Anda di halaman 1dari 18

Bab 1

Pendahuluan

1.1 Latar belakang masalah

Menurut teori hukum tata Negara, di antara syarat berdirinya sebuah Negara
adalah adanya penduduk di samping pemerintah, dan wilayah serta pengakuan
kedaulatan oleh Negara lain. Kita ketahui bahwa wilayah Indonesia dihuni oleh
banyak etnis yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Bermacam ragam etnis yang
menghuni wilayah Negara Indonesia disebut Penduduk Indonesia. Di antara
penduduk Indonesia ada yang warga Negara dan ada yang bukan warga Negara
(orang asing), warga Negara inilah yang disebut rakyat. Di Indonesia, persoalan
kewarganegaraan ini telah menjadi perhatian besar pemerintah, baik pada masa
kolonial Belanda maupun pemerintah republik Indonesia menjelang dan sesudah
kemerdekaan tahun 1945. Status kewarganegaraan seseorang merupakan hal penting,
baik bagi orang yang bersangkutan maupun bagi Negara yang didiaminya, dan
menentukan hak dan kewajiban orang yang bersangkutan terhadap Negara yang
didiaminya. Bukankah hak dan kewajiban seorang warga Negara berbeda dengan hak
dan kewajiban seseorang yang bukan warga Negara ?
Sampai sekarang status kewarganegaraan masih sering menjadi masalah yang
sulit dipecahkan. Terutama apabila menyangkut hubungan antara dua Negara. Hal ini
terjadi karena masih terdapat perbedaan dalam menganut asas, cara-cara memperoleh,
dan faktor kehilangan kewarganegaraan.
Berhubung pentingnya masalah status kewarganegaraan dalam kehidupan
bernegara, hampir semua Negara mengatur masalah ini dalam suatu undang – undang
tersendiri. Selanjutnya, bagaimanakah halnya dengan kewarganegaraan Indonesia ?
Apakah hak dan kewajiban warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, dan bagaimana penerapan prinsip-prinsip persaman berusaha
dipraktikan di Indonesia ?
.

1
1.2 Batasan masalah

Dalam paper kali ini penulis membuat batasan dengan memfokuskan pada
kedudukan warga Negara dan persamaannya dalam berbagai bidang kehidupan di
Indonesia.

1.3 Rumusan masalah

Dengan melihat latar belakang yang ada maka penulis dapat merumuskan
beberapa masalah yang akan dibahas dalam paper kali ini :
a. Apa pengertian warga Negara ?
b. Apa pengertian pewarganegaraan ?
c. Siapa saja yang bisa menjadi warga Negara RI ?
d. Apa saja undang-undang tentang kewarganegaraan di Indonesia ?
e. Apa saja asas dan stelsel pewarganegaraan di Negara RI ?
f. Bagaimana seseorang dapat memperoleh kewarganegaraan di Indonesia ?
g. Mengapa seseorang dapat kehilangan kewarganegaraan di Indonesia ?
h. Apa saja contoh persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ?
i. Bagaimana kita dapat lebih menghargai persamaan kedudukan warga Negara
dalam kebhinekaan bangsa Indonesia ?

1.4 Tujuan Penulisan

a. Mengetahui kedudukan warga Negara dan pewarganegaraan di Indonesia


b. Mengetahui persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
c. Menghargai persamaan kedudukan warga Negara tanpa membedakan ras,
agama, gender, golongan, budaya, dan suku.

2
BAB 2
ISI

2.1 Pengertian warga Negara

Warga Negara adalah penduduk sebuah Negara atau bangsa berdasarkan


keturunan, tempat kelahiran yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai
warga dari Negara itu

2.2 Pengertian pewarganegaraan

Pewarganegaraan adalah proses, cara perbuatan mewarganegarakan. Maksudnya,


bahwa orang asing (bukan warga Negara) dapat menjadi warga Negara dengan proses
dan prosedur yang ditentukan oleh suatu negara.

2.3 Warga Negara Republik Indonesia

Dalam persetujuan Konferensi Meja Bundar 27 Desember 1949, dikatakan bahwa


yang menjadi warga Negara RI adalah sebagai berikut :
a. Penduduk asli Indonesia, yaitu mereka yang dahulu termasuk golongan
Bumiputera dan berkedudukan di wilayah RI. Apabila mereka lahir di luar
Indonesia dan bertempat tinggal d negeri Belanda atau di luar daerah peserta
Uni (Indonesia-Belanda) maka mereka berhak memilih kewarganegaraan
Belanda dalam waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949.
b. Orang Indonesia, kawulanegara Belanda yang bertempat tinggal di Suriname
atau Antilen (koloni Belanda), akan tetapi jika mereka lahir di luar kerajaan
Belanda, mereka berhak memilih kewarganegaraan Belanda dalam waktu dua
tahun setelah 27 Desember 1949
c. Orang Cina dan Arab yang lahir di Indonesia atau sedikitnya bertempat
tinggal enam bulan di wilayah RI dan dalam waktu dua tahun sesudah
tanggal 27 Desember 1949 menyatakan memilih menjadi warga Negara
Indonesia.

3
d. Orang Belanda yang dilahirkan di wilayah RI atau sedikitnya bertempat
tinggal enam bulan di wilayah RI dan yang dalam waktu dua tahun sesudah
tanggal 27 desember 1949 menyatakan memilih warga Negara Indonesia.
e. Orang asing (kawulanegara Belanda) bukan orang Belanda yang lahir di
Indonesia dan bertempat tinggal di RI, dan yang dalam waktu dua tahun
sesudah tanggal 27 Desember 1949 tidak menolak kewarganegaraan
Indonesia.

2.4 Undang-undang kewarganegaraan di Indonesia

Sebagaimana diketahui bahwa setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17


Agustus 1945, pernah dikeluarkan undang – undang tentang Kewarganegaraan di
Indonesia sebagai berikut :
a. Undang-Undang No. 3 Tahun 1946 tentang Kewarganegaraan Indonesia.
b. Undang-Undang No. 2 Tahun 1958 tentang penyelesaian
Dwikewarganegaraan antara Indonesia dan RRC.
c. Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang kewarganegaraan Indonesia
sebagai penyempurnaan Undang-Undang No. 3 Tahun 1946
d. Undang-Undang No. 4 Tahun 1969 tentang Pencabutan UU No. 2 Tahun
1958 dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
e. Undang-Undang No. 3 Tahun 1976 tentang Perubahan Pasal 18 UU No. 62
Tahun 1958
f. Undang-Undang Kewarganegaraan Tahun 2006 yang disahkan pada tanggal
12 Juli 2006.

2.5 Asas dan stelsel pewarganegaraan di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang Kewarganegaraan


yang baru yang disahkan pada tanggal 12 Juli 2006. Dalam penjelasan Undang-
Undang itu disebutkan adanya asas dan stelsel pewarganegaraan yang dianut, yaitu
sebagai berikut :

4
a. Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan
Negara tempat kelahiran.
b. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan Negara tempat kelahiran, yang
diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini.
c. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang.
d. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini. Undang-undang ini pada dasarnya tidak mengenal
kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan
(apatride). Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam
undang-undang ini merupakan suatu pengecualian.

Selain asas tersebut diatas, beberapa asas khusus juga menjadi dasar penyusunan
Undang-Undang tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, yaitu :
a. Asas kepentingan nasional, yaitu asas yang menentukan bahwa peraturan
kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia yang
bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai Negara kesatuan yang
memiliki cita-cita dan tujuannnya sendiri.
b. Asas perlindungan maksimum, yaitu asas yang menentukan bahwa
pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap warga
Negara Indonesia dalam keadaan apapun baik didalam maupun di luar negeri.
c. Asas persamaan di dalam hukum dan pemerintahan, yaitu asas yang
menentukan bahwa setiap warga Negara Indonesia mendapatkan perlakuan
yang sama di dalam hukum dan pemerintahan.
d. Asas kebenaran substantif, yaitu prosedur pewarganegaraan seseorang tidak
hanya bersifat administratif, tetapi juga disertai substansi dan syarat-syarat
permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

