Anda di halaman 1dari 12

Paket Mesin Pembuat Pelet Pakan Ternak

Kami memproduksi paket mesin pengolahan pelet pakan ternak. Mesin pembuat pelet pakan
ternak terdiri dari :

1. Mesin Hummer Mill (Penepung) Bahan Pelet

Kapasitas 50-100 kg / jam

Spesifikasi mesin hummer mill

• Dimensi : 120x100x61 cm
• Kapasitas 50-100 kg / jam
• Penggerak : diesel 8 PK
• Bhaan dasar : Plat St

Kapasitas mesin hummer mill lebih besar, klik disini

2. Mesin Mixer (Pengaduk Bahan Pakan Ternak)

Kapasitas 100 kg / proses


• Dimensi : 1250x650x1200 mm
• Kapasitas 100 kg / proses
• Penggerak : diesel 8 PK
• Bahan dasar : Plat St

Kapasitas mixer pelet lebih besar, klik disini

3. Mesin Pencetak Pelet

Produk Lokal Indonesia

Spesifikasi mesin pelet ternak

• Dimensi : 900x800x1250 mm
• Kapasitas 300 kg / jam
• Penggerak : diesel 20 HP

Mesin pencetak pelet import, klik disini

4. Mesin Pengering Pelet 100 kg


• Dimensi : 70x50x160 cm
• Frame : Pipa besi kotak 2,5 x 2,5 cm
• Dinding : Stainless Steel dan Alumunium
• Pemanas : burner LPG
• Temperatur : Terkontrol
• Distribusi panas : blower
• Jumlah rak : (menyesuaikan)
Klasifikasi Bahan Pakan

Desember 8, 2007 · Disimpan dalam PaKaN TeRNaK

Pakan adalah suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dimakan hewan atau

ternak serta mengandung energi, protein, dan nutrien lainnya yang dibutuhkan oleh

hewan atau ternak lainnya.

Klasifikasi pakan dapat dibedakan menurut:

1. Menurut asalnya

Nah klo menurut asalnya, pakan ini mah dibedakan menjadi 3 apa hayo??

A. Bahan pakan asal tanaman —>:

• a.hijaun pakan (Forages) nah hijauan pakan ini dikenal pula dengan istilah
hijauan makanan ternak (HMT) Contohnya:Rumput co: Rumput2an(co:rumput gajah,

teki, ilalang dll),leguminosa(co:Kalopo, centro), serta hijauan lain selaiin rumput

dan legum(co: nangka, ketelapohon)

• b. Jerami atau sisa tanaman pertanian.


• c. Bebijian(Co: Jagung, shorgum, gandum,padi)
• d. Umbi(ketela pohon, rambat, kentang)
• e. Hasil sisa ato hasil sampingan industri pertanian(bungil, bekatul, onggok,
tetes)

B. Bahan pakan asal Hewan—>Tepung daging, tpg tulang, tpg darah, tpg susu, tpg telur

C. Bahan Pakan asal ikan—> Tepung ikan, tepung kepala udang dll

2. Menurut Bentuk Fisiknya.

Menurut bentuk fisiknya dibedakan menjadi 3 juga yi: bentuk butiran(Co: jagung

,shorgum.nah klo untuk pakan ini biasanya disukai oleh ternak unggas), Bentuk

Tepung(co: dedak, bekatu, tepung ikan,dll), Bentuk cair(Co: minyak ikan dan minyak

kedelai).

3. Menurut Sumber Zat gizinya

nah klo menurut yang ini pakan dibedakan menzadi5 yi:

• Carbonacleus concentrates –>kandungan energi tinggi, SK rendah, PK rendah Co:


Jagung, shorgum, gandum,molases, dedak, bekatul

• CArbonacleus roughages—> kandungan energi rendah, SK tinggi, protein kasar


rendah. Co:silase jagung dan shorgum, janggel jagung, jerami
• Proteinacleus concentrates—>kandungan pakan dengan energi rendah, SK
rendah, PK tinggi Co: Bungkil 2 kacang, kedelai, kapas dan kelapan, tepung daging,

darah,susus, urea.

• Proteinacleus roughages—> Bahan pakan dengan kandungan energi rendah,Sk


cukup, Pk cukup, kalsium tinggi,Co: Hijauan leguminosa, hijauan kering.

