Anda di halaman 1dari 12

PENDIDIKAN SENI

SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN KARAKTER MULTIKULTURALIS

Sutiyono
FBS Universitas Negeri Yogyakarta (e-mail: sutiyono_63@yahoo.com;
HP: 08562875090)

Abstract: Art Education as a Basis of Multicultural Character Education. This


article discusses art education as a basis for multicultural character education in
Indonesia. As a multicultural nation with a variety of cultural backgrounds,
Indonesia has been faced with conflicts, violences, clashes, and riots resulting from
such differences. Education is deemed to be responsible for such problems and one
cause of its failure to solve them is that it does not focus on character building.
Character building is necessary in order for the students to appreciate
multiculturalism and it can be integrated into art education.

Keywords: multiculturalism, character education, art education

PENDAHULUAN me, baik dalam sekop besar maupun


Tidak dapat dipungkiri, bahwa pro- kecil (simbolik).
blema terbesar yang dihadapi bangsa Sebagai bangsa majemuk dengan
Indonesia dari dahulu hingga sekarang latar belakang sosial-budaya yang ber-
adalah multikulturalisme dan humanis- beda, Indonesia sering mengalami ke-
me. Keduanya merupakan masalah gagalan yang berulang-ulang dalam
besar yang terkait dengan segala aspek merumuskan demokrasi, hukum, ke-
kehidupan berbangsa dan bernegara, adilan, dan kesejahteraan. Masalah
berkaitan dengan perbedaan berbagai tersebut terjadi karena dibelokkan oleh
hal, di antaranya politik, sosial, ekono- pihak-pihak yang melakukan manipu-
mi, budaya, daerah, pulau, suku, aga- lasi yang berakar dari sifat-sifat kese-
ma, kebatinan, kesenian, adat, upacara, rakahan dan primordialisme, egoisme,
mata pencaharian, makanan, pakaian, suku, ras, dan golongan. Pihak-pihak
rumah tangga, etika, dan sebagainya. tersebut tega melupakan suara sesama
Dalam suatu interaksi sosial, kadang- anak bangsa sebagai rakyat Indonesia
kadang perbedaan itu dibawa untuk (Sutrisno, 2001). Tidak dapat dipungkiri
menentukan keputusan, misalnya bu- bahwa kemajemukan itu memang di
daya sendiri dianggap benar sedangkan satu sisi mengambarkan aset yang
budaya orang lain dianggap salah berharga, akan tetapi jika kemajemukan
(etnosentrisme). Tidak jarang, interaksi itu tidak dapat ditata dengan rapi,
sosial ini menimbulkan perselisihan di perpecahan bangsa tidak dapat dihin-
antara suku bangsa. Persoalan ini dari.
kadang-kadang memunculkan anarkis- Pluralisme dan multikulturalisme
sebagai perbedaan berbagai aspek ke-

161
162

hidupan memunculkan persoalan yang oleh peristiwa kecil, yang dibelakang-


berakibat memancing persoalan etnis, nya dimotori oleh para provokator.
suku, agama, ras, golongan, dan pri- Sebagai contoh, dalam peristiwa
badi. Aspek-aspek kehidupan bangsa Poso (Sulawesi Tengah), asal kejadian-
tersebut sering mngerucut menjadi ma- nya amat sederhana. Seorang anak
salah puncak yang disebut persoalan membeli permen di toko milik etnis
SARA (suku bangsa, agama, ras, antar Cina. Permen itu dibungkus oleh pe-
golongan). SARA merupakan pluralitas milik toko dengan selembar kertas
kehidupan masyarakat yang tidak da- yang kebetulan bertuliskan huruf Arab.
pat dilepaskan dari karakter kemaje- Oleh masyarakat Islam setempat, bung-
mukan bangsa yang telah hidup ber- kus kertas tersebut dianggap sebagai
tahun-tahun di bumi Indonesia (Sumar- penghinaan terhadap orang Islam.
tana, 2001: 89). Permasalahan SARA Maka tidak beberapa lama, massa men-
menjadi hangat setelah reformasi di- datangi dan membakar toko-toko Cina
gulirkan sejak tahun 1998. Banyak kon- hingga hancur. Ketika aparat keamanan
flik di daerah-daerah bersumber pada mendatangi tempat kejadian peristiwa
permasalahan SARA. Contoh, konflik (TKP) menemukan kertas bungkus per-
etnis antarsuku Madura dan Dayak di men. Ternyata isinya adalah surat cinta
Sambas dan Sampit, Kalimantan Te- yang ditulis dalam huruf Arab. Ironis-
ngah yang menewaskan ribuan orang ya, ketika aparat telah menemukan ker-
pendatang asal Madura. Para korban tas itu, toko-toko milik etnis Cina sudah
yang tewas mengenaskan terjadi karena terlanjur ludes karena habis dibakar
terkena pedang, parang dan senjata massa.
tradisional lain. Konflik ini tidak dapat Dari keterangan peristiwa Poso,
dengan mudah segera ditangani. Ke- dapat ditarik kesimpulan betapa sen-
mudian, disusul konflik etnis yang ter- sitifnya masalah SARA di Indonesia,
jadi di Poso, Sulawesi Tengah yang yang kejadiannya kadang-kadang di-
peristiwanya hampir sama dengan ke- awali dari hal-hal yang sangat sepele.
jadian di sampit. Konflik SARA pasca Dari kejadian itu juga dapat dicermati,
reformasi dimulai dari peristiwa Ke- mengapa orang Indonesia mudah me-
tapang (Jakarta), Kupang (NTT), Aceh, luapkan emosi jiwanya, terbakar hati-
Sambas, Sampit, Poso, Maluku, dan nya, dan akhirnya melakukan keke-
Papua. Banyak dipertanyakan orang, jaman. Mengapa yang terjadi tidak se-
bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa baliknya, misalnya jika orang melihat
yang beradab, tetapi mengapa bisa ter- kertas bungkus yang bertuliskan huruf
jadi konflik seperti itu, dan mengapa Arab, dikonfirrmasikan dulu pada
dampaknya amat mengerikan yang orang lain yang paham tentang huruf
selalu mengorbankan jiwa manusia. Arab sehingga mengetahui apa yang
Sebelum terjadi konflik, biasanya sudah dimaksud isi tulisannya. Dengan meng-
terdapat benih-benih konflik yang di- acu pada kejadian itu, masalah SARA
bawa sejak zaman Orde Baru. Namun merupakan persoalan yang sangat sen-
demikian, kejadian itu sering dipicu sitif dalam kehidupan masyarakat. Oleh

