Anda di halaman 1dari 114

Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

ARSITEKTUR DAN KEBUDAYAAN


(J.F. Hamah Sagrim)

A. Pengertian Budaya
Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta “buddhayah” bentuk jamak dari “budhi” dengan arti
budhi atau akal, oleh karena itu kebudayaan dapat diartikan dengan segala hal yang bersangkutan
dengan akal. Budaya dapat pula berarti sebagai hasil pengembangan dari kata majemuk budi dan
daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa.
Selanjutnya kebudayaan bila ditinjau dari ilmu Antropologi, adalah keseluruhan dari sistem
gagasan, tindakan pola hidup manusia dan karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan sebagai pemilik dari manusia dengan belajar. Dapat kita lengkapi lagi, bahwa budya adalah
gagasan dunia dan orientasi hidup. Hampir keseluruhan tindakan manusia adalah kebudayaan.
Menurut ilmu Arsitektur, manusia yang memiliki budaya adalah manusia yang bisa membangun.
Dan manusia yang membangun arsitektur adalah manusia yang berbudaya mencipta, orang yang
berjiwa seni, orang yang berjiwa merancang, orang yang berjiwa perencana, memiliki orientasi.
Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan
dengan belajar, antara lain, yang berupa tindakan naluriah, beberapa refleksi, beberapa tindakan akibat
proses psikologi, tindakan dalam kondisi tidak sadar, tindakan dalam membabi buta, bahkan berbagai
tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang dibawa oleh manusia dalam genetik
semenjak lahirnya juga telah dirombak olehnya menjadi tindakan kebudayaan.
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk
sosial, yang isinya adalah perangkat model – model pengetahuan yang secara efektif dapat digunakan
untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong dan
menciptakan tindakan – tindakannya. Dalam pengertian ini, kebudayaan adalah suatu kumpulan
pedoman atau pegangan yang kegunaan operasionalnya bagi manusia untuk mengadaptasi diri dengan
menghadapi lingkungan – lingkungan tertentu (fisik, alam, sosial dan kebudayaan) untuk mereka
dapat tetap melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan – kebutuhan dan untuk dapat
hidup secara lebih baik lagi. Karena itu seringkali kebudayaan juga dinamakan sebagai “blueprint”
atau desain menyeluruh dalam kehidupan. Kebudayaan itu sebenarnya merupakan ilmu pengetahuan
yang tersusun melalui pengalaman-pengalaman yang membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Wujud Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran dan Kebudayaan
Pada hakekatnya, Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran, merupakan cermin
kehidupan yang menggambarkan jati diri orang Jawa, yang mana ditampilkan dalam meramu
rumah mereka, termasuk didalamnya adalah: kehidupannya, sosialnya, ekonomi – spiritual dan
budayanya. Dengan demikian Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran, merupakan salah
satu artefak dari jejak perjalanan hidup Suku Jawa. Arsitektur Tradisional Suku Jawa, merupakan
suatu ciri (idea), konsep, kaidah, prinsip, alas an dan nilai, yang merupakan dasar pengolahan
batin pikiran dan perasaan mereka dalam mencipta dan berkarya.

1
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pada dasarnya arsitektur Tradisional Jawa, sudah mampu memenuhi tuntutan kebutuhan
Arsitektur yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan Manusia.
b. Mengembangkan kehidupan Manusia untuk lebih bermakna
c. Membuat kehidupan Penghuni lebih nyaman
Dapat dikatakan bahwa Suku Jawa, juga memiliki lima jenjang kebutuhan terpenting dalam
hidup mereka yaitu :
a. Physiological needs atau survival needs, adalah kebutuhan yang menduduki peringkat
atas yang merupaka kebutuhan dasar manusia. Jenjang kebutuhan ini berisi kebutuhan –
kebutuhan orang Jawa, yang berkaitan dengan alam dan keberadaannya sebagai
manusia, yaitu kebutuhan akan makanan, kebutuhan akan tempat tinggal, dan teks.
b. Safety needs atau security needs, adalah jenjang kebutuhan yang kedua berisi
kebutuhan – kebutuhan yang berkaitan dengan keamanan, agar dirinya merasa aman dan
terlindung dari setiap gangguan.
c. Social needs, atau belonginess needs, adalah jenjang kebutuhan yang ketiga yang berisi
kebutuhan – kebutuhan orang Jawa, berkaitan dengan kedudukannya sebagai anggota
masyarakat, sebagai makhluk sosial yang akan berinteraksi – interrelasi dan
berinapendensi dengan anggota masyarakat lainnya.
d. Esteem needs atau ego needs, adalah jenjang kebutuhan yang keempat yang berisikan
kebutuhan – kebutuhan orang Jawa akan penghargaan yang didasarkan pada keinginan
untuk mendapat kekuasaan (power needs). Pada dasarnya ingin dihargai dan keinginan
inilah yang menghasilkan kebutuhan orang Jawa, akan penghargaan tersebut yang
disebut dengan “Ningrat”.
e. Self actualization needs atau self Fulfillment needs, jenjang kebutuhan ini berisikan
kebutuhan orang Jawa, sehingga mereka dapat mengembangkan bakat dan
kemampuannya dengan sepenuhnya. Kebutuhan ini merupakan ciri hakiki manusia
umumnya.
Arsitektur Tradisional Jawa, mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan –
kebutuhan orang Jawa, oleh karena itu, arsitektur Tradisional Jawa bukan hanya menyangkut
masalah fungsionalitas saja, bukan hanya diperuntukan sebagai wadah kegiatan mereka belaka,
dan tidak hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan fisiologik. Perwujudan arsitektur
Tradisional Jawa tidak hanya berlandaskan pada asas fungsionalitas atau kegunaan saja,
walaupun generalitas asas ini cukup dominan dalam perkembangan arsitektur umunya, akan
tetapi tidak akan menjadi asas satu – satunya ataupun penentuan didalam perwujudan hasil – hasil
karya arsitektur.
Perwujudan Arsitektur Tradisional Jawa tidak hanya menyangkut aspek – aspek fungional
saja, melainkan menyangkut seluruh aspek kebutuhan didalam kebutuhan Masyarakat Jawa.
Perwujudan arsitektur yang mengandung nilai – nilai manusiawi dan memiliki predikat sendiri.
Arsitektur Tradisional Jawa merupakan manifestasi dari nilai –nilai budaya, yang mana
ditentukan oleh lima masalah didalam kehidupan mereka yaitu : hakekat hidup, hakekat karya,

2
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

persepsi Jawa tentang waktu, pandangan Jawa tentang alam dan hakekat Jawa dengan
sesamannya.
Kelima masalah dasar ini banyak berkaitan dengan lingkungan, baik lingkungan alami
maupun lingkungan fisik mereka yang mana terbangun dengan lingkungan sosial. Dua masalah
yang berkaitan dengan masalah lingkungan Jawa yaitu pandangan mereka tentang alam, dan
hakekat mereka dengan sesamanya. Kedua masalah ini akan menentukan orientasi nilai budaya
Jawa terhadap alam dan sesama mereka, yang kemudian direfleksikan kedalam wujud
arsitekturalnya.
Berkaitan dengan sikap dan orientasi Suku bangsa Jawa, terhadap alamnya, mereka telah
mengalami peradaban dalam kebudayaan mereka yaitu :
• Pancosmism, merupakan fase dimana Suku Jawa, tunduk kepada Alam dan Merasa
mereka adalah bagian dari alam. Hal ini merupakan kecenderungan kehidupan mula –
mula nenek moyang mereka yang mana tidak mampu dalam mencipta segala sesuatu
bagi mereka, termasuk membangun suatu tempat tinggal (rumah-omah) bagi mereka.
Hal ini cenderung mendorong nenek moyang mereka menjadi bersikap pasrah terhadap
kondisi alam.
• Anthropocentries, merupakan fase dimana Orang Jawa, dengan kemampuannya
menguasai alam dan merasa berkuasa atas alam sekitar mereka. Mereka mulai
memanfaatkan hasil alam (alam dieksploitasi) untuk kehidupan mereka. Eksploitasi
alam ini mendorong terjadinya kerusakan lingkungan alam disekitar mereka.
• Holism, merupakan tahapan atau fase dimana Orang Jawa, mampu menyelaraskan
kehidupan dan aktifitasnya dengan alam sekitar. Dalam mendaya gunakan lingkungan
alamnya, Orang Jawa juga mampu memperhatikan daya dukung alam sekitar mereka
sehingga kelangsungan aktifitas mereka tetap berlangsung.
Pandangan – pandangan Orang Jawa terhadap situasi dan alamnya, memiliki pengaruh yang
sangat besar bagi wujud Arsitektural mereka. Ketergantungan Orang Jawa terhadap situasi dan
alam termanifestasi kedalam wujud arsitekturnya yang sangat tergantung pada karakter –
karakter alam dan situasi lingkungan sekitar. Hasil karya Arsitektur Tradisional Jawa cenderung
mengandung makna ketakutan dari mereka Terhadap alam dan kehidupan mereka yang berkaitan
dengan masalah – masalah mistis ataupun kekuatan – kekuatan ghaib dan kekuatan musuh yang
berada diluar diri mereka. Keinginan mereka untuk menguasai alam membuat mereka cenderung
berupaya untuk mengeksploitasi alam sekitar. Hasil – hasil karya Arsitektur Tradisional Suku
Jawa menjadi sangat jauh dari lingkungannya lepas dari lingkungan alamiahnya. Keselarasan
dengan alam, Masyarakat Jawa, cenderung mencari pertautan dengan lingkungan mereka.
Kekuatan – kekuatan lingkungan dan alam sekitar tidak lagi dikaitkan dengan kekuatan
kepercayaan moderen atau yang dikenal pada wilayah mereka adalah Kejawen dan kemudian
Muslim. Alam merupakan faktor – faktor yang dipertimbangkan bagi usaha – usaha mereka.
2. Aspek Sosial Budaya Jawa
a. Mengenal Masyarakat Jawa Tengah
Persebaran Suku Jawa adalah suku yang mendiami pulau Jawa daerah tengah dan timur,
sebelum adanya pembagian wilayah seperti sekarang ini. Pusat kebudayaan suku Jawa

3
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

semula berpusat di Surakarta, tetapi dengan terjadinya perjanjian giyangti tahun 1755, pusat
kebudayaan Jawa berpusat di dua tempat, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
b. Sistem Religi dan Kepercayaan orang Jawa
Agama yang dianut oleh sebagian besar suku Jawa adalah Islam, Katolik, Hindu,Kristen,
Buddha. Islam sendiri berkembang di Jawa menjadi beberapa golongan, yaitu Islam Santri
Golongan yang menjalankan ibadah Islam sesuai dengan syariat-syariatnya, Islam Kejawen
Golongan yang percaya pada ajaran Islam, tetapi tidak patuh menjalankan syariat Islam, dan
masih percay pada kekuatan lain. Lekat dengan ajaran budaya Kejawen.
Disamping percaya kepada agama, masyarakat jawa juga masih percaya kepada
kekuatan lain, seperti :
• Percaya kepada makhluk halus
• Percaya kepada hari baik/naas
• Percaya kepada hari kelahiran/weton
• Percaya pada benda-benda pusaka
• Perayaan hari istimewa/sakral(selamatan)
c. Sistem Kekerabatan Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa menganut sistem kekerabatan bilateral atau paralel. Dimana semua anggota
keluarga terhubung sangat dekat.
d. Sistem politik dan kemasyarakatan orang Jawa
Pada zaman dahulu, suku jawa mengenal stratifikasi sosial, yaitu:
• Bendoro
• Priyayi
• Wong Cilik
Ada juga stratifikasi berdasarkan kepemilikan tanah, yaitu :
• Wong Baku
• Kuli gondok
• Sinoman
e. Sistem Ekonomi Tradisional Jawa
Masyarakat Jawa sebagian besar berpofesi sebagai petani, tidak semua masyarakat Jawa
mempunyai tanah untuk berladang, karena itu ada sebagian masyarakat Jawa yang
mengembangkan profesi ke bidang lain.
f. Kesenian Jawa
Masyarakat Jawa sebagian besar mempunyai kesenian olah tubuh, yaitu seni tari.
3. Makna Bangunan Rumah Sebagai Budaya
Hakekatnya, bangunan rumah tradisional Jawa merupakan pencerminan berbagai aspek
kehidupan manusia, termasuk didalamnya antara lain kehidupan sosial, ekonomi, spiritual dan
budaya. Dengan demikian bangunan rumah Jawa merupakan hasil produk manusia Jawa itu
sendiri. Disadari bahwa pada manusia (orang Jawa) hidup dengan keinginan akan segala sesuatu
baik tempat tinggal, makanan, pakaian dan teks yang mana disadari merupakan kebutuhan pokok.
4
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pada dasarnya bangunan rumah diadakan untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut :
1. Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan.
2. Mengembangkan kehidupan untuk lebih bermakna.
3. Membuat kehidupan untuk lebih nyaman.
1. Struktur Bangunan Rumah
Bangunan rumah Jawa merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, selain sandang,
pangan dan teks, papan juga dibutuhkan. Manusia membutuhkan kenyamanan akan diri sehingga
ia mampu menciptakan segala sesuatu yang memenuhi kebutuhan akan kenyamanan itu.
Berbicara mengenai suatu bangunan rumah, berarti berkaitan dengan struktur dan elemen –
elemen pembentukan bangunannya, oleh karena itu tidak lengkap dan tidak jelas jika berbicara
suatu bangunan rumah tanpa berbicara strukturnya. Struktur bangunan rumah, terdiri dari tiga
elemen pokok yaitu; Koloum, Dinding dan Atap, yang mana teruarai sebagai berikut:
a. Struktur Atap
Yang dimaksud dengan struktur atap adalah, bagian elemen atau struktur kelengkapan
sebuah bangunan yang posisinya berada di bagian atas (kepala) yang mana terdiri dari;
rangka, yaitu kuda-kuda, reng, nok/usuk dan atap.
Secara mayoritas Atap bangunan rumah Jawa berbentuk Joglo dan limasan. Atap
sebagaimana layaknya filosofi kepala atau rambut seorang manusia yang bisa digunting
dengan beragam bentuk, begitupun atap bangunan dengan berbagai bentuk dan gaya
tergantung bentuk atau gaya mana yang ingin ditampilkan. Misalnya tampilan atap perisai,
tampilan atap pelana, tampilan atap kubah, tampilan atap joglo, atau tampilan atap
gabungan.
b. Struktur Dinding
Dinding adalah suatu bagian elemen bangunan yang posisinya di tengah (badan).
Dinding terdiri dari rangka, dan penutup dinding (walls). Pada umumnya bahan dinding yang
di gunakan oleh suku Jawa, dalam membangun rumah tinggal mereka adalah;
- Bahan Kayu
- Bahan Bambu
- Bahan Tanah
- Bahan Batu
Jika filosofi kepala manusia sebagai atap, maka filosifi badan manusia diibaratkan
sebagai dinding bangunan, yang didalamnya terdapat ruang aktifitas penghuni.
c. Struktur Kolom
Kolom merupakan struktur dasar (kaki) sebuah bangunan yang mana berdiri sebagai
ukuran dalam pembentukan suatu bangunan dengan ruang – ruangnya. Kolom pada rumah
Jawa yang posisinya berhubungan langsung dengan pondasi, terdiri dari struktur kolom
Induk (Saka guru) dan kolom Bantu.

5
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

d. Interior
Tujuan dari membangun suatu bangunan adalah untuk menciptakan ruang beraktifitas
dan ruang berlindung yang nyaman. Interior dalam pengertian bahasa inggris adalah ruang
dalam bangunan, oleh karena itu interior merupakan salah satu elemen yang tercipta atas
hasil bangunan yang terbentuk oleh elemen vertikal (dinding-dinding) dan elemen horizontal
(lantai).
Selain kepala, badan dan kaki, manusia juga memiliki hati. Hati adalah salah satu organ
penting manusia yang mana mampu memberikan yang terbaik dan yang tidak baik dalam
pertimbangan pemikiran seseorang, begitupun ruang dalam sebuah bangunan yang mana
mampu menyimpan segala rahasia seseorang penghuni baik itu yang berkaitan dengan hal
yang baik dan ‘hal tidak baik’.
5. Fungsi Bangunan Rumah
Bangunan rumah merupakan kebutuhan manusia, yang mana tidak hanya sekedar dibutuhkan
semata – mata namun secara umum bangunan dibutuhkan sebagai tempat melindungi diri atau
suatu hunian moderen dan gudang. Bangunan juga berfungsi sebagai tempat menampung segala
sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas dan kebutuhan penghuni yang berkelanjutan. Khusus
fungsi bangunan akan di ulas secara detail sebagai berikut :
a. Fungsi Atap
Atap yang secara universal dikenal, merupakan suatu struktur atau elemen bangunan
yang berfungsi sebagai penutup bangunan pada bagian atas bangunan dan pelindung yang
memberi kenyamanan kepada penghuni dari matahari, hujan, angin serta pengaruh situasi
iklim sekitarnya.
Atap dalam pengertian orang Jawa, dibutuhkan sebagai penerus aliran hujan dan
penghambat terik matahari kedalam ruang bangunan (interior).
b. Fungsi Dinding
Dinding merupakan struktur atau elemen suatu bangunan yang dibutuhkan. Didinding
bahwasanya berfungsi membentuk suatu ruang, melindungi penghuni dari angin, dan
melindungi penghuni dengan segala aktifitas yang sedang berlangsung dalam ruang.
c. Fungsi Kolom
Kolom sebagai salah satu struktur atau elemen terpenting dalam membangun sebuah
bangunan, Karena selain klom yang berfungsi sebagai pemikul bangunan beserta segala
isinya dan sebagai penyalur beban suatu bangunan ke tanah, struktur kolom juga merupakan
suatu elemen yang dijadikan sebagai patokan atau ukuran dalam membentuk suatu bidang
dan ruangan tertentu. Bagi orang Jawa, struktur kolom (Saka) diperlukan untuk
pembentukkan suatu bentuk bangunan
d. Fungsi Ruang dalam /Interior
Interior merupakan pusat keberlangsungan segala aktifitas, oleh karena itu, interior
mempunyai peranan dan fungsi yang sangat luas dalam mendirikan suatu bangunan.
Orang Jawa pada hakekatnya membutuhkan suatu ruang untuk kelangsungan akan
aktifitas mereka, hunian dan kenyamanan keberlangsungan hidup dan kehidupan mereka.

6
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

6. Makna Bangunan
Bangunan atau rumah dimaknai sebagai jantung kehidupan yang mampu memberi kehidupan
yang layak kepada penghuninya. Rumah juga di isyaratkan dengan filosofi manusia, yang terdiri dari
kepala (atap), badan (dinding dan interior) dan kaki (kolom).
Ada ungkapan dimasyarakat yang berbunyi “rumah mu, wajahmu, dan jiwamu”. Dari ungkapan
itu tampak bahwa perumahan dalam kehidupan orang Jawa, mempunyai arti dan makna yang dalam,
yaitu : kesejahteraan, kepribadian, dan keberadaban manusia penghuninya (suatu masyarakat atau
suatu bangsa). Perumahan tidak sekedar dilihat sebagai suatu benda mati atau sarana kehidupan
semata – mata, tetapi lebih dari itu, perumahan merupakan suatu proses bermukim. Kehadiran
manusia dalam menciptakan ruang hidup di lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya. Bermukim
pada hakekatnya adalah hidup bersama. Untuk itu, fungsi rumah nDalem Pangeran Ngadiwinatan
adalah sebagai tempat tinggal Pangeran, dalam suatu lingkungan yang mempunyai prasarana dan
sarana yang diperlukan oleh orang Jawa untuk memasyarakatkan dirinya. Rumah juga merupakan
sarana pengaman bagi diri manusia, pemberi ketenteraman hidup, dan sebagai pusat kehidupan
berbudaya. Di dalam rumah dan lingkungan Jawa tersebut itu, maka terbentuk dan berkembang
menjadi orang Jawa yang berkepribadian.
Dilihat dari fungsinya rumah Pangeran nDalem, juga memiliki fungsi lain yaitu; fungsi sosoial,
fungsi ekonomi, fungsi politik. Sebagai fungsi sosial, masyarakat Jawa, memandang rumah (termasuk
nDalem) sebagai pemenuhan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat. Dalam fungsi ekonomi,
rumah (termasuk nDalem) merupakan investasi jangka panjang yang akan memperkokoh jaminan
penghidupan di massa depan. Dan sebagai fungsi politik, rumah (termasuk nDalem) berfungsi sebagai
indikator kedudukan/birokrat di masyarakat sekitarnya.
Perwujudan Arsitektur adalah BENTUK, yang lahir dari kebutuhan manusia akan wadah untuk
melakukan kegiatan. Karya Arsitektur Jawa merupakan suatu ungkapan bentuk, yang mewadahi hal –
hal sebagai berikut :
1. Guna dan Citra
Guna yang dimaksud adalah pengertian bahwa rumah memiliki pemanfaatan,
keuntungan. Rumah memiliki kemampuan/daya/manfaat agar hidup menjadi lebih mengikat.
Sedangkan Citra, menunjukkan suatu gambaran, kesan penghayatan bagi seseorang
mengenai rumah tersebut. Citra memiliki arti yang mendekat spiritual menyangkut derajat
dan martabat manusia (orang Jawa) yang menghuni rumah tersebut. Misalnya istana megah,
Dalem, rumah rakyat, dan sebagainya jadi Citra menunjukkan tingkatan kemampuan
manusia itu.
2. Simbol Kosmologis
Arsitektur Jawa dimaksudkan sebagai simbol pandangan manusia (orang Jawa) terhadap
dunianya. Pandangan ini berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Pada tahap awal orang
Jawa (manusia umunya) merasakan terkungkung oleh alam, sehingga bentukan arsitektur
tampil sebagai suatu pelindung terhadap alam. Kemudian hal ini berkembang dengan
pandangan bahwa manusia adalah bagian dari alam. Bentuk menjadi personifikasi dari alam.
Dengan mulai dikenalnya agama pada tahap berikutnya, bentuk tanpa menjadi simbol
pemujaan terhadap Yang Maha Kuasa (Bait Suci). Namun hal ini masih belum terlepas dari
7
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

budaya. Suatu masyarakat yang mempunyai agama sama tetapi budaya mereka pasti berbeda
yang mana bisa menghasilkan bentuk yang berbeda.
3. Orientasi Diri
Orient = umur, bisa diartikan sebagai permulaan matahari terbit hingga terbenam. Hal
ini membawa pengertian adanya sumbu arah lainnya, yaitu utara selatan. Sehingga dengan
dua persilangan menimbulkan rasa satu pusat. Pusat ini dapat dianggap sebagai pusat
kehidupan, tempat berpegang. Sehingga kalau ada suatu pusat, tentunya akan menimbulkan
nilai yang berbeda. Perbedaan nilai – nilai bisa berdasarkan suatu prioritas dan tidak hanya
berupa suatu bidang yang berdua dimensi, tetapi juga kearah vertikal (tiga dimensi).
4. Cermin Sikap Hidup
Rumah sebagai cermin sikap hidup, berarti mampu menunjukkan cara pandang dalam
kehidupan. Sikap hidup tersebut bisa berarti religius, praktis dan sebagainya. Sikap yang
terbuka, mau bersahabat dan ramah terhadap sesama maupun alam akan tampil berbeda
dengan rumah penghuninya yang bersikap menguasai alam (tertutup) Bangunan tradisional
Suku bangsa Jawa, memuat kaedah – kaedah sebagai berikut :
a. Wujud
Arsitektur Tradisional Jawa, merupakan perwujudan suatu kebutuhan, yang mana
mewadahi aktivitas – aktivitas penghuni yang akan terjadi didalam.
b. Anatomi
Arsitektur Tradisional Jawa, Sebagai salah satu kreativitas. Bentuk rumah
tradisional Jawa, yang terpakai, dimana terdapat aturan/susunan yang harus
dipenuhi agar bisa berfungsi.
c. Identitas
Mewakili si pemilik, fungsi, lokasi. Bangunan memberi gambaran akan apa yang
terwadahi.

8
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

PERKEMBANGAN RUMAH JAWA


(Hamah Sagrim)

A. PERJALANAN RUMAH JAWA – Tinjauan Histors


1. Asalmuasal Rumah Jawa
Dari asal usulnya, para ahli sejarah belum mempunyai kesatuan pendapat tentang hal ini.
Sebagian riwayat menceriterakan bahwa betapa sukarnya menentukan wujud bentuk rumah orang
Jawa pada mulanya. Ada yang mengatakan bahwa perkembangan rumah orang Jawa hanya
diceriterakan dari mulut ke mulut (lisan), dari kakek ke cucu, cicit, dan sterusnya. Akan tetapi ada
pula yang mengatakan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu. Dari pendapat
yang bermacam-macam itu, dapat diambil kesimpulan bahwa hal itu masih gelap dan belum berhasil
ditemukan bentuknya.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beberapa orang yang ahli telah membuktikan bahwa teknik
penyusunan rumah Jawa seperti teknik menyususnan batu-batu candi yang cukup banyak. Tetapi
menurut para ahli, bukan rumah orang Jawa yang meniru bentuk candi, melainkan candi yang meniru
rumah orang Jawa. Mengapa demikian? Karena candi yang kita saksikan sekarang ini seperti candi
Dieng, Borobudur, Pawon, Mendut, Gedongsongo, dan lain-lain pada umumnya berdiri pada abad ke-
18, sedangkan sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke Jawa, sebenarnya nenekmoyang orang
Jawa pasti sudah mempunyai tempat tinggal yang cukum permanen untuk melindungi diri dan
keluarganya.
Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang hal-hal tersebut diatas dengan pasti, dan
yang menjadi saksi bisu pastilah relief-relief yang terdapat pada batu candi. Tapi dugaan yang paling
kuat diperoleh dari sebuah naskah kuno yang ditulis dengan tangan, yang menyebutkan bahwa rumah
orang Jawa terbuat dari bahan kayu, serta dimulai dari jaman Prabu Jayabaya berkuasa di Memenang
ibukota Kediri.
Sekitar abad ke-11, baik adipati Harya Santang maupun Prabu Jayabaya, sendiri menyetujui
untuk membuat rumah dari bahan kayu. Dan orang tidak usah khawatir lagi bahwa rumah batu
mereka akan dikikis habis oleh air hujan, atau oleh sebab-sebab yang lain. Tetapi kalau dibuat dari
bahan kayu, hal ini dikarenakan bahan kayu merupakan bahan yang ringan, mudah dikerjakan, mudah
dicari dan kalau rusak mudah untuk menggantikannya.
Di istana Raja, barisan pekerja yang berada di wilayah pimpingan Adipati Harya Santang juga
mendapat order memperbaiki istana raja. Menurut tulisan yang sama, pada jaman Prabu Wijayaka
berkuasa di medangkemulan, ia telah melakukan berbagai perubahan terutama pada departemen
perumahan yang sejak saat itu diurus oleh pejabat perumahan yang berpangkat Bupati. Mereka terdiri
dari:
1. Bupati Kalang Blandhong – ahli menebang pohon
2. Bupati Kalang Obong – ahli pembersihan hutan

9
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

3. Bupati Kalang Adeg – ahli perencana bangunan


4. Bupati Kalang Abrek
Semua pembangunan rumah Jawa, disesuaikan dengan budaya Jawa.
2. Bagaimana Tempat Tinggal Nenek Moyang Orang Jawa Dahulu?
Diatas telah disebutkan bahwa rumah leluhur orang Jawa terbuat dari bahan batu. Namun hal itu
hanya perkiraan semata, dan sejak semula, orang beranggapan bahwa rumah batu tersebut baru ada
sekitar abad ke-10 dan itupun terbatas pada tempat-tempat tertentu. Tapi, pada jaman sebelumnya,
orang-orang juga membutuhkan tempat tinggal untuk menanggulangi diri dan keluarganya dari hujan
dan panas. Mau tidak mau mereka berpikir praktis sehingga dengan berbagai usaha telah ditempuh
untuk mempertahankan hidup. Oleh karena itu, maka pada jaman kuno, orang-orang memanfaatkan
gua-gua “abris sous roche”. Gua-gua itu sebenarnya lebih mirib dengan ceruk-ceruk di dalam batu
karang yang dapat dipakai untuk berteduh. Kini penelitian terhadap gua-gua semacam itu terus
ditingkatkan.
Limapuluh tahun yang lalu, tepatnya antara tahun 1928-1931, seorang peneliti yang pertama
melakukan penelitian di gua-gua tersebut adalah Van Stein Callenfels, di daerah Gua lawa dekat
Sampung Ponorogo, Madiun. Lambat laun berkembang menjadi semacam ekspedisi, yaitu gabungan
dari puluhan orang yang masing-masing memiliki keahlian khusus (spesialis) di samping didukung
oleh dana yang besar.
Banyak benda-benda unik yang ditemukan disana. Bagi para peneliti yang berasal dari negeri
barat seperti Belanda, Inggris maupun orang Eropa lainnya, cukup mengencangkan alat-alat batu,
ujung panah dan flakes (kepingan senjata tajam), batu, penggalian, kapak-kapak yang sudah diasah
(neolithikum), alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Disamping itu juga ditemukan alat-alat perunggu
dan besi.
Selain temuan-temuan tersebut yang diiedntifikasikan, termasuk identifikasi benda tersebut
menunjukkan bahwa manusia yang pertama hidup di Jawa dalah jenis manusia Papua-melanesoid.
Sehingga dipastikan bahwa ceruk-ceruk tersebut telah lama ditempati oleh nenek moyang.
Setelah membuktikan secara ilmiah kapan benda-benda tersebut mulai ada di sana, maka
muncullah istilah “sampung bone-culture” yang berarti alat-alat tukang dari sampung.
3. Populasi Jenis-Jenis Arsitektur Rumah Adat Jawa
Arsitektur atau Seni Bangunan yang terdapat di daerah Provinsi Jawa Tengah dikelompokkan
menjadi dua, yaitu : a. Arsitektur Tradisional, yaitu Seni Bangunan Jawa asli yang hingga kini masih
tetap hidup dan berkembang pada masyarakat Jawa. Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh
masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Yang merupakan
bangunan pokok dalam seni bangunan Jawa ada 5 (lima) macam, ialah :
- Panggang-pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi.
- Kampung, yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja.
- Limasan, yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan de tengahnya.
- Joglo atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah
bubungan di tengahnya.

10
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

- Tajug atau Masjid, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi
meruncing.
Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya
berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah
setempat.
Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5
macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang
selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut
pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan
tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci,
umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa
tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering
memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain :
- Pintu gerbang : bentuk kampong
- Pendopo : bentuk joglo
- Pringgitan : bentuk limasan
- Dalem : bentuk joglo
- Gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang
- Dapur : bentuk kampong, dll.
Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah
yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang
mengepakkan sayapnya) misalnya bagian-bagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu,
misalnya : – emper depan : untuk Pendopo – ruang tengah : untuk tempat pertemuan keluarga – emper
kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan– emper yang lain : untuk gudang dan
dapur.
Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Hal tersebut dimaksudkan
untuk berjaga-jaga bila ada banjir.Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua
bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur, brunjung, usuk
peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan
sebagainya.Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati.
Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai
menjangkau manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara
Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.
Arsitektur tradisional Jawa harus dilihat sebagai totalitas pernyataan hidup yang bertolak dari tata
krama meletakkan diri, norma dan tata nilai manusia Jawa dengan segala kondisi alam lingkungannya.
Arsitektur ini pada galibnya menampilkan karya “swadaya dalam kebersamaan” yang secara arif
memanfaatkan setiap potensi dan sumber daya setempat serta menciptakan keselarasan yang harmonis
antara “jagad cilik” (mikrokosmos) dan “jagad gedhe” (makrokosmos).
Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah
arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah
satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan
11
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang
tegar. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung
yang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul.
Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar
dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua
dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup
handal terhadap gempa.
Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi ruang
beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk
daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang
memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir
atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam
seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu, peredam angin
dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan
untuk obat tradisional.
Sumber utama untuk mengenal seni bangunan Jawa untuk untuk daerah Jawa Tengah adalah
Kraton Surakarta dan Kraton Mangkunegaran. Juga peninggalan-peninggalan bangunan makam kuno
serta masjid-masjid kuno seperti Masjid Demak, Masjid Kudus dengan menaranya yang bergaya
khusus, Makam Demak, Makam Kadilangu, Makam Mengadeg, dll.
Di samping seni bangunan Jawa asli yang berupa bangunan rumah tempat tinggal, terdapat juga
seni bangunan Jawa peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça, semasa berkuasa
di daerah Jawa Tengah. Bangunan semasa itu biasanya menggunakan bahan bangunan batu sungai,
ada juga yang menggunakan batu merah, bahan kayu yang peninggalannya tidak kita jumpai lagi,
tetapi kemungkinan dahulunya ada.
Fungsi bangunan-bangunan itu bermacam-macam : sebagai tempat pemujaan, tugu peringatan,
tempat pemakaman, tempat bersemedi, dan sebagainya. Corak bangunan-bangunan agama itu ada
yang agama Budha Mahayana, misalnya : Borobudur. Yang bercorak Trimurti, misalnya : Dieng.
Sedangkan yang bercorak campuran dengan kepercayaan daerah setempat, misalnya : Candi Sukuh
dan Çeta.
Bentuk Rumah Panggang-pe : Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lain-
lainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda,
tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya.
Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan di
gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal.
Bentuk Rumah Limasan : Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi,
memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper
atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom, kutuk gambang, lambang
gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai
tempat tinggal.
Bentuk Rumah Tajug : Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko guru dengan blandar-
blandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan

12
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

sebagai tempat suci, semisal : Masjid, tempat raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk tempat
tinggal.
Bentuk Rumah Joglo : Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan
pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan
sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (nDalem).
4. Rumah Dalam Kehidupan Orang Jawa
Rumah merupakan sesuatu yang penting karena mencerminkan papan (tempat tinggal),
disamping dua macam kebutuhan lainnya yaitu sandang (pakaian) dan pangan (makanan). Karena
rumah berfungsi untuk melindungi dari tantangan alam dan lingkungannya. Selain itu rumah tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan utamanya saja. Tetapi dipergunakan untuk mewadahi semua
kegiatan dan kebutuhan yang ada di dalam rumah tersebut.
Rumah Jawa lebih dari sekedar tempat tinggal. Masyarakat Jawa lebih mengutamakan moral
kemasyarakatan dan kebutuhan dalam mengatur warga semakin menyatu dalam satu kesatuan.
Semakin lama tuntutan masyarakat dalam keluarga semakin berkembang sehingga timbullah
tingkatan jenjang kedudukan antar manusia yang berpengaruh kepada penampilan fisik rumah suatu
keluarga. Lalu timbulah jati diri arsitektur dalam masyarakat tersebut.
Rumah Jawa merupakan lambang status bagi penghuninya dan juga menyimpan rahasia tentang
kehidupan sang penghuni. Rumah Jawa merupakan sarana pemiliknya untuk menunjukkan siapa
sebenarnya dirinya sehingga dapat dimengerti dan dinikmati orang lain. Rumah Jawa juga
menyangkut dunia batin yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa.
Bentuk dari rumah Jawa dipengaruhi oleh 2 pendekatan yaitu :
- Pendekatan Geometrik yang dikuasai oleh kekuatan sendiri.
- Pendekatan Geofisik yang tergantung pada kekuatan alam lingkungan.
Kedua pendekatan itu akhirnya menjadi satu kesatuan. Kedua pendekatan mempunyai perannya
masing-masing, situasi dan kondisi yang menjadikan salah satunya lebih kuat sehingga menimbulkan
bentuk yang berbeda bila salah satu peranannya lebih kuat. Rumah Jawa merupakan kesatuan dari
nilai seni dan nilai bangunan sehingga merupakan nilai tambah dari hasil karya budaya manusia yang
dapat dijabarkan secara keilmuan.
Bentuk rumah tradisional jawa dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan bentuk. Secara
garis besar tempat tinggal orang jawa dapat dibedakan menjadi:
1. Rumah Bentuk Joglo
2. Rumah Bentuk Limasan
3. Rumah bentuk Kampung
4. Rumah Bentuk Masjid dan Tajug atau Tarub
5. Rumah bentuk panggang Pe
- Rumah JOGLO
Dibanding 4 bentuk lainnya, rumah bentuk joglo merupakan rumah joglo yang dikenal
masyarakat pada umumnya.

13
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Rumah Joglo kebanyakan


hanya dimiliki oleh mereka yang
mampu. Hal ini disebabkan rumah
bentuk joglo membutuhkan bahan
bangunan yang lebih banyak dan
mahal daripada rumah bentuk
yang lain. Masyarakat jawa pada
masa lampau menganggap bahwa
rumah joglo tidak boleh dimiliki
oleh orang kebanyakan, tetapi
rumah joglo hanya diperkenankan
untuk rumah kaum bangsawan, Foto : 1. Joglo jompongan Foto : 2. Joglo kepuh lawakan
- Sumber Peneliti - 2010
istana raja, dan pangeran, serta
orang yang terpandang atau dihormati oleh sesamanya saja. Dewasa ini rumah joglo digunakan
oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung pertemuan
dan kantor-kantor.
Banyak kepercayaan yang menyebabkan masyarakat tidak mudah untuk membuat rumah
bentuk joglo. Rumah bentuk joglo selain membutuhkan bahan yang lebih banyak, juga
membutuhkan pembiayaan yang besar, terlebih jika rumah tersebut mengalami kerusakan dan
perlu diperbaiki.
Kehidupan ekonomi seseorang yang mengalami pasang surut pun turut berpengaruh,
terutama setelah terjadi penggeseran keturunan dari orang tua kepada anaknya. Jika keturunan
seseorang yang memiliki rumah bentuk joglo mengalami penurunan tingkat ekonomi dan harus
memperbaiki serta harus mempertahankan bentuknya, berarti harus menyediakan biaya
secukupnya. Ini akan menjadi masalah bagi orang tersebut. Hal ini disebabkan adanya suatu
kepercayaan, bahwa pengubahan bentuk joglo pada bentuk yang lain merupakan pantangan sebab
akan menyebabkan pengaruh yang tidak baik atas kehidupan selanjutnya, misalnya menjadi
melarat, mendatangkan musibah, dan sebagainya.
Pada dasarnya, rumah bentuk joglo berdenah bujur sangkar. Pada mulanya bentuk ini
mempunyai empat pokok tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar
bersusun yang di sebut tumpangsari. Blandar tumpangsari ini bersusun ke atas, makin ke atas
makin melebar. Jadi awalnya hanya berupa bagian tengah dari rumah bentuk joglo zaman
sekarang. Perkembangan selanjutnya, diberikan tambahan-tambahan pada bagian-bagian
samping, sehingga tiang di tambah menurut kebutuhan. Selain itu bentuk denah juga mengalami
perubahan menurut penambahannya. Perubahan-perubahan tadi ada yang hanya bersifat sekedar
tambahan biasa, tetapi ada juga yang bersifat perubahan konstruksi.
Dari perubahan-perubahan tersebut timbulah bentuk-bentuk rumah joglo yang beraneka
macam dengan namanya masing-masing. Adapaun, jenis-jenis joglo yang ada, antara lain : joglo
jompongan, joglo kepuhan lawakan, joglo ceblokan, joglo kepuhan limolasan, joglo sinom apitan,
joglo pengrawit, joglo kepuhan apitan, joglo semar tinandu, joglo lambangsari, joglo wantah
apitan, joglo hageng, dan joglo mangkurat.

