Anda di halaman 1dari 2

prigibeach.

com

<center>Kabupaten Trenggalek<br/>Selusur Tim Tanggap Darurat Bencana Geo


Minggu, 27 Februari 2011 01:54:12 Wib

<strong>Trenggalek (prigineach.com) </strong>- Geger!!! warga Kecamatan Munjungan dan Watulimo Kabupaten
Trenggalek, Jatim, dengan munculnya suara gemuruh disertai dentuman keras. Warga menduga suara mencurigakan
tersebut dari Gunung Kambing-an (masyarakat mengenalnya dengan sebutan Gunung Kambengan) yang berlokasi di
Desa Karangturi Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Suara dentuman disertai gemuruh yang terdengar dari radius
lebih dari dua puluh kilometer tersebut terdengar setiap malam dengan menimbulkan getaran sampai kaca warga
pecah. Bahkan pada siang hari pun ada masyarakat yang mendengarnya. (Baca: selengkapnya di
www.prigibeach.com)<p><strong>Gempa Tektonik Kedalaman 33 KM</strong></p><p>Setelah melakukan penelitian
selama 3 hari non-stop, Tim BMKG yang langsung dipimpin oleh Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) Tretes, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Petrus Demon Sili, menyimpulkan bahwa getaran itu berada di arah
dominan 220-260 derajat (Barat-Barat Daya) dengan sebaran di radius 4-40 Km dari Desa Timahan, Kecamatan
Kampak, Trenggalek.</p><p>Suara gemuruh disertai dentuman yang dirasakan warga Kecamatan Watulimo,
Munjungan dan Kampak Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dipastikan bersumber dari aktivitas gempa tektonik, dan
bukan aktivitas magma gunung api, pertambangan ilegal atau latihan militer di wilayah eks-Karsidenan Madiun. Gejolak
yang menimbulkan gema tersebut berada pada kedalaman 33 kilometer, dengan pusat di wilayah Desa Timahan
Kecamatan Kampak.</p><p>&quot;Ini hasil monitoring kita selama tiga hari (15-18 Februari 2011) di Trenggalek
dengan menggunakan perangkat portabel digital seismograf dan analog seismograf, &quot; ujarnya kepada wartawan
dalam pemaparan hasil analisa fenomena getaran yang terjadi di Kabupaten Trenggalek.</p><p><strong>Ada 25 Titik
Pusat Gempa</strong></p><p>Selain melakukan penelitian di wilayah Kecamatan Kampak, tim BMKG juga melakukan
survei di wilayah Kecamatan Munjungan. Selama tiga hari tersebut, BMKG menemukan sebanyak 25 titik sebaran dari
pusat gempa yang berada di Desa Timahan. Yakni meliputi wilayah Kecamatan Dongko, Pule, Suruh, Watulimo hingga
Munjungan. Gempa tektonik yang berlangsung terus menerus ini rata-rata berada pada kekuatan dibawah 3,2 skala
richter.</p><p>&quot;Yang terbesar pada kekuatan 3,2 Skala Richter, yakni pada arah 8.00 LS-111.78 BT, berjarak
20,5 Km Timur Laut Desa Timahan, Kecamatan Kampak,&quot; jelas Petrus. Di hadapan Bupati Trenggalek H.Mulyadi
WR, Sekda Trenggalek Cipto Wiyono, Ketua DPRD Akbar Abbas dan sejumlah Muspida, Petrus menjelaskan, bahwa
secara topografis, Kabupaten Trenggalek berada di wilayah lempeng India-Australia. Keberadaan ini sama halnya
dengan Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Malang hingga Banyuwangi. Resikonya, Trenggalek rawan
diguncang gempa yang diakibatkan gesekan atau tumbukan dengan lempeng Eurasia atau lempeng Pasifik. &quot;Tapi
ini gempa darat yang tidak menimbulkan tsunami,&quot; tambahnya.</p><p><strong>Bukan Gempa
Tektonik</strong></p><p>Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung mementahkan hasil
penelitian Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, terkait getaran dan dentuman di 4 kecamatan
di Kabupaten Trenggalek. Kejadian tersebut dipastikan bukan gempa tektonik, melainkan sebuah dampak dari
terjadinya pergerakan tanah lambat.</p><p>&quot;Kalau istilah teknisnya, kami biasa menyebut kriting. Di Indonesia,
khususnya yang memiliki kemiringan tanah sedang, itu biasa terjadi,&quot; kata Kepala PVMBG Surono kepada
detiksurabaya.com saat dihubungi, Sabtu (19/2/2011).</p><p>Dalam catatan PVMBG, kejadian yang sama di
Kabupaten Trenggalek pernah terjadi di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara dan Bandung Utara, Jawa Barat. Kejadian
itu biasanya akan selalu terjadi saat musim penghujan, dan akan berhenti dengan<br />sendirinya saat kemarau
tiba.</p><p>&quot;Itu adalah gesekan antara tanah dengan kelembaban tinggi karena air hujan, dengan lapisan dalam
yang kedap air. Gesekan dan gerakannya sangat lambat, makanya disebut pergerakan tanah lambat dan getarannya
tidak begitu keras,&quot; jelas Surono.</p><p>Ditanya mengenai hasil penelitian Balai Besar wilayah III Stasiun
Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, yang menyebut kejadian tersebut adalah gempa tektonik, dengan tegas
Surono membantahnya. &quot;Gempa tektonik tidak mungkin ada di kedalaman 33 Km,&quot; sangkalnya. Surono juga
membantah adanya kemungkinan tanah longsor dalam skala besar, sebagai akibat getaran dan dentuman di
Kabupaten Trenggalek tersebut. Ancaman tanah longsor tetap ada, namun tidak perlu terlalu
dikhawatirkan.</p><p>&quot;Dampak yang paling mungkin terjadi adalah tanah retak. Kalau longsor kemungkinannya
kecil, kecuali daerah tempat kejadiannya memiliki kemiringan yang curam,&quot; tandasnya.</p><p><strong>Tanah
Retak</strong></p><p>Gelegar dentuman disertai getaran dilaporkan sudah ada kerusakan sebagai akibat kejadian,

Page 1/2
prigibeach.com

ditandai dengan adanya tanah retak di sejumlah lokasi. Bupati Trenggalek melalui Kepala Bagian Humas, Yoso Mihardi
mengatakan, lokasi terbaru yang juga merasakan dentuman dan getaran adalah Kecamatan Gandusari, setelah
sebelumnya hanya terjadi di Kecamatan Watulimo, Munjungan, Kampak, dan Panggul. Intensitas dentuman juga
dilaporkan meningkat, yaitu lebih dari 25 kali dalam sehari.</p><p>&quot;Pagi tadi saja, setelah Subuh saya sudah
mendengar lebih dari 10 kali. Padahal sebelumnya kan maksimal 25 kali dalam sehari,&quot; kata Yoso ketika ditemui
di ruang kerjanya, Senin (21/2).</p><p>Saat itu juga dilaporkan sudah mengakibatkan kerusakan. Salah satunya yaitu
tanah retak di sekitar rumah warga, tepatnya di Desa Timahan, Kecamatan Kampak.</p><p>&quot;Untuk tanah retak di
(Desa) Timahan, tadi pagi dilaporkan oleh Camat Kampak. Tapi seperti apa dan seberapa tingkat keparahannya masih
dilakukan pengecekan lapangan,&quot; sambung Yoso.</p><p>Usai menggelar pertemuan dengan dua lembaga teknis
vulkanologi dan geofisika (BMKG dan PVMBG) kemarin Sabtu, Pemkab Trenggalek gencar memberikan penerangan
kepada masyarakat agar senantiasa waspada. Kendati demikian, Pemkab memberikan penjelasan bahwa peristiwa itu
kemungkinannya hanya berlangsung beberapa pekan lagi dan tidak akan terjadi bencana gempa yang
mengkhawatirkan.</p><p><strong>Bukan Hanya Trenggalek</strong></p><p>Kejadian yang sama juga dilaporkan
terjadi di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan penelitian oleh Balai Besar wilayah III Stasiun
Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, dianggap sebagai gempa tektonik di kedalaman kurang dari 33 Km.
</p><p>Logikanya, setiap daerah di pesisir Selatan yang memiliki bukit dan kecuraman akan merasakan getaran dari
gelegar yang disebabkan aktivitas tersebut. Ponorogo, Trenggalek dan Pacitan memang daerah rawan gempa.
Sehingga fenomena ini dapat dirasakan. Bahkan terakhir, ada empat desa di Kecamatan Besuki, Tulungagung juga
terimbas.</p><p>Patahan Grindulu Pacitan</p><p>&quot;Secara teoritis semua serba mungkin terjadi. Tetapi kami
akan mempelajari hasil penelitian terlebih dulu, karena menurut kami yang saat ini masih berlangsung itu kemungkinan
adanya aktivitas tektonik di sekitar patahan (Sesar) Grindulu,&quot; ujar I Gede Swastika.</p><p>Tim ahli geologi dari
PVMG ini menjelaskan bilamana aktivitas gempa sporadis yang dirasakan masyarakat pesisir selatan Tulungagung,
Trenggalek, Pacitan dan Ponorogo diduga bisa mengakibatkan gempa besar akibat pergerakan Sesar Grindulu, salah
satu patahan terbesar di selatan Pulau Jawa yang berada di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Hal itu dijelaskannya saat
melakukan pemasangan alat pendeteksi gempa (seismograf-red)di Desa Dukuh Kecamatan Watulimo. Kabupaten
Trenggalek, Jatim kemarin Kamis(24/2).</p><p>Menurut Gede kesimpulan tersebut masih tahap awal, sebab suara
dentuman yang terjadi di sekitar lereng Gunung Wilis tersebut masih harus menunggu penelitian lebih lanjut. &quot; Kita
ingat Tahun 2004 lalu, dimana akibat aktifitas sesar &quot;Opak&quot; dengan terjadinya gempa Yogyakarta-Bantul itu
juga diakibatkan retakan pada sisi lempeng bumi yang berada pada sisi Selatan Pulau Jawa.</p><p><strong>Press
Release Terakhir</strong></p><p>Dalam pernyataan resminya dikantor Bawarasa Trenggalek, didampingi oleh I Gede
SwastikaTim ahli dari PVMBG, Sabtu (26/2),H. Mulyadi WR menyatakan suara dentuman yang menggelegar disertai
dengan getaran-getaran kecil pada permukaan tanah bukanlah gempa, namun hal itu adalah akibat adanya pergeseran
atau benturan batuan yang cukup besar di dalam perut bumi. Dengan adanya fenomena alam seperti ini akan
menimbulkan dampak primer dan dampak sekunder. Sebagai bentuk dampak primer yakni;adanya suara
gemuruh.sedangkan dampak sekundernya terjadi keresahan pada seluruh lapisan masyrakat khususunya kabupaten
Trenggalek.</p><p>Selanjutnya I Gede Swastika Tim ahli dari PVMBG di tempat yang sama, mengungkapkan pihaknya
tidak menemukan adanya retakan dari getaran yang terjadi, hanya menemukan adanya gerakan tanah.
</p><p>&quot;Hasil penelitian kami, ketika kami memasang alat Seismograf di empat titik yakni Bendungan, Desa
Timahan kec.kampak, Desa Pringapus kec,Dongko, Desa Dukuh kec.Watulimo, ternyata tidak ada sinyal terjadinya
Gempa&quot;.</p><p>I Gede swastika menyimpulkan, penyebab terjadinya suara dentuman tersebut adalah benturan
atau pergeseran blok tanah atau blok batuan yang cukup besar yang terjadi didalam tanah, yang dimungkinkan akibat
gangguan curah hujan dan gaya-gaya tektonik. Kejadian serupa di tempat atau wilayah luar kabupaten Trenggalek,
suara dentuman dan getaran tersebut tidak akan menimbulkan bencana. </p><p>Pernyataan resmi Bupati Trenggalek
bersama Tim Ahli PVMBG menegaskan kepada masyrakat Trenggalek dam sekitarnya untuk tidak perlu resah dan tidak
perlu kawatir. &quot;Kendati demikian, sewajarnya juga bila masyarakat harus tetap waspada mengingat wilayah
kabupaten adalah wilayah pegunungan yang rentan sekali terjadi bencana&quot;, demikian H. Mulyadi
WR.(her/mentho/haz).</p>

Page 2/2