Anda di halaman 1dari 16

Bilik ilmu

AKUMULASI HARA MINERAL DALAM SEL TUMBUHAN

A. Judul
Akumulasi Hara Mineral dalam Sel Tumbuhan
B. Tujuan

Menentukan ratio akumulasi ion klorin di dalam sel dengan klorin di dalam air kolam tempat
eceng gondok (Eichornia sp.) hidup.

C. Alat dan Bahan


a. Alat
Labu Erlenmeyer 250 mL
Buret
Mortar dan pestel
Kain kasa
Pipet dan corong
Gelas ukur
b. Bahan
Eceng gondok (Eichornia sp.)
Air kolam tempat eceng gondok (Eichornia sp.) hidup
Natrium klorida 0,05 N
Indikator Kalium kromat (K2CrO4) 5 %
Larutan AgNO3 0,02 N
Aquades

D. Dasar Teori

Akumulasi diartikan sebagai pengumpulan ; penimbunan, yang dalam hal ini percobaan
dilakukan untuk mngetahui perbandingan akumulasi unsur hara dan mineral pada sel
tumbuhan eceng gondok. Yang menajdi bahan percobaan adalah tanaman eceng gondok dan
air kolam tempat eceng gondok itu hidup.

A. Unsur Hara Mineral Yang Diperlukan Tumbuhan

Seperti manusia, tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman.
Berbeda dengan manusia yang menggunakan bahan organik, tanamana menggunakan
bahan anorganik unruk mendapatkan energi dan pertumbuhannya.

Dengan fotosintesis, tanaman mengumpulkan karbon yang ada di atmosfir yang kadarnya
sangat rendah, ditambah air yang diubah menjadi bahan organik oleh klorofil dengan
bantuan sinarmatahari. Unsur yang diserap untuk pertumbuhan dan metabolisme tanaman
dinamakan hara tanaman. Mekanisme perubahan unsur hara menjadi senyawa organik
atau energi disebut metabolsime.

Dengan menggunakan hara, tanaman dapat memenuhi siklus hidupnya. Fungsi hara
tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain dan apabila tidak terdapat suatu hara
tanaman, maka kegiatan metabolisme akan terganggu atau berhenti sama sekali.
Disamping itu umumnya tanaman yang kekurangan atau ketiadaan suatu unsur hara akan
menampakkan gejala pada suatu orrgan tertentu yang spesifik yang biasa disebut gejala
kekahatan.

Unsur hara yang diperlukan tanaman adalah Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O),
Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng
(Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl),
Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si).

Berdasarkan jumlah yang di perlukan tanaman, Unsur hara di bagi menjadi dua golongan,
yakni unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro dibutuhkan tanaman
dan terdapat dalam jumlah yang lebih besar, di bandingkan dengan unsur hara mikro.
Davidescu (1988) mengusulkan bahwa batas perbedaan unsur hara makro dan mikro
adalah 0,02 % dan bila kurang disebut unsur hara mikro. Ada juga unsur hara yang tidak
mempunyai fungsi pada tanaman, tetapi kadarnya cukup tinggi dalam tanaman dan
tanaman yang hidup pada suatu tanah tertentu selalu mengandung unsur hara tersebut
misalnya unsur hara Al (Almunium), Ni (Nikel) dan Fe (Besi).

B. Mekanisme Penyediaan Unsur Hara

Penyediaan unsur hara untuk tanaman terdiri dari tiga kategori, yaitu: (1) tersedia dari
udara, (2) tersedia dari air yang diserap akar tanaman, dan (3) tersedia dari tanah.
Beberapa unsur hara yang tersedia dalam jumlah cukup dari udara adalah: (a) Karbon
(C), dan (b) Oksigen (O), yaitu dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Unsur hara yang
tersedia dari air (H2O) yang diserap adalah: hidrogen (H), karena oksigen dari molekul
air mengalami proses oksidasi dan dibebaskan ke udara oleh tanaman dalam bentuk
molekul oksigen (O2). Sedangkan untuk unsur hara essensial lain yang diperlukan
tanaman tersedia dari dalam tanah.