14
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

A. ARSITEKTUR nDALEM PANGERAN – cross cutting Karaton story


1. Sejarah Arsitektur nDalem Pangeran Ngadi Winatan Suryoputran Yogyakarta Dalam
Perjalanan Karaton Ngayogyakarta.
Dibawah bayangan gunung setinggi 2.914 meter, yang
disebut Gunung Merapi, berdiri Ngayogyakarto Hadiningrat,
salah satu kerajaan Mataram di Jawa. Kini disebut sebagai
Yogyakarta (Jogja) mulai tahun 1755, ketika wilayah Kerajaan
Mataram dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta
(Solo).
Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi
pada saat itu, dan beliau menggunakan keraton sebagai pusat
daerah paling berpengaruh di Jawa sejak abad ke-17. Keraton Foto: 3. Logo keraton
tetap menjadi pusat kehidupan tradisional dan meskipun ada Yogyakarta
modernisasi di abad ke-20, keraton tetap memancarkan
semangat kemurnian, yang ditandai dengan kebudayaannya
selama berabad-abad.
Yogyakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan di
Jawa. Musik gamelan merupakan pandangan dari masa lalu,
klasik dan sejaman, pertunjukan tari-tarian Jawa yang sangat
indah dan memabukkan, pertunjukkan wayang kulit dan ratusan Foto : 4. Tampak Depan
kesenian tradisional yang membuat para pengunjung terpesona. Keraton Yogyakarta
Semangat kehidupan yang luar biasa dan kehangatan kota Hadiningrat
ini sendiri yang hampir tidak pernah pudar. Seni kontemporer
juga tumbuh dalam suburnya kebudayaan dan masyarakat
Yogyakarta. ASRI, Akademi Seni Rupa, sebagai contoh,
merupakan pusat kesenian di sini, dan Yogyakarta telah
mencatatkan namanya sebagai sebuah sekolah seni lukis modern
penting di Indonesia, yang mungkin bisa dicontohkan dalam
sosok pelukis impersionis, Affandi. Foto: 5. Budaya Garebeg
Propinsi ini merupakan salah satu daerah padat penduduk di
Indonesia dan merupakan pintu gerbang utama menuju pusat
Jawa dimana secara geografis tempat ini berada. Membentang
dari Gunung Merapi di sebelah utara menuju Samudera Hindia
di sebelah selatan. Penerbangan harian menghubungkan
Yogyakarta dengan Jakarta, Surabaya, Papua dan Bali, juga
kereta api dan angkutan bis menawarkan perjalanan darat Foto: 6. Budaya Jathilan
dengan rute sama.
Sumber Dinas Kebudayaan
DIY

15
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (disingkat dengan


Jogja), merupakan salah satu dari 34 propinsi di Indonesia.
Propinsi ini dibagi menjadi 5 daerah tingkat II, Kotamadia
Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman,
Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul. Luas
Yogyakarta sekitar 3.186 km persegi, dengan total penduduk
3.226.443 (Statistik Desember 1997). Propinsi ini terkenal Foto : 8. Gedong kaca.
sebagai kota kebudayaan dan pendidikan dan merupakan Museum hamengkubuono IX
daerah tujuan wisata.
Berdasarkan sejarah, sebelum 1755 Surakarta merupakan
ibukota Kerajaan Mataram. Setelah perjanjian Gianti (Palihan
Nagar) pada 1755, mataram dibagi menjadi 2 kerajaan:
Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan
Ngayogyakarto Hadiningrat. Mengikuti kebiasaan, Pangeran
Mangkubumi, adik Susuhunan Pakubuwono II, dimahkotai Foto : 9. Budaya Numplak
sebagai Raja Ngayogyakarto Hadiningrat. Kemudian beliau Wajik
disebut sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Pada tahun
1813, dibawah penjajahan Inggris, pemisahan kerajaan
Mataram terjadi untuk ketiga-kalinya. Pangeran Notokusumo,
putra dari Hamengku Buwono I, dimahkotai sebagai Pangeran
Paku Alam I. Kerajaannya terpisah dari Kasultanan
Yogyakarta.
Ketika Republik Indonesia berdiri pada 17 Agustus 1945,
yang dilambangkan dengan penandatanganan Proklamasi Foto: 10. Budaya Pekchun
Kemerdekaan, Ngayogyakarto Hadiningrat dan Pakualaman
menyatu sebagai salah salah satu propinsi di Indonesia dimana
Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditunjuk sebagai gubernur
dan Sri Paku Alam VIII sebagai wakil gubernurnya. Meskipun
propinsi DIY mempunyai wilayah yang relatif kecil, namun
kaya akan daya tarik wisata. Pengunjung dapat menemukan
berbagai macam hasil seni dan pertunjukan kesenian yang
sangat menarik dan menakjubkan. Foto : 12. Budaya Imogiri
Sebagai pusat seni dan budaya di Jawa, terdapat
beberapa macam daya tarik wisata di Yogyakarta. Hal ini
menjadi alasan mengapa orang mereferensikan Yogyakarta
sebagai tempat lahirnya kebudayaan Jawa. Dan untuk pecinta
gunung, pantai atau pemandangan indah, Yogyakarta juga
menyediakan beberapa tempat untuk itu. Propinsi ini juga
diakui sebagai tempat menarik untuk para periset, ahli Foto : 13. Budaya
geologi, ahli speleogi dan vulkanologi merujuk pada adanya Karawitan
gua-gua di daerah batuan kapur dan gunung berapi yang aktif. Sumber Dinas Kebudayaan
Di selatan kabupaten Gunung Kidul merupakan ujung laut, DIY & Peneliti 2010
dimana terdapat beberapa fosil biota laut dalam batuan kapur
16
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

sebagai buktinya.
Untuk para arkeolog, Yogyakarta sangat menarik sebab
setidaknya ada 36 candi / situs-situs sejarah disini. Ada beberapa
peninggalan peradaban dari abad ke-9. Salah satunya, candi
Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan paling terkenal di
Indonesia. Borobudur, candi Budha terbesar, tercatat sebagai
salah satu “tujuh keajaiban di dunia”. Borobudur dapat dicapai
selama 1 jam dari kota, hanya 42 km sebelah barat laut
Yogyakarta. Dalam perjalanan ke Borobudur, dapat Foto : 15.a. Budaya
mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon. Candi Mendut Ramayana
merupakan tempat untuk pemujaan, dengan adanya arca Budha
Gautama didalamnya. Beberapa upacara ritual juga masih
berlangsung di Yogyakarta, dan masih dilaksanakan sampai
sekarang. Lingkungan yang indah, arsitektur tradisional,
kehidupan sosial, dan upacara-upacara ritual membuat
Yogyakarta menjadi tempat paling menarik untuk dikunjungi.
Seni dan budaya tradisional seperti musik gamelan dan tari-
tarian tradisional akan selalu mengingatkan penonton akan
Foto : 15.b. Budaya
kehidupan Yogyakarta beberapa abad yang lalu. Pembangunan
Ramayana
teknologi modern berkembang di Indonesia dan di Yogyakarta,
ini berkembang secara harmoni dengan adat dan upacara
tradisional.
Sesuai namanya, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
memang benar-benar istimewa. Orang-orangnya sangat ramah.
Hal ini membentuk kehidupan dan kelakuan mereka. Mereka
menyukai olahraga tradisional, panahan sebagai hobi dan juga
sangat menyukai permainan burung perkutut. Mereka juga
percaya bahwa orang dapat menikmati hidup dengan Foto : 16.a. Budaya
mendengarkan kicauan burung. Kompetisi panahan tradisional Gerebeg
selalu diselenggarakan untuk memperingati kelahiran raja, yang
disebut dengan “Wiyosan Dalem”. Dan pada saat Sri Sultan
Hamengku Buwono X lahir, tradisi ini juga dilaksanakan.
Dengan adanya berbagai macam kesenian adat dan upacara
tradisional yang masih berlangsung, Yogyakarta juga dikenal
sebagai “museum hidup Jawa”, yang dicerminkan dalam segala
bentuk hal-hal tradisional berupa kendaraan, arsitektur, pasar,
pusat cindera mata, museum, dan banyak pilihan atraksi wisata
di Yogyakarta. Foto : 16.b. Budaya
Gerebeg
Dengan berdirinya Karaton ngayogyakarta, maka
selanjutnya didirikanlah bangunan-bangunan Pangeran,
Sumber Dinas Kebudayaan
termasuk nDalem Ngadiwinatan Suryoputran yang berada di
DIY
alun-alun Selatan Yogyakarta.

17
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Inovasi Birokrasi di Dalam Keraton Hadiningrat


Keraton adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari
kata ka+ratu+an= keraton. Juga disebut kadaton, yaitu ka+datu+
an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa
Indonesianya adalah istana, keraton ialah sebuah istana, tetapi
istana bukanlah keraton. Keraton ialah istana yang mengandung
arti, baik arti keagamaan, arti filsafat dan arti kultural
(kebudayaan). Foto : 18. Pakualaman
Keraton Yogyakarta memiliki arti-arti tersendiri. Arsitektur
bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, hiasannya, sampai warna
gedungnya mempunyai arti, pohon yang ditanamnya pun bukan
sembarang pohon. Semua yang terdapat di sana seakan-akan
memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri
kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun,
berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Fotoa : 19. Tugu
Arsitek dari keraton tersebut adalah Sri Sultan Hamengku Yogyakarta
Buwono I, waktu masih muda, baginda bergelar Pangeran
Mangkubumi. Kompleks keraton terletak di tengah-tengah, tetapi
daerah keraton membentang antara sungai Code dan sungai
Winanga, dari utara ke selatan, dari Tugu sampai Krapyak. Nama
kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita, bahwa ada
hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di Foto : 20.a. Karaton
keraton pada waktu dulu, misalnya Gandekan=tempat tinggal Yogyakarta
gandek-gandek (koerir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal
para prajurit keraton Wirabraja, Pasindenan tempat tinggal
pesinden-pesinden keraton.
Daerah keraton terletak di hutan Garjitawati, dekat Desa
Beringin dan Desa Pacetokan. Karena daerah ini dianggap kurang
memadai untuk membangun sebuah keraton dengan bentengnya, Foto : 20.b. Karaton
maka aliran sunagai Code dibelokkan sedikit ke timur dan aliran Yogyakarta
sungai Winanga sedikit ke barat.
Kerton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756 atau tahun
Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di
pintu Gerbang Pemagangan dan di pintu Gerbang Melati berupa
dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa
Jawa:”dwi naga rasa tunggal.” Artinya dwi=2, naga=8, rasa=6,
tunggal=1 (dibaca dari belakang : 1682). Warna naga hijau, hijau Foto : 21. Budaya
adalah simbol dari pengharapan. Tahunnya sama, tetapi Wayang
dekorasinya tidak sama. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan
sudut yang dihiasinya. Warna naga merah, dimana sebagai Sumber Dinas
simbol dari keberanian. Di halaman Kemagangan ini dahulu Kebudayaan DIY
dijadikan ujian-ujian bela diri memakai tombak antar calon

18
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

prajurit-prajurit keraton. Mestinya mereka pada waktu itu mereka sedang marah dan berani.
Luas keraton Yogyakarta adalah 14.000 meter2. di dalamnya terdapat banyak bangunan-
bangunan, halaman-halaman, dan lapangan-lapangan. Dimulai dari halaman keraton ke utara:
1. Kedaton atau prabayeks.
2. Bangsal Kencana
3. Regol Danapratapa (pintu gerbang)
4. Sri manganti
5. Regol Sri Manganti (pintu gerbang)
6. Bangsal Ponconiti (dengan halaman Kemandungan)
7. Regol Brajanala (pintu gerbang)
8. Siti Inggil
9. Tarub Agung
10. Pagelaran (tiangnya berjumlah 64)
11. Alun-alun utara (dihias dengan pohon beringin 62 batang)
12. Pasar (Beringharja)
13. Kepatihan
14. Tugu, angka 64 manggambarkan usia Nabi Muhammad 64 tahun Jawa atau 62 tahun
Masehi.
Sedangkan dari halaman keraton ke selatan maka dapat terlihat:
1. Regol Kemagangan (pintu gerbang)
2. Bangsal Kemagangan
3. Regol Gadung mlati (pintu gerbang)
4. Bangsal Kemandungan
5. Regol Kemandungan (pintu gerbang)
6. Siti Inggil
7. Alun-alun Selatan
8. Krapyak
Perhatian :
1. Regol = pintu gerbang
2. Bangsal = bangunan terbuka
3. Gedong = bangunan terturtup
4. Plengkung = pintu gerbang benteng
5. Selogilang = lantai tinggi dalam sebuah bangsal semacam poium rendah tempat duduk
Sri Sultan atau tempat singgasana Sultan
6. Tratag = bangunan, biasanya tempat berteduh, beratap anyaman-anyaman bambu dengan
tiang-tiang tinggi, tanpa dinding. Di pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII
semua tratag kraton dimuliakannya dan diberi atap seng, tetapi arsitekturnya tetap tidak
berubah.
19
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Ditengah-tengah halaman Kemandungan Kidul berdiri sebuah bangsal, yang dinamakan


Bangsal Kemandungan. Bangsal ini bekas pesanggrahan Sri Sultan Hamengku Buwono I di Desa
Pandak Karangnangka waktu Perang Giyanti (1746-1755).
Krapyak ialah sebuah podium tinggi dari batu bata untuk Sri Sultan, kalau baginda sedang
memperhatikan tentara atau kerabatnya memperlihatkan ketangkasannya mengepung, memburu,
dan menangkap rusa. Kompleks keraton dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, benteng yang
panjangnya 1 km, berbentuk empat persegi, tingginya 3,5 m, lebarnya 3 sampai 4 m. Di beberapa
tempat di benteng itu ada gang atau jalan untuk menyimpan senjata dan amunisi, Di keempat
sudutnya terdapat bastion dengan lubang-lubang kecil dindingnya untuk mengintai musuh. Tiga
dari bastion itu saat ini masih dapat dilihat. Benteng Dui sebelah luar dikelilingi oleh parit lebar
dan dalam.
Kaitannya antara inovasi dalam keraton, kami mengangkat tema inovasi birokrasi dalam
keraton. Dalam pengertian ini inovasi menunjuk pada suatu proses kreativitas yaitu kombinasi
dari dua konsep atau lebih, sehingga melahirkan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak
diketahui oleh individu yang bersangkutan. Dalam pengertian ini inovasi, diartikan sebagai proses
pengambilan dan internalisasi atau proses memasarkan ide-ide baru. Inovasi menurut Barnet
(1953) adalah semua pemikiran, perilaku, atau hal-hal yang baru karena hal itu secara kualitatif
berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah ada. Menurut Zaltman, dkk, inovasi adalah semua ide,
praktek-praktek atau artefak yang oleh individu-individu dalam masyarakat yang bersangkutan
dianggap baru. Zaltman, dkk. (1973 : 32) mengelompokkan inovasi dalam tiga kategori besar
yaitu (1) Berdasarkan keberadaanya dalam sistem; (2) Berdasarkan pada fokus sasaran; (3)
Berdasarkan pada hasil atau pengaruh inovasi.
Merujuk pada teori Zaltman, dkk. bentuk inovasi birokrasi pada keraton dalam kategori
kesatu temasuk kategori inovasi yang tidak diprogramkan. Contohnya semenjak Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdiri dan Yogyakarta menyatakan diri menjadi bagian dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia, maka secara otomatis kedudukan Raja sebagai petinggi keraton
Yogyakarta merangkap sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini menyebabkan
dalam menjalankan pemerintahannya sebagai seorang gubernur dibantu oleh staf gubernur (di
bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sedangkan dalam menjalankan
pemerintahannya sebagai raja dalam lingkungan keraton, raja dibantu oleh abdi dalem.
Inovasi dalam kategori kedua yaitu inovasi struktural contohnya adanya pembagian pangkat
dan golongan pada abdi dalem. Kedudukan abdi dalem di dalam keraton disamakan dengan
pegawai negeri, di mana mereka juga digaji sesuai dengan pangkat dan golongan mereka.
Masing-masing bagian di kepalai oleh kepala bagian, yang bertanggung jawab penuh atas kinerja
anggota di bawahnya. Kinerja anggota dititik beratkan pada nilai-nilai kejawen, diantaranya tata
karma, sikap, tutur kata, perilaku, dan kepribadian yang mencerminkan orang Jawa yang
sesungguhnya. Abdi dalem di dalam keraton dibagi menjadi dua belas kelompok, yang masing-
masing kelompok bekerja dalam dua belas hari sekali. Gaji yang mereka terima disesuaikan
dengan pangkat dan golongan yang jumlahnya sangat sedikit. Berdasarkan informan yang kami
wawancarai, mengaku bahwa gaji beliau tidak seberapa, “seorang abdi dalem namung angsal gaji
sekawan ewu rupiah”. Menurut beliau gaji abdi dalem sekarang berbeda dengan gaji abdi dalem
pada saat pemerintahan Hamengku Buwono VIII. Pada saat pemerintahan Hamengku Buwono I-

20
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

VIII gaji abdi dalem masih bisa untuk menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai abdi
dalem semarta-mata sebagai wujud pengabdian terhadap Sultan, dan untuk “nguri-uri” budaya
Jawa (melestarikan budaya Jawa).
Semenjak Hamengku Buwono VIII mangkat, terjadi perubahan yang besar dalam keraton
yang mana bentuk perubahan tersebut dapat kita kategorikan dalam bentuk inovasi birokrasi
dalam keraton. Contohnya adalah dihapuskannya sistem upeti karena sudah terbentuk
karisedenan-karisedenan di Surakarta dan tidak digunakannya Patih dalam keraton karena pada
masa sekarang lebih mementingkan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap
permasalahan (semua permasalahan ditangani langsung oleh Raja) sedangkan pada jaman dahulu
kekuasaan Raja adalah mutlak contoh yang lain adalah adanya perbedaan antara kegiatan raja
yang dahulu dengan sekarang. Pada jaman dahulu, kegiatan raja semata-mata hanya di kerajaan
sedangkan kegiatan Raja pada jaman sekarang merupakan perpaduan antara kegiatan di kantor
Gubernuran dan kegiatan di keraton.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan radikal pada keraton mulai
dari perubahan fungsi-fungsi pejabat-pejabatnya yang mengalami perubahan nama saja sampai
pada adanya proses difusi dalam sistem pemerintahan yang mengalami percampuran dengan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun terjadi percampuran antara Negara Kesatuan
republik Indonesia, diharapkan fungsi keraton sebagai pusat budaya Jawa tetap dijaga
keasliannya sebagai pusat budaya Jawa.
3. Profile Berdirinya nDalem Ngadiwinatan Suryoputran
nDalem Ngadiwinatan Suryoputran Yogyakarta, berdiri Pada tahun 1927, di daerah Alun-
alun Selatan, didirikan oleh SriS Sultan, yang semulanya ditempati oleh Pangeran, kemudian
ditempati oleh SMKI, sebelum tahun 1977, atau ± 1970-an. Kemudian ditempati Bidang Pemuda
(BIMUD) Propinsi Daerah Iatimewa Yogyakarta, pada tahun 1990-an, setelah itu digantikan dan
ditempati oleh Balai Pengembangan Pemuda Olahraga (BPPO) Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, pada tahun 2001-2009, setelah itu ditempati oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan
Olahraga Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2009 –
sekarang, sebagai Perkantoran kerja.
4. Bentuk Bangunan nDalem Ngadiwinatan Suryoputran
a. Macam Bentuk Atap
Bentuk atap nDalem adalah atap gabungan antara
atap limasan dan joglo, dimana atap Joglo berada
dibagian tengah (central) dan diapit oleh atap limasan
di sekeliling kiri, kanan, dan muka belakang.
Bentuk Joglo, sebagai penutup ruang bagian
tengah. Dalam nilai rumah Jawa, bahwa ruang tengah
atau ruang bagian dalam ini disebut dengan gedongan,
dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam memimpin
salat yang dikaitkan dengan makna simbolis sebagai
tempat yang disucikan, sakral, dan dikeramatkan. Foto : 22. Bentuk atap nDalem

21
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Gedongan juga merangkap sebagai tempat tidur


utama yang dihormati dan pada waktuwaktu tertentu
dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anak-
anaknya.
Fungsi ruang tengah kini difungsikan sebagai
ruang perkantoran staf Kepemudaan dan Olahraga
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta semenjak tahun
2009-sekarang.
Rumah adat jawa tengah berbentuk rumah joglo,
Sebuah bangunan joglo yang menimbulkan interpretasi
arsitektur Jawa mencerminkan ketenangan, hadir di
antara bangunan- bangunan yang beraneka ragam. Gambar: 3. Proyeksi.
Interpretasi ini memiliki ciri pemakaian konstruksi Sumber Peneliti 2010
atap yang kokoh dan bentuk lengkung-lengkungan di
ruang per ruang.
Rumah adat joglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang
bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus
merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional.
Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah adat Kudus terdiri atas soko guru
berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau tumpang
telu (tumpang tiga) di atasnya. Struktur joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur
utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah agar atap rumah bisa berbentuk pencu.
Pada arsitektur bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan sekadar pemahaman seni
konstruksi rumah, juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan
manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusitasnya terefleksikan dalam arsitektur
rumah dengan gaya ini.
Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu
kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu
utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna
simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah
untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping
kanan dan kiri untuk besan.
b. Macam Bentuk Kolom
Bentuk kolom pada nDalem menggunakan kolom
ompak. Dengan bentuk hiasannya yang diambil dari
urutan huruf arab: mim - ” ”, ha – “ ”, mim, dan
dhal – “ ” (mohamad) yang distilisasikan

sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan bermotif Foto : 23. Bentuk kolom Dalem
padma, pada umpak, sebagai sitilisasi songkok pada Sumber peneliti 2010
umpak, menjadi motif sorotan pada tiang bangunan

22
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Gambar. 4. Proyeksi ruang


Foto. 25. Ruang Penyeimbang.
Sumber peneliti 2010 penyeimbang – sumber peneliti.2010

nDalem, yang mana kesemuanya itu untuk mengagungkan kuasa Nabi Mohamad.
Rangkaian huruf Arab: mim, ha, mim, dhal, serta huruf : ra, sin, wau, lam, aiif, lam, lam
dan ta simpul, dimaksudkan untuk menyebutkan : Mohammad Rasul Allah. Tulisan ini
distilisasikan sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan dengan motif putri mirong pada tiang.
Kolom pada rumah nDalem berjumlah genap. Hal ini merupakan tata aturan dalam
mendirikan rumah adat Jawa. Bahwa setiap rumah adat Jawa, jumlah kolom bangunan harus
genap, tidak boleh ganjil. Kolom rumah nDalem tersebut disusun sesuai dengan titik sudut,
sebagai keseimbangan.
Karena bangunan nDalem ini merupakan aliran arsitektur Jawa yang keseluruhannya
merupakan hasil dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, sehingga sistem keseimbangannya
dibentuk dengan kolom yang genap, dengan 4 kolom utama sebagai struktur di tengah sebagai
soko guru.
Soko guru atau juga bisa disebut saka guru, kedua sebutan ini juga mempunyai makna yang
sama.
c. Macam Bentuk Bukaan

Foto : 25. Bentuk Pintu kantor Foto : 26. Bentuk Pintu Kamar Mandi/WC
Sumber Peneliti 2010

23
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pintu, berbentuk memanjang vertikal dengan bahan pintu terbuat dari kayu. Setiap pintu,
selain pintu kayu diluar, bagian dalamnya dilapisi dengan pintu kaca dengan bingkai dari kayu.
Pola bentuk pintu, berbentuk kotak, pada bagian atas
membentuk segi empat memanjang, sedangkan bagian bawa
berbentuk segi empat pendek.
Jumlah keseluruhan pintu pada bangunan nDalem
Ngadiwinatan Suryo Putran; 16 buah, dengan bentukkan
yang berbeda-beda, antara pintu pada ruang dalam bangunan
berbeda dengan pintu di kamar mandi/wc, maupun sebuah
pintu yang di bagian kiri bahannya terbuat dari kaca dengan
bingkainya dari kayu, pintu tersebut hanya berbeda dari
bahannya, namun bentuk tipenya menyerupai bentuk pintu
dalam bangunan lainnya.
Pada bagian atas pintu kamar mandi/wc, berbentuk
pelangi dengan ujung-ujungnya menyerupai anak panah, ini
melambangkan pelangi dengan bagian sebelah menyebelah Foto : 27. Bentuk Jendela
menuju ke titik tertentu yang menghubungkan adanya Sumber Peneliti 2010
kunjungan antara penguasa laut yang satu dengan penguasa
laut yang lain.
Bentuk jendela yang asli pada bangunan nDalem ini
adalah berbentuk segi empat memanjang, dengan bahan
adalah bagian lapisan luar dengan bahan utama kayu, yang
mana tidak tertutup semua, tetapi disusun dengan bercelah,
dengan tujuan sebagai ventilase. Selain dibagian luar yang
memakai kayu, pada lapisan dalammya menggunakan bahan
kaca dengan bingkai dari kayu.
Total jendela pada bangunan pangeran nDalem Foto : 28. Gerbang Utama
Ngadiwinatan Suryo Putran adalah; 8 buah, dengan Sumber Peneliti 2010
bentuknya yang sama, namun pada bagian sisi kanan, telah
mengalami perubahan ketika terjadi
gempa, sehingga telah digantikan
bahannya dengan kaca.
Pintu Gerbang utama ada satu buah.
Letak pintu utama langsung berhadapan
dengan Jalan utama alun-alun selatan.
Penutup pintu menggunakan kayu yang di
rakit dengan baut sehingga kuat. Umur
pintu ini seumur dengan umur bangunan,
dan bahan-bahannya pun juga masih tetap
awet hingga sekarang. Hanya saja Foto: 29. Gerbang sayap kiri dan Kanan
perawatannya yang selalu di cat, namun Sumber peneliti 2010
warna cat yang dipakai tetap mengikuti
24
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

warna awal yang di pakai semenjak didirikan bangunan tersebut.


Selain itu, dibagian sayap kiri dan kanan terdapat pintu gerbang. Pintu gerbang pada sayap
kiri dan kanan di apit dengan tembok yang dihubungkan langsung dari antara dinding bangunan
dan tembok pagar. Bahan pintu terbuat dari kayu jati. Semu pintu nDalem terdiri atas dua daun
pintu yang berbentuk kupu tarung (kupu yang sedang kelai) jika dibuka. Kedua gerbang tersebut
salah satunya, yang terletak di sayap kanan telah mengalami perbaikan pasca gempa, sedangkan
gerbang pada sayap kiri tetap seperti bentuk terdahulu lengkap dengan daun pintu dan bahan-
bahannya. Walaupun mengalami patahan pada bagian dindingnya, namun sudah di
perbaiki/renovasi.

d. Macam Bentuk Ventilasi

Foto : 30. Bentuk-Bentuk Ventilasi. Sumber Peneliti 2010

Bentuk-bentuk ventilasi pada bangunan nDalem pangeran Ngadiwinatan suryoputran,


membentuk lengkung, persegi empat dengan dihiasi bentukkan ornament, dan bergaris.
e. Macam Bentuk Motif
1. Motif Dinding

Foto : 31. Bentuk Motif Dinding. Sumber Peneliti-2010


Pada umumnya dinding nDalem Ngadi Winatan berbentuk polos, dan mengalami relief
pada bagian puncak atas yang berbatasan dengan plafond, dan batasan bawah dengan lantai
dan pondasi, sedangkan bentuk yang lain dengan relief yang menonjol ke dalam dengan
berbentuk garis horizontal dan vertikal pada bagian bukaan (Pintu, Jendela, Ventilasi).

25
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Motif Kolom
Motif-motif kolom ada yang polos dan ada yang bermotif. Kebanyakan kolom yang bermotif
pada bagian kaki, dengan berwarna kehitaman, umpak. Sedangkan pada bagian yang lain, dapat
kita jumpai dibagian tengah dan bagian atas/kepala dengan warna putih.

Foto : 32. Bentuk Motif Kolom. - Sumber Peneliti-2010


3. Motif Langit-langit

Foto : 33. Bentuk Motif plafond. - Sumber Peneliti 2010

Motif lagnit-langit didominasi oleh persegi empat untuk plafond ruang lainnya, yang
dibatasi dengan gari-garis vertikal dan horizontal dan berbentangan dengan garis finis pada
bagian ujung dinding. Sedangkan pada ruang penyeimbang, bentuk plafondnya persegi
empat yang diapit oleh Brunjung, motifnya berbentuk Bintang di bagian tengah sebagai
sentral, dan dibagi dengan tumpang sari serta dikelilingi oleh garis dan motif bunga pada
ujung akhir 4 sisi. Bentuk ini terdiri atas dua plafond, yang mana pada bagian tengah dibagi
oleh penangkur, yang diukir berbentuk gugungan atau Kayon. Bentuk bintang tersebut
masing-masing yang berada dibagian kiri dilihat dari depan, tertuliskan tahun, sedangkan
pada bagian kanan dituliskan huruf arab.

26
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

4. Motif Kuda-kuda

Foto : 34. Bentuk Motif Kuda-Kuda. Sumber Peneliti-2010

f. Macam Bentuk Ornament


1. Ornament Langit-langit

Foto : 35. Bentuk ornament plafond. Sumber Peneliti-2010

Tidak semua langit-langit diberi ornament. Kita hanya dapat menjumpai ornament
pada langit-langit ruang
penyeimbang, yang ditutupi
dengan atap Joglo. Baik plafond
maupun brunjung, diberi ornament.
2. Ornament Tembok Pagar
Ornament pagar diistilasi dari
ragam hias semacam kaligrafi yang
diambil dari huruf Arab yang
dirangkum menjadi wujud hiasan Foto : 36. Bentuk ornament Pagar.
ornament. Pada bagian tembok Sumber Peneliti-2010
nDalem, kita akan temukan
ornament yang berwujudkan bunga padma sebagai symbol 4 penjuru angin dan buah
labuh (labu) sebagai lambang kata Allah. Kata Allah diambil dari kata waluh atau

27
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

waloh yang sebutannya mirib seperti sebutan Allah dalam bahasa Arab. Hiasan tersebut
ditempatkan sebagai ujung pilar pada bangunan pagar (tembok) dilingkungan halaman
nDalem.

3. Ornament Gerbang

Foto : 37. Bentuk ornament Pintu. Sumber Peneliti-2010

4. Ornament Kolom

Foto : 38. Bentuk ornament Koloum. Sumber Peneliti-2010

5. Ornament Listplank

Foto : 39. Bentuk ornament listplank. Sumber Peneliti-2010

28
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

g. Bahan – bahan Bangunan


1. Bahan Atap

Foto : 40. Bahan Atap. Sumber Peneliti-2010

Bahan utama penutup atap nDalem Ngadiwinatan Suryoputran adalah Genteng, dan
ditambahkan dengan atap senk pada bagian sosoran pematah sinar matahari dibagian jendela
dan ventilasi.

2. Bahan Dinding
Bahan dinding nDalem, menggunakan tembok yang tersusun dari bahan Bata, semen,
pasir, dan cor-coran.

3. Bahan Lantai

Foto : 41. Bahan Lantai. Sumber Peneliti-2010

29
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

4. Bahan Plafond

B
Foto : 42. Bahan Plafond. Sumber Peneliti-2010

Bahan plafond menggunakan kayu, pada ruang penyeimbang yang beratap Joglo,
sedangkan pada bagian ruang lainnya menggunakan bahan plafond dari Triplek.
5. Bahan bukaan

Foto : 43. Bahan bukaan. Sumber Peneliti-2010

Bahan bukaan pintu, Jendela dan Ventilasi, terdiri atas Kayu, Kaca dan beton. Untuk
pintu dan Jendela, menggunakan kayu dan kaca, sedangkan untuk ventilasi ada yang
menggunakan Beton dan ada yang menggunakan kaca.

h. Bentuk Bangunan nDalem Ngadiwinatan Suryoputran


Bentuk denah nDalem Ngadiwinatan Suryoputran adalah persegi empat memanjang.
Bentuk tata ruang terdiri atas dua belas (12) kamar yang kini digunakan oleh BPPO Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut lihat Pada Gambar Denah.

30
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Foto: 44 Foto: 45 Foto: 46


Tampak Samping Kiri Tampak Belakang Tampak Samping Kanan

Gambar: Denah

Foto: 48
Bentuk Ornament Pada
Sosoran Bagian Kiri
Foto: 47
Tampak Depan
Sumber: Peneliti, 2010
Organisasi Ruang
1. Teras depan 8. Ruang Kepala
2. Ruang tengah penyeimbang/ruang staf 9. Ruang Kabag. TU.
3. Ruan sidang 10. Ruang Kasub. TU.
4. Ruang staf kepala 11. Ruang Kepala Umum
5. Ruang staf dan magang 12. Teras Belakang
6. Ruang seksi pemuda dan olahraga 13. Teras Kanan
7. Rung Kepala Pemuda dan Olahraga 14. KM/WC

B. ARSITEKTUR RUMAH RAKYAT


1. Rumah Rakyat Bentukkan Joglo
Bangunan rumah tradisional Jawa termasuk diklasifikasikan sesuai dengan stratifikasi
kedudukan. Pada bagian awal, telah kita bahas tentang rumah nDalem Ngadiwinatan Suryoputran,

31
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

sebagai bangunan kelas menengah. Berikut ini kita akan


uraikan bangunan rumah tradisional Jawa khusus hunian
rakyat biasa.
Perbedaan utama pada bangunan rumah rakyat biasa
dan rumah hunian bagi strata menengah sebagai berikut:
Tata ruang lebih banyak untuk rumah strata menengah,
bentuk dan ukuran bangunan lebih besar untuk rumah
menengah, untuk bangunan strata menengah lebih
komplit dan elit dibanding dengan rumah rakyat, jenis
dan mutu bahan bangunan untuk rumah strata menengah
lebih mahal dibanding rumah rakyat biasa. Foto 49. Bangunan Rumah Rakyat
Rumah ini berlokasi di jl. Laksda Adi Sucipto Biasa - Sumber Peneliti - 2011
Yogyakarta berfungsi sebagai tempat menyimpan
koleksi barang-barang antik yang salah satunya terlihat
didepan rumah tersebut yaitu lesung.
Rumah ini didirikan tahun 2007 dengan menyusun
beberapa elemen dari berbagai rumah yang ditata
sedemikian rupa sehingga menjadi utuh dan membentuk
sebuah rumah dengan gaya klasik jawa.
Hal ini dapat dilihat dari perbedaan secara visual
antara tiang yang berada diteras dengan dinding bagian
depan. Terlihat dengan jelas bahwa usia kayu tersebut Foto : 51. Tampak Kontradiksi antara
terpaut jauh. bangunan Tradisional dengan
Demikian juga jika dilihat dari bentuk lisplanknya moderen – Sumber data Peneliti - 2010
menunjukkan perbedaan waktu pembuatannya, karena
lisplanknya terlihat lebih using dibandingkan dengan dinding bagian depan rumah.

Foto 52. Konstruksi Foto 53. Kolum dan Ukiran Foto 54. Pedestal –
Pengaku dan ukiran – – Sumber data Peneliti 2011 Sumber data Peneliti 2011
Sumber data Peneliti 2011

32
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Rumah berikut ini terletak di Jl. Ngeksigondo


Yogyakarta Dibangun sekitar tahun 1921. Seluruh
kayu yang dipakai Adalah kayu jati dengan Kualitas
yang sangat bagus. Terbukti meskipun usianya Sudah
90 tahun namun rumah tersebut tetap kokoh. Langgam
arsitektur jawa Sangat kental terlihat pada bentuk atap
joglo dan ornamen-ornamen yang ada pada tiang dan
bubungan atap. Jika diperhatikan ornamen pengaku
pada tiang hampir sama dengan ornamen pada tiang
rumah yang berada di Jl. Laksda Adi Sucipto.
Kemungkinan ornamen seperti itu sedang populer pada
jamannya. Foto : 56. Bentuk arsitektur Jawa yang
Menurut pemiliknya, rumah ini sudah dihuni oleh kental. Lihat atap – sumber peneliti 2011
tiga gnerasi dan belum pernah mengalami renovasi yang berarti termasuk saat terjadi gempa tahun
2006. Berdasarkan survey memang rumah kayu lebih
tahan terhadap gempa dibanding dengan rumah yang Foto. 57. Dinding dari Kayu Jati.
terbuat dari batu bata. Sumber data penelti - 2011
Dinding dari kayu jati dibiarkan tanpa finishing cat
maupun politur. Lantai rumah dibiarkan terbuat dari tanah tanpa penyelesaian layaknya rumah-rumah
pada masa sekarang yang kebanyakan menggunakan perkerasan.

Foto. 58. Tumpang Sari pada Langit-Langit


dengan ukiran. Sumber data peneliti, 2011

Tumpang sari yang bersusun tujuh trap dengan ukiran terbuat dari kayu jati dan sudah dipolitur.
Biasanya jumlah susunan tumpang sari dapat menunjukkan status sosial dari pemiliknya. Semakin
banyak susunannya maka semakin kaya pemiliknya.

