Anda di halaman 1dari 1

FENOMENA TIMBULAN SAMPAH DAN KETERBATASAN LAHAN DI KOTA SEMARANG

Permasalahan persampahan merupakan hal lama yang masih menjadi suatu kendala utama
dalam problematika Kota Semarang. Bertahun-tahun dan berkali-kali usaha yang telah
dilakukan oleh pemerintah kota Semarang dalam usaha untuk mengatasi problematika ini,
tetapi usaha yang dilakukan sia-sia. Demikian juga yang berkaitan dengan upaya pengurangan
volume sampah yang harus dibuang ke TPA melalui program 3R masih belum dilaksanakan
secara sungguh-sungguh, karena sulitnya melaksanakan perubahan perilaku masyarakat
dalam melakukan pemilahan sampah serta sulitnya merubah cara pandang “sampah sebagai
sumber daya”.

Semarang Memiliki satu buah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terletak di Jatibarang.
Volume sampah pada tahun 1993 - 2006 rata-rata meningkat sebesar 15,22 persen atau sekitar
102.000 m3 per tahun. Timbulan sampah meningkat rata-rata 324 m3 per hari. Pada tahun 2005
volume sampah harian sudah mencapai 4.274 m3. Tahun 2007 produksi sampah Kota
Semarang 4.500 m3. Awal 2009, produksi sampah 7.000 m3. Data BPS tahun 2008
menyebutkan, penanganan sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah
sebesar 4,2 %, yang dibakar sebesar 37,6 % , yang dibuang ke sungai 4,9 % dan tidak
tertangani sebesar 53,3 %. Tidak semua sampah dapat terangkut karena keterbatasan sarana
transportasi yang jumlahnya hanya sekitar 100-an unit truk. Dinas kebersihan hanya mampu
mengangkut sampah sebesar 64,53 % atau sekitar 2.700 m3 per hari.

Kondisi ini cukup memprihatinkan ditinjau dari luas lahan di Semarang yang hanya 37.370,39
Ha dengan timbulan sampah yang meningkat sebesar 102.000m3 per tahunnya, dengan luas
TPA yang hanya 44.5Ha maka diprediksikan pada tahun 2020 TPA Jatibarang sudah tidak
mampu menampung sampah dari kota Semarang. Wacana ini mendorong pemerintah untuk
menyediakan alternative lahan tempat pembuangan sampah akhir di kota Semarang namun
rencana ini belum bisa terealisasi hingga sekarang. Langkah kongkret apa yang mungkin
dilakukan untuk mengatasi fenomena timbulan sampah dan keterbatasan lahan tersebut masih
menjadi PR panjang bagi pemerintah kota dan seluruh stakeholder di Kota Semarang.