1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan penyakit kedua terbanyak di seluruh dunia setelah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Penyakit ini diperkirakan ditemukan 1 milyar kasus per tahun dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak-anak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Abdullah, 2006). Penyakit diare di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit endemis dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di masyarakat oleh karena seringnya terjadi peningkatan kasus-kasus pada saat atau musim-musim tertentu yaitu pada musim kemarau dan pada puncak musim hujan. Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbesar di Indonesia tahun 1999 sebesar 5 per 1000 penduduk dan menduduki urutan kelima dan 10 penyakit terbesar (Depkes RI, 2005b). Hasil survei Program Pemberantasan (P2) Diare di Indonesia menyebutkan bahwa angka kesakitan diare di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk dengan episode diare balita adalah 1,0 – 1,5 kali per tahun. Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kedua tertinggi setelah DBD. Survei Departemen Kesehatan pada tahun 2003, penyakit diare menjadi penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur. Kejadian diare pada golongan balita secara proporsional lebih banyak dibandingkan kejadian diare pada seluruh golongan umur yakni sebesar 55% (Depkes RI, 2005b). Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas

2

kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung program Peningkatan Pemberian ASI, gencarnya promosi susu formula, dan ibu bekerja (Depkes RI, 2005a). Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13% (Depkes RI, 2005a). ASI, selain mengandung gizi yang cukup lengkap, mengandung imun untuk kekebalan tubuh bayi. Keunggulan lainnya, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi pun rawan diare. Kandungan gizinya pun tidak sama dengan kandungan gizi pada ASI (Arianto, 2008). Kejadian diare pada balita dapat saja terjadi karena ketidaktahuan ibu mengenai tata cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap ibu untuk tidak menyusui bayi mereka, padahal makanan pengganti yang bergizi tinggi, jauh dari jangkauan ekonomi mereka. Pengaruh buruk itu kian hari kian jauh menjalar ke pedesaan, dan dapat dibuktikan dengan berkurangnya jumlah ibu yang menyusui bayi mereka dari tahun ke tahun. Keadaan ini juga membawa pengaruh buruk terhadap kejadian diare pada anak (Arianto, 2008).

3

Kecamatan Medan Area mempunyai angka kejadian diare yang cukup tinggi untuk kota Medan (BPS, 2007). Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang diare di kecamatan tersebut.

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah “apakah ada perbedaan antara frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapat ASI eksklusif dengan yang tidak mendapat ASI eksklusif.” 1.3 Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui adanya perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 712 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapat ASI eksklusif. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. 2. Mengetahui gambaran riwayat pemberian ASI eksklusif pada bayi berusia 7-12 bulan di Puskesmas Medan Area Selatan, Medan tahun 2009. Untuk mengetahui gambaran frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Puskesmas Medan Area Selatan, Medan tahun 2009. 3. Untuk mengetahui gambaran frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Puskesmas Medan Area Selatan, Medan tahun 2009. 1.4 Manfaat

2003). yang bisa disebabkan oleh beragam bakteri. Definisi Diare adalah keluarnya tinja yang lunak atau cair sebanyak 3 kali atau lebih per hari.4 1.1. Menurut Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI (2007). Epidemiologi . maupun parasit (WHO. Diare akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Noerasid. Sedangkan untuk bayi berumur lebih dari satu bulan dan anak dikatakan diare bila frekuensinya lebih dari 3 kali. khususnya para peneliti berikutnya. virus. atau yang lebih sering daripada orang yang sehat.1. sebagai bahan masukan untuk evaluasi program peningkatan pemberian ASI secara eksklusif.1 Diare Akut 2.1. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali. dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dan frekuensinya lebih banyak dari biasanya. Dengan terwujudnya hasil penelitian ini. 3. sehingga angka kejadian diare dapat ditekan. 2008). Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari. Sebagai penambah pengetahuan tentang pemberian ASI bagi masyarakat di lokasi penelitian. 2009a) & (Riley. Sebagai pengalaman yang sangat berharga sekaligus tambahan pengetahuan bagi penulis. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 2. diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran serta referensi bagi rekan-rekan mahasiswa. Diare biasanya merupakan gejala dari infeksi gastrointestinal. Bagi puskesmas.2. 4. 2.

Penyebab Berdasarkan patofisiologinya.5 Penyakit diare akut lebih sering terjadi pada balita dari pada anak yang lebih besar. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare. yakni gangguan osmotik dan gangguan sekretorik. 2. penyebab diare dibagi menjadi (Noerasid. Prevalensi diare yang tinggi di 5actor berkembang merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar.4. 2003): a. kekurangan protein yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. yang sebagian disebabkan oleh kurangnya pencemaran minum anak dan sebagian lagi karena 5actor pencegahan imunologik dari ASI (Noerasid. Gangguan Osmotik Terjadi apabila ada zat makanan yang tidak diserap di usus halus. b. 2008): a.1. Kejadian diare akut pada anak laki-laki 5actor sama dengan anak perempuan. Gangguan Sekretorik Akibat rangsangan enterotoksin. 2003).3.1. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Hal tersebut dapat menyebabkan tekanan osmotik di dalam usus meninggi. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar atau kontak langsung dengan tinja penderita. 2. 2009). erat kaitannya dengan pemberian ASI. (Riley. terjadi perubahan status ion transport pada sel-sel epitel usus halus menjadi aktif sekresi (Guandalini. Sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Diare Sekresi . Patofisiologi Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi berikut. Penurunan angka kejadian diare pada bayi di 5actor-negara maju.