33
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Rumah Rakyat Berbentuk Limasan


Rumah tinggal ini terletak di Dukuh Kledokan Desa Catur tunggal Kecamatan Depok
Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Menurut pemiliknya, Bapak Sumarto, rumah ini didirikan pada tahun
1956 dan telah mengalami perbaikan dua kali. Yang
pertama adalah pada tahun 1972 perbaikan terhadap
dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
Mengingat anyaman bambu jika dipakai untuk
dinding luar dan tidak diberi pengawet akan cepat
rusak.
Perbaikan yang kedua yaitu pada tahun 2006
saat gempa melanda Yogyakarta. Perbaikan yang
kedua kalinya meliputi dinding dan usuk serta reng
yang semuanya terbuat dari bambu. Tidak terdapat
ornamen-ornamen khusus pada rumah ini
dikarenakan pemiliknya menjaga keaslian dari
bentuk semula yang mempunyai arti sejarah yang Foto. 59. Rumah Rakyat Bentuk
sangat berkesan ketika rumah tersebut masih dihuni Limasan – Sumber data Peneliti 2011
bersama orang tua Bapak Sumarto. Disamping rumah
terdapat tambahan ruangan dengan inding seng untuk dijadikan dapur dan kamar mandi. Bentuk
atapnya limasan, kuda- kuda pelana. Konstruksi utama terbuat dari kayu jati dan kayu glugu.
Bentuk arsitektur tradisional Jawa semacam ini, kebanyakan ditemukan di desa-desa dan
pemiliknya adalah masyarakat yang tergolong ekonomi lemah, atau kadang disebut sebagai
masyarakat miskin dan masyarakat kampong. bentuk-bentuk bangunan khas Jawa yang kental, tidak
dijumpai pada wajah tata ruang kota, akan tetapi kebanyakan tersembunyi dibalik cengkeraman dan
kemegahan gedung-gedung bergaya asing yang berdiri megah mendominasi wajah perkotaan di Jawa.
Mungkin sebaiknya konsep penataan ruang Jawa harus menampilkan sebanyak-banyaknya citra
Jawa dengan arsitektur Jawa. Walaupun kelihatannya terlambat, namun setidaknya di daerah-daerah
perkampungan yang baru beranjak menuju perkembangan, sudah harus diterapkan konsep ini sebagai
fondasi awal menuju daerah pemerdekaan karakter sendiri yang diharapkan menambah citra
kejawaan.
Disadari bahwa, semakin manusia berkeinginan untuk maju, disaat itulah ia mulai melakukan hal-
hal yang menunjukkan kemajuannya. Masyarakat Jawa kini sedang dan sudah dalam proses semacam
ini. Oleh karena itu, maka terjadilah perubahan dalam perkembangan berarsitektur mereka. Orang
Jawa sudah melakukan sedikit demi sedikit perubahan, dan kelihatan jelas pada arsitektur yang begitu
terlupakan. Dengan kecenderungan ingin mengikuti gaya hidup bangsa lain terutama gaya hidup
kebarat-baratan, maka kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa kini dalam proses Penetrasian.
Secara Sadar dan tidak sadar, hal ini sedang berjalan dan sedang menyusup masuk kedalam jantung
sosial budaya Jawa, dan kelihatannya sudah merasuki pemikiran masyarakat Jawa sebagai Manusia
Jawa yang berkarakter Jawa sedang mengalami penurunan hakekat Kejawaannya. Ini akan berakibat
pada kehilangan bentuk dan gaya, baik bagi masyarakat Jawa maupun masyarakat tradisional lainnya
di Nusantara bahkan suku bangsa di benua lainnya. Untuk perkembangan arsitektur Jawa, lihat
perkembangan dan perubahannya pada analisis berikut.

34
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Perkembangan Bentuk-bentuk arsitektur tradisional Jawa dan perubahan


sumber analisis peneliti 2011
Foto 60: Bentuk Asli Rumah Joglo Foto 61: Bentuk Transisi Rumah Joglo. Foto 62: Bentuk Moderen
menggunakan bahan Kayu Mengalami perubahan pada bahan, warna Rumah Joglo. Mengalami
dan tata ruang. Perubahan pada bahan bangunan
dari kayu dan warna tradisional
menjadi bentuk yang inofatif.

PERKEMBANGAN
ARSITEKTUR
TRADISIONAL JAWA

Foto 65: Bentuk Moderen


Foto 64: Bentuk Transisi Rumah Limasan. Rumah Limasan. Mengalami
Foto 63: Bentuk Asli Rumah Limasan Mengalami perubahan pada bahan, warna Perubahan pada bahan
menggunakan bahan Bambu (gedeg) dan tata ruang. Bangunan dari kayu dan warna
tradisional menjadi bentuk yang
inofatif

35
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

ARSITEKTUR INDONESIA
(J.F. Hamah Sagrim)

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer.
Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular
juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa
penyesuaian membangun dari generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak
menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda
ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan
dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam.
A. Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur
menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirri
khas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan candi adalah sebagai representasi
dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai
kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan
bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang
direpresentasikan dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India,
namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedepankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan
lebih tepatnya dengan budaya petani.
Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum
pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas
untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk
setempat.
B. Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di
Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama
adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke
Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua
adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah
vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah
pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-
bahan alami seperti atap rumbino, daun sagu,
ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa,
dan batu. Bangunan adalah penyesuain
sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Fot 66. Rumah Tradisional Nusantara –
Rumah-rumah di pedalaman Indonesia masih Sumber Analisis Peneliti- 2011
banyak yang menggunakan bambu, dan kayu,

36
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

namun seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu dan kayu ini sedikit demi
sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.
C. Pengaruh Hindu dan Islam dalam Arsitektur Jawa
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada
tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian
utara muncul kerajaan Islam Pasai pada 1292.
Dua setengah abad kemudian bersama-sama
juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang
ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan
Indonesia oleh kekuatan politik seperti di
India atau Turki namun lebih melalui
penyebaran budaya. Budaya Islam pada
arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-
masjid, istana, dan bangunan makam.
Kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di
Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Fot 67. Bentuk Aliran Hindu dan Islam
Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut
meninggalkan kebesarannya dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad ke-14.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman
"beradab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam
melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya
menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad ke-16 Juga
dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-18. Fakta
sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-
ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui
sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru
yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).
Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan
memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru
yang lebih bersifat ideologis baru dengan teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada
pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk
arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam.
Walaupun kebanyakan menggunakan konsep dasar kubah pada mesjid. Menara Kudus, di Jawa
Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirib dengan candi dari abad ke-14 di
era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid
setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di
Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan lokal yang ada di Jawa, dan tempat lain di
Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini
empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

37
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

EVOLUSI ARSITEKTUR
(J.F. Hamah Sagrim)

Dalam analisis ini kami menggunakan metode evolusi sehingga dilakukan analisis dalam evolusi
arsitektur Tradisional ke Moderen. Evolusi arsitektur lahir dari sebuah kesadaran berwacana
sebagai bagian dari proses berarsitektur. Tujuan mengemukakan evolusi arsitektur ini untuk sebagai
suatu konsep dalam menganalisis, pengamati, peneliti, mencari, menemukan dan mendata,
perkembangan arsitektur. Selain itu, Evolusi arsitektur ini tidak lain merangkum tulisan-tulisan yang
mengetengahkan beragam isu arsitektur dari berbagai sudut pandang perkembangannya. Semuanya
bertujuan untuk memperkaya wacana dalam berarsitektur, baik terkait dengan mengalami arsitektur,
membuat arsitektur dan mempertanyakan arsitektur. Eksplorasi teori dan metoda desain menjadi inti
wacana dalam usulan analisis kami ini, yang mendukung praktek desain arsitektur berbasis riset dan
teori melalui eksplorasi tanpa batas untuk mengetahui perkembangan dari awal hingga bentuk yang
lain. Evolusi arsitektur berupaya menjembatani perkembangan dan perubahan arsitektur dengan
berlandaskan teori dan praktek dalam berarsitektur, serta mengungkap secara jelas proses perubahan
arsitektur dari batas antara arsitektur dan bukan arsitektur. Selamat berwacana!
A. Evolusi Arsitektur Jawa – dari vernakular ke Tradisional
Setiap lokasi di muka bumi pasti
memiliki spesifikasi tertentu, penyelesaian
masalah desain arsitektur juga spesifik untuk
setiap lokasi. Contoh di pulau madura adalah
salah satu penyelesaian masalah desain
arsitektur di daerah pesisir. Tentunya
penyelesaian ini akan berbeda jika terjadi di
daerah hutan datar, daerah pegunungan
kering, daerah pegunungan subur, daerah di
kaki gunung, daerah di lereng gunung, dan
sebagainya. Sketsa berikut memperlihatkan
evolusi serupa yang terjadi untuk arsitektur Gambar : 3. Evolusi Arsitektur Jawa.
Jawa. SumberPutu Mahendra. Dikomposisikan oleh
Tentunya evolusi arsitektur yang terjadi Peneliti 2010
di pulau Sumatra akan memiliki perbedaan.
Begitu pula dengan kota medan, wilayah minang, wilayah sunda, pulau Kalimantan, Sulawesi,
Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan lain-lain. Semuanya memiliki ciri tersendiri yang perlu digali
oleh putra-putra terbaik dari daerahnya. Arsitek-arsitek nusantara yang adiluhung membawa jiwa
leluhur kita.
Sudah barang tentu pada saat ini ilmu teknik bangunan dan arsitektur demikian majunya.
Berbagai filosofi, langgam, bahan, struktur dan konstruksi baru sudah demikian memusingkan arsitek

38
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

nusantara masa kini. Tatanan dan aturan tradisional dengan berbagai keunikan cara dan penamaan
elemen konstruksi merupakan tambahan permasalahan baru bagi arsitek masa kini yang ingin
bereksplorasi dengan ke-nusantara-an. Justru kerumitan inilah yang membuat arsitektur nusantara
semakin dijauhi karena memang sulit didekati.
Perlu formula baru yang dapat membuang segala kesulitan ilmu arsitektur “import” yang
memusingkan. Perlu pemahaman baru agar order nusantara tetap dapat diterapkan dengan lebih
sederhana dalam berarsitektur. Perlu semangat baru agar arsitektur nusantara dapat menjadi produk
“eksport” yang membanggakan. Akhirnya memang perlu niat bersih dari arsitek nusantara untuk
dapat bekerjasama dengan meminggirkan setiap keaslian.
1) Arsitektural dalam Perkembangan Evolusinya
Evolusi arsitektur adalah proses perubahan pada seluruh bentuk aliran arsitektur dari bentuk
semula menjadi bentuk yang baru, dan evolusi arsitektur mempelajari bagaimana evolusi ini
terjadi pada perkembangan arsitektur. Dalam setiap bentuk perkembangan arsitektur, mewarisi
aliran khas arsitektural yang dimiliki oleh suku bangsa tertentu melalui proses membangun dan
mendesain bentuk. Perubahan bentuk ini dapat kita katakana sebagai suatu proses mutasi atau
proses perpindahan bentuk arsitektural. Proses mutasi atau perpindahan bentuk arsitektural ini
dimaksud bahwa bentuk arsitektural itu tetap dipertahankan atau mengalami perubahan total.
Pada bentukkan ini, jika tidak dipertahankan maka akan muncul bentuk-bentuk aliran arsitektur
baru pada pengembangan suatu bentuk gaya arsitektural. Pada populasi suatu arsitektur
tradisional, beberapa nilai dan filosofis serta alirannya akan menjadi lebih dikenal secara umum,
bila tetap dipertahankan, akan tetapi yang lainnya akan hilang jika tidak dipertahankan. Unsur-
unsur arsitektur yang menjadi akibat daripada keberlangsungan perubahan bentuk arsitektur akan
lebih berkemungkinan berakumulasi pada bentuk suatu aliran arsitektural yang tidak fasih
dikembangkan (hilang). Proses ini disebut sebagai seleksi arsitektural, yang mana didorong oleh
bentuk dan keindahan “estetika”. Proses assimilasi bentuk arsitektural itu terjadi akibat keinginan
manusia yang bersemangat untuk memiliki suatu bentuk bangunan rumah yang berbeda, indah
dan estetis, mengikuti aliran bentuk lain yang baginya sesuai namun sebenarnya tidak bernilai
bagi budayanya. Keinginan semacam inilah akhirnya menghasilkan banyak jumlah populasi
bentukkan gaya arsitektur asing semakin berkembang di suatu kawasan tanpa memperdulikan
keterwarisan khasanah khas setempat. ini merupakan fakta tambahan mengenai perkembangan
arsitektur yang mendukung dasar-dasar ilmiah seleksi arsitektural itu. Gaya dorong seleksi
arsitetktur dapat terlihat dengan jelas pada populasi yang terisolasi, seperti Arsitektur Joglo di
Jogja dan Solo, Arsitektur Halit-Mblo Chalit di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, Arsitektur Honai
di Wamena Papua, Arsitektur Tongkonan, Arsitektur Meru, dan arsitektur nusantara lainnya di
Indonesia yang kini terdesak oleh proses ilmiah seleksi arsitektur. Selain itu, terjadinya proses
ilmiah seleksi arsitektural ini juga dipengaruhi oleh alam atau juga disebut sebagai seleksi alam.
Bentuk perkembangan arsitektur yang dibentuk oleh seleksi alam dapat dilihat pada skematika
perkembangan bentuk rumah mulai-mula. Para ahli antropologi bersepakat bahwa, perkembangan
hidup manusia mula-mula mempunyai tempat hunian pertama pada Bandar pohon, selanjutnya
menggunakan lubang batu atau Goa, kemudian mulai membentuk sebuah shelter, kemudian
membentuk suatu rumah tanpa dinding, dan kemudian melengkapinya dengan dinding,
selanjutnya hingga bentuk moderen. Moderen di sini tidak membicarakan bentuk lokalitas, akan
tetapi berkaitan dengan industrialisasi, yang mana memaksa manusia untuk berkecimpung dalam
39
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

paham materialistik. Kaitan materialistik dengan arsitektural ini adalah pengembangan dan
pembangunan arsitektural dari bentuk sederhana yang berubah menjadi bentuk moderen yang
dipengaruhi oleh material bangunan. Yaitu bentuk sederhana yang tadinya menggunakan bahan-
bahan sederhana yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar menjadi terputuskan dengan pola
pengembangan bangunan rumah dengan menggunakan bahan industrial, seperti senk, semen,
paku, dan yang lain sebagainya. Inilah yang kami sebut sebagai tahapan evolusi bahan arsitektur.
Untuk memperkuat ide tentang evolusi arsitektur, maka kita akan uraikan secara tahap demi
setahap perubahan arsitektural ditinjau dari evolusi bentuk bangunannya:
Gambar 4. Siklus Evolusi Hunian dan Evolusi Arsitektur. Sumber Analisis Peneliti-2011

ALAM SEBAGAI
SEBAB MANUSIA
MENCIPTAKAN
TEMPAT TINGGAL
(ARSITEKTUR) DAN
MANUSIA SEBAGAI
SEBAB TERJADINYA
EVOLUSI
ARSITEKTUR

Gambar. 5
Skematika pemikiran Evolusi Perubahan pada bangunan arsitektur

Manusia pasrah dan takluk Manusia mencipta. Manusia Manusia mulai berionvasi. Manusia
erhadap alam dan Alam mulai sadar dan menaklukkan mulai dewasa dalam berpikir.
menyediakan hunian bagi alam. Manusia mengenal bahan Manusia mulai mengembangkan
manusia. Bandar pohon dan goa bentuk arsitektur dari tradisional
bangunan dan menciptakan
sebagai hunian – Sumber Analisis menjadi moderen – Sumber Analisis
hunian. Sumber Analisis Peneliti Peneliti-2011
Peneliti- 2011 2011
40
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

a) Tahapan Awal – Manusia dan Alam


Secara rinci urutan pada gambar diatas menjelaskan
bahwa manusia pada mulanya bersifat pasrah dan tunduk kepada
alam. Lihat gambar ke satu, bentuknya hampa dan berwarna
hitam, artinya tahapan ini manusia belum mampu berpikir
tentang siapa dirinya (blind) buta. Tahapan ini dapat kita
simpulkan sebagai tahapan dimana akal dan logika manusia
belum berfungsi. Tahapan ini juga manusia belum mampu
mengelola alam disekitarnya sebagai sesuatu yang bermanfaat
baginya. Manusia memanfaatkan segala sesuatu yang disediakan Gambar. 6. Manusia dan
oleh alam. Pada tahapan ini, merupakan tahapan dimana alam – dikomposisikan
manusia hidupnya berpindah-pindah. Mereka akan beristirahat oleh peneliti, 2010
pada siang hari jikalau mereka merasa lelah, dan juga pada
malam hari mereka akan beristirahat, karena gelap. Inilah tahapan dimana perkembangan tanpa
akal dan logika, bahkan pe-rasa-an juga belum matang. Manusia yang hidup pada zaman ini,
selalu bepergian tanpa arah tetapi tujuan utamanya adalah berburu dan mencari perburuan.
Manusia pada zaman ini belum mengetahui apa itu dingin dan panas secara nalar, melainkan
mereka harus bersentuhan langsung dengan objek, karena akal dan logika mereka belum
berfungsi. Tahapan ini merupakan tahapan un-undagi, atau tahapan kehidupan manusia bukan
pencipta.
b) Tahapan Kedua Manusia Menaklukkan Alam
Tahapan kedua, merupakan tahapan dimana manusia mulai menyadari dirinya. Tahapan ini
merupakan tahapan dimana manusia mulai menaklukkan alam. Pada zaman ini, manusia mulai
menyadari betapa penting dirinya, sehingga ia harus meyelamatkan diri serta mengamankan
dirinya seperti binatan buas, matahari, hujan dan angin. Manusia mulai menciptakan sesuatu yang
bisa melindungi dirinya, yaitu shelter dan seterusnya hingga menjadi suatu bangunan rumah.
Selain rumah sebagai tempat tinggal, ia juga menciptakan alat-alat yang dipakai untuk pertahanan
hidup serta alat-alat berburu, seperti; kapak batu, pisau dan tombak. Pada tahapan ini, dapat kita
sebut sebagai tahapan dimana akal mulai berkembang tanpa logika. Manusia pada zaman ini
tergolong manusia undagi, atau manusia pencipta. Zaman ini merupakan zaman dimana manusia
mulai hidup menetap dengan mencari makanan dan menyimpan makanan (food and gatering).
Tahapan ini, merupakan tahapan dimana manusia mulai meramu dan memanfaatkan alam di
sekitarnya untuk kebutuhan sehari-hari. Zaman inilah zaman dimana arsitektur mulai dikenal.
Bahan-bahannya merupakan bahan alami, seperti ranting pohon, dedaunan, dan tali, yang mana
merupakan hasil kreasi daripada akal. Manusia berusaha melepaskan dirinya dari taklukkan alam,
yaitu dari pemikiran untuk menjadikan sesuatu yang tiada menjadi ada (ex nihilo) dan ini sangat
tradisional, atau sederhana. Dalam proses inilah kekentalan pola hidup manusia yang sebenarnya
terlihat. Warna hitam pada gambar kedua menggambarkan manusia mula-mula atau primitif,
sedangkan warna kuning dan bentuk simbol panah melengkung menggambarkan kesadaran
akalnya yang belum sempurna, artinya masih kaku atau pemikirannya masih membelok dan
belum terarah. Warna kuning dan simbol panah artinya manusia zaman itu sudah menyadari diri
dan mulai mencipta, namun pemikirannya belum terarah sebagaimana sibol pana yang membelok

41
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dan tidak terarah, atau dapat kita katakan bahwa pemikirannya belum matang karena ia hanya
menggunakan akal tanpa logika.
c) Tahapan Ketiga Manusia Mulai Berinovasi
Tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia sudah matang dalam pola pikirnya. Artinya,
pada tahapan ini manusia sudah menggunakan akal dan logika, sehingga ia mulai berinovasi.
Sebagaimana pada gambar ketiga, inovasi disimbolkan dengan warna. Berbagai warna disini
menggambarkan bahwa akal dan logika semakin berkembang dan memberikan ide tentang suatu
nuansa baru yang dapat diterima.
Tahapan inilah merupakan tahapan dimana kreasi manusia semakin pesat dan terjadilah
revolusi. Yang mana revolusi itu sendiri datang dari kreasi akal dan logika manusia. Tahapan ini
merupakan tahapan dimana mengakibatkan perubahan signifikan dan pengaruh yang mengglobal,
ketika terjadinya revolusi industri yang mengakibatkan perkembangan industri dan melahirkan
teknologi mutakhir sehingga mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan setiap suku bangsa di dunia
menjadi terubahkan.
Tahapan inovasi ini dapat kita sebutkan sebagai tahap pencerahan teknologi industrialisasi,
karena segala sesuatu yang tadinya diolah dan diramu dengan teknologi sederhana, kini
dikerjakan oleh industri dan teknologi. Disinilah terjadi evolusi bahan bangunan, yaitu dari bahan
bangunan arsitektural yang diramu melalui dedaunan, tali, dan ranting, kini tergantikan dengan
bahan industri seperti senk, paku dan semen, serta besi. Inilah proses evolusi perubahan bahan
bangunan. Dengan terjadinya evolusi bahan bangunan, maka dengan sendirinya mempengaruhi
bentukkan arsitektural dan menyurutkan nilai-nilai daripada arsitektural dan manusia itu sendiri.
Evolusi arsitektur juga terjadi karena alam, dan suatu bentuk arsitektur dipengaruhi oleh
alam karena bentuk arsitekturalnya terisolir atau tidak dikembangkan. Hal ini diakibatkan oleh
karena geografi maupun mekanisme lain yang mengakibatkan perubahan arsitektural itu.
Walaupun dalam waktu yang cukup lama, bentuk arsitektur yang terisolasi ini akan menjadi
aliran baru. Maksud daripada terisolir disini diakibatkan karena perpindahan penduduk suatu
etnis dengan budaya yang berbeda dan hidup dan berasimilasi dengan etnis yang lain dengan
budayanya yang lain, dank arena ia sendiri dan dipengaruhi oleh budaya luar itu, sehingga
pandangan dan wawasan kebudayaannya terisolir. Karena merasa bahwa ia berada pada geografis
dan budaya yang berbeda, sehingga ia harus mengembangkan bentukkan arsitektur yang bukan
khasnya. Proses semacam ini dapat kita pahami sebagai Arsitektural evolusioner.
2) Evolusi Arsitektur Melalui Seleksi Alam
Perkembangan mula-mula arsitektur dipengaruhi oleh alam. Pada mulanya, manusia mulai
dengan segera setelah sadar tentang dirinya dan menciptakan sebuah tempat untuk melindungi dirinya
karena dipengaruhi oleh alam. Hal ini dapat kita simpulkan bahwa, manusia zaman ini terinspirasi
oleh alam. Segala sesuatu yang dilakukannya sebagai suatu bentuk daripada seleksi alam. Dasar
pengamatan yang memperkuat seleksi alam ini adalah:
1. Manusia menggunakan Bandar pohon untuk berlindung dari hujan dan terik matahari.
Artinya matahari dan hujan sebagai sesuatu yang fenomenal sehingga menusia mulai
menggunakan akalnya untuk mengamankan diri.
2. Manusia menggunakan goa atau ceruk-ceruk batu sebagai tempat melindungi diri dari
matahari dan hujan serta angin. Matahari, hujan, dan angin sebgai fenomena alam.
42
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

3. Manusia mulai menciptakan shelter, atau rumah untuk melindungi diri dari matahari, hujan,
angin, dan menjadikannya sebagai tempat yang tetap. Persoalannya bila dianalisis secara
acak balik, Bandar pohon tidak memberikan kenyamanan yang baik, berikutnya goa boleh
dikatakan sebagai tempat yang aman untuk melindungi diri, namun goa juga difungsikan
oleh binatang untuk melindungi diri, karena manusia merasa terganggu akhirnya ia mulai
menciptakan rumah/shelter untuk melindungi dirinya. Menurut kami, pada zaman inilah
akal manusia itu mulai bertumbuh. Mungkin karena setiap kali terbentur oleh ketidak
bersahabatnya alam, maka akal mulai bertumbuh. Sebagaimana dalam ilmu falac megatakan
bahwa semakin kita berada pada konidisi kritis, akal dan logika kita akan bekerja untuk
memberikan solusi yang baik untuk keselamatan kita.
3. Evolusi Arsitektur Melalui Seleksi Moderen
Kita akan bersepakat Bahwa tiap-tiap aliran arsitektur dibentuk oleh pemikiran manusia dan
nenek moyang yang suku bangsa yang tidak sama, Gagasan evolusi arsitektur melalui seleksi
moderen ini disusun melalui pengamatan-pengamatan berikut:
• Jika seluruh bentuk khas aliran arsitektur tradisional berhasil dikembangkan, maka aliran
arsitektur tersebut akan meningkat secara tidak terkendali.
 Aliran arsitektur tersebut akan tetap dari tahun ke tahun.
 Sumber daya manusia dan kemampuan mengembangkannya terbatas.
 Tiada dua gaya arsitektural suatu aliran yang persis mirip satu sama lainnya (proses
penggabungan dua bentuk aliran arsitektural).
 Banyak variasi bentuk nuansa arsitektural dalam suatu bangunan yang diciptakan dan
diwariskan kepada keturunan selanjutnya sebagai konsep moderen.
 Terjadinya pergeseran bentuk arsitektur akibat inovasi dan kreasi yang dipengaruhi oleh
teknologi seperti iklan TV, Koran, Majalah, dll.
Kita akan simpulkan bahwa, oleh karena aliran arsitektur tertentu mampu dipertahankan dan
dikembangkan, sehingga akan bertambah dan semakin bertambah lebih banyak daripada yang tidak
dikembangkan. Ini merupakan suatu faktor utama yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk
dan kematian suatu bentuk. Sebenarnya sangat jelas terlihat bahwa terdapat persaingan untuk suatu
bentuk arsitektur sebagai khasanah budaya yang ingin bertahan hidup, walaupun hanya beberapa
bentuk aliran arsitektur tradisional di belahan dunia yang dapat bertahan hidup pada tiap generasi.
Keeksistensian dan Keberlangsungan hidup suatu budaya (arsitektur) tidaklah didasarkan pada
kebetulan belaka. Namun, keberlangsungan hidup bergantung pada sifat-sifat tiap individu manusia
sebagai pemiliknya, dan sifat-sifat ini dapat membantu ataupun menghalangi keberlangsungan hidup
dan perkembangan arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional yang beradaptasi dengan baik
memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk tetap eksist dan bisa dikembangkan menjadi lebih
banyak. Namun dikhawatirkan bahwa kemampuan beradaptasi yang tidak setara dari suatu budaya
dapat menyebabkan perubahan perlahan dalam suatu bentuk unsur budaya (arsitektur). Sifat-sifat
yang membantu suatu unsur budaya terutama unsur arsitektur bertahan hidup dan berkembang akan
berakumulasi dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya. Sebaliknya, sifat-sifat yang
menghalangi keberlangsungan hidup suatu unsur budaya arsitektur dan berkembang, akan
menghilang.

43
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pengamatan terhadap variasi pada arsitektur dan kebudayaan merupakan dasar-dasar teori seleksi
moderen. Kita akan mencatat bahwa bentuk-bentuk arsitektur tradisional di seluruh dunia ini
mempunyai variasi bentuk, baik strukturnya yang menarik, hingga pada filosofisnya. Akan tetapi akan
terjadi suatu penyeleksian melalui teknologi, yang mana secara tidak sadar bahwa manusia
berhadapan dengan suatu ide dan otak yang ditawarkan melalui teknologi berupa media elektronik
dan media cetak, yang mana mempu merasuk dan mensubtitusikan pemikiran khasnya yang berkaitan
dengan nuansa kebudayaannya, sehingga tergantikan oleh sesuatu yang kelihatannya baru namun
tidak bermakna apa-apa pada dirinya.
Kita akan melihat bahwa evolusi arsitektur bergantung sepenuhnya oleh manusia. Artinya,
arsitektur tradisional itu menjadi berkembang, atau tidak bergantung pada manusianya. Arsitektur
merupakan salah satu unsure kebudayaan, yang merangkunl symbol-simbol kebudayaan seperti seni,
religi, filosofis, dll. Kita akan melihat bahwa, perjalanan social budaya suatu suku bangsa itu seperti
sebuah pohon, yang mana manusia sebagai akarnya, dan semua unsure kebudayaan yang terjadi itu
seperti batang pohon dan ranting-rantin ini menggambarkan suatu keutuhan bersama. sedangkan
ujung cabang pohon mewakili kehidupan modern yang berevolusi dari tradisional itu sendiri. Dengan
demikian, maka kita dapat bersepakat bahwa semua unsur kebudayaan pada suatu wilayah kehidupan
tertentu adalah suatu sistem yang utuh dan membentuk serta memberikan nilai tersendiri bagi manusia
yang ada dan ini berarti bahwa semua unsur kebudayaan haruslah berasal dari suatu kehidupan yang
mengalami beberapa bentuk proses atau sebut saja proses "evolusi dengan modifikasi".
1) Sintesis Evolusi Arsitektur Moderen
Sintesis evolusi arsitektur moderen merupakan gabungan dari beberapa aliran arsitektur yang
berkutat pada pemahaman arsitektural evolusioner. Dalam perkembangan moderen ini, terdapat
usaha untuk menggabungkan aliran arsitektural, misalnya seperti arsitektur asia eropa, arsitektur
fengshui dan colonial dll. menjadi satu kesatuan model aliran arsitektur moderen. Penerapan
prinsip-prinsip estetika dan filosofis serta aliran arsitektur dari suatu unsur tertentu dengan unsur
arsitektur yang lain ke dalam bentuk arsitektur yang baru ini, akan mengubah pemahaman dan
nilai. Hal ini dipahami sebagai suatu proses-proses evolusi pada arsitektur. Jika hal ini dapat
dilakukan, maka Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bentuk-bentuk arsitektur sebagai
sekelompok aliran yang saling kawing ataupun yang berpotensi dapat dikawingkan atau dapat
dimodifikasi, yang secara reproduktif terisolasi dari bentukkan lainnya. Sintesis evolusi
arsitektur modern menekankan pentingnya bentuk arsitektur tradisional sebagai satuan
evolusioner, peran pusat seleksi adalah manusia sebagai sang orator dalam mekanisme proses
paling penting dalam evolusi ini. Kita akan bersepakat bahwa, perubahan dan kematian suatu
aliran arsitektur yang dianggap sebagai identitas bangsa yang besar merupakan akumulasi
perubahan kecil dalam periode waktu yang panjang.
2) Koevolusi Arsitektur
Koevolusi arsitektur adalah proses dari dua atau lebih bentuk aliran arsitektur yang
mempengaruhi proses evolusi arsitektur yang satu sama lainnya. Menurut hipotesis kami, bahwa
Semua bentuk arsitektur dipengaruhi oleh manusia disekitarnya, sebagai pelaku budaya, yang
mana terdapat bukti-bukti bahwa, unsur-unsur atau wujud arsitektur yang ditentukan oleh budaya
pada tiap aliran arsitektur secara langsung disebabkan oleh interaksi langsung antara individu
tertentu yang berbudaya lain dengan dua atau lebih individu dengan budaya yang berbeda.

44
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Contoh kasus koevolusi arsitektur yang terdokumentasikan dengan baik adalah hubungan
antara Peneybaran Hindu-Buddha, Islam, dan penjajahan kolonial di Indonesia terutama di
Yogyakarta. Dimana para penjajah memanfaatkan kekuatannya untuk memperoleh tanah
sehingga mampu mendirikan bangunan seperti candi, Masjid dan arsitektur colonial. Keberadaan
bentukkan arsitektural Hidnu-Buddha, Islam dan colonial ini memberikan suatu nuansa asing
pada tatanan budaya Kejawaan. Akhirnya individual Jawa, kini berada pada dualism nuansa
arsitektural. Artinya disisi awal, mereka berada pada nuansa monolit Kejawen, dengan nuansa
arsitektural Joglo yang kelihatannya sederhana, hormat, dan sangat ramah ini menjadi seperti
telah mendapat penantang baru, yaitu arsitektural Hindu-Buddha dengan gaya Piramid, colonial
dengan gaya monumental serta dilengkapi dengan estetika dan lengkungan bentuk, Islam dengan
Bentuk Kubah. Akibatnya, masyarakat Jawa mulai berasimilasi dan mulai berkeinginan yang
tidak sejalan dengan nuansa kejawaannya, kini terjadi dualime pikiran dalam mendirikan rumah.
Malahan saat sekarang ini mereka lebih bersemangat mendirikan rumah dengan gaya-gaya asing.
Koevolusi arsitektur seperti ini tidak menandakan bahwa Penguasa Jawa, Hindu-Buddha,
Islam dan Kolonial memilih untuk berperilaku secara altruistik, melainkan perilaku ini
disebabkan oleh perubahan budaya yang kecil pada kebudayaan jawa, Hindu-Buddha, Islam dan
Kolonial yang menguntungkan satu sama lainnya. Keuntungan yang didapati ini memberikan
kesempatan yang lebih besar agar peninggalan budaya ini diwariskan kepada generasi
selanjutnya. Seiring dengan berjalannya waktu, mutasi arsitektural di Jawa yang berkelanjutan,
mulai menciptakan hubungan seperti yang kita saksikan sekarang pada peninggalan budaya asing.
3) Seleksi Arsitektur Secara Buatan
Seleksi arsitektur secara buatan adalah koomodifikasi terkontrol yang diterapkan pada suatu
bentuk aliran arsitektur. Manusia sebagai arsiteknya dan menentukan aliran arsitektur mana
ataupun simbol filosofis mana yang akan diadopsi sebagai unsur dalam kreasi bentuk arsitektur
buatannya, sehingga manusia atau sang arsitek mampu menentukan makna pada bangunan
tersebut yang telah diramu menjadi bentuk yang estetis untuk diturunkan kepada generasi
selanjutnya. Proses seleksi arsitektur secara buatan ini memiliki pengaruh yang besar terhadap
evolusi arsitektur secara global. Contohnya, para arsitek moderen telah berhasil mempersatukan
unsur arsitektur yang berbeda menjadi suatu nuansa aliran arsitektur baru yang terkontrol.
Kita dapat menemukan bentuk-bentuk arsitektural semacam ini pada daerah-daerah jajahan,
dan juga kebanyakan kaum arsitektur moderen mulai melakukan koomodifikasi arsitektur untuk
mencari suatu bentuk yang baru. Walaupun pada suatu bangunan yang kita temukan ternyata
merupakan suatu bentuk aliran arsitektur yang digabungkan dari unsur arsitektur asia dan eropa,
akan tetapi keduanya merupakan akibat evolusi arsitektur secara buatan dari beberapa unsur dan
filosofis yang di modifikasikan oleh manusia.
4) Arsitektur Alopatrik
Arsitektur alopatrik terjadi karena adanya penghalang materi seperti kekuasaan, Materi
{uang, tanah, alam dan sebagainya}. Penghalang ini memisahkan sebuah konsep dari konsep
aslinya yang berarti memotong aliran-aliran arsitektur dari suatu unsur budaya. Setelah terisolasi,
akhirnya penguasa, atau orang yang berkuasa, mempunyai uang dan tanah akan membentuk
suatu nuansa arsitektur baru, termasuk sebagai penjajah budaya yang mampu memberikan suatu
nuansa yang membedakannya dari aliran arsitektur setempat. Contoh arsitektur kolonial, di
45
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Yogyakarta, berdiri megah dan monumental karena didukung oleh materi, uang, bahkan di zaman
itu, merupakan zaman kekuasaan kolonial Hindia Belanda sebagai penjajah di Indonesia. Contoh
lain secara lokal bahwa, di pulau Jawa kebanyakan dibatasi sesuai strata, bahwa yang dapat
dengan mampu mendirikan bentuk arsitektur nDalem adalah kasta menengah dll. Karena
memiliki materi yang cukup dan kekuasaan. Dengan terjadinya hambatan semacam ini, maka
terjadilah berbagaimacam bentuk aliran arsitektur yang berada di Pulau Jawa, bersama-sama
dengan arsitektur tradisional jawa sebagaimana yang kita jumpai. Adanya keaneka ragaman
arsitektur ini dipengaruhi oleh berbagai macam hal, misalnya seperti; Kasta/kedudukan,
Geografi/alam, materi dan kepemilikan tanah.
5) Arsitektur Simpatrik
Arsitektur simpatrik adalah terbentuknya gaya arsitektur baru dalam suatu wilayah tanpa
adanya penghalang (barrier). Perkembangan arsitektur ini dapat terjadi karena adanya isolasi
pengembangan arsitektur moderen yang mencegah perkembangan aliran arsitektur tradisional
(arsitektur Jawa) di wilayah kebudayaan Jawa, arsitektur Halit, di wilayah Maybrat, Imian,
Sawiat, Papua, arsitektur Honai di Wamena Papua, arsitektur tongkonan, arsitektur meru dll.
Arsitektur alopatrik adalah terbentuknya bentuk gaya arsitektur baru dalam satu wilayah karena
adanya penghalang sehingga mencegah aliran khas arsitektural didalam wilayah sendiri.
Arsitektur Parapatrik adalah terbentuknya gaya arsitektur baru dalam suatu wilayah karena
adanya perkawinan antar dua budaya yang berdekatan.
4. Fenomena Arsitektur Indonesia di Era Globalisasi – kritik dan saran
Ketika negara-negara menjadi satu dalam kesatuan yang kokoh, maka pada saat ini akan terjadi
pertukaran kebudayaan yang sangat cepat dan luar biasa pengaruhnya kepada perkembangan
Arsitektur. Misalnya pada saat pertama era globalisasi maka akan terjadi suatu fenomena yang tidak
kita duga sebelumnya, dimana segala hal yang menyangkut kehidupan manusia akan begitu dominan
didalam pemecahan bentuk dari suatu bentuk dan ruangan.
Pada saat orang sudah mulai kehilangan identitas diri dalam berkarya, maka yang akan terjadi
ialah semua orang akan mempunyai suatu selera yang hampir sama yaitu suatu bentuk yang
sederhana, tetapi mampu memenuhi segala kebutuhan hidup mereka dari mulai tidur, bekerja,
bersantai bahkan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Ketika suatu negara merasa bahwa ciri kenegaraannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, maka
yang akan terjadi adalah suatu bentuk arsitektur yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan utama
dalam kehidupannya, dan yang pertama akan terlihat adalah bagaimana mereka mulai mengolah
pemikiran yang sifatnya tidak individualis lagi tetapi lebih mengarah pada kebersamaan dengan
lingkungannya karena disanalah mereka akan merasa bahwa ternyata di dunia ini tidak hanya ada satu
bentuk arsitektur yang selama ini dia yakini, tetapi begitu banyak ragam arsitektur yang pada akhirnya
akan menjadi suatu bentuk yaitu bentuk globalisasi “Globalized style”.
Melihat fenomena diatas, lalu apa yang akan terjadi di Indonesia dimana kita harus mempunyai
kebanggan pada bentuk arsitektur tradisional kita dan harus berusaha menjadikannya menjadi
arsitektur dunia, karena kalau tidak, bagaimana cara kita memasuki globalisasi. Untuk mengetahui apa
dan bagaimana arsitektur kita nanti, sebaiknya kita menelusuri dulu Arsitektur tradisional kita.
Pertama, bahwa didalam kehidupan masyarakta Indonesi,a sudah terjadi beberapa perbedaan yang
mencirikan bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali beragam suku bangsa, dimana mereka
46
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

mempunyai adatistiadat dan kebiasaan yang hampir sama tetapi berbeda dalam pengungkapannya dan
selalu menyatu didalam kebhinekaan itu. Kedua, apabila sebuah budaya lahir, itu berarti bangsa
tersebut adalah suatu bangsa yang memiliki kebudayaan yang mencerminkan pola pikir ataupun
kebiasaan hidup masyarakatnya. Ketiga, didalam perjalanan hidup, banyak bangsa Indonesia
mengalami degradasi kebudayaan, karena begitu kuatnya pengaruh kehidupan barat, sehingga banyak
sekali penduduk Indonesia yang merasa bahwa kehidupan jaman dulu atau yang kita sebut tradisional
sudah banyak yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan jaman (kuno), sehingga mereka lebih menyukai
segala sesuatu yang berbau luar negeri. Keempat, didalam perenungan, seorang empu gandring
Indonesia akan menjadi suatu negara yang sangat kuat dan hebat karena pada saat itu kerajaan
Majapahit begitu kuat sehingga didalam perenungannya, negara itu akan menjadi negara besar
sehingga banyak hal yang harus dipertahankan demi menjaga keutuhan kehidupan tradisional kita,
dan hal ini membuat perkembangan arsitektur kita menjadi sangat terhambat bahkan cenderung
berhenti tidak dapat berkembang lagi. Kelima, apabila kita menelusuri arah kemana kita akan pergi
nanti, maka kita akan melihat suatu arah yang tidak pasti dan tidak jelas, karena kita dihadapkan pada
berbagai macam pilihan perjalanan yang membuat kita tidak dapat memutuskan arah yang sesuai
dengan keinginan kita sebagai orang Indoneisa, dan ketika suatu perubahan yang sangat drastis terjadi
maka kita semua akan merasa kaget dan sedih, karena ternyata kita melangkah kearah masa depan
yang tidak mencerminkan tradisi kita lagi.akibatnya kehilangan identitas budaya termasuk didalamnya
Arsitektur tradisional ikut hilang.
Inilah fenomena yang akan kita hadapi nanti, lalu apa yang harus kita lakukan, apakah mulai
sekarang kita menghapus saja ciri kearsitekturan kita, atau kita membiarkan sesuatu terjadi secara
alami tanpa harus ada yang diperjuangkan ataupun dipertahankan? Memang bagaikan, buah
simalakama yang harus kita telan begitu saja, namun apa yang terjadi nanti karena kita tidak
mempunyai kekuatan untuk dapat mempertahankan tradisi kita pada era globalisasi nanti. Lalu
bagaimana nasib kita sebagai bangsa Indonesia ini? Apakah akan menyerah pada keadaan atau
berjuang mempertahankan sesuatu yang sudah mendekati dan pasti akan hilang.
Disinilah letaknya renungan kita sekarang. Bagaimana kita harus bersikap dan bagaimana kita
harus berbuat, karena hati nurani kita tidak dapat dibohongi bahwa kita harus tetap mempertahankan
ciri budaya kita dalam dunia arsitektur. Kita tidak ingin penjajahan bentuk baru menjajah kita lagi .
Kita tidak ingin arsitektur kita dijajah oleh arsitektur bangsa lain. Kita tidak ingin negara kita menjadi
negara gado-gado karena tidak lagi terlihat budaya asli kita mendominasi kehidupan bangsa
Indonesia. Jadi apa yang harus kita perbuat, karena sepertinya tidak ada pilihan yang dapat kita
jadikan patokan kita melangkah? Analisanya begini, Apabila kita membuat suatu keputusan bulat
untuk tetap mempertahankan Ciri arsitektur budaya kita, maka kita akan dihadapkan pada beberapa
kendala besar yaitu :
a. Arsitektur tradisional. Kita tidak dapat mengadopsi dengan baik segala hal yang berbau
teknologi modern, karena arsitektur tradisional kita berangkat dari suatu pandangan
kehidupan religius yang sama sekali tidak memperhatikan adanya teknologi moderen.
Apabila kita memaksakan kehendak terhadap bentuk arsitektur tradisional dengan
memaksakan segala unsur yang berbau moderen kedalamnya, maka yang akan terlihat adalah
bentuk yang sangat memprihatinkan karena sudah tidak jelas lagi dominasi budayanya.

