Anda di halaman 1dari 6

PERANAN ISLAM TERHADAP SAINS DAN PERADABAN

DUNIA

Oleh:

Shofia Mujahidah

G34100011

Selama ini segala ilmu pengetahuan yang kita ketahui


adalah berkat hasil karya atau temuan orang-orang barat. Kita
beranggapan bahwa orang-orang barat adalah orang-orang yang
cerdas dan memiliki andil yang paling besar bagi perkembangan
ilmu pengetahuan saat ini. Sebut saja Isaac Newton, orang yang
telah menemukan adanya gaya gravitasi dan telah
merumuskannya dalam suatu hukum yang telah kita kenal
sebagai Hukum Newton I,II, dan III, atau Galileo Galilei yang
fenomenal dalam ilmu astronomi karena telah mencetuskan
bahwa bumi itu bulat. Tapi pernahkah kita mendengar nama-
nama ilmuan islam seperti Ibnu Sina bapak kedokteran dunia,
Jabir ibn Hayyan sebagai seorang ahli kimia, dan Al-Khawarizm
sebagai orang yang telah menemukan ilmu algoritma dan
aljabar? Mungkin sebagian dari kita telah mendengarnya, tetapi
saya yakin sekali bahwa hanya sebagian kecil orang yang
menyadari bahwa ilmuan-ilmuan islam telah membuahkan
banyak sekali karya-karyanya dalam ilmu pengetahuan sehingga
kita dapat merasakan peradaban yang begitu maju saat ini.
Untuk membahas itu semua mari kita mulai dari awal mula
berkembangnya sains dan peradaban dunia yaitu berawal pada
zaman Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

I. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman


Rasulullah SAW

Pada masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW,


seluruh dunia Arab tenggelam dalam kebodohan. Sebagian besar
masyarakatnya tidak bisa membaca dan menulis. Mereka juga
menyembah berhala dan beranggapan bahwa berhala tersebut
dapat mengabulkan segala keinginan mereka. Karena kondisi
yang demikian itulah bangsa Arab mendapat julukan sebagai
bangsa jahiliyah atau bangsa yang bodoh. Tetapi setelah Allah
SWT mengutus Muhammad menjadi seorang rasul, secara
perlahan-lahan tabir kebodohan itupun tersingkap. Bahkan
seperti yang telah kita ketahu bersama, wahyu yang pertama
kali turun pun, yaitu surat Al-Alaq:1-5, memerintahkan kita untuk
membaca. Kita semua juga tahu bahwa membaca adalah jendela
ilmu pengetahuan dan jendela peradaban. Betapa islam adalah
agama yang mulia yang memperhatikan segala kepentingan
hidup kita yang salah satunya adalah membaca.

Perlahan-lahan masyarakat Arab mulai mempelajari baca


tulis. Mereka menuliskan wahyu-wahyu yang turun di atas kulit,
tulang-belulang, pelepah kurma, dan lain-lain. Selain itu
Rasulullah juga memerintahkan para sahabat untuk menghafal
Al-Qur’an agar kemurniannya tetap terjaga. Dengan semangat
itulah, maka terbangun jiwa umat islam untuk tidak hanya
beriman tetapi juga berilmu. Dari upaya-upaya tersebut mulailah
dibangun peradaban manusia yang tadinya buta huruf, akhirnya
menjadi bangsa yang pandai baca tulis(Muh. Asroruddin,2009)

Pada masa Nabi Muhammad SAW ini terlahir banyak sekali


ilmuwan-ilmuwan muslim pada bidang agama, karena pada
masa ini perkembangan ilmu pengetahuan terpusat pada Al-
Qur’an dan Al-Hadits. Pada bidang tafsir yang paling terkenal
adalah tafsir Ali bin Abi Thalib, pada bidang hukum dan
pemerintahan kita kenal Umar bin Khattab, pada bidang fiqh ada
Aisyah binti Abu Bakar, pada bidang hadits kita juga mengenal
Abu Hurairah, dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan pada
zaman Rasulullah SAW.

II. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Peradaban


Manusia Setelah Masa Rasulullah SAW dan Para
Sahabat

Setelah masa pemerintahan Khulafaurrasyidin terdapat dua


dinasti besar yang memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap perkembangan sains dan peradaban manusia, yakni
Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbasiyah. Nama dinasti
Bani Umayyah diambil nama Umayyah bin Abd Asy-syams yaitu
kakek buyut dari pendiri sekaligus khalifah pertama dinasti ini,
yakni Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Pada massa dinasti Bani Umayyah ilmu pengetahuan mulai


berkembang, tidak hanya berkisar pada ilmu-ilmu agama tetapi
juga telah dikembangkan ilmu-ilmu umum seperti ilmu sejarah,
bahasa, dan filsafat. Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut
tidak hanya atas jasa orang arab, tetapi juga terdapat jasa-jasa
orang non-arab yang biasa kita sebut sebagai mawali. Pada ilmu
hadits misalnya, ada Imam Bukhari dan Imam Muslim yang
keduanya bukan orang arab. Imam Bukhari berasal dari Bukhara
yang terdapat disuatu daerah yang sekarang kita kenal sebagai
Rusia.

Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama paman Nabi


Muhammad SAW yang termuda yaitu Abbas bin Abdul Muthalib
dan didirikan oleh keturunannya. Pada zaman ini ilmu
pengetahuan dan peradaban islam semakin bertambah pesat
dan menjadi masa keemasan islam. Ilmu pengetahuan begitu
diperhatikan dan lebih diperkaya lagi. Para khalifah dinasti ini
membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan ilmu
pengetahuan. Pada pemerintahan khalifah Ja’far Al-Mansyur
pusat pemerintahan dipindahkan ke Baghdad sehingga Baghdad
menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pusat peradaban pada saat
itu. Dinasti ini mencapai puncak keemasan pada kekhalifahan
Harun Al-Rasyid. Pada masa kekhalifahannya dibangun lebih dari
30 perpustakaan sehingga dibutuhkan lebih dari 400 unta untuk
mengangkut buku-buku tersebut.

Ilmu nahwu yang kita pelajari saat ini sebenarnya adalah


buah karya seorang ilmuwan yang bernama Abu Al-Aswad Ad-
Duali. Ilmu nahwu merupakan sebuah ilmu yang mempelajari
tata bahasa arab yang baik dan benar. Pada dinasti ini lahir pula
empat ulama ahli fiqh (fuqaha) yang masih kita kenal hukum-
hukumnya hingga saat ini atau biasa disebut empat madzhab,
yaitu:

1. Imam Abu Hanifah, yang madzhabnya biasa kita sebut


sebagai madzhab hanafi.

2. Imam Malik, madzhabnya biasa kita kenal dengan


madzhab maliki. Salah satu kitabnya yang terkenal
dan berhasil dihafal oleh muridnya, Imam Syafi’i,
dalam usia yang masih belia adalah Al-Muwatta’.

3. Imam Syafi’i, madzhabnya kita kenal dengansebutan


madzhab syafi’i dan merupakan madzhab yang dianut
sebagian besar masyarakat Indonesia. Beliau
dilahirkan di Ghaza, Palestina dan sudah selesai
menghafal Al-Qur’an pada usia enam tahun. Kitabnya
yang terkenal ialah Musnad Asy-Syafi’i dan Al-Umm.
Beliau wafat dan dimakamkan di Mesir

4. Imam Ahmad bin Hambal, madzhabnya biasa disebut


madzhab hambali.

Selain itu banyak pula ilmuwan-ilmuwan pada bidang ilmu


selain ilmu agama. Pada bidang kedokteran ada seorang
ilmuawan yang amat terkenal hingga menjadi panutan bagi
ilmuwan-ilmuwan barat, beliau adalah Ibnu Sina atau Avicenna
pada pelafalan barat. Beliau telah menulis sebuah buku segala
seluk-beluk bidang kedokteran yang berjudul Al-Qanun fi Ath-
Thib (Canon of Medicine) dan telah diterjemahkan pada
berrbagai bahasa dan telah menjadi rujukan selama berabad-
abad. Selanjutnya ada juga seorang ahli filsafat yang bernama
Ibnu Rusyd atau dikenal Averroes pada pelafalan orang barat.
Filsafatnya telah mempengaruhi banyak filsuf kristen seperti St.
Thomas Aquinas (Muh. Asroruddin, 2009). Pada bidang
matematika ilmuwan yang paling fenomenal adalah Al-
Khawarizm atau Algorizm. Beliaulah yang mengembangkan ilmu
algoritma dan aljabar. Kita juga tentu pernah mendengar Jabir
Ibnu Hayyan, beliau adalah Bapak Kimia islam. Selain kemajuan
dalam bidang-bidang sains juga terdapat kemajuan pada bidang
arsitektur. Pada masa itu dibangun sebuah masjid dengan
arsitektur seperti sarang lebah dan masjid tersebut diberi nama
Masjid Samara. Kata Samara tersebut merupakan singkatan dari
Sarra Man Roa yang artinya ‘terpesonalah yang melihatnya’.

Dari beberapa penjabaran di atas akhirnya kita dapat


menyimpulkan bahwa islam bukanlah agama yang terbelakang
yang tidak memperhatikan ilmu pengetahuan terutama ilmu
pengetahuan selain ilmu agama. Islam adalah agama yang amat
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bukti-buktinya banyak
sekali terdapat dalam Al-Qur’an. Banyak sekali penemuan-
penemuan penting baru-baru ini yang sebenarnya telah tertulis
dalam Al-Qur’an yang bahkan usianya sudah 14 abad. Di
samping itu bahkan universitas tertua di dunia merupakan
universitas yang didirikan oleh umat muslim dan masih berdiri
hingga sekarang. Univrsitas tersebut berlokasi di Kairo, Mesir dan
bernama Unniversitas Al-Azhar. Penjelasan tadi juga membuka
mata kita bahwa sebenarnya ilmuwan-ilmuwan islamlah yang
sebenarnya menginspirasi ilmuwan-ilmuwan yang kita kenal
sekarang ini. Mengapa saat umat islam saat ini lebih terbelakang
daripada orang-orang barat? Jawabannya adalah kita tidak
menjaga dan tidak menghargai ilmu-ilmu yang telah
dikembangkan oleh umat-umat muslim terdahulu sehingga
orang-orang non-muslim yang lebih menghargainya dan
merawatnya menjadi lebih unggul dibandingkan dengan umat
islam saat ini. Semoga tulisan ini dapat menjadi motivasi kita
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun
peradaban.

ESSAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PERANAN ISLAM TERHADAP SAINS DAN


PERADABAN DUNIA

Disusun Oleh:

Shofia Mujahidah
G34100011

DIREKTORAT TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010/2011