Diare Osmotik a. Bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir 2. Defisiensi imun. hipoglikemia. karena seringnya defekasi. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah Rotavirus.5. Sarcocystis suihominis. gangguan sirkulasi. Adenovirus. anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat. nafsu makan berkurang atau tidak ada. Compylobacter jejuni. Kekurangan kalori protein c. mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Vibrio cholera.1. 2. suhu badan meningkat. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan atau sesudah diare.6 a. Salmonella spp. Pemeriksaan yang perlu dikerjakan antara lain: . Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena tercampur empedu. b. Hiperperistaltis usus halus c. coli. Clostridium perfringens. Tinja cair. (Noerasid. Infeksi.6. gangguan keseimbangan asam-basa. Bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah Aeromonas hydrophilia. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis (kausal) yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula. Malabsorbsi makanan b. Staphylococus aureus . b.1. Manifestasi Klinis Mula-mula anak balita menjadi cengeng. dan Yersinia enterocolitica. kemudian timbul diare. Shigelloides. Entamoba hystolitica. gangguan gizi. Clostridium defficile. yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. virus Norwalk. Cryptosporodium. Isospora billi. 2003). dan Trichuris trichiura. Bacillus cereus. gelisah. Penyebab diare oleh parasit adalah Balantidium coli. Fasiolopsis buski. Anak-anak yang tidak mendapatkan perawatan yang baik selama diare akan jatuh pada keadaankeadaan seperti dehidrasi. Giardia lambdia. E. terutama SIgA (secretory Immunoglobulin A). Strongiloides stercoralis.

Pemeriksaan tinja. sadar Normal Ada Basah Minum seperti B Gelisah.7. . beberapa komplikasi diare yang dapat terjadi. Pemeriksaan darah.1. lidah Rasa haus A Baik. diklasifikasikan menjadi empat. tidak sadar Sangat cekung Tidak ada Sangat kering Malas minum. Dehidrasi Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak daripada pemasukan air. 2003) Derajat dehidrasi berdasarkan gejala klinisnya dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.2 Derajat Dehidrasi Berdasarkan Gejala Klinis Penilaian Keadaan umum Mata Air mata Mulut.7 a. dan kadar ureum untuk mengetahui faal ginjal 2. Komplikasi Menurut Noerasid (2003). biakan kuman untuk mencari kuman penyebab. meliputi pemeriksaan darah lengkap. Derajat dehidrasi menurut kehilangan berat badan. meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. dan tes resistensi terhadap antibiotik b. pH darah dan elektrolit. antara lain: a. Derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan gejala klinis dan kehilangan berat badan.1 Derajat Dehidrasi Berdasarkan Kehilangan Berat Badan Derajat dehidrasi Tidak dehidrasi Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang Dehidrasi berat Penurunan berat badan (%) <2½ 2½-5 5-10 10 ( Noerasid. ingin C Lesu. dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 2. rewel Cekung Tidak ada Kering Haus.

sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hipoglikemia Pada anak-anak dengan gizi cukup/baik. sering diberikan pengenceran. d. produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal. apatis. Gejala hipoglikemia tersebut dapat berupa lemas. .8 Periksa:Turgor kulit Hasil pemeriksaan biasa Kembali cepat Tanpa dehidrasi minum banyak Kembali lambat tidak bisa minum Kembali sangat berat 1/lebih lambat Dehidrasi ringan/ Dehidrasi 1 tanda ditambah ditambah sedang Bila ada Bila ada 1 tanda 1/lebih tanda lain tanda lain Rencana Rencana pengobatan B pengobatanC (Depkes RI. sampai koma. hipoglikemia ini jarang terjadi. kejang. pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler. syok. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg% pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak. berkeringat. tremor. lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan kalori protein (KKP). pucat. c. 2006) Terapi Rencana pengobatan A b. Metabolik asidosis ini terjadi karena kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. Gangguan Keseimbangan Asam-Basa Gangguan keseimbangan asam basa yang biasa terjadi adalah metabolik asidosis. terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan. Hal ini disebabkan karena makanan sering dihentikan oleh orang tua. Walaupun susu diteruskan. Gangguan Gizi Sewaktu anak menderita diare.

Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. memberikan terapi awal bila anak terkena diare lagi. yakni rencana pengobatan A. Cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti oralit. ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat. air matang. Rehidrasi Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur. prinsip penatalaksanaan diare akut antara lain dengan rehidrasi. a. kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal 2. Pengobatan Menurut Andrianto (1995). dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak. air tajin). Gangguan Sirkulasi Gangguan sirkulasi darah berupa renjatan atau shock hipovolemik. Berdasarkan derajat dehidrasi maka terapi pada penderita diare dibagi menjadi tiga. Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan atau muntah. medikamentosa.3 Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur Umur Jumlah oralit yang Jumlah oralit yang disediakan di . B dan C.8. meneruskan terapi diare di rumah. asidosis bertambah berat. 1) Rencana Pengobatan A Digunakan untuk mengatasi diare tanpa dehidrasi. makanan cair (sup. pernapasan dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung.1. Gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 2.9 e. nutrisi. urin.

