Anda di halaman 1dari 16

Transformasi Program Penataan Permukiman Kumuh

(Kajian terhadap Sejarah Program Penataan Permukiman Kumuh Pemerintah Kota Bandung)

Komang Tria Prabawati whitelatern@yahoo.co.id

Abstrak Pertumbuhan penduduk khususnya di perkotaan merupakan fenomena yang sering terjadi

di Indonesia yang menyebabkan tingginya konsentrasi penduduk di kota-kota besar.

Berdasarkan penelitian BKKBN pada tahun 2000, persebaran kawasan kumuh di Kota Bandung telah menyebar hampir diseluruh kelurahan. Kondisi tersebut menyebabkan banyaknya program yang diluncurkan oleh pemerintah dalam penataan permukiman kumuh. Konsep program-program tersebut mengalami transformasi seiring dengan perubahan kondisi masyarakat pada permukiman kumuh dan dengan tujuan memperbaiki kekurangan program-program sebelumnya yang belum menghasilkan perubahan signifikan. Transformasi program-program penataan permukiman kumuh yang diluncurkan oleh pemerintah berkaitan dengan cakupan tujuannya, seperti perbaikan fisik permukiman, program perbaikan dan peningkatan ekonomi serta program pemberdayaan masyarakat untuk perbaikan dan peningkatan sosial budaya masyarakat. Analisis yang akan dilakukan dalam studi ini, yaitu penggambaran/inventarisasi program-program penataan permukiman kumuh yang pernah diluncurkan Pemerintah Kota Bandung, menganalisis konsep program-program tersebut berdasarkan sasaran dari program, tujuan, stakeholder yang terlibat serta kegiatan yang dilakukan serta melihat transformasi yang terjadi dan penyebabnya.

Kata kunci : transformasi, program, penataan permukiman kumuh, Pemerintah Kota Bandung

1. Pendahuluan Permukiman kumuh merupakan masalah yang dihadapi oleh hampir semua kota-kota besar

di Indonesia bahkan kota-kota besar di negara berkembang lainnya. Pertumbuhan

penduduk merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan permukiman, sedang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan kualitas permukiman yang terwujud. Kota Bandung sebagai kota besar tidak terlepas dari permasalahan permukiman kumuh dengan kepadatan penduduknya yang kian hari kian meningkat.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan BKKBN Kota Bandung, sebaran lokasi

kawasan kumuh di Kota Bandung pada tahun 2000 menunjukkan bahwa hampir disetiap kelurahan terdapat kawasan permukiman kumuh, baik yang berstatus kampung kota maupun permukiman liar. Menurut data kawasan kumuh di Kota Bandung yang telah dikeluarkan oleh Puslitbang Permukiman, Dep Kimpraswil, terlihat bahwa hampir disetiap kecamatan terdapat kawasan kumuh, berdasarkan proporsi dan komposisi jumlah keluarga dalam peringkat pra sejahtera di wilayah Kota Bandung, peringkat tertinggi adalah Kecamatan Cicadas (27%) kemudian disusul Kecamatan Regol (25%) dan Kecamatan Bandung Kulon (15%). Kalau melihat sebaran kawasan kumuh di Kota Bandung mulai menampakan perambahan dipinggiran kota.

Kawasan kumuh meskipun tidak dikehendaki namun harus diakui bahwa keberadaannya dalam perkembangan wilayah dan kota tidak dapat dihindari. Oleh karena itu dalam rangka meminimalisir munculnya kawasan kumuh, maka perlu dilakukan upaya-upaya secara komprehensif yang menyangkut berbagai aspek yang mampu menghambat atau memperbaiki kondisi kumuh tersebut.

2. Definisi Kawasan Kumuh

Secara umum konsep permukiman kumuh mengandung dua pengertian, yaitu daerah slums dan squatter. Kawasan kumuh merupakan produk pertumbuhan kemiskinan dan kurangnya pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan dan menyediakan layanan kota yang memadai.Tingkat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali telah mengakibatkan munculnya kawasan-kawasan permukiman kumuh dan squatter (permukiman liar). Untuk mencapai upaya penanganan yang berkelanjutan tersebut, diperlukan penajaman tentang kriteria permukiman kumuh dan squatter dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta lingkungannya.

2.1 Slums

Definisi slums menurut Abrams adalah :

The word slums is a catch all for poor housing of every kind as a label for the environment.

