Anda di halaman 1dari 3

Saya berani jamin, di antara belantara aksara dalam sebuah halaman surat kabar, kata

malpraktik akan memancing mata para pembaca seketika itu juga. Meskipun terkadang
tidak menjadi pilihan utama untuk dibaca, namun berita dengan judul yang mengandung
kata tadi akan masuk nominasi untuk dibaca lebih awal.

Memang akhir-akhir ini pasien mulai kritis terhadap pelayanan para dokter yang tidak
memuaskan. Namun merebaknya pemberitaan media tentang malpraktik, yang terkadang
tanpa didasari dengan data-data yang akurat, seakan-akan hanya menjadi pemuas dahaga
bagi para pembaca. Tidak peduli apakah setelah dilakukan analisa, insiden tersebut
terbukti dapat dikategorikan malpraktik atau bukan, kabar yang sampai ke mata pembaca
tetaplah malpraktik. Kalau saya tiru pepatah yang dilontarkan oleh Carver - tokoh
antagonis, seorang jurnalis dalam film James Bond: ”Bad News is A Good News”.

Banyak yang belum diketahui oleh masyarakat awam tentang malpraktik. Mereka tidak
tahu tentang persentase keberhasilan suatu tindakan medis, prosedur untuk melakukan
tindakan medis, serta faktor-faktor tak terduga yang memang tidak dapat diramalkan
dengan pengetahuan manusia saat ini. Profesi dokter merupakan profesi yang menuntut
tanggungjawab yang besar. Dokter-dokter sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang
semuanya mengandung risiko. Seterampil dan setinggi apapun ilmu yang dimiliki
seorang dokter, tidak dapat menjamin keselamatan pasien, mengingat masih banyak
rahasia Allah yang belum terungkap tentang kematian.

Saya menyambut baik inisiatif teman-teman aktivis BEM FK Undip untuk mengadakan
sebuah acara Public Discussion bertemakan malpraktik bekerjasama dengan BEM FH
Undip. Dengan bekerjasama dengan teman-teman fakultas hukum, acara ini dapat
mengupas secara mendalam segala permasalahan malpraktik ditinjau dari dua bidang.
Menurut saya, ini saatnya para dokter angkat bicara mengenai kenyataan di lapangan.
Pembantu Dekan III (urusan kemahasiswaan) kami pun sangat mendukung acara ini.
Bahkan beliau bersedia menjadi salah satu pembicara – kebetulan beliau juga pengurus di
Majelis Kode Etik Kedokteran.

Acara diadakan di Gedung Serba Guna Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Jl.
Dr. Soetomo 14 Semarang pada hari Minggu tanggal 19 November 2006. Acara ini
mendatangkan pakar-pakar dari 2 bidang yang terkait, yaitu kedokteran dan hukum.
Mereka terdiri dari empat orang. Dari bidang kedokteran berbicara dr. Soetedjo, Sp.S(K)
dan dr. Gatot Soeharto, Sp.F, SH, sedang dari bidang hukum Prof. Dr. Nyoman Serikat
Putra Jaya, SH, MH serta Iskandar Sitorus.

Sayangnya saya tidak bisa mengikuti acara yang cukup menarik tersebut dikarenakan
waktunya bersamaan dengan jadwal studi banding BEM KU Undip ke FKUI. Keesokan
harinya, dengan penasaran saya mencari beritanya di surat kabar terkemuka di Jawa
Tengah yang biasa saya baca. Saya tidak mengalami kesulitan untuk menemukan
beritanya. Namun alangkah kecewanya saya begitu membaca isi artikel yang berjudul
”Pasien Masih Sulit Tuntut Malpraktik” ini.
Artikel yang tertulis di sana tidak menggambarkan sama sekali bahwa ini merupakan
semacam acara debat antara pakar-pakar kedokteran dan pakar-pakar hukum. Dari
membaca artikel tersebut tanpa menyaksikannya langsung (seperti juga saya sendiri),
tergambar bahwa yang berbicara dalam acara tersebut hanyalah para pakar hukum.
Memang nama dr. Gatot Soeharto pun disebutkan, namun dalam kapasitasnya sebagai
seorang ahli hukum, bukan sebagai dokter, karena kebetulan beliau juga memiliki gelar
Sarjana Hukum. Dan lagi, di artikel tersebut tertulis bahwa acara ini diselenggarakan
hanya oleh BEM FH Undip - tidak disebutkan sama sekali keterlibatan teman-teman
BEM FK Undip.

Setelah itu di kampus langsung saya minta konfirmasi teman-teman panitia


penyelenggara kegiatan. Sebagian dari mereka memang telah membaca artikel ini, dan
juga merasa kecewa. Dari pengakuan mereka, mereka puas dengan acara tersebut.
Diskusinya berjalan merata, pembahasannya pun mendalam, baik dari segi kedokteran
maupun permasalahan hukum tentang malpraktik. Namun, setelah mereka membaca
artikel itu, mereka juga merasa kecewa. Rasa puas akan kerja keras menjalankan acara
tersebut tiba-tiba serasa tidak bermakna setelah membacanya, aku mereka.

Selama ini pemberitaan media tentang malpraktik memang cenderung lebih dominan dari
pihak penuntut, yaitu dari kalangan praktisi hukum. Praktisi medis serasa tidak pernah
bicara. Tapi memang kalau harus mendengar penjelasan cenderung bersifat teknis dan
prosedural, siapa sih yang mau mendengarkan selain para dokter juga? Bahkan mungkin
saja sebenarnya penjelasan para dokter sudah benar dan tepat, namun tidak semuanya
tercerna oleh wartawan, sehingga ada semacam ’saringan’ dalam pers hingga informasi
tersebut tersampaikan kepada masyarakat.

Seperti yang seorang dosen di kampus saya utarakan, sebenarnya penyebab maraknya isu
malpraktik terutama ialah masalah kurangnya komunikasi antara dokter dengan pasien.
Salah satu poin dalam five star doctor menuntut seorang dokter agar menjadi seorang
good communicator. Terkadang kita bertindak benar. Namun karena seorang dokter tidak
pintar berkomunikasi, tindakannya menjadi salah.

Acara ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk membuka komunikasi langsung
antara para dokter, praktisi hukum, dan masyarakat. Namun karena minimnya
pengunjung umum (di luar kedokteran dan hukum), maka peran media sebenarnya sangat
penting untuk memperpanjang tangan kami yang tidak sampai menggapai masyarakat.
Tapi kalau kejadiannya seperti ini, tentu maksud baik para dokter tadi tidak tersampaikan.

Beberapa waktu yang lalu juga terjadi perdebatan yang cukup sengit di dalam mailing list
Dokter Indonesia. Ada seorang dari kalangan non-medis ‘berteriak-teriak’ dalam milis
tentang Dokter yang katanya turut menyengsarakan pasien. Tapi setelah dijawab oleh
dokter-dokter dari seluruh Indonesia, akhirnya dia mengakui juga betapa hipotesanya tadi
salah. Tapi lagi-lagi, siapa sih yang membuka milis Dokter Indonesia? Ya lagi-lagi hanya
dokter, mungkin ditambah orang umum yang ingin bertanya-tanya atau konsultasi dengan
para dokter se-Indonesia. Yang seperti inilah yang jarang terjadi - komunikasi.
Opini publik saat ini dibentuk oleh banjir informasi dari berbagai sumber, terutama media
massa. Setiap orang dapat berbicara melalui media massa. Namun agaknya kejadian yang
saya ceritakan ini mencerminkan kuatnya subyektivitas pihak-pihak tertentu dalam
menyortir informasi yang layak untuk lewat dalam gerbang jalur media massa untuk
sampai ke masyarakat, dalam hal ini subyektivitas dari kalangan pers sendiri. Bisa
dibilang ini merupakan salah satu bentuk pembungkaman suara dokter dalam
menyampaikan aspirasi maupun fakta tentang permasalahan malpraktik.

Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi di lain waktu. Mari jaga obyektivitas pers demi
lurusnya opini masyarakat.