Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

pendidikan dasar dan menengah-sebenarnya jalan di tempat.


Selama ini pendidikan nasional hanya mampu melahirkan siswa-
siswa yang hanya pandai menjawab soal-soal semata, namun lebih
dari itu siswa tidak peka dan tidak memiliki kemampuan menjawab
lembar realitas di lapangan kenyataan. Padahal, setiap tahun, lahir
2,5 juta angkatan kerja baru, dengan pertumbuhan ekonomi 4
persen, berarti hanya 1,6 juta dari angkatan kerja tersebut yang
dapat menjamah lapangan kerja. Bagaimana dengan sisanya kalau
bukan menjadi penganggur terdidik.
Itu terjadi karena memang selama ini kita bersekolah yang dikejar
hanya sekadar lulus dan itu diamini setiap tahunnya, tanpa reaksi
keras atau perlawanan dari guru sendiri. UN selama ini memasung
guru sebagai sosok yang terkesan hanya mengurusi pensiasatan
soal-soal daripada proses dalam membangun pembelajaran yang
bermakna dan memanusiakan. Timbullah mekanisasi sehingga
siswa itu tak ubahnya seperti mesin-mesin yang hanya mampu
menjawab soal-soal belaka.
Singkatnya, UN hanya mengukur hasil bukan proses. Yang terjadi
kemudian, siswa di-drill sedemikian rupa agar mendapat nilai yang
tinggi. Sementara itu, sekolah melupakan tanggung jawabnya untuk
mengasosiasikan keilmuan siswa dengan kenyataan hidup yang
semakin sulit. Dapatkah sekolah menjawabnya tanpa guru sebagai
agennya?

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah”
yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa
didik.

Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang


sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta
didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-
manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-
banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai
“masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana
sang murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas
harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan
perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara
yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara,
berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.

1
Saya kira tak ada seorang pun yang bisa membantah bahwa guru
memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas.
Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun
rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran,
mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak
lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi “aktor”
penentu keberhasilan siswa didik dalam mengadopsi dan
menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan hakiki.

B. Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:

1. Memberikan gambaran tentang Agen Perubahan (change Agent)


serta peran dan fungsinya dalam dunia pendidikan
2. Memenuhi tugas perkuliahan “Difusi Inovasi Pendidikan”.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah:

Dari uraian pada latar belakang di atas, dapatlah dirumuskan


beberapa permasalahan:

1. Apa pengertian, fungsi dan tugas seorang Agen Perubahan?


2. Bagaimana peran Guru sebagai seorang Agen Perubahan ?

Pada makalah ini, kami membatasi permasalahan hanya tentang


Guru sebagai Agen Perubahan.

2
BAB II

AGEN PERUBAHAN

A.Pengertian

Agen pembaharu (chage agent) adalah orang yang bertugas


mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan
yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan (change agency).
Pekerjaan ini mencakup berbagai macam pekerjaan seperti guru,
konsultan, penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian dan sebagainya.
Semua agen pembaharu bertugas membuat jalinan komunikasi antara
pengusaha pembaharuan (sumber inovasi) dengan sistem klien (sasaran
inovasi).

Tugas utama agen pembaharu adalah melancarkan jalannya arus inovasi


dari pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi ini akan
efektif jika inovasi yang disampaikan ke klien harus dipilih sesuai dengan
kebutuhannya atau sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Agar
jalinan komunikasi dalam proses difusi ini efektif, umpan balik dari
sistem klien harus disampaikan kepada pengusaha pembaharuan melalui
agen pembaharu. Dengan umpan balik ini pengusaha pembaharuan
dapat mengatur kembali bagaimana sebaiknya agar komunikasi lebih
efektif.

Jika tidak terdapat kesenjangan sosial dan teknik antara pengusaha


pembaharuan dan klien dalam proses difusi inovasi, maka tidak perlu
agen pembaharu. Tetapi biasanya pengusaha pembaharu adalah orang-
orang ahli dalam inovasi yang sedang didifusikan, oleh karena itu terjadi
kesenjangan pengetahuan sehingga dapat terjadi hambatan komunikasi.
Disinilah pentingnya agen pembaharu untuk penyampaian difusi inovasi
agar dapat mudah diterima oleh klien.

