Anda di halaman 1dari 10

Manual On The Production and Use

Of Live Food Of Aquaculture

Disusun oleh :

Achmad Fatah Nurdin

230110090132

Universitas Padjadjaran
Fakultas Perikakan dan Ilmu Kelautan
Sumedang
2010
BUDIDAYA ZOOPLANKTON UNTUK PAKAN LARVA IKAN

Granvil D. Treece1 dan D. Allen Davis

Di alam, zooplankton merupakan salah satu produsen


primer untuk pakan ikan. Dua dari kelompok dominan
zooplankron adalah rotifera dan sub kelas crustacea, yaitu
copepoda. Dua kelompok itu lebih senang memangsa udang dan
ikan, dan beberapa pakan yang digunakan untuk budidaya.
Budidaya larva intensiv dari ikan laut bergantung pada
ketersediaan larva zooplankton. Brachionus plicatilis adalah
rotifer yang dikembangkan dari larva pakan ikan di Jepang pada
tahun 1950. Sejak saat itu, banyak metode budidaya yang
dikembangkan. Lebih dari 60 spesies ikan laut dibudidayakan
dengan Brachionus plicatilis sebagai makanannya. Wacana ini
akan dihimpun pada budidaya dan pemberian pakan rotifer.
Tetapi termasuk ke dalam informasi penggunaan zooplankton
seperti cladocera, copepoda., dan cilliata. Zooplankton ukuran
besar penting digunakan pada akaukultur seperti Artemia (udang
air laut) yang menjadi subjek SRAC.

ROTIFER

Brachionus plicatilis biasanya digunakan untuk larva pakan


ikan di tempat pemijahan di seluruh dunia. Mereka merupakan
spesies yang tahan terhadap salinitas, kecil, dan berenang
lambat, memiliki kadar nutrisi yang baik. Ini merupakan setelan
yang baik untuk masa budidaya karena hasil dan ketahanan
yang lebar varietas dari kondisi lingkungan. Pemilihan keturunan
penting karena tingkatan reproduksi, ukuran, dan kondisi
lingkungan yang optimal (temperatur dan salinitas) dapat
mengubah semuanya dengan keturunan dan spesies yang
berbeda. Dua keturunan terbaik diketahui dari air payau dengan
tipe morfologi pada Brachionus plicalitis, ada yang berukuran
besar dan kecil. Ditemukan perbedaan spesies antara Brachionus
plicalitis dan Brachionus rotundiformis. Pada musim kemarau
diperkirakan ukurannya sebesar 0.33 mg/rotifer untuk yang
ukurannya besar, sedangkan 0,22 mg/rotifer untuk yang
ukurannya kecil. Yang kecil memiliki ukuran 126 sampai 172
mikrometer, pada satu permukaan, dan 100 sampai 340 pada
permukaan yang lain. Yang besar memiliki ukuran 183 sampai
233 mikrometer pada satu permukaan, sedangkan 130 sampai
340 pada permukaan yang lain. Larva ikan ukuran besar lebih
dapat bertahan hidup dengan rotifer, kemungkinan karena
menggunakan energi untuk memberi makan rotifer ukuran
besar. Rotifer tahan pada salinitas 1 sampai 97 ppt, tapi
reproduksi optimal terjadi pada salinitas 35 ppt. Dominan pada
salinitas 10 sampai 20 ppt. Salinitas dapat berubah tiba-tiba
lebih dari 5 ppt dapat menghambat gerakan renang bahkan
menyebabkan kematian. Jadi penyesuaian terhadap iklim harus
dilakukan dengan tenang dan hati-hati. Temperatur, salinitas,
dan konsentrasi pakan semuanya berpengaruh pada konsentrasi
rotifer. Namun temperatur merupakan faktor yang sangat kritis.
Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah antara 28 sampai 32 0C
(82,4 sampai 89,6 F). Di atas 28 C salinitas dan ukuran
0