• Bahan aditif–> Bahan pakan yang ditambahkan kedalam ransum dalalmjumlah


yang sedikit Co:Virtamin, mineral, antibiotik, hormon, obat pewarna

4. Menurut Kelazimannya

• Bahan pakan konvensional adalah bahan pakan yang lazim dipakai unuk
menyusun ransum, bahan pakan ini dapat berasala dari tanaman ataupun hewan,

ikan, dan hasil sampingan industri pertanian.(Co: Rumput, tp daging, bekatul dll)

• Bahan pakan inkonvensional adalah bahan pakan yang tidak atau belum lazim
dipakai untuk menyusun ransum.bahan pakan inibisa berasal dari industri kimia,

pertamian maupun hasil fermentasi (CO: Urea, Diamonium fosfat, baggase, isi

rumen, protein sel tunggal).

5. Menurut Nomenklatur/ secara Internasionalnya

Berdasarkan Nomenklatur Internasional Pakan dibedakan menjadi 8 kelas apasajakah

itu??

1. Hijauan kering&Jerami(dry forage dan roughages)

2. pasture (hijauan)—->kacang2an dan rumput

3. Silase—> yi hijauan yang diawetkan dan ditambah dengan sumber protein, vitamin dan

mineral.

4. Makanan yang mengandung sumber Energi—> contohnyapakana yang berasal dari biji-

bijian, akar-akaran, umbi-umbian, dan buah-buahan.

5. Makanan sumber Protein—> bisa berasal dari protein hewani(tepung ikan) maupun

protein nabati (tepung daun)

6. Makanann sumber mineral—> Tepung tulang dan kapur

7. Makanan sumber vitamin—>makanan yg berasal dari buah-buahan.

8. Makanan additive—>bahan makanan yang diambahkan kedalam ransum dalam jumlah

yang sedikit dengan tujuan tetentu. Co: Antibiotika, bahan pewarna, hormon dll.
mesin pelet pakan ternak - ikan
ALAT UNTUK MENCETAK PELLET

• Kapasitas : 30 kg / jam
• Bahan : Stainless Steel
• Frame : Kanal U 5
• Penggerak : Motor Listrik 2 HP, 3 Phase
• Gear Box : Tipe 100, 1 : 60
• Dimensi : Diameter Dalam (Inchi) : 5 inchi
• Panjang Ulir (cm) : 35 cm
• Diameter Keluaran (mm) : 2-5 mm (tergantung permintaan)

mesin pengaduk pakan ternak


ALAT UNTUK MENGOLAH PAKAN TERNAK DENGAN FORMULASI MERATA

MIXER PAKAN TERNAK


( VERTIKAL )
Fungsi : mencampur bahan pada proses pembuatan pakan ternak dengan sistem vertical
Kapasitas : 150 L
Diameter : 60 cm
Panjang : 120 cm
Tinggi : 140 cm
Tebal Plat : 2 mm SUS 304
Motor Dongfeng Diesel: 12 HP
(Gambar)
Permintaan Penawaran

Katalog Produk: Mesin Pellet Pakan Ternak


Keterangan: Mesin Pellet Pakan Ternak
http: / / www.mesincyrbil.com/ content/ view/ 50/

Fungsi :

Untuk mencetak bahan baku baik untuk makanan ternak


maupun ikan yang mana formula

bahan baku pellet tersebut antara lain tepung dedak,


tepung ikan, tepung jagung, dll.

Hasil butiran pellet yang dihasilkan disesuaikan dengan


kebutuhannya.

Ukuran pellet untuk pakan ikan antara 3-4 mm, dan bila
untuk pakan ternak 5-7 mm.

tag:
Jual, Mesin, Chopper, Pakan, Ternak, Hammer, Mill, Pellet,
Mixer, Crumble, pengering, pencetak, basah, extruder,
perajang, rumput, Sampah, Organik, kompos,
Pencacah, Pengayak, Rotary, Mixer, Plastik, Pencuci,
Conveyor, Produk, Hammer, Mill, Incinerator, Pemarut,
Kelapa, Pengaduk, Dodol, Pengayak, Serbaguna, `
Pengupas, Pengayak, biji, Jarak, Pengurai, Sabut, Kelapa,
Perajang, Sagu, Slicer, Rice, Milling, Penggiling, Padi,
Pembelah, Pinang, Rotary, Dryer, Penyaring, Sagu,
Hammermill, Destilator, Minyak, Pengering, Serbaguna,
Perontok, Bulu, Ayam, Bor, Pori, Tanah, Disc, Mill,
Penyangray, Gasing, Ray, Grader, Power, Trasher,
Hammermill, Cyclone, Jagung, murah, bogor, jawa, barat,
indonesia
TEKNOLOGI PEMBUATAN PELET