Nutrisi . dorong juga ibu untuk meneruskan ASI. dengan cara .<12 kg 700-900 ml 2-5 tahun 12 . 3) Rencana Pengobatan C Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi berat. Setelah 3-4 jam. 2006) 2) Rencana Pengobatan B Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi ringan dan sedang. Pertama-tama berikan cairan intravena. berikan 75 ml/KgBB. nilai setelah 3 jam. Bayi kurang dari 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI. b. B atau C untuk melanjutkan pengobatan. berikan oralit paling sedikit sesuai tabel berikut: Tabel 2. Jika keadaan anak sudah cukup baik maka berikan oralit. 2006). 2006) Berikan anak yang menginginkan lebih banyak oralit. Setelah 1-3 jam berikutnya nilai ulang anak dan pilihlah rencana pengobatan yang sesuai (Depkes RI.4 Jumlah Oralit yang Diberikan pada 3 Jam Pertama Umur Berat badan Jumlah oralit Sampai 4 bulan < 6 kg 200-400 ml 4-12 bulan 6 . kemudian pilih rencana A. Berat badan anak tidak diketahui. nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian. dalam 3 jam pertama.19 kg 900-1400 ml (Depkes RI.10 < 12 bulan 1-4 tahun > 5 tahun diberikan tiap BAB 50-100 ml 100-200 ml 200-300 ml rumah 400 ml/hari ( 2 bungkus) 600-800 ml/hari ( 3-4 bungkus) 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus) (Depkes RI.<10 kg 400-700 ml 12-24 bulan 10 . berikan juga 100-200 ml air masak.

kodein. attapulgit telah terbukti tidak ada manfaatnya. kaolin. kecuali bila agen penyebab telah diketahui. opium. Medikamentosa Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin. antara lain: Malabsorbsi lemak berikan trigliserida rantai menengah.1. Pemberian ASI diutamakan pada bayi.2.11 Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi. parenteral nutrisi dapat dimulai apabila ternyata dalam 5-7 hari masukan nutrisi tidak optimal (Suandi. makanan cukup energi dan protein. 1999) c. juga dapat mengurangi sekresi dan kehilangan cairan bersama tinja (Noerasid. Panmalabsorbsi berikan makanan rendah laktosa. difenoksilat. dapat menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus dan akan menyebabkan bacterial overgrowth. makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna. maka diperlukan persyaratan diet sebagai berikut yakni. 2003).2 ASI 2. Agar pemberian diet pada anak dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya. gangguan absorpsi dan digesti. makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering. Anti muntah termasuk prometazin dan klorpromazin terbukti selain mencegah muntah. Khusus untuk penderita diare karena malabsorbsi diberikan makanan sesuai dengan penyebabnya. 2. makanan tidak merangsang. pemberian cairan dan elektolit sesuai kebutuhan. Intoleransi laktosa berikan makanan rendah atau bebas laktosa. Adsorben seperti Norit. Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas seperti loperamid. Pengertian ASI . pemberian vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup. serta memperhatikan faktor yang mempengaruhi keadaan gizi anak. pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi yakni 24 jam pertama. karena pada umumnya diare merupakan self-limiting disease.

Selain itu. Pada masa ini kadar protein berkurang. yaitu: a. Menurut Siregar (2004). laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu. b. ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. sedangkan kadar karbohidrat dan lemak serta volumenya semakin meningkat.2. 2. 2005). Kolostrum Kolostrum merupakan cairan pertama yang berwarna kekuning-kuningan (lebih kuning dibandingkan susu matur). Pada ibu yang sehat dan . ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dengan komposisi sesuai dengan kebutuhan bayi. Kolostrum mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dibandingkan ASI matur.12 Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang sempurna untuk bayi segera setelah lahir. kolostrum dapat berfungsi sebagai pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang. ASI Peralihan ASI transisi diproduksi pada hari ke-4 sampai 7 hari ke-10 sampai 14.2. Cairan ini dari kelenjar payudara dan keluar pada hari kesatu sampai hari keempat-tujuh dengan komposisi yang selalu berubah dari hari kehari. 1997). yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. ASI Matur ASI mature merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya dengan komposisi yang relatif konstan. c. Setelah usia 6 bulan. Komposisi ASI Komposisi ASI pada masa laktasi dibagi menjadi 3 (Roesli. ASI merupakan sumber gizi yang ideal dengan komposisi yang seimbang dam disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI dapat diteruskan sampai usia 2 tahun (Depkes RI. bayi harus mulai diberikan makanan padat. Sebenarnya ASI tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal sampai usia 6 bulan.

2003) dan (Kliegman. Oleh karena itu. 2. pemberian zat besi tambahan kepada bayi yang disusui harus dicegah. Faktor Laktoperoksidase Merupakan enzim yang terdapat dalam ASI dan bersama-sama dengan hidrogen peroksidase dan ion tiosinat membantu membunuh streptokokus d. ASI mengandung antibodi terhadap virus dan bakteri. Asam laktat ini akan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan parasit lainnya. Faktor Laktoferin Suatu protein yang mengikat zat besi ditemukan terdapat dalam ASI.2. Aspek Imunologis ASI Imunoglobulin adalah suatu golongan protein yang mempunyai daya zat anti terhadap infeksi. ASI mengandung pula faktor-faktor kekebalan seperti berikut ini (Lubis. bakteri ini mendominasi flora bakteri dan memproduksi asam laktat dari laktosa. ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai umur enam bulan. karena mungkin dapat mempengaruhi daya perlindungan yang diberikan laktoferin c. Zat besi yang terikat tersebut tidak dapat digunakan oleh bakteri-bakteri usus yang berbahaya. b. Dalam usus bayi yang diberi ASI. Selain imunoglobulin. yang membutuhkannya untuk pertumbuhan. diperlukan untuk pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus.3. Faktor Bifidus Merupakan suatu karbohidrat yang mengandung nitrogen. 2007): a. 2007). yaitu Secretory Immunoglobulin A (SIgA) dengan konsentrasi yang relatif tinggi. .13 memiliki jumlah ASI yang cukup. Faktor Anti Staphylococcus Faktor tersebut merupakan asam lemak yang melindungi bayi terhadap bakteri stafilokokus. SIgA mencegah perlekatan mikroorganisme dengan mukosa usus (Kliegman.

Lubis (2003) menambahkan. air putih. dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang. manfaat pemberian ASI sangat banyak antara lain: 1) Sebagai Nutrisi Terbaik ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya. Faktor Sel -Sel Fagosit Merupakan pemakan bakteri yang bersifat patogen. 2) Meningkatkan Daya Tahan Tubuh .2. Kemudian bisa dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun. g. Setelah bayi berusia 6 bulan pemberian ASI eksklusif. dan pemberian ASI dapat diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun. biskuit. ASI Eksklusif a. 2. jeruk.14 e.4. Manfaat Pemberian ASI Eksklusif Menurut Roesli (2005). produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. b. dan tim (Roesli. Sel Limfosit Berfungsi untuk mengeluarkan zat antibodi untuk meningkatkan imunitas terhadap penyakit. ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja. Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat dan benar. 2005). baik kualitas maupun kuantitasnya. bubur susu. tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula. bubur nasi. air teh. f. pepaya. ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja kepada bayi mulai dari sejak lahir hingga umur 6 bulan. Pemberian ASI Eksklusif Menurut WHO (2009b). ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. Lisozim Lisozim berfungsi untuk menghancurkan dinding sel bakteri. ASI adalah makanan yang paling sempurna. madu.

jamur dan parasit yang menyerang manusia. Sedangkan kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat. 5) Mudah Dicerna ASI mudah dicerna. dan jamur. sedangkan susu sapi sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernaan. Kesenjangan daya tahan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI (Roesli. virus. misalnya asma dan alergi terhadap susu sapi. terutama bila ibu kurang mengetahui cara pembuatan susu formula yang benar dan baik. bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. Tetapi kadar zat tersebut akan cepat menurun setelah kelahiran bayi. Sehingga kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. Kesenjangan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI sebab ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri. 2005). . 4) Melindungi Bayi dari Infeksi ASI mengandung berbagai antibodi terhadap penyakit yang disebabkan bakteri. 6) Menghindarkan Bayi dari Alergi Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi. virus.4 Hubungan Pemberian ASI secara Eksklusif dengan Kejadian Diare Pada waktu bayi baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan tubuh dari ibunya melalui plasenta. 3) Tidak Mudah Tercemar ASI steril dan tidak mudah tercemar. 2.. tetapi kadar zat tersebut akan cepat turun setelah kelahiran bayi. selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh.15 Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan atau daya tahan tubuh dari ibunya melalui plasenta. sedangkan susu formula mudah dan sering tercemar bakteri. padahal dari waktu bayi lahir sampai bayi berusia beberapa bulan.

virus. BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.2 Definisi Operasional 1. maka bayi ASI eksklusif akan terlindungi dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri. Pemberian makanan berupa ASI sampai bayi mencapai usia 4-6 bulan.16 Persentase bayi yang terkena diare lebih tinggi pada bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif (Kamalia. akan memberikan kekebalan kepada bayi terhadap berbagai macam penyakit karena ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri. Bayi yang diberikan ASI biasanya jarang mendapat sakit dan kalaupun sakit biasanya ringan dan jarang memerlukan perawatan. . 2005). dengan adanya zat anti infeksi dari ASI.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah : Gambar 3. Menurut Puspitaningrum (2006) bahwa ada perbedaan yang signifikan antara bayi yang mendapat ASI eksklusif 6 bulan dengan bayi yang hanya diberi susu formula. Riwayat pemberian ASI diperoleh dengan wawancara. jamur dan parasit. jamur dan parasit. Pemberian ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi selama 6 bulan. virus.1 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen Pemberian ASI Eksklusif Variabel Dependen Frekuensi diare pada bayi usia 7-12 bulan Pemberian ASI Tidak Eksklusif 3. Oleh karena itu.

Diare adalah defekasi encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari. Kecamatan Medan Area. 3. Frekuensi diare adalah jumlah kejadian diare yang terjadi pada bayi setiap 1 bulan. Pengambilan dan pengumpulan data dilakukan selama bulan Juli – Nopember 2009. dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. 3. Data diperoleh dengan wawancara. Frekuensi diare pada bayi dikelompokkan menjadi ≤1 kali/bulan untuk kejadian diare hingga satu kali dalam satu bulan. di mana pengumpulan data atau variabel yang akan diteliti dilakukan secara bersamaan dan diambil pada satu waktu. dan >1 kali/bulan untuk kejadian diare lebih dari satu kali dalam satu bulan.2 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Medan Area Selatan. Kejadian diare dihitung dari saat bayi berusia 7 bulan hingga pada saat dilakukan wawancara. 4.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional.3 Populasi dan Sampel 4.3.17 2. BAB 4 METODE PENELITIAN 4.3 Hipotesis Terdapat perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Medan. Populasi . 4.

jumlah sampel yang dibutuhkan adalah sebanyak 97 orang. ditetapkan d = 0.1² = 96.96. Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling.4 orang ≈ 97 orang . Besar sampel yang diambil dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus: n = (Zα)²pq d² Keterangan rumus: n p q d = jumlah/besar sampel = proporsi keadaan yang akan dicari = 0.1 Angka-angka di atas dimasukkan kembali ke rumus besar sampel: n = (1. dan diambil sebanyak 100 orang. Adapun kriteria inklusi adalah bayi berusia 7-12 yang dibawa ke Puskesmas Medan Area.3. Jadi.5)(0. . Dalam penelitian ini.5 = 1-p = 0.2. Sedangkan kriteria eksklusi yang digunakan adalah bayi dengan orang tua yang tidak bersedia diikutsertakan dalam penelitian.4 Teknik Pengumpulan Data Zα = Confidence interval penelitian ini sebesar 1.5) 0.96)²(0.5 = tingkat ketepatan absolute yang dikehendaki. 4.18 Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bayi berusia 7-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan yang ada pada bulan Juli – Nopember 2009 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. 4.