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
163

karenanya, sebagai bangsa yang dicap rakat Indonesia. Kenyataannya perilaku


beradab, kita perlu berhati-hati dalam destruktif tersebut sering disebabkan
hal urusan agama, sebab jika tidak hati- oleh suatu kelompok kepentingan yang
hati akibatnya bisa menjurus ke dalam mengatasnamakan persaingan, permu-
soal SARA. Di sinilah muncul proble- suhan, perselisihan, pertengkaran, kon-
matika besar yang dihadapi masyarakat flik, dan benturan sosial. Akibat yang
tentang pluralitas beragama. ditangggung dari watak emosional itu
Sudah menjadi realitas yang tidak adalah sulitnya menuju pada kehidup-
dapat dipungkiri bahwa masyarakat an yang harmonis, serasi, selaras, dan
Indonesia menunjukkan adanya plura- seimbang. Atas nama watak emosional
litas sosial dan multibudaya, yang itu, kerukunan warga yang telah ter-
kenyataannya terdiri dari bermacam- bina selama ratusan tahun menjadi ter-
macam etnis, suku bangsa, agama, ras, koyak.
dan golongan itu merupakan sesuatu Perkembangan masyarakat yang se-
yang sudah given, artinya sudah me- makin kompleks sekarang ini seharus-
rupakan pemberian Tuhan. Pluralitas nya membuat bangsa Indonesia dapat
dan multikulturalime, di satu sisi bisa berpikir menjadi bangsa yang besar de-
mengancam stabilitas yang bisa me- ngan berdasar pada keragaman agama,
munculkan konflik dan kekerasan, te- suku, ras, golongan, dan tradisi-budaya
tapi di sisi lain dapat menjadi peluang masyarakat. Berbagai keragaman itu
terbentuknya masyararakat plural yang sepatutnya perlu disyukuri sebagai
kaya dengan berbagai kekayaan bu- karunia Tuhan yang melimpah ruah
daya, yang dapat diolah untuk kepen- dan sering dianggap sebagai kekayaan
tingan pariwisata. (aset) bangsa. Namun demikian, sering
Pluralisme dan multikulturalisme keragaman itu malah menjadi arena
merupakan realitas yang menjadi tan- konflik dengan macam-macam persoal-
tangan besar yang harus dihadapi. an yang dimunculkan sehingga menjadi
Realitas yang pluralis dan multikultu- bencana yang tragis dan memilukan
ralitas ini dapat menjadi potensi besar (Naim, 2008).
karena mampu menambah khazanah Melihat peristiwa yang memilukan
dan kekakayaan kehidupan. Tetapi juga itu, jelas bahwa negara kita sedang
dapat berubah menjadi persoalan besar menderita krisis nilai atau distorsi
manakala antarelemen dalam pluralitas moral dalam kehidupan berbangsa dan
dan multikulturalitas tersebut saling bermasyarakat. Selain itu, banyaknya
mengedepankan ego dan kemauannya konflik yang terjadi dalam masyarakat
untuk saling menguasai (Naim, 2008: mulai dari skala kecil sampai yang sa-
27). ngat luas membuktikan bahwa kualitas
Demikian pula, banyaknya kejadian akhlak rakyat Indonesia pada umum-
konflik kekerasan, keganasan, kebrutal- nya masih sangat memprihatinkan
an, sampai tawuran masyarakat seka- (Zuchdi, 2008: 142). Hal ini yang sering
rang memperlihatkan bahwa pola pikir disinyalir banyak orang, bahwa penye-
emosional masih mendominasi masya- bab dari semua krisis moral yang me-

