya sentiasa di dalam pemeliharaan Allah, yang seterusnya orang lain
pula apabila melihatnya akan timbul perasan kasih dan hormat akibat pancaran kasih sayang
Allah kepadanya.
Firman Allah bermaksud:
“Dan (dengan yang demikian) bersabarlah (wahai Muhammad) menerima hukum Tuhanmu
(memberi tempat kepada mereka), kerana sesungguhnya engkau tetap terselamat dalam
pemeliharaan serta pengawasan Kami. Dan bertasbihlah menemui Tuhanmu semasa engkau
bangun. Dan juga hendaklah engkau bertasbih kepada-Nya pada waktu malam, dan ketika
bintang-bintang tenggelam (pada waktu subuh)”. (Surah al-Thur, ayat 48-49)
Allah menyediakan banyak pengurniaan-Nya terhadap orang yang sanggup menukar tempat tidur
dan masa istirehatnya, tilam yang empuk, bangun dalam kesejukan untuk bersuci dan terus
beribadah kepada Allah, dijanjikan kedudukan yang terpuji baik di dunia mahupun akhirat.
Sejarah lampau membuktikan bahawa Salahuddin Al-Ayubi seorang pemimpin tentera Islam
dalam peperangan Salib hanya memilih orang yang mengerjakan qiamullail untuk bertempur di
medan peperangan kerana mereka ini memiliki kekuatan jiwa dan keteguhan peribadi yang
tinggi. Hasilnya, pihak Islam menang dalam peperangan itu.
Dalam satu hadis Rasulullah SAW menjelaskan bahawa barang siapa bersolat pada malam hari
dengan sanggup bersengkang mata melaksanakan solat tahajud, Allah akan memberi sembilan
kurniaan kepadanya. Lima kurniaan di dunia dan empat lagi di akhirat.
Sabda Rasulullah SAW, daripada Umar bin al-Khattab yang bermaksud: “Barang siapa yang
mengerjakan solat malam, dan dia membangunkan solat, maka Allah memuliakan dia dengan
sembilan perkara: Lima perkara di dunia dan yang empat lagi di akhirat.
Oleh itu, marilah sama-sama kita menyahut tawaran Allah untuk bangun menunaikan qiamullail
iaitu ganjarannya terlalu besar nilainya, lebih besar dan bernilai dari dunia ini dan segala isinya.
Janganlah sampai ayam yang tidak berakal itu lebih pintar dan lebih baik daripada kita. Seperti
nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau tidur di kala ayam
jantan berkokok pada waktu fajar.”
INFO
9 kemuliaan solat Tahajud
1- Dia dijaga oleh Allah daripada beberapa bencana.
2- Berkat ketaatannya, akan nampak pada wajahnya.
3- Dia disukai oleh hamba Allah yang soleh dan oleh semua manusia.
4- Ucapannya mampu mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmah.
5- Diberi cepat mengerti dan mendapat ilmu pengetahuan.
6- Dia dibangunkan dari kubur dengan wajah yang putih berseri.
7- Diringankan hisabnya.
8- Melalui titian siratul mustaqim bagaikan kilat yang menyambar.
9- Diberi buku catatan amalannya melalui tangan kanannya di hari kiamat.
(Raudhatul Ulama).
Share This

Lejitkan Kekuatan Spiritual Anda!


Posted by fundo On April 30th, 2010 No Comments

Beberapa waktu yang lalu saya telah menulis tentang pentingnya mengenal
potensi yang kita miliki agar kita menjadi orang yang sukses dan layak menyandang status
Kholifah. Salah satu potensi yang ada pada kita dan memegang peranan sangat penting dalam
menentukan sebuah kesuksesan adalah potensi (kekuatan) spiritual.
Pada suatu kondisi, kekuatan spiritual itu bisa muncul begitu saja dari diri kita jika Allah
menghendaki. Namun demikian kita juga harus berusaha untuk memunculkannya bahkan
mempertajam kekuatannya dengan melakukan berbagai macam riyadhoh (amalan). Hal ini
bukan sesuatu yang mustahil karena memang spiritualitas (iman) manusia tidak statis namun
sangat dinamis. Al-imanu yazdadu wa yanqush. Yazdadu bittho’ah wa yanqushu bilma’shiyah.
Iman kita itu kadang naik dan kadang turun. Ia akan naik jika kita selalu ta’at terhadap segala
perintah Allah dan akan turun jika kita berma’siyat kepada-Nya.
Lantas bagaimana cara meningkatkan kekuatan spiritual (iman) kita?
Berikut ini beberapa riyadhoh yang bisa kita coba untuk melejitkan kekuatan spiritual kita;
1. Perbanyak dzikir (menyebut nama Allah) dalam segala keadaan; susah,
senang, punya duit, tidak punya duit, dsb. Dengan memperbanyak dzikir, kita
akan selalu merasa dekat dengan-Nya. Ketika kita merasa dekat dengan
Sang Maha Kuasa, maka kita akan diliputi energi positif yang akan
menggerakkan kita kepada hal-hal yang positif juga. Kalau sudah demikian
maka segala urusan juga akan berjalan dengan lancar.
2. Bertafakkur, merenung, berkontemplasi mendalami makna kehidupan.
Janganlah kita membiasakan diri untuk cuek atau acuh tak acuh terhadap
segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atau pada lingkungan sekitar kita.
Yakinlah bahwa semuanya tidak terjadi secara kebetulan namun telah diatur
sedemikian rupa oleh Sang Khaliq. Dengan bertafakkur kita akan
mendapatkan makna dari setiap kejadian. Bahkan dari sesuatu yang
menyedihkanpun kita bisa mengambil hikmah sehingga mampu
mensikapinya secara positif.
3. Perbanyak tilawah Al-Qur’an. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Al-Qur’an
merupakan mu’jizat terbesar nabi Muhammad SAW. Ia merupakan sumber
segala sumber ajaran Islam. Keasliannya akan selalu terjaga karena Allah
sendiri telah berjanji untuk menjaganya. Membacanya saja akan
mendatangkan pahala apalagi kalau kita memahaminya dengan sepenuh hati
kemudian mengamalkannya. Untuk tahap dasar, kita bisa memulai dengan
rutin membaca Al-Qur’an setiap hari, baru kemudian kita belajar untuk
mendalami maknanya. Bagi anda yang belum bisa membaca Al-Qur’an
belajarlah sekarang juga. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan ingat,
belajar membaca Al-Qur’an itu sangat mudah loh……
4. Qiyamullail atau Sholat Tahajjud. Sudah banyak penelitian yang dilakukan
terkait Sholat Tahajjud ini. Dan terbukti (bahkan secara medis) ia memiliki
kekuatan dahsyat untuk kesehatan (jasmani dan rohani) kita. Allah sendiri
telah menjanjikan kedudukan mulia bagi hamba-Nya yang melaksanakan
Sholat Tahajjud. Anda yang belum pernah melaksanakannya silahkan coba
mulai saat ini juga. Pertama akan terasa berat memang tapi untuk
seterusnya anda akan kecanduan untuk melaksanakannya karena sudah
merasakan efek positifnya.
5. Bergaullah dengan orang yang sholeh. Tapi jangan diartikan memilih-milih
teman loh. Sebenarnya anda bisa bergaul dengan siapa saja bahkan dengan
penjahatpun anda boleh bergaul (sekedarnya saja) namun anda harus
memiliki teman dekat yang sholeh, yang baik-baik, yang akan membuat anda
menangis karena menyadari bahwa anda banyak melakukan dosa, dan yang
akan selalu mengajak anda kepada kebaikan.
6. Menjaga mulut dari yang tidak berguna. Ya… tepat sekali. Marilah kita
hilangkan kebiasaan ngomong yang tidak ada manfaatnya. Ngrumpi,
ngegosip, menggunjing orang lain, dkk hanya akan membuang waktu kita
secara percuma dan akan menggerus kekuatan spiritual kita.
Sobat, sebenarnya tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri loh karena saya sadar masih
belum bisa konsisten untuk melaksanakan amalan-amalan di atas sehingga perlu saya posting di
sini untuk memotivasi diri saya sendiri agar bisa istiqomah.
Sebenarnya masih banyak amalan lain yang bisa meningkatkan kekuatan spiritual kita. Anda
yang memiliki pengalaman pribadi terkait masalah ini (dengan segala hormat) silahkan tuliskan
di kolom komentar yah.

Saturday, March 5th

• Waktu Solat KL
• Koleksi Nasyid


Subscribe by RSS
Top of Form

search... Go

Bottom of Form

• Fikrah
• Komentar
• Global
• Tinta DMI
• Perspektif
• Soal Jawab Tasawuf
• Tafsir
• Resensi
• Hikmah
• Kajian
• Profil
• Wawancara
• Wacana
• Paparan Khas
• Ensiklopedia
Maksud Al-Quran
beratnya amanah yang dipikul
“Sesungguhnya Kami telah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada
langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya), maka mereka enggan
memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada
mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan
persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya
tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula
membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan.” (AN-NAHL: 72)

Koleksi Ucapan

Tinta DMI

• Paling Banyak Dikomen


• Paling Banyak Dilihat
1. Saintis Barat akui matahari akan terbit dari barat 34 comments
2. Sains dalam al-Quran? 11 comments
3. Yakjuj dan makjuj 9 comments
4. Skeptisisme: Manusia ke bulan? 9 comments
5. Pentas Eskatologi 8 comments
1. Pembangunan Modal Insan di Malaysia: Analisis Terhadap Gagasan Islam
Hadhari 404 views
2. Memahami erti zuhud 190 views
3. Masjid Nabawi 177 views
4. Pengguguran bayi: Membunuh benih harapan 154 views
5. Pemantapan hubungan etnik berteraskan prinsip Islam Hadhari 151 views
6. Budi Bahasa Budaya kita 145 views
7. Saintis Barat akui matahari akan terbit dari barat 140 views
8. Kebudayaan Melayu dan Islam: Analisis terhadap cabaran semasa (Bhg. 1)
129 views
9. Peranan media dalam pembangunan negara 127 views
10.Sejarah peradaban Islam kota suci Madinah 121 views
Pautan

Koleksi Nasyid
This song and the video are inspired by Muhammad, peace and blessings be upon him. Maher
Zain and Awakening Records felt they had to respond to the recent attacks on Prophet
Muhammad through cartoons and Facebook. The result is this music video. It's a small attempt at
portraying the true character of our beloved Prophet Muhammad (pbuh).
Awakening Records is pleased to announce the release of Maher Zain's new music video Insha
Allah. Insha Allah (God Willing) - Maher Zain.
Burdah by Mesut Kurtis
• Maher Zain - The Choosen One
• Maher Zain - Insha Allah
• Mesut Kurtis - Burdah
Kandungan
• Fikrah
• Komentar
• Global
• Tinta DMI
• Perspektif
• Soal Jawab Tasawuf
• Tafsir
• Resensi
• Hikmah
• Kajian
• Profil
• Wawancara
• Wacana
• Paparan Khas
• Ensiklopedia
Arkib
• March 2011
• February 2011
• January 2011
• December 2010
• November 2010
• October 2010
• September 2010
• August 2010
• July 2010
• June 2010
• May 2010
• April 2010
• March 2010
• February 2010
• January 2010
• December 2009
• November 2009
• October 2009
• September 2009
• August 2009
• July 2009
• June 2009
• May 2009
• April 2009
• March 2009
• February 2009
• January 2009
• December 2008
• November 2008
• October 2008
• September 2008
• August 2008
• July 2008
• June 2008
• May 2008
Tags
1malaysia al-azhar amanah anti-islam astronomi dialog peradaban forum forum majlis peguam ibnu
bajjah ibnu nafis iman integriti islamophobia israk mikraj jariah kemajmukan kemajmukan dalam sejarah
islam ketuanan melayu liberalisme manusia dan kemanusiaan melayu memilih pemimpin musibah

nikmat kemerdekaan nikmat sihat non-muslim paparan-khas peribadi anak perpaduan


persaudaraan pinjaman pendidikan politik wang ruyung seleweng fakta islam sensitif siasah syar'iyyah sms
syariat islam syurga neraka taubat tragedi ambon ukhuwah umat melayu islam undang-undang keluarga islam
usia emas

Pelawat sejak April 2010

Now Online

You are here: Home » Fikrah »

Perihal kekuatan tahajjud


July 28, 2010 4:05 pm 1 comment Views: 9

Share this Article

• Twitter

• Facebook

• Delicious

• Digg

• Stumble

• Reddit
Author:

Editor

Oleh MUHAMMAD HATIM


Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
“Dan pada sebahagian malam hari bersolat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)
Dalam usaha kita untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, kita digalakkan untuk
mengerjakan solat tahajjud dan solat malam yang lain (qiamullail).
Solat tahajjud bukan hanya penting dari segi keperluan asas spiritual kita di mana orang yang
mengerjakan akan mendapatkan tempat yang terpuji di sisi Allah, akan tetapi solat tahajud juga
mendatangkan kebaikan dari segi kesihatan.
Menurut hasil penyelidikan Profesor Soleh, pensyarah di salah sebuah institusi pengajian tinggi
di Surabaya, menerusi solat tahajjud dapat membebaskan kita dari penyakit kanser.
Bagaimanapun, solat tahajjud yang bertujuan demikian bukan sekadar menggugurkan kewajiban
melaksanakan ibadah muakkadah sahaja, akan tetapi ia memerlukan kepada kekerapan solat
tahajjud secara istiqamah, ketetapan gerakan, kekhusyukan dan keikhlasan.
Jika melaksanakan solat tahajud dengan ikhlas dan khusyuk, secara perubatan, solat tahajjud
menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin dan limposit
yang berupa persepsi dan motivasi positif serta dapat meningkatkan kemampuan seseorang
dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Solat tahajjud mendatangkan banyak faedah atau manfaat bagi yang mendirikannya sama ada
dari segi fizikal, mental dan kesihatan (perubatan). Apabila kita melaksanakan solat tahajjud, kita
seperti hendak tertidur tetapi masih dalam keadaan berjaga.
Dalam keadaan yang sedemikian, sebenarnya kita berada dalam keadaan antara sedar dan lena.
Situasi yang kita alami ini di kalangan ahli perubatan disebut frekuensi alpha. Pada paras alpha,
frekuensi otak berada dalam lingkungan 7 hingga 14 kitaran persaat.
Paras ini merupakan paras seseorang dapat berhubung dengan minda bawah sedar dengan aktif.
Aktiviti minda membimbing kita dalam keadaan tenang, santai dan relaks yang membawa minda
kita berada dalam kesedaran tahap yang tinggi sehingga kita mampu meneroka dan mengekstrak
kemampuan minda kita.
Dengan keadaan jiwa dan minda yang terselubungi keheningan malam sehingga minda kita
berada dalam fokus yang tinggi. Fikiran kita ketika ini akan terasa terang dan mampu menjana
minda bawah sedar dalam keadaan tahap tinggi.
Para ulama fikah menyebut beberapa keutamaan yang didapati oleh orang yang melakukan solat
malam. Di antaranya adalah seperti berikut:
1. Tercatat sebagai orang yang baik dan berhak mendapat balasan baik berupa kenikmatan
daripada-Nya seperti yang disebut dalam surah az-Dzariyat ayat 15-28.
2. Orang yang melakukan solat malam akan mendapat kesempurnaan atas kekurangan dan cacat
solat fardunya dan meningkat darjatnya menjadi maqamam mahmuda, darjat yang terpuji.
3. Orang yang melakukan solat malam selalu mendapat pujian Allah s.w.t, seperti yang tercatat
dalam al-Quran (surah al-Furqan, ayat 63-64), dipersaksikan sebagai orang yang beriman (surah
as-Sajdah, ayat 16), dan akan dibezakan darjatnya dengan orang yang malas solat malam (surah
az-Zumar, ayat 9).
Solat tahajjud merupakan media komunikasi yang berbeza dengan komunikasi yang lain. Ia
adalah komunikasi antara Sang pencipta yang agung dan hamba-Nya. Apakah engkau telah
menyiapakan dirimu untuk hubungan ini? dan apakah engkau termasuk orang-orang yang
berkeinginan untuk melakukan hubungan tersebut.
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
“Dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya
pada bahagian yang panjang di malam hari.” (al-Insan: 26)
Salat tahajud merupakan salah satu ibadah sunnah yang banyak dillupakan oleh kaum Muslimin.
Walhal, ibadah sunat ini berada setingkat di bawah ibadah wajib solat lima waktu.
Sesungguhnya, Allah s.w.t memerintahkan Nabi Muhammad s.a.w, para sahabat dan umatnya
untuk melakukan solat tahajjud.
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari,
kecuali sedikit (daripadanya), (iaitu) seperduanya atau kurangilah daripada seperdua itu
sedikit, atau lebih daripada seperdua itu. Dan bacalah al-Quran ini dengan perlahan-lahan.”
(al-Muzzammil: 1-4)
Rasulullah s.a.w mengajak kita untuk berlumba-lumba dalam mengerjakan solat tahajjud.
Baginda juga mendorong kita untuk bertegas dan bergegas dalam hal ini.
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlumba.” (al-Muthaffifin:t 26)
Rasulullah s.a.w tidak sahaja bersungguh-sungguh tetapi juga konsisten dalam melaksanakan
solat tahajjud, sekalipun dalam keadaan sakit. Pada hal dosa-dosa baginda, yang lalu dan akan
datang telah diampuni. Ini menunjukan bahawa solat tahajjud amat penting dan pahalanya
sangat besar di sisi Alllah s.w.t. Apakah kita yang banyak dosa ini tetapi malas untuk
mengerjakan solat tahajjud?
Orang yang mengerjakan tahajjud tentunya tidak sama dengan orang yang tidak
mengerjakannya. Bahkan orang yang membiasakan diri dengan tahajud tentunya pula tidak sama
dengan orang yang tidak membiasakan diri. Ada banyak manfaat dan keuntungan yang akan
diperolehi apabila seseorang itu rajin solat malam. Namun demikian, amat sedikit orang
menyedari fadilat solat malam.
Anugerah yang diberikan oleh Allah s.w.t kepada orang yang mengerjakan solat tahajjud adalah
mendapatkan tiket masuk syurga dan menikmati semua kebaikan yang ada di dalamnya.
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang-orang yang beribadat
di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui
dan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran.” (az–Zumar: 9)
Solat tahajud dan ibadah qiamullail yang lain adalah sarana berkomunikasi seorang hamba
dengan Maha Pencipta. Sang hamba berasa nikmat dan selesa sewaktu memohon doa dan pasrah
kepada Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Maha Pencipta. Dan Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janji-Nya, akan mencintai hamba
yang mendekat kepada-Nya.
Kalau Allah s.w.t mencintai seseorang hamba, maka Dia akan mempermudah semua aspek
kehidupan hamba-Nya itu. Dan Dia memberi berkah atas semua aktiviti sang hamba, baik
aktiviti di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, mahupun politik. Sang hamba
akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati oleh sesama manusia, dan menjadi
penghuni syurga yang disediakan untuknya.
Seorang Muslim yang istiqamah mengerjakan qiamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah
s.w.t. Kerana itu, Rasulullah s.a.w. menganjurkan kepada kita sebagaimana sabda baginda yang
bermaksud: “Lazimkan dirimu untuk solat malam kerana itu adalah tradisi orang-orang soleh
sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapuskan dosa, menghindarkan penyakit, dan
pencegah daripada dosa.” (Riwayat Ahmad)
Jika kita ingin mendapat kemuliaan di sisi Allah dan di mata manusia, amalkanlah qiamullail
secara istiqamah.
Daripada Sahal bin Sa’ad r.a, katanya: “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi s.a.w lalu
berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati.
Berbuatlah semahumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mahu, pasti kamu
akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan solat malam, dan harga
dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain.”
Pada hakikatnya, satu kerugian besar dan penyesalan tidak berkesudahan apabila kita tidak
memotivasikan diri untuk mencintai solat tahajud. Kerugian besar itu akan semakin menjadi
bertambah besar tatkala kita sudah dipanggil-Nya memasuki kehidupan yang hakiki. Kehidupan
abadi setelah kematian. Dalam kehidupan, setelah kematian itulah takbir-takbir kebenaran akan
kebesaran pahala solat tahajud dan segala amal soleh kita dulu yang didustakan orang akan
terbukti benar. Keutamaan-keutamaan tahajud dan pelbagai ibadah yang dulu diabaikan ternyata
kini begitu besar pahala dan kemuliannya. Itu semua akan menjadi sahabat setia sekali gus
penolong daripada kemurkaan malaikat Munkar dan Nakir. Penangkal dahsyatnya himpitan bumi
dan ganasnya seksaan kubur, sehingga di alam barzakh tidur kita bagai tidurnya pengantin baru.
Penyesalan setelah kematian adalah penyesalan yang sia-sia, tiada erti. Penyesalan yang
menghiris-hiris kalbu dan hati. Beruntunglah kita kerana saat ini belum meninggal dunia. Kita
masih hidup, masih sihat walafiat. Masih banyak kesempatan untuk menperbaiki diri. Hari ini,
malam ini, sekarang juga, bertekadlah untuk memulai menegakkan solat tahajjud. Setidak-
tidaknya, kita telah mengawalinya dengan niat yang terbaik.
Daripada Abu Malik Al-Asyari, katanya, Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya
di dalam syurga ada ruangan yang luarnya terlihat dari dalamnya dan dalamnya kelihatan dari
luarnya, yang dipersiapkan Allah bagi orang yang menyedekahkan makanan, lembut dalam
berbicara, diikuti dengan puasa dan solat malam ketika manusia lain tidur.” (Riwayat Ahmad)
1 Comment