(Abrams;1964:3)

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan yang dimaksud slum selalu dihubungkan dengan lingkungan : perkampungan miskin dan kotor, perkampungan yang melarat, dimana tanah yang mereka tempati sudah menjadi milik mereka dengan atau tanpa izin pemerintah atau pemilik tanah, namun karena kondisi ekonomi dan pendidikan yang rendah, lingkungan permukiman pun tidak terawat sehingga menjadi kotor.

Menurut CSU’s Urban Studies Department, kawasan kumuh merupakan suatu wilayah yang memiliki kondisi lingkungan yang buruk, kotor, penduduk yang padat serta keterbatasan ruang (untuk ventilasi cahaya, udara, sanitasi, dan lapangan terbuka). Kondisi yang ada seringkali menimbulkan dampak yang membahayakan kehidupan manusia

(misalnya kebakaran dan kriminalitas). Sebagai akibat kombinasi berbagai faktor.

dan kriminalitas). Sebagai akibat kombinasi berbagai faktor. Gambar 1. Beberapa contoh kawasan kumuh Ciri-ciri fisik
dan kriminalitas). Sebagai akibat kombinasi berbagai faktor. Gambar 1. Beberapa contoh kawasan kumuh Ciri-ciri fisik

Gambar 1. Beberapa contoh kawasan kumuh

Ciri-ciri fisik daerah kumuh adalah: sangat padat penduduknya, jalan sempit berupa gang-gang kecil, drainase tidak memadai bahkan ada yang tanpa drainase, tidak ada ruang terbuka diantara rumahnya, fasilitas pembuangan air kotor/tinja sangat minim, fasilitas sumber air bersih sangat minim, tata bangunan yang sangat tidak teratur, sistem sirkulasi udara dalam rumah tidak baik, tidak ada privacy bagi penghuni rumah dan berlokasi di pusat kegiatan ekonomi kota.

2.2

Squatter

Selain kawasan kumuh yang menempati lahan-lahan yang legal, yang disebut “Slum Area”, kawasan kumuh seringkali juga muncul pada lahan-lahan tanpa hak yang jelas, baik secara status kepemilikan maupun secara fungsi ruang kota yang umumnya merupakan lahan bukan tempat hunian. Kawasan seperti ini menurut literatur termasuk ke dalam kriteria kawasan squatter. Squatter adalah suatu area hunian yang dibangun di atas lahan tanpa dilindungi hak kepemilikan atas tanahnya, dan masyarakat squatter adalah suatu masyarkat yang mendiami (bertempat tinggal) di atas lahan yang bukan haknya atau bukan diperuntukkan bagi permukiman; seringkali tumbuh terkonsentrasi pada lokasi terlarang untuk dihuni (bantaran sungai, pinggir pantai, dibawah jembatan, dll) dan berkembang cepat sebagai hunian karena terlambat diantisipasi.

Kelompok squatter umumnya merupakan pendatang dari wilayah perdesaan atau pinggiran kota yang berimigrasi ke perkotaan. Selain secara ekonomi umumnya mereka merupakan komunitas yang berpenghasilan rendah, bekerja di sektor informal, dengan penghasilan tidak tetap, juga secara sosial mereka berpendidikan rendah, berketerampilan terbatas dengan akses terbatas terhadap pelayanan sosial dan administrasi publik.

3.

Transformasi

Menurut Habraken dalam Structure of The Ordinary, transformasi adalah proses impermanen/perubahan yang terus menerus karena adanya adaptasi terhadap kegiatan tumbuh, mati (pembaharuan). Di dalam proses ini terjadi juga perubahan nilai-nilai bersama (gaya hidup, lingkungan sosial). Transformasi juga dapat didefinisikan sebagai proses perubahan yang melibatkan nilai-nilai budaya, agen, konsepsualisasi dan konfigurasi yang akan membentuk suatu struktur lingkungan binaan.

yang akan membentuk suatu struktur lingkungan binaan. Gambar 3. Defnisi transformasi “Kita membangun untuk

Gambar 3. Defnisi transformasi

“Kita membangun untuk bertahan, untuk melawan waktu. Apa yang dibangun oleh generasi sebelumnya, dengan tujuan untuk menjadi abadi, kita hancurkan. Kemudian,

dengan maksud yang sama, kita membangun lagi. Keabadian adalah naluri yang senantiasa ada”

(Habraken;1998)

Dari kalimat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses transformasi akan terus berlangsung, tidak akan ada hentinya selalu memperbaharui.

