Anda di halaman 1dari 8

Polisemi berarti sepatah kata mempunyai banyak arti atau sepatah kata

mempunyai arti lebih dari satu. Dalam polisemi dapat terjadi hal-hal berikut ini:
1. Sepatah kata dapat berarti lebih dari satu.
Misalnya kepala yang mempunyai arti ’bahagian atas tubuh manusia,
tempat mata, hidung, dan tumbuhnya rambut’, tetapi dapat juga berarti
’orang yang menjadi pimpinan pada sebuah kantor, tempat bekerja, dan
sebagainya.
2. Kata yang mempunyai arti petunjuk benda tertentu dipakai untuk memberi
keterangan benda lain.
Misalnya bagian-bagian tubuh manusia seperti pinggang, leher, kaki, serta
mulut. Kata-kata tersebut dipakai untuk memberi keterangan benda lain
dengan dasar perbandingan yang sama seperti terdapat pada bentuk
pinggang perahu, leher botol, kaki meja, dan mulut sungai.
3. Sepatah kata konkret dapat pula dipergunakan untuk suatu pengertian
abstrak.
Misalnya kata-kata menyala, meluap, serta berkobar pada bentuk-bentuk
berikut ini:
o Kemarahan abang menyala-nyala karena anak itudiam seribu
bahasa.
o Keinginan adik meluap-luap untuk mengikuti acara pelantikan itu.
o Semangat mahasiswa berkobar-kobar dalam menuntut
penyelesaian masalah itu.
4. Kata yang sama berubah artinya karena berbeda indera yang
menerimanya.
Misalnya kata pedas dan manis dalam kata-kata berikut ini:
o Kata-kata ayah si Amir sangat pedas untuk anak yang seusia
seperti itu.
o Cabai itu sudah tentu sangat pedas apalagi dicampur dengan
merica.
o Rasa teh itu sangat manis karena diberikan gula yang sangat
banyak.
o Anak gadis yang sangat manis itu sudah dua tahun mengikuti
perkuliahan di perguruan tinggi kami ini.

Hipernimi ialah kata-kata yang maknanya mencakup makna kata-kata


lainnya. Misalnya, kata bunga melingkupi makna kata-kata anggrek, kamboja, ros,
kenanga, melati, dan mawar. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan bunga
bukan hanya mawar dan ros, tetapi termasuk pula anggrek, kamboja, kenanga, dan
melati. Kebalikan dari hipernimi adalah hiponim. Hiponim adalah kata-kata yang
maknanya termasuk di dalam makna kata-kata lainnya. Misalnya, makna kata
merah sudah termasuk serta merupakan bagian didalam makna kata warna; makna
kata burung sudah termasuk di dalam makna kata unggas.

3). Lazim
Lazim adalah kata itu sudah menjadi milik bahasa indonesia. Kelompok kata
ataupun pengelompokan kata yang seperti itu memang sudah lazim dan
dibiasakan dalam bahasa indonesia.
Contoh:
Kata makan dan santap bersinonim. Akan tetapi, kita tidak dapat mengatakan
anjing bersantap sebagai sinonim anjing makan. Kedua kelompok kata ini
mungkin tepat pengelompokannya, tetapi tidak seksama serta tidak lazim dari
sudut makna dan pemakaiannya.

4). Benar
Yang dimaksud dengan benar adalah pilihan kata itu harus mempunyai bentuk
yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di dalam bahasa indonesia. Kata-
kata yang kita pilih itu mematuhi aturan tata bahasa Indonesia.
Contoh:
Kata-kata pengrusak pada pengrusak rumah, merubah pada merubah rencana,
serta pentrapan pada pentrapan teknologi adalah kata-kata yang tidak benar atau
kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia Seharusnya kata-
kata ini adalah perusak di dalam bentuk perusak rumah, mengubah di dalam
bentuk mengubah rencana, dan penerapan di dalam bentuk penerapan teknologi.

b). Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Makna Kata


Pilihan kata pada bagian ini harus memperhatikan makna dasar kata yang
bersangkutan. Kesulitannya adalah orang tidak dapat lagi membedakan makna
kata dasar dan makna yang telah mengalami perjalanan sejarah, pengalaman
pribadi, perbedaan perasaan, perbedaan lingkungan, perbedaan tujuan, perbedaan
nilai-nilai makna, serta perbedaan profesi. Untuk mengenal makna dasar dengan
baik, satu-satunya cara adalah dengan membuka dan membaca kamus standar
bahasa yang bersangkutan.
Makna dasar sepatah kata disebut dengan denotasi atau makna denotatif.
Sedangkan makna-makna yang lainnya itu disebut dengan asosiasi atau makna
asosiatif yang terkadang disebut juga dengan konotasi atau makna konotatif.
Pilihan kata yang sesuai dengan makna kata harus memperhatikan sudut
makna kata itu sendiri. Makna kata itu bermacam-macam antara lain:
1. Makna denotatif
2. Makna asosiatif, yang terdiri atas:
o Makna konotatif
o Makna stilistik
o Makna afektif
o Makna reflektif
o Makna kolokatif
o Makna interpretatif

1. Makna denotatif
Makna denotatif adalah makna yang sesuai dengan apa adanya, makna yang
sesuai dengan hasil observasi, makna yang diberi batasan. Nama lain untuk
makna denotatif ini adalah makna konseptual yaitu makna menurut konsep
yang ada.
Contoh:
Secara denotatif kata-kata bini dengan istri, laki dengan suami, tidak ada
perbedaannya.
2. Makna asosiatif
Makna asosiatif berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa tersebut,
nilai-nilai yang ada pada masyarakat pemakai bahasa itu, perkembangan kata
itu sesuai dengan kehendak pemakai bahasa, pribadi pemakai bahasa, masa
kata itu dipergunakan, dan perasaan pemakai bahasa. Keenam makna berikut
dibaeah ini termasuk makna asosiatif.

a. Makna konotatif
Makna konotatif adalah makna yang timbul karena makna
konseptual/denotatif mendapat tambahan-tambahan sikap sosial, sikap diri
dalam suatu zaman, sikap pribadi, dan kriteria tambahan lainnya.
Contoh:
Kata wanita dan perempuan berbeda maknanya berdasarkan konotasinya.
Kata wanita mengandung makna ’manusia dewasa berjenis kelamin betina
yang lebih berani, agresif, modern, profesional, lebih terdidik, kurang
pandai memasak, dan kurang sensitif’. Sedangkan kata perempuan
mengandung makna ’manusia dewasa berjenis kelamin betina yang kurang
profesional, pandai memasak, kurang terdidik, dan sangat sensitif’.
b. Makna stilistik
Makna stilistik berhubungan dengan gaya pemilihan kata dalam tutur
ataupun karang-mengarang sesuai dengan lingkungan masyarakat
pemakai bahasa tersebut. Makna stilistik dapat dibedakan berdasarkan: a.
Profesi (seperti bahasa sastra, bahasa hukum, dan bahasa jurnalistik); b.
Status (seperti jargon, slang, dan bahasa percakapan); d. Pribadi (seperti
bahasa gaya Mochtar Lubis, bahasa gaya Idrus, bahasa gaya Sutan Takdir
Alisyahbana).
c. Makna afektif
Makna afektif berhubungan dengan perasaan pembicara/pemakai bahasa
secara pribadi, baik terhadap lawan bicara maupun terhadap obyek
pembicaraan. Makna afektif akan lebih berkesan dalam bahasa lisan
daripada dalam bahasa tulis. Makna afektif lebih jelas dengan pemakaian
kata-kata seruan aduh, aduhai, aha, ahai, amboi, biar!, mampus lu!, cib,
cis, lho, oh, puih, wah, yakh.
d. Makna reflektif
Makna reflektif umumnya menghubungkan antara makna
denotatif/konseptual yang satu dengan makna denotatif/konseptual yang
lain. Pilihan kata dengan makna denotatif/konseptual tertentu
menimbulkan refleksi kepada sesuatu yang hampir bersamaan. Umumnya
makna reflektif ini lebih cenderung kepada sesuatu yang bersifat sakral,
sesuatu yang bersifat tabu, sesuatu yang kurang sopan. Dan sesuatu yang
haram. Makna reflektif diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi,
pengalaman bersama, dan perjalanan sejarah.
Contoh:
Kata baju hijau mengandung makna reflektif karena dapat menimbulkan
pengertian sopan ’sesuatu yang dapat melindungi’, tetapi dapat juga
mengandung pengertian ’sesuatu yang menakutkan’.
e. Makna kolokatif
Makna kolokatif berhubungan dengan makna dalam frase sebuah bahasa.
Hubungan makna kolokatif dalam bahasa indonesia lebih banyak
berdasarkan kelaziman dan kebiasaan.
Contoh:
Kata cepat dan laju mempunyai pasangan atau kelompok kata tertentu.
Kedua kata itu mempunyai makna kolokatif. Kita dapat mengatakan bus
cepat malamdan janggal rasanya kalau kita mengatakan bus laju malam.
f. Makna interpretatif
Makna interpretatif berhubungan dengan penafsiran dan juga tanggapan
dari pendengar ataupun pembaca. Si X menulis/berbicara dan si Q
membaca/mendengar. Lalu si Q akan memberikan tafsiran pilihan
kata/diksi yang dilakukan si X. Tafsiran dan tanggapan si Q haruslah
sesuai dengan pilihan kata/diksi si X. Apabila hal ini tidak terjadi,
kesalahpahaman antara si X dan si Q akan muncul.

c). Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Lingkungan Sosial Kata


Dalam pilihan kata harus selalu diperhatikan lingkungan pemakaian kata-
kata. Dengan membedakan lingkungan itu, pilihan kata yang kita lakukan akan
lebih tepat. Lingkungan itu dapat kita lihat berdasarkan:
o Tingkat sosial yang mengakibatkan terjadinya sosiolek;
o Daerah/geografi yang mengakibatkan terjadinya dialek;
o Resmi/formal dan tidak resmi/nonformal yang mengakibatkan terjadinya
bahasa baku/bahasa standar dan bahasa yang tidak baku/bahasa
nonstandar,
o Umum dan khusus yang mengakibatkan terjadinya bahasa umum dan
bahasa khusus/bahasa profesional.

Dialam bahasa indonesia kata-kata tertentu kita bedakan penggunaanya karena


adanya perbedaan rasa bahasa, seperti kasar, halus, saying, benci, hormat, dan
lain-lain. Kata-kata mati, meninggal dunia, wafat, tewas, misalnya, kita bedakan
penggunaanya di dalam bahasa Indonesia berdasarkan rasa bahasa, bukanlah
melihat tingkat sosialnya.
Pilihan kata /diksi juga harus memperhitungkan kata-kata dan makna yang
profesional. Pilihan kata/diksi berdasarkan profesi tidak sama dengan istilah.
Pilihan kata berdasarkan profesi merupakan pilihan kata yang telah kita lazimkan
jika orang membicarakan masalah tertentu.
Contoh:
Umum Profesional
Dibuat dirakit
Tengah madya
Tukang ahli
Rumah wisma, graha
Penonton televisi pirsawan, pemirsa
Pembantu asisten
Arang karbon
Pekerja karyawan, pegawai

d). Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Mengarang


Pilihan kata yang sesuai dengan karang-mengarang harus memperhatikan
hal-hal berikut ini.
1. Pilihan kelompok kata yang berpasangan tetap
Contoh:
o Terdiri dari, terdiri dalam, terdiri atas
o Ditemani oleh, ditemani dari, ditemani dengan
o Bebas akan, bebas atas, debas dari
2. Pilihan kata yang langsung
Contoh:
o Ia menelepon kekasihnya. (pilihan kata yang langsung)
o Ia memanggil kekasihnya melalui telepon. (pilihan kata yang panjang
dan berbelit-belit)
3. Pilihan kata yang dekat dengan pendengar/pembaca
Pilihan kata pada bagian ini harus sesuai dengan tingkat sosial, tingkat
pendidikan, tingkat pengetahuan lawan berbicara, sehingga pembicara/penulis
dekat dengan pendengar/pembaca. Pilihan kata untuk anak-anak akan berbeda
dengan pilihan kata untuk orang dewasa.

3. Kata ilmiah, Kata populer, Kata Jargon dan Slang

Kata Kajian (ilmiah) dan Populer

KAJIAN POPULER
Batuan Batu
Populasi Penduduk
Makro Besar
Abses Bisul
produk, prestasi, keluaran Hasil
Metode Cara
bermakna, signifikan Berarti
Fraksi Pecahan
Indeks Pununjuk
Konses Iizin

Jargon merupakan kata-kata teknis yang dipergunakan secara terbatas dalam


bidang ilmu, profesi, atau kelompok tertentu. Kata-kata ini merupakan kata
sandi/kode rahasia untuk kalangan tertentu(dokter, militer, perkumpulan rahasia,
ilmuwan, dan sebagainya): populasi, volume, abses, dan sebagainya.
Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata
slang adalah kata yang nonbaku, yang informal yang disusun secara khas atau
kata-kata biasa yang diubah atau kata-kata khiasan yang khas. Contoh Slang:
asoy, manatahan, belum tahu, dia, dan sebagainya(bersifat sementara).