Meraih “Kekuatan” Lewat Tahajud


Mei 10, 2007 pukul 6:34 am | Ditulis dalam Tentang Tahajud | 2 Komentar
Dari dua dini hari hingga subuh hampir tersentuh, waktu-waktu ini disambut para
muhsinun dengan wajah penuh cahaya. Sepertiga malam terakhir adalah malam yang
diyakini bertabur mukjizat. Tetesan dan percikan air wudlu yang jatuh ke bumi
menambah indah malam yang hening. Santai dan rileks. Mereka pun mengerjakan
shalat tahajud. Shalat yang didirikan setelah terjaga dari tidur………..
Sembilan cawan perkara siap disuguhkan Allah kepada para muhsinun. Lima cawan
perkara di dunia dan empat cawan perkara di akhirat. Sembilan cawan perkara itu
akan memuliakan para muhsinun.
Lima perkara itu antara lain :
1. Allah menjaganya dari bencana-bencananya.
2. Tampak bekas taat di wajahnya.
3. Ia akan disenangi oleh hamba-hamba yang shalih bahkan oleh semua manusia.
4. Katanya-katanya mengandung hikmah;
5. Allah memberikannya rezeki kepahaman terhadap agama.
Adapun yang empat di akhirat adalah :
1. Dibangkitkan dari kubur dengan wajah yang putih dan cemerlang.
2. Dimudahkan baginya hisab;
3. Berjalan di atas shirat (jembatan di akhirat) laksana kilat (bagai petir menyambar)
4. Diberikan kitab catatan amalnya melalui tangan kanan pada hari kiamat
Demikian nukilan keutamaan dari buku The Power of Tahajud yang ditulis Ahmad Sudirman
Abbas, terbitan Qultummedia. Buku ini dibuka dengan pemahaman soal Shalat Tahajud pada
bagian pertama. Dari Pengertian, keutamaan, tata cara shalat tahajud hingga perenungan soal
shalat ini.
Tentang perintah menegakkan shalat tahajud disebutkan dalam Surat Al Isra [17]: 79 “Dan pada
sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-
mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji.”
Dalam bab dua kisah nyata pelaku tahajud diungkapkan penulis. Misalnya Prof.Dr. Harun
Nasution, mantan rektor UIN Jakarta yang didekatkan peristiwa-peristiwa di luar akal manusia.
Kedekatan pada alam ghaib ditunjukkan dalam keseharian Harun Nasution. Tabir gaib yang
terbuka dihadapannya tak membuatnya takut. Setelah berkonsultasi dengan Abah Anom, seorang
ulama dari Tasikmalaya, kejadian-kejadian “horor” membuatnya lebih maklum dan terbiasa.
Sebagai pelaku tahajud beliau lebih merasa tenang dan tabah.
Tentang waktu-waktu dini hari, ada sebuah saran dari Prof. Dr. Harun Nasution kepada Prof. Dr.
Ahmad Sukardja, S.H. MA, saat ingin meraih gelar doktor, “menulislah pada pukul 02.00
dinihari atau pukul 03.00 dinihari. Nasihat ini dilakukan, alhasil disertasinya selesai dalam tempo
cepat. Inilah tips penting dari beliau soal bangun tengah malam untuk beribadah dan
berkontemplasi.
Dalam buku The Power of Tahajud ini, banyak manfaat dari shalat tahajud antara lain :
memberikan kekuatan lahir dan batin, memberikan perasaan tenang, memberikan posisi
terhormat (maqam mahmuda), memberikan tahajud, dan lain sebagainya. Selamat meraih
manfaat lewat tahajud.