5
e. Asas nondiskriminatif, yaitu asas yang tidak membedakan perlakuan dalam
segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga Negara atas dasar suku,
ras, agama, golongan, jenis kelamin, dan gender.
f. Asas pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, yaitu asas
yang dalam segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga Negara harus
menjamin, melindungi, dan memuliakan hak asasi manusia pada umumnya
dan hak warga Negara pada khususnya.
g. Asas keterbukaan, yaitu asas yang menentukan bahwa dalam segala hal ihwal
yang berhubungan dengan warga Negara harus dilakukan secara terbuka.
h. Asas publisitas, yaitu asas yang menentukan bahwa seseorang yang
memperoleh atau kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia
diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia agar masyarakat
mengetahuinya.

2.6 Memperoleh kewarganegaraan di Indonesia

Adapun cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia, diantaranya adalah sebagai


berikut :
1. Karena kelahiran
Dasar kelahiran di dalam wilayah Republik Indonesia menurut Undang-
undang ditempuh sebagai dasar untuk memperoleh kewarganegaraan RI dan
dipakai untuk menghindarkan adanya orang tanpa kewarganegaraan yang lahir di
wilayah RI. Untuk jelasnya, disebutkan dalam undang-undang bahwa diakuinya
seseorang warga Negara Indonesia, yaitu :
a) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga
Negara Indonesia.
b) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara
Indonesia dan ibu warga Negara asing.
c) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara
asing dan ibu warga Negara Indonesia.
d) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
Indonesia, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum

6
Negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak
tersebut.
e) Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya warga Negara
Indonesia.
f) Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
Indonesia.
g) Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
asing yang diakui oleh seorang ayah warga Negara Indonesia sebagai
anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18
(delapan belas) tahun atau belum kawin.
h) Anak yang lahir di wilayah Negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir
tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya.
i) Anak yang baru lahir ditemukan di wilayah Negara Republik Indonesia.
Anak yang lahir di wilayah Negara Republik Indonesia apabila ayah dan
ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui
keberadaannya.
j) Anak yang dilahirkan di luar wilayah Negara Republik Indonesia dari
seorang ayah dan ibu warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari
Negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan
kepada anak yang bersangkutan.
k) Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.
l) Anak warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum
berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh
ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai warga Negara
Indonesia.

7
2. Karena pengangkatan
Pengangkatan yang dimaksud adalah pengangkatan anak (adopsi). Apabila
ada anak orang asing yang diadopsi oleh orang tua yang berkewarganegaraan
Indonesia maka anak tersebut akan menjadi warga Negara Indonesia. Adopsi
dilaksanakan sebaiknya bila anak tersebut masih berusia di bawah lima tahun,
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat (2) bahwa anak warga Negara
Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara sah sebagai anak
oleh warga Negara asing berdasarkan penetapan pengadilan tetap diakui sebagai
warga Negara Indonesia.
Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan dibuat secara tertulis dan
disampaikan kepada pejabat dengan melampirkan dokumen sebagaimana
ditentukan di dalam peraturan perundang-undangan, disampaikan dalam waktu
paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau
sudah kawin.

3. Karena pewarganegaraan atau Naturalisasi


Kepada warga Negara asing yang ingin menjadi warga Negara Republik
Indonesia hendaknya diberi kesempatan untuk melaksanakan keinginan itu. Tentu
saja kepentingan Indonesia tidak boleh terganggu oleh pemberian
pewarganegaraan tersebut (sesuai dengan asas kepentingan nasional).
Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin
b) Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah
Negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau
paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut.
c) Sehat jasmani dan rohani
d) Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar Negara Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
e) Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana penjara 1
(satu) tahun atau lebih.

8
f) Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak
menjadi kewarganegaraan ganda.
g) Mempunyai pekerjaan atau berpenghasilan tetap.
h) Membayar uang pewarganegaraan pada kas Negara.

4. Karena pernyataan memilih


Menurut undang-undang ini dalam hal status kewarganegaraan Republik
Indonesia terhadap anak berakibat ganda, setelah berusia 18 (delapan belas) tahun
atau sudah kawin anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu
kewarganegaraanya.

5. Lain-lain
Dalam kasus tertentu kenyataan yang berkembang di zaman modern
sekarang, di beberapa Negara seseorang dapat memperoleh status
kewarganegaraan karena penghargaan atas jasa-jasanya pada Negara tertentu, atau
karena prestasi yang diraihnya membawa nama harum bagi Negara yang
bersangkutan, misalnya pelatih sepakbola yang berkewarganegaraan Belanda
(Paul Hiddings) mendapat kewarganegaraan kehormatan dari Negara Korea
Selatan atas jasanya membina Tim kesebelasan sepakbola sampai ke babak
semifinal kejuaraan dunia.

2.7 Hilangnya kewarganegaraan Indonesia

Menurut UU Kewarganegaraan Tahun 2006, secara ringkas dapat dijelaskan


bahwa seorang warga Negara Indonesia akan kehilangan kewarganegaraannya bila
memenuhi hal-hal berikut :
a) Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauan sendiri.
b) Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang
yang bersangkutan mendapatkan kesempatan itu.
c) Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonannya
sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas tahun) atau sudah
kawin, bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang
kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

9
d) Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari presiden.
e) Secara sukarela masuk dalam dinas Negara asing yang jabatan dalam dinas
semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan hanya dapat dijabat oleh warga Negara Indonesia.
f) Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada
Negara asing atau bagian dari Negara asing tersebut.
g) Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu Negara asing.
h) Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari Negara asing atau
surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih
berlaku dari Negara lain atas namanya.
i) Bertempat tinggal di luar wilayah Negara Republik Indonesia selama 5 (lima)
tahun terus menerus bukan dalam rangka dinas Negara, tanpa alasan yang sah
dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi
warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir,
dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan
pernyataan ingin tetap menjadi warga Negara Indonesia kepada perwakilan
Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang
bersangkutan padahal perwakilan Republik Indonesia tersebut telah
memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang
bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

Hal yang perlu kita ketahui adalah :


a) Kehilangan kewarganegaraan republik Indonesia bagi seorang ayah tidak
dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya yang mempunyai hubungan
hukum dengan ayahnya sampai dengan anak tersebut berusia 18 (delapan
belas) tahun atau sudah kawin.
b) Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia bagi seorang ibu tidak
dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya yang tidak mempunyai
hubungan hukum dengan ayahnya sampai dengan anak tersbut berusia 18
(delapan belas) tahun atau sudah kawin.

10
c) Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia karena memperoleh
kewarganegaraan lain bagi seorang ibu yang putus perkawinannya tidak
dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya sampai dengan anak tersebut
berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
d) Dalam hal status kewarganegaraan Republik Indonesia terhadap anak
berakibat anak berkewarganegaraan ganda, setelah berusia 18 (delapan belas)
tahun atau sudah kawin, anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu
kewarganegaraannya.
e) Perempuan warga Negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga
Negara asing kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut
hukum Negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti
kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut.
f) Laki-laki warga Negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga
Negara asing kehilangan kewarganegaraan republik Indonesia jika menurut
hukum Negara asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti
kewarganegaraan istri sebagai akibat perkawinan tersebut.
g) Perempuan atau laki-laki tersebut jika ingin tetap menjadi warga Negara
Indonesia dapat mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada
pejabat atau perwakilan Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat
tinggal perempuan atau laki-laki tersebut, kecuali pengajuan tersebut
mengakibatkan kewarganegaraan ganda,
h) Kehilangan kewarganegaraan bagi suami atau istri yang terikat perkawinan
yang sah tidak menyebabkan hilangnya status kewarganegaraan dari suami
atau istri.
i) Setiap orang yang memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia
berdasarkan keterangan yang kemudian hari dinyatakan palsu atau
dipalsukan, tidak benar atau terjadi kekeliruan mengenai orangnya oleh
instansi yang berwenang, dinyatakan batal kewarganegaraannya.
j) Menteri mengumumkan nama orang yang kehilangan kewarganegaraan
Republik Indonesia dalam berita Negara Republik Indonesia.

11
k) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara kehilangan dan
pembatalan kewarganegaraan diatur dalam peraturan pemerintah.

2.8 Persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, ber –


Bangsa dan bernegara

Persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat


A. Persamaan kedudukan dalam memiliki hak hidup
B. Persamaan kedudukan dalam hidup berkeluarga
C. Persamaan kedudukan untuk bertempat tinggal
D. Persamaan kedudukan dalam memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan
E. Persamaan kedudukan dalam beragama
F. Persamaan kedudukan dalam menunaikan hak dan kewajiban membela Negara
G. Persamaan hak untuk berusaha di bidang ekonomi
H. Persamaan hak untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat
I. Persamaan hak untuk memperoleh pendidikan dan perlindungan anak
J. Persamaan kedudukan dan hak untuk mengembangkan kebudayaan

Persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara


A. Hak dan kewajiban untuk membela Negara dan pertahanan keamanan
B. Persamaan kedudukan dan hukum di pemerintahan
C. Persamaan hak untuk mengeluarkan pendapat dan aspirasi
D. Persamaan hak untuk berpolitik / mendirikan partai politik dan ikut serta dalam
pemilihan umum
E. Persamaan hak untuk mengembangkan kebudayaan
F. Persamaan hak mendapat perlindungan keamanan dan bebas dari penyiksaan
G. Persamaan hak untuk mengembangkan olahraga dan seni
H. Persamaan hak untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi
I. Membangun perekonomian nasional

12
2.9 Cara menghargai persamaan kedudukan warga Negara melalui kebhinekaan
A. Perbedaan Ras
Ras ditanda dengan ciri-ciri fisik atau tubuh yang khas dan tertentu.
Semua yang berasal dari ras manapun apabila telah menjadi warga Negara
Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Masing-masing
memiliki kesempatan mengembangkan potensinya, baik dalam bidang politik,
ekonomi, sosial, maupun kebudayaannya.
B. Agama
Di Indonesia terdapat pemeluk agama yang berbeda . Kita jaga persatuan
dan kesatuan dengan memberikan dan menghormati kedudukan yang sama bagi
semua pemeluk agama untuk beribadah sesuai dengan agama masing-masing.
Hak beragama adalah hak asasi manusia yang paling asasi.
C. Gender
Di Indonesia menurut UUD 1945 tidak terdapat pengekangan dan
pembatasan hak bagi kaum wanita untuk berkiprah dalam kehidupan politik,
sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Terbukti dalam sejarah Indonesia pernah
terdapat presiden wanita, menteri wanita, dan profesi serta jabatan lain yang
dipegang oleh wanita. Hal ini menunjukkan kesamaan gender telah terbukti nyata.
D. Golongan
Berbagai golongan dalam masyarakat baik atas dasar profesi, tingkat
pendidikan, dan sebagainya mempunyai kedudukan yang sama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penggolongan atau pengelompokkan
terjadi karena para anggota memiliki kepentingan dan tujuan yang sama. Namun
demikian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mereka
memiliki kedudukan yang sama.
E. Budaya dan suku
Hal ini berarti bahwa pengembangan budaya dan hak masyarakat
tradisional selaras dengan nilai-nilai peradaban. Kesamaan untuk berkembang dan
mengembangkan kebudayaan itu selaras dengan kemajuan zaman dan peradaban
yang luhur bernilai kemanusiaan

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Apabila kesamaan kedudukan warga Negara dapat terwujud maka akan
mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :
1. Ketentraman dan kedamaian
Ketentraman dan kedamaian merupakan prasyarat bagi kehidupan
manusia. Manusia tidak akan hidup tentram dan damai apabila tidak terdapat
keamanan dan kedamaian. Orang ingin selamat dari berbagai intrik dan konflik
serta peperangan antar sesama. Untuk itu, kasus konflik seperti di Ambon, Poso,
Sambas dan lain-lain sesungguhnya bersumber dari konsep dan perasaan tidak
sama diantara sesama warga Negara. Masing-masing merasa benar dan berhak
atas sesuatu hal, sehingga timbul konflik fisik bersenjata. Padahal apabila telah
terjadi konflik dan menimbulkan korban jiwa, harta dan lain-lain akan sangat sulit
dipulihkan. Konflik antar kaum transmigran dengan penduduk asli. Penduduk asli
merasa wilayah tanah air dan wilayah leluhurnya didatangi dan diolah oleh
pendatang yang tidak jarang diantara mereka tidak merasa sebangsa.
Begitupun jika kaum pendatang merasa bangga dapat merantau di negeri
orang dan menunjukkan kejantanannya dan bahkan bersikap sombong dan tidak
bersahabat. Dua kubu demikian kalau sudah menjadi jiwa massa akan merupakan
dua kekuatan yang sangat besar. Alangkah indahnya apabila dua kekuatan besar
itu dapat dimanfaatkan untuk membangun wilayah itu bersama-sama sehingga
akan menjadi masyarakat dan wilayah yang maju. Sangat berbahaya justru apabila
kekuatan yang besar itu hanya berujung konflik yang menyengsarakan kedua
pihak. Karena itulah pengakuan kesamaan sebagai warga Negara, sama-sama
sebagai bangsa yang hidup bersaudara sangat penting artinya.

14
2. Ketertiban
Dengan adanya perlakuan yang sama bagi setiap warga Negara tanpa
adanya diskriminasi rasial maka akan tercipta ketertiban. Tidak ada diskriminasi
peradilan yang menimbulkan ketidakpuasan dan kecemburuan sosial. Misalnya
dengan berlakunya asas legalitas dalam hukum acara pidana maka setiap orang
bersamaan kedudukannnya dihadapan hukum dan pengadilan, pejabat yang
terlibat korupsi diadili tanpa pandang bulu, siapapun yang diduga kuat melakukan
tindak kejahatan korupsi akan diproses menurut hukum yang berlaku.
Pemberantasan korupsi tidak tebang pilih, semua ditindak adil dengan
tanpa diskriminatif. Berbagai kasus pelanggaran hukum masing sering menjadi
keprihatinan semua warga masyarakat sebab yang ditindak dan dikenai sanksi
hukum hanya oknum yang termasuk kelas teri, belum menyentuh oknum yang
kelas kakap apalagi aktor intelektualnya. Apabila penegakan hukum dan keadilan
dapat terlaksana akan berakibat terciptanya kepastian hukum dan pada gilirannya
kesadaran hukum masyarakat akan meningkat pula.

3. Kesejahteraan
Stabilitas nasional yang dinamis merupakan prasyarat bagi kelancaran
pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Dengan
adanya persepsi yang sama bahwa semua warga Negara memiliki kesamaan
kedudukan hak dan kewajiban dalam hidup bernegara. Apabila stabilitas nasional
terwujud dan semua warga Negara dapat berpartisipasi aktif dalam hidup
bernegara, maka Negara akan menjadi kuat. Berbagai keterpurukan ekonomi dan
sosial akan segera teratasi. Selanjutnya, hal demikian akan menimbulkan
kepercayaan diri bangsa Indonesia maupun bangsa asing. Semua warga Negara
menghargai demokrasi dan menghargai penegakan hak asasi manusia yang pada
gilirannya akan membawa berkah kesejahteraan bagi selutuh warga Negara dan
bangsa Indonesia.
Demikianlah akibat yang ditimbulkan oleh adanya persepsi dan penerapan
kesamaan kedudukan warga Negara dengan ketulusan dan ketegasan baik yang

15
dilakukan oleh aparat Negara, pemegang pemerintahan, maupun seluruh warga
Negara Indonesia.

B. Saran
Saran yang dapat saya sampaikan adalah kedudukan setiap warga Negara di
Indonesia haruslah selalu sejajar di setiap bidang kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara. Agar tercipta ketentaraman, keadilan, ketertiban, dan
kesejahteraan di dalam kehidupan masyarakat.

16
DAFTAR PUSTAKA

17
LAMPIRAN

18