pertumbuhan tidak terlalu kritis, namun berat jenis makanan


sangat penting. Dibawah 26 sampai 28 0C (78.8 sampai 82.4 F).
Rotifer memiliki kebutuhan nutrisi yang banyak dan merupakan
produksi yang stabil untuk dibudidayakan. Mereka merupakan
plankton yang bersifat menyaring makanan. Makanan berupa
partikel organik dibawa melalui mulutnya dan dipindahkan ke
koronanya. Korona adalah organ yang memiliki cilia pada bagian
kepala dan merupakan ciri khas dari rotifer dan berupa alat
gerak. Rotifer dibagi kedalam beberapa kelompok menurut
makanannya, kelompok bakteria menyediakan makanan untuk
dirinya sendiri, makanan mereka beragam dan dapat digunakan
untuk bagian belakangnya. Akan tetapi, budidaya rotifer di dalam
ruangan seringkali membutuhkan vitamin B12 dan vitamin A
untuk suplemen. Nilai nutrisi untuk rotifer pada larva ikan
bertahan pada makanan permukaan rotifer. Penelitian
menunjukkan bahwa highly unsaturated fatty acids (HUFAs)
merupakan esensial untuk pertahanan dan pertumbuhan larva
ikan laut. Rotifer mengandung DHA, 22:6n-3, docosahexaenoic
acid,and EPA, 20:5n-3, eicosapentaenoic acid. Dengan DHA,
banyak esensial yang terkandung pada ikan laut. Rotifer
mengandung 52 sampai 59% protein, 13% lemak, dan 3,1% n-3
HUFA. Banyak metode yang digunakan untuk budidaya rotifer,
diantaranya budidaya dengan densitas rendah, dan densitas
tinggi. Awalnya metode berpengaruh pada pergantian rotifer
setiap hari. Terdapat sekumpulan, semi kontinyu, kontinyu, dan
teknik budidaya secara feedback. Setiap sistem ada yang
menguntungkan dan ada juga yang merugikan. Budidaya
kumpulan dapat diandalkan tapi kurang efisisen. Semi kontinyu
kurang dapat diandalkan namun lebih efisien dibandingkan
metode kumpulan. Budidaya kontinyu paling efisisen dan
konsisten, namun kurang teliti. Sistem feedback dikembangkan
di Jepang dengan menggunakan budidaya rotifer serta subur
untuk budidaya alga yang terpisah. Jepang menganggap metode
ini paling efisisen dan dapat diandalkan. Teknik budidaya ini
menggambarkan perantara semi kontinyu, atau kombinasi
antara semi kontinyu dan kumpulan. Sumber nutrisi untuk
budidaya rotifer termasuk kedalam ragi dan minyak emulsi; alga
Isochrysis galbana, ragi dan minyak emulsi, alga saja, bakteri
saja, dan budidaya di luar ruang. Reproduksi tertinggi terjadi
ketika rotifer murni dari Isochrysis galban dan tetap berada pada
suhu 20 sampai 210 C. Pemberian pakan yang optimal antara 105
sampai 107 sel dari alga Nannochloropsis oculata per individu
rotifer atau 106 sampai 107 sel per individu rotifer. Konsentrasi
normal dari rotifer adalah 100 sampai 200 per ml tapi sering kali
mencapai 1000 per ml dengan ketersediaan pakan yang cukup.
Dan jika ketersediaan oksigen murni tercukupi, jumlahnya
mencapai 10.000 individu per ml. Konsentrasi Chlorella sp juga
dapat digunakan untuk budidaya rotifer. Tak satu pun pakan
yang mengandung semua nutrisi untuk budidaya pada suhu yang
panjang dari spesies. Beberapa pakan sebaiknya digunakan
untuk budidaya dan pertahanan pada jangka waktu yang lama.

BUDIDAYA LARVA DENGAN ROTIFER


Rotifer biasanya memberi pakan larva segera setelah larva
dikembangkan pada bagian mulutnya. Rotifer memberi pakan 3
sampai 5 rotifer per ml hingga larva ikan dapat mengkonsumsi
pakan yang lebih besar mencapai 11 tempat penetasan setiap
harinya. Sesekali rotifer memanen pakan yang berlebih. Jadi nilai
nutrisi rotifer meningkat. Ini merupakan pakan yang baik untuk
ikan sehari dua kali. Sejak satu larva ikan dapat memakan
hingga 1.900 rotifer per hari, dari 13.300 sampai 57.000
dibutuhkan oleh satu larva ikan pada setiap periodenya. Untuk
spesies ikan laut yang berada dalam ruangan menghentikan
larva dari rotifer dan Artemia untuk mengeringkan pakan
sebaiknya mulai terlebih dahulu merubah larva menjadi dewasa.
Transisi ini membutuhkan waktu 3 hari atau 2 minggu atau
sebaiknya berangsur-angsur. Partikel makanan sebaiknya
berukuran besar agar dapat mempermudah ikan. Permulaan
pakan sebaiknya mengandung 50 sampai 60% protein
berkualitas tinggi. Walaupun kehidupan zooplankton masih
dibutuhkan, ketergantungan nutrisi ikan berkurang secara
signifikan.

CONTOH PRODUKSI
SEKUMPULAN/ SEMI KONTINU BUDIDAYA ROTIFER PAKAN
ALGA
1) Budidaya Tetraselmis chuii pada 1,8 ton (1.800 liter atau
475 galon) sirkuler, kaca serat tangki. Meninggikan tangki
serat kaca sebaiknya menggunakan peralatan dengan
saluran. Gravity memberi pakan untuk tangki rotifer.
Tangki rotifer biasanya berukuran 1.800 liter, sama dengan
tangki alga. Tangki rotifer juga harus mempunyai pipa dan
keranjang hasil panen untuk menangkap rotifer. Kedua
tangki rotifer dan alga harus mempunyai aerasi dan
iluminasi.
2) Beberapa hari setelah penyuntikan pada budidaya
Tetraselmis, warnanya berubah menjadi hijau gelap dan
dan berat jenis sel menjadi 132.000 sel per ml. Kemudian
gravity mengalirkan atau memompa alga ke tangki rotifer
dan meletakkan volume alga dengan bersih, nutrisi, dan air
laut yang steril. Pada tangki rotifer, tempatkan persediaan
budidaya pada rotifer alga. Catatan : persediaan budidaya
yang lebih besar akan lebih cepat meningkatkan jumlah
rotifer.
3) Setelah beberapa hari, terlihat jelas bahwa jumlah alga
menurun namun jumlah rotifer meningkat. Mulai dari
saluran panen tangki rotifer hingga masuk kedalam lubang
penyimpanan atau layar panen diperkirakan hingga
mencapai 30 sampai 50% tangki yang disalurkan.
Tempatkan pipa volume dengan budidaya alga. Rotifer
yang terkumpul dapat ditempatkan kembali pada botol
budidaya. Akan tetapi, sesekali berat jenisnya mencapai
(100 sampai 150 per ml) setengahnya dari rotifer akan
dipanen setiap hari.
4) Selanjutnya pemanenan atau pembuangan rotifer dan
pengisian ulang tangki budidaya rotifer dengan budidaya
alga baru setiap hari. Volume pemanenan dari tangki
rotifer sebenarnya permintaan dari pemijah atau volume
standar dapat dipanen rutin oleh penurunan 50%. Jika
rotifer tidak dibutuhkan pada pemijahan, volume pada
tangki sebaiknya dikurangi atau rotifer dibuang.
5) Pipa panen rotifer untuk 1 bulan kurang lebih menimbulkan
masalah seperti tabrakan dan kematian. Ini terjadi karena
pipa, kebersihan, pembasmian ulang tangki. Pengulangan
budidaya dan pembersihan tangki membutuhkan waktu
satu bulan. Budidaya rotifer sebaiknya dimulai dari berat
jenis yang rendah dan fasilitas tersendiri. Berat jenis rotifer
ketika panen akan bervariasi.
Kesehatan rotifer sangat penting jika ketersediaan pakan
terpenuhi. Jumlah rotifer dan kesehatannya sebaiknya diperiksa
setiap hari. Dengan menggunakan mikroskop, sampel rotifer
sebaiknya diteliti kecepatan berenangnya, pakan yang baik
(sedikit atau banyak). Kandungan berat jenisnya, jumlah rotifer
yang menghasilkan telur, masalah penting dari rotifer yaitu tidak
tercukupinya alga dikarenakan teknik budidaya alga yang tidak
sempurna. Terakhir dapat menyebabkan pembuangan rotifer.

BUDIDAYA SEMI-KONTINYU DENGAN PAKAN CAMPURAN


Zooplankton merupakan pakan yang baik, mereka memiliki
nutrisi yang essensial. Khususnya n-3 asam lemak tak jenuh
yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva ikan. Hal
ini merupakan kerugian yang utama dari rotifer, khususnya jika
mereka makan tetapi pakan mereka tidak kaya HUFAs. Karena
beberapa faktor dapat berpengaruh pada kualitas pakan dari
rotifer. Tahapan budidaya rotifer dengan pakan alga dan minyak
emulsi:
1) Tahapan di atas untuk pertumbuhan rotifer dengan alga.
Mulailah menyiapkan budidaya rotifer dengan berat jenis
dibawah 100 per ml, pada air hijau dan gunakan untuk
gambaran selanjutnya.
2) Setelah alga habis pada tangki rotifer yang pertama, hentikan
pakan alga. Tambahkan dua produk ragi 0,5 gram per liter
dan minyak emulsi 1 atau 2 ml per 10 liter. Atau bisa juga
dengan air laut yang murni, dibawah salinitas 16 sampai 18
ppt, rotifer pada tangki dapat menguntungkan dan rotifer
dapat cepat tumbuh dengan pemberian alga. Kerugian air
ketika rotifer panen sehingga dapat mengatur saluran air
menjadi salinitas yang lebih tinggi untuk larva ikan.
3) Populasi rotifer berat jenisnya bisa mencapai 100 per ml,
meningkat dengan penggunaan ragi dan minyak emulsi
dengan volume 0,7 sampai 1 gram ragi per satu juta rotifer
dan 2 sampai 3 ml minyak emulsi per satu juta rotifer.
4) Pada saat berat jenis rotifer mencapai 200 ml, hasil panen
mencapai 30 sampai 50% pada tangki setiap harinya dan
tangkapan rotifer mencapai 48 sampai 60 mikrometer.
Metode budidaya ini sebaiknya harus bisa mempertahankan
berat jenis rotifer sebesar 150 sampai 200 ml selama 30 hari.
Minyak emulsi adalah campuran antara air laut, minyak
ikan, dan kuning telur dengan perbandingan 100 ml: 5 ml : 1
gram dengan tambahan vitamin sebesar 0,5% dari volume
campuran minyak. Campuran ini biasanya dari hati ikan kod atau
minyak menhaden, kuning telur pada ayam, vitamin E
(Tocopherol) dan campuran vitamin. Campuran ini diaduk selama
2 menit dengan pengaduk kemudian disimpan di lemari es
selama 1 minggu. Ditambahkan asam lemak jenuh dan vitamin
tidak dengan ragi. Telur dapat diperoleh dari toko grosir. Alga
harus diperiksa jika pertumbuhannya dibawah kondisi normal.
Walaupun dapat dilihat dengan baik pada berat jenis harus juga
dipersiapkan kerja yang terbaik. Catatan pada budidaya ini
adalah dimulai dari 100 rotifer per ml dapat mencapai 1.300 per
ml selama 6 sampai 7 hari.