Keutamaan Shalat Sunnah Tahajjud


January 24, 2010 by Rony Lesmana
Keutamaan Shalat Sunnah Tahajjud
Chart I
Ibadah & Tanda Syukur
٥٦: ‫ن )الذاريات‬
ِ ‫ل ِلَيْعُبُدو‬
ّ ‫س ِإ‬
َ ‫لْن‬
ِْ ‫ن َوا‬
ّ‫ج‬ِ ‫ت اْل‬
ُ ‫خَلْق‬
َ ‫)َوَما‬
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(Adz-Dzaariyaat : 56)
‫طَر َقَدَماُه‬
ّ ‫ى َتَتَف‬
ّ ‫حت‬
َ ‫ل‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ن َيُقْوُم ِم‬
َ ‫ي َكا‬
ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫ َأ‬: ‫عْنَها‬
َ ‫ل‬
ُ ‫يا‬
َ‫ض‬ِ ‫شَة َر‬
َ ‫عاِئ‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ,
”‫شُكْوًرا‬
َ ‫عْبًدا‬
َ ‫ن‬
َ ‫ن َأُكْو‬
ْ ‫ب َأ‬
ّ ‫ح‬
ِ ‫ل ُأ‬
َ ‫ل ” َأَف‬
َ ‫خَر؟ َقا‬
ّ ‫ك َوَما َتَأ‬
َ ‫ن َذْنِب‬
ْ ‫ك َما َتَقّدَم ِم‬
َ ‫ل َل‬
ُ ‫غَفَر ا‬
َ ‫ل َو َقْد‬
ِ ‫لا‬
َ ‫سو‬
ُ ‫صَنُع َهَذا َيا َر‬
ْ ‫ ” ِلَم َت‬:‫شُة‬
َ ‫عاِئ‬
َ ‫ت‬
ْ ‫َفَقاَل‬
‫))متفق عليه‬
Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha : Bahwa sesungguhnya Nabi bangun malam sampai bengkak
kakinya, maka ‘Asiyah berkata: “Kenapa engkau melakukan ibadah sampai seperti ini ya
Rasulallah, padahal Allah sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan
datang?
Beliau bersabda:“Tidakkah aku (pantas) menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
(HR. Muttafaqun ‘alaih)
Chart II
Mengubah hidup dan meninggikan derajat
‫حُمْوًدا‬
ْ ‫ك َمَقاًما ّم‬
َ ‫ك َرّب‬
َ ‫ن َيْبَعَث‬
ْ ‫سى َأ‬
َ‫ع‬َ ‫ك‬
َ ‫جْد ِبِه َناِفَلًة ّل‬
ّ ‫ل َفَتَه‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫َوِم‬
“Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”
(QS. Al-Israa : 79)
Chart III
Allah menjadi Wakil, Dia akan antar kebutuhan kita.
Shalat malam juga sebagai penajam kepekaan hati
‫ك َقْول‬
َ ‫عَلْي‬
َ ‫سُنْلِقي‬
َ ‫(ِإّنا‬٤) ‫ن َتْرِتيل‬ َ ‫ل اْلُقْرآ‬
ِ ‫عَلْيِه َوَرّت‬
َ ْ‫(َأْو ِزد‬٣) ‫ص ِمْنُه َقِليل‬
ْ ‫صَفُه َأِو اْنُق‬
ْ ‫(ِن‬٢) ‫ل ِإل َقِليل‬ َ ‫(ُقِم الّلْي‬١) ‫ل‬ ُ ‫َيا َأّيَها اْلُمّزّم‬
ّ ‫(َر‬٨) ‫ل ِإَلْيهِ َتْبِتيل‬
‫ب‬ ْ ‫ك َوَتَبّت‬
َ ‫سَم َرّب‬
ْ ‫(َواْذُكِر ا‬٧) ‫طِويل‬ َ ‫حا‬ ً ‫سْب‬
َ ‫ك ِفي َالّنَهاِر‬
َ ‫ن َل‬
ّ ‫(ِإ‬٦) ‫طًئا َوَأْقَوُم ِقيل‬
ْ ‫شّد َو‬
َ ‫ي َأ‬
َ ‫ل ِه‬ ِ ‫شَئَة الّلْي‬
ِ ‫ن َنا‬
ّ ‫(ِإ‬٥) ‫َثِقيل‬
٩) ‫خْذُه َوِكيل‬ِ ‫ب ل ِإَلَه ِإل ُهَو َفاّت‬ ِ ‫ق َواْلَمْغِر‬ِ ‫شِر‬ ْ ‫)اْلَم‬
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 2. bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali
sedikit (daripadanya), 3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.4. atau
lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. 5. Sesungguhnya Kami
akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat. 6. Sesungguhnya bangun di waktu malam
adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. 7. Sesungguhnya
kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). 8. sebutlah nama Tuhanmu,
dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. 9. (Dia-lah) Tuhan Penguasa timur dan
barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Maka ambillah Dia sebagai Pelindung.
(QS. Al-Muzammil : 1-9)
Chart IV
Solusi hidup dan hadiah besar
١٦) ‫ن‬
َ ‫طَمًعا َوِمّما َرَزْقَناهُْم ُيْنِفُقو‬
َ ‫خْوًفا َو‬
َ ‫ن َرّبُهْم‬
َ ‫عو‬
ُ ‫جِع َيْد‬
ِ ‫ضا‬
َ ‫ن اْلَم‬
ِ‫ع‬
َ ‫جُنوُبُهْم‬
ُ ‫جاَفى‬
َ ‫)َتَت‬
١٧) ‫ن‬
َ ‫جَزاًء ِبَما َكاُنوا َيْعَمُلو‬
َ ‫ن‬
ٍ ‫عُي‬
ْ ‫ن ُقّرِة َأ‬
ْ ‫ي َلُهْم ِم‬
َ ‫خِف‬
ْ ‫س َما ُأ‬
ٌ ‫)َفل َتْعَلُم َنْف‬
“lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan
penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. tak
seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan
bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah : 16 – 17)
Chart V
Tahajjud adalah salah satu kunci surga
ِ‫حار‬
َ‫س‬ ْ‫ل‬ َْ ‫ َوِبا‬. ‫ن‬َ ‫جُعو‬
َ ‫ل َما َيْه‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ل ِم‬
ً ‫َكاُنوا َقِلي‬. ‫ن‬
َ ‫سِني‬
ِ‫ح‬
ْ ‫ك ُم‬
َ ‫ل َذِل‬
َ ‫ن َما َآَتاُهْم َرّبُهْم ِإّنُهْم َكاُنوا َقْب‬
َ ‫خِذي‬
ِ ‫ َآ‬. ‫ن‬
ٍ ‫عُيو‬
ُ ‫ت َو‬
ٍ ‫جّنا‬
َ ‫ن ِفي‬
َ ‫ن اْلُمّتِقي‬
ّ ‫ِإ‬
َ ‫سَتْغِفُرو‬
‫ن‬ ْ ‫ُهْم َي‬
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-
mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di
dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu
malam. dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.”
(QS. Adz-Dzaariyaat : 15-18)
ّ‫ت َأن‬ُ ‫عَرْف‬
َ ‫سَتَبْنُتُه‬
ْ ‫جَهُه َوا‬ْ ‫ت َو‬ُ ‫ َفَلّما َتَأّمْل‬، ‫جاَءُه‬َ ‫ن‬ ْ ‫ت ِمّم‬
ُ ‫ َفُكْن‬، ‫س ِإَلْيِه‬
ُ ‫ل الّنا‬ َ ‫جَف‬
َ ‫ل الَمِدْيَنَة اْن‬
ِ ‫لا‬ُ ‫سْو‬ُ ‫ل َما َقّدَم َر‬ُ ‫ َأّو‬: ‫لم‬َ‫س‬َ ‫ن‬ ْ ‫ل ِب‬
ِ ‫عْبُد ا‬َ ‫ل‬َ ‫َقا‬
‫صُلوا‬
ِ ‫ َو‬، ‫طَعاَم‬ ّ ‫طِعُمْوا ال‬ ْ ‫ َوَأ‬، ‫لَم‬َ‫س‬ ّ ‫شوا ال‬ ُ ‫س َأْف‬
ُ ‫ ” َأّيَها الّنا‬: ‫ل‬ َ ‫ن َقا‬ْ ‫لِمِه َأ‬
َ ‫ن َك‬ ْ ‫ت ِم‬ُ ‫سِمْع‬ َ ‫ل َما‬
ُ ‫ن َأّو‬
َ ‫ َفَكا‬: ‫ل‬َ ‫ َقا‬. ‫ب‬ٌ ‫جٍه َكّذا‬
ْ ‫س ِبَو‬َ ‫جَهُه َلْي‬
ْ ‫َو‬
‫لٍم”)رواه الحاكم وابن ماجه والترمذي‬ َ‫س‬ َ ‫جّنَة ِب‬
َ ‫خُلوا ال‬ُ ‫ َتْد‬، ‫س ِنيَاٌم‬
ُ ‫ل َوالّنا‬ ِ ‫صّلْوا ِبالّلْي‬َ ‫ َو‬، ‫حاَم‬َ ‫لْر‬َ ‫)ا‬
Abdullah bin Salam berkata, “Ketika Rasulullah menginjakkan kakinya pertama kali di Madinah,
manusia mengerumuninya, aku bersama mereka, saat kuperhatikan dan kucermati wajahnya
maka aku tahu bahwa wajahnya bukan wajah seorang pembohong.” Dia (Abdullah bin Salam)
berkata, “Maka yang pertama kali kudengar dari perkataanya adalah:
“Wahai manusia…! Tebarkan salam, berikanlah makan, sambunglah tali silaturrahim, dan shalat
malamlah di kala manusia terlelap tidur, maka kalian akan masuk syurga dengan selamat.”
(HR. Al Haakim, Ibnu Maajah & Tirmidzi)
َ ‫ قَا‬، ‫ل‬
‫ل‬ ِ ‫لا‬
ِ ‫سْو‬
ُ ‫ن َر‬
ْ‫ع‬
َ ، ‫عْنُهَما‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫عْمُرو َر‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ :
« ‫ظاِهِرَها‬
َ ‫ن‬
ْ ‫طُنَها ِم‬
ِ ‫طِنهَا َوَبا‬
ِ ‫ظاِهُرَها ِمن َبا‬
َ ‫غَرًفا ُيَرى‬
ُ ‫جّنِة‬
َ ‫ي ال‬
ِ ‫نف‬
ّ ‫» ِإ‬
‫ل؟‬
ِ ‫لا‬
َ ‫سْو‬
ُ ‫ن َيا َر‬
ْ ‫ ِلَم‬: ‫فقال أبو مالك الشعري‬
‫س ِنَياٌم‬
ُ ‫ت َقاِئًما َوالّنا‬
َ ‫ َوَبا‬، ‫طَعاَم‬
ّ ‫طَعَم ال‬
ْ ‫ وَأ‬، ‫لَم‬
َ ‫طابَ الَك‬
َ ‫ن َأ‬
ْ ‫ » ِلَم‬: ‫ » قال‬.
(‫)رواه الطبراني و الحاكم‬
Dari Abdullah bin Amr rodhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah , beliau bersabda :
“Di dalam surga terdapat sebuah kamar yang luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan bagian
dalamnya dapat dilihat dari luarnya”. Lalu Abu Malik Al Asy’ari bertanya, “Untuk siapa kamar
itu Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Bagi orang yang membaguskan pembicaraan
(maksudnya pembicaraan bermanfaat dan memberi kebaikan), memberi makan dan melalui
malam dengan berdiri (shalat malam) pada saat orang tidur.”
(HR. At Thabrani, dan Al Hakim)
Chart VI
Tradisi turun-temurunnya orang-orang shaleh, sarana berdekatan dengan Sang Maha Penghapus
kesalahan, Proteksi dari dosa dan penyakit.
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ َقا‬: ‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫ي َر‬
ّ‫س‬
ِ ‫ن اْلَفاِر‬
َ ‫ن سَْلَما‬
ْ‫ع‬َ
{‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫طَرَدٌة ِللّداِء‬
ْ ‫ َوَم‬، ‫لْثِم‬
ِْ ‫ن ا‬
ْ‫ع‬
َ ‫ َوَمْنَهاٌة‬، ‫ت‬
ِ ‫سّيَئا‬
ّ ‫ َوُمَكّفَرةٌ ِلل‬، ‫ َوَمْقَرَبٌة َلُكْم إَلى َرّبُكْم‬، ‫ن َقْبَلُكْم‬
َ ‫حي‬
ِ ‫صاِل‬
ّ ‫ب ال‬
ُ ‫ل َفِإّنُه َدْأ‬
ِ ‫عَلْيُكْم ِبِقَياِم الّلْي‬
َ
‫سِد‬
َ‫ج‬َ ‫} اْل‬
(‫جاِمِعِه‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ت ِم‬
ِ ‫عَوا‬
َ ‫ي ِفي الّد‬
ّ ‫ َوالّتْرِمِذ‬، ‫ي ِفي اْلَكِبيِر‬
ّ ‫طَبَراِن‬
ّ ‫)َرَواُه ال‬
Panglima Salman Al Faarisi rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda:
“Hendaklah kamu bangun malam, karena sesungguhnya (bangun malam itu) adalah tradisi
orang-orang shaleh sebelum kamu, sarana untuk mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu,
penghapus dosa-dosa, pencegah dari berbuat dosa dan pengusir penyakit dari tubuh.”
(HR. Thabrani & Tirmidzi)
Chart VII
Menambah spirit;
Hidup jadi semangat, jiwa menjadi tenang dan terhindar dari kemalasan menjalani hidup
َ ‫ل َقا‬
‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرةَ َر‬
ْ‫ع‬
َ
«‫ل‬َّ ‫ظ َفَذَكَر ا‬
َ ‫سَتْيَق‬
ْ ‫نا‬
ِ ‫ َفِإ‬، ‫ل َفاْرُقْد‬ ٌ ‫طِوي‬
َ ‫ل‬ ٌ ‫ك َلْي‬
َ ‫عَلْي‬
َ ‫عقَْدٍة‬
ُ ‫ل‬ّ ‫ب ُك‬
ُ ‫ضِر‬ ْ ‫ َي‬، ‫عَقٍد‬
ُ ‫ث‬ َ ‫ل‬
َ ‫حِدُكْم ِإَذا ُهَو َناَم َث‬
َ ‫س َأ‬
ِ ‫عَلى َقاِفَيِة َرْأ‬ َ ‫ن‬ ُ ‫طا‬َ ‫شْي‬ّ ‫َيْعِقُد ال‬
َ‫ل‬
‫ن‬ َ‫س‬ْ ‫س َك‬
ِ ‫ث الّنْف‬ َ ‫خِبي‬َ ‫ح‬َ ‫صَب‬ْ ‫ل َأ‬ ّ ‫ َوِإ‬، ‫س‬ ِ ‫ب الّنْف‬ َ ‫طّي‬
َ ‫طا‬ ً ‫شي‬ِ ‫ح َن‬
َ ‫صَب‬
ْ ‫عْقَدٌة َفَأ‬
ُ ‫ت‬
ْ ‫حّل‬
َ ‫صّلى اْن‬
َ ‫ن‬ ْ ‫ َفِإ‬، ‫عْقَدٌة‬
ُ ‫ت‬ْ ‫حّل‬َ ‫ضَأ اْن‬
ّ ‫ن َتَو‬ْ ‫ َفِإ‬، ‫عْقَدٌة‬
ُ ‫ت‬ ْ ‫» اْنحَّل‬
(‫)رواه المالك و البخارى و ابو داود وابن حّبان‬
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda :
“Syetan mengikat 3 buhul di bagian belakang kepala salah seorang di antara kalian (apabila ia
tidur), seraya memukul pada tiap buhul; “malam panjang bagimu, tidurlah”.
Jika ia bangun kemudian berdzikir kepada Allah swt maka lepaslah satu buhul. Jika ia berwudhu
maka lepaslah satu buhul lagi. Dan jika ia shalat maka lepaslah semua buhulnya sehingga pada
pagi harinya menjadi semangat dan baik jiwanya. Dan jika tidak (melaksanakan hal tersebut)
maka pada pagi harinya ia menjadi buruk jiwanya dan malas
(HR. Malik, Bukhari, Abu dawud, dan Ibnu Hibban)
Chart VIII
Nilai dua raka’atnya lebih besar dari pada dunia dan semua isinya
ِ ‫لا‬
‫ل‬ ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫َقا‬
: ‫ن الّدْنَيا َوَما ِفْيَها‬
َ ‫خْيٌر َلُه ِم‬
َ ‫ل‬
ِ ‫ف الّلْي‬
ِ ‫جْو‬
َ ‫ن َيْرَكُعُهَما اْلَعْبُد ِفى‬
ِ ‫َرْكَعَتا‬
‫عَلْيِهْم )رواه السيوطى فى الجامع الصغير‬
َ ‫ضُتَها‬
ْ ‫ى َلَفَر‬
ِ ‫عَلى ُأّمت‬
َ ‫ق‬
ّ‫ش‬ُ ‫ن َأ‬
ْ ‫ل َأ‬
َ ‫)َوَلْو‬
Rasulullah bersabda:
Dua raka’at shalat malam yang dilakukan seorang hamba di tengah malam,
lebih baik baginya dari pada dunia beserta isinya,
kalau saja tidak memberatkan ummatku maka akan kuwajibkan mereka melakukannya.
(HR. As-Suyuthi)
Chart IX
Diumpamakan seperti sedekah yang dilakukan secara rahasia
‫عْنُه‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫سُعوٍد َر‬
ْ ‫ن َم‬
ُ ‫ل اْب‬
َ ‫ َقا‬:
‫لِنَيِة‬
َ ‫صَدَقِة اْلَع‬
َ ‫عَلى‬
َ ‫سّر‬
ّ ‫صَدَقِة ال‬
َ ‫ل‬
ِ‫ض‬ْ ‫لةِ الّنَهاِر َكَف‬
َ‫ص‬
َ ‫عَلى‬
َ ‫ل‬
ِ ‫لِة الّلْي‬
َ‫ص‬َ ‫ل‬
ُ‫ض‬ْ ‫ َف‬.
(‫ والبيهقى‬، ‫ والطبرانى‬، ‫)َرَواهُ ابن المبارك‬
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata :
“Keutamaan shalat malam atas shalat siang
seperti keutamaan shadaqah secara rahasia atas shadaqah secara terang-terangan
(HR. Ibnu Mubaarok, Ath Thabrani dan Al-Bayhaqi)
Chart X
Kemuliaan seorang mu’min terletak pada tahajjudnya
‫جِع‬
ِ ‫ضا‬
َ ‫ن اْلَم‬ِ‫ع‬ َ ‫جُنوُبُهْم‬ ُ ‫جاَفى‬ َ ‫( َتَت‬15) ‫ن‬ َ ‫سَتْكِبُرو‬
ْ ‫ل َي‬
َ ْ‫حْمِد َرّبِهْم َوُهم‬
َ ‫حوا ِب‬
ُ ‫سّب‬
َ ‫جًدا َو‬
ّ‫س‬
ُ ‫خّروا‬
َ ‫ن ِإَذا ُذّكُروا ِبَها‬
َ ‫ن ِبآَياِتَنا اّلِذي‬
ُ ‫ِإّنَما ُيْؤِم‬
16) ‫ن‬ َ ‫طَمًعا َوِمّما َرَزْقَناُهْم ُيْنِفُقو‬َ ‫خْوًفا َو‬
َ ‫ن َرّبُهْم‬َ ‫عو‬ُ ‫)َيْد‬
“Sesungguhnya orang yang beriman kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji
Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya
dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka
menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.”
(QS. As- Sajdah : 15-16)
64) ‫جًدا َوِقَياًما‬
ّ‫س‬
ُ ‫ن ِلَرّبِهْم‬
َ ‫ن َيِبيُتو‬
َ ‫( َواّلِذي‬63) ‫لًما‬
َ‫س‬َ ‫ن َقاُلوا‬
َ ‫جاِهُلو‬
َ ‫طَبُهُم اْل‬
َ ‫خا‬
َ ‫ض َهْوًنا َوِإَذا‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫عَلى ا‬
َ ‫ن‬
َ ‫شو‬
ُ ‫ن َيْم‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ِ ‫حَم‬
ْ ‫عَباُد الّر‬
ِ ‫)َو‬
“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah)
orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang
yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”
(QS. Al-Furqan : 63-64)
َ ‫ي َفَقا‬
‫ل‬ ّ ‫ى الّنِب‬
َ ‫جْبِرْيلٌ ِإل‬
ِ ‫جاَء‬
َ : ‫عْنُه‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫سْعٍد َر‬
َ ِ‫سْهل ِبن‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ :
ِ‫ف اْلُمْؤِمن‬
َ ‫شَر‬َ ‫ن‬ ّ ‫عَلْم َأ‬
ْ ‫ َوا‬، ‫ك ُمَفاِرُقُه‬ َ ‫ت َفِإّن‬
َ ‫شْئ‬
ِ ‫ن‬
ْ ‫حِببِ َم‬
ْ ‫ َوَأ‬، ‫ي ِبِه‬
ّ ‫جِز‬
ْ ‫ك َم‬
َ ‫شّئت َفِإّن‬
ِ ‫ل َما‬
ْ ‫عَم‬
ْ ‫ َوا‬، ‫ت‬
ٌ ‫ك َمّي‬
َ ‫ت َفِإّن‬
َ ‫شْئ‬
ِ ‫ش َما‬
ْ ‫ع‬
ِ ‫حّمد‬
َ ُ‫َيا م‬
ِ ‫ن الّنا‬
‫س‬ ِ‫ع‬َ ‫سِتْغَناُؤُه‬
ْ ‫عّزهُ ِا‬ ِ ‫ل َو‬
ِ ‫ِقَياُم الّلْي‬
(‫)رواه الطبراني‬
Dari Sahal bin Sa’ad rodhiyallahu ‘anhu : Jibril datang kepada Nabi seraya berkata :
“Hai Muhammad, hiduplah sekehendakmu, karena sesungguhnya engkau pasti akan mati,
berbuatlah sekehendakmu karena engkau akan mendapat ganjarannya, cintailah siapa saja yang
engkau sukai karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, ketahuilah seseungguhnya
kemuliaan seorang mu’min adalah bangun malam dan kebanggaannya adalah
ketidaktergantungannya kepada manusia.”
(HR. Thabrani)
Chart XI
Padanya terdapat waktu mustajab untuk berdo’a
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫عْنُه َقالَ َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫جاِبٍر َر‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
‫ل َلْيَلٍة‬
ّ ‫ك ِفى ُك‬
َ ‫ل آَتاُه ِإّياُه َوَذِل‬
ّ ‫خْيرًا ِإ‬
َ ‫ل ِفيَها‬
َّ ‫ل ا‬
ُ ‫سَأ‬
ْ ‫عْبٌد ُمسِْلٌم َي‬
َ ‫ل ُيَواِفُقَها‬
َ ‫عًة‬
َ ‫سا‬
َ ‫ل َل‬
ِ ‫ن ِفى الّلْي‬
ّ ‫ِإ‬
(‫)رواه مسلم و أحمد‬
Dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu (saat) yang tidaklah seorang muslim meminta
(kepada) Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut,
melainkan Allah SWT memberinya, dan yang demikian itu adalah setiap malam.”
(HR. Muslim dan Ahmad )
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ َ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرةَ َر‬
ْ‫ع‬
َ
‫سَأُلِنى‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫ب َلُه َم‬
َ ‫جي‬
ِ ‫سَت‬
ْ ‫عوِنى َفَأ‬ ُ ‫ن َيْد‬
ْ ‫ل َم‬ُ ‫خُر َيُقو‬ِ ‫ل ال‬ ِ ‫ث الّلْي‬
ُ ‫ن َيْبَقى ُثُل‬
َ ‫حي‬
ِ ‫سَماِء الّدْنَيا‬
ّ ‫ل َلْيَلٍة ِإَلى ال‬
ّ ‫ك َوَتَعاَلى ُك‬
َ ‫ل َرّبَنا َتَباَر‬
ُ ‫ل » َيْنِز‬
َ ‫َقا‬
‫غِفَر َلُه « )رواه البخاري‬ ْ ‫سَتْغِفُرِنى َفَأ‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫طَيُه َم‬
ِ‫ع‬ْ ‫)َفُأ‬
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Tuhan kita Yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi turun kelangit dunia di penghujung
sepertiga malam terakhir, Dia berfirman: “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku
kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri, dan siapa saja yang
memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)
Chart XII
Allah menyayangi suami istri yang rajin qiyamullail
bahkan mereka dicatat sebagai ahli dzikir
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ ” َقا‬: ‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫عنْ َأِبي ُهَرْيَرةَ َر‬
َ :
“‫ل‬
ِ ‫ن الّلْي‬
ْ ‫ت ِم‬
ْ ‫ل اْمَرَأةً َقاَم‬
ُّ ‫حَم ا‬
ِ ‫جِهَها اْلَماَء َوَر‬
ْ ‫ضحَ ِفي َو‬
َ ‫ت َن‬
ْ ‫ن َأَب‬
ْ ‫ت َفِإ‬ْ ‫صّل‬
َ ‫ظ اْمَرَأَتُه َف‬
َ ‫صّلى ُثّم َأْيَق‬َ ‫ل َف‬
ِ ‫ن الّلْي‬
ْ ‫ل َقاَم ِم‬
ً‫ج‬ُ ‫ل َر‬
ُّ ‫حَم ا‬
ِ ‫َر‬
‫ أحمد والنسائي‬,‫جِهِه اْلَماَء” )رواه أبوداود‬ ْ ‫ت ِفي َو‬
ْ ‫ح‬َ‫ض‬َ ‫ن َأَبى َن‬ْ ‫صّلى َفِإ‬َ ‫جَها َف‬َ ‫ت َزْو‬ ْ ‫ظ‬َ ‫ت ُثّم َأْيَق‬
ْ ‫صّل‬
َ ‫)َف‬
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah bersabda,
“Allah swt merahmati seorang lelaki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan
istrinya. Jika (istrinya) enggan maka ia memercikan air di wajahnya. Dan Allah swt merahmati
seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan suaminya. Jika
(suaminya) enggan maka ia memercikkan air di wajahnya.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasaa’i ).
ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫عْنُهَما َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫سِعيدٍ َوَأِبى ُهَرْيَرةَ َر‬
َ ‫ن َأِبى‬
ْ‫ع‬َ
«‫ت‬
ِ ‫ن َوالّذاِكَرا‬
َ ‫جِميًعا ُكِتَبا ِفى الّذاِكِري‬
َ ‫ن‬
ِ ‫صّلى َرْكَعَتْي‬
َ ‫صّلَيا َأْو‬
َ ‫ل َف‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ل َأْهَلُه ِم‬
ُ‫ج‬ُ ‫ظ الّر‬
َ ‫» ِإَذا َأْيَق‬
(‫)رواه أبوداود والنسائي وابن ماجه وابن حّبان والحاكم‬
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah rodhiyallhu ‘anhuma, keduanya berkata,
telah bersabda Rasulullah : “Apabila seorang lelaki membangunkan istrinya di malam hari
kemudian keduanya shalat (atau ia shalat) dua rakaat berjama’ah, maka keduanya ditulis di
kalangan orang-orang lelaki dan wanita yang berdzikir.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasaa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Chart XIII
Berusaha dan berdo’a sebelum tidur supaya bisa bangun tahajjud
َ ‫ي َقا‬
‫ل‬ ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َأِبي الّدْرَداَء َر‬
ْ‫ع‬
َ :
‫ن َرّبِه‬
ْ ‫عَلْيِه ِم‬
َ ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ن َنْوُمُه‬
َ ‫ َوَكا‬، ‫ب َلُه َما َنَوى‬
َ ‫صِبحَ ُكِت‬
ْ ‫حّتى ُي‬
َ ‫عْيَنُه‬
َ ‫ل َفَغَلَبْتُه‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫صّلي ِم‬
َ ‫ن َيُقْوَم َفُي‬
ْ ‫شُه َوُهَو َيْنِوي َأ‬
َ ‫ن َأَتى ِفَرا‬
ْ ‫َم‬
‫) ) رواه النسائي وابن ماجه بسند صحيح‬
Dari Abi Darda rodhiyallau ‘anhu, sesungguhnya Nabi bersabda :
“Siapa yang hendak beranjak ke tempat tidurnya lalu ia berniat untuk bangun dan shalat di
malam hari namun kemudian ketiduran hingga subuh, maka ia akan dicatat sesuai niatnya,
sedangkan tidurnya adalah sedekah dari Tuhannya.”
(HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)
‫عْنُهَما‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫ص َر‬
ِ ‫ن اْلَعا‬
ِ ‫عْمِرو ْب‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬
َ
:‫ل‬
ِ ‫لا‬
ُ ‫سْو‬
ُ ‫ي َر‬
ِ ‫لل‬
َ ‫ َقا‬:
ِ ‫ك ِقياَم الّلْي‬
‫ل‬ َ ‫ َفَتَر‬، ‫ل‬
َ ‫ن يُقوُم الّلْي‬
َ ‫ن َكا‬
ٍ‫ل‬َ ‫ل ُف‬
َ ‫ن ِمْث‬
ْ ‫ل تُك‬
َ ،‫ل‬
ِّ ‫عْبَد ا‬
َ ‫َيا‬
(‫)رواه البخاري‬
Abdullah bin Amru bin ‘Aash rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,
Rasulullah bersabda kepadaku :
“Hai Abdullah…! jangan seperti si fulan ya, dia bangun malam tapi meninggalkan shalat
malam.”
(HR. Bukhari)
ّ ‫ى الّنِب‬
‫ي‬ َ ‫عل‬
َ ‫صَها‬
ّ ‫ي ِإَذا َرَأى ُرْؤَيا َق‬
َِ ‫حَياِة الّنِب‬
َ ‫ي‬
ِ ‫لف‬
ُ‫ج‬ُ ‫ن الّر‬
َ ‫” َكا‬:‫ل‬
َ ‫عْنُهَما قَا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫عَمَر َر‬
ُ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ
‫ي ِاَلى الّناِر َفِإَذا‬
ِ ‫ي َفَذَهَبا ب‬ِ ‫خَذان‬
َ ‫ن َا‬
ِ ‫ن َمَلَكْي‬
ّ ‫ي الّنْوِم َكَأ‬
ِ ‫تف‬ ُ ‫ل َفَرَأْي‬
ِ ‫لا‬
ِ ‫سْو‬ُ ‫عْهِد َر‬
َ ‫ى‬َ ‫عل‬
َ ‫جِد‬
ِ‫س‬
ْ ‫ي الَم‬
ِ ‫ت َاَناُم ف‬
ُ ‫عْزبًا َوُكْن‬
َ ‫شاّبا‬
َ ‫لًما‬
َ‫غ‬ُ ‫ت‬
ُ ‫َوُكْن‬
ُ ‫ت َاُقْو‬
‫ل‬ ُ ‫جَعْل‬
َ ‫عَرْفُتُهْم َف‬
َ ‫س َقْد‬
ٌ ‫ن َوِاَذا ِفْيَها َنا‬
ِ ‫طي الِبْئِر َوِاَذا لَهَا َقْرَنا‬َ ‫طِوَيٌة َك‬
َ ‫ي َم‬
َ ‫ ِه‬:
” ‫ن الّناِر‬
َ ‫ل ِم‬
ِ ‫عْوُذ ِبا‬
ُ ‫”َا‬
ْ ‫ َلْم ُتَر‬: ‫ي‬
‫ع‬ ِ ‫لل‬
َ ‫خٌر َفَقا‬
َ ‫كآ‬
ٌ ‫ َوَلَقْيَنا َمَل‬: ‫ل‬
َ ‫…! َقا‬
َ ‫ل َفَقا‬
‫ل‬ ِ ‫لا‬
ِ ‫سْو‬
ُ ‫ى َر‬
َ ‫عل‬
َ ‫صٌة‬
َ ‫حْف‬
َ ‫صْتَها‬
َ ‫صٍة َفَق‬
َ ‫حْف‬
َ ‫ى‬
َ ‫عل‬
َ ‫صُتَها‬
ْ ‫ص‬
َ ‫ َفَق‬:
(‫ل‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫صّلي ِم‬
َ ‫ن ُي‬
َ ‫ل َلْو َكا‬
ِ ‫عْبُد ا‬
َ ‫ل‬
َ‫ج‬ُ ‫) ِنْعَم الّر‬
‫ل )رواه البخاري‬
ً ‫ل َقِلْي‬
ّ ‫ل ِا‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫ل َيَناُم ِم‬
َ ‫ن َبْعُد‬
َ ‫)َفَكا‬
Dari Abdullah Bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma belia berkata:
“Pada masa Nabi , bila seseorang bermimpi, maka dia menceritakannya kepada beliau. Sayapun
berharap bermimpi dan bisa menceritakannya kepada Rasulullah. Saat itu aku masih remaja dan
sering tidur di dalam masjid. Suatu hari aku menyaksikan dalam mimpiku seolah-olah dua
malaikat menjemput diriku, kemudian membawaku menuju neraka. Aku mendapati neraka itu
berlipat (bertingkat) seperti tingkatan-tingkatan sumur dan memiliki dua tanduk. Di dalam
banyak sekali manusia-manusia yang saya kenali.
(Saat itu) aku berkata “Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka.”
Kami bertemu malaikat lain, seraya berkata kepadaku , “Engkau belum terpelihara darinya.”
Kemudian Aku menceritakan mimpi tersebut kepada Hafshah rodhiyallahu ‘anha, lalu Hafshah
menyampaikannya kepada Rasulullah . Maka beliau bersabda :
“Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, jika ia bangun pada sebagian malam untuk shalat.”
Maka setelah kejadian ini Abdullah tidak pernah tidur malam kecuali hanya sedikit saja.
(HR. Bukhari).

an
Semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua, khususnya untuk diriku sendiri, Amin
Tuesday, October 31, 2006
“ KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA “
“ KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA “
Oleh : H. Sunaryo A.Y.
Shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari

sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau

sekitar setinggi satu tombak yaitu antara pukul 07.00 pagi sampai masuk

waktu Dzuhur, ( sekitar pukul 11.00 siang ).


