Anda di halaman 1dari 35

Tugas Psikologi Pendidikan

Exceptionalities: Addressing Students’


Unique Needs

Disusun oleh:
Ernestine Oktaviana 110911110
Grace S.M. 110911120
Anandita Kumala A. 110911123
Rizky Meidiansyah 110911158
Kelas C
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011

0
1

MENANGANI KEBUTUHAN UNIK SISWA

1. PERAN GURU
Guru dapat berperan dengan mengidentifikasikan murid-murid yang
berkebutuhan khusus lebih awal, jadi intervensi seperti konseling dan manajemen
perilaku bisa disediakan. Murid-murid dengan kebutuhan khusus membutuhkan
sistem pembelajaran yang dibentuk khusus untuk mereka. Dalam beberapa kasus,
mereka bahkan membutuhkan bantuan dari orang yang berkualifikasi. Guru juga
mungkin akan menemui beberapa pengecualian seperti murid yang memiliki
kelainan aneh dalam menulis dan membaca, contohnya; tidak bisa mengikuti
pembelajaran normal.
Misalkan, pada anak penderita diseleksia. Guru yang tidak mengerti
tentang diseleksia, akan menganggap anak itu adalah anak yang malas dan tidak
menuruti aturan, sehingga menimbulkan hukuman yang tidak seharusnya kepada
anak tersebut. Minimnya pengetahuan seperti itu, akan menyebabkan guru dan
orangtua merampas kesempatan belajar anak untuk menggali potensinya.
Padalah dalam kenyataannya, banyak orang jenius yang di masa kecilnya
mengalami diseleksia. Contoh; Alexander Graham Bell, Albert Einstein, Thomas
Edison, Leonardo Da Vinci, Walt Disney, dan Hans Christian Anderson
Bahkan orang dengan retardasi mental dan down syndrome sudah
membuktikan bahwa pertolongan di masa muda mampu membuat mereka aktif,
mandiri dan menikmati hidup yang menyenangkan layaknya orang normal.
2

2. PERDEBATAN MENGENAI INTELEGENSI; Singular


Trait or Multiple Dimension
Para peneliti mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk
memperoleh pengetahuan, kemampuan untuk berpikir dan berpendapat secara
abstrak, serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah (Sternberg,1986).
Peneliti yang terdahulu juga mempercayai bahwa intelegensi adalah sebuah
kesatuan karena skor dari beberapa ukuran intelegensi (seperti; kemampuan
verbal, kompetensi numerik dan kemampuan berpikir secara abstrak) memiliki
korelasi yang tinggi. Mereka berpendapat bahwa orang yang meraih skor tinggi,
mampu untuk sukses di semua bidang. Namun orang yang meraih skor rendah,
tidak akan sukses mengerjakan semua bidang.
a. Teori-teori Intelegensi
Kritik bermunculan mengkritisi pemikiran mangenai
intelegensi. Thurstone menyatakan bahwa intelegensi memiliki
dimensi ganda, tidak hanya satu seperti selama ini. Beberapa
peneliti kontemporer (Struktur Intelegensi Guilford, Teori
Intelegensi Ganda Gardner dan Triarchic Theory of Intelligence
dari Sternberg) mendukung keberadaan dari kecerdasan ganda.
Berikut adalah teori-teori intelejensi yang dikemukakan
sebagai kritik terhadap sistem penilaian intelegensi.
i. Struktur Intelegensi Guilford
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard
Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat
dilihat dan tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu
sebagai berikut:
3

Operasi Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan


Mental/Proses menemukan informasi yang baru)
Berpikir Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari)
Memory recording (ingatan pada saat tertentu)
Divergent production (berpikir melebar = banyak
kemungkinan jawaban)
Convergent production (berpikir memusat = hanya satu
jawaban/alternatif)
Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu
itu baik, akurat, atau memadai)
Konten/Isi dalam Visual (bentuk kongkret atau gambaran)
Pikiran Word meaning (semantik)
Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata,
angka dan not musik)
Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui
penginderaan, ekspresi muka atau suara)
Produk/Hasil Unit (item tunggal informasi)
Berpikir Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang
sama)
Relasi (keterkaitan antarinformasi)
Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan)
Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi
informasi)
Implikasi (informasi yang merupakan saran dan
informasi item lain)

ii. Teori Multiple Inteligence Gardner


Seperti Guilford, Gardner juga percaya bahwa definisi
intelegensi terlalu sempit dan seharusnya juga melibatkan
4

aspek diluar sekolah. Dia berpendapat bahwa ada


kecerdasan ganda dan dia terdapat 8 jenis kepribadian.
Kecerdasan Kemampuan berbahasa, bahasa ibu maupun bahasa
linguistik asing untuk mengekspresikan pemikiran kita ataupun
untuk mengerti pembicaraan orang lain. Biasanya
penyair memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi.
Kecerdasan logika- Seseorang dengan kecerdasan matematika yang tinggi
matematika mengerti akan prinsip-prinsip sebab-akibat, bisa
memanipulasi angka, jumlah dan operasi pengerjaannya
seperti matematikawan.
Kecerdasan spasial Kemampuan membayangkan dunia spasial, seperti
pelaut atau pilot yang bisa mengarahkan kapal/pesawat
di lahan spasial yang luarbiasa luas. Kecerdasan spasial
dapat dipraktekkan dalam kegiatan ilmiah ataupun seni.
Jika kita memiliki kecerdasan spasial dan cenderung
berminat kepada seni, biasanya kita bisa menjadi
pelukis, pemahat, arsitek bahkan pemusik.
Kecerdasan Kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh atau
kinestetik tubuh beberapa bagian dari tubuh untuk menyelesaikan
masalah, atau membuat sesuatu. Biasanya yang
memiliki kecerdasan kinestetik tubuh adalah atlet, tapi
jika cenderung pada bidang seni biasanya adalah artis
atau penari.
Kecerdasan Kemampuan untuk berpikir dalam musik. Bisa
musikal medengar pola, mengenali, dan mengingat atau mingkin
bisa juga memanipulasi mereka. Orang yang memiliki
kecerdasan musik bukannya bisa mengingat musik
dengan begitu saja, namun musik itu tidak bisa lepas
dari benak mereka, seperti hadir dimana saja. Bisa saja
kita berkata “Musik memang penting, tapi musik adalah
5