Agen pembaharu harus mampu menjalin hubungan baik dengan


pengusaha pembaharuan dan juga dengan sistem klien. Adanya
kesenjangan heterophily pada kedua sisi agen pembaharu dapat
menimbulkan masalah dalam komunikasi. Sebagai penghubung antara
kedua sistem yang berbeda sebaiknya agen pembaharu bersikap
marginal, ia berdiri dengan satu kaki pada pengusaha pembaharu dan
satu kaki yang lain pada klien. Keberhasilan agen pembaharu dalam
melancarkan proses komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan
klien, merupakan kunci keberhasilan proses difusi inovasi. Selain itu
agen pembaharu melakukan seleksi informasi untuk dapat disesuaikan
dengan masalah dan kebutuhan klien.

3
PENGUSAHA
PEMBAHARUAN
(CHANGE AGENCY)

AGEN PEMBAHARU
Arus Inovasi dari
Arus kebutuhan dan umpan SEBAGAI PENGHUBUNG
pengusaha pembaharu ke
balik dari klien ke pengusaha
klien
pembaharu
SISTEM KLIEN
(CLIENT SISTEM)

Gambar 1. Agen Pembaharu sebagai penghubung antara pengusaha


pembaharu dengan klien (Rogers, 1983, hal 314)

B.Fungsi dan Tugas Agen Pembaharu

Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara


pengusaha pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar
inovasi dapat diterima atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan
pengusaha pembaharuan. Kunci keberhasilan diterimanya inovasi oleh
klien terutama terletak pada komunikasi antara agen pembaharu dengan
klien. Jika komunikasi lancar dan efektif proses penerimaan inovasi akan
lebih cepat dan makin mendekati tercapainya tujuan yang diinginkan.
Sebaliknya jika komunikasi terhambat makin tipis harapan diterimanya
inovasi. Oleh karena tugas utama yang harus dilakukan agen pembaharu
adalah memantapkan hubungan dengan klien. Kemantapan hubungan
antara agen pembaharu dengan klien, maka komunikasi akan lebih
lancar.

4
Rogers, mengemukakan ada tujuh langkah kegiatan agen pembaharu
dalam pelaksanaan tugasnya inovasi pada sistem klien, sebagai berikut.

1. Membangkitkan kebutuhan untuk berubah.


Biasanya agen pembaharu pada awal tugasnya diminta untuk
membantu kliennya agar mereka sadar akan perlunya
perubahan.Agen pembaharu mulai dengan mengemukakan
berbagaimasalah yang ada, membantu menemukan masalah yang
penting dan mendesak, serta meyakinkan klien bahwa mereka
mampu memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini agen
pembaharu menentukan kebutuhan klien dan juga membantu
caranya menemukan masalah atau kebutuhan dengan cara
konsultatif.

2. Memantapkan hubungan pertukaran informasi. Sesudah


ditentukannya kebutuhan untuk berubah, agen pembaharu harus
segera membina hubungan yang lebih akrab dengan klien. Agen
pembaharu dapat meningkatkan hubungan yang lebih baik kepada
klien dengan cara menumbuhkan kepercayaan klien pada
kemampuannya, saling mempercayai dan juga agen pembaharu
harus menunjukan empati pada masalah dan kebutuhan klien .

3. Mendiagnosa masalah yang dihadapi. Agen pembaharu


bertanggung jawab untuk menganalisa situasi masalah yang
dihadapi klien, agar dapat menentukan berbagai alternatif jika tidak
sesuai kebutuhan klien. Untuk sampai pada kesimpulan diagnosa
agen pembaharu harus meninjau situasi dengan penuh emphati.
Agen pembaharu melihat masalah dengan kacamata klien, artinya
kesimpulan diagnosa harus berdasarkan analisa situasi dan
psikologi klien, bukan berdasarkan pandangan pribadi agen
pembaharu.

4. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah. Setelah agen


pembaharu menggali berbagai macam cara yang mungkin dapat
dicapai oleh klien untuk mencapai tujuan, maka agen pembaharu
bertugas untuk mencari cara memotivasi dan menarik perhatian
agar klien timbul kemauannya untuk berubah atau membuka
dirinya untuk menerima inovasi. Namun demikian cara yang
digunakan harus tetap berorientasi pada klien, artinya berpusat
pada kebutuhan klien jangan terlalu menoinjolkan inovasi.

5. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan. Agen pembaharu


berusaha untuk mempengaruhi tingkah laku klien dengan
persetujuan dan berdasarkan kebutuhan klien jadi jangan memaksa.
Dimana komunikasi interpersonal akan lebih efektif kalau dilakukan
antar teman yang dekat dan sangat bermanfaat kalau dimanfaatkan
pada tahap persuasi dan tahap keputusan inovasi. Oleh kerena itu

5
dalam hal tindakan agen pembaharu yang paling tepat
menggunakan pengaruh secara tidak langsung, yaitu dapat
menggunakan pemuka masyarakat agar mengaktifkan kegiatan
kelompok lain.

6. Menjaga kestabilan penerimaan inovasi dan mencegah tidak


berkelanjutannya inovasi. Agen pembaharu harus menjaga
kestabilan penerimaan inovasi dengan cara penguatan kepada klien
yang telah menerapkan inovasi. Perubahan tingkah laku yang sudah
sesuai dengan inovasi dijaga jangan sampai berubah kembali pada
keadaan sebelum adanya inovasi.

7. Mengakhiri hubungan ketergantungan. Tujuan akhir tugas


agen pembaharu adalah dapat menumbuhkan kesadaran unrtuk
berubah dan kemampuan untuk merubah dirinya, sebagai anggota
sistem sosial yang selalu mendapat tantangan kemajuan jaman.
Agen pembaharu harus berusaha mengubah posisi klien dari ikatan
percaya pada kemampuan agen pembaharu menjadi bebas dan
percaya kepada kemampuan sendiri.

6
BAB III
PEMBAHASAN

A. Orientasi Teoritik Tentang Agent of Change

Hakikat pembelajaran adalah ’suatu proses perubahan tingkah laku anak’


(Wuryani, 2002; Sagala, S. 2006), yaitu perubahan dari tidak baik menjadi baik,
dari tidak bisa mengerjakan sesuatu menjadi bisa mengerjakan sesuatu. Persoalan
yang muncul adalah, faktor apakah yang paling menentukan bagi setiap individu
mampu melakukan suatu perubahan dalam hidupnya?.

Beragam teori telah dikemukakan oleh para ahli untuk menjawab persoalan
tersebut, baik teori-teori yang berorientasi pada paham positivisme maupun
idealisme (Lauer, R., 1978). Dalam analisis kajian ini, penulis lebih menekankan
pada teori-teori yang berorientasi pada pandangan idealisme atau konstruktivisme,
yang menempatkan faktor pikiran dan jiwa individu sebagai penentu terjadinya
perubahan sosial-budaya (Sztompka. 2004), sedangkan teori-teori yang
berorientasi positivis tidak dijelaskan atau tidak dijadikan sebagai orientasi dalam
kajian ini.

Diantara teori yang berorientasi idealisme dalam memandang makna, penyebab


dan agen pendorong perubahan sosial-budaya adalah:

1. Teori ’kepribadian kreatif’ oleh Everette Hagen. Diantara asumsi dasar teori
ini adalah:

(a) faktor kunci terjadinya perubahan sosial-budaya ditentukan oleh kondisi


psikologi atau kepribadian kreatif individu;

(b) kepribadin individu yang selalu mendorong ke arah perubahan adalah


kepribadian kreatif atau inovatif; dan

(c) ciri kepribadian kreatif atau inovatif adalah menjunjung tinggi


pengetahuan, otonomi, keteraturan hidup, humanis dan disiplin nurani serta
tegas atau adil (Hagen, E., 1962).

Jadi, menurut teori ini faktor kunci terjadinya perubahan sosial-budaya,


termasuk aspek pembelajaran budaya di sekolah adalah berkembangnya
kepribadian kreatif pada diri warga sekolah (pendidik, tenaga kependidikan
dan siswa).

7
2. Teori ‘kebutuhan berprestasi’ yang dikenal ‘need for achievement atau n-
Ach’ oleh David Mc. Cleeland. Diantara asumsi pokok teori ini adalah:

(a) faktor utama penyebab terjadinya perubahan sosial-budaya adalah adanya


dorongan dari dalam individu (pikiran dan jiwanya) untuk berkarya secara
maksimal;

(b) sikap mental selalu ingin berkarya (semangat berprestasi menjadi


kebutuhan dasar hidupnya) yang berkembang di masyarakat akan menjadi
penyebab perubahan kearah kemajuan; dan

(c) mentalitas n-Ach tersebut harus terus ditanamkan sejak masa kanak-kanak
(Mc-Clelland, D., 1961).

