Anda di halaman 1dari 3

Pengobatan Alternatif Dalam Islam

2010-03-06 | kajian_islam
Risalah Islam membawa rahmat bagi semesta alam dengan
menanamkan jiwa harapan dan optimisme bagi setiap insan
dalam kondisi apapun. Semangat inilah yang menyelimuti
pesan dan petunjuk beliau tentang pengobatan sebagaimana
dirangkum oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad
(Juz IV) yang dikenal dengan At-Thibb An-Nabawi (Pengobatan
Nabi). Di antaranya sabda beliau: “Setiap penyakit ada
obatnya, maka jika obat telah mengenai penyakit maka akan
sembuh dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali
telah menurunkan untuknya obat yang diketahui oleh orang
yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak
mengetahuinya.” (HR. Ahmad)

Ketika umat Islam salah paham tentang takdir dengan


kepasrahan fatalis tanpa usaha sehingga mereka bertanya kepada Nabi apa perlu berobat bila datang takdir
sakit, beliau menjawab: “Ya. Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak
menaruh penyakit kecuali menaruh padanya obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu kerentaan.” (HR. Ahmad)
Demikian pula Abu Khizamah menanyakan kepada Nabi tentang ruqyah (bacaan doa dan al-Qur’an) untuk
menyembuhkan, obat-obatan untuk berobat dan pelindung untuk pengamanan apakah semua itu dapat
menolak takdir Allah, maka beliau menjawab bahwa semua ikhtiar itu juga termasuk takdir Allah.

Dalam sebuah kisah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim pernah menanyakan kepada Allah dari mana asalnya
penyakit dan obat, dijawab oleh Allah “dari-Ku”, Nabi Ibrahim menanyakan, “Lalu bagaimana dengan
seorang dokter/tabib?” maka Allah menjawab: “Ia hanyalah seorang perantara yang dikirimkan melalui
tangannya suatu obat” Oleh karena itu siapapun yang memberi obat, itu bukan masalah. Bisa saja dokter,
tabib, sinshe ataupun ahli pengobatan tradisional dan lainnya. Yang penting, misinya pengobatan dan
tercapainya kesembuhan. Kita bisa pilih sendiri mana yang berkenan di hati kita, sebab obat mereka
masing-masing biasanya berbeda, asalkan tidak mengandung bahan-bahan yang najis, haram ataupun
membahayakan serta cara-cara yang haram. Rasulullah berpesan: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan
penyakit sekaligus obat, dan telah menciptakan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah dan jangan
berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud)

Biasanya, praktek dokter yang banyak diatur secara ketat dalam kode etik dan peraturan resmi untuk
melindungi pasien meskipun demikian tidak jarang terjadi mal praktek karena berbagai faktor, tetapi tidak
demikian praktik pengobatan lainnya yang begitu rawan, riskan, kurang terukur dan teruji secara klinis dan
medis. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian ekstra untuk berobat kepada selain kepada dokter. Betapa
banyaknya paranormal, dukun, oknum yang dianggap ‘orang pintar’, ahli pengobatan alternatif, tempat
bersyariat dan sebagainya yang sebenarnya penipu dengan berkedok sakti, keramat, dan mujarab serta
dalam iklan maupun opini yang digetoktularkan mentahbiskan dirinya mampu mengobati berbagai macam
penyakit dengan cara-cara yang ghaib, supranatural atau dengan tenaga batin (baca; sihir), mantera,
jampi, jimat, hipnotis, magic, hawa murni aura dan lain sebagainya yang tidak ada sangkut pautnya dengan
ilmu kedokteran, meskipun ada sementara mereka setelah semua sesumbar itu mencatut nama Allah
dengan kiat klise untuk berkelit ataupun menuansakan kesan agamis “dengan izin Allah” .

Berobat dengan cara ghaib, ajaib dan supranatural ini memang biasanya mudah menyeret masyarakat
awam kepada kemusyrikan. Hampir semua dukun dan paranormal memakai kedok agama, dengan
menekankan pada yang berobat bahwa yang memberi kesembuhan hanyalah Allah. Kesesatan model begini
tidak dilakukan oleh dokter. Tidak jarang dukun meminta syarat atau imbalan berupa sesajen, misalnya
meminta agar yang berobat menyembelih ayam putih atau hitam, membawa telur ayam, menaburkan
bunga dan keanehan-keanehan lainnya serta berbagai pantangan dan petuah sakral yang hukumnya jelas-
jelas haram.

Rasulullah bersabda: “Bukanlah dari golongan kami, seorang yang menggunakan petunjuk setan atau
burung dan sebagainya, atau praktek sihir untuk menerka nasib, jodoh, penyakit dan obatnya. Maka
barangsiapa mendatangi seorang dukun yang melakukan praktek-praktek demikian lalu ia percaya akan
keterangannya, orang ini adalah orang yang telah mendustakan, dan tidak percaya dengan apa-apa yang
diwahyukan kepada Muhammad saw”.
Ibnu Abbas mengomentari tentang orang-orang yang menggunakan ilmu huruf (rajah) dan ilmu nujum
untuk mengetahui ilmu ghaib bahwa mereka itu tidak akan menemui nasib yang baik kelak di sisi Allah. Hal
itu biasanya para ‘orang pintar’ yang mentahbiskan dirinya (secara lisan maupun perbuatan) mampu
menyembuhkan segala penyakit menganggap seakan dirinya suci dan kuasa meskipun diembel-embeli
dengan izin Allah. “Janganlah kamu melagak-lagakkan dirimu orang suci. Dialah yang paling mengetahui
siapa yang lebih bertaqwa.” (QS. An-Najm:32).

Seorang muslim yang kuat imannya tidak akan mungkin tergoda untuk penasaran dan tergoyahkan oleh
kepercayaan yang sesat kepada ‘kemampuan’ dukun ataupun paranormal. Sebab, seorang yang beriman
kuat justru sebaliknya akan berharap dan berlindung hanya kepada Allah serta memohon keselamatan dan
pertolongan hanya kepada-Nya sambil tetap optimis dan berikhtiar dengan cara-cara yang sudah ditentukan
al-Qur’an dan Sunnah Nabi, berobat dengan cara yang lazim dan wajar sesuai ketentuan syariah, serta tidak
menempuh jalan pintas melalui cara-cara ghaib dan supranatural yang aneh-aneh dan sesat itu.

Banyak hadits yang melarang kaum muslimin melakukan pengobatan dengan tamaim (tamimah), yaitu
suatu jimat, isim, atau benda apapun yang digantungkan pada seseorang untuk mengusir jin, penyakit
mata, gangguan ghaib, sawan dan lain-lain. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan
tiwalah (guna-guna, susuk atau pelet) adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi dan Hakim)

Pengobatan yang sering dilakukan paranormal dengan rapalan, bacaan, mantera, dan komat-kamit lainnya
sambil kadangkala memegang bagian tertentu pasien ataupun juga kadang dilakukan dari jarak jauh, maka
jampi-jampi dan bacaan-bacaan semacam ini terlarang hukumnya terutama yang tidak dimengerti artinya.
Hal itu berbeda dengan pengobatan ala sunnah yang dilakukan dengan bacaan yang dapat dimengerti
artinya dan berasal dari al-Qur’an ataupun hadits Nabi (ma’tsur dari Nabi) apa yang lebih sering dikenal
sebagai metode ruqyah maka hal itu justru hukumnya sunnah dan terpuji tanpa meninggalkan pengobatan
klinis dan medis, seperti doa atau bacaan yang beliau ajarkan: “Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah
penyakit ini, sembuhkanlah, (karena) Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada penawar kecuali penawar-Mu,
penawar yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Para ulama mengatakan bahwa bacaan pengobatan atau jampi-jampi yang diperbolehkan syariah harus
memenuhi tiga syarat. Pertama, dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Kedua, dengan bahasa Arab atau
bahasa lainnya yang dapat dipahami maknanya, Ketiga, dengan keyakinan bahwa jampi-jampi itu tidak
berpengaruh kecuali dengan takdir Allah Ta’ala dan tidak menjerumuskan kepada syirik.

Pengobatan alternatif dan konsultasi supranatural melalui jimat-jimat yang digantungkan ataupun
dikenakan sebagai penangkal, penghilang penyakit atau pembawa berkah dan perlindungan, dan
sebagainya, semuanya dilarang oleh Islam, sebab hal itu telah melakukan syirik dan bergantung kepada
benda. Ketika sebuah rombongan yang terdiri dari sepuluh orang menghadap Nabi saw untuk berbaiat
kepada beliau dan menyatakan masuk Islam, lalu beliau membaiat yang sembilan orang dan menahan yang
seorang. Ketika ditanya mengapa menahan yang seorang, beliau menjawab, “di pundaknya terdapat jimat.”
Kemudian laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan memotong jimatnya. Setelah itu baru
Rasulullah mau membaiatnya, seraya bersabda: “Barang siapa yang menggantungkan jimat, berarti ia telah
melakukan perbuatan syirik.” (HR. Ahmad dan Hakim). Artinya, menggantungkan jimat dan hatinya
bergantung kepadanya berarti berbuat syirik.

Demikian pula ketika Nabi saw melihat gelang kuningan di pangkal lengan seseorang, beliau
mempertanyakannya, “Apa ini?” orang itu menjawab, “saya memakai ini karena terserang penyakit di
pundak saya sebagai jimat.” Kemudian beliau bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya jimat itu hanya
menambah lemah tubuhmu, karena itu buanglah segera! Sebab jika engkau mati sedang jimat itu masih
menempel di tubuhmu, engkau tidak akan beruntung sama sekali.” (HR. Ahmad)

Para sahabat juga sangat membenci jimat, sehingga ketika melihat seorang laki-laki yang menggantungkan
benang sebagai jimat, Hudzaifah membacakan ayat: “Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah
melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf:106)
Sa’id bin Jubair berkata: “Barangsiapa yang melepaskan satu jimat dari leher seseorang, maka (pahalanya)
seperti memerdekakan seorang budak.” Ibrahim An-Nakha’i, tokoh generasi tabi’in berkata: “Para sahabat
membenci semua bentuk jimat (isim dan lainnya), baik yang Al-Qur’an maupun bukan dari Al-Qur’an..”

Memang, masih ada beberapa ulama yang memperbolehkan penggunaan jimat bila berasal dari ayat-ayat
Al-Qur’an meskipun sebagian besar ulama tetap melarangnya dan pendapat mayoritas ulama yang
mengharamkan penggunaan segala bentuk jimat termasuk dari jimat dari ayat al-Qur’an adalah yang lebih
kuat alasannya berdasarkan dalil-dalil di antaranya bahwa: 1. Hadits-hadits yang melarang tamaim (jimat-
jimat) itu bersifat umum, tidak membedakan antara berbagai jenis tamaim. Ketika menolak seseorang yang
memakainya, Nabi saw tidak menanyakan padanya apakah jimatnya itu dari ayat Al-Qur’an atau tidak. 2.
Pelarangan mutlak itu lebih logis sebagai upaya antisipasi (saddan lidzdzari’ah) kemungkinan makin
meluasnya penggunaan jimat yang dapat menjerumuskan kepada syirik. Sebab orang yang
menggantungkan Al-Qur’an menjadi jimat suatu saat akan menggantungkan benda lain sebagai jimat pula.
Sehingga orang lain tidak tahu apakah jimat yang dipakainya dari Al-Qur’an atau bukan. 3. Perbuatan
seperti sama dengan merendahkan dan menghinakan Al-Qur’an secara materi maupun maknawi, karena
orang yang memakainya akan membawanya ke tempat-tempat najis, tempat buang hajat, dalam kondisi
jenabat, atau digunakan oleh wanita haidh di samping merendahkan fungsi al-Qur’an untuk dibaca,
diamalkan dan diajarkan guna memberi petunjuk manusia dan bukan dieksploitasi fisik dan materi
tulisannya untuk kepentingan duniawi dan jasmani.

Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa semua jimat itu terlarang sangat tepat. Bahkan Nabi saw
telah menyumpah orang-orang yang memakai jimat dalam doanya: “Barang siapa yang menggantungkan
jimat, mudah-mudahan Allah tidak menyempurnakan urusannya; dan barang siapa yang menggantungkan
benda keramat (sebagai penangkal), mudah-mudahan Allah tidak memberi perlindungan kepadanya.”

Nabi saw justru menekankan pada pengobatan fisik dan terapi medis secara natural dan bukan
menganjurkan pengobatan alternatif supranatural dengan sabdanya: “Sesungguhnya penawar itu ada tiga
perkara: minum madu, berbekam dan menempelkan besi panas pada bagian yang sakit.” (HR. Bukhari)
Beliau tidak menyebutkan pengobatan dengan jimat atau jampi, beliau justru hanya menyebutkan hal-hal
yang alamiah (natural). Pengobatan natural tersebut bisa melalui metode obat dalam melalui mulut, seperti
madu, yang sekarang dapat berupa injeksi atau sejenisnya, metode berbekam (mengeluarkan darah) yang
sekarang bisa diwujudkan dengan operasi dan metode menempelkan besi panas pada bagian yang sakit,
yang sekarang bisa dengan sistem penyinaran.

Semua pengobatan natural seperti itu dianjurkan oleh Islam dan disyariatkan oleh Rasulullah. Kalau sedang
menderita sakit beliau juga berobat seperti berbekam atau memanggil tabib. Demikian pula para sahabat
dan generasi sesudahnya. Jadi, yang lebih utama bagi kita ialah mengikuti sunnah Rasulullah saw dan
menjauhi cara-cara yang bertentangan dengan syariah apalagi semua itu rekayasa para penipu untuk
mengeruk keuntungan dari orang-orang yang menderita dengan dalih jasa sosial. Adapun dalam kasus
tertentu ternyata pengobatan alternatif dapat menyembuhkan suatu penyakit, maka seharusnya kita lebih
percaya kepada ketentuan Allah dalam pengobatan melalui lisan Rasul-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak
menjadikan kesembuhan kamu dalam hal yang diharamkannya.” (HR. Bukhari)

Kemanjuran dan kenyataan empirik ataupun pengalaman nyata sesuatu tidak otomatis menjadi bukti
kebenarannya, sebab hal itu boleh jadi merupakan ujian iman, istidraj (perangkap Allah bagi orang-orang
yang dimurkai-Nya melalui keberhasilan), atau sebenarnya hal itu karena sugesti, obsesi, atau ilusi dan
bukan sesuatu yang hakiki. Hal itu sebagaimana pengalaman empiris sebelumnya dari beberapa sahabat
yang menggunakan khamer untuk diminum sebagai pengobatan, maka nabi melarangnya dengan
menegaskan: “Sesungguhnya ia bukannya obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bahkan dalam riwayat lain Nabi justru mendoakan orang yang melakukan pengobatan haram tersebut agar
Allah tidak menyembuhkannya.(HR.As-Suyuthi)

Dengan demikian, jika orang yang dianggap pintar tersebut sebenarnya adalah orang shalih, taat ibadah,
aqidahnya lurus dan tidak komersial serta pengobatannya sesuai dengan ketentuan tersebut di atas, maka
hal itu dibolehkan dengan tetap meyakini bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah melalui
perantaraan doa ikhlas dari orang shalih maupun diri sendiri berdasarkan doa dan ayat-ayat al-Qur’an.
Namun sebaliknya jika pemberi jasa pengobatan alternatif atau yang dikenal dengan ‘orang pintar’ adalah
tidak shalih dalam ibadah maupun akhlaq dan diragukan aqidah serta keterbebasannya dengan dunia syirik
ataupun jin, meskipun ia memberikan bacaan doa ataupun ayat al-Qur’an maka hukumnya haram. Dalam
hal berlaku untuk semua jenis pengobatan alternatif termasuk masalah pengobatan santet dan sihir.
Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah.

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo