Anda di halaman 1dari 7

Teater Tradisional Betawi di Era Globalisasi:

Revitalisasi Seniman Tradisional versus Selera Populer

M. Yoesoef
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Pendahuluan
Perkembangan masyarakat Jakarta yang semakin bergaya hidup global secara
langsung berdampak pada gaya hidup masyarakat Betawi yang notabene berada di
wilayah metropolitan Jakarta. Banyak hal dari aspek kehidupan masyarakat Betawi
tidak lagi dapat ditemukan saat ini, terutama dalam hal kesenian. Faktor utama
hilangnya kesenian tradisonal Betawi adalah hadirnya kompetitor kesenian yang
sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern.

Kesenian yang berfungsi tidak saja sebagai hiburan tetapi di dalamnya terkandung
berbagai kegunaan (dulce et utile) adalah representasi dari ekspresi budaya
masyarakat itu sendiri. Norma dan nilai kehidupan disampaikan dan mendapat
salurannya melalui kesenian. Artinya, kesenian akan hidup dan berkembang manakala
masyarakatnya memelihara, mengembangkan, melakukan secara aktif, dan
mengapresiasi. Dalam konteks itulah, secara kritis perlu dilihat bagaimana kesenian
tradisional Betawi pada era globalisasi ini.

Pemodernan terhadap kesenian tradisional bukan suatu usaha yang haram, justru
dengan pemodernan itu terkandung suatu upaya mengembangkan kesenian itu sejalan
dengan pola pikir dan kebutuhan masyarakat Betawi yang semakin modern.
Kompetisi kesenian tradisional dengan kesenian modern yang datang kemudian
sangat perlu karena salah satu ciri dari masyarakat modern adalah bergerak dalam
kompetisi menciptakan inovasi-inovasi yang berorientasi pasar. Natur kesenian
tradisional memang bukan berorientasi pasar, tetapi ketika masyarakat dan lingkungan
perkotaan menuntut pasar, maka kreativitas seniman tradisional harus pula
mempertimbangkannya. Produk-produk budaya modern (budaya popular) dikemas
sedemikian rupa sehingga masyarakat berada dalam situasi “demam” secara terus-
menerus. Pengemasan produk kesenian yang disesuaikan dengan target pasar menjadi
andalan, sehingga semua kelas masyarakat dapat menikmati dan mengapresiasi
produk-produk kesenian itu. Selera pasar terbentuk sejalan dengan tawaran produk
budaya populer yang dikemas, tidak saja dengan teknologi tinggi tetapi juga dengan
variasi yang tinggi.

Di sisi lain, kesenian tradisional Betawi, seperti lenong, topeng betawi, tanjidor,
cokek, dan gambang kromong sedikit demi sedikit terlupakan dan tidak dilihat lagi
sebagai media hiburan. Kesan bahwa kesenian tradisional semakin ditinggalkan
terlihat dari frekuensi kemunculanya jika ditinjau dari aspek kuantitatif. Dari aspek
kualitas, kesenian-kesenian tersebut dapat dikatakan tidak mengalami perubahan
berarti. Hal itu, boleh jadi sebagai sebuah upaya pemeliharaan terhadap kekayaan
budaya tradisi. Kontroversi antara konvensi dan inovasi dalam kesenian tradisional
sampai sekarang pun senantiasa terus dibicarakan dan memang tidak akan pernah
selesai; dan memang bukan untuk diselesaikan. Kreativitas berkesenian akan selalu
berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Di situlah denyut nadi
dinamika kesenian.

Situasi yang dihadapi kesenian tradisional Betawi itu terutama dipandang oleh
masyarakat Jakarta secara umum. Secara khusus, masyarakat Betawi pun sudah
mengalihkan perhatiannya ke produk-produk kesenian modern yang relatif mudah
diakses. Jika demikian adanya, maka siapa yang mengapresiasi kesenian-kesenian itu?
Bagaimana para seniman tradisional Betawi berkreativitas? Dua pertanyaan mendasar
ini merupakan sebuah persoalan bagi kita semua.

Pembinaan Kesenian Tradisional: Revitalisasi Budaya


Pemerintah DKI Jakarta sudah tentu sangat berkepentingan dengan keberadaan
kesenian traidional Betawi. Dalam hal ini, melalui berbagai cara telah ditempuh
usaha-usaha mempertahankan dan memelihara kesenian itu. SM Ardan, misalnya,
telah mempelopori masuknya kesenian Lenong untuk berpentas secara rutin di Taman
Ismail Marzuki pada tahun 1970-an, anjungan DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia
Indah memfasilitasi pertunjukan kesenian tradisional Betawi sejak didirikan hingga
kini, Kampung Betawi di kawasan Srengseng Sawah dijadikan semacam laboratorium
budaya Betawi. Di kalangan non-pemerintah kita mengenal Lembaga Kebudayaan
Betawi yang secara substansial bertugas melakukan kajian-kajian dan apresiasi
terhadap berbagai khazanah budaya Betawi. Kini, penerbit Komunitas Bambu secara
terencana menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat
Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian
terhadap Betawi. Semua pihak itu telah menunjukkan perhatian dan apesiasinya
terhadap masyarakat dan budaya Betawi. Akan tetapi, di sisi lain kehidupan para
seniman tradisional Betawi masih kurang diperhatikan dengan baik dan tidak adanya
upaya pemaksimalan kreativitasnya secara terprogram dan terpadu.

Pembinaan terhadap kehidupan berkesenian dapat berbanding lurus dengan


pembinaan terhadap kehidupan ekonomi keluarga. Di sinilah persoalan utama
muncul. Kesenian tidak dijadikan sebagai mata pencarian. Berkesenian adalah sebuah
pilihan temporal dalam kehidupan sehari-hari para seniman itu. Dengan demikian,
komunitas seni tradisional Betawi lambat laun terjerembab ke jurang yang dalam oleh
dominasi kelompok-kelompok kesenian populer yang lebih progresif. Oleh karena itu,
satu hal yang perlu dilakukan adalah membangun kantong-kantong budaya yang dapat
mengaktifkan kembali kehidupan berkesenian secara khusus dan kebudayaan Betawi
secara umum. Diperlukan wadah yang secara kontinyu mampu memberi pemahaman
kepada semua pihak (pemerintah, masyarakat Betawi, seniman Betawi, para
maecenas) pentingnya membangun kembali budaya Betawi yang saat ini semakin
tercerai berai secara geografis maupun substantif. Konsep Kampung Budaya Betawi
di Srengseng Sawah adalah contoh yang tepat dan perlu dikembangkan di berbagai
lokasi permukiman masyarakat Betawi di seantero Jakarta. Dalam hal ini,
pemberdayaan masyarakat Betawilah yang menjadi prioritas, karena kesenian justru
akan hidup di tengah-tengah lingkungan budaya itu sendiri. Kreativitas dalam
berkesenian dengan sendirinya akan terbangun dan bersinergi dengan situasi zaman.
Pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat sekadar fasilitator dalam program
revitalisasi budaya Betawi.

Pekerjaan yang besar ada di depan kita, yaitu merevitalisasi budaya Betawi melalui
pemberdayaan masyarakat Betawi sebagai pelaku budaya. Pembelajaran terhadap
situasi zaman oleh masyarakat Betawi perlu dijadikan sebagai sebuah kesadaran untuk
menguatkan identitas budaya mereka di tengah-tengah budaya metropolitan. Ruang-
ruang publik yang metropolis berpotensi mencairkan identitas budaya mereka. Ruang-
ruang publik itu tidak harus dipandang negatif, tetapi sebaliknya harus dipandang
sebagai stimulus untuk membangun strategi budaya mereka sendiri di tengah dunia
yang semakin mengglobal yang ditunjang kecanggihan perangkat teknologi informasi.

Sudah saatnya sekarang ini masyarakat dan para intlektual Betawi untuk bersama-
sama dengan pemerintah, LSM, dan universitas membangun kemungkinan-
kemungkinan baru dan kreatif merevitalisasi budaya Betawi. Hasil revitalisasi itu—
dalam bentuk produk kesenian—dapat dikemas sebagai produk budaya yang mampu
mengisi rumpang-rumpang kreativitas kesenian tradisional di era global ini. Dalam
bentuk identitas budaya, masyarakat Betawi memiliki posisi tawar dalam dinamika
masyarakat perkotaan yang modern, terutama dalam hal pariwisata. Konsep kampung
budaya Betawi dengan segala aspek budayanya dalam sebuah paket budaya dapat
dijadikan daerah tujuan wisata untuk turis domestik maupun internasional. Dalam hal
ini, tanggung jawab pemerintah daerah untuk menyediakan akses sarana dan prasaran
transportasi (jalan dan kendaraan umum), kewajiban pengelola kampung budaya
adalah menyediakan program budaya dalam bentuk pameran, pertunjukan, informasi
tentang budaya, dan kegiatan-kegiatan rutin, seperti kursus seni (menari, teater,
musik) yang dapat dijadikan wahana pembelajaran dan penerusan warisan budaya dari
satu generasi ke berikutnya. Hanya dengan upaya itu, seniman-seniman tradisional
Betawi dalam bidang seni pertunjukan (lenong, topeng betawi), musik (tanjidor,
gambang kromong), tari (cokek), sastra (pantun, sahibul hikayat) mendapat tempat
untuk mengembangkan diri dan kreativitas berkeseniannya.

Teater Tradisional Betawi


Akan halnya dengan teater tradisional Betawi—seni pertunjukan—yang mungkin
lebih dikenal masyarakat secara umum, sekarang ini nampaknya semakin terkubur
oleh arus zaman. Pendekar-pendekar kesenian lenong dan topeng Betawi, seperti Haji
Bokir, Nasir, Mpok Siti, dan para pemain lenong “Setia Warga” lainnya yang hampir
seluruh hidupnya mengabdikan diri pada kesenian itu, nampaknya tidak diikuti oleh
generasi berikutnya. Bahkan, Mandra yang dibesarkan oleh kesenian tradisional itu,
kini meloncat ke ekspresi seni modern (film, sinetron, dan musik). Demikian pula
setelah kepergian Sumantri Sastrosuwondo dan SM Ardan, misalnya, lenong seolah
kehilangan induk semang. Taman Ismail Marzuki dan TVRI yang dahulu secara rutin
menayangkan kesenian tradisional Betawi itu, kini tidak lagi rutin. TVRI Stasiun
Jakarta yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dalam hal promosi budaya
Betawi—sebagaimana TVRI stasiun lokal (daerah) lainnya—dirasakan kurang
menaruh perhatian pada kebudayaan Betawi.

Secara struktural kesenian lenong (denes dan preman) memiliki kekhasan dalam
pertunjukannya. Lenong preman mungkin dapat dikatakan lebih terpelihara untuk
beberapa saat dibandingkan dengan lenong denes. “Kepunahan” lenong denes tidak
saja disebabkan oleh lunturnya ingatan tentang cerita-cerita hikayat yang menjadi
sumber cerita, tetapi juga penguasaan bahasa Melayu Tinggi dari para pemain yang
semakin asing. Dibandingkan dengan lenong preman yang lebih seru ceritanya,
bahasa yang lebih ekspresif karena menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Dari
segi panggung, lenong menuntut panggung procenium. Lain halnya dengan topeng
betawi. Teater tradisional ini lebih menarik karena unsur humor, musik, dan tarian
yang dikemas dengan unsur cerita (drama), dan tidak memerlukan panggung
procenium, tetapi arena yang dikelilingi oleh penonton. Namun semua itu, kini sangat
sulit kita lihat dan apresiasi. Kita sedang kehilangan sebuah kekayaan budaya karena
komunitas masyarakatnya sedang melaju dalam era globalisasi, yang merasa tidak
lagi perlu membawa warisan leluhurnya.

Sebuah gagasan dari Rendra dalam prosest berkeseniannya yang senantiasa


mempertimbangkan tradisi (Jawa) telah menciptakan sebuah bentuk kesenian hibrid,
yaitu ia memanfaatkan bentuk kesenian ketoprak dengan isi yang modern dan
berbahasa Indonesia. Di pihak lain, Timbul mengemas ketoprak sepenuhnya menjadi
pertunjukan humor dengan bahasa Indonesia dalam “Ketoprak Humor” yang sudah
terbukti diminati pemirsa televisi secara nasional. Dalam hal bahasa, kesenian
tradisional tentu sangat erat kaitannya dengan bahasa daerah, sehingga sangat terbatas
pada lingkungan budaya asal kesenian itu. Penggunaan bahasa Indonesia untuk
pertunjukan kesenian tradisional, seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, randai, atau
arja akan merusak emosi pemain dan penonton. Namun demikian, pada kesenian-
kesenian yang menggunakan dialek Melayu, seperti Lenong (Melayu Betawi),
Mamanda (Melayu Banjar), Mak Yong (Melayu Riau) ketika diubah ke bahasa
Indonesia relatif tidak akan terasa perbedaannya.
Saya percaya bahwa komunitas kesenian tradisional Betawi (lenong dan topeng
betawi) saat ini masih ada. Akan tetapi, masih adakah orang Betawi yang mau
menanggap mereka di tengah sejumlah pilihan hiburan modern yang lebih menarik.
Dalam era globalisasi sekarang ini, sinergi antara seniman, masyarakat Betawi dengan
jejaring yang berbasis teknologi informasi, pemodal, dan masyarakat luas sebagai
target sudah seharusnya dibangun dan menghasilkan produk-produk kesenian yang
kreatif dan mampu merevitalisasi budaya Betawi tanpa harus kehilangan jati diri
sebagai etnik yang mengisi mosaik budaya Indonesia.

Langkah Strategis
Sejumlah langkah strategis dapat dilakukan oleh komponen masyarakat Betawi
maupun para pemerhati budaya Betawi untuk merevitalisasi budaya Betawi, antara
lain:
1. membangun kantong-kantong budaya Betawi di lingkungan permukiman
masyarakat Betawi;
2. menumbuhkan kesadaran pentingnya memelihara kekayaan budaya tradisi
melalui kantong-kantong budaya itu;
3. membangun jejaring dengan berbagai pihak di luar masyarakat Betawi yang
berbasis teknologi informasi yang menghasilkan informasi tentang budaya
Betawi dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya (website, TIM,
televisi, radio, rumah produksi, festival kesenian tradisional, penelitian dan
penulisan buku);
4. melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi-
potensi yang dimiliki (SDM, kondisi geografis) untuk peningkatan kualitas
kehidupan melalui potensi kesenian, pariwisata;
5. pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan lembaga-
lembaga donor sebagai fasilitator dan rekan sekerja dalam revitalisasi budaya
Betawi.

Indikator pencapaian langkah strategis itu adalah terbangunnya kantong-kantong


budaya yang dikelola oleh masyarakat Betawi berdasarkan kesadaran pentingnya
membangun jati diri secara potensial, terjalinnya jaringan kerja dengan berbagai pihak
untuk meningkatkan kualitas kesenian dan pariwisata, dan lahirnya program-program
nyata bersama fasilitator.

Sawangan, 22 Juli 2008


Daftar Pustaka
Ahmad, Kasim. 2008. Teater Tradisional. Jakarta: Pustaka Jaya.
Dewan Kesenian Jakarta. 1997. 25 Tahun Taman Ismail Marzuki. Jakarta: Dewan
Kesenian Jakarta.
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Kleden, Ninuk. 1998. Teater Lenong Betawi. Jakarta: Grafiti Press.
Rendra. 1990. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta: Penerbit Gramedia.
Teeuw, A. 1980. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Penerbit Gramedia.
................. 1900. Seni Budaya Betawi. Jakarta: Pustaka Jaya.