Di dalam transformasi terdapat 3 pokok bahasan yang diatur, diantaranya :

1. Physical order Membahas pengamatan hirarki kualitas bentukan lingkungan binaan yang diatur berdasarkan tahapan intervensi tertentu (kasat mata)

2. Territorial Order Membahas kontrol berstruktur secara ruang (tidak kasat mata)

3. Understanding Membahas asumsi pemahaman umum dari agen yang terlibat dalam lingkungan binaan

Pada bahasan transformasi program penataan permukiman kumuh, kontrol yang terjadi lebih kepada yang bersifat non fisik, dimana agen terlibat secara dominan dalam

menghasilkan suatu program/strategi/kebijakan tertentu. Stakeholder selaku agen berperan dalam menentukan atau memutuskan strategi dalam penanganan permukiman kumuh

Transformasi kondisi masyarakat pada kawasan kumuh baik yang meliputi transformasi secara fisik maupun nonfisik akan mempengaruhi strategi yang tepat dalam penanganan kawasan tersebut. Untuk menghasilkan suatu strategi/konsep penanganan kawasan kumuh yang tepat guna harus memperhatikan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakatnya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada di kawasan permukiman kumuh antara lain mencakup tingkat pendapatan rendah, norma sosial yang longgar, budaya kemisikinan yang mewarnai kehidupannya yang antara lain tampak dari sikap dan perilaku yang apatis.

Dengan memperhatikan perubahan/transformasi tatanan/struktur masyarakat pada kawasan permukiman kumuh diharapkan mampu menghasilkan rumusan strategi penanganan kawasan permukiman kumuh yang berkelanjutan dan tepat sasaran.

4. Metoda Penelitian

Metode pendekatan studi yang akan digunakan dalam studi ini melalui beberapa tahapan

sebagai berikut :

1. Studi kepustakaan :

Untuk mempelajari parameter-parameter dari suatu strategi/konsep penanganan kawasan permukiman kumuh

2. Survei Institusional Survei institusional dilakukan untuk mengumpulkan data dari instansi yang terkait

3. Data dan analisis Data yang diperoleh dari hasil studi literatur dan observasi institusional setelah diidentifikasi kemudian dianalisis sesuai dengan parameter yang telah ditentukan. Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

Melakukan identifikasi informasi hasil dialog yang memiliki makna dan relevan dengan konsep-konsep yang diteliti. Informasi diperoleh dari lapangan (hasil wawancara)

Kategorisasi data, mengelompokkan informasi

Analisis dan interpretasi, yaitu langkah yang dilakukan untuk konseptualisasi informasi yang telah dikategorikan, termasuk dalam langkah ini adalah analisis data secara induktif dengan menggunakan content analysis

5. Strategi Penanganan Kawasan Kumuh

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah

dalam mengatasai kawasan kumuh. Mulai dari program pengentasan kemiskinan yang dianggap sebagai penyebab utama munculnya kawasan kumuh sampai kepada

program-program yang lebih bersifat spesifik.

Dalam rangka pengentasan kemiskinan, salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah adalah menata kawasan permukiman kumuh di perkotaan dengan meluncurkan program-program penataan kawasan kumuh yakni program perbaikan fisik permukiman, program perbaikan dan peningkatan ekonomi serta program pemberdayaan masyarakat untuk perbaikan dan peningkatan sosial-budaya masyarakat.

Berbagai program pengentasan masyarakat dari kemiskinan, antara lain melalui pendekatan permukiman, telah dirancang dan dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, seperti misalnya P2LDT, KIP, P2BPK, CAP, RP4D, NUSSP (Neighbourhood Upgrading Shelter Sector Project), SAPOLA (Slum Alleviation Policy and Action Plan), PLP3K-BK (Penanganan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan)

Salah satu program yang bersifat lebih spesfik yaitu program Perbaikan Kampung (KIP), yang telah dilakukan sejak tahun 1978. Juga ada yang ditata dan dibangun kembali menjadi rumah susun seperti yang telah dilakukan terhadap permukiman kumuh di industri dalam. Ada pula yang dirangsang agar masyarakat memperbaikinya sendiri seperti yang dilakukan dengan program bantuan aspal, tetapi juga ada yang cenderung dibiarkan. Berbagai program yang diluncurkan pemerintah dari tahun ke tahun memiliki objektifitas yang berbeda.

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan agenda “Cities Without Slums” pada tahun 2010 dan mendorong pemerintah kota dan kabupaten untuk saling bekerja sama (city to city cooperation) dalam rangka menggali potensi kota/kabupaten untuk menangani urbanisasi yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan.

Untuk menangani kawasan kumuh, maka perlu didasarkan pada pandangan masyarakat berpenghasilan rendah terhadap rumah. Dalam sistem perumahan sosial, maka Jo Santoso (Jo Santoso;2002) mengungkapkan bahwa rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah adalah :

1. Dekat dengan tempat kerja atau di tempat yang berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan, minimal pekerjaan sektor informal

2. Kualitas fisik hunian dan lingkungan tidak penting sejauh mereka masih bisa menyelenggarakan kehidupan mereka

3. Hak-hak penguasaan atas tanah dan bangunan khususnya hak milik tidak penting. Yang penting bagi mereka adalah mereka tidak diusir atau digusur, sesuai dengan cara berfikir mereka bahwa rumah adalah sebuah fasilitas.

Karena pandangan-pandangan itulah maka muncul kawasan-kawasan kumuh di sekitar tempat-tempat berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga salah satu point penting dalam menangani kawasan kumuh adalah strategi untuk mendapatkan peluang pekerjaan.

Penanganan kawasan kumuh harus ditinjau kasus per kasus sesuai dengan kondisi fisik kawasannya. Namun demikian secara umum dengan mengacu pada UU No.4/1992 tentang perumahan dan permukiman, pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas permukiman meliputi upaya melalui perbaikan atau pemugaran peremajaan serta pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan.

Konsep program-program tersebut mengalami transformasi seiring dengan perubahan kondisi masyarakat pada permukiman kumuh dan dengan tujuan memperbaiki kekurangan program-program sebelumnya yang belum menghasilkan perubahan signifikan. Berikut ini gambaran sejarah perkembangan

signifikan. Berikut ini gambaran sejarah perkembangan Gambar 5.1. Lintas Sejarah Perbaikan Permukiman Kumuh

Gambar 5.1. Lintas Sejarah Perbaikan Permukiman Kumuh (sumber : Kementran Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia)

Program-program perbaikan permukiman kumuh yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya akan dibatasi pada program yang diterapkan pada permukiman kumuh yang terletak di perkotaan yaitu kampung verbetering, KIP, P3KT dan P2BPK.

di perkotaan yaitu kampung verbetering, KIP, P3KT dan P2BPK. Gambar 5.2 Pokok Pembahasan Program Perbaikan Permukiman

Gambar 5.2 Pokok Pembahasan Program Perbaikan Permukiman kumuh (sumber : Kementran Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia)

Kampung verbetering

Sejak pertengahan abad ke-19, proses urbanisasi di Jawa berjalan sesuai dengan pola pertumbuhan alamiah. Pihak kolonial Belanda mulai mendirikan kota-kota di Jawa dengan mengambil referensi dari kota-kota jawa tua. Belanda meletakkan pusat kota pada alun-alun dan pekan (pasar). Pusat pemerintahan didirikan disekitar alun-alun. Lokasi yang dulunya dipakai oleh sultan pada kota Jawa kuno, ditempati oleh sang penguasa kota dan masjid besar menjadi elemen kota yang dominan. Permukiman urban (kuarter) atau “perkampungan” dibiarkan tumbuh alamiah

Fenomena kampung adalah fenomena perkampungan pedesaan atau niet-bebouwde kom (daerah yang tidak dikembangkan) dari suatu wilayah urban. Istilah “kampung perdesaan” dipakai karena daerah ini tidak termasuk wilayah administrasi kota. Pada awal abad ke-20, Pemerintah Belanda memberi perhatian pada kampung dalam bentuk peningkatan infrastruktur demi mengatasi penyebaran penyakit pes dan malaria. Program Kampung verbetering yang dilaksanakan kemudian memusatkan perhatian hanya pada kondisi kesehatan kampung, tetapi sama sekali tidak membawa perubahan bagi posisi “pribumi

kampung”. Program kampung verbetering melaksanakan beberapa peningkatan kondisi lingkungan melalui intervensi langsung atau melalui regulasi. Tetapi semua itu tidak merubah karakter kampung sebagai permukiman vernakular dengan sistem pertumbuhan alamiah (Multhaup dan Santoso 1984)

Periode 1974 – 1979

Dalam periode ini diperkenalkan 3 program pokok, meliputi 2 program di perkotaan, yaitu pembangunan 73.000 unit rumah sederhana dan Perintisan Perbaikan Kampung (KIP), dan uji coba Site & Services serta 1 program di perdesaaan, yaitu bimbingan teknis dan stimulan bagi 1.000 desa melalui Perintisan Pemugaran Perumahan Desa (P3D).