Pelet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari bahan
konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan pakan. Patrick
dan Schaible (1980) menjelaskan keuntungan pakan bentuk pelet adalah meningkatkan
konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh
bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama
penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi
vitamin.Stevent (1981) menjelaskan lebih lanjut keuntungan pakan bentuk pelet adalah 1)
meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan, mengurangi tempat
penyimpanan, menekan biaya transportasi, memudahkan penanganan dan penyajian
pakan; 2) densitas yang tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi
pakan yang tercecer; 3) mencegah “de-mixing” yaitu peruraian kembali komponen
penyusun pelet sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar. Proses
pengolahan pelet merujuk pada Pujaningsih (2006) terdiri dari 3 tahap, yaitu pengolahan
pendahuluan, pembuatan pelet dan perlakuan akhir.

Pengolahan Pendahuluan

Proses pendahuluan ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar


atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Setelah seluruh bahan baku disiapkan,
tahap selanjutnya adalah menggiling bahan baku tersebut. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan ukuran partikel yang seragam--berbentuk tepung (mash) (McEllhiary,
1994). Seluruh bahan yang telah digiling, ditimbang dengan menggunakan timbangan
duduk. Selanjutnya, bahan–bahan tersebut dicampurkan.

Pembuatan Pelet

Pembuatan pelet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Perlakuan
akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Menurut Pfost (1964),
proses penting dalam pembuatan pelet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap
(conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).

Proses kondisioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan yang ditujukan
untuk gelatinisasi agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga
penampakan pelet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus
(Pujaningsih, 2006). Proses kondisioning ditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan
bahan agar mempermudah pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat : (1)
Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit; (2) Menjadikan pati dari
bahan baku yang ada sebagai perekat; (3) Pakan menjadi lebih lunak sehingga ternak
mudah mencernanya dan (4) Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu
makan ternak.
Walker (1984) menjelaskan bahwa selama proses kondisioning terjadi penurunan
kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan
menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air
bahan berkisar 15 – 18%.Winarno (1997) menjelaskan lebih lanjut bahwa kadar air yang
lebih dari 20% akan menurunkan kekentalan larutan gel hasil gelatinisasi.

Efek lain dari proses kondisioning yaitu menguapnya asam lemak rantai pendek,
denaturasi protein, kerusakan vitamin bahkan terjadinya reaksi “Maillard”. Reaksi
‘Maillard’ yaitu polimerisasi gula pereduksi dengan asam amino primer membentuk
senyawa melanoidin berwarna coklat, proses ini terjadi akibat adanya pemanasan
(Muller, 1988). Warna coklat pada bahan ini menurut Muller (1988) menurunkan mutu
penampakan warna pelet. Nikersond dan Louis (1978) menambahkan bahwa pemanasan
dapat menyebabkan dehidrasi pada gula. Gula yang terdehidrasi membentuk polimer
sesama gula yang diikuti oleh gugus amina membentuk senyawa coklat.

Gelatinasi merupakan sumber perekat alami pada proses “pelleting”.Pencetakan


merupakan tahap pemadatan bentuk melalui alat extruder. Temperatur bahan sebelum
masuk ke dalam mesin pencetak sekitar 80°C dengan kelembaban 12–15%. Kelemahan
sistem ini adalah diperlukannya tambahan air sebanyak 10 – 20% ke dalam campuran
pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut. Penambahan
air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga
bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran,
mesin akan macet dan pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat
(Pujaningsih, 2006).

Selama proses kondisioning terjadi peningkatan suhu dan kadar air dalam bahan sehingga
perlu dilakukan pendinginan dan pengeringan (Walker, 1984). Proses pendinginan
(cooling) merupakan proses penurunan temperatur pelet dengan menggunakan aliran
udara sehingga pelet menjadi lebih kering dan keras. Proses ini meliputi pendinginan
butiran-butiran pelet yang sudah terbentuk, agar kuat dan tidak mudah pecah.
Pengeringan dan pendinginan dilakukan pada tahap ini untuk menghindarkan pelet itu
dari serangan jamur selama penyimpanan

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi
kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan ternak pada umumnya. Proses
pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika
pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering anginkan saja
hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah
kembali ke bentuk tepung (Pfost, 1964).

Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran di bawah terik sinar matahari atau
menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara
alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus
dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu atau kotoran dan gangguan hewan atau
unggas yang dikhawatirkan akan membawa penyakit. Jika alat yang digunakan mesin
pengering, tentu akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang cukup
tinggi.

Perlakuan Akhir

Penentuan ukuran pelet disesuaikan dengan jenis ternak. Pujaningsih (2206) melaporkan
bahwa diameter pelet untuk sapi perah dan sapi pedaging adalah 1,9 cm (0,75 inci), untuk
anak babi 1,5 cm (0,59 inci) dan babi masa pertumbuhan 1,6 cm (0,62 inci), untuk ayam
pedaging periode starter dan finisher 1,2 cm (0,48 inci). Garis tengah pelet untuk pakan
dengan konsentrasi protein tinggi adalah 1,7 cm (0,67 inci) dan 0,97 cm (0,38 inci) untuk
pakan yang mengandung urea.
cara sederhana pembuatan PELET dirumahsolid aquatic
Bahan-bahan:
1. Tepung kanji
2. ragi
3. Bahan-bahan pakan ( sesuai selera anda ).
Pembuatan:
Bahan-bahan pakan dicampur jadi satu kemudian diblender sampai halus.
setelah itu tambahkan air panas sebanyak ± 1/4 berat bahan baku. dan aduk di
atas api kecil,
pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna segera
masukkan tepung kanji
dengan perbandingan 1/3 dari bahan aduk terus sampai adonan mengental, bila
perlu
tambahkan sedikit lagi air panas.
Adonan didinginkan . Setelah dingin masukkan ragi roti dan aduk sampai merata.
Bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling daging dan akan
diperoleh bentuk
batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotong-potong sepanjang 3 cm
atau terserah
anda.
Pelet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai kadar airnya 10- 20%.
pengeringan
dapat juga dengan menggunakan oven. Pengeringan dihentikan apabila pelet
kering, keras
dan mudah patah
(a). Pakan rebus :
Bahan baku pembuatan pakan rebus terdiri atas ikan asin kualitas rendah (below
standard =
BS), tepung katul dan dedak halus dengan komposisi sebagaimana terdapat
pada Tabel 3.
Jumlah bahan baku yang disediakan adalah untuk pemberian pakan bagi 10 ribu
ekor ikan.

Adapun peralatan yang digunakan untuk pembuatan pakan adalah wadah dari tong
(ukuran
setengah drum), kompor pompa minyak tanah dan tungku masak. Cara membuatnya
adalah
sebagai berikut. Campuran bahan diramu di dalam tong dan ditambah air bersih, diaduk
sampai rata dan direbus selama 2 jam, kemudian didinginkan. Setelah dingin, pakan yang
masih diwadahi dalam tong atau dimasukkan kedalam karung plastik diangkut dengan
perahu
ke lokasi fence. Pemberian pakan dilakukan sekali dalam sehari pada sore hari dengan
cara
pakan dikepalkan dalam genggaman kemudian disebarkan di seluruh permukaan air.
Menurut
keterangan pembudidaya pemberian pakan dengan cara ini, hanya 75% pakan yang dapat
dimakan oleh ikan, sedangkan sisanya 25% tidak termakan dan terbuang oleh arus air
sungai
yang mengalir.
(b). Pakan tidak dimasak :
Bahan baku untuk pembuatan pakan tidak dimasak terdiri dari dedak, ikan asin BS,
ampas
singkong, bekatul dan ampas tahu. Komposisi dan jenis bahan baku pembuatan pakan
tidak
dimasak buatan sendiri adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 4. Jumlah bahan baku
pada
tabel dipergunakan untuk memberikan pakan bagi 12,5 ribu ekor ikan.
Pengolahan pakan menggunakan seperangkat alat-alat mekanis yang dirancang sendiri.
Peralatannya terdiri dari generator diesel berkekuatan 15.000 watt, mesin cincang daging
(molen) ukuran besar 4 buah dan dinamo sebagai tenaga penggerak. Cara pembuatan
pakan
adalah sebagai berikut: Masing-masing bahan baku pakan ditimbang sesuai kebutuhan
dan
dicampur di dalam wadah ukuran persegi empat yang terbuat dari papan serta diaduk
sampai
rata, kemudian dimasukkan kedalam molen untuk diproses menjadi pelet. Kemudian
pelet di
tampung dalam wadah plastik, dijemur beberapa jam di sinar matahari dan siap untuk
diberikan kepada ikan. Hasil pakan olahan hampir sama dengan pakan buatan pabrik
yaitu
pelet berbentuk silindris ukuran diameter 5 mm dan panjang 45 cm. Menurut keterangan
pembudidaya pemberian pakan dengan cara ini lebih efektif karena sebanyak 99% pakan
dapat dimakan oleh ikan, sedangkan sisanya sebanyak 1% terbuang bersama arus air
sungai
yang mengalir.