Adapun dalil Shalat Sunnat Dhuha adalah sabda Rosulullah SAW

dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai

berikut :
• Bersabda Rosulullah SAW :
“ Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan di

ampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan. “

( HR Tirmidzi )
• Nabi Muhammad SAW bersabda :
“ Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka

tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yang

suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu

sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. “ ( HR Thabrani )


• Abu Hurairah ra pernah berkata :
“ Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga

) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat

Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim

)
• Dari Mu’im bin Hammar, bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“ Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlah

empat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau di

akhir siang itu”. ( HR Ahmad dan Abu Daud )


• Dari Aisyah ra, ia berkata : “ Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat

Dhuha 4 ( empat ) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa


yang dikehendaki Allah SWT.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )
• Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepada

Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW

berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke

tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil

pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 (

delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )


Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan

Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :


• Nabi Muhammad SAW bersabda :

“ Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk

bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid ( puji

) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruh

kepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itu

sedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah

mengerjakan dua rakaat Dhuha. “ ( HR Muslim dan Abu Dzar )


• Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia

pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :


“ Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang

setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau

begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ? Rosulullah SAW

menjawab : “ Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau

menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau
engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi

dari semua itu “ ( HR Ahmad dan Abu Daud )


Saudaraku, sesama Muslim.
Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai

muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan )

Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan

kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ?

Hayo, saudaraku, jangan ragu dan bimbang lagi, mari dengan ikhlas kita

mengerjakan Shalat Sunnat Dhuha.

• Cara mengerjakan Shalat Dhuha.


1. Niat Shalat Dhuha :

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah :


a. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.
b. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha.
3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :

“ Ya Allah, ya Tuhanku, bahwa kami waktu Dhuha itu milik Engkau dan

kebajikan ( kemewahan ) itu milik Engkau, dan keindahan itu milik Engkau

dan kekuatan itu milik Engkau dan kekuasaan itu milik Engkau dan

pemeliharaan itu milik Engkau. Ya Allah, Tuhanku, jika keadaan rezekiku

di langit, maka turunkanlah dan jika adanya didalam bumi maka

keluarkanlah dan jika adanya didalam air atau dilaut maka keluarkanlah ia

dan jika ia lambat, percepatlah dan jika ia sulit, gampangkanlah dan jika

ia haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah ia dan jika sedikit,

perbanyaklah ia padaku dan jika banyak, berkahilah ia bagiku dan

sampaikanlah dimana saja aku berada. Janganlah Engkau pindahkan aku ke


tempat itu, dan jadikanlah tanganku diatasnya, untuk menjadi pemberi dan

janganlah tanganku dijadikan dibawah untuk jadi tukang minta.

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan hak ( bekal )

Dhuha Engkau, kebagusan Engkau, keindahan Engkau, kekuatan Engkau,

kekuasaan Engkau dan pemeliharaan Engkau. Tiada daya dan kekuatan,

kecuali dengan pertolongan Engkau. Berilah aku apa yang Engkau engkau

kepada hamba-hamba Engkau yang soleh. Dan sampaikanlah shalawat kepada

Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta para Sahabatnya. Semoga mereka

mendapat keselamatan dan segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian

Alam.”
Saudaraku, kerjakanlah Shalat Sunnat Dhuha setiap pagi, paling

sedikit 2 ( dua ) rakaat atau 4 ( empat ) rakaat atau 6 ( Enam ) rakaat

dan paling banyak 8 ( delapan ) rakaat.


****
( Bahan-bahan (materi) dikutip dari Buku “FIQIH” Oleh : Drs. H. Moh

Rifai, Untuk Madrasah Aliyah. Kurikulum 1984, Edisi 1991. Penerbit

“Wicaksana “ Semarang, buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” Oleh : Abdul Manan

bin H. Muhammad Sobari dan Buku “KUMPULAN SHALAT SUNNAT” Oleh : A.

March 2, 2010 by Rony Lesmana


Keutamaan Shalat Sunnah Dhuha
Chart I
Allah memerintah agar kita selalu bertasbih kepada-Nya di kala pagi dan sore, shalat dhuha
merupakan sarana untuk kita bertasbih
ِ ‫شَرا‬
‫ق‬ ْ‫ل‬ِْ ‫ي َوا‬
ّ‫ش‬
ِ ‫ن ِباْلَع‬
َ‫ح‬ْ ‫سّب‬
َ ‫ل َمَعُه ُي‬
َ ‫جَبا‬
ِ ‫خْرَنا اْل‬
ّ‫س‬
َ ‫ِإّنا‬
“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di
waktu petang dan pagi.” (QS. Shaad : 18)
ِّ ‫ن ِذْكِر ا‬
‫ل‬ ْ‫ع‬َ ‫جاَرةٌ َول َبْيٌع‬
َ ‫ل ل ُتْلِهيِهْم ِت‬
ٌ ‫جا‬
َ ‫ ِر‬.‫ل‬
ِ ‫صا‬
َ ‫ح َلُه ِفيَها ِباْلُغُدّو َوال‬
ُ ‫سّب‬
َ ‫سُمُه ُي‬
ْ ‫ن ُتْرَفَع َوُيْذَكَر ِفيَها ا‬
ْ ‫ل َأ‬
ُّ ‫ن ا‬
َ ‫ت َأِذ‬
ٍ ‫…ِفي ُبُيو‬.
“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah…”
(QS. An-Nuur : 36-37)
Chart II
Menghidupkan sunnah Rasulullah , suatu keharusan; sebagai wujud kecintaan kepadanya. Bila
kecintaan sudah terbukti maka layak masuk surga bersamanya
ِ ‫لا‬
‫ل‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ َقا‬:‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ك َر‬
ٍ ‫ن َماِل‬
ِ ‫س اْب‬
ِ ‫ن َاَن‬
ْ‫ع‬َ :
‫جَّنِة‬
ْ ‫ن َمِعى ِفى ال‬
َ ‫حّبِنى َكا‬
ْ ‫ن َا‬
ْ ‫حّبِنى َوَم‬
َ ‫سّنِتى َفَقْد َا‬
ُ ‫حيَا‬
ْ ‫ن َا‬
ْ ‫َم‬
(‫)رواه الترمذى‬
Dari Anas Bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah bersabda:
“Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku
maka ia layak bersamaku di surga.” (HR. Tirmidzi)
Chart III
Pelengkap Ibadah Wajib; dinamakan wajib karena ada yang sunnah
ْ‫ل َما ُيْرَفُع ِمن‬ ُ ‫ َوَأّو‬، ‫س‬ ُ ‫خْم‬ َ ‫ت اْل‬ُ ‫صَلَوا‬ّ ‫ى ال‬ ِ ‫ى ُأّمت‬ َ ‫عل‬ َ ‫ل‬ ُ ‫ضا‬ َ ‫ل َما اْفَتَر‬ ُ ‫ َأّو‬: ‫ل‬
ِ ‫لا‬ ُ ‫سْو‬ُ ‫ل َر‬ َ ‫ َقا‬:‫ل‬ َ ‫عْنُهَما َقا‬ َ ‫ل‬ُّ ‫ي ا‬ َ‫ض‬ ِ ‫عَمَر َر‬ ُ ‫ن‬ ِ ‫ن اْب‬
ْ‫ع‬ َ
ْ ‫ظُرْوا َه‬
‫ل‬ ُ ‫ ُاْن‬: ‫ى‬َ ‫ل َتَعال‬ ُ ‫لا‬ ُ ‫شْيًئا ِمْنَها َيَُقو‬َ ‫ضّيَع‬ َ ‫ن‬ َ ‫س َفَمنْ َكا‬ ُ ‫خْم‬ َ ‫صَلَوات اْل‬ ّ ‫عْنُه ال‬ َ ‫ن‬ َ ‫سَأُلْو‬
ْ ‫ل َما ُي‬ ُ ‫ َوَأّو‬، ‫س‬ ُ ‫خْم‬ َ ‫ت اْل‬ُ ‫صَلَوا‬ّ ‫عَماِلِهْم ال‬ ْ ‫َأ‬
‫شْيًئا ِمْنُه‬َ ‫ضّيَع‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن َكا‬ْ ‫ن َفِا‬َ ‫ضا‬َ ‫شْهَر َرَم‬ َ ‫عْبِدى‬ َ ‫صَياِم‬ِ ‫ي‬ ِ ‫ظُرْوا ف‬ ُ ‫ َواْن‬، ‫ضِة‬ َ ‫ن اْلَفِرْي‬َ ‫ص ِم‬َ ‫ن ِبَها َما َنَق‬ َ ‫لٍة ُتِتّمْو‬
َ‫ص‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ن ِلَعْبِدي َناِفَلًة ِم‬ َ ‫جُدْو‬ِ ‫َت‬
‫شْيًئا ِمْنَها‬ َ ‫ضّيَع‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن َكا‬ ْ ‫ َفِا‬، ‫عْبِدى‬ َ ‫ي َزَكاِة‬ ِ ‫ظُرْوا ف‬ ُ ‫ َواْن‬، ‫صَياِم‬
ّ ‫ن ال‬ َ ‫ص ِم‬
َ ‫ن ِبَها َما َنَق‬ َ ‫صَياٍم ُتِتّمْو‬ِ ‫ن‬ ْ ‫ن ِلَعْبِدي َناِفَلًة ِم‬ َ ‫جُدْو‬ِ ‫ل َت‬ ْ ‫ظُرْوا َه‬ ُ ‫ َفاْن‬،
ِ ‫حَمِة ا‬
‫ل‬ ْ ‫ك ِبَر‬ َ ‫ َوَذِل‬، ‫ل‬ ِ ‫ضا‬ ِ ‫ى َفَراِئ‬ َ ‫عل‬ َ ‫ك‬ َ ‫خُذ َذِل‬َ ‫ َفُيْؤ‬، ‫ن الّزَكاِة‬ َ ‫ص ِم‬َ ‫ن ِبَها َما َنَق‬ َ ‫صَدَقٍة ُتِتّمْو‬َ ‫ن‬ ْ ‫ي َناِفَلًة ِم‬
ْ ‫ن ِلَعْبِد‬ َ ‫جُدْو‬
ِ ‫ل َت‬
ْ ‫ظُرْوا َه‬ ُ ‫َفاْن‬
‫خُذْوا‬ َ ‫ت ِبِه الّزَباِنّيُة َفَأ‬ْ ‫ك ُأِمَر‬ َ ‫ن َذِل‬ْ ‫ئٌِم‬ ْ ‫ش‬َ ‫جْد َلُه‬ َ ‫ َفِانْ َلْم ُيْو‬، ‫سُرْوًرا‬ ْ ‫جّنَة َم‬
َ ‫ل ال‬ِ‫خ‬ُ ‫ل َلُه ُاْد‬َ ‫ َوِقْي‬، ‫ي ِمْيَزاِنِه‬ ِ ‫ضَع ف‬ َ ‫ل َو‬ ً‫ض‬ ْ ‫جَد َف‬ ِ ‫ن ُو‬ ْ ‫ َفِا‬، ‫عْدِلِه‬ َ ‫َو‬
‫حَمد و الحاكم‬ ْ ‫ ) رواه َأ‬.‫ي الّناِر‬ ِ ‫ف ِبِه ف‬َ ‫ ُثّم َقَذ‬، ‫جَلْيِه‬ ْ ‫)ِبَيَدْيِه َوِر‬
Dari Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah bersabda:
“Perintah yang pertama kali diwajibkan kepada ummatku adalah shalat lima waktu, yang
pertama kali diangkat dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu, dan yang pertama
kali dipertanyakan dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang
pernah meninggalkan sesuatu daripadanya maka Allah SWT berfirman (kepada malaikat):
lihatlah! Apakah kalian mendapatkan dari hamba-Ku shalat-shalat sunnah yang
menyempurnakan kekurangannya dari shalat fardhu?
Lihatlah puasa ramadhan hamba-Ku, apabila tertinggal (pernah tidak berpuasa) maka lihatlah
apakah hamba-Ku mempunyai pahala puasa sunnah yang akan menyempurnakan kekurangan
puasa wajibnya? Dan lihatlah zakat hamba-Ku, bila ia sempat tidak mengeluarkannya maka
lihatlah apakah kalian mendapatkan hambaku bersedekah yang akan menyempurnakan
kekurangan zakatnya?
Maka diambilah pahala sunnah tersebut untuk melengkapi kekurangan atas kewajiban yang
Allah perintahkan, yang demikian terjadi karena rahmat Allah dan keadilan-Nya.
Apabila didapati pahalanya lebih banyak (melengkapi pahala ibadah wajib) dalam
timbangannya, maka dikatakan kepadanya: “masuklah surga dengan senang hati”.
Namun bila tidak didapati satupun pahala sunnahnya, maka Malaikat Zabaniyyah akan
diperintah oleh Allah untuk menyeret tangan dan kakinya kemudian dilempar ke neraka.
(HR. Ahmad & Al-Haakim)
Chart IV
Dhuha termasuk tiga sunnah yang tidak layak ditinggalkan
َ ‫ى َاُمْو‬
‫ت‬ ّ ‫حت‬
َ ‫ن‬
ّ ‫عُه‬
ُ ‫ل َاَد‬
َ ]‫ث‬
ٍ ‫ل‬
َ ‫خِلْيِلي ِبَث‬
َ ‫ي‬
ِ ‫صان‬
َ ‫ َأْو‬: ‫ل‬
َ ‫ َقا‬، ‫عْنُه‬
َ ‫ل َتَعاَلى‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ي ُهَرْيَرَة َر‬
ِ ‫ن َأب‬
ْ‫ع‬َ ]:
( ‫ن َأنَاَم‬
ْ ‫ل َأ‬
َ ‫ن ُأْوِتَر َقْب‬
ْ ‫ َوَأ‬،‫حى‬
َ‫ض‬ّ ‫ َوَرْكَعَتي ال‬،‫شْهٍر‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ي ُك‬
ِ ‫لَثِة َأيّاٍم ف‬
َ ‫صَياِم َث‬
ِ ‫ ) ِب‬.
(‫) رواه البخاري ومسلم‬
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu , beliau berkata:
“Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan
hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka’at shalat dhuha dan agar
aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Chart VI
Allah akan mencukupi hari-hari kita
pagi ngisi absen, sore gajian…
َ ‫ي َقا‬
‫ل‬ ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن َر‬
َ ‫سْمَعا‬
َ ‫ن‬
ِ ‫سب‬
َ ‫ن الّنّوا‬
ِ َ‫ ع‬:
‫خَرُه‬
ِ ‫كآ‬
َ ‫ل الّنَهاِر َأْكِف‬
ِ ‫ي َأّو‬
ِ ‫تف‬
ٍ ‫ن َأْرَبِع َرَكَعا‬
ْ‫ع‬
َ ‫ن‬
ْ ‫جَز‬
ِ ‫ل َتْع‬
َ ‫ن آَدَم‬
َ ‫” اْب‬: ‫ل‬
ّ‫ج‬َ ‫عّزَو‬
َ ‫ل‬
ُ ‫لا‬
َ ‫“ َقا‬
(‫)رواه أحمد والترمذي وأبو داود والنسائي‬
Dari Nawwas bin Sam’an rodhiyallahu ‘anhu, Bahwasanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya
Allah `Azza Wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal
hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)
ِ ‫لا‬
‫ل‬ ِ ‫سْو‬
ُ ‫ن َر‬
ْ‫ع‬َ :‫عْنُهَما‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ َوَأِبي َذّر َر‬، ‫ن َأِبي الّدْرَداِء‬
ْ‫ع‬َ :
‫خَرهُ « أخرجه الترمذي‬
ِ‫كآ‬
َ ‫ل الّنَهاِر َأْكِف‬
ِ ‫ن َأّو‬
ْ ‫ت ِم‬
ٍ ‫ن آَدَم اْرَكْع ِلي َأْرَبَع َركََعا‬
َ ‫ل» اْب‬
َ ‫ى َأّنُه َقا‬
َ ‫ك َوَتَعال‬
َ ‫ل َتَباَر‬
ِ ‫نا‬
ِ‫ع‬
َ
Dari Abi Darda’ dan Abi Dzarr rodhiyallahu ‘anhuma, Dari Allah tabaroka wata’ala,
Sesungguhnya Allah tabaroka wata’ala berfirman:
“Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi
kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya.”
(Ditakhrij oleh Imam Tirmidzi)
Chart VII
Tiap raka’atnya mengandung keutamaan
َ ‫ي َقا‬
‫ل‬ ّ ‫ َوُهَو َيْرَفْعُه ِإَلى الّنِب‬، ‫ َيْرَفْعُه ِإَلى َأِبي َذّر‬، ‫ي‬
ّ ِ‫سْهم‬
ّ ‫عْمٍرو ال‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ :
َ ‫ن اْلَغاِفِلي‬
‫ن‬ َ ‫ب ِم‬
ْ ‫ن َلْم ُيْكَت‬
ِ ‫جَدَتْي‬
ْ‫س‬
َ ‫حى‬
َ‫ض‬ّ ‫صّلى ال‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ َم‬،
َ ‫ن اْلَقاِنِتي‬
‫ن‬ َ ‫ب ِم‬
َ ‫صّلى َأْرَبًعا ُكِت‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ َوَم‬،
‫ك اْلَيْوِم‬
َ ‫ي َذِل‬
َ ‫سّتا ُكِف‬
ِ ‫صّلى‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ َوَم‬،
َ ‫ن اْلَعاِبِدي‬
‫ن‬ َ ‫ل ِم‬
ُّ ‫صّلى َثَماِنًيا َكَتَبُه ا‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ َوَم‬،
‫جّنِة‬
َ ‫ل َلُه َبْيًتا ِفي اْل‬
ُّ ‫شَرَة َرْكَعًة َبَنى ا‬
ْ‫ع‬َ ‫ي‬
ْ ‫صّلى ِثْنَت‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ َوَم‬،
‫ن ُيْلِهَمُهْم ِذْكَرُه‬
ْ ‫ن َأ‬
ْ ‫ل ِم‬
َ‫ض‬
َ ‫يٍء َأْف‬
ْ ‫ش‬
َ ‫عَباِدِه ِب‬
ِ ‫عَلى‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ن ا‬
ّ َ‫ َوَما م‬، ‫صَدَقٍة‬
َ ‫عَباِدِه ِب‬
ِ ‫عَلى‬
َ ‫ن ِبِه‬
ّ ‫ن َيُم‬
َ ‫ل ِفيِه ِم‬
ِّ ‫ل َو‬
ّ ‫ن َيْوٍم َول َلْيَلٍة ِإ‬
ْ ‫َوَما ِم‬
‫))أخرجه الطبرانى‬
Dari Abdillah bin ‘Amr Assahmiy, beliau merafa’kan kepada Abi Dzarr, dan Abi Dzarr
merafa’kannya kepada Nabi , beliau bersabda:
“ Siapa saja yang melaksanakan dua raka’at shalat dhuha maka dia tidak akan dicatat sebagai
hamba yang lalai, Siapa saja yang melaksanakan empat raka’at maka dia akan dicatat sebagai
hamba yang taat, Siapa saja yang melaksanakan enam raka’at maka akan dicukupka
kebutuhannya pada hari itu, Siapa saja yang melaksanakan delapan raka’at maka dia akan dicatat
sebagai ahli ibadah, Siapa saja yang melaksanakan duabelas maka Allah akan membangunkan
rumah di surga,
Tidak ada satu hari atau satu malampun kecuali Allah memilih hamba yang diberi nikmat untuk
bisa bersedekah dan tidaklah Allah memberikan sesuatu yang lebih baik kepada hamba-Nya
selain memberikan petunjuk untuk bisa berdzikir (mengingat-Nya)
(HR. Thabrani)
ّ ‫ل الَّنب‬
‫ي‬ َ ‫ َقا‬: ‫عْنُه‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫خَبِر َأِبي َذّر َر‬
َ ‫ ِل‬:
َ ‫ن اْلَغاِفِلْي‬
‫ن‬ َ ‫ب ِم‬
ْ ‫ن َلْم ُتْكَت‬
ِ ‫حى َرْكَعَتْي‬
َ‫ض‬ّ ‫ت ال‬
َ ‫صّلْي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ِإ‬،
َ ‫سِنْي‬
‫ن‬ ِ‫ح‬ْ ‫ن اْلُم‬
َ ‫ت ِم‬
َ ‫َأْو َأْرَبًعا ُكِتْب‬،
َ ‫ن اْلَقاِنِتْي‬
‫ن‬ َ ‫ت ِم‬
َ ‫سًتا ُكِتْب‬
ِ ‫َأْو‬،
َ ‫ن اْلَفاِئِزْي‬
‫ن‬ َ ‫ت ِم‬
َ ‫َأْو َثَماِنًيا ُكِتْب‬،
ٌ ‫ك اْلَيْوَم َذْن‬
‫ب‬ َ ‫ك َذِل‬
َ ‫عَلْي‬
َ ‫ب‬
ْ ‫شًرا َلْم ُيْكَت‬
ْ‫ع‬َ ‫َأْو‬،
‫ )رواه البيهقي‬.‫جّنِة‬
َ ‫ك َبْيًتا ِفي اْل‬
َ ‫ل َل‬
ُ ‫شَرَة َبَنى ا‬
ْ‫ع‬
َ ‫ي‬
ْ ‫)َأو ِثْنَت‬
Bersumber dari khabar Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu: Nabi bersabda:
“Bila engkau melaksanakan dua raka’at shalat dhuha maka engkau tidak dicatat sebagai hamba
yang lalai, atau empat raka’at maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang muhsinin (berbuat
baik), atau enam raka’at engkau akan dicatat sebagai hamba yang ta’at, atau delapan maka
engkau akan dicatat sebagai hamba yang juara, atau sepuluh maka pada hari itu dosamu tidak
dicatat, atau duabelas maka Allah akan membangunkan rumah di surga.” (HR. Al-Bayhaqi)
Chart VIII
Pahala dua raka’atnya setara dengan sedekah persendian yang tinggi sekali nilainya
ِ ‫لا‬
‫ل‬ ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ َقا‬: ‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬
ِ ‫ي َذّر َر‬
ِ ‫ن َأب‬
ْ‫ع‬
َ :
( ، ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ل َتْكِبْيَرٍة‬
ّ ‫ َوُك‬، ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ل َتْهِلْيَلٍة‬
ّ ‫ َوُك‬، ‫صَدَقٌة‬
َ ‫حِمْيَدٍة‬ْ ‫ل َت‬ّ ‫ َوُك‬، ‫صَدَقٌة‬
َ ‫حٍة‬ َ ‫سِبْي‬
ْ ‫ل َت‬
ّ ‫ َفُك‬، ‫صَدَقًة‬
َ ‫حِدُكْم‬ َ ‫ن َأ‬
ْ ‫لَمي ِم‬
َ‫س‬ُ ‫ل‬ّ ‫ى ُك‬ َ ‫عل‬َ ‫ح‬ ُ ‫صِب‬
ْ ‫ُي‬
‫حى ( رواه أحمد ومسلم وأبو‬ َ‫ض‬ّ ‫ن ال‬َ ‫ن َيْرَكُعُهَما ِم‬ ِ ‫ك َرْكعََتا‬
َ ‫ن َذِل‬ْ ‫جِزي ِم‬ ْ ‫ َوُي‬، ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ن اْلُمْنَكِر‬ ِ‫ع‬ َ ‫ي‬ٌ ‫ َوَنْه‬، ‫صَدَقٌة‬َ ‫ف‬ِ ‫َوَأْمٌر ِباْلَمْعُرْو‬
‫داود‬.
Dari Abi Dzarr rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah bersabda:
“Di setiap sendi seorang dari kamu terdapat sedekah,
setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah
sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar)
adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah
sedekah.
Dan dua rakaat Dhuha sebanding dengan pahala semua itu.”
(HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)
Chart IX
Dua raka’atnya sama dengan nilai sedekah dari 360 sendi kita
َ ‫ل ال َقا‬
‫ل‬ َ ‫سْو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عْنُه َأ‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫ن ُبَرْيَدةَ َر‬
ْ‫ع‬
َ :
( ‫صَدَقٌة‬
َ ‫ل ِمْنَها‬
ٍ‫ص‬َ ‫ل ِمْف‬
ّ ‫ن ُك‬
ْ‫ع‬
َ ‫ق‬
َ ‫صّد‬
َ ‫ن َيَت‬
ْ ‫عَلْيِه َأ‬
َ ‫ل‬
ٍ‫ص‬َ ‫لُثِماَئِة ِمْف‬
َ ‫ن َوَث‬
َ ‫سّتْو‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫سا‬
َ ‫لْن‬
ِْ ‫ي ا‬
ِ ‫)ف‬
‫ن َلْم َيْقِدْر َفَرْكَعَتا‬
ْ ‫ َفِإ‬، ‫ق‬
ِ ‫طِرْي‬ّ ‫ن ال‬
ِ‫ع‬َ ‫حْيِه‬
ّ ‫ئ ُيَن‬
ُ‫ش‬ّ ‫جِد ُيْدِفُنَها َأِو ال‬
ِ‫س‬ْ ‫ي اْلَم‬
ِ ‫خاَمُة ف‬
َ ‫ ) الّن‬: ‫ل‬
َ ‫ل ؟ َقا‬
ِ ‫لا‬
َ ‫سْو‬
ُ ‫ك َيا َر‬
َ ‫ق َذِل‬
ُ ‫طْي‬
ِ ‫ن اّلِذي ُي‬
ِ ‫َقاُلْوا َفَم‬
‫عْنُه ( رواه أحمد وأبو داود‬ َ ‫ئ‬ُ ‫جِز‬ْ ‫حى ُت‬َ‫ض‬ ّ ‫ال‬.
Dari Buraidah rodhiyallahu ‘anhu, Bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Di dalam tubuh manusia ada 360 sendi, dan dia harus mengelurakan sedekah untuk tiap
persendiannya itu, setiap sendi satu sedekah.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup
melakukan itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Menghilangkan dahak (kotoran) di masjid, atau
membuang sesuatu yang mengganggu di jalan, maka bila tidak sanggup cukup diganti dengan
dua raka’at shalat dhuha yang pahalanya serupa dengannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Chart X
Menjaga shalat subuh berjama’ah akan mendapat pahala sempurnanya ibadah haji dan umrah
ِ ‫لا‬
‫ل‬ ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ َقا‬: ‫ل‬
َ ‫عْنُه َقا‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ض‬ِ ‫س َر‬
ٍ ‫ن َاَن‬
ْ‫ع‬
َ :
. ‫ َتاّمٍة‬,‫ َتاّمٍة‬,‫ َتاّمٍة‬,‫عْمَرٍة‬
ُ ‫جٍة َو‬
ّ‫ح‬
َ ‫جِر‬
ْ ‫ت َلُه َكَأ‬
ْ ‫ َكاَن‬,‫ن‬
ِ ‫صّلى َرْكَعَتْي‬
َ ‫س ُثّم‬
ُ ‫شْم‬
ّ ‫طُلُع ال‬
ْ ‫ى َت‬
ّ ‫حت‬
َ ‫ل‬
َ ‫عٍة ُثّم َقَعَد َيْذُكُر ا‬
َ ‫جَما‬
َ ‫ى‬
ِ ‫جَر ف‬
ْ ‫صّلى اْلَف‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َم‬
‫))رواه الترمذى‬
Anas rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, beliau berkata, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai)
duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan
pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)
Chart XI
Dhuha, tempat usaha atau bisnis terdekat jaraknya dari rumah, keuntungannya lebih banyak,
pulangnya lebih cepat
ُ‫ث الّناس‬ َ ‫حّد‬
َ ‫ َفَت‬، ‫جَعَة‬ ْ ‫عوا الّر‬ ُ ‫سَر‬
ْ ‫سِرّيًة َفَغِنُمْوا َوَأ‬
َ ‫ل رضي ال عنه‬ ِ ‫لا‬ ُ ‫سو‬ ُ ‫ث َر‬ َ ‫ َبَع‬: ‫ل‬ َ ‫عْنُهَما َقا‬
َ ‫ل‬ُّ ‫ي ا‬ َ‫ض‬ ِ ‫عْمُرو َر‬ َ ‫ن‬ ِ ‫ل ْب‬
ِ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬ْ‫ع‬
َ
َ‫ش‬
‫ك‬ َ ‫غِنْيَمًة َوَأْو‬
َ ‫ب ِمْنُهْم َمْغًزى َوَأْكَثَر‬ َ ‫ى َأْقَر‬ َ ‫عل‬َ ‫ل َأُدّلُكْم‬
َ ‫ ) َأ‬: ‫ل‬ِ ‫لا‬ ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َر‬ َ ‫جَعِتِهْم َفَقا‬
ْ ‫عِة َر‬ َ ‫سْر‬ُ ‫غِنْيَمِتِهْم َو‬
َ ‫ب َمْغَزاُهْم َوَكْثَرِة‬
ِ ‫ِبُقْر‬
‫جَعًة‬ْ ‫ك َر‬ َ‫ش‬َ ‫غِنْيَمةً َوَأْو‬َ ‫ب َمْغًزى َوَأْكَثَر‬ َ ‫حى َفُهَو َأْقَر‬ َ‫ض‬ ّ ‫حِة ال‬َ ‫سْب‬ُ ‫جِد ِل‬
ِ‫س‬ْ ‫ى اْلَم‬
َ ‫غَدا ِإل‬ َ ‫ضَأ ُثّم‬
ّ ‫ن َتَو‬ ْ ‫جَعًة ؟ َم‬ ْ ‫) َر‬
(‫)رواه أحمد والطبراني وأبو يعلى‬
Abdillah bin ‘Amru rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah mengirim sebuah pasukan
perang. Lalu mereka mendapatkan harta rampasan perang dan kembali dengan segera. Meraka
akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah
(keuntungan) yang diperoleh dan cepat kembalinya (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah
bersabda; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang
akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan lebih cepat kembalinya? Mereka
menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam
masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat
perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.”
(HR. Ahmad, Thabrani dan Abu Ya’la)

Indanya Sholat Dhuha Yang Begitu Menajubkan


Minggu, 13 Desember 2009 08:59

Previous
Left arrow key Next
Right arrow key Close

Status sunnah sholat dhuha tentu saja tidak berangkat dari ruang
kosong. Berdasarkan tinjauan agama, paling tidak beragam
keutamaanya (fadilah ) yang bisa ditarik:PERTAMA:Sholat
dhuha merupakan ekspresi terimakasih kita kepada Allah SWT,
atas nikmat seha.(Berita SuaraMedia)

Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah.


Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah
dengan seluruh persendian. Ternyata ada suatu amalan yang bisa
menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha. Simak
saja pembahasan berikut ini.
Keutamaan Shalat Dhuha
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh
persendian
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu alihi wa sallam bersabda,
‫صَدَقٌة َوُكّل َتْكِبيَرٍة‬
َ ‫صَدَقٌة َوُكّل َتْهِليَلٍة‬
َ ‫حِميَدٍة‬ ْ ‫صَدَقٌة َوُكّل َت‬َ ‫حٍة‬َ ‫سِبي‬ْ ‫صَدَقٌة َفُكّل َت‬َ ‫حِدُكْم‬
َ ‫ن َأ‬
ْ ‫لَمى ِم‬َ‫س‬ ُ ‫عَلى ُكّل‬ َ ُ‫صِبح‬
ْ ‫ُي‬
‫حى‬ َ‫ض‬ ّ ‫ن ال‬ َ ‫ن َيْركَعُُهَما ِم‬
ِ ‫ك َرْكَعَتا‬
َ ‫ن َذِل‬
ْ ‫ئ ِم‬ُ ‫جِز‬ْ ‫صَدَقٌة َوُي‬َ ‫ن اْلُمْنَكِر‬
ِ‫ع‬ َ ‫ى‬ ٌ ‫صَدَقٌة َوَنْه‬
َ ‫ف‬ ِ ‫صََدَقٌة َوَأْمٌر ِباْلَمْعُرو‬
"Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap
bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa
sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan
takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar maruf (mengajak kepada
ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa
dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 rakaat."[1]
Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan
dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. Aisyah pernah menyebutkan sabda
Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
‫صل‬
ٍ ِ ‫لِثَماَئِة َمْف‬
َ ‫ن َوَث‬
َ ‫سّتي‬
ِ ‫عَلى‬
َ ‫ن َبِنى آَدَم‬
ْ ‫ن ِم‬
ٍ ‫سا‬
َ ‫ق ُكّل ِإْن‬
َ ‫خِل‬
ُ ‫ِإّنُه‬
"Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360
persendian."[2]
Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun
sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana
disebutkan pula dalam hadits berikut,
ْ‫لُثِماَئِة َمْفصٍِل َفَعَلْيِه َأن‬
َ ‫ن َوَث‬َ ‫سّتو‬
ِ ‫ن‬ ِ ‫سا‬
َ ‫ َيُقوُل » ِفى اِلْن‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫سوَل ا‬ ُ ‫ت َر‬
ُ ‫سِمْع‬
َ ‫َأِبى ُبَرْيَدَة َيُقوُل‬
‫جِد َتْدِفُنَها‬ِ‫س‬ ْ َ‫عُة ِفى اْلم‬
َ ‫خا‬َ ‫ل َقاَل » الّن‬ ِّ ‫سوَل ا‬ُ ‫ك َيا َر‬َ ‫ق َذِل‬
ُ ‫طي‬ ِ ‫ن اّلِذى ُي‬ ِ ‫ َقاُلوا َفَم‬.« ‫صَدَقًة‬َ ‫صٍل ِمْنَها‬ِ ‫ن ُكّل َمْف‬
ْ‫ع‬َ َ‫صّدق‬ َ ‫َيَت‬
«‫ك‬ َ ‫عْن‬َ ‫ئ‬ُ ‫جِز‬ْ ‫حى ُت‬َ‫ض‬ ّ ‫ن َلْم َتْقِدْر َفَرْكَعَتا ال‬
ْ ‫ق َفِإ‬
ِ ‫طِري‬ّ ‫ن ال‬
ِ‫ع‬ َ ‫حيِه‬
ّ ‫ىُء ُتَن‬
ْ‫ش‬ّ ‫َأِو ال‬
"Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda, "Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki
kewajiban untuk bersedekah." Para sahabat pun mengatakan, "Lalu siapa yang mampu
bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam
lantas mengatakan, "Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan.
Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua
rakaat."[3]
An Nawawi mengatakan, "Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan
yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat
Dhuha bisa cukup dengan dua rakaat."[4]
Asy Syaukani mengatakan, "Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan
yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan
semakin disyariatkannya shalat tersebut. Dua rakaat shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah
dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan
rutin dan terus menerus."[5]
Keutamaan shalat Dhuha lainnya disebutkan dalam hadits berikut,
‫ن آَدَم َل‬
َ ‫جّل َيا اْب‬
َ ‫عّز َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ َيُقوُل » َقاَل ا‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫سوَل ا‬ ُ ‫سِمَع َر‬
َ ‫ى َأّنُه‬
ّ ‫طَفاِن‬
َ ‫ن َهّماٍر اْلَغ‬
ِ ‫ن ُنعَْيِم ْب‬
ْ‫ع‬َ
.« ‫خَرُه‬
ِ‫كآ‬ َ ‫ن َأّوِل الّنَهاِر َأْكِف‬
ْ ‫ت ِم‬
ٍ ‫ن َأْرَبِع َرَكَعا‬
ْ‫ع‬َ ‫جْز‬
ِ ‫َتْع‬
Dari Nuaim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, "Allah Taala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat
rakaat shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang."[6]
Penulis Aunul Mabud –Al Azhim Abadi- menyebutkan, "Hadits ini bisa mengandung pengertian
bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan.
Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa
atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari
itu."[7]
Hukum Shalat Dhuha
Menurut pendapat yang paling kuat, hukum shalat Dhuha adalah sunnah secara mutlaq dan boleh
dirutinkan. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan shalat
Dhuha yang telah disebutkan. Begitu pula shalat Dhuha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
wasiatkan kepada Abu Hurairah untuk dilaksanakan. Nasehat kepada Abu Hurairah pun berlaku
bagi umat lainnya. Abu Hurairah mengatakan,
‫ن ُأوِتَر َقْبَل‬
ْ ‫ َوَأ‬، ‫حى‬
َ‫ض‬ّ ‫ى ال‬
ِ ‫ َوَرْكعََت‬، ‫شْهٍر‬
َ ‫ن ُكّل‬
ْ ‫لَثِة َأّياٍم ِم‬َ ‫صَياِم َث‬
ِ ‫ث‬
ٍ ‫ل‬
َ ‫ ِبَث‬- ‫ صلى ال عليه وسلم‬- ‫خِليِلى‬
َ ‫صاِنى‬
َ ‫َأْو‬
‫ن َأَناَم‬
ْ ‫َأ‬
"Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: [1]
Berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] Melaksanakan shalat Dhuha dua rakaat, dan [3] Berwitir
sebelum tidur."[8]
Asy Syaukani mengatakan, "Hadits-hadits yang menjelaskan dianjurkannya shalat Dhuha amat
banyak dan tidak mungkin mencacati satu dan lainnya."[9]
Sedangkan dalil bahwa shalat Dhuha boleh dirutinkan adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam dari Aisyah ,
َ‫ن َقّل‬
ْ ‫ل َتَعاَلى َأْدَوُمَها َوِإ‬
ِّ ‫عَماِل ِإَلى ا‬
ْ ‫ب اَل‬
ّ ‫ح‬
َ ‫َأ‬
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Taala adalah amalan yang kontinu walaupun itu
sedikit." Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk
merutinkannya. [10]
Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha
Shalat Dhuha dimulai dari waktu matahari meninggi hingga mendekati waktu zawal (matahari
bergeser ke barat).[11] Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan bahwa waktunya
adalah mulai dari matahari setinggi tombak –dilihat dengan pandangan mata- hingga mendekati
waktu zawal. Lalu beliau jelaskan bahwa waktunya dimulai kira-kira 20 menit setelah matahari
terbit, hingga 10 atau 5 menit sebelum matahari bergeser ke barat.[12] Sedangkan Al Lajnah Ad
Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) menjelaskan bahwa waktu awal shalat Dhuha adalah
sekitar 15 menit setelah matahari terbit.[13]
Jadi, silakan disesuaikan dengan terbitnya matahari di masing-masing daerah dan kami tidak bisa
memberitahukan jam pastinya shalat Dhuha tersebut dimulai dan berakhir. Dan setiap hari waktu
terbit matahari pun berbeda.
Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu[14], yaitu keadaan
yang semakin panas. Dalilnya adalah,
ّ ‫ ِإ‬.‫ضُل‬
‫ن‬ َ ‫عِة َأْف‬
َ ‫سا‬
ّ ‫غْيِر َهِذِه ال‬
َ ‫لَة ِفى‬
َ‫ص‬ّ ‫ن ال‬
ّ ‫عِلُموا َأ‬
َ ‫حى َفَقاَل َأَما َلَقْد‬
َ‫ض‬ّ ‫ن ال‬
َ ‫ن ِم‬
َ ‫صّلو‬
َ ‫ن َأْرَقَم َرَأى َقْوًما ُي‬
َ ‫ن َزْيَد ْب‬
ّ ‫َأ‬
.« ‫صاُل‬َ ‫ض اْلِف‬ُ ‫ن َتْرَم‬
َ ‫حي‬
ِ ‫ن‬
َ ‫لُة اَلّواِبي‬
َ‫ص‬َ » ‫ َقاَل‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫سوَل ا‬ُ ‫َر‬
Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan,
"Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang
lebih utama. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "(Waktu terbaik) shalat awwabin
(nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk taat[15])
adalah ketika anak unta merasakan terik matahari."[16]
An Nawawi mengatakan, "Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula
ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun
boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal."[17]
Jumlah Rakaat Shalat Dhuha
Jumlah rakaat shalat Dhuha, minimalnya adalah dua rakaat sedangkan maksimalnya adalah tanpa
batas, menurut pendapat yang paling kuat[18]. Jadi boleh hanya dua rakaat, boleh empat rakaat,
dan seterusnya asalkan jumlah rakaatnya genap. Namun jika ingin dilaksakan lebih dari dua
rakaat, shalat Dhuha tersebut dilakukan setiap dua rakaat salam.
Dalil minimal shalat Dhuha adalah dua rakaat sudah dijelaskan dalam hadits-hadits yang telah
lewat. Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa maksimal jumlah rakaatnya adalah tak terbatas,
yaitu hadits,
‫حى‬
َ‫ض‬
ّ ‫لَة ال‬
َ‫ص‬َ ‫صّلى‬
َ ‫ ُي‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫سوُل ا‬ ُ ‫ن َر‬
َ ‫ َكْم َكا‬- ‫ رضى ال عنها‬- ‫شَة‬
َ ‫عاِئ‬
َ ‫ت‬
ْ ‫سَأَل‬
َ ‫ُمَعاَذُة َأّنَها‬
.‫شاَء‬
َ ‫ت َوَيِزيُد َما‬
ٍ ‫ت َأْرَبَع َرَكَعا‬
ْ ‫َقاَل‬
Muadzah pernah menanyakan pada Aisyah –radhiyallahu anha- berapa jumlah rakaat shalat
Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Aisyah menjawab, "Empat
rakaat dan beliau tambahkan sesuka beliau."[19]
Bolehkah Seorang Pegawai (Bawahan) Melaksanakan Shalat Dhuha?
Mungkin setiap pegawai punya keinginan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Namun perlu
diperhatikan di sini bahwa melaksanakan tugas kantor tentu lebih utama daripada melaksanakan
shalat Dhuha. Karena menunaikan tugas dari atasan adalah wajib sedangkan shalat Dhuha adalah
amalan yang sunnah. Maka sudah seharusnya amalan yang wajib lebih didahulukan dari amalan
yang sunnah. Hal ini berbeda jika kita menjalankan usaha sendiri (wirausaha) atau kita adalah
pemilik perusahaan, tentu sekehendak kita ingin menggunakan waktu. Sedangkan kalau kita
sebagai bawahan atau pegawai, kita tentu terikat aturan pekerjaan dari atasan.
Maka kami nasehatkan di sini, agar setiap pegawai lebih mendahulukan tanggung jawabnya
sebagai pegawai daripada menunaikan shalat Dhuha. Sebagai solusi, pegawai tersebut bisa
mengerjakan shalat Dhuha sebelum berangkat kantor. Lihat penjelasan waktu shalat Dhuha yang
kami terangkan di atas.
Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah menjelaskan, "Tidak selayaknya
bagi seorang pegawai melalaikan pekerjaan dari atasan yang hukumnya lebih wajib dari sekedar
melaksanakan shalat sunnah. Shalat Dhuha sudah diketahui adalah shalat sunnah. Oleh
karenanya, hendaklah seorang pegawai tidak meninggalkan pekerjaan yang jelas lebih wajib
dengan alasan ingin melaksanakan amalan sunnah. Mungkin pegawai tersebut bisa
melaksanakan shalat Dhuha di rumahnya sebelum ia berangkat kerja, yaitu setelah matahari
setinggi tombak. Waktunya kira-kira 15 menit setelah matahari terbit." Demikian Fatwa Al
Lajnah Ad Da-imah no. 19285.[20]
Bolehkah Melaksanakan Shalat Dhuha secara Berjamaah?
Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjamaah
ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan dua
cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendirian (munfarid). Perlu diketahui
bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama
Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami para sahabat di rumah
Itban bin Malik[21]; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu Abbas.[22]
Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas yang berada di rumah Maimunah
dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau rahimahullah
mengatakan, "Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara
berjamaah."[23]
An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau
rahimahullah mengatakan, "Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjamaah. Namun pilihan
yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat
khusus seperti shalat ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo (minta hujan), begitu
pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama."[24]
Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjamaah.
Syaikh rahimahullah menjawab,
"Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjamaah, maka ini
adalah sesuatu yang tidak disyariatkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut
kadang-kadang secara berjamaah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti shalat malam yang beliau lakukan bersama
Ibnu Abbas[25]. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik
radhiyallahu anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim[26], dan masih ada contoh lain
semisal itu."[27]
Namun kalau shalat sunnah secara berjamaah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini
diperbolehkan karena ada maslahat. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak
yatim di belakang Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara berjamaah, beliau mengatakan,
"Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana
tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika
shalat sunnah secara berjamaah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih
utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu alaihi wa sallam (yang bertugas untuk memberi
contoh pada umatnya, -pen)."
Intinya adalah:
1. Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid (sendiri) dan
lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
‫صلَُة اْلَمْرِء ِفى َبْيِتِه ِإّل اْلَمكُْتوبََة‬
َ ‫لِة‬
َ‫ص‬ّ ‫ضَل ال‬
َ ‫ن َأْف‬
ّ ‫ َفِإ‬، ‫س ِفى ُبُيوِتُكْم‬
ُ ‫صّلوا َأّيَها الّنا‬
َ ‫َف‬
"Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik
shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib." (HR. Bukhari no. 731)
2. Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyariatkan secara berjamaah seperti shalat tarawih.
3. Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan
secara munfarid dan boleh dilakukan secara berjamaah namun tidak rutin atau tidak terus
menerus, akan tetapi kadang-kadang.
4. Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjamaah seperti untuk
mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjamaah.
Demikian penjelasan singkat dari kami mengenai shalat Dhuha. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Artikel http://rumaysho.com
Disempurnakan di Panggang, Gunung Kidul, 24 Dzulhijah 1430 H