5 Pengolahan dan Analisa Data Data yang diperoleh melalui penelitian ini akan dianalisis menggunakan program SPSS versi 15.0 menggunakan uji chi square untuk perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Dari pertanyaan kuesioner tersebut akan diperoleh data mengenai riwayat pemberian ASI dan riwayat mendapatkan diare. Sebelah Selatan 3. Thamrin . 4.1 Hasil Penelitian 5. Lokasi Puskesmas Medan Area Selatan Puskesmas Medan Area Selatan berada di Kecamatan Medan Area Kota Medan tepatnya di Jalan Medan Area Selatan. Deskripsi Lokasi Penelitian a. Sebelah Barat 4. BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. AR Hakim : Jl.1.1. Sebelah Utara 2.19 Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil dengan menggunakan metode wawancara dengan orang tua yang memiliki bayi berusia 7-12 bulan dengan bantuan kuesioner. Puskesmas Medan Area Selatan berbatasan dengan : 1. Secara geografis. Sebelah Timur : Sei Kera Hulu : Pusat Pasar Medan : Jl.

Kelurahan Sei Rengas II 4. masalah kesehatan setempat. Kelurahan Pandau Hulu Luas wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan adalah 150. demografis.00 : 35. Kelurahan Sukaramai II 3. Wilayah Kerja Puskesmas Medan Area Selatan Batasan wilayah kerja puskesmas yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan berdasarkan keadaan geografis.23 Ha dengan masing-masing luas kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan : 1. Usia Kelompok usia responden dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5.55 Ha . Hulu 5.1. Kelurahan Sei Rengas II 4. Kelurahan P.00 41. Wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan terdiri dari 4 kelurahan yaitu : 1. Kelurahan Sukaramai II 3. Kelurahan Sukaramai I 2.2.00 100.00 39. a.70 Ha : 31. sarana transportasi.20 b.00 10.78 Ha : 47. sumber daya dan lain-lain. Kelurahan Sukaramai I 2. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi berusia 7 – 12 bulan yang datang ke Puskesmas Medan Area.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Usia di Puskesmas Medan Area Selatan Kelompok Usia 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 Total Frekuensi 10 39 41 10 100 % 10.20 Ha : 35.

3 menunjukkan bahwa pekerjaan responden yang terbanyak adalah sebagai ibu rumah tangga. c.00 19.21 Berdasarkan hasil penelitian. Pekerjaan Pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel berikut. Umur responden termuda adalah 22 tahun. sebanyak 5 orang (5.00 100. yakni 5 orang (5.00%). dan yang paling tua adalah 38 tahun.00 100.00%).00 2. yakni sebanyak 67 orang (67.00%).00 Berdasarkan tabel 5.00%).00 67.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Puskesmas Medan Area Selatan Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Pegawai Swasta Pegawai Negeri Total Frekuensi 90 8 2 100 % 90. yaitu 41 orang (41. Tabel 5. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada tabel berikut.00 Tabel 5.00 5.00 8.2.00%) dan 10 orang .2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Puskesmas Medan Area Selatan Tingkat Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total Frekuensi 9 67 19 5 100 % 9. pada umumnya responden berusia 30 – 34 tahun. menunjukkan bahwa tingkat pendidikan terakhir responden terbanyak adalah SMP.00%). Tabel 5. yaitu sebanyak 90 orang (90. Dan yang paling sedikit adalah Perguruan Tinggi. b. yaitu 3 orang (3.

00%) dan bayi berusia 11 dan 12 bulan adalah bayi dengan umur yang sedikit ditemukan. 5.00 24. Karakteristik Bayi Bayi yang menjadi sampel penelitian adalah bayi berusia 7-12 bulan yang dibawa ke Puskesmas Medan Area. Jenis Kelamin Jenis kelamin bayi dapat dilihat pada tabel berikut.4 Distribusi Bayi Berdasarkan Usia di Puskesmas Medan Area Selatan Usia (bulan) 7 8 9 10 11 12 Total Frekuensi 23 24 18 17 9 9 100 % 23.00%). . Tabel 5.00 18.00 9.00%) dan pegawai negeri sebanyak 2 orang (2. yakni pegawai swasta sebanyak 8 orang (8. yaitu masing-masing 9 orang (9.00 17. Usia Usia bayi dapat dilihat pada tabel berikut.1.22 yang bekerja.00 100. b. a.3. yaitu 24 orang (24. bayi berusia 8 bulan adalah bayi terbanyak.00 9.00%).00 Dari tabel di atas.

00%).00 100.00 86.00%) dan bayi perempuan sebanyak 43 orang (43.00%).7 Distribusi Bayi Berdasarkan Frekuensi Diare di Puskesmas Medan Area Selatan Frekuensi Diare ≤1 kali/bulan Frekuensi 39 % 39.00 43. Kejadian diare dihitung dari saat bayi berusia 7 bulan hingga pada saat dilakukan wawancara.00 Dari tabel di atas. d. Riwayat Pemberian ASI Riwayat pemberian ASI pada bayi di Puskesmas Medan Area Selatan dapat dilihat pada tabel berikut. c. terdapat bayi laki-laki sebanyak 57 orang (57.00 . Tabel 5. Sedangkan 86 orang (86.00 Dari tabel di atas.00%) bayi lainnya tidak mendapatkan ASI eksklusif.6 Distribusi Bayi Berdasarkan Riwayat Pemberian ASI di Puskesmas Medan Area Selatan Pemberian ASI ASI Eksklusif ASI Tidak Eksklusif Total Frekuensi 14 86 100 % 14. Frekuensi Diare Frekuensi diare pada bayi dikelompokkan menjadi ≤1 kali/bulan untuk kejadian diare hingga satu kali dalam satu bulan. jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 14 orang (14. dan >1 kali/bulan untuk kejadian diare lebih dari satu kali dalam satu bulan.5 Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas Medan Area Selatan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi 57 43 100 % 57.00 100.23 Tabel 5. Tabel 5.

diperoleh tabel frekuensi diare berdasarkan riwayat pemberian ASI. Untuk mengetahui apakah memang benar ada perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.00 n 3 58 61 % 3.595.00 n 14 86 100 Total % 14. dan 58 orang (58.24 >1 kali/bulan Total 61 100 61.00 100.00 100.00 28.1.00 Dari tabel di atas.00 39.00 58.001 (p<0. didapati nilai p value sebesar 0.00%) bayi mengalami diare ≤1 kali/bulan. dan sebanyak 61 (61.00%) bayi mengalami >1 kali/bulan.00%) yang mengalami frekuensi diare ≤1 kali/bulan.00 86.00 61.05) dan Odd Ratio sebesar 7. Hal ini berarti ada .00%) yang mengalami frekuensi diare >1 kali/bulan.4. dapat dilihat bahwa sebanyak 39 (39.001 Berdasarkan tabel 5.8. Hasil Analisis Statistik antara Riwayat Pemberian ASI dengan Frekuensi Diare Dari hasil penelitian. Tabel 5. maka dilakukan uji chi square antara riwayat pemberian ASI dengan frekuensi diare. terdapat 28 orang (28.00%) dan yang mengalami frekuensi diare >1 kali/bulan sebanyak 3 orang (3.00%). Dari hasil uji chi square. bayi yang mendapatkan ASI eksklusif yang mengalami frekuensi diare ≤1 kali/bulan sebanyak 11 orang (11.00 p value 0. Sedangkan pada bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.8 Frekuensi Diare Berdasarkan Riwayat Pemberian ASI di Puskesmas Medan Area Selatan Riwayat Pemberian ASI ASI Eksklusif ASI Tidak Eksklusif Total Frekuensi Diare ≤1 kali/bulan >1 kali/bulan n 11 28 39 % 11. 5.

Menurut Arianto (2008). 5. Kejadian Diare Dari tabel 5. Hal ini menunjukkan rendahnya pencapaian cakupan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang datang ke Puskesmas Medan Area Selatan. .25 perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Menurut Roesli (2005). Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat pada tabel 5. berdasarkan hasil penelitian.1. ibu sibuk bekerja. jumlah bayi berusia 7-12 bulan yang memiliki riwayat mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 14 orang (14. Arianto juga menambahkan. 90 orang responden (90. dan sebanyak 61 (61.2. dan karena ibu menganggap penggunaan susu formula lebih praktis daripada memberikan ASI. Namun. beberapa faktor lain yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI eksklusif adalah pengaruh.2 Pembahasan 5. sehingga tidak dapat menyusui bayinya dengan baik dan teratur.2.2.00%). dan gencarnya promosi susu formula. salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya pemberian ASI eksklusif adalah kesibukan ibu turut bekerja untuk mencari nafkah. Sementara target cakupan pemberian ASI Eksklusif Nasional adalah 80% (Depkes RI. Hal ini menunjukkan sebagian besar bayi berusia 7-12 bulan di Puskesmas Medan Area masih sering mengalami diare.00%) bayi mengalami >1 kali/bulan.00%) bayi lainnya tidak mendapatkan ASI eksklusif. ada beberapa alasan ibu untuk tidak menyusui anaknya terutama secara eksklusif. ibu takut ditinggal suami karena mereka percaya mitos bahwa dengan menyusui dapat merubah bentuk payudara dan menyebabkan kegemukan. dapat dilihat bahwa sebanyak 39 (39.00%) tidak bekerja dan hanya sebagai ibu rumah tangga.00%) bayi mengalami diare ≤1 kali/bulan. yaitu ibu merasa ASI yang dihasilkannya tidak cukup.7. perubahan kultur masyarakat. 1997). 5.6 di atas. Sedangkan 86 orang (86.