bakat, bukan kecerdasan!” tapi di saat kita melupakan


sejenak apa arti kecerdasan, kita bisa mengatakan bahwa
Mozart dan Beethoven benar-benar cerdas.
Kecerdasan Kemampuan mengerti orang lain. Kemampuan yang
Interpersonal dibutuhkan semua orang, apalagi jika kita adalah guru,
sales, dan politisi. Semua orang yang sering
berhubungan dengan orang lain, harus benar-benar
terlatih dalam kecerdasan ini.
Kecerdasan Kemampuan untuk mengerti diri sendiri, siapa dirimu,
Intrapersonal apa yang ingin kau lakukan, bagaimana kau bereaksi
terhadap sesuatu, dll. Digambarkan sebagai orang yang
memiliki kesadaran yang baik tentang diri mereka,
karena orang-orang yang memiliki kecerdasan ini
cenderung stabil. Mereka tahu apa yang bisa dan tidak
bisa mereka lakukan. Dan mereka tahu kemana mereka
harus pergi jika mereka membutuhkan bantuan.
Kecerdasan Kemampuan untuk membedakan sesuatu. Contohnya
Naturalis seperti kemampuan membedakan jenis-jenis tanaman
(Botanis), membedakan jenis-jenis bahan makanan
(chef), jenis-jenis make-up, jenis-jenis awan ataupun
konfigurasi bebatuan.

Gardner menyusun beberapa asumsi penting yang


berhubungan tentang 8 sub kecerdasan ganda miliknya;
– Gardner percaya bahwa sebagian besar dari kita
mampu mengembangkan kecerdasan ganda
dikarenakan lingkungan. Dia berpendapat
bahwa kecerdasan ganda yang kita miliki adalah
kombinasi dari turunan genetik dan pengaruh
lingkungan.
6

– Gardner percaya bahwa kita semua memiliki ke-


delapan kecerdasan tersebut, hanya saja
kekuatannya yang berbeda. Sebagian dari kita
mungkin kuat di 2 sub kecerdasan, namun agak
lemah di beberapa sub lainnya. Dan dalam kasus
yang sangat jarang, ada orang yang kuat di 5-6
atau bahkan di semua sub kecerdasan.
– Gardner menyimpulkan bahwa ada banyak cara
untuk mendemonstrasikan kemampuan dalam 1
kecerdasan. Contohnya; mungkin ada orang
yang mampu dan terlatih dalam menceritakan
sebuah cerita, namun kurang mampu melakukan
tugas yang berkaitan dengan membaca (kedua
aspek „membaca dan menceritakan‟ masuk
dalam sub-kecerdasan linguistik)
– Gardner menyatakan bahwa kecerdasan ganda
mungkin terlihat mudah jika diatas kertas atau
hanya dijelaskan, namun kecerdasan ganda
memiliki cara kerja yang kompleks jika sudah
masuk dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya
“memasak”, banyak kecerdasan yang terlibat.
Orang itu harus mampu membaca yang
menganalisa resep (linguistik), mengerti
matematika dasar untuk memasukkan bahan
yang dibutuhkan (logika-matematika), bisa
menyiapkan makanan yang terlihat menarik bagi
orang lain (interpersonal), namun juga mampu
mengetahui kecenderungan „suka‟ atau ‟tidak‟
(intrapersonal).
7

iii. Teori Triarki Intelegensi Sternberg


Sternberg menemukakan teori 3 bagian. Sternberg
mengidentifikasikan 3 macam kecerdasan, yaitu
Componential (proses berpikir yang mendasari tingkah
laku), Experiential (kemampuan untuk mengatasi masalah
baru) dan Contextual (kemampuan seseorang untuk
beradaptasi dalam situasi). Tidak seperti peneliti lainnya
yang menekankan tentang isi dan susunan kecerdasan,
Sternberg berfokus pada kemampuan tiap orang dalam
mengumpulkan dan menggunakan informasi. Bagi
Sternberg, kecerdasan adalah produk (hasil) dari berpikir
untuk mengatasi masalah-masalah baru secara kreatif demi
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Proses mental terdiri atas tiga bagian:
1) Meta Component
Proses ini melibatkan pengidentifikasian masalah,
perencanaan, menentukan tujuan dan memantau
kegiatan. Contoh: dalam penulisan sebuah makalah,
Meta component bertindak sebagai penentu topik,
perencanaan pengerjaan dan mengevaluasi proses
pengerjaan.
2) Performance Components: proses pengerjaan.
3) Knowledge—Acquisition Components
Proses memperoleh pengetahuan baru, seperti:
mengkombinasikan teori yang dipakai dengan fakta
yang tersedia.
b. Asesmen Intelegensi
Asesmen integensi juga merupakan hal yang penting untuk
setidaknya dimengerti oleh para guru, apalagi banyak penjelasan
dan kategori tentang „anak berkebutuhan khusus‟ yang terkait
dengan tes-tes yang akan disebutkan setelah ini.
8

i. Standford-Binet dan IQ
Tes ini disusun oleh Alferd Binet pada awal atahun
1900. Pada awalnya, tes ini digunakan untuk
mengelompokkan anak-anak dalam tiap-tiap tingkatan.
Contohnya; misalnya ada seorang anak yang mampu
mengerjakan tugas yang ditujukan pada anak berusia 9
tahun, maka dia akan dikelompokkan ke dalam kelompok
yang memiliki mental age 9 tahun.
Namun setelah tes ini diterjemahkan oleh Lewis
Terman, IQ menjadi salah satu hasil revisinya. Dengan
rumus yang cukup mudah, dengan membagi mental age
dengan chronological age yang kemudian dikalikan 100,
maka akan didapatkanlah skor IQ.
ii. Skala Wechsler
Skala Wechsler bisa dikatakan sebagai skala yang
paling populer sekarang. Tes ini memiliki 3 versi, yaitu;
untuk preschool, sekolah dasar dan dewasa.
Tes ini terdiri atas 2 bagian, verbal dan
performance. Tes verbal terdiri atas tes yang dilakukan
dengan cara Tanya jawab secara langsung. Sedangkan
performance terdiri atas serangkaian tes yang dinilai dari
respon motoriknya.
iii. Menginterpretasikan Skor Tes IQ
Di dalam Wechsler tes, skor rata-rata adalah 100.
Biasanya 50 persen mendapat nilai diatas 100, dan 50
persen sisanya ada di bawah 100. Sekitar 68 persen
populasi biasanya terletak di skor 85 dan 115. Hanya 16
persen yang ada di bawah 85 dan 16 persen sisanya
memiliki skor di atas 115.
Korelasi antara skor dari tes Wechsler dan
pencapaian di sekolah telah dilaporkan memiliki korelasi
9

