Anda di halaman 1dari 3

DOSA BESAR DAN DOSA KECIL

“Apabila kamu menjauhi dosa-dosa besar yang telah dilarang bagimu untuk mengerjakannya,
maka Kami hapuskan dosa-dosamu yang kecil dan Kami masukkan kamu kedalam tempat yang
mulia (Surga).” (Q.S. An-Nisaa’: 31)

Dari ayat di atas, jelas terdapat dua macam dosa, yakni dosa besar dan dosa kecil. Jelas pula
bahwa Allah SWT berjanji bahwa jika seorang hamba menjauhkan diri dari dosa-dosa besar,
maka Allah SWT memaafkan kesalahan/ dosa kecil yang pernah dilakukannya. Haruslah kita
ingat bahwa terdapat prasyarat untuk terpenuhinya janji Allah SWT itu, yakni, semua yang
fardlu (wajib) seperti halnya shalat, zakat, dan puasa, harus tetap dikerjakan dengan tertib dan
teratur, sambil terus berusaha menjauhi dosa-dosa besar, sebab meninggalkan yang fardlu itupun
tergolong melakukan dosa besar. Jadi, jika seorang hamba melaksanakan semua yang diwajibkan
(fardlu) dan meninggalkan perbuatan dosa besar maka Allah SWT akan memaafkan dosa-dosa
kecilnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketika seorang mukmin berbuat suatu dosa, dosa itu
menjadi sebuah noda hitam pada hatinya. Jika ia menyesalinya (memohon ampunan) hilanglah
noda itu. Jika ia tidak menyesali perbuatan itu maka noda itu akan membesar dan membesar
sehingga menutupi seluruh hatinya.”

Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya, Surat Al-Muthaffifin Ayat 14.“Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka"

Bilamana hati telah sepenuhnya tertutup oleh noda, tak satupun petunjuk dapat menembus
kedalam hati dan orang sedemikian itu tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan
yang terdapat didalam Al-Qur’an. Hal ini ditekankan berulang-ulang didalam Al-Qur’an, bahwa
Al-Qur’an adalah peringatan bagi mereka yang sadar atas adanya Tuhan dan terbuka hatinya
untuk menerima petunjuk.

Seseorang menyebutkan kepada Ibnu Abbas r.a bahwa hanya ada tujuh dosa besar. Ibnu Abbas
pun mengatakan tidak hanya tujuh. Sebaiknya katakan saja tujuh ratus. Adapun Imam Ibnu Hajar
Makki r.a telah menguraikan daftar dosa besar sekaligus dengan penjelasannya yang terperinci
didalam buku beliau, Kitabuzzawajir. Terdapat 468 (empat ratus enam puluh delapan) dosa
besar, ini hanya ditinjau dari segi ketidak-patuhan terhadap Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku beritahukan kepadamu tiga macam dosa yang paling
besar, yakni: Mengada-adakan sekutu bagi Allah SWT, tidak patuh kepada kedua orangtuamu,
dan memberikan kesaksian palsu.” (Bukhari dan Muslim)

Masih dari Hadits Bukhari dan Muslim, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW perihal
dosa besar. Jawaban beliau adalah menyekutukan Allah SWT. Kemudian dosa besar apakan
yang berikutnya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Membunuh anak-anak karena khawatir
atas tanggung-jawab memberi makan.” Kemudian orang itu masih bertanya dosa apalagi yang
berikutnya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Berzina dengan istri tetangga.” Perlu diingat
bahwa berzina saja sudah merupakan dosa besar. Disamping itu, seorang mukmin wajib
melindungi keluarga tetangganya. Maka, berbuat zina dengan tetangga berarti melakukan
kejahatan ganda.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Mencaci orang-tua sendiri adalah dosa besar.” Dengan
rendah-hati sahabat bertanya, “Mungkinkah seseorang mencaci orang-tuanya sendiri?” Beliau
menjawab, “Kamu mencaci orang tua seseorang, kemudian ia berbalik membalas mencaci orang-
tuamu.” Jadi, mencaci orang-tua dari orang lain sama saja dengan mencaci orang-tuamu sendiri.
(Shahihin)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Menyekutukan Allah SWT, membunuh orang lain tanpa
alasan kuat, menyalah-gunakan harta anak yatim, melakukan riba’, melarikan diri dari
pertempuran, melemparkan tuduhan (memfitnah) kepada perempuan-perempuan shalihah, tidak
taat kepada ibu-bapak, dan tidak menghormati Baitullah, semua itu termasuk dalam kelompok
dosa besar.” (Bukhari)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Bilamana seseorang melemparkan tuduhan tanpa dasar hanya
karena ingin melecehkan orang lain, atau untuk berputus asa terhadap kasih-sayang Allah SWT
dan untuk melanggar hukum-hukum waris, itu semua termasuk dosa-dosa besar.” Menurut
Hadits lain, menjamak dua shalat dalam satu waktu tanpa alasan yang sah menurut syariah juga
merupakan dosa besar. Shalat hendaklah dikerjakan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Suatu kali Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah orang itu!” Beliau mengulangi sampai tiga
kali. Abu Dzar r.a pun dengan rendah-hati bertanya, “Siapakah dia Wahai Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab, “Seorang yang sombong, yang mengenakan pakaian begitu panjang
sehingga menyentuh tanah, seorang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT lalu
diceritakan kepada orang-orang untuk ketenaran dirinya, seorang yang telah lanjut usia namun
berzina, seorang yang menduduki jabatan penting namun ia berkhianat, seorang yang telah
diberkahi Allah SWT dengan keturunan yang banyak namun ia berlaku sombong, ataupun
seorang yang mempertunjukkan ketaatkan kepada Imam (Pemimpin)-nya dengan tujuan untuk
memperoleh keuntungan duniawi.” (Muslim)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang-orang ini tidak akan masuk Surga: orang yang minum
khamr (minuman beralkohol), orang yang tidak patuh kepada orang-tuanya, orang yang
memutuskan silaturahim dengan saudara-saudaranya tanpa alasan yang benar, orang yang
membanggakan dirinya kepada orang lain, orang yang menuruti perbuatan syeitan untuk
meramalkan yang belum terjadi dan seorang yang tidak berusaha mencegah keluarganya dari
perbuatan-perbuatan asusila (bertentangan dengan moral).” (Nasa’i dan Musnad Ahmad)
Nabi SAW bersabda, “Seorang pengadu-domba tidak akan masuk surga.” (Shahihain)

Muhammad bin Ka’ab Kuradzi berkata, “Ibadah yang terbaik kepada Allah SWT adalah
menjauhi segala dosa. Allah SWT tidak akan menerima shalat ataupun ibadah yang lain dari
seseorang yang tidak menjauhi perbuatan dosa.”
Demikian juga, Fudhail bin 'Iyyad berkata, “Semakin dianggap kecil suatu dosa oleh seseorang,
semakin menjadi besar dosa itu di hadapan Allah SWT.”
Oleh karena itu, jika dosa-dosa kecil dilakukan berulang-ulang, secara sembrono (serampangan),
dan dikerjakan dengan terang-terangan, maka akan terangkum menjadi suatu dosa besar. Seorang
ulama menerangkan pengaruh-pengaruh dosa kecil dan dosa besar dengan contoh berikut ini. Ia
mengibaratkan dengan perbandingan sengatan kalajengking kecil dengan kalajengking besar.
Juga ibarat rasa panas terbakar api kecil dibanding dengan terbakar api yang besar. Semuanya
terasa sangat sakit, namun akibat yang ditimbulkan oleh yang besar menyisakan luka yang lebih
parah. Begitu juga, kedua jenis dosa itu sama berbahayanya, akan tetapi kerusakan yang diderita
akibat dosa besar lebih parah daripada dosa kecil.

Bagaimanakah termaafkannya sebuah dosa kecil? Sebagai contoh terhapusnya dosa-dosa kecil
dijelaskan didalam sebuah Hadits yang menggambarkan sebagai berikut: Ketika seseorang
berwudlu’, membasuh bagian-bagian kepala dan anggota badan, maka dosa-dosa yang
berhubungan dengan bagian-bagian yang dibasuhnya itu pun hanyut oleh air wudlu bagaikan
dedaunan kering di pepohonan yang berguguran diterpa angin. Ibaratnya, ketika kita berkumur-
kumur maka terhapuslah dosa yang berasal dari lidah kita, ketika kita membasuh kaki maka
terhapus dosa yang terjadi dengan melibatkan kaki-kaki kita. Pada waktu kita melangkahkan
kaki menuju Masjid setelah berwudlu, setiap langkah kaki menjadi tebusan bagi dosa-dosa kecil
yang telah kita perbuat. Adapun dosa besar tidak bisa kita hapuskan hanya dengan berwudlu
ataupun mengerjakan shalat. Penghapusan dosa besar dilakukan dengan penyesalan yang tulus
dan bersungguh-sunguh. Penyesalan atau taubat terdiri atas sedikitnya tiga unsur.
Pertama, orang yang berdosa besar harus mengenali dosanya dan mengakui bahwa ia telah
berdosa. Kedua, ia harus berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi.
Ketiga, haruslah ia merasa malu dengan perbuatannya itu dan secara tulus-ikhlas memohon
ampunan-Nya. Karena itulah jika orang yang mengerjakan shalat dan menjalankan puasa namun
masih melibatkan diri dalam perbuatan dosa besar, niscaya Allah SWT tidak akan mengampuni
dosa-dosanya, baik yang besar ataupun yang kecil. Nabi Muhammad SAW menyebutkan jumlah
dosa besar itu berlainan jumlahnya tergantung pada waktu dan situasinya. Oleh karenanya para
ulama sepakat bahwa tidak ada angka pasti perihal macam dan banyaknya dosa-dosa besar.