[1] HR. Muslim no. 720.


[2] HR. Muslim no. 1007.
[3] HR. Ahmad, 5/354. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi.
[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 5/234, Dar Ihya At Turots, cetakan kedua, 1392.
[5] Nailul Author, Asy Syaukani, 3/77, Idaroh At Thobah Al Munirah.
[6] HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh
Al Albani dan Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7] Aunul Mabud, Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abadi, 4/118, Darul Kutub Al Ilmiyyah,
cetakan kedua, tahun 1415 H.
[8] HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721.
[9] Nailul Author, 3/76.
[10] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan
shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.
[11] Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 1/425, Al Maktabah At Taufiqiah.
[12] Lihat Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin,hal.
289, Daruts Tsaroya, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[13] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah yang akan kami bawakan selanjutnya.
[14] Idem
[15] Syarh Muslim, 6/30.
[16] HR. Muslim no. 748.
[17] Syarh Muslim, 6/30.
[18] Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Al
Arbain An Nawawiyah,hal. 289.
[19] HR. Muslim no. 719.
[20] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhut Ilmiyyah wal Ifta, 23/423, Darul Ifta.
[21] Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.
[22] Al Maqsuah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jamaah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits, Asy
Syamilah.
[23] Fathul Baari, 3/421
[24] Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi Al Islam, Asy
Syamilah
[25] Hadits muttafaq alaih.
[26] Hadits muttafaq alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah
alal Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara berjamaah
266 (658)
[27] Majmu Fatawa wa Rosa-il Ibnu Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah
(rumaysho.com) www.suaramedia.com
HOLAT SUNNAH
DENGAN SHOLAT DHUHA MEMOHON REJEKI YANG HALAL DARI
ALLAH SWT..

Shalat Sunnah Dhuha


 Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk
waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 9.00 ). Shalat
Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : " Allah
berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu
permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya "
( HR.Hakim dan Thabrani ).
Cara Melaksakan Shalat Dhuha :
Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid ( tidak
berjamaah ), caranya sebagai berikut:

• > Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram


• > "Aku niat shalat sunah Dhuha karena Allah"
• > Membaca doa Iftitah
• > Membaca surat al Fatihah
• > Membaca satu surat didalam Alquran.Afdholnya rakaat pertama surat Asysyams dan rakaat kedua
surat Allail
• > Ruku' dan membaca tasbih tiga kali
• > I'tidal dan membaca bacaanya
• > Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
• > Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
• > Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
• > Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian
Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan
sama seperti contoh diatas.
NEXT >>>

" Terapi NurSyifa' Besar Manfaatnya dan Sangat Efektif "


> Mengapa Allah Memberikan Terapi NurSyifa' Efek yang begitu Menakjubkan? Sebab
dalam bimbingan Prinsip diatas Normal, Teknologi Al Qur'an akan menghasilkan Efek
Penyembuhan, Perbaikan, Keberhasilan yang Diatas Pemikiran Normal. Para Penyembuh
NurSyifa' hanya sebagai Sarana-NYA. Berbagai Keberhasilan dan Keajaiban yang terjadi adalah
karena Pertolongan dan Karunia Allah SWT.
* Segalanya Menjadi Mungkin dengan Teknologi Al Qur'an dari Allah SWT.
* Bila Anda Ingin memperoleh berbagai Manfaat yang Islamiyah ini, Kami undang Anda untuk
datang ke NurSyifa' agar Kami dapat membuktikannya secara Nyata. Dapatkan Kemampuan
Teknologi Al Qur'an dari Allah SWT dengan cara di terapi dan mengikuti bimbingan serta program2
pelatihan di NurSyifa'.
> Sejak pertama kali datang dan diterapi Anda dapat langsung merasakan manfaatnya yang
sangat besar. Setelah beberapa kali terapi, Anda akan semakin kagum dan cinta kepada
potensi, kekuatan dan kemampuan Terapi NurSyifa' yang berdasar Teknologi Al-Qur'an dari
Allah SWT. Banyak hal yang tak terbayangkan & terfikirkan sebelumnya terjadi di NurSyifa'.
Terapi NurSyifa' adalah jalan keluar terbaik untuk Anda. (Sebagai solusi terbaik)

Sejarah SIngkat Terapi NurSyi

Tata Cara Sholat Dhuha


By MMOnline at 16 October, 2009, 6:08 pm
Salah satu sholat sunah yang dianjurkan oleh Rosululloha SAW adalah sholat Dhuha. Shalat
Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari (mulai jam 7 sampai
menjelang masuk waktu Zhuhur). Waktu paling afdhal adalah saat matahari sedang naik ( kira-
kira jam 9.00 ). Orang banyak mengenal sholat sebagai sholat sunah untuk memohon rizki dari
Alloh Swt. Rosululloh SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat
rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan
kebutuhanmu pada akhir harinya” ( HR.Hakim dan Thabrani ).
Sholat Dhuha dilaksanakan dalam minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat, dilakukan
secara Munfarid (tidak berjamaah).
Adapun Tata-cara Melaksanakan Sholat Dhuha adalah:
> Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram
“Usholli sunnatadhuha rak ‘ataini mustaqbilal qiblati ada al lillaahi ta’aala”
“Aku niat shalat sunah Dhuha 2 rakaat karena Allah”
> Membaca doa Iftitah
> Membaca surat al Fatihah
> Membaca satu surat didalam Al-Quran. Afdholnya rakaat pertama surat Asy-Syams dan rakaat
kedua surat Al-Lail
> Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
> I’tidal dan membaca bacaanya
> Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
> Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
> Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
> Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian
Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.
Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.
Do’a setelah Shalat Dhuha :
“Allaahumma innad dhuha dhuhaauka, wal-jamaala jamaaluka, wal-qudrota qudratuka,
wal-’ishmata ‘ishmatuka. In kaana rizqii fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kaana fissamaa’i fa anzilhu,
wa in kaana haraaman fa thahhirhu, bi haqqi dhuhaaika wa jamaalika wa qudratika, ya Allah”.
Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya masa pagi ini adalah masa pagiMU, keindahan ini adalah
keindahanMU, kuasa ini adalah kekuasaanMU, kenyamanan ini adalah kenyamananMU.
Seandainya rizki saya tersembunyi di dalam bumi maka keluarkanlah, jika di langit turunkanlah,
jika haram bersihkanlah, berkat kesejatian masa pagiMU, keindahanMU, dan kekuasaanMU, ya
Allah.

abtu, 12 Desember 2009 00:00 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam

Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah.


Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah dengan seluruh persendian.
Ternyata ada suatu amalan yang bisa menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha.
Simak saja pembahasan berikut ini.
Keutamaan Shalat Dhuha
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh
persendian
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
ٍ‫ل َتْكِبيَرة‬
ّ ‫صَدَقةٌ َوُك‬
َ ‫ل َتْهِليَلٍة‬
ّ ‫صَدَقٌة َوُك‬
َ ‫ل َتحِْميَدٍة‬ّ ‫صَدَقٌة َوُك‬َ ‫حٍة‬
َ ‫سِبي‬
ْ ‫ل َت‬ّ ‫صَدَقٌة َفُك‬
َ ‫حِدُكْم‬ َ ‫ن َأ‬
ْ ‫لَمى ِم‬
َ‫س‬ ُ ‫ل‬ ّ ‫عَلى ُك‬ َ ‫ح‬ ُ ‫صِب‬
ْ ‫ُي‬
‫حى‬ َ‫ض‬ّ ‫ن ال‬ َ ‫ن َيْرَكُعُهَما ِم‬ِ ‫ك َرْكَعَتا‬
َ ‫ن َذِل‬
ْ ‫ئ ِم‬
ُ ‫جِز‬ْ ‫صَدَقٌة َوُي‬
َ ‫ن اْلُمْنَكِر‬
ِ‫ع‬ َ ‫ى‬ ٌ ‫صَدَقٌة َوَنْه‬
َ ‫ف‬ ِ ‫صَدَقٌة َوَأْمٌر ِباْلَمْعُرو‬
َ
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap
bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa
sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap
bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak
kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua
bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.”[1]
Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan
dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ٍ‫ص‬
‫ل‬ ِ ‫لِثَماَئِة َمْف‬
َ ‫ن َوَث‬
َ ‫سّتي‬
ِ ‫عَلى‬
َ ‫ن َبِنى آَدَم‬
ْ ‫ن ِم‬
ٍ ‫سا‬
َ ‫ل ِإْن‬
ّ ‫ق ُك‬
َ ‫خِل‬
ُ ‫ِإّنُه‬
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360
persendian.”[2]
Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun
sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana
disebutkan pula dalam hadits berikut,
ْ ‫ل َفَعَلْيِه َأ‬
‫ن‬ ٍ‫ص‬ِ ‫لُثِماَئِة َمْف‬
َ ‫ن َوَث‬
َ ‫سّتو‬ ِ ‫ن‬ِ ‫سا‬
َ ‫لْن‬
ِ ‫ل » ِفى ا‬ ُ ‫ َيُقو‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬َ ‫سو‬ُ ‫ت َر‬ُ ‫سِمْع‬ َ ‫ل‬ ُ ‫َأِبى ُبَرْيَدَة َيُقو‬
‫جِد‬
ِ‫س‬ ْ ‫عُة ِفى اْلَم‬
َ ‫خا‬َ ‫ل » الّن‬ َ ‫ل َقا‬
ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬ُ ‫ك َيا َر‬
َ ‫ق َذِل‬
ُ ‫طي‬ِ ‫ن اّلِذى ُي‬ ِ ‫ َقاُلوا َفَم‬.« ‫صَدَقًة‬
َ ‫ل ِمْنَها‬ ٍ‫ص‬ِ ‫ل َمْف‬ ّ ‫ن ُك‬ْ‫ع‬َ ‫ق‬ َ ‫صّد‬ َ ‫َيَت‬
«‫ك‬ َ ‫عْن‬َ ‫ئ‬ُ ‫جِز‬ ْ ‫حى ُت‬ َ‫ض‬ّ ‫ن َلْم َتْقِدْر َفَرْكَعَتا ال‬
ْ ‫ق َفِإ‬
ِ ‫طِري‬ ّ ‫ن ال‬ِ‫ع‬َ ‫حيِه‬ّ ‫ىُء ُتَن‬
ْ ‫ش‬ّ ‫َتْدِفُنَها َأِو ال‬
“Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki
kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu
bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari
jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua
raka’at.”[3]
An Nawawi mengatakan, “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan
yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat
Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at.”[4]
Asy Syaukani mengatakan, “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan
yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan
semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah
dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan
rutin dan terus menerus.”[5]
Keutamaan shalat Dhuha lainnya disebutkan dalam hadits berikut,
َ ‫ن آَدَم‬
‫ل‬ َ ‫ل َيا اْب‬
ّ‫ج‬َ ‫عّز َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ل ا‬
َ ‫ل » َقا‬ُ ‫ َيُقو‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬ ُ ‫سِمَع َر‬
َ ‫ى َأّنُه‬
ّ ‫طَفاِن‬
َ ‫ن َهّماٍر اْلَغ‬
ِ ‫ن ُنعَْيِم ْب‬
ْ‫ع‬
َ
.« ‫خَرُه‬ِ ‫كآ‬ َ ‫ل الّنَهاِر َأْكِف‬
ِ ‫ن َأّو‬
ْ ‫ت ِم‬
ٍ ‫ن َأْرَبِع َرَكَعا‬
ْ‫ع‬َ ‫جْز‬ِ ‫َتْع‬
Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan
empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir
siang.”[6]
Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung
pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang
membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari
terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya
bisa lebih luas dari itu.”[7]
Hukum Shalat Dhuha
Menurut pendapat yang paling kuat, hukum shalat Dhuha adalah sunnah secara mutlaq dan boleh
dirutinkan. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan shalat
Dhuha yang telah disebutkan. Begitu pula shalat Dhuha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
wasiatkan kepada Abu Hurairah untuk dilaksanakan. Nasehat kepada Abu Hurairah pun berlaku
bagi umat lainnya. Abu Hurairah mengatakan,
‫ن ُأوِتَر‬
ْ ‫ َوَأ‬، ‫حى‬
َ‫ض‬ّ ‫ى ال‬
ِ ‫ َوَرْكَعَت‬، ‫شْهٍر‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ن ُك‬
ْ ‫لَثِة َأّياٍم ِم‬
َ ‫صَياِم َث‬
ِ ‫ث‬ ٍ ‫ل‬
َ ‫ ِبَث‬- ‫ صلى ال عليه وسلم‬- ‫خِليِلى‬
َ ‫صاِنى‬
َ ‫َأْو‬
‫ن َأَناَم‬
ْ ‫ل َأ‬
َ ‫َقْب‬
“Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: [1]
Berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan [3]
Berwitir sebelum tidur.”[8]
Asy Syaukani mengatakan, “Hadits-hadits yang menjelaskan dianjurkannya shalat Dhuha amat
banyak dan tidak mungkin mencacati satu dan lainnya.”[9]
Sedangkan dalil bahwa shalat Dhuha boleh dirutinkan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dari ‘Aisyah ,
ّ ‫ن َق‬
‫ل‬ ْ ‫ل َتَعاَلى َأْدَوُمَها َوِإ‬
ِّ ‫ل ِإَلى ا‬
ِ ‫عَما‬
ْ‫ل‬َ ‫با‬
ّ ‫ح‬
َ ‫َأ‬
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu
sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk
merutinkannya. [10]
Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha
Shalat Dhuha dimulai dari waktu matahari meninggi hingga mendekati waktu zawal (matahari
bergeser ke barat).[11] Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa
waktunya adalah mulai dari matahari setinggi tombak –dilihat dengan pandangan mata- hingga
mendekati waktu zawal. Lalu beliau jelaskan bahwa waktunya dimulai kira-kira 20 menit setelah
matahari terbit, hingga 10 atau 5 menit sebelum matahari bergeser ke barat.[12] Sedangkan Al
Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) menjelaskan bahwa waktu awal shalat
Dhuha adalah sekitar 15 menit setelah matahari terbit.[13]
Jadi, silakan disesuaikan dengan terbitnya matahari di masing-masing daerah dan kami tidak bisa
memberitahukan jam pastinya shalat Dhuha tersebut dimulai dan berakhir. Dan setiap hari waktu
terbit matahari pun berbeda.
Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu[14], yaitu keadaan
yang semakin panas. Dalilnya adalah,
ّ ‫ ِإ‬.‫ل‬
‫ن‬ ُ‫ض‬َ ‫عِة َأْف‬
َ ‫سا‬
ّ ‫غْيِر َهِذِه ال‬
َ ‫لَة ِفى‬
َ‫ص‬ّ ‫ن ال‬
ّ ‫عِلُموا َأ‬
َ ‫ل َأَما َلَقْد‬
َ ‫حى َفَقا‬
َ‫ض‬ّ ‫ن ال‬
َ ‫ن ِم‬
َ ‫صّلو‬
َ ‫ن َأْرَقَم َرَأى َقْوًما ُي‬
َ ‫ن َزْيَد ْب‬
ّ ‫َأ‬
.« ‫ل‬ُ ‫صا‬ َ ‫ض اْلِف‬
ُ ‫ن َتْرَم‬
َ ‫حي‬
ِ ‫ن‬
َ ‫لّواِبي‬
َ ‫لُة ا‬
َ‫ص‬ َ »‫ل‬ َ ‫ َقا‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬ُ ‫َر‬
Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan,
“Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang
lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat
awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk
taat[15]) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.”[16]
An Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula
ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun
boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.”[17]
Jumlah Raka’at Shalat Dhuha
Jumlah raka’at shalat Dhuha, minimalnya adalah dua raka’at sedangkan maksimalnya adalah
tanpa batas, menurut pendapat yang paling kuat[18]. Jadi boleh hanya dua raka’at, boleh empat
raka’at, dan seterusnya asalkan jumlah raka’atnya genap. Namun jika ingin dilaksakan lebih dari
dua raka’at, shalat Dhuha tersebut dilakukan setiap dua raka’at salam.
Dalil minimal shalat Dhuha adalah dua raka’at sudah dijelaskan dalam hadits-hadits yang telah
lewat. Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa maksimal jumlah raka’atnya adalah tak terbatas,
yaitu hadits,
‫حى‬
َ‫ض‬
ّ ‫لةَ ال‬
َ‫ص‬َ ‫صّلى‬
َ ‫ ُي‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
ُ ‫سو‬ ُ ‫ن َر‬
َ ‫ َكْم َكا‬- ‫ رضى ال عنها‬- ‫شَة‬
َ ‫عاِئ‬
َ ‫ت‬
ْ ‫سَأَل‬
َ ‫ُمَعاَذُة َأّنَها‬
.‫شاَء‬
َ ‫ت َوَيِزيُد َما‬
ٍ ‫ت َأْرَبَع َرَكَعا‬
ْ ‫َقاَل‬
Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berapa jumlah raka’at shalat
Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘Aisyah menjawab,
“Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.”[19]
Bolehkah Seorang Pegawai (Bawahan) Melaksanakan Shalat Dhuha?
Mungkin setiap pegawai punya keinginan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Namun perlu
diperhatikan di sini bahwa melaksanakan tugas kantor tentu lebih utama daripada melaksanakan
shalat Dhuha. Karena menunaikan tugas dari atasan adalah wajib sedangkan shalat Dhuha adalah
amalan yang sunnah. Maka sudah seharusnya amalan yang wajib lebih didahulukan dari amalan
yang sunnah. Hal ini berbeda jika kita menjalankan usaha sendiri (wirausaha) atau kita adalah
pemilik perusahaan, tentu sekehendak kita ingin menggunakan waktu. Sedangkan kalau kita
sebagai bawahan atau pegawai, kita tentu terikat aturan pekerjaan dari atasan.
Maka kami nasehatkan di sini, agar setiap pegawai lebih mendahulukan tanggung jawabnya
sebagai pegawai daripada menunaikan shalat Dhuha. Sebagai solusi, pegawai tersebut bisa
mengerjakan shalat Dhuha sebelum berangkat kantor. Lihat penjelasan waktu shalat Dhuha yang
kami terangkan di atas.
Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah menjelaskan, “Tidak selayaknya
bagi seorang pegawai melalaikan pekerjaan dari atasan yang hukumnya lebih wajib dari sekedar
melaksanakan shalat sunnah. Shalat Dhuha sudah diketahui adalah shalat sunnah. Oleh
karenanya, hendaklah seorang pegawai tidak meninggalkan pekerjaan yang jelas lebih wajib
dengan alasan ingin melaksanakan amalan sunnah. Mungkin pegawai tersebut bisa
melaksanakan shalat Dhuha di rumahnya sebelum ia berangkat kerja, yaitu setelah matahari
setinggi tombak. Waktunya kira-kira 15 menit setelah matahari terbit.” Demikian Fatwa Al
Lajnah Ad Da-imah no. 19285.[20]
Bolehkah Melaksanakan Shalat Dhuha secara Berjama’ah?
Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjama’ah
ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan dua
cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendirian (munfarid). Perlu diketahui
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama
Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami para sahabat di rumah
‘Itban bin Malik[21]; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu ‘Abbas.[22]
Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menjelaskan hadits Ibnu ‘Abbas yang berada di rumah Maimunah
dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat
sunnah secara berjama’ah.”[23]
An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau
rahimahullah mengatakan, “Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama’ah. Namun pilihan
yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat
khusus seperti shalat ‘ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo’ (minta hujan),
begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”[24]
Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjama’ah.
Syaikh rahimahullah menjawab,
“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini
adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut
kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti shalat malam yang beliau lakukan
bersama Ibnu ‘Abbas[25]. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim[26], dan masih ada contoh
lain semisal itu.”[27]
Namun kalau shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini
diperbolehkan karena ada maslahat. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak
yatim di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berjama’ah, beliau mengatakan,
“Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana
tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika
shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih
utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang bertugas untuk
memberi contoh pada umatnya, -pen).”
Intinya adalah:
1. Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid (sendiri) dan
lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
‫ل اْلَمْكُتوَبَة‬
ّ ‫لُة اْلَمْرِء ِفى َبْيِتِه ِإ‬
َ‫ص‬َ ‫لِة‬
َ‫ص‬ّ ‫ل ال‬
َ‫ض‬َ ‫ن َأْف‬
ّ ‫ َفِإ‬، ‫س ِفى ُبُيوِتُكْم‬
ُ ‫صّلوا َأّيَها الّنا‬
َ ‫َف‬
“Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik
shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731)
2. Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyari’atkan secara berjama’ah seperti shalat tarawih.
3. Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan
secara munfarid dan boleh dilakukan secara berjama’ah namun tidak rutin atau tidak terus
menerus, akan tetapi kadang-kadang.
4. Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjama’ah seperti untuk
mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjama’ah.
Demikian penjelasan singkat dari kami mengenai shalat Dhuha. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Artikel http://rumaysho.com
Disempurnakan di Panggang, Gunung Kidul, 24 Dzulhijah 1430 H
[1] HR. Muslim no. 720.
[2] HR. Muslim no. 1007.
[3] HR. Ahmad, 5/354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih
ligoirohi.
[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 5/234, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.
[5] Nailul Author, Asy Syaukani, 3/77, Idaroh At Thob’ah Al Munirah.
[6] HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh
Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7] ‘Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abadi, 4/118, Darul Kutub Al
‘Ilmiyyah, cetakan kedua, tahun 1415 H.
[8] HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721.
[9] Nailul Author, 3/76.
[10] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan
shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.
[11] Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 1/425, Al Maktabah At Taufiqiah.
[12] Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin,hal.
289, Daruts Tsaroya, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[13] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah yang akan kami bawakan selanjutnya.
[14] Idem
[15] Syarh Muslim, 6/30.
[16] HR. Muslim no. 748.
[17] Syarh Muslim, 6/30.
[18] Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Al
Arba’in An Nawawiyah,hal. 289.
[19] HR. Muslim no. 719.
[20] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhut ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 23/423, Darul Ifta’.
[21] Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.
[22] Al Maqsu’ah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jama’ah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits,
Asy Syamilah.
[23] Fathul Baari, 3/421
[24] Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy
Syamilah
[25] Hadits muttafaq ‘alaih.
[26] Hadits muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah
‘alal Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara
berjama’ah 266 (658)
[27] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah
Ada Bacaan Surat Tertentu dalam Shalat Dhuha?
Minggu, 09 Mei 2010 05:00 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam

Tanya:
Alhamdulillah, saya sudah rutin melaksanakan shalat Dhuha. Dalam melaksanakan shalat
tersebut, saya biasa membaca surat “Hal ataa ‘alal insaani” (surat Al Insan) pada rakaat pertama
dan kedua karena dalam surat tersebut menyebutkan keadaan-keadaan penduduk surga, dan saya
berharap menjadi penghuninya. Adapun di raka’at ketiga, saya biasa membaca surat Adh Dhuha
karena shalat tersebut adalah shalat Dhuha. Sedangkan pada raka’at keempat, saya biasa
membaca surat Al Ikhlas karena di dalamnya terdapat sifat Allah yang mulia yang tidak ada yang
setara dengan-Nya dalam sifat-sifat tersebut. Apakah boleh saya merutinkan membaca seperti
tadi ataukah hal tersebut termasuk amalan yang jauh dari tuntunan Islam yang mesti
ditinggalkan?
Jawab:
Alhamdulillah. Yang afdhol, hendaklah engkau tidak rutin membaca surat semacam itu. Karena
amalan semacam itu tidak ada dasarnya, tidak ada dalilnya. Bahkan seakan-akan membaca
semacam itu dapat dianggap seperti sesuatu yang wajib. Hendaknya engkau membaca surat yang
satu kadang-kadang, begitu pula dengan surat lainnya dan janganlah membaca surat-surat itu
saja.
Perlu diketahui bahwa surat Dhuha tidaklah menjadi tuntunan dibaca ketika itu karena Allah
bersumpah dengan waktu Dhuha dalam surat tersebut adalah sesuatu yang lain yang berbeda
dengan shalat Dhuha. Dan ingatlah bahwa Allah bersumpah sesuai dengan apa yang Allah
kehendaki dari makhluk-makhluk-Nya.
Boleh saja bagi seorang mukmin memilih sebagian surat atau sebagian ayat yang nanti ia baca,
akan tetapi ia patut ia yakini bahwa hal tersebut bukanlah suatu yang harus ketika itu. Jadi ia pun
masih membolehkan ketika itu untuk membaca surat lainnya, maka keyakinan seperti ini tidak
masalah. Akan tetapi, yang utama baginya adalah tidak merutinkan membaca surat tersebut.
Yang patut ia lakukan adalah membaca surat tersebut kadang-kadang dan membaca surat lainnya
juga sehingga tidak sampai dianggap sebagai sesuatu yang diperintahkan. Perlu diketahui pula
bahwa jika seorang muslim sudah terbiasa melakukan sesuatu maka ia akan sulit
meninggalkannya.
Adapun surat Al Ikhlas (Qul huwallahu ahad) memang memiliki keistimewaan. Jika seseorang
membaca surat tersebut karena mencintai surat tersebut karena di dalamnya terdapat sifat-sifat
Allah, maka ia diharapkan mendapatkan kebaikan yang banyak. Terdapat hadits shahih yang
menjelaskan bahwa sebagian sahabat biasa membaca surat tersebut ketika mengimami orang
lain. Lalu sebagian sahabat heran dan menanyakan padanya, “Mengapa engkau biasa dan
mencukupkan dengan surat Al Ikhlas?” Ia pun menjawab, “Karena surat Al Ikhlas adalah sifat
Ar Rahman (yaitu Allah) dan aku suka untuk membacanya.” Akhirnya berita orang tadi sampai
pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun bersabda, “Kabarkan pada orang tadi bahwa
Allah betul mencintainya.” Atau dalam lafadz lain dikatakan, “Kecintaanmu pada surat Al Ikhlas
akan membuatmu masuk dalam surga.”
Jika seseorang membaca surat Al Ikhlas dengan maksud demikian atau membaca ayat-ayat yang
membicarakan surga untuk memohon kebahagiaan di surga atau membaca ayat-ayat tentang
neraka untukk berlindung darinya, maka ini adalah suatu kebaikan. Akan tetapi, lebih baik
seperti ini tidak dijadikan kebiasaan. Yang tepat, bacalah surat tersebut kadang-kadang,
janganlah merutinkan membaca suatu surat yang seharusnya tidak dijadikan rutinitas.
Satu lagi yang perlu ditambahkan. Ingatlah bahwa shalat Dhuha paling sedikit dikerjakan dua
raka’at. Jika ingin ditambah, maka kerjakanlah dua raka’at salam, dua raka’at salam dan dua
raka’at salam. Janganlah dikerjakan empat raka’at sekaligus kemudian salam. Yang paling
afdhol adalah mengerjakan shalat Dhuha dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat (sunnah) di malam dan siang hari adalah dua
raka’at (salam), dua raka’at (salam).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa mengerjakan
shalat sunnah di malam dan di siang hari dengan dua raka’at salam. Oleh karenanya, yang paling
afdhol adalah engkau mengerjakan shalat tersebut dua raka’at salam sebagaimana mengikuti
perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengamalkan sabda beliau, “Shalat
(sunnah) di malam dan siang hari adalah dua raka’at (salam), dua raka’at (salam)”. Mengenai
tambahan “siang hari” dalam hadits tersebut adalah tambahan yang dinilai tidak masalah
menurut kebanyakan pakar hadits.
[Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Fatawa Nur ‘alad Darb 2/875]
Silakan melihat secara lebih lengkap mengenai Panduan Shalat Dhuha di sini.
Artikel www.rumaysho.com
Panggang-GK, 24 Jumadil Awwal 1431 H

»Cinta Tips Info Widyadara » Islam » Tata Cara Sholat Dhuha, Niat dan Keutamaan Shalat Dhuha

Tata Cara Sholat Dhuha, Niat dan Keutamaan Shalat


Dhuha
Tata Cara Sholat Dhuha, Niat dan Keutamaan Shalat Dhuha. Shalat Dhuha adalah shalat
sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika matahari sedang naik. Waktu shalat dhuha kira-
kira, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi)
hingga waktu dzuhur dengan niat shalat dhuha.
Tata Cara Sholat Dhuha, Niat dan Keutamaan Shalat Dhuha
Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2
raka’at sekali salam. Berikut penjelasan tata cara, niat, rahasia dan keutamaan mengerjakan
shalat Dhuha :
A. Tata Cara Shalat Dhuha
* Niat shalat dhuha didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram :
“Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”
“Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah ta’alaa.”
* Membaca doa Iftitah
* Membaca surat Al-Fatihah
* Membaca satu surat didalam Al-Quran
- Surat Asy-Syams
- Surat Al-Lail
- Surat Adh-Dhuha
- Surat Al Insan
- (Atau surat Al-Quran yg lainnya)
* Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
* I’tidal dan membaca bacaanya
* Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
* Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
* Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
* Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian
Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.
Doa yang dibaca setelah shalat dhuha:
“Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-
Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu”.
“Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi ,
keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah,
berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada
kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.
“Allaahumma innad dhuha dhuhaauka, wal-jamaala jamaaluka, wal-qudrota qudratuka,
wal-’ishmata ‘ishmatuka. In kaana rizqii fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kaana fissamaa’i fa anzilhu,
wa in kaana haraaman fa thahhirhu, bi haqqi dhuhaaika wa jamaalika wa qudratika, ya Allah”.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya masa pagi ini adalah masa pagiMU, keindahan ini adalah
keindahanMU, kuasa ini adalah kekuasaanMU, kenyamanan ini adalah kenyamananMU.
Seandainya rizki saya tersembunyi di dalam bumi maka keluarkanlah, jika di langit turunkanlah,
jika haram bersihkanlah, berkat kesejatian masa pagiMU, keindahanMU, dan kekuasaanMU, ya
Allah.”
B. Rahasia dan Keutamaan shalat Dhuha
Hadits Rasulullah Muhammad saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di
antaranya:
1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia
Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda:
“Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah)
adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan
lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan
adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi
pahala” (HR Muslim).
2. Ghanimah (keuntungan) yang besar
Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:
Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.
Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”.
Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya
ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).
Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari
mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat
kembalinya?”
Mereka menjawab; “Ya!
Rasul saw berkata lagi:
“Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat
Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya
dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666)
3. Sebuah rumah di surga
Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam
surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw:
“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka
ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634)
4. Memeroleh ganjaran di sore hari
Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata:
Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari,
maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).
Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini
awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika”
(Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat
rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”).
5. Pahala Umrah
Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat
wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar
untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan
`umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).
Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:
“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai)
duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia
mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih
al-Jami`: 6346).
6. Ampunan Dosa
“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh
Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)
Dengan mengetahui tata cara, niat dan keutamaan shalat Dhuha diatas, semoga menjadi
pedoman untuk selalu melaksanakan shalat sunah dhuha dengan benar. Dengan niat karna Allah,
semoga mendapat pahala dan tempat yg baik di akhirat nanti. Amin.. Dari berbagai sumber.

Membudayakan Shalat Dhuha


('Awwabin)

dari Kafemuslimah

Kafemuslimah.com Jin dan manusia sebagaimana yang diwartakan dalam Alquran, merupakan
dua makhluk ciptaan Allah yang mengemban tugas sebagai hamba. Keduanya diperintahkan
untuk beribadah kepada-Nya. Di samping manusia memiliki nilai plus sebagai khalifah di muka
bumi. Sejatinya, ibadah merupakan tugas dasar bagi manusia. Maka tidak heran kalau dalam
Alquran banyak kata jadian dari kata `abada-ya`budu, seperti 'u`bud, 'u`budu, `ibadurrahman,
`ibadi al-shalihun, dan sebagainya. Ibadah yang kita kenal saat ini adalah ibadah yang rutin kita
lakukan, karena ia merupakan fardh `ain, seperti shalat lima waktu (al-shalawat al-maktubah)
dan shalat Jumat. Kemudian shalat lima waktu tersebut diiringi dengan shalat sunnah rawatib.
Selain shalat rawatib ada juga shalat-shalat sunnah yang lain, seperti Tahiyyah al-masjid, Witir,
Tahajjud dan Dhuha.

Tulisan sederhana ini mencoba untuk mengulas seputar shalat Dhuha dan keutamannya.
Shalat Dhuha merupakan shalat yang banyak mengandung fadhilah (keutamaan), namun tidak
banyak mendapat perhatian dari kita selaku Mukmin. Karena ia berada dalam waktu yang di
dalamnya banyak kesibukan. Orang banyak yang bekerja mencari rezki. Bagi pelajar mereka
sibuk menuntut ilmu, begitu juga dengan yang memiliki kesibukan lainnnya. Oleh karenanya ia
tidak begitu mendapat perhatian yang serius dan sering terlupakan.

Kapan shalat Dhuha dilakukan?


Waktunya ketika matahari mulai naik sepenggalah (agak miring). Dan waktu yang paling afdhal
adalah ketika mulai panas. Hal ini dijelaskan di dalam sebuah hadits Nabi saw yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim; "Shalatu al-'awwabin hina tarmudhu al-fishal" (Waktu mengerjakan shalat
'awwan (dhuha) adalah ketika hari panas).

Imam Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Arqam bahwa ia berkata: "Rasulullah saw keluar
menuju penduduk Quba' ketika mereka akan mengerjakan shalat. Lalu beliau berkata: "Shalat
'awwabin ketika hari mulai panas".

Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Majmu berkata: "Waktunya ketika matahari meninggi
(condong). Sebagian ulama lagi mengatakan bahwa waktu yang paling afdhal adalah ketika
matahari meninggi dan panasnya mulai terik.

Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat, dan paling afdhal adalah delapan rakaat. Abu Hurairah ra.
berkata;" Kekasihku Rasulullah saw berwasiat kepadaku dengan tiga perkara, puasa selama tiga
hari setiap bulannya, dua rakaat shalat Dhuha dan mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur"
(Muttafaq `Alaihi). Dalam hadits Qudsiy disebutkan empat rakaat (akan dijelaskan di dalam
tulisan).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jumlahnya delapan rakaat. Jumlah ini disebutkan dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummu Hani' ra bahwa Rasulullah saw
shalat di dalam rumahnya (Ummu Hani') pada tahun pembebasan Makkah sebanyak delapan
rakaat. Namun dalam hadits lain disebutkan bahwa jumlah rakaatnya tidak terbatas, sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari `Aisyah ra. Ia berkata: "Rasulullah saw shalat Dhuha
sebanyak empat rakaat lalu menambahnya seberapa yang dikehendakinya".

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadits-hadits tersebut seluruhnya disepakati kesahihannya


dan tidak ada perselisihan di dalamnya menurut para muhaqqiq (ahl al-tahqiq) . Dan
kesimpulannya, menurut beliau, shalat Dhuha adalah sunnah mu'akkadah. Minimal adalah dua
rakaat, dan paling sempurna adalah delapan rakaat. Dan diantaranya empat atau enam, keduanya
(empat atau enam rakaat) adalah lebih sempurna dari dua rakaat dan kesempurnaannya berada di
bawah delapan rakaat (Muslim Syarh al-Nawawi: 5: 322).

Keutamaan shalat Dhuha


Banyak hadits Rasulullah saw yang bercerita tentang keutamaan shalat Dhuha, diantaranya;

Pertama, shalat Dhuha diganjar sebagai sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia. Dari
Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda; Di setiap sendiri seorang dari
kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid
(ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah,
setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari
kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala" (Dikeluarkan oleh
Muslim).

Di dalam Fath al-Bari, Imam Ibnu Hajar berkata; "Salah satu dari faidah shalat Dhuha adalah
diberi pahala sedekah bagi seluruh sendi manusia dalam setiap hari. Dan jumlah sendi itu
adalah tiga ratus enam puluh sendi" .

Kedua, ghanimah (keuntungan) yang besar.


Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata; "Rasulullah saw mengirim
sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: "Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah
kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan
banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat
jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; "Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling
dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan
cepat kembalinya? Mereka menjawab; "Ya! Rasul berkata lagi: "Barangsiapa yang berwudhu',
kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat
tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya"
(Shahih al-Targhib: 666).

Ketiga, sebuah rumah di dalam surga.


Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam
surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi saw: "Barangsiapa yang shalat Dhuha
sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah
di surga" (Shahih al-Jami`: 634).

Keempat, dua rakaat di awal hari, memperoleh ganjaran di sore hari.


Dari Abu Darda' ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: "Allah ta`ala berkata: "Wahai
anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi
kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya" (Shahih al-Jami`: 4339).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: "Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini
awwala al-nahar bi'arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika" (Sesungguhnya Allah `Azza
Wa Jalla berkata: "Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku
akan mencukupimu di sore harimu").

(Akfini awwala al-nahar bi'arbai raka`at) arti dari akfini di sini adalah kerjakanlah dan
lakukanlah karena Aku. Diungkapkan dengan lafazh seperti itu sebagai bentuk resiprokal (al-
musyarakah) dengan perkataan Allah dalam kata ukfika.

(Ukfika akhirahu): maksudnya adalah kecukupan Allah kepada hamba-Nya dengan cara
menjaganya dari kejahatan dan memeliharanya dari kejahatan, memberikan rizki-Nya dari arah
yang tidak disangka-sangka serta dimudahkan segala urusannya. Menurut ahli ilmu adalah bahwa
empat rakaat tersebut adalah rakaat shalat Dhuha.

Kelima, pahala `Umrah.


Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya
dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang
melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka
pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah....(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah
hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan shalat
fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit
matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan
umrah; sempurna, sempurna, sempurna" (Shahih al-Jami`: 6346).

Demikian sekelumit penjelasan seputar shalat Dhuha dan beberapa keutamaannya. Mudah-
mudahan kita bisa melaksanakannya secara perlahan-lahan. Kita sempatkan diri kita untuk
menghadap Allah swt. Rasanya tidak akan lama dan tidak akan memakan waktu yang panjang
untuk mengerjakannya. Dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat. Tidak akan lebih
dari sepuluh menit, insya Allah. Bagi yang kerja di kantor, kita upayakan sebisa mungkin. Bagi
para pengajar, kita upayakan ketika waktu istirahat. Bagi para siswa (pelajar, mahasiswa) kita
usahakan ketika waktu istirahat. Insya Allah kita akan mendapat ketenangan batin, kelapangan
hidup dan ketentraman jiwa dengan mengingat Allah swt. Ala bidzikrillahi tathma'innu al-qulub!
Semoga [].
(Cairo, Saturday, 15 Jan 2005)
Qosim Nursheha Dzulhadi

Penulis adalah Alumnus Pon. Pes Ar-Raudhatul Hasanah-Medan. Mahasiswa Universitas Al-
Azhar, Cairo-Mesir, Fakultas Ushuluddin-Jurusan Tafsir.

Manfaat Shalat Dhuha


Rabu, 26/08/2009 16:57 WIB | email | print

Ass Ustad,,,,
saya mau bertanya apa manfaat sholat dhuha & apa saja makna dari sholat dhuha tersebut???
oya satu lagi ustad,,,apakah di perbolehkan jika kita jarang untuk sholat subuh tapi untuk sholat
dhuha kita sering melakukannya....(hampir tiap hari sholat dhuha )
sekian dulu pertanyaan dari saya ustad,,,
Ass...
Hamba Allah
Wulan Desianti Kimisworo
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha juga disebut shalat awwabin. Akan tetapi ada juga
yang mengatakan bahwa keduanya berbeda karena shalat awwabin waktunya adalah antara
maghrib dan isya.
Waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan
berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar
dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik.
Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh
Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah
masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab
setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah
sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar
melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan
adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat
dhuha.”
Juga apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw
bersabda,”Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk
tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti
itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau saw menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke
tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan
tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat
dhuha.”
Didalam riwayat lain oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Nabi saw kekasihku
telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan,
mengerjakan dua rakaat dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur.”
Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan
Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits diatas. Dan
dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya.
Berbeda dengan shalat shubuh maka tidak ada perbedaan dikalangan ulama bahwa ia adalah
wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya dan berdosa jika ditinggalkan. (baca : Cara
Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan).
Dengan demikian tidak dibenarkan bagi seorang yang hanya mengerjakan shalat dhuha yang
kedudukannya sunnah sementara dirinya meninggalkan shalat shubuh yang kedudukannya lebih
tinggi darinya yaitu wajib.
Wallahu A’lam

Membuka Pintu Rezeki dengan Shalat Dhuha


‫ الصلة و السلم على رسو ل‬.‫محمد رسو ل ال الحمد ل رب العا لمين‬.‫ل ال‬
ّ ‫ل إله إ‬.‫حيم‬
ِ ‫ن الّر‬
ِ ‫حَم‬
ْ ‫لالّر‬
ِ ‫ســــِم‬
ْ ‫ ِب‬. ‫السلم عليكم‬
‫اما بعد‬.‫ ال‬Bagaimana agar rezeki kita dimudahkan? Adakah ibadah membantu kita untuk
memperlancar datangnya rezeki? Shalat dhuha adalah jawabannya. Shalat dhuha adalah ibadah
shalat yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Shalat sunnat ini yang dilakukan seorang
muslim saat waktu dhuha. Waktu dhuha tiba saat matahari mulai naik, kira-kira tujuh hasta sejak
terbitnya. Atau sekitar pukul tujuh pagi hingga waktu dzuhur. Jumlah raka””at shalat dhuha, dari
dua hingga duabelas raka””at.Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung manfaat yang
sangat besar bagi umat Islam. Rasulullah bersabda di dalam Hadists Qudsi,“Allah SWT
berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat
shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.”
(HR Hakim dan Thabrani)

Dalam hadist yang lain dikatakan,“Barangsiapa yang masih berdiam diri di mesjid atau tempat
shalatny setelah shubuh karena melakukan I’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat
dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni
meskipun bnyaknya melebihi buih di lautan.” (HR. Abu Daud) “Dalam tubuh manusia itu ada
360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu.” Para shahabat bertanya, “Siapa
yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Dahak yang di masjid itu lalu
ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti
sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua
rakaat shalat dhuha.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Shalat-shalat sunah sangat dianjurkan. Karena ada faedah yang terkandung di dalamnya. Salah
satunya untuk membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya. Di antara shalat sunah tersebut
adalah shalat dhuha.Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain :“Siapapun yang
melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa
itu sebanyak busa lautan.” (H.R Turmudzi) Selengkapnya tabir emas dibalik shalat dhuha, dapat
Anda baca dalam buku Keajaiban Shalat Dhuha. Buku berpengantar Dr. K.H. Muslih Abd.
Karim, MA ini ditulis Muhammad Abu Ayyas. Buku berjumlah halaman 140 ini, pun
menjelaskan cara mudah mencari rezeki. Dalam buku ini mengandung pesan: sebab rezeki hak
semua orang dan kemiskinan mendekati kekufuran, maka ibadah dan usaha adalah jawabannya.
Dengan mengenal keutamaan dan keajaiban shalat dhuha, maka kaum muslim akan lebih
tergerak untuk merawat shalat sunah ini.

Dan temukan manfaat dari buku Keajaiban Shalat Dhuha yang diterbitkan oleh QultumMedia.
Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang
masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira
jam 9.00 ). Shalat Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah,
berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau
malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti
akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya ” ( HR.Hakim dan Thabrani ).

Cara Melaksakan Shalat Dhuha : Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas
rakaat, dilakukan secara Munfarid ( tidak berjamaah ), caranya sebagai berikut: * > Niat didalam
hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram * > “Aku niat shalat sunah Dhuha karena Allah” * >
Membaca doa Iftitah * > Membaca surat al Fatihah * > Membaca satu surat didalam
Alquran.Afdholnya rakaat pertama surat Asysyams dan rakaat kedua surat Allail, tapi jika tak
hafal maka surat/ayat Qur'an lain pun boleh * > Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali * > I’tidal
dan membaca bacaanya * > Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali * > Duduk diantara dua
sujud dan membaca bacaannya * > Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali * > Setelah rakaat
pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir
setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti
contoh diatas.

Ust. HM Arifin Ilham

Setelah amaliah memakmurkan masjid, amaliah harian lainnya yang sebaiknya dilakukan secara
rutin adalah shalat dhuha. Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan saat matahari sudah
sepenggalah naik. Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada umatnya agar mengerjakan
shalat dhuha secara rutin.
Perintah Rasulullah ini ditegaskan berdasarkan hadits dari Abu Hurairah, berkata, "Kekasihku
Rasulullah berpesan kepadaku tentang tiga hal: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan,
mengerjakan shalat dhuha dua rakaat, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur." (HR Bukhari
dan Muslim)
Begitu juga hadis oleh Anas, Rasulullah bersabda, ”Siapa yang mengerjakan shalat dhuha
sebanyak dua belas rakaat, Allah akan membangun buat dirinya istana emas di surga." (HR
Tirmidzi)
Adapun rahasia dan khasiat shalat dhuha, dapat dipahami dari keterangan dua hadis berikut ini:
Rasulullah bersabda, "Seharusnya setiap tulang badan salah seorang di antara kalian setiap pagi
agar bersedekah. Setiap tasbih bernilai sedekah, setiap pujian kepada Allah bernilai sedekah,
setiap bacaan tahlil bernilai sedekah, setiap takbir bernilai sedekah, men yuruh agar berbuat baik
bernilai sedekah, dan mencegoh orang yang berbuat mungkar bernilai sedekah. Semua itu dapat
dimbangi dengan mengerjakan shalat dua rakaat, yaitu shalat dhuha. " (HR Ahmad, Muslim, dan
Abu Daud)
Buraidah meriwayatkan sabda Rasulullah, "Pada manusia terdapat tiga ratus enam puluh
persendian tulang. Hendaknya setiap persendian itu bersedekah. Orang-orang bertanya, siapa
yang dapat mengerjakan seperti itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Ada dahak di masjid,
lalu ditimbun dengan tanah, atau ada suatu gangguan yang disingkirkan dari jalan. Bila tidak
sanggup, maka dapat diganti dengan shalat dhuha sebanyak dua rakaat. Hal itu meniadai bagimu.
" (HR Ahmad dan Abu Daud)
Tentang kedua hadits tersebut, Imam Syaukani berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan
keutamaan mengerjakan shalat dhuha dua rakaat. Betapa tingginya nilai shalat ini. Bahkan dua
rakaat shalat dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali bersedekah.
Selaiun itu, shalat dhuha juga bisa membukakan pintu rezeki dan panjang umur. Konon
diceritakan menurut sumber yang terpercaya, bahwa ada seorang nenek renta berusia lebih dari
100 tahun. Si nenek masih dalam keadaan sehat. Pendengaran dan penglihatannya masih bagus.
Ketika dikonfirmasi tentang salah satu rahasianya, ternyata si nenek rajin puasa sunnah,
mengerjakan shalat tahajud dan shalat dhuha secara rutin. Subhanallah.

Artikel Islami
Majlis Ta'lim Wad Da'wah

Dibalik Shalat Dhuha


Dikirim: Tim Redaksi [16/06/2009]

Dibalik Shalat Dhuha

Dari Abu Hurairah Rasulullah saw telah bersabda,


“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut pintu Dhuha.
Kelak di hari kiamat, para penikmat dhuha akan diundang secara khusu.
Dikatakan kepada mereka, inilah pintu masuk kalian. Masuklah dengan
rahmat-Ku.” (HR. Ath Thabarani)

Dari Abu Dzarr RA, dia bekata, Rasulullah SAW bersabda “Hendaklah
masing2 diantara kalian setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang
badannya. Maka setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah,
setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan
tahlil (laa ilaha illallah) adalah sedekah, setiap bacaan takbir
(Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah,
melarang keburukan adalah sedekah, dan sebagai ganti dari semua itu,
cukuplah mengerjakan dua rakaat salat Dhuha” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
Dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah SAW bersabda
“Dalam tubuh manusia itu terdapat 360 ruas tulang. Ia diharuskan
bersedekah untuk tiap ruas itu”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang
kuat melaksanakan itu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Menutup
dahak di masjid dengan tanah atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari
tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya mampu, cukuplah
diganti dengan mengerjakan dua rakaat salat Dhuha”.
Subhanallah,
betapa besarnya barokah atas sholat sunnah dhuha ini. Betapa tidak,
seandainya sholat dhuha tidak ada, maka kita harus melakukan sedekah
untuk setiap ruas tulang tubuh kita yang jumlahnya mencapai 360 buah.
Apakah kita mampu melakukannya setiap pagi? Islam memang agama yang
mudah dan tidak memberatkan umatnya. Untuk meringankan perihal
bersedekah untuk 360 ruas tulang badan ini, kemudian Allah memberikan
jalan yang sangat mudah dan ringan, yaitu cukup dengan melakukan sholat
sunnah 2 rakaat setiap pagi. Sungguh Allah Maha Bijaksana.
Hadits-hadits
di atas juga memberikan anjuran kepada kita agar senantiasa
memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, melakukan amar ma’ruf dan
nahi munkar.
Pentingnya sholat dhuha bagi umat muslim
bukanlah hal yang diragukan dan dipertanyakan lagi. Sedemikian
pentingnya sampai-sampai Allah telah bersumpah dalam beberapa ayat
dalam AL Quran dengan waktu dhuha, seperti dalam surat Asy Syam.
Bahkan, di dalam AL Quran juga terdapat sebuah surat yang bernama Ad
Dhuha.
Yang perlu kita pahami adalah bahwa setiap kali Allah
bersumpah dengan sesuatu, maka pada sesuatu tersebut tentunya terdapat
rahasia yang agung dan memiliki manfaat yang besar. Maka, manakala
Allah bersumpah dengan Dhuha, itu artinya banyak sekali tersimpan
rahasia agung dan manfaat yang besar di dalam waktu Dhuha.
Bahkan,
dalam sebuah doanya Rasulullah saw senantiasa memohon kepada Allah,
“Allahumma baarik ummatii fii bukuuriha”, yang artinya adalah “Ya
Allah, berikanlah keberkahan kepada ummatku diwaktu pagi”. Hal ini
menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif pada waktu pagi (shubuh dan
dhuha) untuk berjuang mencari rizki yang halal akan memperoleh limpahan
barokah dari Allah swt. Maka dengan demikian, bagi orang-orang yang
terlena dengan tidurnya hingga lupa untuk melaksanakan sholat shubuh,
dan yang bermalas-malsan untuk melakukan sholat dhuha, tidak akan
mendapatkan berkah pagi dari Allah swt.
Ini menunjukkan bahwa
orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha)
untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan
mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam
mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak
kebagian keberkahan itu. Adapun doa yang dibaca setelah sholat dhuha
adalah:
“Allâhumma innadh dhuhâ-a dhuhâ-uka wal bahâ-a
bahâ-uka wal jamâla jamâluka wal quwwata quwwatuka wal qudrata
qudratuka wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allâhumma in kâna rizqî fis samâ-i
fa anzilhu wa in kâna fil ardhi fa akhrijhu wa in kâna mu’assiran
fayassirhu wa in kâna haraman fathahhirhu wa in kâna ba’îdan faqarribhu
bihaqqi dhuhâ-ika wabahâ-ika wajamâlia waquwwatika waqudratika âtinî mâ
âtaita min ‘ibâdikash shâlihîn.”
“Ya Allah,
sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, keagungan itu
adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu
adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan
itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih diatas langit
maka turunkanlah, dan jika di dalam bumi maka keluarkanlah, jika masih
sukar maka mudahkanlah, jika rezekiku haram maka sucikanlah. Jika masih
jauh maka dekatkanlah. Dengan kebenaran waktu dhuha-Mu dan
keagungan-Mu, dengan kebenaran keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, dan
perlindungan-Mu limpahkanlah kepada kami segenap apa yang telah Engkau
limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh”.
Sholat Dhuha
adalh salah satu jenis sholat sunnah yang terkenal sebagai sholat untuk
menarik rizki. Hal ini sesuai dengan isi doa dari sholat tersebut, “Ya
Allah, jika rezekiku masih diatas langit maka turunkanlah, dan jika di
dalam bumi maka keluarkanlah, jika masih sukar maka mudahkanlah, jika
rezekiku haram maka sucikanlah. Jika masih jauh maka dekatkanlah.”
Meskipun
demikian, inti dari segala jenis ibadah adalah untuk mengabdi kepada
Allah swt. Maka jangan sampai sholat dhuha ini hanya diorientasikan
kepada pengejaran rizki saja, tetapi juga harus lebih mengarah kepada
sebuah usaha yang dilakukan dalam rangka beribadah hanya kepada-Nya.