COPEPODA, CLADOCERA, CILIATA


Copepoda adalah zooplankton yang dapat hidup di air
tawar dan air payau. Mereka merupakan pakan alami untuk larva
dan crustaceae muda lainnya. Banyak pakan larva dari telur
copepoda. Karena beberapa spesies dari copepoda merupakan
larva yang sangat kecil dan mempunyai level yang tinggi dari
HUFAs dan nutrisi essensial lainnya. Penelitian dengan beberapa
spesies menunjukkan bahwa larva muda lebih banyak
mengkonsumsi copepoda daripada rotifer karena perbedaan
ukurannya. Tubuh copepoda berbentuk silinder dengan 10
segmen terdiri dari kepala, thorax, dan abdomen. Copepoda
dewasa berukuran antara 0,5 sampai 5,0 mm.
Sub ordo utama pada copepoda terdapat di air payau yaitu
calanoid, harpacticoid, dan cyclopoid. Copepod makan dengan
cara menyaring pakan dan tipe pakannya adalah partikel yang
sangat kecil dan dapat menguntungkan jika kelebihan rotifer.
Mereka berbeda dengan Artemia dan rotifer yang tidak
melakukan reproduksi aseksual. Copepod betina dapat
memproduksi 250 sampai 750 telur. Copepod dapat bertahan
hidup 40 sampai 50 hari. Tidak seperti rotifer, copepod banyak
yang berukuran dewasa. Hanya sedikit dari copepod yang sukses
dibudidayakan seperti Tigriopus japonicus, yang sudah
dibudidayakan dengan sukses.
Keuntungan dari copepod adalah ketika kondisi tidak
memungkinkan beberapa spesies dapat memproduksi telur
seperti Artemia. Telur copepod dapat dikumpulkan dan disimpan
dalam jangka waktu bulanan seperti Artemia. Kegunaan
copepoda seperti harpacticoida dapat dibudidayakan dengan
ikan laut. Jepang telah membudidayakan copepod secara rutin
untuk larva yang diperkirakan panjangnya 7 mm. Larva dengan
pakan copepod dapat bertahan dengan kondisi stress. Copepod
lainnya yang dapat dibudidayakan adalah Acartia clausi, A.
longiremis,Eurytemora pacifica,Euterpina acutifrons, Oithona
brevicornis,O. similis, Pseudodiaptomusinopinus, P. marinus,
Microsetella norvegica dan Sinocalanus tenellus.
Cladocera seperti Daphnia dapat dibudidayakan dengan
teknik yang sama seperti rotifer. Banyak laboratorium yang
menggunakan Daphnia untuk tes racun karena budidayanya
yang mudah dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Cladocera merupakan zooplankton utama di air tawar, sehingga
tidak dapat hidup pada salinitas di atas 3 ppt dan tidak
ditemukan di air payau. Cladocera kaya akan DHA, dan di
Thailand digunakan budidaya Diaphanosoma. Penelitian
menunjukkan bahwa berat jenisnya dari 72 sampai 100 individu/
ml. Cladocera sudah dibudidayakan di Asia selatan.
Cilliata dikonsumsi oleh larva ikan dan crustacea, akan
tetapi sejak teknologi produksi rotifer dikembangkan, cilliata
menjadi tidak penting.