yang kuat. IQ selalu dikaitkan dengan kesuksesan yang


akan didapat anak itu setelah dewasa.
Seperti yang bisa kita lihat, kecerdasan dan tes
kecerdasan memainkan peran yang besar dalam
menentukan kebutuhan anak, termasuk retardasi mental,
giftedness, dan ketidakmampuan belajar yang khusus.

3. RETARDASI MENTAL
a. Pengertian Retardasi Mental
Terdapat beberapa pengertian retardasi Mental
i. Menurut AAMR (American Association on Mental
Retardation)
Kelemahan/ketidakmampuan kognitif yang muncul pada
masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai
dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70 – 75
atau kurang ), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya
dua area berikut:
– berbicara dan berbahasa
– ketrampilan merawat diri
– ketrampilan sosial
– penggunaan sarana masyarakat
– kesehatan dan keamanan
– akademik fungsional
– bekerja dan rileks
ii. Menurut WHO
Kemampuan mental yang tidak mencukupi
iii. Menurut DSM
Suatu keadaan yang di tandai dengan fungsi intelektual
berada di bawah normal, timbul pada masa
perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya
proses belajar dan adaptasi sosial.
10

b. Asesmen Retardasi Mental


Pengujian untuk mengetahui adanya retardasi mental dapat
dilakukan melalui asesmen.
i. Uji intelegensi standar
1) Stanford-Binet,
2) Weschler Scale,
3) Bayley Scales of Infant Development
ii. Uji perkembangan, misalnya Denver II
iii. Pengukuran fungsi adaptif
1) Vineland Adaptive Behavior Scales
2) Woodcock-Johnson Scales of Independent Behavior
3) School Edition of the Adaptive Behavior Scales.
c. Klasifikasi Retardasi Mental menurut DSM-IV-TR
i. Retardasi mental berat sekali.
IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang
yang terkena retardasi mental.
ii. Retardasi mental berat.
IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang
yang terkena retardasi mental.
iii. Retardasi mental sedang.
IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang
yang terkena retardasi mental.
iv. Retardasi mental ringan.
IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang
terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan
retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut
menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah
11

d. Standarisasi Retardasi Mental berdasarkan Skor Tes


Intelegensi
Retardasi mental menurut American Psychiatric Association, 1994
dibagi menjadi:
i. Retardasi mental ringan: tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira
70.
ii. Retardasi mental sedang: tingkat IQ 35–40 sampai 50–55.
iii. Retardasi mental berat: tingkat IQ 20–25 sampai 35–40.
iv. Retardasi mental yang amat sangat berat: tingkat IQ di
bawah 20-25.
v. Retardasi mental dengan keparahan yang tidak disebutkan:
jika terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi
intelligence orang tersebut tidak dapat diuji dengan tes
standart.
e. Penyebab Retardasi Mental
i. Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
1) Penyebab Organik
a) Akibat infeksi dan/atau intoksikasi.
Dalam Kelompok ini termasuk keadaan
retardasi mental karena kerusakan jaringan
otak akibat infeksi intrakranial, karena
serum, obat atau zat toksik lainnya.
b) Akibat rudapaksa dan atau sebab fisik lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma
lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan
usaha melakukan abortus dapat
mengakibatkan kelainan dengan retardasi
mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak
begitu sering mengakibatkan retardasi
mental.
12

c) Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan


atau gizi.
Semua retardasi mental yang langsung
disebabkan oleh gangguan metabolisme
(misalnya gangguan metabolime lemak,
karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau
gizi termasuk dalam kelompok ini. Ternyata
gangguan gizi yang berat dan yang
berlangsung lama sebelum umur 4 tahun
sangat memepengaruhi perkembangan otak
dan dapat mengakibatkan retardasi mental.
Keadaan dapat diperbaiki dengan
memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun,
sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan
makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu
sudah sukar ditingkatkan.
d) Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal).
Dalam kelompok ini termasuk retardasi
mental akibat neoplasma (tidak termasuk
pertumbuhan sekunder karena rudapaksa
atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel
optak yang nyata, tetapi yang belum
diketahui betul etiologinya (diduga
herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat
bersifat degeneratif, infiltratif, radang,
proliferatif, sklerotik atau reparatif.
e) Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang
tidak jelas.
Keadaan ini diketahui sudah ada sejak
sebelum lahir, tetapi tidak diketahui
etiologinya, termasuk anomali kranial
13

primer dan defek kogenital yang tidak


diketahui sebabnya.
f) Akibat kelainan kromosom.
Kelainan kromosom mungkin terdapat
dalam jumlah atau dalam bentuknya.
g) Akibat prematuritas.
Kelompok ini termasuk retardasi mental
yang berhubungan dengan keadaan bayi
pada waktu lahir berat badannya kurang dari
2500 gram dan/atau dengan masa hamil
kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat
sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori
sebelum ini.
h) Akibat gangguan jiwa yang berat.
Untuk membuat diagnosa ini harus jelas
telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu
dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.
i) Akibat deprivasi psikososial.
Retardasi mental dapat disebabkan oleh
fakor-faktor biomedik maupun sosiobudaya.
2) Penyebab Anorganik
a) Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis.
b) Sosial kultural.
c) Kurangnya interaksi anak.
d) Penelantaran anak.
f. Implikasi bagi Guru Pengajar
Dalam retardasi mental, anak-anak memiliki masalah dalam
berkonsentrasi dalam suatu hal, kesulitan menghafal,
ketidakmampuan mengatur regulasi diri, keterbatasan bahasa,
memiliki masalah social dan tertinggal dalam pelajaran.
14

i. Skema Klasifikasi AAMR (American Association on


Mental Retardation) mengenai Retardasi Mental
berdasarkan Tingkat Kebutuhan Bantuan
Dikarenakan adanya perbedaan kebutuhan,
disusunlah skema Retardasi mental oleh AAMR berdasar
pada kebutuhan support.
Intermittent Support yang dibutuhkan adalah „kebutuhan dasar‟. Tidak
selalu membutuhkan bantuan, namun bantuan sangat
dibutuhkan pada saat masa transisi.
Limited Support harus dilakukan dengan konsisten dan dalam jangka
waktu yang lama, tidak bisa dilepas seperti level
intermittent, namun menghabiskan lebih sedikit biaya dan
penjagaan dibanding level dibawahnya.
Extensive Support yang dibutuhkan merupakan bantuan yang harus
didapatkan secara regular, hampir di semua tempat (seperti
sekolah dan rumah). Dan dilakukan dalam jangka waktu
yang lama (long term living support)
Pervasive Support yang dibutuhkan memiliki intensitas yang tinggi,
kestabilan dan diberikan kapanpun-dimanapun; mungkin
sampai seumur hidup. Melibatkan banyak orang dan jangka
waktu yang tak terbatas

ii. Program Transisi untuk Siswa Kelas Dua


Program transisi ini merupakan akomodasi yang
diberikan untuk siswa dengan kesulitan belajar supaya bisa
mnginjakkan kaki di dunia dewasa untuk bekerja.
Terkadang dibutuhkan bantuan tambahan dan assist dari
orang lain.
15

iii. Individualized Transition Plan (ITP)


Individualized Transisition Plan merupakan rencana
yang disusun untuk mempersiapkan siswa dengan retardasi
mental supaya mampu berpartisipasi dan bekerja dalam
komunitas.

4. GIFTED AND TALENTED STUDENTS


a. Pengertian Giftendess
Dalam cara tradisional, anak berbakat hanya ditentukan
melalui skor intelegensinya saja. Seorang anak akan dikatakan
berbakat jika skor Iqnya termasuk dalam 3% teratas dalam
populasi. Saat ini, syarat seorang anak dapat dikatan berbakat
bukan hanya terpaku pada IQ saja. Berikut ini adalah tiga kriteria
yang telah diterima luas tentang kriteria anak berbakat:
1. Berkemampuan tinggi, termasuk dalam kemampuan
intelegensi
2. Memiliki kreativitas tinggi atau memiliki kemampuan
untuk memformulasikan ide baru dan dapat
mengaplikasikannya sebagai pemecahan masalah.
3. Berkomitmen tinggi terhadap tugas yang ada.
i. Revolving Door Model
Berdasarkan tiga kriteria di atas, anak-anak yang
dikatan berbakat tidak lagi hanya berasal dari anak yang
memiliki IQ 3% teratas dalam populasi. Namun dapat
mencapai 15% teratas dalam populasi. Hal ini disebut
Revolving Door Model. Revolving Door Model bertujuan
mengikutsertakan banyak anak, hingga 15% yang memiliki
IQ teratas dari populasi, untuk mengikuti program anak
berbakat.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk
mengetahui ciri-ciri dari anak berbakat. Penelitian pertma
16

menurut Terman & Oden pada tahun 1959. Menurut


penelitian ini, secara fisik, anak-anak berbakat adalah anak-
anak yang lebih tinggi, memiliki berat badan yang lebih,
lebih kuat, lebih energik, dan lebih sehat dari teman
sebayanya. Dalam konteks karakteristik pendidikan, anak-
anak berbakat cenderung memiliki pemikiran yang lebih
maju, mempelajari cara membaca lebih mudah, dapat
memanipulasi ingatan yang terdapat pada short term
memory dengan mudah, dapat mengakses ingatan dalam
long term memory dengan lebih cepat, menikmati sekolah
dan juga menyukai belajar (Gallagher, 1985). Selanjutnya
akan kita bahas mengenai ciri-ciri karakter sosial dan
emosianal anak berbakat. Banyak anak berbakat merupakan
pemimpin di sekolahnya, mereka juga bahagia dan diterima
dengan baik oleh teman sebayanya. Anak berbakat melihat
diri mereka secara positif. Mereka juga menunjukkan minat
yang tinggi terhadap permasalahan moral. Dalam
kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat, anak-anak berbakat
tertarik pada konsep-konsep abstrak seperti baik dan buruk,
konsep-konsep moral, dan keadilan. Walaupun begitu,
anak-anak berbakat juga menghadapi beberapa masalah.
Seperti dipermainkan oleh teman sebayanya karena
dianggap pintar, berbeda dari yang lain.
b. Implikasi bagi Guru Pengajar
i. Pengayaan
Untuk memberikan pendidikan terhadap anak berbakat,
salah satu metode yang disarankan adalah Enrichment
Program. Program ini akan memberikan kesempatan bagi
anak berbakat untuk memperoleh pendidikan selain
pendidikan formal. Enrichment Program dapat berupa
program tambahan sebelum dan sesudah jam sekolah,
17

sekolah musim panas, proyek penelitian individual, course


yang diambil di lembaga pendidikan setempat, dan lain-
lain.
ii. Akselerasi
Cara kedua adalah Acceleration Program atau program
akselerasi. Program ini memberikan pendidikan bagi anak
berbakat dengn cara menempatkan mereka pada kelas yang
lebih tinggi daripada teman sebaya mereka pada satu
maupun lebih subjek akademis.

5. GANGGUAN BELAJAR YANG SPESIFIK


a. Pengertian Gangguan Belajar yang Spesifik
Gangguan belajar (learning disability) merupakan masalah
yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Siswa dengan
gangguan ini mengalami kesulitan dalam membaca, menulis,
memberikan alasan dan matematika.
Sering kali terjadi kesalahpamahaman dikarenakan jumlah
siswa dengan gangguan belajar separuhnya terdiri atas anak-anak
yang cacat. Kadang-kadang anak dengan gangguan pendengaran
atau penglihatan dianggap menderita retardasi mental. Seharusnya,
ada empat kriteria yang harus dipenuhi sehingga seseorang dapat
masuk dalam kelompok dengan gangguan belajar.
1) Adanya ketidaksesuaian antara skor IQ dengan hasil
belajar. Di masa lalu, siswa yang tertinggal dua tahun di
bawah teman-teman sebayanya dikategorikan sebagai anak
dengan gangguan belajar.
2) Ditemukannya kesulitan dalam belajar menulis, membaca,
matematika ataupun berbicara.
3) Gangguan belajar tidak dikarenakan oleh retardasi mental,
kerusakan (impairment) pendengaran dan visual,
lingkungan yang merugikan maupun gangguan emosional.
18

4) Gangguan belajar disebabkan oleh dsifungsi sistem saraf


pusat.
b. Jenis-jenis Gangguan Belajar
Berdasarkan kriteria yang telah dijabarkan di atas, berikut adalah
jenis-jenis gangguan belajar.
i. Disleksia
Disleksia merupakan gangguan belajar yang
meliputi kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja,
kebingungan akan arah kiri dan kanan dan kecenderungan
utuk membalik urutan huruf dalam menulis dan berbicara.
Diperkirakan, jumlah penderitadisleksia adalah 10
hingga 20 persen dalam populasi. Sifat disleksia juga
bervariasi, dimana satu kasus bisa sangat parah sementara
kasus lainnya lebih ringan.
Ciri-ciri disleksia dalam Hallahan dan Kauffman
adalah:
1) Kemampuan membaca tertinggal di belakang anak-
anak seusianya tanpa disertai alasan yang jelas.
2) Urutan huruf maupun keseluruhan kata sering kali
terbalik, misalnya menggunakan huruf q ketika
seharusnya menggunakan huruf p.
3) Tulisan tangan tidak terbaca.
4) Mengalami kebingungan dalam membedakan kanan
dari kiri, namun tidak menggunakan tangan sebagai
referensi untuk membedakan arah.
5) Memiliki anggota keluarga yang memiliki kesulitan
membaca tanpa disertai alasan yang jelas.
6) Tampak kikuk dan kekanak-kanakan ketika
dibandingkan dengan teman seusianya.
7) Setelah masa balita masih sering bicara dengan urutan
huruf yang terbalik misalnya labon untuk balon.
19

8) Mengalami kebingungan akan konsep yang


berlawanan, misalnya atas dan bawah, besok dan
kemarin.
9) Kesalahan mengeja yang aneh.
10) Kesulitan dalam mempelajari simbol.
11) Bermasalah dalam mengatur tugas yang sederhana atau
menuruti instruksi yang mudah.
12) Terlambat bicara dibandingkan teman sebayanya.
ii. Attention Deficit Disorder (ADD)
ADD merupakan kondisi medis yang berhubungan
dengan kesulitan memberikan perhatian (atensi) dan
perilaku impulsif. ADD dengan perilaku hiperaktif disebut
dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Adanya overaktivitas, ketidakmampuan mempertahankan
perhatian atau perilaku impulsif merupakan perilaku yang
membedakan ADD dari ADHD
Diagnosis terhadap ADD merupakan suatu studi
multidimensi yang melibatkan psikolog, guru dan orang tua.
Perilaku anak harus diamati dalam jangka waktu paling
pendek 6 bulan dan harus mengandung 8 ciri-ciri ADD
yang muncul secara berkala.
Berikut adalah ciri-ciri ADD berdasarkan American
Psychiatric Association:
1) Posisi duduk tidak tenang, sering membuat
keributan/kegaduhan di bangku dengan tangan atau
kaki.
2) Sulit untuk duduk diam di bangku ketika diminta.
3) Perhatiannya mudah teralihkan.
4) Sering kali menjawab tanpa berpikir sebelum
pertanyaan selesai dikemukakan.
20

5) Memiliki kesulitan dalam menunggu giliran dalam


urutan bermain.
6) Kesulitan dalam mengikuti instruksi; sering gagal
menyelesaikan tugas.
7) Kesulitan dalam memperthankan perhatian dalam tugas
atau aktifitas bermain.
8) Sering berpindah dari satu aktifitas tak terselesaikan ke
yang aktifitas lainnya.
9) Sulit bersikap tenang.
10) Bicara berlebihan.
11) Sering melakukan interupsi terhadap kegiatan lain.
12) Tampak tidak memperhatikan ucapan orang lain
padanya.
13) Sering kehilangan barang.
14) Sering terlibat dalam kegiatan yang membahayakan
tanpa memperhtungkan resiko yang akan terjadi.
c. Implikasi bagi Guru Pengajar
i. Bagi guru dengan siswa disleksia
Menangani siswa dengan gejala disleksia
merupakan tantangan tersendiri bagi guru. Guru harus
memperhatikan hal-hal di bawah ini bila menemui kasus
disleksia:
1) Disleksia tidak bisa didiagnosa sebelum usia 7 tahun
sebab beberapa karakteristik seperti pembalikan urutan
masih dapat berkembang secara normal. Namun,
semakin dini disleksia didiagnosa, makin dini pula anak
dapat memperoleh bantuan untuk gangguan belajarnya.
2) Guru yang menemukan gejala-gejala disleksia pada
siswanya harus merekomendasikan muridnya pada
psikolog untuk pemeriksaan lebih lanjut.
21

ii. Bagi guru dengan siswa ADD/ADHD


Siswa dengan ADD/ADHD membutuhkan
perlakuan khusus dari guru seperti memberikan tempat
duduk di depan, memperbanyak kontak mata dengan anak,
secara berkala memantau anak dalam pengerjaan
tugasnya, memberikan reinforcement terhadap perilaku
siswa hingga memberikan training interpersonal.

6. SISWA DENGAN MASALAH FISIK DAN KONDISI


KESEHATAN KRONIS
Bagi beberapa siswa, kegiatan belajarnya di kelas dibatasi oleh kondisi
fisiknya yang memang kurang mendukung sehingga dibutuhkan modifikasi
lingkungan agar proses belajar dapat berjalan dengan baik.
a. Kerusakan Neurologis
Kerusakan neurologis disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf
pusat sehingga berakibat pada retardasi mental, kesulitan belajar,
kesulitan persepsi, kekurang mampuan berkoordinasi,
penyimpangan perilaku dan kesulitan berkomunikasi.
i. Cerebral Palsy
Batshaw & Perret dalam Seng menyebutkan bahwa
cerebral palsy adalah kondisi yang meliputi kesulitan
koordinasi motorik (lumpuh, lunglai, inkoordinasi), disfungsi
psikologis, penyimpangan perilaku dan emosi karena
kerusakan otak sebelum dewasa.
Kemampuan anak dengan cerebral palsy berbeda-
beda. Meskipun dapat ditemuik kasus cerebral palsy yang
diikuti dengan kerusakan alat dengar, kerusakan indera
penglihatan, penyimpangan persepsi, ketidakmampuan
berbicara, penyimpangan perilaku, retardasi mental dan lain-
lain, ditemukan juga penderita cerebral palsy berprestasi.
22

Namun pendidikan khusus tetap diperlukan guna memenuhi


kebutuhan pengajaran pada anak dengan gangguan belajar
karena cerebral palsy.
ii. Epilepsi
Epilepsi disebabkan oleh fenomena sensori yang
tidak normal. Epilepsi ditandai dengan kejang yang tiba-tiba
karena adanya pelepsan energi elektrik dalam otak. Kejang-
kejang biasanya dialami sebelum usia mencapai 6 tahun dan
lebih sering dialami oleh penderita retardasi mental dan
cerebral palsy. Kejang-kejang dipicu oleh berbagai faktor
seperti kerusakan pada otak, kekurangan oksigen pada otak,
gula darah rendah, infeksi maupun trauma fisik.
Dalam Seng; Westbrook, Silver, Coupey et al
menyebutkan bahwa setengah dari anak-anak dengan epilepsi
memiliki intelegensi rata-rata maupun rata-rata atas. Menurut
Hoare, pendeita epilepsi menunjukkan masalah perilaku dan
emosional dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan
anak lain yang normal. Berdasarkan penelitian Freeman,
Jacobs, Vining et al, siswa dengan epilepsi yang dilatih untuk
mengerjakan tugas yang sesuai dapat mengatasi problematika
epilepsi mereka.
Guru yang memiliki murid dengan epilepsi harus
selalu siap meghadapi kejang-kejang siswanya yang
berlangsung secara tiba-tiba.
iii. Spina Bifida
Spina bifida adalah cacat bawaan yang disebabkan
oleh kegagalan penutupan sistem tulang belakang dalam
masa perkembangan janin. Kondisi ini menyebabkan
terjadinya “Myelomeningocele”, yaitu suatu kerusakan pada
sistem saraf, kelumpuhan, kekurangmampuan dalam
merasakan sensasi inderawi pada daerah saraf yang rusak.
23

Myelomeningocele kadang disertai oleh kelumpuhan kaki dan


area kandung kemih (anal bladder sphincters). Karena juga
menyerang kandung kemih, sering kali penderita spina bifuda
kesulitan untuk menahan keinginan buang air kecil. Spina
bifida juga dapat menyebabkan hidrosefalus.
Siswa dengan spina bifida memerlukan perhatian
khusus terutama dari guru karena rentan terhadap resiko
patah tulang, terbakar, nyeri karena terjepit dan memar-
memar karena kekurang mampuannya dalam merasakan
sensasi di sekitar kulit yang terpengaruh kerusakan saraf.
Penderita spina bifida juga memerlukan perhatian dalam
kebutuhan toiletnya.
b. Penyakit Kronis
i. Asma
Asma merupakan penyempitan saluran napas
(bronkus) berakibat pada kesulitan bernapas yang ditandai
oleh napas yang pendek-pendek, dada mengencang, suara
wheezing (suara menyerupai bunyi ngik-ngik) saat bernapas
dan batuk-batuk.
Menurut Danielle dalam Seng, asma dipicu oleh
lingkungan sekolah yang berdebu, spora jamur, bulu
binatang, spray aerosol, bahan kimia dan bau yang
menyengat.
Guru berperan dalam menenangkan siswa,
membantunya untuk fokus sehingga bisa bernapas
perlahan-lahan, meminum air hangat ketika asma
menyerang dalam proses belajar-mengajar.
24

ii. Diabetes Melitus


Diabetes Melitus adalah gangguan pada
kemampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin
sehingga berpengaruh dalam proses pemerolehan energi
dalam tubuh. Penderita diabetes menimbun gula yang tidak
dapat diubah menjadi energi hingga berubah menjadi racun
dalam tubuhnya. Tanpa perawatan yang sesuai dapat
mengakibatkan koma.
Siswa dengan diabetes harus menjaga kadar gula
darah dalam tubuhnya agar senantiasa mendekati normal.
Ketika kadar gula dalam tubuh turun (hipoglikemia) saat
mengikuti kegiatan di kelas, guru harus siap sedia
membantu siswanya. Gejala dari hipoglikemia adalah
kebingungan, mengantuk, pucat, pusing, sakit kepala,
kekurang mampuan berkoordinasi, gemetar dan rasa lapar
yang tiba-tiba. Dalam situasi ini, guru diharapkan bisa
segera memberi asupan gula.
iii. Kanker
Kanker berarti macam-macam penyakit yang meliputi
gangguan dan pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-
sel dalam tubuh. Peringatan umum yang menjadi tanda-
tanda awal kanker adalah mual, berat badan turun drastis,
pandangan berkunang-kunang, bengkak, sempoyongan,
mimisan, mengantuk dan lesu.
 Leukemia
Leukemia adalah jenis kanker yang paling sering
dijumpai pada anak-anak. Sel darah putih gagal
menjalankan tugasnya sebagai antibodi tubuh dan
malah menyerang sistem dalam tubuh itu sendiri.
25

 Neuroblastoma
Neuroblastoma berada di urutan kedua sebagai
pembunuh anak nomor dua setelah leukemia.
Kanker ini menyerang ginjal.
 Osteogenic sarcoma
Kanker tulang menyerang lengan atau siku kaki,
menyebabkan pembengkakan sehingga sulit
menggunakannya.
 Tumor otak
Tumor otak memiliki gejala awal berupa
pengelihatan ganda, pusing, sulit berjalan atau
memegang objek, dan mual.
 Lymphoma
Lymphoma adalah kanker yang menyerang limpa
yang biasanya disetai lesu dan demam.
iv. AIDS
Siswa yang terinfeksi HIV akan mengalami penuruan
sistem imun sehingga mengakibatkan penyakit-penyakit
kronis dan infeksi yang mematikan.
Guru diharapkan waspada jika melihat keterlambatan
perkembangan, penurunan prestasi siswa, gangguan
kognitif, abnormalitas fungsi psikomotor, kejang-kejang,
kerusakan sensori dan radang otak.
Guru yang memiliki siswa dengan HIV harus
memperhatikan pendidikan apa yang akan diberikan pada
siswa-siswanya karena pendidikan menganai HIV juga
menyangkut pendidiak seks. Sosialisasi mengenai
HIV/AIDS harus bisa digalakkan agar ketakutan yang
berlebih karena ketidaktahuan tidak menekan siswa
penderita HIV hingga terpaksa keluar dari sekolah.
26

7. SISWA DENGAN SENSORY IMPAIRMENT


a. Gangguan Pendengaran (Hearing Impairment)
Hearing impairment didefinisikan sebagai sebuah istilah yang
mengindikasikan sebuah ketidakmampuan mendengar yang bisa
berkisar dari ringan sama berat.
i. Jenis-jenis hearing impairment
1) Tunarungu
Orang yang mengalami gangguan pendengaran
yang disebabkan terhalangnya keberhasilan
pengolahan informasi linguistic melalui audisi
dengan atau tanpa alat dengar. Tuli sendiri terbagi
menjadi 2, yaitu congenitally yang merupakan tuli
yang diderita sejak lahir dan adventitiously yaitu tuli
yang terkadang didapat setelah lahir.
2) Kesulitan Mendengar
Merupakan orang yang menggunakan alat bantu
dengar, dimana proses informasi linguistic yang
yang terganggu dapat diatasi dengan alat tersebut.
ii. Mendidik Siswa dengan Hearing Impairment
Penting bagi guru untuk mengetahui beberapa
karakteristik perilaku dan tipe psikologis yang dialami oleh
para murid yang mengalami gangguan pendengaran.
Terdapat banyak perdebatan antara hubungan gangguan
pendengaran dan kemampuan kognitif. Bagaimanapun kita
tidak mengetahui secara pasti bahwa orang yang menderita
hearing impairments, juga mengalami keterbelakangan
prestasi akademik terlebih pada area membaca. Pada era
sekarang, mayoritas para pendidik lebih menggunakan
kedua metode oral dan manual untuk pelajar yang
mengalami hearing impaired.
27

1) Pendekatan Oral
Pendekatan untuk membantu penderita tunarungu
dengan alat-alat pendengaran dan speech reading.
2) Pendekatan Manual
Pendekatan melalui finger spelling digunakan untuk
membantu penderita tunarungu atau menyajikan
huruf dengan gerakan tangan.
b. Gangguan Pengelihatan (Visual Impairment)
Visual impairment didefinisikan sebagai kesulitan dalam
membedakan bentuk atau membedakan detail melalui penglihatan
dalam jarak tertentu. Hasilnya dia membutuhkan metode dan
peralatan khusus utnuk membantunya. Di dalam pendidikan orang
yang mengalami visual impairment membutuhkan Braille untuk
membantunya dalam membaca atau dengan metode audio seperti
mendengarkan rekaman melalui tape. Ada beberapa karakteristik
perilaku dan tipe psikologis pada siswa yang mengalami visual
impairments.
i. Pola Psikologis dan Pola Perilaku Siswa dengan
Gangguan Pengelihatan
Ada beberapa usaha psikologis yang bisa dilakukan
untuk membantu anak – anak yang mengalami visual
impairments mengembangkan dirinya dalam pendidikan
1) Menggunakan Braille, sampai sekarang Braille tidak
ada yang menggantikan. Sekalipun sudah ada
computer, tapi Braille masih sangat dibutuhkan
untuk membantunya.
2) Kaca pembesar dan tulisan print dalam huruf besar
sangat membantu untuk mengalami visual abilitinya
yang terbatas.
28

3) Mengembangkan kemampuan mendengarnya


dengan sangat baik. Tidak benar dikatakan bahwa
anak yang visual impairment punya pendengaran
yang lebih baik dari pada orang – orang normal.
4) Melakukan mobility training pelatihan peningkatan
kemampuan dan penggunaan peralatan yang dapat
membantu, meliputi penggunaan tongkat, anjing
penuntun jalan dan alat elektronik yang juga
merupakan bentuk lain alat edukasi untuk
meningkatkan keterampilan sehari-hari.
5) Penggunaan teknologi dapat digunakan dalam
membantu orang yang mengalami visual
impairment seperti, Optacon (scanner yang
mengubah hasil print ke dalam bentuk taktil), versa
Braille (merekam Braille kedalam kaset dan
memutarnya ulang), descriptive video service
(membuat televisi menjadi lebih fleksibel bagi
orang yang mengalami visual impairments).
ii. Modifikasi Pola Pendidikan bagi Siswa dengan
Gangguan Pengelihatan
Membandingkan kemampuan intelektual antara
anak–anak yang mengalami visual mpairments dengan
yang tidak, itu akan menimbulkan permasalahan. Sebab,
perbedaan hasil pengukuran intelegensi diantara keduanya
tidak mencolok.
Sedangkan untuk membandingkan hasil belajar
diantara keduanya harus diteliti lagi, sebab ada beberapa
alasan lain yang menyebabkan hal tersebut. Karakteristik
yang lain, anak yang mengalami gangguan visual
impairments mengalami kesulitan dalam hal spatial, oelh
karenanya usaha yang lebih utnuk mengatasi masalah
29

tersebut. Contohnya, mereka menggunakan cognitive map


untuk memahami lingkunganny dengan lebih efektif.
8. SISWA DENGAN GANGGUAN KOMUNIKASI
a. Gangguan Berbahasa
Gangguan berbahasa adalah ketidaksesuaian antara pengertian
dan/atau yang digunakan dalam sistem berbicara,tertulis dan
simbol. Gangguan ini meliputi:
i. Bentuk bahasa
1) Phonologi
Hal-hal mengenai sistem suara dari sebuah bahasa dan
struktur dari suara tersebut.
2) Morphologi
Adalah sistem linguistik yang menyusun struktur kata
dan mengkonstruksi kata-kata dari pola awal kata
tersebut.
3) Syntax
Syntax adalah urutan kata dan struktur dari kalimat.
ii. Isi bahasa
Semantik adalah studi tentang arti yang melekat pada suatu
kata.
iii. Fungsi Bahasa
Pragmatik adalah pola dari bahasa sosual yang digunakan
dalam komunikasi, yang dapat diekspresikan melalui gerak
motorik, secara vokal, maupun verbal.
b. Gangguan Berbicara
i. Stuttering (Gagap)
Gangguan berbicara yang ditandai oleh keraguan bicara
yang tidak normal, perpanjangan dan pengulangan yang
mungkin disertai dengan seringaian, mimik wajah tertentu
maupun gerak badan lain yang mengindikasikan adanya
30

suatu usaha untuk berbicara, kecemasan, atau menghindar


untuk berbicara.
ii. Speech Disorder (Gangguan Komunikasi/Bicara)
Gangguan berbicara adalah ketidaksesuaian antara suara,
artikulasi dan/atau fluency yang digunakan saat berbicara.
Gangguan ini meliputi;
1) Kelainan pada suara adalah keabnormalan dari
produksi kualitas suara, ketepatan nada (pitch),
kekerasan, dan/atau lama bicara.
2) Kelainan pada artikulasi adalah keabnormalan
dari produksi suara saat berbicara.
3) Fluency Disorder adalah keabnormalan ekspresi
verbal.

iii. Cleft Lip (Bibir Sumbing)


Kondisi dimana terdapat celah di bagian atas bibir
atau langit-langit mulut. Keadaan ini menyebabkan
kesilitan artikulasi saat bicara.
Cleft Lip atau sumbing adalah adalah variasi jenis
celah cacat bawaan disebabkan oleh pembangunan wajah
abnormal selama kehamilan. Anak-anak sumbing biasanya
memiliki berbagai masalah berbicara. Beberapa masalah
berbicara adalah akibat perbedaan anatomis seperti
kekurangan velopharyngeal. Ketidakcukupan
Velopharyngeal mengacu pada ketidakmampuan langit-
langit lunak menutup pembukaan dari tenggorokan ke
rongga hidung, yang diperlukan untuk banyak suara dari
huruf, seperti / p /, / b /, / t /, / d /, / s /, / z /, dll. Jenis
kesalahan ini biasanya dapat terselesaikan setelah perbaikan
langit-langit.
31

9. SISWA DENGAN GANGGUAN EMOSI/PERILAKU


a. Pengertian Gangguan Emosi/Perilaku
i. Definisi
Gangguan emosi atau perilaku adalah kondisi yang
memerlukan bantuan di mana seseorang susah untuk
melakukan kontrol terhadap perasaan dan perilakunya.
ii. Ciri-ciri
1) Menurut Individuals with Disability Education
Act (IDEA) U.S.A
Ciri-ciri orang dengan gangguan emosional serius
berdasarkan Individuals with Disability Education
Act (IDEA) Amerika Serikat adalah sebagai berikut;
1) Memiliki satu atau lebih dari karakter berikut ini
dalam waktu yang lama dan hal ini
mempengaruhi performa akademik:
a. Tidak dapat belajar; hal ini tidak dapat
dijelaskan dari sisi intelektual, panca indra,
maupun faktor kesehatan
b. Tidak dapat membangun atau memelihara
kepuasan dalam hubungan antara teman
sebaya dan guru.
c. Perilaku yang tidak wajar dalam keadaan
normal.
d. Suasana hati yang meliputi perasaan tidak
bahagia dan depresi.
e. Kecenderungan untuk mengembangkan
gejala-gejala fisik atau ketakutan yang
berhubungan dengan masalah pribadi atau
sekolah.
2) Termasuk anak dengan schizoprenic atau
atruistik, namun tidak termasuk anak yang tidak
32

dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan sosial


kecuali dia dianggap memiliki gangguan emosi
yang serius.
2) Menurut National Mental Health and Special
Education Coalition
Berikut ini adaah pengertian kedua yang berasal dari
National Mental Health and Special Education
Coalition:
a) Memiliki perilaku atau respon emosional yang ber
berbeda dari usia seharusnya, kebudayaan maupun
norma etnis yang mempengaruhi performa termasuk
akademik, sosial, dan kemampuan personal.
b) Gangguan emosional dan perilaku dapat bekerja
sama dengan ketidakmampuan yang lain.
c) Schizophrenia, kecemasan, dan gangguan affektif
juga dapat digolongkan dalam gangguan ini jika
hal-hal tersebut mempengaruhi performa akademik.
b. Implikasi bagi Guru Pengajar
Seorang guru yang ada di dalam kelas bukanlah seorang yang
berfungsi sebagai terapis terhadap anak-anak di kelasnya yang
memiliki gangguan ini. Berikut ini adalah beberapa model anak
dengan gangguan emosi dan perilaku sehingga seorang guru dapat
mengetahui terlebih dahulu jika ada anak didik di kelasnya yang
menderita gangguan ini sehingga dapat memikirkan tindakan
selanjutnya.
i. Eksternal
Gangguan emosi dan perilaku yang ditunjukkan dalam
bentuk agresi, perilaku nampak. Murid diidentifikasikan
memiliki gangguan perilaku (conduct disorder), seperti
agresif, merusak, bermusuhan.
ii. Internal
33

Murid dengan ciri internalisasi ini tampak tidak dewasa,


cemas, menarik diri, dan depresi. Murid seperti ini lebih
membutuhkan bantuan profesional secepatnya.
34

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily Lynn. 2009. Buku Saku: Keperawatan Pediatrik. Ed.5; Cet.1.
Jakarta: EGC.
Schwartz, M. William. 2005. Pedoman Klinis Pediatri. Cet.1. Jakarta:
EGC.
Tan, Oon Seng. 2001. Educational Psychology: A Practioner-Reasercher
Approach (An Asian Edition). Singapura: Seng Lee Press
http://en.wikipedia.org/wiki/Cleft_lip_and_palate#Speech_and_hearing
http://en.wikipedia.org/wiki/Stuttering