Pendidikan Seni sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis


164

nimpa masyarakat kita selama ini ada- ditekankan dalam dunia pendidikan
lah pendidikan, terutama pendidkan kita.
moral yang diajarkan di sekolah-seko- Tentu saja pendidikan yang dimak-
lah dirasa masih banyak kelemahan. sud adalah pendidikan yang memiliki
Padahal pendidikan merupakan aspek tugas mempersiapkan terbentuknya in-
terpenting dan amat vital dalam mem- dividu-individu yang cerdas dan ber-
bentuk karakter bangsa. Suatu bangsa akhlak mulia (berakhlak yang baik).
tidak akan pernah mengalami kema- Terbentuknya kedua kriteria ini me-
juan jika tidak ditempa dengan pen- mungkinkan terwujudnya kehidupan
didikan. Tanpa hadirnya pendidikan, sosial yang ideal, yang diwarnai sema-
suatu bangsa tidak akan pernah men- ngat mengembangkan potensi diri dan
dapatkan kemajuan. Akibatnya, bangsa memanfaatkannya untuk mencapai ke-
tersebut akan menuju pada proses ke- bahagiaan lahir dan batin serta kese-
hancuran yang melahirkan masyarakat lamatan dunia akherat (Zuchdi, 2008:
tidak beradab. 141). Individu yang cerdas dan berakh-
lak mulia hanya dapat diraih melalui
PENTINGNYA PENDIDIKAN KA- pendidikan karakter dengan berdasar
RAKTER membina persahabatan, dengan mele-
Untuk mengantisipasi terjadinya takkan anak didik diajak untuk aktif
konflik yang berkepanjangan yaitu me- mengunakan pikiran, ingatan, dan hati-
nekan berbagai faktor yang memung- nya supaya mampu mengembangkan
kinkan lahirnya konflik menjadi suatu seluruh karakter dan kepribadiannya
potensi perdamaian dan kerukunan. secara utuh (Rukyanto, 2009).
Salah satu komponen yang menjadi Hal ini didasarkan pada beberapa
harapan itu adalah pendidikan. Hal ini definisi pendidikan sebagai berikut.
dapat dimaklumi karena salah satu Pertama, pendidikan berarti suatu pro-
usaha yang diyakini mampu menelor- ses transformasi manusia, yang diper-
kan cita-cita dan utopia manusia adalah oleh melalui perkembangan yang se-
pendidikan. Secara sosiologis, pendi- imbang antara tubuh, pikiran, sema-
dikan selain memberikan amunisi da- ngat, dan intelek baik secara personal
lam memasuki masa depan, ia juga me- maupun universal. Kedua, pendidikan
miliki hubungan dialektika dengan berarti proses menjadi diri sendiri dan
transformasi sosial-masyarakat. Pendi- menemukan makna kehidupan. Mene-
dikan juga memiliki beragam fungsi, mukan identitas diri terjadi dalam ke-
antara lain: penyalur ilmu pengetahu- satuan antara diri sendiri dan manusia
an, mengasah otak, melatih keterampil- lain (Nagata, 2002). Ketiga, Ki Hadjar
an, menanamkan nilai-nilai moral, mem- Dewantara (2004: 20-21) mengatakan
bentuk kesadaran, pembentuk watak bahwa pendidikan adalah tuntunan di
(karakter), dan lain-lain (Naim, 2008: dalam hidup tumbuhnya anak-anak.
26-27). Fungsi pendidikan sebagai pem- Maksud pendidikan adalah menuntun
bentuk watak inilah yang amat penting segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak, agar sebagai pribadi dan

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
165

anggota masyarakat dapat mencapai sudah sudah menjadi juara belum tentu
keselamatan dan kebahagiaan yang karakternya baik. Jadi selama ini kita
setinggi-tingginya. lalai bahwa pendidikan karakter tidak
Dari ketiga arti pendidikan itu, dikedepankan, sehinga yang terjadi se-
dapat disarikan bahwa pendidikan bu- karang adalah carut marut persoalan
kan hanya soal meningkatkan sisi aka- bangsa yang tidak kunjung usai.
demik atau intelektual seorang anak Paradigma sistem pendidikan tidak
didik, tetapi lebih menyeluruh, berkait- bisa lagi mengedepankan aspek ke-
an dengan perkembangan semua sisi mampuan keilmuan sebagai ukuran
kemanusiaan seorang anak, baik se- keberhasilan. Lebih dari itu, sistem pen-
bagai pribadi maupun warga negara. didikan juga harus sudah memulai
Oleh karena itu, pendidikan yang ha- pembangunan karakter bangsa. Sistem
nya bertumpu pada aspek akademik pendidikan negeri ini harus menengok
belaka, jelas kurang tepat karena me- kembali penguatan dan pengembangan
ngesampingkan sisi-sisi lain kepribadian aspek dan kualitas karakter bangsa me-
seorang anak (Suparno, 2009:48). Urai- lalui anak didik. Ini diperlukan menyu-
an ini menjelaskan bahwa pendidikan sul makin menurunnya kualitas etiket
tidak hanya ditujukan untuk mengha- dan tata karma anak-anak didik seka-
silkan insan yang pintar belaka, tetapi rang (Muhaimin, 2010). Selain itu, kebo-
juga memiliki kharakter multikulturalis brokan prilaku sosial yang mudah me-
dan humanis. luapkan emosinya berujung pada ke-
Dengan demikian, arah pendidikan ganasan, tawuran, dan kekerasan ini
bukan hanya soal meningkatkan sisi paralel dengan pengguna narkoba yang
akademik atau megejar intelektual se- merusak mental bangsa.
orang anak didik, tetapi secara kese- Bertolak dari persoalan bangsa itu,
luruhan menyangkut perkembangan pendidikan karakter menjadi penting
semua sisi kemanusiaan seorang anak untuk segera diwujudkan. Ratna Mega-
didik, baik sebagai pribadi maupun wangi dari Indonesia Heretage Foundation
warga negara. Oleh karenanya, pendi- mengatakan pendidikan karakter dapat
dikan yang hanya bertumpu pada as- dijadikan sebagai solusi dalam men-
pek akademik belaka, jelas kurang tepat jawab permasalahan negeri ini. Bila
karena mengesampingkan sisi-isi lain pendidikan karakter dapat diwujudkan,
kepribadian seorang anak (Suparno, seoarang anak akan menjadi cerdas
2009: 48). Selama ini, kita bangga ketika emosinya, bukan meluap emosinya.
anak-anak mendapat penghargaan ke- Kecerdasan emosi merupakan modal
juaraan olimpiade matematika atau terpenting dalam mempersiapkan anak
fisika, yang sering juga diidam-idam- di masa depan, karena akan dapat
kan orang tua pada umumnya. Dengan menghadapi perbedaan, sehingga anak
sekuat tenaga orang tua berusaha ba- tersebut dipandang dapat mengelola
gaimana agar anak-anaknya dapat setiap konflik atau perbedaan. Harap-
menjadi juara di sekolah atau di ajang annya, multikulturalisme di Indonesia
perlombaan. Kenyataannya, jika anak bukan dipandang sebagai hambatan

Pendidikan Seni sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis


166

tetapi malah dianggap sebagai peluang Indonesia yang pluralis-multikulturalis


untuk berbagai kemajuan bangsa. (Naim, 2008: 49).
Oleh karena itu, diperlukan pendi-
REPOSISI PENDIDIKAN MULTI- dikan karakter yang bertumpu pada
KULTUALISME pemahaman multikulturalisme. Ada-
Sementara ini, urgensi pendidikan pun konstruksi pendidikan semacam
multikulturalisme belum dirasakan du- ini berorientasi pada proses penyadar-
nia pendidikan dan masyarakat luas. an yang berwawasan pluralisme dalam
Dalam dunia pendidikan sendiri, plu- kehidupan beragama, berpolitik, dan
ralisme dan multikulturalisme belum berbudaya (sukubangsa dan bahasa
cukup dikenal, baik sebagai gagasan daerah). Dalam kerangka yang lebih
maupun praktik sosial-budaya. Plura- jauh, konstruksi pendidikan multikul-
lisme dan multikulturalisme baru se- turalisme dapat diposisikan sebagai
batas disingung secara terpisah dan bagian dari upaya secara komprehensif
sangat terbatas dalam bidang ilmu so- dan sistimatis untuk mencegah dan me-
sial dan agama, misalnya sosiologi, an- nangulangi konflik etnis, agama, radi-
tropologi, politik, dan studi agama. Jadi kalisme agama, separatisme sosial, dan
secara konseptual, pendidikan multi- integrasi bangsa. Adapun nilai dasar
kulturalisme belum diterapkan di In- dari konsepsi pendidikan ini adalah
donesia. Padahal seharus pendidikan toleransi, yakni menghargai segala per-
multikulturalisme menjadi tumpuan bedaan sebagai realitas yang harus di-
pertama sebelum merambah pada posisikan sebagaimana mestinya, bu-
bidang-bidang kajian lain, mengingat kan dipaksakan untuk masuk ke dalam
masyarakat Indonesia adalah masya- suatu konsep tertentu (Naim, 2008: 52).
rakat multikulturalis yang sering rawan Dengan demikian, aspek multikultura-
dengan persoalan perbedaan, konflik, lisme bermuara pada sifat menghargai
kesenjangan, dan benturan budaya. manusia lain yang juga memiliki bu-
Terbatasnya perbincangan tentang daya lain, atau dengan kata lain sifat
multikulturalisme dari aspek pendidik- multikulturalis menghasilkan sifat hu-
an relatif lebih sedikit daripada aspek manis.
lain seperti ekonomi, matematika, fisi- Memang multikulturalisme boleh
ka, kimia, biologi ini menjadi hal yang jadi menekankan toleransi yang terbuka
wajar jika terminologi pendidikan mul- terhadap masuknya berbagai budaya
tikulturalisme relatif belum banyak asing (lain), tetapi juga bisa menandai
dikenal luas oleh publik. Hal ini dapat munculnya kesadaran dan kebangkitan
dimaklumi mengingat konsepsi dan budaya tradisional untuk menyatakan
signifikansi multikulturalisme dalam identitas mereka (Sudiarja, 2009:10).
konteks masyarakat Indonesia baru me- Pendidikan berbasis pluralisme ini
nemukan mementumnya dalam bebe- menjadi awal untuk menumbuhkan
rapa tahun belakangan seiring mun- penghargaan akan perbedaan-perbeda-
culnya berbagai macam persoalan yang an yang terjadi di sekitar para peserta
berkaitan dengan realitas masyarakat didik.