KIP (Kampung Improvement Programme)

Kampoeng Improvement Programme (KIP) sebagai proyek perbaikan kampung pernah sukses diterapkan di DKI Jakarta dengan nama Proyek Muhammad Husni Thamrin (MHT). Setelah dilakukan dalam empat tahap di MHT - Jakarta, KIP kemudian diterapkan di kota-kota besar lainnya pada Pelita III. Namun seiring dengan tantangan urbanisasi dan struktur masyarakat perkotaan, KIP diragukan bisa mengatasi permasalahan kawasan perkotaan di kota-kota besar di Indonesia dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan KIP pada jamannya.

Program KIP berfokus pada perbaikan prasarana serta jalan kampung saja. Dinas perkotaan menentukan daerah dan cara perbaikan, kemudian menyediakan bahan bangunan sedangkan masyarakat kampung menyediakan tenaganya. Walaupun sistem perbaikan kampung ini dilakukan dengan konsep yang seragam dengan kondisi perkampungan yang beragam, program ini dinilai cukup berhasil dalam memajukan kondisi kampung. Namun program ini juga meningkatkan spekulasi, karena sesudah perbaikan kampung harga tanah dan harga rumah naik sehingga banyak penghuni menjual rumahnya dan pindah ke kampung lain dengan pengharapan akan dilaksanakan KIP pada kampung tersebut.

Keberhasilan KIP di MHT selama kurun 1969 – 1974 tak lepas dari gotong royong dan kreatifitas warga urban untuk merelakan lahannya untuk ditata tanpa ganti rugi. Dalam kurun tersebut, sebanyak 89 kampung atau setara dengan 2.400 ha dan 1,2 juta jiwa telah menerima manfaat KIP. Pada 1974, Bank Dunia mulai menyalurkan bantuannya karena seiring bertambahnya penduduk kota, kampung-kampung yang sudah ditata tersebut mulai dipadati lagi dengan permukiman ‘liar’ dan kampung-kampung baru mulai muncul. Selama lima tahun (sampai 1982), KIP yang didanai dari Bank Dunia setiap tahunnya memperbaiki 1.000 ha kampung dengan penduduk lebih dari 400 ribu jiwa. Setiap komponen ditangani Badan Pelaksana Pembangunan Proyek MHT (BAPPEM), mulai perencanaan, pelelangan, dan pengawasan.

Lebih kanjut dijelaskan, pada 1969 – 1974 disebut sebagai permulaan Proyek MHT berhasil memperbaiki 2400 ha, 1074 – 1982 (MHT I) antara DKI dan Bank Dunia meningkat menjadi 15.600 ha, pada 1982-1988 (MHT II) 3.000 ha, dan 1989-1999 (MHT III) DKI dan Bank DUnia menjangkau 85 dari 267 kelurahan yang ada. Pada MHT III mulai diterapkan konsep Tri Bina atau Bina Ekonomi, Bina Lingkungan, dan Bina Sosial.

Namun saat ini tantangan penataan lingkungan permukiman di perkotaan semakin besar dengan fakta dan prediksi jumlah penduduk kota dua kali lebih cepat (kota di Indonesia pada 2010 akan mencapai 50%). Keberhasilan proyek KIP, dilihat dari kasus MHT, antara lain memakai teknologi tepat guna, biaya rendah, mampu memanfaatkan diversitas sosial, ekonomi, dan budaya, mendoorong penghuni mandiri dan inovatif, serta mudah digandakan.

Periode 1984 – 1989

Tahun 1979 dibentuk Menteri Negara Perumahan Rakyat Tahun 1985 terbit Undang-undang No. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Tahun 1987 ditetapkan PBB sebagai Tahun Papan Sedunia. Salah satu program yang dilaksanakan pada periode ini adalah P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu)

P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu)

P3KT adalah program pembangunan perkotaan yang mencoba melihat kebutuhan dan strategi perkembangan kota sebagai dasar menyusun program investasi bidang prasarana perkotaan yang menjadi tugas Departemen Pekerjaan Umum, meliputi jalan kota, sungai dalam kota, drainase, penyediaan air bersih, sistem pembuangan air kotor, sistem pembuangan sampah, termasuk perbaikan kampung dan perbaikan manajemen perkotaan.

P3KT terkait erat dengan penatan ruang, karena elemen strategi yang dijadikan dasar penyusunan program. P3KT mensyaratkan disusunnya PJM (perencanaan jangka menengah) yang memuat pertimbangan tata ruang sebagai elemen strategis. Bahkan, awalnya diragukan, apakah semua kota sudah siap dengan rencana tata ruangnya sehingga dapat dijadikan dasar bagi P3KT? Muncul gagasan untuk mengisi kekosongan rencana tata ruang dengan meluncurkan IDAP (Interim Development Assessment Plan). Lebih dari sekedar program investasi, P3KT coba mendesentralisasikan perencanaan dan penyusunan program pembangunan prasarana perkotaan yang semula sangat terkonsentrasi dan sektoral menjadi terdekonsentrasi dan terpadu. P3KT dalam wujud program pembangunan perkotaan yang sebagian besar dibiayai dana pinjaman luar negeri, mendominasi program perkotaan di Indonesia sejak tahun 1985 sampai akhir tahun 2000, bahkan terus berkembang sampai sekarang. P3KT yang mulai disiapkan sejak tahun 1970-an, terus diperluas pelaksanaannya ke seluruh wilayah Indonesia. Dimulai dengan P3KT generasi

pertama, yaitu program perbaikan kampung (Urban I). Kemudian generasi kedua, berupa proyek pembangunan perkotaan gaya lama (Urban II, Bandung, Medan, Urban III, Urban IV dan Urban V). Disusul generasi ketiga, yaitu program pembangunan perkotaan untuk melancarkan P3KT secara nasional (tidak terbatas pada proyek dengan bantuan luar negeri, tetapi juga proyek APBN dan APBD). Lantas generasi keempat dengan proyek pembangunan perkotaan gaya baru (Surabaya, East Java Bali, Kalimantan, Sulawesi Irian Jaya, Bali tahap kedua, Sumatera dan Jawa Barat, Botabek, JUDP I,II dan III). Akhirnya, generasi kelima berupa program sektor pembangunan perkotaan yang ditandai dengan pinjaman Urban Sector Loan pada tahun 1987. Persiapan semua proyek P3KT melibatkan konsultan luar dan dalam negeri.

Periode 1994 – 1998

Dalam periode ini ditargetkan pembangunan 500.000 unit Rumah Inti, Rumah Sangat Sederhana dan Rumah Sederhana, perbaikan kawasan kumuh di 125 kota seluas 21.250 Ha, peremajaan kawasan kumuh seluas 750 Ha, pembangunan prasarana air limbah di 9 kota metropolitan dan kota besar, 200 kota sedang dan kecil serta 20.000 desa yang melayani 13 juta penduduk perkotaan dan 4 juta penduduk perdesaan, peningkatan pengelolaan persampahan dan penanganan drainase di 20 kota metropolitan dan kota besar serta 200 kota sedang dan kecil. Salah satu program perbaikan kampung yang diberlakukan pada periode ini adalah P2BPK.

P2BPK (Pembangunan Perumahan Bertumpu Pada kelompok) P2BPK adalah program pemenuhan kebutuhan perumahan yang bertumpu pada kemandirian masyarakat yang merupakan kebijakan penanganan perumahan yang diprioritaskan oleh pemerintah. Pemerintah melalui program P2BPK telah membina dan mengarahkan agar masyarakat berpendapatan rendah dapat memiliki rumah secara berkelompok. Pada segmen masyarakat berpendapatan rendah baik di perkotaan maupun perdesaan, diharapkan 10% dari proporsi masyarakat yang membangun secara swadaya melalui pemberian bantuan oleh pemerintah atau stimulan untuk dapat mewujudkan keinginanya memiliki rumah.

Pola pembangunan perumahan berdasarkan pembangunan bertumpu pada kelompok ini sangat berbeda dengan pola-pola yang pernah dilakukan sebelumnya dimana rumah diposisikan sebagai komoditas dan penghuni sebagai objek yang harus menerima apa yang direncanakan dan dibuat oleh pihak lain, pola ini merupakan pola penanganan perumahan berorientasi penyediaan. Sedangkan P2BPK lebih menekankan nilai guna (use value) dan mendudukan penghuni sebagai tokoh sentral dalam seluruh proses merumahkan diri. Secara singkat pembangunan perumahan bertumpu pada masyarakat adalah pola pembangunan yang mendudukkan masyarakat baik secara individu maupun kelompok sebagai pelaku utama dan penentu semua keputusan dan tindakan pembangunan

didasarkan pada aspirasi masyarakat, kepentingan masyarakat, kemampuan masyarakat dan upaya masyarakat.

Untuk menumbuhkan dan menggerakkan pola kerja pembangunan pola kerja pembangunan partisipatif serta menciptakan iklim pembangunan yang kondusif maka antar pelaku pembangunan dikembangkan 3 fungsi yang saling menunjang dan menjadi penggerak sebagai berikut :

1. Fungsi katalis pembangunan dan pengendali diperankan oleh sektor pemerintah baik pusat maupun daerah

2. Fungsi konsultan pembangunan yang selalu menciptakan berbagai inovasi pembangunan diperankan oleh sektor swasta melalui para konsultan pembangunan

3. Fungsi kader pembangunan yang menciptakan pembaharuan ditingkat masyarakat untuk mendorong perkembangan masyarkat. Fungsi ini diperankan oleh sektor masyarakat melalui tokoh-tokoh masyarakat, formal dan informal.

Periode 1998 – 2004

Tahun 1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat dirubah menjadi Menteri Negara Perumahan dan Permukiman. Tahun 1999 Menteri Negara Perumahan dan Permukiman dan Departemen Pekerjaan Umum dilebur menjadi Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah, dan Menteri Negara Pekerjaan Umum dimana penanganan perumahan dan permukiman dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Permukiman dan Direktorat Jenderal Perkotaan dan Perdesaan. Tahun 2002 Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah dirubah menjadi Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, dan Direktorat Jenderal Pengembangan Permukiman dirubah menjadi Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Tahun 2002 diperkenalkan Rumah Sederhana Sehat sebagai pengganti Rumah Sangat Sederhana dan Rumah Sederhana. Tahun 2002 Presiden Megawati Sukarnoputri mencanangkan Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GNPSR) di Denpasar Bali dalam rangka peringatan Hari Habitat Dunia

Periode 2004 – Sekarang

Tahun 2004 dibentuk Kementerian Negara Perumahan Rakyat dan diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2004 Tentang Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional. Tahun 2005 dibentuk PT. Sarana Multigriya Finance (SMF). Dalam periode ini dicantumkan target-target pembangunan perumahan dengan rincian rumah sederhana sehat sebesar 1.350.000 unit, rumah susun sederhana sewa sebesar 60.000 unit dan rumah susun sederhana milik dengan peranswasta sebesar 25.000 unit. Desember 2006 diterbitkan Keputusan presiden No. 22 Tahun 2006 Tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan

Rumah Susun di Kawasan Perkotaan. Tanggal 5 April 2007 Pemancangan Pertama Pembangunan Rusunami oleh Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Pulogebang Jakarta. Tahun 2007 diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2007 yang menyatakan Rusunami sebagai barang strategis, dan dibebaskan dari PPN

6. Analisis Transformasi Program Perbaikan Permukiman Kumuh

Berdasarkan inventarisasi program-program perbaikan permukiman kumuh yang pernah dilakukan dari periode abad ke-19 sampai sekarang dapat ditarik kesimpulan konsep

masing-masing program seperti dijelaskan pada tabel dibawah ini.

Program

Sasaran

Tujuan

Stakeholder

Kegiatan

1.

Kampung

Penduduk

Mengatasi penyebaran penyakit pes dan malaria. Berfokus pada aspek kesehatan permukiman

Verbetering

kampung pribumi

 

dan nonpribumi

2. KIP

Masyarakat

Meningkatkan

berpenghasilan

kesejahteraan

rendah yang

masyarakat

tinggal di

berpenghasilan

daerah-daerah

rendah

kumuh perkotaan

yang padat

penduduknya

3. P3KT

Kota-kota di

Menyusun rencana pembangunan kota dengan mempertimbangan tata ruang sebagai elemen strategis

