Anda di halaman 1dari 6

HAK PASIF BAGI EKS TAPOL YANG DIRUGIKAN

SEIRING DIMUATNYA PASAL 60 HURUF G UU NO. 12


TAHUN 2003 TENTANG PEMILU ANGGOTA DPR, DPD
DAN DPRD.

A. PANDANGAN UMUM

Pemilihan Umum (pemilu) dalam suatu Negara demokrasi adalah suatu


bentuk perwujudan daripada demokrasi itu sendiri. Dalam pelaksanaannya,
tentunya pesta demokrasi tersebut dikawal oleh suatu peraturan perundang-
undangan yaitu UU NO. 4 tahun 2000 yang mengatur tentang “Pemilu”.
Tujuan daripada dibentuknya undang-undang tersebut tak lain dan tak
bukan adalah supaya terciptanya pesta demokrasi yang tertib dan sebagai
alat yang membatasi prilaku politik dari para elite politik agar tidak keluar
dari koridor yang telah ditentukan oleh undang-undang yang mengaturnya.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan mencoba mengangkat


permasalahan yang berkaitan dengan “hilangnya” hak pasif (hak
dipilih)seorang warga Negara dalam pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD
yang disebabkan oleh dimuatnya pasal 60 huruf g dalam UU No. 12 tahun
2003 tentang “Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD”, yang menyatakan
larangan terhadap seorang eks tapol yang dahulunya merupakan bekas
anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, yang juga termasuk
organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung ataupun tak
langsung dalam G30S PKI atau organisasi terlarang lainnya untuk menjadi
anggota DPR, DPD dan DPRD.

Dengan dimuatnya pasal 60 huruf g UU No. 12 tahun 2003 itu,


menimbulkan gagasan inisiatif dari warga Negara yang merasa hak
berpolitiknya telah dilanggar oleh pasal tersebut untuk melakukan judicial
review (uji materiil) ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai institusi peradilan
yang mandiri dan bebas dari intervensi pihak luar.

Dari fenomena judicial review di atas, apakah dapat kita simpulkan bahwa
DPR dan Presiden sebagai lembaga politis yang membentuk undang-undang,
telah “salah” dalam membahas dan menetapkan materi dalam suatu pasal,
hingga pasal tersebut di inisiatifkan baik individu maupun kolektif agar
dilakukan judicial review terhadap pasal tersebut? Menurut saya,
jawabannya adalah “Tidak Salah”. Hal tersebut dikarenakan, pada dasarnya
DPR dan Presiden adalah lembaga yang bernuansa atau bersifat politis, yang
mana dalam mengambil suatu keputusan, mereka lebih dominan
mempertimbangkannya dari kacamata politik, tidak dari kacamata hukum,
baik secara normatif maupun secara empiris. Seperti misalnya dalam
membahas suatu Rancangan Undang-Undang (RUU). Dalam membahas ,
menetapkan pasal demi pasal dan mensahkan suatu RUU menjadi UU, kedua
lembaga tersebut seolah lupa dengan yang namanya halal dan haram,
pokoknya “halal haram hantam, baik buruk lanjut”, yang penting
kepentingan mereka terakomodir dalam UU yang dibahasnya tersebut. Itulah
mungkin salah satu penyebab yang terkadang salah satu ketentuan pasal
dalam suatu UU bertentangan dengan UUD 1945. Kira-kira seperti itulah
keadaan yang real atau nyata.

Atas tindak lanjut itulah, melalui UU No. 24 tahun 2003 tentang


“Mahkamah Konstitusi”, MKRI dibentuk. MK sebagai institusi peradilan
konstitusi yang diharapakan dalam mengambil tiap putusan, haruslah
memandangnya dari kacamata hukum, bukan dari kacamata politik, agar
terciptanya keadilan bagi tiap warga Negara.

Kembali pada pokok permasalahan tadi, dapatlah kita konsep suatu


rumusan masalah terhadap permasalahan tersebut. Perumusan masalah
terhadap permasalahan di atas adalah, “Upaya hukum apakah yang dapat
dilakukan bagi warga Negara yang merasa hak politiknya telah dirugikan
atas disahkannya UU No. 12 tahun 2003, terutama pasal 60 huruf g UU
tersebut? Dan bagaimana hubungannya dengan UUD 1945?”.

B. PEMBAHASAN

Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum, yang mana


dalam konstitusi lazimnya juga dimuat hak-hak dasar atau hak asasi (basic
rights) setiap warga Negara yang kemudian dinyatakan sebagai hak-hak
konstitusional. Hak-hak tersebut bukan sekedar harus dihormati dan
dilindungi, akan tetapi juga harus dijamin pemenuhannya.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimanakah jaminan yang


tertuang dalam konstitusi itu benar-benar terjelma dalam praktik kehidupan
nyata sehari-hari melalui suatu mekanisme hukum?. Inilah yang acapkali
masih terjadi dalam tataran prakteknya, sama halnya dengan permasalahan
yang di atas. Dengan demikian, jika kita berbicara tentang Negara hukum,
jaminan perlindungan terhadap hak-hak konstitusional itu merupakan suatu
kebutuhan yang tak dapat ditiadakan atau dilupakan.

Berpijak daripada paparan di atas, Prof. DR. Deliar Noer bersama 27


pemohon lainnya mengajukan pengujian UU No. 12 tahun 2003 tentang
“Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD” ke Mahkamah Konstitusi1.

Permasalahan yang pokok dan krusial dalam permohonan ini adalah


ketentuan pasal 60 huruf g UU No.12 tahun 2003 yang berisi larangan
menjadi anggota DPR, DPD dan DPRD kabupaten/kota bagi mereka yang
“bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, yang juga
termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung
ataupun tak langsung dalam G30S PKI atau organisasi terlarang lainnya”.

Berdasarkan Article 21 Universal Declaration of Human Rights tahun


1948, berbunyi : “Everyone has the right to take part in the government of
his country, directly or through freely choosen representatives. The will of
the people shall be the basis of the authority of government; this will shall be
expressed in periodic and genuine elections which shall be by universal and
equal suffrage and shall be held by secret vote or by equivalent free voting
procedures”. Berdasarkan article 21 UDHR, telah jelas bahwa dalam suatu
masyarakat yanjg demokratis, yang telah diterima secara universal oleh
bangsa-bangsa beradab, hak atas partisipasi politik adalah suatu hak asasi
manusia, yang dilakukan melalui pemilu yang jujur sebagai manifestasi dari
kehendak rakyat yang menjadi dasar dari otoritas pemerintah. Selain article
25 ICCPR tahun 1966, juga mengatur mengenai hak sipil dan politik seperti
halnya dalam article 21 UDHR2.

Dari sudut pandang pasal 28C ayat (2) perubahan kedua UUD 1945
menyatakan, “setiap orang berhak memajukan dirinya dalam
1
Soedarsono, “Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi”, Sekretariat Jenderal
dan Kepaniteraan MKRI, Jakarta, 2006, hal. 171.
2
Lihat Article 25 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).
memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat,
bangsa dan negaranya”. Kemudian daripada itu, pasal 28D ayat (1)
perubahan kedua UUD 1945 menyatakan, “setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum”. Pasal 28D ayat (3) juga
menyatakan, “setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang
sama dalam pemerintahan” serta pasal 28I ayat (2) menyatakan, “setiap
orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar
apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang
diskriminatif itu”.

Berdasarkan ketentuan pasal-pasal dalam UUD 1945, pasal 60 huruf g UU


No. 12 tahun 2003 adalah “cacat” berat secara etis sehingga dari segi moral
mencemarkan keseluruhan Undang-Undang Pemilu itu sendiri dan
merupakan diskriminasi berdasarkan keyakinan politik. Oleh karena itu,
apabila diteruskan, pasal tersebut akan melestarikan stigmatisasi kepada
sekelompok orang dan selain itu juga menghentikan secara resmi upaya
untuk mereintegrasikan dan rekonsiliasi sebagian warga bangsa ini kedalam
tubuh bangsa yang adalah kewajiban moral dari era yang disebut reformasi
ini3.

Akan tetapi, di satu sisi, pemerintah dan DPR mempunyai alasan sehingga
pasal 60 huruf g UU No. 12 tahun 2003 disahkan. Alasan dari pemerintah
adalah bahwa, pemerintah dalam menyusun pasal tersebut, merujuk pada
Tap MPRS-RI No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis
Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah
Negara RI bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan atau
Ajaran untuk Menyebarkan atau Mngembangkan Faham atau Ajaran
Komunis/Marxisme-Leninisme.

3
Soedarsono, “Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi”, Sekretariat Jenderal
dan Kepaniteraan MKRI, Jakarta, 2006, hal. 173.
DPR, dalam menyusun pasal tersebut, mempertimbangkan aspek nilai
agama dan ketertiban umum sehingga sudah sesuai dengan ketentuan
amanat dari UUD 1945 pasal 28J ayat (2)4.

Kendati bagaimana pun juga perdebatan yang terjadi antara pihak


pemohon dengan pihak terkait lainnya, keputusan tetap berada dalam
wewenang Mahkamah Konstitusi. Setelah melalui proses mekanisme yang
cukup alot, akhirnya MKRI melalui putusannya, menyatakan bahwa pasal 60
huruf g UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
(Lembaran Negara tahun 2003 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4277) bertentangan dengan UUD 1945. Menyatakan pasal 60 huruf g
UU No. 12 tahun 2003 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

4
Lihat pasal 28J ayat (2) UUD 1945.