47
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

b. Dalam pembentukan pola hidup. Bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemikiran kuno,
yaitu bahwa kehidupan kita sudah ada yang mengatur dan kita tidak usah terlalu meyakini
bahwa kita sendiri dapat mengatur kehidupan kita, jadi janganlah membuat suatu hal yang
akan merusak citra kehidupan tadi dan jangan pula mencoba merubah sesuatu yang sudah
diciptakan menjadi kehidupan kita, karena hal itu akan membuat kita tidak bahagia dan hal
ini juga merupakan suatu penolakan pada takdir kehidupan kita. Pola ini sangat tradisional
dan Merupakan sesuatu yang tidak pernah sejalan dan akur dengan sosial budaya moderen.
c. Jika didalam pemikiran bangsa Indonesia sekarang tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang
berbau kepasrahan kepada yang mengatur “yang Diatas”, maka kita akan dihadapkan pada
hal-hal yang sifatnya lebih kepada sesuatu yang tidak jelas acuannya, karena begitu
banyaknya hal yang tidak dapat kita cerna begitu saja, seperti halnya perkembangan
teknologi yang kadang-kadang tidak dapat kita pakai apabila kita benturkan pada masalah
pola hidup kita, dan hal ini akan membuat pola pikir kita menjadi tidak begitu terarah dengan
jelas lagi. Kemana kita akan mengarah dan kemana kita akan pergi dan kemana kita akan
menetapkan diri.
Begitu banyak hal-hal diluar jangkauan pikiran kita yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi
dan juga begitu banyak masalah yang muncul pada beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan arsitektur Indonesia.
Seperti kata pepatah kuno yang mengatakan bahwa hidup tidak akan pernah berhenti apabila kita
sendiri tidak menghentikannya atau memang kita sudah saatnya berhenti karena sudah takdir. Apakah
pepatah ini akan kita kaitkan dengan kehidupan Arsitektur Tradsional kita ataukah kita akan terus
berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan keberadaannya? Tentu saja
jawabannya tidak mudah, dan memang tidak akan pernah mudah, karena keputusan apapun yang
diambil kita harus melihat berbagai kasus dan problem yang muncul yang berpengaruh didalam
kehidupan bangsa Indonesia ini dan yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi pengaruh
yang datang yang diakibatkan oleh perkembangan bilateral dan perkembangan politik yang sangat
berpengaruh pada pola kehidupan dan pola pikir masyarakat Indonesia, dan ini sangat berakibat pada
perkembangan arsitekturnya.
Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya dan kira-kira kemana akan kita arahkan arsitektur
Tradisional Nusantara dimasa depan nanti. Yang bisa kita lakukan mungkin Pertama, kita harus
melakukan suatu penelitian yang mencangkup gambaran awal terjadinya arsitektur tradisional di
masing-masing daerah Nusantara yang tentu saja sangat penting sebagai acuan awal darimana kita
akan mulai berpijak Kedua, kajian berikut adalah bagaimana arsitektur pada jaman itu dijadikan
sebagai arsitektur tradisional kenapa bukan arsitektur Indonesia saja atau arsitektur jaman Belanda
atau jaman Majapahit. Ketiga, apabila kita telah mendapatkan bagaimana kita memulai dan
bagaimana kita mengetahui arsitektur kita pada jaman dulu maka kita dapat melihat bagaimana hal itu
bisa menjadi suatu patokan untuk kita, apakah benar bahwa arsitektur yang kita kenal sebagai
arsitektur tradisional itu adalah benar sesuai dengan tuntutan jaman waktu itu, atau apakah arsitektur
tradisional hanya menggambarkan suatu pola kehidupan masyarakat pada jamannya. Keempat, kalau
melihat lebih jauh kebelakang lagi, maka kita akan melihat suatu fenomena yang agak menyimpang
dari apa yang kita lihat sekarang, dimana sekarang ini arsitektur tradisional se-olah-olah merupakan
barang mati yang tidak bisa kita tawar lagi dan tidak bisa kita kembangkan lagi. Fenomena tersebut

48
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

barangkali sebagai sesuatu yang membuat kita dapat melihat dari suatu perubahan yang sangat
drastis, dari pola kerajaan yang serba gemerlap dan serba menjadi suatu pola kehidupan rakyat yang
serba sederhana, dan sepertinya dikuasai oleh suatu peradaban yang sangat bertumpu pada kehidupan
keagamaan. Kelima, jika kita mencoba menelusuri lebih jauh maka kita akan menemukan bahwa
peradaban bangsa Indonesia sudah sangat maju pada zaman kerajaan Majapahit dulu, dan dilanjutkan
dengan zaman kerajaan Sriwijaya sehingga kalau kita sekarang ini begitu terpukau oleh datangnya
arsitektur luar yang kelihatannya sangat modern atau sangat teknologis, maka hal ini sebenarnya akan
membuat hati kita teriris pilu karena jaman dulu kita begitu hebat keluar, namun sekarang kita begitu
terjepit oleh pengaruh luar. Keenam, jika dalam pandangan sempit kita seolah-olah tidak berdaya
menghadapi pengaruh kemajuan jaman yang dicirikan oleh kemajuan teknologi, maka dalam
pandangan yang lebih luas kita seharusnya bangga dengan pengaruh kita terhadap perkembangan
peradaban pada jaman dulu.
Dari keenam faktor diatas, yang masih selalu menjadi perhatian adalah bahwa kita harus tetap
mempertahankan arsitektur tradisional kita walaupun sebenarnya sudah sangat tidak mungkin lagi
untuk bisa bertahan dalam era globalisasi nanti. Pertanyaannya adalah; kita akan apakan arsitektur
tradisional kita ini, akan kita ganti dengan sesuatu yang baru atau akan kita bina dan kembangkan
sehingga mampu bersaing dengan arsitektur luar dan mampu kita jual keluar Indonesia sehingga
arsitektur Indonesia mempunyai nama dan pengaruh didalam perkembangan arsitektur dunia.
Arsitektur Indonesia, apakah ada di Negara kita ini? Kalau ada bagaimana bentuk dan
filosofinya dan kalau tidak ada kenapa sampai tidak ada padahal kita sangat bangga dengan berbagai
macam bentuk bangunan yang menggambarkan ciri dari tiap daerah yang katanya sangat dikagumi
oleh turis mancanegara. Dilihat dari letak dan posisi negara Indonesia, maka kita sangat strategis bagi
aliran sirkulasi perdagangan maupun dari segi keamanan dunia karena negara kita terletak pada
bagian yang mempunyai akses paling mudah untuk belahan dunia utara dan selatan yang artinya bagi
perkembangan budaya Indonesia sangat rawan terhadap pengaruh yang dibawa oleh mereka yang
akan memakai jalur ini yaitu bangsa-bangsa yang akan membina suatu hubungan bilateral dengan
negara dibelahan bumi yang lain.
Mereka yang akan melalui jalur ini tanpa disengaja maupun disengaja akan membawa dampak
yang cukup kuat terhadap budaya Indonesia yang memang sudah rawan terhadap budaya luar. Tetapi
kalau kita simak lebih jauh, ternyata apa yang kita khawatirkan bahwa akan terjadi pengaruh yang
akan berakibat merosotnya nila budaya kita, tidak pernah akan terjadi karena begitu kuatnya adat
setempat sehingga budaya luar agak sulit berkembang dan hal ini adalah merupakan suatu potensi
yang luar biasa bagi ketahanan negara kita terhadap pengaruh budaya asing.
Masuknya budaya asing yang ternyata sulit dibendung, justru karena akibat perkembangan
teknologi yang sangat cepat sehingga informasi ataupun gambaran pola kehidupan yang sepertinya
sangat menyenangkan tertangkap oleh masyarakat luas dari mulai kota besar sampai ke pedesaan
terpencil dan ini tidak bisa dicegah lagi karena kita tidak bisa menghindar dari perkmbangan ini.
Akibatnya kita sudah bisa terka bahwa sebagian masyarakat kita tidak bisa lagi bertahan dengan
budaya nenek moyangnya yang dinilai sudah ketinggalan jaman atau sudah kuno, dan inilah cikal
bakal dari lunturnya budaya bangasa kita.
Arsitektur adalah bagian dari ekspresi budaya masyarakat karena sangat berkaitan dengan pola
pikir dan pola hidup penggunanya sehingga didalam perkembangannya sangat terlihat perubahan

49
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dalam bentuk, tata letak ruang dan perabotan serta peralatan lain yang dibutuhkan. Jadi, apabila kita
akan mempertahankan arsitektur tradisional kita yang diharapkan menjadi ciri khas budaya kita,
budaya yang akan kita pertahankan, karena sangat jelas terlihat akibat dari perkembangan teknologi
yang merambah begitu cepat pada setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana kita
dapat mempertahankan Arsitektur Indonesia, kalau kenyataanya Arsitektur Indonesia itu tidak ada
karena yang sekarang selalu didengungkan adalah arsitektur tropis dan kalau bicara arsitektur tropis
ternyata bukan kita saja yang memakai thema seperti itu, karena selain negara Indonesia masih
banyak negara yang terletak didaerah tropis. Apakah Arsitektur Indonesia itu identik dengan
Arsitektur Tradisional Papua, Maybrat, Imian, Sawiat, Sunda, Jawa, Bali, Sumba dan daerah-daerah
lain, atau memang arsitektur Indonesia ini terdiri dari arsitektur arsitektur yang mempunyai ciri
kedaerahan. Selama ini Arsitektur Indonesia hanya dikaji dan ditulis dengan bahsa ilmiah yang
kedengarannya sangat filosofis dan sangat tidak dimengerti oleh orang awam karena belum pernah
ada yang mencoba membuat bentuk yang jelas mengenai arsitektur Indonesia. Seorang arsitek luar
pernah mencoba membuat disain banguna perkantoran yang katanya merupakan jelmaan dari filosofi
arsitektur Indonesia dan yang terlihat adalah permainan bentuk atap tropis yang dipasang disetiap
lantai, dan setelah kita lihat-lihat akihirnya kita bertanya apakah benar ini arsitektur Indonesia.
Dengan melalu keputusan para pejabat setempat, tiap daerah yang merasa mempunyai arsitektur
trsadisional berusaha untuk mempertahankan bentuk arsitekur tradisional dengan membuat bentuk
atap yang katanya itu merupakan ciri budaya setempat. Alhasul terlihatlah arsitektur daerah dengan
bentuk atap yang aneka macam sesuai dengan permintaan para pejabat yang sepertinya tidak mengerti
apa arti dari arsitektur itu sendiri. Ketidak mengertian ini sangat membingungkan para pembuat
disain, karena dengan posisi jabatannya membuat para perencana harus mengikuti apa yang
diinginkan mereka, karena tidak ingin dianggap tidak berbudaya kedaerahan. Jadilah arsitektur
tradisional adalah arsitektur atap, yang penting atapnya menggambarkan ciri kedaerahan yang kuat
tidak peduli apapun fungsi yang dinaunginya.
Tahun 2003 adalah langkah awal pada era globalisasi dimana kita sudah tidak mungkin lagi
menghindar masuknya para ekspert asing ke Indonesia termasuk para arsiteknya, dan sudah bisa
dipastikan arsitek kita harus bersaing keras dengan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan
tendensi orang yang beruang memkai tenaga mereka sangat kuat karen Amereka masih sangat
dipengaruhi oleh image bahwa segala sesuatu yang berbau asing pasti akan lebih baik. Selain hal itu,
berbagai proyek besar yang melibatkan investor asing pun akan bermunculan, dimana mereka sudah
barang tentu akan membawa tenaga expert mereka karena selain pesan dari negaranya sendiri juga
masalah kepercayaan akan keahliannya. Maka sudah dapat kita bayangkan bahwa Indonesia akan
kedatangan para arsitek yang mungkin keahlian dan kemampuannya masih jauh dibawah para arsitek
dalam negeri. Tetapi mengapa merak begitu menakutkan dan mengancam kehidupan para arsitek
dalam negeri? Pertama, andaikata masalahnya hanya karena investor asing yang membawa seluruh
krunya dari negaranya, kita tidak bisa apa-apa kecuali pasrahn saja hanya mungkin ada sedikit
pengharapan kepada petinggi negara yang akan membuat peraturan mengenai ketenaga kerjaan
sehingga setiap proyek dengan investasi asing harus menyertakan tenaga ahli dari dalam negeri.
Kedua apabila masalahnya terletak pada kwalitas arsitek luar, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk
inovasi tenaga arsitektur.

50
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

5. Membangun Ketahanan Budaya Lokal Melalui Arsitektur Tradisional – Local Wisdom


Campaign
Maju mundur atau pasang surut kebudayaan (culture) sepanjang sejarah kemanusiaan, secara
mendasar ditentukan oleh bagaimana kebudayaan itu dijadikan sebagai kerangka acuan yang
dijabarkan melalui suatu tatanan normatif. Sejarah membuktikan bagaimana Kebudayaan Mesir Kuno
(Fharounic), Kebudayaan Lembah Sungai Kuning di Cina, Kebudayaan Indian Amerika (Astec dan
Maya) runtuh karena kebudayaan itu ditinggalkan oleh manusia pendukung peradabannya. Kemudian
kebudayaan akan kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan pola tindak dan pola laku bila
didesak oleh adanya suatu sistem nilai baru, misalnya Revolusi kebudayaan di China, Modernisasi di
Turki, Islamisasi di Arab dan Revolusi Bolsjewik di Rusia. Jadi dalam sejarah kemanusiaan banyak
contoh menunjukkan bahwa pasang surut dan timbul tenggelamnya kebudayaan ditentukan oleh
perubahan zaman dan kebudayaan lama didesak oleh suatu sistem nilai baru. Kebudayaan akan
mengalami masa tumbuh dan berkembang, masa kejayaan atau masa keemasan dan masa kemunduran
atau keruntuhannya bergantung sejauhmana pemilik mampu mempertahankannya sepanjang
perubahan zaman.
Di dalam Kebudayaan, sebenarnya terkandung dua daya atau potensi yang menyebabkan
kebudayaan itu tetap eksis dalam kehidupan, pertama yaitu daya untuk melestarikan kebudayaan
(preservatif) dan kedua yaitu daya menarik kebudayaan itu untuk maju (progresif). Di dalam dua daya
inilah masyarakat pendukung kebudayaan berada dan menentukan kearah mana kebudayaannya.
Untuk dapat menentukan ke arah mana kebudayaannya, maka masyarakat pendukung kebudayaan
harus memiliki Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya (Cultural Resilience). Kesadaran Budaya
adalah suatu bentuk perasaan yang tinggi soal rasa hati (gemoed), soal daya cipta dan tanggapan
(verbeeldingskracht) dari budi dan daya (budhayah). Sedangkan ketahanan budaya adalah kondisi
dinamis suatu bangsa untuk menghadapi segala macam bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan
gangguan yang ditujukan terhadap kebudayaannya.
Permasalahan yang dihadapi masyarakat sekarang adalah karena rapuhnya kesadaran budaya dan
ketahanan budaya yang dimiliki, dan ini disebabkan oleh pertama adanya anggapan bahwa
kebudayaan luar terutama kebudayaan barat (west) adalah superior dan kebudayaan sendiri terutama
kebudayaan timur (east) adalan inferior, padahal sesungguhnya barat adalah barat dan timur adalah
timur dan keduanya tidak bisa bersatu, malah Profesor Jan Romein dalam bukunya Aera Eropa
mengatakan bahwa kebudayaan timur adalah kebudayaan yang menyimpang dari pola umum yang
artinya apa yang di timur dipositifkan justru di barat dinegatifkan. Sebagai contoh, bagaimana orang
timur memandang fenomena alam secara subjektif dan orang barat justru memandang fenomena alam
secara objektif. Anggapan bahwa kebudayaan luar adalah superior dan kebudayaan sendiri adalan
inferior akan menyebabkan situasi masyarakat yang terasing dari kebudayaannya sendiri (cultural
alienation). Faktor kedua penyebab rapuhnya Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya adalah
pengaruh globalisasi dan teknologi informasi yang menyebabkan terjadinya pemadatan dimensi
ruang dan waktu, jarak semakin diperdekat dan waktu semakin dipersingkat, situasi seperti ini
menyebabkan terjadinya banjir deras informasi (information glut) yang menghujani masyarakat dan
nyaris tidak terkendali. Pada setiap terjadinya banjir pasti membawa limbah, yang dimaksud di sini
adalah limbah budaya. Limbah budaya inilah yang sekarang merasuki hampir disetiap sendi
kehidupan masyarakat. Sedangkan penyebab ketiga adalah terjadinya perubahan orientasi pada nilai-
nilai budaya yang dilanjutkan dengan perubahan norma - norma dan tolak ukur perilaku warga
51
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

masyarakat. Perubahan orientasi nilai menjelma dalam wujud pergeseran budaya (shift), biasanya
cenderung dalam bentuk asimilasi dan akulturasi budaya, contohnya bagaimana saat pasangan
pengantin mengenakan beragam macam baju pengantin disaat pesta, mulai dari mengenakan baju
pengantin adat, baju pengantin Eropa dan baju baju pengantin lainnya, contoh lain, yaitu terjadinya
pergeseran budaya dalam aturan menghidangkan makanan dari sistem yang menggunakan dulang ke
sistem menghidangkan ala Francis, malah sekarang dalam acara ruwahan di kampung - kampung
sudah menggunakan sistem Francis. Kemudian perubahan orientasi nilai juga menyebabkan
persengketaan (conflict) yang melahirkan sikap ambhivalensi masyarakat. Sebagai contoh timbulnya
pro dan kontra masyarakat ketika Artika Sari Devi yang diberi gelar oleh Lembaga Adat Serumpun
Sebalai dengan gelar Yang Puan Jelita Nusantara harus mengenakan pakaian renang dalam pemilihan
Miss Dunia. Sikap pro dan kontra terjadi karena masyarakat menilai Artika Sari Devi adalah Puteri
Indonesia serta berasal dari Bangka Belitung yang sangat kental dengan budaya melayunya mau
berpakaian mempertontonkan aurat yang bertentangan dengan nilai - nilai budaya yang dianutnya.
Terakhir perubahan orientasi nilai pada masyarakat akan menimbulkan perbenturan (clash) yang
melahirkan sikap penentangan (rejection), sebagai contoh ketika akan dibangun pendopo di belakang
kediaman Gubernur yang direspon oleh masyarakat dengan ketidaksetujuan karena pendopo adalah
bangunan dengan arsitektur vernakuler Jawa.
Untuk membangun Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya di masyarakat maka perlu
dilakukan upaya - upaya yaitu, pertama dengan meningkatkan daya preservatif meliputi upaya
perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan serta meningkatkan daya progresif berupa
upaya -upaya peningkatan peran pemerintah, swasta, serta pemberdayaan masyarakat adat dan
komunitas budaya. Perlindungan adalah upaya menjaga keaslian kebudayaan dari pengaruh unsur -
unsur budaya luar atau asing dan penyimpangan dalam pemanfaatannya. Sedangkan pengembangan
adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas kebudayaan yang hidup di tengah - tengah
masyarakat tanpa menghilangkan nilai - nilai yang terkandung di dalamnya dan kegiatan pemanfaatan
adalah pemberdayaan kebudayaan untuk pemenuhan kebutuhan batin masyarakat baik dalam event
yang bersifat sakral maupun profan. Upaya kedua untuk membangun Kesadaran Budaya dan
Ketahanan Budaya di masyarakat adalah dengan memberdayakan nilai - nilai budaya baik nilai
budaya yang terkandung di dalam kebiasaan budaya (cultural habits) maupun yang terkandung di
dalam aturan budaya (cultural law). Baik nilai budaya yang tampak (tangible) maupun nilai budaya
yang tak tampak (intangible). Diketahui bahwa kebudayaan dan peradaban dapat diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat
(pantun, syair, tarian, dan gurindam), cerita rakyat (mitos, legenda, dongeng), nyanyian rakyat.
Kemudian dapat diwarisi melalui tradisi setengah lisan seperti permainan rakyat, kepercayaan rakyat,
upacara tradisional (daur hidup/life cycle, kepercayaan dan peristiwa alam), arsitektur tradisional/
vernakuler dan rumah adat, pengobatan tradisional, makanan tradisional, pakaian adat, pasar
tradisional, pengetahuan dan tekhnologi tradisional serta dapat juga diwarisi melalui tradisi bukan
lisan seperti bangunan bangunan kuno dan naskah-naskah kuno. Pemberdayaan nilai budaya pada
prinsipnya adalah upaya untuk membuat sesuatu peristiwa budaya menjadi lebih bermanfaat,
bermakna, lebih berfungsi dan berguna. kegiatan budaya yang menghasilkan nilai budaya adalah
kegiatan - kegiatan yang dapat menuntun manusia berperilaku lebih beradab, dan sesuai dengan
kaedah atau norma - norma yang berlaku di masyarakat. Perilaku beradab tersebut dapat terealisasi
dalam kehidupan masyarakat bila nilai - nilai budaya tersebut sudah terinternalisasi dengan benar
52
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dalam sanubari masyarakat. Untuk mengupayakan terinternalisasinya nilai - nilai budaya diperlukan
kerja keras dan upaya yang sungguh - sungguh dari seluruh komponen masyarakat termasuk penggiat
budaya, apresian budaya dalam level apapun, oleh para pemangku adat, tokoh adat, dan pemuka adat.
Sekarang ini untuk mempermudah pemberdayaan nilai - nilai budaya sehingga terinternalisasi dengan
baik, hal utama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan event atau peristiwa budaya yang
berhubungan dengan peristiwa kemasyarakatan yang biasanya diikuti oleh banyak orang dan
mendatangkan anggota masyarakat lainnya, baik peristiwa yang berhubungan dengan agama,
peristiwa yang berhubungan dengan adat, maupun peristiwa yang berhubungan dengan siklus
kehidupan. Upaya terakhir untuk membangun kesadaran budaya dan ketahanan budaya adalah dengan
memperkuat dan mengukuhkan identitas dan jatidiri, karena di dalam jatidiri terkandung kearifan -
kearifan lokal (local wisdom) dan local genius.
Setiap masyarakat betapapun sederhananya, memiliki Kebudayaan yang dikembangkannya
sebagai respon terhadap lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan buatan di sekitarnya.
Perbedaan antara lingkungan fisik, sosial dan buatan itulah yang menyebabkan perbedaan kebudayaan
di masyarakat. Oleh sebab itu salah satu kebijakan dalam pengembangan kebudayaan adalah upaya
untuk menguatkan identitas dan kekayaan budaya nasional yang bertujuan untuk memperkenalkan,
menguatkan dan mendorong kreatifitas budaya masyarakat agar mampu berkembang dan beradaptasi
dengan perubahan zaman. Kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh peristiwa budaya, proses
pembentukan peristiwa budaya di atas berlangsung berabad - abad dan betul - betul teruji sehingga
membentuk suatu komponen yang betul - betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa
kesejahteraan lahir dan batin, komponen inilah yang disebut dengan jatidiri. Di dalam jatidiri
terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari local genius dari berbagai suku
bangsa yang ada. Kearifan lokal inilah seharusnya kita rajut dalam satu kesatuan kebudayaan untuk
mewujudkan suatu nation (bangsa) yaitu Bangsa Indonesia dan sebagai alat untuk meredam berbagai
konflik horizontal yang terjadi di masyarakat yang marak terjadi di berbagai daerah saat ini.
6. Peran Arsitektur Dalam Fenomena Lingkungan
Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan. Sementara Kebudayaan Nusantara
berakar pada Kebudayaan Tradisionalnya, begitupun Arsitektur Tradisional juga merupakan akar dari
Arsitektur Nusantara. Kita kenal bahwa arsitektur tradisional sangat beranekaragam di Indonesia,
seiring dengan keanekaragaman suku bangsanya. Sulit rasanya memilih arsitektur tradisional mana
yang bisa mewakili, karena riskan sekali rasanya bila memilih salah satu arsitektur tradisional sebagai
wadahnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari suku bangsa tertentu
pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat suku bangsa tersebut. namun
demikian, apakah suatu suku bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari
daerah lain? Kita ambil hematnya saja bahwa, biarlah suatu suku bangsa memakai arsitektur
tradisionalnya, begitupun yang lainnya, asalkan ditempatkan dengan sesuai. Jadi, sebenarnya yang
kita perlukan adalah jiwa berarsitektur dari masyarakat tradisional tersebut. Sehingga tidak perlu lagi
kita menciplak total pada arsitektur tradisional tertentu. Yang perlu kita ejawantahkan adalah pesan-
pesannya ataupun konsep dasarnya. Kemudian diinterpretasikan dengan kreatifitas baru pada latar
belakang kehidupan sosio-budaya masyarakat yang terus ‘berkembang’ saat ini. Pada intinya
arsitektur tradisional mempunyai konsep dasar kesemestaan yang universal, sehingga mampu
mengiringi perjalanan hidup manusianya sepanjang zaman.

53
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pada hakekatnya arsitektur adalah keterpaduan antara ruang sebagai wadah, dengan manusia
sebagai isi yang menjiwai wadah itu sendiri. Dengan kata lain dalam arsitektur terdapat perwujudan
ruang (meliputi fungsi, tata-susunan, dimensi, bahan, dan tampilan bentuk) yang sangat ditentukan
oleh keselarasan kehidupan daya dan potensi dari manusia di seluruh aspek hidup dan kehidupannya
(meliputi norma/tata-nilai, kegiatan, populasi, jatidiri, dan kebudayaannya).
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sekaligus sebagai makhluk
sosial, dalam setiap kegiatannya senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Adalah
sesungguhnya bahwa manusia itu dalam bersosialisasi membutuhkan dan memiliki jangkauan
interaksi pada tiga jalur arah. Pertama, berinteraksi dengan Sang Pencipta (sosio-spiritual/religius),
meliputi kegiatan ibadah-spiritual maupun aplikasi amaliah dari norma dan tata-nilai yang telah
ditetapkan-Nya pada dua jalur berikutnya. Kedua, berinteraksi dengan sesama manusia (sosio-
kultural), baik antar pribadi dengan pribadi, pribadi dengan kelompok maupun kelompok dengan
kelompok, berdasarkan norma dan tata-nilai sosio-spiritual/religius di atas. Ketiga dan terakhir,
berinteraksi dengan alam semesta sebagai sesama makhluk ciptaan (sosio-natural/universal), yakni
manusia sebagai pembina sekaligus pengguna setiap unsur daya dan potensi alam agar berdaya-
manfaat secara tepat-guna dan berkesinambungan sehingga tercipta hidup dan kehidupan yang
makmur bersahaja. Ketiga jalur arah interaksi ini merupakan inti dasar kegiatan manusia untuk
bermasyarakat, yang seluruhnya harus diwadahi secara terpadu, setimbang, dan dinamis dalam ruang
arsitektur.
Dapat disimpulkan dari semua paparan diatas bahwa manusia dalam berarsitektur merupakan
wujud terbaik dari aturan yang ditetapkan-Nya dalam menjaga alam sebagai tempat hidupnya, dan
menjaga hubungan dengan sesamanya sebagai teman hidupnya. Inilah wujud kesemestaan. Dalam
keadaannya saat ini, kelestarian alam sudah sangat terabaikan. Pemanasan global dan bencana banjir
adalah wujud akibat yang ditimbulkan, dan arsitekturlah yang berperanan besar dalam
mewujudkannya. Sehingga tema Arsitektur Ramah Lingkungan dengan konsep kesemestaan patutlah
untuk diangkat.
7. Kepunahan Bentuk Dan Aliran Arsitektur
Kepunahan arsitektur merupakan kejadian hilangnya keseluruhan bentuk aliran arsitektur
tertentu. Kepunahan bukanlah peristiwa yang tidak umum, karena bentuk aliran suatu arsitektur secara
reguler muncul melalui aliran arsitekturalnya dan menghilang melalui kepunahan. Sebenarnya,
hampir seluruh bentuk aliran arsitektur yang pernah ada di bumi telah dan akan punah, seiring
perjalanan manusia itu sendiri, dan kepunahan tampaknya merupakan nasib akhir suatu bentuk aliran
arsitektur. Sebenarnya Kepunahan arsitektur telah terjadi secara terus menerus sepanjang sejarah
perkembangan manusia. Kita akan berkesimpulan bahwa, laju kepunahan arsitektural akan semakin
meningkat tajam pada peristiwa kepunahan missal spesies manusia pada suatu etnik atau suku bangsa
tertentu.
Peranan kepunahan pada evolusi arsitektur tergantung pada jenis kepunahan tersebut. Penyebab
persitiwa kepunahan "tingkat rendah" secara terus menerus (yang merupakan mayoritas kasus
kepunahan) tidaklah jelas dan kemungkinan merupakan akibat kompetisi antar aliran arsitektur
tertentu terhadap bentuk aliran arsitektur yang terbatas (prinsip hindar-saing). Jika kompetisi dari
etnik tertentu lain mengubah probabilitas suatu bentuk arsitektur menjadi punah, hal ini dapat
menghasilkan seleksi aliran arsitektur sebagai salah satu tingkat seleksi manusia. Peristiwa kepunahan

54
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

massal secara alami masih dapat diterima, daripada berperan sebagai gaya selektif, karena suatu
kebudayaan termasuk arsitektural yang beraneka ragam akan secara drastis dan mendorong terjadinya
evolusi arsitektur secara cepat dan secara tiba-tiba serta pensubtitusian pada kebudayaan suku bangsa
yang lain semakin tajam. Ini merupakan pangkal penjajahan kebudayaan melalui penjajahan dan
peperangan.

B. Hubungan Iklim Dengan Teori Evolusi dan Ekologi Arsitektur


1) Proses Terjadinya Bentuk
- Form Determinants
- Function
- Context
- Structure
- Form Resolution
- Material dan cara penggunaan
- Metoda dan konstruksi
- Pertimbangan ekonomi dan sumber daya
- Estetika
2) Teori Bentuk Secara Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tempat tinggal makhluk hidup atau organisme. Antara
Ekologi dan Arsitektur dan antara evolusi dan perancangan (desain) terdapat hubungan yang
sangat erat. Berdasarkan hubungan yang konseptual ini maka timbullah prinsip perancangan
secara pre skriptis dengan dasar-dasar teori bentuk secara deskriptif dalam alam ini.
Arsitektur dapat digambarkan sebagai bentuk dari strategi adaptasi manusia dengan alam,
termasuk didalamnya arsitektur tradisional Jawa. Gambaran tersebut bersifat suatu kesatuan yang
menyeluruh, keseimbangan yang dinamis dan penyempurnaan hal-hal yang relatif dan tidak jelas.
Dari prinsip-prinsip di atas maka terjadilah tiga prinsip utama dari penurunan bentuk, yaitu:
- Kesatuan yang utuh antara manusia (orang Jawa) dan tempat atau lingkungan
- Keseimbangan yang dinamis dari yang teratur dan tak teratur
- Penyempurnaan energi dan informasi
Hubungan antara ekologi dan arsitektur jelas terlihat pada arti asli (secara linguistik) dari
ekologi, yaitu ‘oikos’, kata asli dari ekologi dalam bahasa Greek yang berarti rumah dan rumah
tangga (house dan household). Apabila ekologi diartikan sebagai sains dan organisme beserta
tempat hidupnya (habitatnya), maka arsitektur dapat dipandang sebagai art dan sains dari
organisme manusia dalam merealisir habitasinya pada lingkungan alam natural.
Bentuk dari organisme adalah hasil dari atau proses Interaksi antara bentuk genetik dengan
lingkungannya. Dalam teori arsitektur secara ekologi, bentuk arsitektur adalah produk dari
interaksi antara perubahan kebutuhan manusia atau fungsi dengan kontek ekologi manusia,
(termasuk arsitektur tradisional Jawa dan orang Jawa).
- Forms follow both function and environment
- Form, function and environment are interdependent
Dalam hubungan dengan teori ini, arsitektur modern mempunyai kegagalan, yaitu:

55
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

- Arsitektur modern menolak tradisi sebagai kemungkinan sumber-sumber kontiunitas


untuk variasi di kemudian hari yang lebih kreatif.
- Arsitektur modern mengenyampingkan batas-batas kontek cultural
- Arsitektur modern terlalu memberikan nilai lebih hanya pada strategi adaptasi
arsitektural yang spesifik saja.
3) Bentuk dan Lingkungannya
Alam memberikan tekanan secara langsung kepada proses terjadinya bentuk semua yang
berada di alam ini. Misalnya: bentuk arsitektur di Wamena Papua berbentuk Honai, atau di Jawa
tengah berbentuk Joglo. Di daerah lain, bentuk arsitekturnya monumental di Eropa terutama
kepulauan krete Italia, ada yang diatas pohon seperti di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, atau suku
Dayak, atau berbentuk shelter di daerah Indian, Amerika, dll. karena dengan bentuk ini dapat
menyimpan panas lebih lama. Ini semua terjadi karena factor lingkungan yang mempengaruhi
bentuk-bentuk arsitekturalnya.
Dengan demikian maka, dapat kita simpulkan bahwa perubahan yang konstan sesuai dengan
teori evolusi, yaitu apabila “bentuk” atau spesies yang sama dengan lingkungan yang berbeda
akan memberikan pengaruh proporsi yang berbeda pula.
Demikian pula proses terjadinya “shape” bangunan, shape yang optimum adalah bentuk yang
dapat menerima panas sesedikit mungkin di waktu musim panas, dan mampu menahan panas
sebanyak mungkin pada waktu musim dingin.
4) Bentuk Tata Lingkungan
Iklim mempengaruhi bentuk tata lingkungan, hal ini dapat dilihat dari karakteristik tata
lingkungan pada beberapa daerah (termasuk didalamnya arsitektur Jawa) sesuai dengan iklim yang
berlaku di tempat tersebut:
- Untuk daerah beriklim tropis lembab atau panas lembab, jarak antara bangunan mempunyai
pengaruh yang sangat besar. Luasan dinding bangunan dengan pembukaan untuk ventilasi
sebanyak mungkin berhubungan dengan luar sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan
karena kenyamanan di daerah tropis lembab hanya dapat dicapai dengan bantuan aliran angin
yang cukup pada tubuh manusia. Perancangan landscape harus memperhatikan prinsip
kelancaran angin yang mengalir.
- Sebaiknya untuk di daerah panas kering, luasan dinding bangunan dikurangi sebanyak
mungkin untuk tidak berhubungan langsung dengan ruang luar. Antara bangunan dihindari
adanya ruang luar, satu sama lain kompak, sehingga sinar matahari sangat sedikit yang
menimpa langsung bangunan. Bila harus ada ruang di antara bangunan pun diusahakan agar
antara dinding bangunan yang satu dengan yang lain saling membayangi terhadap sinar
matahari. Oleh sebab itu kecenderungannya bangunan lebih efisien kalau rendah dan masif.
Oleh sebab itu kepadatan bangunan di daerah tropis lembab kecenderungannya rendah.
Kepadatan bangunan tinggi untuk daerah tropis kering. Untuk di daerah dingin, bentuk susunan
bangunannya cenderung kompak, padat dan mempunyai luasan jendela yang luas agar dapat
menerima panas matahari yang lebih banyak.