Indonesia

4. P2BPK

Masyarakat

Membantu masyarakat yang kurang mampu

berpenghasilan

rendah

Masyarakat yang

dalam memenuhi kebutuhan rumah tinggal yang dilakukan dari, oleh,

mempunyai

penghasilan

tidak tetap

Masyarakat yang

dan untuk

Pemerintah

Belanda

Memperbaiki infrastruktur kampung dan melaksanakan beberapa peningkatan kondisi lingkungan melalui intervensi langsung atau melalui regulasi

Menggerakkan peran serta masyarakat melalui penyuluhan tentang pentingnya kebersihan dan perbaikan lingkungan kampung yang diikuti dengan kegiatan-kegiatan fisik

Perbaikan

infrastruktur, penyediaan air bersih, sistem pembuangan air kotor, sistem pembuangan sampah, termasuk perbaikan kampung dan perbaikan manajemen perkotaan

Penggalangan dana

Perencanaan

partisipatif

Pemerintah

LSM

Konsultan

Pemerintah

KSM, adalah

organisasi yang

dibentuk oleh

warga secara

demokratis untuk

mewakili

kepentingan

warga

belum memiliki

masyarakat.

KP, pihak yang

rumah sendiri

dapat

 

mendampingi masyarakat dan memiliki keahlian melakukan proses pembangunan perumahan. Berperan sebagai community organizer Pemerintah

Sumber : analisa penulis

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan terjadi transformasi program perbaikan permukiman kumuh yang meliputi transformasi sasaran, tujuan, pihak yang terlibat dan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki permukiman kumuh. Transformasi program yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pertumbuhan alami masyarakat dan lingkungan permukiman kumuh yang mengakibatkan perubahan kondisi permukiman. Selain itu pelaku dan identitas agen juga turut mempengaruhi perkembangan program.

identitas agen juga turut mempengaruhi perkembangan program. Gambar 6.1 Proses Transformasi Program Perbaikan Permukiman

Gambar 6.1 Proses Transformasi Program Perbaikan Permukiman Kumuh

(Sumber : analisa penulis)

Pelaku atau agen yang terlibat dalam program perbaikan permukiman kumuh semakin lama semakin kompleks mengimbangi kompleksnya karakteristik permukiman kumuh. Semula program perbaikan permukiman kumuh hanya dimotori oleh pihak pemerintah dan masyarakat sebagai objek harus menerima apa yang dilakukan dan disediakan oleh pemerintah, namun seiring dengan berkembangnya budaya dan kondisi lingkungan konsep ini tidak lagi efektif memperbaiki kondisi permukiman karena masyarakat menjadi terus-menerus bergantung pada pemerintah tanpa mampu berkembang untuk meningkatkan kehidupanya secara mandiri. Dengan kondisi seperti itu, diperlukan adanya pelaku-pelaku yang mempriorotaskan perkembangan dan partisipasi masyarakat sebagai aktor bagi peningkatan kualitas hidupnya sendiri, untuk itu diperlukan pihak yang mewakili dan mendampingi masyarakat selama program perbaikan permukiman berlangsung. Semakin bertambahnya pihak-pihak yang terlibat dalam program perbaikan permukiman kumuh yang mewakili seluruh kepentingan diharapkan mampu mengatasi ketidakberhasilan program-program terdahulu serta mampu menghadapi perkembangan masyarakat dan lingkungan permukiman.

perkembangan masyarakat dan lingkungan permukiman. Gambar 6.2 Peran agen dalam perbaikan permukiman kumuh

Gambar 6.2 Peran agen dalam perbaikan permukiman kumuh (Sumber : analisa penulis)

Referensi Esmara, Hendra. 1975. Kesenjangan Pendapatan Daerah, Padang: Universitas Andalas Habraken, N.J. 1998. The Structure of The Ordinary, London: The MIT Press.

Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan United Nations Devolopment Programme,

1997.

Koestoer. RH, 1997. Perspektif Lingkungan Desa-Kota Teori dan Kasus, UI-Press. Ringkasan Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta Sri. P, 1988. Permukiman Kumuh; Pertimbangan Pengusiran Atau Perbaikan . Jakarta. :

Kongres Ikatan Peminat Dan Ahli Demografi Indonesia IV Santoso, Jo., dkk.2002. Sistem Perumahan Sosial di Indonesia. Center for Urban Studies dan IAP. Jakarta Yunus, H.S. 2005. Manajemen Kota: Perspektif Spasial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.