Mekanisme penyediaan unsur hara dalam tanah melalui tiga mekanisme, yaitu:
1. Aliran Massa (Mass Flow)

Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam tanah
menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan gerakan massa air.

2. Difusi

Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi unsur
hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara secara difusi.

3. Intersepsi Akar

akar tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan akar tersebut.
Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi
dimana unsur hara berada, baik unsur hara yang berada dalam larutan tanah,
permukaan koloid liat dan permukaan koloid organik.

Tanaman membutuhkan Dua Unsur Hara yaitu :


Unsur Hara Makro dan Mikro. Unsur Hara makro maupun mikro walaupun berbeda
dalam jumlah kebutuhanya,namun dalam fungsi pada tanaman,masing-masing unsur
sama pentingnya dan tidak bisa digantikan satu sama lain.

Dalam hal ini unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus sendiri-sendiri terhadap
proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman,sehingga ketika terjadi kekurangan
salah satu dari unsur hara tersebut maka akan mengakibatkan tidak optimalnya
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada Unsur Hara yang dibutuhkan tanaman
dalam jumlah besar(unsur Makro,yaitu N,P,K,Ca,S dan Mg)dan (Unsur
Mikro,yaitu;Fe,Cu,Zn,Mn,B,Na,Cl)yang masing-masing mempunyai peranan sendiri-
sendiri.

Unsur Hara yang Diserap dari Udara

Unsur hara yang di serap dari udara adalah C, O, dan S, yaitu berasal dari CO 2, O2, dan
SO2, Penyerapan N baik dari udara maupun dari tanah diasimilasikan dalam proses
reduksi dan aminasi. Nitrogen (N) udara diserap dari N 2 bebas lewat bakteri bintil akar
dan NH3 di serap lewat stomata tanaman.

Unsur Hara yang Diserap dari Tanah

Penyerapan unsur hara dilakukan oleh akar tanaman dan diambil dari kompleks jerapan
tanah ataupun dari larutan tanah berupa kation dan anion. Adapula yang dapat diserap
dalam bentuk khelat yaitu ikatan kation logam dengan senyawa organik. Dewasa ini
kebanyakan unsur hara mikro diberikan lewat daun.

C. Ion Klorin

Manfaat klorin bagi tanaman

Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Cl-

Fungsi unsur hara ion Khlor (Cl-) bagi tanaman ialah:


a. Memperbaiki dan meninggikan hasil kering dari tanaman seperti: tembakau, kapas,
kentang dan tanaman sayuran.

b. Banyak ditemukan dalam air sel semua bagian tanaman.

c. Banyak terdapat pada tanaman yang mengandung serat seperti kapas, sisal

D. Eceng gondok

Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah.
Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan
berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun
menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk
bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk
bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya
merupakan akar serabut.

Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang
lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir
perubahan yang ektrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan
nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang
cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi.

Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini
dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok
dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Cara perhitungan akumulasi Cl- dalam tanaman eceng gondok yang tumbuh di kolam ikan

1. Perhitungan titrasi ekstrak 4 helai daun eceng gondok

V1N1= V(AgNO3) .N (AgNO3)

25 ml.N1=(1,9).(0,02)
N1= 0,00152

2. Perhitungan titrasi air kolam

V1N1= V(AgNO3) .N (AgNO3)

25 ml.N1=(0,3).(0,02)

N1= 0,00024

3. Rata-rata akumulasi

[Cl-] jaringan

[Cl-] kolam

= 0,00152 :0,00024

= 6:1

A. Pembahasan

Dari hasil percobaan terhadap beberapa tumbuhan air seperti kayambang, teratai, dan eceng
gondok ternyata Cl- di dalam jaringan lebih besar dari Cl- di lingkungan. Hal ini
membuktikan adanya akumulasi ion klorin di dalam jaringan tumbuhan air yang di dapatkan
dari lingkungan sehingga Cl- di dalam jaringan lebih besar dibandingkan yang di lingkungan.

Beberapa kelompok yang melakukan percobaan memiliki kecenderungan data perbandingan


akumulasi jaringan terhadap unsur hara di lingkungan dengan data yang sama yaitu 6:1.
Sampel di ambil dari kolam ikan yang berbeda. Namun angka ini tidak dapat dijadikan
patokan atau tolak ukur. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan akumulasi ion klor oleh
eceng gondok dengan perbandingan seperti itu, namun beberapa kelompok menemukan hasil
yang berbeda. Hal ini mungkin disebabkan karena lingkungan yang berbeda, prosedur yang
tidak sama persis, morfologi( bagian organ yang diambil), fisiologi tumbuhan yang berbeda,
usia (semakin tua semakin banyak akumulasinya), kesegaran (semakin segar semakin banyak
kandungan unsur haranya).

KESIMPULAN

Tumbuhan melakukan penyerapan terhadap unsur-unsur hara dari lingkungan sekitarnya. Pada
umumnya kandungan unsur hara pada bagian tumbuhan lebih besar dibandingkan unsur hara
yang ada di lingkungan. Hal ini membuktikan adanya akumulasi unsur hara di dalam tubuh
tumbuhan.

Dalam percobaan yang dilakukan, tanaman yang di uji adalah tanaman air, yaitu eceng gondok,
teratai, dan kiambang. Beberapa kelompok melakukan percobaan terhadap eceng gondok.
Hasilnya membuktikan adanya akumulasi unsur hara berupa Cl - terhadap organ tumbuhan
tersebut. Dari beberapa kelompok didapatkan kecenderungan Cl- yang terdapat pada tumbuhan
lebih banyak dibandingkan di lingkungan, dari hasil percobaan beberapa kelompok,
perbandingan rata-rata akumulasi ekstrak tumbuhan dibandingkan dengan unsur hara yang
terdapat di lingkungan adalah 6:1. Namun hal ini tidak dapat dijadikan dasar dalam menentukan
angka akumulasi. Hal-hal yang ikut menentukan adalah usia organ yang di uji, kesegaran,
prosedur pengerjaan, dan kandungan unsur hara yang terdapat pada lingkungan.

laporan praktikum fistum


A. JUDUL PRAKTIKUM

PERISTIWA IMBIBISI PADA BIJI

B. TUJUAN

Memahami pengaruh temperatur dan potensi osmosis larutan yang diimbibisi terhadap peristiwa
imbibisi yang terjadi pada biji tumbuhan.

C. DASAR TEORI
Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap
untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat
mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi
digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk
mengatasi dormansi embrio.

PENYEBAB TERJADINYA DORMANSI

Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :


* Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air.
* Proses respirasi tertekan / terhambat.
* Rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan.
* Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan.
Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada
pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman
induknya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan
keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.

Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu :
* Innate dormansi (dormansi primer)
* Induced dormansi (dormansi sekunder)
* Enforced dormansi

Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :


* Dormansi Fisik, dan
* Dormansi Fisiologis
Dormansi Fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji,
seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap
masuknya air atau gas-gas ke dalam biji. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-
macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.

a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi


§ Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan
lingkungan yang tidak menguntungkan
§ Imnate dormancy (rest): dormancy yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam
organ-organ biji itu sendiri.
b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji
1. Mekanisme fisik
Beberapa penyebab dormansi fisik adalah :

Impermeabilitas kulit biji terhadap air


Benih-benih yang termasuk dalam tipe dormansi ini disebut sebagai "Benih keras"
karena mempunyai kulit biji yang keras dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa
palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar, dan bagian dalamnya
mempunyai lapisan lilin dan bahan kutikula.

Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio


Disini kulit biji cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit biji
dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera.

Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas


Pada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka atau jika tekanan
oksigen di sekitar benih ditambah. Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya
disebabkan oleh organ biji itu sendiri; terbagi menjadi:

- mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik

- fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel

- kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia penghambat

2. Mekanisme fisiologis
Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis;
terbagi menjadi:
- photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
- immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang
tidak/belum matang
- thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu
c. Berdasarkan bentuk dormansi
1. Kulit biji impermeabel terhadap air/O2
Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi
(misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan.
Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji,
raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji.
Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat
dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.
Embrio belum masak (immature embryo)
Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum
menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo)
Embrio belum terdiferensiasi
Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu untuk
mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
Dormansi karena immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur
rendah dan zat kimia. Biji membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripening) dalam
penyimpanan kering Dormansi karena kebutuhan akan afterripening ini dapat dipatahkan
dengan perlakuan temperatur tinggi dan pengupasan kulit.
2. Biji membutuhkan suhu rendah
Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae.
Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur,
melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya.
Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan
pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi.

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:


- jika kulit dikupas, embrio tumbuh
- embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
- embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih
membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
- perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumbuh kerdil
- akar keluar pada musim semi, namun epicotyl baru keluar pada musim semi
berikutnya (setelah melampaui satu musim dingin)
3. Biji bersifat light sensitive
Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas
(kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang
hari).
4. Kuantitas cahaya
Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji
yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran
intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada
biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya).
Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk
jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini
disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi
photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan
temperatur rendah.
5. Kualitas cahaya
Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum
(red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat
perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic
(sama sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian
dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2
pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif):

§ P650 : mengabsorbir di daerah merah

§ P730 : mengabsorbir di daerah infra merah


Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730.
P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya
perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka
pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan.

6. Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperatur:


- Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap
- Pemberian temperatur 20-300C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
- Pemberian temperatur >350C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau
terang
Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang
diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan
oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin.

7. Dormansi karena zat penghambat


Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses
metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang
menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian
proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir
adalah soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan
karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat
penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.

8. Teknik Pematahan Dormansi Biji


Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan
tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses
perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi
kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio.
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih,
yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya
perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian
perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan
dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.
Imbibisi merupakan suatu proses penyerapan air oleh imbiban. Salah satu contohnya
adalah penyerapan air oleh benih. Pada mulanya benih akan membesar kemudian kulit
benih pecah dan selanjutnya terjadiah proses perkecambahan yang ditandai oleh
keluarnya radikula dari dalam benih.

Syarat imbibisi :
Perbedaan Ψ antara benih dengan larutan, dimana Ψ benih < Ψ larutan
Ada tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih
Benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks, bersifat hidrofil berupa
protein, pati, selulose
Benih kering memiliki Ψ sangat rendah
Hubungan antara Ψ dengan komponen penyusun: Ψ = Ψm + Ψ
Volume air yang diserap + volume biji mula-mula > volume biji setelah menyerap
air, sebagian air telah digunakan untuk menjalankan proses metabolism
Proses metabolime: aktivasi enzim, hidrolisis cadangan makanan, respirasi

Faktor yang mempengaruhi imbibisi :


Tekanan
Suhu
Kelembaban
pH
konsentrasi larutan
D. ALAT DAN BAHAN

1. Sembilan buah tabung reaksi

2. Penagas air yang bersuhu 400C dan 600C

3. Timbangan
4. Biji kacang hijau sebanyak 90 buah

5. Akuades, larutan sukrosa 0,5 M dan 1 M


Hasil pengamatan:
Suhu menambah kecepatan imbibisi, semakin tinggi suhunya semakin cepat proses
imbibisi terjadi. Konsentrasi yang tinggi memperlambat proses imbibisi, semakin tinggi
konsentrasi pelarut semakin lambat proses imbibisinya

Pertanyaan:

1. Berapa potensial osmosis dari masing masing larutan yang digunakan?

Aquades = 0

Sukrosa 0,5 M = -14,3

Sukrosa 1 M = -34,6
2. Pada larutan mana dan suhu berapa kecepatan imbibisi tertinggi dan terendah? jelaskan
mengapa demikian!

Kecepatan imbibisi yang tertinggi terjadi pada aquades dengan suhu 600C

Kecepatan imbibisi yang terendah terjadi pada sukrosa 1M dengan suhu 400C
Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu semakin cepat proses imbibisi terjadi,
sedangkan semakin tinggi konsentrasi semakin lambat proses imbibisi terjadi.
3. Bisakah anda megaplikasikan percobaan di atas pada kehidupan sehari-hari?kira-kira
kegiatan apa yang memerlukan pengetahuan ini!

Ada, misalnya pembuatan tauge dan bubur kacang.


Kegiatan ini memerlukan pengetahuan, misalnya dalam pembuatan tauge harus
direndam didalam air yang bersih tanpa terkontaminasi bahan apapun, sehingga
konsentrasi tetap terjaga.
Sedangkan di dalam pembuatan bubur kacang, kacang yang baru direbus tanpa gula
agar proses imbibisi berjalan cepat. Jika diberi gula maka proses imbibisi berjalan
lambat.
Pembahasan:
Faktor yang mempengaruhi proses imbibisi adalah tekanan, suhu, kelembaban,
pH, konsentrasi larutan.
Dalam percobaan ini terjadi proses imbibisi, proses imbibisi yang kecepatannya
paling tinggi terjadi pada aquades dengan suhu 60 0C, hal ini disebabkan karena suhu
mempengaruhi kecepatan imbibisi. Adanya penambahan konsentrasi glukosa
menghambat proses imbibisi. Hal ini terbukti pada larutan sukrosa 1 M dengan suhu
400C.
Pada tabung yang berisi larutan sukrosa 1 M dengan suhu 40 0C setelah direndam
di dalam penangas selama satu jam berat akhir lebih ringan dibandingkan berat
awalnya, sehingga kecepatan imbibisinya menjadi -34,2. Kondisi awal biji baik dan
tidak ada yang luka dan biji dalam kondisi teggelam pada saat dimasukkan kedalam
sukrosa 1 M. Hal ini dimungkinkan karena terjadinya plasmolisis disebabkan oleh
konsentrasi glukosa yang ada di luar biji lebih besar dibandingkan di dalam biji,
sehingga beratnya berkurang karena zat didalamnya keluar dari dinding sel.

KESIMPULAN

Faktor yang mempengaruhi proses imbibisi adalah tekanan, suhu, kelembaban, pH,
konsentrasi larutan.
Dalam percobaan ini terjadi proses imbibisi, proses imbibisi yang kecepatannya paling
tinggi terjadi pada aquades dengan suhu 600C, hal ini disebabkan karena suhu
mempengaruhi kecepatan imbibisi. Adanya penambahan konsentrasi glukosa
menghambat proses imbibisi. Hal ini terbukti pada larutan sukrosa 1 M dengan suhu
400C.
Pada tabung yang berisi larutan sukrosa 1 M dengan suhu 40 0C setelah direndam di
dalam penangas selama satu jam berat akhir lebih ringan dibandingkan berat awalnya,
sehingga kecepatan imbibisinya menjadi -34,2. Kondisi awal biji baik dan tidak ada yang
luka dan biji dalam kondisi teggelam pada saat dimasukkan kedalam sukrosa 1 M. Hal ini
dimungkinkan karena terjadinya plasmolisis disebabkan oleh konsentrasi glukosa yang
ada di luar biji lebih besar dibandingkan di dalam biji, sehingga beratnya berkurang
karena zat didalamnya keluar dari dinding sel.

Selasa, 02 Februari 2010


Diposkan oleh Si4lmi di 04:34

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Beranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut

Arsip Blog
 ▼  2010 (2)
o ▼  Februari (2)

Mengenai Saya
Si4lmi
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku
 

Anda mungkin juga menyukai