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
167

Sebenarnya, pendidikan menjadi plural (plural society) memang berbeda


proses sosialisasi untuk menawarkan dengan masyarakat multikultural (mul-
nilai-nilai guyub bangsanya. Misalnya, ticultural society), tetapi masyarakat plu-
keluarga dijadikan sebagai pusat pendi- ral adalah dasar bagi berkembangnya
dikan, karena setiap individu memper- tatanan masyarakat multikulktural,
oleh nilai-nilai pluralisme dalam hidup tempat masyarakat dan budaya ber-
bersama di dalam keluarganya. Jika di interaksi dan berkomunikasi secara in-
dalam keluarga dan di sekolah anak- tens (Lubis, 2006:166).
anak kita telah terbiasa mengalami per- Dalam pendidikan multikultural
bedaan sebagai kekayaan yang me- dikembangkan pemaknaan dan pema-
ngembangkan pribadinya, maka kita haman terhadap multikulturalisme, ya-
boleh mengharapkan masa depan Indo- itu sebuah paham tentang kultur yang
nesia yang demokratis. Yang berarti di beragam. Dalam keragaman kultur ini
sana terdapat nilai-nilai penghormatan meniscayakan adanya pemahaman,
akan keberadaan orang lain (Kartono, saling pengertian, toleransi, dan sejenis-
2009:45). nya agar tercipta suatu kehidupan
Dalam pendidikan multikulturalis- yang damai dan sejahtera serta ter-
me selalu muncul kata kunci: pluralitas hindar dari konflik berkepanjangan
dan kuktural. Hal ini disebabkan pema- (Naim, 2008:125).
haman terhadap pluralitas mencakup
segala perbedaan dan keragaman, apa- MENAWARKAN PENDIDIKAN SENI
pun bentuk perbedaan dan keragaman- Dalam proses pembelajaran seni,
nya. Kultur sendiri tidak dapat dilepas- seperti yang terjadi pada Program Studi
kan dari empat tema penting: aliran Pendidikan Seni Tari Universitas Ne-
(agama), ras (etnis), suku, dan budaya geri Yogyakarta, diajarkan materi tari-
(Dawam, 2003:99-100) atau SARA (su- tarian dari berbagai latar belakang
ku, aliran, ras, agama). daerah budaya di Indonesia kepada
Romo Frans Magnis Suseno menga- peserta didik. Tari-tarian itu berupa
takan bahwa pendidikan pluralisme tari dasar dan tari budaya lain. Tari
merupakan pendidikan yang meng- dasar meliputi Tari Jawa Yogyakarta
andaikan kita untuk membuka visi dan Surakarta, sedangkan tari budaya
pada cakrawala yang lebih luas serta lain meliputi Tari Bali, Tari Sunda, Tari
mampu melintas batas kelompok etnis Sumatra, tari Kalimantan, Tari Sula-
atau tradisi budaya dan agama, sehinga wesi, dan tari mancanegara. Setelah
kita mampu melihat “kemanusiaan” memahami tari pokok dan tari budaya
sebagai sebuah keluarga yang memiliki lain, para mahasiswa mempunyai apre-
perbedaan maupun kesamaan cita-cita. siasi terhadap budaya lain, dapat meli-
Pluralisme dan multikulkturalisme hat persamaan dan perbedaan bentuk
memang dua hal yang berbeda, tetapi tari di Indonesia. Yang lebih penting
antara keduanya memiliki hubungan peserta didik menghargai budaya lain
yang sangat erat dan saling berkaitan. (multikulturalisme).
Dalam konteks masyarakat, masyarakat

