Anda di halaman 1dari 2

BOYOLALI- Kebakaran di Taman Nasional Gunung Merapi, Desa Wonodoyo,

Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, diduga akibat ulah manusia. Api
yang berkobar sejak Sabtu (9/8) dan padam Minggu sore ini menghanguskan sekitar 30
hektar hutan dan merusak 500 meter pipa saluran air bersih warga.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Seksi II Boyolali Ngusman, Minggu (10/8),
mengatakan, titik api dari bagian bawah tebing anak Gunung Merapi itu dipastikan
disebabkan oleh manusia, tetapi belum diketahui karena kelalaian atau kesengajaan.

Titik api di Wonodoyo muncul dari Petak 61 dan 62 Gunung Bibi, anak Gunung Merapi,
Sabtu pagi. Penanganan awal diambil alih petugas Balai Taman Nasional Gunung
(BTNG) Merbabu karena pada saat bersamaan petugas BTNG Merapi masih berupaya
memadamkan kebakaran di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, yang menghanguskan
sekitar 23 hektar hutan di Gunung Merapi.

Setelah api di Tlogolele padam Sabtu siang, pemadaman api di Wonodoyo kembali
ditangani BTNG Merapi. Dari penyelidikan sementara, kata Ngusman, titik api di
Tlogolele juga akibat ulah manusia. Tidak jauh dari lokasi kebakaran, petugas
menemukan sisa pembakaran arang.

Kebakaran di Gunung Bibi, Wonodoyo, juga membakar sekitar 500 meter pipa paralon
yang menuju Dusun Wonopedut, Kecamatan Cepogo, dan Desa Suroteleng, Kecamatan
Selo.

Menurut Sekretaris Kecamatan Cepogo Karyono Utomo, pihaknya mengupayakan


bantuan untuk memperbaiki pipa air yang dibuat dari dana masyarakat dan bantuan
Pemerintah Kabupaten Boyolali. Sambil menunggu perbaikan, warga mendapat pasokan
air bersih dari Perum Perhutani.

Minimal 10 tahun

Pemulihan kondisi TNG Ciremai di Jawa Barat diperkirakan perlu waktu minimal 10
tahun. Kebakaran yang melalap 236 hektar lahan itu menghanguskan semak dan
pepohonan. Pepohonan untuk penghijauan di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus,
Kabupaten Kuningan, hangus terbakar. Sebagian lagi kering kepanasan. Bekas
kebakaran dua tahun lalu juga belum pulih.

”Penanaman butuh tenaga ekstra karena wilayah bekas kebakaran hutan sebagian tidak
terjangkau kendaraan bermotor. Untuk menumbuhkan pohon pinus tidak cukup waktu 5
tahun,” kata Kepala Seksi Pengelola TNG Ciremai Wilayah I Linggarjati Maman
Surahman.

Menurut Maman, sebagian wilayah Gunung Ciremai yang terdiri atas semak-semak
memang rawan kebakaran. ”Kebakaran terakhir yang kami tangani disebabkan bekas
perapian perkemahan yang tidak dipadamkan secara sempurna. Sebelumnya karena
pembakaran sampah dan puntung rokok,” ujarnya.

Pemadaman bukan hal yang mudah. Petugas hanya mempunyai satu kendaraan
pemadam. Untuk memadamkan hutan, mereka harus bolak-balik naik turun gunung
untuk menyedot air. Beratnya medan membuat kecepatan kendaraan terbatas, 30
kilometer per jam. Di sisi lain, api sangat mudah menjalar karena angin kencang. (NIT)