Anda di halaman 1dari 3

“Mengejar” Udara Berkualitas

Written by Eri Kartiadi


Tuesday, 30 December 2008 02:58 - Last Updated Wednesday, 28 January 2009 02:16

Setidaknya terdapat 2 golongan sumber pencemaran udara, yaitu sumber bergerak dan sumber
tidak bergerak. Pembakaran emisi dari kendaraan bermotor menjadi contoh nyata pencemaran
dari sumber bergerak. Sedangkan contoh pencemaran dari sumber tidak bergerak adalah asap
dari sisa pembakaran pabrik.

Polutan – polutan yang tersebar di udara ini tentunya mampu menghadirkan penyakit bagi
tubuh yang menyerapnya. Gangguan penyakit pun beragam atau seminimalnya adalah sesak
napas (pneumokoniosis). Lebih dari itu, gas – gas emisi kendaraan bermotor maupun hasil
pembakaran dari pabrik yang bisa saja berisikan beragam zat beracum seperti karbondioksida,
metan, klorofluorokarbon, oksida nitrogen dan sebagainya, dapat menimbulkan penipisan
lapisan ozon yang dampaknya lebih luas lagi. Begitu pula gas – gas asam yang 'meramai'kan
udara kita seperti asam sulfat, asam klorida atau asam nitrat dapat menimbulkan terjadinya
hujan asam (acid rain) yang dampaknya pun fatal bagi kehidupan masyarakat luas.

Paul Butar-Butar, Senior Program Officer Clean Air Project (Swisscontact) saat pertemuan
dengan Komisi D DPRD DKI di ruang rapat komisi D, Jakarta Januari silam mengatakan, “94%
penyakit pernafasan yang diderita oleh masyarakat Jakarta disebabkan oleh pencemaran udara
luar ruang. Seperti yang disebabkan oleh asap dari angkutan umum. Sedangkan 30 persen
penyakit pernafasan, disebabkan oleh pencemaran dalam ruang seperti adanya asap rokok di
ruang yang menggunakan AC.”

Tentu perlu upaya bersama dan keinginan kuat untuk 'mencuci' udara ini secara bertahap dan
rutin. Kegiatan Car Free Day yang dilakukan oleh pemerintah daerah seperti di Jakarta,
Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya terbukti dapat menurunkan tingkat polusi di hari
pelaksanaannya. Car Free Day ini pun hanya salah satu upaya untuk menurunkan performa
udara yang tercemar.

Bahkan atas keseriusan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya berhasil menyabet predikat Udara

1/3
“Mengejar” Udara Berkualitas

Written by Eri Kartiadi


Tuesday, 30 December 2008 02:58 - Last Updated Wednesday, 28 January 2009 02:16

Kota Terbersih dalam ajang Program Langit Biru Terbaik diantara 12 kota besar di seluruh
Indonesia. Progam Langit Biru merupakan inisiatif dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup
(KNLH) melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 1996.

Total hari bersih tiap tahun sejak peluncurannya di 1996 terus meningkat. Budirama
Natakusumah, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, menyampaikan
pada 2006 terselenggara 45 hari bersih, 2007 ada 73 hari, dan 2008 ditargetkan 100 hari bebas
polusi. Karena program ini dianggap sukses dan dapat meningkatkan kualitas udara, terutama
di Jakarta diperluas ke kota madya, seperti Jalan Wijaya untuk Jakarta Selatan, Jalan Danau
Sunter di Jakarta Utara dan di kawasan Kota Tua untuk Jakarta Barat.

Walikota Jakarta Barat Joko Ramadhan antusias menjadikan aktifitas bulanan ini menjadi
aktifitas rutin tiap minggu. “Mengingat car free day sejak tahun 2007 sukses, maka kami
berencana dilaksanakan sepekan sekali dari awalnya sebulan sekali," paparnya di sela-sela
kegiatan car free day di Kota Tua, Jakarta.

Demikian pula Pemerintah Kota Surabaya akan bertindak sama. Kepala Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup (BPLH) Pemkot Surabaya, Togar Arifin Silaban mengatakan, program Car
Free Day kali ini rencananya akan dijadikan agenda rutin Pemkot Surabaya. “Namun program
itu akan dilakukan evaluasi dulu, terutama pada efektivitas untuk menekan tingkat polusi di
Surabaya,” katanya.

Car Free Day hanyalah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran udara yang
semakin kronis akibat meningkatnya pembuangan gas – gas beracun baik melalui emisi
kendaraan bermotor maupun industri. Tentunya sebagai warga masyarakat yang baik, perlu
turut aktif meminimalisir melakukan pencemaran udara.

Keberadaan peraturan daerah yang jelas serta mendukung pencegahan pencemaran udara
perlu diperluas. Kesadaran untuk memiliki perlu datang dari pemerintah daerah yang mengenal
karakteristik wilayahnya masing – masing. “Kota Medan sampai saat ini belum mempunyai
Perda yang mengatur tentang pencemaran udara, tidak seperti di kota-kota besar lainnya, yakni
Surabaya dan Jakarta,” kata Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan dan Energi Sumber Daya
Mineral Kota Medan yang disampaikan Kabag Tata Usaha, Lis Setyowati di Medan. Untuk itu,
Pemerintah Kota medan rencananya akan merealisasikan hal ini di 2009, “namun tergantung
pada anggaran yang ada,” tambahnya.

2/3
“Mengejar” Udara Berkualitas

Written by Eri Kartiadi


Tuesday, 30 December 2008 02:58 - Last Updated Wednesday, 28 January 2009 02:16

Pengendalian udara tentunya bukan kerja perseorangan tapi harus sepakat secara kolektif
melakukannya, baik masyarakat maupun pemerintah daerah maupun nasional. Setidaknya
pengendalian pencemaran udara bisa dilakukan dengan penggunaan bahan bakar yang lebih
ramah lingkungan, sekaligus memperhatikan kualitas mesin kendaraan agar tetap baik dan
tidak membuang emisi berlebihan. Untuk kalangan industri misalnya pabrik, melakukan
pengolahan limbah udara dengan menggunakan teknologi dust collector yang menangkap
debu. Dan terakhir adalah menggiatkan kegiatan penghijauan untuk menyerap zat – zat
pencemar hingga lebih 'akrab' dengan lingkungan.

3/3