Anda di halaman 1dari 9

Zat non-gizi yang terdapat dalam makanan ada yang bermanfaat bagi kesehatan dan ada juga

yang merugikan kesehatan. Adapun zat non gizi yang berguna diantaranya adalah serat.
Sedangkan zat non gizi yang merugikan misalnya antivitamin dan racum alami. Beberapa bahan
pangan ternyata diketahui mengandung racun. Racun tersebut terdapat pada bahan makanan
secara alami.

Beberapa contoh bahan makanan yang mengandung racun alami di antaranya:

Singkong
Racun alami pada daun dan umbi singkong adalah racun biru atau HCN (asam sianida).
Penyebaran zat racun ini pada daun merata, sedang di dalam umbi terutama terdapat di dalam
lapisan kulit sebelah dalam. Asam sianida akan menjadi aktif melalui suatu reaksi yang terjadi
apabila daun atau umbi singkong itu terluka.
Semua jenis singkong mengandung HCN, hanya kadarnya berlainan. Singkong yang digoreng
lebih besar kemungkinannya menjadi penyebab keracunan makanan. Hal ini disebabkan HCN
tidak larut dalam minyak. Namun demikian, sebagian bahan beracun ini dapat menguap karena
suhu minyak goreng yang tinggi.
Singkong juga mengandung racun linamarin dan lotaustralin, yang keduanya termasuk golongan
glikosida sianogenik. Linamarin terdapat pada semua bagian tanaman, terutama terakumulasi
pada akar dan daun. Singkong dibedakan atas dua tipe, yaitu pahit dan manis. Singkong tipe
pahit mengandung kadar racun yang lebih tinggi daripada tipe manis. Jika singkong mentah atau
yang dimasak kurang sempurna dikonsumsi maka racun tersebut akan berubah menjadi senyawa
kimia yang dapat mengganggu kesehatan. Gejala keracunan sianida, antara lain penyempitan
saluran nafas, mual, muntah, sakit kepala, bahkan pada kasus berat dapat menimbulkan
kematian. Untuk mencegah keracunan singkong, sebelum dikonsumsi sebaiknya singkong dicuci
untuk menghilangkan tanah yang menempel, dikupas lalu direndam dalam air bersih yang hangat
selama beberapa hari, dicuci lalu dimasak sempurna baik dibakar atau direbus.
Singkong tipe manis hanya memerlukan pengupasan dan pemasakan untuk mengurangi kadar
sianida ke tingkat non toksik. Singkong yang biasa dijual di pasar adalah singkong tipe manis.
Ada lagi yang disebut singkong karet. Singkong ini mengandung cyanogenik glycoside yang
akan diubah menjadi asam sianida oleh enzim yang disebut linamarase. Hal ini terjadi ketika
dinding sel tanaman ini rusak, terutama pada saat dimakan. Oleh karena itulah singkong karet ini
jika dimakan secara tidak hati-hati akan membawa banyak masalah. Menangani singkong ini
harus hati-hati dan akan mematikan jika dikonsumsi mentah.

Kentang
Racun alami yang dikandung kentang termasuk dalam golongan glikoalkaloid dengan dua
macam racun utama yaitu solanin dan chaconine. Biasanya racun yang dikandung oleh kentang
berkadar rendah dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia. Meskipun
demikian, kentang yang berwarna hijau, bertunas dan secara fisik telah rusak atau membusuk
dapat menyebabkan glikoalkaloid dalam kadar yang tinggi. Racun tersebut terutama terdapat
pada daerah yang berwarna hijau, kulit atau daerah di bawah kulit. Kadar glikoalkoid yang tinggi
dapat menimbulkan rasa seperti terbakar di mulut, sakit perut, mual dan muntah. Sebaiknya
kentang disimpan di tempat yang sejuk, gelap, dan kering serta dihindarkan dari paparan sinar
matahari atau sinar lampu. Untuk mencegah terjadinya keracunan sebaiknya kentang dikupas
kulitnya dan dimasak sebelum dikonsumsi.
Bayam
Sayuran yang satu ini banyak dikonsumsi karena kandungan gizi yang melimpah. Namun, jika
tidak hati-hati bayam bisa meracuni akibat asam oksalat yang banyak terkandung dalam bayam.
Asam oksalat yang terlalu besar dapat mengakibatkan defisiensi nutrient, terutama kalsium.
Selain itu, asam oksalat juga merupakan asam kuat sehingga dapat mengiritasi saluran
pencernaan, terutama lambung. Asam oksalat juga berperan dalam pembentukan batu ginjal.
Untuk menghindari pengaruh buruk akibat asam oksalat sebaiknya tidak mengkonsumsi
makanan yang mengandung senyawa itu terlalu banyak.

Tomat
Bagi penggila sambal, tomat merupakan sayuran yang paling banyak dikonsumsi. Namun, hati-
hati terhadap tomat hijau yang memiliki racun alami jenis glikoalkaloid yang dapat menimbulkan
perasaan mual dan nyeri perut. Racun itu menyebabkan tomat hijau berasa pahit saat dikonsumsi.
Untuk mencegah terjadinya keracunan, sebaiknya hindari konsumsi tomat hijau dan jangan
pernah mengkonsumsi daun dan batang tanaman tomat.

Seledri
Seledri, tanaman sayuran ini mengandung senyawa psoralen yang termasuk racun golongan
kumarin. Senyawa itu bisa menimbulkan reaksi sensitivitas pada kulit jika terpapar matahari.
Untuk menghindari efek toksik psoralen, sebaiknya hindari terlalu banyak mengkonsumsi seledri
mentah. Lebih aman jika seledri dimasak sebelum dikonsumsi karena psoralen dapat terurai
melalui proses pemasakan.

Rebung
Rebung atau pucuk bambu. Racun alami dalam rebung masuk dalam golongan glikosida
sianogenik. Untuk mencegah keracunan, sebaiknya pucuk bambu yang akan dimasak terlebih
dahulu dibuang daun terluarnya, diiris tipis lalu direbus dalam air mendidih dengan penambahan
sedikit garam selama 9-10 menit. Gejala keracunannya mirip dengan gejala keracunan singkong,
antara lain penyempitan saluran nafas, mual, muntah dan sakit kepala.

Ackee
Buah ackee ini adalah buah khas dan menjadi salah satu ciri khas Jamaika, walaupun ternyata
tanaman ini tidak berasal dari kepulauan ini. Pada 1780, tanaman ini diimpor dari Afrika Barat.
Buah ini kaya akan asam lemak, vitamin A, seng dan protein nabati. Ackee ini adalah bahan
penting bagi banyak masakan khas Karibia.
Namun, bukan berarti kita bebas makan buah ini. Buah yang belum matang mengandung racun
yang akan menyebabkan muntah, kejang dan bahkan kekurangan zat gula yang sering berakibat
fatal. Bahkan setelah matang, hanya bagian yang berwarna kuning dan lembut saja yang bisa
dimakan. Kulit luar yang berwarna kemerahan dan biji buah ini akan menyebabkan kematian jika
tidak sengaja terkonsumsi.

Zucchini
Bahan pangan lain yang patut mendapat perhatian adalah zucchini (semacam ketimun) yang
mulai banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Racunnya menyebabkan zucchini berasa pahit.
Namun, zucchini yang telah dibudidayakan jarang ada yang berasa pahit. Gejala keracunan
zucchini misalnya muntah, kram perut, diare dan pingsan. Sebaiknya hindari mengkonsumsi
zucchini yang berbau tajam dan berasa pahit.

Apel
Ternyata buah ini berbahaya, tapi untungnya hanya bagian biji saja. Buah ini ternyata
menyimpan banyak bahaya dalam biji kecilnya. Para ilmuwan berhasil menemukan bahwa biji
apel mengandung cyanogenic glycoside, atau sianida. Jika kita tidak sengaja mengkonsumsi
bijinya, bersiaplah untuk segera ke dokter. Memang belum pasti berapa banyak biji yang „harus‟
ditelan supaya dapat mematikan, tapi setidaknya, begitu makan apel dan kita merasakan sakit
perut, atau muntah-muntah, keringat berlebihan, segeralah ke dokter.
Buah lain yang mengandung racun yang sama pada bijinya misalnya aprikot, pir, plum, ceri dan
peach. Walaupun bijinya mengandung racun, daging buahnya tidak beracun. Jika terkunyah, biji
buah yang mengandung hidrogen sianida yang bersifat racun. Gejala keracunan mirip dengan
gejala keracunan singkong dan pucuk bambu. Sebaiknya tidak dibiasakan mengkonsumsi biji
dari buah-buahan tersebut. Bila anak-anak menelan sejumlah kecil saja biji buah-buah tersebut,
maka dapat menimbulkan gejala keracunan dan pada sejumlah kasus dapat berakibat fatal.

Ikan Buntal
Penampilannya memang lucu, tapi ikan ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Ikan ini
mengandung tetrodotoksin (TTX), racun kuat yang akan melumpuhkan otot dan akhirnya korban
akan mati karena kehabisan nafas. Racun ini banyak terkandung di hati dan indung telur ikan ini,
sehingga hanya chef dengan izin khusus yang berhak menyajikan ikan ini.
Di Jepang, ikan ini disebut fugu, dan keracunan fugu hanya bisa ditangani oleh dokter dengan
berusaha mempertahankan sistem pernapasan dan peredaran darah sampai efek racun ini
menghilang dengan sendirinya.

Ular
Sup ular panas memang sangat mengundang selera, dan seperti kalajengking, tarantula atau laba-
laba lain, racun dari beberapa hewan berbahaya ini dengan mudah menjadi netral jika daging dari
hewan ini dimasak matang. Jadi selama kita tidak memakannya mentah, kita selamat. Tapi di
negara kita, minum darah ular mentah yang dicampur dengan empedu mungkin adalah bukti
kejantanan. Banyak orang percaya bahwa darah ular akan membawa kekuatan, jadi jika anda
termasuk penggemar darah ular, atau makan bagian dari ular yang dikonsumsi mentah, sebaiknya
berhati-hati.

TIPS MENGHINDARI KERACUNAN


Sebanyak 30% penyakit yang bersumber pada makanan disebabkan makanan tidak dipilih,
disimpan, atau diolah dengan baik. Akibatnya, dapat bermacam-macam, seperti kejang perut,
muntah, dan diare. Walaupun demikian, sebagian besar penyakit yang bersumber dari makanan
yang rusak, tidak mematikan dan tidak menyebabkan sakit yang lama. Namun, dapat berakibat
fatal pada usia sangat tua atau sangat muda (bayi atau balita).

Dari semua bahan makanan tersebut, yang paling banyak menimbulkan resiko terkontaminasi
oleh bakteri adalah daging unggas, ayam, dan telur. Lalu, bagaimana agar kita dapat terhindar
dari makhluk-makhluk kecil pengganggu itu?
Pada saat belanja di pasar atau swalayan, ambillah dahulu belanjaan selain makanan. Kemudian,
ambil bahan makanan yang dikemas atau kalengan, dan yang terakhir baru makanan segar seperti
daging, sayur, dan telur. Periksalah bahan makan kalengan, jangan mengambil jika kemasan
terlihat rusak, menggelembung, atau penyok. Jangan sekali-kali membeli makanan kalengan
yang sudah kadaluarsa. Jangan minum susu dan makan telur atau ikan mentah, apalagi jika
menderita sakit atau mempunyai kelainan pada sistem imunitas tubuh.

Sebelum membeli telur, periksa benar-benar kesegarannya dan apakah betul-betul tidak retak
atau bocor. Jika membeli makanan jadi, pilihlah yang dijual pada tempat yang terjaga
kebersihannya. Keracunan karena kerang dan makanan laut lain sering kita dengar, jadi perlu
ekstra hati-hati dalam memilih.

Bila perjalanan kita lebih dari satu jam setelah belanja makanan segar, sedapatnya taruh daging
dan makanan yang mudah rusak dalam satu wadah yang berisi es. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada penyimpanan makanan dalam lemari es. Segera simpan daging, sayur, susu,
telur, dan bahan makanan segar lain ke dalam lemari es. Buanglah makanan yang sudah
disimpan terlalu lama. Seringlah periksa apakah lemari es bekerja baik pada temperatur yang
sesuai. Periksalah dan jangan biarkan air daging mentah menetes dan mengenai makanan lain.

Simpanlah telur di tempat yang dalam, jangan pada sisi pintu. Jangan biarkan makanan
menumpuk, seringlah memilih makanan di dalam, dan buang segera jika sudah ada tanda-tanda
rusak atau berjamur.

Jangan menyimpan makanan di bawah tempat cuci piring atau dekat bahan-bahan pembersih alat
rumah tangga. Jangan biarkan makanan hangat atau dingin pada suhu kamar terlalu lama. Jika
ingin makan telur setengah matang, rebuslah telur sampai kuning telur agak keras dan putih telur
keras.

http://krossx.wordpress.com/2010/06/29/tips-menghindari-keracunan-makanan/

nam Langkah Untuk Mencegah Keracunan Makanan

Banyak kasus keracunan makanan (food poisoning) yang meminta korban. Korban terkapar
kesakitan usai mengkonsumsi makanan kecil sampai harus dibawa ke rumah sakit. Usut punya
usut, makanan kecil yang mereka santap ternyata dibubuhi racun sianida. Kasus keracunan
makanan macam itu boleh dibilang bentuk "kecelakaan" yang sering terjadi.

Pesta pernikahan, ulang tahun, penyediaan makanan bagi karyawan suatu perusahaan, dsb.
adalah beberapa contoh lain kegiatan melibatkan makanan yang ditengarai rawan keracunan.
Dengan kata lain, kegiatan penyediaan makanan dalam jumlah besar seperti dilakukan
perusahaan katering, rumah makan, dan industri makanan, berpeluang memunculkan masalah
keracunan.

Kalau kasus keracunan, kerugian akan menimpa banyak pihak. Konsumen mendapat rasa sakit.
Bahkan pada kelompok berisiko tinggi seperti balita, lansia, atau orang sakit bisa berisiko
kematian. Sementara produsen atau penyedia makanan akan menderita penurunan, atau
kehilangan, kepercayaan konsumen.

Biang keladinya macam-macam keracunan makanan sejatinya gejala klinis atau gangguan
kesehatan akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi racun. Bisa berasal dari bahan
kimia, racun alami makanan, atau mikroorganisme. Kalau terjadi akibat bahan kimia, biasanya
itu gara-gara kecerobohan atau kesengajaan. Bahan itu di antaranya sianida, pestisida yang
digunakan berlebihan pada produk pertanian, dan bahan kimia rumah tangga.

Makanan yang pada dasarnya sudah menyimpan racun juga bisa menimbulkan keracunan.
Biasanya akibat pengolahan atau pemasakannya kurang sempurna atau dikonsumsi mentah-
mentah. Contoh :

 Singkong dan daunnya mengandung zat amidalin. Sewaktu-waktu asam sianidanya dapat
terlepas dari ikatannya sehingga bisa menimbulkan keracunan sianida.
 Biji jengkol mengandung asam jengkol yang sukar larut dalam air.
 Kentang dengan racun solanin bisa menimbulkan gejala muntah-muntah, diare, sakit
kepala, sakit perut, dan badan lemah.
 Mikroorganisme yang mencemari makanan berulah dengan cara mengeluarkan racun
(bacterial food poisoning) atau menginfeksi saluran pencernaan (bacterial food
infection).

Clostridium botulinum adalah contoh mikroorganisme yang meracuni dengan cara mengeluarkan
racun. Penderita yang terserang toksin ini umumnya meninggal karena kesulitan bernapas.
Bakteri ini sering terdapat pada makanan kaleng yang sudah rusak, umpamanya kaleng
kembung, berkarat, bocor, segel rusak, isinya menggelembung, berbau, atau berwarna tak
normal.

Juga Pseudomonas cocovenans yang menghasilkan racun pada tempe bongkrek, dan
Staphylococcus aureus yang mengeluarkan toksin pada makanan berprotein tinggi (daging, telur,
susu, ikan) dan makanan yang disiapkan dalam jumlah besar.

Sedangkan yang menginfeksi saluran pencernaan di antaranya Salmonella sp., penyebab


salmonellosis. Orang bisa menularkan penyakit ini bila menderita sakit atau sebagai pembawa
(karier). Makanan yang sering tercemar salmonela antara lain daging atau hasil olahannya, telur
retak, dan makanan yang disimpan pada suhu 10-60 derajat C (danger zone).

Ada enam langkah mencegah keracunan seperti dimasyarakatkan Departemen Kesehatan RI.
Tidak cuma untuk sektor industri, tapi bisa pula untuk tingkat rumah tangga.

Langkah itu dimulai dari :


1. Pemilihan bahan makanan,
2. Penyimpanan makanan mentah,
3. Pengolahan bahan makanan,
4. Penyimpanan makanan jadi,
5. Pengangkutan,
6. Penyajian.

Semua itu bertujuan menyediakan makanan sehat dan aman dikonsumsi, dengan menekankan
pentingnya aspek higiene dan sanitasi. Biasanya, bahan makanan dibagi menjadi dua jenis: yang
tidak mudah rusak dan tahan lama, serta yang mudah rusak. Yang tahan lama biasanya dibeli
dalam jumlah besar dan disimpan sebagai persediaan. Sedangkan yang mudah rusak lebih sering
dibeli dadakan.

Saat belanja inilah tahap pemilihan bahan makanan mulai dilakukan. Pemilihan bahan akan lebih
efektif bila dibeli dalam jumlah terbatas. Khusus untuk makanan mudah rusak, proses seleksi
lebih baik dilakukan saat pengolahan. Lalu seleksi makanan yang tidak mudah rusak dilakukan
saat penyimpanan. Yang berkondisi tidak baik disingkirkan agar tidak mencemari bahan
makanan lain yang berkondisi baik.

Menyimpan bahan makanan yang tidak mudah rusak dan yang mudah rusak juga perlu
dibedakan. Yang gampang rusak disimpan di lemari es atau gudang berpendingin. Yang awet
cukup ditaruh di gudang biasa atau lemari bahan makanan. Yang penting, tempatnya bebas tikus,
menerapkan prinsip FIFO (first in first out), mudah dibersihkan, dan penempatannya dipisahkan
dari bahan kimia.

Langkah ketiga, pengolahan bahan makanan menjadi makanan siap santap, yang merupakan
salah satu titik rawan terjadinya keracunan. Banyak kasus keracunan terjadi karena tenaga
pengolahnya tidak memperhatikan aspek higiene dan sanitasi. Soal sepele seperti kebersihan
kuku, pakaian kerja, dan rambut sering diabaikan, padahal bisa berakibat fatal.

Perilaku kurang baik, seperti merokok saat mengolah makanan, tidak mencuci tangan setelah
dari kamar kecil, dan tetap mengolah makanan meskipun dalam keadaan sakit memperbesar
risiko terjadinya keracunan. Sesudah diolah, makanan umumnya disimpan lebih dulu, lalu
diangkut untuk disajikan. Terjadinya kontaminasi pada tiga tahap terakhir bisa sangat berbahaya,
karena makanan sudah dalam keadaan matang atau siap santap.

Khusus untuk di rumah, hati-hati dengan makanan setengah matang. Jangan pernah
menyimpannya secara sembarangan hanya karena berpikiran akan dimasak lagi. Bisa jadi suhu
untuk memanaskan makanan menjadi setengah matang tidak cukup untuk membunuh kuman.
Jadi, lebih baik simpan makanan setengah matang dalam wadah tertutup untuk menghindari
kontaminasi.
http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/625-enam-langkah-untuk-mencegah-keracunan-makanan

“8 Warga di Sulsel Tewas Keracunan Makanan Saat Buka Puasa.”


“130 Buruh Pabrik Keracunan Bersama di Bekasi.”
“64 Buruh Pabrik Sepatu Keracunan Makanan di Semarang.”
“55 Warga Jember Keracunan Setelah Menyantap Hidangan Resepsi Pernikahan”.
Itu adalah beberapa contoh berita surat kabar mengenai kasus keracunan makanan.
Keracunan makanan adalah masalah menyedihkan yang terus berulang terjadi dan mengancam
hidup jutaan orang di seluruh dunia.

Keracunan makanan dapat disebabkan mengkonsumsi makanan beracun


(misalnya, beberapa jenis jamur liar, keong racun, ikan buntal, tempe bongkrek, dll) atau
mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau zat beracun lainnya. Ada lebih
dari 250 jenis bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, yang paling umum di
antaranya adalah clostridium botulinum, salmonella gastro, dan escherichia coli.

1. Clostridium botulinum

Bakteri Clostridium botulinum menghasilkan racun yang mencegah transmisi impuls saraf ke
otot . Mual, muntah dan kram perut adalah gejala umum yang ditimbulkannya. Efek dimulai
pada syaraf di kepala sehingga menyebabkan penglihatan kabur/ganda dan kesulitan menelan,
kemudian menyebar ke punggung sehingga menyebabkan kelumpuhan otot lengan, otot
pernapasan, dan mungkin juga otot kaki. Gejala ini biasanya muncul 4-36 jam setelah menelan
toksin, tetapi bisa memakan waktu hingga delapan hari.

Makanan kaleng adalah sumber utama botulisme (keracunan botulinum). Selain itu, botulisme
juga dapat bersumber dari makanan bayi, yang dapat berakibat fatal bagi kelompok usia ini. Cara
terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan
menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau
busuk, meskipun tidak selalu demikian.

Botulisme adalah kedaruratan medis yang harus segera mendapatkan perawatan. Dengan
tersedianya antitoksin, 90% lebih pasien botulisme dapat diselamatkan.

2. Salmonella gastro

Salmonellosis mengacu pada sejumlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella. Salah
satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah demam tifoid. Bentuk umum salmonellosis
adalah gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri salmonella gastro. Bakteri ini dapat
menyebar dari orang ke orang dan dari hewan ke orang. Makanan yang biasanya
mengandung salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering
ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan yang
terkontaminasi kotoran hewan. Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga
dapat menyebarkan bakteri ini.‟
Gejala gastroenteritis yang disebabkan oleh salmonella termasuk mual, kram perut dan diare.
Pada kasus yang parah, ada lendir dan darah pada tinja. Gejala awal biasanya muncul 12 sampai
24 jam setelah menelan makanan yang terkontaminasi. Keracunan ini biasanya tidak serius dan
berlangsung selama dua sampai lima hari. Namun, salmonellosis bisa berakibat fatal pada
bayi, lansia dan pasien yang sakit parah. Pada kasus yang sangat jarang, salmonella bisa
menembus aliran darah sehingga menyebabkan artritis, penyakit jantung, infeksi tulang dan
masalah perut jangka panjang.

Perawatan infeksi yang disebabkan oleh salmonella melibatkan banyak minum untuk mengganti
cairan yang hilang karena diare. Jika korban kehilangan terlalu banyak cairan, dia harus dirawat
di rumah sakit untuk mendapatkan infus. Antibiotik dan obat anti-diare mungkin diberikan untuk
mengontrol gejala yang parah.

3. Escherichia coli

Kebanyakan strain Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri bermanfaat yang hidup dalam sistem
pencernaan. Mereka tidak menyebabkan penyakit. Namun beberapa strain E. coli dapat
menyebabkan efek keracunan pada tubuh. Salah satu strain yang paling ditakuti adalah E. coli
0157 yang menghasilkan racun yang disebut toksin Shiga. Racun ini merusak sel-sel dinding
usus sehingga menimbulkan perdarahan. Toksin E. coli 0157 juga memecah sel darah merah,
menyebabkan anemia dan menurunkan jumlah trombosit. Pada 10% kasus, keracunan E. coli
berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dan organ penting lainnya. Risiko kematian
terutama tinggi pada anak-anak dan lansia.

E. coli 0157 memiliki masa inkubasi antara 1-3 hari. Waktu tersebut dibutuhkan bakteri untuk
melakukan perjalanan ke usus besar dan berkembang biak di sana ke tingkat yang menyebabkan
masalah. Karena bakteri terutama memengaruhi usus besar, gejala utama adalah sakit perut dan
diare. E. coli 0157 jarang menyebabkan muntah, meskipun penderita merasakan sakit perut
dan diare hebat sehingga ada bintik-bintik darah segar di tinjanya. Berbeda dengan jenis
keracunan makanan lainnya, E. coli 0157 sangat gigih dan membutuhkan waktu seminggu atau
lebih sebelum diare mereda.

Keracunan E. coli timbul karena mengkonsumsi daging, khususnya daging sapi cincang. Jika
daging tidak matang sepenuhnya, bakteri dapat bertahan hidup dan berkembang biak di dalam
tubuh kita bila dikonsumsi. Hanya perlu 10 bakteri hidup dalam burger atau sosis untuk dapat
menyebabkan keracunan makanan E. coli. Bakteri ini juga dapat menyebar melalui makanan atau
air yang tercemar kotoran hewan.

E. coli tidak terpengaruh oleh obat antibiotik. Perawatan keracunan E. coli hanya bersifat
suportif dengan banyak mengganti cairan yang hilang. Orang yang mengalami masalah ginjal
akibat komplikasi mungkin perlu perawatan dialisis.

Salah satu wabah terbesar E.coli 0157, terjadi di Wishaw di Skotlandia pada tahun 1996 yang
disebabkan oleh daging yang terkontaminasi. Sekitar 200 orang jatuh sakit, dua puluh di
antaranya meninggal dunia.
Pembaca artikel ini juga membaca:

1. Spesies Bakteri Probiotik dan Manfaatnya Usus besar yang sehat harus mengandung probiotik
(bakteri bersahabat) minimal 85% untuk mencegah kolonisasi mikroba buruk seperti E. coli dan...
2. 12 Tips Mencegah Keracunan Makanan Sebagian besar kasus keracunan makanan sebenarnya dapat
dihindari dengan penerapan standar kebersihan yang baik dalam proses menyiapkan, menyajikan dan
mengkonsumsi...
3. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Infeksi saluran kemih (ISK) adalah jenis infeksi yang sangat sering terjadi. ISK
dapat terjadi di saluran ginjal (ureter), kandung kemih...
4. Ada Lebih Banyak Bakteri di Tangan Wanita! Mungkin Anda mengira telapak tangan wanita yang
halus dan mulus lebih sehat daripada telapak tangan pria. Anda salah! Wanita memiliki...
5. Agar Susu Formula Tidak Tercemar Bakteri Akhir-akhir ini media massa banyak memberitakan hasil
penelitian tim IPB yang berkesimpulan bahwa sekitar 23 persen susu formula mengandung bakteri...

<p>Your browser does not support iframes.</p>


http://majalahkesehatan.com/3-bakteri-penyebab-keracunan-makanan/