56
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

C. Definisi Evolusi Arsitektur


Evolusi arsitektur secara sederhana didefinisikan sebagai perubahan pada bentuk atau aliran suatu
arsitektur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Walaupun demikian, definisi "evolusi arsitektur"
juga sering kali ditambahkan dengan klaim-klaim berikut ini:
1. Perbedaan pada komposisi bentuk antara aliran arsitektur yang terisolasi oleh nuansa
arsitektur lain mengakibatkan munculnya aliran arsitektur baru.
2. Semua aliran arsitektur yang sekarang dikembangkan merupakan suatu sistem nilai dan
karya dari nenek moyang yang berbeda.
D. Evolusi Arsitektur Dalam Perubahan Sosial Budaya Global
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam
suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa
dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang
selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan
bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab
dari perubahan.
Ada tiga faktor yang dapat memengaruhi perubahan sosial
budaya:
1. tekanan kerja dalam masyarakat
2. keefektifan komunikasi
3. perubahan lingkungan alam.
Perubahan sosial budaya juga dapat timbul akibat Gambar. 7. Perubahan sosial
timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, budaya akibat kontak budaya satu
dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, dengan kebudayaan asing. Sumber
berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem Google Terjemahan Bebas,
pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru dikomposisikan oleh Peneliti 2011
lainnya dalam kebudayaan.
a. Penetrasi Kebudayaan
Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan
ke kebudayaan lainnya, termasuk didalamnya arsitektural. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi
dengan dua cara:
1) Penetrasi Damai (Penetration Pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh
kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak
mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh
kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa
menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang
merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah
bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis

57
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru
yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
2) Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya
kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga
menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat . Wujud
budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun
lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem
pemerintahan Indonesia.
b. Cara Pandang Terhadap Sosial Budaya Global
1) Kebudayaan Sebagai Peradaban Moderen
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan sosial
"budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan
awal abad ke-19. Gagasan tentang sosial "budaya" ini
merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa
dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka
menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan
kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu
dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu
kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture)
oleh Edgar Degas. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk
pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya Foto. 68. Bentuk sosial
memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik budaya Eropa
klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk Sumber- www.
menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil Moderenstyle.com
bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika
seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa
seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan
zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan
lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma
dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang
berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak
berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak
berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen
dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human
nature).
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara
berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak
berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai
perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat
58
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja)
dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik
sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan
alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang
sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing
masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial
membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur,
yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.
2) Kebudayaan Sebagai "Sudut Pandang Umum"
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap
gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan
perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria -
mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini
menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-
masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih
mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau
kebudayaan "primitif."
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi
yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia
tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari
kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini
pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks
pekerja organisasi atau tempat bekerja.
3) Kebudayaan Sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk
dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama
dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.
4) Kebudayaan Diantara Masyarakat
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur),
yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan
dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya
karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan
gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan
kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada
seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak
imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar
budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.

59
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

 Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga


masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
 Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di
Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan
kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam
masyarakat asli.
 Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli
tanpa campur tangan pemerintah.
 Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas
untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan
kebudayaan induk.
c. Sosial Budaya Menurut Wilayah Geografis
1. Tinjauan Global
Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-
kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama. Inilah tiga unsur utama yang mempengaruhi
dunia secara global.
a. Sosial Budaya Afrika
Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui p
enjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu,
wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan
Arab dan Islam.
Kebanyakan pengaruh eropa masuk ke Afrika melalui
Misionarys gereja-gereja. Disamping itu, teknologi sebagai
penunjang penyebaran injil. Dan pengaruh utama eropa terhadap
afrika terlihat pada teknologi baru yang diperlihatkan oleh Foto.69. Pengaruh
misionaris eropa kepada orang afrika. Eropa di Afrika
b. Sosial Budaya Amerika
Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli
benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika
Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris,
Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
Kebudayaan tertua di benua Amerika adalah kebudayaa dari
bangsa Indian, mereka sebagai penduduk asili yang mendiami benua
itu, sebelum pada akhirnya colombus menemukan benua Amerika
dan kemudian para penjelajah dari Spanyol, Inggris, Prancis, Foto.70. Orang Hopi
Portugis, Jerman dan Belanda berdatangan. yang sedang
c. Sosial Budaya Asia menenun dengan alat
Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sama tradisional di
lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan tersebut memiliki Amerika

60
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan
Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam. Dalam bidang agama, agama Budha
dan Taoisme banyak memengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut,
norma dan nilai Agama Islam juga turut memengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia
Selatan dan tenggara.
a. Perubahan Kebudayaan Jepang
Kebudayaan Jepang Kebudayaan Jepang telah banyak
berubah dari tahun ke tahun, dari kebudayaan asli negara
ini, Jomon, sampai kebudayaan kini, yang
mengkombinasikan pengaruh Asia, Eropa dan Amerika
Utara. Setelah beberapa gelombang imigrasi dari benua
lainnya dan sekitar kepulauan Pasifik, diikuti dengan
Foto. 71. Lukisan Jepang
masuknya kebudayaan Tiongkok, penduduk Jepang
dipengaruhi oleh budaya
mengalami periode panjang isolasi dari dunia luar
dibawah shogunat Tokugawa sampai datangnya “The Asia dan Eropa
Black Ships” dan era Meiji. Sebagai hasil, kebudayaan Sumber – peneliti, 2003
Jepang berbeda dari kebudayaan Asia lainnya.
d. Sosial Budaya Australia
Kebanyakan budaya di Australia
masa kini berakar dari kebudayaan Eropa
dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan Am
erika tersebut kemudian dikembangkan
dan disesuaikan dengan lingkungan
benua Australia, serta diintegrasikan
dengan kebudayaan penduduk asli benua
Australia, Aborigin. Foto. 72. Kebudayaan Aborigin Australia
e. Sosial Budaya Eropa
Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan
negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal
jug a dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah
diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan
banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya
di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara
yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh
kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen,
meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami Foto. 73. Puing arsitektur
kemunduran beberapa tahun ini. klasik Eropa.

61
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

f. Sosial Budaya Timur Tengah dan Afrika Utara


Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat
ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama
Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di
daerah ini.
Mulai dari cara berpakaian hingga pada music tradisional
dipengaruhi oleh kebudayaan timur tengah. Selain daripada itu,
di daerah Afrika Utara merupakan daerah dengan populasi Islam
terbanyak, yang mana dipengaruhi oleh kebudayaan dan religi Foto.74. Kebudayaan di
dari Timur Tengah. Afrika Utara
2. Sosial Budaya Nusantara
Sosial budaya Nusantara juga mengalami pengaruh luar sebagaimana budaya lain di dunia.
a. Sosial Budaya Bali
Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dilandasi
filsafah Tri Hita karana, artinya Tiga Penyebab Kesejahteraan
yang perlu diseimbangkan dan diharmosniskan yaitu
hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan ), hubungan
manusia dengan manusia (Pawongan) dan manusia dengan
lingkungan (Palemahan). Perilaku kehidupan masyarakatnya
dilandasi oleh falsafah “Karmaphala”, yaitu keyakinan akan
adanya hukum sebab sebab-akibat antara perbuatan dengan
hasil perbuatan. Sebagian besar kehidupan masyarakatnya
diwarnai dengan berbagai upacara agama/adat, sehingga
kehidupan spiritual mereka tidak dapat dilepaskan dari Foto 75: Masyarakat Adat Bali
berbagai upacara ritual. Karena itu setiap saat di beberapa
tempat di Bali terlihat sajian-sajian upacara. Upacara tersebut ada yang berkala, insidentil dan setiap
hari, dan dikelompokan menjadi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, meliputi Dewa Yadnya yaitu
upacara yang berhubungan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widi
Wasa, Rsi Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan para pemuka agama (Pendeta, Pemangku dan
lain-lainnya), Pitra Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan roh leluhur (Upacara Ngaben,
Memukur), Manusa Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan manusia (Upacara Penyambutan
Kelahiran, Tiga Bulanan, Otonan, Potong Gigi dan Perkawinan) dan Buta Yadnya yaitu upacara yang
berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan alam (Upacara Mecaru, Mulang Pekelem).
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.
Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat
pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100
SM. Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin
cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti,
diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan
menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman
padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada
masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa,

62
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara
beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang
antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat
Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
b. Sosial Budaya Maluku
Dengan kondisi daerah kepulauan yang menyebar,
masyarakat Maluku Utara tumbuh dan berkembang dengan
segala keragaman budayanya. Berdasarkan catatan di daerah
Maluku Utara terdapat 28 sub etnis dengan 29 bahasa lokal.
Corak kehidupan sosial budaya masyarakat di provinsi
Maluku Utara secara umum sangat tipikal yaitu perkawinan
antara ciri budaya lokal Maluku Utara dan budaya Islam yang Foto 76. Tari Cakalele-
dianut empat kesultanan Islam di Maluku Utara pad masa lalu. Ambon
Asimilasi dari dua kebudayaan ini melahirkan budaya Moloku
Kie Raha. Sedangkan corak kehidupan masyarakatnya
dipengaruhi oleh kondisi wilayah Maluku Utara yang terdiri dari
laut dan kepulauan, perbukitan dan hutan-hutan tropis. Desa-
desa di Maluku Utara umumnya (kurang lebih 85 %) terletak di
pesisir pantai dan sebagian besar lainnya berada di pulau-pulau
kecil. Oleh sebab itu, pola kehidupan seperti menangkap ikan,
berburu, bercocok tanaman dan berdagang masih sangat
mewarnai dinamika kehidupan sosial-ekonomi masyarakat
Foto 77. Tari Orlapei –
Maluku Utara (sekitar 79 %).
Maluku
Sementara itu, ikatan kekerabatan dan integrasi sosial
masyarakat secara umum sangat kuat sebelum terjadi konflik horizontal bernuansa SARA. Ikatan
pertalian darah dan keturunan sesama anggota keluarga didalam satu komunitas di daerah tertentu
sangat erat dan familiar, walaupun keyakinan keagamaan berbeda seperti masyarakat di kawasan
Halmahera bagian utara dan timur. Hubungan ini telah menumbuhkan harmonisasi dan integrasi sosial
yang sangat kuat. Dalam konteks hubungan Islam dan Kristen, nuansa interaksi sosial tersebut lebih
didasarkan bukan pada pertimbangan kultural dan hubungan kekeluargaan.
c. Sosial Budaya Jakarta – Betawi
Provinsi DKI Jakarta memiliki penduduk lebih dari 300 suku
bangsa dengan 200 bahasa. Sebagai Ibukota Negara Republik
Indonesia, Jakarta merupakan titik pertemuan budaya nasional
dan internasional. Jakarta menjadi barometer perkembangan
budaya bangsa Indonesia. Berbagai atraksi budaya, kuliner, dan
seni ditampilkan secara rutin dalam berbagai event kebudayaan di
Pusat Kota Jakarta.
Provinsi DKI Jakarta secara rutin mengadakan pemilihan
Foto 78. Budaya
abang dan none Jakarta. Dalam berbagai kegiatan tersebut, selalu
Perkawinan Betawi
ditampilkan “Ondel-ondel Boneka Khas Betawi (Penduduk Asli
Jakarta).
63
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

d. Sosial Budaya Banten


Kondisi sosial budaya masyarakat Banten diwarnai oleh
potensi dan kekhasan budaya masyarakatnya yang sangat variatif,
mulai dari seni bela diri pencak silat, debus, rudat, umbruk, tari
saman, tari topeng, tari cokek, dog-dog, palingtung, dan lojor.
Hampir semua seni tradisionalnya sangat kental diwarnai dengan
etika Islam. Ada juga seni tradisional yang datang dari luar kota
Banten, tapi semua itu telah mengalami proses akulturasi budaya
sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten, misalnya seni
kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek. Bahasa Foto 79. Budaya Beladiri
yang digunakan masyarakat Banten khususnya yang berada di Banten. Sumber Peneliti 2010
wilayah utara menggunakan bahasa Jawa Serang, sedangkan di
wilayah selatan menggunakan Bahasa Sunda. Namun demikian, masyarakat setempat umumnya lebih
sering menggunakan Bahasa Indonesia.
e. Sosial Budaya Jawa Barat
Budaya Jawa Barat didominasi Sunda. Adat tradisionalnya yang penuh khasanah Bumi Pasundan
menjadi cermin kebudayaan di sana. Perda Kebudayaan Jawa Barat bahkan mencantumkan
pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, kesenian, kepurbakalaan dan sejarahnya, nilai-nilai
tradisional dan juga museum sebagai bagian dari pengelolaan kebudayaan. Pariwisata berbasis
kebudayaan yang menampilkan seni budaya Jawa Barat, siap ditampilkan dan bernilai ekonomi.
Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa
khas yang di tata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat. Desa
budaya tersebut adalah sebagai beikut:
1. Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung;
2. Kampung Mahmud, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan
Margaasih, Kabupaten Bandung;
3. Kampung Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan
Tambaksari, Kabupaten Ciamis;
4. Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Desa
Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi;
5. Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Foto 80. Tari Tradosional
Sunda. Sumber peneliti 2010
Kabupaten Garut;
6. Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles,
Kabupaten Garut;
7. Kampung Adat Ciburuy, Desa Palamayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut;
8. Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya;
9. Kampung Urug, Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor;
10. Rumah Adat Citalang, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta;
11. Rumah Adat Lengkong, Desa Lengkong, Kecamatan Garangwangi, Kabupaten Kuningan;
Rumah Adat Panjalin, Desa Panjalin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka
64
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

f. Sosial Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta


Bahasa pengantar umumnya menggunakan bahasa Jawa yang
sekaligus juga menunjukkan etnis yang ada di provinsi DIY adalah
saku/etnis Jawa.)
Kehidupan social budaya Yogyakarta dipengaruhi oleh budaya
Kejawen, Hindu, dan Islam. Kebudayaan asli Yogyakarta dibentuk
oleh budaya kejawen. Setelah itu budaya kejawen dipengaruhi oleh
budaya Hindu, yang datang dari India. Setelah itu, pengaruh islam
mulai masuk sehingga terbentukklah kesultanan Yogyakarta
Hadiningrat dan Kesultanan Surakarta Solo. Dimana keduanya
dipengaruhi oleh budaya Islam dari Arab. Foto 81. Tarian Rhama
dan Shinta
7. Sosial Budaya Jawa Timur
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh
dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai
Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya
merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut
meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan,
Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung,
Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di
Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan
ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban,
Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan
daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari Foto 82. Tarian Reog
sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan
Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat
kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat
besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan
budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh
budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang
berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain:
tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang
lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi
berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran,
pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami),
setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau
kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki
65
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di
Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam
keluarga wanita.
8. Sosial Budaya Nangroe Aceh Darusalam
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdiri atas sembilan suku, yaitu Aceh (mayoritas), Tamiang
(Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh
Selatan), Naeuk Laot, Semeulu dan Sinabang (Kabupaten Semeulue). Masing-masing suku
mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir masing-masing. Bahasa yang umum digunakan adalah
Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek
lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh Foto 75. Atraksi Tamiang
Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek
Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.
Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur
segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat
bersendikan hukum syariat Islam. Penerapan syariat
Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh
sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa Foto 83. Rumah Atap Ijuk Tamiang
kesultanan, syariat Islam sudah meresap ke dalam diri
masyarakat Aceh.
Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri.
Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa
Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan
hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Perang Sabi (Perang Sabil).
9. Sosial Budaya Sumatera Utara
Sumatera Utara juga dikenal sebagai provinsi
multikultural, di dalamnya terdapat etnis dan agama. Selain
Batak dan Melayu yang menjadi penduduk asli provinsi
ini, ada banyak kelompok etnis lainnya juga yang juga
hidup berdampingan. Setidaknya ada 13 suku berkembang
di provinsi ini 13 bahasa daerah. Dari semua suku yang
ada, sembilan diantaranya adalah suku asli dan empat suku
pendatang. Keragaman suku-suku ini belum termasuk
Jawa, Cina, dan India yang juga hidup berdampingan
bersama mereka. Keberagaman suku tentu diikuti pula oleh Foto 84. Rumah Adat Batak Karo
mosaik adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Keragaman adat
istiadat di Sumatera Utara diwarnai oleh adat Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Nias, Pesisir,
Angkola, Pakpak, dan Simalungun. Perkembangan sosial budaya relatif baik mengingat tingkat
kesadaran dan kedewasaan masyarakatnya dalam memahami pluralisme, keragaman budaya, mosaik
adat istiadat serta kerukunan antar umat beragama cukup tinggi.
Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai
penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-
orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah
66
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama
Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di
Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang
dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa.
Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut :
1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai,
dan Langkat
2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo
3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir
4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
5. Suku Batak Mandailing/Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan
Mandailing Natal
6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun
7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat
8. Suku Nias : Pulau Nias
9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat
10. Suku Aceh : Kota Medan
11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat
12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.
10. Sosial Budaya Sumatera Barat
Mayoritas penduduk Sumatera Barat
merupakan suku Minangkabau. Suku ini
awalnya berasal dari dua klan utama: Koto
Piliang didirikan Datuak Katumanggungan dan
Bodi Chaniago yang didirikan Datuak Parpatiah
nan Sabatang, Suka Kato Piliang memakai
sistem aristokrasi yang dikenal dengan istilah
Titiak Dari Ateh (titik dari atas) ala istana
Pagaruyung, sedangkan Bodi Chaniago lebih
bersifat demokratis, yang dikenal dengan istilah
Mambasuik Dari Bumi (muncul dari bumi).
Sehari-hari, masyarakat berkomunikasi dengan Foto: 85. Suku Mentawai
Bahasa Minangkabau yang memiliki beberapa
dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pasisir Selatan, dan dialek Payakumbuh.
Sementara itu, di daerah kepulauan Mentawai yang terletak beberapa puluh kilometer di lepas pantai
Sumatera Barat, masyarakatnya menggunakan Bahasa Mentawai. Di Daerah Pasaman bahkan Bahasa
Batak berdialek Mandailing digunakan, biasanya oleh suku Batak Mandailing.
Masyarakat Sumatera Barat, sangat manghargai nilai-nilai adat dan budaya tradisional serta
terbuka terhadap nilai-nilai positif yang datang dari luar. Kondisi ini membawa kepada komunitas
yang sangat kondusif bagi pembangunan nasional dan cita-cita reformasi. Meskipun suku

67
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Minangkabau mendominasi masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan, kehidupan mereka relatif
rukun dan damai dengan warga pendatang lainnya yang terdiri atas berbagai etnis minoritas, seperti
suku Mentawai di Kepulauan Mentawai, suku Mandailing di Pasaman, transmigran asal Jawa di
Pasaman dan Sijunjung, kelompok etnis Cina, dan berbagai suku pendatang lainnya yang berdiam di
kota-kota di Sumatera Barat. Di antara sesama mereka terdapat hubungan dan interaksi sosial yang
positif dan jarang terdapat jurang dan kecemburuan sosial yang besar antara berbagai kelompok dan
golongan. Hal ini merupakan landasan yang solid bagi persatuan bangsa yang perlu dipelihara dan
dikembangkan serta ditingkatkan.

11. Sosial Budaya Bengkulu


Terdapat empat bahasa daerah yang digunakan oleh
masyarakat Bengkulu, yakni : Bahasa Melayu, Bahasa Rejang,
Bahasa Pekal, Bahasa Lembak. Penduduk Provinsi Bengkulu
berasal dari tiga rumpun suku besar terdiri dari Suku Rejang,
Suku Serawai, Suku Melayu. Sedangkan lagu daerah yaitu
Lalan Balek.
Di bidang kehidupan beragama, kesadaran melaksanakan
ritual keagamaan mayoritas penduduk yang beragama Islam
secara kuantitatif cukup baik. Kesadaran dikalangan pemuka
agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan intern
dan antar umat beragama yang aman, damai dan saling Foto 86. Suku Enggano
menghargai cukup baik. Disamping itu, terdapat adat dan
istiadat yang cukup akrab dengan masyarakat Bengkulu,
diantaranya: Kain Bersurek, merupakan kain bertuliskan huruf
Arab gundul. Kepercayaan masyarakat di Provinsi Bengkulu
umumnya atau sebesar 95% lebih menganut agama Islam.
Upacara adat juga banyak dilakukan masyarakat di Provinsi
Bengkulu seperti, sunatan rasul, upacara adat perkawinan,
upacara mencukur rambut anak yang baru lahir. Salah satu
upacara tradisional adalah upacara “TABOT” yaitu suatu
perayaan tradisional yang dilaksanakan dari tanggal 1 sampai
dengan tanggal 10 Muharram setiap tahunnya, untuk Foto 87. Upacara Adat Suku
memperingati gugurnya Hasan dan Husen cucu Nabi Rejang Lebong
Muhammad SAW oleh keluarga Yalid dari kaum Syiah, dalam
peperangan di Karbala pada tahun 61 Hijriah. Pada perayaan TABOT tersebut dilaksanakan berbagai
pameran serta lomba ikan – ikan, telong – telong, serta kesenian lainnya yang diikuti oleh kelompok –
kelompok kesenian yang ada di Provinsi Bengkulu, sehingga menjadikan ajang hiburan rakyat dan
menjadi salah satu kalender wisatawan tahunan.
Falsafah hidup masyarakat setempat, “Sekundang setungguan Seio Sekato”. Bagi masyarakat
Bengkulu pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama yang sering kita dengar
dengan bahasa pantun yaitu: ”Kebukit Samo Mendaki, Kelurah Samo Menurun, Yang Berat Samo
Dipikul, Yang Ringan Samo Dijinjing”, artinya dalam membangun, pekerjaan seberat apapun jika
sama-sama dikerjakan bersama akan terasa ringan juga. Selain itu, ada pula ”Bulek Air Kek
68
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Pembukuh, Bulek Kata Rek Sepakat”, artinya bersatu air dengan bambu, bersatunya pendapat dengan
musyawarah.

12. Sosial Budaya Riau


Riau berada di garda terdepan dalam menjaga tradisi dan
kebudayaan Melayu di Indonesia. Bahasa pengantar di provinsi ini
umumnya Melayu. Adat istiadat yang berkembang dan hidup di
provinsi ini adalah adat istiadat Melayu, yang mengatur segala
kegiatan dan tingkah laku warga masyarakatnya bersendikan Syariah
Islam. Penduduknya pun terdiri dari Suku Melayu Riau dan berbagai
suku lainnya, mulai dari Bugis, Banjar, Mandahiling, Batak, Jawa,
Minangkabau, dan China. Uniknya, di provinsi ini masih terdapat
kelompok masyarakat yang di kenal dengan masyarakat terasing,
antara lain: Foto 88. Kancet Punan
1. Suku Sakai: kelompok etnis yang berdiam di beberapa Lettu, Kancet Nyelama-
kabupaten antara lain Kampar, Bengkalis, Dumai: Suku Sakai
2. Suku Talang Mamak: berdiam di daerah Kabupaten
Indragiri Hulu dengan daerah persebaran meliputi tiga
kecamatan: Pasir Penyu, Siberida, dan Rengat:
3. Suku Akit: kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan
Panjang Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis:
4. Suku Hutan: suku asli yang mendiami daerah Selat Baru
dan Jangkang di Bengkalis, dan juga membuat desa Sokap
di Pulau Rangsang Kecamatan Tebing Tinggi serta
mendiami Merbau, sungai Apit dan Kuala Kampar.

13. Sosial Budaya Sumatera Barat Foto 89. Suku Sakai


Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku
Minangkabau. Suku ini awalnya berasal dari dua klan utama: Koto
Piliang didirikan Datuak Katumanggungan dan Bodi Chaniago yang
didirikan Datuak Parpatiah nan Sabatang, Suka Kato Piliang
memakai sistem aristokrasi yang dikenal dengan istilah Titiak Dari
Ateh (titik dari atas) ala istana Pagaruyung, sedangkan Bodi
Chaniago lebih bersifat demokratis, yang dikenal dengan istilah
Mambasuik Dari Bumi (muncul dari bumi).
Sehari-hari, masyarakat berkomunikasi dengan Bahasa
Foto 90. Rumah
Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek
Tradisional Minang
Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pasisir Selatan, dan dialek
Payakumbuh. Sementara itu, di daerah kepulauan Mentawai yang terletak beberapa puluh kilometer di
lepas pantai Sumatera Barat, masyarakatnya menggunakan Bahasa Mentawai. Di Daerah Pasaman
bahkan Bahasa Batak berdialek Mandailing digunakan, biasanya oleh suku Batak Mandailing.
Masyarakat Sumatera Barat, sangat manghargai nilai-nilai adat dan budaya tradisional serta terbuka
terhadap nilai-nilai positif yang datang dari luar. Kondisi ini membawa kepada komunitas yang sangat
69
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

kondusif bagi pembangunan nasional dan cita-cita reformasi. Meskipun suku Minangkabau
mendominasi masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan, kehidupan mereka relatif rukun dan
damai dengan warga pendatang lainnya yang terdiri atas berbagai etnis minoritas, seperti suku
Mentawai di Kepulauan Mentawai, suku Mandailing di Pasaman, transmigran asal Jawa di Pasaman
dan Sijunjung, kelompok etnis Cina, dan berbagai suku pendatang lainnya yang berdiam di kota-kota
di Sumatera Barat. Di antara sesama mereka terdapat hubungan dan interaksi sosial yang positif dan
jarang terdapat jurang dan kecemburuan sosial yang besar antara berbagai kelompok dan golongan.
Hal ini merupakan landasan yang solid bagi persatuan bangsa yang perlu dipelihara dan
dikembangkan serta ditingkatkan.

14. Sosial Budaya Sumatera Selatan


Sumatera Selatan di kenal juga dengan sebutan Bumi
Sriwijaya karena wilayah ini di abad VII – XII Masehi
merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di
Indonesia yakni Kerajaan Sriwijaya. Pengaruhnya bahkan
sampai ke Formosoa dan Cina di Asia serta Madagaskar di
Afrika. Di provinsi yang amat sangat terkenal dengan kain
songket dan kain pelanginya ini terdapat 12 jenis bahasa daerah
dan delapan suku, di antaranya dominan adalah Suku
Palembang, Suku Komering, Suku Ranau, dan Suku Semendo. Foto 91. Budaya Perkawinan
Untuk menjaga keragaman ini tetap berada dalam harmoni, Palembang
pemerintah lokal membuat peraturan daerah yang bertujuan
untuk mengelola kebudayaan yang ada. Peraturan ini mencakup pemeliharaan bahasa, sastra serta
aksara daerah, pemeliharann kesenian, pengelolaan kepurbakalaan kesejarahan serta nilai tradisional
dan museum. Pariwisata Sumatera Selatan bahkan dalam koridor peraturan daerah in, agar pariwisata
di sana tetap berbasis kebudayaan Sumatera Selatan di satu sisi dan bernilai ekonomi tinggi di sisi
yang lain.
Masyarakat Sumatera Selatan umumnya hidup rukun dan agamis. Selama periode 2004 – 2006,
misalnya, tidak terdapat catatan buruk tentang konflik antar kelompok atau antarsuku tertentu.
Kendati demikian, sebagai langkah preventif pemerintah harus berupaya menggalang kerukunan
diantara masyarakatnya dengan menghadirkan tokoh agama terkenal, dan lain sebagainya. Di berbagai
forum semacam itulah pemerintah menekankan pentingnya
harmoni dan stabilitas demi kelanjutan pembangunan.

15. Sosial Budaya Bangka Belitung


Meski banyak suku yang menetap di Kepulauan Bangka
Belitung. Melayu, Bugis, Jawa, Batak, Buton, Sunda, Madura,
Flores, Bali, dan Keturunan Tionghoa (Cina) bahasa paling
dominan yang mereka gunakan adalah Melayu yang juga
merupakan bahasa daerah setempat, Bahasa Mandarin dan
Bahasa Jawa menempati urutan berikutnya.
Foto 92. Tari tradisional
Bamgka Belitung
70
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Di bidang kebudayaan, adat – istiadat masyarakat setempat tentu saja menjadi dominan
diselenggarakan, bahkan untuk ukuran tertentu bisa di eksploitasi menjadi daya tarik pariwisata
tersendiri. Beberapa adat – istiadat yang kerap dilakukan masyarakat misalnya:
1. Sepintu Sedulang; ritual yang lebih dikenal dengan sebutan Nganggung, di mana masyarakat
dulang berisi makanan untuk dimakan siapa saja yang hadir di masjid;
2. Rebo Kasan; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah, Tuhan Yang
Maha Esa, agar mereka terhindar dari bencana sebelum ke laut mencari ikan;
3. Buang Joang; upacara tolak bala untuk keamanan desa, mirip upacara Rebo Kesan;
4. Ceriak Nerang; upacara yang dilakukan setelah panen padi sebagai puji syukur pada Allah,
Tuhan Yang Maha Esa;
5. Perang Ketupat; upacara yang diadakan setiap bulan Sya’ban menyambut Ramadhan;
6. Mandi Belimau; dilaksanakan seminggu sebelum awal Ramadhan di pinggir Sungai
Limbung;
7. Lesong Panjang; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas
hasil panen; Adat Sijuk; upacara khusus pada hari besar agama;
Tari Sambut; tarian khas di Bangka Belitung, dilakukan saat masyarakat menyambut tamu – tamu
istimewa, dan Nirak Nanggok; upacara adat untuk menunjukan rasa syukur atas kebaikan,
dilakukan di Desa Membalong, Belitung.

16. Sosial Budaya Jambi


Hanya ada satu bahasa daerah di Provinsi Jambi, yaitu Bahasa
Melayu, dengan beberapa dialek lokal seperti dialek Kerinci,
Bungo/Tebo, Sarolangun, Bangko, Melayu Timur (Tanjung
Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur), Batanghari, Jambi
Seberang, Anak Dalam dan Campuran. Khusus untuk masyarakat
Kerinci, mereka mempunyai aksara tersendiri yang dikenal
dengan Aksara Encong yang dapat ditemui dan digunakan oleh
sekelompok masyarakat di sana.
Provinsi ini dapat dikatakan multietnis. Sebagian besar adalah
Melayu Jambi dan selebihnya adalah berbagai suku dan etnis dari
seluruh Indonesia. Etnis dominan adalah Minang, Bugis, Jawa,
Sunda, Batak, Cina, Arab, dan India. Di provinsi ini adat istiadat
Melayu sangat dominan. Adat inilah yang mengatur segala
kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat yang bersendikan Foto 93. Cara Berburu
kepada hukum islam. Adagium ”Adat bersendikan sara’, sara’ Tradisional Jambi – Sumber
bersendikan kitabullah” atau ”Sara’ mengato adat memakai” Dinas Kebudayaan Jambi.
sangat memsyarakat di sana. Penegak syariat Islam banyak Dikomposisikan oleh
mewarnai masyarakat Jambi. Dalam keseharian mereka, banyak Peneliti 2011
ajaran dan pengaruh Islam diterapkan, diantaranya tradisi tahlilan
kematian, Yasinan, serta berbagai upacara yang dilakukan mengikuti daur hidup manusia. Sebagai
masyarakat agraris, warga Jambi juga kerap melaksanakan adat–istiadat yang berkaitan juga dalam
bidang pertanian, misalnya adat “serentak turun ke umo”. Dalam mengolah sawah sesuai dengan
musimnya dengan berpedoman pada rotasi iklim, hal ini di sebut “piamo”. Dalam hal keamanan
71
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

tanaman agar tidak dirusak ternak, berlaku pepatah adat ”umo bekandang siang, kerbo bekandang
malam”, yang berarti jika binatang ternak mengganggu tanaman siang hari, maka tanggung jawab
tetap pada si pemilik sawah atau kebun. Sebaliknya jika ternak memasuki sawah atau kebun pada
malam hari, tanggung jawab tetap ada di pundak pemilik ternak.
Untuk memperkuat dan memelihara adat istiadat tersebut, berbagai kegiatan kesenian dan sosial
budaya kerap di lakukan, antara lain :
1. Tari Asik, dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengusir bala penyakit;
2. Tradisi Berdah, dilaksanakan saat terjadi bencana dengan tujuan menolak bencana;
3. Kenduri Seko, bertujuan untuk membersihkan pusaka dalam bentuk keris, tombak, Al Kitab
dalam bentuk Ranji–ranji Kuno;
4. Mandi Safar, dilaksanakan pada hari Rabu di akhir bulan Safar bertujuan untuk menolak
bala;
5. Mandi Belimau Gedang, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan menyucikan dan
mengharumkan diri; dan
6. Ziarah Kubur, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan mendoakan arwah leluhur.
Provinsi Jambi sangat kaya akan kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerah adalah
anyaman yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun pandan,
daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia. Hasil
anyaman ini bermacam–macam pula, mulai dari bakul, sumpit, ambung, katang–katang, tikar, kajang,
atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut Sempirai, Pangilo,
lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah hasil tenun yang sangat terkenal, yaitu tenunan dan
batik motif flora.

17. Sosial Budaya Lampung


Provinsi Lampung dikenal juga dengan julukan “Sang
Bumi Ruwa Jurai” yang berarti satu bumi yang didiami oleh
dua macam masyarakat (suku/etnis), yaitu masyarakat
Pepadun dan Saibatin. Masyarakat pertama mendiami daratan
dan pedalaman Lampung, seperti daerah Tulang Bawang,
Abung, Sungkai, Way Kanan, dan Pubian, sedangkan
masyarakat kedua mendiami daerah pesisir pantai, seperti
Labuhan Maringgai, Pesisir Krui, Pesisir Semangka
(Wonosobo dan Kota Agung), Balalau, dan Pesisir Rajabasa.
Di samping penduduk asli Suku Lampung, Suku Banten, Suku
Bugis, Jawa, dan Bali juga menetap di provinsi itu. Suku-suku
ini masuk secara massif ke sana sejak Pemerintah Hindia
Belanda pada tahun 1905 memindahkan orang-orang dari
Jawa dan ditempatkan di hampir semua daerah di Lampung. Foto 94. Upacara Naik
Kebijakan ini terus berlanjut hingga 1979, batas akhir Pepaduan Lampung
Lampung secara resmi dinyatakan tidak lagi menjadi daerah
tujuan transmigrasi. Namun, mengingat posisi Lampung yang strategis sebagai pintu gerbang pulau
Sumatera dan dekat dengan Ibu Kota Negara, pertumbuhan penduduk yang berasal dari pendatang
pun tetap saja tak bisa di bendung setiap tahunnya.
72
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Masyarakat Lampung memiliki bahasa dan aksara sendiri, namun penggunaan bahasa Lampung
pada daerah perkotaan masih sangat minim akibat heterogenitas masyarakat perkotaan dan karena itu
penggunaan Bahasa Indonesia lebih menonjol. Untuk daerah pedesaan, terutama pada perkampungan
masyarakat asli Lampung (riyuh ataupun pekon), penggunaan Bahasa Lampung sangat dominan.
Bahasa Lamapung terdiri dari dua dialek, pertama dialek “O” yang biasanya di gunakan oleh
masyarakat Pepaduan, meliputi Abung dan Menggala: serta dialek “A” dan umumnya digunakan
masyarakat Saibatin, seperti Labuhan meringis, Pesisir Krui, Pesisie Semangka, Belalau, Ranau,
Pesisir Rajabasa, Komering, dan Kayu Agung. Namun demikian ada pula masyarakat Pepaduan yang
menggunakan dialek “A” ini, yaitu Way Kanan, Sungkai, dan Pubian. Di samping memiliki bahasa
daerah yang khas, masyarakat Lampung juga memiliki aksara sendiri yang disebut dengan huruf kha
gha nga. Aksara dan Bahasa Lampung itu menjadi kurikulum muatan lokal yang wajib dipelajari oleh
murid-murid SD dan SMP di seluruh Provinsi Lampung. Nilai-nilai budaya masyarakat Lampung
bersumber pada falsafah Piil Pasenggiri, yang terdiri atas: Piil Pasanggiri (harga diri, perilaku, sikap
hidup):
1. Nengah nyappur (hidup bermasyarakat, membuka diri dalam pergaulan):
2. Nemui nyimah (terbuka tangan, murah hati dan ramah pada semua orang)
3. Berjuluk Beadek (bernama, bergelar, saling menghormati)
4. Sakai Sambayan (gotong royong, tolong menolong)
Nilai-nilai masyarakat Lampung tercermin pula dalam bentuk kesenian tradisional, mulai dari tari
tradisional, gitar klasik Lampung, sastra lisan, sastra tulis, serta dalam bentuk upacara kelahiran,
kematian dan kematian. Pembinaan terhadap seni budaya daerah ini dilakukan oleh pemerintah daerah
dan lembaga adat secara sinergis. Pada tahun 2006 terdapat sejumlah organisasi kesenian, baik yang
bersifat seni tradisional maupun kreasi baru, yang tersebar di berbagai daerah di Lampung. Cabang
organisasi tersebut meliputi 127 organisasi seni tari, 87 organisasi seni musik, 15 organisasi seni
teater, dan 30 organisasi seni rupa.
Pada kunjungan kerja ke Provinsi Lampung pada tanggal 14 Juli 2005, dalam acara Peresmian
Pembukaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IX tahun 2005, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono berpesan bahwa: Bangsa kita memang bangsa yang majemuk, yang mempunyai latar
belakang kesukuan, kebudayaan, dan keagamaan yang berbeda-beda. Namun hakekat kemanusiaan
sesungguhnya adalah satu, yaitu semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Sebab itu, perbedaan-
perbedaan tidaklah menjadi halangan bagi kita untuk hidup rukun, hidup damai, dan hidup bersatu
menjadi sebuah bangsa di bawah naungan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

18. Sosial Budaya Papua


Mengacu pada perbedaan tofografi dan adat
istiadat, penduduk Papua dapat dibedakan
menjadi tiga kelompok besar, masing-masing:
1. Penduduk daerah pantai dan kepulauan
dengan ciri-ciri umum rumah di atas
tiang (rumah panggung) dengan mata
pencaharian menokok sagu dan Foto 95. Ekspresi 2 Unsur Tari Huembelo.
menangkap ikan); Sumber Data Peneliti - 2011
73
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa danau dan lembah serta kaki
gunung. Umumnya mereka bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan
mengumpulkan hasil hutan;
Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan berternak secara
sederhana. Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang masing-masing
berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani,
dan Sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang
lebih baik diantaranya dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan,
Biak, Arni, Sentani, dan lain-lain.
Umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan
dengan menganut garis keturunan ayah (patrilinea). Budaya
setempat berasal dari Melanesia. Masyarakat berpenduduk asli
Papua cenderung menggunakan bahasa daerah yang sangat
dipengaruhi oleh alam laut, hutan dan pegunungan.
Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah masyarakat yang
sangat unik, misalnya seperti yang ditunjukan oleh budaya suku
Komoro di Kabupaten Mimika, yang membuat genderang dengan
menggunakan darah. Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya yang
gemar melakukan perang-perangan, yang dalam bahasa Dani disebut
Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan di jadikan
festival budaya lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai,
yang didalamnya terdapat mummy yang di awetkan dengan ramuan Foto 96. Gaya berperang,
tradisional. Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima suku Kiwai & Komba
berusia 350 tahun, mummy Jiwika 300 tahun, dan mummy Pumo
daerah sungai fly. Sumber
berusia 250 tahun. Di suku Marin, Kabupaten Merauke, terdapat
Data Peneliti - 2007
upacara Tanam Sasi, sejenis kayu yang dilaksanakan sebagai bagian
dari rangkaian upacara kematian. Sasi ditanam 40 hari setelah hari kematian seseorang dan akan
dicabut kembali setelah 1.000 hari. Budaya suku Asmat dengan ukiran dan souvenir dari Asmat
terkenal hingga ke mancanegara. Ukiran asmat mempunyai empat makna dan fungsi, masing-masing:
1. Melambangkan kehadiran roh nenek moyang;
2. Untuk menyatakan rasa sedih dan bahagia;
3. Sebagai suatu lambang kepercayaan dengan motif manusia, hewan, tetumbuhan dan benda-
benda lain;
4. Sebagai lambang keindahan dan gambaran ingatan kepada nenek moyang.
Budaya suku Imeko di kabupaten Sorong Selatan menampilkan tarian adat Imeko dengan budaya
suku Maybrat dengan tarian adat memperingati hari tertentu seperti panen tebu, memasuki rumah baru
dan lainnya.
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di
Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana dapat dijadikan contoh bagi daerah lain,
mayoritas penduduknya beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya
transportasi dari dan ke Papua, jumlah orang dengan agama lain termasuk Islam juga semakin
berkembang. Banyak misionaris yang melakukan misi keagamaan di pedalaman-pedalaman Papua.
Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat, baik melalui sekolah misionaris,
74
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

balai pengobatan maupun pendidikan langsung dalam bidang pertanian, pengajaran bahasa Indonesia
maupun pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan
pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah
pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.
19. Sosial Budaya Papua Barat
Papua Barat memiliki 24 suku dengan bahasa yang berbeda-
beda antara suku yang satu dengan yang lainnya. Bahkan satu suku
memiliki beberapa bahasa. Wilayah Papua Barat tidak identik
dengan wilayah budaya masing-masing karena suku tersebut
menyebar pada beberapa kabupaten. Suku Arfak mendiami
pegunungan Arfak di kabupaten Manokwari hingga ke Bintuni.
Suku Doteri merupakan suku migran dari pulau Numfor di wilayah
pesisir kabupaten Wondama, bersama suku Kuri, Simuri, Irarutu,
Sebyar, Moscona, Mairasi, Kambouw, Onim, Sekar, Maibrat, Tehit,
Imeko, Moi, Tipin, Maya, dan Biak yang sedak dahulu merupakan
suku mayoritas dan telah mendiami wilayah kepulauan Raja
Ampat.
Penduduk asli Papua Barat bermata pencaharian sebagai
nelayan dan petani tradisional. Makanan asli penduduk Papua Barat Foto 96. Tari Persembahan
adalah sagu, ubu-ubian dan nasi. Selain masyarakat asli papua Suku Maybrat, Imian,
barat, hidup berbaur suku-suku lain dari seluruh nusantara seperti Sawiat- suber peneliti-2010
Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Manado, key, Tionghoa dan lainnya.
Kehidupan tradisional masyarakat asli Papua Barat masih dapat dijumpai di kampung-kampung
tiap daerah dengan adanya kepala suku sebagai pimpinan. Masyarakat asli Papua Barat menganut
mayoritas beragama Kristen protestan, Khatolik dan Islam. Wilayah Papua Barat merupakan tempat
pekabaran Injil dan juga syiar Islam. Kehidupan primitif di tanah Papua Barat sudah hampir tidak
dijumpai lagi. Rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kulit kayu, batang dan cabang-cabang
pohon serta tali-tali rotan dan liana hutan sudah mulai diganti
dengan konstruksi rumah semi permanen. Sisa-sisa peradaban
purbakala dapat dijumpai di daerah Fakfak dan Kaimana yang
berupa lukisan purbakala bermotif telapak tangan manusia,
motif tumbuhan, dan motif hewan yang dilukis di dinding-
dinding pulau kerang dengan menggunakan pewarna alami
yang hingga kini masih merupakan mistik.
20. Sosial Budaya Gorongtalo
Sebelum masa penjajahan keadaan daerah Gorontalo
berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat
ketatanegaraan Gorontalo. Antara agama dengan adat di Foto 97. Budaya Perkawinan
Gorontalo menyatu dengan istilah “Adat bersendikan Syara’ Gorongtalo. SumberPeneliti
dan Syara’ bersendikan Kitabbullah”. Pohalaa Gorontalo 2011
merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima
pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.

75
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘seorang
pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila, akhirnya ia menikah
dengan seorang wanita pendatang bernama Tilopudelo yang singgah dengan perahu ke tempat itu.
Perahu tersebut berpenumpang 8 orang. Mereka inilah yang kemudian menurunkan komunitas etnis
atau suku Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya
Gorontalo. Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek
Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek
Gorontalo. Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam. Islam masuk ke
daerah ini sekitar abad ke-16. Karena adanya kerajaan-kerajaan di masa lalu sempat muncul kelas-
kelas dalam masyarakat Gorontalo: kelas raja dan keturunannya (wali-wali), lapisan rakyat
kebanyakan (tuangolipu).
21. Sosial Budaya Kalimantan Barat
Melihat sosial budaya Kalimantan Barat, kita bagaikan melihat
mosaik yang berdenyut dinamis. Bayangkan saja, jika terdapat 164
bahasa daerah, 152 diantaranya bahasa adalah bahasa Subsuku
Dayak dan 12 sisanya bahasa Subsuku Melayu. Aneka ragam
bahasa ini dituturkan oleh sedikitnya 20 suku atau etnis, tiga di
antaranya suku asli dan 17 sisanya suku pendatang. Sejumlah adat
istiadat masih lestari di sana, terutama ketika berlangsung acara
melahirkan, peringatan tujuh bulan jabang bayi di kandungan,
kematian, menanam padi, panen, pengobatan, anisiasi, mangkok
merah. Dalam kaitan itu, nilai-nilai budaya seperti: Semangat Foto 98. Karnafal Budaya
gotong royong, religiuslitas, kejujuran, toleransi, keadilan sosial, Suku Dayak
perdamaian, kompetisi, kritis, dan ksatria masih tetap di pelihara di
tengah-tengah masyarakat.
Dalam mengembangkan sektor ekonominya, Kalimantan Barat cukup gigih berjuang. Beda
halnya di sektor kepariwisataan. Salah satu kelemahan turisme di provinsi ini adalah kurangnya saran
dan prasarana pariwisata. Tentu saja ini amat sangat disayangkan. Potensi ke arah lain, sesungguhnya
sangat besar, mengingat Kalimantan Barat bersebelahan persis dengan luar negeri. Karena turisme
kurang populer, maka penduduk setempat kurang aware dengan industri satu ini. Inilah kelemahan
kedua industri turisme di Kalimantan Barat. Kondisi ini, jauh berbeda dengan keadaan Yogyakarta
atau Bali, dimana penduduknya sadar betul bahwa mereka bisa mengais devisa yang sangat besar dari
dunia pariwisata. Ke depan, menjadi tugas pemerintah lokal mengeksplorasi potensi-potensi wisata di
provinsi ini, misalnya dengan mengembangkan sarana jalan dan tempat-tempat penginapan di sekitar
Danau Sentarum hingga danau ini bisa menjadi sekaliber Danau Toba di Sumatera Utara.
3. Unsur-Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan,
antara lain sebagai berikut:
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
a) alat-alat teknologi
b) sistem ekonomi
c) keluarga
d) kekuasaan politik
76
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:


a) sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota
masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
b) organisasi ekonomi
c) alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga
adalah lembaga pendidikan utama)
d) organisasi kekuatan (politik)
d. Wujud Dan Komponen Budaya
1. Wujud Budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas,
dan artefak.
 Gagasan (Wujud Ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat
diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam
pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu
dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan
buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
 Aktivitas (Tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini
terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak,
serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat
tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati
dan didokumentasikan.
 Artefak (Karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan
karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud
kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak
bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal
mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
2. Komponen Budaya
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
 Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
 Kebudayaan Nonmaterial

77
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi


ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
3. Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan
Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
a. Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi)
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik
memproduksi, memakai, serta memelihara segala
peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam
cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat,
dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau
dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau
masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling
sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional
(disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan Foto 99. Bekerja menggunakan
fisik), yaitu: bahan tradisional hasil
1. Alat-alat produktif 2. Senjata teknologi sederhana
3. wadah 4. Alat-Alat menyalakan Api
4. makanan 5. Pakaian
6. pakaian 7. Tempat Berlindung
8. alat-alat transportasi
b. Sistem Mata Pencaharian
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-
masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
A. Berburu dan meramu
B. Beternak
C. Bercocok tanam di ladang
D. Menangkap ikan
c. Perburuan atau Berburu adalah praktik
mengejar, menangkap, atau membunuh hewan
liar untuk dimakan, rekreasi, perdagangan, atau
memanfaatkan hasil produknya (seperti kulit,
susu, gading dan lain-lain). Dalam
penggunaannya, kata ini merujuk pada
pemburuan yang sah dan sesuai dengan hukum,
sedangkan yang bertentangan dengan hukum
disebut dengan perburuan liar. Hewan yang
disebut sebagai hewan buruan biasanya berupa
mamalia berukuran sedang atau besar, atau
burung. Gambar 4. Sistem berburu.
Dikomposisikan oleh Peneliti-2011

78
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

KONSEP RUANG TRADISIONAL JAWA DALAM KONTEK KEBUDAYAAN


(J.F. Hamah Sagrim)

Kita akan mencoba mengulas misteri rumah tinggal orang Jawa, dengan penekanan pada
konsep ruang yang terjadi melalui pengetahuan budaya yang dimiliki oleh orang Jawa.
Pengetahuan budaya yang terdiri dari kepercayaan dan ritual terlihat mempunyai kaitan yang
erat dengan konsep ruang yang terjadi mulai dari orientasi ruang maupun konfigurasi ruang.
Banyak hal yang terjelaskan dan membuktikan bahwa ruang pada arsitektur rumah Jawa tidak
bebas nilai.
Dalam era globalisasi saat ini dunia kehilangan sekat batas antara negara dan kebudayaan menimbulkan
banyak persoalan kebudayaan. Akibat pertemuan antar kebudayaan maka terjadilah banyak mutasi
kebudayaan yang berakibat pada mutasi perwujudan arsitektur.
Dibalik masalah globalisasi muncul global paradoks, nilai-nilai lokal menguat dan diyakini mampu
menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Hal ini ditunjang pula dengan menguatnya
pemikiran post modernisme yang merambah segala aspek kehidupan.
Banyak wujud bentuk masa lalu diadopsi untuk dihadirkan pada masa kini dengan
reinterpretasi baru. Kehadiran arsitektur tradisional Jawa dapat dilihat dan dirasakan pada berbagai
arsitektur dengan fungsi bermacam-macam dan berbagai improvisasi. Mulai muncul berbagai keluhan dan
kerisauan di kalangan masyarakat, apakah kehadiran arsitektur tradisional
Jawa saat ini sudah sesuai dengan filosofi bangunan Jawa dan pertanyaan tersebut masih dapat
dilanjutkan: kalau sudah sesuai maka filosofi bangunan Jawa yang mana. Sebab kalau dilihat kedudukan
Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan jawa Timur sangat spesifik dan sangat luar biasa dalam sejarah
Indonesia dan sekaligus menempatkan pada posisi kunci dalam sejarah Asia Tenggara akibat ”pengalaman
ganda”. Menurut Denys Lombard,1996 Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami tumpang tindih dan
saling berpaut dua kebudayaan besar. Menurut Lombard 1996, mutasi yang pertama adalah ”Indianisasi”
dan mutasi yang kedua adalah ”Kolonialisasi Belanda”. Belum lagi antara kebudayaan Jawa pedalaman
dan kebudayaan Jawa pesisir. Data dan kodifikasi arsitektur tradisional Jawa yang terekam dengan jelas
adalah pada saat mulai ”Indianisasi” sedangkan sebelumnya sangat sulit sekali ditelusuri kebenaran
perwujudan arsitekturnya. Sangat miskin data yang ada, baik yang berupa inskripsi maupun artefak yang
tertinggal. Banyak hipotesis yang mengacu kepada gambar-gambar bangunan yang terpampang di dinding
percandian Hindu gaya Jawa Tengah. Hipotesa inipun patut dipertanyakan kebenarannya, sebab
gambar-gambar tersebut apakah merupakan bentukan yang telah hadir sebelum Hindu masuk atau pada
saat Hindu berkembang. Salah satu indikator dari akibat kuatnya ”Indianisasi” mempengaruhi Jawa-
Tengah dan Jawa Timur adalah kehadiran bentuk bangunan yang tidak mempunyai kolong (rumah
panggung). Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang dimiliki daerah tetangganya seperti Jawa Barat,
Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur yang memiliki kolong pada bangunannya.
Menurut Parmono Atmadi 1984, hal ini bisa saja akibat terpengaruh kebudayaan India yang berbentuk
bangunan percandian yang ada di India.

79
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

A. Latar Belakang Kepercayaan Dan Ritual Jawa


Kepercayaan Jawa didasarkan atas pandangan dunia Jawa yaitu keseluruhan keyakinan deskriptip
orang Jawa tentang realitas sejauh mana merupakan suatu kesatuan dari padanya manusia memberi
struktur yang bermakna kepada pengalamannya (Suseno,1984).
Magnis Suseno membedakan 4 unsur pandangan dunia Jawa yang berhubungan dengan yang Illahi
atau Adikodrati. Kesatuan dengan yang Illahi disebut Numinus yang berasal dari kata Numen artinya cahaya
Illahi atau Adikodrati.Kesatuan Numinus menunjuk pada suatu keadaan jiwa (state of mind) yang mampu
menghubungkan realitas dengan gejala-gejala Adikodrati yang dialami dengan perasaan penuh misteri,
kekaguman, takut dan cinta.
Unsur pertama adalah kesatuan numinus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati. Orang Jawa,
terutama petani di pedesaan dalam melakukan pekerjaannya sebagai petani mengenal irama alam
seperti pergantian siang dan malam, musim hujan dan musim kering yang menentukan hasil pertaniannya.
Mereka percaya ada suatu kekuatan gaib yang mengendalikan alam, kekuatan ini muncul secara jelas pada
saat-saat terjadinya bencana. Orang Jawa dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakatnya.
Masyarakat terwujud pertama-tama dalam lingkungan keluarga, kemudian tetangga, keluarga yang lebih
luas dan akhirnya masyarakat seluruh desanya. Dalam lingkungan keluarga inilah setiap individu
menemukan identitasnya dan merasa aman. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Revianto Budi
Santosa, 2000 bahwa orang Jawa begitu keluar dari rumah dan keluarganya maka dia akan merasakan ketidak
pastian dan kemungkinan berhadapan dengan halangan. Dengan ”berada dijalan” seseorang berarti
berada pada posisi tak menentu karena meninggalkan rumah, pijakan dirinya yang mapan baik secara sosial
maupun spatial. Kesatuan numinus antara alam, keluarga dengan yang Adikodrati dicapai lewat upacara-
upacara ritual. Penghormatan terhadap Dewi Sri yang dilakukan di Sentong Tengah yang terdapat pada
setiap rumah petani merupakan upaya untuk memelihara keserasian dengan kekuatan gaib yang menguasai
alam agar panenan berhasil.
Unsur yang kedua yaitu kesatuan numinus dengan kekuasaan. Dalam paham Jawa kekuasaan
adalah ungkapan energi Illahi yang tanpa bentuk, suatu kekuatan yang berada dimana- mana. Pusat kekuatan
itu ada pada raja. Konsep kerajaan jawa adalah suatu lingkaran konsentris mengelilingi Sultan sebagai pusat.
Lingkungan yang terdekat dengan sultan adalah keraton.
Lingkaran yang kedua yang mengitari keraton adalah ibukota
negara, lingkungan ketiga adalah Negaragung yang secara
harafiah berarti ibukota yang besar, lingkaran terakhir
adalah mancanegara atau negara asing (Selosoemarjan, 1962),
lihat gambar 5
1. Kraton
2. Nagara (Ibu Kota)
3. Nagara Gung (Negara agung)
4. Manca Negara (Secara Harafiah Negara
Asing)
Unsur ketiga adalah dasar numinus keakuan. Pada
dasarnya keakuan manusia manunggal dengan dasar Gambar 5. Diagram Empat Lingkaran
Illahi dari mana ia berasal, karena itu orang Jawa Konsentris Kerajaan Jawa
sepanjang hidupnya akan berusaha untuk menemukan (Selo Sumarjan, 1962)
80
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dasar Illahi, usaha untuk mencari realitas diri ini tersirat dalam istilah manunggaling kawulo lan gusti atau
mencari sangkan paraning dumadi. Pengalaman manusia Jawa dalam mencari dasar Illahi
keakuannya terbentuk menjadi rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan segala mahluk
hidup. Bagi petani pengertian rasa ini adalah suatu keadaan batin yang tenang, bebas dari ancaman
atau kekacauan.
Unsur keempat adalah kepercayaan atau kesadaran akan takdir yaitu kesadaran bahwa hidup
manusia sudah ditetapkan dan tidak bisa dihindari. Hidup atau mati, nasib buruk dan penyakit
merupakan nasib yang tidak dapat dilawan. Menentang nasib hanya akan mengacaukan keselarasan
kosmos. Setiap orang mempunyai tempat yang spesifik yang sudah ditakdirkan, tempat ini ditentukan
secara jelas melalui kelahiran, kedudukan sosial dan lingkungan geografis. Pemenuhan kewajiban
kehidupan yang spesifik sesuai dengan tempatnya masing-masing akan mencegah konflik, sehingga
dicapai ketentraman batin dan keseimbangan dalam masyarakat serta kosmos. Konsep di atas
merupakan konsep yang mencerminkan sikap orang jawa terhadap dunia, manusia wajib memperindah
dunia dengan tidak mengganggu keselarasannya.
B. Rumah Tinggal Orang Jawa
Mengenai asal muasal wujud rumah tinggal orang Jawa sampai saat ini masih merupakan hal
yang belum jelas karena kurangnya sumber-sumber tertulis pada jaman sebelum ”Indianisasi”.
Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608
disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya
seperti batu-batu candi. Tetapi bukan berarti rumah orang Jawa meniru bentuk candi. Bahkan beberapa
ahli menduga bahwa candi meniru bentuk rumah tertentu pada waktu itu (Hamzuri, tanpa tahun).
Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut mengingat bangunan candi di Jawa dibuat
seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa dari India dan seperti diketahui orang India
sebagai pembawa ajaran agama Hindu dan Buddha telah mempunyai pengetahuan yang cukup canggih
dalam pembuatan bangunan candi di India (Manasara dan Silpasastra). Pada relief candi Borobudur
abad VIII yang diteliti oleh Parmono Atmadi ditemui gambaran tentang bangunan rumah konstruksi
kayu yang mempunyai bentuk atap pelana, limasan dan tajug. Pada relief candi Borobudur tidak
ditemui bentuk atap Joglo (Atmadi,1979).

81
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Panggang Pe Kampung Pokok Limasan Pokok Tajug Pokok

Tajuk Lawakan Tajug Lambang Gantung

Gambar 6. Rumah Tinggal Tradisional Jawa selo sumarjan 1962


Joglo Lawakan Joglo Lambang Gantung

Gambar 6: Tipologi Bangunan Jawa (DIY)


Sumber Selo Sumarja, 1962, dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Pengertian rumah bagi orang Jawa dapat ditelusuri dari kosa kata Jawa. Menurut
Koentjaraningrat (1984) dan Santosa (2000) kata omah-omah berarti berumah tangga,
ngomahake membuat kerasan atau menjinakkan, ngomah-ngomahake menikahkan, pomahan
pekarangan rumah, pomah penghuni rumah betah menempati rumahnya.
Sebuah rumah tinggal Jawa setidak-tidaknya terdiri dari satu unit dasar yaitu omah yang terdiri
dari dua bagian, bagian dalam terdiri dari deretan sentong tengah, sentong kiri, sentong kanan dan
ruang terbuka memanjang di depan deretan sentong yang disebut dalem sedangkan bagian luar disebut
emperan seperti dijelaskan dalam gambar 7.

82
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Gambar 7. Denah Rumah Tinggal Tradisional Jawa.


Sumber Selo Sumarja, 1962.
Dikomposisikan Oleh Peneliti, 2011

Rumah tinggal yang ideal terdiri dari 2 bangunan atau bila mungkin 3, yaitu pendopo dan peringgitan,
bangunan pelengkap lainnya adalah gandok, dapur, pekiwan, lumbung dan kandang hewan, lihat
gambar 7.

83
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

C. Ruang Pada Rumah Jawa


a. Konsep Ruang
Konsep ruang dalam pandangan barat berasal dari dua konsep klasik yang bersumber pada filsafat
Yunani. Konsep yang pertama dari Aristoteles, menyatakan bahwa ruang adalah suatu medium dimana
objek materiil berada, keberadaan ruang dikaitkan dengan posisi objek materiil tersebut (konsep position-
relation). Konsep yang kedua dari Plato kemudian dikembangkan oleh Newton yaitu konsep displacement-
container yang melihat ruang sebagai wadah yang tetap, jadi walaupun objek materiil yang ada didalamnya
dapat disingkirkan atau diganti namun wadah itu tetap ada Munitz,1951). Kedua konsep tersebut mendasari
pandangan Barat yang melihat ruang dari dimensi fisiknya yaitu suatu kesatuan yang mempunyai panjang,
lebar dan tinggi atau kedalaman, dengan demikian ruang mempunyai sifat yang terukur dan pasti.

Gambar 8. Skema Denah Rumah Tinggal Tradisional Jawa, Sumber Selo Sumarjan 1962.
Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Ini dipertegas oleh Descartes dengan konsep Cartesian space yang memilah-milah ruang kedalam
bentuk-bentuk geometris seperti, kubus, bola, prisma, kerucut atau gabungan dari bentuk-bentuk gseometris
tersebut (Van de Ven, 1978). Konsep ruang barat ini banyak sekali dipakai oleh para arsitek masa kini.
Nama ruang pada rumah tinggal ”modern” mencerminkan secara jelas fungsi-fungsi untuk pemenuhan
kebutuhan fisik-biologis. Fungsi-fungsi yang mencerminkan kebutuhan sosial dan ungkapan budaya
kurang diperhatikan karena penataan ruang-ruang tersebut lebih menekankan aspek ekonomis (efisiensi)
dan teknis (Tjahjono,1989). Demikian pula dengan pembatas halaman pada rumah tinggal modern
dipergunakan pagar-pagar besi yang tinggi sehingga membuat pemisahan teritorial yang tegas sehingga
mempunyai kesan tertutup, tidak komunikatif dengan tetangga.
84
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Konsep ruang dalam rumah tinggal menurut tradisi arsitektur Jawa pada kenyataannya berbeda
dengan konsep ruang menurut tradisi Barat. Tidak ada sinonim kata ruang dalam bahasa Jawa, yang
mendekati adalah Nggon, kata kerjanya menjadi Manggon dan Panggonan berarti tempat atau Place. Jadi
bagi orang Jawa lebih tepat pengertian tempat dari pada ruang (Tjahjono,1989, Setiawan,1991).
Rumah tinggal bagi orang Jawa dengan demikian adalah tempat atau tatanan tempat, konsep ruang
geometris tidak relevan dalam pengertian rumah tinggal Jawa. Pengertian tempat lebih lanjut dapat
dilihat pada bagian-bagian rumah tinggal orang Jawa. Pada rumah induk (omah) istilah dalem dapat
diartikan sebagai keakuan orang Jawa karena kata dalem adalah kata ganti orang pertama (aku) dalam
bahasa Jawa halus. Dasar keakuan dalam pandangan dunia Jawa terletak pada kesatuan dengan Illahi
yang diupayakan sepanjang hidupnya dalam mencari sangkan paraning dumadi dengan selalu memperdalam
rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan sebagai mahluk (Magnis Suseno,1984). Sentong tengah
yang terletak dibagian Omah merupakan tempat bagi pemilik rumah untuk berhubungan dan menyatu
dengan Illahi sedangkan Pendopo merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sesama manusianya
(Priyotomo,1984). Demikianlah pengertian ruang dalam rumah tinggal Jawa ini mencakup aspek tempat,
waktu dan ritual. Rumah tinggal merupakan tempat menyatunya jagad-cilik (micro cosmos) yaitu manusia
Jawa dengan jagad-gede (macro-cosmos) yaitu alam semesta dan kekuatan gaib yang menguasainya. Bagi
orang Jawa rumah tinggalnya merupakan poros dunia (axis-mundi) dan gambaran dunia atau imago-mundi
(Eliade,1957) dan memenuhi aspek kosmos dan pusat (Tjahjono,1981), lihat gambar 9.

Skema Konsep Persatuan Ibu Pendopo pringgitan Umah


Bumi dan Bapa Langit

Gambar 9. Urutan Tingkat Kesakralan dan Cahaya Dalam Ruang (Gunawan Tjahjono, 1981)
dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

b. Orientasi Ruang
Rumah tinggal di daerah Yogyakarta dan Surakarta kebanyakan memiliki orientasi arah hadap ke
Selatan. Orientasi ini menurut tradisi bersumber pada kepercayaan terhadap Nyai Roro Kidul yang
bersemayam di Laut Selatan. Demikian juga dengan arah tidur (Wondoamiseno dan Basuki, 1986). Namun
rupanya makin jauh dari pusat keraton (kebudayaan Jawa) kebiasaan ini makin ditinggalkan, seperti yang
terjadi di daerah Somoroto, Ponorogo (Setiawan,1991). Dalam primbon Betaljemur Adammakna bab 172
dipaparkan juga cara penentuan arah rumah yang diperhitungkan berdasarkan hari pasaran kelahiran
pemilik rumah berkaitan dengan arah ke empat penjuru angin.

85
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

c. Konfigurasi Ruang
Konfigurasi ruang atau bagian-bagian rumah orang Jawa di desa membentuk tatanan tiga bagian linier
belakang. Bagian depan pendopo, di tengah peringgitan dan yang paling belakang dan terdalam adalah
dalem. Konfigurasi linier ini memungkinkan membuat rumah secara bertahap dengan bagian dalem
dibangun terlebih dahulu. Luas pendopo pada rumah tinggal orang Jawa kenyataannya cukup luas. Hal
ini terjadi karena diprediksikan dapat menampung sanak-sedulur atau kindred pada hari raya Idul Fitri
dimana semua anak cucu dan para kerabat akan datang. Selain itu pendopo mempunyai fungsi untuk
pengeringan padi. Pada konfigurai ruang rumah Jawa dikenal adanya dualisme (oposisi binair), antara luar
dan dalam, antara kiri dan kanan, antara daerah istirahat dan daerah aktivitas, antara spirit laki-laki (tempat
placenta yang biasanya diletakkan sebelah kanan) dan spirit wanita (tempat placenta yang biasanya
diletakkan pada bagian kiri), sentong kanan dan sentong kiri. Pembagian dua ini juga terjadi pula pada saat
pagelaran wayang, dimana layar diletakkan sepanjang Peringgitan, dalang dan perangkatnya di bagian
pendapa dengan penonton laki-laki sedangkan perempuan menonton dari bagian belakang (bayangannya)
dibagian Emperan rumah, lihat gambar 10.

Gambar 10. Posisi Pagelaran Wayang. Sumber Selo Sumarjan 1962.


Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011
86
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Demikian juga pada saat pernikahan dilakukan tatanan pengantin di depan sentong tengah dan para
tamu dibagi menjadi 2 bagian antara tamu laki-laki dan tamu perempuan seperti pada gambar 7.
Rupa bangunan rumah tinggal tradisional Jawa didominasi oleh bentuk atapnya. Ada 3 bentuk
dasar atap yaitu Kampung, limasan dan joglo yang disebut bucu di daerah ponorogo (Setiawan,1991).
Panggang Pe tidak termasuk dalam kategori ini karena umumnya bersifat sementara dan Tajug umumnya
untuk mesjid. Badan bangunan terdiri dari tiang-tiang kayu yang berukuran kecil antara 5 cm sampai
dengan 20 cm, berdiri bebas tanpa dinding karena itu ruangnya terbuka (pendopo). Ukuran tinggi badan
mulai dari bangunan muka lantai sampai garis atap terendah dibandingkan tinggi atap mulai dari garis atap
terendah sampai puncak atap (molo) kira-kira 1:3 sampai 5 pada atap limasan dan bucu, karena badan
bangunan pendek, terbuka dan berkesan ringan sedangkan atap menjulang tinggi, masif dan terkesan berat
maka bentuk atap menjadi dominan.
Untuk ornamentatif dekoratif, bangunan di pusat kebudayaan Jawa yaitu di keraton mempunyai
banyak ragam hias flora yang diwarnai merah, hitam, hijau, putih dan kuning keemasan sedangkan pada
daerah pinggiran kebudayaan Jawa pada umumnya rumah tinggalnya sangat sedikit sekali diberikan
ornamentatif dan dekoratif dan warna yang digunakan lebih natural. Lihat gambar. 11.

Gambar 11. Denah Rumah Pak Suratman Saat Pesta Perkawinan.


Sumber Selo Sumarjan 1962. Dikompisisikan oleh Peneliti, 2011

87
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Rumah tinggal orang Jawa selalu memperhatikan keselarasan dengan kosmosnya dalampengertian
selalu memperhatikan dan menghormati potensi-potensi tapak yang ada disekitarnya. Konsep ruang tidak
seperti yang dimiliki oleh konsep ruang barat tetapi lebih berwatak tempat (place) yang sangat dipengaruhi
oleh dimensi waktu dan ritual. Rumah Jawa juga memiliki pusat dan daerah yang ditata secara oposisi binair.
Ruang yang terjadi memiliki hirarkhi ruang yang ditata secara unik dengan menggunakan aspek pencahayaan.

88
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

TRANSISI MASYARAKAT TRADISIONAL INDONESIA DALAM BUDAYA


KONSUMTIF
(J.F.Hamah Sagrim)

Masyarakat Indonesia sekarang ini sebagai masyarakat yang sedang berada dalam keadaan
transisional. Mereka sekarang sedang bergerak dari masyarakat agraris tradisional yang penuh dengan
nuansa 89ancing8989gy89c89 menuju masyarakat 89ancing89 moderen yang 89ancing8989gy89c.
Ditengah masyarakat Indonesia, warna kehidupan masyarakat, sudah terasa dalam denyut jantung
kehidupan masyarakat, walaupun corak kehidupan agraris tradisional tidak lenyap sama sekali. Dalam
89ancing8989gy keadaan Indonesia ini, dikategorikan sebagai masyarakat yang sedang bergerak dari
bentuk masyarakat yang penuh solidaritas 89ancing. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan akan
muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial. Akibatnya, kebanyakan
masyarakat Indonesia menjual barang-barang unik, seperti Jasa, hingga bangunan rumah tradisional
yang khas sebagai cagar budaya, misalnya beberapa nDalem yang dijual, mungkin untuk keperluan
tertentu yang pasti ujung-ujungnya merupakan hasil konsumtif, sehingga uang dibutuhkan untuk
memperoleh barang-barang tersebut.
Fenomena kegalauan seperti ini akan tidak berada disini dan tidak pula berada disana, tidak
dalam budaya tradisional yang sudah mulai ditinggalkannya dan tidak pula dalam budaya moderen
yang sedang diciptakannya. Oleh karena masyarakat Indonesia yang sudah banyak mengadopsi
budaya konsumtif, sehingga untuk tetap bertahan dan berpegang teguh pada kehidupan tradisional
tidak mungkin lagi, karena dianggap tidak cocok dan ketinggalan zaman, tetapi untuk
menginggalkannya secara keseluruhan juga tidak mungkin, karena model kehidupan dunia baru pun
belum begitu jelas dalam sistem gagasan masyarakat Indonesia secara jelas.
Dalam keadaan seperti itu, membuat masyarakat Indonesia cenderung untuk menmungut
89ancin-simbol budaya dunia baru yang diambil secara sepotong-sepotong dan sementara itu juga
memilih sebagai 89ancin tradisional yang ada untuk tetap dipertahankan. Kelihatannya kini
masyarakat Indonesia mengadopsi kedua sistem budaya itu secara bersama, walaupun yang diambil
umumnya hanya unsur-unsur budaya yang dipandang hanya bermanfaat guna kepentingan tertentu
saja. Unsur-unsur budaya yang diambil dan dipertahankan itu cenderung lebih banyak memuat nuansa
kebendaan (materi) dibandingkan dengan makna yang tersembunyi dibalik unsur-unsur budaya itu,
akibatnya, beberapa unsur budaya asing yang ditempat asalnya sudah dipandang sebagai sesuatu
yang sudah harus ditinggalkan, ternyata di Indonesia kemungkinan malahan menjadi bagian dari
kehidupan baru yang dijalani masyarakat.
Salah satu 89anci dari perilaku konsumtif adalah kecenderungan masyarakat tradisional Indonesia
mengkonsumsi sesuatu bukan karena mereka memang betul-betul membutuhkannya, tetapi lebih
banyak karena mereka merasa membutuhkannya. Barang yang dikonsumsi itu bukan lagi dimiliki dari
fungsi substansialnya, tetapi lebih ditekankan hanya pada makna simbolis yang melekat pada benda
itu. Disini fungsi benda itu telah berubah menjadi sesuatu yang mempunyai makna simbolis yang

89
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

mungkin berkaitan dengan status social, perasaan lebih berharga, atau sekedar terperangkap pada
budaya primer . karena itu, sering terlihat dimasyarakat Indonesia yang mana menganggap bahwa
semakin langka dan terbatas produksi suatu benda, semakin tinggi pula makna simolis yang melekat
padanya. Jadi masyarakat tradisional Indonesia kini terlihat kian sudah berpindah dari 90ancin barang
untuk menjadikan 90ancin. Diluar sadar, masyarakat tradisional Indonesia kini menjadi semakin
terjajah oleh produk Negara-negara maju itu dan semakin teriring pada perilaku konsumtif dan
tampaknya perubahan sosial budaya masyarakat tradisional indonesi cenderung kearah 90ancing90.
A. Tantangan Masa Depan
Wacana kami tentang hal ini, sudah lama telah kami amati dengan cermat bahwa memang benar,
gejala perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia yang cenderung kearah 90ancing90 itu. Ini
dapat dilihat dari pelbagai pernyataan dan informasi serta arus pergerakan arah keinginan yang
tampak kita saksikan. Kesadaran akan semakin beratnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia dimasa depan betul-betul sangat dirasakan termanya saat ini. Persaingan akan semakin berat
dengan semakin terbukanya masyarakat Indonesia terhadap pengaruh dunia luar (termasuk pengaruh
arsitekturalnya juga). Untuk itu diperlukan manusia yang antara lain mempunyai rasa percaya diri
yang tinggi, disiplin, berwawasan luas, kreatif, punya inisiatif dan prinsipil, untuk menghadapi
tantangan yang tidak ringan itu. Bangsa Indonesia harus beranjak dari posisi sebagai konsumen
menjadi produsen dengan memanfaatkan potensi 90anci (local wisdom) sebagai landasan
pergerakannya. Local wisdom tersebut diantaranya seperti Arsitektur Tradisional, Demokrasi
Kesukuan, Sistem Politik Tradisional, dll. Dari pernyataan yang didasarkan pada pengamatan kami
ini, tampak beberapa kalangan menginginkan perubahan yang demikian itu. Kecenderungan arah
perubahan kebudayaan masyarakat seperti yang dapat disaksikan sekarang ini, sudah pasti akan
menjadi kendala serius dalam upaya melanjutkan pembangunan yang sesuai dengan cita-cita
kemerdekaan bangsa. Karena itu, menjadi suatu tantangan yang tidak ringan untuk menemukan dan
meracik resep agar masyarakat Indonesia jangan sampai kebablasan dengan kecenderungan yang
sedang terjadi itu.
Dalam wujud manusia tunggal yang dapat menjawab tantangan masa depan itu, memang bukan
pekerjaan yang mudah. Diperlukan strategi untuk menjgkaji kembali secara dinamis nilai-nilai budaya
bangsa yang dapat digunakan sebagai alat untuk menghadapi tantangan masa depan. Konsep
pewarisan nilai luhur yang selama ini menjadi slogan politik kebudayaan kita, harus dikaji ulang.
Pewarisan nilai budaya harus dipahami sebagai suatu proses yang rumit dan tidak sederhana, karena
menyangkut semua dimensi dinamika kehidupan masyarakat. Patut pula untuk disadari bahwa
terdapat kendala-kendala yang membutuhkan kecermatan yang mendalam dalam proses pewarisan
nilai itu.
Kendala pertama adalah menyangkut penentuan nilai-nilai yang perlu diwariskan (trmasuk
warisan arsitektural), yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa depan.
Bangsa Indonesia yang mempunyai ratusan kelompok etnik dengan beragam kebudayaan mempunyai
system nilai budayanya sendiri-sendiri. Akan menjadi pekerjaan ruah yang tidak mudah untuk
menentukan nilai mana yang akan diwariskan.
Kedua adalah menyangkut “Agen” yang bertugas untuk mewariskan nilai-nilai luhur itu. Apakah
“agen” yang akan mewariskan nilai itu sendiri memahami benar keunggulan nilai budaya, dan
meyakinkininya. Untuk meyakininya sebagai ‘sesuatu’ yang patut untuk diwariskan. Hal ini hanya

90
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

dapat dibuktikan dari sikap dan perilaku para “agen” itu sendiri. Jika pewarisan itu hanya bersifat
petuah yang tidak pernah diwujudkan hasil yang memuaskan. Patut untuk dipahami bahwa pewarisan
nilai tidak cukup dengan retorika dan semacamnya itu. Pewarisan nilai akan lebih mudah dilakukan
jika diiringi dengan praktik kehidupan. Disinilah pentingnya pelaksanaan 91anci (low enforecement
order) dalam praktik kehidupan masyarakat, namun kecenderungan pemerintah dalam emenetapkan
91anci-hukum baru banyak menentang nilai-nilai kearifan yang sebagai budaya, seperti UU
Pornografi yang kelihatannya membuat resah masyarakat karena nyaris mencampakkan nilai-nilai
budaya itu sehingga menjadi luntur.
Ketiga, proses globalisasi yang telah kita rasakan denyutnya dalam arah kehidupan bangsa
Indonesia itu, selain telah membentuk corak budaya masyarakat yang mengarah pada gagasan yang
relative sama (Borderless), tetapi juga telah menumbuhkan gelombang perlawanan pada sebagian
masyarakat. Akan munculnya kelompok-kelompok sosial baru dengan system nilainya sendiri,
menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Hal ini menyebabkan nilai budaya yang ingin
diwariskan akan mendapat respons yang beragam pula, dan bahkan kemungkinan akan berbeda antara
satu kelompok masyarakat kepada kelompok lainnya, dan mungkin saja hal ini dapat mengganggu
keutuhan bangsa.
Tentu terdapat kendala lain yang menyertai pewarisan nilai budaya itu. Misalnya seperti
Penetapan Undang – Undang yang bertentangan atau mengarah untuk penghapusan budaya,
penetapan peraturan daera (perda) yang juga terdapat butir-butir yang di tetapkan cenderung
mengarah untuk penghapusan budaya. Hal ini bagi kami merupakan suatu diskriminasi dan
pengabaian terhadap budaya bangsa. Indonesia akan terlihat tidak memiliki sesuatu yang dikenal
“khas” yang merupakan kebanggaannya pada masa depan nanti. Kendala ini perlu menjadi agenda
untuk diperbincangkan dengan serius oleh semua pihak yang menyadari akan tantangan masa depan
yang semakin runtut dan rumit. Sebagai catatan akhir, perlu distir sebuah pepatah yang berisi nilai
budaya bangsa yang menurut kami perlu dijadikan sebagai renungan dalam upaya pewarisan nilai.
Pepatah itu mengatakan “sekali 91ancing keujian, seumur hidup orang tidak percaya”. Budaya
paternalistic yang basih tebal pada masyarakat Indonesia memerlukan keteladanan dari para
pemimpinnya, baik pemimpin di tingkat bawah maupun di tingkat puncak. Dengan keteladanan itu
unsur-unsur negative dalam perkembangan kebudayaan Indonesia kiranya dapat ditanggulangi dan
dapat diarahkan kepada budaya yang pasti untuk menyambut proses globalisasi yang telah mulai
dirasakan denyutnya dalam urat nadi kehidupan bangsa.
Dinamika perubahan nilai budaya yang sedang berlangsung secara cepat di Indonesia itu dapat
dicermati dari cerminan kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini, bahwa pelbagai sikap dan
perilaku sosial yang sedang berlangsung dalam kehidupan seiring membawa kepada kecemasan.
Praktik kehidupan yang tidak lagi merujuk kepada nilai-nilai tradisional yang selama ini dipandang
sebagai pola dasar bagi perilaku sosial telah mengalami pergeseran. Solidaritas eskalasi mobilitas
social yang semakin meningkat telah menyebabkan persentuhan antara pelbagai budaya etnik semakin
intens. Kontak sosial yang semakin meningkat antar etnik selain dapat membawa kepada
bertambahnya toleransi sosial, tetapi dapat pula menumbuhkan konflik yang dipicu oleh pertukaran
sosial (social exchange) yang tidak berjalan dengan baik. Seiring dengan itu, pelbagi fenomena sosial
juga ikut menyertai proses perubahan yang sedang berlangsung.

91
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

MODERENISASI BUDAYA BANGSA DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTURAL


(J.F.Hamah Sagrim)

A. KEBUDAYAAN
Disadari bahwa kebudayaan merupakan entitas dari kehidupan manusia sebagai totalitas
mencakup didalamnya ide-ide, gagasan, organisasi, adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni
budaya, peraturan, hukum, religi, orientasi dan lain-lain. Kebudayaan juga mencakup seluruh aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Arsitektur juga sebagai suatu aspek budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Arsitektur
memuat kaidah, gagasan, nilai, filosofi, hukum, dan religi, yang hakiki dan bertumbuh serta
berkembang dalam perilaku sosial budaya masyarakat suatu negara. Olehkarena itu, dapat kita
katakan bahwa, arsitektu mempunyai predikat luarbiasa dalam kebudayaan. Suatu bangsa atau Negara
yang bernilai budaya tinggi dapat ditemukan dalam perspektif arsitekturalnya juga.
Eropa dapat dikenal dengan arsitekturalnya, Yunani juga termasuk dikenal melalui perspektif
arsitekturalnya yang khas dengan bentuk pilar-pilar besar dan monumental. Moderenisasi kebudayaan
bangsa Eropa sudah dikenal dan sudah mengglobal dan ditemukan melalui arsitekturalnya. Sebagai
contoh, bahwa arsitektur klasik Eropa, memaksa kita untuk harus mencari, menemukan dan mengerti
tentang Eropa, baik sosial, budaya maupun religi dan politik. Demikian sebaliknya, bahwa arsitektur
Yunani, memaksa kita untuk harus mencari, menemukan dan mengenal Yunani, yaitu mengerti sosial,
budaya, politik dan religi Yunani. Arsitektur Nusantara juga menghendaki hal yang sama.
Tidak cukup dan tidak lengkap bagi seorang peneliti atau seorang pengamat dan penulis yang
mempelajari suatu bentuk arsitektur tanpa mempelajari dan mengerti karakteristik sosial, budaya,
politik dan religi bangsa tersebut. Arsitektur merupakan suatu perspektif budaya yang mana budaya
itu dapat tercerimin didalamnya. Pencerminan budaya suatu bangsa tampak dari:
1. Karakteristik budaya tersebut (termasuk karakter arsitektur)
2. Kondisi kehidupan suku bangsa (termasuk kondisi kehidupan dalam berarsitektur)
3. Kinerja atau performance Kebudayaan (termasuk berarsitektur)
4. Tampilan budaya tersebut (termasuk menampilkan aarsitektur)
a. Pemahaman Umum Perkembangan Budaya
Semakin tua umur sejarah suatu bangsa, maka semakin tua pula budayanya. Semakin tua budaya
suatu bangsa, maka dia/bangsa tersebut akan semakin arif, memiliki nilai, memiliki citra, memiliki
karsa, memiliki karya, yang tua dan patut dihormati. Bangsa-bangsa di dunia sepertinya berebutan
untuk menduduki posisi tertua. Hal ini membuat setiap suku bangsa berusaha melakukan spekulasi
sejarah untuk mempertua umur mereka.
Perkembangan sejarah kebudayaan sifatnya selalu berkembang dari waktu-kewaktu untuk
memenuhi perkembangan tuntutan kehidupan manusia serta peradaban atau dimoderenisasi kalau
digarap dengan baik. Perkembangan sejarah dan kebudayaan dipengaruhi oleh:
1. Tuntutan alamiah
92
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Saling berpengaruh
3. Penetrasi budaya
4. Penggarapan sendiri dan pihak lain
5. Fenomena alam
6. Fenomena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
7. Persaingan dan komoodifikasi
b. Perkembangan Budaya yang disengaja – Moderenisasi
1. Memiliki Sasaran
2. Memiliki landasan
3. Memiliki patron
Dalam moderenisasi, mencakup didalamnya ada landasan atau fondasinya, dan ada arah dan
tujuan yang merujuk pada kemoderengan. Dalam pencapaian moderenisasi, hal-hal yang ikut
mendukung perkembangannya yaitu didalamnya mencakup; pertama, seluruh aspek kehidupan sosial,
budaya, politik. Kedua, masing-masing bagiannya memiliki Road Map. Ketiga, sifat moderennya
tetap mempertahankan jati diri, sifat, filosofi, makna, nilai, atau watak dasarnya, keempat, semoderen-
moderennya suatu suku bangsa ia tetap dan selamanya tetap adalah suku bangsa itu. Yaitu semoderen-
moderennya Indonesia, tetaplah Indoensia.
Dalam konsep berbangsa dan bernegara, menurut pandangan kami dari perspektif arsitektur,
mengatakan bahwa suatu bangsa dalam bernegara tujuannya ingin mewujudkan cita-cita bersama dan
bersepakat menggunakan cara dan metode yang sama, yaitu dengan idiologi tertentu mereka yang
diambil dari nilai-nilai budaya mereka (termasuk didalamnya arsitektur) yang khas dan betul-betul
bermaknya.
1. Idiologi akan mewarnai segala aspek kehidupan bangsa yang berkarakter, bernilai, dan
memiliki jati diri, sehingga akan mewarnai budaya bangsa. Arsitektur termasuk khasanah
yang dijadikan sebagai idiologi bangsa.
2. Idiologi yang baik, adalah idiologi yang digali dari khasanah budaya bangsa, sehingga nilai-
nilai yang terkandung didalamnya merupakan hasil pengalaman sejarah kehidupan bangsa
tersebut yang sudah teruji.
3. Arsitektur tradisional Nusantara akan menjiwai, mewarnai budaya bangsa Indonesia.
Arsitektur tradisional Jawa akan menjiwai dan mewarnai budaya suku bangsa Jawa, yang
akan menyangkut seluruh aspek kehidupan suku bangsa dan bernegara.
4. Moderenisasi budaya bangsa praktis tidak lepas dan mestinya ditampilkan melalui nilai-nilai
arsitektur.
Bagi bangsa Indonesia, Arsitektur Nusantara Merupakan:
1. Filosofi Bangsa
2. Idiologi Negara
3. Citra, Karsa, Karya, nilai Negara
Kesemuanya itu, akan mewarnai jati diri, karakter dan seluruh kehidupan bangsa Indonesia
sehingga bangsa ini memiliki predikat kebudayaan yang tinggi.
1) Arsitektur Nusantara dipandang sebagai Filosofi bangsa yang bernuansa Arsitektural
merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, sebagai tuntutan hidup dan nilai hidup
bangsa, dan juga menjadi arah dan mekanisme secara budaya selalu yang dijiwai nilai-

93
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

nilai arsitekturalnya yang bersemangat universal, humanis, internasional, persatuan,


nasionalisme, dan lain sebagainya.
2) Arsitektu Nusantara dipandang sebagai idiologi Bangsa dengan pendekatan filosofi,
sosial budaya, dan religi. Diyakini bahwa arsitektur dapat mengantar tercapainya cita-
cita moderen, cita-cita msayarakat yang bahagia lahir batin adil dan merata. Arsitektur
secara budaya dikembangkan sesuai tuntutan perkembangan kebutuhan kehidupan dan
Negara menuju trend lingkungannya.
3) Arsitektur Nusantara dipandang sebagai citra, karya, karsa, yang mana termuat
didalam nilai citra, nilai karya, nilai diri, nilai karsa bangsa. Bisa dijadikan sebagai suatu
sumber objek pencitraan bangsa dan Negara. Tuntutan perkembangannya sebagai
mekanisme moderenisasi budaya Nusantara yang dijiwai dan diwarnai nilai-nilai
filosofi, religi, sosial budaya dan idiologi. Arsitektur merupakan landasan yang
mendasar untuk menjiwai road map dalam aspek sosial budaya suku bangsa.

B. PATRON MODERENISASI BUDAYA


Moderenisasi budaya bangsa adalah penyempurnaan nilai-nilai dan tradisi seluruh aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai tuntutan perkembangan kebutuhan kehidupan yang tidak
lepas dari orientasi dan nilai-nilai kebudayaan baik dalam kedudukannya sebagai filosofi bangsa,
sebagai idiologi Negara, sebagai dasar Negara, sebagai nilai Negara, melalui proses atau mekanisme
kehdiupan, pendidikan/pengajaran, bimbingan, atau tuntutan, pertukaran akulturasi, sosialisasi,
keteladanan, mendoktrinasi, dan lain sebagainya sebagai peraturan.
Yang perlu dilakukan dalam perilaku moderenisasi budaya ini adalah, perlu penggarapan
perkembangan sosial budaya melalui Arsitektur, atau moderenisasi budaya bangsa tersebut dimulai
dari perbaikan moral dan etika sebagai bangsa yang arif. Kemudian di re-identifikasi tentang karakter
sebagai bangsa yang unggul, menanam jati diri sebagai suatu bangsa yang bernilai melalui komponen
identitas, Jati diri, dan nilai.
Sebenarnya telah ada klaim pemahaman bahwa suku bangsa di Nusantara (Negara Indonesia),
memiliki umur sejarah yang sudah tua sehingga budayanyapun sudah sangat tua, dengan demikian
berarti moral dan etikanya sudah sangat arif. Keunggulan nilai-nilai budaya yang dimiliki cenderung
bisa menempatkan suku bangsa di Nusantara (Negara Indonesia) pada posisi terhormat diantara suku
dan bangsa lain.

94
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

ARSITEKTUR TRADISIONAL VS PERKEMBANGAN GLOBAL SEBAGAI


DOMINASI DALAM BUDAYA KAPITALISME MODEREN
(J.F. Hamah Sagrim)

Kajian terhadap globalisasi pasar bebas ini sebagai suatu gejala dominasi buday baru. Ini
menurut kami bahwa globalisasi pasar bebas merupakan suatu gejala dominasi budaya yang mana
bukan sekedar fenomena perubahan style atau fashion belaka, melainkan ini akan menjadi suatu
fenomena sejarah. Inti daripada kajian ini adalah mengungkapkan suatu transformasi sosial simbolik
dalam ruang kebudayaan dengan transformasi historis dalam model kapitalisme global. Model
kapitalime ini merupakan suatu penetrasian dan kolonisasi terhadap model-model sosial lokal
sebagai budaya dari sebuah Negara atau bangsa, dengan ketidak sadaran (unconciousness), yakni
berupa penghancuran sistem sosial budaya pra-kapitalis (termasuk penghancuran gaya aliran
arsitektur tradisional) dan kelahiran globalisasi pasar bebas sebagai budaya kaptalisme yang
mendominasi (termsuk gaya dan syle kapitalisme akan diterapkan di daerah non-kapitalisme).
Mengikuti akar tahapan perubahan momen pasar global sebagai suatu pengarahan akan dominasi
budaya kapitalisme, maka kami mencoba mengkaji dengan menganalisis sosial budaya suatu bangsa
atau Negara dengan mencoba mensejajarkannya pada pasar global yang mana merujuk pada suatu
dominasi budaya yang kapital, bahwa peralihan struktur daripada sosial budaya suatu Negara atau
bangsa akan bergantung pada cepat atau lambatnya daya cerap bangsa atau Negara itu sendiri dan
juga akan tercermin dalam perubahan kebudayaan mereka, karena terlihat bahwa hubungan ini
begitu sangat kompleks. Menurut kami, dalam era globalisasi atau pasar bebas ini, akan terjadi
ledakan kebudayaan yang sangat luarbiasa. Biasnya disegala aspek kehidupan masyarakat diseluruh
duni yang mungkin pernah disebut oleh Jameson, sebagai (dominasi budaya). Dominasi budaya ini
pada akhirnya serta merta akan memaksa dan mensubtitusikan setiap nilai-nilai budaya suatu bangsa
atau Negara tertentu untuk mengikutinya. Hal ini akan terjadi di Indonesia dan khususnya wilayah
Jawa Tengah.
Didalam globalisasi dan pasar bebas seperti begini, konsep bangsa atau Negara seperti konsep
sosial budaya mereka mengenai pembagian dan otonomi kerja dalam ruang sosial budaya bangsa atau
Negara yaitu (ruang ekonomi bangsa atau Negara, ruang budaya bangsa atau Negara, ruang politik
bangsa atau Negara) akan dilebur menjadi ruang ekonomi global, ruang budaya global, dan ruang
politik global. Inilah masa-masanya yang boleh dikatakan bahwa ruang-ruang bangsa atau Negara
akan menjadi runtuh. Yaitu ruang ekonomi bangsa atau Negara, ruang sosial, ruang budaya, dan ruang
politik bangsa atau Negara, akan diubahkan atau dilebur kedalam suatu sistem yaitu sistem
globalisasi. Salah satu persoalan utama yang perlu diperhatikan lagi, bahwa semua ini akan beralih
menjadi sesuatu yang global, termasuk didalamnya gaya arsitektur yang tradisional akan
disubtitusikan dengan gaya kapitalisme dan bentuk arsitektur global. Sebenarnya ini sudah terlihat
dengan bentuk-bentuk arsitektur eropa yang telah dikembangkan begitu banyak di Indonesia, ini
bukan sekedar arsitektural, melainkan sudah menunjukkan bahwa proses penjajahan arsitektur dan
proses dominasi budaya Eropa yang notabene sebagai Negara kapitalisme sudah diterapkan, tinggal
95
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

menunggu waktunya untuk ditingkatkan. Perlu untuk disadari bahwa, Apabila sistem sosial budaya
masyarakat Indonesia dan Negara non-kapitalisme lainnya tidak dapat mampu bersaing pada pasar
global sebagaimana Negara-negara kapitalisme, maka sudah pasti bahwa potensi besar bagi sistem
globalisasi ini sebagai suatu kekuatuan sistem yang terpuruk bagi Negara-negara non-kapitalisme itu
sendiri. Dengan kata lain bahwa sosial, budaya, ekonomi, politik yang kuat akan tetap ada dan
bersaing, tetapi yang lemah atau tidak mampu bersaing, akan hilang atau mengalami suatu
diskriminasi sosial, budaya, ekonomi dan politik besar-besaran.
Beberapa hal menurut kami yang mengakibatkan terjadinya pergeseran dan kematian sebuah
budaya bangsa adalah; (1) manusia, cenderung sebagai peniru, membuka diri, tidak ingin
mengembangkan identitasnya. (2) Politik, sebagai bentuk kekuasaan yang mendominasi. (3) Agama,
sebagai bentuk sekular yang cenderung mengarahkan manusia dengan dogmatika. (4) Ekonomi,
sebagai wakaf atau power yang mempengaruhi serta mengalahkan ideologi. Semua ini yang terutama
adalah manusianya. Segala batasan-batasan sosial, budaya, ekonomi, dan politik lokal, sebagai
produk suatu bangsa sebelumnya yang dikenal sebagai falsafah dan identitas mereka akan diterabas
dan direduksi hingga pada tahap kepunahan. Tidak ada lagi kononisasi atau institusionalisasi
akademisi terhadap produk ini. Menurut kami, pasar global sebagai budaya kapitalisme, karena
“semua produk-produk sebuah bangsa atau Negara seperti sosial, budaya, ekonomi dan politik
mereka, akan terintegrasi dalam produk-produk global”.
Pasar global sebagai dominasi budaya kapitalis ini akan memaksa segala sesuatu yang lokal
(termasuk arsitektur) untuk dilebur agar menjadi sesuatu yang global dengan tujuan untuk
disejajarkan dengan sesuatu yang global agar supaya mampu menduduki kesetaraan globalisasi
sebagai tuntutan utama sehingga mendorong budaya kapitalisme untuk berinovasi yang baru. Era
globalisasi ini akan ditandai oleh komodifikasi besar-besaran dihampir seluruh ruang kehidupan, baik
terhadap alam fisik maupun terhadap tubuh manusia juga. Dengan kata lain, dominasi globalisasi
adalah suatu dominasi budaya pasar global yang terjadi secara struktural dengan menampilkan suatu
representasi kultural kapitalisme global dan ideology kapitalisme global. Hal ini akan semakin
menarik bagi kaum kapitalisme sebagai pemain utama, sedangkan kaum non-kapitalisme akan sebagai
orang yang merasa didiskriminasikan, dan tergolong kaum yang lemah bahkan disakiti dan inilah
suatu tragedi yang memilukan. Kaum non-kapitalis ini secara sosial akan kita sebut sebagai kaum
“konsumen”.
Ada beberapa elemen-elemen baru dalam globalisasi pasar bebas nanti, yaitu:
Pertama : Akan munculnya formasi-formasi global yang baru, organisasi-organisasi yang bersifat
global, dan transglobalisasi yang mendominasi dunia dan monopoli sebagai ruang-ruang lokal dan
menjadi batas-batas tersendiri.
Kedua : Globalisasi sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam tatanan dunia kapitalisme global yang
baru dan ini tidak akan terikat pada satu Negara, tetapi akan memberikan suatu nuansa keuntungan
kepada Negara tertentu yang mana direpresentasikan dalam bentuk suatu kekuasaan dan pengaruh
yang begitu besar ketimbang suatu Negara manapun (non-kapitalis). Globalisasi ini juga akan berlaku
dalam kerja yang memungkinkan adanya eksploitasi besar-besaran yang terus berlanjut terhadap para
tenaga ahli dan pekerja dinegara-negara miskin guna mendukung kinerja modal multiglobalisasi.
Dalam hal ini akan merujuk bahwa semua akan mengarah kesana dan banyak yang tersedot oleh
aliran dunia ketiga yang sudah maju, bersamaan dengan akibat-akibat sosial yang sudah lazim
meliputi krisis buruh tradisional dan kelas elit pada skala global.
96
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

HETEROGENITAS DALAM ARSITEKTUR DAN KESEHARIAN


(J.F. Hamah Sagrim)

Diawali dengan hadirnya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, arsitektur hadir mendampingi
perkembangan manusia dulu hingga sekarang. Dimulai dari masa dimana arsitektur hadir hanya
sebagai sebuah usaha pemenuhan kebutuhan fisik hingga ke masa dimana arsitektur dapat hadir dalam
berbagai hal. Termasuk didalamnya adalah fungsi yang hanya sekadar untuk memperindah saja. Di
tiap-tiap masa tersebut, arsitektur hadir dengan karakteristik dan nilai yang berbeda. Nilai-nilai dan
karakteristik tersebut selalu berkembang seiring dengan majunya pola pikir manusia.
Arsitektur pada awalnya merupakan sebuah bentuk solusi yang bersifat lokal terhadap suatu
masalah, terutama kebutuhan akan perlindungan dan naungan dari alam. Lokal disini berarti hanya
terikat pada masalah tersebut saja. Arsitektur semacam ini (arsitektur tradisional Jawa) merupakan
sebuah hasil usaha trial and error yang dilakukan oleh manusia primitif dalam menghadapi
permasalahan pemenuhan kebutuhan dasarnya. Usaha yang dilakukan manusia ini merupakan sebuah
bentuk interaksi langsung dan mendetail antara manusia dengan masalah yang
dihadapainya.Penyelesaian yang lahir dari usaha trial and error membuat manusia menjadi mengenali
permasalahan tersebut secara mendalam dan mendetail. Hal ini dikarenakan solusi semacam ini
bersifat mendetail dari tiap aspek permasalahan tersebut, bukan secara makro, sehingga satu
permasalahan dapat memiliki banyak solusi yang kesemuanya harus diterapkan bersama-sama. Ketika
mencapai suatu masa dimana permasalahan tersebut sudah tidak dapat lagi diselesaikan dengan
rangkaian solusi tersebut, maka manusia akan kembali melakukan arsitektur trial and error untuk
menyelesaikannya. Proses ini akan terus-menerus berulang.
Arsitektur vernakular yang sifatnya sangat beragam dan unik di setiap kelompok komunitas juga
merupakan sebuah bentuk arsitektur yang lahir dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya
dan permasalahan yang dihadapinya. Berbagai macam prinsip yang terdapat dalam arsitektur
vernakular suatu daerah terbentuk dari persepsi manusia akan kepercayaan, budaya, cara hidup, gejala
alam yang mereka hadapi. Sekali lagi, arsitektur semacam ini menjadikan manusia memiliki
pemahaman yang mendasar dan mendetail terhadap suatu permasalahan.
Masa berikutnya, saat terjadi pergerakan seni dan segala nilai-nilai keindahan dan kesempurnaan,
karakteristik arsitektur kembali berubah. Manusia pada masa ini selalu memimpikan akan datangnya
kesempurnaan di masa yang akan datang. Pengharapan akan kondisi yang paling ideal untuk terjadi
dalam segala aspek kehidupan sangat besar. Segala macam utopia mendominasi pemikiran pada masa
ini. Segala imaji akan kesempurnaan yang merupakan kondisi paling ideal dari realita yang ada.
Arsitektur, sebagai salah satu komponen yang dapat mewujudkan hal itu, menjadi penuh dengan
segala macam utopia dari segi estetika. Nilai keindahan bentuk dikedepankan dan diutamakan dalam
perwujudannya. Kondisi ini menjauhkan kesadaran akan pentingnya fungsi utama dari hasil karya
arsitektur tersebut. Metode menyelesaikan suatu permasalahan dalam berarsitektur selalu dikaitkan
terhadap menghasilkan suatu keindahan bentuk yang pada akhirnya tidak melahirkan suatu keunikan
akibat faktor utopia yang mendominasi.
97
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Kemajuan pemikiran manusia dalam menghadapi sesuatu serta perkembangan teknologi turut
merubah arsitektur baik secara prinsipil maupun superficial. Perang Dunia II, penemuan mesin uap,
kemajuan industri, prinsip mass production, dan sebagainya turut menggeser perlakuan manusia
terhadap arsitektur. Arsitektur pada masa itu menjadi sebuah alat pemenuhan kebutuhan masal demi
pemulihan akibat dampak Perang Dunia II. Dengan prinsip mass production, karakteristik arsitektur
menjadi homogen dan seragam dan mengabaikan nilai keheterogenitasan manusia. Permasalahan
yang ditemui diselesaikan dengan solusi yang serupa sekalipun permasalahan tersebut adalah dua hal
yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda.
Kini berbagai macam karakter dan keheterogenitasan kembali muncul. Tiap individu dihargai dan
dinilai sebagai individu. Berbagai macam bentuk arsitektur yang dianggap terlalu arogan pada masa
sebelumnya, dengan karakter yang sangat homogen, dianalisa. Berbagai macam kebebasan dan
superioritas sebuah individu dapat diekspresikan dengan maksimal. Keinginan untuk menjadi bintang,
unik, dan monumental banyak dimiliki oleh individu. Pengulangan maupun pencampuran karakter
arsitektur pada masa lalu untuk diterapkan pada hasil karya arsitektur seorang indvidu dapat diterima
dengan baik. Tidak ada pengkategorian global yang benar-benar jelas dan nyata mengenai arsitektur
yang berlaku sekarang. Satu hal yang benar-benar merupakan kesamaan karakteristik secara global
atas arsitektur adalah adanya penghargaan atas kebebasan.

A. Keseharian dan Arsitektur


“It is for this reason we did not call the issue Architecture of the The Everyday –because that
would subsume that architecture can represent the The Everyday in a reified manner” (Wigglesworth
and Till, 1998: 9). Sarah Wigglesworth dan Jeremy Till menganggap bahwa arsitektur tidak dapat
menginterpretasikan the everyday dengan mudah dalam cara tertentu. Mereka mengkhawatirkan
sebuah tindakan pengejawantahan the everyday ke dalam hasil karya arsitektur menjadi sebuah objek
yang terfokus pada estetika. Berbeda dengan Deborah Berke, yang menganggap bahwa the everyday
dapat diejawantahkan ke dalam suatu hasil karya fisik, sekalipun architecture of the everyday tidak
dapat didefinisikan secara mutlak. “We may call the result an Architecture of The Everyday, though
an architecture of the everyday resist strict definition; any rigorous attempt at a concise delineation
will inevitably lead to contradictous” (Berke, 1997:222)
Beberapa poin yang cukup terkait dengan architecture of the everyday antara lain;
1. “An architecture of the everyday may be banal or common “(Berke, 1997:223). Di sini Berke
memberikan poin yang menyatakan karakter the everyday yang merupakan bentuk realitas
yang ada dalam keseharian, maka arsitektur ini tidak mencari keunikan dengan mencoba
menjadi luar biasa, yang mana seringkali berakhir menjadi tiruan daripada hasil yang luar
biasa sesungguhnya. Kemudian hasil arsitektur tersebut yang mungkin menjadi biasa tidak
mendikte orang untuk berpikir apa, melainkan memberikan kesempatan untuk orang
menghasilkan pemahaman mereka sendiri.
2. ”An architecture of the everyday may be crude” (Berke, 1997:223). Dalam sesuatu yang
masih mentah atau tidak diperhalus terdapat keaslian dan kesegaran. Hasil karya arsitektur
yang seperti ini jauh lebih mencerminkan keberagaman karakter yang ada.
3. ”An architecture of the everyday acknowledges domestic life” (Berke, 1997:224). Sebagai
bagian dari realita yang sangat akrab namun seringkali terabaikan, kehidupan domestic atau
kehidupan dalam suatu rumah tangga merupakan aspek yang termasuk dalam perhatian the
98
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

everyday. Kehidupan domestik merupakan sebuah bentuk elemen yang paling akrab dengan
keseharian.
Sebahagian besar arsitek terkecoh dengan kondisi yang ada. Banyak arsitek yang tidak mau atau
berhasil mengidentifikasikan the everyday life. Kebanyakan hanya mampu melihat lapisan teratas
atau imaji utopia yang dibentuk oleh sekelompok orang. Selain itu, sekarang kita hidup pada budaya
dimana pahlawan digantikan dengan selebritis, ketenaran selama lima belas menit dibayar dengan
kerja keras seumur hidup. Di era seperti ini banyak arsitek yang menghasilkan karya arsitektur dengan
memaksakan menghadirkan karakter sang arsitek ke dalamnya, sekalipun hal tersebut bertentangan
dengan kondisi realita. Semua berlomba-lomba untuk menghasilkan karya arsitektur yang
monumental dan unik sekaligus show off, meskipun sebenarnya hasil arsitektur tersebut tidak
memerlukan kondisi seperti itu.
Arsitektur vernakular yang memiliki karakteristik hasil daripada usaha trial and error manusia
dalam menyelesaikan suatu masalah merupakan satu bentuk architecture of the everyday. Tindakan
trial and error manusia awam merupakan satu bentuk usaha menyelesaikan permasalahan dengan
mendetail dan tanpa mencoba untuk menjadikannya sebagai objek aestetik. Arsitek kebanyakan
melihat suatu permasalahan dari permukaan dan secara umum tanpa memperhatikan apa realita
sesungguhnya yang terjadi. Gaya, pola pikir, dan imaji tentang utopia menghalangi pandangan arsitek
kebanyakan sehingga hasil karya yang keluar hanyalah berupa objek estetika yang tidak berarti
banyak.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, the everyday terkait dengan kehidupan domestik
karena tingkat keakraban yang dimilikinya. Ruang domestik merupakan sebuah ruang dimana
pengalaman hidup berlangsung. Segala realita di dalam kehidupan domestik merupakan sebahagian
bentuk the everyday. Organisasi ruang domestik menentukan ritual yang terjadi di dalamnya.
Sekarang ini, di Jakarta terdapat pembangunan ruang domestik dalam jumlah yang relatif banyak.
Baik ruang domestik yang terletak di daerah pusat kota maupun di daerah marginal. Tidak sedikit dari
pembangunan ruang domestik tersebut yang menggunakan jasa seorang arsitek. Arsitek diminta untuk
memanipulasi ruang-ruang domestik tersebut, agar segala macam bentuk rutinitas dan ritual dapat
dijalankan sesuai dengan kebutuhan. Bagi arsitek yang memahami the everyday sebagai sebuah
konsep dapat menggunakannya untuk menjadikan ruang domestik tersebut berhasil menjadi sebuah
karya architecture of the everyday. Pemahaman tersebut merupakan sebuah bentuk hak bagi para
arsitek untuk memanipulasi dan merubah pola hidup orang lain untuk menjadi lebih baik. Tetapi
masih tidak sedikit pula para arsitek yang masih terkecoh oleh prinsip gaya berarsitektur yang ada.
Kondisi seperti ini merupakan sebuah kemunduran yang dapat menjadikan arsitektur kembali mundur
ke masa dimana kehomogenitasan dijunjung tinggi.

B. Arsitek, Konsep ‘Everyday’ dan Desain yang Abadi


Arsitek adalah sebuah profesi yang bergerak di bidang desain, yang merancang ruang untuk dihuni
oleh manusia seperti sebuah rumah atau bahkan yang skalanya lebih besar dari itu. Di sini kaitan
manusia dan ruang ataupun manusia dengan manusia dalam ruang menjadi sangat penting. Konsep
everyday penting untuk dipahami dalam menghasilkan sebuah karya arsitektur yang lebih humanis.
Manusia dilihat sebagai penghuni, dan banyak terdapat hal-hal yang berkaitan dengannya seperti
aspek sosial, budaya, religi, dan norma-norma yang berlaku di tempat tinggalnya. Selain itu, terdapat
pemahaman-pemahaman dan perkembangan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia sebagai
99
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

penghuni. Mungkin timbul pertanyaan mengapa hal ini menjadi sangat penting. Untuk itu kita perlu
mengingat kembali tentang peruntukan dari arsitektur, yaitu ditujukan kepada manusia.
Manusia dengan akal dan pikiran serta pengaruh lingkungan dapat bertindak sebagai juri dalam
keberhasilan seorang arsitek. Seorang arsitek dikatakan berhasil apabila karyanya dapat digunakan
dengan baik oleh penghuninya, serta nyaman secara mental dan fisik bagi mereka. Dalam mencari
sebuah kenyamanan seharusnya arsitek dapat membaca sebuah skenario yang berlaku pada suatu
tempat atau konsep dari tempat tersebut. Sehingga dalam berkarya arsitek tidak menghasilkan sesuatu
yang bersifat alien di tempat tersebut yang pada akhirnya berujung pada suatu kesia-siaan. Untuk itu
perlu kita pahami everyday sebagai sebuah skenario atau konsep yang umumnya ada pada semua
tempat dengan keunikan masing-masing didalamnya.
Henri Lefebvre menjelaskan pemahaman tentang everyday dalam literatur The Everyday and
Everydayness sebagai berikut, “...the everyday can therefore be defined as a set of functions which
connect and join together systems that might appear to be distinct thus define” (Lefebvre, 1997). Ini
berarti fungsi yang terhubung dan tergabung dalam menciptakan sebuah sistem menjadi penting untuk
dapat dibedakan dan pada akhirnya dapat didefinisikan untuk menjadi acuan dalam merancang.
”… the everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders
consumption and where consumption is manipulated by producers: not by “workers,” but by manager
and owners of the means of production ( intellectual, instrumental, scientific). The everyday is
therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated,
the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means
functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the
bureaucratic society of controlled consumerism is erected.” (Lefebvre, 1997)
Dengan demikian maka everyday adalah sebuah produk yang menimbulkan bentuk konsumsi yang
dimanipulasi. Everyday terkait pula dengan aspek intelektual yang berkaitan dengan perkembangan
pengetahuan dan pemahaman manusia. Sehingga everyday dapat menjadi kondisi yang sangat
universal maupun sebaliknya, yaitu kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi
everyday tersebut.
“The everyday is therefore a concept .The everyday, established and consolidated, remain a sole
surviving common sense referent and point of reference “intellectual,” on the other hand, sees their
systems reference elsewhere: in language and discourse, or sometimes in a political party. The
proposition here is to decode the modern world, bloody riddle, according to the everyday” (Lefebvre,
1997)
Jelaslah bahwa bahwa everyday adalah sebuah konsep yang sangat berkaitan dengan intelektual,
bahasa dan percakapan. Masalah yang harus dihadapi adalah bagaimana mempelajari arti dari sebuah
kode yang tidak dapat langsung dipahami secara kasat mata karena tidak dapat dijelaskan secara
langsung oleh logika. Karena terdapat kaitan yang erat antara perkembangan pengetahuan dan
pemahaman maka terjadi kebingungan atau jarak antara pihak yang menjalankan konsep everyday
dengan orang asing yang melihatnya. Bisa jadi kita sebagai arsitek adalah orang asing itu, sehingga
perlu memahami pengetahuan yang berlaku.
“The concept of everydayness does not therefore designate a system, but rather a denominator
common to existing systems including judicial, contractual, pedagogical, fiscal, and police systems”
(Lefebvre, 1997). Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa konsep everydayness bertindak sebagai
bentuk pembagi yang umum bagi suatu sistem seperti hukum, pengetahuan dan keuangan yang
100
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

kemudian menyusun sistem secara keseluruhan. Alangkah baiknya jika kita dapat melihat pembagian
tersebut sehingga konsep everydayness dapat lebih jelas.
“… the concept of the everyday illuminates the past” (Lefebvre, 1997). Everyday life bersifat
‘sangat sekarang’, namun tak luput dari masa lalu .Yang ada sekarang adalah kelanjutan dari masa
lalu. Jika kita dapat mengetahui masa lalu maka akan sangat membantu dalam merunut ke masa
sekarang dan berguna dalam mengambil keputusan desain. “Everyday life has always existed, even if
in ways vastly different from our own”(Lefebvre, 1997). Dengan demikian mutlak perlu disadari untuk
tidak mengabaikan keberadaan dari everyday life.
“The character of the everyday that always been repetitive and veiled by obsession and fear… The
cyclical, which dominates in nature and the linear, which dominates in processes known as “
rational.” The everyday implies on the one hand cycles, nights and days, seasons and harvests,
activity and rest , hunger and satisfaction, desire and its fulfilment, life and death, and it implies on
the other hand the repetitive gestures work and consumption” (Lefebvre, 1997).
Dalam eksistensi everyday terdapat pengulangan yang terselubungi oleh obsesi dan ketakutan.
Umumnya disebut sebagai budaya atau sesuatu yang pada akhirnya membudaya. Kesulitan yang akan
dialami oleh arsitek adalah ketidakcocokan antara repetisi yang kita(arsitek) alami dan yang mereka
(klien yang bersangkutan) alami. Hal ini mengakibatkan perbedaan pada pemikiran rasional dengan
mereka yang pada akhirnya dapat berbuah pada kebingungan atau kecenderungan untuk mengabaikan.
Di sinilah kita perlu memiliki sebuah tindakan yang tepat untuk mengambil keputusan yang tidak
mengabaikan kepentingan penghuni.
Dalam literature Thoughts on The Everyday, Deborah Berke mengemukakan beberapa poin pada
arsitektur everyday yang dapat membawa kita pada sebuah kontradiksi. Arsitektur everyday mungkin
umum dan tanpa nama, biasa-biasa saja atau cukup biasa, tanpa sadar, kasar, dapat dirasakan, vulgar
(bertentangan dengan tanpa nama), mengakui kehidupan domestik (yang sifatnya personal sehingga
dapat menjadi kesulitan bagi seorang arsitek). Arsitektur everyday juga mengambil nilai–nilai dan
simbol yang bersifat kolektif. Program dan fungsi menjadi hal yang mutlak direspon oleh arsitektur
everyday.
Hal lain yang perlu dipahami adalah hal-hal dalam arsitektur everyday yang disebutkan oleh
Steven Harris. “Potential site for an architecture of the everyday begin with the body secretive and
intimate, it is marked by routine, the repetitive, and the cyclical; as the locus of desire, it is often
home to the transgressive the perverse, and the abject” (Harris, 1997). Maka everyday merupakan
sesuatu yang penting tapi tidak secara vulgar terungkap. Everyday berkaitan dengan raga dan
keintiman yang ditandai oleh perulangan dan perputaran serta menjadi tempat dari segala keinginan
yang saling bertentangan. Hal ini penting untuk kita ketahui dan pertimbangkan dalam pengambilan
keputusan.
Selain itu, Steven Harris juga membahas mengenai isu domesticity dan rutinitas yang dilakukan,
“…by documenting the private, ordinary realm of the everyday lives of purportedly extra-ordinary
people- homosexuals…” Isu mengenai rutinitas domestik perlu kita ketahui sebagai bagian dari
pemahaman konsep everyday, yang sudah menjadi hal yang umum pada konteks tertentu tapi
mungkin tidak wajar bagi kita.
Contoh kasus dari isu ini dapat dilihat terjadi di daerah Kelapa Dua, Depok. Kehidupan penghuni
domestiknya taat beragama dan cenderung fanatik Islam, sehingga tak ada tempat kesenian wayang
ataupun teater yang menggabungkan wanita dan laki-laki, karena dianggap haram. Jika ada seorang
101
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

arsitek yang tiba-tiba membangun sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman di tempat tersebut,
tentunya tidak akan mendapat respon baik dan cenderung menimbulkan tindakan anarkis. Sehingga,
dapat disimpulkan bahwa rutinitas domestik juga berkaitan dengan pemahaman orang- orang yang
menghuni tempat tersebut. Hal ini menjadi sangat penting untuk kita soroti.
Dalam memancing pemahaman masyarakat di suatu daerah dapat dilakukan pendekatan seperti
dalam pameran tentang Ugly and Ordinary. Deborah Fausch menjelaskan dalam esainya mengenai
pameran tersebut “…traces the debate among often contradictory uses of the term everyday and its
relationship to ideas of vernacular, populist, and nominally democratic architecture” (Fausch, 1997).
Pameran bertopik Ugly and Ordinary tersebut sangat membantu dalam mengetahui ataupun
mensosialisasikan pemahaman manusia tentang sesuatu. Dari situlah kita dapat mengukur pemahaman
yang ada, mempertimbangkan dan mengambil keputusan.
Keputusan menjadi batas dari semua yang ada. Untuk itu kita sebagai seorang arsitek harus
mampu membaca, memprediksi kemudian membuat keputusan yang berakhir pada tindakan sebuah
desain. Desain yang baik selalu mengacu pada kehidupan manusia yang hendak diwadahi. Seperti
menurut Berke, ”What should architect do instead? A simple and direct responses acknowledge the
needs of the many rather than few address diversity of class, race, culture, and gender; without
allegiance to a priori architectural styles or formulas, and with concern for program and
construction…” (Berke, 1997).
Dalam uraian Berke, tindakan yang baik bersifat sederhana, langsung dan menyoroti pada
kebutuhan sehingga program dan konstruksi menjadi terfokus. Menurut saya, selain itu juga tidak
melupakan bekal-bekal pengetahuan sosial, budaya dan aspek manusia lainnya yang dapat menjadi
pertimbangan. Tindakan yang tepat untuk diambil adalah menggunakan metode partisipasi, menjadi
cara yang baik dalam menghasilkan sebuah karya yang dekat dengan penghuni dan lebih humanis.
Konsep everyday yang ada di Indonesia diantaranya
adalah; Jogja Window, Alun-Alun Jogjakarta, alun-alun
Bandung, Taman Hiburan Rakyat di Surabaya, Taman Mini
Indonesia Indah di Jakarta, Taman Hiburan Rakyat di
Kabupaten Sorong Papua, Taman Imbi di Jayapura Papua
dan THR di Kabupaten/Kota lain di Indoensia ini. Dalam
pengamatan konsep every day kami, bahwa kota-kota di
Indonesia yang memiliki alun-alun dan Taman Hiburan
Rakyat (THR) adalah kota yang hidup, kota yang selalu
senyum, kota yang selalu ceriah, masyarakatnya semakin Foto 100. Alun-Alun Yogyakarta.
mencintai kota tersebut, penduduk semakin betah tinggal – Sumber data Peneliti 2011
disana, dan juga bisa saja penduduk yang berada di kota-kota
tersebut sangat jarang depresi.
Contoh yang ada di Negara lain adalah seperi sebuah karya dari arsitek Diebedo Francis Kere,
yaitu Gando Primary School yang berlokasi di Gando Village, Burkina Faso. Sang arsitek memiliki
misi terhadap pendidikan. Dia merupakan orang asli Gando, dan satu-satunya orang yang bersekolah
ke keluar, dan melihat bahwa pendidikan di daerah asalnya kurang baik. Arsitek tersebut ingin agar
anak-anak di daerah tersebut memiliki pendidikan yang lebih baik darinya. Dalam proses
perancangan, arsitek tersebut menggunakan sistem partisipasi yang melibatkan penduduk di berbagai
aspek pembangunan hingga menggunakan material dari pengrajin lokal.
102
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Foto : 101. Gando Primary School. Sumber www.cityday.com- dikomposisikan oleh


penelti 2011
Diabedo Francis Kere Sempat terjadi perbedaan pendapat karena kalangan European
menyarankan agar masyarakat Afrika tetap hidup dalam skala kecil dengan menggunakan gubuk dari
tanah liat yang gelap, tapi penghuni merasa tidak terima dan memperlakukan tanah liat masih dengan
keterbelakangan pengetahuan mereka. Hujan kemudian membuktikan kekuatan batu bata dari desain
sang arsitek yang menggunakan pengetahuannya tahan terhadap cuaca. Akhirnya, penduduk yang
semula kecewa dengan desainnya pada akhirnya menghargai. Sehingga desain yang awalnya
diperuntukan untuk 120 anak, sekarang mewadahi 350 murid dengan 150 orang lagi dalam waiting
list. Penghuni yang dulunya hidup berpindah-pindah dan menjauhkan diri dari pendidikan formal,
akhirnya memasukan anaknya ke sekolah ini.

Foto : 102. Gando Primary School. Sumber www. Cityday.com. dikomposisikan oleh
peneliti 2011
Diabedo Francis Kere Sang arsitek memiliki pemahaman everyday dan misi untuk memenuhi
kebutuhan yang belum ada di daerah tersebut. Dengan pendekatan partisipasi, pemahaman penghuni
menjadi bertambah. Terlihat dari adanya perubahan pada keluarga nomaden yang sebelumnya tidak
peduli dengan kehidupan pendidikan formal namun sekarang memasukkan anaknya ke sekolah
tersebut sehingga misi arsitek tercapai. Cara partisipasi ini efektif dalam mendapatkan pengetahuan
everyday di suatu tempat sehingga misi arsitek dapat tercapai. Tentunya pendekatan harus dilakukan
dengan baik. Tatkala muncul perbedaan ataupun keinginan penghuni yang seringkali terasa

103
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

berlebihan, sebenarnya itu adalah salah satu wujud dari konsep everyday yang sangat personal.
Alangkah baiknya apabila hal ini ditanggapi dengan bijaksana.

Foto : 103. Play – Pump, Trevor Field. Sumber, www.cityday.com. Dikomposisikan oleh peneliti
2011

Salah satu contoh lain adalah sebuah penyelesaian yang pintar dalam melibatkan body dan
intimate pada desain Play-Pump di Afrika Selatan oleh Trevor Field. Desainnya mampu membaca
potensi site yang ada. Anak-anak sebagai body dengan permainan
yang bersifat akrab atau intimate, membuat desain ini sangat dekat dengan mereka.
Sambil bermain merry go round air terpompa ke menara air.
Dari uraian dan beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan arsitek dalam
memahami konsep everyday dan melakukan tindakan dengan mengacu pada hal tersebut akan
menghasilkan sebuah desain yang abadi.

104
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

KERAGAMAN PERSEPSI TERHADAP ARSITEKTUR


(J.F. Hamah Sagrim)

Arsitektur merupakan kata yang familiar bagi masyarakat. Namun apakah masyarakat paham
apa yang disebut arsitektur? Dan sejauh mana pemahaman mereka mengenai arsitektur? Pertanyaan-
pertanyaan tesebut memang bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Tulisan ini pun tidak akan
benar-benar menjawab semua hal tersebut. Tulisan ini akan lebih banyak membahas mengenai
perbedaan pandangan yang ada di masyarakat mengenai pemahaman mereka tentang arsitektur.
Sebelum sampai ke pembahasan mengenai arsitektur itu sendiri, saya akan sedikit membahas
mengenai asal mula arsitektur. Dari sumber yang saya baca, asal mula arsitektur dapat dipahami
dengan baik bila orang memilih pandangan yang lebih luas dan meninjau faktor-faktor sosial budaya,
dalam arti seluas-luasnya, lebih penting dari iklim, teknologi, bahan-bahan dan ekonomi (Catanese &
Snyder, 1991). Rapoport (dalam Catanese & Snyder, 1991) juga mengungkapkan bahwa arsitektur
bermula sebagai tempat bernaung. Oleh karena itu banyak anggapan di masyarakat bahwa arsitektur
adalah sesuatu yang berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal.
Dalam buku itu pun Rapoport mengungkapkan bahwa arsitektur telah ada sebelum arsitek
pertama, yang biasa dianggap sebagai perancang piramida berbentuk tangga di Mesir. Dari
penjelasannya dapat diambil kesimpulan bahwa pada awalnya arsitektur memang lebih terkait kepada
bangunan, terutama bangunan untuk tempat tinggal yang masih banyak dipengaruhi oleh adat,
sehingga pembuatannya banyak memasukkan unsur adat. Kemudian dengan semakin majunya zaman,
maka hasil karya arsitektur semakin bermacam-macam bentuknya. Dan cakupannya pun semakin
lebih luas, tidak hanya pada bangunan saja. Pendefinisian mengenai arsitektur pun akhirnya semakin
kompleks.
Dalam mendefinisikan arsitektur, memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Sudah
banyak buku yang membahas mengenai topik tersebut dan sudah banyak pula perdebatan yang
dilakukan untuk membahasnya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menjawab dengan pasti what is
architecture? Hal tersebut disebabkan karena begitu kompleksnya arsitektur. Berikut ini beberapa
definisi mengenai architectur dari beberapa acuan:
Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture), berarti seni dan ilmu membangun bangunan.
Menurut asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan techton = tukang, maka
architecture adalah karya kepala tukang. Arsitektur dapat pula diartikan sebagai suatu pengungkapan
hasrat ke dalam suatu media yang mengandung keindahan.
Menurut kami, kata arsitektur mempunyai pengertian lain dengan dua kata yang tidak begitu
berbeda pula, yaitu: arch = Seni. Esensi lain yang tersirat dalam makna Seni adalah; Budaya, Filosofi,
Makna, Kaidah dan Nilai. dan techture = Warna. Esensi lain yang tersirat pada makna Warna
adalah; Fariasi, Aliran, Bentuk, Makna, Nilai dan wujud.
Menurut O’Gorman (1997) dalam ABC of Architecture, arsitektur lebih dari sekedar suatu
pelindung. Arsitektur bisa jadi merupakan suatu wujud seni, namun memiliki perbedaan, yaitu
arsitektur menggunakan seni sebagai sesuatu yang penting untuk digunakan sebagai interior.
Menurut Le Corbusier: ”architecture is the masterly, correct and magnificient play of masses
seen in light. Architecture with a capital A was an emotional and aesthetic experience”. Beberapa
105
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

definisi arsitektur di atas menunjukkan bahwa ada banyak pendapat yang berbeda mengenai
pengertian arsitektur. Pendefinisian itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung
di bidang arsitektur saja. Masyarakat awam yang mengalami hasil dari arsitektur itu pun memiliki
pemahaman sendiri mengenai arsitektur.
Pada masyarakat awam, mereka lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan
dengan merancang bangunan. Oleh karena itu seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan
bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya saja masih belum
tepat, karena arsitektur mencakup banyak hal tidak hanya merancang bangunan. Dan arsitektur pun
dapat dimanifestasikan dalam berbagai hal, seperti arsitektur sebagai sebuah simbol, arsitektur sebagai
sebuah ruang, dan sebagainya. Akan sulit memang bagi mereka untuk dapat memahami arsitektur
dengan benar-benar tepat, karena seperti yang saya ungkapkan pada paragraf sebelumnya, arsitektur
merupakan sesuatu yang kompleks. Bahkan bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur
pun belum tentu dapat mendefinisikan arsitektur dengan tepat, meskipun mungkin mereka sudah lama
berkecimpung di bidang tersebut.
Bagi orang yang berkecimpung di bidang arsitektur umumnya pemahaman mereka mengenai
arsitektur berbeda dengan masyarakat awam. Mereka pun umumnya lebih dapat memandang
arsitektur secara luas dan lebih terbuka. Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa arsitektur
merupakan bagian dari kehidupan, yang mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan
dekat dengan manusia. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai konsep Architectural Everyday. Dan
karena arsitektur berhubungan dengan yang ada di sekitar dan dekat dengan kehidupan manusia, maka
arsitektur berhubungan pula dengan ruang dan perasaan. Oleh karena itu arsitektur tidak selalu hanya
bangunan, apa pun bisa saja merupakan suatu bentuk arsitektur, contohnya musik. Mungkin bagi
masyarakat awam akan heran bila mendengar hal tersebut. Mereka mungkin akan bertanya, ”mengapa
musik bisa menjadi bagian dari arsitektur?”
Untuk menjawab hal tersebut, Rasmussen (1964) dalam Experiencing Architecture
mengemukakan bahwa arsitektur bukan hanya yang dapat dilihat dan diraba saja, yang didengar dan
dirasa pun merupakan bagian dari arsitektur. Melalui pendengaran kita dapat menggambarkan sesuatu
yang berhubungan dengan bentuk dan material. Pendengaran pun dapat mempengaruhi perasaan
seseorang. Pada musik, di dalamnya ada irama yang dapat membawa suasana hati seseorang. Dan
dengan mendengarkan irama tersebut muncul interpretasi yang mungkin akan berbeda antara orang
yang satu dengan yang lain. Interpretasi itu secara tidak langsung akan mengarah ke suatu kualitas
ruang. Meskipun hasil interpretasi tersebut bersifat maya, namun jika sudah dapat
menginterpretasikan sebuah kualitas ruang , berarti sebenarnya secara tidak sadar kita sudah
membentuk sebuah ruang di alam bawah sadar kita. Hal itu sama seperti arsitektur pada bangunan
yang real, yang di dalamnya ada ruang dan memiliki kualitas ruang. Maka dari itu musik juga
merupakan bagian dari arsitektur.
Selain musik, masih banyak hal lain di sekitar kita yang merupakan bagian dari arsitektur, baik
yang sifatnya maya maupun nyata. Namun Paul Shepheard (1999), mengungkapkan bahwa
architecture is not everything, Ia mengatakan, “So when I say architecture is not everything. I mean
that there are other things in life and simultaneously. I mean that there are things that are not
architecture, but which fit round it so closely that they help to show it is“.
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa di sekitar kita ada yang merupakan arsitektur ada
pula yang bukan. Dan keduanya berada bersamaan, sehingga seringkali kita sulit untuk membedakan
106
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

antara keduanya. Contohnya rambu lalu lintas berupa penunjuk jalan. Apakah itu bentuk arsitektur
atau bukan? Tentu akan ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, karena memang tidak ada
ketentuan khusus dan pasti antara keduanya.
Pada masyarakat awam, umumnya mereka menganggap rambu tersebut bukan bentuk arsitektur.
Namun tidak menutup kemungkinan orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur pun ada
yang berpendapat demikian. Mereka umumya menganggap bahwa rambu yang merupakan sebuah
tanda hanyalah berarti sebagai sebuah tanda biasa. Namun, bagi beberapa orang lain mereka tidak
setuju dengan pendapat tersebut. Menurut mereka tanda merupakan bagian dari arsitektur, maka dari
itu disebut sebagai bentuk arsitektur. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Derrida
pembahasannya mengenai deconstruction, yang lebih menyangkut pembahasan mengenai text.
Menurutnya, text (tanda) bukan merupakan instansi independen, setiap tanda menunjuk pada tanda-
tanda lain. Dan keberadaan tanda berhubungan dengan ada dan hadirnya sesuatu. Dalam konteks ini,
tanda tersebut adalah rambu yang menunjuk kepada keberadaaan yang lain, yang akhirnya akan
membentuk suatu jaringan. Dan hal tersebut merupakan bagian dari arsitektur, karena dalam arsitektur
pun tidak ada sesuatu yang bisa berdiri sendiri, semuanya saling berhubungan, bahkan dapat
membentuk sebuah jaringan.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, arsitektur berhubungan dengan sesuatu yang ada di sekitar
manusia dan erat kaitannya dengan kehidupan manusia, baik maya maupun nyata. Dan terkadang, kita
sulit untuk dapat membedakannya. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur tidak bisa dilepaskan
dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wigglesworth
dan Till (1998), “issue of Architectural Design attempts to capture the fragility of that distorted
reflection, where image and reality blur”. Lebih lanjut Wigglesworth dan Till juga mengungkapkan :
“we explicitly acknowledge the everyday as a productive context for the making, occupation, and
criticism of architecture”.
Sesuatu yang merupakan suatu bentuk arsitektur pun bisa jadi merupakan sesuatu yang tidak
kita sadari, tapi dekat dengan kehidupan kita, contohnya mengenai ugly and beauty. Banyak diantara
kita yang menganggap kedua hal tersebut sebagai suatu keadaan yang memang ada dalam kehidupan,
tapi bukan sebagai bentuk arsitektur. Ternyata pandangan mereka salah, kedua hal tersebut merupakan
bagian dari arsitektur, tepatnya lebih kepada sense. Meskipun kedua hal tersebut sifatnya relatif,
namun dalam arsitektur rasa akan sesuatu sangat penting artinya. Terutama bila hal tersebut
berhubungan dengan sesuatu yang akan dihasilkan oleh seorang arsitek.
Dari semua pembahasan di atas menunjukkan bahwa arsitektur merupakan sesuatu yang
kompleks, mulai dari asal mulanya sampai dengan definisinya. Dan dalam arsitektur subjektifitas
memang menjadi sesuatu yang sering terjadi. Bahkan dalam pendefinisian mengenai arsitektur itu
sendiri pun pandangan subjektif dari tiap orang menjadi penting, maka dari itu sulit untuk dapat
benar-benar mendefinsikan arsitektur. Dan seperti yang sudah dijelaskan juga, arsitektur memang
memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan kehidupan manusia. Dan hal tersebut jarang disadari
oleh kita, sehingga wajar jika banyak yang beranggapan bahwa arsitektur hanya sekedar merancang
bangunan, sementara di luar itu bukan merupakan bentuk arsitektur. Oleh karena itu kita perlu
berpandangan terbuka jika ingin memahami arsitektur dengan baik.
Menurut kami, arsitektur merupakan intepretasi akal sadar manusia tentang kenyamanan.
Manusia mulai menciptakan arsitek baginya sebagai tempat bernaung yang memberikan kenyamanan.
Dalam berbagai macam persepsi tentang arsitektur, kami melihat arsitektur menurut pandangan lain
107
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

bahwa, arsitektur itu tergolong sebagai sesuatu yang rasional dan Empiris. Berangkat dari kedua
pandangan ini sehingga kami coba menspekulasi Teori Rasionalisme dan Teori Empirisme menjadi
Teori Rasionansi Arsitektur dan Teori Empirisme Arsitektur dalam mempelajari Arsitektur. Kedua
Teori yang dispekulasi tersebut, memiliki pandangan yang sesuai dan pasti untuk dipergunakan
sebagai bagian daripada teori arsitektur.
Kedua Teori spekulasi ini, berpandangan bahwa, arsitektur sebagai tempat atau ruang yang
diciptakan bagi ketenangan, kenyamanan, dan strategi, Menurut Rasionansi Arsitektur. Sedangkan
Empirisme Arsitektur berpandangan bahwa, Pemikiran tentang arsitektur tidak dibawa oleh manusia
semenjak lahir, melainkan melalui proses hidup sebagai pengalaman. Kita akan melihat uraian kedua
Teori Spekulatif ini secara bersama.
1. Rasionansi Arsitektur
Rasionansi Arsitektur. Merupakan teori spekulatif dari pemikiran rasionalisme, yang
sengaja diusulkan sebagai suatu teori baru. Bahwa arsitektur merupakan gerakan rasionalis, yang
dapat kita jadikan sebagai suatu dokrtin yang menyatakan bahwa suatu bentuk arsitektur haruslah
ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Oleh karena itu,
kami memberikan predikat namanya dengan Rasionansi Arsitektur. Nama tersebut sesuai dengan
Predikat Pemikirannya, yaitu bahwa Rasionansi Arsitektur mempunyai kemiriban dari segi
ideologi dan tujuan. Dalam hal pemikiran Rasional, arsitektur bertujuan sebagai sebuah wahana
bagi kehidupan, baik kelompok maupun tunggal, dan pemikiran ini cukup beralasan logis.
Rasionansi Arsitektur mengatakan bahwa, arsitektur sebagai tempat atau ruang yang
diciptakan bagi ketenangan, kenyamanan, dan strategi. Pendapat lain daripada Aliran pemikiran
Rasionansi Arsitektur bahwa, arsitektur tidak memilih manusia, namun sebaliknya, bahwa yang
memilih dan menciptakan arsitektur adalah Manusia. Rasionansi Arsitektur tidak mengklaim
bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Karena, Arsitektur
dapat diterapkan secara lebih umum dan lebih khusus. Tergantung yang membutuhkannya.
Teori Rasionansi Arsitektur ini dapat dijadikan sebagai teori arsitektur dalam terapan umum
dan terapan khusus dalam berarsitektur. Mengapa demikian? Karena Teori Rasionansi Arsitektur
mengatakan bahwa, arsitektur tidak dibutuhkan hanya sekedar sebagai tempat tinggal, melainkan
arsitektur sebagai Nilai, Kaidah, dan Simbol (simbol Kejayaan bangsa, Simbol Kejayaan Negara,
simbol Kejayaan suku, simbol agama, simbol adat istiadat, dan lain sebagainya), sehingga aliran
teori Rasionansi Arsitektur menganggap, segala sesuatu itu memiliki ide dan membutuhkan
kenyamanan. Rasionansi Arsitektur juga mengatakan bahwa, Arsitektur tidak sebagai sesuatu
yang umum saja, tetapi juga sebagai sesuatu yang pribadi, yaitu arsitektur sebagai nilai individu,
Kaidah individu, simbol indidvidu, (simbol kemampuan seseorang, simbol kebesaran seseorang,
arsitektur menjadi sebab stratifikasi. dll) karena Teori Rasionansi Arsitektur menempatkan
dirinya pada posisi yang holistik juga khusus, sehingga ia dapat diterapkan secara umum dan
khusus. oleh karenanya, Teori Rasionansi Arsitektur sebagai sesuatu yang pemikirannya
berkaitan dengan Manusia secara umum, perorangan (Individu), Kelompok dan juga berkaitan
dengan objek kaku seperti Gedung, Kota, Jalan, Pelabuhan. Dll. Inilah pemikiran daripada Teori
Rasionansi Arsitektur yang coba kami ketengahkan dari spekulasi Pemikiran Rasionalisme untuk
dipakai sebagai suatu teori dalam berarsitektur.

108
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

2. Empirisme Arsitektur.
Empirisme Arsitektur. Merupakan suatu teori baru yang diusulkan sebagai aliran dalam
pemikiran berarsitektur. Teori ini menganut pemikiran Empiris, yang mana Teori ini menyatakan
bahwa, semua pengetahuan tentang arsitektur itu berasal dari pengalaman manusia. Pemikiran
tentang arsitektur tidak dibawa oleh manusia semenjak lahir, melainkan melalui proses hidup
sebagai pengalaman. Dengan pemikiran demikian, maka predikat nama daripada Teori ini disebut
Teori Empirisme Arsitektur.
Berangkat dari Spekulasi pemikiran empirisme, sehingga muncullah teori Empirisme
Arsitektur ini. Teori Empirisme Arsitektur berpendapat bahwa, manusia ketika melakukan segala
sesuatu yang berkaitan dengan arsitektur, mereka terlebih dahulu mendapatkan inspirasi dari
hidup sebagai suatu pengalaman yang mendorong pemikiran mereka untuk berencana, bergerak,
mendesain, dan membuktikan semua rencana itu secara nyata. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa, arsitektur merupakan sesuatu yang lahir dari pengalaman empirik. Inilah
aliran utama dalam pemikiran Teori Empirisme Arsitektur yang coba kami ketengahkan dari
spekulasi teori Empirisme untuk dijadikan sebagai sebuah teori dalam berarsitektur.
Walaupun kelihatannya pemikiran kedua Teori ini sebagai spekulasi Teori, namun keduanya
memiliki nilai aksiomatika, yang mana terdapat arah pemikiran dan pandangan penting dalam
memaknai dan membaca serta mempelajari arsitektur secara beralasan dan logis.
Disadari bahwa, betapa pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktik. Kita tidak boleh
terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Menurut Kami:
"Praktik dan teori adalah Pangkal arsitektur. Bukti arsitektur sebagai hasil elaborasi pemikiran
dan kreasi. Didalam berpikir dan berkreasi, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan kreasi, pertanyaan-pertanyaan itu lalu dijawab oleh pemikiran. Ketika persoalan itu dapat
diselesaikan, maka merupakan suatu pengalaman dalam berkreasi. Dengan demikian maka
pemikiran tersebut akan tetap dipertahankan sebagai jalan atau pola utama dalam berkreasi.
Pemikiran ini akhirnya dijadikan sebagai suatu teori. Dengan demikian bahwa, arsitektur atau
segala perilaku dan kreasi manusia, merupakan hasil dari teori dan praktik. Tanpa teori praktik
tidak berjalan dengan sempurna, begitupun sebaliknya bahwa tanpa praktik, teori tidak berguna.
Praktik adalah tindaklanjut daripada khayalan, Rencana, Rancangan, Angan-angan, yang
berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau penkerjaannya dengan tangan, dalam
proses konversi suatu kreasi bentuk dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran
beralasan yang menjelaskan proses konversi suatu kreasi menjadi hasil akhir sebagai jawaban
terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat
menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang
berteori tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya substansi. Seorang
arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan
kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan".

109
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

DAFTAR PUSTAKA

Atmadi, P. 1979. Beberapa patokan perencanaan bangunan candi. Yogyakarta: Universitas gajah Mada,
Disertasi, Fakultas Teknik, 1984. Apa yang Terjadi Pada Arsitektur Jawa. Yogyakarta: Lembaga
Javanologi. Dakung, S. 1981. Arsitektur tradisional daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek
Inventarisasi
dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Jakarta: Departemen Pendidikan danKebudayaan.
Eliade, M. 1959. The Sacred and the Profane.The nature of the religion. Diterjemahkan oleh
Willard R.Trask.A. New York: Harvest Book, Harcourt, Brace& World,Inc.
Hamzuri, ......., Rumah tradisional Jawa. Proyek Pengembangan Permusiuman DKI. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan kebudayaan.
Ismunandar, K.R. 1986. Joglo,Arsitektur rumah tradisional Jawa. Semarang: Dahara Prize. Lombard, D.
1999. Nusa Jawa: Silang budaya, warisan kerajaan-kerajaan konsentris.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Munitz, M.K. 1981. Space, Time and Creation: Philosophical aspects of scientific cosmology.
New York: Dover.
Priyotomo, J. 1984. Ideas and forms of Javanese Architecture. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Santosa, R.B. 2000. Omah, membaca makna rumah Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Selosumarjan. 1962. Social changes in Yogyakarta. Ithaca: Cornell University Press.
Suseno, M.F. 1984. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Setiawan, A.J. 1991. Rumah tinggal orang Jawa;Suatu kajian tentang dampak perubahan wujud arsitektur
terhadap tata nilai sosial budaya dalam rumah tinggal orang Jawa di Ponorogo. Jakarta:
Universitas Indonesia, Tesis.
Berke, D. (1997). Thoughts on The Everyday. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.),
Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture
of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.
Fausch, D. (1997). Ugly and Ordinary: The Representation of the Everyday . Dalam Harris, S. dan
Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the
Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Lefebvre, H. (1997). The Everyday and Everydayness. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.),
Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Catanese, A. J. & Snyder, J. C. (1991). Pengantar Arsitektur. Jakarta: Penerbit Erlangga
O’Gorman, J. F. (1997). ABC of Architecture. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
110
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

Rasmussen, S. E. (1964). Experiencing Architecture. Cambridge: The MIT Press.


Shepheard, P. (1999). What is Architecture? Cambridge: The MIT Press.
Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.
Berke, D. (1997). Thoughts on The Everyday. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.),
Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture
of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.
http://juanfranklinsagrim.blogspot.com
http://www. Hamah.socialgo.com
Google terjemahan bebas, tentang kebudayaa, arsitektur, kota.

111
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

TENTANG PENULIS

Juan Frank Hamah Sagrim, Lahir di lembah perbukitan Hamah Yasib,


Kampung Sauf, Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, pada
06 April 1982. Ayah Nixon Sagrim (alm) dan Ibu Marlina Sagrim/Sesa.
Orang tua bekerja sebagai Penginjil di lingkungan Klasis GKI Maybrat,
dan tenaga Medic Klasis GKI Maybrat. Hamah adalah anak Kedua dari
empat Bersaudara, (Jeremias, Daud Itas, dan Desi Sah Bolara).
Pendidikan: SD Bethel Sauf, SLTP N1 Ayamaru, SMA YPK 1
Ebenhaezer Sorong. Melanjutkan Kuliah di Institut Teknologi Adhi Tama
Surabaya “ITATS” Jurusan Teknik Arsitektur, pindah dan
Melanjutkannya di Universitas Widya Mataram Yogyakarta, 2006, pada
Jurusan yang sama. Aktivitas Ekstra: Menjadi Tutor Pelatihan Mengetik
10 jari bersama Missionaris Jerman Tn. Hesse dkk. Di wilayah Maybrat,
Imian, Sawiat, Tehit, thn.2000. Sekretaris Ikatan Mahasiswa Papua se-
Jawa timur Surabaya, 2004, Menjabat Ketua Ikatan Mahasiswa Papua se-
Jawa Timur 2005. Anggota Ikatan Arsitektur Asia Pacific 2003. Anggota Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia (GMNI) 2004. Team Perumusan Metode Belajar Mengajar Nusantara bersama
Dirjen Pendidikan Tinggi RI 2006. Menjabat Koordinator Mahasiwa Arsitektur Asia Pacific Rayon II
Indonesia Bagian Tengah DIY 2006-2008. Anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
2008. Menjabat Ketua Asrama Mahasiswa Papua 2008. Menjabat Direktur Program Lembaga Study
Papua (LSP) 2007-2008. Anggota Luar Biasa University Harytake program UNESCO 2007-2008.
Menjabat Sekretaris Umum Lembaga Intelektual Tanah Papua 2009-sekarang. Peneliti Tamu bidang
lintas Budaya (researcher of cross culture) pada Yayasan Pondok Rakyat (YPR) DIY 2008-2009.
Civitas Yayasan STUBE-hemat Yogyakarta 2007-sekarang. Tenaga Pengarah kerja pada
perkumpulan seniman rantau di Yogyakarta 2009-sekarang. Agen Informan GRIC dan Pax Roman
2008-2010. Anggota International Working Group (IWG) for Asia Africa to Globalization 2009-
sekarang. Staf Ahli pada Team Peneliti dan Pemerhati Arsitektur Tradisional Nusantara UWMY,
2010. Peneliti Lepas dan Penulis. Ketika Menulis Buku ini, masih aktif Sebagai Mahasiswa
Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Berkeinginan besar sebagai Peneliti dan Ilmuwan Muda.

Beberapa Karya Tulis adalah:

• Makalah Ilmiah “ Kajian Tentang Keterkaitan Seni Budaya


Etnic Negro Melanesoid Papua Dan Negroid Afrika”, 2009.
“Karya ini merupaka karya yang luarbiasa baginya daripada karya yang lain”

Karya yang sudah diterbitkan adalah:


112
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

HISTORY OF GOD IN TRIBALS RELIGION


KISAH TUHAN DALAM AGAMA SUKU
RAHASIA THEOLOGIA TRADISIONAL SUKU MAYBRAT IMIAN SAWIAT PAPUA
Wiyon-wofle
DIPARALELKAN DENGAN ALKITAB

Beberapa karya Tulis yang belum diterbitkan adalah:


1. Arsitektur Tradisional suku Maybrat Imian Sawiat Papua “Halit-Mbol Chalit” dalam
Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Dengan Usulan Konsep Desain dari Bentuk Tradisional
ke Bentuk Moderen. “sebagai suatu kajian ethno arsitektur”.
2. Sistem Kepemimpinan dan sistem Politik tradisional suku Maybrat, Imian, Sawiat “Ra Bobot-Na
Bobot-Big Man” dan Pengaruh Wanita Maybrat, Imian, Sawiat, Terhadap Lingkungannya .
3. Menyelamatkan Hutan Adat Papua Sebagai Suplai Oksigen Terbesar Dunia, dengan usulan
konsep dan rekomendasi agar dalam pernyataan Protokol Kyoto mencanangkan pola penanganan
tata laksana lingkungan hidup untuk mengatasi Global warming dengan sistem communal.
4. Mengapa Orang Papua Diprediksikan akan Punah Pada tahun 2030?
5. Tata Bahasa Maybrat. Disusun Dalam Bahasa Indonesia – Inggris –Maybrat.
6. Penuntun Untuk Berpikir Bijaksana “The Bigest Thingking”.
7. Bamboo in the socio cultural living society of Java - Kegunaan Bambu dalam kehidupan sosial
budaya masyarakat Jawa
8. Teori Arsitektur Maybrat, Imian, Sawiat
9. Pengaruh Arsitektur Terhadap Fenomena Lingkungan Alam
10. Pendidikan Tradisional Wanita Maybrat, Imian, Sawiat - “Finya mgiar”.

Kini sedang mempersiapkan penyusunan buku barunya, yaitu:


1. ENCYCLOPEDIA ADAT ISTIADAT BUDAYA MAYBRAT
2. KAMUS BAHASA MAYBRAT

Makalah-makalah kajian lain adalah:


1. Menguak Imunity Rasial Diskriminasi Terhadap Orang Papua (Makalah Konferensi Asia-
Afrika) disampaikan pada “International Conference of 55 th. Asia – Africa Sustainabelity”,
Thaksin University-Mindanao, Moro, Philipines; March, 2009; UI Depok Jakarta, Oktober, 2009.
2. Benturan budaya lokal negara non kapitalisme dengan budaya global negara kapitalisme
(Makalah Simposium) – disampaikan pada “Simposium nasional”. Kebudayaan dan
keeksistensian local wosdom sebagai tatanan bangsa, UGM, Yogyakarta, Juni, 2008.
3. Pandangan Kontemporer Papua tentang keindonesiaan (Makalah Dialog) - disampaikan pada
“Dialog Nasional, Ketahanan Negara”, UC UGM, Yogyakarta, July, 2010.
4. Usaha Melepaskan Papua Dari Cengkeraman Asing (Makalah Seminar Nasional)- disampaikan
pada “ National Seminary”, UPI Bandung, September, 2009.
5. Penyusunan Metode Belajar Mengajar Nusantara Bersama DIKTI, (Makalah Pembelajaran,
Student Equity), Quality Hotel Yogyakarta April, 2006.

113
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito
Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

6. Peran Pemuda Dalam Memajukan Bangsa (Makalah Dialog), disampaikan dalam “Dialog
Pemuda Nasional Regional II Indonesia Bagian Tengah”, Gedung Negara Gubernur Yogyakarta,
Oktober, 2006.
7. Apa Peran Gereja di Tengah Pergolakan Umat Manusia di Tanah Papua (Makalah Diskusi),
disampaikan dalam “Saresehan LITP”, Pogung Rejo Yogyakart, September, 2010.
8. SAVING EARTH’S HAS INTEGRAL LIFE SYSTEM: Can Asian-African Visions Rescue
Biodiversity from the West-born Globalization? (Makalah Konferensi) disampaikan dalam
“Comemoration 55th. Asia-Afrika Conference”, Yogyakarta Indonesia, October, 25-27, 2010 -
Rabat Moroco 23-25 Nopember, 2010.
9. Indegenous People In Papua and Asia Religion: DIVERSITY IN GLOBALIZED SOCIETY.
(Makalah Konferensi) disampaikan dalam “The Role of Asia and Africa for a Sustainable
World 55 Years after Bandung Asian-African Conference 1955. Asia – Africa Summit,
Yogyakarta-Molucas Nopember, 2010.
10. Kajian Kritis Tentang Pasar Bebas dan Pengaruhnya terhaap Ketahanan Negara non
Kapitalisme. Kliping Pribadi, 2009
11. Pendidikan Zaman Pendudukan Bangsa Asing di Papua. Kliping Pribadi, 2010.
12. Pranata Kehidupan Negara Berkembang. Kliping Pribadi, 2009.
13. Struktur Fungsional Dominasi Budaya Kapitalisme. Kliping Pribadi, 2008.
14. Memaknai Arsitektur Nusantara Sebagai Kearifan Lokal Di Era Globalisasi. Kliping Pribadi,
2010.
15. Difusi Ajaran dan Pemikiran Kristen Dalam Konstelasi Kristen di Tehit, Maybrat, Imian,
Sawiat, Papua. Kajian sejarah. Kliping Pribadi, 2007.
16. Evolusi Pemikiran Pembangunan. Kliping Pribadi, 2007.
17. Kajian Kritis Tafsiran Yesus Kristus – Isa Almaseh dari Alkitab dan Al-Quran. Kliping
Pribadi, 2009.
18. Refleksi Kehidupan Masyarakat Plural Moderen dan Majemuk Papua. Kliping Pribadi, 2010.
19. Sejarah-Sejarah Alkitab dan yang berkaitan dengan Kejadian dalam Alkitab. Kliping Pribadi,
2008.
20. Transisi Masyarakat Tradisional Indonesia. Kliping Pribadi, 2009.
21. Teori konvergensi dan Pertumbuhan Ekonomi. Kliping pribadi, 2007.
22. Arsitektur Tradisional dalam RENSTRA Pengembangan tata ruang kota berbasis kebudayaan
lokal. Kliping pribadi, 2008.
23. Usulan teori dalam berarsitektur; Rasionansi Arsitektur, dan Empirisme arsitektur.
Kliping Pribadi, 2011.

114
J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito