Anda di halaman 1dari 7

PETA RISIKO GEMPA INDONESIA

Keterangan Percepatan Gerak Tanah (m/detik2)


Sistem Tektonik Bagian Barat dalam 50 tahun
Zona Subduksi
Sesar Aktif
0 0,2 0,4 0,8 1,6 2,4 3,2 4,0
Sistem Tektonik Bagian Timur 4,8
Risiko Risiko Risiko Risiko
Zona Subduksi
Sangat
Sesar Aktif Rendah Sedang Tinggi
Tinggi
A
TOTAL PRODUKSI
(LIFTING) METER
1000 Bbl

FTP 20% ATURAN


200 Bbl B = 20% X A
C
MISAL : DIHITUNG COST RECOVERY
C = 20% X A 300 Bbl

EQUITY TO BE SPLIT
500 Bbl
26,7857% 73,2143%

PERUSAHAAN MIGAS PEMERINTAH INDONESIA


-EQUITY Contractor 145 Bbl -EQUITY GOI 355 Bbl
E -FTP 58 Bbl -FTP 142 Bbl
D
DMO
51 Bbl

DMO FEE

OIL : E – D+ C Contractor Df GOI


S : Df - Tax 452 Bbl 548 Bbl
Non CR minus Tax 44%
PERHITUNGAN BAGI HASIL
GROSS PRODUCTION

(-)
FTP

(-) INVEST CREDIT


(-) COST RECOVERY

EQUITY TO BE SPLIT

INDONESIA PORTION CONTRACTOR PORTION


OIL : 73,2143% OIL : 26,7847%
(+) (-)
DMO : 25%
(-) (+)
DMO FEE
(+) (-) (+)
TAX : 44%

INDONESIA CONTRACTOR
OIL : 85% OIL : 15%
Catatan:
• FTP (First Tranche Petroleum) untuk menjamin adanya penerimaan negara atas migas, walaupun hasilnya belum menutup biaya produksi.
Dimana pemerintah secara otomatis memperoleh 20% dari produksi sebelum hasil produksi tersebut dikurangkan cost recovery dan
investment credit. FTP ini diperhitungkan kembali sebagai bagian dari prosentase bagi hasil.
• Investment Credit merupakan bentuk insentif pemerintah kepada kontraktor migas untuk lebih memberikan daya saing investasi migas di
Indonesia dibandingkan negara lain.
• Cost recovery terdiri dari Unrecovered Cost (Biaya ini merupakan sunk cost yang belum di cost recovery), Current Year Operating Cost, dan
Current Year Depreciation atas Capital Cost.
• DMO (Domestic Market Obligation) adalah ketentuan yang mewajibkan kontraktor untuk menjual 25% hasil produksi ke dalam negeri dalam
rangka mendukung suplai BBM nasional.
PERKEMBANGAN KONTRAK
1. Konsesi: kontraktor memiliki kekuasaan penuh atas minyak yang
ditambang dan wajib membayar royalti  kepada negara. Kontrak ini tidak
ada lagi sejak 1961
2. Kontrak Karya: merupakan kontrak profit sharing dimana manajemen ada
di kontraktor. Kontrak ini tidak ada lagi sejak 1983
3. Production Sharing Contract: semua resiko ada di kontraktor. Negara tidak
memiliki eksposure atas resiko kegagalan dalam proses eksplorasi. Jangka
waktu kontrak adalah 30 tahun (termasuk 6-10 tahun untuk eksplorasi). 
Seluruh peralatan yang dibeli dalam rangka kontrak PSC menjadi milik
negara dan serta adanya kewajiban Domestic Market Obligation (DMO)
untuk kontraktor migas
4. Technical Assistance Contract: produksi yang dibagi hanya diperoleh dari
pertambahan produksi setelah secondary recovery. Bukan dari total
produksi.
5. Joint Operating Body: Pemerintah/Pertamina ikut serta dalam permodalan
sehingga komposisi menjadi 50 : 50.

Anda mungkin juga menyukai