Anda di halaman 1dari 10

PENDIDIKAN MATEMATIKA 3-H

DISUSUN OLEH:

 Ani Nurbaniah (200913500743)

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

Jl. Nangka No. 58C Tanjung Barat, Jakarta Selatan

Telp / Fax. (021)7818718-78835283

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang hanya dengan ridha-Nya saya dapat

menyelesaikan makalah ini dengan tepat sesuai dengan yang direncanakan. Makalah Belajar dan

Pembelajaran ini disusun demi memenuhi tugas akhir semester tiga.

Dalam makalah ini membahas tentang kesulitan – kesulitan yang dihadapi saat belajar. Makalah

ini dimulai dengan menyajikan fotocopy rapot siswa. Kemudian di jelaskan cuplikan cerita.

Setelah itu ditampikan cuplikan wawancara dan penjelasan tentang factor-faktor masalah belajar.

Dan terakhir tentang penyelesaian dari masalah belajar itu.

Tiada gading yang tak retak, saya selaku penulis senantiasa menantikan saran dan kritik yang

obyektif dan membangun dari pembaca yang budiman demi untuk menyempurnakan isi makalah

ini. Saya mengucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………… i

DAFTAR ISI ………………………………………….. ii

BAB I

1.1.Lampiran rapot………………………………….1

BAB II Pembahasan

2.1. Kutipan cerita…………………………………. 2

2.2. Wawancara……………………………………..3

2.3. Cara penaggulangan……………………………6

BAB III Penutup

3.1. Kesimpulan…………………………………… 7

3.2. Saran…………………………………………... 7

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kutipan cerita

Belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan


dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam kegiatan belajar pasti setiap siswa menemukan
kesulitan yang berbeda – beda tergantung dari siwa itu sendiri. Ada siswa yang kesulitan pada
satu bidang studi ataupun lebih. Salah satu bidang studi yang sering dianggap menyulitkan siswa
yaitu bidang studi matematika. Bagi sebagian siswa matematika adalah pelajaran yang
menyenangkan namun banyak dari siswa yang menganggap matematika adalah suatu masalah
besar dalam belajar. Untuk mengetahui alasan mengapa siswa menganggap matematika sulit
maka akan di ambil seorang siswa sebagai sampel untuk dijadikan bahan penelitian. Siswa
tersebut beridentitas:

Nama : Muhammad zulfikar fadilah

Kelas : VII

Sekolah : Mts Al-falah

Muhammad zulfikar fadilah (enden) adalah siswa kelas tujuh di sebuah sekolah islam.
Baru – baru ini enden baru saja dibagikan rapot semester pertamanya. Ternyata pada rapot
tersebut terdapat satu nilai di bawah nilai KKM, yaitu nilai pada mata pelajaran matematika.
Padahal pada mata pelajaran lain ia mampu mencapai nilai KKM walaupun ada yang pas dengan
nilai KKM tapi ada pula yang tinggi. Karena perbedaan nilai yang didapat tersebut saya selaku
penulis ingin mengetahui kenapa nilai matematika bisa di bawah KKM.

Apakah sih penyebabnya ???

2.2 Wawancara
Berikut ini merupakan sedikit potongan dialog yang saya lakukan dengan Enden. Dialog
ini saya lakukan secara tidak formal. Berikut dalah dialogna:

Penulis : “Enden gimana liburannya?? Jalan –jalan gak??

Enden : “ah biasa ja, gak kemana – mana.”

Penulis : “oh iya.. kemaren kakak belom sempet lihat rapot kamu. Gimana bagus
gak??”

Enden : “hehe……”

Penulis : “coba kakak liat gimana hasilnya”

Enden : “ini kak”

Penulis : “kok nilai matematikanya jelek?? Emang pas ulangan kemaren kamu g
belajr ya??”

Enden : “ belajar kok. Tapi gak tau kenapa begitu. Emang sih pas kemaren
ulangan banyak yang gak bisa,heheh…

lagi pula mang matematika susah sih enden jadi males belajarnya
deh”

Penulis : “kok gitu?? Mang kamu gak paham sama apa yang di ajarin
gurunya??”

Enden : “ dikit”

Penulis : “dikit?? Kenapa dikit mang gurunya jelasinnya gak enak??”

Enden : ” kadang – kadang sih enak kadang – kadang gak enak. Lagi pula
gurunya sering marah-marah mulu jadi enden males deh belajarnya.”

Penulis : “ gurunya galak??”


Enden : “ iya kadang – kadang galak lagi anak-anaknya juga pada berisik. Kalo
gurunya lagi nerangin anak-anaknya pada berisik ada yang ngobrol,
ada yang bercanda pokoknya gak bener deh”

Penulis : “enden suka ikut ngobrol klo gurunya nerangi??”

Enden : “kadang-kadang. Lagi pas enden lagi merhatiin enden di usilinlah atau
gak di ajak ngobrol juga. Mau gak mau deh enden ikut ngobrol lagi
pas mau dengerin juga gak kedengeran.”

Penulis : “ trus enden klo di rumah suka belajar?? Pa belajar klo da PR ja??”

Enden : “hehe… belajarnya klo da PR ja.”

Penulis : “ klo PRnya susah nanya sama siapa?”

Enden : “paling nanya ma bapak itupun kadang-kadang. Sukanya sih


nyontek.hehe…”

Penulis : “ yaudah klo gitu lain kali harus ngulang lagi belajar di rumah kan di
sekolah gak konsen. Trus klo gak ngerti coba tanya sama guru klo
gak sama temen minta ajarin jangan nyontek. Oke”

Enden : “Oke”

Demikian percakapan yang saya lakukan dalam study kasus ini. Berdasarkan
percakapan tersebut dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar ini datang dari berbagai hal baik
dari dalam ataupun dari luar. Faktor-faktor yang meliputi diantaranya:

A. Faktor intern yang meliputi:

1. Factor minat:

Pada dasarnya siswa tersebut memang sudah tidak menyenangi mata pelajaran
metamatika. Karena sebenarnya belajar itu harus diawali dengan niat atau minat
dari diri si siswa itu sehingga ia akan melaksanakan semua kegiatan belajar
dengan ikhlas. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas maka akan terasa
menyenangkan tidak memberakan.

B. Factor Ekstern

1. Factor Keluarga

Dalam kasusu ini si anak tidak mendapatkan sebuah dukungan dari orang tua
sehingga si anak tidak ada yang mendorong untuk belajar. Padahal dorongan dari
keluarga terutama orang tua sangat dibutuhkan untuk meningkatkan semangat
belajar.

2. Faktor sekolah

a. Guru

Disini guru tidak bersikap sebagai motivator tetai malah menurunkan


semangat belajar. Memang kebanyakan guru matematika terkenal galak.
Sebenarnya maksud galak tersebut adalah tegas agar siswa mau
memperhatikan tapi terkadang ada guru yang malah galak yang membuat
siswa takut dan akhirnya tidak mau belajar. Semustinya mulai dari
sekarang citra guru matematika yang galak harus dihapus dan digantikan
dengan guru yang menyenangkan.

b. Teman

Disini teman sangat mempengaruhi karena jika si anak tidak punya ke


kutan tekat yang tinggi maka si anak akan mudah tergoda dengan ajak
temannya yang tidak benar. Karena tidak semua teman mengajak untuk
belajar.
2.3 Cara penanggulangan

Kesulitan belajar merupakan masalah yang pasti dialami oleh setiap siswa baik di
tingkat dasar maupun tingkat atas. Masalah yang dihadapi berbeda setiap siswa tergantung
tingkat dan jenis permasalahannya. Sebenarnya permasalahan tersebut bisa dicari solusinya
dengan terlebih dahulu kita tahu dimana letak masalah itu sehingg tidak terjadi ketidak
sambungan antara masalah dan solusi . Adapun cara menyelesaikan study kasus ini, antara lai
sebagai berikut:

1. Guru hendaknya memotivasi siswa untuk mau belajar bukan malah membuat
siswa takut.

2. Guru hendaknya pula memperhatikan bagaimana hubungan siswa yang satu


denga yang lainya sehingga antar siswa yang satu dengan yang lain saling
mendorong untuk mau belajar.

3. Guru juga harus berusaha menjalin komunikasi yang baik pada orang tua agar
siswa tersebut terkontol baik di rumah atau pun di sekolah.

4. Guru juga harus memiliki inisiatif untuk mengubah cara belajar menjadi belajar
yang menyenangkan.
5. Orang tua diharapkan untuk memperhatikan anaknya di rumah, bagaimana nilai
di sekolah dan beruasaha untuk sebisa mungkin membantu anaknya jik
menemukan kesulitan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam kegiatan belajar siswa pasti memiliki kesulitan. Kesulitan – kesulitan tersebut
menjadi sebuah hambatan untuk siswa bisa berkembang. Kesulitan ini timbul dari berbagai
factor baik dari dalam ataupun dari luar. Kesulitan yang paling sering dihadapi yaitu kesulitan
bagaiman siswa mampu mnguasai suatu bidang studi terutama bidang studi matematika yang
memang dari dahulu sudah terkenal sulit. Oleh sebab itu saya selaku penulis bermaksud untuk
mencoba mencari dimana letak kesulitan siswa menguasai bidang studi matematika. Sehingga
siswa tidak perlu lagi merasakan kesulitan ketika harus belajar matematika.
3.3 Saran-saran

Pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan untuk menguasai bidang studi
matematika namun terkadang kurang diasah dan sudah tertanam pada diri merek bahwa
matematika itu sulit dan gurunya yang galak. Oleh sebab itu kita calon guru matematika harus
mampu untuk membantu mengubah citra jelek matematika itu sulit dan guru galak menjadi citra
yang baik yang bisa menyenangkan semua siswa dalam belajar matematika.