Pendidikan Seni sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis


168

Pemahaman multikulturalisme da- tikultural adalah pendidikan musik


pat terjadi karena kepada peserta didik berdasarkan komparatif estetis (perban-
tidak hanya diajarkan untuk terampil dingan pertunjukan) dan etnomusiko-
dalam suatu bentuk tarian, akan tetapi logi (kebudayaan musik). Artinya, mem-
juga harus mampu menguasai pengeta- pelajari komparatif estetis dalam seni
huan sosial-budaya tarian yang diajar- musik adalah memperbandingkan an-
kan. Dengan kata lain, seorang peserta tara elemen-elemen pertunjukan pada
didik dalam proses pembelajaran seni suatu musik yang berasal dari daerah-
dihadapkan pada suatu bentuk tarian nya sendiri dengan daerah lain. Ele-
beserta pranata kehidupan tarian pada men-elemen itu meliputi pemain, ins-
komunitas masyarakatnya. Di sebuah trumen, tangganada, melodi, tata rias,
lembaga pendidikan yang mengelola tata busana, tata panggung, tata lampu,
pembelajaran seni, peserta didik diha- dan properti. Selain itu, juga dipelajari
rapkan menguasai materi seni dan latar belakang budaya munculnya mu-
pengetahuan budaya yang melingkupi- sik, struktur sosial para pemain, dan ek-
nya. Menurut Lundquist (1991: 38), sistensi kehidupan musik tersebut. Hal
seorang pengamat budaya musik me- ini didasarkan bahwa fenomena musik
nyebutkan bahwa sebaiknya pembe- tidak terlepas dari konteks sosial buda-
lajaran musik di lembaga pendidikan yanya. Jika seorang peserta didik bela-
tinggi, khususnya jalur keguruan di- jar materi tari atau musik Sumatra, oto-
lengkapi dengan keterampilan musik matis ia juga belajar budaya Sumatra.
dari berbagai budaya, ditambah pula Hal ini merupakan pemikiran khusus
dengan pengetahuan untuk mengapli- yang juga mendukung perspektif mul-
kasikan berbagai musik dalam praktik tikultural dalam pendidikan musik. Di
pendidikan musik. antaranya pemikiran yang berdasarkan
Dalam hal ini, lembaga-lembaga peran musik di dalam masyarakat di
pendidikan seni di Indonesia mengajar- mana peserta didik belajar budaya
kan materi seni multikultural. Sebagai musik juga merupakan cara memahami
contoh, Jurusan Seni di berbagai LPTK masyarakat tempat asal musik tersebut
di Indonesia mengajarkan materi seni, (Fung, 1995:36). Jadi, peserta didik yang
terdiri dari ketrampilan seni dan pe- belajar materi seni berarti juga belajar
ngetahuan sosial-budaya yang meling- budaya dan masyarakat pendukung
kupi materi seni. Jenis materi seni yang seni tersebut, meskipun yang dipelajari
diajarkan meliputi: (1) materi seni yang bukan suatu kebudayaan yang menjadi
berasal dari daerah sendiri; (2) seni miliknya. Di sinilah jelas bahwa belajar
daerah lain; dan (3) seni mancanegara. berbagai macam seni sama dengan be-
Proses mempelajari seni milik sendiri lajar multikulturalisme.
dengan seni milik etnis yang berbeda Ilustrasi lain pembelajaran seni
sebagai proses pembelajaran seni men- yang mengandung pendidikan multi-
jadi basis pendidikan multikulturlisme. kulturalisme di antaranya proses pem-
Sebagaimana dinyatakan Schwadron belajaran Iringan Tari Jawa atau disebut
(1975:105), pendidikan seni musik mul- Seni Karawitan Jawa, yang diseleng-

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
169

garakan oleh Jurusan Seni Tari Univer- karawitan, mereka juga mendapat nilai-
sitas Negeri Yogyakarta. Proses pembe- nilai Kejawaan seperti kepekaan gamel-
lajaran Seni Karawitan Jawa dilaksana- an yang bisanya berdampak pada etika
kan secara bersama-sama karena ber- budaya Jawa. Pendek kata sistem pem-
bentuk orkestra yang melibatkan pu- belajaran Seni Karawitan Jawa juga me-
luhan orang. Artinya, tidak dapat dilak- muat transfer of knowledge, transfer of
sanakan secara sendirian atau oleh satu skill, dan transfer of value. Hal ini sering
orang saja. Hal ini dilaksanakan mulai diakui oleh para mahasiswa yang ber-
dari latihan sampai pementasan atau asal dari Sumatra, yang mengatakan
ujian. Di dalam kelas seni karawitan, merasa nJawani (berkebudayaan Jawa).
dosen bersama para mahasiswa mem- Jika diselami proses nJawani merupakan
baur menjadi satu untuk berdiskusi, proses pembentukan insan multikultu-
transaksi kultural, menabuh gamelan ralis. Selain itu, yang terpenting dari
bersama-sama, dan memasukkan nilai- proses belajar mengajar ini, para maha-
nilai kejawaan (kejawen). Para peserta siswa merasa bertambah humanis kare-
didik terdiri dari para mahasiswa yang na bagaimanapun mereka dituntut un-
tidak hanya berasal dari Jawa saja, akan tuk saling kerjasama antar teman dalam
tetapi juga berasal luar Jawa, seperti mempelajari praktek seni karawitan Ja-
Madura, Bali, Sunda, Minang, Riau, Ba- wa, dan tidak dapat dilakukan sendiri-
tak, Sumatra Selatan, Bugis, dan Dayak. an. Contoh kongkrit, jika mereka akan
Dengan demikian mereka banyak ber- mengikuti ujian, sebelumnya harus me-
asal dari latar belakang daerah dan bu- lakukan latihan bersama-sama, tidak
daya yang berbeda. Dengan keragaman sendirian. Yang berarti mereka dituntut
tersebut semestinya memancing konflik untuk belajar tolong-menolong. Meski-
sosial karena mereka yang berasal dari pun yang ujian hanya satu orang (kare-
luar Jawa “dipaksa” belajar kebudaya- na waktu ujian, ia absen), ia harus me-
an Jawa. Kenyataannya, selama ini ti- minta bantuan kepada temanya. Demi-
dak pernah terjadi konflik, apalagi sam- kian pula temannya harus ikhlas untuk
pai terjadi kekerasan fisik. Bahkan se- membantunya. Proses pembelajaran Se-
baliknya, para mahasiswa itu merasa ni Karawitan Jawa jelas menampakkan
senang hati. Kemungkinan perasaan sebagai pendidikan karakter yang perlu
senang itu membawa mereka sedikit dikembangkan. Tampaknya, pembela-
demi sedikit memahami perbedaan jaran seni mampu menelorkan ilmu
karena bagaimanapun mereka sadar pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai
bahwa perbedaan itu harus dipelajari akhlak, dan sebagainya sehingga
melalui mata kuliah Seni Karawitan kesemuannya itu bermuara pada pe-
Jawa. Menyadari akan pentingnya be- ningkatan kecerdasan majemuk (multi-
lajar Seni Karawitan Jawa, mereka ter- ple intelligences).
lihat sinergis dalam mengembangkan Lembaga pendidikan memiliki tu-
kerjasama antar teman untuk mendapat gas mempersiapkan terbentuknya indi-
materi pembelajaran. Hasilnya, di sam- vidu-individu yang cerdas dan berakh-
ping mampu menguasai praktek seni lak mulia. Terbentuknya dua kriteria ini

Pendidikan Seni sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis


170

memungkinkan terwujudnya kehidup- tor, antara lain etnosentrisme (mende-


an sosial yang ideal, yang diwarnai se- wakan sukubangsanya sendiri), radika-
mangat mengembangkan potensi diri lisme agama, dan fantisme politik yang
dan memanfaatkannya untuk mencapai sering berujung pada persoalan konflik
kebahagiaan lahir dan batin serta kese- kekerasan. Konflik yang terjadi dalam
lamatan dunia akherat (Zuchdi, 2008: suatu masyarakat sesunguhnya tidak
141). Dengan kata lain lembaga pendi- hanya dipicu oleh persoalan etnosen-
dikan dalam konteks tulisan ini diha- trisme, radikalisme agama, dan fanatic-
rapkan dapat menghasilkan terbentuk- me politik saja. Sekiranya masih banyak
nya manusia yang multikulturalis dan aspek-aspek lain yang saling bersentuh-
humanis. Dalam hal ini pembelajaran an satu-sama lain. Akumulasi aspek-
seni dapat dipandang sebagai proses aspek itu sampai mendekati titik pun-
pembentukan multikulturalisme yang cak sehingga sering memunculkan peri-
bermuara pada aspek kecerdasan dan laku destruktif.
humanisasi yang bermuara pada aspek Untuk mengantisipasi persoalan
akhlak mulia. multukulturalisme yang tampaknya
DalamUndang-Undang Sisdiknas hingga sekarang masih menjadi wacana
2003 Pasal 3 juga diungkapkan bahwa persoalan bangsa dan belum ditemukan
pendidikan nasional berfungsi untuk obat penawarnya, sekiranya kita patut
mengembangkan kemampuan dan untuk mengadukan persoalan tersebut
membentuk watak serta peradaban pada dunia pendidikan. Di pundak
bangsa yang bermartabat. Tujuannya pendidikan, kita berharap generasi
adalah untuk mengembangkan potensi mendatang dapat menangkal persoalan
anak didik agar menjadi manusia yang serta mampu mengelola perbedaan
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, menjadi peluang kekayaan yang meng-
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, arah pada terciptanya sebuah bangsa
dan menjadi warga negara yang de- yang lebih beradab untuk membangun
mokratis. Dengan demikian, pendidikan multikulturalisme di Indonesia. Dalam
seni yang ditawarkan di atas layak di- hubungan ini, pendidikan karakter men-
angkat sebagai basik pendidikan ka- jadi tumpuan utama.
rakter untuk membawa anak didik Sikap multikulturalis anak didik
menjadi manusia yang tidak hanya akan terbangun jika benar-benar meng-
multikulturalis, tetap tujuan jangka imlementasikan pendidikan karakter.
panjangnya berujung pada watak ma- Hal ini penting untuk dikedepankan
nusia yang humanis. mengingat pendidikan karakter yang
dianggap dapat meubah watak bangsa
PENUTUP sekarang masih dalam zona wacana
Dapat dipahami bersama bahwa pendidikan, atau tidak akan cukup
bangsa yang tidak mampu mengede- efektif apabila hanya berhenti di atas
pankan aspek multikulturalisme seba- kertas, tanpa dukungan realitas pen-
gai peluang untuk kemajuan bangsa itu didikan dalam arti luas. Pendidikan ka-
disebabkan oleh bermacam-macam fak- rakter tidak akan dapat tertanam de-

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
171

ngan sendirinya, tanpa ada usaha sadar mukan Menjalin Kebersamaan. Ja-
menginternalisasikannya. Salah satu karta: Kompas.
yang ditawarkan untuk mendukung
pendidikan karakter melalui proses Dawam, Ainurrafiq. 2003. Emoh Sekolah.
pembelajaran yang dapat dipertang- Yogyakarta: Inspeal Ahimsa Kar-
gungjawabkan adalah pendidikan seni. ya Press.
Hal ini disebabkan, dalam pembelajar-
an seni banyak mempelajari aspek ke- Dewantara, Ki Hadjar. 2004. Pendidikan.
budayaan. Anak didik tidak hanya di- Kumpulan Karangan. Yogyakar-
tuntut mahir dalam praktik seni saja, ta: Taman Siswa.
akan tetapi yang lebih penting juga
mendalami nilai-nilai kemanusiaan, Fung, C. Victor. 1995. “Rationales for
karena dalam pendidikan seni di anta- Teaching World Musics”. Musical
ranya belajar mengolah perasaan. Tidak Education Journal 82 No. 1, pp. 36-
hanya perasaan estetis saja, tetapi juga 40.
perasaan yang menjalar ke dataran
etika, solidaritas, serta mementingkan Kartono, St. 2009. “Sekolah Kebang-
nilai persatuan (ukuwah) yang biasa saan, Sekolah Rakyat Pancasila .”
diwujudkan dalam konser bersama, Basis, Nomor 07-08 Tahun ke-58
entah itu seni tari, karawitan, musik, Juli-Agustus, pp. 41-45.
dan teater.
Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Ka-
UCAPAN TERIMA KASIH rakter: Strategi Mendidik Anak di
Pada kesempatan ini disampaikan Jaman Modern. Jakarta: PT Gra-
terima kasih kepada Romo Sudiarja de- sindo.
ngan tulisannya di majalah Basis berju-
dul “Dari Inisiasi Kebudayaan ke Multi- Lubis, Akhyar Yusuf. 2006. Dekonstruksi
kulturalisme.” (2009). Selain itu, juga ke- Epistemologi Modern. Jakarta: Pus-
pada Agus Rukyanto lewat tulisannya taka Indonesia Satu.
Pendidikan Karakter Membina Persahabat-
an (2009. Kedua buku ini memberi ins- Lundquist, Barbara. 1991. “Doctoral
pirasi terutama soal kajian multikul- Education of Multiethnic-Multi-
turalisme dan pendidikan karakter di cultural Music Teacher Educa-
Indonesia. tors”. Design for Arts in Education
92 No. 5, pp. 21-38.

DAFTAR PUSTAKA
Nagata, Yoshiyuki, dan Ramu Mani-
Abdullah. 2006. “Multikulturalisme”. vannan (ed.). 2002. Prospect and
Kompas. 16 Maret 2006. Retrospect of Alternative Education
in the Asia-Pacific Region. Tokyo:
Ali, Muhamad. 2003. Teologi Pluralis- NIER.
Multikultural: Menghargai Kemaje-
Pendidikan Seni sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis
172

Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi. Suparno, Paul. 2009. “Pendidikan Glo-
2008.PendidikanMultikultural: Kon- bal vs Pendidikan Lokal .” Basis,
sep dan Aplikasinya. Yogyakarta: Nomor 07-08 Tahun ke-58 Juli-
Ar-Ruzz Media. Agustus, pp. 46-50.

Rukyanto, Agus. 2009. Pendidikan Ka- Muhaimin, Yahya. 2010. “Jangan Abai-
rakter Membina Persahabatan. Yog- kan Pendidikan Karakter”. Suara
yakarta: Kanisius. Kampus, 21 Januari.

Schwadron, Abraham. 1975. “Compara- Zuchdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pen-


tive Music Aesthetics and Music didikan: Menemukan Kembali Pendi-
Education”. Journal of Aesthetic dikan Yang Manusiawi. Jakarta:
Education 9 No. 1, p. 105. Bumi Aksara.

Sudiarja, A. 2009. “Dari Inisiasi Kebu- Undang-undang RI No. 20 tahun 2003


dayaan ke Multikulturalisme.” tentang Sistem Pendidikan Na-
Basis, Nomor 07-08 Tahun ke-58 sional (Sisdiknas).
Juli-Agustus, pp. 5-11.

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY

Anda mungkin juga menyukai