Jadi, sejatinya yang menjadi dasar penyebab atau agen perubahan adalah
faktor kualitas mental seseorang untuk selalu ingin berkarya dan berprestasi
sepanjang usia hidupnya, kebutuhan untuk berkarya bagaikan darah yang
mengalir dalam tubuh.

3. Teori ‘mentalitas modern’ oleh Alex Inkeles dan David Smith. Diantara ciri
mentalitas modern yang mendorong terjadinya perubahan adalah:

(a) cinta pada perkembangan Iptek;

(b) selalu menjalin kontak dengan pihak lain;

(c) mentalitas kompetitif dan inovatif;

(d) orientasi hidup ke masa depan dan menghargai harkat martabat orang lain
(Budiman, A,. 1995 ).

Berdasarkan ketiga teori tersebut dapat disimpulkan, bahwa yang menjadi


agen perubahan (agent of change) dalam proses kehidupan adalah para
individu yang mempunyai kualitas jiwa, pikiran atau mentalitas positif dalam
proses-proses sosialnya.

Diantara sikap mental positif yang akan menjadi penggerak perubahan sosial
budaya antara lain:

(a) cinta pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;

(b) selalu menjalin kontak-komunikasi dengan orang lain atau dunia luar;

(c) menjunjung tinggi prestasi orang lain dan pandangan karya untuk karya;
(d) menghargai harkat dan martabat orang lain atau bersikap demokratis-
humanis;

8
(e) menghargai waktu dan berorientasi hidup ke masa depan;

(f) melakukan sesuatu pekerjaan berdasarkan perencanaan yang matang;

(g) merasa tidak puas terhadap karya budaya yang telah ada, dan selalu ingin
membaharuhi hidup; dan

(h) menjunjung tinggi nilai atau prinsip, bahwa upah sesuai dengan karya
(Budiman, A,. 1995; Sztompka. 2004).

Jadi, ketika seseorang memiliki ciri-ciri: kepribadian kreatif, mentalitas untuk


berprestasi, dan mentalitas modern tersebut di atas, maka dia akan mampu
berperan sebagai agen perubahan (agent of change) dalam kehidupan
kelompoknya (Lauer, R., 1978).

B. Guru Sebagai Agent of Change Pembelajaran Siswa

Dalam Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan Undang
Undang No.14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen, bahwa kedudukan, peran dan
fungsi guru sangat sentral dalam membangun kualitas pendidikan nasional.

Merujuk pada beberapa peraturan perundangan bidang pendidikan tersebut di atas,


baik berupa Undang Undang, Peraturan Pemerintah sampai Permendiknas, pada
era sekarang dan akan datang setiap guru harus memiliki empat kompetensi dasar,
yaitu:

(1) Kompetensi pedagogik, meliputi:

(a) kemampuan memahami peserta didik;

(b) kemampuan memahami prinsip pembelajaran;

(c) kemampuan melaksanakan prinsip pembelajaran;

(d) kemampuan merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran; dan

(e) kemampuan mengembangkan potensi peserta didik;

(2) Kompetensi kepribadian, meliputi:

(a) kemampuan bertindak sesuai nilai dan norma kehidupan;

(b) konsisten membangun sikap mental positif;

9
(c) menjunjung tinggi prinsip kemaslahatan hidup; dan

(d) kemampuan mewujudkan akhlak mulia;

(3) Kompetensi sosial, meliputi:

(a) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan peserta didik;

(b) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan sesama guru;

(c) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan tenaga kependidikan;

(d) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan orang tua/ wali siswa; dan

(e) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan warga masyarakat;

(4) Kompetensi profesional, meliputi:

(a) kemampuan penguasaan materi pembelajaran;

(b) kemampuan menerapkan konsep-konsep keilmuan dengan kehidupan


sehari-hari; dan

(c) kemampuan dalam membuat karya ilmiah tenang pendidikan.

Menyimak beragam teori tentang agen perubahan yang telah diuraikan di atas,
kemudian dikomperasikan dengan beragam kompetensi yang harus dimiliki oleh
setiap guru, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:

(a) guru termasuk salah satu faktor kunci dalam menentukan kualitas dan
keberhasilan proses pembelajaran siswa di kelas;

(b) guru yang memiliki kualitas kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan
professional, akan mampu berperan sebagai salah satu agen perubahan (agent of
change) pembelajaran siswa di kelas; dan

(c) guru diharapkan tetap konsisten dalam mengajar, membimbing dan mendidik
siswa untuk mengembangkan kualitas intelektual, emosional dan spiritualnya
dengan prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarso sung
tulodo.
Menurut Chin dan Benne dalam Lauer, R., (1978), ada tiga metode yang dapat
digunakan oleh agent of change dalam mendorong atau mempengaruhi terjadinya
perubahan sosial budaya, yaitu:

(1) metode rasional–empiris;

(2) metode normatif–edukatif; dan

10
(3) metode paksaan–kekuasaan.

Apabila mencermati paradigma pembelajaran dan sistem evaluasi yang


dikembangkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka
motode yang dapat digunakan oleh guru sebagai agen perubahan (agent of
change) dalam mendorong terjadinya perubahan kualitas pembelajaran siswa di
kelas adalah metode pertama (metode rasional–empiris) dipadukan dengan
metode kedua (metode normatif–edukatif) (Depdiknas. 2003; BSNP, 2006)

C. Strategi Meningkatkan Peran Guru Sebagai Agent of Change

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa kondisi kualitas guru di


Indonesia secara makro masih belum terberdayakan secara maksimal, dan diantara
faktor kunci penyebabnya adalah kondisi mentalitas, motivasi atau dorongon
internal guru untuk terus belajar, berinovasi dalam pembelajaran dan terus
mengikuti perkembangan Iptek terkini masih relatif rendah (Oemar, H., 2002;
Tilaar, 2002; Wahab, A.A., 2007).

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam meningkatkan peran guru
sebagai agen perubahan (agent of change) pembelajaran siswa di kelas antara lain:
Pertama, membangun kualitas mentalitas positif guru melalui kegiatan pelatihan
’motivasi berprestasi’ dan sejenisnya secara periodik, misalnya pembinaan dan
pelatihan ESQ. Meskipun setiap guru secara teoritik telah mengetahui sebagian
teori-teori psikologi pembelajaran, dia tetap memerlukan penyegaran orientasi dan
wawasan hidup prospektif dari para pakar psikologi atau para motivator dalam
menghadapi beragam persoalan pekerjaan sebagai pendidik.

Dalam hal ini fokus pelatihan lebih ditekankan pada upaya membangun
konsistensi diri sebagai pendidik sepanjang karir profesinya untuk
mengembangkan tentang:

(a) prinsip selalu belajar (learning principle);

(b) prinsip kebutuhan untuk berprestasi (need achievement principle);

(c) prinsip kepemimpinan (leadership principle);

(d) prinsip orientasi hidup ke depan (vision principle); dan

(e) prinsip menjadi pencerah dalam kehidupan kelompok (well organized


principle) (Agustian, A.G. 2005; Seligman, M. 2005).

Ketika lima prinsip tersebut terinternalisasi dengan baik pada diri setiap guru,
maka guru tersebut akan mampu bertindak sebagai agent of change pembelajaran
peserta didik, baik pada aspek emosional, kepribadian dan pengetahuan-
ketrampilan peserta didik. Demikian juga sebaliknya, ketika kelima prinsip

11
tersebut tidak menyatu dan tidak berkembang pada diri setiap guru, maka
kehadiran guru di kelas hakikatnya kurang berfungsi dalam menyiapkan peserta
didik untuk menghadapi beragam tantangan hidup di era globalisasi.

Kedua, menyikapi kondisi guru yang masih belum memahami beragam inovasi
pembelajaran dan arti pentingnya pemanfaatan kemajuan teknologi
pembelajaran, maka strategi yang dapat dilakukan adalah setiap satuan
pendidikan harus mempunyai ’tim ahli inovasi pembelajaran’.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan oleh tim ahli inovasi pembelajaran dalam
meningkatkan kualitas guru adalah:

(a) melakukan diskusi kolegial tentang pengembangan penguasaan konsep-konsep


keilmuan dan perkembangan teknologi terkini;

(b) melakukan penyusunan soal-soal sesuai dengan standar kompetensi kelulusan


BSNP;

(c) melakukan penyusunan bahan ajar atau modul dan melakukan pelatihan
penggunaan multi media berbasisi IT;

(d) melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas;

(e) melibatkan guru dalam proses evaluasi diri sekolah (school self evaluation);
dan

(f) memberikan masukan atau diskusi kolegial tentang penerapan metode


pembelajaran yang menegakkan pilar-pilar pembelajaran, yaitu: learning to know
(belajar mengetahui), learning to do (belajar berbuat), learning to gether (belajar
hidup bersama), dan learning to be (belajar menjadi seseorang) (Djohar, 1999).

Ketika ’tim inovasi pembelajaran’ di setiap satuan pendidikan mampu


melaksanakan keenam fungsi tersebut dengan baik dalam pemberdayaan
kemampuan guru, maka setiap guru diasumsikan mampu berperan sebagai agent
of change pembelajaran siswa di sekolah.

Ketiga, membangun mentalitas kerjasama sebagai team work yang kokoh. Semua
guru pada satuan pendidikan dalam proses layanan pendidikan harus menyatu
bagaikan satu bangunan kokoh (kesatuan sistem). Proses interaksi dissosiatif
sesama pendidik dalam pemberian layanan pendidikan harus diminimalisir
(Usman, M.U., 2000; Sanjaya, W. 2007).

Oleh karena itu, dalam konteks pemberian layanan pembelajaran di satuan


pendidikan yang berkualitas, seharunya setiap guru senantiasa belajar untuk
memajukan satuan pendidikannya melalui enam konsep yaitu:

12
(1) system thinking;

(2) mental models;

(3) personal mastery;

(d) team learning and teaching;

(e) shared vision; dan

(6) dialog (Peter dalam Soetrisno, 2002).

Dalam membangun kualitas mental guru sebagai suatu team work untuk
melaksanakan keenam konsep tersebut, kedudukan dan peran kepala sekolah
adalah sangat sentral. Kepala sekolah harus mampu memainkan peran baru (new
rules), ketrampilan baru (new skills), dan mampu mengaplikasikan sarana baru
dari permasalahan yang timbul (new tools). Kepala sekolah harus:

(a) berperan sebagai perancang (designer) kebijakan strategis terhadap aplikasi


keenam konsep tersebut;

(b) berfikir integral dalam mencermati tantangan pendidikan ke depan (visioner).;


(c) mampu membangkitkan learning organization;

(d) mendorong setiap guru untuk mengembangkan potensi profesinya secara


maksimal; dan

(e) terbuka pada kritik dan saran yang konstruktif; transparan dan tanggungjawab
dalam pengelolaan sumber daya sekolah (Arifin, 2007).

Ketika guru pada setiap satuan pendidikan mampu menjalin kerjasama dalam
mewujudkan keenam konsep tersebut, diasumsikan mereka akan mampu berperan
sebagai agent of change pembelajaran siswa di sekolah dengan baik. Pakar
psikologi Seligman, M. (2005), mengatakan ’ketika individu mampu membangun
mentalitas positif, misalnya sanggup menjalin komunikasi humanis di setiap
kehidupan kelompok, maka individu tersebut akan mampu meraih kebahagiaan
dan keberhasilan puncak dalam hidupnya’.

Keempat. Dinas Pendidikan Kota atau Kabupaten, melalui pengawas sekolah


terus melakukan pemantauan atau pembinaan terhadap kinerja guru dalam
mengimplementasikan empat kompetensi dasar guru profesional.

Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh pengawas dalam proses
pembinaan kinerja profesional guru agar mampu menjadi salah satu agent of

13
change pembelajaran di sekolah, yaitu sosok pribadi seorang pengawas sebagai
pembina kinerja guru profesional harus betul-betul berkualitas, antara lain:

(a) seorang pengawas harus paham secara teoritis dan aplikatif tentang beragam
teori psikologi pembelajaran;

(b) seorang pengawas harus berwawasan integral, demokratik, visioner dan


mempunyai keunggulan IESQ;

(c) seorang pengawas harus punya kemampuan multi, baik menyangkut disiplin
keilmuan tertentu, managerial, komunikator/ motivator, dan humanis;

(d) seorang pengawas harus menguasai secara konseptual dan aplikatif tentang
research pendidikan dengan beragam strategi atau pendekatan research; dan
kemampuan lainnya sesuai dengan statusnya sebagai pengawas sekolah.

Diantara langkah yang dapat dilakukan pengawas dalam proses pembinaan


kualitas profesional guru sebagai agen perubahan pembelajaran di kelas antara
lain:

(a) membuat instrumen pemantauan kinerja guru profesional, yang memuat empat
standar kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional) dan masing-
masing kompetensi tersebut dijabarkan secara rinci kedalam beberapa indikator
yang terukur. Instrumen tersebut harus disosialisasikan sejak dini pada semua
guru untuk dipahami dan dilaksanakan;

(b) pelaksanaan pemantauan instrumen kinerja guru profesional tersebut dilakukan


secara ‘silang proporsional’, yang melibatkan pengawas, kepala sekolah dan
teman sejawat (guru) serta peserta didik (siswa); dan

(c) pada akhir tahun pelajaran dilakukan evaluasi yang melibatkan pengawas,
kepala sekolah dan guru yang bersangkutan secara ‘bijak’, artinya baik pengawas,
kepala sekolah maupun guru sama-sama melakukan refleksi atau instropeksi
tentang optimalisasi kinerja sesuai dengan instrumen standar kompetensi yang
telah disusun.

Ketika proses pembinaan kualitas kinerja guru berjalan dengan baik, kemudian
diikuti dengan peningkatan kualitas kinerja guru berdasarkan instrumen-
instrumen kompetensi profesional, maka diasumsikan guru tersebut akan mampu
berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran siswa di kelas (Nasution,
2006; Wahab, A.A., 2007; Hamzah.B.U., 2008), hal ini secara otomatis
menunjukkan bahwa guru mampu berperan secara positif sebagai salah satu agent
of change pembelajaran di sekolah.

14
Kelima, dalam rangka memudahkan aktivitas guru untuk mewujudkan beragam
kompetensi profesinya, maka pemerintah dan warga masyarakat harus tetap
punya komitmen dalam penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran dengan
baik, karena ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran secara baik akan
mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa di sekolah (Atmadi,
ed., 2000; Supriadi, D. 2004).

Disamping penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah secara baik


dan lengkap, pemerintah harus tetap konsisten dalam mengupayakan peningkatan
kualitas kesejahteraan guru. Untuk merealisaikan dua hal tersebut pemerintah
melalui Menteri Pendidikan Nasional telah mengeluarkan:

(a) Permendiknas nomor 24 tahun 2007 tentang Standar sarana dan prasarana;

(b) Permendiknas Nomor 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi guru dalam
jabatan;

(c) Permendiknas Nomor 40 tahun 2007, tentang Sertifikasi guru dalam jabatan
melalui jalur pendidikan.

Ketika sarana dan prasarana pembelajaran tersedia dengan baik, kesejahteraan


guru terjamin dan diikuti dengan tumbuhnya sikap mental positif pada diri setiap
guru sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka diasumsikan guru akan
mampu meningkatkan kualitas profesionalnya (Soetjipto dan Kosasi, 1999;
Usman, M.U., 2000), sehingga guru akan mampu berperan sebagai agen
perubahan (agent of change) pembelajaran siswa di sekolah.

Sebagaimana yang telah diurakan di atas, pada hakikatnya potret seorang guru
yang mampu berperan aktif sebagai agen perubahan pembelajaran siswa di kelas,
antara lain:

(a) mempunyai wawasan yang cukup luas tentang beragam teori psikologi
perkembangan atau teori pembelajaran, dan mampu menerapkan secara ‘bijak’
dalam proses pembelajaran di kelas;

(b) mempunyai sikap mental positif terhadap perkembangan Iptek dan selalu
berusaha mewujudkan proses pembelajaran di kelas dengan nuansa demokratik,
humanis dan multikultural;

(c) selalu menjadi contoh teladan terbaik bagi anak dalam segala pola aktivitas
hidupnya, baik menyangkut aspek mentalitas, aspek pola prilaku sehari-hari dan
pola berpakaian;

(d) selalu melakukan pemantauan perkembangn hasil belajar siswa dengan


menggunakan sistem evaluasi yang baik dan integral yang menyangkut tujuh

15
aspek yaitu: penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap (afektif),
penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk,
penilaian melalui kumpulan hasil karya siswa (potofolio) dan penilaian diri (self
assessment); dan

(e) selalu berusaha meningkatkan kualitas diri dalam membuat karya tulis ilmiah
yang berkaitan langsung dengan inovasi pembelajaran.

16
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis deskriptif kualitatif tentang ’Strategi Meningkatkan Peran Guru Sebagai
Agent of Change Pembelajaran Siswa’ tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

1. terdapat beragam paradigma atau teori yang memandang tentang faktor kunci pendorong
terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat. Keberagaman paradigma atau teori
tersebut disebabkan oleh keberagaman orientasi filosofis dalam memahami hakikat
sesuatu;
2. ketika guru mampu meningkatkan kualitas kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial
dan profesionalnya secara maksimal, diasumsikan guru tersebut akan mampu menjadi
salah satu agent of change pembelajaran siswa di kelas dengan baik; dan
3. diantara langkah strategis dalam meningkatkan peran guru sebagai salah satu agent of
change pembelajaran siswa di sekolah adalah:
a) membangun kualitas mentalitas positif setiap guru;
b) melalui ’tim inovasi pembelajaran’ di setiap satuan pendidikan, guru dilibatkan secara
aktif-kreatif dalam mengembangkan kemampuan prefesionalnya
c) membangun kerjasama sebagai team work dalam memajukan satuan pendidikan
melalui enam konsep;
d) pengawas sekolah melakukan pembinaan secara inten dan sistematis tentang
pengembangan kualitas profesional guru; dan
e) meningkatkan kualitas sarana parasarana pembelajaran di sekolah dan meningkatkan
kesejahteraan guru.

17
DAFTAR PUSTAKA

Rogers, Everett, M.,Diffusion of Innovation, Fourth Edition. New York:


Collier Macmillan Publishing Co, Inc., 1995
Agustian, Ary G. 2005. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual
(ESQ). Penerbit ARGA. Jakarta.
Arifin, 2007. “Problematika SDM “Guru” Dalam Penerapan KTSP (Sebuah Renungan
mencari jalan keluar)”. Jurnal, Media, Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.
No. 08 /Th.XXXVII / Oktober 2007. hal: 62-65.

BSNP, 2006. Standar Isi. Badan Standar Nasional Pendidikan, Jakarta.


Budiman, A,. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Djohar, 1999. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia. IKIP. Yogyakarta
Giddens, A.. 2001. Runway World. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Hagen, E. 1962. On the Theory of Social Change. Homewood, Dorsey Press.
Hamzah.B.U., 2008. Model Pembelajaran. Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang
Kreatif dan Efektif. PT. Bumi Aksara. Jakarta
Koentjaraningrat, 1982. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. PT. Gramedia. Jakarta.
Lauer, R.H. 1978. Perspectives on Social Change, 2nd edition. Allyn and Bacon. Inc. Boston.
Mc-Clelland, D., 1961. The Achieving Society. New York, Rree Press.
Nasution, 2006. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. PT. Bumi
Aksara, Jakarta.
Oemar Hamalik. 2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi
Aksara. Jakarta.
Sagala, S. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran (Untuk membantu memecahkan
problematika belajar dan mengajar) Penerbit Alfabeta. Bandung
Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Penerbit
Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Seligman, Marttin.E.P. 2005. Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to
Realize Your Potential For Lasting Fulfillment. Penerjemah. Eva Yulis. Authentic Happiness,
Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif. PT. Mizan Pustaka. Bandung
Soetjipto dan Kosasi R. 1999. Profesi Keguruan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Pendididkan Dasar dan Menengah. Rujukan bagi

18
Penetapan Kebijakan Pembiayaan Pendidikan pada Era Otonomi dan Manajemen Berbasis
Sekolah. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung
Sztompka. 2004. The Sociology of Social Change. Diterjemahkan Alimandan. Sosiologi
Perubahan Sosial. Prenada Media. Jakarta.
Tilaar, 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Rineka Cipta. Jakarta.
Usman, M.U., 2000. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung
Wahab, A.A., 2007. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Alfabeta.
Bandung
Wuryani, S.E.D, 2002. Psikologi Pendidikan. PT. Gramedia Indonesia. Jakarta.
*) Artikel Juara ke I, Lomba LKTI Tingkat Regional (Jawa Timur) di Majalah Media
Pendidikan, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur 2009.

19