5. Sedangkan balita yang diberikan ASI eksklusif hanya 22. Bayi yang diberikan ASI lebih jarang mendapat sakit dan kalaupun sakit biasanya ringan dan jarang memerlukan perawatan. defisiensi sistem imun. Penyebab diare adalah terjadinya peradangan usus yang disebabkan oleh virus. atau agent penyebab penyakit diare lainnya. tidak mendapatkan ASI eksklusif maupun tidak diberi ASI sama sekali.90%. Resiko tambahan antara lain adalah bayi pada usia yang lebih muda. sarana pembuangan air limbah dan kesehatan lingkungan pada musim kemarau. kurang gizi. bakteri. alergi makanan tertentu. Perbedaan Frekuensi Diare pada Bayi Berusia 7–12 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dengan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Simatupang (2004) juga menambahkan. yaitu 77. Dia menyatakan bahwa kejadian diare pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih sedikit dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.10%. Penelitian . Puspitaningrum (2006) juga menambahkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara bayi yang mendapat ASI eksklusif 6 bulan dengan bayi yang hanya diberi susu formula. terjadinya diare pada bayi terutama disebabkan oleh sanitasi lingkungan yang tidak bersih dan tingginya paparan kuman enteropatogen. Penyebab lain yang dapat menimbulkan penyakit diare adalah keracunan makanan. Hiswani (2007) menambahkan bahwa kasus penyakit diare ini sangat berkaitan dengan perilaku manusia. Fatmawati (2003) juga menyatakan bahwa ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi 4-12 bulan. proporsi kejadian diare pada balita lebih besar terjadi pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. malnutrisi. kurang penyediaan air bersih.2.26 Menurut Kliegman (2007). sarana air bersih.3. Hal ini sesuai dengan penelitian Kamalia (2005) bahwa diare lebih jarang terjadi pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. bayi sedang mengalami campak.

05. Pemberian ASI secara benar penting bagi upaya pencegahan diare pada bayi melalui mekanisme menurunkan paparan terhadap kuman enteropatogen. terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare. karena ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri. 1999) Pemberian ASI meminimalisasi terjadinya diare dengan cara menyediakan faktor-faktor perlindungan dan mengurangi paparan terhadap makanan atau air yang mengandung enteropatogen. secara alamiah mendapat zat kekebalan tubuh (imunoglobulin) dari ibunya melalui plasenta. Menurut Lubis (2003). Sejak resistensi terhadap antibiotik menjadi masalah global. parasit. ASI bermanfaat pada kelainan gastrointestinal terutama disebabkan adanya faktor peningkatan pertumbuhan sel usus (intestinal cell growth promoting factor) pada ASI. efek perlindungan dari ASI pada bayi yang sedang sakit menjadi semakin penting (Riordan. Selain itu. Zat kekebalan yang terdapat pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari penyakit diare (Roesli. bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna.27 tersebut menunjukkan p<0. inisiasi dini menyusui pada bayi baru lahir dapat menurunkan resiko terjadinya diare pada 6 bulan pertama kehidupan bayi. virus. padahal dari waktu bayi lahir sampai bayi berusia beberapa bulan. Kesenjangan daya tahan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI. . Sehingga kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. dan jamur. faktor-faktor perlindungan berupa zat-zat imumologi atau anti infeksi sehingga vili dinding usus cepat mengalami penyembuhan (setelah rusak karena diare). Hal tersebut kemungkinan disebabkan efek dari kolostrum yang terkandung pada awal permulaan pemberian ASI. 2005). diare cepat berhenti akibatnya pertumbuhan dan perkembangan anak kembali normal seperti semula. (Clemens. meningkatkan respon imunologi pada bayi terutama imunisasi pasif dari ibu. dengan kata lain. tetapi kadar zat tersebut akan cepat turun setelah kelahiran bayi. 2005). Pada waktu bayi baru lahir.

2004). terdapat 28. Terdapat perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (p = 0. Pada bayi berusia 7-12 yang tidak mendapat ASI eksklusif.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan. dan terdapat 3. 6. Kepada Puskesmas Medan Area Selatan. melindungi saluran pencernaan dan mengurangi kemungkinan dehidrasi apabila bayi mengalami diare (Simatupang.00% bayi yang mengalami diare >1 kali/bulan 4. terdapat 11. Pada bayi berusia 7-12 yang mendapat ASI eksklusif. Terdapat 14. dan terdapat 58. dapat disimpulkan bahwa: 1.00% bayi yang mengalami diare ≤1 kali/bulan.001).00% bayi yang mengalami diare >1 kali/bulan 3.2 Saran 1.00% bayi yang mengalami diare ≤1 kali/bulan.00% bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif 2. agar dapat meningkatkan kinerja petugas kesehatan untuk dapat menyosialisasikan serta membina ibu-ibu . BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.28 meningkatkan status gizi bayi.

et.. oleh karena itu. Available from: http://www. R. 2006.pdf [Accessed 25 March 2009] Clemens. Masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. 3. Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut. Edisi 2.. E. Mansyur. bagi peneliti selanjutnya.. Berita Epidemiologi.. Early Initiation of Breastfeeding and the Risk of Infant Diarrhea in Rural Egypt. Penyelidikan KLB Diare di Wilayah Puskesmas Mananggu Kabupaten Boalemo Pebruari 2006.. Medan. 1995.aappublications. John. 2. Available From: http://pediatrics..pemkomedan. al.29 untuk dapat memberikan ASI secara eksklusif agar terciptanya generasi sumberdaya yang cerdas dan sehat. R. Kepada petugas kesehatan agar lebih aktif dalam memberikan penyuluhan tentang penyakit diare. FKM USU. Liputo. Edisi Juni 2006.. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Status Gizi Bayi Ditinjau dari Pemberian Asi Eksklusif. Andrianto. 1999. R. P. Arianto. Skripsi. S. Jakarta : EGC. Badan Pusat Statistik Kota Medan. dan Kelengkapan Imunisasi di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2008.id/file/h_1211791706. diharapkan dapat meneliti tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan pemberian ASI maupun yang berhubungan dengan kejadian diare. 2007. Medan dalam Angka 2007.org/cgi/content/full/104/1/e3 [Accesed 25 November 2009] . 2008. Pemberian MP-ASI. S. Buhang.go. Uloli.

Jakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005a.id/staticfiles/dokumen/indikator_ina_2010. Jakarta. M. Skripsi. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Available From: http://www. Guandalini.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tamer.go.pdf [Accessed 25 March 2009] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Edisi ke-4. Indikator Indonesia Sehat 2010. S. Diarrhea. Departemen Kesahatan Republik Indonesia.. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1216/MENKES/SK/XI/2001 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Petunjuk Pelaksanaan Peningkatan ASI Eksklusif Bagi Petugas Puskesmas. Heny.go. 2003.id/staticfiles/dokumen/Kebijakan_asi.dinkeskotasemarang. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.com/article/928598-overview. R. Higine Perorangan.medscape.dinkeskotasemarang.30 Departemen Kesehatan Republik Indonesia.E. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif. Buku Pedoman Penatalaksanaan Program P2 Diare. [Accesed 5 April 2009] . Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran. 2000. 1997. Kebijakan Peningkatan Pemberian ASI. MPASI.A. Jakarta.. Available From : http://emedicine. Fyre. dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Diare Bayi 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Purwosari Kudus. Emedicine. Direktrorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2009.pdf [Accessed 25 March 2009] Fatmawati. 2006. Available From: www. 2005b.

dir/doc.. Asnil. 2000.E..id/download/fk/anakchairuddin2.pdf..ac. B. S. Fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Ilmu Kesehatan masyarakat Universitas Negeri Semarang. C. Balai Penerbit FK UI.31 Hiswani.M. R. H.F. 2007. W. Kliegman. Rusana. Behrman. 2003. D. H. Skripsi. Jakarta : Media Aesculapius. Peranan Air Susu Ibu dalam Mencegah Diare dan Penyakit Usus Lainnya. Perbedaan Frekuensi Diare Antara Bayi Yang Diberi Asi Eksklusif Dengan Bayi Yang Diberi Susu dengan Keadaan Saritasi lingkungan. Jenson.F.unnes.pdf. Available From: http://library.ac.M. Suprohaita. W. Nelson Textbook of Pediatrics. Suraatmadja. Notoadmodjo. 2006. Noerasid.I. Philadelphia: Saunders. S.M. R. Stanton.P. Semarang. Gastroenterologi Anak Praktis. A.. E. R. [ Acced 4 April . R.... B. Rahayu.usu. A.. Metodologi Penelitian Kesehatan.B.id/download/fkm/fkm-hiswani7. Setiowulan. Kapita Selekta Kedokteran. Puspitaningrum. Wardhani. Behrman.O. [ Accessed 4 April 2009] Mansjoer.. 2006.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01da/9043 1471. 2003.S. Gastroenteritis (Diare) Akut. Nelson Essentials of Pediatrics.E.. Diare Merupakan Masalah Kesehatan yang Kejadiannya Sangat Erat 2009] Kamalia. Available From : http://library... H. Boediarso. Y. Halimun.. Edisi 5. Edisi 18.. 2005. Stanton. Available from: http://digilib.ac. Jakarta : Rineka Cipta. Jenson.... Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Bayi Usia 1-6 Bulan di Wilayah Kerja Pukesmas Kedung Wuni I Tahun 2004–2005.B. Jakarta. C. P. In : Suharyono. 2003.usu. 2005.E...pdf [Accessed 25 March 2009] Kliegman. Philadelphia: Saunders Lubis.

H. Breastfeeding and Human Lactation. M. 2004. M. I.. 1992. Available from: http://litbangstikesalirsyad.. Halimun... Progam Magister Epidemiologi. U.wordpress. 2008.A. M.32 Formula Di Wilayah Kerja Puskesmas Gandrungmangu I Kabupaten Cilacap Tahun 2006. Balai Penerbit FK UI. 2004. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.. Jakarta. Philadelphia. Massachusetts: Jones and Bartlett Publishers.B. Riordan. 2005. Siregar. E. Simatupang.A. 80. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Mel Yati.. Bass. Mosby Elsevier.com/2008/01/perbedaan-frek-diare.pdf [Accessed 25 March 2009] Riley.files. Jakarta. Roesli. Jilid 1.ac. Sutanto.. Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Suffrie. D. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. [ Accessed 4 April . Available From : http://library. Ilmu Kesehatan Anak. A. Sinuhaji. Thesis. 2005. In : Suharyono.A. 2007. A.usu.pdf. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. A.id/download/fkm/fkm-arifin4.M. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya.... Panduan Praktek Pediatrik. 2003. D.. Boediarso. Mekanisme Infektisius Diare Akut. In : Liacouras. Gastroenterologi Anak Praktis. C. Cermin Dunia Kedokteran. Pediatric Gastroenterology : The Requisites In Pediatrics. Darmawan. Piccoli.R. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Kota Sibolga pada Tahun 2003. 2009] Soetjiningsih. Peranan ASI pada Pengobatan Diare.. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Jan. 2003. Infectious Diarrhea.

Available from : http://www. Statistika Kedokteran.who..S. Diarrhoea.. Medan : Fakultas Kedokteran USU. A. A. 2009a. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI Wahyuni. 2008. Sudarsono. S. 2007.html [Accessed 25 March 2009 ] . Available from : http://www. Exclusive Breastfeeding.int/nutrition/topics/exclusive_breastfeeding/en/index. 2009b. Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran.int/topics/diarrhoea/en/ [Accessed 25 March 2009] World Health Organization..who. World Health Organization.33 Tjokronegoro.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful