Anda di halaman 1dari 4

c

Langkah 2 : pnyakit ʹ penyakit yg mungkin menyebbakan keluhan pada langkah 1

1.c mfisema
2.c Bronchitis
3.c Bronkiektasis
4.c TB paru

Langkah 3 : membuat ringkasan tentang penyakit yang ada di langkah 2


c
c  :
 
 : bakteri pneumonia
J   

Batuk, demam, sesak napas, sputum, nyeri otot, sakit kepala, diaphoresis, keringat malam,
ronki, sakit rongga dada, takikardi, sianosis 2-3 hr, sputum ͞current jelly͟ untuk klabsiella
pneumo, muko purulen untuk strepto. Pnumonia
Ô   c
Terdapat bakteri >25 per lapang pandang
Brochoscsopy
Needle aspiration
Bipsy paru
Kultur darah
Thoracheal aspirasi
Ôc
c
c   c
î  

Dekstruksi progresif septum alveolar & kapiler sehingga jalan napas ruang udara (bula) membesar,
jaringan elastic paru menurun
kurus, usia 55- 75 , riwayat merokok, batuk sedikit dan sputum sedikit, ronki sedikit, infeksi paru jarang,
spirometri obstruktif, CXR corakan paru berkurang, hiperinflasi, bula ada, takipneu saat istirahat,
aukultasi mengi memanjang
J    

Takipneu saat istirahat, barrel chest, penurunan berat badan, mengi ekspirasi memanjang

 

Gas darah, darah lengkap, KG( takikardi atrium multifocal)
TLC, FRC, RV meningkat
DLCO menurun

 : FV1/ FVC < 0,7

 :
mpisema : hiperinflasi dengan ruang udara retrosternal. Pembesaran ruang udara.

     

„c Îgonis ʹB (salbutamol)
„c åukolitik  sputum
„c Kortokosteroid
„c Terapi O2

?c   c
tiologi; Bronkitis infeksiosa adalah virus, bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri (mycoplasma
pneumoniae dan Chlamydia)
Peradangan pada bronkus (saluran Udara paru-paru)
Gejala: batuk berdahak, dypsneu saat olah raga atau aktifitas ringan, sering menderita infeksi
pernapasan (flu), wheezing, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan.
Ô  
bunyi ronki, tes fungsi paru, gas darah arteri, rontngen dada.

Àc   c


-Infeksi pernapasan
-Penyumbatan bronkus
-Cedera penghirupan
-Keadaan genetic
-Kelainan imunologik

î  

Batuk produktif persisten, sputum purulen berbau busuk, demam, anemia, penurunan BB, ronki,
kelemahan, wheezing, dydpepsia, hemoptisis dan pneumonia sering terjadi, jari tabu (clubbing finger),
ronki dan krepitasi kasar.
 

HRCT  dilatasi & penebalan bronkus
Foto thoraks : memperlihatkan fibrosis, kista danjalur seperti rel kereta api akibar edema.
Spirometri : kapasitas paru menurun

  :
antibiotic dalam 10 hari pertama setiap bulan ( missal TåP/ SåX atau doksisiklin)
Întibiotic profilaksis mengkin bermanfaat mengurai infeksi.misal ampisilin, eritromisin, kotrimoksasol
diberikan secara siklik.

×c c c


-   :
usia lanjut, malnutrisi, HIV, Då, terapi kotikosteroid, alcoholism
J   

Primer : sering pada usia muda, demam ringan
Pascaprimer : terjadi berbulan ʹ bulan, anoreksia, penurunan BB, keringat malam, Batuk produktif, sulit
bernapas, Nyeri dada, hemaptisis, dan limpadenopati servical.

 

„c Tes darah : anemia, penurunan Na, Peningkatan K+
„c Tes mantoux : TB pascaprimer (> 5 mm) ( 10 unit tuberculin intra dermal)
„c åikrobiologi : BTÎ sputum + ( ziehl- neelsen)
î 

Rifampisin, pirazinamid, isozianid ( 2 bulan)
Rifampisin, isozianid ( 4 bulan)
Tambahan itambutol jika pasien tidak patuh dalam pengobatan

 
tidak patuh -- > multi resisten

Langkah 5 : menentukan problem/ diagnosis kerja

Pneumonia: Leukosit 10500 dan pemeriksaan radiologi ditemukan infiltrat di paru kanan.
Bronkiektasis : dasarnya batuk produktif persisten, ronki, wheezing,
Bronkitis : dasarnya batuk produktif disertai sputum, ronki, demam, riwayat merokok, nadi cepat
(112x/menit), dan pemeriksaan leukosit dengan jumlah 10500
mpisema : dasarnya kurus, usia 55- 75 , riwayat merokok, ronki sedikit, dan pemeriksaan radiologinya
terdapat gambaran hiperinflasi & emfisematous.

Langkah 6 : menentukan terapi awal (simtomatik)

1.c Batuk : xpectoran (GG) & mukolitik (bisolvon) 15ml/ hr


2.c Demam: Întipiretik (misal paracetamol) 500 mg
3.c Sesak napas : B- antagonis (salbutamol)
4.c T : 24x/menit : inhalasi O2
5.c TD 163/93 mmHg : antihipertensi propanolol

Langkah 7 : menentukan rencana pemeriksaan penunjang

Pneumonia: Radiologi, pemeriksaan sputum


Bronchitis : spirometri FV1 /FVC < 0,6, ronki kanan. Leukosit 10500
mpisema : spirometri FV1/FVC < 0,6, radiologi paru kiri didominasi hiperinflasi dengan penebalan
eritematous, ronki kanan

Langkah 8 : menentukan problem / diagnosis kerja baru dan alasan/dasar diagnosis

Pada pemeriksaan penunjang radiologi ditemukan infiltrate lapangan paru kanan, paru kiri didominasi
oleh hiperinflasi dengan penebalan eritematous. BTÎ belum ada, LD 17, leukosit 10.800, spirometri
FV1 /FVC < 0,6 glukosa darah 256.

Tanda vital :
N : 112x/ menit
T : 24 x/ menit
TD : 161/98 mmHg

Dx :
Bronkitis: Leukosit 10.800,ronchi, wheezing
Pneumonia: infiltrat paru kanan, leukosit 10.800, demam
mfisema: hiperinflasi dengan batasan eritomatous, spirometri FV1/FVC<0.6, ronchi ,wheezing

Tahap 9 menentukan terapi kausatif

Pneumonia: antibiotik Vancomicyn 500 mg 3dd1


Bronchitis : antagonis ʹ B (salbutamol), kortikosteroid, antibiotik cyprofloxasin 500 mg 3dd1
mfisema : sama diatas
Bronkiektasis : Înibiotik
dukasi : henti merokok, olahraga
Tahap 10 perjalanan penyakit
Îsma
=
hypertensi
=
pneumoni
=
emfisema
=
bronchitis
=
sepsis
=
kematian